Anda di halaman 1dari 6

ISSN 0852-405X

Jurnal Penelitian UNIB, Vol.VIII, No 2, Juli 2002, Hlm. 105-110

105

PENGARUH KOMUNIKASI DOKTER


TERHADAP KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN
(Studi tentang Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah
Dr. M.Yunus Kota Bengkulu)

Resnani
Program Studi PGSD FKIP Universitas Bengkulu

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh komunikasi dokter terhadap kepuasan pasien rawat jalan di Rumah
Sakit Umum Daerah Dr. M. Yunus Kota Bengkulu,yang meliputi; kredibilitas dokter sebagai komunikator, pesanpesan verbal, dan pesan-pesan nonverbal komunikasi dokter. Metode penelitian adalah eksplanatori analitik.
Populasi penelitian adalah semua pasien yang berobat di seluruh poliklinik Instalasi Rawat Jalan yang berstatus
pasien ulang (lama). Digunakan sampel kelompok dua tahap (two-stage cluster sampling). Pengujian hipotesis
dengan menggunakan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi dokter yang
pengukurannya meliputi kredibilitas dokter sebagai komunikator, pesan-pesan verbal, dan pesan-pesan nonverbal
komunikasi dokter mempunyai pengaruh positif terhadap kepuasan pasien rawat jalan di Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD) Dr. M. Yunus Kota Bengkulu.
Kata kunci: Komunikasi dokter, kepuasan pasien

ABSTRACT
This research investigates the effect of doctor's communication on patient's satisfaction in the Dr. Yunus' Municipal
Hospital in Kota Bengkulu. The communication involves the doctor's credibility as a communicator, verbal
messages, and non-verbal messages. The population consists of all outpatients of the hospital and stratified cluster
sampling is used. Analytical explanatory technique is employed in data analysis. It is found that doctor's
communication exerts a positive influence on patient's satisfaction.
Key words: doctor's communication; patient's satisfaction

PENDAHULUAN
Salah satu syarat
yang paling penting dalam
pelayanan kesehatan adalah pelayanan yang
bermutu. Suatu pelayanan dikatakan bermutu
apabila memberikan kepuasan kepada pasien. Kepuasan pasien dalam menerima pelayanan kesehatan mencakup beberapa dimensi. Salah satu di
antaranya adalah dimensi kelancaran komunikasi
antara petugas kesehatan
(temasuk dokter) dengan pasien. Hal ini berarti pelayanan kesehatan
bukan hanya berorientasi pada pengobatan secara
medis saja, melainkan juga berorientasi pada komunikasi karena pelayanan melalui komunikasi
sangat penting dan berguna bagi pasien, serta
sangat membantu pasien dalam proses penyembuhan.
Sebagaimana dikemukakan oleh Purwanto
(1994 )
bahwa pengobatan melalui komunikasi
yang disebutnya dengan istilah komunikasi
terapeutik sangatlah penting dan berguna bagi
pasien. Dengan komunikasi yang baik dapat

memberikan pengertian tingkah laku pasien dan


membantu pasien dalam rangka mengatasi persoalan yang dihadapi pada tahap perawatan. Sedangkan pada tahap preventif, komunikasi terapeutik sangat berguna untuk mencegah adanya
tindakan yang negatif terhadap pertahanan diri
pasien.
Keterkaitan antara komunikasi dengan
kepuasan pasien dalam menerima pelayanan
kesehatan telah banyak menaruh perhatian para
peneliti. Situasi ini terlihat dari hasil penelitian
yang menunjukkan bahwa dokter tidak ramah:
42%, penjelasan dokter tidak dapat dimengerti:
30%, dokter tidak menjawab pertanyaan dengan
jujur dan lengkap: 40% (Tubbs,1996 ).
Demikian juga penelitian yang telah
dilakukan oleh Liowelyn (1972) In Abraham
(1992) menunjukkan bahwa tidak jarang terjadi
konflik antara petugas kesehatan dengan pasien
sebagai akibat komunikasi yang jelek atau tidak
komunikatif antara pihak kesehatan dengan

