Anda di halaman 1dari 104

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMULIAAN TANAMAN TOLERAN LINGKUNGAN RAWAN

Oleh :
Putri Holaw Hening Pratiwi
NIM

A1L111012

Rombongan E1
Kelompok 1

KEMENTERIANPENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014

LAPORAN PRAKTIKUM
PEMULIAAN TANAMAN TOLERAN LINGKUNGAN RAWAN
ACARA I
CEKAMAN KEKERINGAN

Oleh :
Putri Holaw Hening Pratiwi
NIM

A1L111012

Rombongan E1
Kelompok 1

KEMENTERIANPENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014

I.

A.

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Padi merupakan tanaman pangan penting yang ditanam hampir sepertiga


dari jumlah total bahan pangan di dunia. Padi juga menyediakan bahan pangan
pokok dan 35-60% kalorinya dikonsumsi lebih dari 2.7 milyar penduduk dunia
(Padmadi, 2009).
Kebutuhan beras nasional pada tahun 2007 mencapai 30,91 juta ton dengan
asumsi konsumsi per kapita rata-rata 139 kg per tahun. Indonesia dengan rata-rata
pertumbuhan penduduk 1,7 persen per tahun dan luas areal panen 11,8 juta hektar
dihadapkan pada ancaman rawan pangan pada tahun 2030 (Pasaribu, 2006).
Untuk

menghadapi

keadaan

tersebut

diperlukan

tindakan

untuk

meningkatkan produktivitas padi nasional salah satunya dapat dilakukan dengan


cara extensifikasi lahan pertanian. Namun, lahan-lahan yang tersisa untuk
extensifikasi biasanya merupakan lahan-lahan marginal yang tidak sesuai dengan
kebutuhan hidup tanaman. Salah satu contohnya adalah lahan dengan kondisi
sedikit air tersedia atau kering, sehingga menyebabkan tanaman tercekam
kekeringan.
Dengan melakukan praktikum ini dapat diketahui varietas-varietas tanaman
padi yang toleran terhadap cekaman kekeringan. Selain itu, dari praktikum ini
dapat diketahui respon fisiologis dan morfologis tanaman padi terhadap cekaman

kekeringan, sehingga dapat dijadikan acuan untuk kegiatan seleksi pada proses
pemuliaan tanaman padi.
B.

TUJUAN

1. Mengetahui respon dan perbedaan pertumbuhan tanaman dalam kondisi


cekaman kekurangan air.
2. Mengetahui genotipe tanaman yang toleran terhadap cekaman kekurangan
air.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman padi dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan ke


dalam Divisio Spermatophyta, dengan Sub divisio Angiospermae, termasuk ke
dalam kelas Monocotyledoneae, Ordo adalah Poales, Famili adalah Graminae,
Genus adalah Oryza Linn, dan Spesiesnya adalah Oryza sativa L (Grist, 1960).
Tumbuhan padi termasuk golongan tumbuhan Graminae dengan batang
yang tersusun dari beberapa ruas. Tanaman padi membentuk rumpun dengan
anakannya, biasanya anakan akan tumbuh pada dasar batang. Pembentukan
anakan terjadi secara tersusun yaitu pada batang pokok atau batang batang utama
akan tumbuh anakan pertama, anakan kedua tumbuh pada batang bawah anakan
pertama, anakan ketiga tumbuh pada buku pertama pada batang anakan kedua dan
seterusnya. Semua anakan memiliki bentuk yang serupa dan membentuk
perakaran sendiri (Luh, 1991).
Batang padi tersusun dari rangkaian ruasruas dan diantara ruas yang satu
dengan ruas yang lainnya dipisahkan oleh satu buku. Ruas batang padi
didalamnya berongga dan bentuknya bulat, dari atas ke bawah ruas buku itu
semakin pendek. Ruas yang terpendek terdapat dibagian bawah dari batang dan
ruasruas ini praktis tidak dapat dibedakan sebagai ruasruas yang berdiri sendiri.
Sumbu utama dari batang dibedakan dari bagian pertumbuhan embrio yang
disertai pada coleopotil pertama (Grist, 1960).

Pada buku bagian bawah dari ruas tanaman padi tumbuh daun pelepah yang
membalut ruas sampai buku bagian atas. Tepat pada buku bagian atas ujumg dari
daun pelepah memperlihatkan percabangan dimana cabang yang terpendek
menjadi ligula (lidah) daun, dan bagian yamg terpanjang dan terbesar menjadi
daun kelopak yang memiliki bagian auricle pada sebelah kiri dan kanan. Daun
kelopak yang terpanjang dan membalut ruas yang paling atas dari batang disebut
daun bendera. Tepat dimana daun pelepah teratas menjadi ligula dan daun
bendera, di situlah timbul ruas yang menjadi bulir pada (Siregar, 1981).
Bunga padi adalah bunga telanjang artinya mempunyai perhiasan bunga.
Berkelamin dua jenis dengan bakal buah yang diatas. Jumlah benang sari ada 6
buah, tangkai sarinya pendek dan tipis, kepala sari besar serta mempunyai dua
kandung serbuk. Putik mempunyai dua tangkai putik dengan dua buah kepala
putik yang berbentuk malai dengan warna pada umumnya putih atau ungu
(Departemen Pertanian, 1983).
Pada dasar bunga terdapat ladicula (daun bunga yang telah berubah
bentuknya). Ladicula berfungsi mengatur dalam pembuahan palea, pada waktu
berbunga

ia

menghisap

air

dari

bakal

buah,

sehingga

mengembang.

Pengembangan ini mendorong lemma dan palea terpisah dan terbuka (Hasyim,
2000).
Buah padi yang sehari-hari kita sebut biji padi atau bulir/gabah, sebenarnya
bukan biji melainkan buah padi yang tertutup oleh lemma dan palea. Buah ini
terjadi setelah selesai penyerbukan dan pembuahan. Lemma dan palea serta

bagian lain akan membentuk sekam atau kulit gabah (Departemen Pertanian,
1983).
Dinding bakal buah terdiri dari tiga bagian yaitu bagian paling luar disebut
epicarpium, bagian yang tengah disebut mesocarpium dan bagian yang dalam
disebut endocarpium. Biji sebagian besar ditempati oleh endosperm yang
mengandung zat tepung dan sebagian ditempati oleh embrio (lembaga) yang
terletak dibagian sentral yakni dibagian lemma (Departemen Pertanian, 1983).
Secara umum padi dikatakan sudah siap panen bila butir gabah yang
menguning sudah mencapai sekitar 80 % dan tangkainya sudah menunduk.
Tangkai padi merunduk karena sarat dengan butir gabah bernas. Untuk lebih
memastikan padi sudah siap panen adalah dengan cara menekan butir gabah. Bila
butirannya sudah keras berisi maka saat itu paling tepat untuk dipanen (Andoko,
2002).
Ada beberapa metode yang dapat dipakai untuk uji toleransi kekeringan
dalam program pemuliaan tanaman (Winter et al., 1988), antara lain pengukuran
kerapatan dan kedalaman akar ,perbandingan biomassa akar dan pucuk, ketahanan
pada tahap awal partisi akar dan pucuk, kandungan air dalam daun, stabilitas
osmotik membran ,perkecambahan dalam larutan osmotikum. Pemanfaatan
metode tersebut untuk seleksi dalam program pemuliaan tanaman tergantung pada
variabilitas dan heritabilitas sifat-sifat tertentu dalam populasi (Clarke, 1987)
Air adalah salah satu komponen fisik yang sangat vital dan dibutuhkan
dalam jumlah besar untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sebanyak

85-90 % dari bobot segar sel-sel dan jaringan tanaman tinggi adalah air (Maynard
dan Orcott, 1987).
Air yang tersedia dalam tanah adalah selisih antara air yang terdapat pada
kapasitas lapang dan titik layu permanen. Diatas kapasitas lapang air akan
meresap ke bawah atau menggenang, sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh
tanaman. Di bawah titik layu permanen tanaman tidak mampu lagi menyerap air
karena daya adhesi air dengan butir tanah terlalu kuat dibandingkan dengan daya
serap tanaman. Cekaman kekeringan pada tanaman disebabkan oleh kekurangan
suplai air di daerah perakaran dan permintaan air yang berlebihan oleh daun
dalam kondisi laju evapotranspirasi melebihi laju absorbsi air oleh akar tanaman.
Serapan air oleh akar tanaman dipengaruhi oleh laju transpirasi, sistem perakaran,
dan ketersediaan air tanah (Lakitan, 1996).

III.

METODE PRAKTIKUM

A.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat penyiram, kertas
label, penggaris, timbangan analitik, gelas ukur, laptop, kamera dan alat tulis.
Bahan yang dibutuhkan pada praktikum kali ini adalah tanah, air, polibag dan 3
varietas padi yaitu Inpago Unsoed 1, Fe37 serta Ciherang.
B. Rancangan Lapangan

Pada praktikum ini digunakan rancangan acak kelompok dengan tiga


ulangan. Faktor yang dicoba adalah tiga varietas padi dan dua taraf cekaman
kekeringan. Tiga varietas padi yag dicoba adalah Inpago Unsoed 1 (V1), Fe37
(V2) serta Ciherang (V3). Dua taraf cekaman kekeringan yang dilakukan yaitu
tanpa cekaman kekeringan/kontrol (K0) dan cekaman kekeringa (K1). Jadi pada
praktikum ini terdapat enam kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali. Setiap
kombinasi perlakuan menggunakan tiga polibag. Total keseluruhan polibag yang
digunakan adalah 18 polibag. Percobaan praktikum kali ini dilakukan
mengunakan polibag di rumah kaca. Adapun denah percobaannya sebagai berikut:
V1
U3
V1
U2
V1
U1

V2
U3
V2
U2
V2
U1
K0

V3
U3
V3
U2
V3
U1

V1
U3
V1
U2
V1
U1

V2
U3
V2
U2
V2
U1
K1

V3
U3
V3
U2
V3
U1

Ket: V1= Inpago Unsoed 1


V2 = Fe37
V3 = Ciherang
U1- U3 = Ulangan 1-3

C. Prosedur Kerja

1. Tanah diisikan ke dalam 18 polibag, lalu disiram air hingga kapasitas


lapang.
2. Polibag yang telah diisi dibagi menjadi dua kelompok (K0 dan K1),
masing-masing sembilan polibag.
3. Polibag disusun sesuai dengan denah percobaan.
4. Kemudian benih ditanam sesuai susunan denah percobaan, setiap
polibag ditanami dua benih.
5. Setelah tanaman berumur tujuh hari tanaman diberi perlakuan, K0
disiram sebanyak 100 ml air, sedangkan K1 sebanyak 75 ml air.
6. Kemudian tanaman juga diukur tingginya, pengukuran dilakuakan
bersamaan dengan pemberian perlakuan.
7. Perlakuan diberikan sebanyak tujuh kali dalam rentang waktu 24 Maret
2014 sampai 1 Mei 2014.
8. Pada tanggal 1 Mei 2014 dilakukan destruksi yaitu tanaman dicabut dan
diukuran panjang tajuk dan akarnya. Lalu dilanjutkan tanggal 2 Mei
2014 untuk ditimbang berat tajuk, akar, tanaman serta volume akarnya.

D. Analisis Data

Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam. Jika


terdapat perbedaan maka diuji lanjut menngunakan uji BNT. Data hasil
pengamatan juga diuji Nilai Relatifnya (NR).

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Terlampir

B. Pembahasan

Fungsi air bagi tanaman menurut Noggle dan Frizt (1983) yaitu:
1. Senyawa utama pembentuk protoplasma
2. Senyawa pelarut bagi masuknya mineral-mineral dari larutan tanah ke
tanaman dan sebagai pelarut mineral nutrisi yang akan diangkut dari satu
bagian sel ke bagian sel lain
3. Media terjadinya reaksi-reaksi metabolik
4. Reaktan pada sejumlah reaksi metabolisme seperti siklus asam
trikarboksilat
5. Penghasil hidrogen pada proses fotosintesis
6. Menjaga turgiditas sel dan berperan sebagai tenaga mekanik dalam
pembesaran sel
7. Mengatur

mekanisme

gerakan

tanaman

seperti

membuka

dan

menutupnya stomata, membuka dan menutupnya bunga serta melipatnya


daun-daun tanaman tertent
8. Berperan dalam perpanjangan sel
9. Bahan metabolisme dan produk akhir respirasi

10. Digunakan dalam proses respirasi.


Kehilangan air pada jaringan tanaman akan menurunkan turgor sel,
meningkatkan konsentrasi makro molekul serta senyawa-senyawa dengan berat
molekul rendah, mempengaruhi membran sel dan potensi aktivitas kimia air
dalam tanaman (Mubiyanto, 1997). Peran air yang sangat penting tersebut
menimbulkan konsekuensi bahwa langsung atau tidak langsung kekurangan air
pada tanaman akan mempengaruhi semua proses metaboliknya sehingga dapat
menurunkan pertumbuhan tanaman.
Kekeringan menimbulkan cekaman bagi tanaman yang tidak tahan kering.
Kekeringan terjadi jika lengas tanah lebih rendah dari titik layu tetap, kondisi ini
timbul karena tidak adanya tambahan lengas baik dari air hujan maupun irigasi
sementara evapotranspirasi tetap berlangsung.
Cekaman kekeringan pada tanaman disebabkan oleh kekurangan suplai air
di daerah perakaran dan permintaan air yang berlebihan oleh daun dalam kondisi
laju evapotranspirasi melebihi laju absorbsi air oleh akar tanaman. Serapan air
oleh akar tanaman dipengaruhi oleh laju transpirasi, sistem perakaran, dan
ketersediaan air tanah (Lakitan, 1996).
Staff Lab Ilmu Tanaman (2008) mengemukakan bahwa cekaman kekeringan
dapat dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu:
1. Cekaman ringan :jika potensial air daun menurun 0.1 Mpa atau
kandungan air nisbi menurun 8 10 %
2. Cekaman sedang: jika potensial air daun menurun 1.2 s/d 1.5 Mpa atau
kandungan air nisbi menurun 10 20 %

3. Cekaman berat: jika potensial air daun menurun >1.5 Mpa atau
kandungan air nisbi menurun > 20%.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, tanaman padi yang mengalami
cekaman kekeringan (K1) memiliki akar yang lebih pendek dibanding tanaman
padi kontrol (K0). Dan tajuk padi yang terkena cekaman kekeringan juga lebih
pendek dibanding tanaman padi kontrol (K0), serta tanaman padi yang mengalami
cekaman kekeringan (K1) memiliki bobot dan volume lebih ringan dibanding
tanaman padi kontrol (K0). Selain itu daun tanaman padi yang terkena cekaman
kekeringan menggulung, hal ini merupakan respon yang ditunjukan tanaman.
Penggulungan daun berfungsi untuk mengurangi laju transpirasi pada tanaman
padi. Hal ini sejalan dengan beberapa literatur dibawah.
Respon tanaman yang mengalami cekaman kekeringan mencakup
perubahan ditingkat seluler dan molekuler seperti perubahan pada pertumbuhan
tanaman, volume sel menjadi lebih kecil, penurunan luas daun, daun menjadi
tebal, adanya rambut pada daun, sensitivitas stomata, penurunan laju fotosintesis,
perubahan metabolisme karbon dan nitrogen, perubahan produksi aktivitas enzim
dan hormon, serta pe-rubahan ekspresi gen (Kramer, 1980).
Secara umum tanaman akan menunjukkan respon tertentu bila mengalami
cekaman kekeringan. Respon tanaman terhadap stres air sangat ditentukan oleh
tingkat stres yang dialami dan fase pertumbuhan tanaman saat mengalami
cekaman. Bila tanaman dihadapkan pada kondisi kering terdapat dua macam
tanggapan yang dapat memperbaiki status air, yaitu:

