Anda di halaman 1dari 17

2014

Pusdiklat Aparatur dan


Pusat Kesehatan HajiKementerian Kesehatan
Republik Indonesia

MODUL MATERI INTI 1


ETIKA PELAYANAN KESEHATAN HAJI

MODUL PELATIHAN TIM KESEHATAN HAJI INDONESIA

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

DESKRIPSI SINGKAT
Permasalahan utama yang dihadapi oleh pelayanan kesehatan jemaah haji
adalah masih rendahnya kualitas pelayanan kesehatan. Kualitas kesehatan pada
program ini sangat dirasakan oleh jemaah haji indonesia dan tergambar dalam
survey yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik. Untuk itu, perlu diupayakan suatu
pelayanan kesehatan yang bermutu, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.
Tenaga Kesehatan merupakan sumber daya manusia kesehatan yang pada
satu sisi adalah unsur penunjang utama dalam pelayanan kesehatan, pada sisi lain,
ternyata kondisinya saat ini masih jauh dari kurang, baik pada kuantitas maupun
kualitasnya. Disini perlu perhatian pemerintah pada peningkatan dan pemberdayaan
SDM Kesehatan secara profesional. Utamanya dalam pembentukan Sikap dan
Perilaku Profesional SDM Kesehatannya melalui jalur pendidikan formal maupun non
formal.

Disamping itu, masalah yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah

mengenai SDM Kesehatan ini adalah kurang efisien, efektif, dan profesionaliesme
dalam menanggulangi permasalahan kesehatan. Masih lemahnya kemampuan SDM
Kesehatan dalam membuat perencanaan pelayanan kesehatan serta sikap perilaku
mereka dalam mengantisipasi permasalahan kesehatan yang terjadi, ternyata tidak
sesuai dengan harapan masyarakat. Yang mana dapat dilihat dengan masih
tingginya tingkat penyalahgunaan wewenang, masih adanya praktik KKN, serta
masih lemahnya tingkat pengawasan terhadap kinerja aparatur pelayanan publik
dalam pelayanan kesehatan.

21

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum:
Setelah mengikuti materi ini peserta mampu menerapkan etika pelayanan
kesehatan haji.

Tujuan Pembelajaran Khusus:


Setelah sesi ini selesai, peserta dapat:
1. Menjelaskan prinsip dasar etika pelayanan kesehatan haji
2. Menerapkan etika pelayanan kesehatan haji yang benar

POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN


1. PRINSIP-PRINSIP DASAR ETIKA PELAYANAN KESEHATAN HAJI
A. Etika dan Moralitas
B. Prinsip Etika

2. PENERAPAN ETIKA PELAYANAN KESEHATAN HAJI


A. Etika terhadap diri sendiri
B. Etika terhadap sesama petugas
C. Etika terhadap jemaah haji

3. PRINSIP-PRINSIP DASAR ETIKA


A. Etika dan Moralitas
B. Prinsip Etika
22

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

4. PENERAPAN ETIKA PELAYANAN KESEHATAN HAJI


A. Etika terhadap diri sendiri
B. Etika terhadap sesama petugas
C. Etika terhadap jemaah haji

BAHAN BELAJAR

Peraturan Menteri Kesehatan nomor 25 tahun 2013 tentang Rekrutmen


Petugas Kesehatan Haji

Peraturan

menteri

kesehatan

republik

indonesia

nomor

2407/menkes/per/xii/2011 tentang pelayanan kesehatan haji

Undang-undang republik indonesia

nomor 13 tahun 2008

tentang

penyelenggaraan ibadah haji

Modul Prajabatan : Etika Organisasi Pemerintahan

23

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
PEMBELAJARAN
Berikut disampaikan langkah-langkah kegiatan dalam proses pembelajaran
materi ini.

Pengkondisian dan Apersepsi


Langkah 1: Fasilitator menyapa peserta dengan ramah dan hangat. Apabila
belum pernah menyampaikan sesi di kelas, mulailah dengan
perkenalan. Perkenalkan diri dengan menyebutkan nama
lengkap,

instansi

tempat

bekerja,

materi

yang

akan

disampaikan.

Langkah 2: Sampaikan tujuan pembelajaran materi ini dan pokok bahasan


yang akan disampaikan, sebaiknya dengan menggunakan
bahan tayang.

Langkah 3: Fasilitator melakukan apersepsi tentang Etika TKHI.

Fasilitator

memberikan apresiasi positif kepada peserta.


