Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gigi geligi dalam rongga mulut akan mengalami erupsi menurut urutan waktu erupsi
masing-masing jenis gigi mulai dari fase gigi sulung sampai mengalami pergantian
menjadi fase gigi permanen. Proses erupsi masing-masing gigi baik pada fase gigi sulung
maupun permanen akan terjadi secara fisiologis dan jarang sekali mengalami gangguan.
Gangguan erupsi pada umumnya terjadi pada fase pergantian dari gigi sulung menuju fase
gigi permanen, sehingga gigi permanen tertentu tidak dapat mengalami erupsi
(Itjingningsih, 1995).
Gigi kaninus merupakan gigi kedua setelah gigi molar ketiga yang berfrekuensi
tinggi untuk mengalami impaksi,' meskipun demikian gigi anterior di rahang atas lainnya
seperti gigi insisivus pertama dan kedua rahang atas juga dapat mengalami kesulitan
tumbuh akibat terletak salah di dalam rahang. Frekuensi terjadinya kaninus impaksi
sebesar 0-2,8%. Ditinjau dari letaknya, 85% posisi gigi kaninus yang impaksi terletak di
daerah palatal lengkung gigi, sedangkan 15% terletak di bagian labial atau bukal.Ada
beberapa bukti yang menyatakan, bahwa penderita dengan maloklusi dan gigi aplasia
merupakan kelompok yang mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya kaninus ektopik
(Pedersen, 1996).
Pertumbuhan gigi molar ketiga permanen rahang bawah juga memerlukan perhatian
khusus pada penderita anak sampai remaja. Gigi molar ketiga rahang bawah yang belum
erupsi akan dapat mempunyai posisi yang sedemikian sehingga pada proses
pertumbuhannya dapat diperkirakan akan dapat menimbulkan gangguan di rahang bawah
oleh karena daya dorong erupsi gigi tersebut ke arah anterior. Pada posisi benih gigi
molar ketiga rahang bawah yang diperhitungkan terletak miring, terutama dalam posisi
mesio versi, tindakan germinectomy pada benih gigi molar ketiga tersebut perlu
dipertimbangkan agar pada proses pertumbuhan selanjutnya tidak menimbulkan kelainan
terhadap posisi gigi di sebelah anteriornya. Menurut Bisharas etiologi gigi impaksi dapat
disebabkan oleh faktor primer dan faktor sekunder. Faktor primer meliputi trauma pada
gigi sulung, benih gigi rotasi, tanggal prematur gigi sulung, dan erupsi gigi kaninus dalarn
celah pada kasus celah langit-langit. Faktor sekunder adalah faktor selain faktor primer.
Ada banyak orang yang mengalami gigi impaksi, terkadang ini terabaikan oleh mereka.
1

Padahal gigi impaksi terkadang dapat menimbulkan masalah serius jika tidak ditangani
(Harahap, 2001).
Gingivitis adalah suatu inflamasi pada gingiva yang biasanya disebabkan oleh
akumulasi plak. Menurut profil kesehatan Indonesia tahun 2001 kelainan periodontal
pada tahun 2001 terjadi sebesar 61%. Penyakit periodontal salah satunya gingivitis yang
disebabkan infeksi bakteri, secara langsung melalui aliran darah (hematogen), maupun
tidak langsung dari respon imun sistemik infeksi melalui peningkatan mediator infeksi
(PGE2, IL1, IL6 dan TNF) oleh pertahanan tubuh. Jaringan periodonsium adalah
jaringan penyokong gigi, terdiri atas gingiva, sementum, ligamentum periodontal dan
tulang alveolar. Jaringan ini dapat mengalami kelainan akibat interaksi faktor pejamu,
mikroba dan lingkungan misalnya gingivitis. Gingivitis adalah suatu proses peradangan
jaringan periodonsium yang terbatas pada gingiva dan bersifat reversibel
Melihat hal ini maka penting juga untuk mengetahui dan menggali lebih dalam lagi
tentang gigi impaksi, penyebab impaksi, klasifikasi, perawatan dan hal-hal lain yang
menyangkut gigi impaksi, serta ginggivitis
1.2 RUMUSAN MASALAH
I.2.1 Bagaimana etiologi dan gejala klinis impaksi?
I.2.2 Bagaimana diagnosis dan penatalaksanaan impaksi?
I.2.3 Bagaimana etiologi dan gejala klinis ginggivitis?
I.2.2 Bagaimana diagnosis dan penatalaksanaan gingivitis?

