Anda di halaman 1dari 25

RANCANG BANGUN PROTOTYPE UNIT SISTEM

PENGOLAHAN RUMPUT MENJADI BIOETANOL SEBAGAI


CAMPURAN BENSIN

Proposal Tugas Akhir


Diploma III Program Studi Teknik Konversi Energi
Di Jurusan Teknik Mesin

Oleh :

Antoni

NIM. 6512010002

Melly Chandra Frayekti

NIM. 6512010015

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA


2014

LEMBAR PERSETUJUAN
RANCANG BANGUN PROTOTYPE UNIT SISTEM PENGOLAHAN RUMPUT
MENJADI BIOETANOL SEBAGAI CAMPURAN BENSIN

Disusun Oleh :

Antoni

NIM. 6512010002

Melly Chandra Frayekti

NIM. 6512010015

Proposal ini telah disetujui untuk Tugas Akhir yang akan diujikan

Pembimbing I

Pembimbing II

................................................

................................................

NIP..........................................

NIP..........................................

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ...................................................................................................... 2


DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 3
RINGKASAN ............................................................................................................................ 5
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 6
1.1

Latar Belakang ............................................................................................................ 6

1.2

Rumusan Masalah ....................................................................................................... 6

1.3

Tujuan Penelitian......................................................................................................... 7

1.4

Batasan Masalah .......................................................................................................... 7

1.5

Lokasi Objek ............................................................................................................... 7

1.6

Manfaat Penulisan ....................................................................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................... 9


2.1

Rumput ........................................................................................................................ 9

2.2

Etanol ........................................................................................................................ 10

2.3

Lignoselulosa ............................................................................................................ 11

2.4

Delignifikasi .............................................................................................................. 12

2.5

Hidrolisis Selulosa..................................................................................................... 13

2.6

Fermentasi ................................................................................................................. 14

2.7

Distilasi Sederhana .................................................................................................... 15

2.8

Dehidrasi ................................................................................................................... 16

BAB III METODE PELAKSANAAN .................................................................................... 17


3.1

Pengumpulan Data dan Informasi ............................................................................. 17

3.2

Eksperimen Skala Laboratorium ............................................................................... 17

3.3

Hasil Uji Laboratorium ............................................................................................. 17

3.4

Teknis Perancangan Alat ........................................................................................... 18

3.5

Analisis ...................................................................................................................... 18
3

BAB IV BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN ...................................................................... 19


4.1

Estimasi Biaya ........................................................................................................... 19

4.2

Jadwal Pelaksanaan ................................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 21


LAMPIRAN ............................................................................................................................. 22
BIODATA MAHASISWA ...................................................................................................... 25

RINGKASAN
Keberadaan rumput di kompleks perumahan Badak LNG yang melimpah merupakan
sebagai salah satu tumbuhan yang masih kurang dimanfaatkan. Rumput bisa dijadikan
sebagai penghias taman di depan rumah. Rumput juga digunakan di lapangan-lapangan
olahraga, seperti pada lapangan sepak bola.
Pemotongan rumput rutin dilakukan untuk menjaga keindahan lingkungan. Hasil
pemotongan rumput selama ini masih kurang dimanfaatkan. Rumput sebagai tumbuhan
memiliki kandungan selulosa dan hemiselulosa. Kandungan selulosa dan hemiselulosa
tersebut memiliki potensi untuk dirubah menjadi glukosa yang kemudian dapat difermentasi
menjadi bioetanol.
Rumput yang ada di kompleks Badak LNG bermacam-macam jenisnnya. Masing-masing
jenis rumput memiliki kadar kandungan selulosa dan hemiselulosa yang berbeda-beda. Untuk
dapat memanfaatkan kandungan tersebut perlu dilakukan pretreatment yang berfungsi untuk
mendegradasi kandungan lignin yang berfungsi mengikat sel-sel tanaman satu dengan
lainnya. Metode yang digunakan untuk proses lignifikasi adalah dengan perendaman dengan
larutan kapur panas pada rumput yang telah dicacah.
Proses hidrolisis dilakukan untuk dapat mengubah selulosa dan hemiselulosa menjadi
glukosa.

