Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam perencanaan sebuah gedung, khususnya
gedung bertingkat, harus memperhatikan beberapa kriteria
yang matang dari unsur kekuatan, kenyamanan, serta
aspek ekonomisnya. Kenyamanan yang diinginkan
membutuhkan tingkat ketelitian dan keamanan yang
tinggi dalam perhitungan konstruksinya. Faktor yang
seringkali mempengaruhi kekuatan konstruksi adalah
beban hidup, beban mati, beban angin, dan beban gempa.
Oleh karena itu, perlu disadari bahwa keadaan atau
kondisi lokasi pembangunan gedung bertingkat akan
mempengaruhi pula terhadap kekuatan gempa yang
ditimbulkan yang kemudian berakibat pada bangunan itu
sendiri.
Indonesia sebagai salah satu daerah rawan gempa,
kondisi ini memberikan pengaruh besar dalam proses
perencanaan sebuah gedung di Indonesia. Maka dari itu
membutuhkan suatu solusi untuk memperkecil resiko
yang terjadi akibat gempa, terutama untuk gedung-gedung
bertingkat. Dewasa ini sangat dibutuhkan para teknokrat
sipil yang ahli dalam merencanakan sebuah struktur
bangunan yang tahan gempa. Sehingga perlu bagi para
calon teknokrat bangunan untuk memahami dan berlatih
dalam merencanakan struktur gedung tahan gempa.
Di Negara Indonesia ada 3 (tiga) macam sistem
struktur yang digunakan yaitu:
1. Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB)
Metode ini digunakan untuk perhitungan struktur
gedung yang masuk pada zona 1 dan 2 yaitu
wilayah dengan tingkat gempa yang rendah.
Acuan perhitungan yang digunakan adalah SNI

2
03-2847-2002 pasal 3 sampai dengan 20 (Syarat
Umum)
2. Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah
(SRPMM)
Metode ini digunakan untuk perhitungan struktur
gedung yang masuk pada zona 3 dan 4 yaitu
wilayah dengan tingkat gempa yang sedang.
Pasal-pasal yang digunakan dalam SNI 03-28472002 adalah Pasal 3 sampai 20, ditambah dengan
pasal 23.2 sampai dengan 23.10 yang berupa
pendetailan menengah/moderat.
3. Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus
(SRPMK)
Metode ini digunakan untuk perhitungan struktur
gedung yang masuk pada zona 5 dan 6 yaitu
wilayah dengan tingkat gempa yang tinggi. Pasalpasal yang digunakan dalam SNI 03-2847-2002
adalah Pasal 3 sampai 20, ditambah dengan pasal
23.2 sampai dengan 23.8 yang merupakan
pendetailan khusus.
Pada proyek akhir ini, Gedung Yayasan Pendidikan
Islam Juanda Bina Insani Sidoarjo yang telah
direncanakan dan dibangun pada kondisi zona gempa 3,
akan dihitung ulang dengan kondisi zona gempa 4.
Perencanaan menggunakan konsep SRPMM menurut
SNI Beton 03-2847-2002 pada pasal 3 sampa 20 serta
ditambah pada pasal 23 ayat 2 sampai 23 ayat 10.
Gedung Yayasan Pendidikan Islam Juanda
BinaInsani Sidoarjo yang terdiri dari 3 lantai dan luas
tanah 2700 m2 memiliki data proyek sebagai berikut:
Data Proyek :
Nama Proyek
: Pembangunan
Gedung
Yayasan Pendidikan Islam
Juanda Bina Insani Sidoarjo
Lokasi Proyek
: Sidoarjo

3
Tinggi Bangunan
Luas Bangunan
Struktur
Bangunan Atas

Struktur
Bangunan Bawah

: 3 lantai (13,40 m)
: 1541 m2
: Lantai satu, dua, dan tiga
menggunakan
konstruksi
Beton
Bertulang. Atap
menggunakan baja
: Pondasi Tiang Pancang

Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan


untuk merencanakan struktur bangunan, khususnya
bangunan bertingkat.
1.2 TUJUAN DAN MANFAAT
1.2.1 Tujuan
Tujuan dari penyusunan proyek akhir ini adalah :
1. Merencanakan beban yang akan diterima oleh
struktur bangunan Gedung Yayasan Pendidikan
Islam Juanda Bina Insani Sidoarjo.
2. Menentukan dimensi sloof, kolom, dan balok
struktur agar dapat menampung beban-beban
gaya yang akan diberikan.
3. Menganalisis gaya-gaya dalam struktur
bangunan dalam merespon beban yang dialami.
4. Menentukan penulangan elemen struktur
Gedung Yayasan Pendidikan Islam Juanda Bina
Insani Sidoarjo.
5. Menuangkan hasil perhitungan dimensi dan
penulangan menjadi gambar teknik.
1.2.2 Manfaat
Manfaat dari penyusunan proyek akhir ini adalah:
1. Mendapatkan suatu desain bangunan gedung
yang mampu menahan gempa, khususnya pada
wilayah gempa 3 (SNI 03-1726-2002).

4
2. Proses pengerjaan proyek akhir ini adalah
sebuah media berlatih bagi penulis untuk
melakukan perhitungan struktur gedung
bertingkat di daerah zona gempa 3.
3. Sebagai referensi perhitungan struktur gedung
bertingkat dengan metode SRPMM.
1.3 PERUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dari perencanaan struktur
gedung ini adalah :
1. Apa saja macam beban yang akan diterima oleh
struktur bangunan Gedung Yayasan Pendidikan
Islam Juanda Bina Insani Sidoarjo.
2. Bagaimana menentukan dimensi sloof, kolom,
dan balok struktur agar dapat menampung bebanbeban gaya yang akan diberikan.
3. Bagaimana menganalisis gaya-gaya dalam
struktur bangunan dalam merespon beban yang
dialami.
4. Bagaimana menentukan penulangan elemen
struktur Gedung Yayasan Pendidikan Islam
Juanda Bina Insani Sidoarjo.
5. Bagaimana gambar teknik dari perhitungan
dimensi dan penulangan pada elemen konstruksi
Gedung Yayasan Pendidikan Islam Juanda Bina
Insani Sidoarjo.

1.4 BATASAN MASALAH


Batasan masalah yang digunakan dalam perencanaan
struktur gedung ini adalah :
1. Gedung yang dihitung dan direncanakan adalah
Gedung Yayasan Pendidikan Islam Juanda Bina
Insani Sidoarjo.

5
2. Perencanaan dan perhitungan bangunan atas
meliputi :
Struktur atap
: menggunakan
konstruksi baja.
Struktur utama
: menggunakan
material
beton
bertulang
pada
balok dan kolom
Struktur sekunder : menggunakan
dengan
material
beton bertulang pada
plat dan tangga
3. Perencanaan dan perhitungan bangunan bawah
meliputi :
Sloff / balok lantai 1 : dengan material
beton bertulang
Poer
: dengan material
beton bertulang
Pondasi
: dengan tiang
pancang
4. Analisis strukur
Menggunakan metode Sistem Rangka
Pemikul Momen Menengah.
Perhitungan mekanika struktur (kecuali plat
lantai dan plat atap) untuk mendapatkan
gaya-gaya dalam menggunakan program
analisa struktur SAP 2000.
Beban
gempa
dihitung
dengan
menggunakan metode analisa statik
ekivalen.
5. Pada Proyek Akhir ini hanya akan dihitung
perencanaan strukturnya tanpa menghitung biaya
dan bagaimana metode pelaksanaannya.
6. Semua analisis yang telah disebutkan pada nomor
1-5 di atas mengacu pada peraturan yang

