Anda di halaman 1dari 69

PEMBAHARUAN DAN PENGEMBANGAN

MASJID AGUNG KUDUS

PROPOSAL
Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Gasal
Mata kuliah : Praktikum Penelitian Pendidikan Islam
Dosen pengampu : Manijo, M.Ag

Tim Penyusun :
Kelas C Tarbiyah PAI Angkatan 2011

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS


JURUSAN TARBIYAH/ PAI
TAHUN 2013

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT penguasa alam yang senantiasa melimpahkan
rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga pada kesempatan ini kami dapat
menyelesaikan tugas praktikum penelitian pendidikan Islam.
Sholawat serta salam selalu tercurahkan keharibaan Nabi Muhammad SAW.
yang telah mengajarkan dan membimbing umat Islam dengan ajaran agamanya
secara sempurna dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Proposal penelitian pendidikan Islam yang mengambil fokus penelitian pada
Masjid Agung Kudus telah disusun dengan sungguh-sungguh guna memenuhi
tugas akhir semester gasal mata kuliah praktikum penelitian pendidikan Islam.
Dalam penyusunan proposal ini, kami banyak mendapatkan bimbingan,
informasi, dan saran-saran dari berbagai pihak, sehingga proposal ini dapat
terealisasikan. Untuk itu, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Bapak Manijo, M.Ag, selaku dosen pengampu mata kuliah praktikum
penelitian pendidikan Islam.
2. Bapak Masrukhan, selaku pengurus Masjid Agung Kudus sekaligus
narasumber yang telah membantu memberikan keterangan yang kami
butuhkan dalam penyusunan proposal.
3. Bapak Rifai Noor, selaku mantan ketua bidang Riayah Masjid Agung Kudus
yang telah membantu memberikan keterangan yang kami butuhkan.
4. Bapak Abdullah Afif Sholeh, selaku mantan Ketua Pengurus Masjid Agung
Kudus periode 1997-2002 dan 2002-2007.
5. Kementrian Agama dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, yang telah
membantu dalam pengumpulan data.
6. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak
dapat kami sebutkan satu per satu.
Seiring doa dan harapan atas segala jasa dan bantuan beliau semua, kami
mengucapkan terima kasih seraya berdoa serta memohon kepada Allah SWT,
semoga amal kebaikan bapak, serta semua pihak yang tersebut di atas senantiasa
mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Aamiin
Kudus, 19 Desember 2013
ii

iii

MEMBANGUN PERADABAN ISLAM DARI MASJID


Indonesia adalah Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia,
maka wajar bila nuansa budaya Islam sangat kental mewarnai setiap relung sudut
kehidupan bangsa Indonesia baik dari sisi politik dengan masyarakat madaninya,
ekonomi dengan ekonomi syariahnya, budaya dengan budaya Islamnya, termasuk
juga pendidikan dengan pendidikan Islamnya.
Sudah menjadi keniscayaan bila umat yang besar akan membutuhkan
sarana dan infrastruktur yang besar pula, maka ketika melihat umat Islam di
Indonesia sekarang (2012) telah mencapai 207.176.162 jiwa. Maka dibutuhkan
fasilitas ibadah yang tidak sedikit pula. Untuk bangunan masjid saja (termasuk
mushola) di Indonesia tercatat sebanyak 239.497 bangunan ibadah. (Data dari
YMN -Yayasan Masjid Nusantara-

tahun 2012). Hal ini tentu masih sangat

kurang dari angka yang semestinya.


Untuk Jawa Tengah sendiri jumlah tempat Ibadah di wilayah ini
tersedia sebanyak 35.199 unit. Ini masih sangat kecil bila dibandingkan umat
Islam yang ada di Jawa Tengah ini. Sedangkan untuk Kabupaten Kudus yang
jumlah penduduknya sebanyak 791.891 jiwa sarana masjid hanya 530 buah.
Sedangkan musholanya berjumlah 308 buah (Data Statistik Kab. Kudus 2013).
Dengan melihat ini tentu keberadaan masjid sebagai sarana ibadah masih perlu
untuk penambahan, agar sesuai dengan rasio kecukupan tempat ibadah dan jumlah
umat Islam di wilayah Kabupaten Kudus ini.
Keberadaan masjid Agung Kabupaten Kudus yang terletak di samping
barat alun-alun Kudus adalah satu dari sekian banyak masjid yang menjadi simbol
umat Islam di Kudus (selain masjid al-aqsha menara Kudus) dengan
masyarakatnya yang agamis dan religious. Di Masjid Agung Kudus yang dulunya
berasal dari masjid Kriyan, Kudus menjadi sarana perjalanan peradaban Islam di
kota ini yang panjang. Pecinan, Kampung Arab dan Pribumi adalah fakta sejarah
peradaban Islam Kudus yang bisa di jadikan tonggak awal sejarah peradaban
Kudus di masa-masa mendatang bahkan bahan pemikiran juga untuk membangun

iv

peradaban pada masa sekarang ini dan terus berlanjut sampai waktu yang akan
datang.
Buku kecil ini adalah salah satu kepedulian sebagian masyarakat Kudus
dengan melalui Latihan Penelitian Pendidikan dari Jurusan Tarbiyah Sekolah
Tinggi Agama Islam Negeri Kudus, untuk memberikan sedikit fakta dan data
tentang Masjid Agung Kudus yang mungkin oleh sebagian masyarakat Kudus
sudah banyak dilupakan.
Harapannya, semoga dengan buku kecil ini bisa bermanfaat bagi
masyakat Kudus pada khususnya dan masyakarat Islam Indonesia pada umumnya,
sekali lagi, semoga penelitian ini adalah bukti awal untuk membangun peradaban
Islam dari Masjid Agung Kudus, untuk selanjutnya mudah-mudahan pada lain
waktu ada sebagian mahasiswa atau peneliti lain yang tertarik untuk mendalami
atau melakukan penelitian lebih lanjut, sehingga bisa dijadikan kesempurnaankesempurnaan dalam penelitian dalam obyek yang sama, bahkan siapa tahu kelak
nanti dari Masjid Agung Kudus ini mampu memberikan sumbangsih peradaban
Islam Kudus yang lebih modern.

Manijo, M.Ag.
DPL STAIN Kudus

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL...........................................................................................

KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii


SAMBUTAN PENGURUS MASJID AGUNG KUDUS................................... iii
SAMBUTAN DOSEN PANGAMPU............................................................... . iv
DAFTAR ISI....................................................................................................... vi
I. Sejarah Berdirinya Masjid Agung Kudus .................................................... 1
II. Struktur Bangunan Masjid (Makna Arsitektur dan Bentuk Fisik)............... 5
III. Struktur Kepengurusan, Visi, dan Misi Masjid ........................................... 25
IV. Masjid Pada Zaman Dahulu (Zaman Penjajahan) ....................................... 30
V. Bentuk Kegiatan dan Pengelolaan yang Dilakukan Masjid (Kegiatan
Keagamaan) ................................................................................................. 31
VI. Bentuk Kegiatan dan Pengelolaan Masjid (Kegiatan Bisnis) ..................... 45
VII. Kegiatan Masjid pada Hari- Hari Besar Islam ............................................. 51
VIII. Ulama yang Dihasilkan dari Masjid Agung Kudus.................................... 57
IX. PENUTUP.................................................................................................... 61
LAMPIRAN-LAMPIRAN

vi

I. SEJARAH BERDIRINYA MASJID AGUNG KUDUS


Masjid Agung Kudus, yang semula bernama Masjid Besar Alun-Alun,
terletak di wilayah Dukuh Kauman Desa Demaan Kecamatan Kota atau Jl.
Simpang Tujuh 15A Kudus, bersebelahan dengan kantor pendopo Kabupaten
Kudus. Masjid ini memiliki luas bangunan 1.409 m di atas tanah seluas 3.527
m dan tinggi menara 30 m.
Berdirinya Masjid Agung Kudus, merupakan salah satu dari beberapa
syarat yang harus ada dalam keberadaan pemerintahan. Pada zaman kolonial
syarat adanya pusat pemerintahan harus mencakup tiga komponen (Tiga Adat
Jawa) yaitu 1) Pendapa Kabupaten (dulu kadipaten) ; 2) Adanya alun-alun1; 3)
Adanya pohon besar yang terletak bersebelahan dengan kadipaten.2 Ada pula yang
mengatakan3 bahwa Tiga yang dimaksud Adat Jawa itu meliputi 1) Masjid; 2)
Pendopo; dan 3) Pembinaan Umat. Atas dasar tersebut, oleh prakarsa dari
Muhammad Idris atau Raden Tumenggung Aryo Condro Negoro ke-IV (Bupati
Kudus ke-4) pada tahun 1853M/ 1274H pembangunan Masjid mulai berlangsung.
Peletakan batu pertama untuk pembangunan Masjid oleh Kanjeng Raden
Tumenggung Ario Tjondronegoro IV dihadiri oleh Residen Jepara-Rembang
(Sekarang Karesidenan Pati ; 2013) dan tokoh Alim Ulama Kudus.
Pembangunan Masjid Agung Kudus ini adalah bangunan masjid yang
cukup tua. Namun sebenarnya ada masjid yang lebih tua yaitu Masjid Menara
(Masjid Al- Aqsha). Masjid Menara berumur 456 tahun, sedangkan Masjid
Agung Kudus berumur 156 tahun. Berdasarkan Peraturan Pemerintah yang
mengharuskan dalam suatu kota terdapat satu tempat beribadah yaitu Masjid yang
disebut Masjid Kadipaten (Masjid Kabupaten) maka yang dipilih adalah Masjid
Agung Kudus yang sekarang ini. Sehingga timbul banyak pertanyaan, mengapa
bukan Masjid Menara yang dijadikan masjid kadipaten, padahal secara usia
bangunan Masjid Menara lebih tua dari Masjid Agung Kudus. Hal ini dikarenakan

Pada zaman kolonial, dalam alun-alun harus ada atau ditumbuhi pohon beringin besar.
Arsip mengenai sejarah singkat masjid di kudus oleh Departemen Agama Kudus, pada
tanggal 6 Desember 2013.
3
Hasil wawancara dari narasumber Bapak Drs. KH Abdullah Afif Sholeh, selaku
Mantan Pengurus Masjid Agung dua periode berturut-turut, pada tanggal 12 Desember 2013.
2

berdasarkan atas peraturan pemerintah pula bahwa dalam satu kota, apabila
terdapat masjid yang merupakan peninggalan seorang wali, maka masjid itu hanya
disebut masjid wali. Sehingga harus dibuat satu masjid lagi yang dapat dijadikan
maskot kota tersebut, yang sekarang yaitu Masjid Agung Kudus.4
Pada awalnya masjid ini tidak seperti sekarang (2013). Masjid ini dulunya
bernama Masjid Kriyan yang letaknya ada di belakang Toko Sidodadi5.
Berdasarkan cerita, keberadaan Masjid Kriyan sebenarnya masih ada, akan tetapi
jalur akses untuk menuju ke lokasi sudah tidak bisa. Hal tersebut pastinya bukan
tanpa alasan yakni dikarenakan bangunan-bangunan di sekitar Masjid Kriyan yang
corak bangunannya tinggi ke atas menjadi penghalang. Sehingga menyebabkan
jalur menuju akses bangunan Masjid Kriyan tertutup. Sebelum ada bangunanbangunan disekitar kompleks Masjid Kriyan, ada beberapa perbedaan dari
berbagai kalangan dalam hal perencanaan pemugaran Masjid Kriyan ke Pusat
Kota (sebelah barat alun-alun) yang diprakarsai oleh Bupati Kudus ke-IV. Ada
yang pro dan ada pula yang kontra. Kelompok yang pro pemindahan,
menginginkan kapasitas daya tampung masjid lebih besar dan ada pula yang
berpendapat seperti halnya Tiga Adat Jawa dalam Kadipaten. Kelompok yang
kontra terhadap pemindahan masjid, beranggapan bahwa masjid tersebut karena
merupakan aset di wilayah tersebut dan perlu dijaga dan dirawat dengan sebaikbaiknya. Lantas dalam hal ini akhirnya munculah keputusan dari pihak Kadipaten
yang bersumber dari pemerintah yang mengatakan bahwa dalam setiap kabupaten
harus ada tiga bangunan Kadipaten, Masjid, serta Pembinaan Umat. Sehingga
perselisihan antara kelompok pro dan kontra tersebut dimenangkan oleh kelompok
kontra dengan adanya aturan dari pemerintahan tersebut. Akhirnya, pemugaran
Masjid Kriyan yang dulu di sebelah Selatan alun- alun kini dipindah ketempat
yang sekarang (sebelah Barat Alun- alun)6 dapat terlaksana. Proses pemindahan
4

Hasil wawancara dengan Bapak H. Rifai Noor selaku mantan ketua bidang Riayah pada
periode sebelumnya. Tanggal 05 Desember 2013.
5
Hasil wawancara dari narasumber Bapak Masrukhan, selaku Kepala Kantor Masjid
Agung Kudus mengenai Sejarah Masjid Agung, pada tanggal 5 Desember 2013 serta pada tanggal
17 Desember 2013.
6
Masjid Agung Kudus yang berlokasi di Dukuh Kauman Desa Demaan Kecamatan Kota
atau Jl. Simpang Tujuh 15A Kudus

ini terlaksana walau tidak serta merta dipugar keseluruhan, akan tetapi secara
bertahap.
Alasan yang paling tepat atas pemindahan Masjid karena dianggap kurang
banyak menampung jamaah, padahal posisi masjid sebagai Masjid Kadipaten.
Maka pada tahun 1991 Masjid Kriyan ini dipindahkan ke lokasi Masjid Agung
Kudus yang sekarang ini (2013). Selesainya pembangunan Masjid, ikut serta juga
Bapak Soepardjo Roestam selaku Menko Kesra Republik Indonesia untuk
meresmikan Pemugaran Masjid pada tanggal 12 Oktober 1991 M/ 4 Robiul Awal
1412 H.7
Kemudian atas kebijakan berbagai pihak, barang yang masih asli dari
masjid Kriyan dilestarikan dengan cara di pasang kembali di tempat yang baru
yaitu di Masjid Agung Kudus. Barang tersebut adalah Empat Tiang yang berada
di tengah- tengah masjid yang disebut Soko Guru. Lantas disamping Empat
Tiang yang disebut soko guru, ada pula barang yang berbentuk daun yang
menempel pada Empat Soko Guru yang konon ceritanya empat daun tersebut
adalah daun yang digunakan oleh Nabi Adam AS beserta isrtinya Siti Hawa untuk
menutupi aurotnya.8 Akan tetapi pihak peneliti belum menemukan pasti daun
jenis apa yang ada di Empat Soko Guru tersebut.
Selesainya pemugaran Masjid Kriyan menjadi Masjid Agung Kudus
(2013), bukan hanya sejarah dari bangunan Masjid itu sendiri, Nama Masjid
punya sejarah tersendiri. Nama Masjid Agung sudah mengalami banyak
perubahan. Awalnya bernama Masjid Jami, kemudian berganti menjadi Masjid
Besar, dan yang terakhir adalah keputusan kementrian yang menyatakan bahwa
disetiap kota harus ada simbol masjid, maka dinamakan Masjid Agung Kudus.
Berbicara mengenai kawasan atau lingkungan sekitar masjid, kawasan
Masjid Agung Kudus awalnya hanya sebuah masjid yang di belakangnya terdapat
makam pendirinya yaitu Raden Tumenggung Aryo Condro Negoro beserta sang

