Anda di halaman 1dari 46

Dewan Asisten 2009 Departemen Anatomi, Embriologi, dan

Antropologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada


Yogyakarta

Anatomy Block 2.6


Clinical Anatomy of the Brain Related to the
Decreasing of the Brain Function in Elderly
Muhammad Dzulfikar Lingga Qamal Mozhaf
Edited & Layout by Annisa Luthfiya Imani

2012

Clinical Anatomy of the Brain Related to the Decreasing of


the Brain Function in Elderly
Muhammad Dzulfikar Lingga Qamal Mozhaf
AUDITORY PATHWAY
1. Auditory transmission
Auricula dan meatus acusticus eksterna mentransmisikan suara menuju ke membran tymphani,
kemudian suara tersebut dikuatkan / dikeraskan oleh oleh ossiculus auditiva (maleus, incus, stapes)
dan ditransmisikan ke foramen oval. Apabila terjadi suara yang keras, pergerakan dari maleus akan
diredam oleh musculus tensor tymphani, dan pergerakan stapes akan diredam oleh musculus
stapedius. Dari auris interna vibrasi akan dihantarkan menuju struktur yang berada di dalam auris
interna, yang disebut dengan labyrintis. Labirintis (auris interna) terdiri dari :
- Osseus labyrinthis, terdiri dari canalis semicircularis, vestibulm, cochlea. Didalam Osseus
labyrinthis terdapat cairan perilymph, dan struktur membranosa labirinthis.
- Membranosa labyrinthis, terletak di dalam osseus labyrinthis, terdiri dai ductus
semicircularis, utriculus, sacculus, dan ductus cochlearis. Membranosa labyrinthis
mengandung cairan endolymph.
Vibrasi akustik dari foramen oval akan sampai pada skala vestibuli dan ditransmisikan sepanjang
cochlea sampai ujung cochlea dimana akan bergabung menjadi skala tymphani, dan vibrasi akan
dilajutkan berjalan sepanjang skala tymphani sampai menuju ke foramen rotundum dan tekanan
yang dihasilkan oleh vibrasi tersebut dihantarkan kembali ke cavitas tymphany pada auris media.
Vibrasi yang berjalan sepanjang skala vestibuli dan tymphani tersebut, menimbukan vibrasi pada
ductus cochlearis pada scala media. Pada scala media terdapat sel-sel rambut yang berperan sebagai
mechano receptor dari vibrasi tersebut. Sel-sel rambut bersama dengan supporting cell (sel
penyokong) disebut organon corti. Sel-sel rambut pada skala media tersebut teraktivasi akibat
pergerakan dari membran basilar yang relatif terhadai membran tectorial yang kaku. Sel-sel rambut
tersebut membentuk synaps eksitatori pada neuron sensori ordo pertama pada auditory pathway
(nervus cochlearis/ nervus vestibulocochlearis (n. C. VIII) divisi cochlearis). Neuron ordo pertama ini
merupakan sel bipolar yang mepunyai badan sel yang terkumpul dalam ganglion spiralis. Nervus
cochlearis akan menuju / bersynaps dengan nuclei cochlearis ventral dan dorsal, yang terletak di
aspek lateral dari pedunculus cerebelli infrior pada junctio pontomedullaris. Nucleus cochlearis
ventral dibagi menjadi nucleus cochlearis posterovenral dan nucleus anteroventral. Nucles cochlearis
anteroventral merupakan nucleus utama dari transmisi nervus cochlearis. Neuron orde ke dua yang
berasal dari nucleus cochlearis anterolateral naik secara ipsilateral menuju nucleus olivarius superior
medial dan lateral, atau naik dan mengalami decussatio atau bercabang menjadi 3 jalur yang
berbeda : yaitu stria acustica dorsal, intermediate, dan ventral. Kelompok serabut yang mengalami
decussatio tersebut disebut juga corpus trapezoid. Serabut dari corpus trapezoid akan menuju dan
berakhir secara kontralateral pada :
1. Nucleus medialis corpus trapezoid yang kemudian berlanjut ke nucleus olivarius superior
lateral, dan medial,
2. Nucleus olivarius superior medial,
3. Nucleus dorsalis lemniscus lateral dan collicuus inferior (dengan naik melalui kumpulan
serabut yang bernama lemniscus lateral).

Neuron orde kedua yang berasal dari nucleus cochlearis posteroventral membentuk stria
acustica intermediate. Serabut ini (striae acustica media) bergabung secara ipsilateral dengan
kontralateral lemniscus lateral dan naik menuju nucleus ventral lemniscus lateral dan colliculus
inferior secara bilateral.
Neuron orde kedua dari nucleus cochlearis tersebut transmisi auditor dilanjutkan melalui
truncus cerebri secara bilateral melalui colliculi inferior, nucleus geniculatum medial dan pada
akhirnya sampai di korteks auditory pada gyrus temporalis trensversus (area broadmann 41 & 42).
Karena informasi auditoris di antarkan bilateral pada brainstem dengan decsussatio (persilangan
pada banyak level), maka jarang sekali terjadi unilateral deafness apabila terjadi lesi setelah nucleus
cochlearis, atau dengan kata lain bisa mengalami deafness (tuli) jika mengalami lesi secara bilateral
juga).
Nucleus cochlearis
Nucleus cochlearis dibagi 2 , yaitu :
1. Nucleus cochleris ventral, dibagi menjadi :
a. nucleus cochlearis anteroventral : merupakan nukleus utama yang menjadi tempat
terminasi dari serabut nervus cochlearis.
- Perjalanan sarafnya (lihat gambar dibawah) :
Serabut saraf (neuron orde ke 2) yang berasal nukleus cochlearis anteroventral
akan naik secara ipsilateral menuju ke nukleus olivarius medial dan lateral atau
mengalami penyilangan membentuk tiga jalur yang berbeda yaitu melewati
striae acustica ventral, intermediet dan dorsal. Kebanyakan serbut dari nucleus
cochlearis anteroventral yang menyilang akan membentuk sekelompok serabut
yang dinamakan corpus trapezoid. Serabut dari korpus trapezoid akan menuju
dan berakhir pada :
Nucleus medial dari corpus trapezoid : yang kemudian menuju nucleus
olivarius superior lateral
Nucleus olivarius superior medial
Nucleus dorsalis lemniscus lateral dan colliculus inferior
b. nucleus cochlearis posterovetral.
Perjalanan saraf nya (lihat gambar dibawah) :
Serabut dari nucleus cochlearis posteroinferior akan membentuk stria
acustica intermediet kemudian serabut ini akan bergabung dengan
lemniscus lateral baik kontralateral maupun ipsilateral dan berakhir di
nucleus ventral lemniscus lateral dan colliculus inferior secara bilateral
2. Nuceus cochlearis dorsal (lebih kecil) :
- Perjalanan saraf (lihat gambar nya) :
serabut saraf yang berasal dari nukleus cochlearis dorsalis akan membentuk stria acustica
dorsal yang kemudian akan menyilang dan bergabung dengan lemniscus lateral secara
kontralateral dan kemudian berakhir di colliculus inferior

