Anda di halaman 1dari 15

Transnasional Crime

Transnasional Crime memiliki beberapa definisi, hal ini terkait dengan latar belakang
pendidikan, pengalaman, serta kepentingan yang menyebabkan beberapa Ahli merumuskan
definisi Transnasional Crime serta Radikalisme sangat bervariasi, namun secara garis besar
terdapat kata kunci yang dapat digunakan sebagai panduan dalam merumuskan pengertian
Transnational Crime adalah:
1. Suatu perbuatan sebagai suatu kejahatan.
2. Terjadi antar Negara atau Lintas Negara.
Menurut G.O.W. Mueller Kejahatan transnasional adalah istilah yuridis mengenai ilmu
tentang kejahatan, yang diciptakan oleh perserikatan bangsa-bangsa bidang pencegahan
kejahatan dan peradilan pidana dalam hal mengidentifikasikan fenomena pidana tertentu yang
melampaui perbatasan internasional, melanggar hukum dari beberapa negara, atau memiliki
dampak pada negara lain.
Bassiouni mengatakan bahwa kejahatan transnasional atau transnational crime adalah
kejahatan yang mempunyai dampak lebih dari satu negara, kejahatan yang melibatkan atau
memberikan dampak terhadap warga negara lebih dari satu negara, sarana dan prasarana serta
metoda-metoda yang dipergunakan melampaui batas-batas teritorial suatu negara. Jadi istilah
kejahatan transnasional dimaksudkan untuk menunjukkan adanya kejahatan-kejahatan yang
sebenarnya nasional (di dalam batas wilayah negara), tetapi dalam beberapa hal terkait
kepentingan negara-negara lain. Sehingga tampak adanya dua atau lebih negara yang
berkepentingan atau yang terkait dengan kejahatan itu. Kejahatan transnasional jelas
menunjukkan perbedaannya dengan kejahatan atau tindak pidana dalam pengertian nasional
semata-mata. Demikian pula sifat internasionalnya mulai semakin kabur oleh karena aspekaspeknya sudah meliputi individu, negara, benda, publik dan privat. Sifatnya yang transnasional
yang meliputi hampir semua aspek nasional maupun internasional, baik privat maupun publik,
politik maupun bukan politik.
Perserikatan Bangsa-Bangsa sendiri telah menentukan karakteristik apa saja yang
termasuk dalam kategori kejahatan transnasional yaitu:
a) Dilakukan dalam lebih dari satu negara;
b) Dilakukan di suatu negara namun bagian penting dari persiapan, perencanaan, pengarahan
atau pengendalian dilakukan di negara lain;
c) Dilakukan dalam suatu negara namun melibatkan suatu kelompok kriminal terorganisir
yang terlibat dalam aktifitas kejahatan lebih dari satu negara; atau
d) Dilakukan dalam satu negara namun memiliki efek penting dalam negara lainnya.

Sedangkan kejahatan transnasional hampir selalu berkaitan dengan kejahatan dengan


motif finansial, yang membawa dampak terhadap kepentingan lebih dari satu negara. Kejahatan
ini antara lain, perdagangan obat bius (drug trafficking), kejahatan terorganisir lintas batas
negara (transborder organized criminal activity), pencucian uang (money laundering), kejahatan
finansial (financial crimes), perusakan lingkungan secara disengaja (willful damage to the
environment), dan lain-lain.
Dari kedua kata kunci tadi dapat dijelaskan bahwa Transnational Crime merupakan suatu
kejahatan yang terjadi lintas Negara dalam pengertian bahwa suatu perbuatan dapat
dikategorikan sebagai kejahatan apabila terdapat piranti hukum yang dilanggar sehingga bisa
saja terjadi suatu perbuatan yang dirumuskan, dirancang, disiapkan, dilaksanakan dalam suatu
Negara bisa saja bukan merupakan kejahatan namun ketika hasil kejahatan yang diatur, disiapkan
melakukan lintas batas Negara untuk masuk ke yuridiksi Negara yang berbeda lantas
dikategorikan sebagai kejahatan Transnasional Crime.

KEJAHATAN TRANSNASIONAL
Kejahatan lintas negara (transnational crimes) dewasa ini dipandang sebagai salah satu
ancaman serius terhadap keamanan global. Pada lingkup multilateral, konsep yang dipakai
adalah Transnational Organized Crimes (TOC) yang disesuaikan dengan instrumen hukum
internasional yang telah disepakati tahun 2000 yaitu Konvensi PBB mengenai Kejahatan Lintas
Negara Terorganisir (United Nations Convention on Transnational Organized Crime-UNTOC).
Kejahatan lintas negara memiliki karakteristik yang sangat kompleks sehingga sangat
penting bagi negara-negara untuk meningkatkan kerjasama internasional untuk secara kolektif
menanggulangi meningkatnya ancaman kejahatan lintas negara tersebut.
Konvensi PBB mengenai Kejahatan Lintas Negara Terorganisir (United Nations
Convention on Transnational Organized Crime-UNTOC) yang telah diratifikasi Indonesia
dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pengesahan United Nations Convention
Against Transnational Organized Crime (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Menentang
Tindak Pidana Transnasional Yang Terorganisasi) menyebutkan sejumlah kejahatan yang
termasuk dalam kategori kejahatan lintas negara terorganisir, yaitu pencucian uang, korupsi,
perdagangan gelap tanaman dan satwa liar yang dilindungi, kejahatan terhadap benda seni
budaya (cultural property), perdagangan manusia, penyelundupan migran serta produksi dan
perdagangan gelap senjata api. Konvensi juga mengakui keterkaitan yang erat antara kejahatan
lintas negara terorganisir dengan kejahatan terorisme, meskipun karakteristiknya sangat berbeda.
Meskipun kejahatan perdagangan gelap narkoba tidak dirujuk dalam Konvensi, kejahatan ini