1. tanaman

mengubah

distribusi

asimilat

baru

untuk

mendukung

pertumbuhan akar dengan mengorbankan tajuk, sehingga dapat


meningkatkan kapasitas akar menyerap air serta menghambat pemekaran
daun untuk mengurangi transpirasi.
2. Tanaman akan mengatur derajat pembukaan stomata untuk menghambat
kehilangan air lewat transpirasi (Mansfield dan Atkinson, 1990).
Tumbuhan merespon kekurangan air dengan mengurangi laju transpirasi
untuk penghematan air. Terjadinya kekurangan air pada daun akan menyebabkan
sel-sel penjaga kehilangan turgornya. Suatu mekanisme kontrol tunggal yang
memperlambat transpirasi dengan cara menutup stomata. Kekurangan air juga
merangsang peningkatan sintesis dan pembebasan asam absisat dari sel-sel
mesofil daun. Hormon ini membantu mempertahankan stomata tetap tertutup
dengan cara bekerja pada membrane sel penjaga. Daun juga merespon terhadap
kekurangan air dengan cara lain. Karena pembesaran sel adalah suatu proses yang
tergantung pada turgor, maka kekurangan air akan menghambat pertumbuhan
daun muda. Respon ini meminimumkan kehilangan air melalui transpirasi dengan
cara memperlambat peningkatan luas permukaan daun. Ketika daun dari
kebanyakan rumput dan kebanyakan tumbuhan lain layu akibat kekurangan air,
mereka akan menggulung menjadi suatu bentuk yang dapat mengurangi
transpirasi dengan cara memaparkan sedikit saja permukaan daun ke matahari
(Campbell, 2003).
Kedalaman perakaran sangat berpengaruh terhadap jumlah air yang diserap.
Pada umumnya tanaman dengan pengairan yang baik mempunyai sistem

perakaran yang lebih panjang daripada tanaman yang tumbuh pada tempat yang
kering. Rendahnya kadar air tanah akan menurunkan perpanjangan akar,
kedalaman penetrasi dan diameter akar (Haryati, 2006).
Pada tanaman yang toleran terhadap cekaman kekeringan terjadi mekanisme
mempertahankan turgor agar tetap di atas nol sehingga potensial air jaringan tetap
rendah dibandingkan potensial air eksternal sehingga tidak terjadi plasmolisis
(Jones and Turner, 1980)
Kemampuan mengontrol terhadap transpirasi juga merupakan salah satu
mekanisme ketahanan tanaman terhadap adanya cekaman kekeringan (Pitono et
al., 2008). Selanjutnya dilaporkan pula bahwa ukuran daun yang kecil dan sukulen
mengurangi laju kehilangan air melalui tanspirasi (Farooq et al., 2009).
Berdasrkan hasil percobaan, terdapat perbedaan morfologi tanaman padi
karena terhambatnya proses pertumbuhan. Berikut perbedaan yang ada :
Bagian Tanaman

Tidak Tercekam kekeringan (K0)

Akar

Akar tanaman tumbuh normal, Akar tanaman terhambat


dengan bobot rata 0,21 gr dan pertumbuhannya , akar
volume akar lebih dari 1 ml.
tanaman memiliki bobot
rata-rata hanya 0,05 gr dan
volume akar kurang dari
0,75 ml.
Tajuk tanaman tumbuh normal, Tajuk tanaman terhambat
dengan bobot rata 0,54 gr dan pertumbuhannya, dengan
memiliki tinggi tajuk 30 cm.
bobot rata 0,22 gr dan
memiliki tinggi tajuk 25
cm.
Daun tumbuh sehat
Daun menggulung dan
beberapa
ujung
daun
mengering
hingga
seperempat bagian daun .

Tajuk

Daun

Tercekam kekeringan (K1)

Berdasarkan pengamatan verietas yang toleran kekeringan adalah Inpago


Unsoed 1. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan (Litbang.deptan.go.id, 2014),
bahwa varietas Inpago Unsoed 1, memiliki toleransi cekaman abiotik, agak
toleran kekeringnan, toleran sampai sedang terhadap keracunan besi (Fe). Baik
untuk ditanam di lahan kering dataran rendah sampai sedang < 700 m dpl.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dibandingkan dengan SES dari IRRI,
didapatkan bahwa varietas Inpago Unsoed 1 memiliki ketahanan/toleransi
terhadap cekaman paling baik dengan indikator daun menggulung pada masa
vegetatif terdapat pada skala 1 (Gejala :daun agak melipat) dan indikator daun
mengering pada masa vegetatif terdapat pada skala 0 (Gejala :tidak ada gejala).
Lalu diikuti oleh varietas Fe37, dengan indikator daun menggulung pada masa
vegetatif terdapat pada skala 1 (Gejala :daun agak melipat) dan indikator daun
mengering pada masa vegetatif terdapat pada skala 1 (Gejala :ujung daun sedikit
mengering). Dan varietas ciherang merupakan varietas paling peka terhadap
cekaman kekeringan, dengan indikator daun menggulung pada masa vegetatif
terdapat pada skala 7 (Gejala :ujung-ujung daun bersentuhan) dan indikator daun
mengering pada masa vegetatif terdapat pada skala 3 (Gejala : ujung daun
mengeringhingga seperempat panjang daun).

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pengamatan verietas yang toleran kekeringan adalah Inpago


Unsoed 1 dan varietas Ciherang merupakan varietas paling peka terhadap
cekaman kekeringan.

DAFTAR PUSTAKA

Andoko, A . 2002. Budidaya Padi Secara Organik. Cetakan-I. Penebar Swadaya.


Jakarta.
Campbell. 2003. Biologi. Prentice hall. USA.
Clarke, J.M. 1987. Use of Physiological and Morphological Traits in Breeding
Programmes to Improve Drought Resistance of Cereals. John Wiley and
Sons: New York. Hal. 171-190.
Departemen Pertanian. 1983. Pedoman Bercocok Tanam Padi Palawija Sayur
sayuran. Departemen Pertanian Satuan Pengendali BIMAS. Jakarta.
Farooq, M., A. Wahid, N. Kobayashi, D. Fujita, and S.M.A. Basra. 2009. Plant
drought stress: effects, mechanisms, and management. J.Agron. Sustain.
Dev. 29 (2009) : 185-212.
Grist D.H. 1960. Rice. Formerly Agricultural Economist, Colonial Agricultural
Service, Malaya. Longmans, Green and Co Ltd. London.
Haryati, 2006. Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil
Tanaman.
Online.
http://library.usu.ac.id/download/fp/hslpertanianharyati2.pdf.. Diakses pada tanggal 18 Juni 2014.
Hasyim, H. 2000. Padi. FP-USU Press. Medan
Jones, M.M. and N.C. Turner. 1980. Osmotic adjustment in expanding and fully
expanded leaves of sunflower in response to drought deficit. J. Proc. Indian.
Nat. Sci. Acad. 3 (57) : 288-304.
Kramer, J.k. 1980. Drought, Stress and origin af adaptation.
Intersciences Publication. John Willey and Sons. New York

A willey

Lakitan, Benyamin. 1996. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Raja


Grafindo Persada.
Litbang.deptan.go.id, 2014. Deskripsi Varietas Inpago Unsoed 1. Online.
http://www.litbang.deptan.go.id/varietas/one/795/. Diakses pada tanggal 18
Juni 2014.
Luh, B. S. 1991. Rice Production. An AVI Book. New York.
Mansfield., T.A. and C. J. Atkinson. 1990. Stomatal behavior in water stressed
plants. Wiley-Liss, Inc., New York.

Maynard, G.H. and D.M. Orcott. 1987. The physiology of plants under stress.
John Wiley & Sons, Inc. New York.
Mubiyanto, B.M. 1997. Tanggapan tanaman kopi terhadap cekaman air. Warta
Puslit Kopi dan Kakao 13(2): 83-95.
Noggle, G.R dan Fritz. 1983. Introduction Plant Physiology, Second Edition.
Prentice Hall, Inc, Englewood Clifts. New Jersey.
Padmadi, B. 2009. Identifikasi Sifat Aroma Tanaman Padi Menggunakan Marka
Berbasis Gen Aromatik. Skripsi. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam IPB. Bogor .
Pasaribu B. 2006. Rancangan undang-undang lahan pangan abadi. Tidak
memperkenankan konversi lahan pangan. Sinar Tani 3:8-14.
Pitono, J., H. Nurhayati, dan Setiawan. 2008. Seleksi ketahanan terhadap stres
kekeringan pada tiga nomor somaklon nilam di lapangan. Laporan Teknis
Penelitian. Balittro. (tidak dipublikasikan). hal. 201-212
Siregar, H. 1981. Budidaya Tanaman Padi Di Indonesia. Sastra Hudaya. Jakarta.
Staf lab ilmu tanaman, 2008. Hubungan Suhu dan Pertumbuhan Tanaman.
http://www..faperta.ugm.ac.id/buper/lab/kuliah/fistan/7_hubungan_suhu_tan
aman.ppt
Winter, S.R., T.J. Musick, K.B. Porter. 1988. Evaluation of Screening Techniques
for Breeding Drought Resistance Winter Wheat. J.Crop Sci. 28:512-516.

LAPORAN PRAKTIKUM
PEMULIAAN TANAMAN TOLERAN LINGKUNGAN RAWAN
ACARA II
CEKAMAN GENANGAN

Oleh :
Putri Holaw Hening Pratiwi
NIM

A1L111012

Rombongan E1
Kelompok 1

KEMENTERIANPENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014

I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kedelai merupakan komoditas pangan utama ketiga setelah padi dan jagung
yang menjadi komoditi prioritas dalam program Revitalisasi Pertanian (Badan
Litbang Pertanian Deptan, 2005). Hal ini karena jumlah penduduk Indonesia yang
cukup besar dan industri pangan berbahan baku kedelai yang berkembang cukup
pesat.
Sejak tahun 2004, pemerintah harus mengimpor 1,2 juta ton setiap tahun
untuk memenuhi kebutuhan kedelai nasional yang mencapai 2,02 juta ton per
tahun. Akan tetapi, kebijakan impor kedelai selama ini sangat tidak
menguntungkan dalam pengembangan kedelai di Indonesia. Oleh karena itu,
dalam

Jangka

Panjang

(2010-2020)

pemerintah

menetapkan

sasaran

pengembangan kedelai dengan peningkatan produksi nasional sebesar 7% per


tahun. Pada tahun 2014 diharapkan ketergantungan impor kedelai hanya 8% dan
pada tahun 2015 diharapkan swasembada kedelai dapat tercapai (Badan Litbang
Pertanian Deptan, 2005).
Untuk itu diperlukan upaya khusus peningkatan produksi kedelai nasional
melalui percepatan peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam.
Peningkatan produksi kedelai melalui percepatan peningkatan produktivitas dapat
ditempuh melalui penggunaan varietas unggul yang diperoleh melalui kegiatan
pemuliaan termasuk perakitan varietas unggul baru yang berdaya hasil tinggi.

Peningkatan produksi kedelai melalui perluasan areal tanam dapat ditempuh


melalui extensifikasi lahan pertanian. Namun, lahan-lahan yang tersisa untuk
extensifikasi biasanya merupakan lahan-lahan marginal yang tidak sesuai dengan
kebutuhan hidup tanaman. Salah satu contohnya adalah lahan dengan kondisi
kelebihan air tersedia atau tergenag, sehingga menyebabkan tanaman tercekam
genangan
Genangan akan berpengaruh terhadap proses fisiologis dan biokimiawi
antara lain respirasi, permeabilitas akar, penyerapan air dan hara, penyematan N.
Genangan menyebabkan kematian akar di kedalaman tertentu, hal ini akan
memacu pembentukan akar adventif pada bagian di dekat permukaan tanah pada
tanaman yang tahan genangan. Kematian akar menjadi penyebab kekahatan N dan
cekaman kekeringan fisiologis. Sehingga akan menggangu pertumbuhan dan
menurunkan produksi kedelai.
Dengan melakukan praktikum ini dapat diketahui varietas-varietas tanaman
kedelai yang toleran terhadap cekaman genangan. Selain itu, dari praktikum ini
dapat diketahui respon fisiologis dan morfologis tanaman keelai terhadap
cekaman genangan, sehingga dapat dijadikan acuan untuk kegiatan seleksi pada
proses pemuliaan tanaman kedelai.

B. TUJUAN

1. Mengetahui respon dan perubahan pertumbuhan tanaman dalam kondisi


cekaman kelebihan air.
2. Mengetahui genotipe tanaman yang toleran terhadap cekaman genangan.

II.

Menurut

Hidayat

TINJAUAN PUSTAKA

(2002)

cekaman

lingkungan

pada

tumbuhan

dikelompokkan menjadi dua yaitu:


1. Cekaman biotik, terdiri dari: kompetisi intra spesies dan antar spesies, dan
infeksi oleh hama dan penyakit.
2. Cekaman abiotik, terdiri dari: suhu (tinggi dan rendah), air (kelebihan dan
kekurangan), radiasi (ultraviolet, infra merah, dan radiasi mengionisasi),
kimiawi (garam, gas, dan pestisida), angin, dan suara.
Kerusakan yang timbul akibat stres dapat dikelompokkan dalam 3 jenis
kerusakan yaitu:
1. Kerusakan stres langsung primer
2. Kerusakan stres tak langsung primer
3. Kerusakan stres sekunder (dapat terjadi juga stres tersier)
(Sipayung, 2006).
Menurut Linkemer dan Musgrave (1998), pada kedelai genangan dapat menurunkan hasil kedelai dari 2453 kg ha-1 menjadi 1550 kg ha-1 karena terjadi penurunan jumlah cabang produktif per tanaman, jumlah buku per tanaman, jum-lah
biji per tanaman, bobot biji, dan dike-tahui bahwa pada periode reproduktif lebih
sensitif dibandingkan dengan periode vegetatif.
Ada dua perubahan lingkungan yang terjadi saat rendaman, yaitu aerobik ke
anaerobik dan sebaliknya dari anaerobik ke aerobik setelah air berkurang. Faktor
kunci untuk adaptasi dari aerobik ke anaerobik adalah suplai energi. Asimilasi

karbon selama terendam akan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suplai
CO2, radiasi matahari, kapasitas fotosintesis di bawah permukaan air yang
dilemahkan oleh klorosis. Efisiensi penggunaan energi selama rendaman juga
penting untuk adaptasi pada lingkungan anaerob (Kawano et al. 2008).
Kekurangan oksigen dalam tanah akibat genangan merupakan faktor
pembatas pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Kekurangan oksigen
menggeser metabolisme energi dari aerob menjadi anaerob sehingga berpengaruh
kurang baik terhadap serapan nutrisi dan air. Akibatnya, tanaman menunjukkan
gejala kelayuan walaupun tersedia banyak air (Sairam, 2009).
Oksigen merupakan syarat dalam respirasi tanaman, sehingga pada saat
tanaman tergenang dan dalam kondisi anaerob, aktivitas glikolitik akan
menghasilkan asam piruvat dari glukosa yang dikonversi menjadi etanol dan
karbon dioksida (Riche, 2004).
Vantoai et al. (2001) membagi genangan berdasarkan kondisi pertanaman
menjadi dua yaitu:
1.

Kondisi jenuh air (waterlogging) di mana hanya akar tanaman yang


tergenang air.

2.

