Anda di halaman 1dari 12

ANALISA KASUS HUKUM

PERLINDUNGAN KONSUMEN
OBAT NYAMUK HIT

Disusun Oleh :
Faradilla Anandra
372289
Faris Muhamad F.
373066
Hastin Istiqomah N.
373120
Luluatul Mustagfiroh 373165
Nelson Yonatan
372375
Ni Luh Gede Diah N.D 374113

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA

2014
DAFTAR ISI
1.

PENDAHULUAN ........................................................... Error! Bookmark not defined.

2.

LANDASAN TEORI ...................................................... Error! Bookmark not defined.


A. Monopoli ................................................................... Error! Bookmark not defined.
B. Korupsi ...................................................................... Error! Bookmark not defined.
C. Keterkaitan Hukum ..................................................................................................... 3
D. Etika Bisnis ................................................................................................................... 4
E. Teori Etika .................................................................................................................... 5

3.

ANALISA KASUS ............................................................................................................ 6

4.

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 7

BAB I
PENDAHULUAN
A. Kronologi Kejadian
PT. Megasari Makmur didirikan pada tahun 1996, dengan pabrik yang berlokasi di
daerah Gunung Putri, Bogor Jawa Barat. Perusahaan ini merupakan produsen salah satu
kebutuhan rumah tangga seperti obat nyamuk, tisu basah, pewangi ruangan, pembungkus
makanan (wrap), dan lain sebagainya. Salah satu produk PT. Megarsari telah ramai di
perbincangkan di masyarakat produk tersebut adalah HIT. HIT dalam pemasarannya
dipromosikan sebagai obat anti nyamuk yang berkualitas dan lebih murah dibanding obat anti
nyamuk lainnya. Produk HIT dianggap merupakan anti nyamuk yang efektif dan murah
untuk menjauhkan nyamuk. Produk HIT selain di Indonesia juga diekspro ke luar Indonesia.
Murahnya harga produk tersebut ternyata juga membawa dampak negatif bagi konsumen
HIT.
Kasus obat anti nyamuk HIT ini bermula ketika ditemukannya penggunaan zat kimia
berbahaya dalam produk anti nyamuk, seperti zat aktif propoxur dan diklorvos yang dapat
mengakibatkan gangguan kesehatan pada manusia. HIT yang promosinya sebagai obat antinyamuk ampuh dan murah ternyata sangat berbahaya karena menggunakan Propoxur dan
Diklorvos (zat turunan Chlorine yang sejak puluhan tahun dilarang penggunaannya di dunia).
Departemen pertanian menerbitkan larangan pemakaian pestisida jenis klorpirifos dan
diklorvos sesuai surat edaran Komisi Pestisida Nomor 166 Tahun 2004. Kandungan zat-zat
kimia tersebut sangatlah berbahaya bagi kesehatan manusia karena zat-zat tersebut dapat
menyebabkan kerusakan syaraf, hati, keracunan terhadap darah, gangguan pernapasan dan sel
pada tubuh. Zat aktif propoxur dan diklorvos tersebut bersifat karsinogenin yang dapat
menyebabkan kanker seperti kanker hati dan kanker lambung.
Diklorvos atau DDVP (dichlorovynil dimetyl phosfat). Zat ini adalah zat turunan
chlorine yang memang telah dilarang dipakai selama puluhan tahun di seluruh dunia.
Menurut klasifikasi oleh WHO (World Health Organization), zat ini termasuk racun kelas 1,
yakni berdaya racun paling tinggi. Efeknya pada kesehatan dapat merusak syaraf,
mengganggu pernafasan, jantung, system reproduksi dan memicu kanker. Zat aktif ini sudah
dilarang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Berdasarkan kategori WHO, propoxur termasuk kelas II, yaitu tergolong moderately
hazardous atau racun kelas menengah. Walaupun keberadaannya masih ditolerir, tetapi zat ini
juga sangat berbahaya karena dapat menurunkan aktivitas enzim yang berperan pada saraf
transmisi dan berpengaruh buruk pada hati dan sistem reproduksi. Di luar negeri, zat ini telah
dilarang. Di Indonesia belum, untuk itu konsumen harus lebih cermat memperhatikan apakah
zat aktif ini masih berada di produk antinyamuk. Jikapun ada, perhatikan kadar zat aktif dan
bandingkan dengan produk lain.

