Anda di halaman 1dari 36

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang berjudul
ADAB DAN IMPLEMENTASI DALAM KEHIDUPAN
Sebagai seorang muslim yang baik kita tentu tahu bahwa adab terhadap orang tua
merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Karena, orang tua adalah orang yang mengenalkan
kita pada dunia dari kecil hingga dewasa. Dan setiap orang tua pun pasti mempunyai harapan
terhadap anaknya agar kelak menjadi anak yang sukses, berbakti kepada orang tua, serta menjadi
lebih baik dan sholeh, di samping itu juga tentunya dalam kehidupan kita sehari-hari tidak
terlepas dari interaksi dengan yang ada di sekeliling kita, guru, tetangga, dan sesama makhluk
Allah SWT.
Maka dari itu, jika kita memang seorang muslim yang baik hendaknya kita selalu berbakti
kepada orang tua, melakukan apa yang telah diperintahkan oleh orang tua, dan pantang untuk
membangkang kepada orang tua, dan juga harus memperhatikan yang ada di sekeliling kita agar
terciptanya keharmonisan dalam kehidupan.
Namun di zaman dewasa ini banyak dari kita seperti lupa terhadap kewajiban kita terhadap
orang tua dan yang ada di sekeliling kita sebagai muslim yang baik, yaitu adalah kita harus
memiliki adab dan prilaku yang sempurna terhadap orang tua dan yang ada di sekeliling kita.
Makalah ini mengandung poin-poin penting bagaimana menjadi manusia yang beradab dalam
kehidupan baik terhadap orang tua, guru, tetangga, tamu, dan sesama manusia. Maka selain
sebagai upaya untuk mengerjakan tugas Aqidah Akhlaq, saya berharap bahwa tugas makalah ini
juga dapat dijadikan sebagai pengingat bagi setiap orang muslim yang membacanya akan
pentingnya adab dan prilaku yang baik terhadap hal-hal yang ada di sekitar kita.
Demikian makalah ini kami susun dengan harapan dapat memberikan kontribusi yang
posisi bagi ummat manusia, dan tak lupa koreksi ataupun saran yang bersifat konstruktif dari
para pembaca dengan harapan hasil penyusunan kami lebih baik di kemudian hari.
Terima kasih
Ciamis, November 2013

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Di antara kelaziman hidup bermasyarakat adalah budaya saling hormat menghormati, saling
menghargai satu sama lain, dalam keluarga sangatlah penting di tanamkan abad dan tatakrama
yang sopan terhadap kedua orang dan santun apabila berbicara terhadap keduanya.
Di zaman yang modern seperti sekarang ini telah banyak pergeseran tentang adab atau
prilaku sehingga menjurus kepada dekadensi moral, anak dengan orang tua tiada jarak yang
memisahkan seperti layaknya teman sebaya, murid dengan guru sudah tidak bisa lagi dibedakan
baik dalam perkataan, perbuatan ataupun prilaku dalam kehidupan sehari-hari yang seakan-akan
tidak mencerminkan prilaku seorang guru ataupun peserta didik.
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita temukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kaidah
islamiyyah yang menjunjung tinggi rasa saling menghargai, menghormati. Dalam berkehidupan
saling berdampingan dalam satu kawasan ataupun daerah individualisme lah yang sering
dimunculkan di mana rasa gotong royong, membantu satu sama lain sudah sangat sulit sekali kita
temukan, terlebih di kota-kota besar yang memang notabene memiliki beragam etnis, kebiasaan,
dan budaya yang berbeda beda.
Dengan adanya makalah ini penyusun mencoba menjelaskan tentang pandangan islam
tentang adab/tatakrama/ prilaku yang seharusnya dijunjung tinggi dan diimplementasikan dalam
kehidupan sehari-hari, baik dalam bergaul satu sama lain, dalam bidang ekonomi sosial budaya
dan lain sebagainya.

B. Perumusan Masalah
Dalam penulisan makalah ini rumusan masalah yang akan d kaji diantaranya:

Bagaimana pengertian adab?

Bagaimanakah adab seorang anak terhadap kedua orang tua?

Bagaimanakah adab seorang anak terhadap guru?

Bagaimanakah adab seorang anak terhadap tetangga?

Bagaimanakah adab seorang anak terhadap tamu?

Bagaimanakah adab seorang anak terhadap sesama?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini diantaranya:

Untuk mendiskripsikan pengertian adab.

Untuk menjelaskan adab seorang anak terhadap kedua orang tua?

Untuk menjelaskan adab seorang anak terhadap guru?

Untuk menjelaskan adab seorang anak terhadap tetangga?

Untuk menjelaskan adab seorang anak terhadap tamu?

Untuk menjelaskan adab seorang anak terhadap sesama?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Adab
Menurut bahasa Adab memiliki arti kesopanan, kehalusan dan kebaikan budi pekerti,
akhlak. M. Sastra Praja menjelaskan bahwa, adab yaitu tata cara hidup, penghalusan atau
kemuliaan kebudayaan manusia. Sedangkan menurut istilah Adab adalah suatu ibarat tentang
pengetahuan yang dapat menjaga diri dari segala sifat yang salah.
Pengertian bahwa adab ialah mencerminkan baik buruknya seseorang, mulia atau hinanya
seseorang, terhormat atau tercelanya nilai seseorang. Maka jelaslah bahwa seseorang itu bisa
mulia dan terhormat di sisi Allah dan manusia apabila ia memiliki adab dan budi pekerti yang
baik.
Seseorang akan menjadi orang yang beradab dengan baik apabila ia mampu menempatkan
dirinya pada sifat kehambaan yang hakiki. Tidak merasa sombong dan tinggi hati dan selalu
ingat bahwa apa yang ada di dalam dirinya adalah pemberian dari Allah swt. Sifat-sifat tersebut
telah dimiliki Rasulullah saw. Secara utuh dan sempurna.
Menurut Imam al-Ghazali akhlak mulia adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh para utusan
Allah swt. yaitu para Nabi dan Rasul dan merupakan amal para shadiqin. Akhlak yang baik itu
merupakan sebagian dari agama dan hasil dari sikap sungguh-sungguh dari latihan yang
dilakukan oleh para ahli ibadah dan para mutaqin.
Al-Ghazali berpendapat bahwa pendidikan akhlak hendaknya didasarkan atas mujahadah
(ketekunan) dan latihan jiwa. Mujahadah dan riyadhah-nafsiyah (ketekunan dan latihan
kejiwaan) menurut al-Ghazali ialah membebani jiwa dengan amal-amal perbuatan yang
ditujukan kepada khuluk yang baik, sebagaimana kata beliau: Barangsiapa yang ingin dirinya
mempunyai akhlak pemurah, maka ia harus melatih diri untuk melakukan perbuatan-perbuatan
pemurah, yakni dermawan, dan gemar bersedekah. Jika beramal bersedekah dilakukan secara
istiqamah, maka akan jadi kebiasaan.
Hal ini sejalan dengan firman Allah swt :
Artinya :

... dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan
Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta
orang-orang yang berbuat baik,,,.
Konsepsi pendidikan modern saat ini sejalan dengan pandangan al-Ghazali tentang
pentingnya pembiasaan melakukan suatu perbuatan sebagai suatu metode pembentukan akhlak
yang utama. Pandangan al-Ghazali tersebut sesuai dengan pandangan ahli pendidikan Amerika
Serikat, John Dewey, yang dikutip oleh Ali Al Jumbulati menyatakan: Pendidikan moral
terbentuk dari proses pendidikan dalam kehidupan dan kegiatan yang dilakukan oleh murid
secara terus-menerus.

B. Adab terhadap Orang Tua


Orang muslim meyakini hak kedua orang tua terhadap dirinya, kewajiban berbakti, taat, dan
berbuat baik kepada keduanya. Tidak karena keduanya penyebab keberadaannya hingga ia harus
berbalas budi kepada keduanya, tetapi karena Allah Azza wa Jalla mewajibkan taat, menyuruh
berbakti, dan berbuat bakti kepada keduanya. Bahkan, Allah Taala mengaitkan hak orang tua
tersebut dengan hak-Nya yang berupa penyembahan kepada diri-Nya dan tidak kepada yang lain.
Allah Azza wa Jalla berfirman :

t$!uq9$$/ur n$-) Hw) (#r7s? wr& y7/u 4|s%ur *


rr& !$yJdtnr& uy969$# x8yY `t=7t $B) 4 $Z|m)
$yJg9 @%ur $yJdpk]s? wur 7e$& !$yJl; @)s? xs $yJdx.
$VJ2 Zwqs%
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di
antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekalikali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Al Isra : 23)
Allah Subhanahu wa Taala berfirman,