Dokumentasi yang diambil di Menara Masjid Agung Kudus pada tanggal 17 Desember
2013. Yang menyatakan bahwa peresmian pemugaran dilakukan pada tanggal 12 Oktober 1991 M
atau 4 Robiul Awal 1412 H. yang dihadiri pula oleh Menko Kesra Republik Indonesia.
8
Hasil wawancara dari Bapak Sutrisno selaku Pengurus Masjid pada Bidang Keamanan
di Masjid Agung Kudus, pada tangal 5 Desember 2013.

istri. Makam ini pada awalnya berupa makam pada umumnya. Untuk kemudian
dijadikan penghormatan kepada pendirinya maka pada tahun 2003 diadakan
renovasi makam yaitu pencungkupan9 makam pendiri masjid Agung beserta istri
pada masa kepemimpinan Bupati Kudus yang ke 28, yang turut serta pula dalam
peresmian renovasi Makam yaitu Bapak H. M. Amin Munadjat. SIP. M.Si10 pada
hari Ahad, 22 Juni 2003.
Di kawasan Masjid yang saat itu (2006) terdapat lahan kosong di sebelah
barat Makam yang direnovasi. Mengingat kebutuhan zaman pada saat itu (2006)
akan pentingnya pendidikan, maka pengurus Masjid Agung Kudus memutuskan
untuk memanfaatkan lahan tersebut dengan mendirikan lembaga pendidikan untuk
menampung siswa- siswi yang nantinya akan menjadi penerus bangsa. Adapun
lembaga yang telah dibangun adalah TPQ. TPQ yaitu merupaka Tempat
Pendidikan Al-Quran dibangun pada tahun 2006 baru kemudian TK (Taman
Kanak-Kanak) tahun 2010. TPQ tersebut dibangun bertepatan pada tanggal 09
Februari 2006 dengan nama TPQ Masjid Agung. Setelah itu pada tahun 2010 di
bulan Agustus juga dibangun TK yang bernama TK Masjid Agung. Dengan
berdirinya lembaga pendidikan ini, diharapkan dapat menciptakan generasi
penerus yang cerdas dan religius. Lokasi TPQ dan TK Masjid Agung Kudus ini
berada di belakang Masjid Agung Kudus.
Berdasarkan hasil manajemen Masjid Agung Kudus yang dikelola secara
baik oleh pengurus Masjid Agung Kudus sampai Tahun 2013 telah mempunyai
lembaga- lembaga sebagaimana di atas. Bahkan pada tahun terakhir ini, berkat
kerjasama Masjid Agung Kudus dengan pihak luar dalam hal ini bidang kesehatan
bekerjasama dengan PUSKESMAS Desa Wergu mendirikan UKM (Unit
Kegiatan Masjid) dengan nama Balai Pengobatan Masjid Agung Kudus.
Pengelola Balai Pengobatan Masjid Agung Kudus mempercayakan tenaga
medis kepada : Dr. Hj. Vivi Servita, VK.M.Kes (Dokter); Dr. Nadia Nur Lestari
(Dokter); Nuryanto (perawat); Arna (bidan); Supriyadi (obat); Agus Wijanarko
(obat); Nurhidayat (obat). Lembaga ini dibuka dalam seminggu hanya satu kali
9

Pencungkupan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bangunan beratap di


atas makam sbg pelindung makam; rumah kubur.
10
Bapak H. Muhammad Amin Munadjat. SIP. M.Si Bupati Kudus yang ke-28

pada hari Jumat pukul 09.00- 11.00 WIB (2013) dan pada setiap awal bulan di
hari Ahad pengobatan dilayani oleh pengurus Masjid Agung Kudus yang
berprofesi sebagai dokter. Lokasi Balai Pengobatan ini berada di sebelah kiri
Masjid Agung Kudus yang menempati gedung tersendiri antara menara dan
tempat wudlu pria.

II. STRUKTUR BANGUNAN MASJID ( MAKNA ARSITEKTUR

DAN

BENTUK FISIK )
Masjid Agung Kudus, yang semula bernama masjid besar alun-alun adalah
salah satu masjid terbesar di wilayah Kudus, Masjid Agung Kudus ini merupakan
realisasi pemindahan masjid Kriyan Kudus yang sudah lama rusak. Masjid ini
terletak di wilayah dukuh Kauman desa Demaan Kecamatan Kota atau Jl.
Simpang Tujuh 15A Kudus, memiliki luas bangunan 1.409m di atas tanah seluas
3.527 m dan tinggi menara 30 m. 11
Dalam proses pelaksanaan pembangunan, masjid ini konon banyak
mendatangkan tenaga kerja dari Jepara, karena, arsitek bangunannya sama persis
dengan Masjid Agung Jepara, baik untuk bangunannya, maupun besar dan
kekuatannya bahkan letak dan kontruksi tiang utama di dalam serambi. Gaya
arsitekturnya berciri khas pesisir pantai utara Jawa, hanya yang membedakan
adalah pada Masjid Agung Kudus telah mengalami beberapa kali rehab.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Drs KH Abdullah Afif Sholeh,
pemugaran bangunannya mengalami beberapa tahap yaitu:
a.

Tahun 1939 oleh Raden Tumenggung Adipati Ario Hadinoto selaku Bupati
Kudus yang ke XIV (empat belas) merehab bangunan masjid ini dalam
rangka menyambut kedatangan Gubernur Jendral Hindia Belanda yang
bernama Carda ke Kudus pada tahun 1939. Dalam kunjungannya di Kudus,
tujuan sebenarnya adalah untuk meninjau beberapa pabrik rokok Kudus,
namun agar Kudus lebih terlihat agamis, dibangunlah sebuah Masjid Agung
Kudus ini. Biaya rehab saat itu di tanggung oleh pengusaha-pengusaha rokok

11

Sumber dari Arsip Dinas Pariwisata Kabupaten Kudus. Tanggal 06 Desember 2013.

di daerah Kudus kulon, terutama oleh bapak H. Muslich pemilik perusahaan


rokok cap tebu dan cap cengkeh.
b.

Rehab ke dua dilaksanakan pada tahun 1970 pada masa pemerintahan Bupati
Saubari, SH. Biaya rehab Masjid Agung kedua ini dengan swadaya
masyarakat Kudus dan dibantu oleh PPRK( Persatuan Perusahaan Rokok
Kudus) dan Pemerintah Daerah.

c.

Rehab ketiga pada tahun 1990 masa Bupati Kol Inf. Soedarsono. Rehabilitasi
dilakukan secara total dan penambahan beberapa bangunan baru, berupa
penambahan menara, perkantoran, tempat wudlu, pawestren dan taman.
Rehab yang ketiga dibiayai oleh swadaya masyarakat bersama dengan PT
Djarum Kudus, selesai tahun 1991. Peresmian selesai pugar pada tanggal 12
Oktober

1991

oleh

Mentri

Koordinator

Kesejahteraan

Rakyat

MENKOKESRA) Bp. Soeparjo Rustam.12


Masjid Agung Kudus telah mengalami bebarapa kali rehab, namun tetap
memelihara kesucian dan keagungan dari para pendiri Masjid ini, Mereka sampai
sekarang masih dirawat dan dijaga walaupun berupa makam yang terletak di
belakang bangunan masjid. Makam yang ada di belakang masjid adalah makam
Raden Tumenggung Ario Tjondro Negoro13 beserta istri dan kerabatnya. Namun
makam tersebut selanjutnya juga direnovasi untuk pencukupan makam Al- Habib
Muhammad Idris beserta istri pada tahun 2003 pada masa kepimimpinan Bupati
Kudus yang ke 28 ( bapak H. M. Amin Munajat, MP, M.Si). Makam di belakang
masjid di bangun untuk menghargai jasa pendiri Masjid Agung Kudus.
Pemugaraan makam ini diresmikan pada hari ahad, 22 juni 2003 oleh bupati
Kudus bapak H. M. Amin Munajat, MP, M.Si.
Di belakang masjid juga terdapat dua sumur yaitu sumur yang ada di sebelah
utara dan sumur yang ada di sebelah selatan. Menurut beberapa tokoh, dulu sumur
tesebut berfungsi kedua-duanya. Namun untuk sekarang hanya satu sumur yang

12

Diperoleh dari keterangan Drs. KH Abdullah Afif Sholih, selaku mantan ketua KUA
dan Mantan ketua umum pengurus Masjid Agung Kudus Dua periode berturut-turut. Tanggal 06
desember 2013.
13
Raden Tumenggung Ario Tjondro Negoro adalah pendiri Masjid Agung Kudus.

berfungsi yaitu yang di sebelah utara sedangkan yang di sebelah selatan sudah
mati dan dialih fungsikan sebagai tempat pembuangan limbah.14
Situasi dan Bangunan Masjid
a. Lokasi Tanah
Lokasi Masjid Agung Kudus tepat di tengah-tengah kota.
Sebelah timur

: Alun-Alun dan Ramayana

Sebelah utara

: Pendopo Kabupaten Kudus

Sebelah barat

: Gedung TPQ dan majlis taklim Masjid Agung

Kudus
Sebelah selatan

: Pertokoan Jl. Sunan Kudus

b. Luas Tanah
Luas tanah

: 3.654 m

Luas bangunan : 1409 m


Tinggi menara : 30m
c. Arsitektur Bangunan

Atap

Gb. 1. Atap Masjid Agung Kudus


(Dokumen peneliti pada tanggal 17 desember 2013)
14

Diperoleh dari keterangan H. Rifai Noor selaku mantan ketua bidang Riayah pada
periode sebelumnya. Tanggal 05 Desember 2013.

Atap di Masjid Agung Kudus terdiri dari tiga susun. Dimana atap
tersebut mempunyai filosofi berupa Iman, Islam dan Ikhsan. Untuk lapisan
pertama menunjukkan Iman atau kepercayaan, untuk lapisan yang kedua
menunjukkan Islam dan untuk lapisan yang ketiga menunjukkan Ikhsan atau
kebagusan.

Seluruh dinding dan lantai masjid berlapis marmer.

Gb. 2. Lantai dan Dinding Masjid Agung Kudus


(Dokumen peneliti pada tanggal 19 desember 2013)

Dimana dulu lantainya berkeramik warna abu-abu dan bertiang besi.


Namun sekarang sudah diganti menjadi keramik yang berlapis marmer dan
bertiang. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar lantai dan dinding tidak cepat
rusak ketika terkena goresan dan diharapkan dapat bertahan lama. Marmer
masjid sendiri didatangkan dari dalam negeri. Marmer yang sekarang ini
berasal dari Masjid Purwokerto (Banyumas) yang merupakan salah satu
masjid yang terbesar pada masa itu.

Penopang delapan buah tiang.


Delapan tersebut mempunyai makna yang melambangkan Khulafaur
Rosyidin yang berjumlah 4 dan 4 Imam Madzhab yaitu Imam Hanafi, Imam
Hambali, Imam Syafii dan Imam Maliki.

Empat buah tiang kayu jati

Gb. 3. Empat Buah Tiang Kayu Jati


(Dokumen peneliti pada tanggal 18 desember 2013)

Empat buah tiang kayu jati ini mempunyai makna jumlah 4 Khulafaur
Rosyidin. Dimana dulunya tiang ini berbentuk besi tapi pada renovasi yang
kedua, tiang bukan diganti melainkan dilapisi dengan kayu jati. Bentuk tiang
yang sekarang ini merupakan modivikasi perpaduan model lama dan modern.

Mimbar
Mimbar merupakan tempat khotib untuk berkhutbah. Di Masjid Agung
Kudus terdapat satu mimbar. Sebelum direnovasi mimbar di Masjid Agung
memiliki ukuran yang besar sehingga banyak mengurangi shaf para jamaah.
Namun setelah renovasi yang ke-2 mimbar tersebut diganti. Untuk mimbar
yang besar disimpan di gudang tepatnya pada gudang dekat TPQ.

Kaligrafi

Gb. 4. Kaligrafi
(Dokumen peneliti tanggal 30 desember 2013)

Bagian depan di sebelah utara dan selatan dihiasi dengan tulisan


kaligrafi. Tulisan kaligrafi tersebut mempunyai makna memberikan pesan
kepada para jamaah. Seperti kaligrafi yang terdapat disebelah utara mimbar,
dengan lafadz Wamaa umiruu illa liyabudullaha mukhlishina lahuddin
yang mempunyai arti Aku tidak diperintah kecuali hanya untuk beribadah
kepada Allah dan ikhlas dalam beragama.
Kaligrafi ini berbentuk bulatan yang berada di samping mimbar.
Bulatan mempunyai arti bahwa bumi itu bundar. Kita sebagai manusia
termasuk bagian dari bumi itu. Bulatan tersebut juga bermakna sebagai kiblat,
arah semua umat Islam. Bumi sebagai kiblat adalah kabah, namun diartikan
juga manusia sekarang ada di bumi namun besok kelak akan meninggalkan
bumi.

10

Jendela.

Gb.4. Jendela Masjid Agung Kudus


(Dokumen peneliti pada tanggal 18 desember 2013)

Jendela model ini disebut dengan kuku tarung, karena jendela ini
mempunyai dua daun jendela yang bisa dibuka dan ditutup. Seperti halnya
dalam Al-Quran, mempunyai pembuka dan penutup. Jendela tersebut terbuat
dari kayu bekas pembongkaran masjid atau renovasi masjid yang telah
dimodifikasi seperti yang sekarang. Di Masjid Agung sendiri terdapat 4
jendela dengan model kuku tarung dan 6 pintu yang didesain sesuai kapasitas
jamaah dan diharapkan jamaah mendapat ventilasi yang baik.

11

Daun

Gb. 6. Daun pada Tiang Kayu Jati


(Dokumen peneliti tanggal 19 desember 2013.)

Daun yang ada di tiang ini namanya adalah daun kluweh. Dulunya daun
ini dibuat untuk tempat ditaruhnya lampu tempel, karena pada zaman dahulu
belum ada listrik, namun sekarang justru menjadi benda unik khususnya di
Majid Agung Kudus.

Menara.

Gb. 7. Menara Masjid Agung Kudus


(Dokumen peneliti. Tanggal 18 desember 2013.)

