Anda di halaman 1dari 13

DEFINISI

Buta warna adalah penglihatan warna-warna yang tidak sempurna. Buta warna
merupakan penyakit yang disebabkan oleh ketidakmampuan sel kerucut mata
untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu. Biasanya seseorang buta warna akan
merasa penglihatannya telah betul. Seseorang dengan buta warna disebut sebagai cacat atau
lemah warna, karena seseorang dengan buta warna masih dapat mengenal warna. Buta
warna bisa disebabkan karena faktor genetis maupun faktor lain seperti karena Shaken Baby
Syndrome, cedera atau trauma pada otak dan retina, maupun pengaruh sinar UV. Buta warna
terjadi ketika syaraf reseptor cahaya di retina mengalami perubahan, terutama sel kerucut.
Pada retina mata terdapat tiga tipe reseptor warna, yaitu merah, biru, dan hijau. Oleh
karena itu seseorang yang menderita defisiensi warna tersebut, otaknya tidak mampu
menerima jenis warna secara normal. Anomali warna terjadi sebagai hasil akibat
kekurangan satu atau lebih dari reseptor warna tersebut. Sebagian orang menganggap buta
warna adalah penyakit dimana penderitanya tidak bisa melihat warna sama sekali, hanya
mampu membedakan warna hitam dan putih (gelap dan terang saja). Namun demikian,
sebenarnya tidak semua penderita buta warna hanya mampu melihat gelap dan terang saja.
Ada pula penderita buta warna yang tidak bisa mengenali warna merah atau biru atau hijau
saja. Penderita buta warna parsial seperti ini sering tidak menyadari jika ada kelainan
dalam dirinya. Sebab buta warna atau dikenal cacat penglihatan warna kongenital bersifat
tetap, terdapat sejak lahir, dan biasanya mengenai sama pada kedua mata. Sedangkan sebab
buta warna yang didapat yaitu tidak terlihat waktu lahir, biasanya berjalan progresif, dan
mengenai satu mata lebih dari mata sebelahnya.

ANATOMI dan FISIOLOGI


Mata atau organon visus secara anatomis terdiri dari Occulus dan alat tambahan
(otot-otot) di sekitarnya. Occulus terdiri dari Nervus Opticus dan Bulbus Occuli yang
terdiri dari Tunika dan Isi. Tunika atau selubung terdiri dari 3 lapisan, yaitu :
1.

Tunika Fibrosa (lapisan luar), terdiri dari kornea dan sclera.

2.

Tunika Vasculosa (lapisan tengah) yang

mengandung pembuluh darah,

terdiri dari chorioidea, corpus ciliaris, dan iris yang mengandung pigmen dengan musculus
dilatator pupillae dan musculus spchinter pupillae.
3.

Tunika Nervosa (lapisan paling dalam), yang mengandung reseptor teridir

dari dua lapisan, yaitu : Stratum Pigmenti dan Retina (dibedakan atas Pars Coeca yang
meliputi Pars Iridica dan Pars Ciliaris, Pars Optica yang berfungsi menerima rangsang dari
conus dan basilus.
Isi pada Bulbus Oculli terdiri dari:
a.

Humor Aques, zat cair yang mengisi antara kornea dan lensa kristalina,

dibelakang dan di depan iris.


b.

Lensa Kristalina, yang diliputi oleh Capsula Lentis dengan Ligmentum

Suspensorium Lentis untuk berhubungan dengan Corpus Ciliaris.


c.