Obat anti-nyamuk HIT yang dinyatakan berbahaya yaitu jenis HIT 2,1 A (jenis
semprot) dan HIT 17 L (cair isi ulang). Selain itu, Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan
melaporkan PT Megarsari Makmur ke Kepolisian Metropolitan Jakarta Raya pada tanggal 11
Juni 2006. Korbannya yaitu seorang pembantu rumah tangga yang mengalami pusing, mual
dan muntah akibat keracunan, setelah menghirup udara yang baru saja disemprotkan obat
anti-nyamuk HIT.
Pada hari Rabu, 7 Juni 2006, obat anti-nyamuk HIT yang diproduksi oleh PT Megarsari
Makmur dinyatakan akan ditarik dari peredaran. PT Megasari Makmur saat itu memproduksi
Hit 2,1 A dari Mei 2004 hingga Mei 2006 mencapai 2,9 juta milikg dan Hit 17L sebanyak 4
juta milikg lebih. Dari produksi tersebut Hit 2,1 A telah didistribusikan kepada masyarakat
sebanyak 999 lebih dan Hit 17L sebanyak 143.000 pieces.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan kronologi kasus yang telah diuraikan maka rumusan masalah dalam makalah ini
adalah:
1. Bagaimana pelanggaran yang dilakukan PT. Megasari Makmur terhadap UU No. 8 Tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen?
2. Bagaimana tindak lanjut atau sanksi yang diberikan terhadap pelanggaran yang dilakukan
oleh PT. Megasari Makmur?

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Konsumen
Konsumen secara harfiah memiliki arti, orang atau perusahaan yang membeli barang
tertentu atau menggunakan jasa tertentu, atau sesuatu atau sese orang yangmenggunakan
suatu persediaan atau sejumlah barang. Dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen mendefinisikan konsumen sebagai setiap orang pemakai barang dan
atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang
lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Berdasarkan dari
pengertian tersebut, yang dimaksud konsumen orang yang berststus sebagai pemakai barang
dan jasa.
B. Dasar Hukum dan Pengertian Perlindungan Konsumen
Berdasarkan UU No.8 Pasal 1 Butir 1 Tahun 1999, tentang perlindungan konsumen
disebutkan bahwa Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya
kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Kepastian hukum untuk
melindungi hak-hak konsumen, yang diperkuat melalui undang-undang khusus, memberikan
harapan agar pelaku usaha tidak lagi sewenang-wenang yang selalu merugikan hak
konsumen. Dengan adanya UU Perlindungan Konsumen beserta perangkat hukum lainnya,
konsumen memiliki hak dan posisi yang berimbang, dan mereka pun bisa menggugat atau
menuntut jika ternyata hak-haknya telah dirugikan atau dilanggar oleh pelaku usaha.
Faktor utama yang menjadi kelemahan konsumen adalah tingkat kesadaran konsumen
akan haknya masih rendah. Hal ini terutama disebabkan oleh rendahnya pendidikan
konsumen. Oleh karena itu, Undang-undang Perlindungan Konsumen dimaksudkan menjadi
landasan hukum yang kuat bagi pemerintah dan lembaga perlindungan konsumen swadaya
masyarakat untuk melakukan upaya pemberdayaan konsumen melalui pembinaan dan
pendidikan konsumen.
C. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen
Upaya perlindungan konsumen di tanah air didasarkan pada sejumlah asas dan tujuan
yang telah diyakini bias memberikan arahan dalam implementasinya di tingkatan praktis.
Dengan adanya asas dan tujuan yang jelas, hukum perlindungan konsumen memiliki dasar
pijakan yang benar-benar kuat.
a. Asas perlindungan konsumen
Berdasarkan UU Perlindungan Konsumen pasal 2, ada lima asas perlindungan konsumen.
b. Asas manfaat
Maksud asas ini adalah untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam
penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar- besarnya
bagi kepentingankonsumen dan pelau usaha secara keseluruhan.