$Zdur mB& mFn=uHxq my9uq/ z`|SM}$# $uZurur


< 6$# br& tB%t m=|ur 9`dur 4n?t
yJ9$# n<) y7y9uq9ur

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya;
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu. (Luqman : 14)
Seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW, Siapakah yang berhak mendapatkan
pergaulanku yang baik? Rasulullah SAW bersabda, Ibumu. Orang tersebut bertanya lagi,
Siapa lagi? Rasulullah SAW bersabda, Ibumu. Orang tersebut bertanya lagi, Siapa lagi?
Rasulullah SAW bersabda, Ibumu. Orang tersebut bertanya lagi, Siapa lagi? Rasulullah
SAW bersabda, Ayahmu.
Rasulullah SAW bersabda,
Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada kedua orang tua,
menahan hak, dan mengubur hidup anak perempuan. Allah membenci untuk kalian mengosip,
banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta. (Muttafaq Alaih)
Rasulullah SAW bersabda,
Seorang anak tidak bisa membalas ayahnya, kecuali ia menemukan ayahnya menjadi
budak, kemudian ia membelinya dan memerdekaannya (Muttafaq Alaih)
Salah seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW untuk meminta izin berjihad,
kemudian beliau bertanya, Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Sahabat tersebut
menjawab, Ya keduanya masih hidup, Rasulullah SAW bersabda, Mintalah izin kepada
keduanya, kemudian berjihadlah.
Salah seorang kaum Anshar datang kepada Rasulullah SAW, kemudian berkata, Wahai
Rasulullah, apakah aku masih mempunya kewajiban bakti kepada orang tua yang harus aku
kerjakan setelah kematian keduanya? Rasulullah SAW bersabda, Ya ada, yaitu empat hal :
Mendoakan keduanya, memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji keduanya,
memuliakan teman-teman keduanya, dan menyambungkan sanak famili di mana engkau tidak
mempunyai hubungan kekerabatan kecuali dari jalur keduanya. Itulah bentuk bakti engkau
kepada keduanya setelah kematian keduanya. (Diriwayatkan Abu Daud).
Rasulullah SAW bersabda,
Sesungguhnya bakti terbaik ialah hendaknya seorang anak tetap menyambung hubungan
keluarga ayahnya setelah ayahnya menyambungnya. (Diriwayatkan Muslim)

Setelah orang muslim mengetahui hak kedua orang tua atas dirinya dan menunaikannya
dengan sempurna karena mereka mentaati Allah Taala dan merealisir wasiat-Nya, maka juga
menjaga etika-etika berikut ini terhadap kedua orang tuanya :
1.

Taat kepada kedua orang tua dalam semua perintah dan larangan keduanya, selama di dalamnya
tidak terdapat kemaksiatan kepada Allah, dan pelanggaran terhadap syariat-Nya, karena manusia
tidak berkewajibab taak kepada manusia sesamanya dalam bermaksiat kepada Allah,
berdasarkan dalil-dalil berikut :
xs N= m/ y7s9 }s9 $tB 1 @ br& #n?t #yygy_ b)ur
`tB @6y 7?$#ur ( $]rtB $uR9$# $yJg6m$|ur ( $yJg?
OFZ. $yJ/ N6m;tR's N3_tB n<) OO 4 n<) z>$tRr&
tbq=yJs?
dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah
keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian
hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Sabda Rasulullah SAW,
Tidak ada kewajiban ketaatan bagi manusia dalam maksiat kepada Allah

2.

Hormat dan menghargai kepada keduanya, merendahkan suara dan memuliakan keduanya
dengan perkataan dan perbuatan yang baik, tidak menghardik dan tidak mengangkat suara di atas
suara keduanya, tidak berjalan di depan keduanya, tidak mendahulukan istri dan anak atas
keduanya, tidak memanggil keduanya dengan namanya namun memanggil keduanya dengan
panggilan, Ayah, ibu, dan tidak berpergian kecuali dengan izin dan kerelaan keduanya.

3.

Berbakti kepada keduanya dengan apa saja yang mampu ia kerjakan, dan sesuai dengan
kemampuannya, seperti memberi makan-pakaian keduanya, mengobati penyakit keduanya,
menghilangkan madzarat dari keduanya, dan mengalahkan untuk kebaikan keduanya.

4.

Menyambung hubungan kekerabatan dimana ia tidak mempunya hubungan kecuali dari jalur
kedua orang tuanya mendoakan dan memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji
(wasiat), dan memuliakan teman-teman keduanya.

C. Adab Terhadap guru


Sesungguhmya adab yang mulia adalah salah satu faktor penentu kebahagiaan dan
keberhasilan seseorang. Begitu juga sebaliknya, kurang adab atau tidak beradab adalah alamat
(tanda) jelek dan jurang kehancurannya. Tidaklah kebaikan dunia dan akhirat kecuali dapat

diraih dengan adab, dan tidaklah tercegah kebaikan dunia dan akhirat melainkan karena
kurangnya adab. (Madarijus Salikin, 2/39)
Di antara adab-adab yang telah disepakari adalah adab murid kepada syaikh atau gurunya.
Imam Ibnu Hazm berkata: Para ulama bersepakat, wajibnya memuliakan ahli al-Quran, ahli
Islam dan Nabi. Demikian pula wajib memuliakan kholifah, orang yang punya keutamaan dan
orang yang berilmu. (al-Adab as-Syariah 1/408)
Berikut ini beberapa adab yang selayaknya dimiliki oleh penuntut ilmu ketika menimba ilmu
kepada gurunya. Sebagai nasehat bagi kami, selaku seseorang yang masih belajar dan nasehat
bagi saudara-saudara kami seiman yang sedang dan ingin menimba ilmu. Allohul Muwaffiq.
1. Ikhlas sebelum melangkah
Pertama kali sebelum melangkah untuk menuntut ilmu hendaknya kita berusaha selalu
mengikhlaskan niat. Sebagaimana telah jelas niat adalah faktor penentu diterimanya sebuah
amalan. Ilmu yang kita pelajari adalah ibadah, amalan yang mulia, maka sudah barang tentu
butuh niat yang ikhlas dalam menjalaninya. Belajar bukan karena ingin disebut sebagai pak
ustadz, ?rang alim atau ingin meraih ba-iian dunia yang menipu.
Dalil akan pentingnya ikhlas beramal di antaranya firman Allah:



Artinya :
Padahal mereka tidakdisuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus.(QS. al-Bayyinah [98]: 5)
Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:
Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membantah orang bodoh, atau berbangga di hadapan
ulama atau mencari perhatian manusia, maka dia masuk neraka. (HR. Ibnu Majah 253, Syaikh
al-Albani menyatakan hadits ini hasan dalam al-Misykah 225)
Imam ad-Daruqutni berkata: Dahulu kami menuntut ilmu untuk selain Alloh, akan tetapi
ilmu itu enggan kecuali untuk Alloh. (Tadzkiratus Sami hal. 47, lihat Maalim fi Thoricj
Tholibil llmihal. 20).
Imam asy-Syaukani berkata: Pertama kali yang wajib bagi seorang penuntut ilmu adalah
meluruskan niatnya. Hendaklah yang tergambar dari perkara yang ia kehendaki adalah syariat
Alloh, yang dengannya diturunkan para Rosul dan al-Kitab. Hendaklah penuntut ilmu
membersihkan dirinya dari tujuan-tujuan duniawi, atau karena ingin inencapai kemuliaan,

kepemimpinan dan Iain-lain. Ilmu ini mulia, tidak menerima selainnya. (Adabut Tholab wa
Muntaha al-Arab hal. 21)
Apabila keikhlasan telah hilang ketika belajar, maka amalan ini (menuntut ilmu) akan
berpindah dari keutamaan yang paling utama menjadi kesalahan yang paling rendah!. (at-Taliq
as-Tsamin hal. 18)
2. Jangan mencari guru sembarangan
Ibnu Jamaah al-Kinani berkata: Hendaklah penuntut ilmu mendahulukan pandangannya,
istikhoroh kepada Alloh untuk memilih kepada siapa dia berguru. Hendaklah dia memilih guru
yang benar-benar ahli, benar-benar lembut dan terjaga kehormatannya. Hendaklah murid
memilih guru yang paling bagus dalam mengajar dan paling bagus dalam memberi pemahaman.
Janganlah dia berguru kepada orang yang sedikit sifat waronya atau agamanya atau tidak punya
akhlak yang bagus. (Tadzkiratus Sami wal Mutakallim hal. 86)
Bukan sebuah aib apabila kita menuntut ilmu dari orang alim yang masih muda. Imam Ibnu
Muflih berkata: Fasal mengambil ilmu dari ahlinya sekalipun masih berusia muda. (al-Adab
asy-Syariah 2/214)
Sahabat Abdulloh bin Abbas radhiyallahu anhuma berkata: Aku dahulu membacakan ilmu
kepada beberapa orang muhajirin, di antara mereka ada Abdurrahman bin Auf. (HR. Bukhori
6442).
Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: Dalam hadits ini terdapat peringatan akan perlunya
mengambil ilmu dari ahlinya sekalipun masih berusia muda atau sedikit kedudukannya.
(Kasyful Musykil, lihat Adab at-Tatalmudz hal. 16)
Imam Ibnu Abdil Barr berkata: Orang yang bodoh itu tetap dikatakan rendah sekalipun dia
seorang syaikh. Dan orang yang berilmu itu tetap mulia sekalipun masih muda. (Jami Bayanil
Ilmi, Adab at-Tatalmudz hal. 16)
3. Mengagungkan guru
Mengagungkan orang yang berilmu termasuk perkara yang dianjurkan. Sebagaimana
Rasululloh bersabda : bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menghorrmti
orang yang tua, tidak menyayangi yang muda dan tidak mengerti hak ulama kami. (HR. Ahmad
5/323, Hakim 1/122. Dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih Targhib 1/117)
Imam Nawawi rahimahullah berkata: Hendaklah seorang murid memperhatikan gurunya
dengan pandangan penghormatan. Hendaklah ia meyakini keahlian gurunya dibandingkan yang

