Anda di halaman 1dari 137

ANALISIS KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA

MELALUI PENDEKATAN INKUIRI PADA KONSEP


SISTEM KOLOID
SKRIPSI

Oleh
WINDA SYAFITRI
105016200562

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H/ 2010 M

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

Yang bertandatangan di bawah ini


Nama

: Winda Syafitri

NIM

: 105016200562

Jurusan

: Pendidikan IPA

Angkatan Tahun

: 2005

Alamat

: Jl. legal Parang Utara IV No.21 RT.008/04


Kec. Mampang Prapatan. Jakarta Selatan 12790

MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA


Bahwa skripsi yang berjudul Analisis Keterampilan Proses Sains Siswa
Melalui Pendekatan Inkuiri Pada Konsep Sistem Koloid adalah benar hasil
karya sendiri di bawah bimbingan dosen:
1. Nama

: Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd

NIP Dosen

: 196812282003031004

Jurusan

: Pendidikan IPA/Kimia

2. Nama

: Tonih Feronika, M.Pd

NIP Dosen

: 197601072005011007

Jurusan

: Pendidikan IPA/Kimia

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap
menerima segala konsekuensi apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil karya
sendiri.

Jakarta, 9 Maret 2011


Yang Menyatakan

Winda Syafitri

LEMBAR PENGESAHAN

ANALISIS KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA MELALUI


PENDEKATAN INKUIRI PADA KONSEP SISTEM KOLOID

SKRIPSI
Diajukan kepada fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Mencapai Gelar
Sarjana Pendidikan

Oleh:

Winda Syafitri
105016200562
Di Bawah Bimbingan:

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd


NIP. 196812282003031004

Tonih Feronika, M.Pd


NIP. 197601072005011007

ii

ABSTRAK
Winda Syafitri, Analisis Keterampilan Proses Sains Siswa Melalui
Pendekatan Inkuiri Pada Konsep Sistem Koloid, skripsi jurusan Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Alam program studi kimia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar kemampuan
keterampilan proses sains yang dimiliki siswa dapat berkembang melalui
pendekatan pembelajaran inkuiri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah deskriptif yang diarahkan untuk memperoleh informasi mengenai
keterampilan proses sains apa saja yang muncul melalui pembelajaran inkuiri dan
mengetahui seberapa besar keterampilan proses sains siswa dapat berkembang.
Penelitian ini dilaksanakan di SMA PGRI 3 Jakarta pada kelas XI jurusan IPA.
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2009-2010. Subjek
penelitian ini adalah seluruh siswa SMA PGRI 3 Jakarta kelas XI jurusan IPA
yang berjumlah 21 orang. Siswa dibagi menjadi 5 kelompok, setiap kelompok
terdiri dari siswa laki-laki dan siswa perempuan, dari kategori tinggi, sedang, dan
rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedelapan aspek keterampilan
proses sains siswa muncul pada pembelajaran inkuiri dengan persentase yang
bervariasi dengan kategori muncul sesuai dan muncul tidak sesuai. Aspek yang
muncul sesuai yaitu aspek investigasi, aspek observasi, aspek klasifikasi, aspek
prediksi, dan aspek komunikasi, sedangkan aspek bertanya, aspek hipotesis, dan
aspek interpretasi muncul tidak sesuai.
Kata kunci: Keterampilan Proses Sains, Inkuiri.

iii

KATA PENGANTAR

Al-hamdulillahirabbil alamin, ucapan syukur hanya pantas diberikan


kapada Allah, Rabb semesta alam, penggengam alam dan seisinya. Yang telah
memberikan rahmat, hidayah, kekuatan dan keikhlasan kepada kita semua
sehingga pada kesempatan kali ini dari sekian banyak kesempatan yang sudah
diberikan-Nya. Penulis bisa menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat
untuk mencapai gelar sarjana S1 pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
Shalawat dan salam senantiasa kita sampaikan kepada al-Qudwah kita
Rasululah SAW. Keluarga, sahabat, dan umatnya yang tetap istiqamah dalam
memperjuangkan agama-Nya dan menghidupkan Sunnah-sunnahnya.
Penulis sangat menyadari dalam penulisan skripsi ini, tidak sedikit
hambatan dan kesulitan yang dihadapi dan dialami, baik yang menyangkut
pengaturan waktu, pengumpulan bahan-bahan (data) maupun pembiayaan dan lain
sebagainya. Namun berkat kesungguhan hati dan kerja keras disertai motivasi dan
bantuan dari berbagai pihak, maka segala kesulitan dan hambatan itu dapat diatasi
dengan sebaik-baiknya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan maksimal
Insya Allah.
Tanpa mengurangi penghargaan dan terimakasih, secara khusus penulis
menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan atas
terselesaikannya skripsi ini, yaitu :
1.

Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

iv

3. Ibu Nengsih Juanengsih, M.Pd, selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Ilmu


Pengetahuan Alam (IPA) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Bapak Dedi Irwandi M.Si, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Kimia
sekaligus Penasehat Akademis atas pengarahan dan bimbingan yang telah
diberikan.
5. Bapak Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd, selaku dosen pembimbing I yang dengan
keikhlasan dan kesabaran membimbing penulis hingga akhir penulisan.
6. Bapak Tonih Feronika, M.Pd, selaku dosen pembimbing II yang telah
meluangkan waktu disela-sela kesibukannya, memberi motivasi dan
pengarahan serta dengan keikhlasan dan kesabaran membimbing penulis
hingga akhir penulisan.
7. Bapak Drs. H. Achmad Sjamsuri, MM, selaku Kepala Sekolah Sekolah
Menengah Atas PGRI 3 Jakarta atas kesempatan yang telah diberikan
kepada penulis untuk melakukan penelitian.
8. Ayahanda (Rachmat Alwi) dan Ibunda (Netty Herawaty), serta kakakkakak tercinta (Firmansyah dan Firdaus) atas tetesan-tetesan keringat,
airmata dalam mendidik, merawat, memberikan doa, dukungan baik moril
maupun materil serta motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan
pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
9. Sahabat- Sahabat tercinta, seperjuangan di atmosfer penuh Cinta Ilahi,
Nilma Purnama, Nur Subechan, Khusnul Khotimah, Agustiana, Agustiani,
Rizki Fauziah, Fatimah Azzahra, dan Gita Nurhasanah. Jazakumullah
khairan katsir atas support dan doanya. Serta kesabaran dan
keikhlasannya dalam berjuang bersama. Semoga Allah kekalkan ukhuwah
ini dan pertemukan kita di Jannah-Nya nanti.
10. Teman-teman seperjuangan di KARIMA, adik-adik Rohis SMAN 55 dan
komda FITK, LDK Syahid, teman-teman SOLID 2005, teman-teman
jurusan IPA program studi kimia, dan semua pihak yang tak bisa
disebutkan satu per satu, tak bersua bukan berarti tidak ada motivasi dan
kalian membuktikan itu. Jazakumullah bi akhsanul Jaza.

Akhirnya, hanya kepada Allah jualah penulis berserah atas segala


sesuatu. Semoga semua kebaikan yang sudah dilakukan menjadi ladang dan
tabungan di yaumil akhir nanti, dan dibalas oleh Allah dengan balasan sebaikbaiknya. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca
pada umumnya. Amin yaa Rabbal alamin.

Jakarta, 17 Februari 2011

Penulis

vi

DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PERNYATAAN ...............................................................

LEMBAR PENGESAHAN ...............................................................

ii

ABSTRAK ..........................................................................................

iii

KATA PENGANTAR ........................................................................

iv

DAFTAR ISI .......................................................................................

vii

DAFTAR TABEL ...............................................................................

ix

DAFTAR GAMBAR ..........................................................................

DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................

xi

BAB I

BAB II

BAB III

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Masalah .............................................. 1

B.

Identifikasi Masalah ....................................................

C.

Pembatasan Masalah ...................................................

D.

Perumusan Masalah ....................................................

E.

Tujuan Penelitian.........................................................

F.

Manfaat Penelitian ......................................................

DESKRIPSI TEORITIK
A.

Hakikat Pendekatan Inkuiri ......................................... 8

B.

Kemampuan Psikomotor ............................................. 17

C.

Hakikat Keterampilan Proses Sains ............................

20

D.

Keterampilan Proses dalam Pembelajaran Inkuiri ......

24

E.

Hakikat Ilmu Kimia ....................................................

28

METODOLOGI PENELITIAN
A.

Tempat dan Waktu Penelitian .....................................

34

B.

Metode Penelitian .......................................................

34

C.

Subjek Penelitian ......................................................... 34

D.

Instrumen Penelitian ...................................................

E.

Teknik Pengumpulan Data .......................................... 37

F.

Teknik Pemeriksaan dan Keterpercayaan Studi .......... 39

vii

35

G.
BAB IV

BAB V

Teknik Analisis Data ................................................... 42

HASIL DAN PEMBAHASAN


A.

Hasil Penelitian .......................................................

45

B.

Pembahasan ................................................................. 51

KESIMPULAN DAN SARAN


A.

Kesimpulan .................................................................

60

B.

Saran ............................................................................ 61

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 62


LAMPIRAN-LAMPIRAN ...................................................................

viii

64

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1

Aspek Keterampilan Proses Sains Siswa ...........................

26

Tabel 3.2

Format Wawancara ............................................................

43

Tabel 4.1

Hasil Pengamatan Aspek Keterampilan Proses Sains ........ 45

Tabel 4.2

Respon siswa terhadap pembelajaran kimia dengan


pendekatan inkuiri ..............................................................

ix

48

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1

Diagram Batang Kemunculan Aspek Keterampilan


Proses Sains Siswa Secara Keseluruhan........................... 52

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.

Lampiran 2.

Lampiran 3.

Instrumen Pembelajaran ................................................

64

a.

Silabus ....................................................................

64

b.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ............ 66

c.

Lembar Kerja Siswa (LKS) .................................... 83

Instrumen Pengumpulan Data .......................................

94

a.

Format Lembar Observasi ......................................

94

b.

Kisi-kisi Pengamatan Lembar Observasi ...............

97

c.

Format Wawancara ................................................. 104

Pengolahan Data ............................................................ 105


a.

Hasil Perhitungan Lembar Observasi Secara


Keseluruhan ............................................................ 109

b.

Data Hasil Wawancara Tiap Kelompok ................. 111

Lampiran 4.

Lembar Uji Referensi

112

Lampiran 5.

a.

Surat Permohonan Izin Penelitian

118

b.

Surat Bimbingan Skripsi

119

c.

Surat Keterangan Penelitian

120

xi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap ilmu pengetahuan memiliki karakteristik spesifik yang
membedakan ilmu tersebut dengan ilmu lainnya, Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) merupakan salah satu cabang pokok ilmu pengetahuan yang
didalamnya terdapat berbagai cabang keilmuan, antara lain ilmu fisika, ilmu
biologi, dan ilmu kimia.
Salah satu cabang ilmu pengetahuan yang harus dikuasai siswa di
SMA/MA adalah kimia, Michael Purba menjelaskan bahwa
Ilmu kimia adalah ilmu pemahaman dan rekayasa materi. Rakayasa
yaitu mengubah suatu materi menjadi materi yang lain. Untuk
dapat melakukan rekayasa tersebut, para ahli perlu memahami ilmu
kimia, yaitu mengetahui susunan, struktur, serta sifat-sifat materi
oleh karena itu, ilmu kimia dapat didefinisikan sebagai ilmu yang
mempelajari tentang susunan, struktur, sifat, perubahan materi,
serta energi yang menyertai perubahan tersebut.1
Bidang

studi

kimia

seharusnya

merupakan

pelajaran

yang

menyenangkan, karena berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Akan


tetapi apa yang diharapkan umumnya berlainan dengan kenyataan. Hal ini
dapat terjadi salah satunya adalah dengan penggunaan pendekatan
pembelajaran yang kurang tepat oleh guru dalam mengajar. Guru lebih
banyak menanamkan konsep-konsep materi pelajaran melalui transfer
informasi dan pemberian contoh-contoh yang cenderung dihafal siswa,
sehingga tidak membentuk konsepsi yang benar. Pembelajaran seperti ini
tentu saja akan menciptakan suasana kelas yang statis, monoton, dan
membosankan. Dengan demikian perlu adanya peran guru dalam menentukan
pendekatan pembelajaran yang tepat yang dapat meningkatkan hasil belajar
dan keterampilan siswa.

Michael Purba. Kimia SMU Kelas X, (Jakarta: Erlangga, 2006), h. 3.

Proses belajar merupakan hasil yang kompleks. Belajar terkait dengan


apa yang harus dikerjakan oleh siswa tersebut. Guru hanya berfungsi sebagai
pembimbing dan pengarah, sedangkan yang menggerakkan proses tersebut
harus datang dari siswa. Dengan demikian, seorang pendidik perlu
menerapkan sebuah pendekatan yang mengarahkan siswa untuk berperan
aktif dan menggali potensi yang ada pada dirinya sendiri, sehingga siswa
mampu

mengembangkan

keterampilan-keterampilan

tertentu

seperti

keterampilan dalam mengamati, menafsirkan pengamatan, mengelompokkan,


meramalkan, komunikasi, membuat hipotesis, merencanakan penelitian,
menggunakan alat/bahan, dan mengajukan pertanyaan.
Kenyataan yang terjadi di lapangan, pembelajaran cenderung hanya
mengembangkan beberapa keterampilan saja, misalnya keterampilan
berkomunikasi dan observasi. Keterampilan komunikasi kegiatan yang
dilakukan misalnya dengan diskusi kelompok, siswa melakukan kegiatan
diskusi dan tanya jawab. Sedangkan keterampilan observasi kegiatan yang
biasa dilakukan misalnya melalui kegiatan praktikum. Dalam kegiatan
praktikum

siswa

melakukan

kegiatan

diantaranya

merancang

dan

menggunakan alat, serta mencatat hasil pengamatan. Dari aspek keterampilan


komunikasi dan observasi tersebut sebenarnya tidak hanya sebatas itu, tetapi
masih banyak keterampilan-keterampilan yang dapat dikembangkan dalam
kegiatan pembelajaran, misalnya keterampilan menyampaikan ide atau
gagasan, keterampilan mengamati, menggunakan/mengumpulkan fakta yang
relevan, menganalisis data, menyajikan pemahaman baru, dan masih banyak
lagi keterampilan-keterampilan proses sains yang dapat dikembangkan dalam
pembelajaran.
Menurut Zulfiani dkk, pendekatan proses adalah pendekatan
pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk ikut
menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu
keterampian proses.2 Pendekatan proses dikenal juga dengan keterampilan
2

Zulfiani, dkk., Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta,
2009), cet. I, h. 93

proses, dengan mengembangkan kemampuan fisik dan mental, siswa akan


mampu menemukan dan menggambarkan sendiri fakta, konsep, serta
menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Dengan
demikian keterampilan proses menjadi roda penggerak penemuan dan
pengembangan fakta dan konsep serta penumbuhan dan pengembangan sikap
dan nilai. Jadi keterampilan proses adalah suatu pendekatan dalam
pembelajaran, dimana siswa memperoleh kesempatan untuk melakukan suatu
interaksi dengan objek konkret sampai pada penemuan konsep.
Pada dasarnya siswa memiliki keterampilan dalam belajar, misalnya
keterampilan bertanya, hipotesis, investigasi (merencanakan percobaan),
observasi

(pengamatan),

klasifikasi

(mengelompokkan),

prediksi

(meramalkan), interpretasi (menafsirkan pengamatan), dan komunikasi.


Namun keterampilan-keterampilan tersebut terkadang tidak muncul, maka
diperlukan

adanya

pendekatan

dalam

pembelajaran

yang

mampu

memunculkan keterampilan proses sains siswa tersebut. Pendekatan


pembelajaran yang mengarahkan pada terciptanya suasana kegiatan di atas
salah satunya adalah pendekatan inkuiri. Pendekatan inkuiri merupakan cara
pembelajaran yang mengajarkan kepada siswa untuk menjadi kritis, analisisargumentatif dalam mencari jawaban-jawaban berbagai permasalahan yang
ada dalam alam, melalui pengalaman-pengalaman dan sumber lainnya. Tidak
hanya meteri yang disampaikan guru di kelas.
Kemampuan inkuiri selalu dikaitkan dengan kegiatan penyelidikan
atau eksperimen. Dalam proses belajar tidak cukup hanya menggunakan
metode

ceramah

dan

membaca

buku.

Siswa

seharusnya

mampu

mengkonstruksi pemahamannya serta terlibat aktif dalam pembelajaran mulai


dari merumuskan masalah, berhipotesis, merancang atau menganalisis
eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, hingga membuat
kesimpulan. Siswa membutuhkan kesempatan untuk dapat berfikir dari ide
yang bersifat konkret menuju ide yang bersifat abstrak. Siswa perlu
memikirkan kembali hipotesisnya, mengadaptasi dan menguji coba
pemahaman dan maupun menyelesaikan masalah.

Salah satu prinsip utama inkuri, yaitu siswa dapat mengkonstruk


sendiri

pemahamannya

dengan

melakukan

aktivitas

aktif

dalam

pembelajarannya. Dalam proses belajar mengajar, inkuiri ini digunakan


sebagai pendekatan pengajaran yang memungkinkan ide siswa berperan
dalam investigasi yang akan dilakukan oleh pembelajar/siswa.3
Melalui pendekatan inkuiri inilah siswa akan terdorong untuk belajar
melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang
sesuai, ditambah lagi dengan dorongan yang diberikan guru, agar setiap siswa
memiliki pengalaman dalam melakukan percobaan yang memungkinkan
mereka menemukan prinsip-prinsip untuk mereka sendiri. Dengan begitu,
keinginan siswa untuk mengetahui, akan menambah motivasi mereka untuk
melanjutkan pekerjaannya hingga mereka menemukan jawaban atau solusi
dari masalahnya. Pendekatan inkuiri juga mengajarkan kepada siswa untuk
belajar memecahkan masalah secara mandiri, sehingga dalam diri mereka
akan muncul kemampuan berpikir yang kritis, karena selama proses
pembelajaran berlangsung, guru terus menerus mengajukan pertanyaanpertanyaan kepada siswa yang dapat membangkitkan pemikiran siswa secara
ilmiah, dengan demikian pikiran siswa akan termotivasi untuk selalu berpikir.
Dalam pendekatan inkuiri setiap pertanyaan yang diberikan oleh guru
menuntut siswa untuk aktif mencari serta meneliti sendiri pemecahan dari
masalah yang dihadapinya, dan dari masalah tersebut mereka dituntut untuk
mencari sumber sendiri belajar mengemukakan pendapat sendiri, serta
merumuskan kesimpulan sendiri, yang nantinya dengan kesimpulan mereka
tersebut,

mereka

diharapkan

dapat

berdebat,

menyanggah,

serta

mempertahankan pendapatnya masing-masing. Jika hal tersebut sudah benarbenar dapat dijalankan oleh seorang siswa, maka tentunya pengalamanpengalaman yang sudah didapat oleh siswa akan mudah untuk diingat dalam
kehidupannya, dan akan selalu tersimpan dalam memori pikirannya, dengan
demikian keterampilan-keterampilan proses sains siswa akan muncul dengan
baik.
3

Ibid., h. 121

Pada penelitian ini penulis memilih pelajaran kimia pada pokok


bahasan sistem koloid, dimana pokok bahasan ini dianggap sesuai bila
diajarkan melalui pendekatan inkuiri, karena pada pokok bahasan ini aktivitas
pembelajarannya dapat dilakukan dengan praktikum dan diskusi. Karena
dalam pembelajaran inkuiri ada aktifitas merancang dan menganalisis
eksperimen. Dalam kegiatan praktikum, siswa melakukan aktifitas seperti
merancang percobaan, merangkai dan menggunakan alat, menganalisis data,
dan prediksi. Sedangkan dalam kegiatan diskusi siswa melakukan aktifitas
bertanya, menyampaikan ide atau gagasan, menjawab atau menanggapi
pertanyaan, yang secara keseluruhan aktifitas yang dilakukan siswa tersebut
merupakan keterampilan proses yang muncul melalui pendekatan inkuiri.
Berdasarkan

latar

belakang

tersebut,

penulis

tertarik

untuk

mengadakan penelitian dengan mengambil judul Analisis Keterampilan


Proses Sains Siswa Melalui Pendekatan Inkuiri pada Konsep Sistem Koloid.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, ada beberapa masalah
yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Pembelajaran kimia tidak melibatkan siswa secara aktif dalam menemukan
pengetahuan atau pemahaman sendiri.
2. Pembelajaran kimia belum melatih siswa mengembangkan keterampilan
proses.
3. Pembelajaran kimia lebih banyak menggunakan konsep-konsep materi
sebatas transfer informasi dan pemberian contoh-contoh.

C. Pembatasan Masalah
Agar masalah ini dapat dibahas dan tidak meluas, maka penulis
membatasi permasalahan skripsi ini sebagai berikut:

1. Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan pendekatan inkuiri menurut Erna


Suwangsih dengan tahapan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang
fenomena alam, merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, merancang
dan menganalisis eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data,
membuat kesimpulan.
2. Keterampilan proses yang dikembangkan adalah keterampilan mengamati
(observasi), menafsirkan pengamatan (interpretasi), mengelompokkan
(klasifikasi), meramalkan (prediksi), komunikasi, membuat hipotesis,
merencanakan

penelitian

(eksperimen),

menggunakan

alat/bahan,

mengajukan pertanyaan.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka penulis merumuskan
masalah sebagai berikut:
1. Diantara aspek-aspek keterampilan proses sains yang muncul, aspek apa
yang paling dominan dijumpai dalam penerapan pembelajaran melalui
pendekatan inkuiri?
2. Bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran melalui pendekatan
inkuiri?

E. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui seberapa besar kemampuan keterampilan proses sains
yang dimiliki siswa muncul melalui pendekatan pembelajaran inkuiri.

F. Manfaat Penelitian
1. Bagi guru:
a. Sebagai bahan masukan bagi guru untuk membelajarkan peserta
didiknya dengan pendekatan pembelajaran yang membangun kreatifitas
juga pola pikir siswa yang kreatif.
b. Dari aspek keterampilan proses sains yang paling banyak muncul dapat
dimanfaatkan oleh guru untuk menentukan pendekatan pembelajaran

yang tepat karena pelajaran akan mudah diserap oleh siswa dengan
banyak melibatkan siswa pada aktivitas pembelajaran dari pada siswa
hanya membaca dan mendengar saja.
2. Bagi peneliti:
a. Dapat dijadikan literatur untuk penelitian lebih lanjut
b. Peneliti lebih memahami pendekatan pembelajaran inkuiri.

