Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
A. Tujuan
Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar baik
teori maupun praktik dari modul ini peserta didik diharapkan memiliki
kemampuan:
1. Dapat memahami dan menjelaskan macam macam komponen sistem
pengendali elektromagnetik.
2. Dapat memahami dan menjelaskan fungsi komponen sistem pengendali
elektromagnetik.
3. Dapat memahami dan menjelaskan cara kerja komponen sistem pengendali
elektromagnetik.
4. Dapat memahami dan menjelaskan prosedur pemasangan/penggunaan
komponen sistem pengendali elektromagnetik
5. Dapat memahami prinsip kerja suatu sistem pengendali elektromagnetik.
B. Prasyarat
Dalam mempelajari materi ajar ini siswa SMK Negeri 7 Surabaya harus
memiliki kemampuan awal yang baik dalam memahami tentang pengetahuan
dasar listrik dan simbol-simbol listrik.
C. Deskriptif
Modul ini berjudul Materi Ajar Pengendali Elektromagnetik yang
memiliki ruang lingkup tentang aplikasi rangkaian sistem pengendali
elektromagnetik.
Materi yang akan diberikan dikemas dalam bentuk kegiatan belajar baik
teori maupun praktik. Pelajaran teori merupakan landasan dasar yang akan
menunjang keterampilan praktik siswa SMK Negeri 7 Surabaya sehingga
setelah selesai melaksanakan kegiatan pada modul ini diharapkan siswa SMK
Negeri 7 Surabaya akan menguasai keterampilan tentang rangkaian sistem
pengendali elektromagnetik dengan baik dan benar.
Setelah siswa menguasai ketrampilan

dari

modul

pengendali

elektromagnetik ini, diharapkan siswa SMK Negeri 7 Surabaya mampu


mengembangkan kemampuannya dan mampu menerapkan ilmu yang didapat
dari modul ini dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
1

PEMBAHASAN
A. Sistem Pengendali Elektromagnetik
1. Pengertian
Sistem pengendali elektromagnetik adalah rangkaian beberapa
komponen pengendali dengan kontaktor sebagai komponen utamanya yang
dirangkai dengan komponen-komponen lain seperti Timer, Overload, MCB
dan lain-lain sesuai dengan tujuan penggunaanya.
Rangkaian pengendali (kontrol) yang umum digunakan pada industri
masih menggunakan rangkaian pengendalai (kontrol) yang berawal dari
rangkaian konvensional.
2. Jenis-jenis Sistem Pengendali
a. Pengendali Semi Otomatis
Pengendali

semi

otomatis

adalah

jenis

pengendali

yang

menggunakan alat kendali semi otomatis berupa kontaktor magnet dan


tombol tekan (push button) dilengkapi dengan pengaman.
Pada pengendali semi otomatis, pengoperasian motor dilakukan
melalui tombol-tombol push button untuk menggerakkan kontaktor dan
selanjutnya secara otomatis langsung mengoperasikan motor listrik.
Gambar bagan sistem pengendali semi otomatis ditunjukkan pada
Gambar 2.1.
Jala-jala

Panel Tenaga

Kontaktor Magnet

Tombol
Tekan

Gambar 2.1 Bagan Sistem Pengendali Semi Otomatis

b. Pengendali Otomatis

Pengendali otomastis adalah jenis pengendali yang menggunakan


alat kendali semi otomatis dikombinasikan dengan peralatan kendali
otomatis,

seperti time delay relay (TDR), float switch, limit switch,

dengan dilengkapi pengaman. Pada pengendali otomatis, pengoperasian


2

motor dapat dilakukan melalui tombol push button untuk menggerakkan


magnetic contactor atau alat pengendali otomatis.
Pada pengendali otomatis, kerja sakelar manual digantikan oleh
magnetic contactor dan alat-alat pengendali otomatis sehingga memutus
dan menyambungnya sakelar tidak secara langsung dilakukan melalui
tangan operator. Bagan sistem pengendali secara otomatis ditunjukkan
pada Gambar 2.18.
Jala-Jala

Panel Tenaga

Magnetic
Contactor

Tombol
Tekan

Sakelar
Otomatis

Gambar 2.2 Bagan Sistem Pengendali Secara Otomatis

B. Komponen Sistem Pengendali Elektromagnetik


1. Push Button
Push Button merupakan suatu jenis sakelar yang banyak dipergunakan
dalam rangkaian pengendali dan pengaturan. Push button akan bekerja bila
ada tekanan pada tombol dan sakelar ini akan memutus atau menghubung
sesuai dengan jenisnya. Bila tekanan dilepas maka kontak akan kembali ke
posisi semula karena ada tekanan pegas.
Dari konstruksinya, maka push button dibedakan menjadi beberapa
tipe yaitu:
a. Tipe Normally Open
Titik kontak pada keadaan normal atau tidak bekerja dalam keadaan
terbuka (Normally Open) dan dalam keadaan bekerja titik kontak akan
menutup sesaat sehingga hanya mengalirkan arus listrik sesaat.
Titik kontak semacam ini banyak dipakai pada Push Button untuk
tombol start karena hanya akan menghubungkan kontak sesaat selama
tombol ditekan. Kontak normally open (NO) pada sakelar ditunjukkan pada
Gambar 2.3.
3

Gambar 2.3 Normally Open (NO) Sakelar Push button

Gambar 2.4 adalah contoh push button tipe normally open.

