Anda di halaman 1dari 9

1

Studi Kasus: Bergabungnya China ke dalam WTO serta Konsekuensi-konsekuensinya bagi


BUMN dan Perekonomian Pedesaan
OPINI | 02 February 2013 | 09:06 Dibaca: 1848 Komentar: 0 0
Artikel ini ditulis oleh Ghufron Mustaqim untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Politik dan
Ekonomi China Kontemporer yang diasuh oleh Nur Rachmat Yuliantoro, Ph.D., Ilmu
Hubungan Internasional UGM, 2010. Penulis dapat dihubungi via Twitter atau kontak
melalui email ghufron.mustaqim@yahoo.com. Kunjungi blog pribadinya di
www.ghufronmustaqim.com.

Pengantar

Dalam waktu sekitar 21 tahun, China telah bergerak dari kebijakan isolasi yang diterapkan
oleh Mao Zedong menjadi lebih terintegrasi dengan dunia internasional dan berwawasan
keluar. Pada 11 Desember 2001, China resmi menjadi angota World Trade Organization
(WTO) yang ke-143 setelah disetujui di pertemuan Doha, Qatar. Keanggotaan di WTO ini
merupakan bagian yang sangat penting dalam rangka reformasi ekonomi China.

Sejak Partai Komunis China (PKC) memimpin pada 1949, China telah mengalami
pengalaman-pengalaman sosial dan ekonomi dimana kesengsaraan menjadi bagian
takterpisahkan. Mao sebagai pemimpin China pada masa itu mengeluarkan kebijakan Great
Leap Forward pada 1958 yang bertujuan untuk memodernisasi ekonomi China dengan cara
mengembangkan sektor pertanian dan industri. Usaha ini gagal karena memaksakan
industrialisasi dimana sumber daya belum siap. Dan sebagai akibat banyak tidak terurusnya
lahan pertanian dan banjir, kelaparan yang masif terjadi pada 1959-1960-an, menyebabkan
20 juta orang meninggal sementara jutaan yang lain sakit.

Pada akhir 1970an, Deng Xiaoping menginisiasi reformasi ekonomi China dengan cara lebih
membuka China ke pasar dunia. Dengan prinsipnya, It doesnt not matter whether the cat
was black or white only if it caught mice, Deng secara bertahap mengenalkan pasar bebas
dan mengurangi interfensi penuh negara dalam kegiatan ekonomi masyarakatnyaprinsip
yang dihindari pada masa-masa sebelumnya. Transformasi dilakukan dengan mengubah
indoktrinisasi yang ada di zaman Mao dan menjalankan emansipasi dalam pola pikir
masyarakatnya.

China pertama kali mengutarakan keinginannya untuk bergabung ke dalam WTO sejak 1986,
yang ketika itu bernama General Agreement on Tariffs and Trade. Pada dekade-dekade
selanjutnya, setelah bergabung dengan WTO, China mencatat prestasi ekonomi yang
penting: China pada tahun 2004 berkontribusi bagi sepertiga pertumbuhan ekonomi global,
purchasing power parity 14 persen dari ekonomi global pada 2005 (kedua setelah AS),
devisa melebihi 1.000 milyar dolar AS (lebih besar dari Jepang), dan menjadi eksporter
terbesar dunia saat ini. China menjadi kekuatan ekonomi besar yang sangat berpengaruh di
dunia.

Menarik untuk diperiksa lebih lanjut kemudian adalah, mengapa China masuk ke dalam
WTO? Dan bagaimana konsekuensi-konsekuensi domestik setelahnya?

Sebagai gambaran umum syarat-syarat China masuk WTO, yang bisa dijadikan dasar
penulisan esai ini adalah kewajiban China untuk: a) Menurunkan tariff-tarif impor untuk
berbagai produk, baik itu dari sektor industri maupun pertanian, b) diperbolehkannya
perusahaan luar negeri untuk memasarkan barang-barangnya secara langsung di pasar
China, dan c) pembukaan lebih luas bidang telekomunikasi dan keuangan bagi kompetitorkompetitor luar.