12

Menara yang terletak di depan sebelah kiri masjid mempunyai tinggi


30m. Pembuatan menara tersebut adalah usul dari Abdurrahman Wahid atau
akrab dipanggil Gus Dur. Maksud adanya menara itu menandakan adanya
masjid. Dan menara juga merupakan ciri khas dari suatu masjid. Di dalam
menara sendiri tidak terdapat sesuatu hal yang penting atau tidak terdapat
barang-barang atau benda-benda, cuma untuk di luar menara tersebut terdapat
prasasti dari Bupati Darsono. Kala itu pembangunan menara masjid sendiri
mendapat dana dari PT Djarum Kudus.

Al-Quran besar.

Gb.8. Al-Quran Besar


(Dokumen peneliti tanggal 19 desember 2013.)

Mushaf Al-Quran ini ditulis sesuai dengan penulisan Mushaf AlQuran standar utsmani Indonesia, sehingga untuk selanjutnya disebut
Mushaf Al-Quran Pusaka standar dan dibuat oleh Lembaga Pengembangan
Tilawatil Quran Kabupaten Daerah Tingkat II Kudus untuk dipersembahkan
kepada Pemerintah Daerah Tingkat II Kudus.
Mushaf ini mulai ditulis pada hari Rabu Pahing 22 Ramadhan 1415 H/
22 Februari 1995 M dengan ditandai penulisan lafadz Bismillah diawal surat
Al-Fatihah oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Kudus dalam
peringatan Nuzulul Quran di Pendopo Kabupaten Kudus dan diserahkan
secara resmi kepada Pemerintah Daerah Tingkat II Kudus pada hari senin
tanggal 21 Ramadhan 1418 H/ 19 Januari 1998 M oleh Ketua Lembaga

13

Pengembangan Tilawatil Quran Kabupaten Daerah Tingkat II Kudus dalam


peringatan Nuzulul Quran di Pendopo Kabupaten Kudus.
Penulisan mushaf ini dilaksanakan oleh panitia penulisan Al-Quran
Pusaka Kabupaten Daerah Tingkat II Kudus yang dibentuk berdasarkan Surat
Keputusan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran Kabupaten Kudus no.
01/ LPTQ_KDS/ II/ 1995 tanggal 1 Februari 1995 dan di tashhih oleh AlMukarrom Al Hafid KH. Syaroni Ahmadi Kudus. Mushaf Al-Quran Pusaka
di tulis oleh bapak Nor Aufa Shiddiq dengan waktu penulisan 1 bulan 1 jus
dan harus wudlu terlebih dahulu sebelum memulai menulis. Sedangkan
sampul Al-Quran Pusaka tersebut didatangkan dari Sukoharjo. Al-Quran
tersebut dibaca ketika bulan Ramadhan.
Susunan panitia penulisan Mushaf Al-Quran Pusaka (besar) Kabupaten
Daerah Tingkat II Kudus, diantaranya adalah :
Penasehat

: KH Masum Rosyidi (Ketua MUI Kabupaten


Kudus).

Pengarah Tekhnis

: Drs. H. Munhaji (Asisten Dua Sekretaris Wilayah


Daerah Tingkat II Kudus).

Penanggung Jawab

: Drs. H. M. Mansyur (Kepala Kantor Departmen


Agama Kabupaten Kudus).

Ketua I

: Drs. H. Yusuf (Kasi Penerangan Agama Islam


Kantor Departemen Agama Kudus).

Ketua II

: Drs. H. Suhari (Kepala Bagian Sosial Pemerintah


Daerah Kudus).

Sekretaris I

: Mudzakir (Kantor Departemen Agama Kabupaten


Kudus).

Sekretaris II

: Drs. Kholid Syifa ( Pemerintah Daerah Kudus).

Bendahara I

: Drs. Sutrisna ( Kabag Keuangan Kabupaten


Kudus).

Bendahara II

: Ahmad Faiq, BA ( Kantor Departemen Agama


Kudus).

Seksi Usaha

: - Drs. H. A. Syamsul Maarif (Tokoh masyarakat).

14

- H. Firman Lesmana BSC (Kepala Dinas Daerah


Kudus).
- H. Lukman PK ( Kantor Departemen Agama
Kudus).
- H. Ali Muti (Ketua PPRK Kudus).
- H. Arif Musmin (Pemerintah Daerah Kudus).
Seksi SarPras

: - Drs. H. Syaifuddin Bahri (Dekan Undaris Kudus).


- H. Mukhlas BA (Kantor Departemen Agama
Kudus).
- Sumaya, BA (Kantor Departemen Agama
Kudus).
- M. Thoha Sumarno ( tokoh masyarakat).

Desain Iluminasi

: - HM. Thoha Nadzir (kaligrafi).


- Anif Farozi (kaligrafi).

Penulisan Mushaf: Nur Aufa Shodiq dan M Faruq (Al-Hathat).


Al-Quran yang tebalnya mencapai sekitar 25 cm ini memiliki ukuran
lebar kurang lebih 1,8 m dan panjang sekitar 80 cm. Berat Al-Quran pusaka
ini mencapai 1 kw.

Bancik.
Bancik yang dimaksud disini adalah bancik tempat duduk yang ada di
depan masjid. Bancik ini merupakan hasil perenovasian bangunan masjid
yang dilebarkan dari utara ke selatan dan dari timur ke barat. Hal ini
bertujuan agar ketika seseorang melakukan itikaf di bancik ini sudah
dianggap sah. Karena bancik ini adalah wilayah masjid sehingga untuk orang
yang mempunyai hadast besar dilarang untuk berada pada bancik tersebut.

d. Pengembangan Bangunan Sejak Didirikan Sampai Sekarang


Pengembangan Masjid Agung Kudus secara fisik masjid masih tetap tidak
banyak yang diubah. Penambahan bangunan hanya di bagian serambi depan
tepatnya pada saat perenovasian yang kedua. Sebelumnya belum ada, serambi
baru dibangun pada tahun 1970, baik yang untuk perempuan maupun untuk
laki-laki. Khusus serambi perempuan dibuatkan dibagian atas, lantai dua. Di

15

sebelah kiri masjid dilengkapi dengan perpustakaan masjid. Tetapi sekarang ini
perpustakaan tersebut sudah hampir tidak berfungsi lagi, karena para peminjam
buku tidak bertanggung jawab atas buku yang dipinjamnya atau tidak
dikembalikan.
e. Fasilitas Ruangan
Fasilitas yang dimiliki Masjid Agung Kudus di antaranya adalah:
Lantai 1 untuk jamaah laki-laki dan lantai dua untuk jamaah perempuan.
Pada renovasi kedua ditambah balkon untuk jamaah perempuan yang
letaknya di lantai dua. Terdapat tangga untuk naik ke balkon perempuan.
Tangga tersebut di buat tertutup dengan tujuan untuk membatasi pandangan
antara jamaah laki-laki dan jamaah perempuan.
Lantai 1 terdiri dari ruang utama dan serambi masjid. Di lantai 1 ini
semuanya difungsikan sebagai masjid, termasuk juga serambi kanan
maupun serambi kiri. Pada serambi depan tepatnya dibagian luar (sebelah
timur) memiliki luas 27x8 m, sehingga mampu menampung sekitar 600
jamaah. Ruang utama dan serambi dibatasi dengan tembok dan pintu
gerbang besar
Tempat wudlu yang bersih dan memadai.

16

Gb. 9. Tempat Wudhu Wanita


(Dokumen peneliti tanggal 18 desember 2013)

Gb. 10. Batu kerikil


(Dokumen peneliti tanggal 18 desember 2013)

17

Gb. 11. Tempat Wudhu Pria


(Dokumen peneliti tanggal 20 desember 2013)

Dulu awalnya tempat wudlu dijadikan satu antara laki-laki dan perempuan.
Tapi pada renovasi ketiga tempat wudlu dipisah antara wudlu laki-laki dan
perempuan. Untuk tempat wudlu laki-laki di sebelah utara masjid dan tempat
wudlu perempuan di sebelah selatan. Hal ini dimaksudkan agar jamaah merasa
nyaman, aman dan terjaga. Tempat wudlu baik laki-laki maupun perempuan
dibuat bersekat dengan maksud untuk menghindari percikan air seni dari
sebelah kanan dan sebelah kirinya. Kemudian tempat wudlu disempurnakan
dengan bak khusus yang tertutup. Ditambah lagi disamping tempat wudlu
terdapat batu-batu krikil dengan tujuan agar wudlunya tetap terjaga dan
terhindar dari najis. Ada sesuatu yang berbeda di Masjid Agung Kudus, yaitu
seperti yang kita lihat di masjid-masjid besar yang ada di Kudus, misalnya di
Menara atau di Muria, biasanya terdapat tempat wudlu yang berbentuk seperti
bak. Namun, untuk Masjid Agung Kudus sendiri tidak terdapat bak wudlu
semacam itu. Sebenarnya bukan tidak ada, dulu ada tempat wudlu yang
berbentuk bak seperti yang ada di masjid-masjid besar lainnya. Dulu tempat
wudlu yang berbentuk bak tersebut terletak di sebelah utara masjid. Namun,
pada renovasi tahun 1990 tepatnya pada renovasi yang ketiga, sumur dan

18

tempat wudlu yang berbentuk bak tersebut dibongkar dan diganti dengan
tempat wudlu seperti yang sekarang ini. Hal ini dilakukan karena tuntutan
masyarakat dan hasil rapat pengurus.
f. Daya Tampung
Masjid Agung mampu menampung 1700 jamaah dengan bentuk barisan
shaf. Dulunya daya tampung tidak mencapai 1700 jamaah, karena terdapat
mimbar yang besar sehingga mengurangi shaf. Namun pada renovasi ke-2
mimbar tersebut diperkecil dengan tujuan agar mampu menampung banyak
jamaah seperti yang terlihat sekarang. Mimbar sisa hasil perenovasian
ditempatkan di gudang yang ada di belakang masjid.
Dari 1700 jamaah dengan bentuk barisan shaf dapat dihitung pada lantai 1
yang terdapat kurang lebih 23 shaf yang dapat memuat sekitar 1500 jamaah
sesuai bentuk barisan shaf. Sedangkan dalam keadaan duduk secara acak tidak
menurut shaf mampu menampung jamaah sekitar 2500 jamaah. Pada serambi
samping kanan dan serambi kiri masjid dapat menampung sekitar 200 jamaah
pada masing-masing serambi. Untuk lantai 2 terdapat 3 shaf yang dapat
memuat sekitar 100 lebih jamaah dengan bentuk barisan sesuai shaf.
Sedangkan dalam keadaan duduk acak atau tidak menurut shaf dapat
menampung 150 lebih jamaah. Secara keseluruhan masjid dapat menampung
3500 jamaah dengan bentuk duduk acak atau tidak sesuai shaf. Pada hari-hari
besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha, Masjid Agung Kudus menutup jalan
simpang tujuh sampai di bawah jembatan layang. Sehingga jamaah Masjid
Agung Kudus dapat mencapai minimal 10.000 jamaah.

19

g. Fasilitas Pendukung
1. Perpustakaan masjid

Gb. 12. Perpustakaan Masjid


(Dokumen peneliti tanggal 30 desember 2013)

Perpustakaan masjid terletak di serambi depan masjid sebelah selatan.


Perpustakaan tersebut sangat sedehana, hanya dilengkapi dengan beberapa
buku yang dapat dibaca oleh jamaah yang berada di masjid. Namun
sekarang ini keberadaan perpustakaan masjid dapat dikatakan hampir
tersingkirkan. Karena semakin berkurangnya buku yang ada di
perpustakaan masjid. Hal ini dikarenakan kurang bertanggungjawabnya
para pembaca sehingga buku-buku yang dibaca/dipinjam tidak kembali ke
tempatnya

20

2. Unit Kesehatan Masjid (UKM)

Gb. 13. Balai Pengobatan


(Dokumen peneliti tanggal 30 desember 2013)

Unit Kesehatan Masjid ini disebut juga dengan Balai Kesehatan


Masjid. Bangunan ini berdiri terpisah dari masjid dan terletak di sebelah
utara masjid. Di Balai Kesehatan Masjid ini terdapat pelayanan
pengobatan gratis yang dilakukan pada setiap hari jumat mulai pukul
09.00 wib sampai dengan pukul 11.00 wib. Para pasien yang datang untuk
berobat hanya dikenakan biaya Rp 2.000 saja untuk mengganti biaya
administrasi. UKM Masjid Agung Kudus ini bekerjasama dengan
Puskesmas Wergu dan honor yang dibayarkan kepada dokter dalam
pengobatan ini adalah dari dana APBD.

21

3. Koperasi

Gb. 14. Kantin Kejujuran


(Dokumen peneliti tanggal 30 desember 2013)

Koperasi ini terletak di sebelah selatan Masjid Agung Kudus, dan


bersebelahan dengan tempat wudlu perempuan. Di koperasi masjid ini
terdapat berbagai macam minuman dengan keterangan harga masingmasing pada setiap minuman. Koperasi ini juga disebut sebagai kantin
kejujuran, karena di koperasi ini tidak terdapat penjual yang menjaga
dagangannya seperti pada koperasi-koperasi lain. Pembeli di koperasi ini
harus membayar sendiri tanpa melalui penjual, dan uang yang dibayarkan
sesuai dengan harga minuman yang dibeli kemudian dimasukkan ke dalam
kotak yang telah disediakan di dekat koperasi. Sehingga apabila kita
membayar minuman yang sudah dibeli tidak sesuai dengan harga yang
tertera di koperasi, orang lain tidak akan tahu karena ini adalah tergantung
kejujuran dari pembeli. Maka dari itu koperasi masjid ini disebut sebagai
kantin kejujuran.

22

4. Gedung majlis taklim

Gb. 15. Gedung TPQ dan Majlis Talim


(Dokumen peneliti tanggal 30 desember 2013)

Gedung majlis taklim terletak menyatu dengan gedung TPQ, yaitu di


belakang Masjid Agung Kudus. Sebelum TPQ yang sekarang, dulu
terdapat gedung seperti bangunan rumah yang menghadap selatan milik
Habib Hasan dan Habib Zain untuk tempat belajar anak-anak. Kemudian
rumah tersebut dibangun menjadi satu gedung dengan 2 lantai. Untuk
lantai 1 digunakan sebagai TPQ, sedangkan untuk lantai 2 digunakan
untuk aula dan gedung majlis taklim. Namun dalam praktiknya, yang
digunakan untuk majlis taklim adalah menempati selasar di gedung lantai
satu bagian tengah. Hal ini dikarenakan anggota dari majlis taklim adalah
jamaah ibu-ibu, sehingga jika harus naik tangga ke lantai 2 agak
kesulitan. Dulunya di majlis taklim ini adalah pengajian Muslimat
Demaan, sehingga jamaahnya hanya berasal dari sekitar desa Demaan
saja. Namun karena jamaahnya semakin berkurang, kemudian diganti
untuk umum. Sehingga jamaahnya tidak hanya dari desa Demaan saja,
boleh dari daerah lain.