Gambar 2.4 Push Button Tipe NO


(Muslim dan Joko, 2009: 490)

b. Tipe Normally Close


Kontak ini dalam keadaan tertutup atau terhubung pada saat
normal sehingga mengalirkan arus listrik. Jika kontak ini ditekan atau
bekerja, maka titik kontak akan terbuka sehingga arus akan terputus
atau terhenti.
Titik kontak ini banyak dipakai dalam Push Button untuk
tombol stop karena kontaknya akan membuka jika tombol ditekan
dan akan menutup lagi jika dilepas tekanannya. Gambar 2.5
menunjukkan normally close Sakelar Push button.

Gambar 2.5 Normally Close (NC) Sakelar Push button

Gambar 2.6. menunjukkan contoh push button tipe normally close.

Gambar 2.6 Contoh Push Button Tipe NC


(Muslim dan Joko, 2009: 491)

c. Tipe Normally Open dan Normally Close


Titik kontak ini bekerja dengan prinsip kedua kontak di atas. Kontak
ini memiliki tiga buah titik kontak. Jika kontak belum bekerja maka salah
satu kontak akan terhubung dengan kontak lain sedangkan kontak yang lain
akan terbuka. Kontak ini memiliki tiga buah titik kontak. Titik kontak
Normally

Open

(NO)

dan

Normally

Close

(NC)

ditunjukkan

pada Gambar 2.7.


Kontak NC

Kontak NO

Kontak NO

Kontak NC

Gambar 2.7 Kontak Gabungan Normally Open dan Normally Close

Gambar 2.8 adalah contoh push button tipe normally open dan normally
close

Gambar 2.8. Push Button Tipe NC dan NO


(Muslim dan Joko, 2009: 491)

2. Magnetic Contactor (MC) atau Kontaktor Magnit


Kontaktor magnet yaitu suatu alat penghubung listrik yang bekerja
atas dasar magnet yang dapat menghubungkan antara sumber arus dengan
muatan. Bila inti koil pada kontaktor diberikan arus, maka koil akan menjadi
magnet dan menarik kontak sehingga kontaknya menjadi terhubung dan
dapat mengalirkan arus listrik.
Kontaktor magnet atau saklar magnet merupakan saklar yang bekerja
berdasarkan prinsip kemagnetan. Artinya saklar ini bekerja jika ada gaya
kemagnetan pada penarik kontaknya. Magnet berfungsi sebagai penarik dan
dan sebagai pelepas kontak-kontaknya dengan bantuan pegas pendorong.
Sebuah kontaktor harus mampu mengalirkan dan memutuskan arus dalam
5

keadaan kerja normal. Arus kerja normal ialah arus yang mengalir selama
pemutusan tidak terjadi. Sebuah kontaktor dapat memiliki coil yang bekerja
pada tengangan DC atau AC. Pada tengangan AC, tegangan minimal adalah
85% tegangan kerja, apabila kurang maka kontaktor akan bergetar.
Ukuran dari kontaktor ditentukan oleh batas kemampuan arusnya.
Biasanya pada kontaktor terdapat beberapa kontak, yaitu kontak normal
membuka (Normally Open = NO) dan kontak normal menutup (Normally
Close = NC). Kontak NO berarti saat kontaktor magnet belum bekerja
kedudukannya

membuka

dan

bila

kontaktor

bekerja

kontak

itu

menutup/menghubung. Sedangkan kontak NC berarti saat kontaktor belum


bekerja kedudukan kontaknya menutup dan bila kontaktor bekerja kontak itu
membuka. Jadi fungsi kerja kontak NO dan NC berlawanan. Kontak NO dan
NC bekerja membuka sesaat lebih cepat sebelum kontak NO menutup.
Prinsip kerja magnetic contactor ditunjukkan pada Gambar 2.9.

Gambar 2.9. Prinsip Kerja Magnetic Contactor


(Muslim dan Joko, 2009: 484)

Kontak utama tendiri dari kontak NO dan kontak bantu terdiri dan
kontak NO dan NC. Konstruksi dari kontak utama berbeda dengan kontak
bantu, yang kontak utamanya mempunyai luas permukaan yang luas dan
tebal. Kontak bantu luas permukaannya kecil dan tipis.
Magnetic contactor pada umumnya memiliki kontak utama untuk
aliran 3 phasa. Dan juga memiliki beberapa kontak bantu untuk berbagai
keperluan. Kontak utama digunakan untuk mengalirkan arus utama, yaitu
arus yang diperlukan untuk beban, misalnya motor listrik, pesawat pemanas
dan sebagainya.
Sedangkan kontak bantu digunakan untuk mengalirkan arus bantu
yaitu arus yang diperlukan untuk kumparan magnet, alat bantu rangkaian,
lampu lampu indikator, dan lain-lain. Notasi dan penomoran kontak-kontak
pada magnetic contactor ditunjukkan pada Tabel 2.10.
6