Corpus Vitreum, badan kaca yang mengisi ruangan antara lensa dengan

retina.
Retina adalah selembar tipis jaringan saraf yang semitransparan, dan multilapis
yang melapisi bagian dalam dua per tiga posterior dinding bola mata, mengandung reseptor
yang menerima rangsangan cahaya (Ilyas, 2008). Menurut Guyton & Hall (1997), retina
merupakan bagian mata yang peka terhadap cahaya, mengandung sel-sel kerucut yang
berfungsi untuk penglihatan warna dan sel-sel batang yang terutama berfungsi untuk
penglihatan dalam gelap. Retina terdiri atas pars pigmentosa disebelah luar dan pars
nervosa di sebelah dalam. Permukaan luar retina sensorik bertumpuk dengan lapisan epitel
berpigmen retina sehingga juga bertumpuk dengan membrana Bruch, khoroid, dan sclera,
dan permukaan dalam berhubungan dengan corpus vitreum (Snell, 2006).
Lapisan-lapisan retina, mulai dari sisi dalamnya, adalah sebagai berikut:
1.

Membrana limitans interna

2.

Lapisan serat saraf, yang mengandung akson-akson sel ganglion yang

berjalan menuju ke nervus optikus


3.

Lapisan sel ganglion

4.

Lapisan pleksiformis dalam, yang mengandung sambungan-sambungan sel

ganglion dengan sel amakrin dan sel bipolar


5.

Lapisan inti dalam badan sel bipolar, amakrin dan sel horizontal

6.

Lapisan pleksiformis luar, yang mengandung sambungan-sambungan sel

bipolar dan sel horizontal dengan fotoreseptor


7.

Lapisan inti luar sel fotoreseptor

8.

Mambrana limitans eksterna

9.

Lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar sel kerucut

10.

Epithelium pigmen retina. Lapisan dalam membrane Bruch sebenarnya

adalah membrane basalis epithelium pigmen retina (Vaughan, 2000).

Retina mempunyai tebal 0,1 mm pada ora serrata dan

0,23 mm pada kutub

posterior (Vaughan, 2000). Tiga per empat posterior retina merupakan organ reseptor.
Pinggir anteriornya membentuk cincing berombak, disebut ora serrata, yang merupakan
ujung akhirpars nervosa. Bagian anterior retina bersifat tidak peka dan hanya terdiri atas
sel-sel berpigmen dengan lapisan silindris di bawahnya. Bagian anterior retina ini menutupi
prosessus siliaris dan belakang iris (Snell, 2006).
Pada pertengahan bagian posterior retina terdapat daerah lonjong kekuningan,
disebut macula lutea, yang merupakan area retina dengan daya lihat paling jelas (Snell,
2006). Secara klinis, makula adalah daerah yang dibatasi oleh arkade-arkade

pembuluh

darah retina temporal. Di tengah makula, sekitar 3,5 mm di sebelah lateral diskus optikus,
terdapat lekukan, disebut fovea centralis. Secara histologis, fovea ditandai dengan
menipisnya lapisan inti luar dan tidak adanya lapisan-lapisan parenkim karena akson-akson
sel fotoreseptor (lapisan serat Henle) berjalan oblik dan pengeseran secara sentrifugal
lapisan retina yang lebih dekat ke permukaan dalam retina. Foveola adalah bagian paling
tengah pada fovea, di sini fotoreseptornya adalah sel kerucut, dan bagian retina paling tipis
(Vaughan, 2000).
Retina menerima darah dari dua sumber khoriokapilaria yang berada tepat diluar
membrana Bruch, yang mendarahi sepertiga luar retina, termasuk lapisan pleksiformis luar

dan lapisan inti luar, foto reseptor, dan lapisan epitel pigmen retina; serta cabang-cabang
dari arteri sentralis retina, yang mendarahi dua per tiga sebelah dalam (Vaughan, 2000).
Reseptor di Mata
Reseptor penglihatan adalah sel-sel di conus (sel kerucut) dan basilus (sel batang).
Conus terutama terdapat dalam fovea dan penting untuk menerima rangsang cahaya kuat
dan rangsang warna. Sel-sel basilus tersebar pada retina terutama di luar makula dan
berguna sebagai penerima rangsang cahaya berintensitas rendah. Oleh karena itu dikenal
dua mekanisme tersendiri di dalam retina (disebut dengan Teori Duplisitas), yaitu :
a.

