Anda di halaman 1dari 28

1

Etika Kedokteran bagi Dokter Muslim


Oleh : Dr. Dito Anurogo | 20-Nov2007, 00:53:14 WIB
Latar Belakang Historis
KabarIndonesia - Sebagaimana telah menjadi
karakter umum sarjana Muslim di bidang-bidang
ilmu pengetahuan lainnya, ahli-ahli medis
Muslim adalah penerima-waris yang baik dan
sekaligus pemberi-waris yang produktif. Mereka
dengan penuh antusias dan apresiasi mempelajari
khasanah ilmu pengetahuan dari berbagai tradisi
dan peradaban pra-Islam. Kemudian, secara
kreatif mereka pun mengembangkan ilmu
pengetahuan dengan berbagai cabang yang baru
dalam sebuah cara pandang, paradigma atau
pandangan dunia yang sesuai dengan nilai-nilai
Tauhid dan Islam.
Pada jaman yang kian berkembang ini telah
banyak terjadi berbagai macam kasus yang
memperburuk nama banyak dokter. Beberapa di
antaranya mungkin dikarenakan oleh sikap dan
perilaku seorang Dokter dalam menghadapi dan
melayani pasiennya. Oleh karena itu, dalam
bertugas dan bekerja, seorang dokter memerlukan
suatu etika untuk menjalankan profesinya. Agar
dapat tercapai suatu keserasian, kecocokan dan
komunikasi yang baik antara Dokter dengan
pasien dan lingkungannya. Dalam hal ini kita
membahas tentang etika dokter muslim.

2
Etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang
berarti adat, budi pekerti (bahasa Inggris =
ethics). Di sini etika dapat dipahami sebagai ilmu
mengenai kesusilaan. Dalam filsafat pengertian
etika adalah telah dan penilaian kelakuan
manusia ditinjau dari kesusilaannya. Kesusilaan
yang baik merupakan ukuran kesusilaan yang
disusun bagi diri seseorang atau merupakan
kumpulan keharusan, kumpulan kewajiban yang
dibutuhkan oleh masyarakat atau golongan
masyarakat tertentu bagi anggota-anggotanya.
Dalam hal ini etika bagi para dokter Muslim.
Kadang kesusilaan didasarkan pada agama,
sehingga bilamana yang berkuasa itu agama,
maka agama menjadi guru etika. Dalam
melaksanakan etika terkandung unsur-unsur
pengorbanan bagi sesama manusia dan unsur
dedikasi atau pengabdian terhadap sesama
manusia.
Sebagai suatu pendidikan profesi, pendidikan
kedokteran diharapkan dapat menghasilkan
dokter yang menguasai ilmu teori dan praktik
kedokteran beserta perilaku dan etika yang mulia
pula. Dalam upacara wisuda semua calon dokter
harus mengucapkan sumpah dokter dengan
disaksikan oleh Dekan, Direktur Rumah Sakit,
Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan,
para dosen dan anggota keluarga. Dalam
mengikrarkan sumpah yang didampingi oleh para
pemuka agama, calon dokter berjanji akan
mengamalkan Kode Etik Kedokteran. Dengan
adanya hal tersebut diharapkan kelak para calon

3
dokter akan menjadi dokter yang beretika mulia,
bertanggungjawab dan taat pada hukum yang
berlaku.

Etika bagi para dokter Muslim


Dalam etika kedokteran islam tercantum nilainilai bahwa Quran dan Hadits adalah sumber
segala macam etika yang dibutuhkan untuk
mencapai hidup bahagia dunia akhirat. Etika
kedokteran mengatur kehidupan, tingkah laku
seorang dokter dalam mengabdikan dirinya
terhadap manusia baik yang sakit maupun yang
sehat. Etika kedokteran islam terkumpul dalam
Kode Etik Kedokteran Islam yang bernama
Thibbun Nabawi, yang mengatur hubungan
dokter dengan orang sakit dan dokter dengan
rekannya. Berikut ini dibahas mengenai etika
seorang Dokter muslim terhadap Khalik,
terhadap pasien, dan terhadap sejawatnya:
1. Etika Dokter Muslim terhadap Khalik:
Seorang Dokter Muslim haruslah benar-benar
menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah
semata. Dan betapa tidak berarti dirinya beserta
ilmunya tanpa ijin Allah SAW.
Mengenai etika terhadap Khalik disebutkan
bahwa:
Dokter muslim harus meyakini dirinya sebagai
khalifah fungsionaris Allah dalam bidang
kesehatan dan kedokteran.

