Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Keberhasilan pembangunan, khususnya pembangunan manusia dapat
dinilai secara parsial dengan melihat seberapa besar permasalahan yang paling
mendasar di masyarakat dapat teratasi . Permasalahan-permasalahan tersebut
diantaranya adalah kemiskinan, pengangguran, buta huruf, ketahanan pangan dan
penegakan demokrasi. Namun persoalannya adalah capaian pembangunan
manusia secara parsial sangat bervariasi dimana beberapa aspek pembangunan
tertentu berhasil dan beberapa aspek pembangunan lainnya gagal. Selanjutnya
bagaimanakah keberhasilan pembangunan manusia secara keseluruhan?
Dewasa ini persoalan mengenai capaian pembangunan manusia telah
menjadi perhatian para penyelenggara pemerintahan. Berbagai macam ukuran
pembangunan manusia dibuat namun tidak semuanya dapat digunakan sebagai
ukuran standar yang dapat dibandingkan antar wilayah atau negara. Dengan
demikian, Badan Perserikatan Bangsa-bangsa( PBB) menetapkan suatu ukuran
standar pembangunan manusia yaitu Indeks Pembangunan Manusia ( IPM) atau
Human Development Index (HDI).
Dari tahun ke tahun perhatian pemerintah khususnya para elit kekuasaan,
politisi termasuk para pengamat, akademis dan peneliti tertuju pada laporan
Human Development Index (HDI) yang dipublikasikan setiap tahun oleh United
Nation Devlopment Programme (UNDP) yaitu lembaga dunia yang bernaung di
bawah Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Laporan penyajian pembangunan
sumber daya manusia (SDM) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
seringkali memunculkan polemik dan pro-kontra, namun semuanya sepakat
bahwa pembangunan SDM sangat penting dan menjadi kunci keberhasilan
pembangunan Daerah maupun Nasional pada berbagai bidang terutama terkait
dengan kesejahteraan rakyat. Dengan kata lain, Indeks Pembangunan Manusia
merupakan tolok ukur keberhasilan pembangunan sosial, ekonomi dan bidangbidang lain.
1

Untuk itu peningkatan mutu sumber daya manusia adalah suatu keharusan
yang tidak saja bertumpu pada tanggung jawab pemerintah (negara) namun semua
pihak baik keluarga dan masyarakat secara kelompok berkepentingan lainnya
(stakeholders). Peningkatan kualitas SDM ini perlu upaya sistematis sehingga
harus terintegrasikan dalam semua aspek kehidupan; ekonomi, pendidikan,
kesehatan, politik, budaya dan kehidupan sosial lainnya.

1.2. Perkembangan Model Pembangunan Manusia di Indonesia


Menurut UNDP (1990) pembangunan manusia dirumuskan sebagai
perluasan pilihan bagi penduduk (enlarging the choices of people), yang dapat
dilihat sebagai proses upaya ke arah perluasaan pilihan dan sekaligus sebagai
taraf yang dicapai dari upaya tersebut. Pada saat yang sama, pembangunan
manusia dapat dilihat juga sebagai pembangunan (formation) kemampuan
manusia melalui perbaikan taraf kesehatan, pengetahuan, dan keterampilan;
sekaligus sebagai pemanfaatan (utillization) kemampuan/keterampilan mereka
tersebut. Konsep pembangunan ini jauh lebih luas pengertiannya dibandingkan
konsep pembangunan ekonomi yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi
(economic growth), kebutuhan dasar (basic needs), kesejahteraan masyarakat
(social wefare), dan pengembangan sumber daya manusia (human resource
development).