Tabel 2.1
Notasi Dan Penomoran Kontak-Kontak pada Magnetic Contactor

Notasi
Jenis
Kontak
Huruf
Angka
L1 L2 L3
1 3 5
NO
Utama
R S T
U V W
2 4 6
NO
13
NO
14
19
20
NO
31
32
Bantu
Dsb
21
22
41
NC
42
Dsb
Kumparan Magnet
Notasi Huruf
(COIL)

Kontak

Penggunaan
Ke Jala-jala
Ke Motor
Pengunci

Fungsi Lain

Pengaman dan
Fungsi lain
a
A1

- b
- A2

(Muslim dan Joko, 2009: 485)

a. Bagian Kontaktor
Pada umumnya kontaktor memiliki beberapa bagian, yaitu :
1) Coil
Merupakan komponen utama dalam kontaktor, berfungsi
sebagai penggerak kontak-kontak yang ada. Coil ini berupa besi yang
terlilit oleh kumparan dari tembaga dan bekerja seperti sistem pada
elektromagnetik, apabila kumparan tersebut dialiri arus, maka besi
carrent akan menghasilkan magnit, sehingga dapat menarik kontak7

kontak tersebut. Adapun gambar yang umum digunakan adalah


sebagai berikut :

Gambar 2.10. Coil

2) Kontak Utama (Main Contact)


Merupakan kontak-kontak yang ada pada kontaktor yang
memiliki bentuk lebih besar dari kontak-kontak lainnya. Umumnya
kontak utama ini digunakan untuk penghubungan langsung ke beban
yang digunakannya. Kontak-kontak utama menjadi satu tempat
dengan coilnya. Hanya memiliki kontak NO dan nomor kontaknya
1,3,5 dan 2,4,6. Adapun gambar yang umum digunakan adalah
sebagai berikut :

Gambar 2.11 Kontak Utama (Main Contact)

3) Kontak Bantu (Auxiliry Contact)


Merupakan kontak-kontak tambahan yang telah disediakan
oleh kontaktor tersebut. Umumnya kontak-kontak bantu ini juga dapat
ditambahi sendiri oleh pemakainya, apabila dirasa jumlah kontak
kontaknya

kurang.

Memiliki

kontak

NO

dan

NC.

Nomor kontak NO 13 dan 14, 23 dan 24, 33 dan 34, 53 dan 54, 63 dan
64, 73 dan 74. Nomor Kontak NC 11 dan 12, 21 dan 22, 31 dan 32, 51
dan 52, 61 dan 62, 71 dan 72. Adapun gambar yang umum digunakan
adalah sebagai berikut :

Gambar 2.12 Kontak Bantu (Auxiliry Contact)

b. Konstruksi Kontaktor magnet

Konstruksi umum magnetic contactor ditunjukkan pada Gambar


2.14. Magnetic contactor memiliki kontak diam dan kontak bergerak jika
coil mendapat arus dari sumber listrik. Magnetic contactor akan bekerja
selama coil mendapat arus dan jika arus terputus maka magnetic
contactor akan kembali ke posisi semula.

Gambar 2.13. Konstruksi Umum Magnetic Contactor


(Muslim dan Joko, 2009: 487)

3. Thermal Overload Relay


Pengaman beban lebih atau over load yang digunakan pada instalasi
motor listrik adalah Thermal Overload Relay (TOR). Jika arus yang melalui
penghantar yang menuju motor listrik melebihi kapasitas atau seting TOR,
maka TOR drop atau terputus sehingga rangkaian yang menuju motor listrik
terputus.
Thermal Overload Relay tersebut dihubungkan dengan magnetic
contactor pada kontak utama (untuk seri magnetic contactor tertentu notasi
kontak utamanya adalah 2, 4, 6 sebelum menuju beban (motor listrik).
Beberapa penyebab terjadinya beban lebih antara lain adalah:
a. Beban mekanik pada motor listrik terlalu besar;
b. Arus start terlalu besar dan terlalu lama putaran nominal tercapai atau
motor listrik berhenti secara mendadak;
c. Terjadi hubung singkat pada motor listrik (antara phasa dengan phasa
atau antara phasa dengan body;
9

d. Motor listrik bekerja hanya dengan 2 phasa atau terbukanya salah satu
phasa dari motor listrik 3 phasa.
Arus yang terlalu besar pada beban atau motor listrik akan mengalir
pada belitan motor listrik dan dapat menyebabkan kerusakan dan atau
terbakarnya belitan motor listrik. Untuk menghindari terjadinya panas yang
berlebihan akibat beban lebih maka dipasang termal beban lebih pada alat
pengendali panas.
Prinsip kerja termal beban berdasarkan panas atau temperatur yang
ditimbulkan oleh arus yang mengalir melalui elemen-elemen pemanas
bimetal. Jika panas berlebihan maka salah satu logam pada bimetal
melengkung dan menggerakkan kontak-kontak mekanis pemutus rangkaian
listrik (untuk bimetal seri tertentu notasinya 95-96) akan terbuka. Adapun
gambar yang umum digunakan adalah sebagai berikut :