lain. Karena hal itu akan menghantarkan seorang murid untuk banyak mengambil manfaat
darinya, dan lebih bisa membekas dalam hati terhadap apa yang ia dengar dari gurunya tersebut.
(al-Majmu 1/84)
4. Akuilah keutamaan gurumu
Khothib al-Baghdadi berkata: Wajib bagi seorang murid untuk mengakui keutamaan
gurunya yang faqih dan hendaklah pula menyadari bahwa dirinya banyak mengambil ilmu dari
gurunya. (al-Faqih wal Mutafaqqih 1/196)
Ibnu Jamaah al-Kinani berkata: Hendaklah seorang murid mengenal hak gurunya, jangan
dilupakan semua jasanya. (Tadzkiratus Sami hal. 90)
5. Doakan kebaikan
Rasululloh bersabda : Apabila ada yang berbuat baik kepadamu maka balaslah
denganbalasan yang setimpal. Apabila kamu tidak bisa membalasnya, maka doakanlah dia
hingga engkau memandang telah mencukupi untuk membalas dengan balasan yang setimpal.
(HR. Abu Dawud 1672, Nasai 1/358, Ahmad 2/68, Hakim 1/412 Bukhori dalam al-Adab alMufrod no. 216, Ibnu Hibban 2071, Baihaqi 4/199, Abu Nuaim dalam al-Hilyah 9/56. Lihat asShohihah 254)
Imam Abu Hanifah berkata: Tidaklah aku sholat sejak kematian Hammad kecuali aku
memintakan ampun untuknya dan orang tuaku. Aku selalu memintakan ampun untuk orang yang
aku belajar darinya atau yang mengajariku ilmu. (Mana-qib Imam Abu Hanifah. Lihat Adab atTatalmudz hal. 28)
Ibnu Jamaah berkata: Hendaklah seorang penuntut ilmu mendoakan gurunya sepanjang
masa. Memperhatikan anak-anaknya, kerabatnya dan menunaikan haknya apabila telah wafat.
(Tadzkiroh Sami hal. 91)
6. Rendah diri kepada guru
Ibnu Jamaah rahimahullah berkata: Hendaklah seorang murid mengetahui bahwa rendah
dirinya kepada seorang guru adalah kemuliaan, dan tunduknya adalah kebanggaan. (Tadzkiroh
Sami hal. 88)
Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma dengan kemuliaan dan kedudukannya yang
agung, beliau mengambil tali kekang unta Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu seraya berkata:
Demikianlah kita diperintah untuk berbuat baik kepada ulama. (as-Syifa 2/608) al-Khothib
telah meriwayatkan dalam kitab Jaminya bahwa Ibnul Mutaz berkata: Orang yang rendah diri

dalam belajar adalah yang paling banyak ilmunya sebagaimana tempat yang rendah adalah
tempat yang paling banyak airnya. (Adab at-Tatalmudz hal. 32)
7. Mencontoh akhlaknya
Hendaklah seorang penuntut ilmu mencontoh akhlak dan kepribadian guru. Mencontoh
kebiasaan dan ibadahnya. (Tadzkiroh Sami hal. 86) Qoshim bin Salam menceritakan: Adalah
para murid Ibnu Masud mereka belajar kepadanya untuk melihat akhlak, kepribadian dan
kemudian menirunya. (Adab at-Tatalmudz hal. 40)
Bila pelajaran sudah dimulai
Bila pelajaran telah dimulai hendaklah bagi seorang penuntut ilmu memperhatikan hal-hal
berikut;

Menghadirkan hati dan perhatian dengan seksama


Apabila telah hadir dalam majelis ilmu maka pusatkanlah perhatianmu untuk mendengar dan
memahami pelajaran. Jangan biarkan hati menerawang ke-mana-mana. Konsentrasi penuh,
karena sikap yang demikian akan membuat pelajaran lebih membekas dan terpahami.
Ibnu Jamaah berkata: Hendaklah seorang murid ketika menghadiri pelajaran gurunya
memfokuskan hatinya dan ber-sih dari segala kesibukan. Piki-rannya penuh konsentrasi, tidak
dalam keadaan mengantuk, marah, haus, lapar dan lain seba-gainya. Yang demikian agar hatinya
benar-benar menerima dan memahami terhadap apa yang dijelaskan dan apa yang dia de-ngar.
(Tadzkiroh Sami hal. 96)

Mengenakan pakaian yang bersih


Hal ini harus diperhatikan pula. Hendaklah seorang murid berpakaian yang sopan dan bersih.
Ingatlah ketika malaikat Jibril bertanya kepada Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam beliau
sangat bersih pakaian dan keadaan dirinya. Umar bin Khoththob mengatakan: Ketika kami
duduk di sisi Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam pada suatu hari, tiba-tiba datang kepada
kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak terlihat
padanya bekas perjalanan jauh. (HR. Muslim 8, Abu Dawud 4695, Tirmidzi 2610, Nasai 8/97,
Ibnu Majah 63 dan selainnya.)
Karena kondisi yang bersih menandakan bahwa seorang murid siap menerima pelajaran dan
ilmu. Maka jangan salah-kan apabila ilmu tidak mere-sap dalam dada karena kondisi kita yang
kurang siap, pakaian penuh keringat, kepanasan dan sebagainya.

Duduk dengan tenang

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin berkata: Duduklah dengan duduk penuh adab.
Jangan engkau luruskan kakimu di hadapannya, ini termasuk adab yang jelek. Jangan duduk
dengan bersandar, ini juga adab yang jelek apalagi di tempat belajar. Lain halnya jika engkau
duduk di tempat umum, maka ini lebih ringan. (at-Taliq as-Tsamin hal. 181)

Bertanya kepada guru


Ilmu adalah bertanya dan menjawab. Dahulu dikatakan, Bertanya dengan baik adalah setengah
ilmu. (Fathul Bari 1/142). Bertanya dengan tenang, tidak tergesa-gesa dan pergunakanlah
bahasa yang santun lagi sopan. Jangan guru itu dipanggil dengan namanya, katakanlah wahai
guruku dan semisalnya. Karena guru perlu dihormati, jangan disamakan dengan teman. Alloh
berfirman;

Artinya :
Janganlah kamu jadikan panggilan Rosul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu
kepada seba-hagian (yang lain) (QS. an-Nur [24]: 63).
Ayat ini adalah pokok untuk membedakan orang yang punya kedudukan dengan orang yang
biasa. Harap dibedakan keduanya. (al-Faqih wal Mutafaqqih, Adab at-Tatalmudz hal. 52).
Perhatian. Sering kita jumpai sebagian para penuntut ilmu memaksa gurunya untuk
menjawab dengan dalil atas sebuah pertanyaan. Seolah-olah sang murid belum puas dan terus
mendesak seperti berkata kenapa begini, soya belum terima, siapa yang berkata demikian,
semua ini harus dihindari. Pahamilah wahai saudaraku, guru adalah manusia biasa, bisa lupa dan
bersalah. Apabila engkau pandang gurumu salah atau lupa dengan dalilnya maka janganlah
engkau memaksa terus dan jangan memalingkan muka darinya. Berilah waktu untuk
mendatangkan dalil di kesempatan lain. Jagalah adab ini, jangan sampai sang guru menjadi jemu,
marah hanya karena melayani pertanyaanmu.
Syaikh al-Albani berkata: Kadangkala seorang alim tidak bisa mendatangkan dalil atas sebuah pertanyaan, khususnya apabila dalilnya adalah sebuah istinbat hukum yang tidak dinashkan
secara jelas dalam al-Quran dan Sunnah. Semisal ini tidak pantas bagi penanya untuk terlalu
mendalam bertanya akan dalilnya. Menyebutkan dalil adalah wajib ketika realita menuntut
demikian. Akan tetapi tidak wajib baginya acapkali ditanya harus menjawab Allah berfirman
demikian, Rosul bersabda demikian, lebih-lebih dalam perkara fiqih yang rumit yang
diperselisihkan. (Majalah al-Asholah edisi. 8 hal. 76. Lihat at-Taliq as-Tsamin hal. 188)

Perhatikan keadaan gurumu


Memperhatikan keadaan guru merupakan perkara yang penting. Karena mengajar butuh
persiapan yang penuh. Jangan bertanya atau meminta belajar ketika kondisi guru tidak siap,
semisal sedang sibuk, banyak permasalahan, sedih dan sebagainya.
Imam Nawawi rahimahullah berkata: Janganlah engkau meminta belajar kepadanya ketika
dia sibuk, sedang sedih, kelelahan, dan Iain-lain, karena hal itu akan menyebabkan dia malas
untuk menjelaskan pelajaran kepadamu. (al-Majmu 1/86)

