Anda di halaman 1dari 22

Peralatan ventilasi mekanis dan sarana pengaturan ventilasi

Dalam membahas pengaturan ventilasi tambang yang bersifat mekanisperlu juga dipahami
masalah yang berhubungan dengan kemungkinan adanya aliran udara akibat ventilasi alami,
yaitu antara aliran udara sebagai akibatperbedaan temperatur yang timbul secara
alamiVentilator mekanis adalah alat pernafasan bertekanan negatif atau positif yang dapat
mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen selama waktu yang lama (Brunner and
Suddarth, 2001).
Merawat pasien pada ventilator mekanis telah menjadi bagian integral dari asuhan
keperawatan di unit perawatan kritis, di unit medikal bedah umum, di fasilitas perawatan
yang luas, dan bahkan di rumah. Perawat, dokter, dan ahli terapis pernapasan harus mengerti
masing-masing kebutuhan pernapasan spesifik pasien dan bekerja bersama untuk membuat
tujuan yang realistis. Rumusan penting untuk hasil pasien yang positf termasuk memahami
prinsip-prinsip ventilasi mekanis dan perawatan yang dibutuhkan dari pasien, juga
komunikasi terbuka diantara tim perawatan kesehatan tentang tujuan terapi, rencana
penyapihan (weaning), dan toleransi pasien terhadap perubahan dalam pengesetan ventilator.

2.2 Klasifikasi Ventilator


Terdapat beberapa jenis ventilator mekanis.Ventilator diklasifikasikan berdasarkan cara
alat tersebut mendukung ventilasi. Dua kategori umum adalah ventilator tekanan-negatif dan
tekanan-positif.
Sampai sekarang kategori yang paling umum digunakan adalah ventilator tekananpositif. Ventilator tekanan-positif juga termasuk klasifikasi metoda fase inspirasi akhir
(tekanan-bersiklus, waktu-bersiklus dan volume-bersiklus).
2.2.1

Ventilator Tekanan Negatif


Ventilator tekanan negatif mengeluarkan tekanan negatif pada dada eksternal. Dengan

mengurangi tekanan intratoraks selama inspirasi memungkinkan udara untuk mengalir ke


dalam paru-paru, sehingga memenuhi volumenya. Secara fisiologis, jenis ventilasi terbaru ini
serupa dengan ventilasi spontan. Ventilator jenis ini digunakan terutama pada gagal nafas
kronik

yang

berhubungan

dengan

kondisi

neurovaskular

seperti

poliomielitis,

distrofimuskular, sklerosis lateral amiotrofik, dan miasteniagravis. Penggunaannya tidak


sesuai untuk pasien yang tidak stabil atau pasien yang kondisinya membutuhkan perubahan
ventilatori sering.

Ventilator tekanan negatif adalah alat yang mudah digunakan dan tidak membutuhkan
intubasi jalan nafas pasien. Ventilator ini digunakan paling sering untuk pasien dengan fungsi
pernafasan borderline akibat penyakit neuromuskular. Akibatnya, ventilator ini sangat baik
untuk digunakan di lingkungan rumah. Terdapat beberapa jenis ventilator tekanan negatif:
iron lung, body wrap, dan chest cuirass.
Drinker Respirator Tank (Iron Lung). Iron Lung adalah bilik tekanan negatif yang
digunakan untuk ventilasi. Alat ini pernah digunakan secara luas selama epidemik polio pada
masa lalu dan sekarang digunakan oleh pasien-pasien yang selamat dari penyakit polio dan
kerusakan neuromuskular lainnya.
Body Wrap (Pneumowrap) dan Chest Cuirass (Tortoise Shell). Kedua alat portabel ini
membutuhkan sangkar atau shell yang kaku untuk menciptakan bilik tekanan negatif disekitar
toraks dan abdomen. Karena masalah-masalah dengan ketepatan ukuran dan kebocoran
sistem, jenis ventilator ini hanya digunakan dengan hati-hati pada pasien tertentu.
2.2.2

Ventilator Tekanan Positif


Ventilator tekanan positif menggembungkan paru-paru dengan mengeluarkan tekanan

positif pada jalan nafas, serupa dengan mekanisme di bawah, dan dengan demikian
mendorong alveoli untuk mengembang selama inspirasi. Ekspirasi terjadi secara pasif.
Pada ventilator jenis ini diperlukan intubasi endotrakea atau trakeostomi. Ventilator ini
secara luas digunakan di lingkungan rumah sakit dan meningkat penggunaannya di rumah
untuk pasien dengan penyakit paru primer. Terdapat tiga jenis ventilator tekanan positif,
yaitu:
1.

Ventilator Tekanan-Bersiklus.

Ventilator tekanan bersiklus adalah ventilator tekanan positif yang mengakhiri inspirasi
ketika tekanan preset telah tercapai. Dengan kata lain, siklus ventilator hidup, mengantarkan
aliran udara sampai tekanan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya tercapai, dan
kemudian siklus mati. Keterbatasan utama dengan ventilator jenis ini adalah bahwa volume
udara atau oksigen dapat beagam sejalan dengan perubahan tahanan atau kompliens jalan
napas pasien. Akibatnya adalah suatu ketidakkonsistensian dalam jumlah volume tidal yang
dikirimkan dan kemungkinan mengganggu ventilasi. Konsekuensinya, pada orang dewasa,
ventilator tekanan-bersiklus dimaksudkan hanya untuk penggunaan jangka pendek di ruang
pemulihan. Jenis yang paling umum dari ventilator jenis ini adalah mesin IPPB.
2.