BAB II
DESKRIPSI TEORITIK

A. Hakikat Pendekatan Inkuiri


1. Pengertian inkuiri
Menurut Agus Sugianto Inkuiri adalah seni mengajukan
pertanyaan tentang alam sekitar dan penemuan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan tersebut. di dalam inkuiri terdapat proses
pengamatan

yang

cermat,

pengukuran,

perumusan

hipotesis,

interpretasi, dan pembentukan teori.1 Dengan mengembangkan


pembelajaran mandiri, siswa dituntut untuk aktif, mengembangkan
kemampuan berfikir serta pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.
Jadi inkuiri adalah suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa
memproleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berfikir
mereka berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.
Mark T. Jones dan Carles J. Eick menjelaskan bahwa
Pembelajaran inkuiri adalah sebuah proses aktif dan menggambarkan
inkuiri yang ilmiah dan terjadi dalam konteks pendidikan formal.2
Yang terpenting pada pembelajaran inkuiri adalah bahwa dalam proses
pembelajaran siswalah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah
yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan guru
atau orang lain, mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil
belajarnya.
Inkuiri adalah istilah yang berasal dari bahasa inggris (inquiry),
yang artinya penyelidikan. Inkuiri merupakan suatu teknik atau cara
yang digunakan guru untuk mengajar di depan kelas.3 Dengan
mengembangkan pembelajaran mandiri, siswa dituntut untuk aktif,

Agus Sugianto, dkk. Pembelajaran IPA MI, (Surabaya: AprintA, 2009), h. 19.
Mark T. Jones dan Charles J. Eick, Implementing Inquiry Kit Curriculum: Obstacles,
Adaptation, and Practical Knowledge Development in Two Middle School Science Teachers,
dalam Jurnal Ilmu Pendidikan, 22 Januari 2007, h. 493.
3
Roestiyah, NK. Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), cet. IV, h. 75.
2

mengembangkan kemampuan berfikir serta pengetahuan yang telah


dimiliki sebelumnya. Jadi inkuiri adalah suatu pendekatan pembelajaran
dimana siswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan
kemampuan berfikir mereka berdasarkan pengetahuan yang telah
dimiliki sebelumnya.
Inkuiri adalah istilah dalam bahasa Inggris, yang merupakan
suatu teknik atau cara yang digunakan guru untuk mengajar
di depan kelas. Dalam pelaksanaannya guru memberikan
tugas berupa permasalahan di kelas. Siswa dibagi menjadi
beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat
tugas tertentu yang harus dikerjakan. Kemudian mereka
mempelajari, meneliti atau membahas tugasnya di dalam
kelompok. Setelah hasil kerja mereka didiskusikan, kemudian
dibuat laporan yang tersusun dengan baik.4
Dalam pembelajaran inkuiri ada interaksi antar siswa dalam
kelompok,

mereka

dapat

mengembangkan

keterampilan

dalam

komunikasi. Selain itu siswa mampu berhipotesis terhadap masalah


yang disajikan serta menemukan jawaban melalui diskusi kelompok.
Jadi, dalam pembelajaran inkuiri selain mengembangkan kemampuan
berfikir siswa, inkuiri juga mamapu mengembangkan keterampilan
siswa dalam berkomunikasi. Karena ada interaksi yang terjadi dalam
diskusi kelompok maupun diskusi kelas.
Pendekatan inkuiri merupakan pendekatan mengajar yang
berusaha meletakkan dasar dan mengembangkan cara berfikir ilmiah,
pendekatan ini menempatkan siswa lebih banyak belajar sendiri,
mengembangkan kekreatifan dalam memecahkan masalah.5
Dengan pembelajaran inkuiri inilah mereka akan dilatih
bagaimana memecahkan masalah, membuat keputusan dan memperoleh
keterampilan, serta memungkinkan peserta didik dalam berbagai tahap
perkemabangannya bekerja dengan masalah-masalah yang sama dan
4

Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi,


(Jakarta: Kencana, 2005), cet. I, h.199.
5
Syaiful Segala, Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan
Problematika Belajar dan Mengajar, (Bandung: Alvabeta, CV., 2008), cet. VI, h. 196.

10

bahkan bekerja sama dalam mencari solusi terhadap masalah-masalah


yang dihadapi.
Pendekatan inkuiri adalah cara seorang ilmuan menyelidiki
dunia alam dan menghasilkan fakta-fakta, penjelasan mendasar (teori),
gambaran (hukum) dan produk (teknologi).6 Inkuiri memungkinkan
terjadinya integrasi berbagai disiplin ilmu. Ketika melakukan
eksplorasi, peserta didik akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
akan melibatkan sains dan ilmu lainnya.
NRC dalam Arthur A. Charin menjelaskan bahwa:
Inkuiri adalah kumpulan produk yang saling terkait dimana
ilmuan dan siswa bertanya tentang dunia alam dan
menyelidiki suatu gejala, siswa memperoleh pengetahuan dan
mengembangkan pemahaman konsep, asas, model dan teori.
Inkuiri adalah komponen penting sebuah program sains pada
seluruh tingkatan kelas dan pada setiap bidang ilmu
pengetahuan.7
Inkuiri juga melibatkan komunikasi. Setiap peserta didik harus
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berarti dan berhubungan.
Mereka juga harus melaporkan hasil temuanya, baik itu secara lisan
maupun secara tertulis. Dengan begitu, mereka akan belajar dan
mengajar satu sama lain.
Menurut

Carin

dan

Sund

dalam

Erna

Suwangsih,

mengemukakan bahwa:
Inkuiri adalah the proses of investigating a problem, yaitu
proses dari menemukan masalah. Adapun Piaget
mengemukakan bahwa metode inkuiri merupakan suatu
metode yang mempersiapkan peserta didik untuk melakukan
eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi,
ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaanpertanyaan, dan mencari jawaban sendiri, serta
menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang

Jack Hassard dan Michael Dias, The Art of Teaching Science, (New York: Oxford
University Press, 2005), h. 35.
7
Arthur A. Charin dkk., Activities for Teaching Science as Inquiry, (New Jersey:
Pearson Merill Prentice Hall, 2005), h. 3.

11

lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan


penemuan peserta didik lain.8
Melalui kegiatan eksperimen, siswa diharapkan memiliki sikap ilmiah.
Pada kegiatan ini siswa dilatih untuk menemukan dan mencari jawaban
sendiri dari pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Dengan
demikian siswa dapat menguasai beberapa keterampilan, diantaranya
keterampilan merencanakan dan keterampilan melaksanakan penelitian
ilmiah.
Menurut Hamalik, pengajaran berdasarkan inkuiri adalah suatu
strategi yang berpusat pada siswa dimana kelompok-kelompok siswa
dihadapkan pada suatu persoalan atau mencari jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan didalam suatu prosedur dan struktur kelompok
yang digariskan secara jelas.9 Dengan demikian, siswa akan lebih
termotivasi untuk belajar, selain itu adanya kelompok memberikan
keterampilan bagi siswa untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan
teman kelompoknya dalam menjawab pertanyaan. Selain itu siswa
mampu berhipotesis terhadap masalah yang disajikan serta menemukan
jawaban melalui diskusi kelompok. Jadi, dalam pembelajaran inkuiri
selain mengembangkan kemampuan berfikir siswa, inkuiri juga mampu
mengembangkan keterampilan siswa dalam komunikasi. Karena ada
interaksi yang terjadi dalam diskusi kelompok maupun diskusi kelas.
Dari beberapa definisi inkuiri, maka dapat disimpulkan bahwa
inkuiri adalah pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam
menemukan pengetahuan atau pemahaman, mulai dari merumuskan
masalah, mengumpulkan data dan informasi, membuat pertanyaan,
membuat

hipotesis,

melakukan

percobaan,

menganalisis

hasil

percobaan, dan membuat kesimpulan.

Erna Suwangsih dkk, Model Pembelajaran Matematika, (Bandung: UPI Press, 2006),
cet. Pertama, h. 185.
9
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2001), cet. I, h.
220.

12

2. Langkah-langkah pelaksanaan pendekatan inkuiri


Agar model pembelajaran inkuiri dapat dilaksanakan dengan
baik, maka perlu dilalui beberapa tahapan sebagai berikut:10
a. Penyajian masalah, pada tahap ini kepada siswa disajikan masalah
yang ditemukan. Penyajian masalah dirancang begitu rupa sehingga
siswa dihadapkan kepada situasi teka-teki yang menuntut jawaban
dan keterangan. Melalui masalah yang disajikan, siswa mampu
berhipotesis.
b. Tahapan berikutnya adalah pengumpulan dan verifikasi data. Situasi
teka-teki tadi diharapkan dapat mendorong keinginan siswa untuk
mencari dan mengumpulkan data. Data-data yang dikumpulkan
diverifikasi untuk mencari kesahihannya. Data yang kurang sahih
dibuang dan data yang sahih dijadikan dasar untuk mengambil
kesimpulan guna tindak lanjut berikutnya.
c. Tahap eksperimen. Pada tahap ini, berdasarkan data yang diperoleh
dan

yang sudah

diuji

kesahihannya

sebelumnya

dilakukan

eksperimen. Tujuannya adalah untuk menguji dan mengeksplorasi


secara langsung.
d. Tahap selanjutnya adalah mengorganisir data dan merumuskan
penjelasan. Data yang diperoleh diorganisir secara sistematis dan
diberikan penjelasan. Siswa mencari data yang diperlukan untuk
menjawab permasalahan.
e. Tahap berikutnya adalah mengadakan analisis. Di sini siswa diminta
membuat analisa untuk melihat pola-pola yang terdapat dalam
eksperimen yang telah dilakukan. Diharapkan dengan menganalisa
pola-pola tertentu yang muncul ditemukanlah sesuatu yang baru.
inilah yang menjadi sasaran dari seluruh proses inkuiri yang telah
dilakukan.

10

Yusri Panggabean, dkk., Strategi, Model, dan Evaluasi Pembelajaran Kurikulum 2006,
(Bandung: Bina Media Informasi, 2007), cet. I. h. 78-79

13

Inkuiri merupakan pendekatan penyelidikan yang melibatkan


proses mental dengan berbagai kegiatan, kendatipun pendekatan inkuiri
ini paling banyak mendapat dukungan dan paling banyak pula
digunakan oleh para pendidik, namun hal tersebut tidak berarti bahwa
pendekatan lainnya itu diabaikan atau tidak digunakan untuk mencapai
tujuan-tujuan inkuiri.
Adapun kegiatan-kegiatan dalam menerapkan pendekatan
inkuiri sebagai berikut:11
a. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang fenomena alam.
b. Merumuskan masalah yang ditemukan.
c. Merumuskan hipotesis.
d. Merancang dan melakukan eksperimen.
e. Mengumpulkan dan menganalisis data.
f. Menarik kesimpulan, mengembangkan sikap ilmiah, yakni: efektif,
jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, berkemauan, dan tanggung jawab.
Pendekatan inkuiri ini dilaksanakan oleh kelompok dengan
langkah-langkah sebagai berikut:12
a. Membentuk kelompok-kelompok inkuiri dengan jumlah kelompok
maksimal 6 (enam) kelompok, dan masing-masing kelompok terdiri
atas lima atau enam orang.
b. Memperkenalkan topik-topik inkuiri kepada semua kelompok dan
setiap

kelompok

diharapkan

memahami

dan

berminat

mempelajarinya.
c. Membentuk proposisi tentang kebijakan yang berhubungan dengan
topik, yakni pernyataan apa yang harus dikerjakan. Mungkin
terdapat satu atau lebih solusi yang diusulkan terhadap masalah
pokok.
d. Merumuskan semua istilah dalam proposisi kebijakan.

11
12

op.cit., h. 186.
op.cit., h. 224.

14

e. Menyelidiki validitas logis dan konsistensi internal pada proposisi


dan unsur-unsur penunjangnya.
f. Mengumpulkan bukti untuk unsur atau posisi proposisi.
g. Menganalisis solusi yang diusulkan dan mencari posisi kelompok.
h. Menilai proses kelompok.
Selama

berlangsungnya

proses

ini,

kelompok-kelompok

menyelenggarakan diskusi kelompok untuk membahas materi-materi


yang berkenaan dengan topik kelompok, masing-masing individu
berupaya menghimpun bukti-bukti yang dapat menunjang pemecahan
masalah kelompok. Proses tersebut diorganisasikan dan dipantau oleh
kelompok sendiri. Tiap individu bertanggung jawab memajukan
kelompoknya.
3. Keunggulan pendekatan inkuiri
Adapun teknik inquiry menurut Roestiyah NK dalam Rochmah
Yudhawati Dhewi, memiliki keunggulan sebagai berikut:13
a.

Dapat membentuk dan mengembangkan self-consept pada diri


siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan
ide-ide lebih baik.

b.

Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada


situasi proses belajar yang baru.

c.

Mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya


sendiri, bersikap obyektif, jujur, terbuka dan bekerjasama.

d.

Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan


hipotesisnya sendiri.

13

e.

Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsik.

f.

Situasi proses belajar menjadi lebih menarik bagi siswa.

g.

Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.

h.

Memberi kebebasan siswa untuk belajar mandiri.

Rochmah Yudhawati Dhewi, Mengembangkan Kemampuan Pemecahan Masalah

Menggunakan Pendekatan Discovery dan Inquiry dalam Fisika, (Jakarta: Project Implementation
Commitee, 2007), h. 146.

15

i.

Dapat menghindarkan siswa dari cara-cara belajar yang


tradisional. Kegiatan belajar menjadi lebih hidup, karena siswa
harus berperan aktif.

j.

Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga


mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
Keunggulan pendekatan inkuiri antara lain:14

a. Pembelajaran menjadi berpusat pada siswa.


b. Mengembangkan konsep diri siswa.
c. Siswa memiliki tingkat pengharapan yang tinggi, yaitu memiliki
ide tertentu tentang bagaimana ia dapat menyelesaikan suatu
tugas dengan caranya sendiri.
d. Mengembangkan bakat kemampuan individu siswa.
e. Pembelajaran inkuiri menghindarkan siswa dari cara-cara belajar
menghafal.
f. Pembelajaran inkuiri memberikan waktu bagi siswa untuk
mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
4. Manfaat pendekatan inkuiri
Metode inkuri memberikan pengalaman-pengalaman belajar
yang nyata dan aktif kepada peserta didik. Peserta didik diharapkan
dapat mengambil inisiatif yang positif dalam proses belajarnya.
Dengan metode ini mereka akan dilatih bagaimana memecahkan
masalah, membuat keputusan, dan memperoleh keterampilan, serta
memungkinkan

peserta

didik

dalam

berbagai

tahap

perkembangannya bekerja dengan masalah-masalah yang sama dan


bahkan bekerja sama dalam mencari solusi terhadap masalahmasalah yang dihadapi.
Selain untuk mengembangkan kemampuan intelektual, model
pembelajaran inkuiri sangat baik untuk menjadikan siswa lebih
menghayati proses penyelidikan yang dilaksanakan dan belajar
14

Kinkin Suartini, Urgensi Pertanyaan dalam Pembelajaran Sains dengan Metode


Discovery-Inquiry (Pendekatan Baru dalam Pembelajaran Sains dan Matematika Dasar),
(Jakarta: Project Implementation Commitee, 2007), h. 105.

16

tentang prosedur ilmiah secara langsung. Tujuannya adalah agar


siswa memperoleh pengetahuan baru dengan cara mencari sendiri.15
Pembelajaran

sains

berbasis

inquiry

perlu

dilakukan

mengingat hal-hal berikut:16


a. Dalam sains terkandung dimensi produk (pengetahuan) dan
dimensi proses (kerja ilmiah). Dengan inquiry kedua dimensi
dapat dicapai.
b. Dengan melibatkan rasa ingin tahu siswa-siswi yang diungkapkan
dengan pertanyaan, pengetahuan yang diperoleh siswa-siswi
menjadi lebih bermakna.
c. Metode pembelajaran mewadahi perbedaan tahap perkembangan
siswa-siswi.
d. Pembelajaran

sains

berbasis

inquiry

dapat

membangun

keterampilan berkomunikasi melalui pertukaran gagasan sains


sehingga siswa-siswi saling belajar satu sama lain.
e. Inquiry membangun kemampuan berpikir kritis dan masyarakat
yang tidak mudah mempercayai isu.
f. Inquiry membangun kesadaran tentang perlunya perlindungan
alam.
Inkuiri memungkinkan terwujudnya integrasi berbagai disiplin
ilmu. Ketika melakukan eksplorasi, mereka akan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang akan melibatkan sains dan ilmu lainnya.
Tidak hanya itu, inkuiri juga melibatkan komunikasi. Setiap peserta
didik harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berarti dan
berhubungan. Mereka juga harus melaporkan hasil-hasil temuannya,
baik itu secara lisan maupun secara tertulis. Dengan begitu, mereka
akan belajar dan mengajar satu sama lain.

15
16

op.cit., h. 78.
op.cit., h. 20.

17

B. Kemampuan Psikomotor
Ranah

perilaku

psikomotorik

menunjukkan

pada

segi

keterampilan atau kemahiran untuk meragakan suatu kegiatan atau


memperlihatkan

suatu

tindakan.

Perilaku

ini

lebih

merupakan

keterampilan secara fisik. Aspek-aspek perilaku ini mencakup tahapan:


menirukan, memanipulasi, artikulasi dan naturalisasi.17 Hasil belajar pada
psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill)
atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman
belajar tertentu.
Menurut Martinis Yamin, Kawasan Psikomotor adalah kawasan
yang berorientasi kepada keterampilan motorik yang berhubungan dengan
anggota tubuh atau tindakan (action) yang memerlukan koordinasi antara
syaraf dan otot.18 Dengan demikian kawasan psikomotor adalah kawasan
yang berhubungan dengan seluk beluk yang terjadi karena adanya
koordinasi otot-otot oleh pikiran sehingga diperoleh tingkat fisik tertentu.
Anas Sudiyono mengatakan bahwa ranah psikomotor adalah
ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan
bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.19
Hasil belajar ranah psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan dan
kemampuan bertindak individu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya
merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan
hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungankecenderungan untuk berperilaku). Hasil belajar kognitif dan hasil belajar
afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta didik telah
menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang
terkandung dalam ranah kognitif dan ranah afektifnya.

17

Uyu Wahyudin, dkk. Evaluasi Pembelajaran Sekolah Dasar, (Bandung: UPI PRESS,
2006), Cet. 1, h. 32.
18
Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Gaung Persada
Press, 2004), Cet.II, h. 37.
19
Anas Sudiyono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2003), Cet. IV, h. 57-58.

18

Menurut Trowbridge dan Bybe dalam Ahmad Sofyan dkk.


menekankan

bahwa

domain

psikomotor

mencakup

aspek-aspek

perkembangan motorik, koordinasi otot, dan keterampilan-keterampilan


fisik. Selanjutnya Trowbridge dan Bybe mengklasifikasikan domain
psikomotor ke dalam empat kategori, yaitu: moving (bergerak),
manipulating (memanipulasi), communicating (berkomunikasi), dan
creating (menciptakan)".20
Ahmad Sofyan dkk. mengutip Trowbridge et.al (1981:127) yang
mencakup

bergerak

(moving),

memanipulasi

(manipulating),

berkomunikasi (communicating), dan menciptakan (creating). Berikut ini


akan dijelaskan satu persatu:21
Moving (bergerak), kategori ini merujuk pada sejumlah gerakan
tubuh yang melibatkan koordinasi gerakan-gerakan fisik. Dalam kelas
kimia, tujuan pembelajaran yang termasuk kategori ini adalah, misalnya:
siswa dapat membersihkan alat-alat praktikum atau siswa dapat membawa
mikroskop dengan benar, siswa dapat menempatkan atau menyimpan alatalat praktikum sesuai pada tempatnya. Kata kerja operasional yang dapat
digunakan untuk merumuskan indikator pencapaian hasil belajar antara
lain:

membawa,

membersihkan,

mengikuti,

menempatkan

atau

menyimpan.
Manipulating (memanipulasi), kategori ini merujuk pada aktivitas
yang mencakup pola-pola yang terkoordinasi dari gerakan-gerakan yang
melibatkan bagian-bagian tubuh, misalnya tangan-jari, tangan-mata. Kata
kerja operasional yang dapat digunakan untuk merumuskan indikator
pencapaian hasil belajar antara lain: mengkalibrasi, merangkai, meramu,
mengubah,
mencampurkan,

membersihkan,
mengaduk,

menghubungkan,
menimbang,

memanaskan,

mengoperasikan,

dan

memperbaiki. Tujuan pembelajaran yang dapat dirumuskan dalam kategori

20
21

op.cit., h. 24.
op.cit., h. 24-26.

19

ini, misalnya siswa dapat menuangkan larutan dari botol reagen ke dalam
gelas kimia dengan benar.
Communicating (berkomunikasi), kategori ini merujuk pada
pengertian aktivitas yang menyajikan gagasan dan perasaan untuk
diketahui oleh orang lain. kata kerja operasional yang dapat digunakan
untuk merumuskan indikator pencapaian hasil belajar siswa antara lain:
mengajukan pertanyaan, mengarang, menggambar, menjelaskan, membuat
grafik membuat tabel, mencatat, menulis, dan membuat rancangan. Tujuan
pembelajaran yang dapat dirumuskan dalam aspek ini, misalnya: siswa
dapat mengajukan pertanyaan mengenai maslah-masalah yang sedang
didiskusikan atau siswa dapat melaporkan data percobaan secara akurat.
Creating (menciptakan), merujuk pada proses dan kinerja yang
dihasilkan dari gagasan-gagasan baru. Kreasi dalam mata pelajaran kimia
biasanya memerlukan sejumlah kombinasi dari gerakan, manipulasi, dan
komunikasi dalam membangkitkan hasil baru yang sifatnya unik. Kata
kerja operasional yang dapat digunakan untuk merumuskan indikator
pencapaian hasil belajar siswa antara lain: membuat kreasi, merancang,
mensintesis, menganalisis, dan membangun. Tujuan pembelajaran yang
dapat dirumuskan antara lain sebagai berikut: siswa dapat menggabungkan
potongan-potongan alat untuk membentuk instrumen atau peralatan baru
dalam suatu percobaan.
Sedangkan menurut Sax dalam Mardapi, dikatakan bahwa
keterampilan psikomotor mempunyai enam peringkat yaitu gerakan
refleks, gerakan dasar, kemampuan perceptual, gerakan fisik, gerakan
terampil, dan komunikasi nondiskursip. Gerakan refleks adalah respon
motor atau gerak tanpa sadar yang muncul ketika bayi lahir. Gerakan dasar
adalah gerakan yang mengarah pada keterampilan kompleks yang khusus.
Dari sini akan meuncul keterampilan proses siswa. Kemampuan perceptual
adalah kombinasi kemampuan kognitif dan motor atau gerak. Kemampuan
fisik adalah kemampuan untuk mengembangkan gerakan yang paling
terampil. Gerakan terampil adalah gerakan yang memerlukan belajar,

20

seperti keterampilan olah raga. Komunikasi nondiskursip adalah


kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan gerakan.22
Maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang menggunakan
ranah

psikomotor mencakup gerakan fisik dan keterampilan tangan.

Keterampilan tangan ini menunjukkan pada tingkat keahlian seseorang


dalam suatu tugas atau kumpulan tugas tertentu.

