Anda di halaman 1dari 19

Menangani Penyakit Kusta dalam Keluarga

Anesty Claresta Bandaso


Nim: 102011223
Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana.
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510. A_resta21@yahoo.com

Pendahuluan
Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang
sangat kompleks.1 Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai
masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Penyakit kusta pada
umumnya sering dijumpai di negara-negara yang sedang berkembang sebagai akibat
keterbatasan kemampuan negara dalam pemberian pelayanan kesehatan yang baik dan
memadai kepada masyarakat.
Penyakit kusta sampai saat ini masih ditakuti masyarakat, keluarga termasuk sebagian
petugas kesehatan. Hal ini disebabkan masih kurangnya pengetahuan/pengertian, kepercayaan
yang keliru terhadap kusta dan cacat yang ditimbulkannya.1 Kuman kusta biasanya
menyerang saraf tepi kulit dan jaringan tubuh lainnya1. Penyakit ini merupakan penyakit
menular yang sifatnya kronis dan dapat menimbulkan masalah yang kompleks.
Penyebab penyakit kusta ialah suatu kuman yang disebut Mycobaterium leprae.
Sumber penularan penyakit ini adalah penderita kusta multi basilet (MB) atau kusta basah. Di
Indonesia penderita kusta terdapat hampir diseluruh daerah dengan penyebaran yang tidak
merata. Karena mengingat kompleksnya masalah penyakit kusta, maka di perlukan program
penanggulangan secara terpadu dan menyeluruh dalam hal pemberantasan, rehabilitasi medis,
rehabilitasi sosial ekonomi dan permasyarakatan dari bekas penderita kusta.1
Skenario
Seorang Bapak (45 tahun) membawa anaknya laki-laki yang berumur 14 tahun ke Puskesmas
untuk berobat. Di punggung dan lengan anaknya terdapat bercak-bercak keputihan. Dokter
menduga anak ini terkena kusta karena ia berasal suatu wilayah yang memang endemis
kusta. Dokter melakukan kunjungan rumah untuk memeriksa seluruh anggota keluarga dan
memeriksa kondisi rumahnya. Keluarga Bapak tersebut tinggal di rumah ukuran 4x4m di
permukiman padat penduduk. Lantai rumah sebagian masih tanah. Sinar matahari sulit
masuk ke dalam rumah. Keadaan rumah lembab. Di rumah itu dihuni oleh 5 orang yang
terdiri dari bapak, ibu dan 3 orang anaknya yang masing-masing berumur 14 tahun (laki1

laki), 9 tahun perempuan, dan 6 tahun (laki-laki). Ternyata ibu dari anak-anak tersebut
pernah diobati kusta 3 tahun lalu tapi tidak selesai.
Rumusan Masalah :Terjadinya kusta dalam keluarga
Hipotesis : Menggunakan prinsip dokter keluarga dapat menanggulangi insidens lepra

Epidemiologi Kusta
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari distribusi frekuensi dan faktor-faktor yang
menentukan kejadian penyakit yang berhubungan dengan masalah kesehatan pada masyarakat
dan aplikasinya dengan pengendalian maslaah tersebut. Dengan mengetahui proses terjadinya
infeksi atau rantai penularan penyakit maka intervensi yang sesuai dapat dilakukan untuk
memutuskan mata rantai penularan tersebut.2
A. Distribusi Menurut Orang
a. Faktor Etnik
Kejadian penyakit kusta menunjukkan adanya perbedaan distribusi dapat
dilihat karena faktor geografi. Namun, jika diamati dalam satu negara atau
wilayah yang sama kondisi lingkungannya ternyata perbedaan distribusi dapat
terjadi karena faktor etnik.3 Di Myanmar kejadian kusta lepromatosa lebih
sering terjadi pada etnik Burma dibandingkan dengan etnik India. Situasi di
Malaysia juga mengindikasikan hal yang sama, yaitu kejadian kusta lebih
banyak pada etnik China dibandingkan etnik Melayu atau India. Demikian
pula kejadian di Indonesia, etnik Madura dan Bugis lebih banyak menderita
kusta dibandingkan etnik Jawa atau Melayu.
b. Faktor Sosio-Ekonomi
Faktor sosio ekonomi berperan penting dalam kejadian kusta, hal ini terbukti
pada negara-negara di Eropa. Dengan adanya peningkatan sosial ekonomi,
maka kejadian kusta sangat cepat menurun dan bahkan menghilang. Kasus
kusta yang masuk dari negara lain ternyata tidak menularkan kepada orang
yang bersosial ekonominya tinggi.2
c. Distribusi menurut usia
Penyakit kusta jarang ditemukan pada bayi. Insiden rate penyakit ini
meningkat sesuai umur dengan puncak pada umur 10-20 tahun dan kemudian