Gambar 2.14 Thermal Over Load (TOL)


(Muslim dan Joko, 2009: 488)

Prinsip kerja dari bimetal pada TOR ditunjukkan pada Gambar 2.16 di
bawah ini.
Bimetal

Terkena
panas

Logam
panas

tahan

Gambar 2.15 Prinsip Kerja dari Bimetal


(Muslim dan Joko, 2009: 488)

Jika terjadi beban lebih maka arus menjadi besar dan menyebabkan
penghantar panas. Panas pada penghantar melewati bimetal sehingga bimetal
melengkung dan selanjutnya aliran listrik yang

menuju

motor listrik

terputus dan motor listrik belitannya tidak sampai terbakar. Diagram


hubungan kontak-kontak pada TOR ditunjukkan pada Gambar 2.17.

10

95

97

96

98

95

98

96

Gambar 2.16 Diagram Kontak-Kontak pada TOR


(Muslim dan Joko, 2009: 489)

Diagram penyambungan kontak-kontak pada TOR pada magnetic


contactor ditunjukkan pada Gambar 2.18.

A1

A2
2

97

95

98

96

Gambar 2.17. Diagram Penyambungan TOR pada Magnetic Contactor


(Muslim dan Joko, 2009: 489)

Gambar 2.18 Cara Mengatur TOR


(Muslim dan Joko, 2009: 489)

Untuk mengatur besarnya arus maksimum yang dapat melewati TOR,


dapat diatur dengan memutar penentu arus dengan menggunakan obeng
sampai diperoleh harga yang diinginkan.
4. Mini Circuit Breaker (MCB)
MCB merupakan salah satu pengaman pada suatu rangkaian kontrol.
Pada sebuah MCB memiliki fungsi sebagai pengaman beban/daya lebih dari
11

daya yang dipakainya, sehingga apabila daya yang digunakan pada sistem
tersebut melebihinya maka akan terjadi menurunnya tuas pada MCB yang
posisi semula pada angka 1 menuju ke angka 0, atau dari posisi naik menjadi
turun.
Dalam melakukan pendesainan kontrol selalu dibutuhkan adanya
pengaman rangkaian kontrol dengan menggunakan MCB jenis 1 fasa. Tetapi
pengaman untuk beban yang digerakkan oleh rangkaian kontrol tersebut
dapat menggunakan MCB jenis 3 fasa, sehingga dalam suatu panel yang
digunakan untuk mengontrol suatu sistem minimal terdapat 2 MCB yaitu 1
buah MCB 1 fasa dan 1 buah MCB 3 fasa. Adapun gambar yang umum
digunakan adalah sebagai berikut :

Gambar 2.19 Mini Circuit Breaker (MCB)


(Sumber http://dedy9.wordpress.com)

5. Motor Control Circuit Breaker (MCCB)


Komponen Motor Control Circuit Breaker (MCCB) memiliki tiga
fungsi

sekaligus,

fungsi

pertama

sebagai

switching,

fungsi

kedua

pengamanan motor dan fungsi ketiga sebagai isolasi rangkaian primer dengan
beban. Pengaman beban lebih dilakukan oleh bimetal, dan pengamanan
hubung singkat dilakukan oleh koil arus hubung singkat yang secara mekanik
bekerja mematikan Circuit Breaker. Rating arus yang ada di pasaran 16 A
sampai 63 A.

Gambar 2.20 Motor Control Circuit Breaker (MCCB)


(Sumber http://www.habetec.com)

6. Time Delay Relay


12

Time Delay Relay ini juga disebut sebagai relay penunda waktu yang
sering disebut juga dengan TIMER. Adapun prinsip kerja dari Time Delay
Relay ini adalah sebagai pewaktu atau memperlambat kerja (menunda) yang
diperlukan untuk kontak-kontak NO atau NC agar beroperasi secara normal.
Sehingga dapat disimpulkan apabila coil sudah diberikan sumber tegangan
maka setelah tertunda beberapa detik/menit,/jam (waktu yang ditentukan)
kemudian aktif kontak- kontak NO atau NC secara normal. Penandaan nomor
pada kontak untuk timer produk OMRON adalah uantuk NO bernomor 1 dan
3, 8 dan 6, untuk NC 1 dan 4, 8 dan 5. Kontak kontak pada timer terdiri dari
1 NO dan 1 NC yang menjadi satu bagian. Adapun gambar yang umum
digunakan adalah sebagai berikut :

Gambar 2.21 Time Delay Relay (Timer)


(Muslim dan Joko, 2009: 493)

a. ON Delay
ON Delay adalah suatu Timer yang harus dihubungkan secara
langsung ke kontaktor (menjadi satu dengan kontaktor) dan memiliki
prinsip kerja yang akan berfungsi jika koil kontaktor bekerja ( ON ) maka
timer juga bekerja ( ON ).
b. OFF Delay
Off Delay adalah suatu timer yang harus dihubungkan secara
langsung ke kontaktor (menjadi satu dengan kontaktor) dan memiliki
prinsip kerja yang berfungsi jika koil kontaktor bekerja (ON) maka timer
belum bekerja (OFF), ketika koil kontaktor tidak bekerja (OFF), maka Off
Delay akan bekerja (ON).
7. Lampu Indikator
Lampu indikator digunakan sebagai indikator sebuah rangkaian
bekerja, berhenti, atau mengalami gangguan sehingga operator segera dapat
mengetahui keadaan rangkaian dan tindakan yang harus dilakukan. Gambar
2.23. menunjukkan contoh lampu indikator dan simbulnya.
13