Penglihatan Photop, yaitu mekanisme yang mengatur penglihatan sinar pada

siang hari dan penglihatan warna dengan conus


b.

Penglihatan Scotop, yaitu mekanisme yang mengatur penglihatan senja dan

malam hari dengan basilus


Jalannya Impuls di Mata
Manusia dapat melihat karena ada rangsang berupa sinar yang diterima oleh
reseptor pada mata. Jalannya sinar pada mata adalah sebagai berikut :
Impuls yang timbul dalam conus atau basilus berjalan melalui neuritnya menuju ke
neuron yang berbentuk sel bipoler dan akhirnya berpindah ke neuron yang berbentuk sel
mutipoler. Neurit sel-sel multipoler meninggalkan retina dan membentuk nervus opticus.
Kedua nervus opticus di bawah hypothalamus saling bersilangan sehingga membentuk
chiasma nervus opticus, yaitu neurit-neurit yang berasal dari sebelah lateral retina tidak
bersilangan. Tractus Opticus sebagian berakhir pada colliculus superior, dan sebagian lagi
pada corpus geneculatum lateral yang membentuk neuron baru yang pergi ke korteks pada
dinding fissura calcarina melalui capsula interna. Pada dinding fisura calcarina inilah
terdapat pusat penglihatan.
Fisiologi Mata Dalam Melihat Warna
Penglihatan warna sangat dipengaruhi oleh tiga macam pigmen di dalam sel
kerucut sehingga sel kerucut/conus menjadi peka secara selektif terhadap berbagai warna

biru, merah, dan hijau. Banyak teori berbeda diajukan untuk menjelaskan fenomena
penglihatan, tapi biasanya teori-teori itu didasarkan pada pengamatan yang sudah dikenal
dengan baik, yaitu bahwa mata manusia dapat mendeteksi hampir semua gradasi warna
bila cahaya monokromatik merah, hijau, dan biru dicampur secara tepat dalam berbagai
kombinasi.
Penglihatan bergantung pada stimulasi fotoreseptor retina oleh cahaya. Bendabenda tertentu di lingkungan, misalnya matahari, api, dan bola lampu, memancarkan
cahaya. Pigmen-pigmen di berbagai benda secara selektif menyerap panjang gelombang
tertentu cahaya yang datang dari sumber-sumber cahaya, dan panjang gelombang yang
tidak diserap dipantulkan dari permukaan benda. Berkas-berkas cahaya yang dipantulkan
inilah yang memungkinkan kita melihat benda tersebut. Suatu benda yang tampak biru
menyerap panjang gelombang cahaya merah dan hijau yang lebih panjang dan
memantulkan panjang gelombang biru yang lebih pendek, yang dapat diserap oleh
fotopigmen di sel-sel kerucut biru mata, sehingga terjadi pengaktifan sel-sel tersebut.
Mekanisme Pengenalan Tiga Warna
Semua teori mengenai penglihatan warna berdasarkan pada observasi yang telah
dikenal secara baik, yakni bahwa mata manusia sebenarnya dapat mendeteksihampir semua
gradasi warna bila cahaya monokromatik dari warna merah, hijau,dan biru dipersatukan
dalam bermacam-macam kombinasi.
Penglihatan warna diperankan oleh sel kerucut yang mempunyai pigmen

terutama

cis aldehida A2. Penglihatan warna merupakan kemampuan membedakan gelombang sinar
yang berbeda. Warna ini terlihat akibat gelombang elektromagnetnya mempunyai panjang
gelombang yang terletak antara 440-700 (Ilyas, 2008). Warna

primer yaitu warna dasar

yang dapat memberikan jenis warna yang terlihat dengan campuran ukuran tertentu. Pada
sel kerucut terdapat 3 macam pigmen yang dapat membedakan warna dasar merah, hijau
dan biru.
1.

Sel kerucut yang menyerap long-wavelength light (red)

2.

Sel kerucut yang menyerap middle- wavelength light (green)

3.