1.3

TUJUAN
I.3.1 Mengetahui etiologi dan gejala klinis dari impaksi.
I.3.2 M engetahui cara mendiagnosis dan penatalaksanaan impaksi.
I.3.1 Mengetahui etiologi dan gejala klinis dari ginggivitis.
I.3.2 M engetahui cara mendiagnosis dan penatalaksanaan ginggivitis.

1.4

MANFAAT
I.4.1

Menambah wawasan mengenai ilmu kedokteran pada umumnya, dan ilmu gigi
dan mulut pada khususnya.

I.4.2

Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti


kepaniteraan klinik bagian ilmu gigi dan mulut.

BAB II
STATUS PASIEN

2.1

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. H

Jenis Kelamin

: Laki-Laki

Alamat

: Bantur

Umur

: 30 tahun

Pekerjaan

: Swasta

Status

: Menikah

Suku Bangsa

: Jawa - Indonesia

Tanggal Periksa

: 30 Desember 2014

Konsul dari

:-

Menderita : -

2.2

ANAMNESIS

1.

Keluhan Utama : Gigi pojok kanan bawah terasa sakit dan bengkak sejak 1 minggu yll.

2.

Riwayat Penyakit : Pasien mengatakan Gigi pojok kanan bawah yang baru tumbuh
sedikit terasa sakit 1 minggu yang lalu. Sakit dirasakan pasien terasa sampai pasien
kesulitan membuka mulut. Keluhan berkurang jika pasien minum obat penghilang rasa
sakit yang di dapatkan dari puskesmas, tetapi keluhan tersebut muncul lagi ketika
obatnya habis. Pasien mengaku sebelumnya tidak pernah sakit gigi. Tidak ada demam
maupun bengkak gusinya.

3.

Riwayat Perawatan
Pasien mengaku belum pernah melakukan perawatan pada giginya
Jar.lunak rongga mulut dan sekitarnya : Tidak ada kelainan.

4.

Riwayat Kesehatan :
- Kelainan darah

: Disangkal

- Kelainan endokrin

: Disangkal

- Kelainan Jantung

: Disangkal

- Gangguan nutrisi

: Disangkal

- Kelainan kulit/kelamin : Disangkal


- Gangguan pencernaan : Disangkal
- Kelainan Imunologi

: Disangkal

- Gangguan respiratori

: Disangkal
3

- Tekanan darah

: Disangkal

- Diabetes Melitus

: Disangkal

- Lain-lain

: Disangkal

5. Obat-obatan yang telah/sedang dijalani :


pasien ke puskesmas dan diberi obat penghilang rasa sakit dan pasien meminumnya
selama 1 minggu
6. Keadaan sosial/kebiasaan :
Pasien golongan menengah
Pasien mengaku menggosok gigi 1-2 kali dalam sehari
7. Riwayat Keluarga :

2.3

- Kelainan darah

: Disangkal

- Kelainan endokrin

: Disangkal

- Diabetes melitus

: Disangkal

- Kelainan jantung

: Disangkal

- Kelainan syaraf

: Disangkal

- Alergi

: Disangkal

- Lain-lain

: Disangkal

PEMERIKSAAN FISIK

1. Ekstra Oral
- Muka

: Simetris

- Pipi kiri

: tidak ada kelainan

- Pipi kanan

: tidak ada kelainan

- Bibir atas

: tidak ada kelainan

- Bibir bawah

: tidak ada kelainan

- Sudut mulut

: tidak ada kelainan

- Kelenjar submandibularis kiri

: tidak teraba

- Kelenjar submandibularis kanan

: teraba

- Kelenjar submental

: tidak teraba

- Kelenjar leher

: tidak teraba

- Kelenjar sublingualis

: tidak teraba

- Kelenjar parotis kanan

: tidak teraba

- Kelenjar parotis kiri

: tidak teraba

2. Intra Oral
4

- Mukosa labial atas

: tidak ada kelainan

- Mukosa labial bawah

: tidak ada kelainan

- Mukosa pipi kiri

: tidak ada kelainan

- Mukosa pipi kanan

: tidak ada kelainan

- Bukal fold atas

: tidak ada kelainan

- Bukal fold bawah

: tidak ada kelainan

- Labial fold atas

: tidak ada kelainan

- Labial fold bawah

: tidak ada kelainan

- Gingival rahang atas

: tidak ada kelainan,(+) kalkulus 54321 123456

- Gingival rahang bawah

: Edema ,(+) kalkulus 54321

- Lidah

: tidak ada kelainan

- Dasar mulut

: tidak ada kelainan

- Palatum

: tidak ada kelainan

- Tonsil

: T1/T1

- Pharynx

: tidak ada kelainan

IV III

IV III

II

II

I
V

II

III IV

I
V

II

III IV

123456

Keterangan:
= gigi tumbuh miring

= Erupsi tidak sempurna (Erupsi dificilis)