masuk kategori kejahatan lintas negara terorganisir dan bahkan sudah diatur jauh lebih lengkap
dalam tiga Konvensi terkait narkoba11sebelum disepakatinya UNTOC.
Perkembangan kualitas tindak pidana atau kejahatan menunjukan bahwa batas- batas
teritorial antara satu negara dan negara lain di dunia, baik dalam satu kawasan maupun berbeda
kawasan sudah semakin menghilang. Pada dewasa ini, hampir dapat dipastikan bahwa semua
jenis atau bentuk kejahatan tidak dapat lagi hanya dipandang sebagai yuridiksi kriminal suatu
negara, akan tetapi sering diklaim termasuk yuridiksi kriminal lebih dari satu atau dua negara,
sehingga dalam perkembangannya kemudian telah menimbulkan masalah konflik yuridiksi yang
sangat mengganggu hubungan internasional antarnegara yang berkepentingan di dalam kasus
tindak pidana tertentu yang bersifat lintas batas teritorial.
Sejumlah asumsi tentang kejahatan transnasional dapat ditemukan dibanyak publikasi
saat ini. Asumsi yang paling penting adalah: (1) kejahatan transnasional pada dasarnya
merupakan suatu fenomena baru yang muncul pada 1990-an, (2) untuk sebagian besar terhubung
dengan skala besar organisasi kriminal yang sering memiliki latar belakang etnis tertentu, (3) dan
secara teratur bekerja bersama-sama dengan organisasi kriminal di negara lain, (4) kejahatan
transnasional terutama disebabkan oleh proses globalisasi selama tiga dekade terakhir dan (5)
merembes ke dalam bisnis yang sah dan pemerintah.
Berbagai asumsi di atas akan digunakan untuk merefleksi fenomena kejahatan
transnasional. Jika kita cermati, berbagai asumsi ini tidak selalu tampak rasional, karena terbuka
berbagai perubahan yang terjadi sehubungan dengan perkembangan kejahatan transnasional itu
sendiri. Berbagai asumsi tersebut dapat digunakan untuk mengkonfirmasi pengamatan Letzia
Paoli, yang mengatakan bahwa persepsi (transnasional) kejahatan terorganisir tercemar oleh
kepanikan moral, dan isu-isu yang dibentuk oleh kepanikan moral tidak mungkin ditangani
dengan cara rasional. Yang pasti, asumsi tidak harus dilihat sebagai unsur dari perspektif standar
tentang kejahatan transnasional.
Proses umum globalisasi dekade terakhir memberikan penjelasan utama bagi munculnya
kejahatan transnasional. Karena liberalisasi pasar dan penurunan kepentingan perbatasan antar
negara, kejahatan transnasional telah meningkat secara dramatis. Asumsi ini sampai batas
tertentu menyederhanakan penyebab dan perkembangan kejahatan transnasional. Hal itu sudah
menunjukkan bahwa kejahatan transnasional selalu terjadi. Bagaimanapun, kejahatan
transnasional tidak hanya terjadi karena orang, barang dan jasa bisa menyeberang perbatasan.
Mereka hanya melintasi perbatasan ketika ada alasan untuk itu. Hal yang memungkinkan
terjadinya kejahatan transnasional adalah bahwa barang-barang tertentu yang tersedia di

beberapa negara dan tidak pada negara lain (meskipun ada permintaan untuk mereka), atau
bahwa perbedaan harga membuat penyelundupan menguntungkan. Jika alasan seperti itu ada,
dan peluang transportasi meningkat maka lalu lintas dapat membuat arus perdagangan kejahatan
transnasional lebih mudah.
Namun, beberapa aspek globalisasi sebenarnya dapat mengurangi penyebab kejahatan
transnasional. Liberalisasi pasar, misalnya, menyebabkan deregulasi arus modal di banyak
negara. Hal ini menyebabkan penurunan otomatis dalam pelarian modal, karena banyak kegiatan
yang pernah dicap sebagai pelarian modal sekarang menjadi transaksi keuangan legal melintasi
perbatasan internasional. Di sisi lain, kejahatan transnasional banyak disebabkan atau setidaknya
dirangsang oleh negara-negara yang mempertahankan undang-undang yang berbeda sehubungan
dengan komoditas tertentu. Skala penyelundupan rokok saat ini, misalnya, tidak bisa
dibayangkan ketika negara-negara yang sama tidak akan mempertahankan perbedaan besar
seperti di bidang perpajakan. Harmonisasi peraturan antar negara, sebagai bagian dari proses
globalisasi, bisa membatalkan setidaknya sebagian dari eksternalitas negatif (seperti kejahatan
transnasional) dari proses globalisasi.
Beberapa penjelasan mengenai contoh kejahatan transnasional :
1.