Sel kerucut yang menyerap short-wavelength light (blue)

Ketiga macam pigmen tersebut membuat kita dapat membedakan warna mulai dari
ungu sampai merah. Untuk dapat melihat normal, ketiga pigmen sel kerucut harus bekerja
dengan baik. Jika salah satu pigmen mengalami kelainan atau tidak ada, maka terjadi buta
warna. Warna komplemen ialah warna

yang bila dicampur dengan warna primer akan

berwarna putih. Putih adalah campuran semua panjang gelombang cahaya, sedangkan
hitam tidak ada cahaya (Ilyas, 2008).
Gelombang elektromagnit yang diterima pigmen akan diteruskan rangsangannya
pada korteks pusat penglihatan warna di otak. Bila panjang gelombang terletak di antara
kedua pigmen maka akan terjadi penggabungan warna (Ilyas, 2008). Seseorang yang
mampu membedakan ketiga macam warna, disebut sebagai

trikromat. Dikromat adalah

orang yang dapat membedakan 2 komponen warna dan mengalami kerusakan pada 1 jenis
pigmen kerucut. Kerusakan pada 2 pigmen sel kerucut akan menyebabkan orang hanya
mampu melihat satu komponen yang disebut monokromat. Pada keadaan tertentu dapat
terjadi seluruh komponen pigmen warna kerucut tidak normal sehingga pasien tidak dapat
mengenal warna sama sekali yang disebut sebagai akromatopsia (Ilyas, 2008).
Teori Young-Helmholtz merupakan teori penting pertama mengenai penglihatan
warna adalah dari Young, yang kemudian dikembangkan dan diberi dasar eksperimental
yang lebih mendalam oleh Helmholtz. Menurut teori ini ada tiga jenis sel kerucut yang
masing-masing beraksi secara maksimal terhadap suatu warna yang berbeda. Oleh sebab
itu menurut teori ini ada 3 macam conus, yaitu :
1.

Conus yang menerima warna hijau

2.

Conus yang menerima warna merah

3.

Conus yang menerima warna violet

Ketiga macam conus itu mengandung zat photokemis yaitu substansi yang dapat
dipecah oleh sinar matahari. Jika ketiga macam conus itu mendapat rangsang bersamasama, maka terlihatlah warna putih. Warna-warna lain adalah kombinasi dari 3 warna dasar
itu dengan perbandingan berbeda-beda. Contohnya cahaya monokromatik merah dengan
panjang gelombang 610 milimikron merangsang kerucut merah ke suatu nilai rangsang
sebesar kira-kira 0.75 (76% dari puncak perangsangan pada panjang gelombang optimum),
sedangkan ia merangsang kerucut hijau ke suatu nilai rangsang sebesar kira-kira 0.13 dan

kerucut biru sama sekali tidak dirangsang. Jadi rasio perangsangan dari ketiga jenis conus
dalam hal ini adalah 75 : 13 : 0, sehingga sistem saraf menafsirkan kelompok rasio ini
sebagai sensasi merah. Unsuk sensasi biru, kelompok rasionya adalah 0 : 14 : 86; untuk
sensasi jingga tua- kuning, kelompok rasionya 100 : 50 : 0, untuk sensasi hijau, kelompok
rasionya 50 : 85 : 15, demikian seterusnya.

ETIOLOGI
Buta warna adalah kondisi yang diturunkan secara genetik. Dibawa oleh kromosom
X pada perempuan, buta warna diturunkan kepada anak-anaknya. Ketika seseorang
mengalami buta warna, mata mereka tidak mampu menghasilkan keseluruhan pigmen yang
dibutuhkan untuk mata berfungsi dengan normal. Cacat mata ini merupakan kelainan
genetik yang diturunkan oleh ayah atau ibu.
Dari semua jenis buta warna, kasus yang paling umum adalah anomalus trikromasi,
khususnya deutranomali, yang mencapai angka 5% dari pria. Sebenarnya, penyebab buta
warna tidak hanya karena ada kelainan pada kromosom X, namun dapat mempunyai kaitan
dengan 19 kromosom dan gen-gen lain yang berbeda dan resesif bila ada kelainan pada
makula dan saraf optic. Beberapa penyakit yang diturunkan seperti distrofi sel kerucut dan
akromatopsia juga dapat menyebabkan seseorang menjadi buta warna.
Gen buta warna terkait dengan dengan kromosom X (X-linked genes). Jadi
kemungkinan seorang pria yang memiliki genotif XY untuk terkena buta warna secara
turunan lebih besar dibandingkan wanita yang bergenotif XX untuk terkena buta warna.
Jika hanya terkait pada salah satu kromosom X nya saja, wanita disebut carrier atau
pembawa, yang bisa menurunkan gen buta warna pada anak-anaknya.