4
Melaksanakan profesinya karena Allah dan
buah Allah.
Hanya melakukan pengobatan, penyembuhan
adalah Allah.
Melaksanakan profesinya dengan iman supaya
jangan merugi.
2. Etika Dokter Muslim terhadap pasien:
Hubungan antara dokter dengan pasien adalah
hubungan antar manusia dan manusia. Dalam
hubungan ini mungkin timbul pertentangan
antara dokter dan pasien, karena masing-masing
mempunyai nilai yang berbeda. Masalah
semacam ini
akan dihadapi oleh Dokter yang bekerja di
lingkungan dengan suatu sistem yang berbeda
dengan kebudayaan profesinya.
Untuk melaksanakan tugasnya dengan baik, tidak
jarang dokter harus berjuang lebih dulu melawan
tradisi yang telah tertanam
dengan kuat. Dalam hal ini, seorang Dokter
Muslim tidak mungkin memaksakan kebudayaan
profesi yang selama ini dianutnya.
Mengenai etika kedokteran terhadap orang sakit
antara lain disebutkan bahwa seorang Dokter
Muslim wajib:
Memperlihatkan jenis penyakit, sebab musabab
timbulnya penyakit, kekuatan tubuh orang sakit,
keadaan resam tubuh yang tidak sewajarnya,
umur si sakit dan obat yang cocok dengan musim
itu, negeri si sakit dan keadaan buminya, iklim di

5
mana
ia sakit, daya penyembuhan obat itu.
Di samping itu dokter harus memperhatikan
mengenai tujuan pengobatan, obat yang dapat
melawan penyakit itu, cara yang mudah dalam
mengobati penyakit.
Selanjutnya seorang dokter hendaknya
membuat campuran obat yang sempurna,
mempunyai pengalaman mengenai penyakit jiwa
dan pengobatannya, berlaku lemah lembut,
menggunakan cara keagamaan dan sugesti, tahu
tugasnya.
3. Etika Dokter Muslim terhadap Sejawatnya:
Para Dokter di seluruh dunia mempunyai
kewajiban yang sama. Mereka adalah kawankaawn seperjuangan yang merupakan kesatuan
aksi dibaawh panji perikemanusiaan untuk
memerangi penyakit, yang merupakan salah satu
pengganggu keselamatan dan kebahagiaan umat
manusia. Penemuan dan pengalaman baru
dijadikan milik bersama. Panggilan suci yang
menjiwai hidup dan perbuatan telah
mempersatukan mereka menempatkan para
Dokter pada suatu kedudukan yang terhormat
dalam masyarakat. Hal-hal tersebut menimbulkan
rasa persaudaraan dan kesediaan tolongmenolong yang senantiasa perlu dipertahankan
dan dikembangkan.
Mengenai etika yang bagi Dokter Muslim kepada
Sejawatnya yaitu :
Dokter yang baru menetap di suatu tempat,

6
wajib mengunjungi teman sejawatnya yang telah
berada di situ. Jika di kota yang terdapat banyak
praktik dokter, cukup dengan memberitahukan
tentang pembukaan praktiknya kepada teman
sejawat yang berdekatan.
Setiap Dokter menjadi anggota IDI setia dan
aktif. Dengan menghadiri pertemuan-pertemuan
yang diadakan.
Setiap Dokter mengunjungi pertemuan klinik
bila ada kesempatan. Sehingga dapat dengan
mudah mengikuti perkembangan ilmu teknologi
kedokteran.
Sifat-sifat penting lain yang harus dimiliki oleh
seorang Dokter Muslim ialah :
Adanya belas kasihan dan cinta kasih terhadap
sesama manusia, perasaan sosial yang
ditunjukkan kepada masyarakat.
Harus berbudi luhur, dapat dipercaya oleh
pasien, dan memupuk keyakinan profesional.
Seorang dokter harus dapat dengan tenang
melakukan pekerjaannya dan harus mempunyai
kepercayaan kepada diri sendiri.
Bersikap mandiri dan orisinal karena
pengetahuan yang diwarisi secara turun temurun
dari buku-buku masih jauh memadai.
Ia harus mempunyai kepribadian yang kuat,
sehingga dapat melakukan pekerjaanya di dalam
keadaan yang serba sulit. Dan tentunya tidak
menyimpang dari ketentuan-ketentuan agama.
Seorang dokter muslim dilarang membedabedakan antara pasien kaya dan pasien miskin.
Seorang dokter harus hidup seimbang, tidak

7
berlebih-lebihan, tidak membuang waktu serta
energi dengan menikmati kesenangan dan
kenikmatan.
Sebagian besar waktunya harus dicurahkan
kepada pasien,
Seorang dokter muslim harus lebih banyak
mendengar dan lebih sedikit bicara,
Seorang dokter muslim tidak boleh berkecil hati
dan harus merasa bangga akan profesinya karena
semua agama menghormati profesi dokter.
Istilah Arab untuk menyebut dokter adalah
hakim, salah satu nama Allah yang berarti orang
yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan.
Kasus yang menyangkut etika dokter muslim
dalam praktek.
Kesalehan seorang dokter ditekankan oleh
kalangan pengobatan Yunani, sebagaimana
seorang dokter dianggap sebagai penjaga tubuh
dan jiwa. Ihwal etika medis dalam islam, seperti
halnya etika secara umum, terdapat dua pengaruh
langsung, yaitu dari bangsa Yunani dan Iran.
Banyak kasus-kasus yang dipertentangkan.
Seperti misalnya:
Bolehkah seorang dokter meminta bayaran?
Jika ya, seberapa besar? Hal tersebut merupakan
masalah yang terus diperdebatkan dalam islam.
Masalah ini tampaknya merupakan bagian dari
masalah yang lebih besar: Bolehkah seorang
guru, terutama guru agama, menerima bayaran.

