Anda di halaman 1dari 3

4.

Insisi sekunder dibuat dari dasar poket melewati serabut puncak tulang alveolar ke arahpuncak
tulang alveolar dan ke arah interproksimal melewati serabut transeptal.5.
Buang jaringan yang telah dieksisi dengan kuret.6.
Bersihkan semua sementum nekrotik dengan cermat. Permukaan akar harus menjadi kerasdan
halus, bebas dari plak dan kalkulus. Serabut jaringan ikat yang mendukung lebarbiologis dan
masih melekat ke permukaan gigi sekitar 1-2 mm koronal terhadap puncak alveolar tidak boleh
dihilangkan.7.
Bilas daerah operasi dengan air steril atau larutan normal saline steril, kemudian periksakembali
permukaan akar, apakah masih ada plak atau kalkulus yang tertinggal danhilangkan bekuan
darah yang terlampau besar.8.
Lekatkan kembali tepi flap ke permukaan akar. Apabila tepi-tepi tersebut tidak dapatberadaptasi
dengan baik, bentuklah tulang di bawahnya hingga tercapai perlekatan tepiflap yang baik.9.
Jahit di bagian interproksimal dengan jahitan terputus atau matras vertikal.10.
Tekan bagian fasial dan lingual daerah operasi selama 2-3 menit. Gunakan kain kasa yangtelah
direndam larutan saline, agar bekuan darah yang terbentuk diantara gigi dan jaringanlunak
berukuran sekecil mungkin.11.
Pasang dresing periodontal menutupi daerah operasi, jaga jangan sampi dresing masuk diantara
gigi dan jaringan.12.
Lepaskan dresing dan buka jahitan pada hari ke 7 hingga ke 10, dan poles daerah tersebut.13.
Ulangi instruksi pengendalian plak di daerah operasi pada pasien. Latih pasien untuk menyikat
gigi dan menggunakan benang gigi di daerah tersebut dengan cermat dan hati-hati. Teknik
menyikat gigi roll dan penggunaan benang gigi di daerah tepi gingiva selamaperiode
penyembuhan awal dapat memberikan kontrol plak yang baik tanpa menggangguproses
penyembuhan jaringan gingiva terhadap permukaan gigi. Kebersihan bergantungpada
pengendalian plak selama masa kritis 4 mingu pertama proses penyembuhan.14.
Poles permukaan gigi seminggu sekali, selama 4 minggu pascaoperasi.15.
Jangan lakukan probing selama waktu 3 bulan pascaoperasi, agar perlekatan epitel danserabut
jaringan ikat ke permukaan gigi terbentuk dengan sempurna.
CARA MENGUKUR POKET
Pemeriksaan poket periodontal harus mempertimbangkan : keberadaan dan distribusipada
semua permukaan gigi, kedalaman poket, batas perlekatan pada akar gigi, dan tipe
poket(supraboni atau infaboni ; simple, compound atau kompleks). Metode satu-satunya
yangpaling akurat untuk mendeteksi poket peridontal adalah eksplorasi menggunakan
probeperiodontal. Poket tidak terdeteksi oleh pemeriksaan radiografi. Periodontal poket
adalahperubahan jaringan lunak. Radiografi menunjukkan area yang kehilangan tulang
dimanadicurigai adanya poket. Radiografi tidak menunjukkan kedalaman poket sehingga
radiografitidak menunjukkan perbedaan antara sebelum dan sesudah penyisihan poket kecuali
kalautulangnya sudah diperbaiki. Ujung gutta percha atau ujung perak yang terkalibrasi
dapatdigunakan dengan radiografi untuk menentukan tingkat perlekatan poket periodontal.
4