Kemudian

glukosa

yang

terbentuk

difermentasi

menggunakan

bakteri

Saccharomyces Cerevisiae selama beberapa hari. Hasil fermentasi merupakan etanol


campuran dengan air sehingga diperlukan proses distilasi untuk dapat meningkatkan kadar
kandungan etanol.
Metode yang digunakan untuk proses hidrolisis menggunakan asam sulfat encer.
Pemilihan metode hidrolisis menggunakan larutan asam berdasarkan konsiderasi dimana
reaksi yang berbasis enzimatik cenderung membutuhkan waktu yang lama, tingkat sterilisasi
peralatan proses yang tinggi, dan biaya operasional yang tinggi terutama dalam penyediaan
enzim dan mikroba. Sehingga akan lebih mudah menggunakan larutan asam kuat encer
dengan kondisi operasi temperatur berkisar 90 oC dan waktu yang tidak relatif lama.
Proses distilasi bertujuan untuk memurnikan kadar bioetanol yang dihasilkan. Titik didih
antara bioetanol dan air memiliki beda yang cukup besar. Sehingga proses distilasi dapat
diakukan secara sederhana yaitu dengan pemanasan pada temperatur 80 oC.
Bioetanol memiliki fungsi yang beragam, salah satunya adalah menjadi bahan
campuran bensin untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Hal tersebut dapat mengurangi
5

konsumsi dari bensin. Selain itu bioetanol juga memiliki sifat yang ramah terhadap
lingkungan.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di sekitar kompleks perumahan Badak LNG pemotongan rumput dilakukan secara rutin
setiap harinya. Hasil pemotongan rumput tersebut dimanfaatkan untuk membuat pupuk
kompos. Padahal rumput memiliki nilai guna lain yang lebih besar manfaatnya yaitu sebagai
bahan baku untuk fermentasi glukosa menjadi bioetanol.
Rumput sebagai tumbuhan mengandung lignoselulosa dimana kandungan selulosa dan
hemiselulosa memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Salah satu pemanfaatannya adalah
dengan mengubah kandungan selulosa dan hemiselulosa menjadi bioetanol. Proses yang
diperlukan anatara lain hidrolisis menjadi glukosa kemudian dilanjutkan dengan fermentasi
sehingga terbentuk bioetanol.
Jenis rumput yang terdapat di kompleks Badak LNG bermacam-macam antara lain
rumput gajah dan rumput jepang. Dari masing-masing jenis rumput memiliki kandungan
selulosa dan hemiselulosa yang berbeda-beda. Untuk dapat menghasilkan bioetanol dengan
optimum baik dari segi kemurnian dan kuantitas dilakukan analisa kandungan pada masingmasing rumput dan perbandingan variasi masing-masing rumput.
Bioetanol yang dihasilkan dari pengolahan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi bahan
campuran bensin sehingga bisa mengurangi konsumsi bensin. Komposisi campuran tersebut
adalah 25% bioetanol dalam sisanya merupakan bensin. Mengingat harga bahan bakar yang
semakin melonjak, pencampuran bioetanol dengan bensin dapat mengurangi konsumsi bensin
dan pengeluaran untuk membeli bensin pada masyarakat. Selain itu produksi bioetanol telah
menambah nilai guna dari hasil pemotongan rumput yang selama ini belum dimanfaatkan.

1.2 Rumusan Masalah


1.) Bagaimana proses produksi bioetanol dengan bahan baku rumput?
2.) Bagaimana perbandingan antara jumlah bahan baku rumput dengan produk
bioetanol yang dihasilkan?

3.) Bagaimana pengaruh variasi waktu pretreatment terhadap kadar bioetanol yang
dihasilkan?
4.) Bagaimana pengaruh variasi waktu hidrolisis terhadap kadar bioetanol yang
dihasilkan?
5.) Berapa

besar

penghematan

bensin

yang

didapatkan

dari

pemanfaatan

pencampuran bensin dengan bioetanol?

1.3 Tujuan Penelitian


1.) Mendeskripsikan proses pengolahan produksi bioetanol dengan bahan baku
rumput.
2.) Mengetahui perbandingan antara jumlah bahan baku rumput dengan produk
bioetanol.
3.) Menentukan waktu pretreatment optimum untuk mendapatkan produk bioetanol.
4.) Menentukan waktu hidroisis optimum untuk mendapatkan produk biotanol.
5.) Mengetahui penghematan bensin yang didapatkan dari pemanfaatan bioetanol
sebagai campuran bensin.