Ventilator Waktu-Bersiklus
Ventilator waktu-bersiklus mengakhiri atau mengendalikan inspirasi setelah waktu yang
ditentukan. Volume udara yang diterima pasien diatur oleh kepanjangan inspirasi dan

frekuensi aliran udara. Sebagian besar ventilator mempunyai frekuensi kontrol yang
menentukan frekuensi pernapasan, tetapi waktu-pensiklus murni jarang digunakn untuk orang
dewasa. Ventilator ini digunakan pada neonatus dan bayi.
3.

Ventilator Volume-Bersiklus
Ventilator volume bersiklus sejauh ini adalah ventilator tekanan-positif yang paling banyak
digunakan sekarang. Dengan ventilator jenis ini, volume udara yang akan dikirimkan pada
setiap inspirasi telah ditentukan. Mana kala volume preset ini telah dikirimkan pada pasien,
siklus ventilator mati dan ekshalasi terjadi secara pasif. Dari satu nafas ke nafas lainnya,
volume udara yang dikirimkan oleh ventilator secara relatif konstan, sehingga memastikan
pernapasan yang konsisten, adekuat meski tekanan jalan nafas beragam.

2.3 Gambaran dan Pengesetan Volume Vetilator


Berbagai gambaran digunakan dalam penatalaksanaan pasien pada ventilator mekanis.
Ventilator disesuaikan sehingga pasien merasa nyaman dan dalam harmoni dengan mesin.
Perubahan yang minimal dari dinamik kardiovaskuler dan paru diharapkan. Jika volume
ventilator disesuaikan dengan tepat, kadar gas darah arteri pasien akan terpenuhi dan akan
ada sedikit atau tidak ada sama sekali gangguan kardiovaskuler.
Pengesetan awal ventilator setting :
1.
2.

Atur mesin untuk memberikan volume tidal yang dibutuhkan (10-15 ml/kg).
Sesuaikan

mesin

untuk

memberikan

konsentrasi

oksigen

terendah

untuk

mempertahankan PaO2 normal (80-100 mmHg). Pengesetan ini dapat diatur tinggi dan
secara bertahap dikurangi berdasarkan pada hasil pemeriksaan gas darah arteri.
3.

Catat tekanan inspiratori puncak.

4.

Atur cara (bantu-kontrol atau ventilasi mandatori intermiten) dan frekuwensi sesuai
dengan program medik dokter.

5 Jika ventilator diatur pada cara bantu kontrol, sesuaikan sensivitasnya sehingga pasien
dapat merangsang ventilator dengan upaya minimal (biasanya 2 mmHg dorongan
inspirasi negatif).
6.

Catat volume 1 menit dan ukur tekanan parsial karbondioksida (PCO2) dan PO2,
setelah 20 menit ventilasi mekanis kontinu.

7.

Sesuaikan pengesetan (FO2 dan frekuwensi) sesuai dengan hasil pemeriksaan gas darah
arteri atau sesuai dengan yang ditentukan oleh dokter.

8.

Jika pasien menjadi bingung atau agitasi atau mulai Bucking ventilator karena alasan
yang tidak jelas, kaji terhadap hipoksemia dan ventilasikan manual pada oksigen 100%
dengan bag resusitasi.

2.4 Indikasi Ventilasi Mekanis


Jika pasien mengalami penurunan kontinu oksigenasi (PaO2), peningkatan kadar
karbondioksida arteri (PaCO2), dan asidosis persisten (penurunan pH), maka ventilasi
mekanis kemungkinan diperlukan. Kondisi seperti pascaoperatif bedah toraks atau abdomen,
takar lajak obat, penyakit neuromuskular, cedera inhalasi, PPOM, trauma multipel, syok,
kegagalan multisistem, dan koma semuanya dapat mengarah pada gagal nafas dan perlunya
ventilasi mekanis. Kriteria untuk ventilasi mekanis berfungsi sebagai pedoman dalam
membuat keputusan untuk menempatkan pasien pada ventilator. Pasien dengan apnea yang
tidak cepat pulih juga merupakan kandidat untuk ventilasi mekanis.
NO
1.

PARAMETER
Frekuensi Pernafasan.

NILAI

TINDAKAN

<10 kali/menit (penurunan

Evaluasi pasien dan

kendali pernafasan.

hilangkan
penyebab.

16-20 kali/per menit.

Normal.

28-40 kali/menit.

Evaluasi pasien dan


lakukan tindakan
yang tepat.
Pertimbangkan
intubasi/ventilasi
terencana.

2.

3.

4.

Kapasitas Vital.

Tekanan inspirasi.

<10-20 ml/kg(cadangan

Lihat tanda gagal

pernafasan buruk).

nafas.

<20 cm H2O atau cenderung

Siapkan dukungan

menurun.

ventilator.

<7,25

Evaluasi

Gas darah Arteri.


Ph

dikombinasi

dengan
peningkatan
PaCO2.
PaCO2

<50mm/Hg

Evaluasi
dikombinasi
dengan penurunan
pH.

<50 mmHg dengan terapi O2


PaO2

Evaluasi
dikombinasi
dengan pH dan
PaCO2.

300 mmHg

5.

25-30
6.
Gradien pirau A-a

Penurunan atau tidak ada bunyi

Beri O2 100%

nafas.

Siapkan dukungan
ventilator.

7.

Auskultasi dada

8.

9.

Nadi lebih dari 120, disritmia

Monitor disritmia.