C. Hakikat Keterampilan Proses Sains


1. Pengertian Keterampilan Proses Sains (KPS)
Menurut Agus Sugianto pendekatan keterampilan proses
merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses
belajar, aktivitas dan kreativitas peserta didik dalam memperoleh
pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap, serta menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari.23 Jadi, keterampilan proses adalah suatu
pendekatan

dalam

pembelajaran,

dimana

siswa

memperoleh

kesempatan untuk melakukan suatu interaksi dengan objek konkret


sampai pada penemuan konsep.
Zulfani dkk. mengungkapkan bahwa keterampilan proses sains
merupakan keterampilan-keterampilan yang biasa dilakukan ilmuwan
untuk

memperoleh

pengetahuan.24

Dengan

menggunakan

keterampilan-keterampilan proses, siswa akan mampu menemukan dan


mengembangkan sendiri fakta dan konsep.
Menurut

E.

Mulyasa

pendekatan

keterampilan

proses

merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses


belajar, aktivitas dan kreativitas peserta didik dalam memperoleh
pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap, serta menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari.25 Jadi, keterampilan proses adalah suau
22

Mimin Haryati, Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan,
(Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), cet. I, h. 25.
23
op.cit., h.8.
24
op.cit., h. 51.
25
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), cet. I, h. 99.

21

pendekatan

dalam

pembelajaran,

dimana

siswa

memperoleh

kesempatan untuk melakukan suatu interaksi dalam objek konkret


sampai pada penemuan konsep.
Dari beberapa definisi keterampilan proses, maka dapat
disimpulkan bahwa pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan
pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk
berproses ilmiah dengan tujuan mengembangkan dan meningkatkan
kemampuan siswa untuk menemukan dan mengemukakan sendiri fakta,
konsep, nilai serta sikap dalam diri siswa sendiri. Hal yang perlu
ditekankan pada penelitian ini pendekatan keterampilan proses yang
digunakan adalah pendekatan keteampilan proses pada proses IPA atau
keterampilan proses sains (KPS), yaitu pengembangan dari pendekatan
keterampilan proses dalam pembelajaran sains.
2. Manfaat keterampilan proses Sains
Beberapa alasan keterampilan proses sains diperlukan dalam
pendidikan dasar dan menengah ialah:26
a. Memiliki manfaat dalam memecahkan masalah yang dihadapi
dalam kehidupan.
b. Memberi bekal siswa untuk membentuk konsep sendiri dan cara
bagaimana mempelajari sesuatu.
c. Membantu siswa mengembangkan dirinya sendiri.
d. Sangat membantu siswa yang masih berada pada taraf
perkembangan berpikir konkret.
e. Mengembangkan kreativitas siswa.
3. Aspek-aspek keterampilan proses
Ada 7 jenis kemampuan yang hendak dikembangkan
melalui proses pembelajaran berdasarkan pendekatan keterampilan
proses, yakni:27

26
27

150-151.

op.cit., h. 51-55.
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), cet. I, h.

22

a. Mengamati; siswa harus mampu menggunakan alat-alat


inderanya: melihat, mendengar, meraba, mencium, dan merasa.
Dengan

kemampuan

ini,

dia

dapat

mengumpulkan

data/informasi yang relevan dengan kepentingan belajarnya.


b. Menggolongkan/mengklasifikasikan;

siswa

harus

terampil

mengenal perbedaan dan persamaan atas hasil pengamatannya


terhadap suatu objek, serta mengadakan klasifikasi berdasarkan
ciri khusus, tujuan, atau kepentingan tertentu. Pembuatan
klasifikasi

memerlukan

kecermatan

dalam

melakukan

pengamatan.
c. Menafsirkan (menginterpretasikan); siswa harus memiliki
keterampilan menafsirkan fakta, data, informasi, atau peristiwa.
Keterampilan ini diperlukan untuk melakukan percobaan atau
penelitian sederhana.
d. Meramalkan;

siswa

harus

memiliki

keterampilan

menghubungkan data, fakta, dan informasi. Siswa dituntut


terampil mengantisipasi dan meramalkan kegiatan atau peristiwa
yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang.
e. Menerapkan; siswa harus mampu menerapkan konsep yang
telah dipelajari dan dikuasai ke dalam situasi atau pengalaman
baru. keterampilan itu digunakan untuk menjelaskan tentang apa
yang akan terjadi dan dialami oleh siswa dalam proses
belajarnya.
f. Merencanakan penelitian; siswa harus mampu menentukan
masalah dan variabel-variabel yang akan diteliti, tujuan, dan
ruang lingkup penelitian. Dia harus menentukan langkahlangkah kerja pengumpulan dan pengolahan data serta prosedur
melakukan penelitian.
g. Mengkomunikasikan; siswa harus mampu menyusun dan
menyampaikan laporan secara sistematis dan menyampaikan

23

perolehannya, baik proses maupun hasil belajarnya kepada


siswa lain dan peminat lainnya.
Menurut

Sri

Sulistyorini

dalam

Agus

Sugianto,

kemampuan-kemampuan yang menunjukkan keterlibatan peserta


didik dalam kegiatan pembelajaran tersebut dapat dilihat melalui
partisipasi dalam kegiatan pembelajaran berikut.28
a. Kemampuan bertanya/menemukan masalah
b. Kemampuan melakukan pengamatan
c. Kemampuan

mengidentifikasi

dan

mengklasifikasi

hasil

pengamatan.
d. Kemampuan menafsirkan hasil identifikasi dan klasifikasi.
e. Kemampuan mengukur.
f. Kemampuan merencanakan dan melaksanakan suatu kegiatan
penelitian.
g. Kemampuan menggunakan dan menerapkan konsep yang telah
dikuasai dalam suatu situasi baru.
h. Kemampuan menyajikan atau mengkomunikasikan suatu hasil
pengamatan dan atau hasil penelitian.
Sesungguhnya dalam jenis-jenis keterampian proses itu
tidak ada batas yang jelas, satu sama lain saling terikat dan
berhubungan. Misalnya untuk dapat mengelompokan seseorang
memerlukan keterampilan pengamatan. Pengkatagorian jenisjenis keterampilan proses ini dimaksudkan untuk meninjau
dengan penekanan pada keterampilan tertentu.

D. Keterampilan Proses dalam Pembelajaran Inkuiri


Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa sains merupakan satu
kesatuan sistem yang mempunyai pola (keteraturan) tertentu dan diperoleh
melalui studi komprehensif, teliti dan sistematis. Sehingga dalam kegiatan
pembelajaran, sains atau IPA tidaklah hanya mengedepankan produk atau
28

op.cit., h. 8

24

hasil

saja

melainkan

proses

pencapaian

pembelajarannya.

Jika

pembelajaran menekankan pada aspek proses maka pengalaman belajar


siswa lebih bersifat langsung, karena dalam hal ini belajar sains bagi siswa
bukanlah

lagi

menghafal

teori

atau

konsep

semata,

melainkan

mengimplementasikan atau mengkonstruksi pengetahuan secara langsung


dan menerapkannya pada kehidupan nyata.
Dalam proses pembelajaran seperti halnya inkuiri, keterampilan
tersebut tidak dapat dipisahkan atau ditawar lagi keberadaannya, karena
keterampilan proses dalam pembelajaran merupakan keterampilanketerampilan dasar yang harus dimiliki oleh siswa dalam memproses
pelajaran sains, karena dengan keterampilan proses sains ini siswa dapat
menemukan dan mengembangkan konsep dalam materi ajar. Peran dan
fungsi keterampilan proses juga tidak berhenti sampai disini saja,
melainkan akan berlanjut kepada pengembangan kemampuan siswa
berikutnya melalui proses interaksi antara kemampuan (keterampilan
memproses informasi sebelumnya) dengan konsep melalui proses belajar
mengajar hingga mengembangkan sikap dan nilai pada diri siswa.
Keterampilan

proses

dalam

kegiatan

pembelajaran

selalu

disesuaikan dengan tingkatan jenjang pendidikan. Hal ini didasarkan atas


perbedaan tingkat perkembangan dan pengetahuan anak didik yang
berbeda-beda sesuai dengan usianya.
Keterampilan proses yang merupakan standar kelulusan bagi siswa
SMA dan MA meliputi: keterampilan mengamati, mengajukan hipotesis,
menggunakan alat dan bahan secara baik dan benar dengan selalu
mempertimbangkan keamanan dan keselamatan kerja, mengajukan
pertanyaan,

menggolongkan

dan

menafsirkan

data,

serta

mengkomunikasikan hasil temuan secara lisan atau tertulis, menggali dan


memilih informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan
atau memecahkan sehari-hari.
Dalam kegiatan pembelajaran yang berorientasikan keterampilan
proses, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Conny Semiawan dkk.

25

dalam penelitiannya, dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan


memproseskan

perolehan,

anak

akan

mampu

menemukan

dan

mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan dan


mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Dengan demikian,
keterampilan-keterampilan itu menjadi roda penggerak penemuan dan
pengembangan fakta dan konsep serta penumbuhan dan pengembangan
skap dan nilai.29
Sikap ilmiah dalam pelaksanaannya ini hanya akan muncul atau
bahkan berkembang jika siswa diperlakukan dan dianggap sebagai seorang
saintis muda di kelas. Dalam hal ini anak memerlukan lebih banyak doing
science daripada listening to scientific knowledge. Dengan kata lain,
peningkatan scientific attitude dapat berlangsung jika penagajaran IPA
guru dengan mengurangi peran pengkhutbah dan meningkatkan peran
fasilitator melalui kegiatan praktis IPA (scientific activities) yang
mendorong anak doing science seperti pengamatan, pengujian, dan
penelitian dan jenis keterampilan lainnya.
Pembahasan ini juga diperkuat dengan hasil-hasil penelitian
sebelumnya yang membuktikan bahwa keterampilan proses memiliki
keterikatan dengan sikap ilmiah siswa. Hal ini terbukti dari berbagai jenis
keterampilan proses ternyata melibatkan sikap ilmiah yang ada, seperti
pada kegiatan mengidentifikasikan masalah, siswa dilatih untuk memupuk
rasa ingin tahu, bersifat jujur, objektif, dan teliti. Dalam kegiatan
mengkomunikasikan siswa dilatih jujur, kerja sama dan kreatif. Dalam
kegiatan menyimpulkan hasil pengamatan, siswa dilatih memupuk rasa
ingin tahu, objektif, jujur, terbuka, kritis, kerja sama, dan berinisiatif. Hal
senada juga telah diungkapkan oleh Semiawan, dkk dalam bukunya bahwa
pendekatan keterampilan proses merupakan suatu sistem pengajaran yang
lebih banyak mengaktifkan siswa, serta memberi kesempatan yang luas

29

cet. I, h. 18

Conny Semiawan dkk., Pendekatan Keterampilan Proses, (Jakarta: Grasindo, 1992),

26

dalam mengembangkan inetelektual, keterampilan proses sains, minat, dan


sikap ilmiahnya.
Pengembangan keterampilan proses diatas hanya terbatas dengan
menggunakan pendekatan keterampilan proses sains. Namun kini,
beranjak dari konsep pendekatan ini yaitu pengajaran yang mengaktifkan
siswa, maka bisa ditemukan atau digunakan model pembelajaran baru
didalamnya yang serupa, seperti discovery dan inkuiri.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan atau
keterkaitan antara keterampilan proses sains dengan sikap ilmiah siswa,
yang mana dalam hal ini tentunya melibatkan kegiatan pembelajaran yang
dapat menumbuhkan kedua aspek tersebut, salah satunya seperti telah
disebutkan sebelumnya yaitu dengan menggunakan pendekatan inkuiri.
Tabel 2.1 Aspek Keterampilan Proses Sains30
No.

Keterampilan Proses

Aspek yang diamati

Sains
1

Bertanya/mengajukan

Bertanya untuk meminta penjelasan

pertanyaan

Mengajukan

pertanyaan

yang

berlatar belakang hipotesis


2

Hipotesis

Membuat

hipotesis/dugaan

sederhana dengan bahasa sendiri


Mengetahui bahwa ada lebih dari 1
kemungkinan penjelasan dari 1
kejadian
Menyadari bahwa suatu penjelasan
perlu di uji kebenarannya dengan
memperoleh bukti
3

Investigasi/merencanakan
percobaan

30

Op.cit., h. 56

Menyiapkan alat dan bahan


Membuat campuran
Merangkai alat praktikum
Menggunakan alat dengan teknik

27

yang benar
Membuat tabel hasil pengamatan
4

Observasi

Mengamati

perbedaan

larutan,

suspensi, dan koloid.


Mengamati sifat-sifat koloid effek
tyndall dan koagulasi.
Menggunakan/mengumpulkan
fakta yang relevan
5

Klasifikasi

Mencatat setiap pengamatan ke


dalam tabel
Mencari perbedaan dan persamaan.
Mengontraskan sifat-sifat

Prediksi

Memperkirakan bentuk campuran


(homogen atau heterogen)
Memperikirakan
gumpalan

pada

terjadinya
susu

setelah

penambahan perasan jeruk nipis


7

Interpretasi

Komunikasi

Menggambarkan /menterjemahkan
data
Menganalisis data
Menyajikan pemahaman baru
Membuat
keismpulan
sesuai
dengan hasil pengamatan
Mempresentasikan
hasil
pengamatan
Mendiskusikan hasil percobaan
Menampaikan ide/gagasn/data
Menyimak
pendapat/gambaran
yang disampikan tiap kelompok
Menjawab/menanggapi pertanyaan.

28

E. Hakikat Ilmu Kimia


1. Pengertian Ilmu kimia
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ilmu yang mempelajari
berbagai fenomena dan hukum alam. Adapun ilmu pengetahuan alam itu
mencakup: sub bidang studi fisika, biologi, geologi, astronomi, dan salah
satunya adalah kimia.
Secara singkat, dapat dikatakan bahwa
Ilmu kimia adalah ilmu pemahaman dan rekayasa materi.
Rakayasa yaitu mengubah suatu materi menjadi materi yang
lain. Untuk dapat melakukan rekayasa tersebut, para ahli perlu
memahami ilmu kimia, yaitu mengetahui susunan, struktur,
serta sifat-sifat materi oleh karena itu, ilmu kimia dapat
didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang susunan,
struktur, sifat, perubahan materi, serta energi yang menyertai
perubahan tersebut.31
Dalam pengertian yang lain dikatakan bahwa kimia merupakan
experimental science, yaitu ilmu yang berbasiskan percobaan. Semua
teori dan hukum-hukum kimia didasarkan pada data percobaan dan
pengamatan.32
Pendek kata, dewasa ini kehidupan kita sehari-hari semakin
dibanjiri oleh bahan kimia, yang sering kali pula menghasilkan reaksireaksi kimia. Jadi, sekarang ini bukan hanya orang yang bekerja di
laboratorium kimia saja yang setiap saat selalu dihadapkan pada bahan
kimia, contohnya adalah garam dapur, yang kandungannya tidak seratus
persen murni dari air laut, melainkan ada zat kimia yang terkandung
dalam garam tersebut.
2. Manfaat mempelajari Ilmu kimia
Mungkin ada yang bertanya tentang apa manfaat mempelajari ilmu
kimia. Manfaat yang segera kita dapat ketika mempelajari ilmu kimia
adalah pemahaman yang lebih baik terhadap alam sekitar dan berbagai
31

Michael Purba. Kimia SMU Kelas X, (Jakarta: Erlangga, 2006), h. 3.


Nana Sutresna, Kimia untuk SMA kelas X, (Bandung: Grafindo Media Pratama, 2006),
cet. II, h. 1.
32

29

proses yang berlangsung di dalamnya, sehingga kita dapat mengontrol


perubahan ini demi keuntungan bagi kehidupan manusia dan
lingkungan.33 Manfaat lain dari belajar kimia adalah masalah
pembentukan sikap. Dengan mempelajari ilmu kimia atau ilmu
pengetahuan pada umumnya, kita senantiasa berhadapan dengan masalah
dan berusaha memecahkannya secara sistematis. Seringkali masalah
dalam ilmu kimia terlihat rumit dan kompleks, sehingga ada kesan
bahwa ilmu kimia adalah ilmu yang sukar.34 Sebenarnya kerumitan itu
akan menjadi suatu keuntungan jika disikapi dengan benar apablia kita
menjadi terbiasa menghadapi masalah, kemudian memecahkannya
secara logis dan terencana, maka kebiasaan itu akan membantu kita
dalam menghadapi persoalan hidup sehari-hari. Diatas segalanya itu,
ilmu kimia akan menunjukkan kepada anda betapa teraturnya alam ini,
baik alam makro maupun mikro. Kiranya semua itu akan menambah
kekaguman kita kepada Sang pencipta
Adapun berikut ini akan diuraikan manfaat ilmu kimia secara garis
besarnya, yaitu:
a. Dengan belajar ilmu kimia, pola pikir ilmiah dapat terbentuk.
Artinya, jika kita terbiasa memecahkan masalah-masalah yang
timbul dalam ilmu kimia, diharapkan pola pikir ilmiah ini
terkristalisasi

dalam

kehidupan

sehari-hari,

sehingga

dapat

diterapkan dalam banyak hal.


b. Dengan belajar ilmu kimia, kita dapat mengerti bahan-bahan kimia
yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya susu, vitamin,
shampo, detergen, sabun, racun, anti nyamuk, kabel listrik, dan lainlain.
c. Lebih memudahkan siswa yang ingin melanjutkan studinya ke
perguruan tinggi jurusan kedokteran, biologi, pertanian, teknik
lingkungan, teknik kimia, dan lain-lain.
33
34

op.cit., h. 5.
op.cit., h. 6.

30

3. Konsep sistem koloid


a. Pengertian sistem koloid
Koloid berasal dari kata kolia yang dalam bahasa yunani
berarti lem. Istiah koloid perama kali diperkenalkan oleh Thomas
Graham (1861) berdasarkan pengamatannya terhadap gelatin yang
merupakan kistal tetapi sukar mengalami difusi. Padahal umumnya
kristal mudah mengalami difusi.35 Oleh karena itu, zat semacam
gelatin ini kemudian disebut dengan koloid. Koloid atau disebut
juga dispersi koloid atau sistem koloid sebenarnya merupakan sistem
dispersi dengan ukuran partikel yang lebih besar dari larutan tetapi
lebih kecil daripada suspensi.
Sistem koloid adalah campuran homogen antara fasa
terdispersi dan fasa pendispersi. Campuran ini homogen, artinya
campuran dua zat menyatu dan sulit dibedakan. Hanya saja fasa
terdispersinya bukan dalam bentuk molekuler (bukan setiap molekul
tersebar), tetapi gabungan dari beberapa molekul. Jika kita ambil
contoh yang umum, zat terdispersi padatan dalam fasa pendispersi air
maka sistem koloid merupakan dispersi padatan (gabungan dari
banyak molekul) yang tersebar dalam medium pendispersi. Akan
tetapi, partikel padatan yang terdispersi ini kecil sehingga tidak bisa
dibedakan mana fasa terdispersi dan mana fasa pendispersi.36
b. Macam-macam koloid37
1) Sol: sistem koloid fase padat-cair disebut sol. Sol terbentuk dari
fase terdispersi berupa zat padat dan fase pendispersi berupa
cairan. Contoh: agar-agar, pektin, gelatin, cairan kanji.

35

Unggul Sudarmo, kimia SMA kelas XI, Seri Made Simple (SMS), (Jakarta: Penerbit
Erlangga, 2004), h. 193.
36
Nana Sutresna dkk, Panduan Menguasai Kimia 2, (Bandung: penerbit Ganeca, 2000),
cet. I, h. 110
37
Nana Sutresna, Cerdas Belajar Kimia untuk kelas XI, (Bandung: Gravindo Media
Pratama, 2006), cet. I, h. 294-298.

31

2) Sol padat: sistem koloid fase padat-padat terbentuk dari fase


terdispersi dan fase pendispersi yang sama-sama berwujud zat
padat. Contoh: logam campuran (aloi), misalnya stainless steel.
3) Aerosol padat: terbentuk dari fase terdispersi berupa padat dan
fase pendispersi berupa gas. Contoh: asap dari pembakaran
sampah atau dari kendaraan bermotor.
4) Aerosol: terbentuk dari fase terdispersi berupa zat cair dan fase
pendispersi berupa gas. Contoh: hairspray, obat nyamuk
semprot, parfum, cat semprot.
5) Emulsi: terbentuk dari fase terdispersi berupa zat cair dan
medium pendispersi yang juga berupa cairan. Contoh: krim
(emulsi yang berbentuk pasta), dan lotion (emulsi yang berbentuk
cairan kental atau krim yang encer).
6) Emulsi padat: terbentuk dari fase terdispersi berupa zat cair dan
medium pendispersi berupa zat padat. Contoh: keju, mentega,
dan mutiara.
7) Busa: terbentuk dari fase terdispersi berupa gas dan medium
pendispersi berupa zat cair. Contoh: sabun, deterjen, protein, dan
tanin.
8) Busa padat: terbentuk dari fase terdispersi berupa gas dan
medium pendispersi berupa zat padat. Contoh: karet busa, batu
apung.
c. Sifat-sifat koloid
1) Gerak Brown
Gerak Brown adalah gerak acak, gerak tidak beraturan dari
partikel koloid.
2) Effek Tyndall
Effek Tyndall adalah efek penghamburan cahaya oleh partikel
koloid.

32

3) Adsorbsi
Partikel koloid mempu menyerap molekul netral atau ionion pada permukaannya. Jika partikel koloid menyerap ion
bermuatan,

kemudian

ion-ion

tersebut

menempel

pada

permukaannya, partikel koloid tersebut menjadi bermuatan.


Contoh:
a) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya
menyerap ion H+.
b) Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya
menyerap ion S2-.
4) Koagulasi
Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid yang
terjadi karena kerusakan stabilitas sistem koloid atau karena
penggabungan partikel koloid yang berbeda muatan sehingga
membentuk partikel yang lebih besar. Koagulasi dapat terjadi
karena

pengaruh

pemanasan,

pendinginan,

penambahan

elektrolit, pembusukan, pencampuran koloid yang berbeda


muatan, atau karena elektroforesis.
5) Koloid Liofil dan Koloid Liofob
Koloid ini terjadi pada sol yaitu fase terdispersinya padatan
dan medium pendispersinya cairan.
a) Koloid liofil:
sistem koloid yang afinitas fase terdispersinya besar
terhadap medium pendispersinya.
Contoh: sol kanji, agar-agar, lem, cat
b)

Koloid liofob:
System koloid yang afinitas fase terdispersinya kecil
terhadap medium pendispersinya.
Contoh: sol belerang, sol emas.