23

5. TPQ
Gedung TPQ terletak di belakang Masjid Agung Kudus. Untuk tanah
yang sekarang ini menjadi bangunan TPQ tersebut statusnya adalah tanah
wakaf dari Habib Zain dan Habib Hassan Abdullah.15 Jadi tanah wakaf
pemberian dari Habib Zain dan Habib Hassan Abdullah itu hanya tanah
yang ada dibelakang masjid, yang sekarang ini menjadi bangunan TPQ.
Dengan perinciannya adalah sebagai berikut:
Luas tanah

: 345 m

Luas bangunan: 320 m (dua lantai)


Untuk TPQ dan majlis taklim Masjid Agung Kudus diresmikan pada
tanggal 9 februari 2006, oleh Bupati Kudus ke-29, bapak Ir. H. Tamzil
,MT.
Sebagian

besar bangunan-bangunan yang terdapat pada fasilitas

pendukung mendapat dana suntikan dari PT. Djarum dan Pemda. Mengenai
biaya listrik ditanggung oleh Sukun dan Jenang Tiga-tiga.
h. Halaman/ Areal Parkir
Halaman parkir Masjid Agung Kudus berada di depan masjid. Halaman ini
langsung menyatu dengan jalan raya dan trotoar di jalan alun-alun. Pintu
masuk terletak tepat ditengah-tengah antara batas utara dan selatan. Halaman
parkir masjid sudah berlantai batako/paving, sehingga memudahkan kendaraan
dalam berparkir.
Halaman parkir ini sangatlah luas, sehingga mampu menampung 200
sepeda motor.16 Namun tidak dapat menampung kendaraan yang lebih besar
seperti mobil, hal ini dikarenakan kapasitas halaman yang kurang memadai
untuk menampung kendaraan yang berukuran lebih besar. Sehingga
diutamakan parkir untuk motor. Halaman ini juga dilengkapi dengan taman
kecil yang berbatasan langsung dengan pagar masjid.

15

Habib Zain dan Habib Hassan Abdullah adalah orang Kudus sendiri, berasal dari
kalangan orang yang mampu dan diberi kesempatan oleh Allah untuk mewakafkan tanahnya.
Untuk kata Habib sendiri adalah sebagai penghormatan.
16
Sumber berdasarkan Arsip Kementrian Agama Kabupaten Kudus. Tanggal 06
desember 2013.

24

III. STRUKTUR KEPENGURUSAN, VISI, MISI MASJID


Pembentukan pengurus (Struktur Kepengurusan) Masjid Agung Kudus
dilaksanakan melalui Musyawarah Besar Pengurus Masjid dengan melibatkan
50% dari masyarakat lokal dan 50% dari kepemerintahan. Meskipun Masjid
Agung Kudus di naungi oleh pemerintah (dalam hal ini Pemerintah Daerah
Kabupaten Kudus) tetapi pengelolaannya murni dari swadaya masyarakat (tidak
dikolola oleh pemerintah).
Susunan pengurus Masjid Agung Kudus terdiri atas :
1. Pelindung
2. Penasehat
3. Pengurus Harian
4. Bidang Idarah
5. Bidang Imarah, dan
6. Bidang Riayah
Ke-enam susunan pengurus Masjid Agung Kudus tersebut akan dijabarkan
satu-persatu dibawah ini:
Pelindung Masjid Agung Kudus sendiri adalah Bupati Kudus (Pemerintah
Kabupaten Kudus) untuk melindungi organisasi Masjid Agung Kudus. Hal ini
juga dikarenakan Masjid Agung Kudus merupakan Masjid yang dinaungi oleh
PemDa (Pemerintah Daerah) dan Masjid Agung Kudus juga telah diberi SK (Surat
Keputusan) dari Kementrian.
Dewan penasehat Masjid Agung Kudus terdiri dari : Ulama, Zuama ,
Umara dan cendekiawan muslim serta pimpinan organisasi atau kelembagaan
Islam. Dewan penasehat ini berfungsi memberikan pertimbangan, nasehat
bimbingan dan bantuan kepada Pengurus Masjid Agung Kudus.
Salah satu hal yang unik dari Masjid Agung Kudus ialah adanya bidangbidang yang terdiri dari :
a. Bidang Idarah (organisasi dan pengkaderan)

25

b. Bidang Imarah (kemakmuran dan dakwah), serta


c. Bidang Riayah (pemeliharaan dan kesejahteraan)
Dengan adanya ketiga bidang tersebut, maka pimpinan harian Masjid
Agung Kudus juga di bagi sesuai bidang-bidang diatas. Bila digambarkan dalam
tabel, pimpinan harian Masjid Agung Kudus terdiri dari :
Ketua Umum

Sekertaris Umum

Bendahara Umum

Ketua I

Sekertaris I

Bendahara I

Sekertaris II

Bendahara II

Sekertaris III

Bendahara III

(Bidang Idarah)
Ketua II
(Bidang Imarah)
Ketua III
(Bidang Riayah)
Keterangan:
Ketua umum memimpin pelaksanaan tugas dan fungsi Pengurus Masjid
Agung Kabupaten Kudus sehari-hari dibantu oleh ketua-ketua (I, II, dan III)
dalam membidangi bidang masing-masing (Ketua I bidang idarah, Ketua II
bidang imarah dan Ketua III bidang riayah).
Sekertaris Umum membantu ketua umum dan ketua I, II dan III serta
memimpin administrasi Pengurus Masjid Agung Kabupaten Kudus dibantu
sekertaris I, II dan III.
Bendahara Umum membantu ketua umum dan ketua I, II dan III untuk
memimpin administrasi keuangan dibantu bendahara I, II dan III.
Tugas dan fungsi bidang-bidang pada Masjid Agung Kabupaten Kudus
ialah;

26

A. Bidang Idarah
1) Menyelenggarakan

perencanaan,

pengorganisasian,

pengendalian,

pengadministrasian dan pendokumentasian segala kegiatan Masjid Agung


Kudus;
2) Menyusun pedoman dan pedoman rumah tangga sebagai acuan
pelaksanaan program kerja;
3) Mensosialisasikan pedoman dasar dan pedoman rumah tangga Masjid
Agung Kudus kepada pengurus masjid besar kecamatan se-Kabupaten
Kudus;
4) Meningkatkan silaturahim dengan berbagai pihak terutama Ulama dan
Umara di wilayah Kabupaten Kudus;
5) Menyelenggarakan silaturahim, study banding, kunjungan kerja ke
berbagai masjid untuk memperoleh informasi guna penyempurnaan
organisasi dan kegiatan masjid;
6) Meningkatkan peran serta remaja dan wanita dalam berbagai kegiatan
masjid;
7) Berupaya mencetak kader-kader sholih-sholihah yang berahlak karimah,
berwawasan luas dengan menyelenggarakan kegiatan yang sesuai dengan
bakat dan minat mereka masing-masing;
8) Menyelenggarakan pendidikan, majlis talim, kegiatan belajar mengajar
dan kursus secara berjenjang;
9) Mengadakan kerjasama dengan Forum Koordinasi Tamir Masjid (FKTM)
dan organisasi kemasjidan di Kabupaten Kudus.
B. Bidang Imarah
1) Senantiasa mewujudkan suasana dan terlaksananya ibadah fardlu dan
sunnah dengan lancar dan khusyu;
2) Menyelenggarakan pelaksanaan shalat Jumat dengan lancar, tertib,
khidmad dan khusyu;

27

3) Menyelenggarakan peringatan hari-hari besar dalam upaya Syiar Islam


dan Dakwah Islamiyah, baik bil qaul maupun bil hal, berupa santunan,
beasiswa, khitanan masal dan sebagainya;
4) Mengoptimalkan fungsi perpustakaan yang memadai dengan menyajikan
kitab-kitab salaf, buku ilmiah, bacaan-bacaan Islami yang menarik minat
jamaah di semua kalangan;
5) Berusaha menggali dan tetap di luar kotak amal masjid;
6) Mengoptimalkan dan meningkatkan penyelenggaraan pendidikan Taman
Pendidikan Al-Quran (TPQ) dan menyelenggarakan Taman Kanak-kanak
Muslimat (TK Muslimat).
C. Bidang Riayah
1) Mengusahakan pengadaan dan perawatan sarana prasarana Masjid Agung
Kudus beserta asetnya yang amat representatif agar berkembeng sejalan
dengan volume kegiatan yang semakin bertambah dan kuantitas jamaah
semakin meningkat;
2) Meningkatkan peran dan fungsi Usaha Kesehatan Masjid (UKM);
3) Mengusahakan sarana mobil serba guna untuk layanan sosial dan
penunjang kegiatan Masjid Agung Kudus;
4) Mempertimbangkan dan mengupayakan segala masukan dalam usaha
perluasan areal tanah Masjid Agung Kudus.
Diantara semua fungsi dan tugas bidang-bidang Masjid Agung Kudus
tersebut mungkin ada yang dihentikan, dilanjutkan, dihapus, diganti atau
ditambahi dengan beberapa pertimbangan lancar atau tidaknya fungsi dan tugas
dan ada atau tidaknya pelaksana fungsi dan tugas tersebut (sesuai kebijakan
masjid).
VISI DAN MISI MASJID AGUNG KUDUS
Berbeda dengan masjid tingkat kecamatan pada umumnya, Masjid Agung
Kudus memiliki visi dan misi. Hal ini dikarenakan Masjid Agung Kudus dinaungi
oleh PemDa (Pemerintah Daerah Kabupaten Kudus) dan telah di beri SK (Surat

28

Keputusan) dari Kementrian. Visi dan misi ini menjadi sandaran dan acuan untuk
pengembangan dan pengambilan kebijakan Masjid Agung Kudus.
Visi dan Misi Masjid Agung Kudus adalah sebagai berikut:
Visi
Terwujudnya

Masjid

Agung

Kudus

sebagai

tempat

ibadah

yang

representatif dan sebagai tempet pembinaan umat, menuju masyarakat yang


sejahtera, religius dan berbudaya.
Misi
1. Menjadikan Masjid Agung Kudus sebagai tempat beribadah yang
representatif.
2. Menjadikan Masjid Agung Kudus sebagai tempat membentuk
kepribadian muslim yang religius.
3. Menjadikan Masjid Agung Kudus sebagai tempa pembinaan
kesejahteraan umat.
4. Menjadikan Masjid Agung Kudus sebagai sarana menuju masyarakat
Islami yang berbudaya.
Untuk mencapai maksud diatas, maka masjid harus berfungsi sebagai
pusat ibadah dan pengembangan masyarakat dalam meningkatkan keimanan,
ketaqwaan, pendidikan keterampilan dan kecerdasan sebagaimana yang dilakukan
umat Islam yang berbudaya.
Dalam upaya partisipasi aktif dalam proses pembangunan, yakni untuk
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pengurus
Masjid Agung Kudus sangat perlu mengoptimalkan peran serta masjid dalam
mewujudkan persatuan umat Islam di Kabupaten Kudus, maka dibentuklah
organisasi Masjid Agung Kudus ini.

29

IV. PERAN MASJID AGUNG KUDUS DALAM MASA PENJAJAHAN


Dari berbagai sumber yang peneliti temui di lapangan, mengenai peran
Masjid Agung Kudus di masa penjajahan tidak ditemukan data.
Hal tersebut dijelaskan oleh beberapa narasumber seperti yang di kemukkan
oleh Bapak Masruchan MS selaku Sekretaris Masjid Agung Kudus, beliau
menjelaskan bahwa tidak mengetahui tentang peran Masjid Agung Kudus di masa
penjajahan, karena menurut narasumber, baliau aktif di Masjid Agung Kudus
mulai 1994, dan mulai menduduki jabatan sebagai kepengurusan mulai periode
2007 2012 dan 2012 2017.
Hal serupa juga dikatakan oleh Bapak Nur Rifai selaku sesepuh Masjid
Agung Kudus dan Bapak Drs. Sutiyono, M.Pd selaku Pengurus Disbudpar Kab.
Kudus bahwa tidak ditemukan adanya peran Masjid Agung Kudus di masa
penjajahan. Tetapi pada waktu itu, peran dalam masa penjajahan terfokuskan di
Masjid Menara Kudus.
Menurut peneliti, peran pada masa penjajahan terfokuskan di Masjid Menara
dikarenakan pada masa itu Masjid Agung Kudus masih bernama Masjid Kriyan.
Sedangkan Masjid Agung Kudus sendiri didirikan pada tahun 1959. Dari sini
sudah jelas bahwa masjid ini berdiri sesudah Indonesia merdeka. Maka dari itu,
peneliti tidak menemukan sumber data mengenai peran Masjid Agung Kudus
pada masa penjajahan.
Karena peneliti tidak menemukan data tentang peran Masjid Agung Kudus
di masa penjajahan, peneliti mencoba menggali data baru yaitu tentang kegiatan
para habaib di Masjid Agung Kudus. Dari data yang peneliti dapatkan di
lapangan, para habaib memang mendapatkan peran dalam Masjid Agung tersebut.
Hal ini dikarenakan pendiri Masjid Agung Kudus ialah seorang habib yang
bernama Habib Idris. Peran habaib di Masjid Agung Kudus seperti peringatan hari
besar Islam (PHBI), Jamiyyah Hadroh Ahbabul Musthofa yang dipimpin oleh
Habib Syekh Abdul Qodr As Segaff dari Solo setiap malam Rabu Pahing.
Selain kegiatan tersebut, juga ada Habib Alwi Qosyim yang menjabat
sebagai ketua umum Masjid Agung Kudus masa khidmah 1987 1992. Dari sini

30

sudah jelas para habaib dari Kudus maupun dari luar Kudus berperan penting
dalam kegiatan maupun struktur kepengurusan di Masjid Agung Kudus.
Setelah peneliti melakukan kajian ulang ke Arsip Daerah (Perpustakaan
Daerah) Kab. Kudus, tidak ditemukan data yang menyebutkan bahwa Masjid
Agung Kudus mempunyai peran di masa penjajahan, disebabkan terputusnya
sejarah, data ini sesuai dengan sumber buku Peninggalan Sejarah dan Purbakala
Kabupaten Kudus yang diterbitkan oleh Dinas pariwisata dan Kebudayaan Kab.
Kudus.

V.

