Anda di halaman 1dari 7

Perkembangan pemikiran dan peradaban islam periode klasik (650-1250)

A. Masa kemajuan
Sepeninggal Rasulullah saw. Islam dipimpin oleh al-Khulafa ar-Rasyidin, yaitu Abu
Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Daulat al-Khulafa ar-Rasyidin (11-41 H/632-661 M) yang
berkedudukan di Madinah al-Munawarah itu, Cuma berkuasa selama 30 tahun menurut
kalender Hijriyah ataupun 29 tahun menurut kalender Masehi. Akan tetapi masa
pemerintahan yang teramat singkat itu sangat menentukan sekali bagi kelanjutan agama Islam
dan bagi perkembangan kekuatan agama Islam. Pada masa ini para pejabat kekuasaan
tertinggi dipilih dan diangkat berdasarkan pemufakatan dan persetujuan masyarakat Islam,
sedangkan garis kebijaksanaan yang dijalankan dapat dikatakan bersamaan.1 Merujuk kepada
gelar yang mereka gunakan pada waktu itu tentu meimiliki maknanya tersendiri, seperti
halnya Abu Bakar yang memakai istilah khalifatu Rasulillah (pengganti Rasulullah) untuk
membatasi kedudukannya sebagai khalifah, beberapa literatur menunjukkan, bahkan ia
menolak penggunaan gelar khalifatullah.
1. Masa khalifah Abu Bakar
Nabi Muhammad tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan
beliau sebagai khalifah setelah beliau wafat, karena itulah setelah beliau wafat sejumlah
tokoh muhajirin dan ansar berkumpul di Bani Saidah. Mereka memusyawarahkan siapa yang
akan menjadi pemimpin umat islam, dengan semangat ukhuwahh islamiyah yang tinggi,
akhirnya Abu Bakar terpilih. Sebagai pemimpin umat islam setelah rasul, Abu Bakar disebut
khalifah rasulillah yang dalam perkembangan selanjutnya disebut khalifah saja.2
Abu Bakar menjdai khalifah hanya dua tahun. Masa yang sesingkat itu habis untuk
menyelesaikan persoalan dalam negeriterutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku
yang tidak mau tunduk kepada pemerintah Madinah. Karena pertentangan mereka dapat
membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan
perang Riddah.3
Kekuasaan yang dijalankan pada pada masa khalifah Abu Bakar bersifat sentral.
Selain menjalankan roda pemerintahan khalifah juga melaksanakan hukum. Dalam hal ini
Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah.4

H. Fatah Syukur Nc, Sejarah Peradaban Islam (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), hal. 49.

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007), hal. 35

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hal. 36

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hal. 36

Seteah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengirim
kekuatan keluar arab. Sementara barisan tentara islam sedang mengancam irak, palestina dan
kerajaan hirah, Abu Bakar wafat dan diganti oleh Umar bin khattab.5
Dari penunjukkan Umar sebagai penggantinya, ada hal yang perlu dicatat:
1. Bahwa Abu Bakar dalam menunjuk Umar tidak meninggalkan azas musyawarah. Ia
lebih dulu mengadakan konsultasi untuk mengetahui aspirasi rakyat melalui tokohtokoh kaum muslimin.
2. Abu Bakar tidak menunjuk salah seorang putranya atau kerabatnya melainkan
memilih seseorang yang disegani oleh rakyat karena sifat-sifat terpuji yang
dimilikinya.
3. Pengukuhan Umar sebagai khalifah sepeninggal Abu Bakar berjalan baik dalam suatu
baiat umum dan terbuka tanpa ada pertentangan dikalangan kaum muslimin sehingga
obsesi Abu Bakar untuk mempertahankan keutuhan umat Islam dengan cara
penunjukkan itu terjamin.