8 8

2.4

DIAGNOSIS SEMENTARA
5

8
2.5

= Erupsi dificilis

RENCANA PERAWATAN

Pro premedikasi

54321 123456
Pro scalling

54321 12356
1. Pengobatan:

R/ Amoksisilin tab 500 mg No X


S 3 dd I
R/ Parasetamol tab 500 mg No X
S 2 dd I
R/ Betadine garg fl No.I
S 2 dd I garg
R/ Cataflam tab 100 mg No X
S 2 dd I

2. Pemeriksaan Penunjang :
Lab.Rontgenologi mulut/ Radiologi

: (+)

Lab.Patologi anatomi

:-

Sitologi

:-

Biopsi

:-

Lab.Mikrobiologi

:-

Bakteriologi

:-

Jamur

:-

Lab.Patologi Klinik

:-

3. Rujukan :
Poli Penyakit Dalam

:-

Poli THT

:6

2.6

Poli Kulit & Kelamin

:-

Poli Syaraf

:-

DIAGNOSE AKHIR :
Impaksi

Ginggivitis
LEMBAR PERAWATAN

Tgl

Elemen

Diagnosa

30/12
/2014

Therapi

Ket

R/ Amoksisilin tab 500 mg KIE:


8

impaksi

No X
S 3 dd tab I

Ginggivitis

R/ Parasetamol tab 500 mg

Jika

rasa

sakit sudah
menghilang,

No X

periksa

S 1 dd tab I p.r.n

dokter

R/ Betadine garg fl No.I

untuk

S 2 dd I garg
R/ Cataflam tab 100mg
No.X
S 2 dd I

ke
gigi

dilakukan
ekstraksi
Jika karang
gigi

sudah

dibersihkan,
kebersihan
mulut harus
lebih
diperhatikan
dengan
menyikat
gigi min 2x/
hari
terutama
setelah
makan

dan

sebelum
7

tidur

BAB III
PEMBAHASAN KASUS
3.1 Gigi Impaksi
3.1.1 Definisi
Gigi impaksi atau gigi terpendam adalah gigi yang erupsi normalnya terhalang atau
terhambat,biasanya oleh gigi didekatnya atau jaringan patologis sehingga gigi tersebut tidak
keluar dengan sempurna mencapai oklusi yang normal didalam deretan susunan gigi geligi
lain yang sudah erupsi.

Gambar 1 Berbagai posisi impaksi gigi molar tiga

Frekuensi Munculnya Gigi Impaksi


Gigi yang terpendam merupakan sumber potensial yang terus menerus dapat
menimbulkan kerusakan atau keluhan sejak gigi tersebut mulai erupsi. Menurut penelitian
insidens terjadinya gigi impaksi dalam urutan sebagai berikut :
1. Molar tiga mandibula
2. Molar tiga maksila
3. Kaninus maksila
4. Kaninus mandibula
5. Premolar mandibula
6. Premolar maksila
7. Insisivus pertama maksila
8. Insisivus kedua maksila

3.1.2 Etiologi Gigi Impaksi


Gigi impaksi dapat disebabkan oleh banyak faktor,menurut Berger penyebab gigi
terpendam antara lain :

A. Kausa Lokal
Faktor lokal yang dapat menyebabkan terjadinya gigi impaksi adalah :
1. Abnormalnya posisi gigi
2. Tekanan dari gigi tetangga pada gigi tersebut
3. Penebalan tulang yang mengelilingi gigi tersebut
4. Kekurangan tempat untuk gigi tersebut bererupsi
5. Gigi desidui persistensi(tidak mau tanggal)
6. Pencabutan prematur pada gigi
7. Inflamasi kronis penyebab penebalan mukosa disekitar gigi
8. Penyakit yang menimbulkan nekrosis tulang karena inflamasi atau abses
9. Perubahan-perubahan pada tulang karena penyakit eksantem pada anak-anak.
B. Kausa Umur
Faktor umur dapat menyebabkan terjadinya gigi impaksi walaupun tidak ada
kausa lokal antara lain:
1. Kausa Prenatal
a. Keturunan
b. miscegenation
2. Kausa Postnatal
a. Ricketsia
b. Anemi
c. Syphilis congenital
d. TBC
e. Gangguan kelenjar endokrin
f. Malnutrisi
3. Kelainan Pertumbuhan
a. Cleido cranial dysostosis
b. Oxycephali
c. Progeria
d. Achondroplasia
e. Celah langit-langit
3.1.3 Tanda Atau Keluhan Gigi Impaksi