menurun. Prevalensinya juga meningkat sesuai dengan umur dengan puncak


antara umur 30-50 tahun dan kemudian secara perlahan-lahan menurun.
d. Distribusi menurut jenis kelamin
Insiden maupun prevalensi pada laki-laki lebih banyak dari pada wanita
kecuali di Afrika dimana wanita lebih banyak daripada laki-laki.
B. Distribusi Menurut Tempat dan Waktu
Penyakit kusta tersebar di seluruh dunia dengan endemisitas yang berbeda-beda.
Diantara 122 negara yang endemis pada tahun 1985 dengan prevalensi >1/10.000 penduduk,
hanya tinggal 6 negara yang masih belum mencapai eliminasi di tahun 2005 yaitu : India,
Brazil, Indonesia, Bangladesh, Congo, dan Nepal Antara tahun 1985 hingga 2005 lebih dari
15 juta penderita telah sembuh. Dan 222.367 kasus masih dalam pengobatan pada awal tahun
2006. Dari 10 negara dengan jumlah kasus baru terbesar di dunia, Indonesia menempati posisi
ke-3 setelah India dan Brazil. Berdasarkan data kusta awal 2005 Indonesia menempati posisi
ke-2 dengan angka prevalensi 0,9 per 10.000 penduduk.
Di Indonesia, kasus terbanyak terdapat di Jawa Timur dengan prevalensi rate 1,76 per
10.000 penduduk, dan paling sedikit terdapat di daerah Bengkulu dengan prevalensi rate 0,17
per 10.000 jumlah penduduk. Penemuan kasus baru selama bulan Januari-Desember 2005
paling banyak ditemukan di Jawa Timur.

Faktor penularan : Agent, Host, Environment


Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah, dan tidak perlu di takuti. Adapun
beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kusta dipengaruhi oleh host, agent, dan
environment.3 Antara lain :

Faktor Daya Tahan Tubuh (host)


Sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). Dari hasil
penelitian menunjukkan bahwa dari 100 orang yang terpapar, 95 orang tidak menjadi
sakit, 3 orang sembuh sendiri tanpa obat, dan 2 orang menjadi sakit. Hal ini belum
memperhitungkan pengaruh pengobatan dan faktor fisiologik seperti pubertas,
menopause, kehamilan serta faktor infeksi dan malnutrisi yang dapat meningkatkan
perubahan klinis penyakit kusta.4

Faktor Kuman (agent)


Penyebab penyakit kusta yaitu Mycobacterium leprae, untuk pertama kali
ditemukan oleh G.H Armauer Hansen pada tahun 1973. M. leprae hidup intraseluler
3

dan mempunyai afinitas yang besar pada sel saraf (Schwann cell) dan sel dari sistem
retikulo endotelial. Waktu pembelahannya sangat lama, yaitu 2-3 minggu.4

Faktor Sumber Penularan (environment)


Sumber penularan adalah penderita kusta tipe Multi Baciler (MB). Penderita
MB ini pun tidak akan menularkan kusta apabila berobat teratur. Penyakit ini dapat
ditularkan melalui pernafasan (droplet) dan kulit. Kuman dapat hidup di luar tubuh
manusia dari sekret nasal antara 1-9 hari tergantung pada suhu atau cuaca, dan juga
pada tanah yang lembab dengan termperatur ruangan selama 48 hari. Kepadatan,
kurangnya ventilasi dan kurangnya higiene lingkungan juga dapat menjadi sumber
penularan dari bakteri penyebab kusta ini.

Upaya pengendalian rantai penularan.


Penentuan kebijakan dan metode pengendalian penyakit kusta sangat ditentukan oleh
pengetahuan epidemiologi kusta, perkembangan ilmu dan teknologi di bidang kesehatan.
Upaya pemutusan mata rantai penularan penyakit kusta dapat dilakukan melalui :
1. Pengobatan MDT (Multi Drug Treatment) pada pasien kusta
2. Vaksinasi BCG
Dari hasil penelitian di Malawi, tahun 1996 didapatkan bahwa pemberian vaksin BCG
satu dosis dapat memberikan perlindungan 50%, dan dua dosis sebanyak 80%. Namun
hasil penelitian ini masih dibutuhkan penelitian yang lebih lanjut dan di beberapa
negara dapat ditemukan hasil yang berbeda-beda.4