BENTUK KEGIATAN DAN PENGELOLAAN YANG DILAKUKAN


MASJID (KEGIATAN KEAGAMAAN)

Gb. 16. Gambar Masjid Agung Kudus tampak depan


(Dokumentasi peneliti pada tanggal 28 Desember 2013)

31

Kesadaran umat Islam dalam membangun masjid sudah begitu besar,


bahkan sudah mampu membuat atau membangun masjid dengan perpaduan
budaya lokal. Pembangunan masjid ini selain kesadaran ibadah juga kesadaran
kearifan lokal. Kebanyakan umat Islam akhir akhir ini banyak yang mampu
membuat atau membangun masjid, namun belum diikuti dengan kesadaran
memanage kegiatan kegiatannya, sehingga masih banyak ditemui terutama di
wilayah Jawa Tengah, masjid masjid yang megah secara fisik, namun miskin
dalam kegiatannya atau dengan kata lain masyarakat sudah sadar membangun
fisik masjid, namun belum mampu memakmurkannya.
Masjid adalah tempat ibadah yang pertama kali dibangun oleh Nabi
Muhammad Saw. Hal ini berarti masjid merupakan lembaga yang mempunyai
perhatian khusus dalam Islam. Secara historis, masjid mengalami perkembangan
fungsi dari masjid yang hanya difungsikan sebagai tempat beribadah mahdhoh,
lambat laun seiring perkembangan zaman masjid sekarang ini menjadi pusat
kegiatan Islam.
Fungsi fungsi masjid dalam Islam selain sebagai tempat ibadah juga
sebagai tempat itikaf, lembaga pendidikan, lembaga pembinaan umat, bahkan
masjid pernah dijadikan sebagai pusat komando perang. Berdasarkan pada hal ini,
tidak menutup kemungkinan fungsi masjid akan semakin bertambah dan begitulah
selayaknya.
Ada tiga management masjid yang sering digunakan umat Islam dalam
memakmurkan masjid masjid, ketiga management itu yaitu idarah, imarah, dan
riayah. Ketiga komponen ini harus berjalan secara integral dan saling
mengkaitkan, tidak boleh berjalan secara parsial, apalagi bersifat kontradiktif.
Secara jelas ketiga management tersebut akan diuraikan sebagai berikut :
Pertama, Idarah berarti administrasi, yaitu tata laksana administrasi yang
meliputi surat menyurat, kegiatan , pendataan, keuangan, sarana prasarana, dan
segala yang berkaitan dengan administrasi.

32

Kedua, Imarah berarti kemakmuran, yaitu meramaikan masjid dengan


berbagai kegiatan. Yang mendatangkan dan melibatkan peran jamaah, sehingga
semua jamaah memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam kemakmuran
masjid. Aktifitas yang tentunya harus ada dimasjid adalah terjadinya jalinan
hubungan antara hamba dengan Allah (Tuhannya) seperti sholat lima waktu,
sholat jumah, tadarus al-quran, istighotsah, tarowih, dan itikaf.
Ketiga, riayah yaitu merawat semua aset dari masjid yang merupakan
hasil jariyah dan wakaf. Aset masjid tidak hanya berupa bangunan / gedung saja,
akan tetapi juga tanah dan sarana prasarana yang lain. Semua harus tertata rapi
dan terawat sehingga terus dapat diambil manfaatnya oleh para jamaah.
Masjid Agung Kudus adalah salah satu masjid yang merupakan
kebanggaan masyarakat Kudus. Selain karena tempatnya yang strategis dan
bangunannya yang megah di pusat kota, juga karena Masjid Agung Kudus ini
mempunyai kegiatan berbasis management diatas.
Untuk

memudahkan

proses

memakmurkan

masjid

sebagaimana

management imarah, Masjid Agung Kudus dapat dipilah berdasarkan kegiatan


harian, kegiatan mingguan, kegiatan bulanan, kegiatan tahunan, bahkan kegiatan
yang bersifat insidental.
Kegiatan kegiatan tersebut diatas oleh pengelola Masjid Agung Kudus
mampu ditata kelola secara rapi dan mampu diakses oleh jamaah serta
masyarakat luas. Secara detail kegiatan kegiatan tersebut adalah :
A. Kegiatan Harian
Diantara Kegiatan-kegiatan harian yang diselenggarakan masjid agung kudus
adalah sebagai berikut :
Pertama, penyelenggaraan sholat maktubah. dalam menyelenggarakan
sholat maktubah, pengurus masjid memiliki agenda dan pelaksanan sendirisendiri yaitu sebagai berikut :
Imam Sholat dzuhur adalah bapak Mukhlis Ahmad dan muadzin oleh
bapak Masrukhan
33

Imam sholat ashar adalah bapak Mukhlis Ahmad, muadzin oleh bapak
Masrukhan, dan qori dilantunkan oleh bapak Mustaqim
Imam sholat Maghrib adalah bapak Masrukhin Ridhwan, muadzin dan
qori dilantunkan oleh bapak Masrukhan
Imam Sholat isya adalah bapak Masrukhin, muadzin oleh bapak
Masrukhan, dan qori dilantunkan oleh bapak Mustaqim.
Imam sholat subuh

adalah bapak Masrukhin, muadzin oleh bapak

Masrukhan, dan qori dilantunkan oleh bapak Mustaqim.

Kegiatan ini didukung oleh sarana dan prasarana dari Masjid, seperti
speaker, pengeras suara, bedug, jam dinding, dan sebagainya. Ketika telah masuk
waktu sholat dengan ditandai jam yang sudah diatur oleh tamir masjid, maka
petugas masjid segera menabuh bedug dengan ritme kurang lebih sebagai berikut :
20 kali ketukan kentongan, dilanjut dengan 30 kali pukulan bedug ( mulanya
ditabuh secara pelan pelan sampai 6 atau 7 kali pukulan, kemudian pukulan
agak cepat sampai 20 kali pukulan, dan kembali lagi menabuh dengan pukulan
pelan ), kemudian memukul kentongan lagi sebanyak 5 kali ketukan, dan kembali
memukul bedug sebanyak 3 kali pukulan (tabuhan), kurang lebih seperti itu.
Tidak selamanya setiap memasuki waktu sholat selalu menabuh bedug, di
Masjid Agung Kudus ini hanya setiap menjelang adzan sholat maghrib, isya, dan
shubuh yang ditandai dengan suara kentongan dan bedug, dan untuk waktu sholat
dzuhur dan ashar tidak ditandai dengan tabuhan bedug, melainkan hanya dengan
memutar kaset sholawat atau tartil Al Quran.
Adapun petugas yang bersih bersih Masjid, membuka pintu gerbang
Masjid, menghidupkan lampu, sampai menabuh bedug itu telah terjadwal oleh 5
orang, yaitu : saudara M. Mustaqim, Ismail, Markhan, Afif, dan M.
Qomaruddin.17

17

Hasil wawancara dengan Bapak Mahfudz Mahmudi selaku pengurus bagian sarana
prasarana, pada tanggal 04 januari 2014

34

Kedua, penyelenggaraan

kegiatan belajar mengajar (KBM) TK yang

dimulai dari pukul 07.30 sampai dengan pukul 11.30 WIB. Dan TPQ yang
dimulai dari pukul 15.00 sampai dengan pukul 17.00 WIB. TPQ dan TK
merupakan lembaga pendidikan yang dimiliki oleh Masjid Agung Kudus,
tepatnya lokasi tersebut ada dibelakang Masjid Agung Kudus.

Gb. 17. Gambar TPQ Masjid Agung Kudus


(Dokumentasi peneliti pada tanggal 28 Desember 2013)

35

Dulu Kegiatan mengaji untuk anak-anak hanya diseleggarakan di masjid


saja. Dan seperti kebanyakan masjid-masjid kuno, Masjid Agung Kudus dalam
pengajarannya masih menggunakan metode baghdadi. Dengan berjalannya waktu
dan semakin majunya Masjid Agung Kudus, ahkirnya pengurus masjid
memberikan Surat Keputusan kepada pengurus TPQ untuk mengelolanya dan
dibangunlah TPQ pada tahun 2006. Untuk penggunaan metode dari awal
berdirinya masjid hingga tahun 2007 TPQ menggunakan metode baca quran
Qiroati, perpindahan dari metode baghdadi ke metode qiroati tersebut karena
alasan pengurus tertarik dengan adanya metode baca secara cepat yaitu qiroati.
Selanjutnya

dari tahun 2007 hingga sekarang metode tersebut berganti lagi

dengan metode yanbua.18


Saat ini TPQ memiliki peserta didik kurang lebih 150 dan jumlah guru sebanyak
18. Untuk biaya syahriyah siswa dikenai biaya sebesar Rp 25.000 ribu perbulan.

Gb. 18. Gambar TK Masjid Agung Kudus


(Dokumentasi peneliti pada tanggal 28 Desember 2013)
18

Hasil wawancara dengan Bapak Masrukhan selaku kepala kantor, pada tanggal 27
november 2013

36

Lembaga pendidikan selanjutnya adalah TK, TK ini memiliki dua


kategori siswa yaitu siswa reguler dan plus, untuk reguler siswa masuk pukul
07.30 sampai 11.30, dimana syahriyah untuk kelas reguler sebesar Rp.115.000
dan biaya ini sudah termasuk uang jajan. Sedangkan yang plus siswa masuk
sekolah pukul 07.30 sampai pukul 13.00, dan SPP sebesar RP.250.000. maksud
dari plus adalah disini TK melayani penitipan anak, bagi ibu-ibu yang sedang
kerja biasanya anaknya dititipkan dahulu, setelah selesai kerja anak mereka
biasanya diambil, biaya tersebut sudah termasuk uang jajan. Sedangkan jumlah
keseluruhan siswa TK yaitu 95 anak, yang terdiri dari siswa TK besar dan TK
kecil.19
B. Kegiatan mingguan
Diantara Kegiatan-kegiatan mingguan yang diselenggarakan Masjid
Agung Kudus adalah sebagai berikut :
Pertama, Qiraatul Quran Murattal. Kegiatan ini diselenggarakan setiap
malam ahad setelah sholat maghrib dan dipipmpin oleh Ikatan Pembina Qori
Qoriah ( IPQOH) cabang Kudus.

Gb. 19. Foto kegiatan tadarus Alquran Masjid Agung Kudus


(Dokumentasi peneliti pada tanggal 28 Desember 2013)
19

Hasil wawancara dengan Ibu Diani selaku wali murid TK Masjid Agung Kudus, pada
tanggal 17 Desember 2013

37

Kedua, Tadarus Al-Quran kepada Bapak-bapak dan ibu-ibu. Kegiatan ini


diselenggarakan setiap malam selasa setelah jamaah sholat isya dan dipimpin
oleh para pengurus Masjid Agung Kudus sendiri.

Gb. 20. Gambar Unit Kegiatan Masjid


(Dokumentasi peneliti pada tanggal 28 Desember 2013)
Ketiga, Pelayanan Kesehatan (UKM) yang diselenggarakan bagi
masyarakat umum. Yang mana kegiatan ini diadakan setiap jumat pagi dari pukul
09.00 sampai pukul 11.00 WIB, dalam menyelenggarakan kegiatan ini pihak

38

masjid bekerja sama dengan puskesmas Desa Wergu Kecamatan Kota Kabupaten
Kudus.
Keempat, Pengajian Tafsir Showi bagi ibu- ibu setiap jumat pukul 16.00
atau bada ashar dan dipimpin oleh KH. Azwar Anas.

Gb. 21. Foto diambil waktu kegiatan pengajian Ibu Ibu Muslimat
(Dokumentasi peneliti pada tanggal 28 Desember 2013)
Kelima, Pengajian ibu- ibu muslimat (sabilul huda) setiap hari selasa
pukul 13.00 atau bada dzuhur yang dipimpin oleh bapak KH. Muchlis Faidhoni.

Gb. 22. Kegiatan tafsir dan tartil Alquran walisantri


(Dokumentasi peneliti pada tanggal 28 Desember 2013)

39

Keenam, Tartil dan tafsir Al-Quran walisantri, kegiatan ini merupakan


kegiatan yang berbeda dari masjid yang lain. Dimana masjid menggandeng para
wali murid TPQ atau TK. Tapi kegiatan ini lebih diperuntukkan untuk wali murid
TK. Kegiatan ini ditawarkan bagi wali murid yang berkeinginan ngaji. Alasan
diadakannya kegiatan ini yaitu tujuan untuk mengisi waktu luang wali murid
dengan kegiatan yang lebih bermanfaat yaitu dengan mengaji quran di masjid,
tempat yang digunakan untuk ibu-ibu ini biasanya diserambi masjid sebelah
selatan, yaitu setiap hari selasa dan kamis sekitar bada ashar, acara ini biasanya
dipimpin oleh guru TPQ, Adapun guru yang sering mengisi acara ini adalah
Ustadzah Istiqomah, Ustadzah Ristiyaningsih dan Ustadzah Ruhana.
Ketujuh, yaitu pengajian rutin setiap hari rabu pukul 18.05 atau setelah
sholat maghrib. Pengajian ini mengkaji kitab kuning atau kitab irsyadul ibad yang
diampu oleh bapak KH. Ahmad Asnawi.
Kedelapan, yaitu dzikir khususi. Dzikir ini dilaksanakan setiap malam
sabtu setelah sholat isyadan jamaah yang mengikuti kegiatan ini dinamakan
jamaah al-hidmah. Dzikir tersebut menggunakan acuan dzikir dari podok
pesantren Al-Fithrah Kedinding Surabaya. Kelurahan Kedinding Lor terletak di
Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya Jawa Timur dengan pengasuh pondok KH.
Asrori Al-Ishaq (Alm).

40

Gb. 23. Gambar Jadwal khotib dan Imam Rowatib Masjid Agung Kudus
(Dokumentasi peneliti pada tanggal 28 Desember 2013)

Kesembilan, penyelenggaraan sholat jumah. Adapun mengenai kegiatan


sholat jumah, masjid memiliki agenda tersendiri yaitu sebagai berikut. Jumat
pon sholat jumah diimami oleh bapak KH. Halim Maruf, Jumat wage sholat
jumah diimami oleh Drs. KH. Sayutin Nafi, Jumat kliwon sholat jumah
diimami oleh Drs. KH. Shodiqun M.Ag. Jumaat legi sholat jumah diimami oleh
Drs. KH. Abdullah Afif Sholih, Jumat pahing sholat jumah diimami oleh KH.
Ahmadi Abdul Fatah, MA. Sebagai pengganti (badal) bila ada salah satu yang
berhalangan untuk hadir, maka digantikan oleh KH. Abdul Rosyad.
Adapun tema yang dipilih khotib dalam khotbah sholat jumat ini
disesuaikan dengan hari-hari besar islam yang sedang atau yang telah dilewati,

41

seperti ketika bertepatan bulan romadhon maka tema yang disampaikan adalah
tentang hal-hal yang berkaitan dengan bulan romadhon, dan lain-lain.20
C. Kegiatan bulanan
Selain kegiatan mingguan yang telah dikemukakan diatas, Masjid Agung
Kudus juga memiliki kegiatan bulanan, yaitu :
Pengajian umum hari ahad pagi pada awal bulan atau biasa disebut dengan
kegiatan APAB (Ahad Pagi Awal Bulan), biasanya sebelum acara dimulai, malam
sebelumnya diisi dengan acara khotmil Quran. Setelah acara ini selesai kemudian
diteruskan dengan acara terbangan dari forum komunikasi terbang papat
kabupaten kudus. Terbang papat sendiri adalah semacam lomba terbang yang
menggunakan terbang yang berjumlah empat dan ditambah satu jidur.
Mauidhoh Hasanah dalam acara ini biasanya didatangkan pembicara dari
dalam dan luar kota, tergantung momennya, bila acara bertepatan dengan hari
besar islam maka biasanya mendatangkan pembicara dari luar kota. Pembicarapembicara yang sering didatangkan diantaranya adalah KH. Abdul Wakhid, KH.
Ahmad Asnawi, KH. Mashuri, KH. Kustur Fais, Drs. Mashud Syiraj M.H, KH.
Abdul Hafidz Syathori, Habib Umar Al Muthohar, dan masih banyak para ulama
dan habaib yang lain.
Selain kegiatan tersebut, juga ada Kegiatan penunjang yaitu Maulid
Simthudduror Ahbabul Musthofa yang diketuai oleh Habib Syekh bin Abdul
Qodir Assegaf dari Solo.