Resnani

pasien, yang akhirnya dapat menimbulkan kekecewaan dan ketidakpuasan, serta kepercayaan
yang rendah dari pasien.
Faktor lain yang menjadi tantangan dokter
dalam memberikan pelayanan kesehatan adalah
sulitnya membentuk persamaan makna antara
dokter dengan pasien yang awam dalam masalah
kesehatan. Kendala ini merupakan sesuatu yang
tidak dapat dihindari oleh dokter. Sementara,
dokter sering menggunakan gaya komunikasi
yang berorientasi pada dirinya. Dokter kurang
memberikan kesempatan kepada pasien untuk
lebih bebas dan lebih puas memberi atau
menerima informasi. Faktor ini dibuktikan dari
penelitian yang dilakukan oleh Byrne dan Long
(1976) In Abraham (1992) yang mempelajari
sejumlah besar sampel konsoltasi praktik umum.
Mereka menemukan bahwa dokter secara individual menunjukkan suatu gaya komunikasi
yang konsisten pada semua pasien yang berbeda
sehingga gagal beradaptasi dengan kebutuhan pasien. Gaya ini terdiri atas dokter membuat
keputusan, memberi informasi, instruksi, dan kemudian mengakhiri konsultasi. Sebagian besar
pasien sebagai penerima pasif bagi keputusan dan
arahan dokter. Kekakuan tersebut antara lain
sebagai akibat dari kesempatan yang terbatas bagi
dokter untuk mempelajari dan mengembangkan
keterampilan komunikasi.
Sementara, penelitian Burgoon dan rekanrekannya menguatkan pentingnya komunikasi
relasional dalam memperbaiki hubungan dokterpasien, dan pada tingkat yang lebih rendah, dalam
menumbuhkan kerelaan pasien. Burgoon melaporkan bahwa pesan dokter yang menyampaikan
keterbukaan, minat, kerelaan mendengarkan, keterlibatan, kehahangatan, kesamaan dan beberapa
formalitas, berkaitan erat dengan kepuasan maksimal pasien. Kepuasan maksimal pasien meliputi; (1) kepuasan kognitif yaitu kepercayaan
bahwa pasien mendapat informasi yang benar dari
dokter mengenai penyakit, obat yang diberikan,
dan prognosisnya: (2) kepuasan afektif yaitu merasa diterima, dan diakui; dan (3) kepuasan pada
bagaimana
dokter
melakukan
pemeriksaan
(Tubbs, 1996 ).
Beberapa hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa begitu pentingnya komunikasi
untuk membina hubungan yang baik, akrab, dan
harmonis antara petugas kesehatan dengan pasien.
Komunikasi yang efektif memberi keuntungan
dalam mencapai tujuan pribadi dan pekerjaan,.
Komunikasi yang efektif baik melalui pesan