10

Ada beberapa orang yang mengalami masalah dengan terjadinya gigi impaksi.Dengan
demikian mereka merasa kurang nyaman melakukan hal-hal yang berhubungan dengan
rongga mulut.Tanda-tanda umum dan gejala terjadinya gigi impaksi adalah :
1. Inflamasi,yaitu pembengkakan disekitar rahang dan warna kemerahan pada gusi
disekitar gigi yang diduga impaksi
2. Resorpsi gigi tetangga,karena letak benih gigi yang abnormal sehingga meresorpsi
gigi tetangga
3. Kista(folikuler)
4. Tumor
5. Trismus
6. Tonsilitis
7. Nafas berbau
8. Rasa sakit atau perih disekitar gusi atau rahang dan sakit kepala yang
lama(neuralgia)
9. Fraktur rahang(patah tulang rahang)
10. Dan tanda-tanda lain

3.1.4 Klasifikasi Umum Gigi Impaksi


Untuk kebutuhan dan keberhasilan dalam perawatan gigi yang impaksi maka
diciptkanlah berbagai jenis klasifikasi. Posisi impaksi gigi molar bisa macam-macam
tergantung letak dan posisi gigi molar tiga terhadap rahang dan geraham kedua (molar
kedua), atau kedalamannya menancap di dalam tulang rahang. Beberapa diantaranya sudah
umum dijumpai yaitu klasifikasi menurut Pell dan Gregory :
Berdasarkan Hubungan antara ramus mandibula dengan molar kedua dengan cara
membandingkan lebar mesio-distal molar ketiga dengan jarak antara bagian distal molar
kedua ke ramus mandibula.
Klas I

: Ukuran mesio-distal molar ketiga lebih kecil dibandingkan jarak antara


distal gigi molar kedua dengan ramus mandibula

Klas II

: Ukuran mesio-distal molar ketiga lebih besar dibandingkan jarak antara


distal gigi molar kedua dengan ramus mandibula
11

Klas III

: Seluruh atau sebagian besar molar ketiga berada dalam ramus mandibula

Klasifikasi Menurut George Winter


Klasifikasi yang dicetuskan oleh George Winter ini cukup sederhana. Gigi impaksi
digolongkan berdasarkan posisi gigi molar ketiga terhadap gigi molar kedua. Posisi-posisi
meliputi:
1. Vertikal
2. Horizontal
3. Inverted
4. Mesioangular(miring ke mesial)
5. Distoangular (miring ke distal)
6. Bukoangular (miring ke bukal)
7. Linguoangular (miring ke lingual)
8. Posisi tidak biasa lainnya yang disebut unusual position
3.1.5 Pemeriksaan Klinis Gigi Impaksi
Ada banyak penderita gigi terpendam atau gigi impaksi.Terkadang diketahui adanya
gigi impaksi pada seseorang diawali karena adanya keluhan, namun tidak semua gigi impaksi
menimbulkan keluhan dan kadang-kadang penderita juga tidak mengetahui adanya kelainan
pada gigi geliginya.Untuk mengetahui ada atau tidaknya gigi impaksi dapat diketahui dengan
pemeriksaan klinis,meliputi :
Keluhan yang ditemukan dapat berupa :
1. Perikoronitis

Rasa sakit di region tersebut

Pembengkakan

Pembesaran limfe-node sub-mandibular

12

2. Karies pada gigi tersebut


Dengan gejala : pulpitis, abses alveolar yang akut. Hal yang sama juga dapat terjadi
bila suatu gigi mendesak gigi tetangganya,hal ini dapat menyebabkan terjadinya periodontitis.
3. Parastesi dan neuralgia pada bibir bawah.
Terjadinya parastesi atau neuralgia pada bibir bawah mungkin disebabkan karena
tekanan pada n.mandibularis.Tekanan pada n.mandibularis dan dapat juga menyebabkan rasa
sakit pada gigi premolar dan kaninus.

