Anda di halaman 1dari 6

Teori Akuntansi Normatif

Teori akuntansi normatif disebut juga teori preskriptif, yang mencoba


menjawab pertanyaan apa yang semestinya. Disini akuntansi dianggap sebagai
norma peraturan yang harus diikuti tidak peduli apakah berlaku atau dipraktekkan
sekarang atau tidak.
Teori normatif berusaha untuk membenarkan tentang apa yang seharusnya
dipraktekkan, misalnya pernyataan yang menyebutkan bahwa laporan keuangan
seharusnya didasarkan pada metode pengukuran aktiva tertentu. Menurut Nelson
(1973)

dalam

literature

akuntansi

teori

normatif

sering

dinamakan

teori apriori (artinya dari sebab ke akibat atau bersifat deduktif). Alasannya teori
normatif bukan dihasilkan dari penelitian empiris, tetapi dihasilkan dari kegiatan
semi-research. Teori normatif hanya menyebutkan hipotesis tentang bagaimana
akuntansi seharusnya dipraktekkan tanpa menguji hipotesis tersebut. Pada awal
perkembangannya, teori akuntansi normatif belum menggunakan pendekatan
investigasi, dan cenderung disusun untuk menghasilkan postulat akuntansi.
Perumusan akuntansi normatif mencapai masa keemasan pada tahun 1950
dan1960an. Selama periode ini perumus akuntansi lebih tertarik pada rekomendasi
kebijakan dan apa yang seharusnya dilakukan, bukan apa yang sekarang
dipraktekkan. Pada periode tersebut, teori normatif lebih berkonsentrasi pada:
1. Penciptaan laba sesungguhnya (true income)
Teori ini berkonsentrasi pada penciptaan pengukur tunggal yang unik dan
benar untuk aktiva dan laba. Meskipun demikian, tidak ada kesepakatan
terhadap apa yang dimaksud denganpengukur nilai dan laba yang benar.
2. Pengambilan keputusan (decision usefulness)
Pendekatan ini menganggap bahwa tujuan dasar dari akuntansi adalah untuk
membantu proses pengambilan keputusan dengan cara menyediakan data
akuntansi yang relevan atau bermanfaat.
Pada kebanyakan kasus, teori ini didasarkan pada konsep ekonomi klasik
tentang laba dan kemakmuran (wealth) atau konsep ekonomi pengambilan
keputusan rasional. Biasanya konsep tersebut didasarkan juga pada
penyesuaian rekening karena pengaruh inflasi atau nilai pasar dari aktiva. Teori

ini pada dasarnya merupakan teori pengukuran akuntansi. Teori tersebut


bersifat normatif karena didasarkan pada anggapan:
a. Akuntansi seharusnya merupakan system pengukuran
b. Laba dan nilai dapat diukur secara tepat
c. Akuntansi keuangan bermanfaat untuk pengambilan keputusan ekonomi
d. Pasar tidak efisien (dalam pengertian ekonomi)
e. Ada beberapa pengukur laba yang unik.
Karena teori normatif dianggap merupakan pendapat pribadi yang subyrktif
maka tidak bisa diterima begitu saja, harus dapat diuji secara empiris agar memiliki
dasar teori yang kuat. Pendukung teori ini biasanya menggambarkan system
akuntansi yang dihasilkan sebagai sesuatu yang ideal, merekomendasikan
penggantian system akuntansi cost histories dan pemakaian teori normatif oleh
semua pihak.
Teori Akuntansi Positif
Teori akuntansi positif berkembang seiring kbutuhan untuk menjelaskan dan
memprediksi realitas praktek-praktek akuntansi yang ada di dalam masyarakat. Teori
akuntansi positif berusaha untuk menjelaskan fenomena akuntansi yiang diamati
berdasarkan pada alas an-alasan yang menyebabkan terjadinya suatu peristiwa.
Dengan

kata

lain, Positive

Accounting

Theory (PAT)

dimaksudkan

untuk

menjelaskan dan memprediksi konsekuensi yang terjadi jika manajer menentukan


pilihan tertentu. Penjelasan dan prediksi dalam PAT didasarkan pada proses kontrak
(contracting process) atau hubungan keagenan (agency relationship) antara manajer
dengan kelompok lain seperti investor, kreditor, auditor, pihak pengelola pasar modal
dan institusi pemerintah (Watts dan Zimmerman, 1986).
Mereka juga menjelaskan bahwa teori, sebagaimana yang kami ganbarkan
menghasilkan preskripsi (resep) untuk praktek akuntansi tetapi berkaitan dengan
penjelasan terhadap praktek akuntansi.
Pendekatan positif atau empiric berkaitan dengan usaha menguji atau
menghubungkan kembali hipotesis atau teori dengan pengalaman atau fakta-fakta
dunia nyata. Penelitian akuntansi positif difokuskan pada pengujian empiric terhadap

asumsi-asumsi yag dibuat oleh teori akuntansi normatif. Pendekatan khusus dapat
dilakukan dengan cara mensurvey pendapatan-pendapatan analisis keuangan,
manajer bank atau akuntan terhadap tugas atau kasus tertentu yang dibuat peneliti
(misalnya prediksi kebangkrutan, keputusan membeli atau menjual saham, dll).
Kehadiran pendekatan positif telah memeberikan sumbangan yang berari bagi
pengembangan akuntansi. Menurut Watts dan Zimmerman (1990) PAT telah
memberikan konstribusi pengembangan akuntansi misalnya :

Menghasilkan pola sistematik dalam pilihan akuntansi dan memberikan


penjelasan spesifik terhadap pola tersebut.