Empat

unsur

utama

yang

terkandung dalam

paradigma

Pembangunan Manusia tersebut adalah produktifitas (productivity), pemerataan


(equity), kesinambungan (sustainability), dan pemberdayaan (empowerment).
Pembangunan manusia dapat juga dilihat dari sisi pelaku atau sasaran yang
ingin dicapai. Dalam kaitan ini, UNDP melihat pembangunan manusia sebagai
macam model pembangunan tentang penduduk, dan oleh penduduk, yang dapat
dijelaskan sebagai berikut:

a. Tentang penduduk; berupa investasi di bidang pendidikan, kesehatan, dan


pelayanan sosial lainnya.
b. Untuk penduduk; berupa penciptaan peluang kerja melalui perluasan
(pertumbuhan ekonomi dalam negeri).
c. Oleh penduduk; penduduk dalam menentukan harkat manusia dengan cara
berpartisipasi dalam proses politik dan pembangunan.

Untuk mengukur tingkat pemenuhan ke-tiga unsur diatas, UNDP


menyusun suatu indeks komposit berdasarkan 3 (tiga) indikator yaitu: angka
harapan hidup (life expectancy at age 0 : eo), angka melek huruf penduduk
dewasa (adult literacy rate : lit) dan rata-rata lama sekolah (mean years of
schooling : MYS ) dan daya beli masyarakat (purchasing power parity) yang
merupakan ukuran pendapat yang sudah disesuaikan dengan paritas daya beli.
Indikator pertama mengukur umur panjang dan sehat, dua indikator berikutnya
mengukur pengetahuan dan keterampilan, sedangkan indikator terakhir
mengukur kemampuan dalam mengakses sumber daya ekonomi dalam arti luas.
Ketiga indikator inilah yang digunakan sebagai kompenen dalam penyusun HDI
yang dalam publikasi ini diterjemahkan menjadi IPM.
Berdasarkan perhitungan IPM dapat digambarkan bahwa negara yang baik
adalah negara yang yang penduduknya mempunyai tingkat kesehatan yang baik,
pemikiran yang cerdas, dan kekuatan daya beli yang baik. IPM bukan ukuran
yang menyeluruh mengenai pembangunan manusia, sehingga perlu dilengkapi
dengan indikator lainnya yang jumlahnya masih banyak (Ananta 1996, Agung
1997). Indeks ini memang tidak melihat pelayanan kesehatan, kesehatan
lingkungan, angka kematian, status gizi, imunisasi, akses ke media masa,
kematian maternal, angka prevalensi kontrasepsi, dan sebagainya. Indeks ini
memang hanya disusun dari tiga indikator dasar yang data umumnya umumnya
tersedia di setiap negara sehingga bisa diperbandingkan.
Walaupun terjadi perubahan-perubahan berupa berbagai penambahan atau
penyesuaian, prinsip dasar pengukuran IPM tetap sama. Pada intinya, kesehatan
diukur dengan angka harapan hidup waktu lahir, pendidikan diukur dengan

kombinasi antara angka melek huruf dewasa yang memiliki timbangan 2/3 dan
erollment ratio untuk pendidikan dasar, menengah, dan atas yang memiliki
timbangan 1/3, serta pendapatan per kapita yang diukur dengan kemampuan daya
beli (purchasing power parity). Pada IPM sebelumnya, pendidikan diukur dengan
tahun sekolah, namun karena variabel ini tidak selalu tersedia di setiap negara,
lalu diganti dengan enrollment ratio.
Daya beli diukur dengan purchasing power parity (PPP) dalam dolar
Amerika (US$) yang mencoba menyesuaikan pendapatan per kapita tiap negara
dengan daya beli di negara yang bersangkutan. Penyesuaian ini didasarkan pada
kenyataan bahwa 10 US$ di Indonesia jauh lebih bernilai dibandingkan 10 US$ di
Amerika. Penyesuaian ini menjadi menarik karena telah memperhitungkan
perbedaan daya beli. Untuk perhitungan IPM, BPS (1997) menggunakan
pengeluaran riil per kapita. Sejauh ini, belum ada hasil analisa yang memadai
tentang penggunaan indikator PPP yang diyakini lebih akurat untuk mengukur
IPM di tingkat Kabupaten / Kota.