33

6) Koloid Pelindung
Koloid pelindung adalah suatu sistem koloid yang
ditambahkan pada sistem koloid lainnya agar diperoleh koloid
yang stabil. Contoh koloid pelindung adalah gelatin yang
merupakan koloid padatan dalam medium air.
7) Dialisis
Dialisis adalah proses penyaringan partikel koloid dari ionion yang teradsorpsi sehingga ion-ion tersebut dapat dihilangkan
dan zat terdispersi terbebas dari ion-ion yang tidak diinginkan.38

38

ibid., h. 299-307.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di SMA PGRI 3 Jakarta.
2. Waktu Penelitian
Sesuai dengan masalah yang diambil yaitu materi sistem koloid yang
dipelajari di semester genap, maka penelitian ini dilakukan pada tanggal 418 Mei 2010.
B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode
deskriptif, dalam Subana dijelaskan bahwa Penelitian Deskriptif menuturkan
dan menafsirkan data yang berkenaan dengan fakta, keadaan, variabel, dan
fenomena yang terjadi pada saat penelitian berlangsung dan menyajikannya
apa adanya.1 Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan
utama yakni menggambarkan secara sistematik fakta dan karakteristik objek
atau subjek yang diteliti secara tepat, dalam penelitian ini aspek yang akan di
teliti adalah keterampilan proses sains siswa.
C. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI jurusan IPA
di SMA PGRI 3 Jakarta yang terdistribusi ke dalam satu kelas dengan jumlah
siswa sebanyak 21 orang yang terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 14 siswa
perempuan. Siswa kelas XI jurusan IPA dianggap sesuai dijadikan sampel
dalam penelitian ini karena kelas XI jurusan IPA pada semester genap
mempelajari mata pelajaran kimia pokok bahasan sistem koloid dimana pokok
bahasan tersebut dijadikan oleh peneliti sebagai materi penunjang penelitian.
Siswa dalam penelitian ini dibagi menjadi lima kelompok, dimana tiap-tiap
kelompok terdapat siswa laki-laki dan perempuan, siswa dari kategori tinggi,
1

M. Subana, dkk, Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah, (Bandung: Pustaka Setia, 2005), cet.

II, h. 89.

34

35

sedang, dan rendah. Penempatan kategori tinggi, sedang, dan rendah


ditentukan berdasarkan nilai rata-rata siswa pada mata pelajaran kimia.
Pengelompokkan ini dilakukan agar tiap kelompok memiliki kemampuan
yang relatif homogen dalam hal praktikum dan diskusi.
D. Instrumen Penelitian
1. Lembar Observasi
Pengamatan atau observasi (observation) adalah suatu teknik yang
dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta
pencatatan secara sistematis.2 Observasi yang dilakukan di sini adalah
observasi langsung, yang mengumpulkan data berdasarkan pengamatan
yang menggunakan mata atau telinga secara langsung. Dengan demikian
melalui observasi dapat terlihat kemunculan keterampilan proses sains
yang diamati dengan menggunakan panca indera secara langsung.
Instrumen yang digunakan untuk menyaring data aspek keterampilan
proses sains secara tertulis berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan
adalah

lembar

observasi.

Untuk

mengetahui

urutan

kemunculan

keterampilan proses dan frekuensi, dalam Subana yang mengutip


Ruseffendi bahwa khusus untuk observasi terhadap interaksi belajarmengajar di kelas dikembangkan beberapa instrument yang disebut VICS,
Bias, dan Flanders.3 Format observasi yang dikembangkan menggunakan
format yang dikembangkan oleh Flinders, namun dalam penelitian ini
dimodifikasi sesuai dengan keperluan penelitian. Format dalam penelitian
ini menggunakan 3 kategori yaitu muncul sesuai, muncul tidak sesuai, dan
tidak muncul. Lembar observasi digunakan untuk menjaring aspek
keterampilan proses sains secara tertulis berdasarkan kriteria-kriteria yang
ada. Aspek keterampilan proses yang diamati pada penelitian ini tiap
pertemuan berbeda, hal tersebut dilakukan karena disesuaikan dengan
tujuan pembelajaran yang akan di lakukan.
Observasi mulai dilakukan pada pertemuan pertama, pada
pertemuan pertama persiapan untuk melakukan kegiatan praktikum,
2

Suharismi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005),


cet. V, h. 30.
3
op.cit., h.143.

36

dimana siswa mulai melakukan pembelajaran berbasis inkuiri yaitu siswa


diberi LKS yang berisi tujuan, alat dan bahan saja, sedangkan prosedur
penelitiannya siswa sendiri yang menentukannya. Oleh sebab itu pada
bagian ini siswa melakukan diskusi kelompok untuk menentukan prosedur
penelitian, aspek keterampilan proses sains yang di amati observer pada
bagian ini adalah aspek bertanya dan aspek hipotesis.
Pada pertemuan ke dua siswa melanjutkan kegiatan diskusi
kelompok membuat rancangan langkah kerja praktikum koloid pada
Lembar Kerja Siswa (LKS) yang telah disediakan. Pada pertemuan ke dua
tidak ada pengamatan observasi.
Pada pertemuan ke tiga pelaksanaan praktikum, aspek keterampilan
proses sains yang diamati yaitu, aspek investigasi, aspek observasi, aspek
klasifikasi dan aspek prediksi. Pada bagian ini siswa ditugaskan untuk
melakukan kegiatan praktikum dengan menggunakan alat, bahan, dan
tujuan yang telah disediakan dalam LKS dengan pedoman prosedur yang
telah dibuat dan didiskusikan bersama kelompoknya masing-masing.
Pada pertemuan ke empat membahas hasil praktikum. Aspek
keterampilan proses yang diamati adalah aspek interpretasi dan
komunikasi, karena pada kegiatan ini pembelajaran dilakukan dengan cara
diskusi kelompok yang membahas tentang hasil yang di dapat dalam
praktikum.
Dalam penelitian ini keterampilan proses, pencuplikan data melalui
lembar observasi melibatkan empat orang observer yang mengobservasi
terhadap lima kelompok. Setiap kelompok diobservasi oleh satu orang
observer yang sebelumnya telah mendapatkan penjelasan tentang
pelaksanaan ebservasi dari peneliti. Satu orang observer mengobservasi
dua kelompok. Penjelasan yang diberikan berupa penjelasan penggunaan
lembar observasi pada saat mengamati kegiatan praktikum serta pemberian
kisi-kisi tiap poin pengamatan pada lembar observasi. Dengan langkah
tersebut diharapkan persepsi setiap observer terhadap fenomena yang
muncul pada saat pembelajaran menjadi sama.

37

2. Wawancara
Menurut Suharismi Arikunto wawancara atau interviu (interview)
adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan
jawaban dari responden dengan jalan tanya-jawab sepihak dikatakan
sepihak karena dalam wawancara ini responden tidak diberi kesempatan
sama sekali untuk mengajukan pertanyaan.4 Dengan demikian wawancara
merupakan cara menghimpun bahan-bahan keterangan, yang diaksanakan
dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka,
dengan arah serta tujuan yang telah ditetapkan.
Wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan Tanya jawab
langsung kepada perwakilan siswa di tiap-tiap kelompok. Wawancara
tersebut digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran
berbasis inkuiri.
E. Teknik Pengumpulan Data
Agar semua dapat diperoleh dengan baik dan lengkap, ada beberapa
tahapan yang perlu dilakukan. Tahapan pengumpulan data tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan
Adapun langkah-langkah dalam tahap persiapan adalah sebagai
berikut:
a. Menganalisis Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada standar
isi mata pelajaran Kimia SMA kelas XI sesuai dengan Kurikulum
Tingkat Satuan Pedidikan (KTSP) yang digunakan sekarang, serta
menganalsis materi pada buku teks atau paket untuk menentukan
pokok bahasan yang pembelajarannya dapat menggunakan metode
diskusi dan praktikum dengan menggunakan pembelajaran berbasis
inkuiri. Pada penelitian ini pokok bahasan yang dipilih adalah sistem
koloid.
b. Membuat silabus, dan Rencana Pelaksanaan pembelajaran (RPP).
c. Membuat instrumen penelitian sebagai alat pengumpulan data.

op.cit., h. 30.

38

d. Menguji Validasi instrument penelitian oleh para ahli, kemudian


diperbaiki sesuai dengan sasaran para ahli. Apabila instrument tersebut
telah disetujui oleh para ahli, maka instrument tersebut akan langsung
digunakan untuk penelitian.
e. Memperbanyak instrument untuk digunakan dalam penelitian.
2. Tahap Pelaksanaan
Penelitian berlangsung selama 5 pertemuan. Adapun uraian
kegiatan pada setiap pertemuan adalah sebagai berikut:
a. Pertemuan pertama
Pembagian kelompok, siswa dibagi ke dalam lima kelompok,
setiap kelompok terdapat siswa laki-laki dan siswa perempuan, siswa
dari kategori tinggi, sedang dan rendah. Guru memberikan LKS
kepada setiap kelompok siswa untuk kemudian dipelajari dan
didiskusikan bersama anggota kelompoknya. Siswa ditugaskan untuk
merumuskan prosedur/langkah kerja praktikum serta dasar teori sistem
koloid sebagaimana belum tersedia pada LKS, LKS yang telah
dilengkapi akan dijadikan pedoman siswa untuk melakukan kegiatan
praktikum pada pertemuan selanjutnya.
Pada pertemuan pertama mulai dilakukan observasi terhadap
keterampilan proses proses sains siswa selama melakukan kegiatan
diskusi, setiap kelompok didampingi satu observer, yang bertugas
untuk mencatat kemunculan keterampilan proses sains siswa pada saat
diskusi. Sebelum pertemuan pertama dimulai, para observer sudah
memiliki lembar observasi dan sudah mengetahui siswa yang akan
diobservasi. Para observer diberikan pengarahan tentang cara penilaian
pada lembar observasi sebelum pertemuan pertama.
b. Pertemuan kedua
Pada pertemuan kedua siswa melanjutkan kegiatan diskusi
kelompok membuat rancangan langkah kerja praktikum koloid pada
Lembar Kerja Siswa (LKS) yang telah disediakan. Pada pertemuan ke
dua tidak ada pengamatan observasi.

39

c. Pertemuan ketiga
Pada pertemuan ketiga dilakukan kegiatan praktikum mengenai
mengklasifikasikan

suspensi

berdasarkan

hasil

data

kasar

pengamatan

larutan

sejati

(effek

dan

tyndall,

koloid

kogulasi,

homogen/heterogen, dan penyaringan). Pada pertemuan kedua ini


dilakukan pula observasi terhadap keterampilan proses sains siswa
selama melakukan praktikum, setiap kelompok didampingi satu
observer.
d. Pertemuan keempat
Pada pertemuan keempat siswa melakukan kegiatan diskusi
dan presentasi mengenai hasil praktikum yang telah mereka lakukan
pada pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan ini dilakukan pula
observasi terhadap keterampilan proses sains siswa selama melakukan
diskusi, setiap kelompok didampingi satu observer.
e. Pertemuan kelima
Pada pertemuan kelima dilakukan wawancara terhadap
perwakilan kelompok siswa pada masing-masing kelompok.
3. Tahap Pengolahan Data
Langkah-langkah dalam tahap pengolahan data adalah:
a. Pengolahan data lembar observasi
b. Pengolahan data hasil wawancara
F. Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan Studi
Agar diperoleh data yang valid dan reliabel, instrumen lembar
observasi dikonsultasikan kepada dosen pembimbing untuk mengetahui
validitasnya dan proses pembelajaran direkam untuk menjaga reliabilitasnya.
1. Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan suatu instrumen.5 Suatu instrumen dikatakan valid apabila
mampu mengukur apa yang diinginkan. Untuk mengetahui ketepatan
instrumen lembar observasi untuk mengukur keterampilan proses sains
5

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 168.

40

dilakukan validasi isi oleh dosen pembimbing. Validasi ini dilakukan


dengan cara menentukan tujuan mengadakan pengamatan, mengadakan
pembatasan terhadap bagian yang akan diamati, merumuskan indikator
dari tiap bagian yang akan diamati, dan menderetkan semua indikator
dalam tabel persiapan yang juga memuat aspek tingkah laku yang
terkandung dalam indikator.

2.

Reliabilitas
Reliabilitas bermakna keterpercayaan, keterandalan, keajegan,
atau konsistensi dan dapat diartikan sejauh mana hasil suatu pengukuran
dapat dipercaya dan konsisten.6 Reliabilitas menunjukkan bahwa suatu
instrumen dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data
karena instrumen tersebut sudah baik.7 Untuk menjaga reliabilitas dari
instrumen lembar observasi, maka sebelum melakukan pengamatan yang
sesungguhnya,

observer

perlu

dilatih

terlebih

dahulu

untuk

menyingkirkan atau menekan sampai sesedikit mungkin unsur


objektivitas observer. Alternatif lain yang digunakan dalam mencari
reliabilitas instrumen observasi yaitu dengan dokumentasi video.

6
7

op.cit., h. 105.
op.cit., h. 178.

41

ALUR PENELITIAN

Analisis Standar Isi Mata Pelajaran Kimia SMA

Analisis Materi Pelajaran

P
E
R
S
I
A
P
A
N

Membuat Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Membuat Instrumen Penelitian

Validitas Instrumen
YA

P
E
L
A
K
S
A
N
A
A
N

Memperbanyak Instrumen

Diskusi

Praktikum

Observasi

Diskusi

Penentuan Siswa yang Akan


Diwawancarai
P
E
N
G
O
L
A
H
A
N
D
A
T
A

wawancara

Temuan Penelitian

Analisis dan
Pembahasan
Kesimpulan dan
saran

42

F. Teknik Analisis Data


Setelah data terkumpul, analisis yang dilakukan adalah deskriptif
kualitatif, dalam Suharismi Arikunto dijelaskan bahwa
Analisis deskriptif kualitatif adalah memberikan predikat kepada
variabel yang diteliti sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
Predikat yang diberikan tersebut dalam bentuk peringkat yang
sebanding dengan atau atas dasar kondisi yang diinginkan agar
pemberian predikat dapat tepat maka sebelum dilakukan pemberian
predikat, dilakukan kondisi tersebut diukur dengan persentase, baru
kemudian ditransfer ke predikat.8
1. Lembar Observasi
Data yang diperoleh dari format lembar observasi kemudian
dianalisis lebih lanjut dengan cara:
a. Memberi di bagian mana tanda ceklis () di bubuhkan, dalam Slameto
dijelaskan bahwa Chek-list atau daftar cek adalah salah satu
alat/pedoman

observasi

yang

berupa

daftar

kemungkinan-

kemungkinan aspek tingah laku seseorang yang sengaja dibuat untuk


memudahkan mengenai ada tidaknya aspek-aspek tingkah laku tertentu
pada seseorang yang akan dinilai.9 Tanda ceklis tersebut dimasukkan
kedalam lembar observasi sesuai dengan kriteria yang ada pada setiap
aspek keterampilan proses sains siswa yang muncul selama
berlangsungnya rangkaian kegiatan pembelajaran inkuiri.
b. Perhitungan Skala Pengukuran10

Skala

Keterangan

Muncul sesuai

Muncul tidak sesuai

Tidak muncul

Jumlah skor kriterium (bila setiap butir mendapat skor tertinggi) = 3 x 1 x 21


= 63. Untuk ini skor tertinggi tiap butir 3, jumlah butir 1, dan jumlah
8

Suharismi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005), cet. Ke7, h. 269.
9
Slameto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bina Aksara, 1988), cet.I, h. 96.
10
op.cit., h. 108 110.

43

responden 21. Sedangkan bila setiap butir mendapat skor terendah = 1 x 1 x


21 = 21. Sehingga secara kontinum dapat dibuat kategori sebagai berikut:
21

42

Tidak muncul

35

63

muncul tidak sesuai

49

muncul sesuai

Jika dibuat persentasenya menjadi:

77,9%

c. Menginterpretasi secara deskriptif data persentase tiap-tiap aspek


keterampilan proses sains siswa yang muncul selama berlangsungnya
rangkaian kegiatan pembelajaran inkuiri.
2. Format Wawancara
Data yang diperoleh dari hasil wawancara dibuat dalam bentuk
tabel untuk kemudian diterjemahkan secara deskriptif.
Tabel 3.2 Format Wawancara
Variabel

Kisi-kisi Pertanyaan

Respon siswa

Apakah kamu senang belajar kimia disertai dengan kegiatan

terhadap

praktikum? Jelaskan pendapatmu!

pembelajaran

Bagaimana kesanmu setelah mengikuti proses pembelajaran

dengan

kimia dengan pendekatan seperti ini (inkuiri) ?

pendekatan

Apakah pembelajaran ini menarik menurutmu? Jelaskan

inkuiri

pendapatmu!
Kegiatan apa saja kamu lakukan selama kegiatan praktikum
berlangsung?
Apakah kamu menemukan kesulitan selama praktikum

44

berlangsung? Jika ya kesulitan apa yang kamu hadapi, jika


tidak apa alasanmu!
Menurutmu, apakah pembelajaran seperti ini efektif untuk
dilakukan? Berikan alasanmu!
Apakah melalui pembelajaran ini (inkuiri) kalian mampu
berhipotesis? Apakah kalian berantusias untuk menguji
hipotesis kalian?
Apakah kamu terlatih bekerja ilmiah melalui praktikum yang
telah dilakukan. Berikan alasanmu!
Keterampilan

Keterampilan apa saja yang dapat kamu kembangkan melalui

proses sains yang

pembelajaran seperti ini? Jelaskan pendapatmu!

muncul

Dengan pembelajaran seperti ini, apakah kamu termotivasi


untuk membuat pertanyaan dan meningkatkan kreativitas
kamu? Berikan alasanmu!

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan temuan yang diperoleh dari penelitian beserta
pembahasannya.
A. Hasil Penelitian
Temuan yang diperoleh selama lima kali pertemuan berupa data hasil
observasi masing-masing aspek keterampilan proses sains siswa yang
dilakukan selama 4 kali pertemuan, dan wawancara 1 kali pertemuan, maka
diperoleh hasil sebagaimana yang peneliti jabarkan dalam bentuk tabel-tabel
frekuensi dan presentase sebagai berikut:
1. Data Hasil Obeservasi Keterampilan Proses Sains
Aspek-aspek keterampilan proses sains yang dinilai selama 4 kali
pertemuan ini diantaranya aspek bertanya, hipotesis, investigasi, observasi,
klasifkasi,

prediksi,

interpretasi,

dan

komunikasi.

Hasil

temuan

keterampilan proses sains siswa disajikan dalam bentuk tabel di bawah ini:

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Aspek Keterampilan Proses Sains


Aspek
No

keterampil

Sub aspek yang

an proses

diamati

a. Bertanya untuk
meminta penjelasan.
Bertanya

e (%) sub
aspek

sains

Persentas

Persentas
e (%)

Kategor

rata-rata

aspek

79,36
Muncul

b. Mengajukan

77,4

pertanyaan yang

sesuai

75,4

berlatar belakang

tidak

hipotesis
2

Hipotesis

a. Membuat

85,7

hipotesis/dugaan

45

72,5

Muncul
tidak

46

sederhana dengan

sesuai

bahasa sendiri
b. Mengetahui bahwa
ada lebih dari 1
kemungkinan

74,6

penjelasan dari 1
kejadian
c. Menyadari bahwa
suatu penjelasan
perlu di uji
kebenarannya

57,1

dengan memperoleh
bukti
a. Menyiapkan alat dan
bahan
b.Membuat campuran
c. Merangkai alat
3

Investigasi

praktikum

95,2
95,2
90,5
89,8

d.Menggunakan alat
dengan teknik yang

Muncul
sesuai

95,2

benar
e. Membuat tabel hasil
pengamatan

73

a. Mengamati
perbedaan larutan,

95,2

suspensi, dan koloid.


4

Observasi

b.Mengamati sifat-sifat
koloid effek tyndall

86,2
87,3

dan koagulasi.
c. Menggunakan/meng

76,2

Muncul
sesuai

47

umpulkan fakta yang


relevan
a. Mencatat setiap
pengamatan ke

76,2

dalam tabel
5

Klasifikasi

b.Mencari perbedaan
dan persamaan.
c. Mengontraskan sifatsifat

87,3

79,9

Muncul
sesuai

76,2

a. Memperkirakan
bentuk campuran
(homogen atau

90,5

heterogen)
6

Prediksi

88,1

b.Memperikirakan
terjadinya gumpalan
pada susu setelah

Muncul
sesuai

85,7

penambahan perasan
jeruk nipis
a. Menggambar/menterj
emahkan data
b.Menganalisis data
c. Menyajikan
7

Interpretasi

pemahaman baru

93,7
98,4
47,6

82,6

Muncul
sesuai

d.Membuat
kesimpulan sesuai
dengan hasil

90,5

pengamatan
a. Mendiskusikan
8

Komunikasi

hasil percobaan
b. Mempresentasikan

88,9
100

88,2

Muncul
sesuai

48

hasil pengamatan
c. Menyimak
pendapat/gambaran
yang disampikan

85,7

tiap kelompok
d. Menjawab/menang
gapi pertanyaan
e. Mempresentasikan
hasil pengamatan

92

74,6

Persentase (%) rata-rata keterampilan proses sains

83,1

Muncul
sesuai

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa aspek bertanya muncul


tidak sesuai dengan persentase sebesar 77,4%, aspek hipotesis muncul
tidak sesuai dengan persentase sebesar 72,5%, aspek investigasi muncul
sesuai dengan persentase sebesar 89,8,3%, aspek observasi muncul sesuai
dengan persentase sebesar 86,2%, aspek klasifikasi muncul sesuai dengan
persentase sebesar 79,9%, aspek prediksi muncul sesuai dengan persentase
sebesar 88,1%, aspek interpretasi muncul tidak sesuai dengan persentase
sebesar 82,6%, dan aspek komunikasi muncul sesuai dengan persentase
sebesar 88,2%, rata-rata aspek keterampilan proses sebesar 83,1%. Nilai
rata-rata yang ditunjukkan dapat menunjukkan bahwa seluruh aspek
keterampilan proses yang muncul melalui pembelajaran berbasis inkuiri
muncul sesuai.
2. Hasil Wawancara
Dalam penelitian ini

selain menggunakan

data observasi

keterampilan proses sains siswa, data yang dapat memperkuat hasil


penelitian adalah data wawancara. Adapun hasil temuan wawancara
disajikan dalam bentuk tabel di bawah ini:

49

Tabel 4.2 Respon siswa terhadap pembelajaran kimia dengan pendekatan inkuiri
No
1

Pertanyaan

Kesimpulan jawaban siswa

Apakah kamu senang belajar

Senang, karena belajar kimia dengan

kimia disertai dengan kegiatan

kegiatan praktikum tidak membosankan

praktikum? Jelaskan pendapatmu!

dan kami bisa mendapatkan


pengalaman baru, serta dapat
membuktikan suatu materi melalui
percobaan.

Bagaimana kesanmu setelah

Mengasyikkan, karena pembelajaran

mengikuti proses pembelajaran

seperti ini membuat kita lebih berani

kimia dengan pendekatan seperti

dalam mengungkapkan pendapat, dapat

ini (inkuiri)?

belajar mandiri, sehingga pelajaran


lebih mudah kita fahami. Tapi karena
kami belum terbiasa jadi masih sering
mengandalkan guru, dan kadang sulit
dimengerti.