Patofisiologi
Buta warna adalah kondisi yang diturunkan secara genetik. Dibawa oleh kromosom
X pada perempuan, buta warna diturunkan kepada anak-anaknya. Ketika seseorang
mengalami buta warna, mata mereka tidak mampu menghasilkan keseluruhan pigmen yang
dibutuhkan untuk mata berfungsi dengan normal.

Pada bagian tengah retina, terdapat photoreceptor atau cone (seperti kantung) yang
memungkinkan kita untuk bisa membedakan warna. Photoreceptor ini terdiri dari tiga
pigmen warna ; yaitu merah, hijau dan biru. Gangguan persepsi terhadap warna terjadi
apabila satu atau lebih dari pigmen tersebut tidak ada atau sangat kurang. Mereka dengan
persepsi warna normal disebut Trichromats. Mereka yang mengalami defisiensi salah satu
pigmen warna disebut dengan Anomalous Trichromats. Type ini adalah yang paling sering
ditemukan. Sedangkan mereka yang sama sekali tidak memiliki salah satu dari pigmen
warna itu disebut drichromat.

Tanda dan Gejala


Tanda seorang mengalami buta warna tergandung pada beberapa factor; apakah
kondisinya disebabkan factor genetik, penyakit, dan tingkat buta warnanya; sebagian atau
total. Gejala umumnya adalah kesulitan membedakan warna merah dan hijau (yang paling
sering terjadi), atau kesulitan membedakan warna biru dan hijau (jarang ditemukan).Gejala
untuk kasus yang lebih serius berupa; objek terlihat dalam bentuk bayangan abu-abu
(kondisi ini sangat jarang ditemukan), dan penglihatan berkurang.
Gangguan persepsi warna dapat dideteksi dengan menggunakan table warna khusus
yang disebut dengan Ishuhara Test Plate. Pada setiap gambar terdapat angka yang dibentuk
dari titik-titik berwarna. Gambar digantung di bawah pencahayaan yang baik dan pasien
diminta untuk mengidentifikasi angka yang ada pada gambar tersebut. Ketika pada tahap
ini ditemukan adanya kelainan, test yang lebih detail laggi akan diberikan.

KLASIFIKASI
Buta warna dikenal berdasarkan istilah Yunani protos (pertama), deutros (kedua),
dan tritos (ketiga) yang pada warna merah, hijau, dan biru.
1.

Anomalous trichromacy
Anomalous trichromacy adalah gangguan penglihatan warna yang dapat disebabkan oleh
faktor keturunan atau kerusakan pada mata setelah dewasa. Penderita anomalous
trichromacy memiliki tiga sel kerucut yang lengkap, namun terjadi kerusakan mekanisme

sensitivitas terhadap salah satu dari tiga sel reseptor warna tersebut. Pasien buta warna
dapat melihat berbagai warna akan tetapi dengan interpretasi berbeda daripada normal
yang paling sering ditemukan adalah:
a. Trikromat anomali, kelainan terdapat pada short-wavelenght pigment (blue). Pigmen biru
ini bergeser ke area hijau dari spectrum merah. Pasien mempunyai ketiga pigmen kerucut
akan tetapi satu tidak normal, kemungkinan gangguan dapat terletak hanya pada satu atau
lebih pigmen kerucut. Pada anomali ini perbandingan merah hijau yang dipilih pada
anomaloskop berbeda dibanding dengan orang normal.

b. Deutronomali,

disebabkan oleh kelainan bentuk pigmen middle-wavelenght (green).