8. Membela kehormatan guru


Ketahuilah selayaknya bagi siapa saja yang mendengar orang yang sedang mengghibah
kehormatan seorang muslim, hendaklah dia membantah dan menasehati orang tersebut. Apabila
tidak bisa diam dengan lisan maka dengan tangan, apabila orang yang mengghibah tidak bisa
dinasehati juga dengan tangan dan lesan maka tinggalkanlah tempat tersebut. Apabila dia
mendengar orang yang mengghibah gurunya atau siapa saja yang mempunyai kedudukan,
keutamaan dan kesholihan, maka hendaklah dia lebih serius untuk membantahnya. (Shohih alAdzkar 2/832, Adab at-Tatalmudz hal. 33)
9. Jangan berlebihan kepada guru
Guru adalah manusia biasa. Tidak harus semua perkataannya diterima mentah-mentah tanpa
menimbangnya menurut kaidah syariah. Orang yang selalu manut terhadap perkataan guru,
bahkan sampai membela mati-matian ucapannya adalah termasuk sikap ghuluw (berlebihlebihan). Apabila telah jelas kekeliruan guru maka nasehatilah, jangan diikuti kesalahannya.
Jangan seorang guru dijadikan tandingan bagi Alloh dalam syariat ini. Alloh berfirman;






Artinya :
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rohib-rohib mereka se-bagai Robb-Robb selain
Allah, dan (juga mereka menjadikan Robb) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya
disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia.
Maha suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan. (QS. at-Taubah [9]: 31)
Imam Mawardi rahimahullahmengatakan, Sebagian para pengikut orang alim berbuat
ghuluw kepada gurunya. Hingga menjadikan perkataannya sebagai dalil sekalipun sebenarnya

tidak bisa dijadikan dalil. Meyakini ucapannya sebagai hujjah sekalipun bukan hujjah. (Adab
Dunya hal. 49, Adab at-Tatalmudz hal. 38)
10. Bila guru bersalah
Sudah menjadi ketetapan yang mapan bahwasanya tidak ada seorang pun yang selamat dari
kesalahan. Salah merupakan hal yang wajar terjadi pada manusia. Rosululloh -SHI bersabda;
Seluruh bani Adam banyak bersalah. Dan sebaik-baiknya orang yang banyak bersalah adalah
yang bertaubat. (HR. Tirmidzi 2499, Ibnu Majah 4251, Ahmad 3/198, ad-Darimi 273, Hakim
4/244; Lihat Shohih Jamius Shoghir 4515).
Imam Ibnul Qoyyim berkata: Barangsiapa yang mempunyai ilmu dia akan mengetahui dengan pasti bahwa orang yang mempunyai kemuliaan, mempunyai peran dan pengaruh dalam
Islam maka hukumnya seperti ahli Islam yang lain. Kadang-kala dia tergelincir dan bersalah.
Orang yang semacam ini diberi udzur bahkan bisa diberi pahala karena ijtihadnya, tidak boleh
kesalahannya diikuti, kedudukannya tidak boleh dilecehkan di hadapan manusia. (Ilamul
Muwaqqiin 3/295)
D. Adab Terhadap Tetangga
1. Definisi Tetangga
Kata Al Jaar (tetangga) dalam bahasa Arab berarti orang yang bersebelahan denganmu.

Ibnu Mandzur berkata: , dan bermakna


orang yang bersebelahan denganmu.
. Sedang secara istilah syari bermakna orang yang
Bentuk pluralnya , dan
bersebelahan secara syari baik dia seorang muslim atau kafir, baik atau jahat, teman atau
musuh, berbuat baik atau jelek, bermanfaat atau merugikan dan kerabat atau bukan.
Tetangga memiliki tingkatan, sebagiannya lebih tinggi dari sebagian yang lainnya,
bertambah dan berkurang sesuai dengan kedekatan dan kejauhannya, kekerabatan, agama dan
ketakwaannya serta yang sejenisnya.
Adapun batasannya masih diperselisihkan para ulama, di antara pendapat mereka adalah:
1.

Batasan tetangga yang mutabar adalah 40 rumah dari semua arah.

2.

sepuluh rumah dari semua arah.

3.

orang yang mendengar azan adalah tetangga.

4.

tetangga adalah yang menempel dan bersebelahan saja.

5.

batasannya adalah mereka yang disatukan oleh satu masjid.

Yang lebih kuat, insya Allah, batasannya kembali kepada adat yang berlaku. Apa yang
menurut adat adalah tetangga maka itulah tetangga. Wallahu Alam.
Dengan demikian jelaslah tetangga rumah adalah bentuk yang paling jelas dari hakikat
tetangga, akan tetapi pengertian tetangga tidak hanya terbatas pada hal itu saja bahkan lebih luas
lagi. Karena dianggap tetangga juga tetangga di pertokoan, pasar, lahan pertanian, tempat belajar
dan tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya ketetanggaan. Demikian juga teman
perjalanan karena mereka saling bertetanggaan baik tempat atau badan dan setiap mereka
memiliki kewajiban menunaikan hak tetangganya.
2. Wasiat Islam Terhadap Tetangga


Jibril senantiasa berwasiat kepadaku dengan tetangga sehingga aku menyangka tetangga
tersebut akan mewarisinya.
Hadits yang agung ini menunjukkan urgensi dan kedudukan tetangga dalam Islam. Tetangga
memiliki kedudukan arti penting dan hak-hak yang harus diperhatikan setiap muslim. Sehingga
dengan demikian konsep Islam sebagai rahmat untuk alam semesta dapat direalisasikan dan
dirasakan oleh setiap manusia.
Islam telah berwasiat untuk memuliakan tetangga dan menjaga hak-haknya, bahkan Allah
menyambung hak tetangga dengan ibadah dan tauhid-Nya serta berbuat bakti kepada kedua
orang tua, anak yatim dan kerabat, sebagaimana firman-Nya:






Artinya :
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan
diri. (QS. Annisaa: 36)
Hal ini menunjukkan wasiat dengan tetangga tersebut meliputi penjagaan, berbuat baik
kepadanya, tidak berbuat jahat dan mengganggunya, selalu bertanya tentang keadaannya dan
memberikan kebaikan kepadanya. Ini semua adalah bentuk perhatian dan motivasi syariat dalam
menjaga dan menunaikan hak-hak mereka. Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

menetapkan pelanggaran kehormatan tetangga sebagai salah satu dosa terbesar dalam sabdanya
ketika ditanya:
Dosa apa yang terbesar di sisi Allah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab:
Menjadikan sekutu tandingan Allah, padahal Allah yang menciptakanmu. Saya (Ibnu Masud)
bertanya: Kemudian apa? beliau menjawab: Kemudian membunuh anakmu karena khawatir
dia makan bersamamu lalu saya bertanya lagi: Kemudian apa? beliau menjawab: Berzina
dengan istri tetanggamu.
3. Hak-Hak Tetangga
Telah jelas tetangga memiliki hak yang besar dan kedudukan yang tinggi dalam islam. Hakhak mereka kalau dirinci akan sangat banyak sekali, akan tetapi semuanya dapat dikembalikan
kepada empat hak yaitu:

Pertama, berbuat baik (ihsan) kepada mereka.


Berbuat baik dalam segala sesuatu adalah karakteristik islam, demikian juga pada tetangga.
Imam Al Marwazi meriwayatkan dari Al Hasan Al Bashriy pernyataan beliau: Tidak
mengganggu bukan termasuk berbuat baik kepada tetangga akan tetapi berbuat baik terhadap
tetangga dengan sabar atas gangguannya. Sehingga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda:
Sebaik-baiknya sahabat di sisi Allah adalah yang paling baik kepada sahabatnya. Dan
sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling baik pada tetangganya.
Di antara ihsan kepada tetangga adalah memuliakannya. Sikap ini menjadi salah satu tanda
kesempurnaan iman seorang muslim.Di antara bentuk ihsan yang lainnya adalah taziyah ketika
mereka mendapat musibah, mengucapkan selamat ketika mendapat kebahagiaan, menjenguknya
ketika sakit, memulai salam dan bermuka manis ketika bertemu dengannya dan membantu
membimbingnya kepada hal-hal yang bermanfaat dunia akhirat serta memberi mereka hadiah.
Aisyah radhiallahu anha bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam:



Wahai Rasulullah saya memiliki dua tetangga lalu kepada siapa dari keduanya aku memberi
hadiah? Beliau menjawab: kepada yang pintunya paling dekat kepadamu.

Kedua, sabar menghadapi gangguan tetangga.

Ini adalah hak kedua untuk tetangga yang berhubungan erat dengan yang pertama dan
menjadi penyempurnanya. Hal ini dilakukan dengan memaafkan kesalahan dan perbuatan jelek
mereka, khususnya kesalahan yang tidak disengaja atau sudah dia sesali kejadiannya.
Hasan Al Bashri berkata: Tidak mengganggu bukan termasuk berbuat baik kepada tetangga
akan tetapi berbuat baik terhadap tetangga dengan sabar atas gangguannya. Sebagian ulama
berkata: Kesempurnaan berbuat baik kepada tetangga ada pada empat hal, (1) senang dan
bahagia dengan apa yang dimilikinya, (2) Tidak tamak untuk memiliki apa yang dimilikinya, (3)
Mencegah gangguan darinya, (4) Bersabar dari gangguannya.