1.3. IPM untuk Perencanaan Pembangunan


Indeks pembangunan manusia (IPM) merupakan indikator komposit
tunggal yang digunakan untuk mengukur pencapaian pembangunan manusia yang
telah dilakukan disuatu wilayah tidak dapat mengukur semua dimensi dari
pembangunan manusia yang dinilai mencerminkan status kemampuan dasar
(basic capabilities) penduduk. Ketiga kemampuan dasar itu adalah umur panjang,
dan sehat yang diukur melalui angka harapan hidup waktu lahir, berpengetahuan
dan berketerampilan yang diukur dengan angka melek huruf dan rata-rata lama
sekolah, serta akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai
standar hidup layak yang diukur dengan pendapatan perkapita yang disesuaikan.

Usia hidup diukur dengan angka harapan hidup waktu lahir (eo) yang
dihitung menggunakan metode tidak langsung (metode brass atau varian trussel)
berdasarkan variabel rata-rata anak lahir hidup dan rata-rata anak yang masih
hidup per wanita usia 15-49 tahun. Komponen pengetahuan di ukur dengan
menggunakan dua indikator yaitu melek huruf penduduk 16 tahun ke atas dan
rata-rata lama sekolah. Indikator melek huruf diperoleh dari variabel kemampuan
membaca dan menulis, sedangkan indikator rata-rata lama sekolah dihitung
dengan menggunakan tiga variabel secara simultan yaitu partisipasi sekolah,
tingkat kelas yang sedang/pernah dijalani, dan jenjang pendidikan tertinggi yang
ditamatkan.
Komponen standar hidup layak diukur menggunakan indikator konsumsi
riil yang disesuaikan. Sebagai catatan, UNDP mengunakan indikator PDB
perkapita riil yang telah disesuaikan (adjust real percapita) sebagai ukuran
komponen tersebut karena tidak tersedia indikator lain yang lebih baik untuk
keperluan perbandingan antar negara atau wilayah. Perhitungan ketiga komponen
di atas menunjukan bahwa setiap komponen merupakan hasil perhitungan
tersendiri dan bukan merupakan hasil perhitungan dari indikator-indikator lain.
Sehingga tidak dapat dibentuk suatu model yang terdiri dari indikator-indikator
pembentukan setiap komponen. Karena itu, pemanfaatan IPM dalam perencanaan
pembangunan daerah harus dilengkapi dengan kajian dan analisis situasi terhadap
indikator-indikator

yang

mempengaruhi

perkembangan

nilai

IPM.

Pendekatan logis yang dilakukan menghasilkan variabel-variabel yang


dianggap mempengaruhi setiap komponen IPM. Namun demikian, variabelvariabel tersebut tidak secara mutlak mempunyai keterkaitan langsung dengan
komponen-komponen IPM. Sehingga besar kontribusi masing-masing variabel
terhadap komponen IPM belum terukur. Selain itu, variabel-variabel tersebut
bergerak secara dinamis, artinya variabel yang mempengaruhi akan terus berubah
sesuai dengan kajian dan analisis situasi. Oleh karenanya belum dapat ditetapkan
model keterkaitan yang baku dari setiap variabel didalam komponen IPM yang
dapat digunakan dalam menentukan nilai IPM akan dicapai.

