Anda di halaman 1dari 7

STUDI PENGARUH TEGANGAN LEBIH AKIBAT INDUKSI PETIR

PADA SALURAN TRANSMISI TEGANGAN TINGGI


MENGGUNAKAN COUPLING MODEL
M. Yusron Affandi

Jurusan Teknik Elektro-FTI, Institut Teknologi Sepuluh Nopember


Kampus ITS, Keputih-Sukolilo, Surabaya - 60111

Abstrak : lebih akibat induksi petir pada saluran transmisi tegangan


Sistem tenaga listrik terdiri atas pembangkitan, tinggi. Oleh karena itu, penentuan nilai tegangan puncak
transmisi, distribusi, dan pemakaian oleh konsumen. induksi petir pada saluran transmisi tegangan tinggi
Penyaluran daya listrik dengan saluran transmisi bertujuan untuk meningkatkan upaya perlindungan saluran
tegangan tinggi berpotensi besar tersambar petir, transmisi terhadap adanya gangguan berupa tegangan lebih.
sehingga dapat menyebabkan tegangan lebih pada
saluran. Pada tugas akhir ini akan dibahas perhitungan
dan analisis tegangan lebih akibat induksi petir pada II. PETIR DAN PERMASALAHANNYA
saluran transmisi tegangan tinggi. Metode yang
digunakan adalah perhitungan dengan teori Coupling 2.1 Petir
Model Rusck, serta simulasi dengan bantuan perangkat Petir merupakan kejadian alam di mana terjadi
lunak EMTP. loncatan muatan listrik antara awan dengan bumi. Indonesia
Hasil simulasi EMTP menunjukkan bahwa teori terletak di negara tropis yang sangat panas dan lembab.
Rusck cukup akurat dalam menghitung tegangan puncak Kedua faktor ini sangat penting dalam pembentukan awan
induksi petir, terutama pada lokasi yang dekat dengan Cumulonimbus (Cb) penghasil petir. Petir atau kilat yang
sambaran petir. Pada jarak maksimum 1200 meter dari menyambar saluran transmisi tegangan tinggi dibedakan
pusat sambaran petir, error hanya 9,139%. Sementara menjadi dua macam menurut terjadinya sambaran, yaitu
untuk tinggi menara, pengukuran yang akurat hanya sambaran langsung dan sambaran tidak langsung atau
pada ketinggian 33 – 50 meter saja dengan batasan error sambaran induksi. Dari segi ketinggian komponen-komponen
6,468%. saluran transimi, sambaran langsung lebih sering terjadi pada
saluran transmisi. Namun, gangguan akibat sambaran tidak
Kata kunci: Tegangan Induksi Petir, Saluran Transmisi langsung (sambaran induksi) juga tidak boleh diabaikan
Tegangan Tinggi, Coupling Model Rusck. begitu saja, justru jenis sambaran induksi inilah yang lebih
berbahaya dibandingkan sambaran langsung.