3.1.6 Pemeriksaan Ekstra Oral


Pada pemeriksaan ekstra oral yang menjadi perhatian adalah :
1. Adanya pembengkakan
2. Adanya pembesaran limfenode (KGB)
3. Adanya parastesi

3.1.7 Pemeriksaan Intra Oral


Pada pemeriksaan intra oral yang menjadi perhatian adalah :
1. Keadaan gigi,erupsi atau tidak
2. Adanya karies
3. Warna mukosa bukal,labial dan gingival
4.Adanya abses gingival
5. Posisi gigi tetangga,hubungan dengan gigi tetangga
3.1.8 Pemeriksaan Ro-Foto
1. Dental foto (intra oral)
2. Oblique
3. Occlusal foto/bite wing

Gambar 2 Gambaran Radiologi gigi impaksi

3.1.9 Gambaran Umum Perawatan Gigi Impaksi

13

Secara umum sebaiknya gigi impaksi dicabut baik itu untuk gigi molar tiga, caninus,
premolar, incisivus. Namun harus diingat sejauh tidak menyebabkan terjadinya gangguan
pada kesehatan mulut dan fungsi pengunyahan disekitar rahang pasien maka gigi impaksi
tidak perlu dicabut.Pencabutan pada gigi impaksi harus memperhatikan indikasi dan
kontraindikasi yang ada.Indikasi dan kontra indikasi pencabut,meliputi :
Indikasi
1.Pencabutan Preventif/Profilaktik
Pencabutan preventif ini sangatlah penting yaitu untuk mencegah terjadinya patologi
yang berasal dari folikel atau infeksi yang timbul akibat erupsi yang lambat dan sering tidak
sempurna, serta pada kondisi tertentu dapat mencegah terjadinya kesulitan pencabutan nanti
jika gigi itu dibiarkan lebih lama dalam lengkung rahang, misalnya karena celah ligamentum
mengecil atau tidak ada adalah indikasi pencabutan bagi gigi yang impaksi.
2. Pecabutan patologis dan mencegah perluasan kerusakan oleh gigi impaksi
Pencabutan karena pencegahan terjadinya patologi dan mencegah perluasan
kerusakan dalam lengkung rahang karena adanya gigi yang impaksi juga menjadi indikasi
pencabutan pada gigi yang impaksi.
Ada banyak referensi tentang indikasi pencabut gigi impaksi, namun secara umum
pencabutan selalu diindikasikan oleh dua hal diatas,adapun indikasi lain pencabutan adalah
1. Usia muda pada waktu pertumbuhan tulang telah berhenti (16-18 tahun), karena akan
mengurangi komplikasi karena akar belum terbentuk sempurna
2. Adanya penyimpangan panjang lengkung rahang dan membantu mempertahankan
stabilisasi hasil perawatan ortodonsi
3. Kepentingan prostetik dan restoratif
Kontraindikasi
Pencabutan gigi impaksi juga tergantung pada kontraindikasi yang muncul, ada
pasien-pasien

tertentu

yang

tidak

dapat

dilakukan

pencabutan

dengan

berbagai

pertimbangan,adapun kontraindikasi pencabutan gigi impaksi adalah:


1.Pasien dengan usia sangat ekstrim,telalu muda atau lansia
2.Incompromised medical status
3. Kerusakan yang luas dan berdekatan dengan struktur yang lain
4. Pasien tidak menghendaki giginya dicabut
5. Apabila tulang yang menutupi gigi yang impaksi sangat termineralisasi dan padat.

14

3.2 Ginggivitis
3.2.1 Definisi
Gingivitis adalah suatu proses peradangan jaringan periodonsium yang terbatas pada
gingiva dan bersifat reversibel. Inflamasi gingiva cenderung dimulai pada papilla interdental
dan menyebar ke sekitar leher gigi. Gingivitis secara epidemiologis diderita oleh hampir
semua populasi masyarakat di dunia. Lebih dari 80% anak usia muda dan semua populasi
dewasa sudah pernah mengalami gingivitis. Faktor-faktor yang mempengaruhi prevalensi dan
derajat keparahan gingivitis adalah umur, kebersihan mulut, pekerjaan, pendidikan, letak
geografis, polusi lingkungan, dan perawatan gigi.3