1.4. Fungsi dan Keterbatasan


Pada dasarnya IPM adalah suatu indeks komposit yang diharapkan mampu
mencerminkan kinerja pembangunan manusia sehingga dapat dibandingkan antar
wilayah bahkan antar waktu. Fungsi utama sebagai alat banding ini sejalan dengan
fungsi yang dikenal sebelumnya, yang disebut Indeks Mutu Hidup (IMH) atau
Psysical Quality of Life Index (PQLI), yaitu suatu indeks komposit yang disusun
dari tiga komponen :
(1). Angka kematian bayi (AKB) atau IMR
(2). Angka harapan hidup umur 1 tahun (e1), dan
(3). Angka melek huruf (Lit)
Salah satu kritik mendasar terhadap IMH adalah bahwa dua komponen
pertama kurang lebih mengukur hal yang sama, seperti dibuktikan oleh kuatnya
korelasi antar keduanya, sehingga sebenarnya cukup diwakili oleh salah satu saja.
Kelemahan inilah yang antara lain melatarbelakangi diperkenalkannya indeks
komposit baru yakni Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Namun demikian, IPM nampaknya meneruskan tradisi mengemban nama
\bombastis/ seperti halnya IMH, yaitu mencoba menggambarkan suatu angka
indeks. Adalah suatu kemustahilan bahwa pembangunan manusia dalam artian
yang luas dapat diukur hanya dengan satu indeks komposit, tak peduli seberapa
banyak komponen indikatornya apalagi jika diingat bahwa semakin banyak
variabel yang dimasukan kedalam indeks komposit tersebut semakin tinggi pula
kemungkinan besarnya kesalahan. Hal yang sama juga berlaku bagi IMH, karena
mutu hidup sendiri juga mempunyai arti yang sangat luas. Barangkali, persamaan
ini hanya untuk keperluan menarik perhatian.
Disamping itu, IPM juga masih mempunyai kelemahan sebagaimana yang
terkandung dalam IMH, yaitu dari segi data dan arti. Dari segi data kelemahannya
terletak pada kenyataan bahwa konsep/definisi dan kualitas data yang digunakan
antar negara sangat beragam sehingga mengurangi kekuatan IPM sebagai alat
banding international.

Kelemahan yang bersifat umum dari suatu indeks komposit adalah tidak
memiliki arti tersendiri secara individual. Jelasnya IPM suatu wilayah (provinsi,
kabupaten /kota, misalnya) tidak bermakna tanpa dibandingkan dengan IPM
wilayah lain. Akhirnya, kelemahan lain yang juga melekat (inherent) dalam suatu
indeks komposit seperti IPM adalah ketidakmampunya dalam memberikan saran
kebijaksanaan (policy implication) yang jelas. Dan ini memang bukan tujuan
pembentukan indeks tersebut.

BAB II
METODOLOGI
2.1. Pengertian
Secara khusus Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur tingkat
pencapaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas
hidup. IPM dihitung berdasarkan data yang dapat menggambarkan keempat
komponen yaitu angka harapan hidup yang mewakili bidang kesehatan; angka
melek huruf dan rata- rata lama sekolah mengukur capaian pembangunan di
bidang pendidikan; dan kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah
kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran per kapita
sebagai pendekatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup layak.

2.2. Variabel yang Digunakan


Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan tanggapan UNDP
terhadap tuntutan perlunya indikator yang mampu menggambarkan sejauh mana
suatu negara (wilayah) telah menggunakan sumber daya penduduknya untuk
meningkatkan mutu kehidupan manusia negara atau wilayah tersebut. Isu yang
kemudian berkembang adalah bahwa keberhasilan meningkatkan prestasi
ekonomi suatu negara atau wilayah ke tingkat yang lebih tinggi tidak selalu diikuti
oleh meningkatnya mutu kehidupan warga masyarakatnya. Dengan alasan itulah
muncul pemikiran bahwa mutu kehidupan individu/perorangan menjadi prasyarat
guna meningkatkan mutu kehidupan bangsanya. Apabila peningkatan mutu
kehidupan setiap bangsa bisa dicapai diharapkan rasa aman dan damai menjadi
kenyataan. Untuk itu setiap pembangunan diarahkan pada peningkatan
kesejahteraan rakyatnya. Berdasarkan dari hal diatas mengenai peran mutu
manusia dan kehidupan masyarakat maka dirasa perlu untuk menetapkan
parameternya. Parameter tersebut diharapkan bisa digunakan sebagai alat (tools)
untuk mengukur mutu pembangunan manusia berikut bagaimana cara
mengukurnya.