Ketiga, menjaga dan memelihara tetangga.


Imam Ibnu Abi Jamroh berkata: Menjaga tetangga termasuk kesempurnaan iman. Orang
jahiliyah dahulu sangat menjaga hal ini dan melaksanakan wasiat berbuat baik ini dengan
memberikan beraneka ragam kebaikan sesuai kemampuan; seperti hadiah, salam, muka manis
ketika bertemu, membantu memenuhi kebutuhan mereka, menahan sebab-sebab yang
mengganggu mereka dengan segala macamnya baik jasmani atau maknawi. Apalagi Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam telah meniadakan iman dari orang yang selalu mengganggu
tetangganya. Ini merupakan ungkapan tegas yang mengisyaratkan besarnya hak tetangga dan
mengganggunya termasuk dosa besar.

Keempat, tidak mengganggu tetangga.


Telah dijelaskan di atas akan kedudukan tetangga yang tinggi dan hak-haknya terjaga dalam
islam. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memperingatkan dengan keras
upaya mengganggu tetangga, sebagaimana dalam sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam:
Tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak
beriman mereka bertanya: siapakah itu wahai Rasulullah beliau menjawab: orang yang
tetangganya tidak aman dari kejahatannya. (HR. Bukhori)
Demikian juga dalam hadits yang lain beliau bersabda:


Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah mengganggu tetangganya.

E. Adab Terhadap Tamu


Di antara kelaziman hidup bermasyarakat adalah budaya saling mengunjungi atau bertamu,
yang dikenal dengan isitilah silaturrahmi oleh kebanyakan masyarakat. Walaupun sesungguhnya
istilah silaturrahmi itu lebih tepat (dalam syariat) digunakan khusus untuk berkunjung/ bertamu

kepada sanak famili dalam rangka mempererat hubungan kekerabatan.Namun, bertamu, baik itu
kepada sanak kerabat, tetangga, relasi, atau pihak lainnya, bukanlah sekedar budaya semata
melainkan termasuk perkara yang dianjurkan di dalam agama Islam yang mulia ini. Karena
berkunjung/bertamu merupakan salah satu sarana untuk saling mengenal dan mempererat tali
persaudaraan terhadap sesama muslim. Allah berfirman: Wahai manusia, sesungguhnya Kami
telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian
berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa. (Al Hujurat: 13)
Berikut ini adalah adab-adab yang berkaitan dengan tamu dan bertamu. Kami membagi
pembahasan ini dalam dua bagian, yaitu adab bagi tuan rumah dan adab bagi tamu.

Adab Bagi Tuan Rumah


1. Ketika mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang yang bertakwa,
bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa), sebagaimana sabda Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam,

,


Janganlah engkau berteman melainkan dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan
makananmu melainkan orang yang bertakwa! (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
2. Tidak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang
miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,


Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan
orang-orang miskinnya ditinggalkan. (HR. Bukhari Muslim)
3. Tidak mengundang seorang yang diketahui akan memberatkannya kalau diundang.
4. Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang
diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais
datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda,


Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal. (HR.
Bukhari)

5. Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja.
Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik.
Allah taala telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim alaihis salam bersama
tamu-tamunya:

.

Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia
mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: Tidakkah
kalian makan? (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27)
6. Dalam penyajiannya tidak bermaksud untuk bermegah-megah dan berbangga-bangga,
tetapi bermaksud untuk mencontoh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para
Nabi sebelum beliau, seperti Nabi Ibrahim alaihis salam. Beliau diberi gelar Abu
Dhifan (Bapak para tamu) karena betapa mulianya beliau dalam menjamu tamu.
7. Hendaknya juga, dalam pelayanannya diniatkan untuk memberikan kegembiraan kepada
sesama muslim.
8. Mendahulukan tamu yang sebelah kanan daripada yang sebelah kiri. Hal ini dilakukan
apabila para tamu duduk dengan tertib.
9. Mendahulukan tamu yang lebih tua daripada tamu yang lebih muda, sebagaimana sabda
beliau shallallahu alaihi wa sallam:




Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang
lebih tua dari kami bukanlah golongan kami. (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad). Hadits
ini menunjukkan perintah untuk menghormati orang yang lebih tua.
10. Jangan mengangkat makanan yang dihidangkan sebelum tamu selesai menikmatinya.
11. Di antara adab orang yang memberikan hidangan ialah mengajak mereka berbincangbincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur,
tidak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa
kehilangan tatkala pamitan pulang.
12. Mendekatkan makanan kepada tamu tatkala menghidangkan makanan tersebut kepadanya
sebagaimana Allah ceritakan tentang Ibrahim alaihis salam,


Kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka. (Qs. Adz-Dzariyat: 27)
13. Mempercepat untuk menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal tersebut merupakan
penghormatan bagi mereka.
14. Merupakan adab dari orang yang memberikan hidangan ialah melayani para tamunya dan
menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang
ceria dan berseri-seri.
15. Adapun masa penjamuan tamu adalah sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam,




:

Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi
seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya. Para sahabat
berkata: Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
berkata: Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk
menjamu tamunya.
16. Hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang sampai ke depan rumah.

Adab Bagi Tamu


1. Bagi seorang yang diundang, hendaknya memenuhinya sesuai waktunya kecuali ada
udzur, seperti takut ada sesuatu yang menimpa dirinya atau agamanya. Hal ini
berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,


Barangsiapa yang diundang maka datangilah! (HR. Abu Dawud dan Ahmad)




Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan
Rasul-Nya. (HR. Bukhari)
Untuk menghadiri undangan maka hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut:

Orang yang mengundang bukan orang yang harus dihindari dan dijauhi.

Tidak ada kemungkaran pada tempat undangan tersebut.

Orang yang mengundang adalah muslim.

Penghasilan orang yang mengundang bukan dari penghasilan yang diharamkan. Namun, ada
sebagian ulama menyatakan boleh menghadiri undangan yang pengundangnya berpenghasikan
haram. Dosanya bagi orang yang mengundang, tidak bagi yang diundang.

Tidak menggugurkan suatu kewajiban tertentu ketika menghadiri undangan tersebut.

Tidak ada mudharat bagi orang yang menghadiri undangan.


2. Hendaknya tidak membeda-bedakan siapa yang mengundang, baik orang yang kaya
ataupun orang yang miskin.
3. Berniatlah bahwa kehadiran kita sebagai tanda hormat kepada sesama muslim.
Sebagaimana hadits yang menerangkan bahwa, Semua amal tergantung niatnya, karena
setiap orang tergantung niatnya. (HR. Bukhari Muslim)
4. Masuk dengan seizin tuan rumah, begitu juga segera pulang setelah selesai memakan
hidangan, kecuali tuan rumah menghendaki tinggal bersama mereka, hal ini sebagaimana
dijelaskan Allah taala dalam firman-Nya:



Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila
kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak makanannya!
Namun, jika kamu diundang, masuklah! Dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa
memperpanjang percakapan! Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi. Lalu,
Nabi malu kepadamu untuk menyuruh kamu keluar. Dan Allah tidak malu menerangkan yang
benar. (Qs. Al Azab: 53)
5. Apabila kita dalam keadaan berpuasa, tetap disunnahkan untuk menghadiri undangan
karena menampakkan kebahagiaan kepada muslim termasuk bagian ibadah. Puasa tidak
menghalangi seseorang untuk menghadiri undangan, sebagaimana sabda Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam:




Jika salah seorang di antara kalian di undang, hadirilah! Apabila ia puasa, doakanlah! Dan
apabila tidak berpuasa, makanlah! (HR. Muslim)

6. Seorang tamu meminta persetujuan tuan untuk menyantap, tidak melihat-lihat ke arah
tempat keluarnya perempuan, tidak menolak tempat duduk yang telah disediakan.
7. Termasuk adab bertamu adalah tidak banyak melirik-lirik kepada wajah orang-orang
yang sedang makan.
8. Hendaknya seseorang berusaha semaksimal mungkin agar tidak memberatkan tuan
rumah, sebagaimana firman Allah taala dalam ayat di atas: Bila kamu selesai makan,
keluarlah! (Qs. Al Ahzab: 53)
9. Sebagai tamu, kita dianjurkan membawa hadiah untuk tuan rumah karena hal ini dapat
mempererat kasih sayang antara sesama muslim,
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Berilah hadiah di antara kalian! Niscaya
kalian akan saling mencintai. (HR. Bukhari)

10.