Pencucian uang (money laudry)

adalah suatu upaya perbuatan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul
uang/dana atau Harta Kekayaan hasil tindak pidana melalui berbagai transaksi keuangan agar
uang atau Harta Kekayaan tersebut tampak seolah-olah berasal dari kegiatan yang sah/legal.
Pada umumnya pelaku tindak pidana berusaha menyembunyikan atau menyamarkan asal
usul Harta Kekayaan yang merupakan hasil dari tindak pidana dengan berbagai cara agar Harta
Kekayaan hasil kejahatannya sulit ditelusuri oleh aparat penegak hukum sehingga dengan leluasa
memanfaatkan Harta Kekayaan tersebut baik untuk kegiatan yang sah maupun tidak sah. Oleh
karena itu, tindak pidana Pencucian Uang tidak hanya mengancam stabilitas dan integritas sistem
perekonomian dan sistem keuangan, melainkan juga dapat membahayakan sendi-sendi
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pencucian Uang umumnya dilakukan melalui 3 (tiga) langkah tahapan: langkah pertama
yakni uang/dana yang dihasilkan dari suatu kegiatan tindak pidana/kejahatan di ubah ke dalam
bentuk yang kurang atau tidak menimbulkan kecurigaan melalui penempatan kepada sistem
keuangan dengan berbagai cara (tahap penempatan/placement); langkah kedua adalah melakukan

transaksi keuangan yang kompleks, berlapis dan anonim dengan tujuan memisahkan hasil tindak
pidana dari sumbernya ke berbagai rekening sehingga sulit untuk dilacak asal muasal dana
tersebut yang dengan kata lain menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan
hasil tindak pidana tersebut (tahap pelapisan/layering); langkah ketiga (final) merupakan tahapan
dimana pelaku memasukkan kembali dana yang sudah kabur asal usulnya ke dalam Harta
Kekayaan yang telah tampak sah baik untuk dinikmati langsung, diinvestasikan ke dalam
berbagai bentuk kekayaan material maupun keuangan, dipergunakan untuk membiayai kegaiatan
bisnis yang sah ataupun untuk membiayai kembali kegiatan tindak pidana (tahap integrasi).
2.

Perdagangan gelap tanaman dan satwa liar yang dilindungi

Kegiatan perdagangan tumbuhan dan satwa liar, sebagaimana diatur dalam peraturan
perundangan yang berlaku, dan CITES, secara umum mengikuti tahapan penentuan kuota,
perizinan perdagangan tumbuhan dan satwa liar, dan pengawasan peredaran tumbuhan dan satwa
liar sebagai suatu sitem dalam pengendalian perdagangan tumbuhan dan satwa liar, sebagai
berikut :
1.

Kuota
Perdagangan jenis tumbuhan dan satwa liar diawali dengan penetapan kuota
pengambilan/penangkapan tumbuhan dan satwa liar dari alam. Kuota merupakan batas maksimal
jenis dan jumlah tumbuhan dan satwa liar yang dapat diambil dari habitat alam. Penetapan kuota
pengambilan/penangkapan tumbuhan dan satwa liar didasarkan pada prinsip kehati-hatian
(precautionary principle) dan dasar-dasar ilmiah untuk mencegah terjadinya kerusakan atau
degradasi populasi (non-detriment finding) sebagaimana tertuang dalam Article IV CITES.
Kuota ditetapkan oleh Direktur Jenderal PHKA berdasarkan rekomendasi LIPI untuk setiap
kurun waktu satu tahun. takwim untuk spesimen baik yang termasuk maupun tidak termasuk
dalam daftar Appendix CITES, baik jenis yang dilindungi maupun tidak dilindungi. Dalam
proses penyusunan kuota disadari bahwa ketersediaan data potensi tumbuhan dan satwa liar yang
menggambarkan populai dan penyebaran setiap jenis masih sangat terbatas. Untuk itu peranan
lembaga swadaya masyarakat dan perguruan tinggi akan sangat berarti dalam membantu
informasi mengenai potensi dan penyebaran jenis tumbuhan dan satwa liar yang dimanfaatkan.
2.

Perizinan Perdagangan jenis tumbuhan dan satwa liar


Hanya dapat dilakukan oleh Badan Usaha yang didirikan menurut hukum Indonesia, dan
mendapat izin dari Pemerintah (Departemen Kehutanan c.q Direktorat Jenderal PHKA).
Menurut Keputusan Menteri Kehutanan No. 477/Kpts-II/2003, dikenal tiga jenis izin
perdagangan tumbuhan dan satwa liar, yaitu :

1.

izin mengambil atau menangkap tumbuhan dan satwa liar, yang diterbitkan
BKSDA,

2.

izin sebagai pengedar tumbuhan dan satwa liar Dalam Negeri, yang diterbitkan
BKSDA, dan
3.
izin sebagai pengedar tumbuhan dan satwa liar ke dan dari Luar Negeri, yang diterbitkan
oleh Direktur Jenderal PHKA.
3.

Perdagangan TSL
Untuk menunjukkan legalitas peredaran tumbuhan dan satwa liar untuk tujuan perdagangan,
kepada setiap pedagang diwajibkan memiliki dokumen berupa Surat Angkut Tumbuhan dan
Satwa Liar Dalam Negeri (STAS-DN), untuk meliput peredaran tumbuhan dan satwa liar di
dalam negeri. Dan S urat Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar Luar Negeri (SATS-LN), untuk
meliput peredaran tumbuhan dan satwa liar ke luar negeri (ekspor)/CITES export permit, dari
luar negeri (impor)/CITES import permit, dan pengiriman lagi ke luar negeri (re-ekspor)/CITES
re-export permit. Dokumen tersebut memuat informasi mengenai jenis dan jumlah tumbuhan
dan satwa liar yang diangkut, nama dan alamat pengirim, serta asal dan tujuan pengiriman.
4.