Apakah pembelajaran ini menarik

Menarik, karena pembelajarannya lebih

menurutmu? Jelaskan

menekankan kepada penerapan,

pendapatmu!

sehingga kita dapat memecahkan


masalah secara langsung, selain itu bisa
berdiskusi dengan teman kelompok.
Dengan diskusi kelompok membuat
kami berani mengungkapkan pendapat,
dan bertanya.

Kegiatan apa saja kamu lakukan

Kami masing-masing membagi tugas,

selama kegiatan praktikum

ada yang mengamati, mencatat,

berlangsung?

membuat campuran, dan lain


sebagainya.

Apakah kamu menemukan

Ya, karena pembelajaran seperti ini

kesulitan selama praktikum

baru buat kami. Kami terbiasa

50

berlangsung? Jika ya kesulitan

dibimbing sepenuhnya oleh guru. Tapi

apa yang kamu hadapi, jika

kami senang, karena dalam kelompok

tidak apa alasanmu!

satu sama lain saling membantu.

Menurutmu, apakah pembelajaran

Ya, karena dengan adanya kelompok

seperti ini efektif untuk

belajar dan praktik kita dapat

dilakukan? Berikan alasanmu!

menguasai dengan cepat dari apa yang


sudah kita pelajari dan mendapat
masukan-masukan dari kelompok lain
untuk mengoreksi kekurangan
kelompok kami, selain itu kami dapat
mengembangkan pemikiran kami
sendiri dan masalah yang kami hadapi.

Keterampilan apa saja yang dapat

Keterampilan dalam bertanya, berfikir,

kamu kembangkan melalui

berpendapat, menggunakan alat, serta

pembelajaran seperti ini? Jelaskan

keterampilan memecahkan masalah.

pendapatmu!

Karena dalam pembelajaran ini kita


dituntut untuk belajar mandiri.

Apakah melalui pembelajaran ini

Sulit, karena kami belum terbiasa

(inkuiri) kalian mampu

belajar dengan pembelajaran inkuiri.

berhipotesis? Apakah kalian

Kami biasa mengandalkan guru, belum

berantusias untuk menguji

terbiasa untuk belajar mandiri. Selain

hipotesis kalian?

itu kami tidak memiliki pengetahuan


sebelumnya tentang koloid, hanya
sebagian teman-teman yang sudah
mempelajari sebelumnya.
Kami merasa teori yang diberikan
sudah benar dan sesuai dengan apa
yang ada di dalam buku, jadi kami
merasa tidak perlu membuktikannya
dalam percobaan

51

Apakah kamu terlatih bekerja

Ya

terlatih,

ilmiah melalui praktikum yang

mengatahui hal-hal menarik yang baru

telah dilakukan. Berikan

kita

alasanmu!

pengalaman pembelajaran ini. Selain itu

ketahui

dalam

karena

dari

kita

dapat

praktikum

praktikum

dari

sudah

ada

pedomannya dalam LKS, jadi kami


tinggal

mengikuti

saja

apa

yang

terdapat dalam LKS.


10

Dengan pembelajaran seperti ini,

Ya, karena pembelajaran seperti ini

apakah kamu termotivasi untuk

memberi rasa ingin tahu, terpacu dan

membuat pertanyaan dan

menimbulkan banyak pertanyaan.

meningkatkan kreativitas kamu?

Sehingga kita semakin termotivasi

Berikan alasanmu!

dalam meningkatkan kreativitas kami.


Tetapi kami kurang bisa menanggapi
pertanyaan, buat kami cukup kelompok
yang presentasi yang menjawab atau
menanggapi pertanyaan.

B. Pembahasan
1.Katerampilan Proses Sains
Telah kita ketahui bahwa keterampilan proses memberi tekanan
kepada proses pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan dan
mengkomunikasikan perolehannya. Penelitian yang dilakukan selama empat
kali pertemuan ini aspek keterampilan proses yang diamati tiap pertemuan
berbeda-beda sesuai dengan aktivitas pembelajaran yang dilakukan.
Tingkat persentase munculnya aspek keterampilan proses sains siswa
selama pembelajaran melalui pendekatan inkuiri berlangsung menunjukkan
banyak variasi, ada yang muncul sesuai, dan ada yang muncul tidak sesuai,
hal tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1.
Secara keseluruhan persentase kemunculan aspek keterampilan
proses sains yang diamati disajikan dalam bentuk diagram berikut:

52

Gambar 4.1 Diagram Batang Kemunculan Aspek Keterampilan


Proses Sains Siswa Secara Keseluruhan.

Aspek yang pertama yaitu aspek bertanya. Pada aspek bertanya sub
aspek bertanya untuk meminta penjelasan memiliki nilai persentase yang
cukup tinggi dibandingkan dengan sub aspek mengajukan pertanyaan yang
berlatar belakang hipotesis. Bertanya untuk meminta penjelasan merupakan
hal yang paling mudah dilakukan oleh siswa, karena siswa dapat bertanya
apa yang mereka belum mengerti tanpa ragu, namun tidak sedikit pula siswa
yang malu bertanya. Sedangkan sub aspek mengajukan pertanyaan yang
berlatar belakang hipotesis muncul dengan persentase yang lebih rendah, sub
aspek ini muncul tidak sesuai karena untuk bertanya yang berlatar belakang
hipotesis membutuhkan pengetahuan yang dasar tentang hal yang sedang
dikaji, sehingga siswa belum mampu untuk membayangkan hal yang belum
pernah dilakukan kemudian dipertanyakan.
Pada aspek hipotesis, sub aspek membuat hipotesis/dugaan
sederhana dengan bahasa sendiri merupakan sub aspek yang muncul dengan
nilai persentase paling tinggi, artinya sub aspek ini muncul sesuai dan paling
dominan dibandingkan sub aspek lainnya pada aspek hipotesis, sedangkan

53

sub aspek menyadari bahwa suatu penjelasan perlu diuji kebenarannya


dengan memperoleh bukti muncul tidak sesuai dengan persentase paling
rendah, karena berdasarkan hasil wawancara, siswa merasa cukup
memperoleh bukti dari teori yang mereka dapatkan pada buku, sehingga
mereka tak perlu mengujinya kembali. Maka secara keseluruhan aspek
hipotesis muncul sesuai, hal ini berdasarkan hasil wawancara, siswa belum
terbiasa melakukan kegiatan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri, siswa
terbiasa menerima atau menyimak materi yang disampaikan oleh guru, serta
tidak terlibat aktif dalam kegiatan belajar.
Aspek berikutnya yaitu aspek investigasi, sub aspek yang memiliki
persentase paling tinggi adalah membuat campuran, menyiapkan alat dan
bahan, serta menggunakan alat dengan teknik yang benar. Aktivitas
membuat campuran banyak dilakukan oleh siswa karena dalam LKS siswa
ditugaskan untuk membuat campuran sebelum melakukan percobaan.
Sedangkan menyiapkan alat dan bahan merupakan bagian dari kegiatan
praktikum, dimana sebelum praktikum siswa harus menyiapkan alat dan
bahan yang akan digunakan sesuai dengan pedoman pada LKS. Begitupun
menggunakan alat dengan teknik yang benar, siswa mampu menggunakan
alat praktikum dengan teknik yang benar karena sebelumnya siswa telah
ditugaskan membuat langkah kerja lengkap dengan gambar. Alat-alat yang
digunakan cukup sederhana dan siswa mampu menggunakannnya dengan
baik. Aktivitas merangkai alat praktikum memiliki persentase dibawah
aktivitas

membuat

campuran,

menyiapkan

alat

dan

bahan,

serta

menggunakan alat dengan teknik yang benar. Karena pada aktivitas


merangkai alat praktikum, tiap kelompok mengandalkan salah satu teman
saja untuk merangkai alat praktikum, mereka telah membagi tugas kerja.
Aktivitas membuat tabel hasil pengamatan memiliki nilai persentase paling
rendah pada aspek ini, hanya sebagian siswa yang membuat tabel yang
lainnya tidak, hal tersebut menurut siswa cukup salah satu siswa dalam
kelompok yang bertugas membuat tabel hasil pengamatan. Maka aspek
investigasi/merencanakan percobaan secara keseluruhan muncul sesuai.

54

Aspek observasi. Sub aspek yang memiliki persentase paling tinggi


adalah mengamati perbedaan larutan, suspensi dan koloid. Sub aspek ini
muncul sesuai. Sedangkan sub aspek menggunakan/mengumpulkan fakta
yang relevan muncul tidak sesuai dengan persentase yang lebih rendah.
Ativitas mengamati perbedaan larutan, suspensi dan koloid banyak
dilakukan oleh siswa karena dalam LKS siswa ditugaskan untuk mencatat
perbedaan larutan, suspensi dan koloid. Dari hasil lapangan siswa
mengamati perbedaan larutan, suspensi dan koloid dengan cara disaring,
homogen atau heterogen dan pengamatan effek tyndall, aktivitas ini
dilakukan

dengan

seksama

dan

teliti.

Aktivitas

menggunakan/mengumpulkan fakta yang relevan memiliki persentase yang


lebih rendah karena siswa mengumpulkan fakta sebelum pelaksanaan
praktikum akan tetapi sedikit yang menggunakannya, siswa hanya
menggunakan LKS yang diberikan. Maka aspek observasi muncul dengan
baik, karena pada pelaksanannya siswa melakukan penelitian atau praktikum
sesuai dengan prosedur/langkah kerja yang telah mereka buat. Selain itu
siswa sangat antusias melakukan praktikum, karena kegiatan ini jarang
mereka lakukan sebelumnya.
Aspek prediksi, terdiri atas dua sub aspek yang muncul sesuai
dengan persentase yang hampir sama yaitu memperkirakan bentuk campuran
(homogen atau heterogen) dan memperkirakan terjadinya gumpalan pada
susu setelah diberi perasan jeruk nipis. Aktivitas ini banyak dilakukan siswa,
karena dari hasil lapangan untuk membedakan larutan, suspensi, dan koloid,
siswa sebelumnya memperkirakan apakah dari ketiga campuran tersebut
homogen atau heterogen, selain itu pada percobaan koagulasi siswapun
harus memperkirakan terjadinya gumpalan pada susu.
Aspek klasifikasi, sub aspek mencari perbedaan dan persamaan
muncul sesuai dengan persentase paling tinggi, karena aktivitas mencari
perbedaan dan persamaan merupakan bagian untuk mengerjakan LKS, yaitu
pada saat menulis kesimpulan dan mengerjakan evaluasi serta terdapat pada
langkah kerja yang mereka buat. Sedangkan mengontraskan sifat-sifat dan

55

mencatat setiap pengamatan ke dalam tabel memiliki persentase yang sama


dan lebih rendah dari sub aspek mencari persamaan dan perbedaan, misalnya
pada praktikum effek tyndall, siswa hanya mengamati bagaimana cahaya
lampu saat disorotkan ketiga campuran tanpa mengamati bagaimana sifatsifat effek tyndall, mengapa cahayanya dihamburkan dan sebagainya. Selain
itu siswa yang mencatat setiap pengamatan ke dalam tabel hanya sebagian
siswa saja, karena berdasarkan hasil wawancara siswa lebih mengandalkan
teman kelompoknya, karena praktikum ini dilaksanakan berkelompok,
mereka telah membagi tugas, ada yang mencatat dan sebagainya. Maka
aspek klasifikasi secara keseluruhan muncul sesuai.
Pada aspek komunikasi, sub aspek menyampaikan ide/gagasan/data,
menyimak

pendapat/gambaran

yang

disampaikan

tiap

kelompok,

memprentasikan hasil pengamatan, dan mendiskusikan rancangan langkah


kerja muncul sesuai. Keempat sub aspek ini mudah dilakukan siswa, siswa
bebas menyampaikan ide/gagasan mereka dalam kerja kelompok maupun
saat diskusi kelas, selain itu adanya aktivitas mempresentasikan hasil
pengamatan, seluruh siswa menyimak dengan baik, karena dapat menjadi
bahan masukan bagi mereka. Sedangkan sub aspek menjawab/menanggapi
pertanyaan muncul tidak sesuai, dengan persentase dibawah keempat sub
aspek lainnya. Hal ini terlihat dari hasil wawancara bahwa siswa cenderung
menerima pendapat dari siswa lainnya, dan ketika tanya jawab, lebih banyak
siswa yang presentasi yang menjawab pertanyaan-pertanyaan. Siswa lainnya
lebih banyak aktivitas menyimak. Dan sebagian siswa tidak memperhatikan
ketika temannya presentasi. Maka secara keseluruhan aspek komunikasi
muncul sesuai, hal ini karena ada interaksi antar siswa dalam kegiatan
belajar, pada pelaksanaannya siswa melakukan diskusi kelompok sebelum
maupun sesudah melakukan praktikum, diskusi dalam kelompok maupun
diskusi kelas. Dalam kegiatannya siswa menyampikan ide/gagasan/data,
mempresentasikan

hasil

pengamatan,

serta

menjawab/menanggapi

pertanyaan, sehingga siswa telah melakukan komunikasi dengan baik.

56

Aspek interpretasi memiliki persentase terendah dari aspek


komunikasi. Sub aspek menggambar/menterjemahkan data, membuat
kesimpulan sesuai dengan hasil pengamatan dan menganalisis data muncul
dengan baik, karena dalam LKS siswa ditugaskan untuk mengisi hasil
pengamatan dan membuat kesimpulan. Untuk membuat kesimpulan
tentunya siswa melakukan aktivitas sebelumnya yaitu menganalisis data dan
menterjemahkan data.
Aktivitas menyajikan pemahaman baru muncul tidak sesuai dengan
persentase jauh di bawah ketiga aspek lainnya. Kegiatan menyajikan
pemahaman baru hanya dilakukan oleh beberapa orang saja, dimana
pemahaman baru disini siswa melakukan kegiatan yang berkaitan dengan
kegiatan praktikum akan tetapi diluar LKS. Dari data hasil wawancara,
siswa cenderung mengikuti saja apa yang sudah terdapat dalam LKS.
Berdasarkan pembahasan di atas, menunjukkan bahwa selama
kegiatan pembelajaran inkuiri, setiap pertemuan menggunakan aspek yang
berbeda karena tujuan pembelajaran pada tiap pertemuan berbeda-beda
sehingga setiap aspek memiliki nilai persentase yang bervariasi.
Dengan demikian, aspek keterampilan proses sains siswa yang
diamati ada beberapa aspek yang muncul sesuai dan ada pula aspek yang
muncul tidak sesuai. Aspek keterampilan proses yang muncul sesuai adalah
aspek investigasi, aspek observasi, aspek klasifikasi, aspek prediksi,
interpretasi, dan aspek komunikasi. Sedangkan aspek yang muncul tidak
sesuai adalah aspek bertanya dan hipotesis.
Dari delapan aspek keterampilan proses sains tersebut, aspek yang
memiliki persentase tertinggi dan paling dominan adalah aspek investigasi.
Aspek investigasi muncul dengan baik dan paling dominan karena pada
kegiatan ini siswa telah diberikan pedoman LKS yang sebelumnya mereka
ditugaskan untuk membuat rancangan langkah kerja pada LKS tersebut,
sehingga siswa dengan mudah merencanakan percobaan. Selain itu
berdasarkan hasil wawancara, siswa merasa senang belajar dengan kegiatan
praktikum, menurut mereka belajar dengan kegiatan praktikum tidak

57

membosankan,

mereka

mendapat

pengalaman

baru,

serta

dapat

membuktikan suatu materi melalui suatu percobaan. Dengan demikian siswa


sangat berantusias untuk melakukan penelitian sehingga mereka sungguhsungguh untuk melakukan penelitian.
Sedangkan aspek yang muncul dengan persentase paling rendah
adalah aspek hipotesis. Aspek ini memiliki persentase paling rendah dengan
kategori muncul tidak sesuai, hal tersebut terjadi karena berdasarkan hasil
wawancara siswa belum terbiasa melakukan kegiatan pembelajaran berbasis
inkuiri, siswa terbiasa menerima atau menyimak materi yang disampaikan
oleh guru, tidak terlibat aktif dalam kegiatan belajar.
Pada diagram 4.1 jelas terlihat bahwa keterampilan proses sains yang
muncul sesuai dengan persentase tertinggi adalah aspek investigasi,
sedangkan aspek yang muncul tidak sesuai dengan persentase terendah
adalah aspek hipotesis.
Pada dasarnya setiap siswa memiliki keterampilan dasar, oleh sebab
itu untuk mencapai kriteria keterampilan proses sains yang maksimal baik
yang dasar maupun yang terpadu harus terlatih kepada siswa, hal tersebut
sebagaimana dikemukakan oleh Oemar Hamalik bahwa Pendekatan
keterampilan proses ialah pendekatan pembelajaran yang bertujuan
mengembangkan sejumlah kemampuan fisik dan mental sebagai dasar untuk
mengembangkan

kemampuan

yang lebih

tinggi

pada

diri

siswa.

Kemampuan-kemampuan fisik dan mental tersebut pada dasarnya telah


dimiliki oleh siswa meskipun masih sederhana dan perlu dirangsang agar
menunjukkan jati dirinya..1
Secara keseluruhan persentase keterampilan proses sains siswa
sebesar 83,1% dengan muncul sesuai. Maka hasil penelitian menunjukkan
bahwa pembelajaran dengan pendekatan inkuiri mampu mengungkap dan
mengembangkan keterampilan proses sains siswa.

op.cit., h. 149.

58

2.Respon siswa terhadap Pembelajaran Berbasis inkuiri


Hasil penelitian menunjukkan adanya respon yang positif terhadap
pembelajaran berbasis inkuiri. Dimana sebagian siswa merasa senang
belajar kimia dengan pendekatan inkuiri tersebut, dalam pembelajaran
inkuiri ini siswa dilibatkan secara aktif mulai dari merumuskan masalah,
mengajukan

hipotesis,

merancang

dan

menganalisis

percobaan,

mengumpulkan data, menganalisis data, membuat kesimpulan. Sehingga


kegiatan belajar yang mereka lakukan jadi lebih bermakna dan mereka jadi
lebih memahami materi pelajaran. Sebagaimana paham konstrutivisme
bahwa dalam proses pembelajaran Siswa perlu dibiasakan untuk
memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan
bergelut dengan ide-ide, yaitu siswa harus mengkonstruksi sendiri
pengetahuan dibenak mereka sendiri.2
Dalam pembelajaran inkuiri siswa diminta untuk melakukan
hipotesis, menurut siswa ini sulit dilakukan karena mereka belum terbiasa
untuk belajar mandiri. Mereka terbiasa mengandalkan guru. Selain itu
banyak siswa yang belum membaca materi koloid sebelumnya, ini terlihat
ketika mereka diminta untuk berhipotesis, munculnya hipotesis diluar yang
diharapkan. Misalnya ketika guru menampilkan gambar tiga buah campuran
diantaranya campuran air dan gula, campuran air dan susu, campuran air
dan kopi. Siswa kurang mampu menafsirkan ketiga gambar tersebut, karena
menurut mereka guru yang akan menjelaskan gambar tersebut.
Namun, siswa merasa senang dengan adanya praktikum, mereka
diminta untuk merancang percobaan. Menurut mereka dengan adanya
praktikum kegiatan belajar jadi tidak membosankan, mereka dapat menguji
langsung teori yang mereka pelajari sebelumnya. Karena praktikum
dilakukan

berkelompok,

maka

diantara

mereka

saling membantu,

bekerjasama, yang kurang faham dapat diajari oleh siswa yang lebih faham,
menurut mereka hal ini dapat mengembangkan pemikiran mereka. Selain itu
adanya kegiatan diskusi pada saat sebelum maupun sesudah praktikum
2

op.cit., h. 123

59

dalam pembelajaran inkuiri menurut siswa dapat menarik minat belajar


siswa, karena siswa merasa kegiatan pembelajaran tidak monoton.
Adanya kegiatan diskusi dapat memberikan pengaruh positif bagi
siswa, karena siswa merasa ditantang untuk selalu belajar dan berfikir lebih
keras selama merumuskan langkah kerja praktikum bersama kelompoknya.
Selain itu kegiatan diskusi juga dapat melatih siswa untuk mengembangkan
kemampuan berkomunikasi, melalui kegiatan ini siswa menjadi lebih berani
untuk bertanya, menjawab pertanyaan, mengeluarkan ide/gagasan/pendapat,
dan lainnya.
Namun demikian, pembelajaran seperti ini juga mempunyai
kekurangan, diantaranya pembelajaran seperti ini merupakan pembelajaran
yang baru bagi siswa sehingga di dalam proses pelaksanaannya siswa
merasa sedikit kaku karena belum terbiasa. Selanjutnya, dikarenakan dalam
pembelajaran ini lebih banyak berdiskusi dibandingkan dengan kegiatan
praktikum, siswa menjadi bosan dengan kegiatan diskusi, sehingga pada
saat diskusi ini dapat memberikan peluang kepada siswa yang kurang aktif
pada kegiatan diskusi untuk membicarakan topik lain di luar materi
pembelajaran.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dibahas sebelumnya, diperoleh
beberapa kesimpulan mengenai keterampilan proses sains siswa dan
respon siswa terhadap pembelajaran inkuiri pada pokok bahasan sistem
koloid, sebagai berikut:
1. Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri berpengaruh baik terhadap
keterampilan proses sains siswa, hal ini terlihat dari persentase
kemunculan keterampilan proses sains secara keseluruhan sebesar
83,1%. Dari kedelapan aspek keterampilan proses sains semua muncul
dengan nilai yang bervariasi. Pada aspek bertanya muncul tidak sesuai
dengan persentase sebesar 77,4%, aspek hipotesis muncul tidak sesuai
dengan persentase sebesar 72,5%, aspek investigasi muncul sesuai
dengan persentase sebesar 89,8%, aspek observasi muncul sesuai
dengan persentase sebesar 86,2%, aspek klasifikasi muncul sesuai
dengan persentase sebesar 79,9%, aspek prediksi muncul sesuai
dengan persentase sebesar 88,1%, aspek interpretasi muncul sesuai
dengan persentase sebesar 82,6% , aspek komunikasi muncul sesuai
dengan persentase sebesar 88,2%. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa dari kedelapan aspek keterampilan proses sains yang diamati
aspek investigasi muncul paling dominan diantara aspek lainnya.
2. Sebagian siswa senang belajar dengan pendekatan inkuiri karena dalam
pembelajaran ini banyak melibatkan siswa dalam proses belajar.
Kegiatan praktikum dapat mengembangkan keterampilan siswa dalam
menggunakan alat dan bahan yang ada di laboratorium. Sedangkan
diskusi kelompok dapat mengembangkan kemampuan siswa dalam
berkomunikasi dan hubungan sosial antar siswapun semakin
meningkat. Adapun kekurangan dari pembelajaran ini adalah seringnya
berdiskusi membuat siswa merasa bosan.