I. PENDAHULUAN 2.2 Sambaran Langsung


Yang dimaksud dengan sambaran langsung adalah
Indonesia terletak pada daerah tropis memiliki tingkat apabila kilat menyambar langsung pada kawat fasa (untuk
sambaran petir yang lebih tinggi dibandingkan dengan saluran tanpa kawat tanah) atau pada kawat tanah (untuk
negara subtropis. Pada saluran transmisi yang melalui daerah saluran dengan kawat tanah). Pada waktu kilat menyambar
dengan potensi sambaran petir cukup tinggi, probabilitas kawat tanah atau kawat fasa akan timbul arus besar dan
terkena sambaran petir akan cukup besar. sepasang gelombang berjalan yang merambat pada kawat.
Sambaran petir pada saluran transmisi tegangan tinggi Arus yang besar ini dapat membahayakan peralatan-peralatan
menyebabkan tegangan induksi pada saluran. Tegangan yang ada pada saluran. Oleh karena saluran transmisi
induksi inilah yang dapat menyebabkan terjadinya tegangan tegangan tinggi cukup tinggi di atas tanah, maka jumlah
lebih pada saluran yang dapat membahayakan isolator pada sambaran langsung pun cukup tinggi. Makin tinggi tegangan
saluran, serta peralatan-peralatan listrik lainnya. Masalah sistem serta tinggi tiangnya, makin banyak pula jumlah
yang bisa ditimbulkan oleh tegangan lebih akibat induksi sambaran petir ke saluran itu.
petir sangatlah kompleks. Salah satu metode yang digunakan
untuk menganalisa tegangan lebih akibat induksi petir pada 2.3 Sambaran Tidak Langsung (Sambaran Induksi)
saluran transmisi tegangan tinggi adalah dengan Coupling Sambaran tidak langsung atau sambaran induksi
Model Rusck. merupakan sambaran titik lain yang letaknya jauh tetapi
Dengan menggunakan teori Coupling Model Rusck obyek terkena pengaruh dari sambaran sehingga dapat
dan simulasi perangkat lunak EMTP (Electromagnetic menyebabkan kerusakan pada obyek tersebut.
Transient Program) akan didapatkan besarnya tegangan

Proceeding Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS Halaman 1 dari 6 halaman
Bila terjadi sambaran petir ke tanah di dekat saluran Gambar 1. Spesifikasi gelombang berjalan
penghantar listrik, maka akan terjadi fenomena transien yang
diakibatkan oleh medan elektromagnetis dari kanal petir.
Fenomena petir ini terjadi pada kawat penghantar listrik. Spe
Akibat dari kejadian ini timbul tegangan lebih dan sifikasi dari suatu gelombang berjalan :
gelombang berjalan yang merambat pada kedua sisi kawat a. Puncak (crest) gelombang, E (kV) yaitu amplitudo
penghantar listrik di tempat sambaran berlangsung. maksimum dari gelombang.
Fenomena transien pada kawat penghantar listrik b. Waktu muka gelombang, t1 (mikrodetik), yaitu
berlangsung hanya di bawah pengaruh gaya yang memaksa waktu dari permulaan sampai puncak. Dalam
muatan-muatan bergerak sepanjang hantaran. Atau dengan praktek ini diambil 10%E sampai 90%E, seperti
perkataan lain transien dapat terjadi di bawah pengaruh terlihat pada gambar 1 (b).
komponen vektor kuat medan magnet yang berarah sejajar c. Ekor gelombang, yaitu bagian di belakang puncak.
dengan arah penghantar. Jadi bila komponen vektor dari kuat d. Waktu ekor gelombang, t2 (mikrodetik), yaitu waktu
medan berarah vertikal, dia tidak akan mempengaruhi atau dari permulaan sampai titik 50%E pada ekor
menimbulkan transien pada penghantar. gelombang.
Untuk mengetahui besarnya tegangan lebih akibat e. Polaritas, yaitu polaritas dari gelombang, positif
induksi petir, dibutuhkan suatu perhitungan yang terdiri dari atau negatif.
[9]:
1. Model sambaran balik yang menentukan distribusi arus
petir sepanjang saluran. III. COUPLING MODEL PADA SALURAN
2. Perubahan medan elektromagnetik menghasilkan arus TRANSMISI
terdistribusi, termasuk efek propagasi pada medan yang
dihitung di sepanjang saluran. Rusck menunjukkan bahwa model coupling antara
3. Tegangan dihasilkan dari interaksi elektromagnetik medan dan kawat diturunkan dalam arus dan tegangan total
antara medan dan konduktor saluran dengan yang terdistribusi sepanjang saluran. Persamaan saluran
menggunakan coupling model. transmisi dengan model ini diturunkan berdasarkan medan
listrik total pada permukaan konduktor ke potensial skalar
2.4 Gelombang Berjalan [8] dan potensial vektor.
Sampai saat ini sebab – sebab dari gelombang berjalan Persamaan saluran transmisi yang diturunkan oleh
yang diketahui adalah: Rusck adalah [12]:
a. sambaran kilat secara langsung pada kawat
b. sambaran kilat tidak langsung pada kawat induksi ∂u ϕ ( x, t ) ∂i ( x, t )
c. operasi pemutusan (switching operations) +i ⋅ R + L ⋅ =0
d. busur tanah (arcing grounds)
∂x ∂t
(1)
e. gangguan–gangguan pada sistem oleh berbagai
kesalahan
Semua macam sebab–sebab ini menimbulkan surja ∂i ( x, t ) ∂u ϕ ( x, t ) ∂φi ( x,0, hl , t )
+C =C
(surge) pada kawat, yaitu surja tegangan dan surja arus. Dari ∂x ∂t ∂t
sudut energi, dapat dikatakan bahwa surja pada kawat (2)
disebabkan oleh penyuntikan energi secara tiba–tiba pada
kawat. Energi ini merambat pada kawat, sama halnya seperti Pada persamaan (1) dan (2), uφ(x,t) adalah tegangan
bila kita melemparkan batu pada air yang tenang dalam induksi pada saluran akibat potensial skalar (φi) pada medan.
sebuah kolam. Energi yang merambat ini terdiri dari arus dan R adalah resistansi, L adalah induktansi, dan C adalah
tegangan. kapasitansi per unit. Tegangan total u(x,t) pada saluran
Bentuk umum suatu gelombang berjalan digambarkan adalah:
sebagai berikut:
ϕ
hl
∂Azi ( x,0, z , t )
u ( x, t ) = u ( x , t ) + ∫ ⋅ dz
0 ∂t
(3)