6
tercantum di dalam SNI 03-2847-2002, SNI 031726-2002, PBBI tahun 1971, PPIUG 1983, dan
PPBBI tahun 1983.
1.5 METODOLOGI
Langkah-langkah dalam merencanakan gedung ini
adalah :
1. Pengumpulan data
Buku-buku peraturan
Data-data tanah :
Data tanah diperoleh dari penyelidikan tanah
yang dilakukan oleh Laboraturium Tanah D3
Teknik Sipil
Data-data bangunan (data-data teknis)
Beton
: fc = 30 Mpa
Baja
: fy = 400 Mpa
(untuk tulangan)
Tinggi bangunan : 13.400
Tinggi lantai 1
: 0.000
Tinggi lantai 2
: 4.000
Tinggi lantai 3
: 8.000
Luas bangunan
: 1541 m2
Pondasi
: Tiang pancang
Struktur
: Beton bertulang + Atap baja
Jumlah lantai
: 3 lantai
Fungsi tiap lantai
Lantai 1
: sekolah
Lantai 2
: sekolah
Lantai 3
: sekolah
Gambar-gambar arsitektur dan struktur (sipil)

7
2. Preliminary design
Panduan dalam perhitungan adalah sebagai
berikut :
Pemodelan struktur :
Ditentukan dengan analisis kondisi
lapangan.
Penentuan dimensi tebal minimum pelat :
Ditentukan menurut peraturan SNI 032847-2002.
Penentuan dimensi balok :
Ditentukan menurut peraturan SNI 032847-2002.
Penentuan dimensi kolom :
Ditentukan menurut peraturan SNI 032847-2002.
3. Pembebanan
Perhitungan beban-beban yang bekerja
disesuaikan dengan Peraturan Pembebanan
Indonesia Untuk Gedung (PPIUG 1983).
4. Analisis gaya dalam
Untuk analisis gaya dalam struktur sekunder
kecuali tangga dan bordes dilakukan sendiri,
sedangkan untuk analisa gaya atap menggunakan
SAP 2000 dan analisa kegempaan digunakan
analisa statik ekivalen. Perhitungan selanjutnya
adalah perhitungan momen dan reaksi perletakan
yang terjadi dengan menggunakan SAP2000,
dimana beban input telah dikalikan faktor-faktor
pembebanan sesuai SNI 03-2847-2002:
1,2 DL + 1,6 LL + 0,5 ( A atau R )
1,2 DL + 1,0 LL 1,6 W + 0,5 ( A atau R )
0,9 DL 1,6 W
1,2 DL + 1,0 LL 1,0 EL atau 0,9 DL
1,0 EL
A = beban atap

8
R = beban hujan
Dimana nilai E harus diambil sebesar dua kali
nilai yang ditentukan dalam peraturan perencanaan
tahap gempa untuk memperoleh gaya lintang
maksimum
dari
kombinasi
beban
rencana..(SNI
03-2847-2002
ps.23.10.3.2).
Perencanaan Struktur Sekunder
a) Atap
b) Pelat lantai
c) Tangga
Perencanaan Struktur Primer
a) Balok
b) Kolom
Perencanaan pondasi
a) Perhitungan tiang pancang
b) Perhitungan poer
5. Penulangan
Komponen-komponen struktur didesign sesuai
dengan SNI 03-2847-2002 dengan memperhatikan
pendetailan
yang
ditentukan.
Perhitungan
penulangan meliputi :
Output dari SAP 2000 berupa gaya- gaya
M, D, dan N serta dimensi
perencanaan
Kontrol penulangan
Penabelan penulangan untuk seluruh
bangunan gedung termasuk struktur
bangunan bawah (pondasi)
Sket penggambaran penulangan

9
6. Gambar rencana
Setelah tahap perhitungan selesai sampai
dengan penulangan, dilakukan penuangan hasil
berupa gambar rencana. Gambar rencana meliputi :
Gambar awal sebelum perhitungan dengan
memperhatikan perubahan yang terjadi
Gambar detail struktur
Gambar struktur primer
Gambar struktur sekunder
Gambar struktur bangunan bawah

10
FLOWCHART
MULAI

PENGUMPULAN DATA

PENENTUAN DIMENSI
STRUKTUR

ANALISIS
PEMBEBANAN

ANALISIS GAYA
DALAM STRUKTUR

STRUKTUR
SEKUNDER

STRUKTUR
PRIMER

GAYA DALAM
STRUKTUR

TIDAK
MEMENUHI

CEK
PERSYARATAN

MEMENUHI
GAMBAR RENCANA

SELESAI

STRUKTUR
PONDASI