60

61

B. Saran
1. Dalam mengambangkan pembelajaran inkuiri hendaknya guru lebih
kreatif menemukan hal-hal baru dan dapat mengemasnya dengan lebih
menarik dan tidak membosankan terutama pada saat diskusi.
2. Sebaiknya guru memberikan pengalaman yang bervariasi pada siswa,
dengan demikian siswa dapat mengembangkan kreativitas dan
menambah wawasan baru pada siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharismi, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara,


2005.
Arikunto, Suharismi, Manajemen Penelitian, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005.
Arikunto, Suharismi, Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
Charin, Arthur A, dkk., Activities for Teaching Science as Inquiry, New Jersey:
Pearson Merill Prentice Hall, 2005.
Hamalik, Oemar, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2001.
Hassard, Jack dan Michael Dias, The Art of Teaching Science, (New York: Oxford
University Press, 2005.
Jones, Mark T dan Charles J. Eick, Implementing Inquiry Kit Curriculum:
Obstacles, Adaptation, and Practical Knowledge Development in Two
Middle
School
Science
Teachers,
jurnal
dari
www.interscience.wiley.com, 2006.
Mulyasa, E., Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, Bandung: 2005
Panggabean, Yusri, dkk., Strategi, Model, dan Evaluasi Pembelajaran Kurikulum
2006, (Bandung: Bina Media Informasi, 2007.
Purba, Michael. Kimia SMU Kelas X, Jakarta: Erlangga, 2006.
Roestiyah, NK., Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 1991.
Sanjaya, Wina, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis
Kompetensi, Jakarta: Kencana, 2005.
Segala Syaiful, Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan
Problematika Belajar dan Mengajar, Bandung: CV. Alvabeta.
Semiawan, Conny, dkk, Pendekatan Keterampilan Proses, Jakarta: PT. Grasindo,
1992.
Slameto, Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1988.
Sofyan, Ahmad, dkk., Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, Jakarta:
UIN Press, 2007.

62

63

Suartini, Kinkin, Urgensi Pertanyaan dalam Pembelajaran Sains dengan Metode


Discovery-inquiry, (Pendekatan Baru dalam Pembelajaran Sains dan
Matematika Dasar), Jakarta: Project Implementation Committee, 2007.
Subana, M., dkk, Dasar-dasar Penelitian Ilmiah, Bandung: Pustaka Setia, 2005.
Sudarmo, Unggul, kimia SMA kelas XI, Seri Made Simple (SMS), (Jakarta:
Penerbit Erlangga, 2004.
Sudiyono, Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2003.
Sugianto, Agus, Pembelajaran IPA MI, Surabaya: AprintA, 2009.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan
R&D, Bandung: Alfabeta 2008.
Sutresna, Nana, Cerdas Belajar Kimia untuk kelas XI, Bandung: Gravindo Media
Pratama, 2006.
Sutresna, Nana, Kimia untuk SMA kelas X, Bandung: Grafindo Media Pratama,
cet. Kedua, 2006.
Sutresna, Nana, dkk, Panduan Menguasai Kimia 2, Bandung: penerbit Ganeca,
2000.
Suwangsih, Erna, dkk, Model Pembelajaran Matematika, Bandung: UPI Press,
cet. Pertama 2006.
Unggul Sudarmo, Kimia SMA kelas XI, Seri Made Simple (SMS), Jakarta: Penerbit
Erlangga, 2005.
Wahyudin, Uyu, dkk. Evaluasi Pembelajaran Sekolah Dasar, Bandung: UPI
PRESS, 2006.
Yamin, Martinis, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, Jakarta: Gaung
Persada Press, 2004.
Zulfiani, Strategi Pembelajaran Sains, Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta,
2009.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1. Instrumen Pembelajaran


a. Silabus

SILABUS

Nama Sekolah

: SMA PGRI 3 Jakarta

Mata Pelajaran

: Kimia

Kelas/Semester

: XI/Genap

Standar Kompetensi : Menjelaskan sistem dan sifat koloid serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Alokasi Waktu

: 10 jam

Kompetensi

Materi

Kegiatan

Dasar

Pelajaran

Pembelajaran

Mengelompokkan Sistem
sifat-sifat koloid

koloid

Merancang dan

Indikator
Mengklasifikasikan

Penilaian
Jenis

Alokasi
Waktu
8 Jam

Sumber/Bahan/Alat
Sumber

melakukan

suspensi kasar,

tagihan

Buku paket kimia

dan penerapannya

percobaan untuk

larutan sejati dan

Tugas

gravindo dan

dalam kehidupan

melihat

koloid berdasarkan

kelompok

sumber lain

sehari-hari.

perbedaan

data hasil

suspensi, koloid,

pengamatan (effek

Bentuk
instrumen

Bahan/alat
LKS

dan larutan sejati

tyndall,

Lembar

Bahan/alat

melalui

homogen/heterogen,

observasi

praktikum

percobaan effek

dan penyaringan)

tyndall,

Mendeskripsikan

homogen/heterog

sifat-sifat koloid

en, dan

(effek tyndall dan

penyaringan.

koagulasi) melalui

Serta

percobaan.

mendeskripsikan
sifat-sifat effek
tyndall dan
koagulasi.
Menyimpulkan
perbedaan
koloid, suspensi
dan larutan sejati
serta sifat-sifat
effek tyndall dan
koagulasi.

b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Nama Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Alokasi Waktu

: SMA PGRI 3
: Kimia
: XI/2
: 3 jam pelajaran

Standar Kompetensi : Menjelaskan sistem dan sifat koloid serta penerapannya


dalam kehidupan sehari-hari
Kompetensi Dasar :
Mengelompokkan sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan seharihari.
Indikator
:
1. Mengklasifikasikan suspensi kasar, larutan sejati dan koloid berdasarkan data
hasil pengamatan (effek Tyndall, homogen/heterogen, dan penyaringan)
2. Mendeskripsikan sifat-sifat koloid (Efek tyndall dan koagulasi) melalui percobaan.

Materi Pembelajaran :

Koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya antara larutan dan
suspensi. Larutan memiliki sifat homogen dan stabil. Suspensi memiliki sifat
heterogen dan labil. Sedangkan koloid memiliki sifat heterogen dan stabil. Koloid
merupakan sistem heterogen, dimana suatu zat "didispersikan" ke dalam suatu
media yang homogen. Ukuran zat yang didispersikan berkisar dari satu nanometer
(nm) hingga satu mikrometer (m).
Effek Tyndall adalah efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid.
Partikel

koloid

akan

memantulkan

dan

menghamburkan

cahaya

yang

mengenainya sehingga cahaya akan terlihat lebih terang. Jika kemudian cahaya ini
ditangkap layar, cahaya pada layar tersebut tampak buram.
Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid yang terjadi karena
kerusakan stabilitas sistem koloid atau karena penggabungan partikel koloid yang
berbeda muatan sehingga membentuk partikel yang lebih besar. Koagulasi dapat
terjadi karena pengaruh pemanasan, pendinginan, penambahan elektrolit,
pembusukan,
elektroforesis.

pencampuran

koloid

yang

berbeda

muatan,

atau

karena

Pendekatan Pembelajaran : inkuiri


Skenario Pembelajaran
Pertemuan Ke-1:
No
I

Strategi Pembelajaran
Guru
Kegiatan Pendahuluan :

Siswa

Alokasi
waktu

Mengecek kehadiran siswa

Mendengarkan dan
memperhatikan guru.

5 menit

Menjelaskan tujuan
pembelajaran

Menyimak penjelasan guru


tentang tujuan pembelajaran

10 menit

Tujuan :
1. Siswa dapat
Mengklasifikasikan
suspensi kasar, larutan
sejati dan koloid
berdasarkan data hasil
pengamatan (effek
Tyndall,
homogen/heterogen,
dan penyaringan)
2. Siswa dapat
mendeskripsikan sifatsifat koloid (efek tyndall
dan koagulasi) melalui
percobaan.

Menyampaikan kegiatan
pembelajaran yang akan
dilakukan:
1. Pertemuan pertama,
siswa melakukan diskusi
kelompok untuk
membuat rancangan
langkah kerja praktikum
koloid pada Lembar
Kerja Siswa (LKS) yang
telah disediakan.
2. Pertemuan kedua
melanjutkan diskusi
kelompok membuat
rancangan langkah
kerja.
3. Pertemuan ketiga,
melakukan kegiatan
praktikum berkelompok.

4. Pertemuan keempat,
mempresentasikan hasil
praktikum.

Apersepsi: (mengajukan
pertanyaan-pertanyaan
tentang fenomena alam)
Memberikan pertanyaan
kepada siswa melalui gambar
(power point):
a. Apakah kalian pernah
ke puncak? Pernahkah
kalian memperhatikan
bagaimana cahaya sorot
lampu mobil ketika
berada di daerah
berkabut?
b. Minuman apa yang
biasa disajikan ketika
membaca koran atau
santai di pagi hari?
c. Pernahkah kalian
merebus telur?apa yang
terjadi pada telur yang
telah direbus?
d. Tahukah kalian disebut
apakah peristiwaperistiwa tersebut?
Mengapa demikian?

II

Menjawab pertanyaan guru


tentang :

15 menit

a. Sorot lampu mobil pada


daerah berkabut terlihat
lebih jelas, tetapi jalan
tidak terlihat jelas.
b. Kopi atau susu

c. Telur yang telah


direbus akan
menggumpal atau
keras.

d. Koloid. Karena pada


sorot cahaya mobil di
daerah berkabut terjadi
pembiasan cahaya yang
disebut effek tyndall,
kopi adalah suspensi,
dan susu adalah koloid.
Sedangkan telur yang
mengeras adalah
koagulasi.

Kegiatan inti
Membagi siswa ke dalam
empat kelompok berdasarkan
heterogenitas gender dan
kategori nilai tinggi, sedang,
dan rendah.

Perumusan Masalah:
Menampilkan gambar 3
buah campuran:
1) Air + kopi
2) Air + gula

Siswa berkumpul bersama


kelompok masing-masing .

10 menit

Siswa merumuskan masalah:


Dari ke tiga campuran
tersebut manakah yang

80 menit

3) Air + susu
Menampilkan gambar susu
yang diberi perasan jeruk
nipis.
Apa yang bisa kalian tafsirkan
dari gambar tersebut?
Hipotesis:
Membimbing siswa berhipotesis
dalam diskusi kelompok serta
membuat rancangan percobaan
untuk membuktikan salah satu
sifat koloid yaitu effek tyndall
dan koagulasi, serta percobaan
untuk membedakan antara
larutan sejati, koloid, dan
suspensi dengan alat dan bahan
seperti tertera dalam LKS!

termasuk larutan,
suspensi, dan koloid?
Mengapa susu yang diberi
perasan jeruk nipis
menjadi menggumpal?

Siswa melakukan hipotesis


melalui diskusi kelompok
dengan bersumber dari buku
paket:
a. Campuran :
1) Air + kopi adalah
suspensi
2) Air + gula adalah larutan
3) Air + susu adalah koloid

Cara membedakannya :
Suspensi : campuran
heterogen, dapat disaring,
warnanya keruh.
Larutan : campuran homogen,
tidak dapat disaring, warnanya
jernih.
Koloid: campuran heterogen,
tidak dapat disaring, warnanya
agak keruh.
Dibuktikan dengan percobaan:
1) Effek tyndall
2) Mengukur ukuran zat.
3) Menyaring dengan suatu
membran
semipermeabel.
b. Susu yang diberikan
perasan jeruk nipis akan
menggumpal.
c. Langkah percobaan
a) effek tyndall.

ALAT :
Gelas kimia 3 buah ukuran
100 mL
Lampu senter 1 buah

Kotak karton 30 cm2 dengan


lubang pengamatan
Spatula 1 buah
BAHAN :
Kopi
Gula
Susu
Air suling/aquades
CARA KERJA :
1. Isilah 3 buah gelas kimia
dengan 75 mL air.
2. Pada gelas 1 tambahkan 1
sendok teh kopi. Aduk hingga
rata.
3. Tempatkan gelas kimia yang
berisi campuran kopi dengan
air ke dalam kotak karton dan
senterlah larutan gula tersebut
melalui lubang karton.
4. Amati apa yang terlihat melalui
lubang pengamatan.
(Mengamati)
5. Catatlah hasil pengamatanmu.
6. Ulangi langkah 1, 2, 3, 4 dan 5
untuk campuran air dan susu,
serta campuran air dan gula.
7. Analisislah hasil
pengamatanmu.
(Menganalisis)
8. Buatlah kesimpulan dari hasil
pengamatanmu.
b) Percobaan membedakan
suspensi kasar, larutan sejati
dan koloid berdasarkan data
hasil pengamatan
homogen/heterogen, dan
penyaringan.

ALAT :
Gelas kimia 3 buah ukuran
100 mL.
Kertas saring
Spatula 1 buah
BAHAN :
Kopi
Gula

Susu
CARA KERJA :
Air suling/aquades
1. Isilah 3 buah kimia dengan
75 mL air.
2. Pada gelas 1 tambahkan 1
sendok teh kopi. Aduk
hingga rata.
3. Amati apakah campuran
tersebut larut (homogen)?
Atau terpisah (heterogen)?
Apakah terdapat endapan?
Apakah dapat disaring?
4. Catatlah hasil
pengamatanmu.
5. Ulangi langkah 1, 2, 3, dan 4
untuk campuran air dan susu,
serta campuran air dan gula.
6. Analisislah hasil
pengamatanmu.
(Menganalisis)
7. Buatlah kesimpulan dari
hasil pengamatanmu.

Meminta perwakilan tiap


kelompok
mempresentasikan hasil
diskusinya di depan kelas
melalui windows shoping.

c) Percobaan koagulasi
ALAT :
Gelas kimia 1 buah.
Tabung reaksi 1 buah.
Pipet tetes 1 buah.
Gelas ukur 1 buah.
BAHAN :
Susu
Air perasan jeruk nipis
CARA KERJA :
1. Isilah 1 buah kimia dengan
75 mL air.
2. Tambahkan 1 sendok teh
susu. Aduk hingga rata.
3. masukkan sebanyak 3 mL
campuran susu ke dalam
tabung reaksi
4. Tambahkan air perasan jeruk
nipis sebanyak 10 tetes.
5. Catatlah hasil
pengamatanmu.
6. Analisislah hasil
pengamatanmu.
(Menganalisis)
7. Buatlah kesimpulan dari

hasil pengamatanmu

Perwakilan kelompok maju


untuk mempresentasikan hasil
diskusinya, siswa lain
menyimak dan menanggapi
hasil diskusinya.
III

Kegiatan Penutup:
Mengarahkan siswa untuk
menyimpulkan materi
berdasarkan kegiatan
pembelajaran yang telah
dilakukan.

10 menit
Menyimpulkan materi
pembelajaran:
Koloid adalah campuran
heterogen yang umumnya
stabil, terdiri dari dua fase
(terdispersi dan pendispersi).
Koloid mempunyai ukuran
partikel antara 1- 100 nm,
yang tidak dapat disaring dan
warnanya agak keruh.
Suspensi adalah campuran
heterogen, tidak stabil dan
terdiri dari dua fase. Suspensi
mempunyai ukuran partikel
lebih dari 100 nm, dapat
disaring dan warnanya keruh.
Larutan adalah campuran
homogen yang stabil, dan
terdiri dari satu fase. Larutan
mempuntai ukuran partikel
kurang dari 1 nm, tidak dapat
di saring dan warnanya jernih.
Sifat-sifat koloid yang khas:
a. Partikel koloid dapat
menghamburkan cahaya
(Effek tyndall)
b. Partikel koloid bergerak
secara acak yang disebut
dengan gerak Brown.
c. Partikel koloid dapat
menyerap partikel yang
bermuatan sehingga
partil koloid itu
bermuata (adsorpsi).
d. Geraknya dapat
dipengaruhi oleh medan
listrik. (elektroforesis)
e. Partikel koloid dapat

5 menit

Memberikan tugas untuk


membaca buku sumber atau
referensi lain:

Buku pegangan guru buku


kimia gravindo
http://www.psbpsma.org/forum/bahanajar/kimia/koloid
http://www.chem-istry.org/materi_kimia/kimiasmk/kelas_x/pengelompokan
-koloid/
menyiapkan alat dan bahan
untuk praktikum

digumpalkan sehingga
kestabilannya hilang
(koagulasi).

Menyimak tugas yang


diberikan oleh guru.

Rencana Pelaksanaan Pemblajaran


Nama Sekolah
Mata Pelajaran

: SMA PGRI 3
: Kimia

Kelas/Semester
Alokasi Waktu

: XI/2
: 2 jam pelajaran

Standar Kompetensi : Menjelaskan sistem dan sifat koloid serta penerapannya


dalam kehidupan sehari-hari
Kompetensi Dasar :
Mengelompokkan sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan seharihari.
Indikator
:
1. Mengklasifikasikan suspensi kasar, larutan sejati dan koloid berdasarkan data
hasil pengamatan (effek Tyndall, homogen/heterogen, dan penyaringan)
2. Mendeskripsikan sifat-sifat koloid (Efek tyndall dan koagulasi) melalui percobaan.

Strategi Pembelajaran : inkuiri


Skenario Pembelajaran
Pertemuan Ke-2:
Strategi Pembelajaran
No
Guru
Siswa
I
Kegiatan Pendahuluan :
Mengecek kehadiran siswa Mendengarkan dan
memperhatikan guru.
Menyampaikan kegiatan
pembelajaran yang akan
dilakukan:

Alokasi
waktu
5 menit

Menyimak penjelasan guru

5 menit

Siswa berkumpul bersama


kelompoknya masing-masing

5 menit

Langkah percobaan

20 menit

Pertemuan kedua,
siswa melanjutkan
kegiatan diskusi
kelompok untuk
membuat rancangan
langkah kerja
praktikum koloid
pada Lembar Kerja
Siswa (LKS) yang
telah disediakan.
II

Kegiatan inti
Membagi siswa ke dalam
empat kelompok
berdasarkan heterogenitas
gender dan kategori nilai
tinggi, sedang, dan rendah.
Membimbing siswa dalam

diskusi kelompok membuat


rancangan percobaan untuk
membuktikan salah satu
sifat koloid yaitu effek
tyndall dan koagulasi, serta
percobaan untuk
membedakan antara larutan
sejati, koloid, dan suspensi
dengan alat dan bahan
seperti tertera dalam LKS!

a) effek tyndall.

Percobaan 1
ALAT :
Gelas kimia 3 buah ukuran
100 mL
Lampu senter 1 buah
Kotak karton 30 cm2 dengan
lubang pengamatan
Spatula 1 buah
BAHAN :
Kopi
Gula
Susu
Air suling/aquades
CARA KERJA :
1. Isilah 3 buah gelas kimia dengan
75 mL air.
2. Pada gelas 1 tambahkan 1
sendok teh kopi. Aduk hingga
rata.
3. Tempatkan gelas kimia yang
berisi campuran kopi dengan air
ke dalam kotak karton dan
senterlah larutan gula tersebut
melalui lubang karton.
4. Amati apa yang terlihat melalui
lubang pengamatan.
(Mengamati)
5. Catatlah hasil pengamatanmu.
6. Ulangi langkah 1, 2, 3, 4 dan 5
untuk campuran air dan susu,
serta campuran air dan gula.
7. Analisislah hasil pengamatanmu.
(Menganalisis)
8. Buatlah kesimpulan dari hasil
pengamatanmu.
b) Percobaan membedakan
suspensi kasar, larutan sejati
dan koloid berdasarkan data
hasil pengamatan
homogen/heterogen, dan
penyaringan.

ALAT :

Gelas kimia 3 buah ukuran


100 mL.
Kertas saring
Spatula 1 buah
BAHAN :
Kopi
Gula
Susu
CARA KERJA :
1. Isilah 3 buah kimia dengan 75
mL air.
2. Pada gelas 1 tambahkan 1
sendok teh kopi. Aduk hingga
rata.
3. Amati apakah campuran
tersebut larut (homogen)? Atau
terpisah (heterogen)?
4. Apakah terdapat endapan?
5. Apakah dapat disaring?
6. Catatlah hasil pengamatanmu.
7. Ulangi langkah 1, 2, 3, dan 4
untuk campuran air dan susu,
serta campuran air dan gula.
8. Analisislah hasil
pengamatanmu.
(Menganalisis)
9. Buatlah kesimpulan dari hasil
pengamatanmu.

d) Percobaan koagulasi
ALAT :
Gelas kimia 1 buah.
Tabung reaksi 1 buah.
Pipet tetes 1 buah.
Gelas ukur 1 buah.
BAHAN :
Susu
Air perasan jeruk nipis
CARA KERJA :
1. Isilah 1 buah kimia dengan 75
mL air.
2. Tambahkan 1 sendok teh susu.
Aduk hingga rata.
3. masukkan sebanyak 3 mL
campuran susu ke dalam
tabung reaksi
4. Tambahkan air perasan jeruk
nipis sebanyak 10 tetes.

Meminta perwakilan
tiap kelompok
mempresentasikan hasil
diskusinya di depan
kelas melalui windows
shoping.

III

Kegiatan Penutup:
Mengarahkan siswa untuk
menyimpulkan materi
berdasarkan kegiatan
pembelajaran yang telah
dilakukan.

5. Catatlah hasil pengamatanmu.


6. Analisislah hasil
pengamatanmu.
(Menganalisis)
7. Buatlah kesimpulan dari hasil
pengamatanmu

45 menit

Perwakilan kelompok maju


untuk mempresentasikan hasil
diskusinya, siswa lain
menyimak dan menanggapi
hasil diskusinya.
10 menit
Menyimpulkan materi
pembelajaran:
Koloid adalah campuran
heterogen yang umumnya
stabil, terdiri dari dua fase
(terdispersi dan pendispersi).
Koloid mempunyai ukuran
partikel antara 1- 100 nm, yang
tidak dapat disaring dan
warnanya agak keruh.
Suspensi adalah campuran
heterogen, tidak stabil dan
terdiri dari dua fase. Suspensi
mempunyai ukuran partikel
lebih dari 100 nm, dapat
disaring dan warnanya keruh.
Larutan adalah campuran
homogen yang stabil, dan
terdiri dari satu fase. Larutan
mempuntai ukuran partikel
kurang dari 1 nm, tidak dapat di
saring dan warnanya jernih.
Sifat-sifat koloid yang khas:
f.

Partikel koloid dapat


menghamburkan cahaya
(Effek tyndall)
g. Partikel koloid bergerak
secara acak yang disebut
dengan gerak Brown.
h. Partikel koloid dapat
menyerap partikel yang
bermuatan sehingga partil
koloid itu bermuata

i.

j.

(adsorpsi).
Geraknya dapat
dipengaruhi oleh medan
listrik. (elektroforesis)
Partikel koloid dapat
digumpalkan sehingga
kestabilannya hilang
(koagulasi).