Langkah 4: Melakukan leading story dengan menceritakan seorang TKHI yang
mengalami kesulitan dalam bertugas karena tidak memahami Etika
TKHI.
POKOK
BAHASAN 1

Tenaga Kesehatan Haji Indonesia

Langkah 1: Membahas sub pokok bahasan 1 tentang dengan Etika dan


Moralitas menggunakan metode ceramah tanya jawab dan brain
storming.
24

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

Langkah 2: Fasilitator mengapresiasi jawaban peserta yang sudah tepat, dan


memperbaiki atau meluruskan hasil brain storming yang masih
belum tepat.
POKOK
BAHASAN 2

Tugas Tim Kesehatan Haji


Indonesia (TKHI)

Langkah 1: Membahas sub pokok bahasan 1, tentang etika TKHI terhadap diri
sendiri.
Langkah 2: Membahas sub pokok bahasan 2, tentang etika terhadap sesama
petugas TKHI.
Langkah 3:

Membahas sub pokok bahasan, tentang etika terhadap Jemaah Haji.

Menutup Proses Pembelajaran


Langkah 1: Meminta peserta menanyakan hal-hal yang kurang jelas sebelum
menutup proses pembelajaran.
Langkah 2: Melakukan evaluasi dengan cara memberikan beberapa pertanyaan
untuk dijawab peserta.
Langkah 3: Merangkum seluruh pokok bahasan dengan cara membandingkan
seluruh tujuan pembelajaran khusus dengan hasil pokok bahasan.
Langkah 4: Menutup acara proses pembelajaran dengan memberikan apresiasi
pada peserta dan mendoakan agar peserta dapat bertugas dengan
sebaik-baiknya

25

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

URAIAN MATERI
Sikap dan Perilaku seseorang dibatasi oleh Hukum dan Moral. Hukum
membatasi sisi lahiriahnya, sedangkan moral membatasi sisi sikap batiniahnya.
Disamping itu, sikap dan perilaku seseorang juga dipengaruhi oleh EI (Emotional
Intelligence) atau Kecerdasan emosional orang itu sendiri. Kecerdasan Emosional
adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosinya saat menghadapi
situasi atau masalah yang menyenangkan maupun menyakitkan. Daniel Goleman
(1995), dalam bukunya ? Emotional Intellegence: Why it can matter more than IQ?,
menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki
seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan,
mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa
seseorang. Agar EI seseorang dapat tercapai dengan optimal, maka Daniel Goleman
membagi EI dalam 5 (lima) tahapan bidang kompetensi yang harus dikuasai
seseorang.
Bidang kompetensi tersebut adalah sebagai berikut:
1) Kemampuan untuk mengindentifikasi atau mengenal emosi dirinya sendiri
serta memahami hubungan antara emosi, pikiran dan tindakan,
2) Kemampuan untuk mengelola emosi, ini berarti, bahwa seseorang harus
dapat mengatur perasaannya agar perasaannya tersebut dapat terungkap
dengan baik dan benar,
3) Kemampuan untuk memotivasi diri dengan sikap optimis dan berpikir positif,
4) Kemampuan untuk membaca dan mengenal emosi orang lain (empati),
5) Kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain.

Bidang

kompetensi tersebut dapat merupakan bentuk keterampilan yang sangat


mendukung keberhasilan seorang Tenaga Kesehatan dalam memberikan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
26

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

Menurut Arief Rachman, dalam makalahnya (Surabaya, Hyatt Hotel, 19-22/05/06).


Makna Nilai-Nilai moral dan Etika bagi Profesional Kesehatan menyatakan bahwa
untuk memberikan pelayanan kesehatan yang prima kepada masyarakat, seseorang
Tenaga Kesehatan harus mempunyai 7 (tujuh) kompetensi andalan, pertama yaitu
Manajemen diri sendiri.

Manajemen diri sendiri yang perlu dimiliki oleh setiap

petugas kesehatan haji adalah keinginan untuk berprestasi, keterampilan hubungan


antar manusia, keterampilan melayani, keterampilan Teknis Profesionalisme,
keterampilan manajerial, dan ,mempunyai wawasan berpikir global.
Ada juga beberapa faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang
dalam memberikan pelayanan publik, antara lain: Pekerjaan (work itself), Pengakuan
(recognition), Prestasi (achievement), Tanggung jawab (responsibility), Gaji (salary),
Status dan Fasilitas.
Pengembangan

(advancement).