Kelelahan berat, penurunan

Evaluasi hal diatas

Irama dan frekuwensi tolenransi aktivitas

dan lakukan

jantung

tindakan tepat.

Aktivitas

10.
Status mental

Kacau mental, delirium,

Monitor aktivitas

samnolen.

kejang hipoksik.

Penggunaan otot asesori,

Siapkan dukungan

kelelahan, kerja pernafasan berat.

ventilator.

Observasi fisik
Tabel 2.1 Indikasi Ventilasi Mekanis
2.5 Komplikasi Ventilasi Mekanis
Pasien dengan ventilator mekanis memerlukan observasi, keterampilan dan asuhan
keperawatan berulang. Komplikasi yang dapat terjadi dengan terapi ventilator ini adalah:
1.

Komplikasi pada jalan nafas

Aspirasi dapat terjadi sebelum, selama, atau setelah intubasi. Kita dapat meminimalkan
resiko aspirasi setelah intubasi dengan mengamankan selang, mempertahankan manset
mengembang, dan melakukan penghisapan oral dan selang kontinu secara adekuat. Bila
resusitasi diperpanjang dan distensi gastrik terjadi, jalan nafas harus diamankan sebelum
memasang selang nasogastrik untuk dekompresi lambung. Bila aspirasi terjadi potensial
untuk terjadinya SDPA meningkat.
Kebanyakan pasien dengan ventilator perlu dilakukan restrein pada kedua tangan,
karena ekstubasi tanpa disengaja oleh pasien sendiri dengan aspirasi adalah komplikasi yang
pernah terjadi. Selain itu self-extubation dengan manset masih mengembang dapat
menimbulkan kerusakan pita suara.
Prosedur intubasi itu sendiri merupakan resiko tinggi. Contoh komplikasi intubasi
meliputi:
a.
b.

Intubasi lama dan rumit meningkatkan hipoksia dan trauma trakea.


Intubasi batang utama (biasanya kanan) ventilasi tak seimbang, meningkatkan laju

mortalitas.
c.

Intubasi sinus piriformis (jarang) abses faringeal

Pnemonia

Pseudomonas

sering

terjadi

pada

kasus

intubasi

lama

dan

selalu

kemungkinanpotensial dari alat terkontaminasi.


2.

Masalah Selang Endotrakeal


Bila selang diletakkan secara nasotrakeal, infeksi sinus berat dapat terjadi.
Alternatifnya, karena posisi selang pada faring, orifisium ke telinga tengah dapat tersumbat,
menyebabkan otitis media berat, kapanpun pasien mengeluh nyeri sinus atau telinga atau
terjadi demam dengan etiologi yang tidak diketahui, sinus dan telinga harus diperiksa untuk
kemungkinan sumber infeksi.
Beberapa derajat kerusakan trakeal disebabkan oleh intubasi lama. Stenosis trakeal dan
malasia dapat diminimalkan bila tekanan manset diminimalkan. Sirkulasi arteri dihambat
oleh tekanan manset kurang lebih 30 mm/Hg. Penurunan insiden stenosis dan malasia telah
dilaporkan dimana tekanan manset dipertahankan kurang lebih 20 mm/Hg. Bila edema laring
terjadi, maka ancaman kehidupan paskaekstubasi dapat terjadi.

3.

Masalah Mekanis
Malfungsi ventilator adalah potensial masalah serius. Tiap 2-4 jam ventilator diperiksa
oleh staf keperawatan atau pernafasan. VT tidak adekuat disebabkan oleh kebocoran dalam
sirkuit atau manset, selang atau ventilator terlepas, atau obstruksi aliran. Selanjutnya

disebabkan oleh terlipatnya selang, tahanan sekresi, bronkospasme berat, spasme batuk, atau
tergigitnya selang endotrakeal.
Secara latrogenik menimbulkan komplikasi melampaui kelebihan ventilasi mekanis
yang menyebabkan alkalosis respiratori dan karena ventilasi mekanis menyebabkan asidosis
respiratori atau hipoksemia. Penilaian GDA menentukan efektivitas ventilasi mekanis.
Perhatikan, bahwa pasien PPOM diventilasi pada nilai GDA normal mereka, yang dapat
melibatkan kadar karbondioksida tinggi.
4.

Barotrauma
Ventilasi mekanis melibatkan pemompaan udara kedalam dada, menciptakan tekanan
positif selama inspirasi. Bila TEAP ditambahkan, tekanan ditingkatkan dan dilanjutkan
melalui ekspirasi. Tekanan positif ini dapat menyebabkan robekan alveolus atau emfisema.
Udara kemudian masuk ke area pleural, menimbulkan tekanan pneumotorak-situasi darurat.
Pasien dapat mengembangkan dispnea berat tiba-tiba dan keluhan nyeri pada daerah yang
sakit. Tekanan ventilator menggambarkan peningkatan tajam pada ukuran, dengan
terdengarnya bunyi alarm tekanan. Pada auskultasi, bunyi nafas pada area yang sakit
menurun atau tidak ada. Observasi pasien dapat menunjukkan penyimpangan trakeal.
Kemungkinan paling menonjol menyebabkan hipotensi dan bradikardi yang menimbulkan
henti jantung tanpa intervensi medis. Sampai dokter datang untuk dekompresi dada dengan
jarum, intervensi keperawatannya adalah memindahkan pasien dari sumber tekanan positif
dan memberi ventilasi dengan resusitator manual, memberikan pasien pernafasan cepat.

5.

Penurunan Curah Jantung.