CORTICAL DEAFNESS
Cortical deafness merupakan bentuk sensoryneural hearing loss yang disebabkan oleh kerusakan
pada korteks auditory primer, yaitu area korteks 41, 42. Kelainan ini diperkirakan merupakan
kombinasi antara auditory verbal agnosia dan auditory agnosia. Cortical deafness terjadi jika terjadi
kerusakan di cortical secara bilateral, seperti pada kasus bilateral embolic stroke yang mengenai
cortex pada area broadmann 41, 42.
Deafness and hearing loss
Terdapat 3 tipe hearing loss : yaitu Conductive hearing loss, sensoryneural hearing loss, dan
campuran keduanya
1. Conductive hearing loss (CHL) : terjadi kehilangan pendengaran karena masalah pada canalis
acusticus externa, membrane tymphani, auris media, dan ossiculus auditiva (malleus, incus,
stapes).
2. Sensorineural hearing loss (SNHL) : terjadi penurunan pendengaran karena masalah pada
auris interna, dikenal juga dengan istilah nerve-related hearing loss
3. Campuran (mixed hearing loss): kombinasi antara condutive hearing loss dan sensorineural
hearing loss

VISUAL PATHWAY

PUPPILARY LIGHT REFLEX

VISUAL FIELD DEFECT

PUPILLARY ANISOCORE :
Pupil anisokor : pupil yang memiliki ukuran tidak sama. Biasanya perbedaan ini kurang dari
0,5 mm, tapi bisa juga sampai 1 mm. Pupil anisokor bisa terjadi pada :
1. Sindrom Horner
Sindrom Horner dapat disebabkan karena kerusakan pada serabut saraf simpatis yang
menuju wajah dan mata. Sindrom Horner dapat dibagi menjadi congenital (dari lahir)
dan acquired (didapat). Congenital Horners syndrome dapat disebabkan akibat trauma
leher ketika lahir dan sering berkaitan dengan cedera plexus brachialis. Sindrom Horner
juga dapat diperoleh akibat trauma leher, operasi leher, abnormalitas dada, leher,
maupun otak.
Akibat terdapat lesi pada nervus simpaticus ataupun trunkus simpaticus, menyebabkan
inervasi simpatis menjadi menurun, pupil kehilangan inervasi simpatis, menyebabkan
pupil menjadi miosis (parasimpatis).
Biasanya terdapat gejala-gejala yang menyertai seperti ptosis, anhidrosis, dll.
2. Pupil Argyl Robertson
Lesi terjadi pada dorsal mesencephalon, menyebabkan kerusakan atau gangguan pada
jalur reflex pupil, namun jalur yang terletak lebih ventral dari letak lesi tidak mengalami
gangguan. Sehingga ketika dilakukan pemeriksaan dengan reflex pupil dengan menyinari
cahaya pada mata maka pupil tidak mengalami miosis (reflex pupil negative), namun
kemampuan akomodasi dan kemampuan konvergensi mata normal, ketajaman visus
juga tidak mengalami gangguan.
3. Adies Tonic Pupil
Lesi terdapat pada nervus ciliaris atau ganglion ciliaris. Pupil yang terkena pertama kali
akan tampak membesar atau lebih terdilatasi dibandingkan mata normal dan bereaksi
abnormal pada cahaya. Pupil bereaksi lambat dan ireguler ketika melakukan aktifitas
melihat dekat. Setelah melakukan aktifitas melihat dekat (seperti membaca) dalam
waktu yang lama, pupil yang terkena akan menjadi tonik, dan tetap mengalami
konstriksi dalam waktu yang lama setelah tidak lagi melakukan usaha akomodasi.

10

Sistem Somatomotorik

11

EXTRAPYRAMIDAL CIRCUIT

Fungsi Ganglia basalis


Motorik :
Mempengaruhi upper motor neuron saat aliran informasi menuju nukleus ventral
thalamus.
Mengatur gerakan seseorang saat dia ingin berpindah perintah yang memulai atau
menghentikan suatu gerakan.
Memproyeksikan impuls ke cortex ipsilateral, dan cortex akan memproyeksikan
impuls ke tubuh kontralateral.
Berkaitan dengan system limbic emotional & cognitive behavior
Memodulasi cortex asosiasi

12

13

14

Hipermotilitas
1) Dyskinesia: gerakan involunter purposeless yang tiada henti
a. Chorea: lesi Striatum
b. Ballismus: lesi Nucleus Subthalamicus
c. Athetosis: lesi Putamen
2) Dystonia : Gangguan tonisitas otot, dapat berupa hiperekstensi atau hiperfleksi tangan,
hiperinversi kaki, torsi tulang belakang dengan melengkungkan pinggang.
a. Fixed dystonia: sikap tubuh yang menetap .
b. Phasic dystonia: terdiri dari gerakan-gerakan atetotik disebut
3) Tics
4) Resting Tremor (Parkinsonism)
Hipomotilitas:
1) Bradykinesia: perlambatangerakanvolunter
2) Hypokinesia: berkurangnyagerakan yang normalnyaterjadi
3) Rigiditas:peningkatan tonus otot, involunter, sustained muscle contraction
Chorea
Lesi Striatum produksi GABA turun aktivasi cortex meningkat gerakan cepat
bervariasi luas yang tidak henti-henti, kompleks, menyentak-nyentak, diskinetik, tampak
terkoordinasi dengan baik, tetapi terjadi secara involunter.
Chorea Huntington (=Huntingtons disease):
Atrofi pada striatum
Herediter autosomal dominan
Chorea progresif kronik dan kerusakan mental hingga dementia.
Manifest umur 30-an (makin tua makin parah)
Chorea Sydenham : Cross reaction infeksi streptococcus

15

16

Athetosis
Biasanya karena kerusakan perinatal pada striatum demyelinisasi PUTAMEN.
Bentuk dyskinesia yang ditandai dengan gerakan-gerakan menggeliat lambat, berkelok-kelok
yang tidak henti; bentuk paling berat pada tangan, dan dilakukan secara involunter (biasanya
pergelangan tangan fleksi, jari-jari hyperekstensi).
Ballismus
Karena destruksi nucleus subthalamicus.
Biasanya unilateral = Hemiballismus.
Gerakan involunter memukul/mencambuk dan keras akibat kontraksi otot-otot extremitas.