Pengembangan

merupakan

pengembangan watak dari seseorang yang perlu diperhatikan, antara lain: Fleksibel,
keterbukaan, ketegasan, berencana, percaya diri, toleransi, disiplin, berani ambil
resiko, punya orientasi masa depan dalam menyelesaikan tugasnya dan bertaqwa.
Semua hal di atas diharapkan terdapat dalam diri seorang petugas tim
kesehatan haji Indonesia.

27

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

POKOK BAHASAN
Prinsip-Prinsip Dasar Etika Pelayanan
Kesehatan Haji
Kita pernah mendengar keluhan dari Jemaah haji tentang buruknya praktek
pelayanan yang diberikan petugas kloter khususnya tenaga kesehatan kepada.
Makin banyaknya pengaduan Jemaah Haji dan pihak-pihak yang berinteraksi
dengan petugas TKHI terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan, Hal ini
ditunjang dengan data dari Badan Pusat Statistik yang menunjukkan terdapat
penurunan tingkat kepuasan Jemaah haji terhadap pelayanan yaitu sebesar -2,59
dari tahun 2012 ke 2013.
Suatu saat akan ada berita yang mengupas buruknya pelayanan kesehatan haji
dan kesalahan medik yang diberikan oleh para Tenaga Kesehatan, dimana hal
tersebut sampai-sampai tidak bisa diterima oleh Profesi Tenaga Kesehatan tersebut,
kejadian tersebut tidak bisa lepas begitu saja dari sikap dan perilaku tenaga
kesehatan itu sendiri. Tenaga Kesehatan Haji yang merupakan tenaga profesional,
seyogyanya selalu menerapkan etika dalam sebagian besar aktifitas sehari-hari.
Etika yang merupakan suatu norma perilaku atau biasa disebut dengan asas moral,
sebaiknya selalu dijunjung tinggi dalam kehidupan bermasyarakat kelompok
manusia. Etika yang berlaku dimasyarakat modern saat ini adalah Etika Terapan
(applied ethics) yang biasanya menyangkut suatu profesi, dimana didalamnya
membicarakan tentang pertanyaan-pertanyaan etis dari suatu individu yang terlibat.
Sehingga pada masing-masing profesi telah dibentuk suatu tatanan yang dinamakan
kode etik profesi.
Perilaku ini memang agak sulit menanganinya, kecuali kesadaran sendiri
masing-masing

Tenaga

Kesehatan

dalam

menghayati, memahami, kode etik profesinya.

menerapkan,

mengaplikasikan,

Karena, etika profesi lebih bersifat

moral.
28

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

Etika Profesi dan Hukum Profesi Kesehatan masing-masing mempunyai


tingkatan masalah terhadap sikap dan perilaku tenaga kesehatan yang berbedabeda, yaitu Perilaku yang dilakukan telah sesuai, baik terhadap Etika dan Hukum
Profesi Kesehatan, Perilaku yang dilakukan berlawanan, baik terhadap Etika dan
Hukum

Profesi

Etika, tetapi sesuai

Kesehatan,
dengan

Perilaku

yang

Hukum

Profesi

dilakukan bertentangan
Kesehatan,

Perilaku

dengan
yang

dilakukan bertentangan dengan hukum tetapi sesuai dengan Etika. Dari sini Tenaga
Kesehatan harus mencermati, dan mensikapi dengan baik setiap tindakan yang
hendak diberikan kepada pelanggan/ pengguna jasa.
Sesuai ulasan diatas, maka dalam memberikan pelayanan yang berkualitas atau
pelayanan kesehatan yang prima terhadap masyarakat, seperti halnya pemberian
pelayanan publik lainnya, dibutuhkan sikap dan perilaku yang handal dan profesional
bagi seluruh SDM-nya. Sikap tersebut seharusnya dimulai dari jajaran yang paling
atas, tingkat pimpinan yang tertinggi, sampai pada lapisan terbawah, atau petugas
lapangan. Seorang pimpinan, seyogyanya mau meluangkan waktunya, tenaganya
dan dananya untuk mempraktekkan apa yang pernah diucapkan.
Pelayanan Kesehatan yang profesional yang tanggap atas kebutuhan
masyarakat atas pelayanan kesehatan yang baik dan benar, terlepas dari besar
kecilnya organisasi/ institusi yang ada, sangat membutuhkan SDM Kesehatan yang
mempunyai sikap dan perilaku sebagai berikut:
Memperlakukan user/pelanggan sebagai mitra, mampu menciptakan strategi
pelayanan yang baik dan benar sesuai dengan profesi dan kompetensinya,
menghargai keluhan pelanggan dengan kebaikan, simpati dan pemecahan masalah,
memperlakukan setiap pelanggan sebagai sesuatu yang unik dan khusus, lakukan
Informed Consent secara ikhlas, laksanakan tindakan Rekam Medik secara lege
artis, sesuai dengan ketentuan yang ada. Dapat mengetahui kepuasan pelanggan
melalui sisi mata pelanggan memandang kepuasan yang didapat, paham, mengerti,
dan mampu melaksanakan seni pelayanan pelanggan yang berkualitas sesuai
dengan Etika dan Hukum yang berlaku.