(a) (b)

Proceeding Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS Halaman 1 dari 6 halaman
Z0I0h 
1 + 1 β 1 

Vmax =
d  
 2 1 − 0.5β 2 
(6)
dengan
1 µ0
Z0 = = 30Ω
4π ε0

Vmax = tegangan puncak induksi petir (Volt)


Gambar 2. Representasi Terjadinya Tegangan Induksi Petir pada Z0 = impedansi pada ruang hampa (ohm)
Saluran Transmisi I0 = arus puncak petir (kA)
d = jarak antar saluran transmisi (m)
c = kecepatan cahaya (m/s)
h = tinggi menara transmisi (m)
β = rasio antara kecepatan sambaran balik dan
kecepatan cahaya

IV. ANALISIS TEGANGAN PUNCAK INDUKSI


PETIR
Gambar 3. Representasi Coupling Model Rusck pada Saluran
Transmisi 4.1
Simulasi Menggunakan ATP-EMTP
Pada tugas akhir ini, model saluran transmisi dan
Untuk menyederhanakan proses dalam mendapatkan menara disimulasikan dengan ATP-EMTP. Model yang
solusi akhir, Rusck memberikan asumsi bahwa medan listrik, disimulasikan dapat dilihat pada gambar 4. Pada saluran ini
potensial skalar dan vektor antara tanah (ground) dan tinggi akan dianalisa tegangan lebih akibat induksi petir pada
saluran adalah konstan dan sama dengan permukaan tanah. menara transmisi terhadap sambaran petir yang memiliki
Dengan perkiraan ini, solusi akhir yang ditemukan oleh nilai arus puncak 10–120 kA. Dengan menempatkan
Rusck adalah: Voltmeter pada setiap 300 meter jarak saluran transmisi,
akan dapat menunjukkan tampilan berupa tegangan lebih

transien pada saluran transmisi yang terkena sambaran
ζ0 I 0 h ct − x  − x) petir.
x + β 2 (ctinduksi
v ( x, t ) = β⋅  1+ 
2  2 
4π  d + β (ct − x)
2 2
( βct ) 2
+ ( x 2
+ d 2
) / γ
  

ct + x  x + β 2 (ct + x ) 
+ 1 + 
d 2 + β 2 (ct + x ) 2  
 ( βct ) 2 + ( x 2 + d 2 ) / γ 2 
(4)