Penurunan curah jantung ditunjukkan oleh hipotensi bila pasien pertama kali dihubungkan ke
ventilator ditandai adanya kekurangan tonus simpatis dan menurunnya aliran balik vena.
Selain itu hipotensi adalah tanda lain dan gejala dapat meliputi gelisah yang tidak dapat
dijelaskan, penurunan tingkat kesadaran, penurunan haluarana urine, nadi perifer lemah,
pengisian kapiler lambat, pucat, lemah, dan nyeri dada. Hipotensi biasanya diperbaiki dengan
meningkatkan cairan untuk memperbaiki hipovolemia.

6.

Keseimbangan air positif


Penurunan aliran balik vena ke jantung dirangsang oleh regangan reseptor vagal pada atrium
kanan. Manfaat hipovolemia ini merangsang pengeluaran hormon antidiuretik dari hipofise
posterior. Penurunan curah jantung menimbulkan penurunan haluaran urine melengkapi
masalah dengan merangsang respons aldosteron renin-angiotensin. Pasien yang bernafas
secara mekanis, hemodinamik tidak stabil, dan yang memerlukan jumlah besar resusitasi
cairan dapat mengalami edema luas, meliputi edema sakral dan fasial.

2.6 Asuhan Keperawatan


2.6.1

Pengkajian
Perawat mempunyai peran penting dalam mengkaji status pasien dan fungsi

ventilator. Dalam mengkaji pasien, perawat mengevaluasi hal-hal berikut:


a.

Tanda-tanda vital.

b.

Bukti adanya Hipoksia (Gelisah, Ansietas, Takikardia, Peningkatan Frekuensi Pernapasan,


Sianosis).

c.

Frekuensi dan Pola Pernapasan.

d.

Bunyi Napas.

e.

Status Neurologis.

f.

Volume Tidal, Ventilasi Satu Menit, Kapasitas Vital Kuat.

g.

Kebutuhan Penghisapan.

h.

Upaya Ventilasi Spontan Pasien.

i.

Status Nutrisi.

j.

Status Psikologis.
Pengkajian fungsi jantung. Perubahan dalam curah jantung dapat terjadi sebagai akibat
ventilator tekanan positif. Tekanan intratorak positif selama inspirasi menekan jantung dan
pembuluh darah besar, dengan demikian mengurangi arus balik vena dan curah jantung. Hal
ini biasanya diperbaiki selama ekshalasi ketika tekanan positif mati. Tekanan positif yang
berlebihan dapat menyebabkan pneumotoraks spontan akibat trauma pada alveoli. Kondisi ini
dapat dengan cepat berkembang menjadi pneumotoraks tension, yang lebih jauh lagi
mengganggu arus balik vena, curah jantung, dan tekanan darah.
Untuk mengevaluasi fungsi jantung, perawat pertama-tama harus memperhatikan tandatanda dan gejala-gejala hipoksemia dan hipoksia (gelisah, gugup, kelam pikir, takikardia,
takipnea, pernapasan labored, pucat yang berkembang menjadi sianosis, berkeringat,
hipertensi transien, dan penurunan haluaran urin). Jika terpasang kateter arteri pulmonal,
curah jantung, indeks jantung, dan nilai-nilai hemodinamik lainnya dapat ditentukan.
Pengkajian peralatan. Ventilator juga harus dikaji untuk memastikan bahwa ventilator
berfungsi dengan tepat dan bahwa pengesetannya telah dibuat dengan tepat. Meski perawat
tidak benar-benar bertanggung jawab terhadap penyesuaian pengesetan pada ventilator atau
pengukuran parameter ventilator (biasanya ini merupakan tanggung jawab dari ahli terapi
pernapasan). Perawat bertanggung jawab terhadap pasien dan karenanya harus mengevaluasi

bagaimana ventilator mempengaruhi status pasien secara keseluruhan. Dalam memantau


ventilator, perawat harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.

Jenis ventilator (volume bersiklus, tekanan bersiklus, tekanan negatif).

2.

Cara pengendalian (kontrol, bantu/kontrol, intermitent mandatory, ventilation).

3.

Pengesetan volume tidal dan frekuensi.

4.

Pengesetan F1O2 (fraksi oksigen yang diinspirasi).

5.

Tekanan inspirasi yang dicapai dan batasan tekanan.

6.

Pengesetan sigh (biasanya 1,5x dari volume tidal dan berkisar dari 1-3/jam) jika

memungkinkan.
7.

Adanya air dalam selang, terlepasnya sambungan, atau terlipatnya selang.

8.

Humidifikasi (humidifier dengan air).

9.

Alarm (fungsi yang sesuai).


2.6.2 Diagnosa keperawatan

Berdasarkan pada data pengkajian, diagnosa keperawatan mayor pasien dapat mencangkup :
1.

Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan penyakit yang mendasari, atau
penyesuaian pengesetan ventilator selama stabilisasi penyapihan.

2.

Ketidak efektifan jalan napas yang berhubungan sengan pembentukan lendir yang berkaitan
dengan ventilasi mekanis tekanan positif kontinu.

3.

Resiko terhadap trauma dan infeksi berhubungan dengan inkubasi endotrakea dan
trakeostomi.

4.
5.

Kerusakan mobilitas fisik yang berhungan dengan ketergantungan ventilator.


Kerusakan komunikasi verbal berhungan dengan tekanan selang endotrakea dan
pemasangan pada ventilator.

6.