1.4 Batasan Masalah


1.) Eksperimen ini berkonsentrasi pada banyaknya konversi rumput menjadi bioetanol.
2.) Jenis rumput yang digunakan adalah rumput jepang dan rumput gajah.
3.) Menghitung kandungan selulosa dan hemiselulosa pada rumput.
4.) Analisa variabel waktu pretreatment paling optimum.
5.) Analisa variabel waktu hidrolisis paling optimum.
6.) Merancang prototype unit sistem pengolahan rumput menjadi bioetanol yang terdiri
dari reaktor hidrolisis, kolom distilasi sederhana dan unit dehidrasi.
7.) Perhitungan nilai keekonomikan dari pemanfaatan rumput menjadi bioetanol.

1.5 Lokasi Objek


Lokasi objek Tugas Akhir berada di sekitar lingkungan kompleks Badak LNG, Bontang
Kalimatan Timur.

1.6 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat dari penelitian ini:
Bagi penulis:
7

a) Sebagai syarat untuk memenuhi penyusunan Tugas Akhir guna mendapatkan


gelar Diploma III dari program studi Teknik Konversi Gas di Politeknik Negeri
Jakarta.
b) Menambah pengalaman dan keterampilan dalam merancang bangun suatu alat
industri.
c) Dapat membuktikan sejauh mana kemampuan kita di bangku kuliah dengan cara
praktek secara nyata.

Bagi LNG Academy dan Politeknik Negeri Jakarta:


a) Dapat memanfaatkan prototype alat sebagai bahan pembelajaran untuk
mahasiswa.

Bagi Instansi PT. Badak NGL:


a) Memanfaatkan hasil pemotongan rumput yang ada disekitar lingkungan kompleks
perumahan Badak LNG.
b) Dapat diimplemetasikan secara aktual untuk memanfaatkan rumput yang ada.
c) Menambah nilai guna hasil pemotongan rumput di sekitar kompleks perumahan
Badak LNG.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Rumput
Rumput adalah tumbuhan pendek yang sering ada di halaman, pinggir jalan atau lapangan.
Rumput dianggap sebagai pengganggu tanaman bila berada di sekitar tanaman yang sengaja
ditanam, tapi merupakan aset utama untuk lapangan sepak bola dan juga dapat dimanfaatkan
sebagai biomassa atau bioetanol. Beberapa jenis rumput yang sering dijumpai di sekitar
kompleks perumahan Badak LNG adalah rumput gajah dan rumput jepang

Senyawa

% maks kandungan

Lignin

Selulosa

25

Hemiselulosa

36

Tabel 2.1 Kandungan lignoselulosa rumput

Rumput gajah merupakan salah satu tanaman yang kurang dimanfaatkan. Dewasa ini
rumput hanya digunakan sebagai makanan ternak. Terkadang rumput gajah juga dianggap
sebagai tanaman pengganggu, tetapi rumput yang mempunyai kadar selulosa ini dapat
digunakan sebagai salah satu bahan penghasil ethanol. Klasifikasi rumput gajah adalah
sebagai berikut :
Kerajaan: Plantae
Ordo:

Poales

Famili:

Poaceae

Bangsa:

Paniceae

Genus:

Pennisetum

Spesies:

P. purpureum

Tabel 2.2 Klasifikasi Rumput Gajah

Rumput jepang merupakan salah satu jenis rumput hias yang sering ditanam di halaman
rumah untuk memperindah taman. Nama lain Rumput Jepang di daerah lain sering disebut
Rumput Jarum atau Rumput Babi dan juga Rumput Peking. Manfaat Rumput Jepang juga
digunakan sebagai penahan tanah. Selain itu dengan adanya Rumput Jepang di halaman
rumah atau taman kita, akan memperindah taman rumah kita karena tampak hijau seperti
karpet yang di gelar di halaman rumah kita.

