Anda di halaman 1dari 3

::koraninternet.

com:: - Pradjoto: Kasus Bank Century Karena Perilaku Buruk


Pemiliknya

| Home | Berita Utama | Bisnis dan Ekonomi | Politik dan Hukum |


Berita Umum | Olahraga | Luar Negeri |

Pradjoto: Kasus Bank Century Karena Perilaku Buruk Pemiliknya


Selasa, 22 Desember 09
Jakarta, Koran Internet: Pengamat hukum perbankan Pradjoto
mengatakan kasus Bank Century terjadi karena perilaku buruk
pemiliknya sehingga merugikan keuangan negara. "Pemilik Bank
Century melakukan penerbitan produk perbankan fiktif sehingga
pada saat dilakukan penyelamatan dana dari pemerintah
meningkat sangat tinggi sampai Rp6,7 triliun," kata Pradjoto
di Jakarta.

Dikatakan Pradjoto, perilaku buruk tersebut antara lain dengan


menerbitkan surat-surat berharga (SSB) dan "letter of credit"
(LC) fiktif yang diakui sebagai bagian dari aset Bank
Century.Menurut dia, perilaku buruk pemilik Bank Century
terjadi karena pengawasan dari Bank Indonesia terhadap Bank
Century lemah. "Perilaku buruk itu terjadi menjelang krisis
finansial global pada triwulan kedua dan ketiga tahun 2008,
sehingga pemerintah melakukan penyelamatan untuk menjaga
stabilitas perbankan secara kesuluruhan," kata Pradjoto.

Pradjoto juga mempertanyakan, kenapa pemilik Bank Century


Robert Tantular cuma dihukum empat tahun penjara dan denda
Rp50 miliar, padahal kerugian negara dari bailout di bank
tersebut mencapai Rp6,7 triliun. Dikatakannya, dalam
mencermati persoalan Bank Century perlu dilakukan periodesasi
mulai dari rencana akuisisi tiga bank yakni Bank CIC, Bank
Piko, dan Bank Danpac oleh investor asing pada 2001, proses
merger ketiga bank tersebut menjadi Bank Century pada
2003-2004, hingga dilakukan "bailout" ke Bank Century dan
setelah dilakukan "bailout".

Di sisi lain, Pradjoto menaruh harapan, dana "bailout" dari


pemerintah ke Bank Century sebesar Rp6,7 miliar masih bisa
kembali dengan asumsi manajemen baru Bank Century yang telah
berganti nama menjadi Bank Mutiara memiliki kinerja baik dan
politik dalam negeri juga kondusif selama tiga tahun ke depan.
Realitasnya, kata dia, sejak diselamatkan pada November saat
ini kinerja Bank Muitara terus membaik dan hanya dalam waktu
10 bulan sudah mulai mendapat profit. "Dengan kinerja yang
baik dan kondisi politik dalam negeri yang baik maka setelah
tiga tahun ke depan, jika Bank Mutiara dijual dengan harga
lebih dari Rp10 triliun, maka dana PMS (penyertaan modal
sementara) dari pemerintah bisa kembali," kata Pradjoto.

Pradjoto juga mengingatkan Panitia Angket Kasus Bank Century


DPR untuk terus berjalan dalam koridornya, tapi tidak bisa
menerobos rahasia perbankan, yakni data nasabah pemilik
rekening dan nilai simpanannya. Kalau ini sampai terjadi, kata
dia, maka semua nasabah Bank Mutiara akan lari dan bank yang
kinerja sudah membaik ini akan mati. "Kalau Bank Mutiara mati,
maka tidak bisa dijual dan dana PMS dari pemerintah juga tidak
bisa kembali," katanya. Pradjoto menghargai, peran Panitia
Angket Kasus Bank Century merupakan hak tertinggi anggota DPR
untuk melakukan penyelidikan, tapi ia mengingatkan panitia
angket bukan lembaga proyustisia. (DvJ/Ant)
lihat komentar (0) | versi cetak
Formulir Komentar
Nama
Email
Judul Komentar
Komentar

Berita Terkait 'Bank Century' :

�Pansus Century Sebaiknya Menghindari Kriminalisasi


Kebijakan
�Miranda Goeltom: Bank Century Ditutup Bila Kondisi
Normal
�Burhanuddin : CENTURY Tidak Munculkan Dampak Sistemik
�GAMBARAN FRAUD DAN KEKALUTAN DALAM MENGHADAPI BANK
CENTURY

Mencari berita di situs ini

| Home | Tentang Kami | Disclaimer |


copyright 2009 - koraninternet.com