Kondisi

bagian

tanaman

sepenuhnya

tergenang air

(complete

submergence).
Kedelai merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak.
Kedelai jenis liar Glycine ururiencis, merupakan kedelai yang menurunkan
berbagai kedelai yang dikenal sekarang kedelai (Glycine max (L.) Merrill).
Berasal dari daerah Manshukuo (Cina Utara), di Indonesia, dibudidayakan mulai

abad ke-17 sebagai tanaman makanan dan pupuk hijau. Penyebaran tanaman
kedelai ke Indonesia berasal dari daerah Manshukuo menyebar ke daerah
Mansyuria : Jepang (Asia Timur) dan negara-negara lain di Amerika dan Afrika.
(Aak,1991).
Akar tanaman kedelai terdiri atas akar tunggang, akar lateral, dan akar
serabut. Pada tanah yang gembur, akar ini dapat menembus tanah sampai
kedalaman 1,5 m. Pada akar lateral terdapat bintil-bintil akar yang merupakan
kumpulan bakteri rhizobium pengikat N dari udara. Bintil akar ini biasanya akan
terbentuk 15-20 hari setelah tanam, selain sebagai penyerap unsur hara dan
penyangga tanaman, pada perakaran merupakan tempat terbentuknya bintil/nodul
akar yang berfungsi sebagai pabrik alami terfiksasinya nitrogen udara oleh
aktivitas bakteri Rhizobium (Rakhman dan Tambas, 1986).
Kedelai berbatang semak, dengan tinggi batang antara 30-100 cm. setiap
batang dapat membentuk 3-6 cabang. Pertumbuhan batang dibedakan menjadi dua
tipe, yaitu tipe determinate dan indeterminate. Perbedaan sistem pertumbuhan
batang ini didasarkan atas keberadaan bunga dan pucuk batang. Pertumbuhan
batang tipe determinate ditunjukkan dengan batang yang tidak tumbuh lagi pada
saat tanaman mulai berbunga. Pertumbuhan batang tipe indeterminate dicirikan
bila pucuk batang tanaman masih bisa tumbuh daun, walaupun tanaman sudah
mulai berbunga. Begitu juga dengan bentuk daun kedelai ada dua macam, yaitu
bulat (oval) dan lancip (lanceolate) (Adisarwanto, 2005).
Bunga kedelai termasuk bunga sempurna, artinya dalam setiap bunga
terdapat alat kelamin jantan dan alat kelamin betina. Penyerbukan terjadi pada

saat mahkota bunga masih menutup, sehingga kemungkinan terjadinya kawin


silang secara alami sangat kecil. Bunga terletak pada ruas-ruas batang, berwarna
ungu atau putih. Tidak semua bunga dapat menjadi polong walaupun telah terjadi
penyerbukan secara sempurna (Suprapto, 2001).
Polong kedelai pertama terbentuk sekitar 7-10 hari setelah munculnya bunga
pertama. Panjang polong muda sekitar 1 cm, jumlah polong yang terbentuk pada
setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 1-10 buah dalam setiap
kelompok. Pada setiap tanaman, jumlah polong dapat mencapai lebih dari 50,
bahkan ratusan. Kecepatan pembentukan polong dan pembesaran biji akan
semakin cepat setelah proses pembentukan bunga berhenti. Ukuran dan bentuk
polong menjadi maksimal pada saat awal periode pemasakan biji. Hal ini
kemungkinan diikuti oleh perubahan warna polong, dari hijau menjadi kuning
kecoklatan pada saat masak (Adisarwanto, 2005). Biji kedelai berkeping dua yang
terbungkus oleh kulit biji. Embrio terletak di antara keping biji. Warna kulit biji
bermacam-macam, ada yang kuning, hitam, hijau atau coklat.
Varietas kedelai berbiji kecil, sangat cocok ditanam di lahan dengan
ketinggian 0,5-300 m dpl. Varietas kedelai berbiji besar cocok ditanam di lahan
dengan ketinggian 300-500 m dpl. Kedelai biasanya akan tumbuh baik pada
ketinggian lebih dari 500 m dpl sehingga tanaman kedelai sebagian besar tumbuh
di daerah yang beriklim tropis dan subtropis. Sebagai barometer iklim yang cocok
bagi kedelai adalah bila cocok bagi tanaman jagung. Bahkan daya tahan kedelai
lebih baik dari jagung. Tanaman kedelai dapat tumbuh baik di daerah yang
memiliki curah hujan sekitar 100-400 mm/bulan. Untuk mendapatkan hasil

optimal, tanaman kedelai membutuhkan curah hujan antara 100-200 mm/bulan


(Najiyati dan Danarti, 1999).
Kedelai dapat tumbuh pada kondisi suhu yang beragam. Suhu tanah yang
o

optimal dalam proses perkecambahan yaitu 30 C, bila tumbuh pada suhu yang
o

rendah (< 15 C), proses perkecambahan menjadi sangat lambat bisa mencapai 2
minggu. Hal ini dikarenakan perkecambahan biji tertekan pada kondisi
kelembapan tanah tinggi, banyaknya biji yang mati akibat respirasi air dari dalam
biji yang terlalu cepat (Adisarwanto, 2005). Suhu yang dikehendaki tanaman
o

kedelai antara 21-34 C, akan tetapi suhu optimum bagi pertumbuhan tanaman
o

kedelai 23-27 C. Pada proses perkecambahan benih kedelai memerlukan suhu


o

yang cocok sekitar 30 C.


Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lembab, tetapi tidak becek.
Kondisi seperti ini dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong.
Kekurangan air pada masa pertumbuhan akan menyebabkan tanaman kerdil,
bahkan dapat menyebabkan kematian apabila kekeringan telah melampaui batas
toleransinya. Untuk dapat tumbuh dengan baik kedelai menghendaki tanah yang
subur, gembur, kaya akan unsur hara dan bahan organik. Bahan organik yang
cukup dalam tanah akan memperbaiki daya olah dan juga merupakan sumber
makanan bagi jasad renik yang pada akhirnya akan membebaskan unsur hara
untuk pertumbuhan tanaman. Tanah dengan kadar liat tinggi sebaiknya dilakukan
perbaikan drainase dan aerasi sehingga tanaman tidak kekurangan oksigen dan
tidak tergenang air waktu hujan besar terjadi (Rianto et al., 1997).

III.

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat penyiram, kertas
label, penggaris, timbangan analitik, gelas ukur, laptop, kamera dan alat tulis.
Bahan yang dibutuhkan pada praktikum kali ini adalah tanah, air, polibag dan 3
varietas kedelai yaitu Agromulyo, Burangrang serta Wilis.
B. Rancangan Lapangan

Pada praktikum ini digunakan rancangan acak kelompok dengan tiga


ulangan. Faktor yang dicoba adalah tiga varietas padi dan dua taraf cekaman
kekeringan. Tiga varietas kedelai yang dicoba adalah Agromulyo (V1),
Burangrang (V2) serta Wilis (V3). Dua taraf cekaman genangan yang dilakukan
yaitu tanpa cekaman genangan/kontrol (G0) dan cekaman genangan (G1). Jadi
pada praktikum ini terdapat enam kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali.
Setiap kombinasi perlakuan menggunakan tiga polibag. Total keseluruhan polibag
yang digunakan adalah 18 polibag. Percobaan praktikum kali ini dilakukan
mengunakan polibag di rumah kaca. Adapun denah percobaannya sebagai berikut:
V1
U3
V1
U2
V1
U1

V2
U3
V2
U2
V2
U1
G0

V3
U3
V3
U2
V3
U1

V1
U3
V1
U2
V1
U1

V2
U3
V2
U2
V2
U1
G1

V3
U3
V3
U2
V3
U1

Ket: V1 = Agromulyo
V2 = Burangrang
V3 = Wilis
U1- U3 = Ulangan 1-3

C. Prosedur Kerja

1. Tanah diisikan ke dalam 18 polibag, lalu disiram air hingga kapasitas


lapang.
2. Polibag yang telah diisi dibagi menjadi dua kelompok (G0 dan G1), masingmasing sembilan polibag.
3. Polibag disusun sesuai dengan denah percobaan.
4. Kemudian benih ditanam sesuai susunan denah percobaan, setiap polibag
ditanami satu benih.
5. Setelah tanaman berumur tujuh hari tanaman diberi perlakuan, G0 disiram
hingga kapasitas lapang dan G1 disiram hingga tergenang setinggi 3cm.
6. Kemudian tanaman juga diukur tingginya, pengukuran dilakuakan
bersamaan dengan pemberian perlakuan.
7. Perlakuan dalam rentang waktu 25 Maret 2014 sampai 1 Mei 2014.
8. Pada tanggal 1 Mei 2014 dilakukan destruksi yaitu tanaman dicabut dan
diukuran panjang tajuk dan akarnya. Lalu dilanjutkan tanggal 2 Mei 2014
untuk ditimbang berat tajuk, akar, tanaman serta volume akarnya.

D. Analisis Data

Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam. Jika


terdapat perbedaan maka diuji lanjut menngunakan uji BNT. Data hasil
pengamatan juga diuji Nilai Relatifnya (NR).

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Terlampir

B. Pembahasan

Genangan berpengaruh terhadap proses fisiologis dan biokimiawi antara lain


respirasi, permeabilitas akar, penyerapan air dan hara, penyematan N. Genangan
menyebabkan kematian akar di kedalaman tertentu dan hal ini akan memacu
pembentukan akar adventif pada bagian di dekat permukaan tanah pada tanaman
yang tahan genangan (Staf Lab Ilmu Tanaman, 2008).
Dampak genangan: menurunkan pertukaran gas antara tanah dan udara yang
mengakibatkan menurunnya ketersediaan O2 bagi akar, menghambat pasokan
O2 bagi akar dan mikroorganisme (mendorong udara keluar dari pori tanah
maupun menghambat laju difusi). Besarnya kerusakan tanaman sebagai dampak
genangan tergantung pada fase pertumbuhan tanaman. Fase yang peka genangan
fase perkecambahan, fase pembungaan, dan pengisian.
Tanaman yang tergenang dalam waktu singkat akan mengalami kondisi
hipoksia (kekurangan O2). Hipoksia biasanya terjadi jika hanya bagian akar
tanaman yang tergenang (bagian tajuk tidak tergenang) atau tanaman tergenang
dalam periode yang panjang tetapi akar berada dekat permukaan tanah. Jika
tanaman tergenang seluruhnya, akar tanaman berada jauh di dalam permukaan

tanah dan mengalami penggenangan lebih panjang sehingga tanaman berada pada
kondisi anoksia (keadaan lingkungan tanpa O2). Kondisi anoksia tercapai 68 jam
setelah penggenangan, karena O2terdesak oleh air dan sisa O2 dimanfaatkan oleh
mikroorganisme. Pada kondisi tergenang, kandungan O2 yang tersisa dalam tanah
lebih cepat habis bila terdapat tanaman karena laju difusi O2 di tanah basah 10.000
kali lebih lambat dibandingkan dengan di udara (Dennis et al. 2000).
Pengaruh penggenangan ditunjukkan oleh daun yang menguning,
pengguguran daun pada buku terbawah, kerdil, serta berkurangnya berat kering
dan hasil tanaman (Scott, 1989).
Mekanisme toleransi terhadap genangan
Ketahanan tanaman terhadap genangan dapat berupa penghindaran
kekurangan oksigen dari daun ke akar, dan kemampuan tanaman untuk
melakukan metabolisme atau dengan kata lain pada kondisi tersebut respirasi
berlangsung

secara

anaerob.

Dalam

kondisi

tergenang

tanaman

akan

mengaktifkan proses fermentasi utama yaitu etanol, asam laktat yang akan
membentuk alanin dari glutamat dan piruvat. Menurut VanToai et al, kedelai
mersepon kondisi genangan dengan mengaktifkan metabolisme atau pemulihan
secara cepat setelah terjadi cekaman genangan diikuti dengan aklimatisasi
(penyesuaian diri). Waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan lebih cepat 2-4 hari
pada kedelai yang toleran dibandingkan dengan yang peka. Hal ini menunjukkan
pada proses penyesuaian diri pada genotipe yang toleran lebih cepat dibandingkan
dengan yang peka.

Tanaman yang mampu beradaptasi pada kondisi tergenang dicirikan oleh


kemampuan mengatasi stres dengan membentuk aerenkim, meningkatkan gula
yang dapat larut, memperbanyak aktivitas glikolitik dan enzim fermentasi serta
mekanisme ketahanan antioksidan untuk mengatasi kondisi setelah hipoksia dan
anoksia (Sairam et al, 2008).
Menurut Bacanamwo dan Purcell (1999), kedelai beradaptasi terhadap
genangan dengan mengalokasikan fotosintesis dengan cara mengembangkan akar
adventif dan membentuk aerenkim yang bergantung pada fiksasi N2.
Pada praktikum Pemuliaan Tanaman Toleran Lingkungan Rawan acara
cekaman genangan digunakan tiga varietas berbeda agar dapat dibandingkan dan
diketahui varietas mana yang merupakan varietas tanaman kedelai yang toleran
terhadap kondisi lingkungan tercekam genangan.
Berdasarkan BPPI (2014), dibawah ini deskripsi varietas kedelai yang
digunakan pada praktikum ini :
Deskripsi Varietas Agromulyo
Dilepas Tahun

: 1998

Nomor galur

:-

Asal

: Introduksi dari Thailand, oleh PT. Nestle Indonesia

Daya hsil

: 1,5 2,0 t/ha

Tipe tumbuh

: Determinit

Umur berbunga

: 35 hari

Umur panen

: 80-82 hari

Tinggi tanaman

: 40 cm

Percabanagn

: 3-4 cabang dari batang utama

Bobot 100 biji

: 16,0 g

Kerebahan

: tahan rebah

Ketahanan penyakit

: Toleran Karat Daun

Pemulia

: Rodiah S., C. Ismail, Gatot Sunyoto dan Sumarno

Benih Penjenis (BS) : dirawat dan diperbanyak oleh BPTP Karangploso, Malang
Deskripsi Varietas Burangrang
Dilepas Tahun

: 1999

Nomor galur

: C1-I-2/KRP-3

Asal

: Segregat silangan alam, dari tanaman petani di Jember

Daya hsil

: 1,6 2,5 t/ha

Tipe tumbuh

: Determinit

Umur berbunga

: 35 hari

Umur panen

: 80-82 hari

Tinggi tanaman

: 60-70 cm

Percabanagn

: 1-2 cabang dari batang utama

Bobot 100 biji

: 17,0 g

Kerebahan

: tidak mudah rebah

Ketahanan penyakit

: Toleran Karat Daun

Pemulia

: Rodiah S., Ono Sutrisno, Gatot Kustiyono, Soegito dan


Sumarno

Benih Penjenis (BS) : dipertahankan di BPTP Karangploso, Balitkabi dan PTP


Bogor

Deskripsi Varietas Wilis


Dilepas Tahun

: 21 Juli 1983

Nomor galur

: TP240/519/Kpts/7/1983

Asal

: Keturunan persilangan Obra x No. 1682

Daya hasil

: 1,6 t/ha

Tipe tumbuh

: Determinit

Umur berbunga

: 39 hari

Umur panen

: 85-90 hari

Tinggi tanaman

: 50 cm

Bobot 100 biji

: 10 g

Kerebahan

: tahan rebah

Ketahanan penyakit

: Agak tahan Karat Daun dan virus

Pemulia

: Rodiah, Darman M Arsyad, Ono Sutrisno dan Sumarno

Benih Penjenis (BS) : dirawat Dipertahankan di Balittan Bogor dan Malang


Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat dilihat bahwa Agromulyo
merupakan varietas yang toleran cekaman genangan, hal ini dapat dilihat
diliteratur (deskripsi varietas) bahwa Agromulyo memiliki tinggi tanaman 40 cm,
dan pada pengamatan yang dilakukan tinggi tanaman Agromulyo 39 cm. Hal ini
menunjukan bahwa tinggi tanaman (pertumbuhan) kedelai varietas Agromulyo
tidak megalami penurunan yang berarti walaupun tercekam genangan.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

Agromulyo merupakan varietas yang toleran cekaman genangan, hal ini


dapat dilihat dari tinggi tanaman Agromulyo 39 cm (pada G1) . Hal ini
menunjukan bahwa tinggi tanaman (pertumbuhan) kedelai varietas Agromulyo
tidak megalami penurunan yang berarti walaupun tercekam genangan.

DAFTAR PUSTAKA

AAK, 1991. Kedelai. Kanisius. Yogyakarta.