2.2 Etanol
Etanol adalah salah satu jenis alkohol yang mudah menguap,mudah terbakar, tak berwarna
dan merupakan alkohol yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Etanol termasuk
dalam alkohol rantai tunggal dengan rumus kimia C2H5OH dan rumus empiris C2H6O. Di
Indonesia Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan kimia yang
ditujukan untuk konsumsi dan kegunaan manusia. Contohnya adalah pada parfum, perasa,
pewarna makanan, dan obat-obatan. Dalam kimia, etanol adalah pelarut yang penting
sekaligus sebagai stok umpan untuk sintesis senyawa kimia lainnya. Dalam sejarahnya etanol
telah lama digunakan sebagai bahan bakar. Etanol memiliki angka oktan yang tinggi sehingga
cocok jika digunakan sebagai bahan campuran dengan bensin.
Berikut ini adalah sifat kimiawi dari etanol :

Rumus Molekul : C2H5OH

Titik didih

: 78,5 oC (173 oF)

Massa Molekul : 46,07 g/mol

Titik beku

: -117 oC

Bentuk

: Likuid tidak berwarna

Flash point

: 7,5 oC

Massa jenis

: 0,8164 g/cm3

Octane number : 108,7

Sesuai dengan ketentuan Fuel Grade Ethanol Specification kemurnian etanol untuk dapat
digunakan menjadi campuran bensin adalah 99,6%. Secara umum pencampuran etanol
dengan bensin untuk semua jenis kendaraan adalah 25% (E-25). Penambahan etanol
berpengaruh pada performa bahan bakar di dalam mesin karena nilai oktan etanol yang lebih
tinggi dari bensin sehingga mesin dapat dibuat lebih efisien dengan cara meningkatkan rasio
kompresinya.
10

Secara teori semua kendaraan yang beroperasi dengan bahan bakar memiliki nilai ekonomi
bahan bakar yang memiliki satuan liter per 100 km. Nilai ekonomi bahan bakar ini biasanya
berbanding lurus dengan energi yang terkandung dalam bahan bakar. Berdasarkan hasil tes
yang dilakukan oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) pada tahun 2006
menunjukkan bahwa pemakaian campuran bensin etanol E-85 lebih boros 25,56% dari
bensin. Akan tetapi bahan bakar E-85 merupakan bahan bakar dengan performa tinggi karena
memiliki nilai oktan 94-96 dan harganya yang lebih murah dibanding bensin. Dengan
penambahan turbocharger maka rasio kompresi dapat menjadi optimum, sehingga ekonomi
bahan bakar dapat menjadi konstan dengan berbagai macam komposisi campuran antara
etanol dengan bensin.

2.3 Lignoselulosa
Ligonoselulosa merupakan materi yang terdiri atas selulosa, hemiselulosa dan lignin.
Lignin biasanya mennyelubungi selulosa dan hemiselulosa. Lignin dan selulosa sering
membentuk senyawa lignosellulose dalam dinding sel tanaman dan merupakan suatu ikatan
yang kuat (Sutardi,1980). Semakin tua tanaman makan kadar lignin semakin tinggi. Selain
mengikat selulosa dan hemiselulosa lignin juga mengikat protein dinding sel.
Lignin adalah salah satu komponen penyusun tanaman yang bersama selulosa dan bahanbahan serta lainnya membentuk bagian struktural dan sel tumbuhan. Berbeda dengan selulosa
yang terbentuk dari gugus karbohidrat, lignin terbentuk dari gugus aromatik yang sailng
dihubungkan dengan rantai aliatik yang terdiri dari 2-3 karbon.
Selulosa adalah zat penyusun tanaman yang terdapat pada struktur sel. Kadar selulosa dan
hemiselulosa pada tanaman pakan yang muda mencapai 40% dari bahan kering. Bila hijauan
makin tua proporsi selulosa dan hemiselulosa makin bertambah (Tillman,dkk, 1998).
Selulosa merupakan homopolisakarida yang mempunyai molekul berbentuk linear, tidak
bercabang dan tersusun atas 10.000 hingga 15.000 unit glukosa yang dihubungkan dengan
ikatan -1,4 glikosidik (Nelson dan Michael, 2000). Selulosa merupakan suatu polisakarida
yang mempunyai formula umum seperti pati (C6H10O5)n. Lapisan matriks pada tanaman
muda terutama terdiri dari selulosa dan hemiselulosa, tetapi pada tanaman tua matriks
tersebut kemudian dilapisi dengan lignin dan senyawa polisakarida lain (Tilman,dkk,1998).
Selanjutnya ditambahkan bahwa hemiselulosa adalah suatu nama untuk menunjukkan suatu
golongan substansi yang di dalamnya termasuk: araban,xilan,heksosa tertentu dan poliuronat
yang rentan bila terkena agen kimia dibanding selulosa.