Jika seorang tamu datang bersama orang yang tidak diundang, ia harus meminta izin
kepada tuan rumah dahulu, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Masud radhiyallahu anhu:




Ada seorang laki-laki di kalangan Anshor yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia mempunyai
seorang anak tukang daging. Kemudian, ia berkata kepadanya, Buatkan aku makanan yang
dengannya aku bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Kemudian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengundang empat orang yang orang
kelimanya adalah beliau. Kemudian, ada seseorang yang mengikutinya. Maka, Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam berkata, Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini
mengikuti kami. Bilamana engkau ridho, izinkanlah ia! Bilamana tidak, aku akan
meninggalkannya. Kemudian, Abu Suaib berkata, Aku telah mengizinkannya." (HR.
Bukhari)
11. Seorang tamu hendaknya mendoakan orang yang memberi hidangan kepadanya setelah
selesai mencicipi makanan tersebut dengan doa:



,
,

Orang-orang yang puasa telah berbuka di samping kalian. Orang-orang yang baik telah
memakan makanan kalian. semoga malaikat mendoakan kalian semuanya. (HR Abu Daud,
dishahihkan oleh Al Albani)

Ya Allah berikanlah makanan kepada orang telah yang memberikan makanan kepadaku dan
berikanlah minuman kepada orang yang telah memberiku minuman. (HR. Muslim)



Ya Allah ampuni dosa mereka dan kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki mereka. (HR.
Muslim)
12. Setelah selesai bertamu hendaklah seorang tamu pulang dengan lapang dada,
memperlihatkan budi pekerti yang mulia, dan memaafkan segala kekurangan tuan rumah.
F. Adab Terhadap Sesama
Allah taala berfirman :

)-FJ9$# w) <rt Ct79 Ogt/ tBqt HxzF{$#

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali
orang-orang yang bertakwa. ( Az-Zukhruf : 67 )
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam: seseorang itu
sesuai agama teman dekatnya, maka hendaknya dia melihat kepada siapakah dia berteman
dekat.
Di antara adab-adab pergaulan bersama sesama saudara Muslim :
1. Memilih Teman Bergaul Dan Teman Duduk
Telah dikemukakan sebelumnya hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu secara marfu :
Seseorang itu sesuai agama teman dekatnya maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat
bersama siapakah dia berteman
Sabda Nabi : Dan janganlah seseorang memakan makananmu kecuali seorang yang
bertakwa. Al-Khaththabi berkata : Larangan ini berlaku pada makanan undangan bukan
makanan hajat/kebutuhan, yang demikian itu karena Allah subhanahu berfirman :
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan
orang yang ditawan.( Al-Insan : 8 )

Dan teman dekat dan teman duduk yang jelek akhlaknya memberikan bahaya yang nyata
dan tidak diapat dihindari bagaimana pun cara menjaganya, berdasarkan nash dari sabda Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam, Abu Musa Al-Asyari radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Pemisalan teman duduk yang shalih dan
yang jelek akhlaknya bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi, penjual minyak wangi dia
dapat memberimu minyak wangi atau kamu membeli darinya minyak wangi atau kamu
mendapatkan bau yang wangi, adapun pandai besi, dia dapat membakar pakaianmu atau kamu
mendapat bau yang tidak sedap darinya.
2. Mencintai Karena Allah
Kedudukan Persaudaraan yang paling agung adalah ketika hal itu karena Allah dan untuk
Allah, tidak untuk mendapatkan kedudukan, atau mendapatkan manfaat yang segera atau yang
akan datang, tidak karena mendapatkan materi, atau selainnya. Dan barang siapa kecintaannya
kepada temannya karena Allah dan persaudaraannya karena Allah sungguh dia telah mencapai
puncak tujuan, dan agar seseorang itu berhati-hati jangan sampai kecintaannya tersebut terselip
kepentingan-kepentingan duniawi yang akan mengotori dan menyebabkan kerusakan
persaudaraan.
Dan barang siapa kecintaannya karena Allah maka hendaknya dia bergembira dengan janji
Allah dan keselamatan dari kedahsyaran hari dimana seluruh makhluk dikumpulkan pada hari
kiamat. Dan dia akan dimasukkan dibawah naungan Arsy Dzat yang Maha perkasa Jalla
Jalaluhu. Abu Hurairah radhiallahu anhu meriwayatkan, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat : Dimanakah
orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, pada hari ini Aku akan menaungi
mereka di dalam naunganku di hari tidak ada naungan selain naungan-Ku.
3. Menampakkan Senyum, Bersikap Lembut dan Kasih Sayang Kepada Sesama Saudara Seiman
Abu Dzar radhiallahu anhu, beliau berkata : Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda
kepadaku : Janganlah seseorang itu meremehkan perbuatan maruf sedikitpun, walaupun dia
menjumpai saudaranya dengan wajah yang berseri-seri.
Sikap lemah lembut dan ramah dan kasih sayang diantara hal-hal yang menguatkan ikatan
diantara saudara, dan memperdalam hubungan diantara mereka. Dimana Allah mencintai lemah
lembut di dalam segala urusan. Dan Allah subhanahu: Maha lembut mencintai kelembutan dan

memberikan kepada orang yang lembut apa yang tidak dia berikan kepada orang yang kasar dan
apa yang tidak dia berikan kepada selain orang yang lembut.
Dan selama hal itu demikan adanya, maka saudara-saudara seiman lebih pantas dan lebih
utama agar sebagian mereka berprilaku lemah lembut kepada sebagian lainnya, dan agar
sebagian mereka ramah kepada sebagian lainnya.
4. Disunnahkan Memberi Nasihat Dan Hal Itu Termasuk Kesempurnaan Persaudaraan
Nasihat adalah tuntutan syari yang dianjurkan oleh pembuat syariat. Dan merupakan bagian
dari perkara-perkara yang menjadi sebab Nabi Shallallahu alaihi wa sallam membaiat para
sahabatnya.
Jarir bin Abdullah radhiallahu anhu berkata Saya membaiat Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam agar menegakkan shalat, menunaikan zakat, memberi nasihat kepada setiap muslim.
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menggandengkan tuntunan ini bersamaan dengan shalat
dan zakat yang mana keduanya bagian dari rukun islam, yang menunjukkan kepada kita akan
besarnya kedudukan tuntunan saling menasihati tersebut dan nilainya yang luhur.
Semisal disebutkan didalam hadits Tamim bin Aus Ad-Dari radhiallahu anhu bahwa Nabi
Shallallahu alaihi wa sallambersabda : Agama itu nasehat .
Kami berkata : Kepada siapakah wahai Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam? Beliau
bersabda : Kepada Allah, kepada kitabnya, kepada rasulnya, pemimpin-pemimpin kaum
muslimin dan seluruh kaum muslimin.
Dan sabda beliau : agama itu nasehat yaitu : Bahwa nasehat adalah amalan yang paling
utama dan yang paling sempurna dalam agama.
5. Saling Tolong Menolong antar Sesama
Kita memiliki teladan dan contoh dalam hal tersebut. Teladan yang paling besar tentang hal
tersebut dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . Tidaklah sisi kerasulan beliau
Shallallahu alaihi wa sallam menghalangi beliau untuk bersama-sama para sahabatnya dan
memberi bantuan kepada mereka. Diantara hal tersebut keikut sertaan beliau Shallallahu alaihi
wa sallam bersama sahabatnya ketika membangun masjid Nabawi di Madinah.
6. Sesama Saudara semestinya saling Merendahkan diri diantara mereka dan tidak sombong
atau meremehkan yang Lain

Merendahkan diri itu sifat yang dituntut dan juga diperintahkan. Sedangkan sifat angkuh
adalah sifat yang terlarang dan tercela.
Iyadh bin Himar radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
bersabda : Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri sampai
tidak ada seorang pun meremehkan orang lain dan seseorang merebut jualan orang lain.
Sedangkan sifat meremehkan orang lain dan sombong adalah jalan menuju kezhaliman,
permusuhan dan kejahatan.
Dan tidak diragukan lagi bahwa manusia bertingkat-tingkat keutamaannya di dalam masalah
penghasilan, nasab dan harta. Ini sudah merupakan sunnatullah pada makhluk. Bukanlah orang
yang mulia yang menjadikan dirinya mulia, dan bukanlah orang yang rendah dia yang
menjadikan dirinya rendah, demikian halnya bagi seorang yang fakir dan seorang yang kaya
raya. Melainkan hikmah Allah yang sempurna menetapkan hal tersebut Dan Allahlah yang
menetapkan segala urusan makhluknya.
Dan bukan karena bertingkat-tingkatnya kedudukan martabat manusia sehingga seseorang
diperbolehkan menganggap dirinya lebih tinggi dari pada selainnya atau meremehkannya. Abu
Hurairah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
bersabda : Tidaklah seseorang merendahkan diri dihadapan Allah kecuali Allah akan
mengangkat derajatnya.
7. Berakhlak yang Terpuji :
Beruntung orang yang Allah pakaikan pakaian akhlak yang terpuji. Karena tidak seorang pun
yang diberikan akhlak tersebut kecuali orang-orang akan menyebut dirinya dengan kebaikan, dan
derajatnya akan terangkat ditengah-tengah mereka. Akhlak yang terpuji diantaranya dengan
wajah yang berseri-seri, bersabar ketika mendapatkan gangguan, menahan marah, dan selainnya
daripada kepribadian dan perangai yang terpuji.
Ibnu Manshur berkata : Saya bertanya kepada Abu Abdillah : Tentang akhlak yang baik.
Berkata berkata : Agar kamu tidak marahdan tidak kasar.
Dan diantara doa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ketika istiftah Dan tunjukanlah
kepadaku akhlak yang baik yang tidak ada yang dapat menunjukkan kepada akhlak yang baik
kecuali Engkau, dan palingkanlah dariku akhlak yang jelek tidak ada yang memalingkan aku dari
akhlak yang jelek kecuali Engkau.