Athetosis

17

Athetosis

Chorea

Parkinsons Disease
Penyakit degenerative hilangnya neuron dopaminergik yang mengandung melanin pada
substansia nigra.
Kekurangan dopamine sel saraf pada striatum jadi out of control, sehingga pasien tidak
dapat mengontrol gerakan.
Sign and symtoms: TRAP (Tremor, Rigidity, Akinesia, Postural Instability).
Resting tremor 4-6 Hz
Resting tremor (lambat dan teratur), muncul saat otot tidak beraktivitas dan hilang
saat otot digerakkan. Diperberat oleh dingin, lelah, dan emosi.
Sebaliknya pada intention / cerebellar tremor, tremor muncul saat ada gerakan
volunter dari otot.
Hypokinetik, akinetik, bradykinetik
Rigidity cog-wheel
Postural instability refleks postural tidak berfungsi dengan baik

18

19

GAMBAR OTAK AREA BROADMANN

20

21

22

Area
Brodmann
1
2
3
3, 4
5, 7

Nama area

Cortex cerebri

Area somatik primer

Gyrus postcentralis

Fungsi

22
39
40
43

Sensibilitas kutan dan viscera


Sensibilitas viscera
Sensibilitas kutan
Area somatik sekunder
Sensoris umum, termasuk nyeri
or
Area asosiasi somatik Lobulus parietalis sup
Stereognosis: penilaian komprehensif
(asosiasi parasensoris)
karakteristik objek yang diraba tanpa
melihatnya
Area visual primer
Sekitar fissura calcarina
Akhiran radiatio optica dari corpus
(area striata)
geniculatum laterale (CGL)
= pusat penglihatan
Area visual sekunder
Sebelah area 17
Area asosiasi visual
Area visual tersier
Sebelah area 18
18-19: gerakan scanning otomatis bola
Area asosiasi visual tinggi
Gyrus angularis
mata
Area auditoris primer
Gyrus temporalis transversus Akhiran radiatio auditiva dari corpus
Area auditoris sekunder
(convolutio Heschl)
geniculatum mediale (CGM)
= pusat pendengaran
or
Area asosiasi auditoris
Gyrus temporalis sup
(area Wernicke)
Area bahasa sensoris
Area asosiasi area-area Gyrus temporalis supor
Memproses input-input dari area-area
asosiasi sensoris
Gyrus angularis
asosiasi sensoris
Gyrus supramarginalis
Area gustatoris
Operculum
Pusat pengecapan

34
9-12

Area olfaksi
Cortex prefrontalis

17

18
19
39
41
42
22

38

4
6
8
44
45

Uncus
Pusat penciuman
Bagian depan gyrus frontalis Pengatur
depth
of
feeling
or
sup -gyri orbitales
(afek/perasaan)
Prefrontal cortex is the neocortical
representative of the limbic system
or
Psychical cortex
Neocortex polus ant lobus Berhubungan dengan pengalaman
temporalis
masa lalu, membangkitkan kembali
benda-benda yang pernah dilihat atau
musik yang pernah didengar
Area motoris primer
Gyrus precentralis
Pusat
motorik:
asal
tractus
corticospinalis et corticobulbaris
or
Area premotoris
Gyrus frontalis sup
Gerakan manipulatif
(rostral gyrus precentralis)
(aktivitas motoris yang dipelajari)
or
Frontal eye field
Gyrus frontalis sup
Gerakan scanning volunter bola mata
(rostral area 6)
Area bahasa motoris (area Pars opercularis
Mekanisme produksi bicara
Broca)
Pars triangularis
23

AGNOSIA, ASTEREOGNOSIA, ANOSMIA, ANASTESIA


Agnosia
Ketidakmampuan unutk mengenali benda-benda yang telah dikenal, yang dirasakan oleh
inderanya. Agnosia biasanya dianggap disebabkan pada gannguan fungsi asosiasi kortex
cerebri.
Asterognosia
Gangguan pada pengenalan benda-benda taktil biasanya berhubungan dengan lesi
parietal kontra lateral hemisfer.
Agnosia visual
Ketidakmampuan mengenali sesuatu melalui penglihatan. Agnosia visual dapat
terjadi dengan atau tanpa hemianopsia sisi yang dominan. Hal ini diakibatkan lesi
pada parieto-oksipital atau pada serabut splenium corpus callosum.
Prosopagnosia
Sindrom dimana pasien kehilangan kemampuan untuk mengenali muka yang
familiar. Pasien tidak mampu untuk menggambarkan indentifikasi suatu benda,
seperti warna mata, warna rambut ada, atau tidak adanya kumis. Lesi pada lobus
temporal dan oksipital dan sering bilateral.
Unilateral neglect
Suatu sindrom dimana pasien gagal untuk merespon terhadap stimulus pada satu
sisi ruangan, kontralateral terhadap lesi hemisfer. Pasien tidak dapat merespon
visual, taktil dan auditori stimuli. Unilateral neglect biasanya disebabkan oleh
kerusakan lobus parietal , tapi bisa juga terjadi akibat lesi pada beberapa tempat lain
di hemisfer, seperti lobus frontalis, substansia alba, ganglia basalis.
Anosognosia
Kehilangan kesadaran akan penyakit, dapat terjadi sebagai bagian dari unilateral
neglect syndrome. Disebabkan lesi pada lobus parietalis di daerah gyrus
supramarginalis.
Autotopagnosia
Terganggunya kemampuan untuk mengenal bagian-bagian tubuhnya, dapat terjadi
pada lesi bagian posteroinferior dari lobus parietalis.
Syndrome Charcot Wilbrand
Terdiri dari agnosia visual dan hilangnya kemampuan untuk mengadakan
revisualisasi kesan yang diangkapnya. Sindrom ini dapat terjadi menyertai sumbatan
arteri cerebri posterior pada hemisfer cerebrum yang dominan.
Syndrom Anton
Bentuk anosognosia dimana pasien menyangkal kebutaannya.
Sindrom Gerstmann
Ketidakmampuan untuk menghitung (acalculia), agnosia jari tangan, disorientasi
kanan-kiri, serta ketidakmampuan menulis, biasanya disebabkan lesi fokal pada
hemisfer cerebrum dominan di regio gyrus angularis.