Esai ini tidak akan mencoba menganalisis dinamika politik luar negeri China dan kontestasi
kepentingan politik internasional pada proses aksesi China ke WTO dan konsekuensikonsekuensi darinya. Lebih fokus, esai ringan ini menyajikan konfigurasi politik domestik
China yang memungkinkan dan menegaskan kepentingannya untuk bergabung dalam WTO;
implikasi bagi sektor strategis China yakni BUMN; dan terakhir pembahasan umum
mengenai konsekuensi bagi masyarakat pedasaan China.

Penulis berpendapat bahwa berbicara mengenai implikasi masuknya China menjadi anggota
WTO tidak bisa secara naif disimplifikasi dengan satu posisi: baik itu pro atau kontra, karena
sektor-sektor yang terpengaruh banyak dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Kemiskinan yang masih melekat di China pedesaan memberikan penjelasan bahwa
terintegrasinya China ke ekonomi di dunia berdampak buruk. Namun fakta bahwa China
saat ini menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi dominan dunia mengutarakan
bahwa liberalisasi ekonomi China berdampak baik. Sehingga penulis akan berusaha
menganalis kasus ini secara objektif.

Konfigurasi Politik Domestik dan Bergabungnya China ke dalam WTO

Menemui berbagai kompleksitas untuk bergabung ke dalam WTO, dan fakta bahwa dengan
bergabungnya ke dalam WTO berarti hukum, kebijakan perdagangan, serta regulasi bisnis
domestik China akan berubah secara drastis, mengapa pemimpin-pemimpin China tetap
menganggap bergabung ke dalam WTO adalah langkah penting? Disamping alasan-alasan
politik luar negeri, penting untuk melihat bagimana kondisi domestik China.

Salah satu dari berbagai faktor mendasar yang menekan China masuk ke dalam WTO datang
dari para pendukung liberalisasi China yang menganggap aksesi ke dalam WTO merupakan
langkah wajib dan tak terelakkan bagi kelanjutan proses reformasi. Sebagai contoh, banyak
rencana untuk merestrukturisasi dan merevitalisasi BUMN sejak pertengahan 1980an, tetapi
hanya sedikir progress yang telah dibuat. Prime (2002) mengatakan dengan dibukanya
berbagai sektor bagi kompetisi yang mengizinkan perusahaan-perusahaan luar negeri

masuk, diharapkan BUMN China bisa melakukan berbagai improvisasi untuk menghindari
kekalahan dalam kompetisi tersebut.

China telah menjalankan konsistensi untuk lebih mengorientasikan perekonomiannya ke


arah pasar dan lebih sedikit arahan langsung (direction) dari pemerintah sejak reformasi
yang dimulai pada akhir 1970an. Pada 1993, Kongres Rakyat Nasional (National Peoples
Congress/NPC) mengamandemen konstitusi PKC dan mulai memasukkan hukum-hukum
berkenaan dengan perusahaan (Enterprise Law)mengatur BUMN dan perusahaan asing,
kepemilikan, investasi dan lain sebagainya. Sebelumnya pada 1992, di Kongres Partai ke-14
telah disetujui prinsip ekonomi China yang menganut socialist market economy , untuk
menggantikan socialist commodity economy dan socialist planned economy, yang
berlaku pada periode-periode sebelumnya. Sehingga dalam kaitannya dengan ini, masuknya
China ke dalam WTO bukan sesuatu yang mengherankan, karena hanya kelanjutan langkah
transisi China.

Para reformis setelah masa-Deng menganggap bahwa dengan masuknya China ke WTO,
China akan mendapatkan kesempatan lebih besar untuk mempercepat reformasi dan
pertumbuhan ekonomi, walaupun mereka juga mengakui akan hadirnya ancaman bagi
struktur industri China dan keamanan finansial. Namun mereka tetap berharap, kompetisi
internasional yang semakin intensif dapat memfasilitasi cepatnya reformasi di banyak
BUMN China yang tidak efisien, reformasi birokrasi yang tidak professional, serta
menciptakan banyak industri dan pekerjaan bagi masyarakat. Mereka yakin dengan
masuknya ke dalam WTO China dapat menjadi kekuatan ekonomi dominan dunia dan
melipatgandakan kekayaannya dalam dekade-dekade ke depan.

