Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN

Pengelolaan
perairan
umum
sebagai salah satu upaya kegiatan
perikanan
dalam
memanfaatkan
sumberdaya secara berkesinambungan
perlu
dilakukan
secara
bijaksana.
Kegiatan pemanfaatan sumberdaya ikan
di perairan umum melalui kegiatan
penangkapan dan budidaya mempunyai
kecenderungan semakin tidak terkendali.
Agar
terjadi
keseimbangan
maka
diperlukan pengelolaan sumberdaya yang
lebih
hati-hati
dan
terjaminnya
kelangsungan
usaha
pemanfaatan
sumberdaya
ikan
dengan
tetap
mempertahankan kelestarian sumberdaya
ikan di perairan umum.
Situ Patengan merupakan salah
satu perairan umum yang memiliki areal
seluas 150 Ha, terletak di kaki Gunung
Patuha Desa Patengan, Kecamatan
Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi
Jawa Barat, berjarak 47 kilometer arah
selatan dari pusat Kota Bandung berada
pada ketinggian 1600 m dari permukaan
laut. Fakta secara geologi, Situ Patengan
terbentuk karena bekas letusan Gunung
Patuha beberapa ratus tahun yang lalu
yang membentuk kawah dan hingga
akhirnya terisi oleh air (Brahmantyo 2004).
Situ Patengan merupakan taman
wisata, pemanfaatannya hanya pada
sektor pariwisata rekreasi alam. Pada
tahun 2011 Dinas Perikanan dan Kelautan
Jawa Barat melakukan restocking benih
ikan di Situ Patengan (Anonim 2011). Situ
Patengan juga dimanfaatkan masyarakat
sekitar dalam aktivitas menangkap ikan
dengan alat tangkap seperti pancing, dan
jala lempar. Jenis ikan yang tertangkap
masyarakat sekitar antara lain ikan nila
(Oreochromis niloticus), ikan grasscarp
(Ctenopharyngodon idella), ikan nilem
(Osteochilus hasselti), dan ikan tawes
gonionotus).
Berdasarkan
(Barbodes
wawancara dengan masyarakat sekitar,
ikan nilem sebagai ikan asli Situ Patengan
semakin sulit ditemukan. Penelitian
terdahulu yang telah dilakukan oleh
Sulastri dkk (2007) menunjukkan bahwa
perairan Situ Patengan didominasi oleh
fitoplankton dari kelas Cyanophyceae, hal
ini jelas merugikan bagi kehidupan ikan.
Situ Patengan dikategorikan sebagai
danau kecil, sama halnya dengan Situ
Gede yang terletak di Tasikmalaya namun
dalam pemanfaatannya berbeda, Situ

Gede selain dimanfaatkan sebagai tempat


rekreasi dan restocking ikan juga
dimanfaatkan untuk budidaya ikan di
Keramba Jaring Apung (KJA), hal ini
memperlihatkan bahwa pemanfaatan Situ
Patengan belum optimal.
Upaya
mengoptimalkan
pemanfaatan Situ Patengan di sektor
perikanan, khususnya sebagai areal
produksi perikanan maka perlu diketahui
terlebih dahulu kondisi perairan yang
dapat
menunjang
kehidupan
ikan.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka
perlu dilakukan penelitian mengenai
struktur
komunitas
plankton
yang
dihubungkan dengan parameter kualitas
air sehingga hasil penelitian dapat
dimanfaatkan sebagai rujukan dalam
peningkatan pengelolaan sumberdaya
perairan di di Situ Patengan Kabupaten
Jawa Barat.
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Bahan Penelitian
1. Sampel plankton diambil dari 4 titik
stasiun pengamatan sebanyak 6 kali
setiap satu minggu sekali.
2. Lugol 0,5 % digunakan untuk
mengawetkan sampel plankton.
3. Formalin 4% untuk mengawetkan
lambung ikan.
4. Bahan pereaksi untuk nitrat yaitu
larutan Phenol disulfonic acid, NH4OH
10 % dan larutan standar nitrat NO3-N
5 g/ml.
5. Bahan pereaksi ortofosfat yaitu larutan
reduktor SnCl2, larutan NH4 molidbat
dan larutan standar fosfat PO4-P 5
g/ml.
6. Bahan pereaksi oksigen terlarut yaitu
O2 Reagen, MnSO4 50 %, H2SO4
pekat, Na-tiosulfat 0,01 N.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah
metode survei pada empat stasiun dan
diulang 6 kali. Pengambilan sampel
dilakukan di empat stasiun pengamatan
dengan mempertimbangkan karakter fisik
perairan danau secara umum yaitu :
1) Stasiun
I
merupakan
daerah
pemasukan (inlet) perairan berada di
daerah Renggamanis, daerah mata
air.
2) Stasiun II merupakan lokasi tengah
Situ Patengan.