2.3.

Formulasi

Umum

IPM/

Penyusunan

Indeks

Seperti dikemukakan sebelumnya komponen IPM adalah angka harapan


hidup (e0), angka melek huruf (Lit), rata-rata lama sekolah (MYS), dan daya beli
atau Purchasing Power Parity (PPP). Dipilihnya ke-empat komponen tersebut
mengikuti pembakuan komponen yang dilakukan oleh UNDP. Dengan demikan
sejauh mungkin hasilnya terbandingkan secara internasional, nasional dan daerah.
Rasionalitas pemilihan komponen tersebut dibahas dalam laporan HDR (UNDP)
yang dipublikasikan setiap tahun sejak 1990 yang mempertimbangkan antara lain
a. makna dari masing-masing indikator dalam kaitannya dengan konsep
pembangunan manusia versi UNDP.
b. Ketersediaan data secara internasional.

Masing-masing komponen tersebut terlebih dahulu dihitung indeksnya


sehingga bernilai antara 0 (keadaan terburuk) dan 1 (keadaan terbaik). Lebih
lanjut komponen angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah digabung menjadi
satu sebagai indikator pendidikan (pengetahuan) dangan perbandingan 2 : 1.
Dalam penyajiannya indeks tersebut dikalikan 100 untuk mempermudah
penafsiran. Teknik penyusunan indeks tersebut pada dasarnya mengikuti
formulasi sebagai berikut :

X(i,j) = Nilai komponen IPM ke i


X(i min) = Nilai komponen IPM ke i yang terendah
X( i- max) = Nilai komponen IPM ke I yang tertinggi

Untuk tujuan penghitungan indeks, dapat ditempuh berbagai cara untuk


menetapkan nilai maksimum dan minimum X(ij). Sebagai ilustrasi, jika tujuannya
hanya sekedar membandingkan kinerja propinsi/ kabupaten/ kota dalam satu
tahun tertentu maka nilai tertinggi dan terendah X(ij) pada tahun tersebut dapat
dipilih sebagai nilai maksimum dan minimum (nilai ekstrim).
2.3.1. Angka Harapan Hidup (e0)
Angka harapan hidup merupakan indikator penting dalam mengukur
longevity (panjang umur). Panjang umur seseorang tidak hanya merupakan produk
dari upaya yang bersangkutan melainkan juga seberapa jauh masyarakat atau
negara dengan penggunaan sumber daya yang tersedia berusaha untuk
memperpanjang hidup atau umur penduduknya. Secara teori, seseorang dapat
bertahan hidup lebih lama apabila dia sehat dan bilamana menderita sakit dia
harus mengatur untuk membantu mempercepat kesembuhannya sehingga dia
dapat bertahan hidup lebih lama (datang kefasilitas/petugas kesehatan). Oleh
karena itu, pembangunan masyarakat dikatakan belum berhasil apabila
pemanfaatan sumber daya masyarakat tidak diarahkan pada pembinaan kesehatan
agar dapat tercegah warga meninggal lebih awal dari yang seharusnya.

10

Dengan

demikian,

variabel

harapan

hidup

(e0)