8
Bahkan dewasa ini sebagian kalangan tetap
mengharamkan meminta bayaran dalam
pengajaran Al Quran dan penyebarluasan ilmu
keagamaan. Menurut sebuah hadits Nabi,
diperbolehkan membayar seorang dokter untuk
pelayanan medisnya. Al-Dzahabi mengisahkan
suatu hari sekelompok sahabat Muslim tiba di
sebuah suku tertentu, yang memperlakukan
mereka dengan ramah. Tiba-tiba salah satu
anggota suku tersebut digigit ular dan para
pengembara itu dimintai tolong untuk
menyembuhkan. Kemudian orang yang tergigit
tersebut sembuh dan suku membayar sejumlah
seratus ekor kambing. Sebuah transaksi yang
dibolehkan oleh Rasulullah. Dari sinilah legalitas
untuk meminta bayaran atas perawatan itu
bermula. Namun banyak kalangan yang tidak
setuju untuk mencari nafkah dari orang sakit.
Bolehkah seorang dokter Muslim melakukan
transplantasi organ?
Seringkali terdapat kasus mengensi organ tubuh
seorang pasien yang tidak dapat berfungsi
dengan baik lagi. Tidak ada cara untuk
mengobatinya kecuali dengan transplantasi organ
(seperti mata, jantung dan lain sebagainya) dari
orang yang telah meninggal. Hingga kini
pendapat agama menentang keras praktik ini.
Terdapat suatu hukum klasik yang menyebutkan
bahwa Kebutuhan manusia hidup menjadi
prioritas dibandingkan manusia mati. Tetapi
ketika seorang ulama terkemuka ditanya
mengenai persoalan tersebut, Beliau menjawab

9
negatif. Namun sikap masyarakat secara umum
positif terhadap masalah transplantasi organ
tubuh, meskipun ada ketidaksetujuan dari kaum
ulama.
Bolehkah seorang dokter Muslim melakukan
pengembangan bayi tabung?
Pengembangan bayi tabung tidak dilarang dalam
islam asalkan penyatuan terjadi antara gen suami
dan istri. Kekhawatiran bahwa proses ini
mencampuri kehendak Allah sama sekali tidak
berdasar. Prosesnya sama dengan pembenihan
bibit tanaman dalam suatu kondisi yang
terkendali, kemudian dipindahkan ketempat yang
tepat ketika bibit tersebut telah cukup kuat untuk
tumbuh di tempat itu. Yang dikhawatirkan
bukanlah bahwa orang mencoba menyaingi
Allah dengan melakukan hal tersebut,
melainkan jika orang mencoba bersaing dengan
setan dan menyimpangkan sifat manusia. Islam
tidak mengizinkan penyatuan gen antara laki-laki
dan perempuan yang bukan suami istri karena itu
merupakan perzinaan.
Bolehkah seorang Dokter Muslim mekakukan
tindakan euthanasia?
Euthanasia merupakan suatu masalah yang
banyak menarik perhatian dan banyak
dibicarakan orang. Euthanasia (dari bahasa
Yunani, eu = baik, thanatos = mati) secara
etimologi berarti mati yang baik atau mati
yang tenang. Kemudian pengertian euthanasia
berkembang, karena adanya perbedaan titik

10
pandang dalam menjelaskan mati yang baik.
Akibatnya timbul berbagai definisi mengenai
euthanasia. Euthanasia banyak dilakukan sejak
jaman dahulu kala dan banyak memperoleh
dukungan tokoh-tokoh besar dalam sejarah.
Tetapi dalam agama terdapat beberapa pendapat
yang tidak membenarkan hal tersebut. Berdasar
bahwa Allah-lah yang menentukan kapan
seseorang harus mati.

Etika pasien terhadap dokter


Menurut pendapat Abu Bakar Al-Razi, bahwa
baik pasien maupun dokter harus memenuhi
etika. Beliau menganjurkan pasien agar
mengikuti dangan ketat perintah dokter,
Menghormati dokter, dan
Menganggap dokter sebagai sahabat terbaiknya.
Pasien harus berhubungan langsung dengan
dokter dan
Tidak boleh merahasiakan penyakit yang
diderita.
Dan tentu akan lebih baik jika orang meminta
nasehat dokter tentang cara menjaga kesehatan
sebelum membutuhkan pengobatan. Bahwa
pencegahan lebih baik daripada pengobatan
merupakan sebuah prinsip yang dianjurkan oleh
semua dokter, termasuk para dokter Muslim.