D. Kegiatan tahunan
Selain kegiatan bulanan yang telah dikemukakan diatas, masjid juga
memiliki kegiatan yang tahunan, diantaranya yaitu :
Kegiatan khoul pendiri masjid yaitu Habib Muhammad Idris atau yang
dikenal dengan Mbah Tumenggung Aryo Condro Negoro, setiap tanggal 10
Muharrom. Sebetulnya pengurus masjid belum tahu kapan tepatnya wafat Habib
20

Hasil wawancara dengan Bapak M Qomarudin selaku karyawan Masjid Agung Kudus,
pada tanggal 16-12-2013

42

M. Idris, untuk itu ada inisiatif untuk mengadakannya saat awal tahun hijriyah dan
malam sebelumnya diisi dengan kegiatan santunan.
Kegiatan PHBI (Perayaan Hari Besar Islam). Biasanya penyelenggaraan
kegiatan disesuikan dengan tema yang berhubungan dengan hari hari besar
tersebut.
Kegiatan pada saat bulan Ramadhan, seperti menyelenggarakan sholat
tarawih, memberikan tajil kepada masyarakat umum, dan lain sebagainya.
Acara yang biasa diselenggarakan Masjid Agung Kudus ketika hari besar
Idul Fitri yaitu mengumpulkan dan membagikan zakat fitrah dan pagi nya
melakukan sholat idul fitri bersama di Masjid Agung Kudus.
Kegiatan Idul Adha kegiatannya adalah sholat idul adha, setelah itu
melakukan qurban bersama-sama dan membagikannya kepada masyarakat.
Kegiatan awal dan akhir tahun, yaitu dengan membaca doa akhir tahun
dan awal tahun bersama - sama.

Gb. 24. Foto pada waktu kegiatan santunan anak yatim piatu
(Dokumentasi peneliti pada tanggal 28 Desember 2013)
Kegiatan maulid Nabi Muhammad Saw. Masjid Agung Kudus biasanya
mengadakan khotmil quran sehari sebelum hari H, selanjutnya pembacaan al-

43

barjanji, setelah tiba hari H selanjutnya masjid agung kudus

mengadakan

pengajian umum , khitanan massal, santunan anak yatim dan lain-lain.

Gb. 25. Foto perpustakaan Masjid Agung Kudus


(Dokumentasi peneliti pada tanggal 28 Desember 2013)

Masjid Agung Kudus juga sempat memiliki perpustakaan baca umum


yang tempatnya dibelakang masjid, perpustakaan ini didirikan oleh salah satu
pengurus masjid bernama Mustaqim dan akhirnya perpustakaan ini ditutup karena
ditinggal pengurusnya, karena kuragnya petugas, sehingga banyak pembaca yang
tidak mentaati tata tertib. Banyak pembaca yang tidak mengembalikan bukunya.
Sehingga dengan adanya hal tersebut perpustakaan ditutup untuk umum. Adapun
kondisi perpustakaan masjid agung kudus sekarang adalah tidak terawat, dan
berada di serambi masjid bagian depan sebelah kiri.
Dalam menentukan waktu sholat fardhu, Masjid Agung Kudus
menggunakan patokan yang dibuat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Assarofi (Alm),
yang mana patokan tersebut juga digunakan oleh masjid menara, dan patokan ini

44

digunakan sejak dulu dan sampai sekarang, kemudian diikuti oleh masjid masjid
yang lain se Kudus sebagai penentuan waktu sholat fardhu.21
VI. BENTUK KEGIATAN DAN PENGELOLAAN YANG DILAKUKAN
MASJID (KEGIATAN BISNIS)
Masjid merupakan simbol keislaman. Masjid tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan umat Islam, karena Masjid merupakan simbol ketundukan umat Islam
kepada Allah swt. Kata Masjid terulang dua puluh delapan kali dalam Al-Quran.
Secara bahasa Masjid berasal dari kata sajada-sujud yang mempunyai artinya
patuh, taat, tunduk dengan penuh hormat. Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut,
dan kaki ke bumi, atau bersujud ini adalah bentuk lahiriyah yang paling nyata dari
makna-makna tersebut. Itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan
untuk shalat disebut Masjid, tempat bersujud.
Dalam pengertian sehari-hari, Masjid merupakan bangunan tempat shalat
kaum Muslim. Tapi karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh,
hakikat Masjid menjadi tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung
kepatuhan kepada Allah swt. Al-Quran menegaskan bahwa Masjid merupakan
tempat orang berkumpul melakukan sholat secara berjamaah, dan meningkatkan
solidaritas serta silaturrahmi di antara sesama kaum muslim. Masjid juga
berfungsi sebagai pusat pengembangan kebudayaan Islam seperti diskusi,
mengaji, dan memperdalam ilmu-ilmu pengetahuan agama serta pengetahuan
umum. Selain itu, masjid juga berfungsi sebagai menejemen pengelolaan
keuangan.
Bisnis merupakan suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada
konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Secara historis kata bisnis
dari bahasa Inggris business, dari kata dasar busy yang berarti sibuk dalam
konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk
mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan.

21

Hasil wawancara dengan Bapak Masrukhan selaku kepala kantor Masjid Agung Kudus,
pada tanggal 17-12-2013

45

Ada dua istilah dalam dunia bisnis, yaitu Provit dan Non Provit, profit
adalah keuntungan atau nilai lebih yang diperoleh setelah dikurangi modal serta
biaya lainnya, seperti kantin kejujuran, pengobatan gratis dll. sedangkan Non
Provit adalah suatu kegiatan yang tidak membutuhkan modal tetapi terkadang
mendapatkan keuntungan dan terkadang tidak mendapatkan keuntungan, seperti:
kas parkir kendaraan sepeda motor, kas masjid (kas bulanan, kas jamaah sholat
jumat).
Adapun bisnis protif yang dikelola oleh Masjid Agung Kudus antara Lain
adalah :
a) Kantin Kejujuran
Kantin mungkin banyak ditemui dilembaga-lembaga formal
maupun non formal. Kantin ini, sudah selayaknya kalau
menyediakan barang-barang kebutuhan siap pakai bahkan makanan
ringan atau minuman ringan. Kantin ini, memang biasanya
ditemukan selalu adanya penjaga dan barang-barang yang siap jual
maupun ada juga kantin yang tidak seperti hal diatas tidak ada
penjaga dan barangnya terbatas bahkan tempatnya pun sangat
terbatas. Kantin jenis inilah yang ada di Masjid Agung Kudus
dengan nama kantin kejujuran.
Adanya kantin kejujuran, yaitu menjual minuman berbagai
produk dan jangan heran jika pembeli tidak menemui seorang
penjaga di kantin tersebut, meski banyak pembeli "menyerbu"
minuman yang disediakan, sang penjaga kantin tidak akan pernah
muncul. Uniknya, pembeli memahami benar keadaan itu. Mereka
akan mengeluarkan uang dari saku dan meletakkannya dalam kotak
khusus saat mengambil minuman, yang jumlahnya sesuai dengan
harga banderol, dengan uang yang pas. Bukankarena penjaga
kantin sedang berhalangan atau sakit.melainkankantinitu memang
tidak memiliki penjaga. Hanya kejujuran pembelilah yang
memegang peran dalam kegiatan operasional kantin tersebut

46

sehari-hari.Rugikah? Tentu saja tidak, selama kejujuran dapat


ditegakkan oleh para pembeli.
Kas kantin kejujuran berdasarkan hasil wawancara dengan
bapak Masrukhan selaku pengurus masjid dibukanya tidak ada
waktu rutin yang pasti, namun berdasarkan kebutuhan dan prediksi
dari pengelola tersebut. Untuk tahun 2013 kas kantin kejujuran
dibuka selama sebelas bulan mulai bulan januari sampai november,
kas kantin 2013 mendapatkan saldo tiga juta rupiah. Hal ini tidak
akan di Crosscheck dengan barang yang dijual, sehingga tidak
pernah mempertimbangkan uang modal yang disediakan dengan
pendapatan yang dihasilkan. Dan hasil tersebut digunakan untuk
dibelanjakan produk minuman kembali.
Konsep yang sangat sederhana, namun mungkin akan
sangat

sulit

dalam

pelaksanaannya.

Sekilas,

kantin

ini

tidakberbedadengan kebanyakan kantin lainnya. Perbedaanya


hanya dalam pola pembayaran yang menitikberatkan pada
kesadaran pembeli."Kantin Kejujuran ini juga menjadi ajang
pembelajaran bagi generasi muda tentang pentingnya kejujuran
terhadap diri sendiri, lingkungan, hingga bangsa dan negara."

b) Pengobatan
Selain ada kantin kejujuran, dalam Masjid Agung
disediakan Pelayanan Kesehatan gratis yang diselenggarakan oleh
pengurus masjid yang ditujukan untuk masyarakat umum, dalam
menyelenggarakan kegiatan ini pengurus (pihak masjid) bekerja
sama dengan puskesmas Desa Wergu Kecamatan Jati Kabupaten
Kudus dan honor untuk dokter pada pengobatan gratis ini
mendapat honor dari dana APBD (Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah), masjid agung hanya dikenai biaya pembelian
obat-obatan saja.

47

Kegiatan ini diadakan setiap jumat pagi dari pukul 09.00


sampai pukul 11.00 WIB. Bagi para pasien yang berobat dikenakan
biaya duaribu rupiah untuk mengganti biaya administrasi saja. Di
sini pasien harus mengambil nomor urut antrian terlebih dahulu
dan membayar biaya administrasi, setelah itu menunggu nomor
antriannya di panggil baru di periksa.
Selain hari jumat tersebut pengobatan juga di buka pada
hari Ahad pagi

awal bulandisetiap bulanya kegiatan ahad ini

bukan dilakukan dokter yang biyasanya jaga dihari jumat tetapi


dijaga oleh salah satu pengurus masjid yang kebetulan berprofesi
sebagai dokter hal ini sangat mendukung pengurus masjid karna
selama ini sangat susah mencari tenaga medis.22
Pengobatan ini dilakukan atas kesadaran dari masingmasing pihak dan bukan sama sekali kegiatan yang bersifat
struktural.
c) Lembaga Pendidikan
Bidang Pendidikan Masjid Agung Kudus mempunyai
sebuah Lembaga Pendidikan yaitu TPQ dan TK yang berlokasi
dibelakang Masjid Agung Kudus. Adapun jadwal kegiatan
Lembaga Pendidikan TK Masjid Agung Kudus dimulai dari pukul
07.30 sampai dengan pukul 11.30 WIB. Dan TPQ Masjid Agung
Kudus dimulai dari pukul 15.00 sampai dengan pukul 17.00 WIB.
d) BidangKeagamaan
Dalam

bidang

keagamaan

Masjid

Agung

Kudus

mempunyai program program kegiatan keagamaan diantaranya


yaitu Pengajian umum hari ahad pagi pada awal bulan atau biasa
disebut dengan kegiatan APAB ( Ahad Pagi Awal Bulan ),
kegiatan Qiraatul Quran Murattal yang diselenggarakan setiap
malam ahad setelah sholat maghrib dan dipipmpin oleh Ikatan
22

Data diperoleh dari keterangan bapak Mahfud Mahmudi (pengurus Masjid agung
Kudus). Hari Senin tanggal 4 Januari 2014 pukul. 12.30 WIB

48

Pembina Qori Qoriah ( IPQOH) cabang Kudus, Tadarus AlQuran kepada Bapak-bapak dan ibu-ibu yang diselenggarakan
setiap malam selasa setelah jamaah sholat isya dan dipimpin oleh
para pengurus Masjid Agung Kudus sendiri, Pengajian Tafsir
Showi bagi ibu- ibu setiap jumat bada ashar dan dipimpin oleh
KH. Azwar Anas, pengajian rutin setiap hari rabu setelah sholat
maghrib Pengajian ini mengkaji kitab kuning atau kitab Irsyadul
Ibad yang diampu oleh bapak KH. Ahmad Asnawi, dan juga
penyelenggaraan sholat jumat.
Sedangkan bisnis Non Provit yang dikelola oleh Masjid Agung Kudus
antara lain :
a) Jasa Parkir
Masjid Agung Kudus walaupun terletak ditengah kota tapi
masih mempunyai halaman depan Masjid yang cukup luas.
Halaman ini sifatnya multi fungsi pada hari-hari tertentu bisa
dijadikan tempat pengajian, sedangkan hari yang lain digunakan
juga untuk sholat seperti Idul Fitri maupun Idul Adha, bahkan
sholat Jumat. Namun setiap harinya khususnya setelah Dhuhur
halaman ini dijadikan jasa parkir.
Jasa parkir yang dilakukan oleh pengelola Masjid Agung
Kudus, mengingat lokasi Masjid yang berada ditengah kota dan
padatnya kendaraan diwilayah Kudus, serta banyaknya jamaah
sholat yang datang dari berbagai daerah dengan mengendarai
kendaraan roda empat maupun roda dua. Agar jamaah sholat
merasa nyaman dan aman kendaraan yang diparkir dijaga dan
ditata oleh pengurus Masjid Agung Kudus. Gratis, adalah slogan
yang digunakan oleh pengelola Masjid Agung Kudus sebagai
layanan kepada jamaah. Sehingga seakan-akan parkir dihalaman
Masjid ini menjadi primadona para pengendara motor.
Untuk

menjaga

ketertiban

kendaraan,

pengelola

menyediakan nomor dan tanda pengenal kendaraan yang diparkir

49

layaknya penitipan, sebagai ganti layanan, Masjid Agung Kudus


pengelola hanya menyediakan kotak amal. Meskipun tidak ada tarif
untuk parkir kendaraan dan hanya mengandalkan keikhlasan,
namun penghasilan yang didapat dari parkir kendaraan tersebut
sangat luarbiasa dan melebihi target, kas jasa parkir perminggunya
dapat menghasilkan kira-kira dua juta rupiah.23
b) Kas Masjid
Selain dari jasa parkir, sumber dana Masjid Agung Kudus
juga diperoleh dari kas masjid. Pemasukan dari kas masjid
diperoleh dari kas setiap bulannya (kas Besar) dapat mencapai
sepuluh sampai tiga puluh juta rupiah, dan pemasukan yang
dihasilkan dari kas tiap hari jumat (waktu sholat jumat), dalam
anggarannya pemasukan mencapai empat sampai lima juta rupiah
dari jamah sholat jumat.24
Selain dari kas bulanan (kas besar) dan kas tiap hari
jumat.Sumber dana juga diperolehdari para donatur di antaranya
yaitu: dari pabrik pabrik ternama di kota kudus seperti pabrik
polytron, Pabrik Sukun, Pabrik Djarum, Perusahaan Jenang 33, dan
perusaan Besar Lainya yang ada di kota Kudus, para donatur
dengan

sangat

senang

memberikan

shodaqohnya

untuk

pengelolaan masjid, dan rata-rata dengan jumlah yang tidak


sedikit25.
Sekilas

tentang

pengurus

masjid

tersebut,

secara

keseluruhan mereka mendapatkan upah atau bisyarohnya dari uang


kas masjid yaitu sekitar sepuluh juta rupiah perbulan sedangkan
23

Hasil Wawancara dengan Bpk. Masrukhan, Jabatan,Kepala Kantor Masjid Agung


Kudus, Skretaris I,Tanggal,17 Desember 2013,Pukul.10.00-10.51 WIB,Tempat ,KantorMasjid
Agung Kudus
24
Hasil wawancar dengan Bpk H. Rifi Noor, Selaku pernah menjadi pengurus Masjid
Agung Kudus, Pada tanggal 16Desember pukul ,201318:37:23, di kediaman beliau
25
Hasil wawancar dengan Bpk H. Rifi Noor, Selaku pernah menjadi pengurus Masjid
Agung Kudus, Pada tanggal 16Desember pukul ,201318:37:23, di kediaman beliau

