Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Alam tumbuhan Indonesia sangat kaya akan sumberdaya plasma nutfah untuk bahan baku obat-obatan.

Keadaan ini dapat membantu upaya mengatasi semakin berkembangnya berbagai jenis penyakit yang mengancam
kehidupan manusia. Salah satu tumbuhan obat Indonesia yang sangat populer saat ini adalah mahkota dewa
(Phaleria macrocarpa L.) dari suku Thymelaceae.

Mahkota dewa tergolong tanaman perdu yang tumbuh dari dataran rendah hingga ketinggian 1200 meter di

atas permukaan laut(1). Phaleria macrocarpa ini adalah tanaman tropis yang berasal dari Pulau Papua dan banyak

digunakan sebagai bahan obat untuk menyembuhkan kanker dan diabetes melitus. Di kota-kota besar seperti Jakarta,

Bandung, dan Yogyakarta, mahkota dewa telah menjadi populer dan banyak dijual secara komersial di toko-toko
obat, apotik dan di rumah sakit. Mahkota dewa bahkan telah menjadi tanaman primadona sebagai obat serba
guna(2).

Penampilan tumbuhan ini sangat menarik, terutama saat buahnya mulai tua sehingga banyak dipelihara

sebagai tanaman hias. Buah mahkota dewa sesungguhnya dapat dimakan, meskipun bijinya mengandung racun. Buah
mahkota dewa yang bulat, berwarna hijau ketika muda dan merah marun ketika tua, dengan ukuran bervariasi dari

sebesar bola pingpong sampai sebesar apel dengan ketebalan kulit 0,1-0,5 mm(3). Akhir-akhir ini, tumbuhan mahkota
dewa banyak digunakan sebagai obat tradisional, baik secara tunggal maupun dicampur dengan obatobatan tradisional

lainnya. Hal tersebut disebabkan karena tumbuhan mahkota dewa mengandung senyawa-senyawa alkaloid, saponin,
flavonoid, resin, tanin , dan sebagainya yang berkhasiat untuk antihistamin, antioksidan, obat asam urat, liver,
rematik, kencing manis, ginjal, tekanan darah tinggi sampai kanker(4).

Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman hijau, kecuali alga. Flavonoid

yang lazim ditemukan pada tumbuhan tingkat tinggi (Angiospermae) adalah flavon dan flavonol dengan C- dan Oglikosida, isoflavon C- dan Oglikosida, flavanon C- dan O-glikosida, khalkon dengan C- dan O-glikosida, dan
dihidrokhalkon, proantosianidin dan antosianin, auron O-glikosida, dan dihidroflavonol O-glikosida. Golongan flavon,
flavonol, flavanon, isoflavon, dan khalkon juga sering ditemukan dalam bentuk aglikonnya.

Menurut Markham (1988), flovonoid tersusun dari dua cincin aromatis yang dapat atau tidak dapat

membentuk cincin ketiga dengan susunan C6-C3-C6. Struktur flavonoid dapat ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 1. Struktur flavonoid (Sumber: Markham, 1988)


Flavonoid merupakan termasuk senyawa fenolik alam yang potensial sebagai antioksidan dan mempunyai

bioaktifitas sebagai obat. Salah satu tanaman yang mengandung flavonoid adalah mahkota dewa ( Phaleria macrocarpa

1|Page

Boerl). Senyawa ini ditemukan pada batang, daun, bunga, dan buah. Produk utama yang dihasilkan dari tanaman ini
adalah buah mahkota dewa, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.

Gambar 2. Buah mahkota dewa (Sumber: Harmanto, 2001)


Menurut Harmanto (2001) buah mahkota dewa mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, dan polifenol dan
ekstrak daunnya dapat memberikan efek antihistamin (Siswono, 2001). Daging buah mahkota dewa mempunyai efek
hipoglikemik (dapat menurunkan kadar gula dalam darah). Berdasarkan hasil penelitian dapat ditunjukkan bahwa
daging buah mahkota dewa menghasilkan efek antihipoglikemik dengan dosis 241,35 mg/kg berat badan (Primsa,
2002).

Menurut Sumastuti (2002) daun serta buah mahkota dewa mengandung saponin dan flavonoid yang

mempunyai efek antihistamin. Secara invitro dan metode Magnus yang dimodifikasi pada berbagai ekstrak daun buah
muda, buah tua mahkota dewa mampu menurunkan kontraksi histamin murni pada ileum marmot terisolasi. Mahkota

dewa juga memberikan efek terhadap uterus, efek sitosik pada sel kanker rahim, efek hipoglikemik, hepatoprotektor,
antiinflamasi, histopatologik pada hati, ginjal, lambung, ovarium, uterus, pankreas, serta antibakteri.

