Anda di halaman 1dari 4

KONSEP DASAR, MODEL, PEMBENTUKAN, DAN PERUBAHAN

SIKAP
Sikap
Terdapat beberapa pengertian sikap yang disampaikan oleh para ahli. Intinya sikap adalah perasaan
dari konsumen (positif dan negatif) dari suatu objek setelah dia mengevaluasi objek tersebut. Semakin
banyak objek yang dievaluasi akan semakin banyak sikap yang terbentuk.
Sikap memiliki beberapa fungsi, yaitu fungsi penyesuaian, ego defensive, ekspresi nilai, dan
pengetahuan. Untuk lebih memahami sikap perlu dipahami beberapa karakteristik sikap, diantaranya
memiliki objek, konsisten, intensitas dan dapat dipelajari.
Model dan Teori Sikap
Perkembangan teori tentang sikap sudah sangat maju. Sikap juga dapat digambarkan dalam bentuk
model. Model tradisional menggambarkan pengaruh informasi dari lingkungan luar pribadi seseorang,
di mana informasi tersebut akan diolah dengan menggunakan elemen internal dari seseorang, untuk
menghasilkan sikap terhadap objek. Model analisis konsumen menyebutkan bahwa sikap terdiri dari
komponen perasaan (affect) dan kognitif, perilaku, serta lingkungan. Model tiga komponen dan model
ABC menyatakan bahwa sikap konsumen dibentuk oleh faktor kognitif, afektif, dan konatif (perilaku
atau kecenderungan untuk berperilaku). Teori kongruitas menggambarkan pengaruh antara dua jenis
objek, di mana kekuatan satu sama lain dapat saling mempengaruhi persepsi konsumen. Dan model
terakhir adalah model Fishbein yang merupakan kombinasi dari kepercayaan objek terkait dengan
atribut dan intensitas dari kepercayaan tersebut. Model Fishbein ini kemudian dimodifikasi dengan
menambahkan bahwa perilaku dipengaruhi oleh sikap terhadap perilaku dan norma subjektif.
Pembentukan Sikap
Sikap yang terbentuk biasanya didapatkan dari pengetahuan yang berbentuk pengalaman pribadi. Sikap
juga dapat terbentuk berdasarkan informasi yang diterima dari orang lain, yang memiliki pengaruh.
Kelompok juga menjadi sumber pembentukan sikap yang cukup berpengaruh.
Alur pembentukan sikap dimulai ketika seseorang menerima informasi tentang produk atau jasa.
Informasi tersebut, kemudian dievaluasi dan dipilah, berdasarkan kebutuhan, nilai, kepribadian, dan
kepercayaan dari individu. Sehingga terjadilah pembentukan, perubahan atau konfirmasi dalam
kepercayaan konsumen terhadap produk, serta tingkat kepentingan dari tiap atribut produk terhadap
dirinya atau terhadap kebutuhannya saat ini. Hasil akhirnya adalah terbentuknya sikap dari individu
terhadap suatu objek (produk, jasa atau hal lainnya). Tingkat komitmen dari pembentukan sikap
beragam, mulai dari compliance, identification, sampai kepada internalization. Dalam prinsip
konsistensi sikap, terdapat harmoni antara pemikiran, perasaan, dan perbuatan, yang cenderung
menimbulkan usaha untuk menciptakan keseimbangan antara ketiganya. Adanya disonansi antara
elemen sikap dan perilaku dapat direduksi dengan menghilangkan, menambah atau mengubah
keduanya (teori disonansi kognitif). Teori persepsi diri menyatakan bahwa sikap dapat ditentukan dari
perilaku yang diobservasi. Adanya penerimaan dan penolakan pesan berdasarkan standar yang
dibentuk dari sikap sebelumnya terdapat dalam teori penilaian sosial.
Perubahan Sikap
Strategi perubahan sikap dapat dilakukan baik terhadap produk dengan keterlibatan tinggi, maupun
untuk produk dengan tingkat keterlibatan rendah. Usaha mengarahkan audiens untuk produk dengan
keterlibatan rendah ditempuh dengan mentransformasi situasi ke arah keterlibatan konsumen yang
tinggi. Adapun strategi perubahan sikap konsumen terhadap produk atau jasa tertentu dilakukan dengan
menggunakan saluran komunikasi persuasif, yang mengikuti alur proses komunikasi yang efektif.
Pemasar harus mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan mengoptimalkan penggunaan faktor-faktor

yang dapat mempengaruhi dan dapat menyebabkan perubahan sikap dari penerima pesan atau
konsumen. Faktor sumber, pesan, dan penerima pesan dapat digunakan secara optimal untuk
menghasilkan perubahan sikap dan tentunya perubahan perilaku positif dari konsumen yang
diharapkan oleh pemasar. Kredibilitas dari sumber pesan menjadi fokus dari komunikasi persuasif.
Dalam mengelola pesan, yang harus diperhatikan adalah struktur, urutan, dan makna yang terkandung
dalam pesan. Karakteristik dari penerima pesan, yang meliputi kepribadian, mood, dan jenis
kepercayaan yang dimiliki juga menjadi faktor penentu keberhasilan komunikasi persuasif.