Gambar 2.22 Contoh Lampu Indikator dan Simbulnya


(Muslim dan Joko, 2009: 492)

C. Motor Listrik 3 Phasa


Motor listrik 3 phasa memiliki 3 buah kumparan stator yang terpisah satu
dengan lainnya. Masing-masing kumparan stator terdiri dari satu ujung masuk
dan satu ujung keluar, sehingga jumlah ujung kumparan yang dihubungka ke
terminal motor listrik ada 6 buah.
Kumparan Z1 mempunyai ujung masuk U1 dan ujung keluar U2

Kumparan Z2 mempunyai ujung masuk V1 dan ujung keluar V2

Kumparan Z3 mempunyai ujung masuk W1 dan ujung keluar W2

Sehubungan dengan keperluan tertentu, ujung-ujung kumparan stator


tersebut dapat dihubungkan dengan sumber tenaga listrik tiga phasa dalam
bentuk pola tertentu, yakni sambungan kumparan stator dalam bentuk hubungan
segitiga (-Delta) ataupun hubungan bintang (Y-Star).
Gambar 2.24 menunjukkan ujung-ujung belitan dan terminal motor
listrik 3 phasa yang dihunbung segitiga.
I1
U1=W2
Uz1

V1=U2

Iz1

U1

V1

WN
V
1= 2

W1

Gambar 2.23. Rangkaian Hubungan Delta


U2

V2

W2

14

Keterangan :

W2 disatukan dengan U1

U2 disatukan dengan V1

V2 disatukan dengan W1

Keluaran U1 dihubungkan dengan sumber L1

Keluaran V1 dihubungkan dengan sumber L2

Keluaran W1 dihubungkan dengan sumber L3


Gambar 2.25 menunjukkan ujung-ujung belitan dan terminal motor

listrik 3 phasa yang dihunbung bintang.

U1

V1

W1

Gambar
Hubungan Bintang
U22.24 RangkaianV2
W2

Keterangan :

U2, V2 dan W2 saling disatukan dan menjadi titik netral N.

U1 dihubungkan dengan fasa L1.


15

V1 dihubungkan dengan fasa L2.

W1 dihubungkan dengan fasa L3.

D. Simbol Komponen-komponen Pengendali Elektromagnetik


Pada Tabel 2.2 berikut adalah simbol-simbol komponen pengendali.
Tabel 2.2 Simbol-simbol komponen pengendali

NO

Nama

Kontaktor

Timer

On delay

Off delay

Over Load

Simbol Coil

Simbol NO

Simbol NC

Push
Bottom

MCB

MCB 3 fasa

E. Jenis-jenis saklar manual yang digunakan dalam sistem pengendali


1. Saklar single pole single throw switch (SPST)

16

Saklar SPST adalah saklar yang terdiri dari satu kutub dengan satu
arah. Fungsi saklar ini adalah untuk memutus dan menghubung saja.

Gambar 2.26 menunjukkan gambar pelaksanaan hubungan saklar SPST.

SPST

Gambar 2.25 Gambar bentuk kontak saklar SPST


(Muslim dan Joko, 2009: 478)

2. Saklar single pole double throw switch (SPDT)


Gambar 2.27 menunjukkan gambar pelaksanaan hubungan saklar SPDT.

SPDT

Gambar 2.26 Gambar bentuk kontak saklar SPDT


(Muslim dan Joko, 2009: 478)

Saklar SPDT adalah saklar yang terdiri dari satu kutub dengan dua
arah hubungan. saklar ini dapat bekerja sebagai penukar. Pemutusan dan
penghubungan hanya bagian kutub positip atau phasanya saja.
3. Saklar double pole single throw switch (DPST)
Saklar DPST adalah saklar yang terdiri dari dua kutub dengan satu
arah, hanya dapat memutus dan menghubungkan saja. Gambar 2.28
menunjukkan gambar pelaksanaan hubungan saklar DPST.

Gambar 2.27 Gambar bentuk kontak saklar DPST


(Muslim dan Joko, 2009: 479)

4. Saklar double pole double throw switch (DPDT)

17

Saklar DPDT adalah saklar yang terdiri dari dua kutub dengan dua
arah. saklar dapat bekerja sebagai penukar. Pada instalasi motor listrik,
saklar DPDT dapat digunakan sebagai pembalik arah putaran motor listrik
arus searah dan motor listrik arus bolak balik satu phasa.
Selain itu juga dapat digunakan sebagai pelayanan dua sumber
tegangan pada 1 motor listrik. Gambar 2.29 menunjukkan gambar
pelaksanaan hubungan saklar DPDT.