ini

diharapkan

mencerminkan lama hidup sekaligus hidup sehat suatu masyarakat. Hal ini
sebenarya berlebihan, mengingat angka morbiditas (angka kesakitan) akan lebih
valid dalam mengukur hidup sehat. Walaupun demikian, karena hanya sedikit
negara yang memliliki data morbiditas yang dapat dipercaya maka variabel
tersebut tidak digunakan untuk tujuan perbandingan. Sebenarnya dalam Susenas
(Survei Sosial Ekonomi Nasional), setiap tahun variabel morbiditas telah
dikumpulkan datanya sehingga dapat digunakan untuk tujuan perbandingan antar
propinsi kabupaten/kota, namun sejauh ini belum diketahui tingkat kecermatannya
sehingga belum digunakan dalam publikasi ini. Estimasi angka e0 yang digunakan
dalam publikasi ini diperoleh dari Susenas. Angka ini diperoleh dengan
menggunakan metode tidak langsung dengan menggunakan 2 data dasar yaitu
ratarata anak lahir dan rata -rata anak masih hidup. Prosedur penghitungan angka
harapan hidup sejak lahir (AHH0) dilakukan dengan menggunakan Sofware
Mortpack Life. Setelah mendapatkan angka harapan hidup sejak lahir selanjutnya
dilakukan penghitungan indeks dengan cara membandingkan angka tersebut
terhadap

angka

yang

telah

distandarkan

(dalam

hal

ini

UNDP)

Seperti dilihat dalam Tabel 2.1 batas minimum dari angka harapan hidup
ini adalah 25 tahun. Sebenarnya di Indonesia tidak ada propinsi termasuk
kabupaten/kota yang memiliki angka harapan hidup e0 =25 tahun. Namun
demikian, dengan alasan kepentingan komparasi, UNDP menggunakan e0 =25
sebagai

nilai

2.3.2.

Melek

minimum

Huruf

dan

85

(Lit)

tahun

dan

sebagai

Lama

nilai

Sekolah

maksimum.

(MYS)

Harkat dan martabat manusia akan meningkat apabila yang bersangkutan


mempunyai kecerdasan yang memadai. Tingkat kecerdasan (intilligence)
seseorang pada titik waktu tertentu merupakan produk gabungan dari keturunan
(heredity), pendidikan dan pengalamannya.
Prestasi pembangunan masyarakat akan diukur dengan melihat seberapa
jauh masyarakat di kawasan tersebut telah memanfaatkan sumber dayanya untuk
memberikan fasilitas kepada warganya agar menjadi lebih cerdas. Hidup sehat dan

11

cerdas diyakini akan meningkatkan kemampuan produktivitas seseorang, sedang


hidup yang panjang dalam keadaan tetap sehat dan cerdas juga akan
memperpanjang masa produktif tersebut sehingga pada gilirannya akan
meningkatkan mutu peran warga tersebut sebagai pelaku (agent) pembangunan .
Dalam kaitannya dengan IPM ini, tersebut dua jenis indikator pendidkan,
yaitu angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Kedua indikator pendidikan
ini diharapkan mencerminkan tingkat pengetahuan dan keterampilan penduduk.
Pentingnya angka melek huruf (Lit) sebagai kompenen IPM tidak banyak
diperdebatkan. Permasalahannya adalah Lit yang digunakan UNDP bervariasi
antar negara dalam hal konsep operasional dan kualitas data. Sebagai ilustrasi,
konsep Lit yang didefinisikan sebagai mampu membaca dan menulis
diperkirakan akan menghasilkan angka yang berbeda jika misalnya, didefinisikan
sebagai

mampu

membaca

pesan

tertulis

yang

sederhana.

Datanya diperkirakan juga berbeda jika pengumpulannya datanya


menggunakan suatu alat peraga. Dalam publikasi ini masalah tersebut dapat
dihindari

karena

konsep

mampu

membaca

dan

menulis

dan

menanyakannya (tanpa alat peraga) di Indonesia diberlakukan secara seragam.

