Anda di halaman 1dari 10

Daur Ulang Plastik Sebagai Alternatif

Penanggulangan Sampah

Tugas Kuliah Kimia Lingkungan (KI 3212)


Semester II Tahun Ajaran 2004/2005

Oleh:
Kelompok 5
Angki Kharisma (10501065)
Edi Pramono (10502006)
Robby Roswanda (10502012)
Muhammad Iqbal (10502020)
Rachmawati (10502027)
Lenggana (10502051)

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMUN PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2005

Bab I
Pendahuluan

Seiring waktu berjalan, keinginan dan kebutuhan manusia terus berkembang.


Kebutuhan manusia menjadi semakin banyak dan kompleks. Kebutuhan yang
dihadapkan oleh tuntutan zaman dijawab dengan kepemilikan akal manusia yang
senantiasa mencoba untuk memacu diri. Teknologi merupakan solusi trivial bagi
keinginan manusia untuk mencapai kemudahan. Salah satu hal yang perlu dicermati
oleh kita adalah teknologi yang digunakan sebagai solusi bagi suatu permasalahan
sekaligus juga menjadi sumber masalah baru. Masalah yang mungkin merupakan
sebuah masalah baru, masalah yang belum pernah dihadapi sebelumnya oleh manusia.
Manusia memebutuhkan suatu material yang memiliki karakter spesifik sesuai untuk
memenuhi kebutuhannya. Sebut saja kebutuhan akan material konstruksi, kemasan,
barang hias, peralatan pakai, dsb. Plastik sebagai salah satu produk dari pemikiran
manusia merupakan salah satu material yang paling masal dalam penggunaannya.
Dalam hal ini, masal dapat diartikan sebagai jumlah penggunaannya yang sangat
banyak, masal dalam jenis plastiknya itu sendiri, ataupun masal dalam bentuk
barangnya. Hal ini terjadi akibat fungsi plastik yang sangat banyak. Plastik bisa
menggeser beberapa fungsi material lain, seperti kayu, logam, atupun tanah liat
terutama dari segi perwujudan fisisnya.
Plastik digunakan karena sifatnya yang tahan lama. Plastik bahkan tahan terhadap
kondisi tertentu yang justru merupakan sisi lemah dari maerial lain. Plastik tahan
terhadap karat, plastik memiliki sifat lentur, sifat transparan dan sifatnya yang relatif
kuat (beberapa jenis plastik tertentu). Masalah yang sekarang muncul adalah jumlah
plastik yang kian tidak terkendali, sifatnya yang awet justru menjadi bumerang.
Secara umum, penanggulangan plastik yang sudah tidak terpakai tersebut, atau yang
biasa disebut dengan sampah plastik, ada tiga macam. Cara-cara tersebut adalah
pemusnahan, sintesis plastik yang ramah lingkungan, serta recycle and reuse..

Metode pemusnahan maksudnya adalah memodifikasi plastik hingga bisa masuk ke


dalam daur atau siklus alami yang sudah ada di alam, misalnya siklus karbon, nitrogen
atau air. Cara paling sederhana dan umum untuk dipergunakan adalah pembakaran.
Proses ini bertujuan unruk memaksa plastik terurai hingga menjadi komponen
sederhana seperti CO, CO2, H20, Cl2, dan gas lainnya. Sayangnya metode ini tidaklah
sesuai harapan, pembakaran sampah plastik justru menghasilkan pencemaran udara.
Sisa pembakaran berupa berbagai partikulat menjadi permasalahan baru. Metode lain
adalah pengkomposan yang ternyata hanya bisa dicapai dengan waktu yang sangat
lama.
Solusi kedua adalah pembuatan materi plastik yang ramah lingkungan. Maksudnya
adalah mudah terurai dengan sendirinya sehingga tidak perlu diberi perlakuan khusus
untuk masuk ke dalam siklus alam. Kekurangan dari solusi ini adalah parameter
waktu. Plastik biodegradable adalah solusi jangka panjang bagi permasalahan plastik
di masa yang akan datang, tapi tidak menjawab permasalahan plastik yang sudah ada
sekarang.
Solusi ketiga adalah recycle and reuse, dalam kosa kata Indonesia biasa dikenal
dengan proses daur ulang dan penggunaan ulang. Proses ini menjadi solusi yang unik,
karena menanggulangi permasalahan jumlah sampah yang tidak terkendali dan juga
sebagai alternatif solusi bagi masalah penyediaan bahan baku untuk produksi barang
berbahan dasar plastik.
Keunikan inilah yang menjadi titik tumpu dari bahasan makalah ini. Luasnya
permasalahan daur ulang plastik menjadikan tidak memungkinkannya pembahasan
secara mendetail, sehingga akan dibatasi pada metode secara garis besar.