Pengawasan dan Pembinaan Perdagangan TSL


Dilakukan mulai dari tingkat kegiatan pengambilan atau penangkapan spesimen tumbuhan
dan satwa liar, pengawasan peredaran dalam negeri, dan pengawasan ke dan dar i luar negeri.
Pengawasan penangkapan tumbuhan dan satwa liar di alam dilakukan dengan tujuan agar
pemanfaatan sesuai dengan izin yang diberikan (tidak melebihi kuota tangkap), penangkapan
dilakukan dengan tidak merusak habitat atau populasi di alam, dan untuk spesimen yang
dimanfaatkan dalam keadaan hidup, tidak menimbulkan banyak kematian yang disebabkan oleh
cara pengambilan atau penangkapan yang tidak benar. Disamping itu, dalam rangka
pengendalian perdagangan tumbuhan dan satwa liar, Ditjen PHKA beserta BKSDA melakukan
pembinaan kepada para pengambil tumbuhan dan penangkap satwa liar, pengedar tumbuhan dan
satwa liar dalam negeri, pengedar tumbuhan dan satwa liar luar negeri, dan para asosiasi
pemanfaat tumbuhan dan satwa liar. Namun demikian, pengawasan terhadap berbagai aktivitas
diatas, mulai dari penangkapan di habitat alam, pengiriman di dalam negeri dan pengiriman ke
luar negeri, adalah pekerjaan yang tidak mudah. Untuk itu kerjasama dan koordinasi antara
Ditjen PHKA dan BKSDA dengan instansi terkait seperti Bea Cukai, Balai Karantina, dan
Kepolisian serta masyarakat (lembaga swadaya masyarakat) sangat penting.

5.

Perdagangan TSL Illegal

Pengaturan perdagangan tumbuhan dan satwa liar yang dijalankan berdasarkan peraturan
perundangan nasional dan CITES, adalah dalam upaya memanfaatkan potensi tumbuhan dan
satwa liar secara lestari. Dibalik itu, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa perdagangan
tumbuhan dan satwa liar ilegal juga terjadi baik di tingkat nasional maupun internasional.
Tumbuhan dan satwa liar yang yang menjadi sasaran perdagangan ilegal mengancam lebih parah
kelestarian suatu jenis tumbuhan dan satwa liar, karena pada umumnya dari jenis-jenis yang
berdasarkan hukum nasional termasuk dalam katagori dilindungi, atau masuk dalam katagori
Appendix I CITES. Beberapa jenis satwa liar yang diperdagangkan secara ilegal yang masuk
dalam dua katagori itu, yaitu dilindungi dan masuk Appendix I CITES, diantaranya adalah
orangutan, harimau sumatera, gajah, dan badak. Perburuan liar terhadap jenis-jenis tersebut
dilakukan untuk tujuan peliharaan, kulit, taring, dan gading/cula.
Dalam ketentuan Peraturan Pemerintah (PP) No. 8 Tahun 1999 dan CITES, pemanfaatan
tumbuhan dan satwa liar dilindungi dan terdaftar dalam Appendix I CITES dimungkinkan
dilakukan, melalui upaya penangkaran. Tumbuhan dan satwa liar dilindungi dapat dimanfaatkan
melalui upaya penangkaran, setelah hasil penangkaran mencapai generasi kedua (F2), dan unit
usaha penangkarannya telah terdaftar di Sekretariat CITES. Namun demikian perdagangan
tumbuhan dan satwa liar dilindungi dan terdaftar dalam Appendix I CITES dari hasil
penangkaran, di Indonesia tidak banyak dilakukan, kecuali untuk jenis arwana dan beberapa jenis
burung. Faktanya adalah perdagangan tumbuhan dan satwa liar dilindungi dan terdaftar dalam
Appendix I CITES yang diambil dari habitat alam masih terjadi, baik untuk perdagangan di
dalam negeri dan perdaganagan ke luar negeri. Tentu saja, perburuan ilegal ini semakin
mengancam keberadaan populasi jenis tumbuhan dan satwa liar yang dihabitat alam sudah
semakin sedikit, dengan habitat yang semakin terbatas. Langkah penting untuk mengatasi
perburuan ilegal adalah melakukan penegakan hukum secra tegas, dan mengembangkan secara
terus menerus teknik/metoda penangkaran tumbuhan dan satwa liar dilindungi dan terdaftar
dalam Appendix I CITES.
6. Perdagangan Manusia

Perdagangan manusia adalah segala transaksi jual beli terhadap manusia.


Menurut Protokol Palermo pada ayat tiga definisi aktivitas transaksi meliputi:

Perikritan
Perekrutan

Pengiriman
pemindah-tanganan
penampungan atau penerimaan orang

Yang dilakukan dengan ancaman, atau penggunaan kekuatan atau bentuk-bentuk pemaksaan
lainya, seperti:

penculikan
muslihat atau tipu daya
penyalahgunaan kekuasaan
penyalahgunaan posisi rawan
menggunakan pemberian atau penerimaan pembayaran (keuntungan) sehingga diperoleh
persetujuan secara sadar (consent) dari orang yang memegang kontrol atas orang lainnya
untuk tujuan eksploitasi.

Eksploitasi meliputi setidak-tidaknya; pelacuran (eksploitasi prostitusi) orang lain atau


lainnya seperti kerja atau layanan paksa, pebudakan atau praktik-praktik serupa perbudakan,
perhambaan atau pengambilan organ tubuh. Dalam hal anak perdagangan anak yang dimaksud
adalah setiap orang yang umurnya kurang dari 18 tahun.
7. Pasar Gelap

Pasar gelap ialah sektor kegiatan ekonomi yang melibatkan transaksi ekonomi ilegal,
khususnya pembelian dan penjualan barang dagangan secara tak sah. Barang-barangnya sendiri
bisa ilegal, seperti penjualan senjata atau obat-obatan terlarang; barang dagangan bisa curian;
atau barang dagangan barangkali sebaliknya merupakan barang resmi yang dijual secara gelap
untuk menghindari pembayaran pajak atau syarat lisensi, seperti rokokatau senjata api tak
terdaftar. Disebut demikian karena urusan "ekonomi gelap" atau "pasar gelap" dilakukan di luar
hukum, dan perlu diadakan "dalam kegelapan", di luar penglihatan hukum. Pasar gelap dikatakan
berkembang saat pembatasan tempat negarapada produksi atau syarat barang dan layanan yang
berasal dari konflik dengan permintaan pasar. Pasar-pasar itu berhasil baik, kemudian, saat
pembatasan negara makin berat, seperti selama pelarangan atau pendistribusian. Bagaimanapun,
pasar gelap secara normal hadir dalam ekonomi kapitalisme maupun sosialisme. Istilah pasar
gelap dalam bahasa inggris dikenal dengan illicit trade (dulu illegal trade, sekarang berusaha
untuk dihapus karena tidak sesuai).