12

cara

BAB III
INDIKATOR DAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA

3.1. Indikator Pembangunan Manusia


Grafik 3.1. Indeks Pembangunan Manusia menurut Kabupaten/Kota
Tahun 2010

Pendekatan konseptual pembangunan manusia mencakup empat elemen


pokok yaitu; produktifitas, pemerataan, keberlanjutan dan pemberdayaan
masyarakat. Peningkatan kualitas hidup akan menjadi lebih luas dan terjamin jika
kemampuan dasar yang mencakup hidup panjang dan sehat, berpangetahuan (serta
menguasai IPTEK) dan mempunyai akses terhadap sumbar daya yang dibutuhkan
agar dapat hidup secara layak (berdaya beli) dimiliki oleh panduduk.
Produktivitas berarti manusia harus dapat meningkatkan produktivitasnya dalam
artian ekonomi, yaitu untuk memperoleh pendapatan dan berpartisipasi dalam
pasar kerja. Pemerataan berarti semua mempunyai kesempatan yang sama
berpartisipasi dalam seluruh kegiatan, termasuk ekonomi, sosial dan politik.
Makna berkelanjutan adalah bahwa semua kegiatan dalam rangka pembangunan
manusia dilakukan terus menerus, sedangkan pemberdayaan berarti semua lapisan
13

masyarakat ikut berpartisipasi penuh dalam proses pembangunan. Sehingga pada


akhirnya, sasaran pembangunan manusia diprioritaskan pada tiga tujuan dasar,
yaitu:
1. Usia hidup (longevity)
2. Pengetahuan (knowledge), dan
3. Standar hidup Layak (decent living).
IPM merupakan salah satu indikator komposit selain banyak ragam
indikator lain yang dapat dibuat dari berbagai kegiatan pengumpulan data oleh
BPS selama ini. Indikator itu sendiri merupakan petunjuk yang memberikan
indikasi tentang sesuatu keadaan dan merupakan refleksi dari keadaan tersebut.
Dalam definisi lain, indikator dapat dikatakan sebagai alat pengukur perubahan.
Variabel-variabel ini terutama digunakan apabila perubahan yang akan dinilai
tidak dapat diukur secara langsung.
3.1.1. Indikator Harapan Hidup
Angka harapan hidup dapat menggambarkan tingkat kesehatan yang telah
dicapai masyarakat. Semakin baik tingkat kesehatan masyarakat diharapkan
kesempatan untuk hidupnya cenderung semakin besar/lama. Sebaliknya tingkat
kesehatan yang buruk akan cenderung memperpendek usia hidup. Angka harapan
hidup berbanding terbalik dengan tingkat kematian bayi, artinya semakin tinggi
angka kematian bayi maka angka harapan hidup cenderung semakin pendek,
demikian pula sebaliknya.

14

Selanjutnya dari angka harapan hidup dapat diturunkan indeks harapan


hidup yang telah dicapai dibanding kondisi 'ideal' sesuai standar UNDP yaitu 85
tahun (100 persen). Indeks harapan hidup masyarakat di Kota Tangerang baru
mencapai 72,29 persen, yang berarti pencapaian usia harapan hidup sejak lahir
terhadap perkiraan usia harapan hidup maksimal naik 0,29 persen dibanding tahun
2006.
Tabel 3.2. Indeks Harapan Hidup Kabupaten/Kota di Provinsi Banten,
Tahun 2006 2010

3.1.2. Indikator Pendidikan


Angka melek huruf di ambil dari data kemampuan baca tulis, yang
dipandang sebagai modal dasar yang perlu dimiliki setiap individu, agar
mempunyai peluang yang sama untuk terlibat dan berpartisipasi dalam
pembangunan. Sedangkan tingkat pengetahuan dan keterampilan lainnya secara
umum dapat digambarkan melalui rata-rata lama sekolah, angka ini dihitung
dengan menggunakan 2 variabel secara simultan yaitu tingkat kelas yang pernah
atau sedang dijalani dan jenjang pendidikan yang ditamatkan.