106
verbal maupun pesan nonverbal dapat telihat pada
dokter yang komunikatif dalam berkomunikasi
seperti, tutur kata yang lembut, terbuka, empati,
gerak gerik yang bersahaja, ekspresi wajah yang
ramah. Kemampuan dan kecakapan berkomunikasi dari seorang dokter menyebabkan pasien
merasa puas, sehingga secara psikologis pasien
merasa terobati. Dengan demikian aspek kelancaran
komunikasi antara petugas kesehatan
(dokter) sebagai pemberi jasa pelayanan, mempunyai pengaruh yang besar terhadap kepuasan pasien sebagai penerima jasa pelayanan.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan
melalui kegiatan observasi partisipasi, diperoleh
keterangan bahwa ketidakpuasan para pasien menerima pelayanan yang berkaitan dengan komunikasi antara lain disebabkan kurangnya kesempatan bagi pasien untuk lebih bebas dan puas
saling memberi dan menerima serta saling bertanya tentang situasi yang dialami pasien. Mereka
merasa sebagai penerima pasif atas keputusan
yang diberikan dokter, karena dokter melakukan
konsultasi yang berpihak pada dirinya dengan
cara bertanya tentang penyakit, memberi informasi yang berkaitan dengan penyakit pasien, yang
kemudian mengakhiri konsultasi dengan memberi
resep tanpa memberi penjelasan tentang penyakit
pasien secara tuntas. Pada hal pasien menginginkan untuk mengungkapkan keluhan dan persoalannya secara tuntas, namun karena waktu
sangat terbatas maka tujuan pasien sering tidak
tercapai yang pada gilirannya menimbulkan
reaksi ketidakpuasan.
Penelitian tentang komunikasi dokter dalam kaitannya dengan kepuasan pasien berkaitan
dengan konsep komunikasi persuasif. Hovland,
Janis, dan Kelley mendefinisikan komu-nikasi
persuasif sebagai suatu proses dalam mana
seseorang (komunikator) meneruskan atau
mengirimkan (biasanya verbal) yang ditujukan pada
tingkah laku orang lain (Tan, 1981). Selanjutnya
Effendy
(1986)
mendefinisikan
komunikasi
persuasif sebagai komunikasi
yang dilancarkan seseorang untuk mengubah
sikap, pandangan atau perilaku orang lain,
yang sebagai
hasilnya pihak yang dipengaruhi melaksanakannya dengan kesadaran sendiri.
Berdasarkan uraian definisi komunikasi
persuasif tersebut, dapat dikemukakan bahwa dalam proses komunikasi terdapat paling sedikit tiga
komponen penting yaitu komunikator, pesan, dan
komunikan. Komunikator adalah orang yang
menyampaikan suatu pesan kepada orang lain

Kepuasan pasien rawat jalan

sebagai penerima pesan. Komunikator biasa juga


disebut pengirim, sumber, sourse atau encoder.
Komunikator adalah pelaku utama dalam proses
komunikasi. Ia mempunyai peranan yang sangat
penting dalam mengendalikan jalannya komunikasi.
Dalam dunia medis, komunikator dapat diartikan sebagai seorang petugas kesehatan, seperti: dokter, bidan, perawat, juru rawat, pembantu
medis yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan dan memiliki pengetahuan dan atau
keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan
(Depkes, 1996).
Seorang dokter akan menjadi komunikator
yang efektif apabila ia mempunyai
kredibilitas
yang tinggi di mata masyarakat (pasien). Kredibilitas komunikator merupakan sifat-sifat pribadi
seorang pembicara yang dapat mempe-ngaruhi
khalayak atau komunikan. Dengan kata lain,
kredibilitas merupakan salah satu unsur penyebab
timbulnya pengaruh komunikator terhadap komunikan. Pengaruh dalam komunikasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menimbulkan
perubahan dalam sikap atau tindakan orang lain
searah dengan yang diinginkan.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas,
maka dokter di samping mempunyai kompetensi
dan keahlian dalam bidang medis, juga harus terampil dalam berkomunikasi dengan pasiennya.
Komunikasi antara dokter-pasien merupakan hal
yang sangat penting dalam kaitannya dengan kepuasan pasien. Terciptanya komunikasi yang baik
dan efektif antara dokter-pasien akan menimbulkan kepercayaan dan kredibilitas yang tinggi bagi
dokter, misalnya memberi penjelasan tentang
penyakit pasien secara jujur, bersikap tulus atau
ikhlas dalam mendengarkan atau menjawab pertanyaan yang dikemukakan oleh pasien, saling
menghormati, penuh perhatian, dan sebagainya.
Unsur komunikasi yang memberikan andil
yang cukup tinggi dalam upaya memberikan kepuasan pasien dalam menerima pelayanan kesehatan adalah pesan. Tanpa kehadiran pesan dalam proses komunikasi, maka komunikasi tidak
akan berlangsung. Menurut Widjaja (2000) pesan
adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan
oleh komunikator. Pesan mempunyai inti atau
tema yang menjadi pengarah di dalam usaha
mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. Inti pesan dari komunikasi akan selalu
mengarah kepada tujuan akhir dari komunikasi.