Tuan rumah /
host yang
kekebalannya
kurang

SAKIT
KUSTA dan
tubuh menjadi
tempat
perkembangan
Mycobacteriu
m leprae

Kasus kusta
menjadi
sumber
penularan

Cara masuk ke
host : dari
saluran nafas

Cara
penularan
utama :
Melalui
percikan
droplet

Cara keluar :
dari saluran
nafas

Gambar 1. Mata Rantai Penularan Kusta


Sumber : Pedoman Nasional Program Pengendalian Penyakit Kusta Depkes RI
4

Kebijakan Nasional Pengendalian Kusta di Indonesia


Upaya pengendalian kusta di dunia menetapkan tahun 2000 sebagai tonggak pencapaian
eliminasi. Indonesia berhasil mencapai target ini pada tahun yang sama, akan tetapi
perkembangan 10 tahun terakhir memperlihatkan tren statis dalam penemuan kasus baru.
Sebagai upaya global, WHO mengeluarkan Enhanced Global Strategy for Further Reducing
the Disease Burden due to Leprosy (2011-2015). Berpedoman pada panduan WHO ini dan
dengan mensinkronkan dengan Rencana Strategi Kementrian Kesehatan untuk tahun 20102014, disusun kebijakan nasional pengendalian kusta di Indonesia.

Visi
Masyarakat sehat bebas kusta yang mandiri dan berkeadilan

Misi
o Meningkatkan

derajat

kesehatan

masyarakat

melalui

pemberdayaan

masyarakat termasuk swasta dan masyarakat madani.


o Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya
kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan.
o Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan.
o Menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik.

Strategi
o Peningkatan penemuan kasus secara dini di masyarakat
o Pelayanan kusta berkualitas, termasuk layanan rehabilitas, diintegrasikan
dengan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.
o Penyebarluasan informasi tentang kusta di masyarakat
o Eliminasi stigma terhadap orang yang pernah mengalami kusta dan
keluarganya.
o Pemberdayaan orang yang pernah mengalami kusta dalam berbagai aspek
kehidupan dan penguatan partisipasi mereka dalam upaya pengendalian kusta.
o Kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan
o Peningkatan dukungan kepada program kusta melalui penguatan advokasi
kepada

pengambil

kebijakan

dan

penyedia

layanan

lainnya

untuk

meningkatkan dukungan terhadap program kusta.4


5

o Penerapan pendekatan yang berbeda berdasarkan endemisitas kusta.

Sasatan strategis
Pengurangan angka kecacatan kusta tingkat-2 sebesar 35% pada tahun 2015
dibandingkan data tahun 2010.

Kegiatan Program Kusta


1. Tatalaksana Pasien
Kabupaten / Kota
No

Kegiatan

Beban rendah
Puskesmas

PRK /

Non- PRK

RSUD

Beban tinggi
Wasor

Semua
Puskesmas

Pelayanan Pasien
1

Penemuan suspek

Diagnosis

Penentuan regimen dan mulai

pengobatan
4

Pemantauan pengobatan

Pemeriksaan kontak

Konfirmasi kontak

Diagnosis dan pengobatan reaksi

Penentuan dan penanganan reaksi

Pemantauan pengobatan reaksi

10

POD & Perawatan diri

+/-

11

Penyuluhan perorangan

Pendukung Pelayanan
12

Stok MDT

13

Pengisian kartu pasien

14

Register kohort pasien

15

Pelaporan

16

Penanggung jawab program

2. Tatalaksana Program
Kabupaten / Kota
No.

Kegiatan

Rapid village survey

Intensifikasi pemeriksaan kontak

Beban

Beban

tinggi

rendah

Propinsi

Pusat

serumah & lingkungan


3

Pemeriksaan laboratorium pada pasien

dengan diagnosis meragukan


4

Penyuluhan, advokasi

Pelatihan petugas puskesmas dan RS

Pelatihan wasor kabupaten, propinsi

Supervisi

Pencatatan dan pelaporan

Monitoring dan evaluasi

10

Stock logistik MDT

11

Rehabilitasi medik sosial ekonomi

12

Seminar dengan FK/ Perdoski

13

Seminar dengan sekolah calon tenaga

+
+

kesehatan lain

Case Finding (Penemuan kasus) Penyakit Kusta


A. Penemuan Penderita Secara Pasif (Sukarela)
Penemuan penderita yang dilakukan terhadap orang yang belum pernah berobat kusta
datang sendiri atau saran orang lain ketempat pelayanan kesehatan terutama pada puskesmas
maupun dokter praktek umum dan sarana pengobatan lainnya. Pada saat datang umumnya
penderita sudah dalam stadium lanjut. Oleh karena itu untuk pencegahan penyakit kusta
secara dini petugas kesehatan harus rajin memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai
tanda-tanda mengenai penyakit kusta.4