Dengan cacat pada hijau sehingga diperlukan lebih banyak hijau, karena terjadi gangguan
lebih banyak daripada warna hijau.

c. Protanomali adalah tipe anomalous trichromacy dimana terjadi kelainan terhadap longwavelenght (red) pigmen, sehingga menyebabkan rendahnya sensitifitas warna merah.
Artinya penderita protanomali tidak akan mempu membedakan warna dan melihat
campuran warna yang dilihat oleh mata normal. Penderita juga akan mengalami
penglihatan yang buram terhadap warna spektrum merah. Hal ini mengakibatkan mereka
dapat salah membedakan warna merah dan hitam.

2. Dichromacy
Dichromacy adalah jenis buta warna di mana salah satu dari tiga sel kerucut tidak ada atau
tidak berfungsi. Akibat dari disfungsi salah satu sel pigmen pada kerucut, seseorang yang
menderita dikromatis akan mengalami gangguan penglihatan terhadap warna-warna
tertentu. Diakromatisme, adalah kebutaan

tidak sempurna

yang menyangkut

ketidakmampuan untuk membedakan warna-warna merah dan hijau. Dichromacy dibagi


menjadi tiga bagian berdasarkan pigmen yang rusak:
a. Protanopia adalah salah satu tipe dichromacy yang disebabkan oleh tidak adanya
photoreceptor retina merah. Pada penderita protonopia, penglihatan terhadap warna merah
tidak ada. Dichromacy tipe ini terjadi pada 1% dari seluruh pria. Keadaan yang paling

sering ditemukan dengan cacat pada warna merah hijau sehingga sering dikenal dengan
buta warna merah - hijau.

b. Deutranopia adalah gangguan penglihatan terhadap warna yang disebabkan

tidak

adanya ph otoreceptor retina hijau. Orang yang kehilangan kerucut hijau sehingga ia tidak
dapat melihat warna hijau. Hal ini menimbulkan kesulitan dalam membedakan hue pada
warna merah dan hijau (red-green hue discrimination).

c. Tritanopia adalah keadaan dimana seseorang tidak memiliki short-wavelength cone.


Tritanophia, yaitu kondisi yang ditandai oleh ketidak beresan dalam warna biru dan kuning
dimana conus biru atau kuning tidak peka terhadap suatu daerah spektrum visual.
Tritanopia disebut juga buta warna biru-kuning dan merupakan tipe dichromacy yang
sangat jarang dijumpai.

3. Monochromacy
Monochromacy atau akromatopsia adalah kebutaan warna total dimana semua warna
dilihat sebagai tingkatan warna abu-abu. Akromatisme atau Akromatopsia, adalah keadaan
dimana seseorang hanya memiliki sebuah pigmen cones atau tidak berfungsinya semua sel
cones. Pasien hanya mempunyai satu pigmen kerucut (monokromat rod atau batang). Pada
monokromat

kerucut hanya dapat membedakan warna dalam arti intensitasnya saja dan

biasanya 6/30. Pada orang dengan buta warna total atau akromatopsia akan terdapat
keluhan silau dan nistagmus dan bersifat autosomal resesif.

DIAGNOSIS dan PEMERISKSAAN PENUNJANG


Test penglihatan warna salah satu test uji buta warna sebagai berikut :
a. Uji ishihara
Yaitu dengan memakai sejumlah lempeng polikromatik yang berbintik, warna
primer dicetak di atas latar belakang mosaic bintik-bintik serupa dengan aneka warna

sekunder yang membingungkan, bintik-bintik primer disusun menurut pola (angka atau
bentuk geometric) yang tidak dapat dikenali oleh pasien yang kurang persepsi warna.