Bab II
Plastik

Plastik merupakan material polimer organik yang tersusun dari molekul organik
raksasa. Material plastik dapat diproses menjadi berbagai bentuk dengan berbagai cara
seperti ekstrusi, pelelehan, pencetakan, atau spinning. Plastik modern memiliki
berbagai karakteristik yang sangat menguntungkan seperti kuat, tahan panas, tahan
terhadap asam, alkali dan pelarut.
Berdasarkan sifat termalnya plastik dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu termoplastik,
dan termoset. Termoplastik merupakan plastik yang apabila dipanaskan akan meleleh
dan saat didinginkan akan mengeras kembali, sehingga dapat dibentuk ulang. Contoh
jenis ini adalah HDPE (High Density Polyethylene), LDPE (low Density
Polyethylene), PET (polyethylene terepthalate), PP (polypropylene), PS (polystyrene),
PVC (polyvinyl cloride). 80% dari plastik yang diproduksi saat ini adalah jenis
termoplastik.
Termoset merupakan plastik yang apabila dipanaskan akan semakin keras, dan kaku.
Hal ini disebabkan oleh terbentuknya crosslink antar rantai polimer sehingga
terbentuk jaringan tiga dimensi yang kokoh. Contoh jenis ini adalah polyurethane
(PU)
Jenis plastik yang beredar di masyarakat:
1. polyethylene terephthalate (PET)
2. high-density polyethylene (PE)
3. vinyl / polyvinyl chloride (PVC)
4. low-density polyethylene
5. polypropylene
6. polystyrene
7. other. usually layered or mixed plastic

Bab III
Daur Ulang Plastik

Daur ulang merupakan proses memisahkan, mengumpulkan, mengolah, memasarkan


atau menggunakan kembali material yang seharusnya dibuang. Berdasarkan
pengertian tersebut maka daur ulang plastik dapat diterapkan dengan berbagai cara.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mendaur ulang plasik
-

Dihancurkan, dibuat menjadi resin kembali.


Sampah plastik diolah baik secara fisik maupun kimia sehingga polimer yang
ada dalam bahan plastik tersebut dapat kembali menjadi monomer kembali
(depolimerisasi). Akan tetapi pengolahan seperti ini biasanya sulit dilakukan
dan memiliki biaya operasi yang cukup mahal. Oleh karena itu hasil dari
penghancuran sampah plastik kadang hanya sampai membentuk bijih plastik
yang dapat digunakan kembali dalam manufaktur.

Pemanfaatan sampah plastik untuk berbagai


fungsi lain.
Sampah plastik dapat diolah kembali secara
kasar untuk mendapatkan produk lain yang
dapat dimanfaatkan. Sebagai contoh, botolbotol plastik minuman dapat diolah sehingga
menghasilkan suatu karya seni

Secara garis besar alasan daur ulang plastik ada 3 hal yaitu:
1. Pengurangan ketergantungan terhadap landfill dan pembakaran
Dalam metoda landfill, sampah ditimbun dalam suatu area dan dibiarkan
begitu

saja.

Penggunaan

metoda

landfill

dalam

prakteknya

dapat

menghabiskan lahan yang cukup luas. Dalam metode pembakaran, sampah


dibakar dalam suatu reaktor dengan tujuan untuk menghancurkan sampah
tersebut. Akan tetapi, sisa pembakaran tersebut dapat menghasilkan polutan
udara yang berbahaya. Oleh karena itu penerapan daur ulang diharapkan dapat

mengurangi penggunaan lahan sebagai area landfill dan juga untuk


mengurangi ancaman polutan udara.
2. Proteksi kesehatan dan lingkungan
Penerapan daur ulang dapat mengurangi produksi sampah, dan akibat lebih
lanjut adalah berkurangnya potensi penyebaran penyakit yang berasal dari
tempat pembuangan sampah.
3. Penghematan sumber daya alam
Daur ulang juga dapat menekan penggunaan SDA karena material yang sudah
digunakan diolah kembali menghasilkan material baru.
Proses daur ulang plastik
Secara umum proses daur ulang dapat disederhanakan melalui diagram berikut:

Berdasarkan diagram tersebut, proses daur ulang melalui beberapa tahap, yaitu:
-

initial upgrading
Dalam tahap ini sampah plastik dikumpulkan. Selanjutnya seluruh sampah
dibersihkan dari berbagai pengotor kemudian setiap plastik dikelompokkan

berdasarkan jenis-jenisnya. Pemisahan ini dapat dilakukan secara manual atau


dengan menggunakan mesin. Perlu diperhatikan bahwa pengelompokkan
sampah plastik merupakan tahap yang cukup penting. Dalam pengolahan lebih
lanjut, adanya plastik dengan bahan dasar yang berbeda dapat merusak produk
daur ulang. Sebagai contoh satu botol PVC dalam 10.000 botol PET akan
mengganggu proses daur ulang.
-