Faktor-faktor yang menyebabkan penderita terlambat datang berobat kepuskesmas/sarana


kesehatan lainnya:
a) Tidak mengerti tanda dini kusta.
b) Malu datang ke Puskesmas.
c) Adanya Puskesmas yang belum siap
d) Tidak tahu bahwa ada obat tersedia cuma-cuma di Puskesmas.
e) Jarak penderita ke Puskesmas/sarana kesehatan lainnya terlalu jauh.

B. Penemuan Penderita Secara Aktif


Penemuan penderita secara aktif dapat dilaksanakan dalam beberapa kegiatan yaitu :

Pemeriksaan kontak serumah (survai kontak)

Tujuan:
1. Mencari penderita baru yang mungkin sudah lama ada dan belum lama ada dan
belum berobat (index case).
2. Mencari penderita baru yang mungkin ada.

Sasaran:
Pemeriksaan ditujukan pada semua anggota keluarga yang tinggal serumah
dengan penderita.

Frekuensi pemeriksaan:
Pemeriksaan dilaksanakan minimal 1 tahun sekali dimulai pada saat anggota
keluarga dinyatakan sakit kusta pertama kali dan perhatian khusus ditujukan pada
kontak tipe MB.

Pelaksanaan:
1. Membawa kartu kuning (kartu penderita), dari penderita yang sudah dicatat
dan membawa kartu penderita kosong.
2. Mendatangi rumah penderita dan memeriksa anggota keluarga penderita yang
tercatat dalam kolom yang tersedia pada kartu kuning.
3. Bila ditemukan penderita baru dari pemeriksaan itu maka dibuat kartu baru dan
dicatat sebagai penderita baru.
4. Memberikan penyuluhan kepada penderita dan anggota keluarganya.

Selain langkah-langkah yang ditempuh di atas maka untuk penemuan penderita kusta dapat
dilakukan dengan melakukan pemeriksaan pada kelompok masyarakat yang dicurigai adanya
penderita kusta, anak-anak sekolah didaerah yang pernah dijumpai kasus penyakit kusta.
Surveilans
1. Definisi dari Surveilans Epidemiologi
Surveilans adalah upaya/sistem/mekanisme yang dilakukan secara terus menerus dari
suatu kegiatan pengumpulan, analisis, interpretasi, dari suatu data spesifik yang
digunakan untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program (manajemen
program kesehatan).3
Istilah surveilans digunakan untuk dua hal yang berbeda :

Pertama, surveilans dapat diartikan sebagai pengawasan secara terus-menerus


terhadap faktor penyebab kejadian dan sebaran penyakit, dan yang berkaitan
dengan keadaan sehat atau sakit. Surveilans ini meliputi pengumpulan, analisis,
penafsiran, dan penyebaran data yang terkait, dan dianggap sangat berguna untuk
penanggulangan dan pencegahan secara efektif. Definisi yang demikian luas itu
mirip dengan surveilans pada sistem informasi kesehatan rutin, dan karena itu
keduanya dapat dianggap berperan bersama-sama.3

Kedua yaitu menyangkut sistem pelaporan khusus yang diadakan untuk


menanggulangi masalah kesehatan utama atau penyakit, misalnya penyebaran
penyakit menahun suatu bencana alam. Sistem surveilans ini sering dikelola
dalam jangka waktu yang terbatas dan terintegrasi secara erat dengan pengelolaan
program intervensi kesehatan. Bila informasi tentang insidens sangat dibutuhkan
dengan segera, sedangkan sistem informasi rutin tidak dapat diandalkan maka
sistem ini dapat digunakan.3

a. Menurut WHO :
Surveilans adalah : Pengumpulan, pengolahan, analisis data kesehatan secara
sistematis dan terus menerus, serta desiminasi informasi tepat waktu kepada pihak
pihak yang perlu mengetahui sehingga dapat diambil tindakan yang tepat.3

b. Menurut Centers for Disease Control ( CDC ), 1996.