Secara in vitro dan in vivo juga dapat memberikan efek hipoglikemik sebagai inhibitor -Glucosidase,

terutamaa pada ekstrak n-butanol buah muda dan yang sudah masak, ekstrak etil asetat, dan metanol (Sugiwati,

2006). Ekstrak kloroform, petroleum eter, etanol, dan air memberikan efek toksisitas akut pada Larva Artemia salina
Leach yang diduga kuat merupakan senyawa terpenoid, saponin, dan flavonoid (Puspaningsih, 2003).

Lisdawati (2002) juga telah melakukan pengujian terhadap kadar toksisitas ekstrak daging buah dan kulit biji

dengan melihat tingkat kematian terhadap larva Artemia salina Leach setelah diinkubasi selama 24 jam. Hasil
menunjukan bahwa toksisitas yang sangat tinggi yang menyebabkan kematian 50% larva udang (LC50) berkisar

antara 0,161511,8351 g/mL. Ekstrak mahkota dewa juga mampu menghambat pertumbuhan sel Leukimia L1210
sebesar 50 % setelah masa inkubasi 48 jam (IC50) sangat rendah, yaitu <10 g/mL (4,997,71 b/mL).

Secara klinis fraksi air dan etil asetat daging buahnya mampu meningkatkan kelarutan kalsium pada batu

ginjal hingga 1,50 mg/mL (Damayanti, 2004). Ekstrak air juga memberikan efek angiogenik (Triasmanto, 2006). Hasil

uji toksisitas terhadap hasil fraksinasi ekstrak kloroform biji mahkota dewa pada Artemia salina Leach dapat
ditunjukkan bahwa senyawa antikanker yang ditemukan termasuk senyawa alkaloid, terpenoid, dan polifenol (Mursiti,
2002).

Menurut Utami (2003), pada ekstrak metanol biji mahkota dewa ditemukan senyawa flavonoid dari golongan

khalkon. Biji mahkota dewa juga mengandung 3 asam lemak yang terdiri dari asam palmitat, asam oleat, dan asam
linoleat (Astuti, 2006). Sedangkan Kulit buahnya mengandung flavonoid dan ekstrak kloroformnya juga ditemukan
senyawa alkaloid dan terpenoid.

Hasil uji toksisitas terhadap daun mahkota dewa pada ekstrak kloroform, metanol, dan air mengandung

senyawa aktif berupa terpenoid (Pratiwi, 2002). Berdasarkan hasil identifikasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis
pada ekstrak metanol daun ditemukan senyawa flavon (Istiningrum, 2003). Dengan metode yang sama juga

ditemukan adanya tannin (Retnita, 2006). Nawawi (2004) menemukan komponen utama ekstrak etanol daun mahkota

2|Page

dewa berupa Kristal putih kekuningan, dan tidak berbau dengan jarak lebur 200-203oC merupakan senyawa
benzofenon glukosida.

Lusiana (2006) telah melakukan penelitian pada formulasi sediaan padat tablet efervesen mahkota dewa

yang mempunyai efek menghambat sel kanker rahim (in vitro), aktivitas antioksidan, hipoglikemik dan antiradang.

Senyawa yang berhasil diisolasi dan diidentifikasi pada sediaan tersebut merupakan senyawa 2,4',6-trihidroksi-4
metoksibenzofenon-2-O-glukosida. Sedangkan pada tablet granulasi ekstrak etanol 50% ditemukan saponin (Krismiati,
2005).

Menurut Dewanti (2004) stabilitas antioksidan semua produk mahkota dewa lebih rendah dari antioksidan

sintetik tetapi aktivitasnya lebih tinggi. Berdasarkan hasil uji aktifitas terhadap sel kanker darah (leukemia L1210)
mahkota dewa memberikan reaksi positif sebagai antioksidan (Harmanto, 2003). Senyawa aktif ditemukan pada

ekstrak metanol (Sant, 2002). Akan tetapi senyawa ini sampai saat ini belum teridentifikasi secara pasti. Rohyami
(2007) menduga adanya senyawa flavanon dan flavonol pada ekstrak metanol daging buah mahkota dewa.

Flavonoid juga ditemukan pada ekstrak etanol. Dengan metode yang sama (Permatasari, 2004) meramalkan

adanya senyawa flavan yang mengandung gugus hidroksi pada posisi 4 dan senyawa 4-OH flavonol dengan 5-OH
tersubtitusi alkil. Isolasi flavonoid akan difokuskan pada ekstrak metanol.