107

Ditinjau dari sifat komunikasi, Effendy


(1999) mengklasifikasikannya ke dalam komunikasi verbal (verbal communication) dan komunikasi
nonverbal
(nonverbal
communication).
Demikian juga dengan pesan, dilihat dari sifat
penyampaiannya, pesan dapat disampaikan secara
verbal dan secara nonverbal. Kedua faktor ini
biasanya disajikan sebagai satu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan, karena dalam pelaksanaannya kedua komponen ini berlangsung secara
serentak atau simultan.
Pesan verbal adalah pesan yang berpusat
pada kata yang penggunaannya
secara tepat
berada dalam tata bahasa. Konsep ini perlu dipahami agar dapat mendukung secara positif aktivitas yang dilakukan seseorang. Liliweri (1994)
mengemukakan bahwa bahasa merupakan medium atau sarana bagi manusia yang berpikir dan
berkata tentang suatu gagasan sehingga boleh
dikatakan bahwa pengetahuan itu adalah bahasa.
Bagi manusia, bahasa merupakan faktor utama
yang menghasilkan persepsi, pendapat, dan
pengetahuan.
Cara seorang komunikator dalam menyampaikan pesan sangat besar pengaruhnya, tidak saja
melalui aspek-aspek verbal tetapi juga aspek
nonverbal. Pesan nonverbal merupakan hal yang
sangat penting dalam perilaku komunikasi. Pesan
nonverbal adalah pesan tanpa katan-kata. Pesan
nonverbal adalah semua pesan yang disampaikan
tanpa katya-kata atau selain
kata yang kita
pergunakan. Dalam kaitannya dengan bahasa,
pesan-pesan nonverbal dapat berlangsung secara
serentak dan dalam proses komunikasi kedua
aspek ini saling bergantung dan tidak dapat
dipisahkan.
Sehubungan sengan uraian pendahuluan di
atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai
berikut: (1) untuk mengetahui pengaruh kredibilitas dokter sebagai komunikator terhadap kepuasan pasien rawat jalan di RSUD Dr. M. Yunus
Kota Bengkulu, (2) untuk mengetahui pengaruh
pesan-pesan verbal komunikasi dokter terhadap
kepuasan pasien rawat jalan di RSUD Dr. M.
Yunus Kota Bengkulu, (3) untuk mengetahui
pengaruh
pesan-pesan
nonverbal
komunikasi
dokter terhadap kepuasan pasien rawat jalan di
RSUD Dr. M. Yunus Kota Bengkulu.

METODE PENELITIAN
Penelitian
ini
menggunakan
metode survei
eksplanatory analitik. Metode penelitian survei