1
dengan γ =
1− β2

Persamaan tegangan induksi petir terhadap fungsi waktu


dirumuskan sebagai berikut:
 
  Gambar 4. Pemodelan Sistem pada ATP-EMTP
 
ζI h 2 βct 1 +β2 ct / d 
v (t ) = 0 0 2
4πd 1 +( βct / d ) 2 
 2
 4.2
 Pengaruh Jarak Sambaran Petir
 ct  
 1 +β2   −1  Pada simulasi ini, jarak antar menara transmisi adalah
  d 
 

 
300 meter. Pada tiap jarak 300 meter dipasang voltmeter. V1
(5) menunjukkan voltmeter yang dipasang pada jarak 300 meter
dari pusat sambaran petir, V2 pada jarak 600 meter, dan
Sedangkan untuk mendapatkan besarnya tegangan seterusnya sampai V6 pada jarak 1800 meter. Hasil keluaran
puncak dari tegangan induksi petir diperoleh dari persamaan: berupa tegangan lebih akibat induksi petir saat arus puncak

Proceeding Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS Halaman 1 dari 6 halaman
petir 120 kA yang tampak pada masing-masing voltmeter Error Hasil Simulasi ATP-EMTP dengan Teori Rusck
ditunjukkan oleh gambar 5. Berdasarkan Jarak Sambaran

700 30
[kV]
600
25

500
20

Error (%)
400
15
300

10
200

100 5

0 0
0 500 1000 1500 2000
-100
0 5 10 15 20 [us] 25
Jarak Sambaran (m)
Gambar 5 Tegangan Induksi
(f ile V6.pl4; x-v ar t) v :V1A
v :X0114A v :X0106A
Petir Saat
v :X0110A
Berdasarkan
v :X0145A v :X0149A
Jarak Gambar 7 Grafik Error Tegangan Induksi Teori Rusck dan
Sambaran Saat Arus Puncak Petir 120 kA Simulasi ATP-EMTP Berdasarkan Jarak Sambaran

Dari gambar 7, terlihat bahwa semakin jauh jarak


Tabel 1 Nilai Tegangan Lebih Akibat Induksi Petir Berdasarkan pengukuran tegangan induksi dari pusat sambaran petir,
Jarak Sambaran Saat Arus Puncak Petir 120 kA maka semakin besar pula nilai error yang terjadi pada hasil
Tegangan Puncak simulasi.
Induksi (kV)
Jarak
Voltmeter Simulasi Error (%) 4.3 Pengaruh Arus Puncak Petir
(m) Teori
ATP- Besarnya arus puncak petir tidak dapat diperkirakan
Rusck
EMTP sebelumnya. Pada simulasi ini digunakan arus puncak petir
1 300 667,613 694,900 3,927 yang berkisar antara 10-120 kA. Besarnya nilai tegangan
2 600 333,806 351,680 5,082 induksi yang ditunjukkan pada hasil simulasi ATP-EMTP
3 900 222,538 238,820 6,818 dibandingkan dengan teori yang dikemukakan oleh Rusck.
4 1200 166,903 183,690 9,139 Hasilnya dapat kita lihat pada tabel 2.
5 1500 133,523 161,900 17,528
6 1800 111,269 150,510 26,072 Tabel 2 Nilai Tegangan Lebih Akibat Induksi Petir Berdasarkan
Arus Puncak Petir Pada Jarak 300 Meter Dari Sambaran Petir
Arus Tegangan Induksi (kV)
Jarak Sambaran vs Tegangan Puncak Induksi Petir Puncak Teori Simulasi Error (%)
800
Petir (kA) Rusck ATP-EMTP
700 10 55,634 57,909 3,928
600 20 111,269 115,820 3,93
Tegangan Puncak Induksi