Sifat etika kedokteran Islam

11
Pakar Andrologi Prof. dr. Muhammad Kamil
Tadjudin, Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan (FKIK) UIN Jakarta, mengatakan,
etika kedokteran dalam Islam mempunyai sifat
yang tetap. Berbeda dengan etika kedokteran
sekuler yang cenderung berubah-ubah.
Etika kedokteran Islami, menurut Beliau,
mempunyai perbedaan secara mendasar dengan
etika kedokteran sekuler. Etika kedokteran Islami
diturunkan dari tradisi dan kepercayaan agama,
sehingga bentuknya akan tetap untuk selamanya.
Sebaliknya etika kedokteran sekuler dirumuskan
oleh masyarakat yang sikapnya berubah-ubah.
Contohnya adalah sikap tentang aborsi yang
berkisar antara sikap melarang semua bentuk
aborsi sampai diperbolehkannya aborsi atas
permintaan, paparnya. Demikian pula halnya
sikap terhadap gay dan euthanasia, yang juga
berkisar dari pelarangan penuh sampai
diperbolehkan dengan indikasi tertentu.
Beliau juga mengatakan, antara etika kedokteran
Islami dan kedokteran sekuler memiliki
perbedaan mendasar, misalnya etika tentang
pemberian nasihat moral terhadap seorang
pasien. Sebagai contoh, jika ada seorang pasien
yang mengadakan chek up pada seorang dokter
Muslim dan dia mendapat keterangan bahwa
orang itu sering minum alkohol, maka, walaupun
orang itu sehat, wajib bagi dokter Muslim
memberi nasihat untuk tidak minum alkohol.
Sementara dalam etika kedokteran sekuler,

12
nasihat moral itu mungkin tidak dilakukan,
meskipun alkohol menimbulkan bahaya, baik
bagi diri maupun masyarakat sekitar. Contoh
nasihat moral lainnya adalah tentang pencegahan
penyakit kelamin terhadap para lelaki hidung
belang.
Menurut Tadjudin, seorang dokter sekuler
mungkin akan menganjurkan penggunaan
kondom, sedangkan seorang dokter Muslim akan
menasihatkan abstinensi.
Kasus yang sama juga terjadi terhadap isu-isu
kontemporer kedokteran, seperti reproduksi
berbantuan atau pembuahan telur di luar rahim
melalui fertilisasi (bayi tabung). Dalam kasus ini,
menurut Tadjudin, dalam pandangan etika
kedokteran Islam hal itu dibolehkan jika
dilakukan dengan sel kelamin (sperma dan telur)
yang berasal dari suami-istri yang sah. Tapi jika
penggunaan sperma atau telur itu bukan berasal
dari suami-istri yang sah tidak dapat dibenarkan,
termasuk penggunaan rahim yang lain dari
wanita yang mempunyai telur untuk
membesarkan blastosis, jelasnya.
Alasan tidak boleh rahim wanita lain yang
mempunyai telur untuk membesarkan blastosis,
jelas Tadjudin, karena akan timbul masalah
keturunan, yakni siapa ibu sebenarnya (dari
anak hasil pembuahan itu). Padahal, al-Qur'an
surat al-Furqan ayat 5 menyebutkan: Dan Dia
yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia

13
menjadikannya mempunyai keturunan dan
mushaharah dan Tuhanmu senantiasa Maha
Kuasa.
Selain tidak jelasnya masalah keturunan tadi,
tambah Ketua Badan Akreditasi Nasional
Perguruan Tinggi (BAN-PT) itu, juga timbul
masalah baru, apakah memasukkan sperma atau
blastosis asing ke dalam rahim seorang wanita
tidak merupakan tindakan yang dapat
digolongkan zina?. Meski demikian, Tadjudin
tidak menampik bila sementara kalangan yang
berpendapat bahwa menanamkan blastosis yang
berasal dari sperma dan telur sepasang suami-istri
ke perempuan lain adalah analog dengan
menyusui anak orang lain atau bagi perempuan
penerima blastosis itu analog dengan ibu susu.

Kode etik islam bidang kedokteran


Kode etik islam untuk bidang kedokteran akan
segera diberlakukan. Hal ini telah dibahas
melalui Konferensi ke-8 Organisasi Ilmu
Kedokteran Islam, yang berlangsung di Kairo,
Mesir. Konferensi ini ditutup dengan
disetujuinya draft pedoman etika ilmu kedokteran
internasional pertama yang berbasis pada
perspektif Islam.
Draft yang berjudul 'Kode etik Islam bidang
kedokteran dan kesehatan' tersebut, materinya
akan disempurnakan, diedit dan akan diterbitkan

14
oleh Organisasi Ilmu Kedokteran Islam (IOMS).
Ide untuk menerbitkan kode etik Islam di bidang
kedokteran ini muncul sejak tahun 1981, ketika
IOMS berinisiatif untuk mengadaptasi dokumen
tentang etika kedokteran Islam hasil dari
konferensi di Kuwait. Dokumen itu antara lain
menyebutkan, 'Manusia harus diperlakukan
seperti apa yang digariskan Tuhan di mana Dia
menetapkan bahwa umatnya sebagai khalifahnya
di bumi.'
Konferensi yang dimulai tanggal 11 Desember
2004, diselenggarakan oleh IOMS bekerjasama
dengan Organisasi Kebudayaan, Ilmu
Pengetahuan dan Pendidikan Islam (ISESCO),
Dewan Organisasi Internasional Ilmu Kedokteran
(CIOMS), Ajman University Network dan
Organisasi Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan
Pendidikan PBB (UNESCO). Konferensi itu
dihadiri oleh tokoh-tokoh Islam terkemuka seperi
Sheikh Yusuf Al-Qaradawi dan Haytham AlKhayat.
Dalam acara penutupan, para peserta konferensi
telah menyepakati 14 rekomendasi untuk
mengembangkan dan memungkinkan kode etik
Islam bidang kedokteran itu diberlakukan.
Menteri-menteri pendidikan, rektor di sekolahsekolah kedokteran di negara Arab dan negara
Islam diminta untuk mulai memasukkan dan
mengenalkan kode etik dalam kurikulum
pendidikannya.