Adisarwanto, T; 2005. Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta.
Bacanamwo, M. And L.C. Purcell. 1999. Soybean Root Morfological and
Anatomical Traits Associated with Acclimation to Flooding. Crop Sci. 39:
143-149.
Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian. 2005. Rencana Aksi
Pemantapan Ketahanan Pangan 2005-2010. Lima Komoditas; Beras,
Jagung, Kedelai, Gula, dan Daging Sapi. Balitbangtan Deptan, Jakarta
BPPI. 2014. DESKRIPSI VARIETAS UNGGUL KEDELAI 19182008.
http://203.176.181.70/bppi/lengkap/deskripsi_kedelai.pdf.
Dennis, E.S., R. Dolferus, M. Ellis, M. Rahman, Y. Wu, F.U Hoeren, A. Grover,
K.P. Ismond, A.G. Good, and W.J. Peacock. 2000. molecular strategies for
improving waterlogging tolerance in plants. J. Exp. Bot. 51: 8997.
Hidayat.
2002.
Cekaman
Pada
Tumbuhan.http://www.scribd.com/document_downloads/
13096496?extension=pdf&secret_password=. Diakses pada tanggal 5 Juni
2011.
Kawano N,Ito O, Sakagami J. 2009. Morphological and physiological responses
of rice seedlings to complete submergence (flash flooding). Ann Bot. 103
(2): 161-169.
Linkemer, G., and Musgrave. 1998 Waterlogging effect on growth and yield
components in late planted soybean. Crop Sci. 38 (6): 1576-1584.
Najiyati, S. dan Danarti, 1999. Palawija Budidaya dan Analisa Usaha Tani.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Rakhman, A.M dan D. Tambas. 1986. Pengaruh Inokulasi Rhizobium japonicum
Frank., Pemupukan Molibdenum dan Kobalt terhadap Produksi dan Jumlah
Bintil Akar Tanaman Kedelai pada Tanah Podsolik Plintik. Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudidayaan
Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang. Hal 7, 9.
Riche, C.J. 2004. Identification of soybean cultivars tolerance to waterlogging
through analyses of leaf nitrogen concentration. Lousiana State University
Electronic
Thesis
and
Dissertation
Collection.

http://etd.lsu.edu/docs/available/etd-04132004154236/unrestricted/Riche_thesis.pdf.
Sairam, R.K., D. Kamutha, K. Ezhilmathi, P.S. Deshmukh, and G.C. Srivastava.
2008. Phisiology and Biochemistry of Water Logging Tolerance in Plants.
Biol Plant (52): 401-412.
Sairam, R.K., D. Kumutha, and K. Ezhilmathi. 2009. Waterlogging tolerance:
nonsymbiotic haemoglobin-nitric oxide homeostatis and antioxidants. Curr.
Sci. 96(5): 674682.
Scott, H.D., J. De Angulo, M.B. Daniels, and L.S. Wood. 1989. Flood duration
effect on soybean growth and yield. Agronomy. 81: 631636.
Sipayung,
Rosita.
2006. Cekaman
Garam. http://library.usu.ac.id/download/fp/bdp-rosita2.pdf.
Staf lab ilmu tanaman, 2008. Hubungan Suhu dan Pertumbuhan Tanaman.
http://www..faperta.ugm.ac.id/buper/lab/kuliah/fistan/7_hubungan_suhu_tan
aman.ppt.
Suprapto.H.S. 2001. Bertanam Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta.
Vantoai, T.T., A.F. Beuerlein, S.K. Scjimit Thenner, and S.K. St Martin. 1994.
Genetic Variability for Flooding to Lerance in Soybeans. Crop Sci. 34:
1112-1115.

LAPORAN PRAKTIKUM
PEMULIAAN TANAMAN TOLERAN LINGKUNGAN RAWAN
ACARA III
CEKAMAN SALINITAS

Oleh :
Putri Holaw Hening Pratiwi
NIM

A1L111012

Rombongan E1
Kelompok 1

KEMENTERIANPENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014

I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kebutuhan beras nasional pada tahun 2007 mencapai 30,91 juta ton dengan
asumsi konsumsi per kapita rata-rata 139 kg per tahun. Indonesia dengan rata-rata
pertumbuhan penduduk 1,7 persen per tahun dan luas areal panen 11,8 juta hektar
dihadapkan pada ancaman rawan pangan pada tahun 2030 (Pasaribu, 2006).
Untuk

menghadapi

keadaan

tersebut

diperlukan

tindakan

untuk

meningkatkan produktivitas padi nasional salah satunya dapat dilakukan dengan


cara extensifikasi lahan pertanian. Namun, lahan-lahan yang tersisa untuk
extensifikasi biasanya merupakan lahan-lahan marginal yang tidak sesuai dengan
kebutuhan hidup tanaman. Indonesia diperkirakan memiliki 40-43 juta ha lahan
bermasalah dan 13.2 juta ha dari lahan itu terpengaruh salinitas. Lahan-lahan itu
pada umumnya lahan pantai, muara sungai, dan delta yang dipengaruhi oleh
intrusi air laut.
Peningkatan produksi padi ke depan akan banyak menghadapi tantangan
yang semakin kompleks, berkaitan dengan cekaman unsur hara dan iklim.
Permasalahan yang tidak kalah penting adalah kurangnya varietas yang toleran
terhadap cekaman lingkungan, terutama cekaman kadar garam (salin).
Peningkatan produksi padi di lahan pasang surut khususnya lahan marginal
(salinitas tinggi) merupakan salah satu alternatif yang potensial untuk
dikembangkan.

B. TUJUAN
1. Mengetahui respon dan perubahan pertumbuhan tanaman dalam kondisi
cekaman garam.
2. Mengetahui genotipe tanaman yang toleran terhadap cekaman garam.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Salinitas selalu diasosiasikan dengan kadar NaCl dalam tanah. Adanya kadar
salinitas terlarut pada tanah menyebabkan proses fotosintesis tanaman terganggu.
Na+dan Cl- dapat menghambat fotosintesis dan asimilasi karbohidrat. Namun
demikian, gejala kerusakan akibat Cl- muncul lebih awal ketimbang Na+ (Mc
Kersie dan Leshem, 1994).
Garam (NaCl) mempunyai nilai osmosis yang tinggi. Kimball (1983),
menyatakan bahwa osmosis adalah difusi air melalui selaput yang permeabel
secara differensial dari satu konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Keadaan
osmosis tinggi (mengandung garam) pada sel tumbuhan menyebabkan cekaman
berupa plasmolisis (penyusutan) di dalam sel tumbuhan, kecenderungan untuk
terjadinya plasmolisis merupakan perwujudan kisaran toleransi yang sempit.
Menurut Adisyputra (2004), biji, telur, embrio termasuk kecambah mempunyai
kisaran toleransi yang lebih sempit dibandingkan pada fase dewasa.
Stres garam terjadi dengan terdapatnya salinitas atau konsentrasi garamgaram terlarut yang berlebihan dalam tanaman. Stres garam ini umumnya terjadi
dalam tanaman pada tanah salin. Stres garam meningkat dengan meningkatnya
konsentrasi garam hingga tingkat konsentrasi tertentu yang dapat mengakibatkan
kematian tanaman. Garam-garam yang menimbulkan stres tanaman antara lain
ialah NaCl, NaSO4, CaCl2, MgSO4, MgCl2 yang terlarut dalam air (Sipayung,
2006). Stres akibat kelebihan Na+ dapat mempengaruhi beberapa proses fisiologi
dari mulai perkecambahan sampai pertumbuhan tanaman (Fallah, 2006).

Salinitas tidak ditentukan oleh garam NaCl saja tetapi oleh berbagai jenis
garam yang berpengaruh dan menimbulkan stres pada tanaman. Tanaman
mengalami stres garam bila konsentrasi garam yang berlebih cukup tinggi
sehingga menurunkan potensial air sebesar 0,05 0,1 Mpa. (Sipayung, 2006).
Salinitas adalah sebuah proses dimana garam yang terlarut dalam air
terakumulasi dalam tanah. Kelebihan NaCl atau garam lain dapat mengancam
tumbuhan karena:
1.

Dapat menurunkan potensial air larutan tanah, garam dapat

menyebabkan kekurangan air pada tumbuhan meskipun tanah tersebut


mengandung banyak sekali air. Hal ini karena potensial air lingkungan yang lebih
negatif dibandingkan dengan potensial air jaringan akar, sehingga akar akan
kehilangan air bukan menyerapnya.
2.

Pada tanah bergaram, natrium dan ion-ion tertentu lainnya dapat

menjadi racun bagi tumbuhan jika konsentrasinya relatif tinggi. Membran sel akar
yang selektif permeabel akan menghambat pengambilan sebagian besar ion yang
berbahaya, akan tetapi hal ini akan memperburuk permasalahan pengambilan air
dari tanah yang kaya akan zat terlarut (Campbell, 2003).
Salinitas menekan proses pertumbuhan tanaman dengan efek yang
menghambat pembesaran dan pembelahan sel, produksi protein serta penambahan
biomasa tanaman. Tanaman yang mengalami stres garam umumnya tidak
menunjukkan respon dalam bentuk kerusakan langsung tetapi pertumbuhan yang
tertekan dan perubahan secara perlahan. Gejala pertumbuhan tanaman pada tanah
dengan tingkat salinitas yang cukup tinggi adalah pertumbuhan yang tidak normal

seperti daun mengering di bagian ujung dan gejala khlorosis. Beberapa tumbuhan
dapat merespon terhadap salinitas tanah yang memadai dengan cara menghasilkan
zat terlarut kompatibel, yaitu senyawa organik yang menjaga potensial air larutan
tanah, tanpa menerima garam dalam jumlah yang dapat menjadi racun. Namun
demikian, sebagian besar tanaman tidak dapat bertahan hidup menghadapi
cekaman garam dalam jangka waktu yang lama kecuali pada tanaman halofit,
yaitu tumbuhan yang toleran terhadap garam dengan adaptasi khusus seperti
kelenjar garam, yang memompa garam keluar dari tubuh melewati epidermis daun
(Campbell, 2003).
Deskripsi Varietas Padi Yang Digunakan Dalam Praktikum Ini
Nama Varietas

: Ciherang

Tahun

: 2000

Tetua

: IR 18349-53-1-3-1-3/IRI 19661-131-3-1///IR 64////IR 64

Rataan Hasil

: 5-7 t/ha

Pemulia

: Tarjat T., Z. A. Simanulang, E. Sumadi, Aan A. Daradjat

Nomor pedigri

: S3383-1d-Pn-41-3-1

Golongan

: Cere

Umur tanaman

: 116-125 hari

Bentuk tanaman

: Tegak

Tinggi tanaman

: 107-115 cm

Anakan produktif

: 14-17 batang

Warna kaki

: Hijau

Warna batang

: Hijau

Warna daun telinga

: Putih

Warna lidah daun

: Putih

Warna daun

: Hijau

Muka daun

: Kasar pada sebelah bawah

Posisi daun

: Tegak

Daun bendera

: Tegak

Bentuk gabah

: Panjang ramping

Warna gabah

: Kuning bersih

Kerontokan

: Sedang

Kerebahan

: Sedang

Tekstur nasi

: Pulen

Bobot 1000 butir

: 27-28 gram

Kadar amilosa

: 23 %

Ketahanan hama

: Tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3

Ketahanan penyakit

: Tahan terhadap bakteri hawar daun (HDB) strain III dan


IV

Anjuran tanam

: Cocok di tanam pada musim hujan dan kemarau dengan


ketinggian dibawah 500 m dpl (Puslittan.bogor.net.
2014)

Nama Varietas

: Inpago Unsoed 1

Tahun

: 2011

Tetua

: Poso / Mentik Wangi

Rataan Hasil

: 4,9 ton/ha

Nomor pedigri

: UNSOED G10

Golongan

: Cere

Umur tanaman

: +/- 110 hari

Bentuk tanaman

: Tegak

Tinggi tanaman

: +/-107cm

Anakan produktif

: +/- 16 batang

Muka daun

: Kasar

Posisi daun

: Tegak

Daun bendera

: Tegak

Kerontokan

: Sedang

Kerebahan

: Sedang

Tekstur nasi

: Pulen

Bobot 1000 butir

: +/- 27,7 gram

Ketahanan hama

: tahan terhadap hama, agak tahan terhadap wereng batang


coklat biotipe 1, rentan terhadap wereng batang coklat
biotipe 2 dan 3.

Ketahanan penyakit

: tahan terhadap penyakit, tahan terhadap penyakit blas ras


133.

Ketahanan abiotik

: agak toleran kekeringnan, toleran sampai sedang


terhadap keracunan besi (Fe).

Anjuran tanam

: Baik untuk ditanam di lahan kering dataran rendah


sampai sedang < 700 m dpl (Litbang.deptan.go.id, 2014)

III.

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat penyiram, kertas
label, penggaris, timbangan analitik, gelas ukur, laptop, kamera dan alat tulis.
Bahan yang dibutuhkan pada praktikum kali ini adalah tanah, air, polibag dan 3
varietas padi yaitu Inpago Unsoed 1, Fe37 serta Ciherang.
B. Rancangan Lapangan

Pada praktikum ini digunakan rancangan acak kelompok dengan tiga


ulangan. Faktor yang dicoba adalah tiga varietas padi dan dua taraf cekaman
kekeringan. Tiga varietas padi yag dicoba adalah Inpago Unsoed 1 (V1), Fe37
(V2) serta Ciherang (V3). Dua taraf cekaman kekeringan yang dilakukan yaitu
tanpa cekaman garam/kontrol (S0) dan cekaman garam (S1). Jadi pada praktikum
ini terdapat enam kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali. Setiap kombinasi
perlakuan menggunakan tiga polibag. Total keseluruhan polibag yang digunakan
adalah 18 polibag. Percobaan praktikum kali ini dilakukan mengunakan polibag di
rumah kaca. Adapun denah percobaannya sebagai berikut:
V1
U3
V1
U2
V1
U1

V2
U3
V2
U2
V2
U1
S0

V3
U3
V3
U2
V3
U1

V1
U3
V1
U2
V1
U1

V2
U3
V2
U2
V2
U1
S1

V3
U3
V3
U2
V3
U1

Ket: V1= Inpago Unsoed 1


V2 = Fe37
V3 = Ciherang
U1- U3 = Ulangan 1-3

C. Prosedur Kerja

1. Tanah diisikan ke dalam 18 polibag, lalu disiram air hingga kapasitas


lapang.
2. Polibag yang telah diisi dibagi menjadi dua kelompok (S0 dan S1),
masing-masing sembilan polibag.
3. Polibag disusun sesuai dengan denah percobaan.
4. Kemudian benih ditanam sesuai susunan denah percobaan, setiap polibag
ditanami dua benih.
5. Setelah tanaman berumur tujuh hari tanaman diberi perlakuan, S0 disiram
air, sedangkan S1 disiram larutan salin/garam.
6. Kemudian tanaman juga diukur tingginya, pengukuran dilakuakan
bersamaan dengan pemberian perlakuan.
7. Perlakuan diberikan sebanyak tujuh kali dalam rentang waktu 27 Maret
2014 sampai 1 Mei 2014.
8. Pada tanggal 1 Mei 2014 dilakukan destruksi yaitu tanaman dicabut dan
diukuran panjang tajuk dan akarnya. Lalu dilanjutkan tanggal 2 Mei 2014
untuk ditimbang berat tajuk, akar, tanaman serta volume akarnya.

D. Analisis Data

Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam. Jika


terdapat perbedaan maka diuji lanjut menngunakan uji BNT. Data hasil
pengamatan juga diuji Nilai Relatifnya (NR).

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Terlampir

B. Pembahasan

Salinitas adalah sebuah proses dimana garam yang terlarut dalam air
terakumulasi dalam tanah. Kelebihan garam dapat menghalangi pertumbuhan
tanaman dengan cara menghalangi kemampuan tanaman untuk menyerap air.
Salinitas dapat terjadi secara natural karena kondisi yang disebabkan oleh praktek
pengolahan dan manajemen lahan pertanian salah satunya adalah praktek irigasi
(Materechera, 2011).
Proses yang mempengaruhi keseimbangan air tanah dapat meberikan efek
pada pergerakan dan akumulasi kadar garam pada tanah. Proses-proses tersebut
antara lain adalah proses hidrologi, iklim, irigasi, peresapan (drainage), karakter
akar tanaman, dan praktek pertanian yang diterapkan. Proses salinisasi pada
permukaan tanah terjadi jika pada kondisi yang bersamaan pada munculnya garam
terlarut seperti sulfat, natrium, kalium yang terdapat pada tanah.
Adanya kadar garam yang tinggi pada tanah memiliki efek yang mirip
dengan kekeringan dimana membuat air tanah menjadi kurang tersedia untuk
diambil oleh tanaman. Stres garam terjadi dengan terdapatnya salinitas atau
konsentrasi garam-garam terlarut yang berlebihan dalam tanaman. Stres garam ini

umumnya terjadi dalam tanaman pada tanah salin. Stres garam meningkat dengan
meningkatnya konsentrasi garam hingga tingkat konsentrasi tertentu yang dapat
mengakibatkan kematian tanaman. Garam-garam yang menimbulkan stres
tanaman antara lain ialah NaCl, NaSO4, CaCl2, MgSO4, MgCl2 yang terlarut
dalam air (Sipayung, 2006). Stres akibat kelebihan Na+ dapat mempengaruhi
beberapa proses fisiologi dari mulai perkecambahan sampai pertumbuhan
tanaman (Fallah, 2006).
Pertumbuhan sel tanaman pada tanah salin memperlihatkan struktur yang
tidak normal. Penyimpangan yang terjadi meliputi kehilangan integritas membran,
kerusakan lamella, kekacauan organel sel, dan akumulasi Kalsium Oksalat dalam
sitoplasma, vakuola, dinding sel dan ruang antar sel. Kerusakan struktur ini akan
mengganggu transportasi air dan mineral hara dalam jaringan tanaman (Sipayung,
2006).
Setiap jenis tanaman mempunyai tanggapan yang berbeda-beda terhadap
salinitas. Tanaman padi yang keracunan garam menunjukan gejala visual
pertumbuhan yang tidak merata dan pertumbuhan terhambat. Tanaman yang
dipengaruhi oleh salinitas dapat mengalami pengkerdilan. Hal ini disebabkan oleh
beberapa hal yaitu menurunnya tekanan osmosis sel karena potensial air tanah
yang rendah atau karena terganggunya proses pengangkutan air dan hara ke
pucuk, ketidakseimbangan hormonal dan terganggunya proses fotosintesis. Jika
tanaman dalam kondisi tercekam, maka kadar hormon dalam jaringan akan
berubah. Hal ini memungkinkan tanaman untuk tetap tumbuh pada keadaan yang
kurang sesuai. Organ yang pertama dipengaruhi oleh cekaman adalah organ yang

terletak paling jauh dari organ yang terkena cekaman. Pada tanaman glikofit
pertumbuhan akar kurang dipengaruhi oleh salinitas dibanding pertumbuhan
pucuk (batang, daun dan buah). Faktor hormonal yang diduga berperan dalam
perlindungan akar adalah sitokinin. Sitokinin berfungsi untuk mencegah
kerusakan pada membran sel akar (Salisbury and Ross, 1995).
Daun merupakan organ terpenting dari tanaman yang menentukan
kelengkapan suatu tanaman karena di dalam daun terjadi proses fotosintesis,
respirasi dan transpirasi. Penurunan lebar daun yang merupakan adaptasi tanaman
terhadap lingkungan salin berakibat pada penurunan kemampuan fotosintesis. Hal
tersebut terjadi karena lebar daun yang menyempit berarti penurunan kemampuan
tanaman untuk memperoleh energi sinar matahari guna proses fotosintesis, namun
demikian penurunan kemampuan fotosintesis juga dipengaruhi kadar garam. Jika
tanaman tercekam salinitas meskipun pada kosentrasi garam yang rendah, maka
penurunan kemampuan sel-sel daun untuk mengikat CO2 serta laju pengangkutan
air dan unsur-unsur hara akan terjadi. Salinisasi mengakibatkan daun akan
memberikan tanggapan dengan melakukan penutupan stomata, sehingga terjadi
penyesuaian antara besar air yang diserap oleh akar dengan air yang hilang
melalui tranpirasi. Penutupan stomata tersebut menyebabkan pasokan CO2 untuk
keperluan fotosintesis mengalami penurunan. Dengan penurunan asimilasi CO2
berarti pula terjadi penurunan produksi bahan kering yang akan digunakan untuk
pelebaran daun (Raghravendra, 1991).
Cekaman garam dapat menimbulkan kerusakan morfologis pada daun.
Gejala awal yang tampak adalah daun mengalami klorosis, kemudian mulai

tampak layu melengkung ke atas atau ke bawah (cuping) serta tampak menyempit
dan tebal seperti gejala sukulensi. Selanjutnya daun mulai tampak memucat
disertai nekrosis pada ujung dan tepi daun. Daun menjadi lebih cepat kering dan
pecah-pecah kemudian gugur
Sesuai dengan beberapa literatur diatas, Tanaman padi yang diberi perlakuan
larutan garam (S1) pada percobaan ini mengalami gejala yang mirip dengan gejala
pada cekaman kekeringan. Tinggi tanaman padi, panjang akar juga mengalami
pengerdilan dan daun tanaman padi juga mengering, bahkan ada beberapa yang
mati.
Larutan salin/garam dibuat dengan cara melarutkan 20 gram garam NaCl ke
dalam air sebanyak 5 Liter. Kemuadian larutan tersebut disiramkan pada 9 polibag
polibag blok S1.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan Varietas paling peka terhadap
cekaman salin adalah Fe37, pada varietas Fe37 dalam blok S1 dua polibag (dua
ulangan) tanaman mati. Selain itu tanaman yang hidup pun kerdil. Sedangkan
varietas yang paling toleran adalah Inpago Unsoed, hal ini sesuai dengan literatur.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

Varietas paling peka terhadap cekaman salin adalah Fe37, pada varietas
Fe37 dalam blok S1 dua polibag (dua ulangan) tanaman mati. Selain itu tanaman
yang hidup pun kerdil. Sedangkan varietas yang paling toleran adalah Inpago
Unsoed.

DAFTAR PUSTAKA

Adisyahputra, R dan Dwi. 2004. Karakterisasi Sifat Toleransi Terhadap Cekaman


Kering Kacang Tanah (Arachis hipogea. L) Varietas Nasional Pada Tahap
Perkecambahan. (On-line). http://pk.ut.ac.id/Jmst/2007/adisyahputra.
Campbell et al. 2003. Biologi Jilid 2. Erlangga, Jakarta.
Fallah, A.F. 2006. Perspektif Pertanian Dalam Lingkungan Yang Terkontrol. (Online). http://io.ppi jepang.org.
Kimball. 1983. Biologi Jilid 1. Bandung. IPB. Hal 114-116.
Litbang.deptan.go.id.
2014.
Deskripsi
Varietas
http://www.litbang.deptan.go.id/varietas/one/795/.

Padi.

Online.

Materechera S.A. 2011. Soil Salinity in Irrigated fields used for urban agriculture
under a semi-arid environment of South Africa. African Journal of
Agricultural Research Vol. 6(16), pp. 3747-3754.
McKersie B.D. dan Leshem Y.Y. 1994. Stress and Stress Cooping in Cultivated
Plants. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.
Pasaribu B. 2006. Rancangan undang-undang lahan pangan abadi. Tidak
memperkenankan konversi lahan pangan. Sinar Tani 3:8-14.
Puslittan.bogor.net. 2014. Deskripsi Padi Varietas Ciherang. Online.
http://www.puslittan.bogor.net/index.php?bawaan=varietas/varietas_detail
komoditas=05021&id=Ciherang&pg=1&varietas=1.
Raghravendra, A.S. 1991. Physiologyof Trees. Willey and Sons Publ.. New York
Salisbury, F.B., dan C.W. Ross. 1995. Fisiologi tumbuhan. Jilid 1 Terjemahan
Diah R. Lukman dan Sumaryo. ITB, Bandung.

Sipayung,
R.
2006.
Cekaman
Garam.
(Online).http://library.usu.ac.id/download/fp/bdp-rosita2.pdf diakses 25 Mei
2012

LAPORAN PRAKTIKUM
PEMULIAAN TANAMAN TOLERAN LINGKUNGAN RAWAN
ACARA IV
CEKAMAN CAHAYA (INTENSITAS CAHAYA RENDAH)

Oleh :
Putri Holaw Hening Pratiwi
NIM

A1L111012

Rombongan E1
Kelompok 1

KEMENTERIANPENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014

I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kedelai merupakan komoditas pangan utama ketiga setelah padi dan jagung
yang menjadi komoditi prioritas dalam program Revitalisasi Pertanian (Badan
Litbang Pertanian Deptan, 2005). Hal ini karena jumlah penduduk Indonesia yang
cukup besar dan industri pangan berbahan baku kedelai yang berkembang cukup
pesat. Hal ini memicu meningkatnya permintaan pasar akan kedelai.
Namun, produksi kedelai Indonesia belum mencukupi permintaan tersebut.
Salah satu faktor yang membatasi produksi kedelai adalah cahaya. Cahaya
merupakan faktor esensial pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Cahaya
memegang peranan penting dalam proses fisiologis tanaman, terutama
fotosintesis, respirasi, dan transpirasi. Fotosintesis : sebagai sumber energi bagi
reaksi cahaya, fotolisis air menghasilkan daya asimilasi (ATP dan NADPH2).
Cahaya matahari ditangkap daun sebagai foton akan tetapi tidak semua
radiasi matahari mampu diserap tanaman, yang dapat ditangkap cahaya tampak
dengan panjang gelombang 400 s/d 700 nm. Faktor yang mempengaruhi jumlah
radiasi yang sampai ke bumi: sudut datang, panjang hari, komposis atmosfer.
Cahaya yang diserap daun 1-5% untuk fotosintesis, 75-85% untuk memanaskan
daun dan transpirasi. Peranan cahaya dalam respirasi adalah fotorespirasi dan
menaikkan suhu. Sedangkan peranan cahaya dalam transpirasi ialah transpirasi
stomater serta mekanisme bukaan stomata.

Adanya naungan kanopi dari tanaman yang lebih tinggi menyebabkan


cahaya menjadi kendala utama atau faktor pembatas bagi pertumbuhan dan
perkembangan kedelai. (Muhuria, 2007).
B. TUJUAN
1. Mengetahui respon dan perubahan pertumbuhan tanaman dalam kondisi
kekurangan cahaya.
2. Mengetahui genotipe tanaman yang toleran terhadap kondisi kekurangan
cahaya.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Pada kondisi kekurangan cahaya, tanaman berupaya untuk mempertahankan


agar fotosintesis tetap berlangsung dalam kondisi intensitas cahaya rendah.
Keadaan ini dapat dicapai apabila respirasi juga efisien (Sopandie et al., 2003).
Mohr dan Schopfer (1995) menyatakan kemampuan tanaman untuk beradaptasi
terhadap lingkungan ditentukan olehsifat genetik tanaman. Secara genetik,
tanaman yang toleran terhadap naunganmempunyai kemampuanadaptasi yang
tinggi terhadap perubahan lingkungan. Intensitas cahaya rendah merupakan suatu
kondisi yang membatasi cahaya yangditerima oleh tanaman yang ada dibawahnya
baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Menurut Salisbury

dan

Ross

(1992),

cahaya matahari mempunyai

peranan besar dalam proses fisiologi tanaman seperti fotosintesis, respirasi,


pertumbuhan

dan perkembangan, menutup

dan

membukanya stomata,

dan

perkecambahan tanaman. Cahaya matahari berperan penting dalam metabolisme


tanaman

hijau,

sehingga

ketersediaan cahaya matahari

menentukan tingkat

produksi tanaman. Tanaman hijau memanfaatkan cahaya matahari melalui proses


fotosintesis.

Intensitas cahaya rendahmerupakan salah faktor yang membatasi

proses fotosintesis.

Berdasarkan BPPI (2014), dibawah ini deskripsi varietas kedelai yang digunakan
pada praktikum ini :

Deskripsi Varietas Agromulyo


Dilepas Tahun

: 1998

Nomor galur

:-

Asal

: Introduksi dari Thailand, oleh PT. Nestle Indonesia

Daya hsil

: 1,5 2,0 t/ha

Tipe tumbuh

: Determinit

Umur berbunga

: 35 hari

Umur panen

: 80-82 hari

Tinggi tanaman

: 40 cm

Percabanagn

: 3-4 cabang dari batang utama

Bobot 100 biji

: 16,0 g

Kerebahan

: tahan rebah

Ketahanan penyakit

: Toleran Karat Daun

Pemulia

: Rodiah S., C. Ismail, Gatot Sunyoto dan Sumarno

Benih Penjenis (BS) : dirawat dan diperbanyak oleh BPTP Karangploso, Malang
Deskripsi Varietas Burangrang
Dilepas Tahun

: 1999

Nomor galur

: C1-I-2/KRP-3

Asal

: Segregat silangan alam, dari tanaman petani di Jember

Daya hsil

: 1,6 2,5 t/ha

Tipe tumbuh

: Determinit

Umur berbunga

: 35 hari

Umur panen

: 80-82 hari

Tinggi tanaman

: 60-70 cm

Percabanagn

: 1-2 cabang dari batang utama

Bobot 100 biji

: 17,0 g

Kerebahan

: tidak mudah rebah

Ketahanan penyakit

: Toleran Karat Daun

Pemulia

: Rodiah S., Ono Sutrisno, Gatot Kustiyono, Soegito dan


Sumarno

Benih Penjenis (BS) : dipertahankan di BPTP Karangploso, Balitkabi dan PTP


Bogor
Deskripsi Varietas Wilis
Dilepas Tahun

: 21 Juli 1983

Nomor galur

: TP240/519/Kpts/7/1983

Asal

: Keturunan persilangan Obra x No. 1682

Daya hasil

: 1,6 t/ha

Tipe tumbuh

: Determinit

Umur berbunga

: 39 hari

Umur panen

: 85-90 hari

Tinggi tanaman

: 50 cm

Bobot 100 biji

: 10 g

Kerebahan

: tahan rebah

Ketahanan penyakit

: Agak tahan Karat Daun dan virus

Pemulia

: Rodiah, Darman M Arsyad, Ono Sutrisno dan Sumarno

Benih Penjenis (BS) : dirawat Dipertahankan di Balittan Bogor dan Malang

III.

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat penyiram, kertas
label, penggaris, timbangan analitik, gelas ukur, laptop, kamera dan alat tulis.
Bahan yang dibutuhkan pada praktikum kali ini adalah tanah, air, polibag dan 3
varietas kedelai yaitu Agromulyo, Burangrang serta Wilis.
B. Rancangan Lapangan

Pada praktikum ini digunakan rancangan acak kelompok dengan tiga


ulangan. Faktor yang dicoba adalah tiga varietas padi dan dua taraf cekaman
kekeringan. Tiga varietas kedelai yang dicoba adalah Agromulyo (V1), Wilis (V2)
serta Burangrang (V3). Dua taraf cekaman cahaya yang dilakukan yaitu tanpa
cekaman cahaya (K0) dan cekaman cahaya (K1). Jadi pada praktikum ini terdapat
enam kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali. Setiap kombinasi perlakuan
menggunakan tiga polibag. Total keseluruhan polibag yang digunakan adalah 18
polibag. Percobaan praktikum kali ini dilakukan mengunakan polibag di rumah
kaca.
C. Prosedur Kerja
a. Tanah diisikan ke dalam 18 polibag, lalu disiram air hingga kapasitas
lapang.

b. Polibag yang telah diisi dibagi menjadi dua kelompok (K0 dan K1), masingmasing sembilan polibag.
c. Polibag disusun sesuai dengan denah percobaan.
d. Kemudian benih ditanam sesuai susunan denah percobaan, setiap polibag
ditanami satu benih.
e. Setelah tanaman berumur tujuh hari tanaman diberi perlakuan, K0 tidak
sungkup paranet dan K1 sungkup paranet .
f. Kedua perlakuan disiram.
g. Kemudian tanaman juga diukur tingginya, pengukuran dilakuakan
bersamaan dengan pemberian perlakuan.
h. Perlakuan dalam rentang waktu 25 Maret 2014 sampai 1 Mei 2014.
i. Pada tanggal 1 Mei 2014 dilakukan destruksi yaitu tanaman dicabut dan
diukuran panjang tajuk dan akarnya. Lalu dilanjutkan tanggal 2 Mei 2014
untuk ditimbang berat tajuk, akar, tanaman serta volume akarnya.