3) Stasiun
III
merupakan
daerah
pelabuhan perahu.
4) Stasiun IV merupakan pengeluaran
(outlet) bermuara di Cirengganis
daerah Sepirata Desa Sukaresmi.
Parameter Yang Diukur
Parameter yang diamati dan
dianalisis adalah sampel plankton sebagai

parameter utama yaitu kelimpahan,


keanekaragaman, biomassa, parameter
fisik yaitu suhu, kedalaman, tranparansi,
sedangkan parameter kimiawi meliputi
pengukuran DO, BOD5, pH, nitrat dan
ortofosfat. Sebagai data untuk mendukung
penelitian juga dilakukan analisis isi
lambung
ikan
(Tabel
1).

Tabel 1. Parameter pengukuran


Parameter
Biologis
Plankton
Kelimpahan
Keanekaragaman
Biomassa
Fisik
Kedalaman
Suhu
Transparansi
Kimiawi
pH
Oksigen terlarut (DO)
BOD5
Nitrat
Ortofosfat

Satuan

Alat

Lokasi
Pengamatan

Ind/L
g/L

Mikroskop
Mikroskop

Laboratorium
Laboratorium

cm
C
cm

Tali Berskala
Termometer
Secchi Disk

In situ
In situ
In situ

mg/L
mg/L
mg/L
mg/L

pH Meter
Alat Titrasi
Alat Titrasi
Spektrofotometer
Spektrofotometer

In situ
In situ
Laboratorium
Laboratorium
Laboratorium

Kelimpahan Plankton
Kelimpahan
plankton
dihitung
dengan rumus modifikasi Sachlan (1982):

N= nx

Vr
1
x
Vo Vs

Keterangan:
N
= Kelimpahan Plankton (Ind/L)
n
=
Vr
= Volume yang tersaring (ml)
Vo
= Volume air yang diamati (ml)
Vs
= Volume air yang disaring (L)
Indeks Keanekaragaman
Indeks keanekaragaman dihitung
dengan menggunakan rumus simpson
(Magurran, 1988) sebagai berikut :

D = 1 (Pi)
Pi = ni/N

Keterangan :
D = Indeks keanekaragaman Simpson
Pi = Proporsi individu terhadap populasi
total
N = Jumlah total individu
ni = Jumlah individu dalam genus ke-i
Nilai
indeks
keanekaragaman
berkisar 0 1, jika indeks mendekati 0
maka keanekaragamannya rendah dan
jika indeks mendekati 1 maka nilai
keanekaragamannya tinggi. Kestabilan
ekosistem perairan dinyatakan baik jika
mempunyai nilai indeks keanekaragaman
Simpson antara 0,6 0,8 (Odum, 1971).
Biomassa Fitoplankton
Mengukur volume sel fitoplankton
secara geometrik dan mengasumsikan
bobot jenis fitoplankton sama dengan satu
(
Wetzel
1983)
maka
biomassa
fitoplankton dapat diperoleh melalui
rumus:

Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis
secara
deskripsi
eksplanasi
yaitu
memaparkan dan menjelaskan kondisi
dan situasi variabel yang diamati serta
hubungan antara masing masing
variabel. Variabelnya adalah struktur
komunitas plankton yaitu komposisi,
kelimpahan, keanekaragaman jenis serta
parameter fisik dan kimiawi perairan.