Surveilans adalah : Pengumpulan, analisis dan interpretasi data kesehatan secara
sistematis dan terus menerus, yang diperlukan untuk perencanaan, implementasi dan
evaluasi upaya kesehatan masyarakat, dipadukan dengan desiminasi data secara tepat
waktu kepada pihak pihak yang perlu mengetahuinya.2,3
Definisi surveilans epidemiologi adalah pengumpulan dan pengamatan secara
sistematik berkesinambungan, analisa dan interprestasi data kesehatan dalam proses
menjelaskan dan memonitoring kesehatan dengan kata lain surveilans epidemiologi
merupakan kegiatan pengamatan secara teratur dan terus menerus terhadap semua
aspek kejadian penyakit dan kematian akibat penyakit tertentu, baik keadaan maupun
penyebarannya dalam suatu masyarakat tertentu untuk kepentingan pencegahan dan
penanggulangan. Surveilans epidemiologi adalah pengamatan yang terus menerus atas
distribusi, dan kecenderungan suatu penyakit melalui pengumpulan data yang
sistematis agar dapat ditentukan penanggulangannya yang secepat-cepatnya
Surveilans Epidemiologi adalah pengumpulan dan analisa data epidemiologi
yang akan digunakan sebagai dasar dari kegiatan-kegiatan dalam bidang pencegahan
dan penanggulangan penyakit yang meliputi kegiatan :
1. Perencanaan Program Pemberantasan Penyakit.
Mengenal Epidemiologi Penyakit berarti mengenal apa yang kita hadapi dan
mengenal perencanaan program yang baik.
2. Evaluasi Program Pemberantasan Penyakit.
Bagaimana keadaan sebelum dan sesudah dan sesudah program dilaksanakan
sehingga dapat diukur keberhasilannya menggunakan data sueveilans
epidemiologi.3
3. Penanggulangan wabah Kejadian Luar Biasa.
Penyelenggaraan Surveilans Epidemiologi Kesehatan wajib dilakukan oleh
setiap instansi kesehatan Pemerintah, instansi Kesehatan Propinsi, instansi
kesehatan kabupaten/kota dan lembaga masyarakat dan swasta baik secara
fungsional atau struktural. Mekanisme kegiatan Surveilans epidemiologi
10

Kesehatan merupakan kegiatan yang dilaksanakan secara sistematis dan terus


menerus.
Surveilans beralasan untuk dilakukan jika dilatari oleh kondisi kondisi berikut
(WHO, 2002) :
1. Beban Penyakit (Burden of Disease) tinggi, sehingga merupakan masalah
penting kesehatan masyarakat.
2. Terdapat tindakan masyarakat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah
tersebut
3. Data yang relevan mudah diperoleh
4. Hasil yang diperoleh sepadan dengan upaya yang dilakukan (pertimbangan
efisiensi).
Dengan system surveilans yang peka terhadap perubahan-perubahan pola penayakit di
suatu daerah tertentu dapat mengantisipasi kecenderungan penyakit di suatu daerah.
2. Prinsip Surveilans Epidemiologi
a) Pengumpulan data Pencatatan insidensi terhadap population at risk.
Pencatatan insidensi berdasarkan laporan rumah sakit, puskesmas, dan
sarana pelayanan kesehatan lain, laporan petugas surveilans di lapangan,
laporan masyarakat, dan petugas kesehatan lain; Survei khusus; dan pencatatan
jumlah populasi berisiko terhadap penyakit yang sedang diamati. Tehnik
pengumpulan data dapat dilakukan dengan wawancara dan pemeriksaan.
Tujuan pengumpulan data adalah menentukan kelompok high risk;
Menentukan jenis dan karakteristik (penyebabnya); Menentukan reservoir;
Transmisi; Pencatatan kejadian penyakit; dan KLB.
b) Pengelolaan data
Data yang diperoleh biasanya masih dalam bentuk data mentah (row data)
yang masih perlu disusun sedemikian rupa sehingga mudah dianalisis. Data
yang terkumpul dapat diolah dalam bentuk tabel, bentuk grafik maupun bentuk
peta atau bentuk lainnya. Kompilasi data tersebut harus dapat memberikan
keterangan yang berarti.