Tidak diragukan lagi bahwa keputusan China masuk menjadi anggota WTO diakibatkan
karena krisis yang ada di BUMN pada 1990andisebabkan oleh pengelolaan yang tidak
profesional. Namun kebijakan untuk masuk ke dalam WTO hanya akan terjadi ketika figur
pemimpin politik China, yakni Perdana Menteri, memahami desakan ini. Bergantinya rezim
kemimpinan dari Li Peng ke Zhu Rongji adalah faktor penting yang sangat berpengaruh.
Pada masa kepemimpinan Li Peng, performa dari berbagai BUMN sangat buruk, mereka
merugi dan menjadi beban keuangan negara. Hal ini dikarenakan karena Li Peng
memproteksi kepentingan birokrat-birokrat yang diuntungkan dengan sistem perencanaan
ekonomi sebelumnya. Bisa disimpulkan bahwa semangat reformasi Li Peng sangat rendah.

Frustasi dengan buruknya birokrat-birokrat di China, Zhu menginginkan hadirnya kompetitor


dari luar yang bisa menjadi katalis reformasi. Zhu di NPC mengatakan, Chinas economy has
reached the point where it cannot further develop without being restructured.

Perdana Menteri China Zhu Rongji kemudian pada 1999 dalam negosiasi bilateral China-AS,
berhasil mendapatkan dukungan moderat dari AS untuk masuknya China menjadi anggota
WTO. Dengan setujunya AS mendukung China, Uni Eropa merubah posisinya untuk juga
mendukung China. Sebelumnya, negara-negara maju tidak setuju dengan masuknya China

ke WTO disebabkan statusnya sebagai negara berkembang yang diperdebatkan: China akan
menikmati berbagai affirmative action dan keringanan-kelonggaran implementasi kebijakan
berkat statusnya tersebut.

Setelah setiap aspek masuknya China secara detail dinegosiasilan dan disepakati, yang
terdiri dari ribuan baris tarif dan perjanjian spesfik, sehingga menjadi dokumen sekitar 1.500
halaman, pada 11 Desember 2001 China secara resmi memasuki WTO.

Implikasi bagi BUMN China

Diskusi mengenai implikasi aksesi China dalam WTO ke sektor State-Owned Enterprise
(BUMN) banyak dilakukan karena ini adalah sektor yang langsung bersentuhan dengan
masyarakat luas. Eksposisi BUMN China terhadap kompetisi yang semakin kompetitif
dengan hadirnya aktor internasional berkat diterapkannya prinsip-prinsip WTO sangat
berpengaruh terhadap eksistensi perusahaan-perusahaan nasional tersebut. Di bagian ini
akan disampaikan bahwa dengan bergabung ke dalam WTO, China berhasil meningkatkan
efisiensi BUMN-BUMN yang dimilikinya.

Perusahaan yang efisien disini diartikan sebagai kemampuan suatu perusahaan tersebut
untuk menggunakan sumber daya yang ia miliki (manusia, modal, dan kondisi), dengan
segala keterbatasannya untuk meraih keuntungan maksimal dengan menjalankan strategistrategi yang fleksibel dan tanpa safety net dari pihak ketiga apabila strategi-strategi gagal.

Kalau dirunut ke belakang, reformasi ekonomi China sejak 1979 hanya memperhatikan
manajemen mikroekonomi pada BUMN: memperbaiki kualitas kontrol, akuntansi, pelatihan,
dan manajemen perusahaan. Perlakuan kepada BUMN lebih kondong ke pendekatan
administratif daripada pendekatan perusahaan sebagai entitas aktor di dalam
perekonomian. Eksekutif terdaftar sebagai pegawai negeri sipil, BUMN melaporkan
anggaran tahunan ke pemerintah, serta keputusan rekruitmen pekerja, investasi, dan gaji
ada di tangan pemerintah. Bahkan dalam hal paling teknis seperti penentuan harga dan
jumlah produksi ditentukan oleh pemerintah China.