11

Hemiselulosa adalalah polisakarida yang bukan selulosa, jika dihidrolisis akan


menghasilkan D-manova, D-galaktosa, D-xylosa, L-arabinosa dan asam uronat. Sedangkan
Holoselulosa adalah bagian serat yang bebas lignin, terdiri dari campuran semua selulosa dan
hemiseulosa.
Morison (1986) mendapatkan bahwa hemiselulosa lebih erat terikat dengan lignin
dibandingkan dengan selulosa. Hemiselulosa rantainya pendek dibandingkan selulosa dan
merupakan polimer campuran dari berbagai senyawa gula, seperti xilosa, arabinosa dan
galaktosa. Selulosa alami umumnya kuat dan tidak mudah dihidrolisis karena rantai
glukosanya dilapisi oleh hemiselulosa.

Gambar 2.1 Struktur Lignoselulosa

2.4 Delignifikasi
Untuk dapat menghidrolisis selulosa dan hemiselulosa menjadi glukosa diperlukan proses
pretreatment untuk memisahkan selulosa dan hemiselulosa dengan lignin. Proses tersebut
adalah proses delignifikasi. Proses delignifikasi dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara
lain secara fisis, kimiawi maupun biologi.
Proses delignifikasi secara fisis dilakukan dengan reduksi ukuran dari partikel sehingga
luas permukaan kontak antara selulosa dan hemiselulosa dengan zat penghidrolisis akan lebih
maksimal. Reduksi ukuran partikel dapat dilakukan antara lain dengan cara pencacahan,
hidrotermal, dan steam explosion. Kekurangan dari delignifikasi secara fisis adalah terjadinya
12

destruksi struktur pada rumput. Untuk proses secara kimiawi dapat dilakukan dengan
penambahan larutan asam atau basa seperti asam nitrat, asam sulfat, amonia dan kalsium
hidroksida (kapur). Sedangkan untuk proses secara biologi dapat dilakukan dengan
menggunakan jamur.
Metode delignifikasi yang digunakan dalam konversi rumput menjadi bioetanol adalah
campuran antara proses fisis dan kimiawi. Dimana rumput akan direduksi ukurannya dengan
cara

pencacahan,

kemudian

direndam

menggunakan

larutan

kapur

panas

untuk

menghilangkan lignin selama 3 jam. Larutan kapur (Ca(OH)2) dipilih karena sifatnya yang
tidak berbahaya, ketersediaan yang tinggi serta harganya yang murah.

Gambar 2.2

Proses Lignifikasi

2.5 Hidrolisis Selulosa


Proses hidrolisis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu menggunakan larutan asam dan
enzim. Namun reaksi berbasis enzim cenderung membutuhkan waktu yang lama, tingkat
sterilisasi peralatan proses yang tinggi dan biaya operasional yang tinggi terutama dalam
penyediaan enzim dan mikroba. Sehingga akan lebih cepat dan ekonomis jika menggunakan
asam sebagai zat penghidrolisis.
Larutan asam yang digunakan adalah larutan asam kuat H2SO4 dengan konsentrasi 15%.
Larutan tersebut ditambahkan pada rumput yang telah melalui proses delignifikasi. Selama
proses hidrolisa dilakukan pengadukan dan pemanasan hingga temperatur 120 oC pada kurun
waktu 2 3 jam.