Gambar 1.gingivitis
3.2.2 Anatomi Gingiva
Gingiva adalah bagian mukosa mulut yang mengelilingi gigi. Gingiva melekat pada gigi
dan tulang alveolar. Pada permukaan vestibulum di kedua rahang, gingiva secara jelas
dibatasi mukosa mulut yang lebih dapat bergerak oleh garis yang bergelombang disebut
perlekatan mukogingiva. Garis demarkasi yang sama juga ditemukan pada aspek lingual
mandibular antara gingival dan mukosa mulut. Pada palatum, gingiva menyatu dengan
palatum dan tidak ada perlekatan mukogingiva yang nyata Gingival, lebih dikenal dengan
gusi adalah mukosa di dalam mulut yang menutupi tulang alveolar dan menyelimuti leher
gigi. Secara anatomi terbagi atas:
2.

Unattached gingival atau marginal gingival yang merupakan tepi akhir atau batas dari
gingival yang mengelilingi gigi seperti kerah baju.

3.

Attached gingival yang melekat pada tulang alveolar gigi.

4.

Interdental gingival yang mengisi daerah pertemuan 2 gigi yang bersebelahan, di bawah
titik kontak pertemuan antara dua gigi tersebut.

Di antara marginal gingival dan gigi terdapat ruang sempit di sekeliling gigi yang disebut
sulcus gingival. Kedalaman dari sulcus gingival dibatasi oleh attached gingival yang
15

berukuran normal rata-rata 1,8 mm.Apabila kedalaman dari sulcus gingival melebihi batas
normal maka sudah dikategorikan sebagai poket periodontal yang merupakan tanda klinis
dari penyakit jaringan periodontal.1

Gambar 2 anatomi ginggiva

3.2.3 Etiologi
1. Maloral hygiene / kesehatan mulut yang jelek (banyak calculus, gangren pulpa / radix,
causa dentis)
2. kebiasaan makan sebelah, sebab adanya gigi yang caries sehingga gigi yang tidak untuk
makan menjadi kotor
3. adanya caries yang besar dengan tepi yang tajam
4. adanya tambalan , jacket crown maupun prothesa yang kurang sempurna
5. tidur dengan mulut terbuka maupun bernafas dengan mulut
6. kebiasaan menusuk gigi

3.2.4 Klasifikasi Gingivitis


Gingivitis berdasarkan waktu
1. Gingivitis akut
2. Gingivitis sub akut
3. Gingivitis kronis
Gingivitis berdasarkan tipenya
1. Gingivitis hipertrofikans
2. Gingivitis nekrotikan (vincents infection)
3. Gingivitis karena gangguan diet
4. Gingivitis indolent
5. Gingivitis karena gangguan endokrin
16

6. Gingivitis alergi obat-obatan


7. Gingivitis penyakit darah
3.2.5 Patogenesis
Penyebab paling utama dari radang gusi adalah akumulasi plak. Akumulasi plak berkaitan
dengan bakteri yang jumlahnya meningkat. Hal ini terjadi karena sisa-sisa makanan yang
tertinggal diantara sela-sela gigi atau di gusi. Jika dalam waktu 24 jam sisa makanan itu
belum tersikat maka akan terbentuk plak. Hanya dalam beberapa hari plak yang tidak tersikat
atau tidak terganggu sudah menimbulkan radang gusi tahap inisial. Ada tiga tahap radang
gusi yaitu tahap inisial (2-4 hari), tahap lesi dini (4-7 hari) dan tahap lesi mantap (2-3
minggu). Pada tahap lesi mantap ini sudah terjadi kerusakan jaringan penyangga gigi.
Selain plak sebagai faktor penyebab utama radang gusi, ada beberapa faktor penunjang
yang memudahkan akumulasi plak seperti tersangkutnya makanan disela-sela gigi dan
menimbulkan rasa sakit, gigi tiruan yang tidak baik, sikat gigi yang tidak bersih, atau
tambalan yang tidak sempurna. Sedangkan faktor fungsional yang berpengaruh terhadap gigi
pada saat berfungsi dan menyebabkan radang gusi dapat berupa gigi yang tidak beraturan,
gigi hilang tidak diganti, atau kebiasaan buruk mengunyah disaat tidur. Selain itu faktor
resiko yang menyebabkan radang gusi seperti umur, gender, ras, merokok, genetik, hormonal
(masa pubertas atau hamil), kondisi penyakit sistemik (diabetes), pendidikan, obat-obatan,
stress psikologis juga dapat berpengaruh.4