Pada bulan Oktober 2002, sebagai bagian dari program pemerintah Australia untuk memperluas kapasitas
anti terror Indonesia dan mendukung Polri, Perdana Menteri Australia mengumumkan komitmen sebanyak $4.7 juta
dalam jangka waktu empat tahun untuk mendirikan Indonesian Transnational Crime Centre (TNCC) di Jakarta.
Berdasarkan ini, proyek TNCC secara resmi dimulai pada bulan Juli 2003. Semenjak itu TNCC telah berkembang
dengan jumlah personil Polri sebanyak enam puluh enam. Penasehat AFP juga ditempatkan di TNCC.
KEJAHATAN LINTAS NEGARA
Kejahatan Lintas Negara adalah kejahatan yang terjadi dengan melewati garis perbatasan negara. Istilah
ini sering digunakan dalam bidang penegakan hukum dan komunitas akademis.
Kata "lintas negara" menjelaskan sebuah kejahatan yang bukan hanya internasional (yaitu kejahatan yang
melewati batas antar negara), tetapi kejahatan yang dari sifatnya melibatkan lintas perbatasan sebagai bagian
penting dari kegiatan kejahatan mereka. Kejahatan Lintas Negara juga termasuk kejahatan yang terjadi di satu
negara, namun akibatnya sangat berpengaruh terhadap negara lain.
Transnational organized crime (TOC) adalah Kejahatan Lintas Negara yang secara khusus dilakukan oleh
organisasi kejahatan terorganisir.
(Untuk mendapatkan kopian dari TCA ini dapat menghubungi pihak TNCC di TNCC@tncc.co.id (Catatan:
TCA ini hanya untuk digunakan oleh polisi)
Transnational Crime Coordination Centre (TNCC) TCA Indonesia mewakili usaha kerjasama antara POLRI
dan AFP untuk memahami ancaman kejahatan lintas Negara yang memiliki dampak bagi aparat di masing masing
Negara. TCA mendukung penuh diskusi kedua Negara yang diadakan setiap tahun dalam SOM POLRI dan AFP dan
mewakili penyampaian nyata yang terkandung dalam Memorandum of Understanding (MOU) antara pemerintah
Indonesia dan Australia dalam memerangi kejahatan lintas negara dan meningkatkan kerjasama polisi antar negara.
Tinjauan ini memberikan serambi masa depan kerjasama antara Indonesia dan Australia dengan menggarisbawahi
kesepakatan persepsi antara POLRI dan AFP mengenai ancaman kejahatan lintas Negara yang memiliki dampak
bagi kawasan. TCA menggambarkan isu isu yang diidentifikasi oleh masing masing agensi yang memiliki dampak
akan kegiatan aparat penegak hukum Indonesia dan Australia.
TCA pertama dirilis tahun 2008 dan mewakili penilaian pertama yang dihasilkan oleh TNCC. Hal ini
menguraikan sifat dan beragamnya jenis aksi kejahatan yang berdampak bagi Indonesia dan Australia, kesuksesan
aparat penegak hukum yang tercapai dalam memerangi jenis kejahatan ini mendukung kolaborasi yang lebih besar
antara POLRI dan AFP. TCA 2008 dihadirkan sebelum SOM pada bulan Mei 2008. SOM mendukung TCA 2008 dan
merekomendasikan hasil yang dicapai tiap tahunnya. Pelaksanaan rekomendasi ini kemudian diformalkan melalui
pengukuhan TCA tahunan untuk memandu kerangka kerjasama strategis, sesuai dengan paragraf 12 MOU tersebut
diatas dalam membasmi kejahatan lintas negara dan membangun kerjasama antar polisi, yang diperbaharui tanggal
13 November 2008.
Pembahasan lebih lanjut investigasi yang dilaksanakan oleh POLRI dan atau AFP bukanlah tujuan agenda
TCA, juga bukan untuk mengidentifikasi kekurangan metode investigasi atau kemampuan masing masing agensi.
Sebaliknya, TCA adalah untuk menginformasikan kerangka dasar strategik mengenai isu isu kejahatan lintas Negara
yang menjadi tren dan berkembang saat ini yang berdampak untuk Indonesia dan Australia dan untuk
menggarisbawahi kesuksesan operasional masing masing agensi.
TCA 2008 mengevaluasi delapan ancaman kejahatan yang berhasil dimonitor oleh TNCC, dengan
tambahan lima tren kejahatan lain yang sedang berkembang. Dalam TCA yang pertama, berhasil menarik
kesimpulan dari informasi sejarah yang memberikan konteks bagaimana masing-masing jenis kejahatan berdampak
pada sejarah Indonesia dan Australia. TCA yang selanjutnya kemudian akan memberikan penilaian yang lebih tepat