c. Asas keadilan
Asas ini dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat bias diwujudkan secara maksimal
dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh
haknyadan melaksanakan kewajibannya secara adil.
d. Asas keseimbangan
Asas ini dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen,
pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti material maupun spiritual. d. Asas keamanan dan
keselamatan konsumen.
e. Asas keamanan dan keselamatan konsumen
Asas ini dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada
konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang/jasa yang dikonsumsi
atau digunakan.
f. Asas kepastian hukum
Asas ini dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen menaati hukum dan
memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta Negara
menjamin kepastian hukum.
D. Tujuan Perlindungan Konsumen
Dalam UU Perlindungan Konsumen Pasal 3, disebutkan bahwa tujuan perlindungan
konsumen adalah sebagai berikut.
a. Meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk melindungi
diri.
b. mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses
negatif pemakaian barang dan/atau jasa.
c. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, dan menuntut hak- haknya
sebagai konsumen.
d. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum
dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi.
e. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen
sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha.
f. Meningkatkan kualitas barang/jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang
dan jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.
E. Hak dan Kewajiban Konsumen
Berdasarkan UU Perlindungan konsumen pasal 4, hak-hak konsumen sebagai berikut :
1. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang/jasa.
2. Hak untuk memilih dan mendapatkan barang/jasa sesuai dengan nilai tukar dan kondisi
serta jaminan yang dijanjikan .
3. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang/jasa.
4. Hak untuk didengar pendapat keluhannya atas barang/jasa yang digunakan.

5.
6.
7.
8.
9.

Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa


perlindungan konsumen secara patut.
Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskrimainatif.
Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi, atau penggantian, jika barang/jasa yang
diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Kewajiban Konsumen Sesuai dengan Pasal 5 Undang-undang Perlindungan Konsumen,


Kewajiban Konsumen adalah :
1. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan
barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
2. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
3. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
4. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.
F. Tanggung Jawaab, Kewajiban serta Perbuatan yang Dilarang Bagi Pelaku Usaha
Berdasarkan pasal 19 ayat 1, dapat diketahui bahwa tanggung jawab pelaku usaha, meliputi:
a. Tanggung jawab ganti kerugian atas kerusakan;
b. Tanggung jawab ganti rugi atas pencemaran; dan
c. Tanggung jawab ganti kerugian atas kerugian konsumen.
Kewajiban pelaku usaha terletak pada Pasal 7a, 7b, dan 7, antaralain:
a. Beritikad baik dalam melakukan usaha
b. Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang
dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan
c. Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan
berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku
Pada pasal 8 ayat 1a dan 1j berisi tentang perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha,
antaralain:
1. Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa
yang:
a. Tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan
ketentuan peraturan perundang-undangan
b. Tidak menantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam bahasa
indonesia sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku
2. Pelakua usaha yang melakukan pelanggaran terhadap ayat (1) dilarang melanjutkan
penawaran, promosi, dan pengiklanan barang dan/atau jasa tersebut

BAB III
ANALISA KASUS
A. Pelanggaran Hukum PT. Megasari Makmur terhadap UU No. 8 Tahun 1999
Kasus pelanggaran yang dilakukan, menyalahi beberapa pasal pada Undang-undang.
Berikut ini pasal yang terkait.
1. Pasal 4, mengenai hak konsumen yaitu:
Ayat 1 : hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa.
Hak atas keamanan dan keselaman ini dimaksudkan untuk menjamin keamanan dan
keselamatan konsumen dalam penggunaan barang atau jasa yang diperolehnya, sehingga
konsumen dapat terhindar dari kerugian fisik dalam mengonsumsi produknya. Zat Propoxur
dan Diklorvos yang telah ditambahkan pada obat nyamuk HIT, tentunya mengancam nyawa
konsumennya.
Ayat 3 : hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa.
Dalam sidak Tim Deptan, telah ditemukan karyawan yang sedang menutup kemasan
lama dengan stiker baru. Bagian (kemasan lama) yang menyebut Bahan Aktif: Propoksur
8.90 g/l dan Diklorvos 8.05 g/l ditutup dengan stiker baru bertuliskan Bahan aktif:
sipermetrin 2.04 g/l dan d-aletrin 7.29 g/l.[2]. PT Megarsari tidak terbuka terhadap informasi
produknya, bahkan cenderung melakukan penipuan terhadap produk yang dijualnya kepada
konsumen.
2. Pasal 7, mengenai kewajiban pelaku usaha yaitu:
Ayat 2 : memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan
pemeliharaan
Hak atas informasi ini sangat penting, karena tidak memadainya informasi yang
disampaikan kepada konsumen ini dapat merupakan salah satu bentuk cacat produk, yaitu
yang dikenal dengan cacat instruksi atau cacat karena informasi yang tidak memadai. Hak
atas informasi yang benar dimaksudkan agar konsumen dapat memperoleh gambaran yang
benar tentang suatu produk, karena dengan informasi tersebut konsumen dapat memilih
produk yang dingingnkan atau sesuai kebutuhanya serta terhindar dari kerugian akobat
7

kesalahan dalam penggunaan produk. PT. Megarsari telah menyalahi aturan dengan
menempelkan stiker dengan komposisi formula baru yang memenuhi persyaratan, padahal
isinya adalah formula lama. Hal tersebut dilakukan agar stok barang yang ada digudang dapat
lolos didistribusikan dan demi kelangsungan proses produksi.