13

2.6 Fermentasi
Fermentasi merupakan suatu proses dimana enzim yang ada di mikroorganisme
mengkatalisis suatu reaksi kimia untuk mengubah suatu gula sederhana atau asam amino
menjadi senyawa dengan massa molekul yang lebih rendah seperti asam organik dan etanol
(Annisa, 2007). Proses fermentasi yang dilakukan adalah proses fermentasi yang tidak
menggunakan oksigen atau proses anaerob. Cara pengaturan produksi etanol dari gula cukup
komplek, konsentrasi substrat, oksigen, dan produk etanol, semua mempengaruhi
metabolisme khamir, daya sel hidup, pertumbuhan sel, pembelahan sel, dan produksi etanol.
Seleksi galur khamir yang cocok dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap konsentrasi
substrat ataupun alkohol merupakan hal yang penting untuk peningkatan hasil (Higgins,dkk,
1985).
Fermentasi pertama kalinya dilakukan perlakukan dasar terhadap bibit fermentor atau
persiapan starter. Dimana starter diinokulasikan sampai benar-benar siap menjadi fermentor,
baru dimasukkan ke dalam substrat yang akan difermentasi (Dwijoseputro). Bibit fermentor
yang biasa digunakan adalah Saccharomyces Cerevisiae, yang mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut :
Mempunyai bentuk sel yang bulat, pendek, dan oval.
Mempunyai ukuran sel (4,2 6,6) xx (5-11) mikron dalam waktu tiga hari pada 25 oC
dan pada media agar.
Dapat bereproduksi dengan cara penyembulan atau multilateral.
Mampu mengubah glukossa dengan baik.
Dapat berkembang dengan baik pada suhu antara 20-30 oC (Judoamidjojo, 1992)
Proses fermentasi dipengaruhi oleh:
Nutrisi
Pada proses fermentasi, mikroorganisme sangat memerlukan nutrisi yang baik agar
dapat diperoleh hasil fermentasi yang baik. Nutrisi yang tepat untuk menyuplai
mikroorganisme adalah nitrogen yang mana dapat diperoleh dengan penambahan
NH3, garam amonium, pepton, asam amino, urean. Nitrogen yang dibutuhkan sebesar
400-1000 gram/1000 L cairan. Dan phospat yang dibutuhkan sebesar 400 gram/1000
L cairan (Soebijanto,1986). Nutrisi yang lain adalah amonium sulfat dengan kadar 70400 gram/100 liter cairan. (Judoamidjojo, 1992).
pH
pH yang baik untuk pertumbuhan bakteri adalah 4,5 5. Tetapi pada pH 3,5

14

fermentasi masih dapat berjalan dengan baik dan bakteri pembusuk akan terhambat
untuk mengatur pH dapat digunakan NaOH dan HNO3.
Suhu
Suhu yang baik untuk pertumbuhan bakteri adalah antara 20-30 oC. Makin rendah
suhu fermentasi, maka akan semakin tinggi etanol yang akan dihasilkan karena pada
suhu rendah fermentasi akan lebih sempurna ddan kehilangan etanol karena terbawa
gas CO2 akan lebih sedikit.
Waktu
Waktu yang dibutuhkan untuk fermentasi adalah 7 hari (Judoamidjojo,1992).
Kandungan gula
Kandungan gula akan sangat mempengaruhi proses fermentasi, kandungan gula yang
diberikan untuk fermentasi adalah 25% untuk permulaan, kadar gula yang digunakan
adalah 16 (Sardjoko,1991).
Volume Starter
Volume starter yang baik untuk melakukan fermentasi adalah 1/10 bagian dari volume
substrat. Dalam proses fermentasi ini, glukosa dari hasil fermentasi diubah menjadi
etanol dengan reaksi sebagai berikut:
Saccharomyces Cerevisiae

2.7 Distilasi Sederhana


Distilasi merupakan proses pemisahan suatu campuran senyawa berdasarkan perbedaan
volatilitas relatif atau kemudahan menguap masing-masing komponen. Etanol akan lebih
mudah menguap dibandingkan air. Pada larutan campuran air dan etanol yang dihasilkan
dapat dilakukan distilasi secara sederhana pada temperatur pemanasan 80 oC. Konsiderasi
temperatur pemanasan berdasarkan titik didih etanol yaitu 78 oC dan titik didih air 100 oC.
Etanol akan menguap menjadi produk atas berupa uap yang kemudian dikondensasikan
menggunakan media pendingin air sehingga berubah fase menjadi likuid.
Hal-hal yang mempengaruhi dari kemurnian bioetanol yang didapatkan adalah suhu
pemanasan dan kandungan etanol yang terdapat pada umpan. Untuk dapat dapat lebih
memurnikan produk bioetanol dapat dilakukan dengan menurunkan temperatur pemanasan.
Akan tetapi akan memberi dampak pada laju alir produk bioetanol yang berkurang serta
banyaknya bioetanol yang terbawa pada produk bawah air.