15
Usulan lainnya yang muncul adalah
mensosialisasikan kode etik yang baru ini
melalui situs-situs milik lembaga kedokteran dan
kesehatan. Kode etik islam bidang kedokteran ini
bukan hanya untuk kalangan kedokteran
profesional, tapi juga untuk keluarga dan
masyarakat pada umumnya, seperti diungkapkan
oleh Dr. Mu'men S. Hadidi, Kepala Institut
Nasional Kedokteran Forensik dari Yordania.
Setelah konferensi ini, kantor WHO wilayah
Mediterania Timur akan bekerja sama dengan
menteri-menteri kesehatan di wilayah itu akan
membentuk komite ad hoc yang akan
menindaklanjuti penyusunan kode etik tersebut.
Sebelumnya, IOMS akan merancang sebuah
workshop untuk menggali masukan bagaimana
kode etik ini nantinya akan bermanfaat dan
menyebarluaskannya ke seluruh kalangan
profesional di dunia kesehatan.
Dalam pidatonya, Ketua IOMS, Dr. Abd AlRahman El-Awady mengusulkan adanya
penggalangan dana dari kalangan Muslim untuk
membiayai riset-riset di bidang kesehatan di
negara-negara Islam. Sementara itu, Kepala
Ajman University Network, Dr. Saed Salman,
mengusulkan diselenggarakannya konferensi
yang membahas masalah etika yang berkaitan
dengan industri farmasi dan riset tentang obatobatan.
Konferensi ke-8 IOMS juga membahas tentang

16
hubungan antara dokter dan pasiennya termasuk
soal praktek kedokteran, kewajiban dan tanggung
jawabnya, serta masalah riset di bidang biomedis
yang melibatkan bagian tubuh manusia. Para
dokter dan ilmuwan dalam konferensi itu juga
membahas isu-isu sensitif seperti soal bayi
tabung, euthanasia dan rekayasa jenis kelamin
bayi.

HUBUNGAN DOKTER PASIEN


Hubungan antara dokter dan pasien dalarr ilmu
kedokteran umumnya berlangsung sebagai
hubungan biomedis aktif-pasif.
Dalam hubungan tersebut rupanya hanya terlihat
superioritas dokter terhadap pasien dalam bidang
ilmu biomedis; hanya ada kegiatan pihak dokter
sedangkan pasien tetap pasif. Hubungan ini berat

17
sebelah dan tidak sempurna, karena merupakan
suatu pelaksanaan wewenang oleh yang satu
terhadap lainnya. Oleh karena hubungan dokterpasien merupakan hubungan antar manusia, lebih
dikehendaki hubungan yang mendekati persamaan
hak antar manusia.
Jadi hubungan dokter yang semula bersifat
patemalistik akan bergeser menjadi hubungan yang
dilaksanakan dengan saling mengisi dan saling
ketergantungan antara kedua belah pihak yang di
tandai dengan suatu kegiatan aktif yang saling
mempengaruhi. Dokter dan pasien akan
berhubungan lebih sempurna sebagai partner.
Sebenamya pola dasar hubungan dokter dan pasien,
terutama berdasarkan keadaan sosial budaya dan
penyakit pasien dapat dibedakan dalam tiga pola
hubungan, yaitu:
1. Activity passivity.
Pola hubungan orangtua-anak seperti ini merupakan
pola klasik sejak profesi kedokteran mulai
mengenal kode etik, abad ke 5 S.M. Di sini dokter
seolah-olah dapat sepenuhnya melaksanakan
ilmunya tanpa campur tangan pasien.
Biasanya hubungan ini berlaku pada pasien yang
keselamatan jiwanya terancam, atau sedang tidak
sadar, atau menderita gangguan mental berat.
2. Guidance Cooperation.
Hubungan membimbing-kerjasama, seperti hainya
orangtua dengan remaja. Pola ini ditemukan bila
keadaan pasien tidak terlalu berat misalnya penyakit
infeksi baru atau penyakit akut lainnya. Meskipun
sakit, pasien tetap sadar dan memiliki perasaan serta
kemauan sendiri. la berusaha mencari pertolongan

18
pengobatan dan bersedia bekerjasama. Walau pun
dokter rnengetahui lebih banyak, ia tidak sematarna ta menjalankan kekuasaan, namun meng
harapkan kerjasama pasien yang diwujudkan
dengan menuruti nasihat atau anjuran dokter.
3. Mutual participation.
Filosofi pola ini berdasarkan pemikiran bahwa
setiap manusia memiliki martabat dan hak yang
sarna. Pola ini terjadi pada mereka yang ingin
memelihara kesehatannya seperti medical check up
atau pada pasien penyakit kronis. Pasien secara
sadar dan aktif berperan dalam pengobatan terhadap
dirinya. Hal ini tidak dapat diterapkan pada pasien
dengan latar belakang pendidikan dan sosial yang
rendah, juga pada anak atau pasien dengan
gangguan mental tertentu.
Hubungan dokter dan pasien, secara hukum
umumnya terjadi melalui suatu perjanjian atau
kontrak. Di mulai dengan tanya jawab (anarnnesis)
antara dokter dan pasien, kemudian diikuti dengan
pemeriksaan fisik, akhirnya dokter rnenegakkan
suatu diagnosis. Diagnosis ini dapat merupak suatu
working diagnosis atau diagnosis semenrars, bisa
juga merupakan diagnosis yang definitif. Setelah itu
dokter biasanya merencanakan suatu terapi dengan
memberikan resep obat atau suntikan atau operasi
atau tindakan lain dan disertai nasihat-nasihat yang
perlu diikuti agar kesembuhan lebih segera dicapai
oleh pasien. Dalam proses pelaksanaan hubungan
dokter pasien tersebut, sejak tanya jawab sampai
dengan Perencanaan terapi, dokter melakukan
pencatatan dalam suatu Medical Records (Rekam