D. Analisis Data

Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam. Jika


terdapat perbedaan maka diuji lanjut menngunakan uji BNT. Data hasil
pengamatan juga diuji Nilai Relatifnya (NR).

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Terlampir

B. Pembahasan

Penggunaan paranet pada praktikum kali ini adalah untuk memeberi


naungan pada varietas kedelai yang sedang diuji. Kegunaan umum naungan ialah
untuk melindungi tanaman dari penyinaran matahari

yang berlebihan,

menyediakan kelembaban yang tinggi agar tidak terjadi kenaikan suhu yang
melampaui daya tahan tanaman, penguapan air terlalu cepat baik dari tubuh
tanaman maupun lewat permukaan tanah, melindungi tanaman dari tiupan angin
kencang dan curah hujan, menurunkan suhu maksimum pada siang hari dan
menaikkan suhu minimum pada malam hari.
Selain mempengaruhi intensitas radiasi matahari, naungan juga berpengaruh
terhadap kualitas cahaya yang diterima. Kualitas cahaya yang diterima tanaman
akan berbeda bila dikenakan pada filter yang berbeda atau warna naungan yang
berbeda. Kualitas cahaya yang ternaungi akan berbeda dengan kualitas cahaya
matahari langsung.
Kebutuhan intensitas cahaya berbeda untuk setiap jenis tanaman, dikenal
tiga tipe tanaman C3, C4, CAM. C3 memiliki titik kompensasi cahaya rendah dan
dibatasi oleh tingginya fotorespirasi, sedangkan C4 memiliki titik kompensasi

cahaya tinggi sampai cahaya terik dan tidak dibatasi oleh fotorespirasi. Intensitas
cahaya rendah menurunkan hasil kedelai (Asadi et al., 1997), jagung (Andre et al.,
1993), padi gogo(Supriyono et al.,2000), ubi jalar (Nurhayati et al., 1985), dan
talas (Caiger, 1986 ; Wirawati et al., 2002).
Naungan pada kedelai menunjukkan bahwa reduksi cahaya menjadi 40%
sejak perkecambahan sampai panen menurunkan jumlah buku, cabang, diameter
batang, jumlah polong, dan hasil biji kedelai. Perlakuan tersebut pada awal
pengisian polong menurunkan jumlah polong, hasil biji, dan kandungan protein
biji (Baharsjah et al., 1985).
Penelitian tentang naungan juga dilaporkan oleh Sunarlim (1985). Naungan
pada penelitian tersebut menyebabkan antara lain kenaikan kandungan klorofil
daun dan bobot 100 biji, penurunan jumlah polong, dan produksi biji pertanaman.
Penelitian ini menunjukkan bahwa naungan tidak mempengaruhi kadar N daun,
bobot spesifik daun secara nyata. Namun, penelitian ini belum membedakan
respon yang berbeda antar genotipe yang berbeda ketenggangannya.
Tanaman yang ternaungi akan terlihat warnanya lebih gelap atau hijau tua
hal ini di karenakan meningkatnya jumlah kandungan pigmen dan jumlah
kloroplas pada kloroplast. Tanaman terlihat lebih kurus dan memanjang, hal ini di
sebabkan oleh fotonasti yang meransang tanaman untuk mencari sumber cahaya
atau arah datang cahaya.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kemampuan tanaman dalam mengatasi cekaman intensitas cahaya rendah


pada umumnya tergantung pada kemampuannya melanjutkan fotosintesis dalam
kondisi intensitas cahaya rendah. Kemampuan tersebut diperoleh melalui
peningkatan luas daun sebagai cara mengurangi penggunaan metabolit serta
mengurangi jumlah cahaya yang ditransmisikan dan yang direfleksikan.

DAFTAR PUSTAKA

Andre FH, Uhart SH, Frugone MI. 1993. Intercepted Radiation at Flowering and
Kernel Number in Maize: Shade versus Plant Density Effects. Crop Sci 33:
482-485.
Asadi, B., D.M. Arsyad, H. Zahara, Darmijati. 1997. Pemuliaan kedelai untuk
toleran naungan. Buletin Agrobio. 1:15-20.
BPPI. 2014. DESKRIPSI VARIETAS UNGGUL KEDELAI 19182008.
http://203.176.181.70/bppi/lengkap/deskripsi_kedelai.pdf.
Caiger S. 1986. Effect of Shade on Yield of Taro Cultivars in Tuvalu. Agric.
Bulletin 11(2):66-68.
Levitt, J. 1980. Responses of Plants to Environmental Stress. 2nd Edition. New
York : Academic Press. 606 hal.
Muhuria L. 2007. Mekanisme fisiologi dan pewarisan sifat toleransi kedelai
(Glycine max L. Merrill) terhadap intensitas cahaya rendah. Disertasi.
Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Mohr H, Schopfer P. 1995. Plant Physiology. Translated by Gudrun and D.W.
Lawlor. Springer. Nurhayati AP, Lontoh, Koswara J. 1985. Pengaruh
Intensitas dan Saat Pemberian Naungan terhadap Produksi Ubi Jalar
(Ipomoea batatas (L.) Lamp.). Bul. Agr 16:28-38.
Salisbury, F.B., C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Pub. Co. 540 h.
Sopandie D, Chozin MA, Sastrosumarjo S, Juhaeti T, dan Sahardi. 2003.
Toleransi Padi Gogo terhadap Naungan. Hayati. 10(2): 71-75.
Supriyono B, Chozin MA, Sopandie D, dan Darusman LK. 2005. Perimbangan
Pati-Sukrosa dan Aktivitas Enzim Sukrosa Fosfat Sintase pada Padi Gogo
yang Toleran dan Peka terhadap Naungan. Hayati. 7(2):31-34.
Wirawati T, B. S. Purwoko, D. Sopandie, I.Hanarida. 2002. Studi Fisiologi
Adaptasi Talas terhadap Kondisi Naungan. Seminar Program Pasca
Sarjana. Program Pascasarjana, IPB. Bogor.

LAPORAN PRAKTIKUM
PEMULIAAN TANAMAN TOLERAN LINGKUNGAN RAWAN
ACARA V
CEKAMAN BIOTIK PENYAKIT KARAT DAUN KEDELAI

Oleh :
Putri Holaw Hening Pratiwi
NIM

A1L111012

Rombongan E1
Kelompok 1

KEMENTERIANPENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014

I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kedelai merupakan komoditas pangan utama ketiga setelah padi dan jagung
yang menjadi komoditi prioritas dalam program Revitalisasi Pertanian (Badan
Litbang Pertanian Deptan, 2005). Hal ini karena jumlah penduduk Indonesia yang
cukup besar dan industri pangan berbahan baku kedelai yang berkembang cukup
pesat.
Sejak tahun 2004, pemerintah harus mengimpor 1,2 juta ton setiap tahun
untuk memenuhi kebutuhan kedelai nasional yang mencapai 2,02 juta ton per
tahun. Akan tetapi, kebijakan impor kedelai selama ini sangat tidak
menguntungkan dalam pengembangan kedelai di Indonesia. Oleh karena itu,
dalam

Jangka

Panjang

(2010-2020)

pemerintah

menetapkan

sasaran

pengembangan kedelai dengan peningkatan produksi nasional sebesar 7% per


tahun. Pada tahun 2014 diharapkan ketergantungan impor kedelai hanya 8% dan
pada tahun 2015 diharapkan swasembada kedelai dapat tercapai (Badan Litbang
Pertanian Deptan, 2005).
Untuk itu diperlukan upaya khusus peningkatan produksi kedelai nasional, namun
hal ini terhambat beberapa kendala, Salah satu hambatan dalam peningkatan dan
stabilisasi produksi kedelai di Indonesia adalah serangan penyakit karat daun yang
disebabkan oleh cendawan Phakopsora pachyrhizi. Penyakit karat (P. pachyrhizi)
merupakan penyakit utama pada tanaman kedelai di Indonesia

B. TUJUAN

1. Mengetahui respon dan perubahan pertumbuhan tanaman dalam kondisi


cekaman biotik (penyakit karat daun).
2. Mengetahui genotipe tanaman yang toleran terhadap penyakit karat daun.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Kedelai merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak.


Kedelai jenis liar Glycine ururiencis, merupakan kedelai yang menurunkan
berbagai kedelai yang dikenal sekarang kedelai (Glycine max (L.) Merrill).
Berasal dari daerah Manshukuo (Cina Utara), di Indonesia, dibudidayakan mulai
abad ke-17 sebagai tanaman makanan dan pupuk hijau. Penyebaran tanaman
kedelai ke Indonesia berasal dari daerah Manshukuo menyebar ke daerah
Mansyuria : Jepang (Asia Timur) dan negara-negara lain di Amerika dan Afrika.
(Aak,1991).
Akar tanaman kedelai terdiri atas akar tunggang, akar lateral, dan akar
serabut. Pada tanah yang gembur, akar ini dapat menembus tanah sampai
kedalaman 1,5 m. Pada akar lateral terdapat bintil-bintil akar yang merupakan
kumpulan bakteri rhizobium pengikat N dari udara. Bintil akar ini biasanya akan
terbentuk 15-20 hari setelah tanam, selain sebagai penyerap unsur hara dan
penyangga tanaman, pada perakaran merupakan tempat terbentuknya bintil/nodul
akar yang berfungsi sebagai pabrik alami terfiksasinya nitrogen udara oleh
aktivitas bakteri Rhizobium (Rakhman dan Tambas, 1986).
Kedelai berbatang semak, dengan tinggi batang antara 30-100 cm. setiap
batang dapat membentuk 3-6 cabang. Pertumbuhan batang dibedakan menjadi dua
tipe, yaitu tipe determinate dan indeterminate. Perbedaan sistem pertumbuhan
batang ini didasarkan atas keberadaan bunga dan pucuk batang. Pertumbuhan
batang tipe determinate ditunjukkan dengan batang yang tidak tumbuh lagi pada

saat tanaman mulai berbunga. Pertumbuhan batang tipe indeterminate dicirikan


bila pucuk batang tanaman masih bisa tumbuh daun, walaupun tanaman sudah
mulai berbunga. Begitu juga dengan bentuk daun kedelai ada dua macam, yaitu
bulat (oval) dan lancip (lanceolate) (Adisarwanto, 2005).
Bunga kedelai termasuk bunga sempurna, artinya dalam setiap bunga
terdapat alat kelamin jantan dan alat kelamin betina. Penyerbukan terjadi pada
saat mahkota bunga masih menutup, sehingga kemungkinan terjadinya kawin
silang secara alami sangat kecil. Bunga terletak pada ruas-ruas batang, berwarna
ungu atau putih. Tidak semua bunga dapat menjadi polong walaupun telah terjadi
penyerbukan secara sempurna (Suprapto, 2001).
Polong kedelai pertama terbentuk sekitar 7-10 hari setelah munculnya bunga
pertama. Panjang polong muda sekitar 1 cm, jumlah polong yang terbentuk pada
setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 1-10 buah dalam setiap
kelompok. Pada setiap tanaman, jumlah polong dapat mencapai lebih dari 50,
bahkan ratusan. Kecepatan pembentukan polong dan pembesaran biji akan
semakin cepat setelah proses pembentukan bunga berhenti. Ukuran dan bentuk
polong menjadi maksimal pada saat awal periode pemasakan biji. Hal ini
kemungkinan diikuti oleh perubahan warna polong, dari hijau menjadi kuning
kecoklatan pada saat masak (Adisarwanto, 2005). Biji kedelai berkeping dua yang
terbungkus oleh kulit biji. Embrio terletak di antara keping biji. Warna kulit biji
bermacam-macam, ada yang kuning, hitam, hijau atau coklat.

Varietas kedelai berbiji kecil, sangat cocok ditanam di lahan dengan


ketinggian 0,5-300 m dpl. Varietas kedelai berbiji besar cocok ditanam di lahan
dengan ketinggian 300-500 m dpl. Kedelai biasanya akan tumbuh baik pada
ketinggian lebih dari 500 m dpl sehingga tanaman kedelai sebagian besar tumbuh
di daerah yang beriklim tropis dan subtropis. Sebagai barometer iklim yang cocok
bagi kedelai adalah bila cocok bagi tanaman jagung. Bahkan daya tahan kedelai
lebih baik dari jagung. Tanaman kedelai dapat tumbuh baik di daerah yang
memiliki curah hujan sekitar 100-400 mm/bulan. Untuk mendapatkan hasil
optimal, tanaman kedelai membutuhkan curah hujan antara 100-200 mm/bulan
(Najiyati dan Danarti, 1999).
Kedelai dapat tumbuh pada kondisi suhu yang beragam. Suhu tanah yang
o

optimal dalam proses perkecambahan yaitu 30 C, bila tumbuh pada suhu yang
o

rendah (< 15 C), proses perkecambahan menjadi sangat lambat bisa mencapai 2
minggu. Hal ini dikarenakan perkecambahan biji tertekan pada kondisi
kelembapan tanah tinggi, banyaknya biji yang mati akibat respirasi air dari dalam
biji yang terlalu cepat (Adisarwanto, 2005). Suhu yang dikehendaki tanaman
o

kedelai antara 21-34 C, akan tetapi suhu optimum bagi pertumbuhan tanaman
o

kedelai 23-27 C. Pada proses perkecambahan benih kedelai memerlukan suhu


o

yang cocok sekitar 30 C.


Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lembab, tetapi tidak becek.
Kondisi seperti ini dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong.
Kekurangan air pada masa pertumbuhan akan menyebabkan tanaman kerdil,

bahkan dapat menyebabkan kematian apabila kekeringan telah melampaui batas


toleransinya. Untuk dapat tumbuh dengan baik kedelai menghendaki tanah yang
subur, gembur, kaya akan unsur hara dan bahan organik. Bahan organik yang
cukup dalam tanah akan memperbaiki daya olah dan juga merupakan sumber
makanan bagi jasad renik yang pada akhirnya akan membebaskan unsur hara
untuk pertumbuhan tanaman. Tanah dengan kadar liat tinggi sebaiknya dilakukan
perbaikan drainase dan aerasi sehingga tanaman tidak kekurangan oksigen dan
tidak tergenang air waktu hujan besar terjadi (Rianto et al., 1997).
Menurut

Hidayat

(2002)

cekaman

lingkungan

pada

tumbuhan

dikelompokkan menjadi dua yaitu:


3. Cekaman biotik, terdiri dari: kompetisi intra spesies dan antar spesies, dan
infeksi oleh hama dan penyakit.
4. Cekaman abiotik, terdiri dari: suhu (tinggi dan rendah), air (kelebihan dan
kekurangan), radiasi (ultraviolet, infra merah, dan radiasi mengionisasi),
kimiawi (garam, gas, dan pestisida), angin, dan suara.
Salah satu hambatan dalam peningkatan dan stabilisasi produksi kedelai di
Indonesia adalah serangan penyakit karat daun yang disebabkan oleh cendawan
Phakopsora pachyrhizi. Penyakit karat telah tersebar luas di sentra produksi
dedelai di dunia. Di Indonesia, penyakit karat terdapat di sentra produksi kedelai
di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan dan Sulawesi
(Semangun, 1991).
Penyakit karat yang disebabkan jamur Phakopspora pachyrhizi merupakan
penyakit penting pada kedelai. Penyakit karat dapat menurunkan hasil karena

daun-daun yang terserang akan mengalami defoliasi lebih awal sehingga akan
mengakibatkan berkurangnya berat biji dan jumlah polong yang bervariasi antara
10-90%, tergantung pada fase perkembangan tanaman, lingkungan dan varietas
kedelai (Sinclair dan Hartman, 1999).
Kehilangan hasil akibat penyakit karat di Indonesia mencapai 90%
(Sudjono, 1979). Besarnya kehilangan hasil bergantung pada berbagai faktor
antara lain ketahanan tanaman. Pada varietas Orba, kehilangan hasil dapat
mencapai 36%, sedangkan pada varietas TK-5 sebesar 81% (Sumarno dan
Sudjono, 1977).
Sudjono (1979) menyatakan bahwa dari 17 jenis tanaman kacang-kacangan
selain kedelai yang diinokulasi secara buatan, tiga di antaranya menunjukkan
gejala yang bersporulasi, yaitu kacang asu, kacang kratok, dan kacang panjang.
Varietas yang toleran dapat terinfeksi patogen karat, tetapi masih dapat
menghasilkan biji. Varietas dengan kategori agak tahan memiliki ketahanan
terhadap penyakit karat yang berada antara tahan dan agak rentan. Apabila
menanam varietas yang agak tahan, perlu dipadukan dengan cara pengendalian
lain, misalnya dengan fungisida nabati (Sumartini. 2010).
Ketahanan berkaitan dengan kemampuan tanaman untuk mencegah,
menghambat atau memperlambat perkembangan penyakit (Bell, 1982). Suatu
ketahanan genetik mempunyai nilai yang lebih berarti dalam mengendalikan
penyakit tanaman, bila ketahanan genetik tersebut mampu memberikan
perlindungan yang baik dan menyeluruh dari kemungkinan kerusakan yang
diakibatkan oleh penyakit (Baswarsiati, 1994).