Baru pada 1981, pemerintah China lebih serius mereformasi BUMN dengan memberikan
otonomi tanggungjawab dan pengelolaan bagi perusahaan: kelebihan keuntungan yang
didapat yang sebelumnya harus diberikan ke pemerintah, mulai saat itu dimasukkan dalam
aktiva perusahaan, rekruitmen perusahaan tanpa banyak interfensi pemerintah, dan yang
paling fundamental adalah BUMN mulai go publickepemilikan perusahaan dimiliki
pemerintah dan masyarakat, walaupun pemerintah belum sepenuhnya menyerahkan BUMN
ke mekanisme pasar. Yakni pemerintah masih mendukung perusahaan dengan memberikan
berbagai subsidi.

Setelah itu berbagai tahapan reformasi BUMN dilakukan. Tahapan dimulai dari penyesuaian
makroekonomi, menjadi otonomi perusahaan yang terbatas; dari tidak memberi insentif
ekonomi bagi pekerja dan manager, menjadi memberi insentif bagi mereka yang
berkontribusi lebih kepada perusahaan. Namun usaha-usaha di atas tidak cukup untuk
berkontribusi banyak bagi peningkatan efisiensi BUMN. Karena terbukti pada tahun mulai
1990an berbagai BUMN mengalami kemerosotan dan kerugian.

China mengalami kerugian yang sangat besar ketika masih harus memberikan subsidisubsidi untuk perusahaan-perusahaan tidak efisien yang mengalami kebangkrutan ini. Uang
publik yang digunakan untuk membiayai hutang perusahaan mencapai 40%-50% dari total
GDP China pada 1996-1999. Padahal kontribusi BUMN ini bagi GDP tidak melebihi dari 36%
pada 1999. Bank-bank China tidak lagi mampu memberikan subsidi-subsidi unutk
menghidupkan aktifitas perusahaan-perusahaan yang bangkrut ini.

Dinilai bahwa reformasi yang sudah dilakukan melupakan faktor terpenting yakni privatisasi
penuh. Subsidi yang masih diimplementasikan pemerintah menciptakan moral hazard bagi
perusahaan: Tidak khawatir akan kebangkrutan, karena ketika bangkrut bantuan
pemerintah pasti datang. Sehingga dari sini diyakini bahwa BUMN China harus lebih
terbuka, percaya kepada pasar, dan melakukan berbagai deregulasi.

Oleh karena itulah China membutuhkan WTO untuk memfasilitasi keinginannya untuk lebih
terbuka ekonominya. Dengan menyetujui dan menandatangani peraturan dan perjanjian
WTO untuk membebaskan China dari kompetisi komersial internasional, menjadikannya
tekanan tersendiri yang dapat memacu (engineer) perubahan-perubahan kebijakan
pemerintah China.

Tiga hal yang perlu dicatat sebagai implikasi aksesi WTO bagi BUMN di China adalah
mengenai a) subsidi bagi perusahaan, b) pembukaan sektor finansial bagi perusahaan
keuangan swasta dan asing, serta yang terakhir, c) adalah sektor jasa yang mengizinkan
perusahaan swasta dan asing masuk.

BUMN di China dikarakteristikkan dengan tingkat ketergantungannya yang tinggi kepada


pemerintah China. Bajona dan Tianshu (2004) mengklasifikasi dua subsidi yang didapat oleh
BUMN China: subsidi langung dari pemerintah pusat atau daerah, dan subsidi tidak langung
dari bank-bank nasional dengan pinjaman lunak yang diberikan. Kedua subsidi tersebut akan
dikurangi secara substantif setelah keanggotaan China di WTO.