24

Anosmia
Menghilangnya sensasi bau. Umumnya anosmia bilateral terjadi pada salesma dan rhinitis.
Anosmia unilateral dapat disebabkan lesi pada area 34.
Hyperosmia
Suatu keadaan abnormal berupa sensasi bau yang akut ditemukan pada penderita
histeria dan kadang-kadang pada pasien adiksi cocain.
Parosmia
Sensasi bau yang berubah-ubah, terjadi pada sebagian kasus schizoprenia, lesi gyrus
uncinatus, dan pada hysteria.
Cacosmia
Bau yang tidak enak biasanya disebabkan oleh dekomposisi jaringan dan disadari oleh
penderitaannya pada saat ekspirasi.
Apraxia
Ketidakmampuan untuk melakukan gerakan kompleks atau terampil yang diminta.
Kegagalan ini bukan disebabkan paralisis, ataxia, perubahan sensorik atau defisiensi
pengertian.
Apraxia Ideational
Disebabkan oleh hilangnya kemampuan unruk memformasikan konsep-konsep
ideational yang diperlukan untuk pelaksanaan tindakan. Penderita tidak mampu
menangkap atau menguasai gagasan dari tindakan yang diinginkan. Gerakan
sedrhana dan terbatas tidak terganggu namun gerakan yang lebih rumit tidak
mungkin dilaksanakan. Ideational apraxia dapat disebabkan oleh lesi atau kelainana
otak yang difus (seperti arteriosclerosis).
Apraxia motoris
Hilangnya pola ingatan kinesthetic yang diperlukan untuk pelaksanaan tindakan.
Tujuan gerakan biasanya jelas bagi penderita tapi pelaksanaanya tetap terganggu.
Biasanya apraxia motoris menyertai lesi pada gyrus precentralis.
Apraxia ideomotoris
Keadaan dimana pasien tidak mampu melaksanaan secara tepat gerakan yang
diminta sekalipun gerakan motorik yang sudah biasa dilakukan dapat dilaksanakan
seara spontan atau berulang-ulang. Lesi pada hemispherium cerebri yang dominan
(gyrus supramarginalis).

25

26

27

Aphasia
Gangguan-gangguan motorik dan sensorik bahasa yang disebabkan oleh adanya kerusakan
pada otak. Aphasia berbeda dengan gangguan pada sisi fisik bicara, yang disebut dysarthria
atau anarthria (yang disebabkan oleh, misalnya, lesi pada tractus pyramidalis, cerebellar
fiber pathways, atau pada brainstem motor neurons yang menginervasi otot-otot bicara).
Dysarthria dan anarthria mempengaruhi artikulasi dan fonasi, sedangkan aphasia
mempengaruhi bahasa itu sendiri (grammar, morfologi, syntax, etc.).
Aphasia menurut Henry Head dibagi menjadi 4 tipe :
1. Aphasia Verbal
Ditandai dengan gangguan dalam kemampuan unttuk membentuk kata-katanya sendiri
baik untuk penggunaan exterxnal maupun internal. Pada kasus-kasus berat penderitanya
hanya mampu mengeluarkan satu atau dua kata diluar automatic speech.
2. Aphasia Sintatik
Terganggunya keseimbangan dan irama kata-kata atau ungkapan yang diucapkan
berangkaian dengan ungkapan yang salah atau kata-kata yang dilafalkan salah.
Penderita dapat menulis lebih baik daripada berbicara dan mengerti kata-kata tunggal.
Penderita dapat mengungkapkan perintah kecuali kalau perintah tersebut memerlukan
daya ingat yang tepat akan ungkapan yang diucapan.
3. Aphasia Nominal
Gangguan dalam kemampuan untuk menyebutkan nama-nama benda dan mengerti
makna nominal kata-kata.
4. Aphasia Semantic
Ketidakmampuan untuk memahami makna metaforik atau pemerian warna pada katakata dan ungkapan (konotasi) di luar makna yang langsung (denotasi). Pada aphasia
semantic terjadi kehilangan daya untuk tiba pada kesimpulan yang logis dari suatu
rangkaian gagasan atau tindakan. Penderita dapat membaca tetapi arti yang lengkap
cenderung disalahartikan atau ditangkap secara salah. Penderita memiliki kemampuan
untuk menulis namun hasilnya tidak memuaskan. Pada umumnya defek semantic
cenderung mengganggu pengertian rangkaian yang berhubungan dari apa yang
dituliskan bahkan kalau bentuk verbalnya masing-masing cukup jelas.
Aphasia dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu
1. Aphasia with impaired repetition
a. Aphasia Broca
Disebabkan oleh lesi pada gyrus frontalis inferior pada hemisfer dominan (area
Broca). Biasanya pasien ini sering mengalami hemiplegi pada lengan dibanding
tungkai bawah. Aphasia Broca sering terjadi disebabkan oleh stroke, lazim nya arteri
cerebri media.
b. Aphasia Wernicke
Lesi terjadi pada atau dekat gyrus temporalis superior atau area Wernicke. Karena
daerah ini tidak terletak pada korteks motoris biasanya tidak terjadi gangguan bicara
motoris.
Pasien sulit menamai objek dan menghasilkan baik literal paraphasia (contohnya
bilang wellow padahal yellow) maupun verbal aphasia (contoh bilang mother
padahal wife).
28

c. Aphasia Konduksi
Lesi pada fasciculus arcuatus.
d. Aphasia Global
Terdapat lesi yang besar pada hemisfer dominan mencangkup area Broca pada lobus
frontal, area Wernicke pada lobus temporal dan fasciulus arcuatus. Sering terjadi
pada oklusi arteri carotis dan arteri cerebri media.
2. Aphasia without impaired repetition
a. Isolation area speech
b. Transcortical motor aphasia
c. Transcortical sensory aphasia
d. Anomic aphasia

Agraphia :
Gangguan menulis. Agraphia primer terdiri atas ketidakmampuan unutk membuat hurufhuruf. Agraphia sekunder : disebabkan defek pada bahasa.
Alexia :
Gangguan dalam membaca. Alexia primer dinamakan alexia agnosia visual. Alexia sekunder
disebabkan oleh defek dalam bahasa.
Alexia dibedakan menjadi 2 yaitu:
1. Alexia with agraphia
Terapat ganggun pada membaca dan menulis. Lesi terjadi pada area temporal dan
parietal, khususnya gyrus angularis. Biasanya juga terdapat anomia dan syndrome
Gertsman.
2. Alexia without Agraphia
Gangguan pada membaca meskipun menulis tidak terganggu. Lesi terjadi pada korteks
visual sinistra (dominan) dan splenium corpus callosum.

29

Amnesia :
Amnesia Anterograde
Amnesia anterograde merupakan kehilangan kemampuan untuk menciptakan
memori baru setelah kejadian yang menyebabkan amnesia, yang menyebabkan
ketidakmampuan untuk mengingat kembali ingatan yang baru baik parsial maupun
komplit, dimana long term memory dari sebelum kejadian masih intact/ utuh.
Lesi terdapat pada lobus temporalis, khususnya hippocampus dan cortex yang
mengelilinginya.