19
Medis). Pembuatan rekam medis ini merupakan
kewajiban dokter sesuai dengan dipenuhinya
standar profesi medis. Dalam upaya menegakkan
diagnosis atau melaksanakan terapi, dokter biasanya
melakukan suatu tindakan medik. Tindakan medik
tersebut ada kalanya atau sering dirasa menyakitkan
atau menimbulkan rasa tidak menyenangkan. Secara
material, suatu tindakan medis itu sifatnya tidak
bertentangan dengan hukum apabila memenuhi
syarat-Syarat sebagai berikut:
1. rnempunyai indikasi medis, untuk mencapai
suatu tujuan yang konkrit.
2. dilakukan menurut aturan-aturan yang berlaku di
dalam ilmu kedokteran.
kedua syarat ini dapat juga disebut seba bertindak
secara lege artis.
3. harus sudah mendapat persetujuan dahulu dari
pasien.
Secara yuridis sering dipermasalahkan apakah
tindakan medis itu dapat dimasukkan dalam
pengertian penganiayaan. Akan tetapi dengan
dipenuhinya ketiga syarat tersebut di atas hal ini
menjadi jelas. Sebenarnya kualifikasi yuridis
mengenai tindakan medis tidak hanya mempunyai
arti bagi hukum pidana saja, melainkan juga bagi
hukum perdata dan hukum administratif. Dalam
hukum administratif, masalahnya berkenaan antara
lain dengan kewenangan yuridis untuk melaku
tindakan medis. Dokter yang berpraktek harus
mempunyai izin praktek yang sah. Ditinjau segi
hukum perdata, tindakan medis merupakan

20
pelaksanaan suatu perikatan (perjanjian) antara
dokter dan pasien. Apabila tidak terpenuhinya
syarat suatu perikatan, misalnya pada pasien tidak
sadar maka keadaan ini bisa dikaitkan dengan K U
H Perdata pasal 1354 yaitu yang mengatur
zaakwaarnemingatau perwakilan sukarela, yaitu
suatu sikap tindak yang pada dasar nya merupakan
pengambil-alihan peranan orang lain yang
sebenarnya bukan merupakan kewajiban si
pengambil-alih itu, namun tetap melahirkan
tanggung jawab yang harus di pikul oleh si
pengambil-alih tersebut atas segala sikap tindak
yang dilakukannya.
Dalam ilmu hukum dikenal dua jenis perjanjian,
yaitu
1. resultaatsverbintenis, yang berdasarkan hasil
kerja, artinya suatu perjanjian yang akan
memberikan resultaat atau hasil yang nyata sesuai
dengan apa yang diperjanjikan.
2. inspanningsverbintenis, yang berdasarkan usaha
yang maksimal (perjanjian upaya, artinya kedua
belah pihak berjanji atau sepakat untuk berdaya
upaya secara maksimal untuk mewujudkan apa
yang diperjanjikan
Pada umumnya, secara hukum hubungan dokterpasien merupakan suatu hubungan ikhtiar atau
usaha maksimal. Dokter tidak menjanjikan
kepastian kesembuhan, akan tetapi berikhtiar
sekuatnya agar pasien sembuh. Meskipun

21
demikian, mungkin ada hubungan hasil kerja pada
keadaan-keadaan tertentu seperti pembuatan gigi
palsu atau anggota badan palsu, oleh dokter gigi
atau ahli orthopedi.
Perbedaan antara kedua jenis perjanjian tersebut
secara yuridis terletak pada beban pembuktiannya.
Pada inspanningsverbintenis, penggugat yang harus
mengajukan bukti-bukti bahwa terdapat kelalaian
pada pihak dokter atau rumah sakit sebagai
tergugat. Sebaliknya pada resultaatverbintenis,
beban pembuktian terletak pada dokter.
Menurut Subekti suatu perjanjian adalah suatu
peristiwa bahwa seseorang berjanji kepada orang
lain atau antara dua orang itu saling berjanji untuk
melaksanakan sesuatu hal.
Untuk sahnya perjanjian terapetik, sebagaimana
lazimnya ketentuan mengenai perjanjian, maka
harus dipenuhi syarat-syarat (unsur-unsur) yang
ditentukan dalam Pasal 1320 K U H Perdata,
sebagai berikut:
1 . Kesepakatan dari pihak-pihak yang
bersangkutan,
2, Kecakapan untuk membuat suatu perikatan,
3. mengenai Suatu hal tertentu, dan
4. Suatu sebab yang halal/diperbolehkan.
Dari keempat syarat tersebut, syarat 1 dan 2
merupakan syarat subyektif yang harus dipenuhi,
yaitu para pihak harus sepakat, dan kesepakatan itu
dilakukan oleh pihak-pihak yang cakap untuk