Pertama, berkenaan dengan subsidi langsung pemerintah China telah menandatangani


Agreement on Subsidies and Countervailing Measures (SCM) yang mensyaratakan China
untuk mengurangi subsidinya bagi BUMN. Dalam SCM pasal 6.1 (b) (c) (d) disebutkan bahwa

subsidi yang dimaksudkan untuk menolong perusahaan yang kesulitan dalam bidang
keuangan dilarang dan harus dihilangkan. Selanjutnya kasus mengenai subsidi China ini
disebutkan di Lampiran 5A dan 5B di perjanjian WTO China. Lampiran A mengilustrasikan
kebijakan subsidi pemerintah China sementara Lampiran B mencantumkan subsidi-subsidi
yang akan dihentikan mulai dari 2001 ketika China masuk menjadi WTO. Di dalamnya
termasuk daftar Subsidies Provided To Certain State-Owned Enterprises Which Are
Running at a Loss.

Tidak hanya berhenti disitu, karena China lebih lanjut juga berkomitmen untuk
memudahkan prosedur gugatan di WTO bagi pihak-pihak yang merasa dirugikan apabila
China diketahui melanggar peraturan ini. China tidak meminta disputing member untuk
memberikan bukti positif kerugian ekonomi berkenaan dugaan tersebut, sebagaimana
disebutkan dalam paragraf 171 dari Report From The Working Party On The Accession Of
China. Namun China meminta disputing member, disebutkan di paragraph yang sama
dibawah payung reserve the right to benefit, untuk tidak menggugat perusahaan yang
diberikan subsidi pemerintah tidak melebihi dari 2% (dari modal akumulatif perusahaan) per
unit.

BUMN disebutkan secara eksplisit di paragraf 172 dan 173, dimana China berjanji, Chinas
objective is that state-owned enterprises, including banks, should be run on a commercial
basis and be responsible for their own profits and losses. Dari sini bisa dilihat bahwa China
memiliki komitmen untuk mengubah pendekatan yang ia berikan kepada perusahaan pada
periode-periode sebelumnya dengan menghapuskan subsidi yang besar.

Kedua, berkenaan dengan sektor keuangan China berkomitmen untuk membuka luas sektor
ini secara bertahap, setelah sebulumnya berjanji menghapuskan segala bentuk subsidi. Hal
ini sangat berpengaruh bagi BUMN karena pada periode sebelumnya, sektor keuangan
China memberikan pinjaman-pinjaman lunak bagi perusahaan yang sedang bermasalah
secara keuangan (subsidi tidak langsung dari pemerintah) melalui bank-bank di China.
Namun dengan bergabungnya China di WTO, otomatis perusahaan-perusahaan finansial
asing akan masuk China dan berkompetisi secara terbuka dengan bank-bank domestik. Hal
ini tentunya membuat strategi pinjaman lunak tidak relevan lagi karena hal di pasar yang
kompetitif ini, bank-bank China dituntut untuk lebih profit-oriented. Strategi bisnis
konvensional yang berupaya membantu perusahaan yang sedang bangkrut sebelumnya,
hanya akan menjadi beban bagi bank-bank China sehingga besar kemungkinan akan merugi
dan akhirnya kalah saing.

Terakhir adalah berkenaan dengan sektor jasa yang sebelumnya BUMN memonopoli. Sektor
ini sebelumnya tertutup bagi perusahaan swasta domestik maupun dalam negeri. Dengan
perjanjian WTO yang telah ditandatangani, China harus menghapus larangan itu.

Selain hal-hal diatas, sebagai konsekuensi logis dari semakin kompetitifnya persaingan
BUMN dengan perusahaan swasta, pemerintah China memperlonggar peraturan mengenai

jumlah minimum pekerja BUMN yang diberlakukan. Sehingga dengan demikian dapat
mengurangi beban perusahaan (karena gaji bagi pegawai dimasukkan dalam neraca pasiva)
untuk tujuan efisiensi dan meraih keuntungan yang lebih banyak.

Agenda reformasi radikal yang dilakukan oleh pemerintah China ini mampu menambah
kontribusi BUMN bagi GDP China. Dimodelkan bahwa dengan 10% pengurangan di
kebijakan minimum pekerja menambah GDP 2,7%, sementara 10% pengurangan subsidi
menambah GDP sebanyak 1,8%. Karena di lapangan baik pengurangan kebijakan minimum
pekerja maupun pengurangan subsidi jauh lebih banyak dari 10%, bahkan hingga 100& di
beberapa sektor, tentunya dengan demikian BUMN mampu berkontribusi jauh lebih banyak
ke GDP setelah reformasi ini.