3. Pasal 8 mengenai hak perlindungan konsumen yaitu:


Ayat 1 : Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau
jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan
ketentuan peraturan perundang-undangan
Kepada Tim Deptan, Direktur Megasari Fransisca F Hermanto, mengaku pihaknya
masih memproduksi HIT 2,1A dan HIT 17L yang mengandung Diklorvos sampai Mei
2006. Menunggu izin formula baru, Megasari masih produksi keduanya sampai Mei
2006. Berdasarkan pemahaman PT. Megarsari sebelum izin baru keluar, mereka masih
boleh memproduksi formula lama. Dalam pengakuannya, antara periode Mei 2004 Mei
2006, Megasari telah memproduksi HIT 2,1A sebanyak 2.293 kg/l (99.000 pcs sudah
didistribusikan, dan 149.200 picis masih tersimpan di gudang). Pada periode yang sama
juga telah diproduksi HIT 17L sebanyak 4.896.805 kg/l (143.000 pcs sudah
didistribusikan, dan 260.900 pcs masih tersimpan di gudang.produk HIT tersebut tidak
memenuhi
standar
dan
ketentuan
yang
berlaku.
(sumber:
http://kepakemas1.blogspot.com/)
Seharusnya, ketika Tim deptan telah menginformasikan bahwa produk HIT berbahaya
dan dilarang memproduksinya lagi, sejak saat itulah produksi dan pendistribusian dihentikaan
dan dilakukan penyitaan terhadap semua produk yang mengandung formula berbahaya. Hal
tersebut guna mencegah adanya korban lagi yang berkelanjutan dan mencegah pemalsuan
informasi pada kemasan.
Mengenai formula baru yang memerlukan waktu untuk menemukanya itu sudah jadi
resiko PT. Megarsari. Menurut pendapat kelompok kami, pilihan PT. Megarsari hanya 2 yaitu
jika mau mengembangkan formula baru dengan kandungan yang lebih aman dan sambil
menunggu formula baru tersebut ditemukan maka, PT. Megarsari harus menghentikan
produksi serta pendistribusian bahkan penghancuran produk lamanya jika diperlukan.
Namun, pilihan kedua yaitu, jika PT. Megarsari masih ingin memproduksi terus formula
lamanya, maka ijin usahanya seharusnya dicabut pada saat itu juga dan dilakukan penyitaan,
penghentian distribusi dan penghancuran produk yang lama pada saat itu juga, guna
menghindari penyalah gunaan produk.
B. Sanksi Hukum Terhadap PT. Megasari Makmur
Dalam laporannya, Ketua Pendiri LBH Kesehatan Iskandar Sitorus mengungkapkan, yang
menjadi korban adalah Setiawan, 19 tahun, seorang pembantu rumah tangga di rumah
pasangan Sucipto dan Rahayu. Peristiwanya terjadi pada 11 Juni. Ketika itu, kata Iskandar,
8