Resnani

dimaksudkan sebagai suatu penelitian yang mengambil sampel dari populasi dan menggunakan
angket (kuesioner) sebagai alat pengumpul data
yang pokok (Singarimbun, 1996). Penelitian
survei ini digunakan untuk memperoleh penjelasan (explanatory), yakni menjelaskan hubungan
kausal di antara variabel-variabel penelitian dan
pengujian hipotesis dengan bantuan statistika,
sehingga dapat ditarik kesimpulan tentang makna
data yang diperoleh.
Variabel dalam penelitian ialah komunikasi dari dokter (X) yang meliputi: kredibilitas
dokter sebagai komunikator (X1 ), pesan-pesan
verbal komunikasi dokter (X2 ), dan pesan-pesan
nonverbal komunikasi dokter (X3 ), adalah sebagai
variabel bebas. Sedangkan variabel terikat adalah
kepuasan pasien rawat jalan (Y).
Populasi dalam penelitian ini adalah semua
pasien rawat jalan di RSU Dr. M. Yunus Kota
Bengkulu yang berobat di beberapa poliklinik
yang ada di rumah sakit tersebut dengan karakteristik pasien rawat jalan yang berstatus pasien
ulang (lama). Mengingat besarnya populasi, maka
diambil sampel penelitian. Tipe sampling yang digunakan adalah two stage cluster sampling
(sampel acak klaster dua tahap) dengan alokasi
proporsional.
Dalam proses pemilihan sampel,
rumah sakit dijadikan klaster dan poliklinikpoliklinik dijadikan satuan sampling primer
(SSP). Dari setiap poliklinik yang ada kemudian
diambil empat poliklinik secara random sebagai
pemilihan tingkat pertama yaitu memilih satuan
sampling sekunder (SSS). Dari poliklinik yang
terpilih, diambil pasien sebagai responden yaitu
pemilihan tingkat kedua. Pengambilan responden
ini diambil secara proporsional random.
Ukuran sampel dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan rancangan analisis yang digunakan. Karena masalah yang diteliti adalah pengaruh, maka analisis yang digunakan adalah
Analisis Jalur (Path Analysis).
Ukuran sampel
dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan metode iteratif melalui metode Machin and
Compbell In Al Rasyid (1995).
Dengan menentukan tingkat kepercayaan
95% ( = 0.05) dan kuasa uji (1-) sebesar 95%
yang berarti = 0.05, serta perkiraan koefisien
korelasi terkecil yang diharapkan sebesar P =
0.30, maka berdasarkan perhitungan, diperoleh
nilai iterasi pertama dan kedua sampai dengan
bilangan satuannya sama, sehingga
besarnya
ukuran sampel harus diambil dalam penelitian ini
minimal n = 116 unit.

108
Sumber data dalam penelitian ini adalah
data primer dan data sekunder. Pengumpulan data
primer
berkaitan
langsung
dengan
variabel
penelitian yang meliputi: (1) kredibilitas dokter
sebagai komunikator (2) pesan-pesan verbal, dan
(3) pesan-pesan nonverbal komunikasi dokter.
Data dikumpulkan melalui daftar angket yang telah
dipersiapkan dengan didukung oleh teknik wawancara
dan observasi partisipasi.

Sumber data sekunder diperoleh dengan


menggunakan teknik dokumentasi dan studi
kepustakaan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh
positif komunikasi dokter terhadap kepuasan pasien rawat jalan, yaitu sebesar 0,6821 atau 68,2%.
Perhitungan uji statistik menunjukkan bahwa hasil F-hitung lebih besar dari F-tabel, dengan
derajat kepercayaan 95% dan tingkat kekeliruan
pada = 0,05. Ini berarti H1 diterima dan Ho
ditolak. Hasil ini mengandung arti bahwa 68,2%
proporsi variabel kepuasan pasien rawat jalan ditentukan oleh variabel komunikasi dokter. Dengan demikian, dapat dikatakan adanya kesesuaian bahwa tingkat kepuasan yang diperoleh
pasien bergantung dari keefektivan komunikasi
dokter.
Kesimpulan
hipotesis ini didukung oleh
hasil pengujian terhadap ketiga subvariabel penelitian yaitu, (1) kredibilitas dokter sebagai komunikator (X1 ), pesan-pesan verbal komunikasi dokter (X2 ), dan pesan-pesan nonverbal komunikasi
dokter (X3 ). Fakta ini ditunjang oleh nilai persentase pengaruh dari masing-masing sub-variabel, yaitu variabel kredibilitas dokter sebagai komunikator sebesar 0.0655 atau 6,55%, variabel
pesan-pesan verbal komunikasi dokter sebesar
0.4855 atau 48,55%, dan variabel pesan-pesan
nonverbal komunikasi dokter sebesar 0.1311 atau
13,11%.
Selanjutnya untuk melihat pembahasan
mengenai
pengaruh
masing-masing
variabel
bebas (X1 , X2 , dan X3 ) terhadap variabel terikat
(Y), diuraikan sebagai berikut: Komunikasi
dokter yang pengukurannya dilakukan melalui
kredibilitas dokter sebagai komunikator memberikan pengaruh positif terhadap kepuasan pasien
rawat jalan sebesar 0.0655 (6,55%). Pernyataan
ini ditunjukkan oleh hasil analisis data dengan diketahuinya t-hitung = 2.542 lebih besar dari ttabel 1.6372 dengan koefisien jalur sebesar 0.149

