Anda di halaman 1dari 3

EVOLUSI SPIRITUAL

Veda menyatakan bahwa sesuai dengan macam dan intensitas asubha-karma (perbuatan
berdosa) yang dilakukannya, sang jiva berjasmani manusia bisa merosot dengan lahir sebagai
anjing, kadal, tikus atau makhluk rendah lain. Setelah menjelma sebagai ikan, maka sang jiva
harus lahir berulang-kali dalam berbagai jenis kehidupan yang lebih tinggi sebelum pada
akhirnya kembali memperoleh badan manusia. Ini disebut evolusi spiritual yaitu sang jiva
berangsur-angsur (pelan-pelan) merobah kesadarannya dari tingkat rendah ke tingkat yang lebih
tinggi dengan berganti-ganti badan jasmani mulai dari berbagai badan jasmani akuatik,
tanaman/pohon, serangga, burung, binatang dan akhirnya badan jasmani manusia.

Jadi menurut teori evolusi spiritual Veda, sang jiva yang rohani-abadi tidak pernah berubah
meskipun berganti-ganti badan jasmani. Dan beraneka-macam badan jasmani yang telah pernah
di huninya, sudah ada sejak terciptanya alam semesta material ini dan wujud serta bentuknya pun
tetap sama, tidak pernah berobah.
Karena itu dikatakan bahwa evolusi spiritual ini adalah rangkaian perpindahan sang jiva dalam
jutaan kondisi kehidupan (badan jasmani) berlain-lainan yang menyengsarakan belaka.
Evolusi spiritual ini harus dijalani oleh setiap jiva berjasmani manusia yang salah/keliru
menggunakan jasmani manusianya yaitu bukan untuk berbhakti kepada Sri Krishna, tetapi untuk
mengejar kesenangan material dunia fana yang semu, khayal dan sementara.
Proses evolusi spiritual Veda tersebut diatas dapat diringkas sebagai berikut

Evolusi spiritual pun terus berlangsung, hingga memasuki masa teknologi sederhana, di mana
ilmu pengetahuan berperan lebih banyak. Cara pandang manusia dalam memandang lingkungan
sekitarnya berbeda, dari yang sebelumnya mengkultuskan hal-hal yang dapat dijamah secara
fisik, (elemen alam, binatang ternak, ataupun dewa dewi yang dipersonifikasi) berubah perlahan.
Pola spiritual pada masa tersebut adalah menuhankan hal-hal yang gaib, maya, dan tak tersentuh.
Hal tersebut dikarenakan akal manusia tak lagi dapat menerima Tuhan yang berbentuk fisik,
layaknya manusia. Kebenaran pun berubah. Yang dahulunya diyakini sebagai sebuah kebenaran,
kini diklaim sebagai sebuah kesesatan, sebab asumsi pada masa tersebut bahwa Tuhan sesuai
dengan akal pikiran manusia ketika itu, yakni tak tersentuh, tak terjamah.
Hingga kini, keyakinan akan Tuhan yang gaib itu masih dipegang teguh sebagai sebuah
kebenaran oleh sebagian besar umat manusia. Namun pada belahan-belahan dunia tertentu, di
mana teknologi kian majunya, ada indikasi bahwa kepercayaan pada Tuhan yang gaib itu mulai

terlepas. Teknologi yang semakin mutakhir membuat alam pikiran manusia berubah dalam
menilai alam sekitarnya, bahkan Tuhan. Dewasa ini, segalanya seolah bisa diciptakan manusia.
Hujan, satelit, bahkan kloning manusia, bisa dibuat. Tak mudah mungkin untuk diterima orang
yang masih hidup dalam alam pikiran bahwa Tuhan itu gaib, tapi untuk negara-negara teknologi
maju, Tuhan tak lagi merupakan suatu yang berada di luar diri manusia. Gamblangnya, manusia
itu adalah Tuhan itu sendiri, karena manusialah yang membuat Tuhan-tuhan mereka. Begitulah
garis besar pemikirannya.
Entah pada abad-abad ke depan, seiring perkembangan pemikiran manusia, kepercayaan seperti
apa lagi yang terlahir dari peradaban manusia. Yang pasti, spiritualitas akan terus ber-evolusi.
Spiritualitas baru menghadirkan sistem ketuhanan yang baru pula. Adapun yang baru akan
menggulingkan yang lama, yang mayor akan menilai sesat yang minor, begitu seterusnya. Di sini
terlihat jelas relativitas kebenaran. Maka setiap kita yang hidup pada masa kini tak perlu kaget
jika suatu saat nanti kita menemui kenyataan bahwa apa yang kita yakini benar saat ini tak lagi
dianggap benar oleh pandangan di masa mendatang. Melihat realitas yang terjadi itu, selayaknya
kita insyafi bahwa kita boleh saja mengaku benar, namun kita pun harus menghargai kebenaran
yang diyakini orang lain. Dan mestinya kita mengerti bahwa kebenaran tak selalu sama buat
semua orang. Kebenaran untuk masa ini adalah kebenaran yang masing-masing kita yakini di
masa kini, dan kan terus berubah, seiring bergulirnya waktu.