Setiawan mengalami pusing, mual dan muntah setelah menghirup udara yang baru saja
disemprotkan obat anti-nyamuk HIT. (sumber: http://www.tempo.co/ 11 Juni 2006).
Berdasarkan laporan dari beberapa korban, zat yang terkandung dalam formula HIT
memang telah terbukti berbahaya. Pasal terkait dalam mengenai kompensasi terhadap pelaku
usaha hingga menimbulkan korban atau kerugian antaralain:
Pasal 19 mengenai kompensasi terhadap pelaku usaha yaitu:
Ayat 1 : Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan,
pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang
dihasilkan atau diperdagangkan.
Ayat 2 : Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang
atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau perawatan
kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Ayat 3 : Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah
tanggal transaksi.
Tuntutan kerugian dalam kasus ini merupakan tuntutan akibat pelanggaran hukum
yang telah dilakukan. Untuk menuntut kerugian tersebut, unsur-unsur hukum telah terpenuhi
yaitu:
1. Adanya perbuatan yang melanggar hukum, yaitu PT. Megarsari tetap memproduksi
produknya meski telah dilarang.
2. Adanya kerugian, dalam kasus ini kerugian berupa fisik atau kesehatan konsumen yang
terganggu.
3. Adanya hubungan kausalitas antara perbuatan melanggar hukum dan kerugian
4. Adanya kesalahan, kesalahan disini memiliki 3 unsur yaitu : perbuatan yang dilakukan
dapat disesalkan, perbuatan tersebut dapat diduga akibatnya dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya pihak produsen (PT. Megasari Makmur) menyanggupi untuk menarik
semua produk HIT yang telah dipasarkan dan mengajukan izin baru untuk memproduksi
produk HIT Aerosol Baru dengan formula yang telah disempurnakan, bebas dari bahan kimia
berbahaya. HIT Aerosol Baru telah lolos uji dan mendapatkan izin dari Pemerintah. Sesuai
Pasal 8 mengenai hak perlindungan konsumen yaitu:
Ayat 4 : Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang
memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut serta wajib menariknya dari peredaran
Pada tanggal 08 September 2006 Departemen Pertanian dengan menyatakan produk HIT
Aerosol Baru dapat diproduksi dan digunakan untuk rumah tangga (N0. RI. 2543/92006/S).Sementara itu pada tanggal 22 September 2006 Departemen Kesehatan juga
9

mengeluarkan izin yang menyetujui pendistribusiannya dan penjualannya di seluruh


Indonesia.
Jika ternyata benar bahwa tahun 2003 Departemen Pertanian telah melayangkan surat
teguran kepada PT Megasari Makmur (produsen obat nyamuk HIT), seharusnya produsen
bisa dikenakan sanksi atau pencabutan izin produksi. "Produsen yang memproduksi barang
tidak sesuai standar bisa dikenakan sanksi seperti yang tertera pada UU Perlindungan
Konsumen, yaitu pidana maksimal 5 tahun atau denda maksimal Rp 2 miliar." Berikut pasal
terkait, mengenai kompensasi terhadap pelaku usaha yang menyalahi peraturan perundangan
perlindungan konsumen.
BAB IV
Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
Kesimpulan setelah dilakukan analisis kasus tersebut adalah:
1. Produk HIT yang di produksi oleh PT. Megarsari Makmur telah merugikan banyak
konsumenya, karena mereka lalai memasukkan 2 zat beracun yang berbahaya bagi
kesehatan manusia. Berdasarkan undang-undang yang telah dijabarkan pada analisa kasus
maka HIT dinyatakan melanggar hak perlindungan konsumen.
2. Pihak produsen (PT. Megasari Makmur) menyanggupi untuk menarik semua produk HIT
yang telah dipasarkan dan mengajukan izin baru untuk memproduksi produk HIT Aerosol
Baru dengan formula yang telah disempurnakan, bebas dari bahan kimia berbahaya. HIT
Aerosol Baru telah lolos uji dan mendapatkan izin dari Pemerintah. Pada tanggal 08
September 2006 Departemen Pertanian dengan menyatakan produk HIT Aerosol Baru
dapat diproduksi dan digunakan untuk rumah tangga (N0. RI. 2543/9-2006/S).Sementara
itu pada tanggal 22 September 2006 Departemen Kesehatan juga mengeluarkan izin yang
menyetujui pendistribusiannya dan penjualannya di seluruh Indonesia.
B. Saran
Sebelum mengedarkan produk, pelaku usaha hendaknya memastikan keamanan
produk untuk konsumenya. Pelaku usaha hendaknya mencantumkan secara jelas komposisi
yang digunakan serta menaati undang-undang perlindungan konsumen dan undang-undang
pelaku usaha. Jika perusahaan lebih mementingkan keselamatan konsumen yang
menggunakan produknya karena dengan meletakkan keselamatan konsumen diatas
kepentingan perusahaan maka perusahaan itu sendiri akan mendapatkan keuntungan yang
lebih besar karena kepercayaan / loyalitas konsumen terhadap produk itu sendiri.

10

DAFTAR PUSTAKA
Velasques. Business Ethics, Concepts and Cases 7th Edition. Pearson
Miru, Ahmadi dan Sutarman Yodo. 2014. Hukum Perlindungan Konsumen, edisi.1. Jakarta:
Rajawali Pers
Sumber lain Internet :
http://www.megasari.co.id/, siakses pada tanggal 30 November 2014

11

Anda mungkin juga menyukai