Memberikan kerangka yang jelas dalam memahami akuntansi.

Menunjukkan peran utama contracting cost dalam teori akuntansi.

Menjelaskan mengapa akuntansi dijelaskan dan memberikan kerangka


dalam memprediksi pilihan-pilihan akuntansi.

Mendorong riset yang relevan dengan akuntansi dengan menekankan pada


prediksi dan penjelasan terhadap fenomena akuntansi.

Hubungan Teori Akuntansi Normatif dan Positif


Teori akuntansi berdasarkan tujuan perumusannya ada dua yaitu teori
akuntansi normatif dan positif. Dalam penjelasan mengenai teori akuntansi positif
tidak dapat dilepaskan dari adanya teori ekonomi positif.
Teori akuntansi positif merupakan varian dari teori ekonomi positif. Teori ini
berkembang seiring dengan kebutuhan untuk menjelaskan dan memprediksi realitas
praktik-praktik akuntansi yang ada di masyarakat what it is (Watts dan
Zimmerman, 1986). Teori ini memiliki pijakan yang berbeda dibandingkan dengan
dengan akutansi normatif, yang lebih menjelaskan praktik-praktik akuntansi yang
seharusnya berlakuit should be. Teori ini bertujuan menjelaskan meramalkan, dan
memberi jawaban atas praktik akuntansi. Validitas teori akuntansi positif dinilai atas
dasar kesesuaian teori dengan fakta atau apa yang nyatanya terjadi (what it is).
Jensen (1976) me-listing berbagai perbedaan dari pertanyaan riset normatif
dan positif. Kalau normatif kebanyakan bertanya tentang apa yang seharusnya
dilakukan, sedangkan kalau positif lebih hanya bertanya tentang apa, mengapa dan

bagaimana. Yang kedua, kalau normatif lebih banyak mendeskripsikan entitas


akuntansi (Kohler, 1975). Sebaliknya untuk positif lebih banyak mendeskripsikan
dan menjelaskan perilaku akuntan.
Pendekatan

positif

atau

empirik

berkaitan

dengan

usaha

menguji/

menghubungkan kembali hipotesis /teori dengan pengalaman/ fakta-fakta dunia


nyata. Penelitian akuntansi positif difokuskan pada pengujian empirik terhadap
asumsi-asumsi yang dibuat oleh teori akuntansi normative. Misalnya menggunakan
kuesioner dan teknik survey lainnya, peneliti akan menguji sikap menajer terhadap
manfaat metode atau teknik akuntansi tertentu. Pendekatan khusus dapat dilakukan
dengan cara mensurvei pendapat-pendapat analisis keuangan, manajer bank, atau
akuntan terhadap tugas/kasus tertentu yang dibuat peneliti (misalnya prediksi
kebangkrutan, keputusan membeli/ menjual saham dll).
Jansen (1976) menyatakan bahwa riset dalam akuntansi saat itu tidak saintifik,
karena fokusnya hanya pada riset yang bersifat normatif dan definisional. Dalam
terminologi teori, dikatakannya bahwa akuntansi lebih bermakna sebagai sesuatu
yang bersifat normatif. Dan dia juga berkata bahwa teori akuntansi hanya bersifat
menjawab pertanyaan tentang apa yang seharusnya terjadi. Dengan pengembangan
positive accounting theory, akan lebih menjelaskan mengenai: apa, mengapa
akuntan mengerjakan sesuatu, apa pengaruhnya terhadap orang lain dan utilisasi
sumberdaya.
Kesimpulan
Akuntansi adalah seni pencatatan, pengolahan, dan peringkasan transaksi dan
kejadian yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna dalam bentuk satuan
uang, dan penginterprestasian hasil proses tersebut. Sedangkan teori akuntansi
merupakan susunan konsep, definisi, dalil yang menyajikan secara sistematis
gambaran fenomena akuntansi yang menjelaskan hubungan antara variabel satu
dengan variabel lainnya dalam struktur akuntansi dengan maksud dapat menjelaskan
dan meramalkan fenomena yang mungkin akan muncul.
Periodisasi teori akuntansi dibagi menjadi pre theory period, general
scientific period, normative period, dan specific scientific period.

Perumusan teori akuntansi dibedakan menjadi dua pendekatan, yaitu


pendekatan informasi dan pendekatan teoritis. Pendekatan informal dibagi dalam
pendekatan non teoritis dan pendekatan otoriter, sedangkan pendekatan teoriti dibagi
ke dalam pendekatan deduktif , induktif, etik, sosiologis, ekonomi, dan eklektif. Atas
dasar tujuannya teori akuntansi diklasifikasikan dalam dua jenis yaitu teori akuntansi
normatif yang memberikan resep terhadap teori praktek akuntansi, dan teori
akuntansi positif yang berusaha menjelaskan dan memprediksikan fenomena yang
berkaitan dengan akuntansi.
Dalam teori akuntansi normatif, isi akuntansi dianggap sebagai norma
peraturan yang harus diikuti, tidak peduli apakah berlaku atau dipraktekkan sekarang
atau tidak. Metode ini disebut juga normative accounting research atau normative
theory of accounting, yang berguna dalam membahas isu true income dan
decision usefulness.

REFERENSI

http://myaccountinglive.blogspot.com/2010/05/teori-akuntansi-normatif-danpositif.html
http://badroez.wordpress.com/tag/akuntansi-positif-dan-normatif/