500
Teori Rusck 50 278,172 289,540 3,926
400
Simulasi ATP-EMTP 80 445,075 463,270 3,927
Petir (kV)

300
200 100 556,344 579,090 3,928
100 120 667,613 694,900 3,927
0
300 600 900 1200 1500 1800
Arus Puncak Petir vs Tegangan Puncak Induksi Petir
Jarak Sambaran (m)
Gambar 6 Grafik Perbandingan Tegangan Induksi Teori Rusck dan
Simulasi ATP-EMTP Berdasarkan Jarak Sambaran 800
Tegangan Puncak Induksi Petir

700
600
Hubungan antara arus puncak petir dan tegangan
500 Tegangan Induksi (kV) Teori
puncak induksi adalah berbanding terbalik. Semakin dekat Rusck
(kV)

400
jarak sambaran petir, maka semakin besar tegangan Tegangan Induksi (kV)
300 Simulasi ATP-EMTP
induksinya. 200

100

0
10 20 50 80 100 120
Arus Puncak Petir (kA)

Gambar 8 Grafik Perbandingan Tegangan Induksi Teori Rusck dan


Simulasi ATP-EMTP Berdasarkan Arus Puncak Petir

Proceeding Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS Halaman 1 dari 6 halaman
Semakin tinggi menara, maka semakin besar pula
Hubungan antara arus puncak petir dan tegangan nilai error pada hasil simulasi. Error terkecil hanya terjadi
puncak induksi adalah berbanding lurus. Semakin kecil arus pada menara dengan tinggi 33-50 meter saja.
puncak petir, maka semakin rendah tegangan induksinya.
4.5 Pengaruh Waktu Muka (Front Time)
4.4 Pengaruh Tinggi Menara Dengan mengubah-ubah nilai waktu muka tegangan
Besarnya nilai tegangan induksi yang ditunjukkan impuls petir, nilai tegangan puncak induksi petir juga
pada hasil simulasi ATP-EMTP dibandingkan dengan hasil mengalami perubahan. Berikut ini adalah nilai tegangan
perhitungan teori yang dikemukakan oleh Rusck. Hasilnya puncak induksi petir berdasarkan waktu muka pada saat
dapat dilihat pada tabel 3: waktu ekor 50 μs.
Tabel 4 Nilai Tegangan Puncak Induksi Petir Berdasarkan Waktu
Tabel 3 Nilai Tegangan Lebih Akibat Induksi Petir Berdasarkan Muka Saat Waktu Ekor 50 μs
Tinggi Menara
Waktu Muka (μs) Tegangan Puncak Induksi Petir (kV)
Tegangan Induksi (kV) Error (%)
Tinggi 1,2 1917,4
Simulasi
Menara Teori 5 715,09
ATP-
(m) Rusck 10 313,95
EMTP
33 667,613 694,900 3,927 15 257,53
40 809,228 775,910 4,294 20 235,35
50 1011,534 950,080 6,468 Waktu Muka vs Tegangan Puncak Induksi Petir
60 1213,841 1084,300 11,947
70 1416,148 1207,700 17,259 2500