Gambar 2.28 Gambar bentuk kontak saklar DPDT


(Muslim dan Joko, 2009: 479)

5. Saklar three pole single throw switch (TPST)


Saklar DPST adalah saklar yang terdiri dari dua kutub dengan satu
arah, dan hanya dapat memutus dan menghubung saja. Gambar 2.30
menunjukkan gambar pelaksanaan hubungan saklar TPST.

Gambar 2.29 Gambar bentuk kontak saklar TPST


(Muslim dan Joko, 2009: 479)

6. Saklar three pole double throw switch (TPDT)


Saklar TPDT adalah saklar dengan tiga kutub yang dapat bekerja ke
dua arah. saklar ini digunakan pada instalasi motor listrik 3 phasa atau
sistem 3 phasa lainnya. Juga dapat digunakan sebagai pembalik putaran
motor listrik 3 phasa, layanan motor listrik 3 phasa dari dua sumber dan
juga sebagai starter bintang segitiga yang sangat sederhana. Gambar 2.31
menunjukkan gambar pelaksanaan hubungan saklar TPDT.

18

Gambar 2.30 Gambar bentuk kontak saklar TPDT


(Muslim dan Joko, 2009: 480)

7. Drum switch
Saklar drum switch adalah saklar yang mempunyai bentuk seperti
drum

dengan

posisi

handle

(tangkai)

penggerak

memutus

dan

menghubung berada di ujung seperti dtunjukkan pada Gambar 2.32

Gambar 2.31 Contoh Drum Switch


(Muslim dan Joko, 2009: 480)

Drum switch digunakan pada motor listrik kecil sebagai penghubung


motor listrik dengan jala-jala (sumber tegangan). Jenis saklar ini banyak
dipakai pada industri dan perbengkelan. Drum switch biasanya dipasang
pada dinding mesinnya. Pada bagian bawah saklar terdapat lubang untuk
pemasangan pipa.
8. Cam switch (Saklar putar cam)
Cam switch banyak digunakan dalam rangkaian utama pada
rangkaian kendali, misalnya untuk hubungan bintang segitiga, membalik
putaran motor listrik 1 phasa atau motor listrik 3 phasa.

Gambar 2.32 Gambar dan bentuk kontak Cam switch


(Muslim dan Joko, 2009: 481)

19

Pada alat ini terdiri dari beberapa kontak, arah pemutaran dan
saklar akan mengubah kontak-kontak menutup atau membuka dan
beroperasi dalam satu putaran.

F. Contoh Sistem Pengendali Elektromagnetik


1.

Rangkaian Dasar Kontrol Motor Listrik


a. Rangkaian Kontrol Dasar
1) Rangkaian utama
Rangkaian utama adalah gambaran rangkaian beban dan kotak
kontak utama kontaktor serta kontak breaker dan komponen pengaman
yang dihubungkan ke beban.
2) Rangkaian kontrol
Rangkaian kontrol arus adalah rangkaian untuk pengatur operasi
kontaktor dan relay atau pengaturan arus pengoperasian kumparan
operasi kontaktor dan kumparan pengaktif relay melalui kontak bantu
dan kontak relay.
3) Rangkaian pengawatan
Rangkaian pengawatan adalah ganbungan dari rangkaian utama
dan rangkaian kontrol, dengan kata lain rangkaian lengkap dari rangkaian
kontrol motor.

20

(a)

(b)

(c)

Gambar 2.33 Rangkaian kontrol motor untuk operasi ON OFF


(a) Rangkaian utama, (b) Rangkaian kontrol, (c) Rangkaian pengawatan

b. Rangkaian operasi on/off dari banyak tempat


Pelayanan dari beberapa tempat seperti pada lift, alat angkat (hoist),
conveyer, dan peralatan pengalengan minuman dan makanan. Pada sistem ini
dibutuhkan beberapa saklar NC dan NO. saklar NC untuk off dihubung seri
dan NO untuk on dihubung pararel.

21

Gambar 2.34 Rangkaian kontrol dari banyak tempat

c. Rangkaian operasi dengan sistem interlock


Rangkaian interlock atau penguncian adalah untuk mencegah dua
buah kontaktor atau lebih yang beroperasi secara bersamaan. Seperti untuk
dua arah kecepatan putaran dan pengasutan segitigabintang. Metode
penguncian dapat dibagi atas tiga bagian, antara lain:
1) Penguncian secara mekanik
Misalnya kita lihat pada kontrol motor dua arau putaran
menggunakan dua buah kontaktor. Apabila salah satu saklar ON (arah
maju atau mundur) ditekan, maka kontaktor yang beroperasi akan
mengunci kontaktor yang lain. Walaupun kontaktor kedua diberi arus atau
penguatan, tetapi kontaknya tidak bisa menutup karena dikunci oleh tuas
tuas mekanik. Demikian juga sebaliknya sehingga kedua kontaktor tidak
akan beroperasi secara bersamaan.