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


Nama Sekolah

: SMA PGRI 3

Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Alokasi Waktu

: Kimia
: XI/2
: 3 jam pelajaran

Standar Kompetensi : Menjelaskan sistem dan sifat koloid serta penerapannya


dalam kehidupan sehari-hari
Kompetensi Dasar :
Mengelompokkan sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan seharihari.
Indikator
:
1. Mengklasifikasikan suspensi kasar, larutan sejati dan koloid berdasarkan data
hasil pengamatan (effek Tyndall, homogen/heterogen, dan penyaringan)
2. Mendeskripsikan sifat-sifat koloid (Efek tyndall dan koagulasi) melalui percobaan.

Strategi Pembelajaran : inkuiri


Skenario Pembelajaran
Pertemuan Ke-3
Strategi Pembelajaran
No
Guru
Siswa
1
Kegiatan Pendahuluan:
Mengecek kehadiran
Menyimak dan memeperhatikan
siswa.
guru
Memberikan arahan tata
cara kerja di laboratorium

5 menit
10 menit

Menyimak penjelasan guru.

Kegiatan inti:
Eksperimen

Membimbing dan
mengarahkan siswa dalam
melaksanakan kegiatan
praktikum secara
berkelompok

Alokasi
waktu

75 menit
Melakukan kegiatan praktikum
secara berkelompok
berdasarkan langkah kerja yang
telah mereka buat pada lembar
LKS.
Langkah kerja praktikum (lihat
lampiran langkah kerja
praktikum)
Langkah percobaan 1 (effek
tyndall)

ALAT :
Gelas kimia 3 buah ukuran
100 mL
Lampu senter 1 buah
Kotak karton 30 cm2 dengan
lubang pengamatan

Spatula 1 buah

BAHAN :
Kopi
Gula
Susu
Air suling/aquades
CARA KERJA :
1. Isilah 3 buah gelas kimia
dengan 75 mL air.
2. Pada gelas 1 tambahkan 1
sendok teh kopi. Aduk hingga
rata.
3. Tempatkan gelas kimia yang
berisi campuran kopi dengan
air ke dalam kotak karton dan
senterlah larutan gula tersebut
melalui lubang karton.
4. Amati apa yang terlihat melalui
lubang pengamatan.
(Mengamati)
5. Catatlah hasil pengamatanmu.
6. Ulangi langkah 1, 2, 3, 4 dan 5
untuk campuran air dan susu,
serta campuran air dan gula.
7. Analisislah hasil
pengamatanmu.
(Menganalisis)
8. Buatlah kesimpulan dari hasil
pengamatanmu.
Langkah percobaan 2
(membedakan suspensi kasar,
larutan sejati dan koloid
berdasarkan data hasil pengamatan
homogen/heterogen, dan
penyaringan).

ALAT :
Gelas bening 3 buah.
Kertas saring.
Spatula 1 buah.
BAHAN :
Kopi
Gula
Susu
CARA KERJA :

Air suling/aquades
1. Isilah 3 buah gelas bening
dengan 75 mL air.
2. Pada gelas 1 tambahkan 1
sendok teh kopi. Aduk hingga
rata.
3. Amati apakah campuran
tersebut larut (homogen)?
Atau terpisah (heterogen)?
Apakah terdapat endapan?
Apakah dapat disaring?
4. Catatlah hasil pengamatanmu.
5. Ulangi langkah 1, 2, 3, dan 4
untuk campuran air dan susu,
serta campuran air dan gula.
6. Analisislah hasil
pengamatanmu.
(Menganalisis)
7. Buatlah kesimpulan dari hasil
pengamatanmu.
Langkah percobaan 3 (koagulasi)

ALAT :
Gelas bening 1 buah.
Tabung reaksi 1 buah.
Pipet tetes 1 buah
Gelas ukur 1 buah
BAHAN :
Susu
Air perasan jeruk nipis
CARA KERJA :

Membimbing siswa
melakukan diskusi
kelompok hasil praktikum

1. Isilah 1 buah gelas kimia


dengan 75 mL air.
2. Tambahkan 1 sendok teh susu.
Aduk hingga rata.
3. Masukkan sebanyak 3 mL
campuran susu ke dalam
tabung reaksi
4. Tambahkan air perasan jeruk
nipis sebanyak 10 tetes
5. masukkan 3 mL campuran susu
ke dalam tabung reaksi
6. Catatlah hasil pengamatanmu.
7. Analisislah hasil
pengamatanmu.
(Menganalisis)
8. Buatlah kesimpulan dari hasil
pengamatanmu

30 menit

Siswa mendiskusikan hasil


praktikum.

Kegiatan Penutup:

Mengarahkan siswa untuk


menyimpulkan materi
berdasarkan kegiatan
pembelajaran yang telah
dilakukan.

Memberikan tugas kepada


siswa untuk membuat
laporan hasil praktikum
yang telah dilakukan
secara berkelompok, untuk
dipresentasikan pada
pertemuan berikutnya.

10 menit
Menyimpulkan hasil praktikum.
Efek Tyndall ialah gejala
penghamburan berkas sinar
(cahaya) oleh partikel-partikel
koloid. Hal ini disebabkan karena
ukuran molekul koloid yang cukup
besar. Efek tyndall ini ditemukan
oleh John Tyndall (1820-1893),
seorang ahli fisika Inggris. Oleh
karena itu sifat itu disebut efek
tyndall.

Efek tyndall adalah efek yang


terjadi jika suatu larutan
terkena sinar. Pada saat larutan
sejati disinari dengan cahaya,
maka larutan tersebut tidak
akan menghamburkan cahaya,
sedangkan pada sistem koloid
cahaya akan dihamburkan. hal
itu terjadi karena partikelpartikel koloid mempunyai
partikel-partikel yang relatif
besar untuk dapat
menghamburkan sinar tersebut.
Sebaliknya, pada larutan sejati,
partikel-partikelnya relatif kecil
sehingga hamburan yang terjadi 5 menit
hanya sedikit dan sangat sulit
diamati

Menyimak tugas yang diberikan


oleh guru.

c. Lembar Kerja Siswa (LKS)

LEMBAR KERJA SISWA

Mengklasifikasikan suspensi kasar, larutan sejati dan koloid berdasarkan data


hasil pengamatan (effek tyndall, koagulasi, homogen/heterogen, dan
penyaringan)
A. Tujuan
Untuk mengamati perbedaan suspensi kasar, larutan sejati dan koloid
berdasarkan

data

hasil

pengamatan

(effek

tyndall,

koagulasi,

homogen/heterogen, dan penyaringan).


B. Alat dan Bahan
B.1. Kegiatan 1: mengamati perbedaan suspensi kasar, larutan sejati dan
koloid berdasarkan data hasil pengamatan effek tyndall
No Nama Alat dan Bahan

Satuan/Ukuran

Jumlah

1.

Gunting

2.

Kotak karton

3.

Gelas kimia

100 mL

4.

Lampu senter

5.

Spatula

6.

Kopi

1 sendok teh

7.

Susu

1 sendok teh

8.

Gula

1 sendok teh

9.

Air suling/aquades

B.2. Kegiatan 2: mengamati perbedaan suspensi kasar, larutan sejati dan


koloid

berdasarkan

data

hasil

pengamatan

homogen/heterogen,

penyaringan.
No Nama Alat dan Bahan

Satuan/Ukuran

Jumlah

1.

Gelas kimia

100 mL

2.

Kertas saring

3.

Spatula

4.

Kopi

1 sendok teh

5.

Susu

1 sendok teh

dan

6.

Gula

1 sendok teh

7.

Air suling/aquades

B.3. Kegiatan 3: mengamati perbedaan suspensi kasar, larutan sejati dan


koloid berdasarkan data hasil pengamatan koagulasi
No Nama Alat dan Bahan

Satuan/Ukuran

Jumlah

1.

Gelas kimia

100 mL

2.

Tabung reaksi

3.

Pipet tetes

4.

Gelas ukur

5.

Susu

1 sendok teh

6.

Jeruk nipis

7.

Air suling/aquades

C. Permasalahan
1. Bagaimana anda memahami perbedaan suspensi kasar, larutan sejati dan
koloid berdasarkan data hasil pengamatan effek tyndall?
2. Bagaimana anda memahami perbedaan suspensi kasar, larutan sejati dan
koloid berdasarkan data hasil pengamatan homogen/heterogen dan kertas
saring?
3. Bagaimana anda memahami perbedaan suspensi kasar, larutan sejati dan
koloid berdasarkan data hasil pengamatan koagulasi?

D. Langkah Kerja

Berdasarkan alat dan bahan yang tersedia (pada butir B) dan permasalahan
pada (pada butr C), rumuskan langkah kerja untuk memecahkan permasalahan
pada butir C tersebut pada kolom di bawah ini:
Langkah kerja untuk kegiatan I:

Langkah kerja untuk kegiatan II:

Langkah kerja untuk kegiatan III:

E. Diskusi

Diskusikan hasil pengamatan kelompok kamu, kemudian rumuskan


kesimpulannya pada kolom di bawah ini:
E.1. Hasil Pengamatan (dalam bentuk tabel)
Hasil pengamatan kegiatan I:

Hasil pengamatan kegiatan II:

Hasil pengamatan kegiatan III:

E.2 Kesimpulan

Kesimpulan kegiatan I:

Kesimpulan kegiatan II:

Kesimpulan kegiatan III:

F. Evaluasi

1. Berdasarkan data hasil percobaan, manakah campuran yang termasuk


larutan sejati, suspensi dan koloid? Jelaskan!
Jawab:

2. Jelaskan sifat-sifat effek tyndall dan koagulsi!


Jawab:

3. Tuliskan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya koagulasi pada


sistem koloid!
Jawab:

4. Jelaskan pengaruh penambahan air perasan jeruk nipis pada susu!


Jawab:

Lampiran 2. Instrumen Pengumpulan Data

a. Format Lembar Observasi


LEMBAR OBSERVASI

Pertemuan I

Nama/kelompok: ...

Penilaian keterampilan proses sains siswa


Aspek keterampilan proses sains yang diamati

Beri Tanda Ceklis


()
3
2
1

1.Bertanya/mengajukan pertanyaan
a. Bertanya untuk meminta penjelasan
b.Mengajukan pertanyaan yang berlatar belakang
hipotesis
2.Hipotesis
a. Membuat hipotesis/dugaan sederhana dengan bahasa
sendiri
b.Mengetahui bahwa ada lebih dari 1 kemungkinan
penjelasan dari 1 kejadian
c. Menyadari bahwa suatu penjelasan perlu di uji
kebenarannya dengan memperoleh bukti
Keterangan:
3 = muncul sesuai
2 = muncul tidak sesuai
1 = tidak muncul
Catatan observer:

Observer,

(..)

LEMBAR OBSERVASI
Nama/kelompok: ...

Pertemuan II
Penilaian keterampilan proses sains siswa

Beri Tanda Ceklis ()


3
2
1

Aspek keterampilan proses sains yang diamati


1.Investigasi/merencanakan percobaan
a. Menyiapkan alat dan bahan
b. Membuat campuran
c. Merangkai alat praktikum
d. Menggunakan alat dengan teknik yang benar
e. Membuat tabel hasil pengamatan
2.Observasi
a. Mengamati perbedaan larutan, suspensi, dan koloid.
b. Mengamati sifat-sifat koloid effek tyndall dan koagulasi.
c. Menggunakan/mengumpulkan fakta yang relevan
3.Klasifikasi
a. Mencatat setiap pengamatan ke dalam tabel
b. Mencari perbedaan dan persamaan.
c. Mengontraskan sifat-sifat
4.Prediksi
a. Memperkirakan bentuk campuran (homogen atau
heterogen)
b. Memperikirakan terjadinya gumpalan pada susu setelah
penambahan perasan jeruk nipis
Keterangan:
3 = muncul sesuai
2 = muncul tidak sesuai
1 = tidak muncul

Catatan observer:

Observer,

(..)
LEMBAR OBSERVASI

Pertemuan III

Nama/kelompok: .

Penilaian keterampilan proses sains siswa


Aspek keterampilan proses sains yang diamati

Beri Tanda Ceklis ()


3
2
1

1. Interpretasi
a. Menggambarkan /menterjemahkan data
b.Menganalisis data
c. Menyajikan pemahaman baru
d.Membuat kesimpulan sesuai dengan hasil
pengamatan
2. Komunikasi
a. Mempresentasian hasil pengamatan
b.Mendiskusikan hasil percobaan
c. Menyampaikan ide/gagasan/data
d.Menyimak
pendapat/gambaran
yang
disampaikan tiap kelompok
e. Menjawab/menanggapi pertanyaan
Keterangan:
3 = muncul sesuai
2 = muncul tidak sesuai
1 = tidak muncul
Catatan observer:

Observer,

(..)

b. Kisi-Kisi Pengamatan Lembar Observasi


Kisi-kisi pengamatan lembar observasi

Pertemuan I
Penilaian keterampilan proses sains
No

Aspek yang diamati

1.

Bertanya

Penjelasan

Indikator

Muncul sesuai

Muncul tidak sesuai

Tidak muncul

Siswa bertanya apa, bagaimana, dan

Siswa bertanya tidak sesuai

Siswa tidak mengajukan

mengapa, guna memperoleh kejelasan

dengan topik pembahasan.

pertanyaan.

kegiatan

Siswa mengajukan pertanyaan

Siswa tidak mengajukan

dengan

yang tidak berlatar belakang

pertanyaan yang berlatar

pemikiran/penemuan awal.

hipotesis.

belakang hipotesis.

Misalnya:

Misalnya:

Dari ke tiga campuran tersebut manakah

Mengapa susu dicampur dengan

yang termasuk larutan, suspensi, dan

jeruk nipis, tidak dengan yang

koloid?

lain?

Membuat

Siswa membuat hipotesis dengan bahasa

Siswa melakukan hipote yang

Siswa tidak melakukan

hipotesis/dugaan

sendiri.

tidak sesuai. Misalnya:

hipotesis.

sederhana

Misalnya campuran:

1) Air + kopi adalah koloid

4) Air + kopi adalah suspensi

2) Air + gula adalah suspensi

5) Air + gula adalah larutan

3) .Air + susu adalah larutan.

Bertanya

untuk

meminta penjelasan

tentang kegiatan pembelajaran.


Mengajukan

Siswa

pertanyaan
berlatar

yang
belakang

hipotesis

2.

Hipotesis

bahasa sendiri

dengan

bertanya

pembelajaran

tentang
sesuai

6) Air + susu adalah koloid


Karena:
Suspensi: antara air dan kopi tidak larut,
terbentuknya

endapan

dan

dapat

dipisahkan.
Larutan: antara air dan gula larut dan tidak
bisa dipisahkan, warna larutan homogen.
Koloid: seakan larut, tapi warna air
berubah menjadi putih
Mengetahui bahwa ada

Siswa mengetahui bahwa ada beberapa

Siswa tidak mengetahui

lebih

faktor yang mempengaruhi sesuatu itu bisa

bahwa ada lebih dari satu

terjadi.

kemungkinan penjelasan

dari

satu

kemungkinan
penjelasan

dari

satu

kejadian

Misalnya:

mengapa

campuran

susu

dari satu kejadian

disebut koloid? Apakah karena terjadi


perubahan warna? tetapi susu sulit untuk
dipisahkan secara fisik.

Menyadari bahwa suatu

Siswa sadar bahwa suatu penjelasan harus

Siswa hanya menyadari suatu

Siswa merasa tidak perlu

penjelasan perlu di uji

didukung dengan konsep dan pembuktian.

penjelasan

diuji

kebenarannya

Misalnya:

dengan konsep dan pembuktian,

penjelasan

Siswa menduga campuran susu adalah

tapi tidak perlu diuji, karena

memperoleh bukti.

larutan sejati, untuk mendapatkan jawaban

sudah merasa cukup dengan

yang benar maka siswa harus melakukan

penjelasan di buku paket kimia.

dengan

memperoleh bukti

praktikum.

harus

didukung

kebenaran

suatu
dengan

Pertemuan III:

Penilaian keterampilan proses sains


No
1

Aspek yang diamati

Penjelasan

Indikator

Investigasi/merencanakan

Menyiapkan

percobaan

bahan

alat

dan

Muncul sesuai

Muncul tidak sesuai

Tidak muncul

Siswa menyiapkan alat dan bahan sesuai

Siswa menyiapkan alat dan

Siswa tidak menyiapkan

dengan LKS.

bahan tidak sesuai dengan LKS.

alat dan bahan sesuai

Misalnya:

menyiapkan

gelas

kimia,

spatula, air, kopi, gula, susu, dan lainnya


sesuai LKS.
Membuat campuran kopi,

Siswa membuat campuran dengan cara

Siswa membuat campuran tidak

Siswa

tidak

membuat

susu, dan gula

yang benar.

sesuai dengan petunjuk pada

campuran kopi, susu, dan

Misalnya: membuat larutan gula 75 mL.

LKS.

gula.

berarti yang harus siswa lakukan yaitu

Misalnya:

masukkan gula ke dalam gelas kimia,

Siswa membuat campuran tanpa

kemudian larutkan dengan air dari

mengukur volume larutan yang

volume larutan yang diminta (37,5 mL)

digunakan.

aduk dan pastikan terlarut, kemudian


baru tambahkan air sampai volumenya
75 mL.
Merangkai alat praktikum

Siswa merangkai alat dengan benar.

Siswa

Misalnya:

dengan teknik yang benar.

alat

Pada percobaan effek tyndall, yang

Misalnya:

hanya

digunakan adalah gelas kimia, kotak

Pada percobaan effek tyndall,

teman

pengamatan senter. Rangkaian alat yang

lubang pengamatan yang dibuat

merangkai

seharusnya yaitu gelas kimia diletakkan

tidak cukup untuk pengamatan

praktikum.

di dalam kotak,

gelas. Atau lubang terlalu besar

dengan posisi gelas

merangkai

alat

tidak

Siswa tidak merangkai


praktikum,

siswa

mengandalkan
lainnya

untuk
alat

tepat di depan lubang pengamatan.

sehingga cahaya senter tidak

Pegang lampu senter mengarah ke dalam

terlihat dengan jelas.

lubang kecil di sisi kotak.


Menggunakan alat dengan

Siswa menempatkan gelas tepat pada

Siswa menempatkan gelas tidak

Sistwa

teknik yang benar

lubang

lubang

tepat pada lubang penyinaran

menggunakan alat (tidak

effek

dan lubang pengamatan pada

melakukan

tyndall.

percobaan effek tyndall.

praktikum).

Siswa membuat tabel untuk mencatat

Siswa

hasil pengamatan

pengamatan

penyinaran

pengamatan

Membuat

tabel

hasil

pegamatan

pada

dan
percobaan

membuat

tabel

namun

tidak

tidak

kegiatan

hasil

Siswa

membuat

tidak

tabel hasil pengamatan.

lengkap.
2

Observasi

Mengamati
larutan,

perbedaan

suspensi,

dan

koloid.

Siswa mengamati perbedaan dari espek

Siswa melakukan pengamatan

Siswa tidak mengamati

kelarutan, penyaringan atau terbentuknya

tidak

perbedaan

endapan

kelarutan,

berdasarkan
penyaringan

aspek
atau

larutan,

suspensi, dan koloid.

terbentuknya endapan.
Mengamati

sifat-sifat

Siswa mengamati sifat-sifat effek tyndall

Siswa

hanya

melakukan

Siswa tidak mengamati

koloid effek tyndall dan

dari adanya pembiasan cahaya, saat

pengamatan tanpa mencari tahu

sifat-sifat koloid effek

koagulasi.

campuran disorotkan lampu senter.

hal-hal

tyndall dan koagulasi.

Siswa mengamati sifat-sifat koagulasi

terjadinya effek tyndall dan

dari adanya penggumpalan campuran

koagulasi.

yang

menyebabkan

susu yang ditambahkan air perasan jeruk


nipis
Mengumpulkan

fakta

yang relevan

Klasifikasi

Mencatat
pengamatan
tabel

ke

Siswa menggunakan fakta yang sesuai

Hanya

mengumpulkan

teori-

Siswa

dengan kenyataan

teori yang tidak sesuai dengan

mengumpulkan

kenyataan.

fakta yang relevan.

setiap

Siswa mencatat apa yang terlihat dari

Siswa hanya mencatat sebagian

Siswa

dalam

hasil praktikum

yang

hasil

terlihat

praktikum.

dari

hasil

tidak

tidak

fakta-

mencatat

pengamatan

dalam tabel.

ke

Mencari

perbedaan

/persamaan.

Siswa

membedakan/menyamakan

percobaan yang satu dengan yang lain.


Misalnya:

membedakan

Siswa

hanya

melihat

sifat

masing-masing campuran.

larutan,

tidak

perbedaan
percobaan

suspensi, dan koloid


Mengontraskan sifat-sifat

Siswa

mencari
/persamaan

yang

satu

dengan yang lain.

Siswa melihat sifat-sifat yang terjadi

siswa melihat sifat-sifat yang

Siswa tidak melihat sifat-

pada sampel.

terjadi pada sampel hanya pada

sifat yang terjadi pada

Misalnya: pada saat percobaan effek

satu percobaan saja. Misalnya

sampel.

tyndall dan koagulasi.

hanya pada percobaan effek


tyndall saja.

Prediksi

Memperkirakan

bentuk

Siswa memperkirakan apakah campuran

Siswa

hanya

memperhatikan

Siswa

tidak

campuran (homogen atau

homogen atau heterogen (larut sempurna

apakah campuran homogen atau

memperkirakan

heterogen)

atau dapat dipisahkan)

heterogen saja.

campuran homogen atau


heterogen
sempurna
dipisahkan)

apakah

(larut
atau

dapat

Pertemuan ke IV
Penilaian keterampilan proses sains
No

Aspek yang diamati

1.

Interretasi

Penjelasan

Indikator

Muncul sesuai

Muncul tidak sesuai

Menggambarkan/menterjemahkan

Siswa mnguraikan komponen-

Siswa hanya menguraikan komponen-

Siswa

data

komponen

komponen

komponen-komponen

data,

menghubungkan,

Menganalisis data

Menyajikan permasalahan baru

mendalami

menghubungkan,

data,

Tidak muncul

tanpa

mendalami

dan

tidak

mnguraikan
data,

menghubungkan, mendalami

dan memahami data.

memahami data.

Siswa menjelaskan data yang

Siswa

diperoleh secara lengkap.

diperoleh tidak secara lengkap.

yang diperoleh.

Siswa meneliti bahan yang

Siswa hanya meneliti bahan yang

Siswa tidak meneliti bahan

tidak diinstruksikan di LKS

diinstruksikan di LKS.

baik

menjelaskan

dan memahami data.


data

yang

Siswa tidak menjelaskan data

yang

diinstruksikan

tidak
di

LKS

maupun yang diinstruksikan


di LKS.
Membuat

kesimpulan

sesuai

dengan hasil pengamatan

2.

komunikasi

Mempresentasikan hasil

Siswa menyimpulkan tentang

Siswa

pembelajaran

teori dari buku paket kimia.

yang

telah

menyimpulkan

berdasarkan

Siswa

tidak

kesimpulan

dilakukan sesuai dengan hasil

pembelajaran

pengamatan.

dilakukan.