22
membuat suatu perjanjian (persyaratan dari subjek
yang melakukan kontrak medis), sedangkan syarat
3 dan 4 adalah tentang objek kontrak medis
tersebut. Apabila dilihat terutama dari persyaratan
subyektifnya, maka perjanjian medis mempunyai
keunikan tersendiri yang berbeda dengan
perjanjian pada umumnya.
Ad. 1. Kesepakatan
Dalam kesepakatan harus memenujhi kriteria Pasal
1321 KUH Perdata, tiada sepakat yang sah apabila
sepakat itu diberikan karena kekhilafan, atau
diperolehnya dengan paksaan atau penipuan. Jadi
secara yuridis bahwa yang dimaksud dengan
kesepakatan adalah tidak adanya kekhilafan,
paksaan, atau penipuan dari para pihak yang
mengikatkan dirinya. Sepakat ini merupakan
persetujuan yang dilakukan oleh kedua belah pihak,
dimana kedua belah pihak mempunyai persesuaian
kehendak yang dalam transaksi terapetik pihak
pasien setuju untuk diobati oleh dokter, dan dokter
pun setuju untuk mengobati pasiennya. Agar
kesepakatan ini sah menurut hukum, maka di dalam
kesepakatan ini para pihak harus sadar (tidak ada
kekhilafan) terhadap kesepakatan yang dibuat, tidak
boleh ada paksaan dari salah satu pihak, dan tidak
boleh ada penipuan di dalamnya. Untuk itulah
diperlukan adanya informed consent (persetujuan
tindakan medik)
Dalam perjanjian medis, tidak seperti halnya
perjanjian biasa, terdapat hal-hal khusus. Di sini
pasien merupakan pihak yang meminta pertolongan
sehingga relatif lemah kedudukannya dibandingkan

23
dokter. Oleh karena itu syarat ini menjelma dalam
bentuk informed consent, suatu hak pasien untuk
mengizinkan dilakukannya suatu tindakan medis.
Secara yuridis informed consent merupakan suatu
kehendak sepihak, yaitu dari pihak pasien. Jadi
karena surat persetujuan tersebut tidak bersifat
suatu persetujuan yang murni, dokter tidak harus
turut menandatanganinya. Di samping itu pihak
pasien dapat membatalkan pernyataan setujunya
setiap saat sebelum tindakan medis dilakukan.
Padahal menurut K U H Perdata pasal 1320, suatu
perjanjian hanya dapat dibatalkan atas persetujuan
kedua belah pihak; pembatalan sepihak dapat
mengakibatkan timbulnya gugatan ganti kerugian.
Ad. 2. Kecakapan
Pasal 1329 KUH Perdata: setiap orang adalah cakap
untuk membuat perikatan-perikatan, jika ia oleh uu
tidak dinyatakan tak cakap.
Seseorang dikatakan cakap-hukum apabila ia pria
atau wanita telah berumur minimal 21 tahun, atau
bagi pria apabila belum berumur 21 tahun tetapi
telah menikah. Pasal 1330 K U H Perdata,
menyatakan bahwa seseorang yang tidak cakap
untuk mernbuat perjanjian adalah
a. orang yang belum dewasa; ( Pasal 330 K U H
Perdata adalah belum berumur 21 tahun dan belum
menikah)
b. mereka yang ditaurh dibawah pengampuan
(Berada dibawah pengampuan, yaitu orang yang
telah berusia 21 tahun tetapi dianggap tidak mampu
karena ada gangguan mental)
c. orang-orang perempuan, dalam hal yang

24
ditetapkan oleh undang-undang, dan (dalarn hal ini
masih berstatus istri) pada umumnya semua orang
kepada siapa uu telah melarang mernbuat
perjanjian-perjanjian tertentu.
Oleh karena perjanjian medis mempunyai sifat
khusus maka tidak semua ketentuan hukum
perdata di atas dapat diterapkan. Peraturan Menteri
Kesehatan RI. No.: 585/MEN-KES/PER/IX/1989
Pasal 8 ayat (2) yang dimaksud dewasa adalah telah
berumur 21 tahun atau telah menikah. Jadi untuk
orang yang belum berusia 21 tahun dan belum
menikah maka transaksi terapetik harus
ditandatangani oleh ortu atau walinya yang
merupakan pihak yang berhak memberikan
persetujuannya. Hal ini perlu dipertimbangkan
dalam prakteknya. Dokter tidak mungkin menolak
mengobati pasien yang belum berusia 21 tahun
yang datang sendirian ke tempat prakteknya. Untuk
mengatasi hal tersebut ketentuan hukum adat yang
rnenyatakan bahwa seseorang dianggap dewasa
bila ia telah kuat gawe (bekerja), mungkin dapat
dipergunakan. (orang dewasa yang tidak cakap
seperti orang gila, tidak sadar maka diperlukan
peresetujuan dari pengampunya) sedang anak
dibwah umur dari wali/ortunya.
Pasal 108 K U H Perdata, menyebutkan bahwa
seorang istri, memerlukan izin tertulis dari
suaminya untuk membuat suatu perjanjian. Akan
tetapi surat edaran Mahkamah Agung No 3/1963
tanggal 4 Agustus 1963 menyatakan bahwa tidak
adanya wewenang seorang istri untuk melakukan
perbuatan hukum dan untuk menghadap di