2. Masa khalifah Umar ibn Khattab


Di zaman Umar gelombang ekspansi pertama terjadi, seluruh daerah Syria jatuh
kebawah kekuasaan islam. Dengan menggunakan Syria sebagai basis, ekspansi di teruskan ke
mesir dibawah pimpinan amr ibn ash dan ke irak dibawah pimpinan saad ibn abi waqqas. AlQadisiyah jatuh pada tahun 637 M serta Iskandaria ditaklukkan pada tahun 641 M. dengan
demikian, pada masa Umar wilayah kekuasaan islam sudah meliputi jazirah arab, palestina,
Syria, sebagian wilayah Persia dan mesir.6
Karena perluasan daerah, Umar mengatur administrasi negara dengan mencontoh
administrasi yang sudah berkembang terutama di Persia. Administrasi pemerintahan diatur
menjadi delapan wilayah propinsi: Mekkah, Madinah, Syria, jazirah, basrah, kufah, palestina
dan mesir. Pada masanya mulai diatur dan ditertibkan system pembayaran gaji dan pajak
tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dan eksekutif.
Jawatan kepolisian dibentuk untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Demikian juga jawatan
pekerjaan umum.7 Umar juga mendirikan bait al-Mal, menempa mata uang dan menciptakan

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hal. 36

Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid 1, (Jakarta: UI Press, 1985), hal. 37

Syibli Numan, Umar Yang Agung, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1981), hal. 264-276

tahun Hijrah. 8 Umar memerintah selama sepuluh tahun (13-23 H/634-644 M). Masa
jabatannya berakhir dengan kematian.
Sebagai seorang negarawan yang patut diteladani ia telah menggariskan:
1. Persyaratan bagi calon pemimpin negara
2. Menetapkan dasar-dasar pengelolaan negara
3. Mendorong para pejabat negara agar benar-benar meperhatikan kemaslahatan rakyat
dan melindungi hak-haknya karena mereka adalah pengabdi rakyat dan bagian dari
rakyat itu sendiri
4. Pejabat yang dipegang seseorang adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan
kepada Tuhan dan rakyat
5. Mendidik rakyat supaya berani memberi nasihat dan kritik kepada pemerintah,
pemerintah juga harus berani menerima kritik dari siapapun sekalipun menyakitkan
karena pemerintah lahir rakyat dan untuk rakyat
6. Khalifah Umar telah meletakkan dasar-dasar pengadilan dalam Islam

3. Masa khalifah Usman ibn Affan


Di waktu Umar kena tikam, beliau tidak bermaksud hendak mengangkat
penggantinya. Tetapi kaum muslimin khawatir kalau-kalau terjadi perpecahan sesudah Umar
meninggal dunia, karena itu mereka mengusulkan agar Umar menunjuk siapa yang akan jadi
pengganti beliau. 9 Untuk menentukan penggantinya, Umar tidak menempuh jalan yang
dilakukan oleh Abu Bakar. Dia menunjuk enam orang sahabat dan meminta kepada mereka
untuk memilih salah seorang diantaranya menjadi khalifah. Enam orang tersebut adalah
Usman, ali, thalhah, zubair, sa;ad ibn abi waqqas dan Abdurrahman ibn Auf. Setelah Umar
wafat tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Usman sebagai khalifah.10
Dimasa pemerintahan Usman (644-655 m), Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhones dan
bagian yang tersisa dari Persia berhasil direbut. Ekspansi islam pertama berhenti sampai
disini. Usman adalah khalifah pertama yang memperluas mesjid nabi saw di Madinah dan
mesjid haram di Mekkah dan Usman adalah khalifah pertama yang menentukan azan awal
menjelang shalat jumat.11

A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid 1, (Jakarta: al-Husna Zikra, 1997), hal. 263

A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid 1, (Jakarta: al-Husna Zikra, 1997), hal. 267

10

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hal. 38

11

Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005), hal. 80

Padahal Utsman ra yang paling berjasa membangun bendungan untuk menjaga arus
banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Dia juga membangun jalan-jalan,
jembatan-jembatan, masjid-masjid dan memperluas masjid Nabi di Madinah.12 Usman adalah
orang yang melakukan kodifikasi al-Quran yang telah diawali oleh Abu Bakar. Latar
belakang pembukuan al-quran dimasa Usman adalah karena perbedaan qiraaat.13
Untuk pelaksanaan administrasi pemerintahan di daerah, khalifah Usman bin Affan
mempercayakannya kepada seorang gubernur untuk setiap wilayah atau propinsi pada
masanya kekuasaan wilayah dibagi menjadi 10 propinsi:14
1.

Nafibin al-Haris al-Khuzai, amir wilayah Mekkah

2.

Sufyan bin Abdullah al-Tsaqqfi, amir wilayah Thaif

3.