Size reduction techniques


Setelah dikelompokkan, sampah tersebut diperkecil ukurannya. Hal ini
biasanya dilakukan agar sampah plastik tersebut dapat masuk ke dalam mesin
pengolah serta untuk memperluas permukaan reaksi (bila akan digunakan
suatu pereaksi). Tahap ini dapat dilakukan dengan cara;
o Pemotongan
Bisa dilakukan dengan menggunakan alat potong (gergaji, pisau,
gunting, dll). Sehingga dihasilkan potongan-potongan kecil.
o Shredding
Penghancuran dilakukan sehingga diperoleh plastik berupa kepingan.
o Agglomeration
Sampah plastik dipanaskan sehingga semua plastik meleleh dan
bersatu kemudian didinginkan kembali sehingga terbentuk padatan
kembali. Biasanya hasil akhir berupa butiran, biasa disebut sebagai
crumbs.

Pemrosesan lebih lanjut


o Extrusion and pelletising
Pada tahap ini polimer yang sudah diperoleh kembali dihomogenkan
sehingga dapat dibentuk menjadi material yang mudah untuk diolah
lebih lanjut. Polimer yang diperoleh diproses melalui extruder diiringi
dengan pemanasan dan dilewatkan melalui suatu lubang sehingga
diperoleh plastik berbentuk spageti yang kemudian dapat didinginkan
dalam water bath sebelum dibentuk menjadi pelet. Bentuk pelet inilah
yang dipergunakan dalam membuat produk baru.

Manufacturing techniques:
Selanjutnya pelet yang dihasilkan dapat diproses untuk mendapatkan produk
plastik berikutnya. Ada beberapa tehnik yang dapat digunakan dalam tahap ini:
Extrusion, Injection moulding, Blow moulding, Film blowing. Penggunaan
tehnik tersebut bergantung pada produk yang diinginkan.

Kelemahan proses daur ulang


-

Biaya operasi cukup mahal


Pengolahan sampah untuk didaur ulang jelas akan membutuhkan biaya lebih
banyak bila dibandingkan dengan pembuangan sampah yang konvensional
(open dumping dan landfill).

Pemisahan sulit dilakukan


Alat untuk memisahkan plastik berdasarkan jenisnya sedang dalam
perkembangan. Selama ini proses pemisahan dilakukan secara manual
sehingga pemisahan berlangsung dalam waktu yang cukup lama dan juga
memakan biaya yang cukup besar.

Tidak bisa dilakukan berulang


Sebagian besar produk yang dibuat dari bahan daur ulang tidak dapat didaur
ulang kembali. Jadi proses daur ulang hanya memperpanjang pemakaian
plastik satu generasi. Selanjutnya plastik tersebut akan menjadi sampah juga.

Contoh daur ulang yang dilakukan terhadap polyester adalah dengan proses
metanolisis sehingga dihasilkan monomer-monomer pembentuknya (depolimerisasi).
Hasil depolimerisasi ini kemudia diolah menjadi bahan plastic lain untuk kemasan
makanan kering atau botol soft drink. Namun, proses ini membutuhkan biaya yang
sangat besar dan kualitas produk yang dihasilkan lebih rendah dari produk awal.
Contoh lainnya adalah proses daur ulang PET(Poly(ethylene) terephthalate). PET
yang didaur ulang berasal dari botol soft drink. Proses daur ulang ini dilakukan secara
pirolisis, sehingga dapat diperoleh suatu material karbon yang bernilai tinggi. Material
karbon yang diperoleh umumnya memiliki pori berukuran mikro, dan sebagian kecil
yang memiliki ukuran sedang dan makro. Material karbon yang dihasilkan dapat
digunakan sebagi adsorben, di antaranya sebagai adsorben fenol, hydrogen, dan PAH.
Selain itu, kandungan PET dari botl soft drink dan nylon dari tekstil dapat diolah
menjadi karpet.

Bab IV
Penutup

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa proses daur ulang merupakan salah
satu solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan sampah plastik. Akan
tetapi dalam pelaksanaannya masih sangat sedikit dilakukan bila dibandingkan dengan
jumlah sampah yang dihasilkan.

Daftar Pustaka
http://www.designboom.com/eng/idea.html diakses tanggal 18 April 2005
http://www.epa.gov/grtlakes/seahome/housewaste/src/open.htm diakses tanggal 18
April 2005
http://www.itdg.org diakses tanggal 18 April 2005
http://www.ollierecycles.com/uk/html/plastic.html diakses tanggal 18 April 2005