Menetapkan sasaran-sasaran kualitas


29

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

pelayanan dan penghargaan yang akan diberikan, mau terjun langsung ke lapangan
dan melihat apa yang terjadi, bersikap sabar dan tidak mudah puas dengan hasil
yang didapat, mau mendengar dan mensikapi terhadap gagasan yang timbul
terhadap pelayanan yang berkualitas.
I. Etika dan Moralitas
A. Pengertian Etika dan Moralitas
Etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti kebiasaan atau
watak. Dalam bahasa Perancis etiquette (etiket) berarti kebiasaan, cara
bergaul, berperilaku yang baik.

Jadi etika merupakan pola perilaku

pergaulan seseorang atau suatu organisasi.


Moralitas atau moral berasal dari bahasa Latin mos (mores) yang
berarti cara hidup atau kebiasaan. Secara harafiah, moral memilki arti yang
sama dengan etika. Tapi dalam praktik sehari-hari. Moral atau dalam bahasa
Inggris morale dapat diartikan semangat atau dorongan batin dalam diri
seseorang untuk melakukan maupun tidak melakukan sesuatu. Moral ini
dilandasi oleh nilai-nilai tertentu yang diyakini oleh seseorang atau organisasi
tertentu sebagai sesuatu yang baik atau buruk sehingga dapat membedakan
mana yang patut atau tidak patut dilakukan.
Perbedaan antara etika dan moralitas adalah dari sistem nilainya.
Moralitas cenderung merujuk nilai-nilai yang diyakini dari dalam diri
seseorang atau organisasi, sedangkan etika mengaitkan nilai-nilai yang
diyakini itu dengan interaksi terhadap lingkungan

B. Konsep Etika dan Moralitas


Etika pada dasarnya merujuk kepada dua hal:
1. Etika berkenaan dengan disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai-nilai
yang dianut oleh manusia beserta pembenarannya. Etika merupakan
cabang ilmu filsafat
30

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

2. Etika merupakan nilai-nilai hidup dan hukum-hukum yang mengatur


tingkah laku manusia
Moral, dalam pengertian umum menekankan pada karakter dan sifatsifat individu yang khusus diluar ketaatan dan peraturan. Moral merujuk
pada tingkah laku yang bersifat spontan, misalnya kasih, kemurahan
hati, kebesaran jiwa dan sebagainya. Moralitas berfokus pada hukumhukum dan prinsip-prinsip yang abstrak dan bebas.
Berdasarkan kedua pandangan tersebut jelas perbedaan kedua
istilah tersebut. Etika dipandang sebagai suatu sistem nilai apa yang
baik dan buruk bagi manusia dan masyarakat. Sedangkan moralitas
dimaksudkan untuk menentukan sampai sejauh mana seseorang
memilki dorongan untuk melakukan tindakan sesuai dengan prinsipprinsip etika moral.

31

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

POKOK BAHASAN
Penerapan Etika Pelayanan Kesehatan Haji
Etika petugas kesehatan haji ini diadopsi dari etika pegawai negeri sipil.
Karena pada dasarnya seorang petugas haji adalah pegawai negara yang ditetapkan
jabatannya oleh surat keputusan menteri kesehatan sebagai pengemban tugas
negara.
1. Setia dan taat kepada Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, Negara dan
Pemerintah
2. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam negara kesatuan Republik
Indonesia
3. Melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepadanya dengan penuh
pengabdian, kesadaran dan tanggungjawab.
4. Menyimpan rahasia jabatan

Kewajiban Bagi Petugas kesehatan haji


1. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang Undang Dasar
1945, Negara dan Pemerintah.
2. Mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan golongan atau diri
sendiri, serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat merusak kepentingan
negara oleh kepentingan golongan, diri sendiri atau pihak lain.
3. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat negara, pemerintah, dan Petugas
kesehatan haji.
4. Mematuhi sumpah/janji petugas berdasarkan peraturan yang berlaku.
5. Menyimpan rahasia negara dan atau rahasia jabatan dengan sebaik-baiknya.
6. Mentaati perintah kedinasan dan loyal terhadap pimpinan operasional haji
7. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan pemerintah baik yang
langsung menyangkut tugas kedinasan maupun yang berlaku secara umum.
32

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

8. Melaksanakan

tugas

kedinasan

dengan

sebaik-baiknya

dan

dengan

pengabdian, kesadaran, dan tanggungjawab.


9. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan
Negara.
10. Memelihara dan meningkatkan keutuhan, kekompakan, persatuan, dan
kesatuan.
11. Segera melakukan rujukan kepada institusi yang lebih berkompeten apabila
mengetahui ada hal yang dapat membahayakan kesehatan Jemaah haji.
12. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik.
13. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaikbaiknya.
14. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada jemaah haji menurut
bidang tugasnya masing-masing.
15. Bertindak adil dan bijaksana terhadap mitra kerja.
16. Berpakaian rapi, sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun
kepada masyarakat, sesama Petugas haji, dan terhadap atasannya.
17. Hormat menghormati antara sesama petugas haji dan kepada jemaah haji.
18. Menjadi teladan sebagai warganegara yang baik dalam masyarakat.
19. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan
yang berlaku.
20. Memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan.

33

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

Sedangkan larangan-larangan yang tidak boleh dilanggar oleh setiap Petugas


Kesehatan Haji adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan atau martabat
negara, pemerintah, atau petugas kesehatan haji.
2. Menyalahgunakan wewenangnya.
3. Tanpa izin pemerintah menjadi pegawai atau bekerja untuk negara asing.
4. Menyalahgunakan barang-barang, uang atau surat-surat berharga milik
Negara.
5. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat
petugas kesehatan haji, kecuali untuk kepentingan tugas.
6. Bertindak dan bertingkah laku yang bertentangan dengan norma dan etika
yang bertentangan dengan syariat Islam.
7. Melakukan suatu tindakan atau sengaja tidak melakukan suatu tindakan yang
dapat berakibat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang
dilayaninya, sehingga mengakibatkan kerugian bagi Jemaah haji /pihak yang
dilayani.
8. Melakukan

pungutan

tidak

sah

dalam

bentuk apapun

juga

dalam

melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi, golongan atau pihak lain.

Selanjutnya ditegaskan dalam ketentuan tersebut bahwa setiap ucapan, tulisan,


atau perbuatan petugas kesehatan haji yang melanggar ketentuan mengenai
kewajiban dan larangan tersebut, dianggap sebagai pelanggaran disiplin.
SUB POKOK BAHASAN 1
A. Etika Petugas Kesehatan Haji Terhadap Diri Sendiri
1) Meningkatkan kompetensi sebagai petugas haji dengan mengikuti pelatihan
yang dipersyaratkan serta pelatihan TKHI kompetensi dan integrasi
2) Melaksanakan Peran sebagai Petugas TKHI
3) Melaksanakan Tugas-tugas sebagai TKHI
34

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

4) Menerapkan akhlak dan perilaku mulia


5) Memakai pakaian seragam yang sopan dan sesuai dengan syariat Islam
6) Menjaga kesehatan pribadi
7) Mempersiapkan keluarga agar tetap sejahtera selama ditinggal bertugas.
B. Etika Petugas Kesehatan Haji Terhadap Sesama Petugas
1) Memperlakukan sesama petugas dengan baik sebagaimana dirinya ingin
diperlakukan
2) Bekerja sama dengan baik dengan sesama petugas TKHI
3) Bekerja sama dengan baik dengan petugas TPHI dan TPIHI
4) Bekerja sama dengan baik dengan petugas non kloter seperti petugas di
sektor, BPHI dan petugas lainnya.
5) Menerapkan sopan santun dan akhlak mulia pada saat berinteraksi dan
bekerja sama

C. Etika Petugas Kesehatan Haji Terhadap Jemaah Haji Indonesia


1) Memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya
2) Menerapkan sopan santun dan akhlak mulia pada saat berinteraksi dan
memberi pelayanan kepada jemaah haji.
3) Mengutamakan tugasnya dalam melayani jemaah daripada kepentingan
ibadah dan kepentingan pribadi.

35

Modul Etika Pelayanan Kesehatan Haji

REFERENSI

Peraturan Menteri Kesehatan nomor 25 tahun 2013 tentang Rekrutmen


Petugas Kesehatan Haji

Peraturan

menteri

kesehatan

republik

indonesia

nomor

2407/menkes/per/xii/2011 tentang pelayanan kesehatan haji

Undang-undang republik indonesia

nomor 13 tahun 2008

tentang

penyelenggaraan ibadah haji

36