Prinsip perubahan perilaku


Proses Berubah
Proses Berubah
Objektif Perilaku Siswa :
Di akhir pembelajaran ini mahasiswa diharapkan dapat :
- Menyebutkan pengertian proses berubah
- Menyebutkan macam-macam perubahan
- Menjelaskan ciri-ciri perubahan
Pendidikan kesehatan adalah suatu proses untuk menuju pada perubahan perilaku masyarakat, baik
masyarakat konsumen maupun penyedia (Provider).Untuk itu perlu dibahas teori-teori perubahan
perilaku.Perubahan perilaku yang dikehendaki oleh pendidikan kesehatan adalah yang didasari oleh
kesadaran, Oleh karena itu diperlukan suatu proses yang disebut proses belajar.Selain itu juga
dikatakan bahwa perilaku manusia khususnya perilaku kesehatan sangat dipengaruhi oleh faktor soaila,
budaya, ekonomi dan sebagainya.
A. Pengertian Perubahan
adalah merupakan suatu proses dimana terjadinya peralihan atau perpindahan dari status tetap (statis)
menjadi status yang bersifat dinamis, artinya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada.
Hal yang penting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan
perilaku.Karena perubahan perilaku merupakan tujuan dari pendidikan atau penyuluhan kesehatan
sebagai penunjang program-program kesehatan lainnya.
Proses Perubahan perilaku menurut Lewin ( 1951 ) mengemukakan teori perubahan Unfreezing to
refreezing yang berlangsung dalam lima tahap berikut :
a. Fase Pencairan ( the unfreezing phase)
Individu mulai mempertimbangkan penerimaan terhadap perubahan.Dalam keadaan ini ia siap
menerima perubahan sikap dasar.Motivasi dan tingkah laku.Di dalam masyarakat pada fase ini, berada
pada keadaan untuk mengubah kekuatan yang mempengaruhi prose perumusan kebijaksanaan,
partisipasi masyarakat, dll
b. Fase Diagnosa masalah (problem diagnosis phase) :
Individu mulai mengidentifikasi kekuatan-kekuatan, baik yang mendukung perlunya perubahan
maupun menetang perubahan itu serta menganalisa kekuatan itu.
c. Fase penentuan tujuan (Goal Setting Phase) :
Apabila masalahnya telah dipahami, maka individu menentukan tujuannya sesuai dengan perubahan
yang diterimanya.
d. Fase Tingkah Laku baru (new behavior phase) :
Pada fase ini individu mulai mencobanya dan membandingkan dengan praktik praktik yang telah
dilakukan dan diharapkan.
e. Fase pembekuan ulang (the refreezing phase) :
Apabila dianggap berguna, perubahan kemudian diasimilasikan menjadi pola tingkah laku yang
permanen, misalnya : arti kesehatan bagi kehidupan manusia dan cara-cara pemeliharaan kesehatan.
B. MACAM MACAM TEORI PERUBAHAN
1. Teori Stimulus Organisme ( S O R )
Didasarkan pada asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung kepada kualitas

rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan organisme.Artinya, kualitas dari sumber komunikasi,
misalnya kredibilitas, kepemimpinan, gaya berbicara, sangat menentukan keberhasilan perubahan
perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat.
Hosland, et al ( 1953) mengatakan bahwa perubahan perilaku pada hakikatnya adalah sama dengan
proses belajar.
Teori ini mengatakan bahwa perilaku berubah hanya apabila stimulus ( rangsang ) yang diberikan
benar benar melebihi dari rangsang semula.Rangsang yang dapat melabihi stimulus semula ini berarti
stimulus yang diberikan harus dapat meyakinkan organisme.Dalam meyakinkan organisme ini faktor
reinforcement memegang peranan penting.
2. Teori Festinger ( Dissonance Theory ) ( 1957 )
Teori ini sebenarnya sama dengan konsep imbalance (tidak seimbang).
Hal ini berarti bahwa keadaan cognitive dissonance merupakan ketidak seimbangan psikologis yang
diliputi oleh ketegangan diri yang berusaha untuk mencapai keseimbangan kembali.Apabila terjadi
keseimbangan dalam diri individu, maka berarti terjadi ketegangan diri lagi, dan keadaan ini disebut
consonance ( keseimbangan ).
Ketidakseimbangan terjadi karena dalam diri individu terdapat dua elemen kognisi yang saling
bertentangan.Yang dimaksud elemen kognisi adalah pengetahuan, pendapat dan keyakinan.Apabila
individu menghadapi suatu stimulus atau objek, dan stimulus tersebut menimbulkan pendapat atau
keyakinan yang berbeda/bertentangan di dalam diri individu itu sendiri maka terjadilah dissonance.
Keberhasilan yang ditunjukkan dengan tercapainya keseimbangan menunjukkan adanya perubahan
sikap dan akhirnya akan terjadi perubahan perilaku.
3. Teori Fungsi
Teori ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan perilaku individu tergantung kepada kebutuhan.Hal
ini berarti bahwa stimulus yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku seseorang adalah stimulus
yang dapat dimengerti dalam konteks kebutuhan orang tersebut.
Menurut Katz ( 1960 ) perilaku dilatarbelakagi oleh kebutuhan individu yang bersangkutan :
1) perilaku memeiliki fungsi instrumental
Artinya dapat berfungsi dan memberikan pelayanan terhadap kebutuhan.
2) Perilaku berfungsi sebagai pertahanan diri dalam menghadapi lingkungannya
3) Perilaku berfungsi sebagai penerima objek dan pemberi arti
4) Perilaku berfungsi sebagai nilai ekspresif dari diri seseorang dalam menjawab suatu situasi.
Teori fungsi ini berkeyakinan bahwa perilaku mempunyai fungsi untuk menghadapi dunia luar
individu, dan senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungannya menurut kebutuhannya. Oleh sebab
itu di dalam kehidupan manusia perilaku itu tampak terus menerus dan berubah secara relatif.
4. Teori Kurt Lewin
Kurt Lewin ( 1970 ) berpendapat bahwa perilaku manusia adalah suatu keadaan yang seimbang antara
kekuatan kekuatan pendorong dan kekuatan kekuatan penahan.Perilaku itu dapat berubah apabila
terjadi ketidakseimabangan antara kedua kekuatan tersebut di dalam diri seseorang sehingga ada tiga
kemungkinan terjadinya perubahan perilaku pada diri seseorang.
a. Kekuatan kekuatan pendorong meningkat.
b. Kekuatan kekuatan penahan menurun
c. Kekuatan pendorong meningkat, kekuatan penahan menurun.
C. BENTUK BENTUK PERUBAHAN PERILAKU.
1. Perubahan Alamiah ( Natural Change )
Perilaku manusia selalu berubah. Sebagian perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah.
2. Perbahan terencana ( Planned Change )
Perubahan perilaku ini terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh subjek.
3. Kesediaan untuk berubah ( Readdiness to Change )
Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program pembangunan di dalam masyarakat, maka yang
sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut, dan
sebagian orang lagi sangat lambat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut.
D. STRATEGI PERUBAHAN PERILAKU.
Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku tersebut oleh WHO dikelompokkan menjadi
tiga
1. Menggunakan kekuatan/kekuasaan atau dorongan
Misal : dengan adanya peraturan peraturan/ perundang undangan yang harus dipatuhi oleh anggota
masyarakat.
Dapat berlangsung cepat akan tetapi belum tentu berlangsung lama karena perubahan perilaku terjadi

tidak atau belum didasari oleh kesadaran sendiri.


2. Pemberian informasi
Dengan memberikan informasi-informasi tentang cara-cara mencapai hidup sehat, cara pemeliharaan
kesehatan, cara menghindari penyakit, dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan masyarakat
tentang hal tersebut.
3. Diskusi partisipasi
Cara ini adalah sebagai peningkatan cara yang kedua di atas yang dalam memberikan informasiinformasi tentang kesehatan tidak bersifat searah saja tetapi dua arah.
TEORI BERUBAH ( MENURUT ROGER DAN SHOAMAKER )
1. Tugas pendidikan kesehatan pada tahap kesadaran (Awarness)
Menyadarkan masyarakat dengan jalan memberikan penerangan yang bersifat informatif dan edukatif.
2. Tugas pendidikan kesehatan pada tahap minat ( interest)
Masyarakat sudah mulai tertarik perhatiannya pada usaha pembaharuan.Kegiatan ditingkatkan
memberikan penerangan melalui poster, radio, TV pamflet dll.
3. Tugas pendidikan kesehatan pada tahap evaluasi ( evaluation )
Pendekatam secara individu.
4. Tugas pendidikan kesehatan pada tahap percobaan (trial)
Sudah mulai mencoba tingkah laku baru. Tugas penkes lebih menyakinkan dan mengawasi agar tidak
terjadi drop out.
5. Tugas pendidikan kesehatan pada tahap adopsi ( Adoption)
Masyarakat telah bertingkah laku baru, sesuai yang diharapkan.Tugas penkes adalah memelihara dan
mengontrol secara terus menerus.
Sumber Pustaka:
Uha Suliha,et al, 2002, Pendidikan Kesehatan Dalam Keperawatan, Jakarta : EGC
Notoatmodjo, S, 2003, Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta