Anda di halaman 1dari 5

e FAKTUR PAJAK

PENDAHULUAN
Faktur Pajak merupakan bukti pungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang wajib dibuat
oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan
Jasa Kena Pajak. Faktur Pajak yang diterbitkan oleh pihak Penjual ini akan menjadi bukti bagi pihak
Pembeli yang merupakan PKP untuk mengkreditkan PPN yang tercantum dalam Faktur Pajak yang
diterimanya dari pihak Penjual ini (disebut sebagai Pajak Masukan) sebagai pengurang dari PPN
yang harus disetorkannya ke kas Negara yang dihitung dalam SPT Masa PPN.
Selama ini ada banyak kasus yang dilakukan oleh oknum pengusaha untuk memalsukan atau
menyalahgunakan Faktur Pajak untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan mengambil uang
Negara yang berasal dari PPN. Modus penyalahgunaan Faktur Pajak ini dapat dilakukan akibat
masih lemahnya sistem pengawasan terhadap penerbitan Faktur Pajak yang dilakukan oleh pihak
Direktorat Jenderal Pajak. Untuk mengatasi penyalahgunaan dan pemalsuan Faktur Pajak ini, pihak
Direktorat Jenderal Pajak senantiasa berupaya dengan menciptakan regulasi dan sistem baru untuk
menutupi kelemahan-kelemahan yang dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung
jawab tersebut. Salah satu inovasi terbaru adalah dengan menciptakan pengawasan melalui
pemberian nomor Faktur Pajak yang dikendalikan secara sistem oleh Direktorat Jenderal Pajak
serta rencana penerapan sistem penerbitan Faktur Pajak secara elektronik yang diatur dalam
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 151/PMK.011/2013 serta PER-16/PJ/2014.
Sebelumnya kita sudah membiasakan dengan e-SPT PPN yaitu aplikasi pelaporan SPT Masa
PPN, sekarang sudah ada e-Faktur (di luar negeri disebut e-Invoice) untuk pelaporan faktur pajak
secara elektronik. Ketentuan ini belum berlaku bagi semua WP PKP, untuk periode Juli 2014-Juni
2015 hanya berlaku untuk 45 WP PKP yang sudah ditunjuk DJP. Namun semua WP PKP akan segera
menerapkannya di tahun-tahun mendatang.

DASAR HUKUM
Dasar Hukum dan peraturan yang mengatur teknis tata pelaksanaannya yaitu sebagai
berikut:
1. Undang-Undang PPN Tahun 2009, Pasal 13 (8)
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 151/PMK.011/2013 tentang Tata Cara Pembuatan Dan
Tata Cara Pembetulan Atau Penggantian Faktur Pajak.
3. Peraturan Dirjen Pajak, PER-16/PJ/2014 (berlaku sejak 1 Juli 2014) tentang Tata Cara
Pembuatan dan Pelaporan Faktur Pajak Berbentuk Elektronik.
4. PER-17/PJ/2014 tentang : Perubahan Kedua Atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor
Per-24/Pj/2012 Tentang Bentuk, Ukuran, Tata Cara Pengisian Keterangan, Prosedur
Pemberitahuan Dalam Rangka Pembuatan, Tata Cara Pembetulan Atau Penggantian, Dan Tata
Cara Pembatalan Faktur Pajak.
5. Peraturan Dirjen Pajak, PER-24/PJ/2014
6. Keputusan Dirjen Pajak, KEP-136/PJ/2014 (berlaku sejak 1 Juli 2014) tentang Penetapan
PKP yang Diwajibkan Membuat Faktur Pajak Berbentuk Elektronik.

BENTUK FAKTUR PAJAK

Bentuk Faktur Pajak yang kita kenal selama ini Faktur Pajak yang berbentuk kertas yang
diterbitkan oleh Pengusaha Kena Pajak sebagai pihak yang melakukan penyerahan Barang/Jasa
Kena Pajak dengan bentuk dan tampilan yang minimal berisi informasi dan keterangan sesuai
dengan yang diatur dalam Pasal 13 ayat (5) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 (UU PPN),
yaitu:
a. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa
Kena Pajak;
b. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa
Kena Pajak;
c. Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan harga;
d. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut;
e. Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut;
f. Kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan
g. Nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak.
Selama ini, pengadaan Faktur Pajak diserahkan kepada Pengusaha Kena Pajak dengan bentuk
dan ukuran Faktur Pajak yang disesuaikan dengan kepentingan Pengusaha Kena Pajak. Faktur
Pajak yang diterbitkan oleh Pengusaha Kena Pajak ini dilakukan secara manual dengan
menggunakan dokumen kertas (hardcopy). Sedangkan untuk penomoran Faktur Pajak, sejak 1
April 2013 (yang akhirnya baru diberlakukan untuk seluruh Pengusaha Kena Pajak mulai 1 Juni
2013), Pengusaha Kena Pajak harus mengajukan permohonan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
terdaftar untuk memperoleh jatah nomor Faktur Pajak yang dapat digunakannya untuk
menerbitkan Faktur Pajak.
Mulai 1 Januari 2014, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 151/PMK.011/2013
bentuk Faktur Pajak ditetapkan terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu berbentuk:
- kertas (hardcopy), adalah Faktur Pajak yang dibuat secara manual (tidak secara elektronik).
Bentuk Faktur Pajak kertas ini adalah yang digunakan dan berlaku selama ini.
- elektronik, adalah Faktur Pajak yang dibuat secara elektronik. Bentuk dan tata cara
pembuatan Faktur Pajak elektronik ini akan ditetapkan melalui Peraturan Direktur Jenderal
Pajak. (PER-16/PJ/2014 dan PER-17/PJ/2014)
Bentuk e-Faktur adalah berupa dokumen elektronik Faktur Pajak, yang merupakan hasil
keluaran (output) dari aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh
Direktorat Jenderal Pajak (Pasal 10 ayat (1) PER-16/PJ/2014). e-Faktur tidak diwajibkan untuk
dicetak dalam bentuk kertas (hardcopy). (Pasal 10 ayat (2) PER-16/PJ/2014).

FAKTUR PAJAK ELEKTRONIK


Faktur Pajak yang berbentuk elektronik, yang selanjutnya disebut e-Faktur, adalah Faktur
Pajak yang dibuat melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh
Direktorat Jenderal Pajak.(Pasal 1 ayat (1) PER-16/PJ/2014).
Aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal
Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan petunjuk penggunaan (manual user)
yang merupakan satu kesatuan dengan aplikasi atau sistem elektronik tersebut. (Pasal 1 ayat (3)
PER-16/PJ/2014)

Faktur Pajak Elektronik atau e-Faktur merupakan bentuk Faktur Pajak yang baru akan
diberlakukan oleh pihak Direktorat Jenderal Pajak. Faktur Pajak Elektronik ini diklaim akan
mempermudah proses administrasi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Selain itu,
dengan e-Faktur diharapkan akan lebih mudah bagi Direktorat Jenderal Pajak dalam melakukan
pengawasan terhadap penerbitan Faktur Pajak yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak.
Sehingga apabila ada Faktur Pajak yang tidak benar, fiktif atau Faktur Pajak yang telah diterbitkan
oleh Pengusaha Kena Pajak namun tidak dilaporkan dan disetorkan PPN yang telah dipungut, akan
dapat dengan segera diidentifikasi oleh pihak Direktorat Jenderal Pajak.
Untuk menerapkan pembuatan e-Faktur ini, pihak Direktorat Jenderal Pajak telah
menyediakan aplikasi yang dapat diinstall di perangkat komputer Pengusaha Kena Pajak. e-Faktur
ini akan otomatis terhubung ke program e-SPT, sehingga akan memudahkan Pengusaha Kena Pajak
dalam membuat SPT Masa PPN secara elektronik menggunakan program e-SPT. Rencananya untuk
Wajib Pajak Besar, akan dibuat ketentuan yang mewajibkan Pengusaha Kena Pajak untuk
menyediakan sistem pembuatan e-Faktur yang terhubung ke server di Direktorat Jenderal Pajak.
Salah satu keunggulan dari e-Faktur ini adalah Pengusaha Kena Pajak tidak perlu lagi mencetak
Faktur Pajaknya dalam bentuk hardcopy dan tidak perlu lagi menandatangani Faktur Pajak secara
manual karena nantinya akan diberikan barcode sebagai pengganti tandatangan manual.
Saat Dimulainya Penerapan Faktur Pajak Elektronik. Soft Launcing dan Pembukaan Piloting
Aplikasi e-Faktur Pajak di auditorium Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (KPDJP) Senin, 10
Februari 2014. Piloting dihadiri oleh perwakilan pengusaha dan diberikan sosialisasi mengenai
aplikasi e-Faktur Pajak. Piloting bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang mungkin
dihadapi sebelum dilakukan Hard Launching.
Mulai 1 Juli 2014, e-Faktur Pajak untuk tahap pertama uji coba ini akan diterapkan di kepada
Pengusahan Kena Pajak (PKP) tertentu di Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar, Kantor
Pelayanan Pajak Khusus, dan Kantor Pelayanan Pajak Madya di Jakarta. Kemudian mulai 1 Juli 2015
e-Faktur Pajak akan diberlakukan untuk seluruh PKP di Kantor Pelayanan Pajak Pulau Jawa dan
Bali. Sedangkan pemberlakukan e-Faktur Pajak secara nasional akan secara serentak dimulai pada
1 Juli 2016.
Ada 3 gelombang penerapan e-Faktur bagi WP PKP, yaitu:
1. PKP wajib e-Faktur sejak 1 Juli 2014 ada 45 WP PKP yang ditetapkan melalui KEP136/PJ/2014,
2. PKP wajib e-Faktur sejak 1 Juli 2015 adalah WP PKP di Jawa & Bali (diktum kedua KEP136/PJ/2014)
3. PKP wajib e-Faktur sejak 1 Juli 2016 adalah WP PKP seluruh Indonesia (diktum ketiga KEP136/PJ/2014)
Transaksi yang wajib dibuatkan e-Faktur
PKP wajib membuat e-Faktur untuk setiap: (Pasal 2 ayat (1) PER-16/PJ/2014)
Penyerahan BKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a dan/atau Pasal 16D
UU PPN; dan/atau
Penyerahan JKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf c UU PPN.
Transaksi yang dikecualikan dari kewajiban pembuatan e-FAKTUR
Kewajiban pembuatan e-Faktur dikecualikan atas penyerahan BKP dan/atau JKP: (Pasal 2
ayat (2) PER-16/PJ/2014)

Yang dilakukan oleh pedagang eceran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 PP 1 TAHUN
2012;
Yang dilakukan oleh PKP Toko Retail kepada orang pribadi pemegang paspor luar negeri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16E UU PPN; dan (free duty shop)
Yang bukti pungutan PPN-nya berupa dokumen tertentu yang kedudukannya dipersamakan
dengan Faktur Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6) UU PPN. Resi telkom,
resi PPLN, tiket pesawat