Amnesia retrograde
Merupakan bentuk dari amnesia dimana sesorang tidak mampu untuk mengingat
kembali kejadian yang terjadi sebelum berkembangnya amnesia, namun dapat
membentuk memori baru setelah onset.
Amnesia retrograde biasanya terjadi akibat lesi pada area otak selain dari pada
hippocampus, karena memori jangka panjang (long-term memory yang sudah ada
disimpan dalam bentuk neuron-neuron dan synaps-synaps dari berbagai region otak
yang berbeda. Sebagai contoh, kerusakan pada area Broca atau Wernicke dapat
menyebabkan kehilangan memori yang berhubungan dengan bahasa. Amnesia ini
juga dapat disebabkan oleh kerusakan pada regio otak yang berkaitan erat dengan
memori deklaratif, seperti lobus temporal dan korteks prefrontal.

Dementia
Istilah yang menggambarkan kumpulan dari gejala-gejala yang mencangkup penurunan
fungsi intelektual yang mempengaruhi fungsi kehidupan normal, biasanya digunakan untuk
menggambarkan seseorang yang mempunyai 2 atau lebih gangguan, seperti memory,
bahasa, persepsi, pengambilan keputusan, dan reasoning. Selain itu juga dapat terjadi
kehilangan kontrol emosional dan tingkah laku, perubahan personality, dan menurunnya
kemampuan pemecahan masalah. Sering terjadi pada penyakit Alzheimer.

SISTEM LIMBIK
Sistem limbic merupakan kumpulan struktur yang terdiri dari area-area korteks, nuclei subkortikal,
dan jalur yang menghubungkan telecephalon, diencephalon, dan brainstem. Intinya, sistem ini
berfungsi untuk memodulasi hipotalamus. Dua struktur penyusun yang utama dari sistem limbic
adalah formasio hippocampalis (hippocampus, girus dentatus, subiculum) dan amygdala.
Hippokampus terlibat pada proses konsolidasi short-term memory menjadi long-term memory
sedangkan amygdala meregulasi ekspresi emosional dengan memodulasi hypothalamus. Fungsi
sistem limbic lainnya terkait dengan fungsi olfaksi, perilaku seksual, marah & takut, perilaku makan.
Berikut ini adalah komponen sistem limbic versi lengkapnya..

30

Lobus limbikus terdiri dari girus parahipokampalis, cinguli, subcallosus mengelilingi corpus callosum.
Formatio hippokampalis terdiri dari hipokampus, gyrus dentatus, dan subiculum. Struktur yang
berkaitan dengan formatio hippokampalis meliputi korteks entorhinnal (untuk olfaksi), gyrus
supracallosus, fasiola cinerea, area septal. Formasio ini membentang dari amygdala sampai ke
splenium corpus callosum.
Amygdala merupakan nucleus yang terletak di dalam uncus gyrus parahipokampalis. Dibagi menjadi
3 subnuklei yaitu basolateral, corticomedial, dan sentral. Basolateral dan corticomedial menerima
serabut aferen sedangkan subnuklei sentral menyalurkan serabut efferent. Amygdala terlibat pada
berbagai fungsi seperti visual, auditory, olfaksi, dan somatosensorik. Amygdala berperan penting
dalam modulasi ANS (Autonomic Nervous System) menggunakan pengalaman sebelumnya. Karena
berhubungan dengan hypothalamus, amygdala mampu mempengaruhi aspek visceral dan somatic
yang berhubungan dengan ekspresi perilaku karena emosi.

31

Gambar Komponen Sistem Limbik

Sirkuit Papez
Sirkuit ini merupakan neuroanatomical basis of emotion.
Thalamus
Cingulum

or

(nuc. ant )

Fornix

Corpus mamillare
Tractus mamillothalamicus

Hippocampus

Gambar Sirkuit Papez


Berikut adalah gambaran alur Sirkuit Papez:
Formasio hippokampalis mengirimkan sinyal melalui fornix ke korpus mammilaris. Dari korpus
mammilaris & nuclei lainnya di hipotalamus melalui traktus mammilothalamicus ke nucleus anterior
di thalamus, yang kemudian akan menuju ke girus cinguli. Dari girus cinguli akan menuju ke formasio
hippokampalis melalui cingulum.

32

Pusat brainstem yang berkaitan dengan fungsi sistem limbic.

Hipothalamus memediasi respon ANS sebaga bentuk ekspresi dari emosi.


Thalamus (pada nucleus anterior, dorsal lateral, dan dorsal medial) menerima sinyal dari amygdala
dan hipotalamus. Kemudian nucleus-nukleus tadi menyampaikan sinyal tersebut ke lobus limbikus.
Nukleus Habenular meneruskan sinyal dari sistem limbic ke fromasio reticular di mesencephalon.
Ventral Tegmental midbrain memodulasi memory yang berakhir pada area korteks sistem limbic.
Locus ceruleus mengirimkan serabut noradrenergic sedangkan raphe dorsalis mengirmikan serabut
serotonergic ke formasio hippokampalis, lobus limbikus, dan amygdala untuk memodulasi memory.

33

Nervus Craniales
NC.
N. I

N. II

N. III

N. IV
N. V
N.
V(1)
N.
V(2)
N.
V(3)
N. VI
N. VII

Tempat keluar pada


Inti
basis cranii
Bulbus olfactorius tractus Lamina et foramina (SVA)
olfactorius

trigonum cribrosa
olfactorium

striae
olfactoriae medialis et lateralis
area parolfactoria (medial);
uncus (lateral)
Rhinencephalon
Chiasma opticum tractus Canalis opticus
(SSA)
opticus CGL radiatio
optica area striata
Pedunculus cerebri (sisi dalam) Fissura orbitalis supor
Nucl. N. III (GSE) colliculus supor
Nucl. oculomotorius accessorius
(GVE) ganglion ciliare
Di bawah colliculus infor
Fissura orbitalis supor
Nucl. N. IV (GSE) colliculus infor
Tepi samping pons
Nucl. principalis et spinalis N. V
Fissura orbitalis supor
(GSA)
Ganglion trigeminale
For. rotundum
Nucl. motorius N. V (SVE)
For. ovale
pons
Tempat keluar pada otak