Fanani dkk. (1981), mengemukakan bahwa ketahanan kedelai terhadap


penyakit karat berupa ketahanan morfologis yang disebabkan adanya bulubulu
daun (trichoma) yang lebih rapat dan jaringan kutikula yang tebal sehingga sulit
terinfeksi oleh patogen. Hasil pengamatannya menunjukkan bahwa tanamantanaman yang agak tahan daunnya lebih kaku dan warnanya lebih gelap
sedangkan pada yang peka daunnya agak lemas dan warnanya lebih terang.

III.

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat penyiram, kertas
label, penggaris, timbangan analitik, gelas ukur, laptop, kamera dan alat tulis.
Bahan yang dibutuhkan pada praktikum kali ini adalah tanah, air, polibag dan 3
varietas kedelai yaitu Agromulyo, Burangrang serta Wilis.
B. Rancangan Lapangan

Pada praktikum ini digunakan rancangan acak kelompok dengan tiga


ulangan. Faktor yang dicoba adalah tiga varietas padi dan dua taraf cekaman
kekeringan. Tiga varietas kedelai yang dicoba adalah Agromulyo (V1), Wilis (V2)
serta Burangrang (V3). Dua taraf cekaman penyakit karat daun yang dilakukan
yaitu tanpa cekaman penyakit (P0) dan cekaman penyakit (P1). Jadi pada
praktikum ini terdapat enam kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali. Setiap
kombinasi perlakuan menggunakan tiga polibag. Total keseluruhan polibag yang
digunakan adalah 18 polibag. Percobaan praktikum kali ini dilakukan
mengunakan polibag di rumah kaca.
C. Prosedur Kerja
a. Tanah diisikan ke dalam 18 polibag, lalu disiram air hingga kapasitas
lapang.

b. Polibag yang telah diisi dibagi menjadi dua kelompok (P0 dan P1), masingmasing sembilan polibag.
c. Polibag disusun sesuai dengan denah percobaan.
d. Kemudian benih ditanam sesuai susunan denah percobaan, setiap polibag
ditanami satu benih.
e. Setelah tanaman berumur tujuh hari tanaman diberi perlakuan, P0 dibiarkan
dan P1 diinfeksi cendawan penyebab penyakit karat daun kedelai.
f. Kemudian

tanaman

juga

diukur

tingginya

dan

diamati

serangan

penyakitnya, pengukuran dan pengamatan dilakuakan bersamaan dengan


pemberian perlakuan.
g. Perlakuan dalam rentang waktu 25 Maret 2014 sampai 1 Mei 2014.
h. Pada tanggal 1 Mei 2014 dilakukan destruksi yaitu tanaman dicabut dan
diukuran panjang tajuk dan akarnya. Lalu dilanjutkan tanggal 2 Mei 2014
untuk ditimbang berat tajuk, akar, tanaman serta volume akarnya.

D. Analisis Data

Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam. Jika


terdapat perbedaan maka diuji lanjut menngunakan uji BNT. Data hasil
pengamatan juga diuji Nilai Relatifnya (NR).

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Terlampir

B. Pembahasan

Penyakit yang disebabkan oleh cendawan Phakopsora pachyrhizi berasal


dari kelompok Basidiomycetes. Phakopsora pachyrizhy mempunyai uredium pada
sisi bawah dan atas daun, coklat muda sampai coklat, bergaris tengah 100-200
m, sering tersebar merata memenuhi permukaan daun. Parafisa pangkalnya
bersatu, membentuk penutup yang mirip dengan kubah diatas uredium. Parafisa
membengkok dan berbentuk gada atau mempunyai ujung membengkak, hialin
atau berwarna jerami dengan ruang sel sempit. Ujungnya berukuran 7,5-15m
dengan panjang 20-47m. Uredium bentuknya mirip dengan gunung api kecil
yang dibentuk di bawah epidermis, jika dilihat dari atas berbentuk bulat atau
jorong. Di pusat bagian uredium yang menonjol berbentuk lubang yang menjadi
jalan keluarnya urediospora. Urediospora membulat pendek, bulat telur atau
jorong, hialin sampai coklat kekuningan, dengan dinding tebal yang hialin dan
berduri halus.
Penyebaran penyakit karat daun ini melalui spora yang diterbangkan oleh
angin, melalui tanah, air dan tanaman inang. Patogen ini tidak dapat bertahan di

dalam biji karena termasuk cendawan obligat dan tidak dapat ditularkan melalui
benih.
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan penyakit karat kedelai adalah
terdapatnya bintik-bintik kecil yang kemudian berubah menjadi bercak-bercak
berwarna coklat pada bagian bawah daun, yaitu uredium penghasil uredospora.
Serangan berat menyebabkan daun gugur dan polong hampa. Terjadi bercakbercak kecil berwarna cokelat kelabu atau bercak yang sedikit demi sedikit
berubah menjadi cokelat atau coklat tua. Bercak karat terlihat sebelum bisul- bisul
(pustule) pecah. Bercak tampak bersudut-sudut karena dibatasi oleh tulang-tulang
daun tepatnya didekat daun yang terinfeksi. Biasanya dimulai dari daun bawah
baru kemudian ke daun yang lebih muda.
Akibat serangan cendawan ini proses fotosintesis terganggu karena daun
tidak berfungsi sebagaimana fungsinya dapat menurunkan hasil produksi sebesar
20-80 %. Penurunan hasil bisa mencapai 100% bila varietas yang ditanam rentan
terhadap karat daun dan dibudidayakan sewaktu musim hujan dalam keadaan
cuaca yang lembab serta tanaman dalam kondisi tergenang (Khaerunisa, 2010).
Perbedaan antar varietas dapat dilihat berdasarkan deskripsi varietas kedelai
(BPPI, 2014), dibawah ini:
Deskripsi Varietas Agromulyo
Dilepas Tahun

: 1998

Nomor galur

:-

Asal

: Introduksi dari Thailand, oleh PT. Nestle Indonesia

Daya hsil

: 1,5 2,0 t/ha

Tipe tumbuh

: Determinit

Umur berbunga

: 35 hari

Umur panen

: 80-82 hari

Tinggi tanaman

: 40 cm

Percabanagn

: 3-4 cabang dari batang utama

Bobot 100 biji

: 16,0 g

Kerebahan

: tahan rebah

Ketahanan penyakit

: Toleran Karat Daun

Pemulia

: Rodiah S., C. Ismail, Gatot Sunyoto dan Sumarno

Benih Penjenis (BS) : dirawat dan diperbanyak oleh BPTP Karangploso, Malang
Deskripsi Varietas Burangrang
Dilepas Tahun

: 1999

Nomor galur

: C1-I-2/KRP-3

Asal

: Segregat silangan alam, dari tanaman petani di Jember

Daya hsil

: 1,6 2,5 t/ha

Tipe tumbuh

: Determinit

Umur berbunga

: 35 hari

Umur panen

: 80-82 hari

Tinggi tanaman

: 60-70 cm

Percabanagn

: 1-2 cabang dari batang utama

Bobot 100 biji

: 17,0 g

Kerebahan

: tidak mudah rebah

Ketahanan penyakit

: Toleran Karat Daun

Pemulia

: Rodiah S., Ono Sutrisno, Gatot Kustiyono, Soegito dan


Sumarno

Benih Penjenis (BS) : dipertahankan di BPTP Karangploso, Balitkabi dan PTP


Bogor
Deskripsi Varietas Wilis
Dilepas Tahun

: 21 Juli 1983

Nomor galur

: TP240/519/Kpts/7/1983

Asal

: Keturunan persilangan Obra x No. 1682

Daya hasil

: 1,6 t/ha

Tipe tumbuh

: Determinit

Umur berbunga

: 39 hari

Umur panen

: 85-90 hari

Tinggi tanaman

: 50 cm

Bobot 100 biji

: 10 g

Kerebahan

: tahan rebah

Ketahanan penyakit

: Agak tahan Karat Daun dan virus

Pemulia

: Rodiah, Darman M Arsyad, Ono Sutrisno dan Sumarno

Benih Penjenis (BS) : dirawat Dipertahankan di Balittan Bogor dan Malang

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

Varietas kedelai yang toleran terhadap penyakit karat daun kedelai adalah
varietas Burangrang. Sedangkat Agromulyo dan Wilis agak tahan terhadap
penyakit karat daun kedelai.

DAFTAR PUSTAKA

AAK, 1991. Kedelai. Kanisius. Yogyakarta.


Adisarwanto, T; 2005. Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta.
Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian. 2005. Rencana Aksi
Pemantapan Ketahanan Pangan 2005-2010. Lima Komoditas; Beras,
Jagung, Kedelai, Gula, dan Daging Sapi. Balitbangtan Deptan, Jakarta
Baswarsiati. 1994. Penilaian stomata dan bulu daun sebagai penciri ketahanan
beberapa klon tanaman anggur terhadap Plasmopora viticola. Zuriat 6: 5459.
BPPI. 2014. DESKRIPSI VARIETAS UNGGUL KEDELAI 19182008.
http://203.176.181.70/bppi/lengkap/deskripsi_kedelai.pdf.
Hidayat.
2002.
Cekaman
Pada
Tumbuhan.http://www.scribd.com/document_downloads/
13096496?extension=pdf&secret_password=. Diakses pada tanggal 5 Juni
2011.
Khaerunisa,
R.
2010.
Karat
Daun
pada
Kedelai.
(On
line).http://rizkihaerunisa1009.wordpress.com/2010/06/20/karat-daun-padakedelai/
Najiyati, S. dan Danarti, 1999. Palawija Budidaya dan Analisa Usaha Tani.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Rakhman, A.M dan D. Tambas. 1986. Pengaruh Inokulasi Rhizobium japonicum
Frank., Pemupukan Molibdenum dan Kobalt terhadap Produksi dan Jumlah
Bintil Akar Tanaman Kedelai pada Tanah Podsolik Plintik. Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudidayaan
Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang. Hal 7, 9. Semangun
H. 1991. Penyakit-penyakit tanaman pangan di Indonesia. Gadjah Mada
University Poress, Yogyakarta. 449 hal.
Sinclair, J.B. and G.L. Hartman. 1999. Soybean Rust. In G.L. Hartman, J.B.
Sinclair, J.C. Rupe (Eds.) Compendium of Soybean Diseases (Fourth
Edition). APS Press The American Phytopathological Society. p.25-26.
Sudjono, M.S. 1979. Ekobiologi cendawan karat kedelai dan resistensi varietas
kedelai. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. 60 hal.

Sumarno dan S. Sudjono. 1977. Breeding for soybean rust resistance in Indonesia.
P. 66-70. Report of Workshop on Rust of Soybean Problem and Research
Needs. Manila.
Sumartini. 2010. Penyakit karat pada kedelai dan cara pengendaliannya yang
ramah lingkungan. Jurn Penel dan Pengemb Pert. Indonensian Agricultural
Research and Development Journal: 29(3).
Suprapto.H.S. 2001. Bertanam Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta.

LAPORAN PRAKTIKUM
PEMULIAAN TANAMAN TOLERAN LINGKUNGAN RAWAN
ACARA VI
CEKAMAN BIOTIK PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI

Oleh :
Putri Holaw Hening Pratiwi
NIM

A1L111012

Rombongan E1
Kelompok 1

KEMENTERIANPENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014

I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Padi merupakan tanaman pangan penting yang ditanam hampir sepertiga


dari jumlah total bahan pangan di dunia. Padi juga menyediakan bahan pangan
pokok dan 35-60% kalorinya dikonsumsi lebih dari 2.7 milyar penduduk dunia
(Padmadi, 2009).
Kebutuhan beras nasional pada tahun 2007 mencapai 30,91 juta ton dengan
asumsi konsumsi per kapita rata-rata 139 kg per tahun. Indonesia dengan rata-rata
pertumbuhan penduduk 1,7 persen per tahun dan luas areal panen 11,8 juta hektar
dihadapkan pada ancaman rawan pangan pada tahun 2030 (Pasaribu, 2006).
Salah satu faktor penghambat dalam pencapaian produktivitas tinggi pada
budidaya tanaman padi adalah penyakit Hawar Daun Bakteri atau biasa disebut
penyakit kresek.
C.