Koping individu tidak efektif dan ketidak berdayaan yang berhungan dengan
ketergantunagn pada ventilator
2.6.3

Intervensi Keperawatan

Meningkatkan pertukaran gas. Tujuan menyeluruh ventilasi mekanis adalah untuk


mengoptimalkan pertukaran gas dengan mempertahankan ventilasi alveolar dan pengiriman
oksigen. Perubahan pertukaran gas dapat dikarenakan penyakit yang mendasari atau faktorfaktor mekanis yang berhubungan dengan penyesuaian dari mesin dengan pasien. Tim
perawatan kesehatan, termasuk perawat, dokter, dan ahli trapi pernapasan, secara kontinu
mengkaji pasien terhadap pertukaran gas yang adekuat, tanda dan gejal hipoksia, dan respon
terhadap tindakan.

Intervensi keperawatan dengan pasien ventilator mekanis tidak berbeda secara unik
dengan pasien gangguan paru lainnya namun kebutuhan akan pengamatan keperawatan dan
penegakan hubungan perawat-pasien yang terapeutik adalh sangat penting. Konstilasi
intervensi yang digunakan oleh perawat ditentukan oleh proses penyakit yang mendasari dan
respon pasien. Sebagai contoh pertukaran gas yang tidak adekuat dapat berhubungan dengan
faktor yang sangat beragam:tingakat kesadaran yang berubah, atelektasis, kelebihan cairan,
nyeri insisi, atau penyakit primer seperti pnemonia.
Klasifikasi Ventilasi Mekanis
Klasifikasi Ventilasi mekanik berdasarkan cara alat tersebut mendukung ventilasi, dua
kategori umum adalah ventilator tekanan negatif dan tekanan positif. Berdasarkan mekanisme
kerjanya ventilator mekanik tekanan positif dapat dibagi menjadi empat jenis yaitu :
Volume Cycled Ventilator.
Volume cycled merupakan jenis ventilator yang paling sering digunakan di ruangan unit
perawatan kritis. Perinsip dasar ventilator ini adalah cyclusnya berdasarkan volume. Mesin
berhenti bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai volume yang ditentukan.
Keuntungan volume cycled ventilator adalah perubahan pada komplain paru pasien tetap
memberikan volume tidal yang konsisten.
Jenis ventilator ini banyak digunakan bagi pasien dewasa dengan gangguan paru secara
umum. Akan tetapi jenis ini tidak dianjurkan bagi pasien dengan gangguan pernapasan yang
diakibatkan penyempitan lapang paru (atelektasis, edema paru). Hal ini dikarenakan pada
volume cycled pemberian tekanan pada paru-paru tidak terkontrol, sehingga dikhawatirkan
jika tekanannya berlebih maka akan terjadi volutrauma. Sedangkan penggunaan pada bayi
tidak dianjurkan, karena alveoli bayi masih sangat rentan terhadap tekanan, sehingga
memiliki resiko tinggi untuk terjadinya volutrauma.
Pressure Cycled Ventilator
Prinsip dasar ventilator type ini adalah cyclusnya menggunakan tekanan. Mesin berhenti
bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai tekanan yang telah ditentukan. Pada titik

tekanan ini, katup inspirasi tertutup dan ekspirasi terjadi dengan pasif. Kerugian pada type ini
bila ada perubahan komplain paru, maka volume udara yang diberikan juga berubah.
Sehingga pada pasien yang setatus parunya tidak stabil, penggunaan ventilator tipe ini tidak
dianjurkan, sedangkan pada pasien anak-anak atau dewasa mengalami gangguan pada luas
lapang paru (atelektasis, edema paru) jenis ini sangat dianjurkan.
Time Cycled Ventilator
Prinsip kerja dari ventilator type ini adalah cyclusnya berdasarkan waktu ekspirasi atau waktu
inspirasi yang telah ditentukan. Waktu inspirasi ditentukan oleh waktu dan kecepatan
inspirasi (jumlah napas permenit). Normal ratio I : E (inspirasi : ekspirasi ) 1 : 2.
Berbasis aliran (Flow Cycle)
Memberikan napas/ menghantarkan oksigen berdasarkan kecepatan aliran yang sudah
disetting terlebih dahulu.
Jenis Ventilator Mekanik
Mode control (pressure control, volume control, continuous mode). Pasien mendapat bantuan
pernafasan sepenuhnya, pada mode ini pasien dibuat tidak sadar (tersedasi) sehingga
pernafasan di kontrol sepenuhnya oleh ventilator. Tidal volume yang didapat pasien juga
sesuai yang di set pada ventilator. Pada mode control klasik, pasien sepenuhnya tidak mampu
bernafas dengan tekanan atau tidal volume lebih dari yang telah di set pada ventilator. Namun
pada mode control terbaru, ventilator juga bekerja dalam mode assist-control yang
memungkinkan pasien bernafas dengan tekanan atau volum tidal lebih dari yang telah di set
pada ventilator.
Mode Intermitten Mandatory Ventilation (IMV). Pada mode ini pasien menerima volume dan
frekuensi pernafasan sesuai dengan yang di set pada ventilator. Diantara pernafasan
pemberian ventilator tersebut pasien bebas bernafas. Misalkan respiratory rate (RR) di set 10,
maka setiap 6 detik ventilator akan memberikan bantuan nafas, diantara 6 detik tersebut

pasien bebas bernafas tetapi tanpa bantuan ventilator. Kadang ventilator memberikan bantuan
saat pasien sedang bernafas mandiri, sehingga terjadi benturan antara kerja ventilator dan
pernafasan mandiri pasien. Hal ini tidak akan terjadi pada
Mode Synchronous Intermitten Mandatory Ventilation (SIMV) yang sama dengan mode IMV
hanya saja ventilator tidak memberikan bantuan ketika pasien sedang bernafas mandiri.
Sehingga benturan terhindarkan.
Mode Pressure Support atau mode spontan. Ventilator tidak memberikan bantuan inisiasi
nafas lagi. Inisiasi nafas sepenuhya oleh pasien, ventilator hanya membantu pasien mencapai
tekanan atau volume yang di set di mesin dengan memberikan tekanan udara positif.