Siswa

menjelaskan

membuat
tentang
yang

telah

hasil

Siswa menjelaskan hasil pengamatan,

Siswa

tidak
hasil

pengamatan

dengan

baik

namun hasil pengamatan tidak sesuai

mempresentasikan

berdasarkan

percobaan

yang

dengan teori yang sebenarnya.

pengamatan.

hasil

Siswa

Siswa

benar dan sesuai teori.


Mendiskusikan hasil pengamatan

Siswa

mendiskusikan

pengamatan yang didapat, pada


masing-masing
dalam diskusi kelas.

kelompok

mendiskusikan diluar topik

pembahasan.

diskusi.

tidak

melakukan

Menyimak

pendapat/gambaran

yang disampaikan tiap kelompok

Siswa

mendengarkan,

memperhatikan,
menanggapi

dan

pendapat

Siswa hanya mendengarkan pendapat

Siswa tidak mendengarkan,

orang lain.

memperhatikan,

orang

dan

menanggapi pendapat orang

lain.

lain.

Menanggapi/menjawab

Siswa

menjawab

pertanyaan

Siswa menjawab pertanyaan guru,

Siswa

pertanyaan

guru, teman dan sebagainya

teman dan sebagainya dengan jawaban

pertanyaan guru, teman dan

dengan

yang kurang tepat.

sebagainya

jawaban

yang

tidak

menjawab

sebenarnya.
Menyampaikan ide/gagasan/data

Siswa

Siswa

mengusulkan/menyampaikan

mengusulkan/menyampaikan

ide/gagasan

ide/gagasan kepada teman,

kepada

guru, dan sebagainya.

teman,

guru, dan sebagainya.

tidak

c. Format Wawancara
WAWANCARA
Variabel

Kisi-kisi Pertanyaan

Respon siswa

Apakah kamu senang belajar kimia disertai dengan kegiatan praktikum?

terhadap

Jelaskan pendapatmu!

pembelajaran

Bagaimana kesanmu setelah mengikuti proses pembelajaran kimia dengan

dengan pendekatan

pendekatan seperti ini (inkuiri) ?

inkuiri

Apakah pembelajaran ini menarik menurutmu? Jelaskan pendapatmu!


Kegiatan apa saja kamu lakukan selama kegiatan praktikum berlangsung?

Apakah kamu menemukan kesulitan selama praktikum berlangsung? Jika


ya kesulitan apa yang kamu hadapi, jika tidak apa alasanmu!
Menurutmu, apakah pembelajaran seperti ini efektif untuk dilakukan?
Berikan alasanmu!
Apakah melalui pembelajaran ini (inkuiri) kalian mampu berhipotesis?
Apakah kalian berantusias untuk menguji hipotesis kalian?
Apakah kamu terlatih bekerja ilmiah melalui praktikum yang telah
dilakukan. Berikan alasanmu!
Keterampilan

Keterampilan apa saja yang dapat kamu kembangkan melalui pembelajaran

proses sains yang

seperti ini? Jelaskan pendapatmu!

muncul

Dengan pembelajaran seperti ini, apakah kamu termotivasi untuk membuat


pertanyaan dan meningkatkan kreativitas kamu? Berikan alasanmu!

Lampiran 3. Pengolahan Data


a. Data Hasil Observasi Keterampilan Proses Sains Siswa
Data Hasil Observasi Keterampilan Proses Sains Siswa
Pertemuan pertama
Aspek KPS
Bertanya/mengajukan
pertanyaan
a. Bertanya untuk meminta
penjelasan
b. Mengajukan
pertanyaan
yang berlatar belakang
hipotesis
2. Hipotesis
a. Membuat
hipotesis/dugaan
sederhana
dengan
bahasa
sendiri

Nomor absent siswa


10
11
12
13

14

15

16

17

18

19

20

21

1.

b. Mengetahui bahwa ada


lebih dari 1 kemungkinan
penjelasan dari 1 kejadian
c. Menyadari bahwa suatu
penjelasan perlu di uji
kebenarannya
dengan
memperoleh bukti

Pertemuan kedua
Aspek KPS
3. Investigasi/merencanakan
percobaan
a. Menyiapkan alat dan bahan
b. Membuat campuran
c. Merangkai alat praktikum
d. Menggunakan alat dengan
teknik yang benar
e. Membuat tabel
hasil
pengamatan
4. Observasi
a. Mengamati
perbedaan
larutan,
suspensi,
dan
koloid.
b. Mengamati
sifat-sifat
koloid effek tyndall dan
koagulasi.
c. Menggunakan/mengumpul
kan fakta yang relevan
5. Klasifikasi
a. Mencatat
setiap
pengamatan ke dalam tabel
b. Mencari perbedaan dan
persamaan.
c. Mengontraskan sifat-sifat

6. Prediksi
a. Memperkirakan
bentuk
campuran (homogen atau
heterogen)

b. Memperikirakan
terjadinya gumpalan
pada susu setelah
penambahan perasan
jeruk nipis

3
3
3

3
3
3

Nomor absent siswa


10
11
12
13

14

15

16

17

18

19

20

21

3
3
3

3
3
3

3
3
3

3
3
2

3
3
3

3
3
3

3
3
2

3
3
3

3
3
3

3
3
3

3
3
3

3
3
2

3
3
3

3
3
3

3
3
3

3
3
3

3
3
3

3
3
3

Pertemuan ketiga
Aspek KPS
7.

8.

Interpretasi
e. Menggambarkan
/menterjemahkan data
f. Menganalisis data
g. Menyajikan
pemahaman
baru
h. Membuat
keismpulan
sesuai
dengan
hasil
pengamatan
Komunikasi
a. Mempresentasian
hasil
pengamatan
b. Mendiskusikan
hasil
percobaan
c. Menyampaikan
ide/gagasan/data
d. Menyimak
pendapat/gambaran yang
disampaikan tiap kelompok
e. Menjawab/menanggapi
pertanyaan

Nomor absent siswa


10
11
12
13

14

15

16

17

18

19

20

21

b. Hasil Perhitungan Lembar Observasi Keterampian Proses Sains Siswa Secara Keseluruhan
Pertemuan
No
I

Aspek yang

Sub aspek yang diamati

diamati
Bertanya

a. Bertanya untuk meminta penjelasan.


b. Mengajukan

pertanyaan yang berlatar

belakang hipotesis
2

Hipotesis

a. Membuat hipotesis/dugaan sederhana


dengan bahasa sendiri
b. Mengetahui bahwa ada lebih dari 1
kemungkinan penjelasan dari 1 kejadian
c. Menyadari bahwa suatu penjelasan perlu di
uji kebenarannya dengan memperoleh bukti

II

Investigasi

sub aspek

rata-rata aspek

79,36
75,4

74,6

95,2

c. Merangkai alat praktikum

90,5

a. Mengamati perbedaan larutan, suspensi,


dan koloid.
b.Mengamati sifat-sifat koloid effek tyndall
dan koagulasi.

Muncul tidak
sesuai

72,5

Muncul tidak
sesuai

57,1

b.Membuat campuran

e. Membuat tabel hasil pengamatan

77,4

Kategori

85,7

95,2

benar

Observasi

Persentase (%)

a. Menyiapkan alat dan bahan

d.Menggunakan alat dengan teknik yang

Persentase (%)

89,8

Muncul sesuai

86,2

Muncul sesuai

95,2
73
95,2

87,3

c. Menggunakan/mengumpulkan fakta yang


relevan
5

Klasifikasi

Prediksi

76,2

a. Mencatat setiap pengamatan ke dalam table

76,2

b.Mencari perbedaan dan persamaan.

87,3

c. Mengontraskan sifat-sifat

76,2

a. Memperkirakan bentuk campuran


(homogen atau heterogen)

Muncul sesuai

88,1

Muncul sesuai

82,6

Muncul sesuai

88,2

Muncul sesuai

83,1

Muncul sesuai

90,5

b.Memperikirakan terjadinya gumpalan pada


susu setelah penambahan perasan jeruk

79,9

85,7

nipis
III

Interpretasi

a. Menggambar/menterjemahkan data

93,7

b.Menganalisis data

98,4

c. Menyajikan pemahaman baru

47,6

d.Membuat kesimpulan sesuai dengan hasil


pengamatan
8

Komunikasi

90,5

a. Mendiskusikan hasil percobaan

88,9

b. Mempresentasikan hasil pengamatan

100

c. Menyimak pendapat/gambaran yang


disampikan tiap kelompok
d. Menjawab/menanggapi pertanyaan
e. Mempresentasikan hasil pengamatan
Rata-Rata

85,7
92
74,6

c. Data Hasil Wawancara Tiap Kelompok


Kelompok: 1
Variabel
Respon siswa

No
1

Pertanyaan

Kesimpulan Jawaban Siswa

Apakah kamu senang

Senang, karena dapat lebih memahami

terhadap

belajar kimia disertai

apa yang dipelajari bukan hanya teori

pembelajaran

dengan kegiatan praktikum?

di buku atau penjelasan guru,

dengan pendekatan

Jelaskan pendapatmu!

melainkan saya lebih mengetahui apa

inkuiri

yang saya pelajari.


2

Bagaimana kesanmu setelah

menarik, dapat menambah

mengikuti proses

pengetahuan.

pembelajaran kimia dengan


pendekatan seperti ini
(inkuiri) ?
3

Apakah pembelajaran ini

Menarik, dapat berinteraksi antar

menarik menurutmu?

teman lain kelompok.

Jelaskan pendapatmu!
4

Kegiatan apa saja yang

Mempersiapkan alat dan bahan,

kamu lakukan selama

meggunakan alat dan bahan,

kegiatan praktikum

mengamati hasil kegiatan.

berlangsung?

Apakah kamu menemukan

Ya, pada saat memperkirakan larutan

kesulitan selama praktikum

dan koloid melalui percobaan effek

berlangsung? Jika ya

tyndall. Kotak pengamatan yang

kesulitan apa yang kamu

kelompok saya buat terlalu kecil,

hadapi, jika tidak apa

sehingga saya sulit mengamati apakah

alasanmu!

cahayanya dihamburkan atau


diteruskan.

Menurutmu, apakah

Kurang efektif, karena banyak

pembelajaran seperti ini

bercanda dan ketika presentasi

efektif untuk dilakukan?

berlangsung banyak yang kurang

Berikan alasanmu!

memperhatikan sehingga apa yang


disampaikan banyak yang tidak
dimengerti.

Apakah melalui

Saya tidak dapat berhipotesis, karena

pembelajaran ini (inkuiri)

saya tidak mengerti, saya tidak

kamu mampu berhipotesis?

membaca buku sebelumnya dan

Apakah kamu berantusias

kurang memperhatikan pelajaran.

untuk menguji hipotesismu?


8

Apakah kamu terlatih

Belum begitu terlatih, karena belum

bekerja ilmiah melalui

terbiasa, dan ini merupakan hal yang

praktikum yang telah

baru buat saya.

dilakukan. Berikan
alasanmu!
Keterampilan

proses sains

10

Keterampilan apa saja yang

Keterampilan bertanya, keterampilan

dapat kamu kembangkan

untuk berbicara i depan kelas,

melalui pembelajaran

memperoleh pengalaman untuk

seperti ini? Jelaskan

menggunakan alat-alat yang

pendapatmu!

digunakan dalam pengujian materi

Dengan pembelajaran

Ya, karena dengan bertanya saya jadi

seperti ini, apakah kamu

tahu.

termotivasi untuk membuat


pertanyaan dan
meningkatkan kreativitas
kamu? Berikan alasanmu!

Kelompok: 2
Variabel

No

Pertanyaan

Kesimpulan Jawaban Siswa

Respon siswa

Apakah kamu senang

Senang, karena bisa membuktikan

terhadap

belajar kimia disertai

suatu materi melalui percobaan.

pembelajaran

dengan kegiatan praktikum?

dengan pendekatan

Jelaskan pendapatmu!

inkuiri

Bagaimana kesanmu setelah

Mengasikkan, karena kita mencoba

mengikuti proses

metode pembelajaran yang baru dan

pembelajaran kimia dengan

menjadi lebih berani dalam

pendekatan seperti ini

mengungkapkan pendapat.

(inkuiri) ?

Apakah pembelajaran ini

Menarik, karena dapat berhipotesis

menarik menurutmu?

menurut pendapat sendiri.

Jelaskan pendapatmu!
4

Kegiatan apa saja yang

Mengamati dan mencari tahu

kamu lakukan selama

kebenaran yang sesuai dengan teori.

kegiatan praktikum
berlangsung?

Apakah kamu menemukan

Tidak, karena anggota kelompok satu

kesulitan selama praktikum

sama lain saling membantu dan

berlangsung? Jika ya

kompak.

kesulitan apa yang kamu


hadapi, jika tidak apa
alasanmu!
6

Menurutmu, apakah

Efektif, karena lebih mudah

pembelajaran seperti ini

dimengerti pelajaran yang sedang

efektif untuk dilakukan?

dibahas.

Berikan alasanmu!
7

Apakah melalui

Saya kurang mampu berhipotesis,

pembelajaran ini (inkuiri)

karena saya malas dan tidak membaca

kalian mampu berhipotesis?

buku sebelumnya, selain itu saya

Apakah kalian berantusias

kurang percaya diri dalam

untuk menguji hipotesis

menyampikan pendapat.

kalian?
8

Apakah kamu terlatih

Ya, karena saya jadi lebih mengetahui

bekerja ilmiah melalui

secara spesfik alat dan bahan kimia

praktikum yang telah

dan cara penggunaannya.

dilakukan. Berikan
alasanmu!
Keterampilan
proses sains

Keterampilan apa saja yang

Komunikasi, berpendapat,

dapat kamu kembangkan

bereksperimen.

melalui pembelajaran
seperti ini? Jelaskan
pendapatmu!

10

Dengan pembelajaran

Ya, karena memunculkan rasa ingin

seperti ini, apakah kamu

tahu yang lebih besar.

termotivasi untuk membuat


pertanyaan dan
meningkatkan kreativitas
kamu? Berikan alasanmu!

Kelompok: 3
Variabel
Respon siswa

No

Kesimpulan Jawaban Siswa

Apakah kamu senang

Senang, karena dapat melatih

terhadap

belajar kimia disertai

keterampilan, kekompakkan dan dapat

pembelajaran

dengan kegiatan praktikum?

mengaplikasikannya dikehidupan

dengan pendekatan

Jelaskan pendapatmu!

sehari-hari.

Bagaimana kesanmu setelah

Lebih kepada kebersamaan sehingga

mengikuti proses

dapat memecahkan permasalahan

pembelajaran kimia dengan

bersama-sama.

inkuiri

Pertanyaan

pendekatan seperti ini


(inkuiri) ?
3

Apakah pembelajaran ini

Menarik, karena pembelajarannya

menarik menurutmu?

lebih menekankan kepada penerapan

Jelaskan pendapatmu!

sehingga kita dapat memecahkan


masalah secara langsung.

Kegiatan apa saja yang

Membuat hipotesis, melakukan

kamu lakukan selama

eksperimen, berdiskusi untuk

kegiatan praktikum

memecahkan masalah.

berlangsung?

Apakah kamu menemukan

Ya, karena masih memiliki

kesulitan selama praktikum

keterbatasan dalam mengamati suatu

berlangsung? Jika ya

sistem. Misalnya dalam mengamati

kesulitan apa yang kamu

larutan dan koloid melalui percobaan

hadapi, jika tidak apa

effek tyndall.

alasanmu!

Menurutmu, apakah

Cukup efektif, karena dengan adanya

pembelajaran seperti ini

kelompok belajar dan praktik saya

efektif untuk dilakukan?

dapat menguasai dengan cepat dari

Berikan alasanmu!

apa yang sudah kita pelajari dan


mendapat masukan-masukan baik dari
kelompok lain maupun dari guru.

Apakah melalui

Saya kurang bisa berhipotesis, saya

pembelajaran ini (inkuiri)

mencoba untuk berhipotesis tapi

kalian mampu berhipotesis?

hipotesis saya tidak tepat. Karena saya

Apakah kamu berantusias

tidak baca buku sebelumnya.

untuk menguji hipotesismu?


8

Apakah kamu terlatih

Terlatih, karena terbiasa.

bekerja ilmiah melalui


praktikum yang telah
dilakukan. Berikan
alasanmu!
Keterampilan

proses sains

Keterampilan apa saja yang

Bertanya, merumuskan masalah, dan

dapat kamu kembangkan

meningkatkan kreatifitas.

melalui pembelajaran
seperti ini? Jelaskan
pendapatmu!
10

Dengan pembelajaran

Ya, karena pembelajaran seperti ini

seperti ini, apakah kamu

memberi rasa ingin tahu, dan

termotivasi untuk membuat

membuat saya ingin membuat hal

pertanyaan dan

yang baru dan bermanfaat.

meningkatkan kreativitas
kamu? Berikan alasanmu!

Kelompok: 4
Variabel
Respon siswa

No
1

Pertanyaan

Kesimpulan Jawaban Siswa

Apakah kamu senang

Senang, karena dengan praktikum

terhadap

belajar kimia disertai

saya dapat memahami perbedaan

pembelajaran

dengan kegiatan praktikum?

koloid, larutan, dan suspensi.

dengan pendekatan
inkuiri

Jelaskan pendapatmu!
2

Bagaimana kesanmu setelah

Senang, karena saya dapat belajar

mengikuti proses

mandiri dalam merumuskan suatu

pembelajaran kimia dengan

masalah dan memecahkan masalah.

pendekatan seperti ini


(inkuiri) ?
3

Apakah pembelajaran ini

Manarik, karena pembelajaran seperti

menarik menurutmu?

ini baru buat saya, selain itu saya

Jelaskan pendapatmu!

dapat berkomunikasi dengan baik


antara satu sama lain.

Kegiatan apa saja yang

Melakukan percobaan, mangamati,

kamu lakukan selama

mencatat apa yang diamati.

kegiatan praktikum
berlangsung?
5

Apakah kamu menemukan

Tidak, karena kami saling membantu

kesulitan selama praktikum

satu sama lain.

berlangsung? Jika ya
kesulitan apa yang kamu
hadapi, jika tidak apa
alasanmu!
6

Menurutmu, apakah

Efektif, karena ada praktikum yang

pembelajaran seperti ini

dapat membuat saya lebih mengerti

efektif untuk dilakukan?

dan memahami pelajaran.

Berikan alasanmu!
7

Apakah melalui

Ya. Karena saya sudah paham

pembelajaran ini (inkuiri)

dasarnya, saya sebelumnya sudah

kalian mampu berhipotesis?

membaca materi sistem koloid.

Apakah kalian berantusias

Saya berantusias untuk mencari tau


kebenaran hipotesis saya melalui
percobaan.

untuk menguji hipotesis


kalian?
8

Apakah kamu terlatih

Belum cukup terlatih, karena metode

bekerja ilmiah melalui

ini baru buat saya, jadi saya belum

praktikum yang telah

terbiasa.

dilakukan. Berikan

alasanmu!
Keterampilan

proses sains

Keterampilan apa saja yang

Keterampilan menggunakan alat dan

dapat kamu kembangkan

bahan.

melalui pembelajaran
seperti ini? Jelaskan
pendapatmu!
10

Dengan pembelajaran

Ya, karena dengan pembelajaran

seperti ini, apakah kamu

seperti ini kita dapat terpacu dan

termotivasi untuk membuat

menimbulkan banyak pertanyaan dan

pertanyaan dan

pasti akan meningkatkan kreatifitas

meningkatkan kreativitas

kita.

kamu? Berikan alasanmu!

Kelompok: 5
Variabel

No

Pertanyaan

Kesimpulan Jawaban Siswa

Respon siswa

Apakah kamu senang

Senang, karena belajar kimia dengan

terhadap

belajar kimia disertai

praktikum tidak membosankan dan

pembelajaran

dengan kegiatan praktikum?

saya bisa mendapat pengalaman baru.

dengan pendekatan

Jelaskan pendapatmu!

inkuiri

Bagaimana kesanmu setelah

Metode pembelajaran seperti ini lebih

mengikuti proses

mudah dimengerti dan dapat

pembelajaran kimia dengan

dikembangkan oleh kita.

pendekatan seperti ini


(inkuiri) ?
3

Apakah pembelajaran ini

Ya menarik, karena dalam

menarik menurutmu?

pembelajran ini dapat berbagi

Jelaskan pendapatmu!

pendapat dengan anggota kelompok


lain.

Kegiatan apa saja kamu

Merumuskan masalah, hipotesis,

lakukan selama kegiatan

berdiskusi dan juga tanya jawab.

praktikum berlangsung?

Apakah kamu menemukan

Ya. Ada beberapa kesulitan yang saya

kesulitan selama praktikum

hadapi, yaitu dalam berhipotesis atau

berlangsung? Jika ya

menduga-duga suatu masalah, juga

kesulitan apa yang kamu

dalam merumuskan masalah. Hal ini

hadapi, jika tidak apa

karena baru buat kami. Kami terbiasa

alasanmu!

dibimbing oleh guru.

Menurutmu, apakah

Sangat efektif, karena saya dapat

pembelajaran seperti ini

mengembangkan pemikiran saya

efektif untuk dilakukan?

sendiri dan masalah yang saya hadapi.

Berikan alasanmu!
7

Apakah melalui

Ya. Saya cukup bisa berhipotesis.

pembelajaran ini (inkuiri)

Karena saya sudah mengetahuinya

kalian mampu berhipotesis?

melalui buku, saya sudah baca materi

Apakah kalian berantusias

sistem koloid sebelumnya.

untuk menguji hipotesis

Saya cukup berantusias untuk

kalian?

membuktikan hipotesis saya.

Apakah kamu terlatih

Terlatih, karena saya dapat

bekerja ilmiah melalui

mengetahui hal-hal menarik yang baru

praktikum yang telah

saya ketahui dari praktikum dan

dilakukan. Berikan

pengalaman dari pembelajaran ini.

alasanmu!
Keterampilan

proses sains

Keterampilan apa saja yang

Keterampilan dalam berkomunikasi,

dapat kamu kembangkan

berfikir, berpendapat, memecahkan

melalui pembelajaran

masalah. Karena dalam pembelajaran

seperti ini? Jelaskan

ini kita dituntut untuk tidak

pendapatmu!

mengandalkan guru (belajar dari kita,


oleh kita, dan untuk kita).

10

Dengan pembelajaran

Termotivasi untuk belajar lebih aktif,

seperti ini, apakah kamu

kreatif, dan lebih baik dari

termotivasi untuk membuat

sebelumnya. Selain itu saya berani

pertanyaan dan

bertanya dan mengemukakan

meningkatkan kreativitas

pendapat karena dapat melatih otak

kamu? Berikan alasanmu!

saya untuk berfikir lebih kreatif, dan


saya cenderung banyak ingin tahu.