8. Hati Yang Selamat


Diantara doa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam : Lepaskanlah kedengkian di dalam hatiku
dan dalam riwayat At-Tirmidzi Dan lepaskanlah kedengkian di dalam dadaku.
Kepribadian dan perilaku yang sangat luhur kedudukannya ini, ternyata sedikit orang berhias
dengannya. Disebabkan jiwa manusia akan sangat sulit untuk lepas dari segala jeratannya, dan
untuk mengalah dari hak-haknya bagi selainnya. Bersamaan itu pula, banyak manusia terjatuh
perbuatan aniaya dan kezhaliman. Apabila seseorang menjumpai kezhaliman manusia, kejahilan
dan kesewenang-wenangan mereka dengan hati yang selamat, dan tidak menghadapi kejahatan
mereka dengan perbuatan kejahatan semisalnya, dan tidak dengki kepada mereka, niscaya dia
akan mendapatkan kedudukan yang tinggi berupa akhlak yang tinggi dan perangai yang luhur.
Hal mulia ini jarang dan sedikit sekal dijumpai pada manusia, akan tetapi hal itu mudah bagi
orang yang Allah mudahkan. Abu Hurairah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Orang yang beriman adalah seorang yang baik dan
berperangai terpuji. Sedangkan orang yang fajir adalah orang yang jelek dan jahat perangainya.
Sabda Nabi : Orang yang beriman adalah seorang yang baik dan berperangai terpuji , AlMubarakfuri mengatkaan: Di dalam An-Nihayah : Yaitu bukan orang yang slalu membuat
makar, dan dia tunduk karena ketaatan dan kelembutannya, dan lawan kata dari al-khabbu
jahat/pembuat makar -. Maksudnya bahwa orang yang beriman yang terpuji diantara tabiatnya
adalah al-ghararah (yang baik hati), tidak berlaku culas demi perbuatan jelek dan menolak untuk
mencari-cari kejelekan. Bukan dikarenakan Kebodohan pada dirinya, akan tetapi karena sifat
mulia dan akhlaknya yang terpuji. Demikian yang dijelaskan dalam kitab Al-Mirqah.
9. Berbaik Sangka Kepada saudara Dan Tidak Memata-Matai Mereka
Sebagaimana disebutkan pada sebuah hadits bahwa Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata :
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Janganlah kalian berprasangka karena
prasangka itu perkataan yang paling dusta, dan janganlah kalian mencari-cari berita dan mematamatai al-hadits.
Maksud larangan prasangka disini adalah larangan terhadap prasangka buruk. Al-Khaththabi
berkata : Yaitu menerima dan membenarkan setiap persangkaan tanpa ada kekhawatiran di
dalam hati, maka sesungguhnya hal itu tidak terkendali.
Maka hal tersebut dilarang, dan hadits ini sesuai dengan firman Allah taala :

Jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu


dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama
lain. ( Al-Hujurat : 12 )
Konteks ayat menunjukkan perintah menjaga harga diri seorang muslim dengan sebenarbenarnya penjagaan. Karena penempatan larangan yang didahulukan daripada tenggelam dalam
sebuah prasangka. Apabila orang yang berprasangka berkata : Saya akan membahasnya agar
saya mengetahui fakta yang sebenarnya, dikatakan kepadanya : janganlah kamu memata-matai
maka apabila terjadi tanpa memata-matai, maka akan dikatakan kepadanya :
Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.
10. Memaafkan Kesalahan Dan Menahan Marah
Ketika bercampur dan bergaul bersama manusia mau tidak mau- ada padanya sesuatu
kekurangan dan perlakuan yang melampui batas dari sebagian mereka kepada sebagian lainya
apakah itu dengan perkatan maupun perbuatan, maka disunnahkan bagi orang yang terzhalimi
agar menahan marah dan memaafkan orang yang menyzhaliminya, Allah taala berfirman :
Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan
apabila mereka marah mereka memberi maaf. ( Asy-Syura : 37 )
Dan Allah taala berfirman :
Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. ( Ali Imran : 134 )
Dan tentang fiman Allah : Dan orang-orang yang menahan amarahnya yaitu : Apabila
mereka mendapatkan gangguan dari orang lain sehingga menyebabkan kemarahan mereka dan
hati mereka telah penuh dengan kekesalan, yang mengharuskan membalasnya dengan perkataan
dan perbuatan, mereka tidak mengamalkan kosukuensi tabiat manusia tersebut.
Bahkan mereka menahan amarah yang ada pada mereka lalu bersabar tidak membalas orang
yang berbuat jahat kepadanya. Dan firman Allah : Dan orang-orang yang memaafkan orang
lain, masuk di dalam perkara memaafkan manusia, yaitu memaafkan dari setiap orang yang
berbuat jahat kepadanya dengan perkataan atau perbuatan. Memaafkan lebih sempurna daripada
menahan marah, karena memaafkan itu meninggalkan pembalasan bersamaan dengan adanya
kerelaan terhadap orang yang berbuat jahat. Sebagaimana Allah taala berfirman :

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barang siapa memaafkan
dan berbuat baik. Maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.. ( Asy-Syura : 40 ).
Memaafkan kesalahan, keteledoran dan perbuatan aniaya bukanlah kelemahan dan bukan
pula kekurangan, bahkan hal itu adalah perbuatan yang tinggi nilainya bagi orang yang
melakukannya dan merupakan perbuatan mulia, Abu Hurairah radhiallahu anhu meriwayatkan
bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Shadaqah tidaklah mengurangi harta,
dan tidaklah Allah menambahkan kepada seorang yang memberi maaf kecuali kemuliaan, dan
tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan tinggikan derajatnya dan
pada lafazh riwayat Ahmad : Tidaklah seseorang memberi maaf dari perbuatan aniaya kecuali
Allah tambahkan bagi kemuliaan.
Dan orang-orang yang saling bersaudara karena Allah sangat pantas bagi mereka agar saling
memberi maaf atas kesalahan sebagian mereka, dan orang yang berbuat baik dari mereka
memberi maaf kepada mereka yang melakukan kesalahan..
11. Larangan Saling Hasad dan Saling Membenci Dan Memboikot :
Hal ini dijelaskan didalam hadits Anas radhiallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam, beliau bersabda : Janganlah kalian saling membenci dan saling hasad, saling memboikot
dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara, tidak halal bagi seorang muslim memboikot
saudaranya yang lain diatas tiga hari.
Hasad itu ada dua macam terpuji dan tercela. Hasad yang tercela adalah menginginkan
hilangnya nikmat yang ada pada orang lain, dan hal ini adalah perbuatan zhalim, aniaya dan
permusuhan. Hasad dan yang terpuji adalah Al-Ghibthah yaitu menginginkan nikmat yang
serupa yang ada pada orang lain tanpa adanya keinginan hilang nikmat tersebut padanya.
Inilah yang dimaksudkan di dalam sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam : Tidak ada hasad
kecuali pada dua perkara : seseorang yang Allah berikan kepadanya Al-Qur`an dan dia
mengamalkannya sepanjang malam, dan seseorang yang Allah berikan kepadanya harta dan dia
bersedekah dengannya sepanjang hari dan sepanjang malam.
Saling membenci adalah lawan dari saling mencintai, dan makna At-Tadabur adalah
memboikot.
12. Larangan panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk

Termasuk penyakit lisan yang bisa mendatangkan dosa, mengobarkan kemarahan dan
menyebabkan perpecahan diantara sesama sudara, yaitu, panggil-memanggil dengan gelar-gelar
yang buruk, memberi gelar kepada orang lain dengan gelar-gelar yang buruk lagi tercela, mereka
saling mencela dengannya, dan ditertawakan atasnya dari celaan tersebut, padanya ada larangan
dari Allah Maha Mulia diatas Ketinggian-Nya, Allah Taala berfirman:
Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk
panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. ( Al-Hujurat :11).
Dan seorang muslim berhak dengan keselamatan muslim yang lain dari lisan dan tangannya.
Abu Jubairah bin Adh-Dhahak radhiallahu anhu meriwayatkan, beliau berkata : Ayat ini
diturunkan kepada Bani Salamah :
Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk
panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Beliau berkata : Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam mendatangi kami dan tidaklah salah seorang dari kami kecuali dia mempunyai
dua atau tiga nama, dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memanggil dengan Wahai fulan.
Maka para sahabat berkata : Apa itu wahai Rasulullah, sesungguhnya dia akan marah dengan
nama tersebut, maka turunlah ayat ini : Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelargelar yang buruk. ( Al-Hujurat :11).
Mayoritas masyarakat sekarang pada saat ini banyak terjerumus kedalamnya, berupa
kelaliman dengan perkataan, berbuat dosa dengan lisan dan merusak lisan tersebut. Dan berlepas
diri dari orang yang menyakiti dengan lisannya dan menahannya dari menjaga kehormatan kaum
muslimin, agar mereka tidak memperoleh keburukan, semoga Allah menjaga kita dan anda
semua dari kerusakan lisan dan kekhilafannya.
13. Disenangi mengadakan ishlah (perbaikan) antar sesama saudara
Tidak dapat dielakkan lagi adanya beberapa perselisihan dan pertengkaran diantara saudara,
dari yang sudah barang tentu menyebabkan percekcokan dan permusuhan antara mereka. Telah
disepakati pada masyarakat orang yang dijadikan oleh Allah sebagai perantara untuk
mengadakan perbaikan antara orang-orang yang saling memutuskan hubungan dan orang-orang
yang saling berselisih. Diriwayatkan dari Abu Darda radhiallahhu anhu beliau berkata :
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Apakah kalian mau aku beritahukan dengan
apa yang lebih utama daripada derajat puasa, shalat dan shadaqah? Para sahabat menjawab :