80 1618,455 1321,100 22,508


Tegangan Puncak Induksi Petir (kV)
2000

Tinggi Menara vs Tegangan Puncak Induksi Petir


1500

1800
Tegangan Puncak Induksi Petir (kV)

1000
1600
1400
500
1200
Tegangan Induksi (kV)
1000 Teori Rusck
0
800 Tegangan Induksi (kV)
Simulasi ATP-EMTP 0 5 10 15 20 25
600
Waktu Muka (μs)
400
Gambar 11. Grafik Waktu Muka vs Tegangan Puncak Induksi Petir
200
Saat Waktu Ekor 50 μs
0
33 40 50 60 70 80
Tinggi Menara (m )
Semakin cepat waktu muka sambaran petir, maka
Gambar 9. Grafik Perbandingan Tegangan Induksi Teori Rusck nilai tegangan puncak induksi yang terjadi semakin besar,
dan Simulasi ATP-EMTP Berdasarkan Tinggi Menara begitu pula sebaliknya. Hubungan antara waktu muka dengan
tegangan puncak induksi petir adalah berbanding terbalik.
Error Hasil Simulasi ATP-EMTP dengan Teori Rusck
4.6 Pengaruh Waktu Ekor (Tail Time)
Berdasarkan Tinggi Menara
Nilai tegangan puncak induksi petir juga berubah
25 dengan mengubah-ubah nilai waktu ekor tegangan impuls
petir. Berikut ini adalah nilai tegangan puncak induksi petir
20 berdasarkan waktu ekor pada saat waktu muka 1,2 μs.
Error (%)

15
Tabel 5 Nilai Tegangan Puncak Induksi Petir Berdasarkan Waktu
Muka Saat Waktu Muka 1,2 μs
10

Waktu Ekor (μs) Tegangan Puncak Induksi Petir (kV)


5
5 1708,4
0 50 1917,4
0 20 40 60 80 100 100 2042,9
Tinggi Menara (m)
150 2111,5
Gambar 10. Grafik Error Tegangan Induksi Teori Rusck dan
Simulasi ATP-EMTP Berdasarkan Tinggi Menara 200 2168,6

Proceeding Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS Halaman 1 dari 6 halaman
Waktu ekor vs Tegangan Puncak Induksi Petir
5.2. Saran
Tegangan Puncak Induksi Petir (kV)

2500
Saran yang dapat diberikan setelah mengerjakan
2000
Tugas Akhir adalah :
1. Pada tugas akhir ini,
1500 coupling model yang digunakan hanya teori Rusck
saja. Untuk selanjutnya dapat digunakan coupling
1000
model yang lain, seperti Agrawal, Rachidi, Chowduri,
500
dan lain sebagainya.
2. Perangkat lunak ATP-
0 EMTP dapat digunakan secara akurat hanya pada
0 50 100 150 200 250
lokasi yang dekat dengan sambaran petir. Untuk
Waktu Ekor (μs)
Gambar 12. Grafik Waktu Ekor vs Tegangan Puncak Induksi Petir selanjutnya, bisa digunakan perangkat lunak EMTP-
Saat Waktu Muka 1,2 μs RV yang memiliki tingkat ketelitian lebih tinggi.