15

2.8 Dehidrasi
Untuk dapat menjadi campuran bahan bakar bensin, kadar kemurnian etanol harus
mencapai 99,6%. Sedangkan hasil dari distilasi sederhana hanya dapat mencapai kemurnian
berkisar 90 93 %. Oleh karena itu diperlukan proses dehidrasi untuk dapat menghilangkan
kandungan air dalam etanol. Dehidrasi dilakukan dengan menggunakan adsorben molecular
sieve ukuran 3A. Produk etanol keluaran kolom distilasi dilewatkan ke sebuah vesel
dehidrator yang berisi molecular sieve. Arah masuknya aliran etanol yaitu dari arah atas ke
bawah. Air akan di-adsorp oleh molecular sieve karena sifatnya yang lebih polar.

16

BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1 Pengumpulan Data dan Informasi
Pengumpulan data rata-rata banyaknya hasil pemotongan rumput setiap bulannya yang
belum termanfaatkan. Serta data MSDS dari masing-masing bahan kimia yang digunakan
agar sesuai dengan standar pengerjaan.

3.2 Eksperimen Skala Laboratorium


Untuk memperkuat hipotesis mengenai metode dari masing-masing proses pada
pengolahan rumput menjadi bioetanol maka dilakukan eksperimen dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Pengumpulan bahan baku rumput dan mengelompokkan berdasarkan jenis.
2. Pencacahan rumput.
3. Perendaman dengan larutan kapur.
4. Penyaringan dan pengeringan.
5. Penambahan larutan asam sulfat encer dengan pemanasan dan pengadukan.
6. Penyaringan dan pemisahan endapan dengan filtrat.
7. Analisa kandungan glukosa.
8. Fermentasi filtrat menggunakan Saccharomyces Cerevisiae selama 7 hari.
9. Analisa kandungan bioetanol.
10. Distilasi sederhana antara bioetanol dengan air.
11. Analisa kemurnian produk bioetanol.

3.3 Hasil Uji Laboratorium


Menghitung banyaknya produk bioetanol yang dihasilkan serta analisa kemurnian dari
produk. Selain itu juga dilakukan analisis kandungan glukosa pada masing-masing jenis
rumput.

17

3.4 Teknis Perancangan Alat


Langkah-langkah perancangan prototype unit sistem pengolahan rumput menjadi
bioetanol adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan referensi.
2. Desain masing-masing alat untuk setiap prosesnya.
3. Pemilihan dan pengadaan material.
4. Pembuatan komponen masing-masing alat setiap prosesnya.
5. Perakitan prototype unit sistem pengolahan rumput menjadi bioetanol.
6. Pengujian alat.

3.5 Analisis
Analisis kemurnian produk bioetanol serta kuantitas produk dibandingkan dengan
banyaknnya bahan baku yang digunakan.

18

BAB IV
BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
4.1 Estimasi Biaya
Tabel 4.1 Estimasi Biaya
Barang