AXIAL FLOW

RADIAL FLOW

1. Segi Mekanika Batuan apakah sistem tambang bawah tanah yang akan diterapkan
dapatditunjang oleh sistem penyanggaan terhadap bukaan-bukaan di dalam tambang.
Apakah masih menguntungkan untuk dilakukan penambangan denganmenggunakan
sisitem penyanggaan yang diperlukan.
2. Segi Ventilasi Tambang apakah pada kedalam tambang yang akan dihadapi masih
dimungkinkanuntuk melakukan pengaturan udara agar penambangan dapat
dilaksanakandengan suasana kerja dan lingkungan kerja yang nyaman.Apakah
jawaban dari kedua masalah diatas adalah ya, Jika ya, makadapatlah dimulai membuat
rancangan dari jaringan ventilasi dari tambang tersebut.

Segi Ventilasi Tambang apakah pada kedalam tambang yang akan dihadapi masih
dimungkinkanuntuk melakukan pengaturan udara agar penambangan dapat
dilaksanakandengan suasana kerja dan lingkungan kerja yang nyaman.
1.Fungsi Ventilasi Tambang
Ventilasi tambang berfungsi untuk :

Menyediakan dan mengalirkan udara segar kedalam tambang untukkeperluan


menyediakan udara segar (oksigen) bagi pernapasan para pekerjadalam tambang dan
juga bagi segala proses yang terjadi dalam tambangyang memerlukan oksigen.

Melarutkan dan membawa keluar dari tambang segala pengotoran dari gas-gas yang
ada di dalam tambang hingga tercapai keadaan kandungan gasdalam udara tambang
yang memenuhi syarat bagi pernapasan.

Menyingkirkan debu yang berada dalam aliran ventilasi tambang bawahtanah hingga
ambang batas yang diperkenankan.

Mengatur panas dan kelembaban udara ventilasi tambang bawah tanahsehingga dapat
diperoleh suasana lingkungan kerja yang nyaman.

2.Prinsip Ventilasi Tambang


Pada pengaturan aliran udara dalam ventilasi tambang bawah tanah,berlaku hukum alam
bahwa:

Udara akan mengalir dari kondisi bertemperatur rendah ke temperatur panas.

Udara akan lebih banyak mengalir melalui jalur-jalur ventilasi yangmemberikan


tahanan yang lebih kecil dibandingkan dengan jalur bertahananyang lebih besar.

Hukum-hukum mekanika fluida akan selalu diikuti dalam perhitungan dalamventilasi


tambang.

3.Lingkup Ventilasi Tambang


Pengaturan./Pengendalian kualitas udara tambang. Dalam hal ini akandibahas permasalahan
persyaratan udara segar yang diperlukan oleh parapekerja bagi pernafasan yang sehat dilihat
dari segi kualitas udara (Qualitycontrol).

Pengaturan/pengendalian kuantitas udara tambang segar yang diperlukanoleh pekerja


tambang bawah tanah. Dalam hal ini akan dibahas perhitunganuntuk jumlah aliran

udara yang diperlukan dalam ventilasi dan pengaturan jaringan ventilasi tambang
sampai perhitungan kapasitas dari kipas angin

Pengaturan suhu dan kelembaban udara tambang agar dapat diperolehlingkungan


kerja yang nyaman. Dalam hal ini akan dibahas mengenaipenggunaan ilmu yang
mempelajari sifat-sifat udara atau psikrometri(psychrometry).

.
Adapun hukum yang berlaku adalah hukum Bernoulli. Dalam bentuk yang sederhana, hukum
Bernoulli berlaku untuk aliran fluida yang termampatkan (compressible) dijabarkan dalam
rumus :

Dimana :
P

= tekanan fluida

= densitas fluida

= percepatan gravitasi bumi

= ketinggian relatif terhadap suatu referensi (acuan)

= kecepatan aliran fluida

2.1.2

Kelembaban Relatif Udara


Kelembaban relatif udara merupakan bilangan yang dinyatakan dalam % yang

menunjukkan perbandingan antara jumlah uap yang dikandung udara pada temperatur
tertentu terhadap jumlah uap air maksimum yang dapat dikandung pada temperatur yang
sama. Pada dasarnya kandungan uap air dalam udara akan memiliki temperature yang lebih
hangat dibandingkan dengan uap air yang tercampur dalam udara dingin. Apabila udara
memiliki kandungan uap air yang mendadak dingin maka temperature nya akan turun
sehingga akibatnya udara tidak dapat menahan uap air. Bisa juga Kelembaban udara
dikatakan sebagai suatu nilai konsentrasi uap air yang terkandung dalam udara. Nilai ini
dapat dilihat dari Kelembaban absolute dan Kelembaban relatif dengan rumus sebagai berikut
:

Kelembaban Relatif = Jumlah Uap Air x 100 %


Jumlah Uap Air Maks

Pengukuran Kelembaban udara ini dilakukan


menggunakan alat yakni Thermometer dengan pengukuran secara kering dan secara basah
dengan perolehan suhu dalam bentuk celcius. Kemudian data celcius ini harus dikonversi ke
satuan farenheit dengan rumus sebagai berikut :
0