Gambar 2.10 Pemeriksaan Ishihara


Uji Ishihara merupakan uji untuk mengetahui adanya defek penglihatan warna,
didasarkan pada menentukan angka atau pola yang ada pada kartu dengan berbagai ragam
warna. Menurut Guyton (1997) Metode Ishihara yaitu metode yang dapat dipakai untuk
menentukan dengan cepat suatu kelainan buta warna didasarkan pada pengunaan kartu
bertitik-titik. Kartu ini disusun dengan menyatukan titik-titik yang mempunyai bermacammacam warna.
Merupakan pemeriksaan untuk penglihatan warna dengan memakai satu seri gambar
titik bola kecil dengan warna dan besar berbeda (gambar pseudokromatik), sehingga dalam
keseluruhan terlihat warna pucat dan menyukarkan pasien dengan kelainan penglihatan
warna melihatnya. Penderita buta warna atau dengan kelainan penglihatan warna dapat
melihat sebagian ataupun sama sekali tidak dapat melihat gambaran yang diperlihatkan.
Pada pemeriksaan pasien diminta melihat dan mengenali tanda gambar yang diperlihatkan
dalam waktu 10 detik (Ilyas, 2008).

Penyakit tertentu dapat terjadi ganguan penglihatan warna seperti buta warna
dan hijau pada atrofi saraf optik, optik

merah

neuropati toksi dengan pengecualian neuropati

iskemik, glaukoma dengan atrofi optik yang memberikan ganguan penglihatan biru kuning.
b. Uji pencocokan benang
Pasien diberi sebuah gelendong benang dan diminta untuk mengambil gelendong
yang warnanya cocok dari setumpuk gelendong yang berwarna warni.

c. Oftalmoskop
Suatu alat dengan system pencahayann khusus, untuk melihatbagian dalam mata
terutama retina dan struktur terkaitnya.

d. Test sensitivitas kontras


Adalah kesanggupan mata melihat perbedaan kontras yang halus, dimana pada
pasien dengangangguan pada retina, nervus optikus atau kekeruhan media mata tidak
sanggup melihat perbedaan kontras tersebut

e. Test elektrofisiologik
a. Elektroletingrafi (ERG)
Untuk mengukur respon listrik retina terhadap kilatan cahaya bagian awal respon
flash ERGmencerminkan fungsi fotoreseptor sel krucut dan sel batang
b. Elektro okulografi (EOG).
Untuk mengukur potensial korneoretina tetap. Kelainan EOG terutama terjadi pada
penyakitsecara dipus mempengaruhi epitel pigmen retina dan fotoreseptor.

PENATALAKSANAAN
Tidak ada pengobatan atau tindakan yang dapat dilakukan untuk mengobati
masalahgangguan persepsi warna. Namun penderita buta warna ringan dapat belajar
mengasosiasikan warna dengan objek tertentu. Untuk mengurangi gejala dapat digunakan
kacamata berlensa dengan filter warna khusus yang memungkinkan pasien melakukan
interpretasi kembali warna

Beberapa cara untuk membantu gangguan penglihatan warna, antara lain:


1. Memakai lensa kontak berwarna. Hal ini dapat membantu membedakan warna, tetapi
lensa ini tidak menjadikan penglihatan menjadi normal dan objek yang dilihat dapat
terdistorsi.
2. Memakai kacamata yang memblok sinar yang menyilaukan. Orang dengan masalah
penglihatan dapat membedakan warna lebih baik saat ada penghalang sinar yang
menyilaukan.

PROGNOSIS
Buta warna tidak akan bertambah parah sesuai meningkatnya usia. tidak berbahaya,
akan tetapi dapat membatasi aktivitas, karir serta pendidikan. Penyakit ini adalah penyakit
herediter, sehingga harus dilakukan konseling dan screening sedini mungkin untuk
mengetahui apakah terdapat kelainan buta warna. Prognosis yang lebih buruk pada buta
warna total karena penderita hanya dapat melihat warna hitam, putih, dan abu-abu saja.