Menurut Markham (1988) untuk mendapatkan ekstrak flavonoid sebaiknya dilakukan ekstraksi soxhletasi

menggunakan pelarut metanol : air (9:1). Senyawa flavonoid pada umumnya mudah larut dalam air, terutama bentuk

glikosidanya. Senyawa tersebut dapat diekstrak menggunakan pelarut air. Senyawa yang sedikit larut dalam air
bersifat semi polar dapat diekstraksi dengan pelarut metanol 80%, aseton, dan etanol (Robinson, 1991).

Analisis kualitatif flavonoid dapat dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Spektrum serapan

ultra violet dan serapan tampak merupakan cara tunggal yang paling bermanfaat untuk mengidentifikasi struktur
flavonoid (Markham, 1988). Flavonoid mengandung sistem aromatis yang terkonjugasi dan dapat menunjukkan pita
serapan kuat pada daerah UVVis (Rohyami, 2007; Nawawi, 2004; Rohyami, 2003; Copriyadi, 2002; Harborne, 1987).

Metode tersebut juga dapat digunakan untuk melakukan uji secara kuantitatif untuk menentukan jumlah

flavonoid yang terdapat dalam ekstrak methanol daging buah mahkota dewa juga dilakukan dengan spetrofotometer
UV-Vis (Carbonaro, 2005). Standar yang digunakan adalah flavonoid rutin (Slimestad, 2005).

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah yang ada diantaranya sebagai berikut :

Bagaimana hasil ekstraksi daging buah mahkota dewa dengan menggunakan pelarut methanol ?

Bagaimana hasil fraksinasi ekstrak methanol menggunakan kromatografi lapis tipis ?

Bagaimana penentuan kandungan flavonoid dalam ekstrak methanol daging buah mahkota dewa dengan
menggunakan spektrometri UV-Vis ?

3|Page

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. URAIAN TUMBUHAN
1.

Sistematika

Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boerl) merupakan tanaman obat yang sudah dikenal dan saat ini

semakin diminati masyarakat. Tanaman yang berasal dari Papua berkhasiat untuk mengobati luka, diabetes, lever, flu,

alergi, sesak nafas, desentri, penyakit kulit, jantung, ginjal, kanker, darah tinggi, asam urat, penambah stamina,
ketergantungan narkoba, dan pemicu kontraksi rahim.

Salah satu senyawa aktif yang ditemukan terdapat dalam ekstrak metanol daging buahnya yang merupakan

senyawa saponin (Rohyami, 2008)

Gambar 2.1 Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa Boerl)


Kingdom : Plantae
Filum : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Myrtales

Famili : Tymelaeaceae
Genus : Phaleria

Spesies : Phaleria macrocarpa Boerl


2.

Morfologi Tumbuhan
Menurut Harmanto (2004), mahkota dewa merupakan tumbuhan yang berkembang dan tumbuh sepanjang

tahun. Dalam pertumbuhannya, mahkota dewa ini dapat mencapai ketinggian 1-2,5 meter. Namun ketinggian tanaman

ini dapat mencapai hingga enam meter bila dibiarkan atau dirawat dengan baik. Sementara morfologi tanaman ini
cukup sempurna karena memiliki batang, daun,
bunga dan buah.

Selain itu Harmanto (2004) juga menjelaskan bunga mahkota dewa merupakan bunga majemuk yang

tersusun dalam kelompok 2-4 bunga. Pertumbuhannya menyebar di batang atau ketiak daun, warnanya putih.
Bentuknya deperti terompet kecil, baunya harum, ukurannya kira-kira sebesar

4|Page

bunga pohon cengkeh. Bunga ini keluar sepanjang tahun atau tak kenal musim, tetapi paling banyak muncul pada
musim hujan. Bunga mahkota dewa belum terbukti dapat digunakan untuk pengobatan.

Buah mahkota dewa merupakan ciri khas pohon mahkota dewa. Bentuknya bulat, seperti bola. Ukurannya

bervariasi, dari sebesar bola pimpong sampai sebesar apel merah. Penampilannya sangat

menawan, merah

menyala.Saat masih muda, kulitnya berwana hijau namun saat sudah tua warnanya berubah menjadi merah marun.
Ketebalan kulit sekitar 0,5-1 mm. Daging buah berwarna putih. Ketebalan daging bervariasi, tergantung pada ukuran

buah. Seperti bentuk buahnya, biji buah juga bulat, warnanya putih. Diameternya mencapai 2 cm. Biji ini sangat
beracun. Jika tergigit akan menyebabkan lidah kaku, mati rasa dan badan meriang, karena bijinya hanya digunakan

untuk obat luar sebagai obat oles. Biji ini dapat terbukti untuk mengobati aneka penyakit kulit. Pemanfaatan biji
dilakukan dengan cara mengeringkan dan menyangrainya sampai gosong (Harmanto, 2004)
3.