Antara pons-pyramis
(kanan-kiri for. caecum)
Angulus pontocerebellaris

N.
VIII

Angulus pontocerebellaris

N. IX

Sulcus postolivarius

N. X

Sulcus postolivarius

N. XI
N. XII

Sulcus postolivarius
Sulcus preolivarius

Nucl. N. VI (GSE) colliculus


facialis
MAI
(meatus Nucl. N. VII (SVE) colliculus
acusticus internus)
facialis
Nucl. salivatorius supor (GVE)
Nucl. solitarius (SVA)
MAI
Nucl. cochleares et vestibulares
(SSA)
tuberculum acusticum
For. jugulare
Nucl. ambiguus (SVE)
Nucl. spinalis N. V (GSA)
Nucl. solitarius (SVA& GVA)
Nucl. salivatorius infor (GVE)
For. jugulare
Nucl. ambiguus (SVE)
Nucl. spinalis N. V (GSA)
Nucl. solitarius (SVA& GVA)
Nucl. dorsalis N. X (GVE)
trigonum n. vagi
For. jugulare
Nucl. ambiguus et nucl. N. XI (SVE)
Canalis
nervi Nucl. N. XII (GSE) trigonum n.
hypoglossi
hypoglossi
Fissura orbitalis supor

34

SISTEM VESTIBULARIS
Apparatus vestibular
Terletak di auris interna, pada bagian petrosa os temporal, terdiri dari osseus labirynthi dan
membranous labirynthi.
1. Osseus Labirynthi terdiri dari cochlea, tiga canalis semicircularis, dan vestibulum. Osseus
labyrinthi yang berhubungan dengan proses keseimbangan adalah canalis semicircularis dan
vestibulum. Sedangkan cochlea berkaitan dengan fungsi pendengaran dan tidak mempunyai
fungsi dalam proses keseimbangan.
a. Canalis semicircularis, terdiri dari canalis semicircularis anterior (superior),lateral
(horizontal) dan posterior (inferior). Sauran ini berisi perilimfa. Canalis semicirculris
berbentuk seperti huruf C dan menempel serta membuka pada vestibulum. Canalis
anterior, pada masing masing sisi, terletak pada anterolateral dari planum median (45
derajat dari bidang coronal). Canalis posterior terletak posterolateral terhadap bidang
median dan terletak sekiar 45 derajat dari bidang coronal, sedangkan Canalis lateral,
terletak pada bidang yang sama. Ketika kepala tegak, canalis anterior dan posterior
terletak pada bidang vertikal dan canalis lateral pada biang horizontal.
b. Vestibulum, merupakan kompnen osseus labirinti, yang menerima pemukaan dari
canalis semicircularis. Vestibulum merupakan suatu ruangan yang berisi perilimfa yang
merupakan muara atau kelanjutan dari perilimfa yang berasal dari canalis semicircularis.
Vestibulum merupakan tempat dari saccus membranosa, yaitu utriculus dan sacculus.
2. Membranous labyrinthis, komponen membranous labirynthis yang berkaitan dengan
keseimbangan adalah :
a. Tiga duktus semicircularis : terletak didalam canalis semicircularis . Ductus semicicularis
mempunyai segmen yang mengalami dilatasi dekat salah satu ujung canal nya, yang
bernama ampulla. Terdapat reseptor keseimbangan dalam ampulla yang dinamakan
crista ampullaris
b. Utriculus dan sacculus : terletak didalam vestibulum. Reseptor keseimbangan yang
terdapat pada utriculus dan sacculus adalah macula utriculi dan sacculi.
Nervus vestibularis
Badan sel dari neuron bipolar (nervus vestibularis) adalah ganglion vestibular atau dikenal
dengan ganglion scarpa. Processus periferal dari ganglion Scarpa akan berakhir di crista ampullaris
dari ductus semicircularis dan maculi utriculi dari utriculus dan macula sacculi dari sacculus.
Sedangkan processus centralis dari neuron bipolar tersebut akan bergabung membentuk radiks
nervus vestibularis. Pada auris media, nervus vestibularis aka bergabung dengan nervus cochlearis
membentuk nervus vestibulocochlearis. Nervus vestibulocochlearis kemudian masuk ke dalam
meatus accusticus interna untuk masuk ke dalam cranium kemudian menuju truncus cerebri pada
angulus pontocerebelaris. Pada saat menuju truncus cerebri kedua komponen nervus tersebut
(nervus vestibularis dan nervus vestibulocochlearis) berpisah. Serabut nervus cochlearis bersinaps ke
nucleus cochlearis, sedangkan nervus vestibularis bersinaps pada nucleus vestibularis yang terletak
antara pons dan medulla. Beberapa serabut nervus vestibularis ada yang tidak bersinaps pada
nucleus vestibularis, namun menuju lobus flocculonodularis dari cerebellum melalui / bergabung
dengan corpus juxtarestiformis.

35

Kompleks nucleus vestibularis.


Kompleks nucleus vestibularis terdiri dari 4 nucleus. 4 nucleus tersebut adalah:
1. Nucleus vestibularis superior (Bechterew)
2. Nucleus Vestibularis medial (Schwalbe)
3. Nucleus Vestibularis lateral (Deiter)
4. Nucleus Vestibularis inferior (spinal, decendens)
Nucleus vestibularis terletak di medulla superior dan lower pons, lateral terhadap ventrikulus
quartus.
Nucleus vestibularis superior + medial : menerima neuron orde pertama dari crista
ampullaris canalais semicircularis. Kemudian nucleus ini me-relay ke 2 struktur :
1. Fasciculus longitudinalis medialis (MLF) menuju nucleus ocular motor untuk
menggerakan mata sebagai kompensasi yang dipicu oleh pergerakan kepala. Nucleus
vestibularis superior akan memberikan aksonnya bergabung dengan fasciculus
longitudinalis medial ipsilateral dan kontralateral dan menuju ke kompleks nukleus
okulomotor dan nucleus trochlearis. Sedangkan beberapa serabut nucleus vestibularis
medialis bergabung dengan fasciculus longitudinalis medialis ipsilateral dan kontralateral
untuk menuju ke kompleks nukleus oculomotor dan abducens bilateral, selain itu
beberapa serabut dari nucleus vestibularis medialis bergabung dengan fasciculus
longitudinalis medial kontralateral dan menuju ke nucleus trochlearis dan nucleus
interstitial Cajal.
Beberapa serabut axon dari nukleus vestibularis superior bergabung dengan MLF
bilateral untuk naik menuju nucleus ventral posterior lateral talamus dan nukleus
ventral posterior inferior talamus thalamus akan memberikan aksonnya untuk
bersinaps di cortex vestibular primer (area Broadmann 3a) pada lobus parietal. Area
Broadmann 3a merupakan pusat integrasi input sensoris dari sistem vestibular dan
propriocepsi.
2. Traktus vestibulospinal medial menuju ke medula spinalis unutk pergerakan kepala.
Tractus ini turun bilateral dan bersinaps pada medula spinalis pada level cervical,
berperan dalam mengkoordinasi gerakan mata dan kepala.