11

c) Analisis dan interpretasi data untuk keperluan kegiatan


Data yang telah disusun dan dikompilasi, selanjutnya dianalisis dan dilakukan
interpretasi untuk memberikan arti dan memberikan kejelasan tentang situasi
yang ada dalam masyarakat.
d) Penyebarluasan data dan keterangan termasuk umpan balik
Setelah analisis dan interpretasi data serta telah memiliki keterangan
yang cukup jelas dan sudah disimpulkan dalam suatu kesimpulan, selanjutnya
dapat disebarluaskan kepada semua pihak yang berkepentingan, agar informasi
ini dapat dimanfaatkan sebagai mana mestinya.
e) Evaluasi
Hasil evaluasi terhadap data sistem surveilans selanjutnya dapat
digunakan untuk perencanaan, penanggulangan khusus serta program
pelaksanaannya, untuk kegiatan tindak lanjut (follow up), untuk melakukan
koreksi dan perbaikan-perbaikan program dan pelaksanaan program, serta
untuk kepentingan evaluasi maupun penilaian hasil kegiatan.
Ilmu Kedokteran Keluarga dan Dokter Keluarga
Definisi
Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh
yang memusatkan pelayanan kepada keluarga sebagai suatu unit, dimana tanggung
jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau
jenis kelamin pasien juga tidak boleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu.
Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan
yangberorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga, ia tidak hanya
memandang penderita sebagai individu yang sakit tetapi sebagai bagian dari unit
keluarga dan tidak hanya menanti secara pasif tetapi bila perlu aktif mengunjungi
penderita atau keluarganya (IDI 1982).5
llmu kedokteran keluarga adalah ilmu yang mencakup seluruh spektrum ilmu
kedokteran tingkat yang orientasinya adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan
tingkat pertama yang berkesinambungan dan menyeluruh kepada satu kesatuan
12

individu, keluarga dan masyarakat dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan,


ekonomi dan sosial budaya.5
Prinsip pelayanan dokter keluarga
Prinsip-prinsip Kedokteran Keluarga (pendekatan kedokteran keluarga) adalah
memberikan/ mewujudkan:
1. Pelayanan komprehensif dengan pendekatan holistik
2. Pelayanan yang kontinu
3. Pelayanan yang mengutamakan pencegahan ( preventif )
4. Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif
5. Penanganan personal bagi setiap pasien sebagai bagian integral dari keluarganya
6. Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja, dan lingkungan
tempat tinggalnya
7. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum
8. Pelayanan yang sadar biaya
9. Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat dipertangungjawabkan.5

Pelayanan holistik (Menyeluruh)


Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat menyeluruh, yaiut peduli nahwa
pasien adalah seorang manusia seutuhnya yang terdiri dari fisik, mental, social dan
spiritual, serta berkehidupan di tengah lingkungan fisik dan sosialnya

Pasien adalah manusia seutuhnya


Pelayanan dokter keluarga memiliki system untuk memandang pasien sebagai
manusia yang seutuhnya

Pasien adalah bagian dari keluarga dan lingkungannya


Pelyanan dokter keluarga memiliki sistem untuk memandang pasien sebagai
bagian dari keluarga pasien, dan memperhatikan bahwa keluarga pasien dapat
mempengaruhi dan/atau dipengaruhi oleh situasi dan kondisi kesehatan pasien.

Pelayanan menggunakan segala sumber di sekitarnya


Pelayanan dokter keluarga mendayagunakan segala sumber di sekitar
kehidupan pasien untuk meningkatkan keadaan kesehatan pasien dan
keluarganya.5
13

Upaya Pencegahan (Preventive) Menurut Leavel and Clark


Pelayanan dokter keluarga salah satunya adalah memberikan pelayanan secara komprehensif.
Pelayanan komprehensif merupakan pelayanan menyeluruh yang mementingkan aspek-aspek
dari 5 upaya pencegahan menurut Leavel dan Clark. Pencegahan penyakit dalam 5 tingkatan
yang dapat dilakukan pada masa sebelum sakit dan pada masa sakit. Leavell dan Clark dalam
bukunya Preventive Medicine for the doctor in his community merumuskan :
Usaha-usaha pencegahan itu adalah :
A. Masa sebelum sakit
1. Mempertinggi nilai kesehatan (Health promotion)
2. Memberikan perlindungan khusus terhadap sesuatu penyakit (Specific protection).
B. Pada masa sakit
3. Mengenal dan mengetahui jenis pada tingkat awal,serta mengadakan pengobatan
yang tepat dan segera. (Early diagnosis and treatment).
4. Pembatasan kecacatan dan berusaha untuk menghilangkan gangguan kemampuan
bekerja yang diakibatkan sesuatu penyakit (Disability limitation).
5. Rehabilitasi (Rehabilitation).4
Dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan lima
tingkatan (five levels of prevention) dari Leavel and Clark, sebagai berikut :
1.