Jumlah

Unit

Harga

Alkoholmeter

Buah

Rp100.000

Kapur Ca(OH)2 25kg

Karung

Plat Carbon steel

Buah

Rp390.000

Motor

Buah

Rp1.500.000

Tandon

Buah

Rp400.000

Pompa air pendingin

Buah

Rp390.000

Thermal Indicator

Buah

Rp1.000.000

Heater

Buah

Rp1.000.000

Tangki Fermentor

Buah

Rp150.000

Valve

Buah

Rp1.000.000

Meter

60

Rp12.000
Gram
Total Rp6.012.000

Rp50.000

Molsieve

Pipa Carbon Steel


Pipa PVC
Lem PVC

19

Rp20.000

4.2 Jadwal Pelaksanaan


No

Kegiatan / Bulan

Sepetember

Oktober

November

Desember

Januari

Februari

Maret

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2
1

Pengajuan Judul Tugas


Akhir

Pengajuan

Proposal

Tugas Akhir
3

Pengumpulan Referensi

Pengumpulan data

Pengujian

skala

laboratorium
6

Desain

unit

pengolahan

sistem
rumput

menjadi bioetanol
7

Pemilihan

dan

pengadaan material
8

Pembuatan komponen
unit sistem pengolahan
rumput

menjadi

bioetanol
9

Perakitan

dan

pengujian, unit sistem


pengolahan

rumput

menjadi bioetanol
10

Analisa hasil produksi


bioetanol

11

Pembuatan laporan

12

Ujian Tugas Akhir

20

DAFTAR PUSTAKA
Gang Hu, John A. Heitmann, Orlando J. Rojas. 2008. Feedstock Pretreatment Strategies For
Producing Ethanol From Wood, Bark, and Forest Residues. Diakses pada 20 September
2014 dari http://www.ncsu.edu/bioresources
Ketut Sari, Ni, 2009, Produksi Bioethanol dari Rumput Gajah Secara Kimia, Jurnal Teknik
Kimia, Surabaya, September.
Rizki Kurnia,Tita,dkk, 2012, Pembuatan Bioetanol dari Rumput Gajah (Pennisetum
purpureum Scumach) dengan Proses Hidrolisa Enzim dan Fermentasi, Surabaya, Institut
Teknologi Sepuluh November, Tugas Akhir.
S Kardono, Broto, 2010, Teknologi Pembuatan Etanol Berbasis Lignoselulosa Tumbuhan
Tropis untuk Produksi Biogasoline, Program Insentif Peneliti dan Rekayasa LIPI Tahun
2010, Serpong, 22 November.
Subekti,Hendro, 2006, Produksi Etanol dari Hidrolisat Fraksi Selulosa Tongkol Jagung Oleh
Saccharomyces Serevisiae, Bogor, Institut Pertanian Bogor, Skripsi.

21

LAMPIRAN

22

Perbedaan Penelitian Tugas Akhir LNG Academy Dengan Yang Sudah Dilakukan Oleh
Orang Lain

Judul

: Rancang Bangun Prototype Unit Sistem Pengolahan Rumput


Menjadi Bioetanol Sebagai Campuran Bensin

Anggota

: 1. Antoni

NIM. 6512010002

2. Melly Chandra F. NIM. 6512010015

No
1.

Sumber
Ketut Sari, Ni, 2009,

Metode Yang Sudah Ada


Metode Kami
Pretreatment dilakukan
Pretreatment dilakukan dengan

Produksi Bioethanol

dengan pemanasan dengan

secara fisis yaitu pencacahan

dari Rumput Gajah

oven dan penambahan

dan perendaman dengan larutan

Secara Kimia,

larutan asam HCl.

kapur yang relatif lebih aman

Jurnal Teknik Kimia,

dan lebih ekonomis.

Surabaya,

Semua proses dilakukan

Semua proses dilakukan pada

September.

dengan uji coba skala

prototype skala pilot plant.

laboratorium.

2.

S Kardono, Broto,

Proses hidrolisa

Proses hidrolisa menggunakan

2010, Teknologi

menggunakan katalis asam

larutan asam kuat encer yang

Pembuatan Etanol

padat.

cenderung membutuhkan waktu

Berbasis

lebih cepat.

Lignoselulosa
Tumbuhan Tropis

Bahan baku biomassa

Bahan baku biomassa adalah

untuk Produksi

yang digunakan adalah

rumput disekitar kompleks

Biogasoline,

serat batang pisang.

perumahan Badak LNG yang

Program Insentif

belum memiliki nillai guna

Peneliti dan

tambahan.

Rekayasa LIPI
Tahun 2010,
Serpong, 22
November.

23

3.

Rizki

Proses pretreatment

Proses pretreatment

Kurnia,Tita,dkk,

menggunakan proses fisis

menggunakan proses fisis

2012, Pembuatan

pencacahan penambahan

pencacahan dan penambahan

Bioetanol dari

larutan asam sulfat.

larutan kapur.

(Pennisetum

Hidrolisa menggunakan

Hidrolisa menggunakan larutan

purpureum

enzim yang memerlukan

asam sulfat encer.

Scumach) dengan

sterilisasi tingkat tinggi

Proses Hidrolisa

dan biaya operasional

Enzim dan

tinggi.

Rumput Gajah

Fermentasi,
Surabaya, Institut
Teknologi Sepuluh
November, Tugas
Akhir.

24

BIODATA MAHASISWA
1. Nama

: Antoni

NIM

: 6512010002

Jurusan

: Mechanical and Rotating

Tempat, tanggal lahir : Cirebon, 8 Januari 1994


Alamat

: PC 6 nomor 115C Perum. PT Badak NGL, Bontang

E-mail

: antonilngacademy2@gmail.com

2. Nama

: Melly Chandra Frayekti

NIM

: 6512010015

Jurusan

: Gas Processing

Tempat, tanggal lahir : Cilacap, 6 Mei 1995


Alamat

: PC 6 nomor 138C Perum. PT Badak NGL, Bontang

E-mail

: mellychandraf@gmail.com

25