50

untuk petugas imaroh, kas Masjid mengeluarkan uang yakni sekitar


dua juta rupiah perbulanya.26
Pengeluaran uang kas Masjid Agung Kudus dpat di bagi
dua yang bersifat rutin dan yang bersifat temporar. Uang rutin
trmsuk d dlmny adl uang listrik masjid,listrik TPQ, dan telp, juga
untuk peralatan klining servis, perawatan

berkala seperti

pengecatan, dan lain sebagainya.27


Kegiatan-kegiatan
pengembangan

diatas

menejemen

merupakan

Masjid

Agung

usaha
Kudus

dan
seiring

perkembangan situasi dan kondisi Kota Kudus ada banyak kegiatan


yang dilakukan oleh Masjid yang terletak disebelah barat alun alun
kota kudus ini, yaitu kegiatan-kegiatan yang berorientasi
keagamaan (Non profit) dan ada juga kegiatan yang berorientasi
profit namun dalam balutan keagamaan dan tidak semata-semata
mencari keuntungan sebesar-basarnya.
Salah satu pendukung utama bagi berhasilnya program dan
aktivitas masjid adalah bagusnya menajemen keuangan masjid.
Manajemen

keuangan

masjid

meliputi

pengadaan

uang,

pembelajaan yang tepat, administrasi keuangan yang baik.


Sehingga tumbuh kepercayaan bagi pengurus masjid yang dengan
demikian juga akan mengundang orang lebih senang beramal.

VII. KEGIATAN MASJID PADA HARI- HARI BESAR ISLAM


PHBI atau Peringatan Hari Besar Islam diperingati oleh umat Islam setiap
tahunnya. Merayakan hari besar Islam merupakan bentuk peringatan terhadap
berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam. Diantara beberapa peringatan hari
besar Islam tersebut yang diperingati oleh umat muslim adalah Tahun Baru
26

Hasil Wawancara dengan Bpk. Masrukhan, Jabatan,Kepala Kantor


Kudus, Skretaris I,Tanggal,17 Desember 2013,Pukul.10.00-10.51 WIB,Tempat
Agung Kudus
27
Hasil Wawancara dengan Bpk. Masrukhan, Jabatan,Kepala Kantor
Kudus, Skretaris I,Tanggal,17 Desember 2013,Pukul.10.00-10.51 WIB,Tempat
Agung Kudus
51

Masjid Agung
,KantorMasjid
Masjid Agung
,KantorMasjid

Hijriyyah, Hari Asy-syuro (10 Muharram), Maulid Nabi, Isra Miraj, Ramadhan,
Idul Fitri, dan Idul Adha.
Perayaan untuk memperingati hari besar Islam tersebut ditandai dengan
kegiatan ibadah, seperti pengajian, puasa, ceramah agama, maupun shalat. Hal ini
mendapat respon oleh pengurus Masjid Agung Kudus untuk merayakan dalam
memperingati hari besar Islam tersebut dengan mengadakan kegiatan sebagai
berikut.
1. 1 Muharram (Tahun Baru Hijriyyah)
Muharram adalah bulan di mana umat Islam mengawali tahun
kalender Hijriah berdasarkan peredaran bulan. Dengan kata lain tahun baru
Islam atau biasa orang menyebutnya dengan 1 (satu) Muharram adalah hari
pertama dalam tahun baru hijriyyah. Berdasarkan hasil wawancara dengan
Bapak Masrukhan selaku pengurus Masjid Agung Kudus, perayaan Hari
Besar Islam satu Muharram dari tahun-tahun sebelumnya selalu berbarengan
dengan kegiatan Pondok al-Muayyad yang berada di Simpang 7 Kudus. Hal
ini yang membuat Masjid Agung Kudus memutuskan untuk bekerja sama
dengan pondok al-Muayyad dalam kegiatan perayaan tahun baru Hijriyyah.
Secara kronologi kodisi ini bermula dari pihak Masjid Agung Kudus
sendiri yang sebenarnya ada keinginan untuk mengadakan kegiatan sendiri,
namun karena setiap datang tahun baru hijriyyah di Simpang 7 sudah di
back up oleh pondok al-Muayyad dengan mengadakan kegiatan khataman
al-quran, maka Masjid Agung Kudus pun akhirnya bekerja sama dengan
pihak luar tersebut untuk memperingati tahun baru hijriyyah.
Kegiatan PHBI tahun baru hijriyyah diawali terlebih dahulu dengan
khataman al-quran pada hari terakhir menjelang tahun baru hijriyyah, lalu
dilanjutkan dengan pembacaan doa akhir tahun pada sore hari bada ashar.
Dan kemudian disambung dengan membaca doa awal tahun bersama-sama
juga di Masjid Agung Kudus bada maghrib.
Ada hal yang unik dalam peringatan tahun baru hijriyah di Masjid
Agung Kudus ini, yakni ada pada kegiatan Khataman Quran yang
dilaksanakan dengan kerjasama dari pihak luar yaitu pondok al-Muayyad.

52

Khataman al-Quran diikuti secara sukarela oleh para guru TPQ sekabupaten
Kudus yang menginduk di Kudus sekitar 1000 guru TPQ Qiraati. Dan
untuk memperingati Tahun Baru Hijriyyah pada tahun 1435 H kemarin,
Masjid Agung Kudus telah berhasil menghatamkan sebanyak 39 Khataman
Quran yang diikuti oleh para guru TPQ Qiraati tersebut. Kegiatan
kerjasama ini bisa dikatakan rutin tiap tahun. Karena hampir setiap tahun
baru hijriyyah, dari pihak Masjid Agung Kudus selalu bekerja sama dengan
pihak luar tesebut.
Dana yang diperoleh untuk menunjang kegiatan tahun baru hijriyyah
yang berlangsung ini berupa perolehan dari pengajuan proposal yang dibuat
oleh pengurus Masjid Agung Kudus ke berbagai dermawan.
2. 10 Muharram (Hari Asyuro)
Bagi umat Muslim, 10 Muharram atau dikenal dengan Asy-syuro
merupakan salah satu hari yang cukup istimewa. Banyak umat yang
menjalankan ibadah puasa pada 9 dan 10 Muharram. Bagi sebagian
kalangan, Asy-syuro juga menjadi momentum untuk saling berbagi dengan
anak yatim.
Hal itu juga yang dilakukan olah para pengurus Masjid Agung
Kudus. Dalam memperingati Hari Asy-Syuro, Masjid Agung Kudus
mengadakan kegiatan santunan anak yatim. Untuk santunan 10 Muharram,
Masjid Agung Kudus mengambil perwakilan dari tiap kecamatan di
kabupaten Kudus. Dari masing-masing utusan Kecamatan se Kabupaten
kudus tahun 2012 mendapatkan sekitar 150 anak yatim. Yakni dengan
kriteria anak yatim yang maksimal usia 10 tahun, yang diambil atau dipilih
dari non panti atau bukan dari panti.
Dana yang diperoleh untuk kegiatan santunan anak yatim dalam
memperingati hari besar 10 Muharram ini diperoleh dari pengajuan proposal
yang dibuat oleh pengurus Masjid Agung Kudus ke berbagai dermawan dan
juga diperoleh dari para dermawan yang sukarela memberi santunan berupa
barang untuk anak yatim tersebut.
3. 12 Rabiul Awal (Maulid Nabi)

53

Pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal ini,


Masjid Agung Kudus mempunyai agenda rutinan. Dari tanggal 1 12
Rabiul Awal, diadakan pembacaan al-barzanji lengkap dengan terbang
papatnya, kemudiaan diadakan khatmil quran, dan khitanan masal.
Pembacaan al-barzanji disini yang dibaca adalah semuanya, dalam
artian dibaca komplit (semua). Ini berlaku untuk umum. Jadi jika ada
jamaah yang ingin mengikuti kegiatan maulud nabi ini, bisa. Lalu untuk
khitanan massal yang diselenggarakan untuk memperingati Maulid Nabi ini,
selalu dibatasi. Namun, setiap tahunnya selalu meningkat. Seperti tahun
2011 dibatasi 50 anak, lalu 2012 di ikuti 60 anak, dan yang terakhir 2013
diikuti oleh 75 anak. Prosesi khitanan massal ini diikuti dari kalangan umum
(bebas) di sekitar kabupaten Kudus.
Jadi urutannya, dari tanggal 1 12 rabiul awal diadakan berzanji atau
pembacaan al-barzanji tiap malam dengan terbang papat 28 (setiap harinya
perwakilan terbang papat dari perkecamatan). Kemudian pada tanggal 12
nya kegiatan khitanan masal, dilanjut khotmil quran dan pembacaan albarzanji semuanya komplit dengan rebana modern. Dan dana yang
digunakan dalam acara ini adalah dana dari pengajuan proposal ke
dermawan.
Untuk kegiatan maulid nabi yang berlangsung tiap tahunnya di
Masjid Agung Kudus ini, dananya diperoleh dari pengajuan proposal yang
dibuat oleh pengurus Masjid Agung Kudus ke para dermawan.

4. 27 Rajab (Isra Miraj)

28

Terbang Papat, seni musik asli Kudus ini pernah berhasil meraih rekor Museum Rekor
Indonesia (MURI) kategori Tabuh Terbang Papat Terlama. Tabuh Terbang Papat berlangsung
selama lima hari sejak Minggu hingga Kamis (15-19/07/2012) di Serambi Masjid Agung Kudus.
Aksi yang juga digelar untuk menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan ini melibatkan 130
kelompok Terbang Papat se-Kabupaten Kudus yang tergabung dalam Forum Komunikasi Terbang
Papat (FKTP) Kudus. Mereka berhasil menabuh terbang 87 jam tanpa henti. Melampaui target
waktu yang direncanakan sebelumnya, yakni 83 jam.

54

Kegiatan pada peringatan isra miraj sekarang ini tidak selalu ada
kegiatan rutinan di Masjid Agung Kudus. Jadi dulu sempat ada acara rutinan
pengajian umum oleh Jamiyyah Sabilul Huda (Jamiyyah Putri Masjid
Agung Kudus) 29. Jamiyyah tersebut masih berdiri sampai sekarang. Namun
seiring perjalanan, nampaknya tidak begitu seirama dengan pengurus masjid.
Karena pengurusnya sudah berganti periode, dan setiap ketua itu punya gaya
pemimpin yang berbeda maka sekarang sudah tidak ada pengajian umum
rutinan untuk isra miraj.

Baru tahun 2012 diisi atau diganti dengan

sarasehan remaja Masjid Agung Kudus dan kegiatan pembinaan.

5. Bulan Ramadhan dan 1 Syawal ( Hari Raya Idul Fitri)


Di bulan ramadhan yang suci, Masjid Agung Kudus mempunyai
banyak agenda rutin seperti pengajian menjelang buka puasa, buka puasa
bersama, tarawih bersama, dan tadarus bersama setelah shalat tarawih.
Untuk semua kegiatan ramadhan tersebut, Masjid Agung Kudus mendapat
suntikan dana untuk mempersiapkannya dari dermawan yang datang sendiri,
dermawan dari pengajuan proposal yang dilakukan Masjid Agung Kudus,
dari pabrik-pabrik seperti pabrik Sukun, Noroyono dan Langsep, dan dari
produk sponsor lainnya.
Pengajuan proposal untuk ramadhan biasanya ada dua macam.
Proposal permintaan uang tunai, dan proposal permintaan snack untuk buka
puasa dan pengajian. Untuk harian dalam bulan ramadhan, Masjid Agung
Kudus menyediakan sekitar 150 250 makanan.
Selain itu, Masjid Agung Kudus juga memberikan santun kepada
anak yatim (dari panti). Biasanya yang diambil sekitar 500 anak yatim. Dan
santunan anak yatim bulan ramadhan biasanya dilaksanakan pada kamis
malam jumat pada bulan ramadhan. Santunan anak yatim ini dilakukan satu
kali dalam bulan ramadhan tersebut.

29

Jamiyyah Sabilul Huda (Jamiyyah Putri Masjid Agung Kudus) masih berdiri sampai
sekarang namun sekarang perputaran wilayah pengajiannya disekitar desa demaan, makanya
sekarang disebut Jamiyyah Demaan.

55

Untuk zakat fitrahnya, Masjid Agung Kudus siap menyalurkan bagi


masyarakat yang ingin berzakat fitrah. Biasanya pihak panitia atau pengurus
Masjid Agung memasang spanduk untuk memberitahukan informasi bagi
yang ingin membayar zakat dengan menitipkannya melalui pihak Masjid
Agung Kudus. Biasanya pengumpulan zakat fitrah ini dibuka selama bulan
puasa, dan untuk pembagian zakat fitrah dilakukan setelah isya. Pembagian
zakat fitrah diutamakan diberikan ke masyarakat sekitar Masjid Agung
Kudus yang membutuhkan.
Lalu untuk pelaksanaan sholat idul fitri, itu banyak jamaahnya.
Hampir semua yang diluar kota yang pada pulang ke Kudus memenuhi
masjid sampai Ramayana samapai ke timur lagi. Pada kegiatan shalat Id
bukan hanya idul fitri saja melainkan idul adha juga, di Masjid Agung
Kudus para pengurus Masjid Agung Kudus biasanya mengambil imam dan
khatib langsung dari imam Masjid Agung Kudus. Hal ini dikarenakan untuk
efektifitas kegiatan, namun terkadang juga mengambil imam dari luar kota,
seperti halnya Bpk. Abdul Jalil, Bpk.Rofiq Halim, Bpk Abdul Hadi (Mantan
Rektor Stain Kudus), dan Bpk.Syaefur Rohkman.