Promosi kesehatan ( health promotion)


Dalam tingkat ini dilakukan pendidikan kesehatan, misalnya dalam
peningkatan gizi, kebiasaan hidup, perbaikan sanitasi lingkungan seperti penyediaan
air rumah tangga yang baik, perbaikan cara pembuangan sampah, kotoran, air limbah,
hygiene perorangan, rekreasi, sex education, persiapan memasuki kehidupan pra nikah
dan persiapan menopause.
Usaha ini merupakan pelayanan terhadap pemeliharaan kesehatan pada umumnya.
Beberapa usaha di antaranya :

Penyediaan makanan sehat cukup kualitas maupun kuantitasnya.

14

Perbaikan hygien dan sanitasi lingkungan,seperti : penyediaan air rumah


tangga yang baik,perbaikan cara pembuangan sampah, kotoran dan air limbah
dan sebagainya.

Pendidikan kesehatan kepada masyarakat

Usaha kesehatan jiwa agar tercapai perkembangan kepribadian yang baik.5

2. Perlindungan khusus (specific protection)


Program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus, pendidikan
kesehatan sangat diperlukan terutama di Negara-negara berkembang. Hal ini karena
kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi sebagai perlindungan terhadap
penyakit pada dirinya maupun anak-anaknya masih rendah. Selain itu pendidikan
kesehatan diperlukan sebagai pencegahan terjadinya kecelakaan baik ditempat-tempat
umum maupun tempat kerja.
Penggunaan kondom untuk mencegah penularan HIV/AIDS, penggunaan sarung
tangan dan masker saat bekerja sebagai tenaga kesehatan
Beberapa usaha lain di antaranya :

Vaksinasi untuk mencegah penyakit-penyakit tertentu.

Isolasi penderitaan penyakit menular .

Pencegahan terjadinya kecelakaan baik di tempat-tempat umum maupun di tempat


kerja

Penggunaan kondom untuk mencegah penularan HIV/AIDS

Penggunaan sarung tangan dan masker saat bekerja sebagai tenaga kesehatan

3. Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment)
Karena rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan
penyakit, maka sering sulit mendeteksi penyakit-penyakit yang terjadi di masyarakat.
Bahkan kadang-kadang masyarakat sulit atau tidak mau diperiksa dan diobati
penyakitnya. Hal ini dapat menyebabkan masyarakat tidak memperoleh pelayanan
kesehatn yang layak. Oleh sebab itu pendidikan kesehatan sangat diperlukan dalam tahap
ini.

15

Contohnya : Pemeriksaan pap smear, pemeriksaan IVA, sadari sebagai cara


mendeteksi dini penyakit kanker. Bila dengan deteksi ini ditemui kelainan maka segera
dilakukan pemeriksaan diagnostic untuk memastikan diagnosa seperti pemeriksaan
biopsy, USG atau mamografi atau kolposcopy.
Tujuan utama dari usaha ini adalah :
1) Pengobatan yang setepat-tepatnya dan secepat-cepatnya dari setiap jenis
penyakit sehingga tercapai penyembuhan yang sempurna dan segera.
2) Pencegahan penularan kepada orang lain, bila penyakitnya menular.
3) Mencegah terjadinya kecacatan yang diakibatkan sesuatu penyakit.
Beberapa usaha deteksi dini di antaranya :
-

Mencari penderita di dalam masyarakat dengan jalan pemeriksaan : misalnya

pemeriksaan darah, rontgent paru-paru dan sebagainya serta segera memberikan


pengobatan
- Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita penyakit yang
telah berhubungan dengan penderita penyakit menular (contact person) untuk diawasi
agar derita penyakitnya timbul dapat segera diberikan pengobatan dan tindakan-tindakan
lain yang perlu misalnya isolasi,desinfeksi dan sebagainya.
- Pendidikan kesehatan kepada masyarakat agar mereka dapat mengenal gejala
penyakit pada tingkat awal dan segera mencari pengobatan. Masyarakat perlu menyadari
bahwa berhasil atau tindaknya usaha pengobatan, tidak hanya tergantung pada baiknya
jenis obat serta keahlian tenaga kesehatannya,melainkan juga tergantung pada kapan
pengobatan itu diberikan.5
Pengobatan yang terlambat akan menyebabkan :
-

Usaha penyembuhan menjadi lebih sulit,bahkan mungkin tidak dapat sembuh lagi

misalnya pengobatan kanker (neoplasma) yang terlambat.


-

Kemungkinan terjadinya kecacatan lebih besar.

Penderitaan si sakit menjadi lebih lama.

Biaya untuk perawatan dan pengobatan menjadi lebih besar.