F = (9/5) x 0C + 32

2.1.3 Kondisi Aliran Udara


2.1.3.1 Kecepatan Rata Rata Aliran Udara
Kecepatan aliran udara merupakan suatu parameter ventilasi yang paling sering
diukur didalam udara tambang. Kecepatan udara dipengaruhi oleh suhu, nilai kelembaban,
dan debit aliran udara pada tambang bawah tanah. Peralatan ukur kecepatan aliran udara
bermacam-macam tergantung pada besar kecilnya kecepatan aliran udaranya, sebagaimana
yang ditunjukkan pada tabel berikut :
Tabel 2.1
Instrumen untuk Mengukur Kecepatan Aliran Udara di Dalam Tambang
Instrumen

Rentang

Sensitivitas

Kecepatan fpm

fpm

Ketelitian

Keterangan
Tidak

Smoke tube

20 120 (low)

5 - 10

70 90%

langsung,
pendekatan

150 2000 (int.


Vane

high)

Anemometer

2000 10000
(very high)

10 25
80 -90%
50 - 100

Perlu kalibrasi
dan perawatan

Pembacaan

Velometer

30 3000 (low
high) multirange

5 10

25 - 50

3% of

langsung,

upperscale

cepat, sulit,

reading

perlu
perawatan

Thermo

10 500 (low

anemometer

interm)

2 10

80 95%

Lamban, sulit,
perlu batere 6

V,aman
Thermometer

10 300

12

Hot - Wire

100 3000 (low

10 20

90 95%

Cepat,
pembacaan

high

langsung,

multirange)

sulit, perlu
batere dan
perawatan

Pitot tube

Lamban, tidak

750 10000

10 25

(high)

90 -98%

langsung,
teliti

Hitungan kecepatan rata rata aliran udara dapat dihitung dengan


menggunakan rumus sebagai berikut :
=
N
2.1.3.2 Tekanan Udara Static Head, Total Head, dan Velocity Head
a. Mine Statik Head (Mine Hs)
Merupakan energi yang dipakai dalam sistem ventilasi untuk mengatasi
seluruh kehilangan head aliran. Hal ini sudah termasuk semua kehilangan dalam head
loss yang terjadi antara titik masuk dan keluaran sistem dan diberikan dalam bentuk
persamaan:
Hs =
b.

HL =

(Hf + Hx)

Mine Velocity Head (Mine Hv)


Dinyatakan sebagai velocity head pada titik keluaran sistem. Velocity head akan

berubah dengan adanya luas penampang dan jumlah saluran dan hanya merupakan fungsi dari
bobot iisi udara dan kecepatan aliran udara. Jadi bukan merupakan suatu head loss komulatif,
namun untuk suatu sistem merupakan kehilangan, karena energi kinetik dari udara dilepaskan
ke atmosfer.
c.

Mine Total Head (Mine HT)

Merupakan jumlah keseluruhan kehilangan energi dalam sistem ventilasi. Secara matematis,
merupakan jumlah dari mine statik (Hs) dan velocity head (Hv), yaitu :
Mine HT = mine Hs + mine Hv
Adapun secara umum rumus yang dapat digunakan :

H = H x SG X sin
n
Keterangan :
H

= Head sebenarnya dalam (mm air)

SG

= Spesific Gravity dari cairan yang digunakan

= Kemiringan manomete

2.1.3.3 Pola Aliran Udara dan Flowrate (Debit)


Pola aliran udara dapat ditentukan dengan menggunakan nilai Reynold (Re). Dengan
nilai Reynold kurang dari 2000 maka dapat dikatakan sebagai udara yang bersifat laminer
dengan kondisi udara yang mempunyai aliran yang tenang. Sedangkan nilai reynold melebihi
dari 4000 dapat dikatakan sebagai aliran udara turbulen yang mempunyai sifat udara berputar
dengan kecepatan yang tinggi. Dan pada nilai reynold yang berada diantara 2000 4000
dapat dikatakan sebagai aliran udara transisi. Bilangan reynold dapat dihitung sebagai berikut
:
Re = 67.280 x D x V
Keterangan :
V = Kecepatan rata rata udara (m/detik)
D = Diameter Dimensi (m)
Debit (flowrate) dapat didefinisikan sebagai banyaknya volume udara
yang mengalir dalam satuan waktu. Dalam mengukur debit udara dapat menggunakan
persamaan sebagai berikut :
Q=VxA

Keterangan :

2.2

= Debit ( m3/detik )

= Kecepatan aliran udara ( m /detik )

= Luas penampang titik pengukuran (m2)

Pengenalan Alat

Pada sistem ventilasi tambang peralatan ventilasi merupakan suatu hal yang sangat penting.
Dengan semua jenis dari mesin penggerak yang merupakan suatu rangakaian komponen alat

yang berfungsi untuk menekan secara memompa udara yang segar dan baik supaya mengalir
pada lubang bawah tanah. Pada dasarnya peralatan ventilasi tambang
meliputi fan, kompresor, anemometer, duct, manometer, pitot tube, sling psychrometer,
regulator dan yang lainnya yang mendukung pada sistem ventilasi.