3.2.6 Manifestasi klinis


Radang gusi merupakan kelainan jaringan penyangga gigi yang paling sering terjadi dan
hampir selalu dapat ditemukan pada semua bentuk penyakit gusi. Radang gusi yang menetap
dapat berkembang dan menyebabkan kerusakan jaringan penyangga gigi sehingga gigi
menjadi goyang atau terlepas. Tanda-tanda dari gingivitis adalah : 3
1. adanya perdarahan pada ginggiva
2. terjadi perubahan warna pada ginggiva
3. perubahan tekstur permukaan ginggiva
4. perubahan posisi dari ginggiva
5. perubahan kontur dari ginggiva
6. adanya rasa nyeri
faktor lokal penyebab ginggivitis disebabkab oleh akumulasi plak. Bentuk penyakit gusi yang
umum terjadi adalah ginggivitis kronis yang ditandai dengan pembengkakan gusi atau
lepasnya epitel perlekatan. Ginggivitis mengalami perubahan warna gusi mulai dari
17

kemerahan sampai merah kebiruan sesuai dengan bertambahnya proses peradangan yang
terus menerus. Rasa sakit atau nyeri jarang dirasakan, rasa sakit yang merupakan gejala
pembeda antara ginggivitis akut dan ginggivitis kronis.2

3.2.7 Diagnosa
Untuk mendiagnosis radang gusi berdasarkan gejala pada saat pemeriksaan,
penumpukan plak dan tartar pada gigi dan gusi akan dilihat. Kemudian diperiksa juga apakah
ada kemerahan, bengkak pada gusi dan mudah terjadi pendarahan. Pemeriksaan jumlah plak
dan kalkulus dapat dilakukan melalui berbagai macam metode. Pemeriksaan plak dapat
menggunakan plak indeks. Jaringan yang mengelilingi gigi dibagi menjadi 4 bagian, yaitu
papilla distofasial, margin fasial, papilla mesiofasial, dan bagian lingual. Visualisasi plak
dapat dilakukan dengan mengeringkan gigi dengan udara. Plak adalah bagian yang tidak
memiliki stain 2.
Gingival index menyediakan penilaian status inflamasi gingiva yang digunakan dalam
praktek untuk membandingkan kesehatan gingiva sebelum dan setelah terapi fase I atau
sebelum dan setelah operasi. Gingival index juga untuk membandingkan status gingiva pada
kunjungan rutin.

Gambar 2 gingival index

3.2.8 Penatalaksanaan
Untuk pencegahan radang gusi itu sebenarnya sangat mudah, cukup dengan menjaga
kebersihan mulut kita. Karena penyebab utama radang gusi adalah plak, maka terapi keadaan
tersebut diarahkan ke pembersihan plak serta mencegah pembentukkannya, disebut sebagai
mengontrol plak adalah dengan prosedur mekanik termasuk penyikatan gigi, pemakaian
benang gigi, dan tindakan pembersihan plak dan karang gigi. Kebersihan mulut yang buruk,
caries serta adanya cavitas pada gigi akan menjadi predisposisi untuk terjadinya superinfeksi,
nekrosis, rasa nyeri serta perdarahan pada gusi. Dengan sikat gigi yang lunak dan perlahan,
anjuran kumur-kumur dengan antiseptic yang mengandung klorheksidin 0,2% untuk
18

mengendalikan plak dan mencegah infeksi mulut. Pembersihan karang gigi supraginggiva
dapat dilakukan bertahap. 3

3.2.9

Komplikasi

Komplikasi dari gingivitis meliputi :


1. Kehilangan gigi
2. Kekambuhan gingivitis
3. Periodontitis
4. Infeksi atau abses dari gingiva atau tulang rahang
5. Palung mulut (infeksi bakteri dan ulserasi pada gusi)

3.2.10 Prognosis
Gingivitis yang hanya berkaitan dengan plak gigi biasanya prognosisnya baik karena
bersifat reversible yang terjadi oleh akumulasi bakteri plak pada margin gingival dan tidak
terjadi kerusakan attachment.5