16

4. Pembatasan cacat (disability limitation)


Oleh karena kurangnyaa pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan
penyakit, maka sering masyarakat tidak melanjutkan pengobatannya sampai tuntas. Dengan
kata lain mereka tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang komplit terhadap
penyakitnya. Pengobatan yang tidak layak dan sempurna dapat mengakibatkan orang yang
bersangkutan cacat atau ketidak mampuan. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan juga
diperlukan pada tahap ini.5
5. Rehabilitasi (rehabilitation)
Setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu, kadang-kadang orang menjadi cacat,
untuk memeulihkan cacatnya tersebut kadang-kadang diperlukan latihan tertentu. Oleh karena
kurangnya pengetian dan kesadaran orang tersebut, ia tidak akan segan melakukan latihanlatihan yang dianjurkan. Disamping itu oorang yang cacat stelah sembuh dari penyakit,
kadang-kadang malu untik kembali ke masyarakat. Sering terjadi pula masyarakat tidak mau
menerima mereka sebagai anggoota masyarakat yang normal. Oleh sebab itu jelas pendidikan
kesehatan diperlukan bukan saja untuk orang yang cacat tersebut, tetapi juga perlu pendidikan
kesehatan pada masyarakat.
Contoh : Pusat-pusat rehabilitasi bagi korban kekerasan, rehabilitasi PSK, dan korban
narkoba.
Rehabilitasi ini terdiri atas :
1) Rehabilitasi fisik
Yaitu agar bekas penderita memperoleh perbaikan fisik semaksimal-maksimalnya.
Misalnya,seseorang yang karena kecelakaan,patah kakinya perlu mendapatkan rehabilitasi
dari kaki yang patah ini sama dengan kaki yang sesungguhnya.
2) Rehabilitasi mental
Yaitu agar bekas penderita dapat menyesuaikan diri dalam hubungan perorangan dan
social secara memuaskan. Seringkali bersamaan dengan terjadinya cacat badaniah muncul
pula kelainan-kelainan atau gangguan mental. Untuk hal ini bekas penderita perlu
mendapatkan bimbingan kejiwaan sebelumm kembali ke dalam masyarakat.5

17

3) Rehabilitasi sosial vokasional


Yaitu agar bekas penderita menempati suatu pekerjaan/jabatan dalam masyarakat
dengan kapasitas kerja yang semaksimal-maksimalnya sesuai dengan kemampuan dan ketidak
mampuannya.5
4) Rehabilitasi aesthesis
Usaha

rehabilitasi

aesthetis

perlu

dilakukan

untuk

mengembalikan

rasa

keindahan,walaupun kadang-kadang fungsi dari alat tubuhnya itu sendiri tidak dapat
dikembalikan misalnya : penggunaan mata palsu.5
Usaha mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat,memerlukan bantuan dan
pengertian dari segenap anggota masyarakat untuk dapat mengerti dan memahami keadaan
mereka (fisik,mentaldan kemampuannya) sehingga memudahkan mereka dalam proses
penyesuaian dirinya dalam masyarakat,dalam keadaannya yang sekarang.
Sikap yang diharapkan dari warga masyarakat adalah sesuai dengan falsafah pancasila
yang berdasarkan unsur kemanusiaan yang sekarang ini. Mereka yang direhabilitasi ini
memerlukan bantuan dari setiap warga masyarakat,bukan hanya berdasarkan belas kasihan
semata-mata,melainkan juga berdasarkan hak azasinya sebagai manusia.5
Kesimpulan
Kusta atau Lepra merupakan salah satu penyakit yang masih sering ditemukan di Indonesia.
Untuk memberantasnya dibutuhkan analisis kesehatan keluarga dan lingkungan yang baik
(melalui studi epidemiologi, surveilans, case finding, pendekatan dokter keluarga) dan juga
penanganan dan penatalaksanaan secara menyeluruh (holistik).
Daftar Pustaka
1. Aminudin MD, Hakim Z, Darwis ER. Diagnosis penyakit kusta. Dalam: Daili ESS,
Menaldi SL, Ismiarto SP, Nilasari H, editor. Kusta. Edisi ke-2. Jakarta:Balai Penerbit
FKUI; 2003.h.12-32.
2. Nugrahaeni DK. Konsep dasar epidemilogi. Jakarta: EGC; 2012.h.1-90.
3. Azrul A. Pengantar epidemiologi. Jakarta: Bina rupa; 2001.h.5-50.

18

4. Departemen Kesehatan RI Dirjen P2M dan PLP. Buku pedoman nasional program
pengendalian penyakit kusta. Jakarta : Depkes RI; 2012.h.1-55.
5. Azrul A. Pengantar pelayanan dokter keluarga. Jakarta: IDI; 2005.h.15h -33.

19