Iya.beliau bersabda : (Mengadakan) kebaikan dzatul-bain (antara sesama), sesungguhnya


kerusakan antara sesama adalah kebinasaan.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Setiap ruas dari seseorang padanya ada
shadaqah, dan setiap hari yang terbit padanya matahari dan dia berbuat adil antara dua orang
padanya ada shadaqahal-hadits. Pada riwayat yang lain : dan setiap hari yang terbit padanya
matahari dan dia berbuat adil antara dua sesama manusia ada shadaqah.
Dan Ulul albab kaum cerdik pandai sepantasnya mereka menjadi pendahulu untuk
perbaikan sesama manusia, dan tidak sepantasnya mereka menjauhkan diri darinya, berpaling
dari jalan perbaikan setelah mengetahui besarnya pahala yang terdapat padanya.
14. Keharaman mengungkit-ungkit pemberian
Sejumlah ayat dan hdits telah menetapkan hukum haram dari perbuatan mengungkit-ungkit
pemberian, seperti didalam firman Allah taala:
Dan mereka yangmenginfakkan harta mereka dijalan Allah, kemudian tidak mengikuti
pemberian tersebut dengan sifat mengungkit-ungkit pemberian ataukah untuk menyakiti
sipenerima ( Al-Baqarah : 262 ).
Dan sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam , dari hadits Abu Dzar radhiallahu anhu,
beliau bersabda: Ada tiga golongan yang mana Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada
hari kiamat, tidak akan melihat kepada mereka dan Allah tidak akan mensucikan mereka dan
bagi mereka adzab yang pedih. Abu Dzar berkata: Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam mengulanginya sebanyak tiga kali. Abu Dzar berkata : Celakalah dan merugilah
mereka, siapakah mereka ini wahai Rasulullah ?
Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Seorang yang memanjangkan kainnya
melewati mata kaki, seorang yang selalu mengungkit-ungkit pemberiannya, dan seseorang yang
menginfakkan barangnya dengan sumpah dusta
Dan juga sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam dari hadits Abdullah bin Amru radhiallahu
anhuma, beliau bersabda: Tidak akan masuk surga seorang yang selalu mengungkit-ungkit
pemberiannya, dan juga seorang yang durhaka dan seseorang yang kecanduan minum khamar
15. Menjaga rahasia dan tidak menyebarluaskannya

Dan ini termasuk amanah yang wajib untuk dijaga dan disembunyikan. Seseorang yang
menyebarluaskan rahasia tergolong seorang yang mengkhianati amanah. Dan perbuatan tersebut
salah satu dari sifat orang-ornag munafik.
Abu Hurairah radhiallahu anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda: Tanda seorang munafik ada tiga: Apabila dia berkata dia berdusta, apabila dia
berjanji maka dia menyalahinya dan apabila dia diserahi amanah maka dia berkhianat.
Suatu yang rahasia, wajib untuk disembunyikan dan tidak disampaikan kepada semua kaum
manusia atau disebarkan. Ini tergolong anjuran syariat dan perhatian syara agar kaum manusia
menjaga segala persoalan rahasia mereka, dimana menengoknya seorang pembicara untuk
memastikan tempat tersebut tersembunyi, sederajat dengan perkataannya: Ini adalah sbeuah
rahasia maka sembunyikanlah rahasiaku ini.
16. Celaan kepada seseorang yang bermuka dua
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan maksud dari seorang yang bermuka
dua, di dalam sabda beliau: Engkau akan mendapatkan orang yang paling buruk disisi Allah
pada hari kiamat adalah seseorang yang bermuka dua. Yaitu seseorang yang menjumpai suatu
kaum denganwajah demikian lalu kaum lainnya dengan wajah berbeda.
Seseorang yang bermuka dua, dikategorikan sebagai manusia yang paling buruk, disebabkan
keadaannya terseut adalah kepribadian seorang munafik. Karena dia mencari muka dengan
kebatilan dan kedustaaan dan menyisipkan kerusakan ditengah-tengah kaum manusia.
An-Nawawi mengatakan: Dia adalah seseorang yang mendatangi setiap pihak dengan suatu
yang mereka senangi. Dan menampakkan bahwa dirinya termasuk bagian dari mereka dan
menyalahi lawan mereka. Perbuataannya tersebut adalah nifak yang sebenarnya.
Beliau lanjut mengatakan: Adapun yang melakukannya dnegna tujuan mengadakan perdamaian
antara kedua belah pihak maka perbuatan trsbeut suatu yang terpuji. Selain dari beliau
mengatakan: Perbedaan antara keduanya, bahwa yang tercela adalah seseorang yang
membenarkan amalan suatu kelompok dan mencelanya dihadapan kelompok lainnya. Dan setiap
kelompok dicelanya dihadapan kelompok lainnya. Sementara yang terpuji adalah seseorang yang
daang kepada masing-masing kelompok dengan ucapan yang penyiratkan perdamaian kepada
kelompok lainnya dan memintakan udzur masing-masing kelompok tersebut dihadapan

eklompok lainnya. Dan menyampaikan kepada kelompok tersebut segala yang baik yang
memungkinkan untuk disampakannya dan menutupi segala yang buruk.

BAB III
SIMPULAN
1.

Adab ialah mencerminkan baik buruknya seseorang, mulia atau hinanya seseorang, terhormat
atau tercelanya nilai seseorang.

2. Adab terhadap orang tua adalah taat kepada kedua orang tua dalam semua perintah dan larangan
keduanya, selama di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan kepada Allah, dan pelanggaran
terhadap syariat-Nya, karena manusia tidak berkewajibab taak kepada manusia sesamanya dalam
bermaksiat kepada Allah, Hormat dan menghargai kepada keduanya, merendahkan suara dan
memuliakan keduanya dengan perkataan dan perbuatan yang baik, tidak menghardik dan tidak
mengangkat suara di atas suara keduanya, tidak berjalan di depan keduanya, tidak mendahulukan
istri dan anak atas keduanya, tidak memanggil keduanya dengan namanya namun memanggil
keduanya dengan panggilan, Ayah, ibu, dan tidak berpergian kecuali dengan izin dan kerelaan
keduanya.
3.

Adab terhadap guru adalah Jangan mencari guru sembarangan, Ikhlas sebelum melangkah,
Mengagungkan guru, Akuilah keutamaan gurumu, Doakan kebaikan, Rendah diri kepada guru,
Mencontoh akhlaknya, Membela kehormatan guru, Jangan berlebihan kepada guru, dan Bila
guru bersalah

4.

Adab terhadap tetangga : berbuat baik (ihsan) kepada mereka. sabar menghadapi gangguan
tetangga, menjaga dan memelihara tetangga, dan tidak mengganggu tetangga.
5. Adab terhadap tamu adalah Ketika mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang
yang bertakwa, bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa), Tidak mengkhususkan
mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin, Tidak mengundang
seorang yang diketahui akan memberatkannya kalau diundang. Disunahkan mengucapkan
selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang Menghormati tamu dan menyediakan
hidangan untuk tamu makanan semampunya saja. Dalam penyajiannya tidak bermaksud untuk
bermegah-megah dan berbangga-bangga, Hendaknya juga, dalam pelayanannya diniatkan untuk
memberikan kegembiraan kepada sesama muslim.
6.

Adap terhadap sesama adalah Mencintai Karena Allah, Menampakkan Senyum, Bersikap
Lembut dan Kasih Sayang Kepada Sesama Saudara Seiman , Disunnahkan Memberi Nasihat
Dan Hal Itu Termasuk Kesempurnaan Persaudaraan, Saling Tolong Menolong antar Sesama,

Sesama Saudara semestinya saling Merendahkan diri diantara mereka dan tidak sombong atau
meremehkan yang Lain, Berakhlak yang Terpuji, Berbaik Sangka.
DAFTAR PUSTAKA

DR.Muhammad Rabbi Muhammad Jauhari. 2006. Keistimewaan Akhlak Islam. Bandung:


________ Pustaka Setia
Drs.KH.Ahmad Dimyathi Badruzzaman,M.A.2004.Panduan Kuliah Agama Islam. Bandung:
________ Sinar Baru
Prof. Dr. Abdul Wahab khalaf, Hadits-Hadits Nabi, Gema Risalah, Perss, Bandung, 1996.
________ hal 197.
Syarifuddin Amir, MUTIARA HADITS, PT. LOGOS Wacana Ilmu. jakarta, 1997, hlm:124
Posted by Rahmi Maulanisa at Sunday, November 17, 2013 Labels: AKIDAH AKHLAK,
Keagamaan, MAKALA