Nucleus vestibularis lateral :


Menerima input dari macula utriculus, sacculus dan canalis semicircularis. Nucleus ini
kemudian me-relay via tractus vestibulospinal lateral menuju ke motor neuron atau
interneuron untuk memberikan penyesuaian postur tubuh. Tractus vestibulo spinalis
lateralis turun secara ipsilateral dan berakhir pada semua level dari medula spinalis, namun
lebih banyak pada area cervical dan lumbar untuk menggerakan otot-otot ekstremitas.
Tractus vestibulospinal ini berperan dalam menjaga postur karena menginervasi otot-otot
ekstensor pada leher, trunkus dan ekstremitas inferior dan menginhibisi otot-otot fleksor.
Nucleus vestibularis inferior :
Menerima input dari canalis semicircularis dan utriculus. Kemudian me-relay ke nucleus
olivarius inferior, formatio reticularis, cerebellum, dan medulla spinalis via MLF . Beberapa
serabut dari nucleus vestibularis inferior juga mengalami proyeksi naik (ascending
projection-untuk koordinasi pergerakan bola mata) bergabung juga dengan ipsilateral dan
kontralateral fasciculus longitudinalis medial dan bersinaps pada nucleus oculomotor dan
trochlear.
36

Kontrol Pergerakan Bola Mata


Pergerakan mata di bagi jadi 2, yaitu
1. Conjugate : pergerakan mata dimana kedua mata bergerak dengan arah yang sama,
mencakup :
Smooth pursuit eye movement : involuntary, slow, and smooth. Terjadi selama
mengikuti objek yang bergerak.
Optokinetic eye movement : gerakan mata yang dirangsang oleh pergerakan lapang
pandang.
Saccadic eye movement : rapid, abrupt, voluntary, or involuntary dan merubah titik
fiksasi visual.
Vestibular eye movement, involuntary eye movement yang dirangsang oleh
pergerakan kepala.
2. Disconjugate (disjunctive)
Vergence eye movement : involunter dan meliputi :
i. Convergent
ii. Divergent
Terdapat 4 prinsip sumber rangsangan terhadap nucleus motoris mata (occulomotor, trochlear, dan
abducens) untuk mengontrol pergerakan mata, baik volnter maupun involunter, yaitu :
1. Upper motorneuron dari frontal eye field (FEF) untuk mengontrol gerakan mata yang
volunter.
2. Sistem vestibular mendeteksi pergerakan kepala dan koordinasi pergerkan kepala dan
mata via :
a. Pontine reticular formation lateral gaze center ( paramedian pontine reticular
formation / PPRF) kontrol conjugate vertical ocular movement.
b. Pusat vertical gaze substansia grisea periaqueductal control conjugate vertical
ocular movement.
Keduanya untuk menjaga fiksasi mata pada objek yang diam saat kepala bergerak.
3. Proyeksi dari korteks visual menuju ke mesencephalon rostral (pusat vertical gaze dan lateral
gaze), berperan dalam gerakan smooth pursuit atau ketika melihat benda yang bergerak
unutk menjaga gambar dari benda yang bergerak pada retina.
4. Proyeksi sistem auditoris refleks gerak mata ketika ada suara mengejutkan.

37

Vestibulo ocular reflex

Penjelasan :
Ketika kepala digerakkan (misal : ke kanan), akan menginduksi aliran endolimfa pada kedua canalis
semicircularis. Endolimfa akan mengalir ke kiri karena inersia dari cairan endolimfa. Aliran cairan
endolimfa ini menyebabkan terangsangnya reseptor canalis semicircularis yang kanan dan
menurunkan akitfitas canalis semicircularis yang kiri. Akibat canalis semicircularis kanan terangsang
maka impuls dihantarkan oleh nervus vestibularis sebelah kanan dan bersinaps pada nucleus
vestibularis ipsilateral. Akson dari nukleus tersebut akan bergabung dengan MLF dan bersinaps
dengan nuclus abducens kontralateral (kiri) kemudian beberapa akson nucleus abducens
menginervasi m. rectus lateral kiri. Beberapa akson menyilang dan dan bergabung dengan MLF
bersinaps dengan nuclleus occulomotor (kanan) dimana akson nucleus occulomotoe menginervasi
m. rectus medial (Kanan), sehingga ketika kepala bergerak ke kanan maka mata akan bergerak kekiri.
(lihat gambar).

38

Untuk mengetahui integritas fungsional dari sistem vestibular terdapat 2 tes klinis, yaitu rotation
test dan caloric test.
1. Rotation test dan post-rotatory test
Pada rotation test, individu duduk pada kursi yang bisa diputar dengan kepala dimiringkan
30 derajat anterior. Individu diputar 10 kali dan dipelihara akselerasinya yang kontinu.
Kemudian rotasi tiba-tiba dihentikan.
Apabila individu tersebut diputar kekanan, rotasi tersebut akan menstimulasi canalis
semicircularis horizontal dextra, karena akan menyebabkan cairan endolimfa mengalir ke
arah kiri kemudian menstimulasi nucleus vestibularis dextra. Sehingga pada akhirnya akan
menyebabkan pergerakan mata secara perlahan ke kiri (slow component) untuk memelihara
fiksasi visual dan kemudian kembali dengan cepat (fast component) ke tengah (kanan). Maka
gerakan tersebut dapat kita amati sebagai nystagmus ke kanan.
Ketika rotasi tiba-tiba dihentikan maka cairan endolimfa yang semula mengalir ke arah kiri
akan berbalik arah karena adanya inersia sehingga mengalir ke arah kanan sehingga
mengaktifkan canalis semicircularis kiri dan mengaktifkan nervus vestbularis kiri sehingga
arah nistagmus berlawanan arah yaitu ke kiri. Nystagmus ini dikenal dengan post rotatory
nystagmus yang dapat berlangsung paling lama setengah menit. Akibat teraktivasi canalis
semicircularis kiri ketika tiba-tiba dihentikan maka akan menyebabkan teraktivasinya otot
ekstensor yang kiri, sedangkan otot ekstensor kanan tidak teraktifasi sehingga inividu yang
diputar ke kanan kemudian tba-tiba dihentikan akan jatuh ke kanan juga.