Gambar 2.35 Rangkaian kontrol motor untuk dua arah putaran


dengan metode penguncian secara mekanik

2) Penguncian dengan saklar tekan

22

Penguncian bias dilakukan dengan menggunakan dua buah saklar


ganda, dimana saklar tekan ON 1 untuk maju dan ON 2 untuk mundur.
Untuk operasi arah maju, kontak NO/ON1, NC/ON2, kumparan operasi
kontaktor K1, dan kontak termal dihubung seri. Untuk operasi arah
mundur, kontak NC/ON1, kontak NC/ON2 dan kumparan aperasi
kontaktor K2 serta kontak termal saling dihubung seri. Bila ON1 ditekan
maka kumparan K1 mendapat arus dan motor berputar arah maju (searah
jarum jam), sedangkan K2 tidak berfungsi karena rangkaian arusnya
diputus oleh kontak NO/ON1. Demikian sebaliknya sehingga kedua
kontaktor tidak akan bekerja sama.

Gambar 2.36 Rangkaian kontrol motor untuk dua arah putaran


dengan penguncian memakai saklar tekan

3) Penguncian dengan kontak bantu


Penguncian juga dapat dilakukan dengan menggunakan kontak
bantu, untuk pengoperasian arah maju kontak NO/ON1, kumparan K1 dan
kontak bantu K2 serta kontak thermah saling terhubung seri. Untuk
operasi arah mundur, kontak NO/ON2, kumparan K2, kontak NC K2 dan
kontak thermal saling dihubung seri. Bila saklar ON 1 ditekan, maka K1
akan dapat arus dan motor akan berputar arah maju. Meskipun ON 2
ditekan, K2 tidak akan beroperasi karena saklar bantu NC K1 terbuka
selama K1 beroperasi. Demikian juga sebaliknya sehingga K1 dan K2
23

tidak beroperasi secara bersamaan. Jika K1 dan K2 beroperasi bersamaan


maka akan terjadi hubung singkat antar fasa.

Gambar 2.37 Rangkaian kontrol motor untuk dua arah putaran dengan
sistem penguncian saklar bantu (a) Rangkaian kontrol

d. Rangkaian operasi berurutan


Rangkaian operasi berurutan (Sequence kontrol) digunakan apabila
motor beroperasi tergantung kepada motor lain, seperti belt conveyor dimana
satu dengan yang lainnya saling beroperasi berkaitan.

(a) Rangkaian standar

24

(b) Rangkaian otomatis melalui kontak bantu yang saling mengunci


Gambar 2.38 Rangakain kontrol motor operasi berurutan

e. Rangkaian operasi jogging


Kontrol jogging digunakan pada pengontrolan putaran lambat untuk
menggerakkan suatu alat atau peralatan, seperti pada alat pengangkat, belt
conveyor.

(a)

(b)
a) Jogging sederhana, (b) Jogging dengan bantuan relay kontrol
Gambar 2.39 Rangkaian kontrol motor system jogging

Bila saklar jogging ditekan maka arus kumparan K didapat langsung


dari arus fasa. Sehingga operasi motor tergantung kepada saklar jogging.

25

BAB III
Latihan Keterampilan Siswa
A. Pilihan Ganda
Kerjakan soal pilihan ganda di bawah ini dengan memberi tanda (x) pada
jawaban yang benar!
1.

Gambar dibawah ini merupakan gambar ...

a. Magnetic contaktor
b. TOR
c. TDR
d. Push button
e. MCB

2.

Berikut ini merupakan keuntungan menggunakan kontaktor yaitu ...


Harganya murah
Perawatan bisa dilakukan setiap orang
Jika saklar terputus kontak akan terlepas

a.
b.
c.

dengan sendirinya
d.
e.
3.

Bisa digunakan untuk apapun


Tidak memerlukan perbaikan
Berdasarkan konstruksinya push button dibedakan menjadi 3 jenis

yaitu ...
a.
b.
c.
d.
e.

NO, NC, NC/NO


NO, NB dan NC
NO, NC, NB/NO
ND, NO, dan NC
NO, ND, ND/NO
26

4.
a.
b.
c.
d.
e.
5.

Berikut ini yang bukan merupakan saklar manual yaitu ...


Push button
Saklar SPDT
Saklar drum switch
Cam swicth
Kontaktor magnetik
Terminal kontak yang digunakan sebagai pengunci untuk rangkaian

kontrol induksi 3 fasa yaitu ...