Implikasi bagi Sektor Pertanian dan Masyarakat Daerah Pedesaan China

China dikarakteristikan sebagai negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan


kesejahtaraan yang tidak merata. Daerah-daerah yang kaya berlokasi dibagian timur wilayah
China, sedangkan daerah-daerah tengah dan barat tertinggal. Kekhawatiran yang mendalam
dengan bergabungnya China ke dalam WTO ini akan memperlebar disparitas kesejahteraan
antar wilayah melebar. Belum lagi dengan industrialisasi yang semakin gencar sebagai akibat
liberalisasi ekonomi China, akan menjadikan pertumbuhan ekonomi yang tidak dibarengi
dengan pertumbuhan lapangan pekerjaan. Dan kemudian China yang saat ini populasinya
terus bertambah, dengan konsentrasi 70% di pedesaaan yang akan berebut di lahan
pertanian yang semakin sempit, mengakibatkan diskusi mengenai implikasi sosial dan
ekonomi pedesaan China setelah bergabung di WTO semakin menarik.

Di bagian ini penulis akan berargumen bahwa, di samping memiliki implikasi positif bagi
pertumbuhan ekonomi China jangka panjang, bergabungnya negara ini ke WTO akan
memperlebar kesenjangan antara perkotaan-pendesaan, dan distribusi kekayaan yang
semakin tidak merata.

Qiao Jian (2001) mengatakan bahwa kawasan di bagian timur China memiliki keuntungan di
sumber daya manusia, manajemen, informasi, transportasi, dan infrastruktur yang tidak
dimili oleh daerah lain. Sehingga sangat sulit memungkinkan daerah-daerah selain kawasan
timur, menarik investasi-investasi luar negeri yang sangat masif memasuki China. Bahkan
sebenarnya disparitas ini juga terjadi di dalam kawasan timur itu sendiri ketika masyarakat
dengan pendidikan dan penguasaan teknologi yang lebih baik lebih diuntungkan dari pada
masyarakat biasa yang harus berebut mencari pekerjaan di bidang-bidang konvensional dan
bergaji standar.

Sektor pertanian, dimana perekonomian masyarakat pedesaan sangat tergantung padanya,


akan sangat terpengaruh dengan semakin terbukanya ekonomi China atas pasar
internasional. Dari analisis yang dilakukan oleh Chinese Academy of Social Sciences (CASS)
diprediksi bahwa setelah keanggotaan China di WTO, impor gandum akan meningkat dari 2
juta ton menjadi 5 ton pertahun, yang menyebabkan petani-petani China kehilangan 5,5
milyar yuan. Gandum-gandum yang diimpor tersebut, yang didominasi dari AS, bukan saja
lebih murah, namun juga lebih berkualitas sehingga lebih dipilih di pasar domestic China.
Wen Tiejun (1999) juga mengkritik aksesi China ke WTO karena ia akan menaikkan impor
jagung sebesar 7,2 juta ton sedangkan impor beras naik 5,3 juta ton. Permintaan di pasar
domestik akan barang-barng pertanian impor yang lebih besar, menyebabkan konsekuensi
yang besar bagi masyarakat pedesaaan yang tidak memiliki kemampuan lain selain bertani.

Wen selanjutnya menjelaskan pesimistiknya. Dengan menjadi WTO, China dipaksa untuk
memiliki comparative advantage pada sektor tertentu dan memiliki spesialisasi, agar bisa
memiliki kesempatan luas untuk ekspor. China dalam hal ini yakni sektor pertanian memiliki
keuntungan untuk ekspor daging, buah-buahan dan produk-produk holtikultura. Namun
China tidak memiliki keunggulan komparatif di ekspor jagung, padahal petani-petani China
memiliki produk besar dan tergantung dari pertanian jagung ini. Dengan kehadiran jagung
impor yang lebih bagus dan murah, konsumen China akan lebih memilih jagung impor ini
daripada jagung produksi dalam negeri.