Yala bin Munabbih Halif Bani Nauful bin Abd Manaf, amir wilayah Shana

4.

Abdullah bin Abi Rabiah, amir wilayah Al-Janad

5.

Usman bin Abi al-Ashal-Tsaqafi, amir wilayah Bahrain

6.

Al-Mughirah bin Syubah al-Tsaqi, amir wilayah Kuffah

7.

Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asyari, amir wilayah Basrah

8.

Muawiyah bin Abi Sufyan, amir wilayah Damaskus

9.

Umar bin Saad , amir wilayah Himsh

10. Amr bin al-Ash al-Sahami, amir wilayah Mesir


Pada paruh terakhir dari masa kekhalifahannya, muncul perasaan tidak puas dan
kecewa di kalangan umat islam terhadapnya. Kepemimpinan Usman memang sangat berbeda
dengan kepemimpinan Umar. Akhirnya, pada tahun 35 H/655 M, Usman dibunuh oleh kaum
pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa itu.15
Salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat berburuk sangka terhadap
kepemimpinan Utsman ra adalah kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan
tinggi. Yang terpenting diantaranya adalah Marwan ibn Hakam. Dialah pada dasarnya yang
dianggap oleh orang-orang tersebut yang menjalankan pemerintahan, sedangkan Utsman ra
hanya menyandang gelar Khalifah. Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam
jabatan-jabatan penting, Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan. Harta kekayaan
negara, oleh kerabatnya dibagi-bagikan tanpa terkontrol oleh Usman ra sendiri.16
12

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hal. 39

13

Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005), hal. 80

14

Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005), hal. 83

15

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hal. 38

16

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hal. 39

4. Masa khalifah Ali ibn Abi Thalib


Peristiwa tahkim Pada Masa Ali Bin Abi Thalib
Konflik politik antara Ali Bin Abi Thalib dengan Muawwiyah Ibn Abi Sufyan
diakhiri dengan Tahkim. Dari pihak Ali Ibn Abi Thalib diutus seorang ulama yang terkenal
sangat jujur dan tidak cerdik dalam politik yaitu Abu Musa Al Asyari. Sebaliknya dari
pihak Muawiyah Ibn Abi Sufyan diutus seorang yang sangat terkenal sangat cerdik dalam
berpolitik yaitu Amr ibn Ash.
Dalam tahkim tersebut, pihak Ali Ibn Abi Thalib dirugikan oleh pihak Muawiyah Ibn
Abi Sufyan karena kecerdikan Amr Ibn Ash yang dapat mengalahkan Abu Musa Al Asyari.
Pendukung Ali Ibn Abi Thalib, kemudian terpecah menjadi dua, yaitu kelompok pertama
adalah mereka yang secara terpaksa menghadapi hasil Tahkim dan mereka tetap setia kepada
Ali Ibn Abi Thalib, sedangkan kelompok yang kedua adalah kelompok yang menolak hasil
Tahkim dan kecewa terhadap kepemimpinan Ali Ibn Abi Thalib yang kemudian melakukan
gerakan perlawanan terhadap semua pihak yang terlibat dalam Tahkim, termasuk Ali Ibn Abi
Thalib.17
Khalifah Ali bin Abi Thalib menjalankankan roda pemeriintahannya selama lebih
kurang 5 Tahun.
Sebab-sebab Kegagalan Khalifah Ali
Kegagalan Khalifah Ali yang sekaligus sebagai kemenangan muawiyah tidak terlepas
dari beberapa fakta sebagaimana disampaikan sebagai berikut
Pertama, pada masa awal pemerintahannya, sikap berperang melawan persekutuan
Thalhah, Zubair dan Aisyah secara umum memperlemah kedudukan Ali. Ketika Thalhah
dan Zubai bersedia berunding untuk mengakhiri pertempuran, tiba-tiba pengikut ali
menangkap Thalhah dan Zubair lalu mereka membunuh keduanya. Kematian dua tokoh ini
otomatis

meningkatkan

kemarahan

pengikut

muawiyah

dan

semakin

bertambah

pengikutnya. Sementara peristiwa ini justru mengurangi kekuatan dukungan atas perjuangan
Ali.
Kedua, bahwa pemberontak yang terjadi khususnya Bashrah, Kufah, mesir, Syiria,
serta pengakuan kemerdekaan atas beberapa wilayah negeri muslim sangat merugikan dan
menyulitkan posisi Ali. Terlepasnya Ali oleh muawiyah merupakan pertanda kehancuran
kekuatan Khalifah Ali.
17

Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hal. 83-85

Ketiga, muawiyah didukung kesatuan masyarakat syiria yang setian dan


mendambakkan Umayyah sebagai pemimpinny, sementara itu Ali bersandar pada dukungan
masyarakat Kufah yang berjiwa lemah dan tidak memberikan bantuan yang sepenuhnya
kepada Khalifah Ali terutama dalam kondisi dan situasi yang berbahaya.
Keempat, persainagn antara keluarga dan keturunan Hasyimiah dengan keturunan
Umayyah turut mempersulit posisi Ali. Pada sisi lainnya, kondisi permusuhan seperti ini
sangat menguntungkan muawiyah yang mereka sedang bangkit. Mereka bersatu menuntut
balas atas kematian Khalifah Usman.

Pengukuhan Ali menjadi khalifah tidak semulus pengukuhan tiga orang khalifah
pendahulunya. Ia di baiat di tengah-tengah kematian Utsman, pertentangan dan kekacauan
dan kebingungan umat Islam Madinah. Sebab kaum pemberontak yang membunuh Utsman
mendaulat Ali supaya bersedia dibaiat menjadi khalifah.
Tidak lama setelah itu, Ali ibn Abi Thalib Ra menghadapi pemberontakan Thalhah,
Zubair dan Aisyah. Alasan mereka, Ali Ra tidak mau menghukum para pembunuh Utsman
Ra dan mereka menuntut bela terhadap darah Utsman Ra yang telah ditumpahkan secara
zhalim. Ali Ra sebenarnya ingin sekali menghindari perang. Dia mengirim surat kepada
Thalhah dan Zubair Ra ajmain agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara
itu secara damai. Namun ajakan tersebut ditolak. Akhirnya, pertempuran yang dahsyat pun
berkobar. Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal (Unta), karena Aisyah Radhiallahu
anha dalam pertempuran itu menunggang unta, dan berhasil mengalahkan lawannya. Zubair
dan Thalhah terbunuh, sedangkan Aisyah Radhiallahu anha ditawan dan dikirim kembali ke
Madinah.
Dengan demikian masa pemerintahan Ali melalui masa-masa paling kritis karena
pertentangan antar kelompok yang berpangkal dari pembunuhan Utsman. Namun Ameer Ali
menyatakan ia berhasil memecat sebagian besar gubernur yang korupsi dan mengembalikan
kebijaksanaan Utsman pada setiap kesempatan yang memungkinkan. Ia membenahi dan
menyusun arsip Negara untuk mengamankan dan menyelamatkan dokumen-dokumen
khalifah dan kantor sahib-ushsurtah, serta mengkoordinir polisi dan menetapkan tugas-tugas
mereka.
Kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali Ra juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari
para gubernur di Damaskus, Mu'awiyah Ra, yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat
tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Setelah berhasil memadamkan
pemberontakan Zubair, Thalhah dan Aisyah, Ali Ra bergerak dari Kufah menuju Damaskus

dengan sejumlah besar tentara. Pasukannya bertemu dengan pasukan Mu'awiyah Ra di


Shiffin. Pertempuran terjadi di sini yang dikenal dengan nama perang shiffin. Perang ini
diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak menyelesaikan masalah, bahkan
menyebabkan timbulnya golongan ketiga, al-Khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan
Ali Ra. Akibatnya, di ujung masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib Ra umat Islam terpecah
menjadi tiga kekuatan politik, yaitu :

Mu'awiyah

Syi'ah (pengikut Abdullah bin Saba al-yahudi) yang menyusup pada barisan tentara
Ali Ra, dan

Al-Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali)


Keadaan ini tidak menguntungkan Ali Ra. Munculnya kelompok al-Khawarij

menyebabkan tentaranya semakin lemah, sementara posisi Mu'awiyah Ra semakin kuat. Pada
tanggal 20 Ramadhan 40 H (660 M), Ali Ra terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij
yaitu Abdullah bin Muljam.

Beri Nilai