berdasarkan data relevan selama dua belas bulan terakhir dan kemudian akan memberikan rekomendasi untuk
kemajuan yang diperlukan guna membasmi tindak kejahatan lintas Negara.
Pada saat Pertemuan Pejabat Polri dan AFP, Senior Officer Meeting (SOM) bulan Juni 2009 telah disepakati
bahwa TCA diharuskan mengambil data tahunan intelijen strategis mulai dari 1 Januari s/d 31 Desember. Sebagai
akibatnya TCA yang sekarang adalah yang kedua yang sudah dibuat pada tahun 2009 dan menggunakan data dari
versi yang pertama, dan memperbarui bagian yang sesuai. TCA ini mentelaah beberapa ancaman berikut yang
mempunyai dampak terhadap Indonesia dan Australia: Terorisme, Penyelundupan Manusia, Perdagangan Manusia,
Obat Obat Terlarang, Wisata Sex Anak, Kejahatan Lingkungan, Pencucian Uang, Kejahatan Menggunakan
Teknologi, Bajak Laut, Penyelundupan Senjata, Pelanggaran Hak Cipta, Kejahatan Identitas.
Perluasan dan peningkatan dari jenis kejahatan lintas negara yang terjadi di wilayah ini digambarkan
dengan melebarnya kelompok kelompok ke dalam pasar kejahatan lainnya, meningkatkan kecanggihan dan
keamanan dari operasi kejahatan tsb melalui eksploitasi teknologi dan kerjasama antar kelompok agar dapat secara
efektif melakukan operasi mereka dalam keadaan yang penuh tantangan di masing masing yurisdiksi.
Tahun 2009 dicatat dengan dua alasan tertentu: Kedatangan besar-besaran dari usaha Penyelundupan
Manusia terorganisir yang transit di Indonesia dengan tujuan Australia dan kemudian serangan bom teroris pada
tanggal 17 Juli 2009. Sementara Penyelundupan Manusia saat ini masih terus menjadi prioritas Polri dan AFP,
ancaman berkelanjutan dari terorisme tetap ada. Tahun tsb juga menyaksikan peningkatan pada kejahatan ekonomi
dan lingkungan yang memanfaatkan sumber daya alam, habitat serta margasatwa yang berpotensi membawa
kerusakan yang permanen. Kejahatan ini menggambarkan ancaman kejahatan lintas negara pada wilayah ini yang
disebabkan oleh arus arus hebat seperti penurunan ekonomi global.
TCA terfokus pada :

Terorisme

Perdagangan Manusia

Obat Obat Terlarang

Wisata Sex Anak

Kejahatan Lingkungan
o Penangkapan Ikan Ilegal
o Pembalakan Liar
o Penambangan Liar

Pencucian Uang

Kejahatan Menggunakan Teknologi

Bajak Laut

Penyelundupan Senjata

Pelanggaran Hak Cipta

Kejahatan Identitas

Penyelundupan Manusia

Kementerian Luar Negeri


Republik Indonesia
Isu-Isu Khusus

Kejahatan Lintas Negara


Selasa, 04 Februari 2014
Dengan perkembangannya yang demikian pesat, kejahatan lintas negara
(transnational crimes) dewasa ini telah menjadi salah satu ancaman serius
terhadap keamanan global. Pada lingkup multilateral, konsep yang dipakai
adalahTransnational Organized Crimes (TOC) yang disesuaikan dengan instrumen
hukum internasional yang telah disepakati tahun 2000 yaitu Konvensi PBB
mengenai Kejahatan Lintas Negara Terorganisir (United Nations Convention on
Transnational Organized Crime-UNTOC).

UNTOC menyebutkan bahwa transnational organized crime (TOC) atau kejahatan


lintas negara terorganisir adalah kejahatan lintas negara yang dilakukan oleh
suatu kelompok yang terstruktur, terdiri atas tiga orang atau lebih, dalam kurun
waktu tertentu dan dilakukan secara terorganisir dengan tujuan untuk melakukan
satu atau lebih kejahatan serius sebagaimana yang dimaksud di dalam Konvensi dalam rangka memperoleh, secara
langsung maupun tak langsung, keuntungan finansial atau material lainnya.

Kejahatan lintas negara memiliki karakteristik yang sangat kompleks. Beberapa faktor yang menunjang
kompleksitas perkembangan kejahatan lintas batas negara antara lain adalah globalisasi, migrasi atau pergerakan
manusia, serta perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi yang pesat. Keadaan ekonomi dan
politik global yang tidak stabil juga berperan menambah kompleksitas tersebut.

Pada Pertemuan Tingkat Tinggi yang diselenggarakan di Majelis Umum PBB tanggal 17 Juni 2010, Sekretaris
Jenderal PBB Ban Ki-Moon menyebutkan bahwa di satu sisi ancaman kejahatan lintas negara semakin meningkat
namun di sisi lain kemampuan negara untuk mengatasinya masih terbatas. Untuk itu, sangat penting bagi negaranegara untuk meningkatkan kerjasama internasional untuk secara kolektif menanggulangi meningkatnya ancaman
kejahatan lintas negara tersebut.

UNTOC yang telah diratifikasi Indonesia dengan UU No. 5/2009 menyebutkan sejumlah kejahatan yang termasuk
dalam kategori kejahatan lintas negara terorganisir, yaitu pencucian uang, korupsi, perdagangan gelap tanaman
dan satwa liar yang dilindungi, kejahatan terhadap benda seni budaya (cultural property), perdagangan manusia,
penyelundupan migran serta produksi dan perdagangan gelap senjata api. Konvensi juga mengakui keterkaitan
yang erat antara kejahatan lintas negara terorganisir dengan kejahatan terorisme, meskipun karakteristiknya
sangat berbeda. Meskipun kejahatan perdagangan gelap narkoba tidak dirujuk dalam Konvensi, kejahatan ini
masuk kategori kejahatan lintas negara terorganisir dan bahkan sudah diatur jauh lebih lengkap dalam tiga
Konvensi terkait narkoba sebelum disepakatinya UNTOC yaitu Single Convention on Narcotic Drugsi, Convention on
Psychotropic Substances 1971 melalui UU No.8 Tahun 1996 tentang Pengesahan Convention on Psychotropic
Substances 1971, Convention against the Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances 1988.