Hubungan antara waktu ekor dengan tegangan puncak


induksi petir adalah berbanding lurus. Semakin besar waktu DAFTAR PUSTAKA
ekor sambaran petir, maka nilai tegangan puncak induksi
akan mengalami sedikit kenaikan. [1] Kadir, Abdul. 1998. Transmisi Tenaga Listrik.
Jakarta: UI–Press.
V. KESIMPULAN DAN SARAN [2] L. Tobing, Bonggas. 2003. Peralatan Tegangan
Tinggi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
5.1. Kesimpulan [3] Mahmudsyah, Syariffuddin. 2007. Teknik Tegangan
Kesimpulan yang didapat dari analisis dan Tinggi. Handout Kuliah, Jurusan Teknik Elektro ITS,
pembahasan perhitungan adalah : Surabaya.
1. Simulasi pada ATP-EMTP sangat relevan dengan [4] Arismunandar, A. 1975. Teknik Tegangan Tinggi.
teori Rusck pada jarak maksimum 1200 meter dari Jakarta: Pradnya Paramita.
pusat sambaran petir dengan batasan error 9,139%. [5] Zoro H. Reynaldo. 2004. Proteksi Terhadap
Sementara untuk tinggi menara, pengukuran yang Tegangan Lebih Petir Pada Sistem Tenaga Listrik.
akurat hanya pada ketinggian 33-50 meter saja dengan Catatan Kuliah, Departemen Teknik Elektro ITB,
batasan error 6,468%. Bandung.
2. Tegangan puncak induksi petir berbanding terbalik [6] Mahmudsyah, Syariffuddin. 2007. Teknik Tegangan
dengan jarak sambaran. Nilai tegangan puncak Tinggi: Petir dan Permasalahannya. Diktat Kuliah.
induksi petir yang terbesar terjadi pada jarak Jurusan Teknik Elektro ITS, Surabaya.
sambaran terdekat (300 meter) yaitu 667,613 kV. [7] Golde, R. H., 1977. Lightning Protection. London:
Sedangkan nilai tegangan puncak induksi terkecil Academic Press Inc, vol-2.
terjadi pada jarak sambaran terjauh (1800 meter) yaitu [8] Hutauruk, T.S. 1989. Gelombang Berjalan dan
111,269 kV. Proteksi Surja. Jakarta: Erlangga.
3. Hubungan antara tegangan puncak induksi petir [9] Nucci, C.A., Rachidi, F., 1999. ”Lightning-Induced
dengan arus puncak petir adalah berbanding lurus. Overvoltages”. IEEE Transmission and
Nilai tegangan puncak induksi petir yang terkecil Distribution Conference, Panel Session
terjadi pada saat arus puncak petir terendah (10 kA) ”Distribution Lightning Protection”, New Orleans,
yaitu 55,634 kV. Sedangkan nilai tegangan puncak April 14.
induksi terbesar terjadi pada saat arus puncak petir [10] Hayt, William. 1989. Elektomagnetika Teknologi:
tertinggi (120 kA) yaitu 667,613 kV. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.
4. Tinggi menara berbanding lurus dengan tegangan [11] Mottola, Fabio. 2007. ”Methods and Techniques for
puncak induksi petir. Nilai tegangan puncak induksi the Evaluation of Lightning-Induced Overvoltages on
petir yang terkecil terjadi pada menara terendah (33 Power Lines: Application to MV Distribution
meter) yaitu 667,613 kV. Sedangkan nilai tegangan Systems for Improving the Quality of Power Supply”.
puncak induksi terbesar terjadi pada menara tertinggi PhD Thesis of Electrical Engineering. University
(80 meter) yaitu 1,618 MV. Federico II of Napoli.
5. Waktu muka dan waktu ekor tegangan impuls petir [12] Mimouni, A., Azzouz, Z.E., Ghemri, B., 2007.
mempengaruhi nilai tegangan induksi petir. Semakin ”Lightning-Induced Overvoltages on Overhead Lines:
cepat waktu muka, semakin besar tegangan puncak Modeling and Experimental Validation”. Journal of
induksi petir. Sedangkan semakin cepat waktu ekor Electrical Engineering, Vol. 58, No. 3, 146-151.
petir, semakin kecil tegangan puncak induksi petir.

Proceeding Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS Halaman 1 dari 6 halaman
[13] Prikler, László dan Hans Kr. Høidalen. 1998.
ATPDraw for Windows 3.1x/95/NT version 1.0:
User’s Manual. Trondheim: SINTEF Energy
Research.
[14] <URL: http://www.petir.com>

BIODATA PENULIS

M. Yusron Affandi dilahirkan di kota


Sidoarjo, 22 April 1987. Penulis adalah
putra kedua dari tiga bersaudara pasangan
Samsul Hadi dan Mujiati. Pada tahun
2005, penulis masuk ke Jurusan Teknik
Elektro Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya lewat jalur SPMB
dan mengambil bidang studi Teknik
Sistem Tenaga. Mulai tahun 2008, penulis
aktif sebagai asisten untuk Praktikum Pengukuran Listrik di
Laboratorium Instrumentasi Pengukuran dan Identifikasi
Sistem Tenaga Listrik.
Email : yusaffandi@elect-eng.its.ac.id

Proceeding Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS Halaman 1 dari 6 halaman