15

Tabel 3.5. Angka Melek Huruf Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun


2006 2010

3.2. Pencapaian Pembangunan Manusia


Angka IPM suatu daerah memperlihatkan jarak yang harus ditempuh
untuk mencapai nilai ideal (100). Angka ini dapat diperbandingkan antar daerah di
Indonesia. Dengan demikian tantangan bagi semua daerah adalah bagaimana
menemukan cara yang tepat, dalam hal ini program pembangunan yang diterapkan
masing-masing daerah, untuk mengurangi jarak terhadap nilai ideal. IPM dapat
digolongkan menurut skor/nilainya sbb:

16

Tabel 3.8. Indeks Pembangunan Manusia dan Komponennya di Kota


Tangerang Tahun 2010

Tabel 3.9. Peringkat IPM Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun 20062010

17

BAB IV
PENUTUP
4.1. KESIMPULAN
Pengukuran tingkat keberhasilan pembangunan sumber daya manusia
suatu negara atau wilayah dapat digambarkan melalui Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) yang merupakan indeks pembangunan komposit dari tiga dimensi
pembangunan manusia, yaitu lamanya hidup, pengetahuan dan standar kehidupan
yang layak. Indeks ini diukur dengan angka harapan hidup, capaian pendidikan
dan tingkat pendapatan yang disesuaikan. Ketiga indeks ini diharapkan dapat
mencerminkan dan mewakili indikator-indikator pembangunan manusia lainnya.
Dari ketiga komponen IPM, yang masih jauh dari pencapaian maksimal
adalah daya beli masyarakat yang berkaitan langsung dengan pendapatan
masyarakat yang pada umumnya masih rendah. Untuk pencapaian bidang
pendidikan melalui angka melek huruf (kemampuan membaca dan menulis)
penduduk dewasa usia 15 tahun keatas cukup tinggi 98,39. Namun demikian
pencapaian tingkat pendidikan formal masih perlu diupayakan bersama dan
dengan penuh kesungguhan karena pencapaianya masih belum memuaskan yaitu
baru mencapai 9,98 dengan indeks 66,51 atau setara dengan kelas I SLTA.
Sedangkan pencapaian maksimal sesuai standar UNDP adalah setara dengan
tamat D3. Dengan demikian angka pencapaian indeks ini mempunyai arti bahwa
capaian rata-rata lama sekolah pada tahun 2010 ada pada status menengah atas.
Kalau kita amati lebih lanjut, dalam periode 5 tahun terakhir pencapaian
pendidikan formal menunjukkan adanya peningkatan yaitu pada dua tahun
terakhir sehingga statusnya menjadi ada pada menengah atas.
Dalam periode yang sama, kita dapat juga melihat apakah ada perbaikan
pada bidang kesehatan dibanding tahun-tahun sebelumnya dengan melihat
indikator angka harapan hidup. Pada rahun 2010, terjadi sedikit kenaikan
walaupun relatif kecil yaitu dari 68,1 tahun (tahun 2006) menjadi 68,33 tahun
2010. Walaupun angka pencapaian harapan hidup ada pada status menengah atas
18

dengan indeks 72,29 tetapi kenaikannya sangat lambat dalam kurun 5 tahun angka
harapan hidup Kota Tangerang mengalami kenaikan sebesar 0,17 tahun.
Dengan demikian, secara keseluruhan pembangunan manusia di Kota
Tangerang pada tahun 2010 mengalami peningkatan, walaupun tidak sebesar
(bahkan masih relatif jauh) untuk mencapai kondisi ideal(100). Indeks
pembangunan manusia baru mencapai 75,17. IPM Kota Tangerang cenderung
meningkat dari tahun ke tahunnya, tetapi peningkatanya sangat lambat
ditunjukkan dengan reduksi shortfall yang sebesar 1,09. Walaupun lazimnya
wilayah dengan IPM tinggi perkembangannya sangat lambat, namun Kota
Tangerang Selatan dan Kota Cilegon bisa mencapai reduksi shortfall lebih tinggi
dari Kota Tangerang atau dengan kata lain kecepatan pembangunan di kedua
daerah tersebut lebih cepat di banding Kota Tangerang.

19

DAFTAR PUSTAKA
http://litbang.tangerangkota.go.id

20