6. 12 Dzulhijjah (Hari Raya Idul Adha)


Untuk kegiatan Idul Adha di Masjid Agung Kudus, rutinnya paginya
diadakan shalat Idul Adha terlebih dahulu, selanjutnya melaksanakan
pemotongan hewan qurban. Data yang peneliti peroleh untuk tahun 2011
yakni 5 kerbau dan 23 kambing, tahun 2012 yaitu 6 kerbau dan 17 kambing,
dan untuk tahun 2013 Masjid Agung Kudus memperoleh 6 ekor kerbau dan
13 ekor kambing. Untuk tahun kemarin tahun 2013 memperoleh sekitar
2500 bungkus daging qurban. Daging qurban tersebut nantinya akan
dibagikan kepada masyarakat sekitar desa Demaan yakni 1200 bungkus,
permohonan surat masuk dari beberapa ponpes 800 bungkus, dan untuk
masyarakat umum termasuk para pengurus Masjid Agung Kudus sekitar 500
bungkus.

56

Sistem pembagian daging qurban untuk beberapa tahun sebelumnya


menggunakan pembagian kupon, namun untuk beberapa tahun ini tidak
menggunakan kupon karena dengan menggunakan kupon biasanya para
pemilik kupon tidak langsung mengambil daging qurban tersebut.

Nah, untuk evaluasi. Sebenarnya hampir di awal tahun, Masjid Agung selalu
mengadakan evaluasi dari kegiatan-kegiatan peringatan hari besar islam yang
sudah berjalan. Namun terkadang ditengah jalan sering ada kendala atau ada
masalah, jadi yang ada kegiatan-kegiatan peringatan hari besar islam dilakukan
seperti tahun-tahun sebelumnya. Jadi kegiatannya tetap, hanya saja mungkin yang
berbeda adalah jamaah yang bertambah atau berkurang, dsb. Seperti salah satu
contoh kegiatan khitanan masal dalam memperingati Maulid Nabi, kegiatan
khitanannya masih berjalan dari tahun ke tahun, hanya saja yang berbeda adalah
jumlah peserta khitanan masal dari tahun ke tahun yang jumlah pesertanya
semakin banyak.
Pada dasarnya semua kegiatan PHBI Masjid Agung Kudus yang besifat
sosial, dananya didapat dari pengajuan proposal ke para dermawan yang
dilakukan oleh pengurus Masjid Agung Kudus.

VIII. ULAMA YANG DIHASILKAN MASJID AGUNG KUDUS


Masjid Agung Kudus, selain berfungsi sebagai tempat Itikaf dan
beribadahnya orang-orang muslim kepada Sang Maha Pencipta dan Maha Tinggi
yaitu Allah SWT sebagai bentuk ketaqwaan seorang hamba terhadap penciptanNya, Masjid Agung Kudus juga ikut berperan dalam membina dan mencetak
orang-orang besar (ulama-ulama) yang nantinya akan meneruskan tongkat
estafet dari ulama-ulama terdahulu untuk meneruskan dakwah kepada kaum
muslimin di Kudus pada khususnya dan pada kaum muslimin di seluruh penjuru
dunia pada umumnya.
Diantara orang yang saat ini telah menjadi orang besar yang

pernah

menimba ilmu di Masjid Agung Kudus adalah bapak H. Abdul Ghofur bin

57

Muzammil, yang saat ini beliau masih berada di Mesir untuk melanjutkan study
S2 beliau disana.
Kemudian yang kedua adalah bapak Drs. KH. Abdullah Afif Sholeh juga
pernah menimba ilmu (ngaji) di Masjid Agung Kudus. Meskipun dalam
wawancara yang telah kami lakukan beliau enggan disebut sebagai salah satu
orang-orang besar atau ulama. Namun, menurut hemat peneliti bahwa beliau
merupakan salah satu tokoh besar hasil binaan Masjid agung Kudus.30 Karena
beliau pernah menempati jabatan penting di Pemerintahan maupun sosial
Kemasyarakatan. Diantaranya adalah beliau pernah menjabat sebagai kepala
Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Kudus.31
Selain itu, beliau pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Masjid
Agung Kudus selama 2 periode berturut-turut yaitu tahun 1997-2002 dan tahun
2002-2007.32 Saat ini beliau juga masih aktif dalam kegiatan sosial
kemasyarakatan khususnya bidang keagamaan diantaranya saat ini beliau menjadi
salah satu khotib di Masjid Agung Kudus. Beliau bertugas setiap hari jumat legi
pada saat sholat jumat. Selain itu beliau juga masih aktif dalam kegiatan sosial
kemasyarakatan khususnya bidang keagamaan di daerah sekitar rumahnya yaitu
daerah Mlati.
Selain dua tokoh diatas, masih ada nama-nama lain yang pernah mengikuti
majlis ilmu di Masjid Agung Kudus antara lain bapak Heru Sujatmoko (Wakil
Gubernur Jawa Tengah), bapak Tamzil,MT (Mantan Bupati Kudus), bapak Amin
Munajat (Mantan Bupati kudus), bapak Darsono (Mantan Bupati kudus), Drs.H.
Noor Badi,MM (Direktur Urusan Haji Kemenag Jawa Tengah sekaligus Ketua
Umum Pengurus Masjid Agung Kudus tahun 2007-2012 dan 2012-ssekarang),
Drs.H. Akhmad Mundakir,M.Si (PNS di Kemenag Kabupaten Pati), Drs.H.

30

Data diperoleh dari narasumber Drs.KH. Abdullah Afif Soleh (mantan ketua pengurus
Masjid Agung Kudus) pada hari jumat tanggal 13 Desember 2013.
31
Data diperoleh berdasarkan keterangan dari Departemen Agama kabupaten Kudus.
Tanggal 6 Desember 2013
32
Data diperoleh dari Pengurus Masjid agung Kudus yang sekarang masih aktif. Tanggal
5 Desember 2013

58

Ahmad Sururi (Kemenag Kabupaten Kudus Urusan Haji), Drs.H.Kholid Seif


(Kepala Inspektorat Kabupaten Kudus), Drs.H. Suudi, M.Pd.I (Kemenag
Kabupaten Kudus), Drs. Nor Fanani (Kemenag Kabupaten Kudus dan mantan
kepala SMP NU Putri Nawa Kartika), bapak Masruchan,S.Pd.I(pengurus Masjid
Agung Kudus), bapak Zaenal Fahmi, S.Ag (Kemenag Kabupaten Kudus) bapak
H. Muhammad Hilmy,SE (Direktur Mubarrok Food), Ir.H. Shofian ZN (Mantan
Direktur Percetakan Menara yang sekarang menjadi Konsultan Mekanikal disalah
satu perusahaan di Jakarta), bapak Abdul Ghofur,LC (Dosen di Bekasi),
dr.H.Kadarusman (seorang dokter yang membuka praktek di daerah Gebog),
M.Sugiono (Kepala Desa Demaan), H.Suswono (pensiunan Dinas Kesehatan),
Hj.Maesaroh (mantan DPRD Kudus 3 periode), KH. Idham Kholid,SH.MH
(mubaligh dari Demak), bapak H.Muzammil Karsani (pengusaha Biro Perjalanan
Haji ALMA TOUR), Hj. Maryuni Faqih (Bendahara di Balai Pengobatan
Masyithoh), KH. Umar Faruq (tokoh masyarakat Glantengan), bapak. Subchan
(tokoh masyarakat Colo), bapak Mansur (tokoh masyarakat panjang Jambean
Purworejo), bapak Junaidi (Kesra Desa Mayong), bapak Mahfud Mahmudi (Kesra
Desa Demaan), H.Mustain Yanis (tokoh masyarakat di Singocandi), bapak Rusli
Yahya (tokoh masyarakat Demaan), Hj. Maryuni faqih (tokoh masyarakat Panjang
Bae), KH. Muchlis Faidhoni ( tokoh masyarakat Demaan Kudus), Habib alwy
(tokoh masyarakat Kudus), Habib Abubakar (tokoh masyarakat Kudus), Habib
Mahir (tokoh masyarakat Kudus), Darun Nafis (Guru di Qudsiyyah Kudus), H.
Abdullah Rosyad (guru di Qudsiyyah Kudus), bapak Arief Farizi,S.Pd (guru
SMK Grafika), bapak Achmad Latif,S.Ag (guru NU SMA NU Al-Maruf Kudus,
bapak Silahuddin,S.Ag (guru TBS Kudus), bapak M. Khoiroan Amala,Amd (guru
MI Damaran), Moh. Dzori (pengusaha percetakan di Purwodadi), H. Asyrofi
(pengusaha kertas di Pasuruhan Kidul), M. Ismail ( pengusaha di Sumatra), Ibnu
Masud (pengusaha di Palembang Sumatara Selatan), H. Ghufron (pengusaha
Sablon di Honggosoco), bapak Mustain (karyawan Pusaka Raya yang saat ini
berdomisili di Mejobo Kudus), bapak Agus Yono (pengusaha pasar Kliwon yang
saat ini berdomisili di Singocandi), H. Nur Hadi (pengusaha pasar Kliwon yang

59

saat ini berdomisili di Demaan), ibu Endah Apriliani ( guru TPQ Masjid Agung
Kudus).33
Berhasilnya orang-orang besar yang pernah menimba ilmu di Masjid
Agung Kudus tidak terlepas dari peran ulama-ulama terdahulu yang dengan
keikhlasannya mengamalkan dan mengajarkan ilmu-ilmu yang dimilikinya
sehingga lahirlah orang-orang besar seperti Bpk H. Abdul Ghofur bin Muzammil
dan Bpk Drs. KH. Abdullah Afif Sholeh, dkk. Diantara ulama-ulama yang
pernah mengamalkan ilmunya di Masjid Agung Kudus adalah :
1. KHR. Asnawi (Pengasuh Ponpes Roudhotut Tholibin, Bendan)
2. KH. Ahmad Minan Zuhri( Damaran), beliau merupakan cucunya KHR.
Asnawi.
3. Dr. KH. Musthofa Shonhaji, MA ( Panjunan), beliau merupakan mantan
Dekan Ushuluddin IAIN Walisongo yang sekarang telah berubah status
menjadi STAIN Kudus.
4. KH. Umar Faruq ( Glantengan)
5. Dan sekarang yang masih aktif mengajar kitab kuning di Masjid Agung
Kudus adalah KH Asnawi ( Padurenan), KH.Sholikhin (Salam).34
Ulama-ulama diatas berjasa dalam pendidikan yang ada di Masjid Agung
Kudus, karena dengan keikhlasannya telah mengajarkan ilmu-ilmunya melalui
pengajian kitab kuning kepada para jamaah Masjid Agung Kudus.
Selain ulama-ulama yang mengajarkan kitab kuning. Ada pula ulama yang
mengisi kegiatan harian Masjid Agung Kudus, seperti Imam sholat rawatib,
Muadzin/ Qori dan pada kegiatan sholat jumat seperti Khotib, Bilal/Muraqqi.
Untuk menjadi petugas dalam kegiatan ada kriteria-kriteria khusus diantaranya:

33

Data diperoleh dari keterangan bapak Mahfud Mahmudi (pengurus Masjid agung
Kudus). Hari Senin tanggal 6 januari 2014 pukul. 12.30 WIB
34
Keterangan dari bapak Drs.KH. Abdullah Afif Sholeh (mantan ketua pengurus Masjid
Agung Kudus).Tanggal 13 Desember 2013

60

Orang-orang yang bertugas dipilih berdasarkan hasil kesepakatan dari pengurus


yang masih aktif pada saat itu.35
Selain itu ada kriteria lain untuk menjadi petugas kegiatan di masjid agung
Kudus:

Untuk menjadi seorang khotib dan Imam harus memenuhi criteria yaitu
menguasai ilmu agama, berwawasan luas khususnya wawasan tentang
agama, perilaku beliau di lingkungan masyarakat tidak menyimpang dari
norma-norma yang berlaku dimasyarakat.

Dan untuk imam sholat harus seseorang yang bacaan tajwidnya bagus.
Untuk menjadi seorang Muaddzin / Qori, Muroqqi, dan Bilal harus
memenuhi kriteria khusus yaitu : seseorang tersebut harus mempunyai
suara yang indah, bacaan tajwidnya juga bagus.36

IX. PENUTUP
Alhamdulillah, proposal ini telah selesai disusun berkat izin dan ridho Allah
SWT yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran kepada kami. Dan kami
pun menyadari bahwa proposal ini tentunya masih banyak kesalahan dan
kekurangan. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca
sangat peneliti harapkan dan semoga karya ini bermanfaat untuk semuanya. Amin.

35

Keterangan diperoleh dari bapak. H. Rifai Noor (mantan pengurus Masjid Agung
Kudus). Hari selasa tanggal 10 Desember 2013
36
Keterangan dari bapak Drs.KH. Abdullah Afif Sholeh (mantan ketua pengurus Masjid
Agung Kudus) hari jumat 13 Desember 2013

61

Tim Penyusun:
1. Sejarah berdirinya Masjid
Oleh : Nurul Ahla
Putri Dwi Fatmawati

(111 099)
(111 100)

2. Struktur bangunan Masjid (makna arsitektur)


Oleh : Anik Suryani
Rini Ismala Sari

(111 102)
(111 103)

3. Struktur bangunan Masjid (bentuk fisik)


Oleh : Halimah
Rendi Selviani

(111 116)
(111 117)

4. Struktur kepengurusan, visi, dan misi Masjid


Oleh : Edi Maftukin

(111 114)

M. Yazid Zainurrohman (111 109)


5. Masjid pada zaman dahulu (zaman penjajahan)
Oleh : M. Khoirul Anas
Abdul Lathif

(111 111)
(111 114)

6. Bentuk kegiatan dan pengelolaan yang dilakukan Masjid (kegiatan


keagamaan)
Oleh : Durrotun Nafiah

(111 105)

Sari Ulya Ningsih

(111 106)

7. Bentuk kegiatan dan pengelolaan yang dilakukan Masjid (kegiatan bisnis)


Oleh : Rhomlatul Nihayah
Nurus Sadiyah

(111 107)
(111 108)

8. Kegiatan Masjid pada hari- hari besar Islam


Oleh : Hilatin Razanitaqi
Nailin Nimah

(111 113)
(111 115)

9. Ulama yang dihasilkan dari Masjid


Oleh : Siti Noor Rohmah

(111 110)

Nilta Fitriya Insiya

(111 112)