MANFAAT DAN PELUANG e-FAKTUR


Pada kesempatan yang sama, pihak DJP juga menyampaikan manfaat dari penggunaan eFaktur Pajak yaitu:
Bagi Wajib Pajak:
a. Pengusaha Kena Pajak tidak perlu lagi mencetak Faktur Pajaknya dalam bentuk hardcopy.
Beban compliance cost berkurang, karena tidak ada lagi biaya kertas, biaya kirim, nge-print,
tenaga kerja verifikasi, pengkodean, dan mengurangi pegawai yang dipekerjakan untuk
menangani PPN
b. Tampilan eFaktur Pajak bisa dilihat dalam format Pdf dan disimpan di komputer.
c. Tanda tangan basah digantikan dengan tanda tangan elektronik, sehingga e-Faktur Pajak
tidak diwajibkan untuk dicetak dalam lembaran kertas. Nantinya akan diberikan barcode
sebagai pengganti tandatangan manual. Hal ini sangat membantu PKP yang mengeluarkan
banyak faktur pajak dalam sebulan. e-Faktur menggunakan QR Code sebagai pengganti tanda
tangan. Uniknya dengan QR Code reader kita bisa mengecek keabsahan faktur pajak asli atau
bodong
d. e-Faktur Pajak memberikan kemudahan, kenyamanan dan keamanan karena akan semakin
yakin bahwa faktur pajak telah sesuai dengan transaksi sebenarnya sehingga dapat
dikreditkan. Mereka juga terhindar dari faktur pajak fiktif lawan transaksi yang dapat
merugikan perusahaannya. Ini akan memudahkan para pengusaha PKP untuk mengetahui
apakah lawan transaksinya PKP atau bukan
e. Proteksi dari penyalahgunaan pihak yang tidak bertanggungjawab. Adanya approval dari
Direktorat Jenderal Pajak, dan validasi faktur pajak dapat diketahui oleh pihak pembeli.
Bagi Direktorat Jenderal Pajak:
a. Mempermudah proses administrasi pelayanan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
Proses klarifikasi faktur pajak saat pemeriksaan pajak lebih cepat dan tidak berbelit-belit.
Mempercepat proses pada waktu pemeriksaan dan pengembalian restitusi.
b. Lebih mudah bagi Direktorat Jenderal Pajak dalam melakukan pengawasan terhadap
penerbitan Faktur Pajak yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak Memperkecil resiko
faktur pajak fiktif karena adanya validitasi faktur pajak dari DJP secara online.
c. Membantu program go green yang dicanangkan pemerintah, karena tak perlu dicetak
(paperless).

TANTANGAN e-FAKTUR
Bagi Wajib Pajak :

a. Bagi wajib pajak yang tidak diwajibkan untuk menjadi PKP namun memohon untuk
dikukuhkan sebagai PKP (biasanya wajib pajak orang pribadi maupun komanditer yang
bertransaksi dengan bendahara pemerintah maupun perusahaan besar), tidak memiliki
sumber daya yang cukup baik SDM maupun teknologi.
b. Jaringan internet yang belum merata di seluruh Indonesia, terutama bagi wajib pajak yang
berdomisili di daerah terpencil jauh dari jangkauan teknologi. Akses jaringan merupakan
syarat utama agar aplikasi e-Faktur dapat direkam secara online atau real time.
Bagi Direktorat Jenderal Pajak :
a. Terjadinya Overload Data
Diperlukan pemeliharaan server dan jaringan pada kantor pusat DJP terkait arus keluar
masuk data faktur pajak. Dengan jumlah faktur pajak jutaan setiap hari dari seluruh
Indonesia maka diperlukan server dan jaringan yang stabil agar data faktur pajak yang masuk
tidak rusak maupun hilang. Demikian juga dengan pengamanan data faktur yang berasal dari
wajib pajak.
b. Peraturan ada tetapi sistem belum siap.
Bukan menjadi hal yang baru bahwasanya peraturan yang dikeluarkan oleh Direktorat
Jenderal Pajak tidak dibarengi dengan kesiapan sarana prasarananya, dalam hal ini adalah
aplikasi. Tentunya menjadi momok tersendiri terutama bagi petugas di lapangan (Kantor
Pelayanan Pajak) dimana suatu peraturan tersebut mulai berlaku namun aplikasi yang
diperlukan wajib pajak belum dapat digunakan. Hal ini pula yang menyebabkan
profesionalitas pegawai DJP sering dipertanyakan oleh wajib pajak.