19

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Gigi impaksi atau gigi terpendam adalah gigi yang erupsi normalnya terhalangatau
terhambat,biasanya oleh gigi didekatnya atau jaringan patologis sehingga gigi
tersebuttidak keluar dengan sempurna mencapai oklusi yang normal didalam deretan
susunan gigigeligi lain yang sudah erupsi.
Penyebab atau etiologi gigi impaksi ada banyak hal, namun umumnya
dikarenakankurangnya tempat untuk erupsi bagi gigi tersebut dalam lengkung rahang,
sehingga erupsinya terhalang dan mengganggu gigi tetangga. Penegakan diagnosa untuk
gigi impaksi dilakukan dengan anamnesa, riwayat medik, pemeriksaan klinik, palpasi dan
ditunjang dengan pemeriksaan radiografi.
Gigi yang prevalensinya tinggi untuk impaksi berdasarkan urutannya adalah gigi
molar ketiga mandibula, maksila, kaninus atas dan kaninus bawah, premolar atas,
premolar bawah dan insisivus sentral atas.
Gingivitis adalah suatu proses peradangan jaringan periodonsium yang terbatas pada
gingiva dan bersifat reversibel. Inflamasi gingiva cenderung dimulai pada papilla
interdental dan menyebar ke sekitar leher gigi. Gingivitis secara epidemiologis diderita
oleh hampir semua populasi masyarakat di dunia. Lebih dari 80% anak usia muda dan
semua populasi dewasa sudah pernah mengalami gingivitis. Faktor-faktor yang
mempengaruhi prevalensi dan derajat keparahan gingivitis adalah umur, kebersihan mulut,
pekerjaan, pendidikan, letak geografis, polusi lingkungan, dan perawatan gigi.
Untuk pencegahan radang gusi itu sebenarnya sangat mudah, cukup dengan menjaga
kebersihan mulut kita. Karena penyebab utama radang gusi adalah plak, maka terapi
keadaan tersebut diarahkan kepembersihan plak serta mencegah pembentukkannya,
disebut sebagai mengontrol plak adalah dengan prosedur mekanik termasuk penyikatan
gigi, pemakaian benang gigi, dan tindakan pembersihan plak dan karang gigi. Kebersihan
mulut yang buruk, caries serta adanya cavitas pada gigi akan menjadi predisposisi untuk
terjadinya superinfeksi, nekrosis, rasa nyeri serta perdarahan pada gusi.

20

DAFTAR PUSTAKA
1. Julianti et al. Tutorial Gigi Dan Mulut. 2008. fakultas kedokteran universitas Riau.
Pekanbaru
2. Mustaqimah DN. Infeksi Dalam Bidang Periodonsia. JKGUI 2002:14.
3. Nofinawati, dewi. 2010. Gingivitis. http://www.scribd.com/doc/43683914/Gingivitis.
diakses tanggal 21 Juli 2011.
4. Siti

Anggraeni.

2007.

Plak

Gigi

http://www.scribd.com/doc/30577889/

Sumber

Penyakit

Gigi

Dan

Plakgigisumberpenyakitgigidan

Mulut.
mulut.

Diakses tanggal 20 Juli 2011


5. Stephen J. Gingivitis. [Online]. 2006 [cited 2007 Oct 4]; Available from URL :
http://www.news-medical.net/health/Gingivitis-What-is-Gingivitis-(Indonesian).aspx.
Diakses tanggal 20 Juli 2011
6. Chaker, F.M. : Dent. Clin. North Am., 18:393, 1974 dalam Grossman, L.I., Oliet, S.
& Del Rio, C.E. 1988. Endodontic practice. 11 th ed. Philadelphia : Lea & Febiger.
7. Gans,Benjamin.J.Atlas Of Oral Surgery.1972.Cv.Mosby Company.
8. Harahap. 2001. Gigi Impaksi. Dentika Dentinal Journal. Vol 6. No 1. FKG USU.
Medan
9. Langlais Robert P., and Craig S miller., Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut
Yang Lazim. Robert P L, Craig S M; Alih bahasa budi susetyo, editor Lilian juwono.
Jakarta hipokrates, 1998.
10. Mansjoer Arif, dkk: Kapita Selekta Kedokteran. Editor Arif Mansjoer, dkk,Edisi 3,
Volume 1, Jakarta: mediaAesculapius FKUI 2000
11. Mazur, B., & Massler, M. : Oral Surg., 17 : 592. 1964 dalam Grossman, L.I., Oliet, S.
& Del Rio, C.E. 1988. Endodontic Practice. 11 th ed. Philadelphia : Lea & Febiger.
12. Oliet, S. & Pollock,S. : Bull. Phila. Dent. Soc., 34:12, 1968 dalam Grossman, L.I.,
Oliet, S. & Del Rio, C.E. 1988. Endodontic Practice. 11 th ed. Philadelphia :Lea &
Febiger.

21