Kandungan Kimia
Menurut Arjadi (2010), mahkota dewa kaya akan kandungan kimia. Adapun kandungan buah mahkota dewa

terdiri dari alkaloid, flavonoid, polifenol, saponin. Senyawa flavonoid dalam usaha penyembuhan diabetes meningkatkan

pengeluaran insulin yang dihasilkan oleh sel Pulau Langerhans Pankreas dengan cara merubah metabolisme Ca
2+ dan meregenerasi pulau Langerhans Pankreas terutama sel .

Selanjutnya dijelaskan penurunan kadar glukosa darah akibat pemberian mahkota dewa dapat dijelaskan

melalui dua mekanisme utama, yaitu secara intra pankreatik dan ekstra pankreatik. Mekanisme intra pankreatik

bekerja dengan cara memperbaiki (regenerasi) sel pankreas yang rusak dan melindungi sel dari kerusakan serta
merangsang pelepasan insulin dengan senyawa aktif alkaloid dan flavonoid. Mekanisme ekstra pankreatik berlangsung

berbagai mekanisme. alkaloid terbukti mempunyai kemampuan regenerasi dimana ekstrak alkaloid terbukti secara
nyata mempunyai kemampuan regenerasi sel pankreas yang rusak. Peningkatan sekresi insulin diakibatkan oleh

adanya efek perangsangan saraf simpatis (simpatomimetik) dari alkaloid yang berefek pada meningkatnya sekresi
insulin. Flavonoid mempunyai sifat sebagai antioksidan sehingga dapat melindungi kerusakan sel-sel pankreas dari
radikal bebas (Arjadi, 2010).

B. SENYAWA FLAVONOID
Menurut Arjadi (2010), pada daging buah mahkota dewa terdapat senyawa flavonoid, saponin dan alkaloid.

Senyawa kimia aktif yang diduga mempunyai efek hipoglikemik mirip insulin adalah flavonoid. Salah satu zat
flavonoid

dengan

efek hipoglikemik

adalah

quercetin dapat meningkatkan pengeluaran insulin dari sel pulau

Langerhans melalui perubahan metabolisme Ca2+. Flavonoid yang terkandung dalam daging buah mahkota dewa
mempunyai

kemampuan

merangsang

pengeluaran

insulin

atau

mempunyai

senyawa

mirip

insulin

yang

dapat

diekstraksi. Diduga flavonoid yang terdapat pada daging buah mahkota dewa dapat menyebabkan regenerasi sel
pulau Langerhans, meregenerasi sel , merangsang pengeluaran insulin dan atau sebagai senyawa mirip insulin.

Flavonoids dengan aksi merangsang pengeluaran insulin dan atau sebagai komponen mirip insulin, seperti quercetin,
akan menginduksi hepatik glucokinase dan hasilnya menciptakan efek hipoglikemik.
1.

Senyawa Flavonoida
Senyawa-senyawa flavonoida adalah senyawa-senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom karbon, terdiri dari

dua cincin benzena yang dihubungkan menjadi satu oleh rantai linier yang terdiri dari tiga atom karbon. Senyawa-

5|Page

senyawa flavonoida adalah senyawa 1,3 diaril propana, senyawa isoflavonoida adalah senyawa 1,2 diaril propana,
sedangkan senyawa-senyawa neoflavonoida adalah 1,1 diaril propana.

Istilah flavonoida diberikan pada suatu golongan besar senyawa yang berasal dari kelompok senyawa yang

paling umum, yaitu senyawa flavon; suatu jembatan oksigen terdapat diantara cincin A dalam kedudukan orto, dan
atom karbon benzil yang terletak disebelah cincin B. Senyawa heterosoklik ini, pada tingkat oksidasi yang

berbeda terdapat dalam kebanyakan tumbuhan. Flavon adalah bentuk yang mempunyai cincin C dengan tingkat

oksidasi paling rendah dan dianggap sebagai struktur induk dalam nomenklatur kelompok senyawa-senyawa ini.
(Manitto, 1981)

Senyawa flavonoida sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit,

tepung sari, bunga, buah, dan biji. Kebanyakan flavonoida ini berada di dalam tumbuh-tumbuhan, kecuali alga.