Seiring perkembangan jaman, terdapat berbagai kejahatan lintas negara lainnya yang perlu ditangani secara
bersama dalam kerangka multilateral, seperti kejahatan pencurian dan penyelundupan obyek-obyek budaya,
perdagangan organ tubuh manusia, environmental crime (seperti illegal logging dan illegal fishing), cyber
crimedan identitys-related crime.

Meskipun belum terdapat kesepakatan mengenai konsep dan definisi atas beberapa kejahatan tersebut, secara
umum kejahatan ini merujuk secara luas kepada non-violent crime yang pada umumnya mengakibatkan kerugian
finansial.
Semakin beragam dan meluasnya tindak kejahatan lintas negara tersebut telah menarik perhatian dan mendorong
negara-negara di dunia melakukan kerjasama untuk menanggulangi kejahatan tersebut di tingkat bilateral,
regional dan multilateral.

Di tingkat multilateral, PBB memprakarsai dan melakukan langkah-langkah peningkatan kerjasama internasional
memberantas kejahatan lintas negara, sejalan dengan implementasi Konvensi-konvensi terkait yang ada, seperti:
UNTOC dan 3 Protokolnya, UNCAC, Single Convention on Narcotics Drugs 1961, Convention on Psychotropic
Substances 1971 dan UN Convention against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances 1988 .
Terkait dengan itu, juga telah dibangun jejaring antar instansi focal point masing-masing negara sebagaimana
yang dimandatkan oleh masing-masing Konvensi, yang diharapkan dapat mempercepat penanganan terhadap
kejahatan lintas negara.

Posisi Indonesia

Indonesia terus mempertegas komitmennya dan mendorong upaya untuk mencegah dan memberantas kejahatan
lintas negara yang terorganisir. Dalam kaitan itu, Indonesia telah meratifikasi UNTOC melalui UU No. 5 Tahun 2009.
Selain itu, terdapat sejumlah instrumen hukum internasional lainnya, yang telah ditandatangani dan juga
diratifikasi Indonesia seperti:
a. Single Convention on Narcotic Drugs 1961 melalui UU No.8 Tahun 1976 tentang Pengesahan Konvensi
Tunggal Narkotika 1961 beserta Protokol yang Mengubahnya;
b. Convention on Psychotropic Substances 1971 melalui UU No.8 Tahun 1996 tentang Pengesahan
Konvensi Psikotropika 1971;
c. Convention against the Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances 1988 melalui UU
No. 7 Tahun 1997 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs
and Psychotropic Substances, 1988 (Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Pemberantasan
Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika, 1998);
d.
Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and Children melalui UU
No. 14 Tahun 2009 tentang PengesahanProtocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Persons,
Especially Women and Children (Protokol untuk Mencegah, Menindak, dan Menghukum Perdagangan
orang, Terutama Perempuan dan Anak-anak, Melengkapi Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa
Menentang Tindak Pidana Transnasional yang Terorganisasi);
e.
Protocol against the Smuggling of Migrants by Land, Air and Sea melalui UU No. 15 Tahun 2009 tentang
Pengesahan Protocol against the Smuggling of Migrants by Land, Air and Sea (Protokol Menentang
Penyelundupan Migran Melalui Darat, Laut, dan Udara, Melengkapi Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa
Menentang Tindak Pidana Transnasional yang Terorganisasi); dan
f.
United Nations Convention against Corruption 2003 melalui UU No. 7 Tahun 2006.

Indonesia mendorong kerjasama internasional dalam menanggulangi kejahatan lintas negara terorganisir
khususnya terkait upaya peningkatan kapasitas, pemberian bantuan teknis dan pertukaran informasi di antara para
pejabat terkait.
Indonesia akan terus berupaya menunjukkan kepemimpinannya yang saat ini telah ditunjukkan dengan
menjadi Chair Bali Process on People Smuggling, Trafficking in Persons and Related Transntional Crime, Vice
President Konferensi Negara Pihak UNCAC (Periode 2011-2013), dan Presiden Konferensi UNTOC (Periode 20122014).

Pada tingkat internasional, Indonesia akan selalu berpartisipasi secara aktif dalam berbagai forum internasional
terkait dengan penanggulangan kejahatan lintas negara, antara lain:

1.

Commission on Narcotic Drugs (CND),

2.

Commission on Crime and Criminal Justice (CCPCJ), termasuk UN Crime Congress yang diselenggarakan
setiap 5 tahun sekali,

3.

Conference of Parties dari UNCTOC, termasuk intergovernmental working groups yang diselenggarakan
dalam kerangka UNCTOC, dan

4.

Conference of States Parties dari UNCAC,


diselenggarakan dalam kerangka UNCAC).

termasuk

intergovernmental

working

groups

yang

Indonesia juga ikut aktif dalam forum sektoral seperti Asia Pacific Group on Money Laundering dan Egmont Group.
Kedua forum tersebut membahas isu pencegahan dan pemberantasan isu pencucian uang dan mendorong
kerjasama antar institusi yang secara spesifik menangani isu tersebut yaitu Financial Intelligence Unit (mitra kerja
PPATK). Sementara itu, terkait penanggulangan korupsi, Indonesia telah menunjukkan keseriusannya dalam upaya
pemberantasan korupsi diantaranya dengan menjadi tuan rumah Konferensi Negara Pihak UNCAC sesi kedua di Bali
pada tahun 2008 dan menjadi Wakil Presiden mewakili Kelompok Asia pada Konferensi Negara Pihak UNCAC di
Marrakesh, Maroko pada tahun 2011.