B = BJ . V
Keterangan:
B = Biomassa fitoplankton (g/L)
BJ = Bobot jenis fitoplankton (1 . 10 /
)
V = Volume fitoplankton
Volume
fitoplankton
yang
dimaksud adalah hasil perhitungan volume
dari jenis fitoplankton yang diamati dengan
menggunakan pendekatan dari bentuk sel
kedalam bangun geometrik.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Komposisi dan Kelimpahan
Komposisi plankton yang diperoleh
selama penelitian terdiri dari 43 genus
terbagi dalam 32 genus fitoplankton dan
11 genus zooplankton. Fitoplankton terdiri
dari 5 kelas yaitu Bacillariophyceae,
Chlorophyceae,
Cyanophyceae,
Euglenophyceae,
Pyrrhophyceae,
sedangkan zooplankton terdiri dari 3 kelas
yaitu Rhizopoda, Rotifera, dan Crustaceae
(Tabel 2).

Analisis Isi Saluran Pencernaan Ikan


Dengan
menganalisis
berapa
banyak genus plankton yang terdapat
dalam lambung ikan dapat diketahui
genus plankton yang dimanfaatkan
sebagai pakan alami ikan dan jenis ikan
yang cocok untuk pengelolaan lebih lanjut.

Tabel 2. Komposisi Plankton Berdasarkan Kelas Dan Jumlah Genus


Kelompok

Fitoplankton

Kelas
Bacillariophyceae
Chlorophyceae
Cyanophyceae
Euglenophyceae
Pyrrhophyceae

Jumlah
Zooplankton

Jumlah Genus

Pada Tabel 2 terlihat pada


kelompok fitoplankton, genus yang
terbanyak
berasal
dari
kelas
Chlorophyceae dan Bacilariophyceae,
genus paling sedikit berasal dari kelas
Euglenophyceae dan Pyrrhophyceae,
sedangkan dari kelompok zooplankton
genus terbanyak berasal dari kelas
Crustaceae dan genus paling sedikit
berasal dari kelas Rhizopoda. Pada
gambar
2
memperlihatkan
bahwa
persentase genus Chlorophyceae dan
Bacilariophyceae mendominasi, yaitu 40

32
1
4
6

Rhizopoda
Rotifera
Crustacea

Jumlah

10
13
5
2
2

11
% dan 31 % dari seluruh genus
fitoplankton yang ditemukan.
Kelimpahan
fitoplankton
yang
ditemukan selama penelitian bervariasi.
Kelimpahan rata-rata fitoplankton tertinggi
yaitu 234 ind/L terdapat pada stasiun III.
Kelimpahan terbesar fitoplankton adalah
dari kelas Chlorophyceae dengan genus
yang paling banyak ditemukan adalah
Spyrogira dengan kelimpahan terbesar
pada sampling ke-4. Kelimpahan tertinggi
Chlorophyceae yaitu 118 ind/L pada
stasiun III (Gambar 3).

Tabel 4. Kisaran Rata-rata Parameter Fisik dan Kimiawi Air Selama Penelitian.
Stasiun

Parameter

Baku Mutu*

II

III

IV

19,1 21,8

19,7
23,5

21,8
23,3

19,4 23,3

20,15

21,3

22,5

20,8

K
R

80 - 90
87,5

102 140
122,3

24 - 40
29,3

56 70
60,3

90

900

40

76

Fisik
Suhu (C)

Transparensi
Cahaya (cm)
Kedalaman
(cm)
Kimiawi