a.
12
b.
34
c.
56
d.
13 14
e.
21 22
6.
Thermal over load relay bekerja berdasarkan prinsip ...
a.
Pemuaian
b.
Peleburan
d. Mekanik
c.
Perenggangan
e. Elektrik
7.
Bagian yang bergerak pada motor listrik disebut ...
a.
Motor
b.
Stator
d. Indikator
c.
Rotor
e. Kapasitor
8.
Untuk membalik arah putaran motor induksi 3 fasa dapat dilakukan
dengan
d. Memperkecil arus asut
a.
Membalike.arah
fasanya tegangan
Menurunkan
b.
Mengubah jumlah kutub
c.
Menambahkan kapasitor
9.
Saklar kontak yang bekerja berdasarkan kemagnetan disebut ...
a.
Saklar pisau
d. Thermal
b.
Saklar
manual overload relay
e. Saklar
SPDT
c.
Kontaktor
magnet
10.
Saklar yang berfungsi dan memutuskan arus listrik yang dilakukan
secara langsung oleh orang yang mengoperasikannya disebut ...
a.
Saklar otomatis
d. manual
Saklar elektromagnetik
b.
Saklar
e. elektronik
Saklar semi manual
c.
Saklar
11.
Bagian motor listrik yang diam disebut ...
a.
Motor
d.
Induktor
b.
Stator
e.
Kapasitor
c.
Rotor
12.
Pengaman beban lebih pada rangkaian motor listrik yaitu ...
a.
Kontaktor magnet
b.
MCB d. TDR
c.
TOR e. Push button
13.
Alat yang digunakan untuk mengukur daya listrik yaitu ...
a.
Volt meter
d. Amper
b.
Watt
meter meter
e.
Ohm
meter
c.
KWH meter
14.
Saklar yang terdiri dari satu kutub dengan 2 arah hubungan disebut ...
27

a.
b.
c.
15.

SPST
DPDT
SPDT
TPST
DPST
Saklar dengan tiga kutub yang dapat bekerja secara dua arah
d.
e.

disebut ...
a.
DPST
d.
TPDT
b.
DPDT
e. TPST
c.
SPST
16.
Saklar yang mempunyai bentuk seperti drum dengan posisi handle
penggerak memutus dan menghubungkan berada di ujungnya disebut ...
a.
Saklar manual
b.
Drum switch
c.
Push button
d.
Cam switch
e.
SPST
17.
Berikut ini merupakan kerugian menggunakan kontaktor magnetik
yaitu
a.
Penggunaanya mudah
b.
Momen kontak lambat
c.
Harganya mahal
d.
Perawatannya mudah
e.
Sukar dalam pemodelan sistem
18.
Rangkaian yang hanya menggambarkan bekerjanya kontaktor dengan
kontak-kontak bantunya disebut ...
a.
Rangkaian
daya kontrol
d. Rangkaian
b.
Rangakaian
2 fasa sistem
e. Rangkaian
c.
Rangkaian utama
19.
Rangkaian yang khusus memberikan hubungan beban dengan sumber
tegangan 3 fasa disebut ...
a.
Rangkaian daya
d. Rangkaian
satu fasa
b.
Rangkaian
utama
e.
Rangkaian
c.
Rangkaian kontrol sistem
20.
Alat penghubung lsitrik yang bekerja atas dasar magnet yang dapat
menghubungkan antara sumber tegangan dengan muatan disebut ...
a.
Saklar
d. TORmagnet
b.
Kontaktor
e. TDR
c.
Saklar
termis

28

B. Isian
Di bawah ini terdapat gambar komponen pengalih daya, sebutkan jenis, fungsi
dan simbol masing masing komponen berikut ini:
1.

Jenis:
Fungsi:
Simbol:
2.

Jenis:
Fungsi:
Simbol:

OFF-Normally
Close

ON-Normally
open

3.

Jenis:
Fungsi:
Simbol:

4.

29

Jenis:
Fungsi:
Simbol:
5.

Jenis:
Fungsi:
Simbol:

Kunci Jawaban
Pilahan ganda
No

Jawaban

No

Jawaban

11

12

13

14

15

16

17

18

19

10

20

30

Isian
1.

Jenis: MCB 3 Phasa


Fungsi: Sebagai pengaman panel bila terjadi arus yang berlebih
Simbol:

2.
Jenis: Push Button
Fungsi: Menghubungkan dan memutuskan arus listrik atau rangkaian
Simbol:
OFF-Normally
Close

ON-Normally
open

31

3.

Jenis: Kontaktor Magnet


13
Fungsi: Fungsinya sama seperti sakelar, tapi kontaktor bekerja
berdasarkan kemagnetan.
Simbol:
A
1

4.

A
2

1 3

2 4

1
3

1
4

21

22

Jenis: Pengaman Beban Lebih (TOR)


Fungsi: Mengamankan rangkaian kontrol dan motor listrik jika terjadi
beban lebih atau arus yang berlebih
Simbol:
95

97

96

98

95

5.
96

98

Jenis: Lampu Indikator


Fungsi: Sebagai penanda sebuah rangkaian itu bekerja, berhenti atau
mengalami gangguan
Simbol:

BAB IV
32

PENUTUP
Setelah menyelesaikan materi ajar pengendali elektromagnetik ini, siswa
berhak mengikuti tes bagi siswa yang telah mendapatkan nilai sesuai standar.
Bagi siswa yang nilainya dibawah standar, maka siswa tersebut harus mengulang
materi ajar ini hingga dapat mencapai syarat kelulusan minimal yang telah
ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA
Muslim, Supari dan Joko, 2009. Teknik Perencanaan dan Pemasangan Instalasi
Listrik. Jakarta, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,
Direktorat Pendidikan Menengah Kejururan, Depdiknas.
http://guraru.org/guru-berbagi/belajar-pengendalian-instalasi-motor-listrik
-menggunakan-simulator-ekts/ Senin tanggal 24 Agustus 2014 pukul 19.40

33