Kepuasan pasien rawat jalan

pada tingkat kepercayaan 95% dengan derajat


kekeliruan = 0,05.
Komunikasi dokter yang pengukurannya
dilakukan melalui pesan-pesan verbal memberikan pengaruh positif terhadap kepuasan pasien
rawat jalan sebesar 0.0655 ( 6,55% ). Hal ini ditunjukkan oleh perhitungan terhadap data tersebut
dengan diketahuinya t-hitung = 10.195 lebih besar
dari t-tabel 1.6372 dengan koefisien jalur sebesar
0.624 pada tingkat kepercayaan 95% dengan
derajat kekeliruan = 0,05.
Komunikasi dokter yang pengukurannya
dilakukan melalui pesan-pesan nonverbal memberikan pengaruh positif terhadap kepuasan pasien
rawat jalan sebesar 0.1311 (13,11% ). Berdasarkan perhitungan terhadap data tersebut diketahui
bahwa t-hitung =3.645 lebih besar dari t-tabel
1.6372 dengan koefisien jalur sebesar 0.228 pada
tingkat kepercayaan 95% dengan derajat kekeliruan = 0,05.
Adanya pengaruh komunikasi dokter terhadap kepuasan pasien rawat jalan, yang meliputi
kredibilitas dokter, pesan-pesan verbal, dan
pesan-pesan nonverbal secara nyata dapat diterima, dengan kata lain ketiganya mempunyai
hubungan erat secara timbal balik, dan memberikan pengaruh yang positif terhadap kepuasan
pasien rawat jalan. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa pesan yang disampaikan dokter
yang memiliki krebilitas yang tinggi, baik pesan
verbal maupun pesan nonverbal akan memberi
efek positif bagi pasien yaitu berupa suatu kepuasan, yang pada gilirannya dapat membantu
pasien dalam proses penyembuhan penyakitnya.
Dokter adalah seorang profesional yang
mempunyai keahlian dalam bidang medis yaitu
mampu mengobati pasien sesuai dengan ilmu
pengetahuan yang diperolehnya. Pembicaraan
atau pesan seorang dokter akan dipercaya oleh pasien karena dia memiliki suatu keahlian. Timbulnya rasa percaya disebabkan adanya keahlian
yang dimiliki oleh seseorang. Komunikan akan
tertarik kepada komunikator karena pembicaraan
atau pesan yang disampaikannya dapat dipercaya.
Sebagaimana dikemukakan Krech (1992) bahwa
pesan yang disampaikan oleh komunikator yang
tingkat kredibiltasnya tinggi akan lebih banyak
memberi pengaruh kepada perubahan sikap
penerima pesan daripada jika disampaikan oleh
oleh komunikator yang kredibelitasnya rendah.
Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa
variabel pesan, baik pesan verbal maupun pesan
nonverbal komunikasi dokter menunjukkan hasil

109

yang lebih tinggi dibandingkan dengan variabel


kredibilitas dokter sebagai komunikator. Keadaan
ini menggambarkan bahwa pesan merupakan
faktor yang sangat menentukan dalam upaya
perubahan sikap, pendapat, maupun perilaku dari
pasien sebagai komunikan. Pesan mempunyai inti
atau tema yang menjadi pengarah di dalam usaha
mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. Inti pesan dari komunikasi akan selalu
mengarah kepada tujuan akhir dari komunikasi.
Komunikasi yang dilakukan dokter tidak
hanya bertujuan untuk memberi tahu atau menginformasikan sesuatu kepada pasien, tetapi juga
untuk mengubah sikap, pendapat, maupun perilaku dari pasien. Cara dokter berkomunikasi dengan pasiennya baik mengenai sifat-sifat setiap
penyakit, prognosisnya, biayanya, cara pengobatannya, tindak lanjut pemeriksaan, dan sebagainya merupakan suatu teknik yang menarik
yang dilakukan dokter dalam upaya mewujudkan
tingkat kepuasan pasien rawat jalan dalam menerima pelayanan kesehatan.