25
pengadilan tanpa izin atau tanpa bantuan suaminya,
tidak berlaku lagi. Jadi wanita yang berstatus istri
yang sah diberi kebebasan untuk membuat
pedanjian.
Ad. 3. Hal tertentu
Ketentuan mengenai hal tertentu ini, menyangkut
objek hukum atau benda nya (dalam hal ini jasa)
yang perlu ditegaskan ciri-cirinya. Dalam suatu
perjanjian medis umumnya objeknya adalah usaha
penyembuhan, di mana dokter/R.S, harus
berusaha semaksimal mungkin untuk
menyembuhkan penyakit pasien. Oleh karena itu
secara yuridis, kontrak terapeutik itu umumnya
termasuk jenis inspanningsverbintenis, di mana
dokter tidak memberikan jaminan akan pasti
berhasil menyembuhkan penyakit tersebut.
Ad. 4. Sebab yang halal
Dalam pengertian ini, pada objek hukum yang
meniadi pokok perjanjian tersebut harus melekat
hak yang pasti dan diperbolehkan menurut hukum.
Dengan perkataan lain objek hukum tersebut harus
memiliki sebab yang diizinkan. K U H Perdata
pasal 337 menyatakan bahwa suatu sebab adalah
terlarang apabila bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan, kesusilaan atau ketertiban
umum. Misalnya dokter dilarang melakukan abortus
provocatus crirninalis menurut K U H P pasal 344.
Apabila objek perjanjian medis ditinjau dari sudut
pandang ilmu kedokteran maka kita dapat
merincinya melalui upaya yang umum dilakukan
dalam suatu pelayanan kesehatan atau pelayanan

26
medis. Tahapan pelayanan kesehatan bisa dimulai
dari usaha promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif. Jadi variasi objek perjanjian medis
dapat merupakan
1. Medical check-up
Upaya ini bertujuan untuk mengetahui apakah
seseorang berada dalam kondisi sehat atau
cenderung mengalami suatu kelainan dalam taraf
dini. Hal ini berkaitan dengan usaha promotif yang
bertujuan memelihara atau meningkatkan kesehatan
secara umum.
2. Imunisasi
Tindakan ini ditujukan untuk mencegah terhadap
suatu penyakit tertentu bagi seseorang yang
mempunyai risiko terkena. Misalnya anggota
keluarga dari pasien yang menderita Hepatitis B,
dianjurkan sekali untuk mendapatkan vaksinasi
Hepatitis B. Usaha preventif ini bersifat spesifik
untuk mencegah penularan penyakit Hepatitis B.
3. Keluarga Berencana
Pasangan suami istri yang ingin mencegah kelahiran
atau ingin mempunyai keturunan, secara umum
mereka berada dalam keadaan sehat. Usaha ini
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan
kebahagiaan keluarga secara umum.
4. Usaha penyembuhan penyakit
Sifat tindakan di sini adalah kuratif, Untuk
menyembuhkan penyakit yang akut atau relatif
belum terlalu lama di derita.

27
5. Meringankan penderitaan
Umumnya dokter memberikan obat-obat yang
simptomatis sifatnya, hanya menghilangkan gejala
saja, karena penyebab Penyakitnya belum dapat
diatasi. Misalnya obat-obat penghilang rasa nyeri.
6 . Memperpanjang hidup
Seperti halnya ad.5. , di sini pun penyakit pasien
belum dapat diatasi sepenuhnya sehingga sewaktuwaktu perlu dilakukan tindakan medis tertentu.
Misalnya pada pasien gagal ginjal yang
memerlukan cuci darah.
7. Rehabilitasi
Tindakan medis yang dilakukan untuk rehabilitasi
umumnya dilakukan terhadap pasien yang cacat
akibat kelainan bawaan atau penyakit yang di dapat
seperti luka bakar atau trauma. Ada pula mereka
yang sebenamya sehat tetapi merasa kurang cantik
sehingga menginginkan dilakukan suatu bedah
kosmetik. Tindakan ini yang kadang menimbulkan
masalah apabila harapan yang didambakan untuk
memperoleh kecantikan yang dijanjikan tidak
terpenuhi.
Secara yuridis semua upaya tindakan medis tersebut
di atas dapat menjadi objek hukum yang sah. Akan
tetapi bentuk perjanjian medisnya harus jelas
apakah inspanningsverbintenis atau suatu
resultaatsverbintenis. Hal ini penting dalam
kaitamya dengan beban pembuktian apabila
terjadi suatu gugatan hukum. Akan tetapi apabila

28
dokter bekerja sesuai dengan standar profesinya dan
tidak ada unsur kelalaian serta hubungan dokterpasien merupakan hubungan yang saling penuh
pengertian, umumnya tidak akan ada
permasalahan yang menyangkut jalur hukum.