Secara lebih mendetail implikasi dari masuknya China ke WTO dalam sektor pertanian
diantaranya sebagai berikut:

China menyepakati kenaikan kuota impor untuk produk-produk pertanian seperti gandum,
jagung, dan nasidari 18,31 juta ton tahun 2002, menjadi 20,2 juta ton tahun 2003, dan
22,16 juta ton di 2004.

Subsidi ekspor pertanian dihapuskan

Dan hambatan non-tarif, misalnya lisensi harus dihilangkan.

Dari hal-hal di atas mengidikasikan bahwa proteksi pemerintah kepada sektor pertanian
diperlonggar, bahkan hingga dihilangkan sama sekali. Hal ini menciptakan kekhawatiran
tersendiri bagi para petani karena ketika mereka memiliki pesaing dengan produk pertanian
yang lebih murah, maka agar produk-produk mereka dipasaran harus murah. Padahal untuk
proses produksi di sebagian pertanian-pertanian China masih tergolong tradisonal dan
berbiaya mahal, sangat berbeda dengan mekanisme produksi yang telah dipakai AS, Eropa,
dan Jepang. Dengan demikian ia berdampak bagi berkurangnya pendapatan petani-petani
China.

Menurut data dari National Bureau of Statistics, 2002, 1999b, Statistical Yearbook of China,
China Statistics Press, disebutkan bahwa tingkat disparitas antara perkotaan dengan
pedesaan di China naik dari tahun 1980 ke setelahnya. Rata-rata pendapatan penduduk
kawasan pedesaan China dibanding dengan rata-rata pendapatan penduduk perkotaan
China pada tahun 1980 adalah 47%. Perbandingan ini semakin parah pada tahun 2003
dimana angka tersebut berubah menjadi 35%. Sedangkan perbandingan rata-rata masyarat
dikawasan barat dibandingkan dengan timur adalah 50% (1,713 yuan/ 207 dolar AS).

Kesimpulan

Reformasi Ekonomi di China dilakukan untuk tujuan yang esensial: yakni meningkatkan
kesejahteraan China. Dinamika eksternal dimana globalisasi menjadi realita yang tak
terelakkan, menjadikan pemimpin-pemimpin China untuk berpikir untuk memanfaatkan
globalisasi ini untuk mendapatkan manfaat, diantara ekonomi. Berbagai perubahan
kebijakan dilakukan sejak Mao memporakporakporandakan perekonomian ChinaDeng
Xioping lebih membuka perekonomian bagi partispasi aktor non negara sekaligus
mengurangi kontrol penuh pemerintah dalam aktivitas perekonomian. Pada 2001, dengan
dukungan penuh para reformis, China masuk menjadi anggota resmi WTO. Hal ini sekaligus
menjadi bukti komiten sugguh-sugguh China untuk mengintegrasikan perekonomianya
dengan dunia. Di samping itu, dalam konteks paper ini, masuknya China ke dalam WTO
diharapkan mampu mendorong cepatnya reformasi ekonomi China.

Implikasi masuknya China ke WTO diwarnai oleh perdebatan mengenai keuntungan dan
kerugian yang didapati. Dipandang dari segi pengaruh kepada BUMN, aksesi ke WTO
dipercaya dapat meningkatkan keefisiensian perusahaan-perusahaan. Perjanjian-perjanjian
yang di tandatangani China, menghadirkan kompetisi-kompetisi terbuka bagi BUMN. Dan
karena proteksi pemerintah kepada mereka dikurangi, mereka dipaksa untuk mencari
strategi-strategi inovasi agar menang dalam kompetisi.

Namun di sisi lain, dampak bagi perekonomian pedesaan China dinilai buruk. Selain karena
memperlebar kesenjangan kesejahteraan antara kawasan perkotaan-pedesaan, liberalisasi
ekonomi yang dilakukan akan mengancam produk-produk pertanian mereka akibat
membanjirnya produk pertanian impor yang lebih murah dan berkualitas di pasaran.
Proteksi pemerintah yang tidak lagi secara penuh dapat diberikan, menjadikan produktivitas
petani menurun, dan tentunya tingkat kesejahteraan mereka juga.