Menurut Carranza (1990), kedalaman poket dibedakan menjadi dua jenis, antara lain :
4
1.
Kedalaman biologisKedalaman biologis adalah jarak antara margin gingiva dengan dasar poket
(ujungkoronal dari junctional epithelium).2.
Kedalaman klinis atau kedalaman probingKedalaman klinis adalah jarak dimana sebuah
instrumen ad hoc (probe) masuk kedalampoket. Kedalaman penetrasi probe tergantung pada
ukuran probe, gaya yang diberikan,arah penetrasi, resistansi jaringan, dan kecembungan
mahkota.Kedalaman penetrasi probe dari apeks jaringan ikat ke junctional epithelium adalah 0,3
mm. Gaya tekan pada probe yang dapat ditoleransi dan akurat adalah 0,75 N. Teknik probing
yang benar adalah probe dimasukkan pararel dengan aksis vertikal gigi dan
berjalan secara sirkumferensial mengelilingi permukaan setiap gigi untuk mendeteksi
daerah dengan penetrasi terdalam (Carranza, 1990). Jika terdapat banyak kalkulus, biasanyasulit
untuk mengukur kedalaman poket karena kalkulus menghalangi masuknya probe.
Maka,dilakukan pembuangan kalkulus terlebih dahulu secara kasar (gross scaling)
sebelumdilakukan pengukuran poket (Fedidkk, 2004).
4

Gambar 1.
Probe berjalan untuk mengetahui po
ket dan perluasannya (Carranza, 1990)
Untuk mendeteksi adanya interdental craters, maka probe diletakkan secara obliquebaik dari
permukaan fasial dan lingual sehingga dapat mengekplorasi titik terdalam padapoket yang
terletak dibawah titik kontak (Carranza, 1990).
4
Gambar 2.
Insersi probe secara vertikal (kiri) tidak mendeteksi interdental crater ;probe dengan posisi
oblique (kanan) mencapai titik terdalam crater (Carranza, 1990)
Pada gigi berakar jamak harus diperiksa dengan teliti adanya keterlibatan furkasi.Probe dengan
desain khusus (Nabers probe) memudahkan dan lebih akurat untuk mengekplorasi komponen
horizontal pada lesi furkasi (Carranza, 1990).
4
Gambar 3.
Eksplorasi dengan probe peridontal (kiri); Nabers probe (kanan)(Carranza, 1990)
Selain kedalaman poket, hal lain yang penting dalam diagnostik adalah penentuantingkat
perlekatan (
level of attachment
). Kedalaman poket adalah jarak antara dasar poket danmargin gingiva. Kedalaman poket dapat
berubah dari waktu ke waktu walaupun pada kasusyang tidak dirawat sehingga posisi margin
gingiva pun berubah. Poket yang dangkal pada 1/3apikal akar memiliki kerusakan yang lebih
parah dibandingkan dengan poket dalam yangmelekat pada 1/3 koronal akar. Cara untuk
menentukan tingkat perlekatan adalah pada saatmargin gingiva berada pada mahkota anatomis,
tingkat perlekatan ditentukan denganmengurangi kedalaman poket dengan jarak antara margin
gingiva hingga cemento-enamel junction (Carranza, 1990).
4
Insersi probe pada dasar poket akan mengeluarkan darah apabila gingiva mengalamiinflamasi
dan epithelium poket atrofi atau terulserasi. Untuk mengecek perdarahan setelahprobing, probe
perlahan-lahan dimasukkan ke dasar poket dan dengan berpindah sepanjangdinding poket.

Perdarahan seringkali muncul segera setelah penarikan probe, namunperdarahan juga sering
tertunda hingga 30-60 detik setelah probing (Carranza, 1990).
4
Daftar Pustaka
1.
http://fkgugm06.files.wordpress.com/2010/06/bedah-perio-1.ppt2.
Bahan Ajar Periodontologi II oleh : drg. Elita Tambunan, M.Kes3.
Bahan Ajar Periodontologi III oleh : drg. Christy Mintjelungan4.
http://www.scribd.com/doc/26078930/Diagnosis-Penyakit-Periodontal