TUJUAN

1. Mengetahui respon dan perbedaan pertumbuhan tanaman dalam kondisi


cekaman penyakit Hawar Daun Bakteri.
2. Mengetahui genotipe tanaman yang toleran terhadap cekaman penyakit
Hawar Daun Bakteri.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Penyakit hawar daun bakteri merupakan salah satu penyakit penting


tanaman padi karena dapat menurunkan hasil tanaman padi hingga mencapai 60%.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa keparahan sebesar 20% pada sebulan
menjelang panen dapat mengakibatkan penurunan hasil panen. Jika keparahan
penyakit mencapai >20%, maka hasil tanaman padi akan turun 4% pada setiap
kenaikan keparahan sebesar 10%. Kerusakan terberat terjadi ketika patogen
menyerang tanaman padi muda yang peka sehingga menimbulkan gejala kresek,
dan mengakibatkan kematian tanaman (Balai Besar Tanaman Padi, 2009).
Penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi disebabkan oleh bakteri
Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Awalnya bakteri ini disebut dengan nama
Bacillus oryzae Hori et Bokura, kemudian bakteri ini berubah nama menjadi
Pseudomonas oryzae Uyeda et Ishiyama, Bacterium oryzae (Uyeda et Ishiyama),
lalu Xanthomonas oryzae (Uyeda et Ishiyama) Dawson. Sampai dengan tahun
1991 bakteri ini dikenal dengan nama Xanthomonas campestris pv. oryzae (
(Semangun, 1991). Wibowo (2010), menginformasikan bahwa penyebab penyakit
hawar daun bakteri pada tanaman padi adalah Xanthomonas oryzae pv. oryzae
(Xoo).
Bakteri Xoo berbentuk batang, berukuran 0,72,4 x 0,3-0,45 m. Sel bakteri
ini dapat hidup tunggal atau berpasangan, memiliki kapsula, tidak memiliki spora,
serta bergerak dengan satu bulu cambuk (flagellum) di ujungnya. Bakteri ini
memiliki sifat gram negatif dan memiliki 8 kelompok atau patotipe. Bakteri Xoo

dapat menginfeksi tanaman padi melalui beberapa cara, yaitu luka pada daun
akibat pemotongan sebelum tanam, luka pada akar akibat pencabutan, pori air
yang terdapat pada daun, luka yang terjadi karena gesekan pada daun, serta
melalui luka karena gigitan hama dan hewan lain. Bakteri ini tidak dapat bertahan
lama pada bulir padi, sehingga penyakit ini bukan termasuk penyakit terbawa
benih. Semangun (1991) menyebukan bahwa bakteri ini dapat bertahan pada
rumput Leersia oryzoides L.. Pada pertanaman, bakteri ini dapat menyebar
melalui hujan yang berangin.
Tanaman padi dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan ke
dalam Divisio Spermatophyta, dengan Sub divisio Angiospermae, termasuk ke
dalam kelas Monocotyledoneae, Ordo adalah Poales, Famili adalah Graminae,
Genus adalah Oryza Linn, dan Spesiesnya adalah Oryza sativa L (Grist, 1960).
Tumbuhan padi termasuk golongan tumbuhan Graminae dengan batang
yang tersusun dari beberapa ruas. Tanaman padi membentuk rumpun dengan
anakannya, biasanya anakan akan tumbuh pada dasar batang. Pembentukan
anakan terjadi secara tersusun yaitu pada batang pokok atau batang batang utama
akan tumbuh anakan pertama, anakan kedua tumbuh pada batang bawah anakan
pertama, anakan ketiga tumbuh pada buku pertama pada batang anakan kedua dan
seterusnya. Semua anakan memiliki bentuk yang serupa dan membentuk
perakaran sendiri (Luh, 1991).
Batang padi tersusun dari rangkaian ruasruas dan diantara ruas yang satu
dengan ruas yang lainnya dipisahkan oleh satu buku. Ruas batang padi

didalamnya berongga dan bentuknya bulat, dari atas ke bawah ruas buku itu
semakin pendek. Ruas yang terpendek terdapat dibagian bawah dari batang dan
ruasruas ini praktis tidak dapat dibedakan sebagai ruasruas yang berdiri sendiri.
Sumbu utama dari batang dibedakan dari bagian pertumbuhan embrio yang
disertai pada coleopotil pertama (Grist, 1960).
Pada buku bagian bawah dari ruas tanaman padi tumbuh daun pelepah yang
membalut ruas sampai buku bagian atas. Tepat pada buku bagian atas ujumg dari
daun pelepah memperlihatkan percabangan dimana cabang yang terpendek
menjadi ligula (lidah) daun, dan bagian yamg terpanjang dan terbesar menjadi
daun kelopak yang memiliki bagian auricle pada sebelah kiri dan kanan. Daun
kelopak yang terpanjang dan membalut ruas yang paling atas dari batang disebut
daun bendera. Tepat dimana daun pelepah teratas menjadi ligula dan daun
bendera, di situlah timbul ruas yang menjadi bulir pada (Siregar, 1981).
Bunga padi adalah bunga telanjang artinya mempunyai perhiasan bunga.
Berkelamin dua jenis dengan bakal buah yang diatas. Jumlah benang sari ada 6
buah, tangkai sarinya pendek dan tipis, kepala sari besar serta mempunyai dua
kandung serbuk. Putik mempunyai dua tangkai putik dengan dua buah kepala
putik yang berbentuk malai dengan warna pada umumnya putih atau ungu
(Departemen Pertanian, 1983).
Pada dasar bunga terdapat ladicula (daun bunga yang telah berubah
bentuknya). Ladicula berfungsi mengatur dalam pembuahan palea, pada waktu
berbunga

ia

menghisap

air

dari

bakal

buah,

sehingga

mengembang.

Pengembangan ini mendorong lemma dan palea terpisah dan terbuka (Hasyim,
2000).
Buah padi yang sehari-hari kita sebut biji padi atau bulir/gabah, sebenarnya
bukan biji melainkan buah padi yang tertutup oleh lemma dan palea. Buah ini
terjadi setelah selesai penyerbukan dan pembuahan. Lemma dan palea serta
bagian lain akan membentuk sekam atau kulit gabah (Departemen Pertanian,
1983).
Dinding bakal buah terdiri dari tiga bagian yaitu bagian paling luar disebut
epicarpium, bagian yang tengah disebut mesocarpium dan bagian yang dalam
disebut endocarpium. Biji sebagian besar ditempati oleh endosperm yang
mengandung zat tepung dan sebagian ditempati oleh embrio (lembaga) yang
terletak dibagian sentral yakni dibagian lemma (Departemen Pertanian, 1983).
Secara umum padi dikatakan sudah siap panen bila butir gabah yang
menguning sudah mencapai sekitar 80 % dan tangkainya sudah menunduk.
Tangkai padi merunduk karena sarat dengan butir gabah bernas. Untuk lebih
memastikan padi sudah siap panen adalah dengan cara menekan butir gabah. Bila
butirannya sudah keras berisi maka saat itu paling tepat untuk dipanen (Andoko,
2002).

III.

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat penyiram, kertas
label, penggaris, timbangan analitik, gelas ukur, laptop, kamera dan alat tulis.
Bahan yang dibutuhkan pada praktikum kali ini adalah tanah, air, polibag dan 3
varietas padi yaitu Inpago Unsoed 1, Fe37 serta Ciherang.
B. Rancangan Lapangan

Pada praktikum ini digunakan rancangan acak kelompok dengan tiga


ulangan. Faktor yang dicoba adalah tiga varietas padi dan dua taraf cekaman
kekeringan. Tiga varietas padi yag dicoba adalah Inpago Unsoed 1 (V1), Ciherang
(V2) serta Fe37 (V3). Dua perlakuan cekaman penyakit Hawar Daun Bakteri
yang dilakukan yaitu tanpa penyakit Hawar Daun Bakteri (X0) dan cekaman
penyakit Hawar Daun Bakteri (X1). Jadi pada praktikum ini terdapat enam
kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali. Setiap kombinasi perlakuan
menggunakan tiga polibag. Total keseluruhan polibag yang digunakan adalah 18
polibag. Percobaan praktikum kali ini dilakukan mengunakan polibag di rumah
kaca.
C. Prosedur Kerja
1. Tanah diisikan ke dalam 18 polibag, lalu disiram air hingga kapasitas
lapang.

2. Polibag yang telah diisi dibagi menjadi dua kelompok (X0 dan X1),
masing-masing sembilan polibag.
3. Polibag disusun sesuai dengan denah percobaan.
4. Kemudian benih ditanam sesuai susunan denah percobaan, setiap polibag
ditanami dua benih.
5. Setelah tanaman berumur tujuh hari tanaman diberi perlakuan, X0
dibiarkan tanpa penyakit Hawar Daun Bakteri, sedangkan X1 diinfeksi
penyakit Hawar Daun Bakteri.
6. Kemudian tanaman juga diukur tingginya dan keparahan penyakitnya,
pengukuran dilakuakan bersamaan dengan pemberian perlakuan.
7. Perlakuan diberikan dalam rentang waktu 27Maret 2014 sampai 1 Mei
2014.
8. Pada tanggal 1 Mei 2014 dilakukan destruksi yaitu tanaman dicabut dan
diukuran panjang tajuk dan akarnya. Lalu dilanjutkan tanggal 2 Mei 2014
untuk ditimbang berat tajuk, akar, tanaman serta volume akarnya.

D. Analisis Data

Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam. Jika


terdapat perbedaan maka diuji lanjut menngunakan uji BNT. Data hasil
pengamatan juga diuji Nilai Relatifnya (NR).

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Terlampir

B. Pembahasan

Penyakit kresek merupakan penyakit pada tanaman padi dengan gejala daun
mengering mulai dari tepi daun kemudian meluas hingga ketulang tengah daun,
jika terjadi serangan akut seluruh helaian daun bisa mengering seluruhnya.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas sp (Maspary, 2010).
Gejala penyakit hawar daun bakteri pada fase awal pertumbuhan padi
umumnya mulai timbul pada 1-2 minggu setelah padi dipindah dari persemaian.
Daun-daun yang terinfeksi mengalami perubahan warna hijau menjadi
kekuningan hingga cokelat, kemudian mengering, helaian daunnya melengkung
dan diikuti oleh melipatnya daun di sepanjang ibu tulang daunnya. Pada umumnya
gejala yang pertama tampak pada daun-daun yang dipotong ujungnya. Sering kali
ibu tulang daun menguning dan daun-daun yang kering berubah warna menjadi
kuning jerami sampai cokelat muda (Semangun, 1991). Gejala penyakit hawar
daun bakteri yang muncul pada tanaman muda lebih dikenal dengan sebutan
kresek (Balai Besar Tanaman Padi, 2009).
Penyakit

kresek

disebabkan

oleh

bakteri

Xanthomonas

oryzae pv. OryzaeDye, yang bersifat sistemik artinya, tumbuh dan berkembang

didalam jaringan pengangkutan utama pada tanaman. Pada saat tanaman terinfeksi
bakteri, bakteri tersebut terangkut keseluruh bagian tanaman dan pada saat itu
daun yang luas juga akan terinfeksi. Sehingga ujung daun dan bagian tepi daun
serta daerah - daerah jaringan pengangkutan berubah warnanya menjadi kuning
kemudian coklat.
Pertumbuhan bakteri menyumbat saluran pembuluh tersebut sehingga air
dan zat makanan tidak dapat masuk kedalam atau keluar ujung daun, sehingga
meyebabkan gejala kekuningan, layu dan mati pada bagian ujung daun. Pada
pesemaian penyakit tersebut menyebabkan daun menjadi kuning dan akhirnya
kering dan mati. Penyakit ini dapat merusak tanaman yang telah ditanam disawah.
Keadaan seluruh daun tanaman yang muda yang tampak menguning dan
mengering dapat dikira serangan sundep atau penggerek batang. Pada tanaman
tua, bagian tepi ujung daun menjadi kuning dan menguningnya jaringan tersebut
meluas kedaun bagian bawah, akhirnya ujung daun menjadi kering dan berwarna
putih.
Dampak Serangan, bagian pucuk Tanaman dan tepi daun akan mengering,
sehingga proses fotosintesa tidak dapat maksimal, sehingga produksi yang dicapai
tidak maksimal, berat gabah kurang bernas/ mentes, banyak butir hijau dan butir
hampa, gabah warnanya menjadi kusam, tidak mengkilat (Wibowo, 2012).
Deskripsi Varietas Padi Yang Digunakan Dalam Praktikum Ini

Nama Varietas

: Ciherang

Tahun

: 2000

Tetua

: IR 18349-53-1-3-1-3/IRI 19661-131-3-1///IR 64////IR 64

Rataan Hasil

: 5-7 t/ha

Pemulia

: Tarjat T., Z. A. Simanulang, E. Sumadi, Aan A. Daradjat

Nomor pedigri

: S3383-1d-Pn-41-3-1

Golongan

: Cere

Umur tanaman

: 116-125 hari

Bentuk tanaman

: Tegak

Tinggi tanaman

: 107-115 cm

Anakan produktif

: 14-17 batang

Warna kaki

: Hijau

Warna batang

: Hijau

Warna daun telinga

: Putih

Warna lidah daun

: Putih

Warna daun

: Hijau

Muka daun

: Kasar pada sebelah bawah

Posisi daun

: Tegak

Daun bendera

: Tegak

Bentuk gabah

: Panjang ramping

Warna gabah

: Kuning bersih

Kerontokan

: Sedang

Kerebahan

: Sedang

Tekstur nasi

: Pulen

Bobot 1000 butir

: 27-28 gram

Kadar amilosa

: 23 %

Ketahanan hama

: Tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3

Ketahanan penyakit

: Tahan terhadap bakteri hawar daun (HDB) strain III dan


IV

Anjuran tanam

: Cocok di tanam pada musim hujan dan kemarau dengan


ketinggian dibawah 500 m dpl (Puslittan.bogor.net,2014)

Nama Varietas

: Inpago Unsoed 1

Tahun

: 2011

Tetua

: Poso / Mentik Wangi

Rataan Hasil

: 4,9 ton/ha

Nomor pedigri

: UNSOED G10

Golongan

: Cere

Umur tanaman

: +/- 110 hari

Bentuk tanaman

: Tegak

Tinggi tanaman

: +/-107cm

Anakan produktif

: +/- 16 batang

Muka daun

: Kasar

Posisi daun

: Tegak

Daun bendera

: Tegak

Kerontokan

: Sedang

Kerebahan

: Sedang

Tekstur nasi

: Pulen

Bobot 1000 butir

: +/- 27,7 gram

Ketahanan hama

: tahan terhadap hama, agak tahan terhadap wereng batang


coklat biotipe 1, rentan terhadap wereng batang coklat
biotipe 2 dan 3.

Ketahanan penyakit

: tahan terhadap penyakit, tahan terhadap penyakit blas ras


133.

Ketahanan abiotik

: agak toleran kekeringnan, toleran sampai sedang


terhadap keracunan besi (Fe).

Anjuran tanam

: Baik untuk ditanam di lahan kering dataran rendah


sampai sedang < 700 m dpl (Litbang.deptan.go.id, 2014)

V.

Penyakit

kresek

KESIMPULAN DAN SARAN

disebabkan

oleh

bakteri

Xanthomonas

oryzae pv. OryzaeDye. Bakteri ini dapat menginfeksi tanaman padi melalui
beberapa cara, yaitu luka pada daun akibat pemotongan sebelum tanam, luka pada
akar akibat pencabutan, pori air yang terdapat pada daun, luka yang terjadi karena
gesekan pada daun, serta melalui luka karena gigitan hama dan hewan lain.
Bakteri ini tidak dapat bertahan lama pada bulir padi, sehingga penyakit ini bukan
termasuk penyakit terbawa benih.

DAFTAR PUSTAKA

Andoko, A . 2002. Budidaya Padi Secara Organik. Cetakan-I. Penebar Swadaya.


Jakarta.
Balai Besar Tanaman Padi. 2009, Pedoman Umum Peningkatan Produksi Padi.
Balai Besar Tanaman Padi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian..
Departemen Pertanian. 1983. Pedoman Bercocok Tanam Padi Palawija Sayur
sayuran. Departemen Pertanian Satuan Pengendali BIMAS. Jakarta.
Grist D.H. 1960. Rice. Formerly Agricultural Economist, Colonial Agricultural
Service, Malaya. Longmans, Green and Co Ltd. London.
Hasyim, H. 2000. Padi. FP-USU Press. Medan
Litbang.deptan.go.id, 2014. Deskripsi Varietas Inpago Unsoed 1. Online.
http://www.litbang.deptan.go.id/varietas/one/795/. Diakses pada tanggal 18
Juni 2014.
Luh, B. S. 1991. Rice Production. An AVI Book. New York.
Maspary. 2010. Mengendalikan Penyakit Kresek Pada Tanaman Padi Dengan
Budidaya
Tanaman
Sehat.
(Online).http://www.gerbangpertanian.com/2010/03/mengendalikan-penyakitkresek-pada.html.
Padmadi, B. 2009. Identifikasi Sifat Aroma Tanaman Padi Menggunakan Marka
Berbasis Gen Aromatik. Skripsi. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam IPB. Bogor .
Pasaribu B. 2006. Rancangan undang-undang lahan pangan abadi. Tidak
memperkenankan konversi lahan pangan. Sinar Tani 3:8-14.
Puslittan.bogor.net. 2014. Deskripsi Padi Varietas Ciherang. Online.
http://www.puslittan.bogor.net/index.php?bawaan=varietas/varietas_detail
komoditas=05021&id=Ciherang&pg=1&varietas=1.
Siregar, H. 1981. Budidaya Tanaman Padi Di Indonesia. Sastra Hudaya. Jakarta.
Wibowo. 2012. Penyakit Kresek ( Bakteri Hawar Daun ). (On-line).
http://cybex.deptan.go.id/lokalita/penyakit-kresek-bakteri-hawar-daun.

LAMPIRAN

Dokumentasi Kegiatan Praktikum PTTLR