2.2.1

Anemometer
Anemometer merupakan suatu alat yang dapat mengukur suatu aliran

udara berkecepatan sedang. Metoda perhitungan kecepatan udara dengan anemometer dapat
dibagi menjadi 3, yaitu :
-

Spot Reading

Traversing

Division

Vane Anemometer berbentuk fan kecil dimana prinsip kerjanya ialah udara menggerakkan
rotor dengan kecepatan proporsional dan operasi rotasinya sesuai dengan counting system,
yaitu suatu operasi pada saat waktu tertentu dengan kecepatan yang diatur dari suatu jumlah
dengan revolusi yang tepat.
2.2.2 Fan
Fan merupakan salah satu alat terpenting dalam ventilasi, tetapi sebagai alat
pendukung dibutuhkan pula injektor dan kompresor. Pada sistem ventilasi ini pembuangan
udara yang kotor akan dibantu oleh fan setelah udara kotor akan mengalir dan membuat
suasana lebih dingin tidak panas. Pada dasarnya suatu fan akan menghasilkan dan
mengalirkan udara kotor dengan volume yang lebih besar serta mempunyai tekanan yang
lebih kecil seperti kompresor gas sehingga fan akan lebih hemat energy serta
efisien. Fan merupakan suatu alat dengan tenaga listrik yang berfungsi untuk menghasilkan
suatu aliran udara dengan tujuan untuk memberikan udara yang segar sehingga ruangan lebih
nyaman tidak panas.

a. Axial Fan
Axial fan merupakan jenis kipas yang dapat terlihat meyerupai sekrup dengan yang
berfungsi memberikan percepatan tangensial pada udara yang dapat melewati impeller
fan yang arahnya parallel dengan as pemutar dimana impeller ditanam. Jenis jenis axial fan
antara lain Propeller, tube, vane. Energi yang dihasilkan berupa energi rotasi berupa udara
yang mengalir melewati udara yang diubah menjadi energy linier dan static head, ini
dilakukan untuk mendapatkan suatu efisiensi yang tinggi.

b. Centrifugal Fan atau Radial Flow


Centrifugal Fan secara mekanis dengan menggunakan suatu tenaga listrik dapat
menghasilkan tekanan udara yang cukup besar dan juga volume aliran yang cukup kecil
apabila dibandingkan dengan axial fan. Centrifugal fan dapat diklasifikasi menjadi 2, yaitu :
-

Steel Plate

Multi Blade

2.2.3

Pitot Tube

Pada dasarnya Pitot tube ini terdiri dari dua pipa yang memilki konsentris dengan bentuk L.
Pada pipa bagian ini mempunyai ujung muka yang terbuka sebagai tempat mengalirnya udara
yang masuk. Dan apabila pipa bagian luar tersumbat ujungnya maka akan terbentuk
disekeliling lubang lubang yang kecil sebagai udara masuk. Pitot tube merupakan suatu alat
yang dapat mengukur suatu tekanan udara pada aliran dengan kecepatan yang tinggi dan
dapat ditemui pada pesawat terbang. Head yang mangalir pada aliran udara melalui
suatu pitot tube akan diukur oleh suatu manometer yang disambungkan dengan selang plastic.
Head yang diukur merupakan total head, static head serta velocity head.

2.2.4

Duct
Duct merupakan suatu system jaringan yang dibuat dengan fungsi sebagai tempat
mengalirnya udara. Dengan fungsi lain sebagai sistem yang dapat mengurangi tekanan yang
hilang akibat suatu gesekan pada dinding batuan pada tambang bawah tanah yang
bergelombang tidak rata. Duct juga dapat mengatur debit udara yang masuk pada setiap
komponen tambang.

Tabel 2.2
Kekerasan Absolut Beberapa Permukaan Duct
Bahan

Kekasaran (), m

Baja yang dikelilingi

0,0009 0.009

Beton

0,0003 0,003

Besi tuang

0,00026

Logam lembaran

0,00015

Baja komersial

0,000046

Pipa/tabung tarik

2.2.5

0,0000015

Manometer

Manometer merupakan suatu tabung yang pada umunya berbentuk vertikal U yang diisi
dengan cairan setengahnya dengan kedua kaki dari tabung yang berbentuk U akan
disambungkan pada suatu titik. Alat ini berfungsi untuk mengukur perbedaan tekanan yang
tidak terlalu besar. Dengan fungsi manometer untuk mengatur dengan tekanan yang tidak
terlalu besar. Setelah disambungkan maka cairan akan mengalir pada suatu tempat yang
posisinya lebih rendah. Mekanismenya adalah dengan mengisikan fluida (bukan air) Yang
bobot isinya lebih rendah daripada air

2.2.6 Sling Psychrometer


Alat ini merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur kelembaban udara yang
berada di ruang terbuka. Sling psychrometer terdiri dari dua buah termometer air raksa yang
tujuannya untuk mengukur temperature cembung kering (dry bulb) dan cembung basah (wet
bulb). Mekanisme kerja pada temperature cembung adalah ukuran dari yang suhu panas
(temperature) pada atmosfir. Dalam kondisi yang jenuh maka penguapan akan tidak akan
terjadi dengan suhu pada cembung yang basah serta kering akan sama hasilnya. Apabila
keadaan tidak jenuh air maka tidak akan menguap dari suatu permukaan yang terdapat
thermometer cembung basah dengan suatu laju tertentu yang berbanding terbalik dengan
memiliki tekanan uap air pada udara.

2.2.7

Regulator
Regulator merupakan suatu alat yang dapat menjadi pembatas maupun sebagai penghambat
tekanan aliran udara berbentuk sesuai dengan penampang (bentuk persegi maupun lingkaran)
dan pada tengahnya terdapat lubang yang berfungsi sebagia pengatur besar kecilnya tekanan
udara yang masuk kedalam duct (aliran udara).

Anda mungkin juga menyukai