KESIMPULAN
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi dokter yang pengukurannya meliputi kredibilitas dokter sebagai komunikator, pesan-pesan
verbal, dan pesan-pesan nonverbal mempunyai
pengaruh positif terhadap kepuasan pasien rawat
jalan di rumah sakit umum daerah Dr. M.Yunus
Kota Bengkulu. Pernyataan ini mengandung arti
bahwa semakin tinggi kredibilitas dokter sebagai
komunikator menunjukkan kepuasan yang diperoleh pasien rawat jalan semakin positif. Selanjutnya semakin efektif dan komunikatif pesan-pesan
yang disampaikan dokter baik pesan verbal maupun pesan-pesan nonverbal, menunjukkan kepuasan yang diperoleh pasien rawat jalan akan
semakin tinggi.
Berdasarkan temuan penelitian
disarankan kepada pihak rumah sakit umum Dr.
M. Yunus Kota Bengkulu untuk menjadikan hasil
penelitian ini sebagai masukan dalam upaya
meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, sebab komunikasi merupakan salah satu
sarana yang
penting untuk membina hubungan
yang baik antar sesama. Terbinanya hubungan
dokter-pasien yang baik adalah salah satu perwujudan dari kode etik kedokteran. Oleh sebab
itu, agar terwujud hubungan dokter-pasien yang
baik, akrab, dan kondusif diharapkan dokter
selalu menunjukkan sikap yang penuh perhatian
kepada pasien, ingin menampung dan mende-

Resnani

ngarkan semua keluhan serta menjawab dan


memberi keterangan yang sejelas-jelasnya tentang
segala hal yang ingin diketahui oleh pasien.
Selain itu, kepuasan pasien rawat jalan,
tidak hanya ditentukan oleh faktor komunikasi
dari pihak dokter saja, tetapi terkait juga dengan
komunikasi dari personel yang lain, seperti para
medis (perawat, juru rawat, bidan). Oleh sebab
itu, disarankan juga bagi para medis yang terjun
langsung membantu dokter, untuk dapat menciptakan komunikasi yang baik, kondusif, akrab,
menyenangkan dengan menunjukkan tutur kata
yang lembut, sikap empati, gerak gerik bersahaja,
dan ekspresi wajah yang ramah kepada semua
pasien.

DAFTAR PUSTAKA
Abraham, Chales, 1992. Psikologi Sosial untuk
Perawat. Terjemahan Leoni Sally.
Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Al Rasyid, Harun,
Bandung: PPS-Unpad.

1995.

Statistika

Sosial.

Effendy, Onong Uchjana, 1986. Dimensi-Dimensi


Komunikasi. Bandung: Remaja Karya.
Effendy, Onong Uchjana. 1999. Hubungan
Masyarakat Suatu Studi Komunikasi. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Depkes RI. 1996. Modul Pelatihan Fungsional
Perawat Puskesmas,. Jakarta.
Krech, David, Richard S. Crutchfield., Egerton L.
Balachey, 1992. Individual In Society. Mc. GrawHill Kagokusha LTD, Tokyo.
Liliweri, Alo, 1994. Komunikasi Verbal
Nonverbal. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

dan

110
Purwanto,
Heri,
1994.
Komunikasi
Perawat. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.
Singarimbun, Masri,
Survei. Jakarta: LP3ES.

1996.

Metode

untuk

Penelitian

Tan, Alexis
S, 1981. Mass Cummunication
Theory, and Reseach. Grid Publishing Inc,
Columbus, Ohio.
Tubbs, Stewart L, 1996. Human Communication I
dan II. Terj. Deddy Mulyana. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Widjaya,
A.W.,
2000.
Ilmu
Komunikasi
Pengantar Studi. Edisi Revisi. Jakarta. PT.Reneka
Cipta.