39

2. Caloric test
Tes kaori digunakan untuk menstimulasi masing-masing apparatus vestibular atau canalis
semicircular spesifik pada individu yang sadar atau tidak sadar.
Prosedur : canalis horizontal diorientasikan pada bidang vertikal, kepala dimiringkan 60
derajat ke posterior, kemudian meatus accusticus eksterna diirigasi oleh air hangat atau air
dingin.
Air dingin akan menghambat canalis semicircularis sedangkan air hangat akan merangasang
canalis semicircularis. Apabila air dingin diberikan ke telinga tertentu (misal kiri) maka akan
menghambat telinga kiri dan akan mengaktivasi telinga kanan sehingga akan menyebabkan
slow component ke kiri dan fast component ke kanan sehingga tampak nystagmus (fast
component ke kanan). Apabila air hangat diberikan ke telinga tertentu (misal kiri) maka akan
mengaktivasi telinga kiri dan akan menghambat telinga kanan sehingga akan menyebabkan
slow component ke kanan dan fast component ke kiri sehingga tampak nystagmus
(fastcomponent ke kiri).
Atau dapat disimpulkan:
Cold water diberikan telinga tertentu nystagmus ke arah berlawanan (Opposite)
Warm water dibeikan telinga tertentu nystagmus ke arah sama (same)
o Atau bisa disingkat COWS (Cold Opposite Warm Same side)

IMPULS PROPRIOSEPSI
Propriosepsi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
1. Concscious proprioception, dapat di kelompokkan menjadi:
a. Proprioception statis : kesadaran akan posisi bagian tubuh,seperti ekstrimitas
b. Proprioception dinamis : kesadaran gerakan bagian badan dan keseimbangan
Ascendens sensory proprioception yang bersifat sadar menuju otak melalui jalur DCML
(Sudah dipelajari di blok 1.5).
2. Subconscious proprioception
Hanya sebagian kecil dari informasi proprioception masuk dalam sistem kesadaran,
kebanyakan ditransmisikan langsung menuju cerebellum tanpa melalui thalamus dan cortex
cereberi. Jalur propriosepsi yang bersifat subconscious mencangkup :
a. Dorsal (posterior) spinocerebellar : untuk me-relay input proprioception dari
neuromuscular spinal dan GTO dari trunkus dan ekstrimitas bawah menuju
cerebellum.
b. Cuneocerebellar tract : informasi propriosepsi dari leher dan ekstrimitas atas dan
setengah atas dari trunkus. Semua sensoris tersebut masuk pada medulla spinalis
segmen C2-T5.
c. Ventral (anterior) spinocerebellar : relay propriosepsi dari muscle spindle dan GTO
(Golgi Tendon Organ) dari trunkus dan ekstrimitas bawah. Fungsi : untuk koordinasi
otot ekstrimitas dan memelihara postur tubuh
d. Rostral spinocerebellar : propriosepsi dari kepala dan ekstrimitas atas
ditransmisikan ke segmen medulla spinalis C4-C8.

40

41

42

CEREBELLUM
Cerebellum berperan dalam integrasi input sensoris dan input lain dari regio otak dan
medulla spinalis. Informasi ini digunakan cerebellum untuk mengkordinasi gerakan dan
berperan dalam perencanaan gerakan. Cerebellum tidak mempunyai koneksi yang langsung
dengan lower motor neuron, nanun dapat memberikan pengaruh melalui koneksi dengan
sistem motor pada otak dan trunkuscerebri.
Lesi pada cerebellum menghasilkan karakteristik pergerakan ireguler yang tidak
terkoordinasi, yang disebut dengan ataxia. Lesi cerebellar sering terlokalisir pada beberapa
prinsip sederhana :
1. Ataxia : ipsilateral pada sisi lesi cerebellum.
2. Lesi pada median cerebellum seperti pada vermis cerebellum atau lobus
floculonodularis menyebabkan unsteady gait (ataxia truncal) dan pergerakan mata yang
abnormal, yang sering berhubungan dengan vertigo yang intens, mual, dan muntah.
3. Lesi pada sebelah lateral vermis cerebelli menyebabkan ataxia pada extrimitas
(appendicular ataxia).
Cerebellum terletak di fossa cranii posterior. Cerebellum terdiri dari vermis dan 2
hemisferium cerebelli. Cerebellum memiliki sejumlah fissura :
1. Fissura primus : memisahkan antaraa lobus anterior cerebellum dan lobus posterior
cerebellum.
2. Fissura poterolateral : memisahkan lobus posterior dengan lobus flocculonodularis.
3. Fissura horizontal : memisahkan antara lobulus semilunaris superior dengan lobulus
semilunaris inferior.
4. Fissura secunda : memisahkan antara tonsila cerebelli dengan lobulus biventer.
Cerebellum terdiri atas 3 lobus :
Lobus
Vermis
Hemispher
1. Lobus anterior
Lingula
Lobulus centralis Ala lobuli centralis
Culmen
Lobulus qudrangularis anterior
2. Lobus posterior
Declive
Lobulus quadrangularis posterior
Folium
Lobulus semilunaris superior
Tuber
Lobulus semilunaris inferior
Lobulus gacilis
Pyramis
Lobulus biventer
Uvula
Tonsila
3. Lobus flocculonodularis
Nodulus
Flocculus
Pada potongan midsagital dari cerebellum, akan tampak pola dari substansia alba
cerebelli dan substansia grisea kortikal, yang dikanal dengan arbor vitae. Cerebellum
mempunyai rigi (gyrus) yang dinamakan folia.
Secara filogenetik dan fungsional, cerebellum dibedakan menjadi 3 komponen, yaitu :
1. Archicerebellum / vestibulocerebellum (oldest portion cerebellum), berhubungan
dengan apparatus vestibular.
Terdiri dari lobus flocculonodularis. Dan nucleus profunda ( nucleus fastigii).
Afferent input : dari banyak dari nucleus vestibularis pada truncus cerebri .
43

2. Paleocerebellum / spinocerebellum (next oldest portion, after archi cerebellum)


Terdiri dari culmen dan lobulus centralis dari lobus anterior serta uvula dan piramid
(lobus inferior) dan paraflocculus. Atau dapat disederhanakan, spinocerebellum
terdiri dari kebanyakan vermis dan paravermian zone. Nucleus profunda = nucleus
interpositus( nucleus globosus dan emboliformis).
Afferent input : propriosepsi dari medula spinalis.
3. Neocerebellum / cerebrocerebellum (youngest portion). Terdiri dari lateral
hemispher dan nucleus profunda (nucleus dentatus).
Neocerebellum berhubungan fungsional dengan cerebrum.
Afferent input : cerebrum nucleus pontins cerebrocerebellum

VISUAL IMPULS PATHWAY

44

NYSTAGMUS : pergerakan mata yang cepat dan tidak terkontrol dapat :


- sisi ke sisi (horizontal nystagmus)
- naik dan turun (vertical nystagmus)
-rotatori (rotator atau transitional)

2 tipe nistagmus :
- Optokinetik (berhuungan dengan mata)
- Vestibular (berhubungan dengan telinga)

45