BERITA 2 KEMENLU
Berita Terkini

Jaga Kedaulatan Negara, Kemlu RI: Hormati Local Wisdom dan Kembangkan Potensi Perbatasan
Selasa, 08 April 2014

JAKARTA A nation without borders is not a nation. Sayangnya selama ini


ada kecenderungan kita bersikap indifferent terhadap isu perbatasan,
demikian disampaikan Duta Besar M Wahid dalam acara Focus Group
Discussion (FGD) bertajuk Strategi Pengembangan Potensi Wilayah
Perbatasan:
Penguatan
Pemerintah
Lokal
dalam
Kerjasama
Internasional (05/04).
Acara ini diselenggarakan oleh Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika
(P3K2 Aspasaf), Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK), Kementerian Luar Negeri. Sebagai
pembicara dalam acara tersebut adalah Drs. H. Kafrawi Bakhtiar MSI, Asisten Deputi Pengelolaan Infrastruktur
Ekonomi dan Kesra, Badan Nasional Pengelola Perbatasan, Drs. Krisman Manurung MM, Asisten Deputi Urusan
Daerah Perbatasan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, Drs. Arto Suryodipuro MA, Direktur Kerja Sama
Intra Kawasan Asia Pasifik dan Afrika, Kemlu, Duta Besar Josef Berty Fernandez, serta Bapak Arisman, Direktur
Eksekutif Pusat Studi ASEAN Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Ketidakpedulian terhadap perbatasan dikhawatirkan sangat minim, khususnya dikaitkan dengan kesenjangan
ekonomi antara masyarakat Indonesia di perbatasan dengan negara tetangga.
Selain itu masalah perbatasan juga akan bersinggungan dengan isu politik dan keamanan, di antaranya potensi
konflik akibat sengketa perbatasan maupun isu transnational crimes.

Dalam konteks ini, Kementerian Luar Negeri selaku focal point hubungan luar negeri berperan garda terdepan

untuk mendorong potensi wilayah perbatasan, baik melalui diplomasi bilateral dengan negara tetangga maupun
melalui kerja sama sub regional seperti Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) dan Brunei
Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA).

Dalam konteks bilateral, Kemlu memfokuskan upaya


masih, transnational crimes, danperlindungan WNI.

diplomasi

pada

penetapan garis

perbatasan

yang

Dalam konteks kerja sama sub-regional, Kemlu mengkoordinir pemangku kepentingan yang terdiri atas instansi
pemerintah pusat, pemerintah daerah dan swasta untuk secara aktif memanfaatkan forum tersebut.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi dalam pengembangan potensi wilayah perbatasan adalah konektivitas
domestik dan integrasi ekonomi nasional Indonesia. Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat besar.
Karenanya, pembangunan infrastruktur darat, laut dan udara perlu menjadi prioritas utama agar arus distribusi
manusia dan barang bisa diefektifkan.
Selain itu perlu pula diprioritaskan sarana pendidikan untuk meningkatkan SDM masyarakat perbatasan dan
pembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

Poin penting lainnya adalah perlunya mengubah mindset mengenai perbatasan, bahwa perbatasan adalah halaman
belakang suatu negara.Apabila terjadi perubahan paradigma, dari halaman belakang menjadi halaman depan suatu
negara maka perbatasan akan lebih banyak menerima perhatian.

Kedaulatan bukan sesuatu yang given, namun merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan. Kedaulatan juga
bukan hanya merupakan hak, namun terdapat kewajiban yang melekat untuk mempertahankannya, begitu
menurut Kepala P3K2 Aspasaf.

Tantangan lainnya dalam pembangunan perbatasan yang mengemuka dalam acara diskusi adalah masih
minimnya koordinasi antar institusi pemerintah di Indonesia yang menangani perbatasan. Selama ini berbagai
Kementerian dan Lembaga Pemerintah sudah menangani masalah perbatasan, namun koordinasi masih dapat
ditingkatkan. Untuk itu, pembentukan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) diharapkan dapat menjadi
penyelesaian masalah tersebut.

Guna memastikan keberhasilan pembangunan wilayah perbatasan, narasumber Duta Besar Josef Berty
menyampaikan perlunyamemahami local wisdom sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahpahaman.

Bangun masyarakat perbatasan dengan hati. Pemerintah RI harus mengetahui local wisdom masyarakat
perbatasan sehingga upaya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah tepat sasaran dan tidak sia-sia. Kalau
perlu melibatkan sosiolog dan antropolog dalam merumuskan kebijakan pembangunan perbatasan, demikian
penegasan Duta Besar Berty.
Mantan Duta Besar RI untuk negara Peru yang pernah bertugas sebagai Kepala Badan Perbatasan Provinsi Papua
tersebut menambahkan, pengembangan wilayah perbatasan juga harus disesuaikan dengan kondisi setempat agar
efektif dan tepat guna. Selain itu pembangunan harus dilakukan dengan memberdayakan pemerintah lokal. Dalam
hal ini pemerintah pusat juga harus tetap berperan melakukan pengawasan dengan langsung turun ke lapangan
untuk mengontrol pembangunan yang telah dilakukan.

Acara FGD dihadiri oleh wakil instansi pemerintah pusat dan pemerintah daerah selaku pemangku kepentingan
mengenai perbatasan, di antaranya Kemenko Polhukam, Sekretariat Negara, Kementerian Kelautan dan Perikanan,
Kementerian Luar Negeri, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta Pemprov Kalimantan Barat. Selain itu terdapat

wakil dari Pusat Studi ASEAN Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. (Sumber: BPPK P3K2
Aspasaf/Ed. VKH)