Anda di halaman 1dari 1

Apa yang dimaksud dengan paradigma FUNGSIONALIS ?

Pembagian Paradigma
Burrel dan Morgan (1979) membagi pengetahuan dalam empat paradigma, yaitu
fungsionalis, interpretif, radikal humanis dan radikal struktural. Muhadjir (2000) melakukan
pembagian yang berbeda yaitu positivis, postpositivis (di dalamnya termasuk interpretif dan
kritis) dan postmodernisme. Pembagian ini yang disebut sebagai pendekatan subyektifisme
dan objektivisme Sebagaimana pada gambar berikut :
1. Paradigma Fungsionalis
Paradigma ini digunakan mengarah pada realitas, positifisme, determinisme dan
omothetic. Selanjutnya paradigma ini memiliki pendekatan yang berusaha untuk
menjelaskan hubungan sosial dengan jalan rasional, dengan orentasi yang pragmatik
berkaitan dengan pengetahuan yang tepat guna serta dapat langsung memecahkan
masalah. Paradigma ini yang dikatakan oleh Chua (1986) lebih menekankan pada ilmu
pengetahuan yang terfokus pada teori dan praktek. Dalam penelitian akuntansi
paradigma fungsionalis sering digunakan sehinga dikatakan sebagai paradigma arus
utama karena memisahkan secara jelas antara subjek dan obyek. Contohnya penelitian
yang menggabungkan antara akuntansi dan matematika.
2. Paradigma Interpretif
Paradigma interpretif menggunakan cara pandang para nominalis yang melihat
realitas sosial sebagai sesuatu yang hanya merupakan label, nama, atau konsep yang
digunakan untuk membangun realitas, dan bukanlah sesuatu yang nyata, melainkan hanyalah
penamaan atas sesuatu yang diciptakan oleh manusia atau merupakan produk manusia itu
sendiri. Dengan demikian, realitas sosial merupakan sesuatu yang berada pada dalam diri
manusia, sehingga bersifat subjektif bukan objektif. Sementara Chua (1986) menyatakan
bahwa paradigma ini berakar dari filusuf Jerman yang menitik beratkan pada peran bahasa,
interpretasi, dan pemahaman dalam ilmu sosial.
3. Paradigma Radikal Humanis (Kritisme)
Paradigma radikal humanis lebih menekankan pada perkembangan sosiologi
perubahan radikal dari titik pandang subyektifisme. Kerangka referensi yang dugunakan
untuk memendang pentingnya masyarakat tidak ada pembatasan dalam pengaturan sosial.
Ciri dasar paradigma ini bahwa kesadaran manusia didominasi oleh struktur idiologi kuat
yang berinteraksi dengan dirinya. Dengan demikian titik sentral paradigma ini adalah
kesadaran manusia.
4. Paradigma Strukturalis ( Posmodernisme)
Paradigma radikal strukturalis adalah subyektifisme dengan menggunakan sosiologi
perubahan radikal. Paradigm ini mengacu pada perubahan radikal, emansipasi dan potensi.
Inti focus paradigm ini adalah hubungan struktural antara dunia sosial dan realitas. Karakter
utama postmodernisme, menurut Triyuwono (2000), terletak pada usaha dekonstruksi yang
dilakukan terhadap semua bentuk logosentrisme yang dibuat oleh modernisme.