Namun ada juga flavonoida yng terdapat pada hewan, misalnya dalam kelenjar bau berang-berang dan sekresi lebah.
Dalam sayap kupu - kupu dengan anggapan bahwa flavonoida berasal dari tumbuh-tumbuhan yang menjadi makanan
hewan tersebut dan tidak dibiosintesis di dalam tubuh mereka. Penyebaran jenis flavonoida pada golongan tumbuhan
yang tersebar yaitu angiospermae, klorofita, fungi, briofita. (Markham, 1988)
2.

Klasifikasi Senyawa Flavonoida


Flavonoida mengandung sistem aromatik yang terkonjugasi sehingga menunjukkan pita serapan kuat pada

daerah spektrum sinar ultraviolet dan spektrum sinar tampak, umumnya dalam tumbuhan terikat pada gula yang
disebut dengan glikosida. (Harborne, 1996)

Pada flavonoida O-glikosida, satu gugus hidroksil flavonoida (atau lebih) terikat pada satu gula (lebih)

dengan ikatan yang tahan asam. Glukosa merupakan gula yang paling umum terlibat dan gula lain yang sering juga
terdapat adalah galaktosa, ramnosa, silosa, arabinosa, dan rutinosa. Waktu yang diperlukan untuk memutuskan suatu
gula dari suatu flavonoida O-glukosida dengan hidrolisis asam ditentukan oleh sifat gula tersebut.

Pada flavonoida C-glikosida, gula terikat pada atom karbon flavonoida dan dalam hal ini gula tersebut

terikat langsung pada inti benzena dengan suatu ikatan karbon-karbon yang tahan asam. Gula yang terikat pada
atom C hanya ditemukan pada atom C nomor 6 dan 8 dalam inti flavonoida, misalnya pada orientin. (Markham,
1988)

Menurut Robinson (1995), flavonoida dapat dikelompokkan berdasarkan keragaman pada rantai C3 yaitu :
Flavonol
Flavonol paling sering terdapat sebagai glikosida, biasanya 3-glikosida, dan aglikon flavonol yang umum

yaitu kamferol, kuersetin, dan mirisetin yang berkhasiat sebagai antioksidan dan antiimflamasi. Flavonol lain yang

terdapat di alam bebas kebanyakan merupakan variasi struktur sederhana dari flavonol. Larutan flavonol dalam
suasana basa dioksidasi oleh udara tetapi tidak begitu cepat sehingga penggunaan basa pada pengerjaannya masih
dapat dilakukan.

Struktur flavonol

6|Page

Flavon
Flavon berbeda dengan flavonol dimana pada flavon tidak terdapat gugusan 3-hidroksi. Hal ini mempunyai

serapan UV-nya, gerakan kromatografi, serta reaksi warnanya. Flavon terdapat juga sebagai glikosidanya lebih sedikit

daripada jenis glikosida pada flavonol. Flavon yang paling umum dijumpai adalah apigenin dan luteolin. Luteolin

merupakan zat warna yang pertama kali dipakai di Eropa. Jenis yang paling umum adalah 7-glukosida dan terdapat
juga flavon yang terikat pada gula melalui ikatan karbon-karbon. Contohnya luteolin 8-C-glikosida. Flavon dianggap
sebagai induk dalam nomenklatur kelompok senyawa flavonoida.

Struktur flavon
Isoflavon
Isoflavon merupakan isomer flavon, tetapi jumlahnya sangat sedikit dan sebagai fitoaleksin yaitu senyawa
pelindung yang terbentuk dalam tumbuhan sebagai pertahanan terhadap serangan penyakit. Isoflavon sukar dicirikan

karena reaksinya tidak khas dengan pereaksi warna manapun. Beberapa isoflavon (misalnya daidzein) memberikan
warna biru muda cemerlang dengan sinar UV bila diuapi amonia, tetapi kebanyakan yang lain tampak sebagai
bercak lembayung yang pudar dengan amonia berubah menjadi coklat.

Struktur Isoflavon
Flavanon
Flavanon terdistribusi luas di alam. Flavanon terdapat di dalam kayu, daun dan bunga. Flavanon glikosida

merupakan konstituen utama dari tanaman genus prenus dan buah

jeruk ; dua glikosida yang paling lazim adalah neringenin dan hesperitin, terdapat dalam buah anggur dan jeruk.

Struktur Flavanon
Flavanonol
Senyawa ini berkhasiat sebagai antioksidan dan hanya terdapat sedikit sekali jika dibandingkan dengan

flavonoida lain. Sebagian besar senyawa ini diabaikan karena konsentrasinya rendah dan tidak berwarna.

7|Page

Struktur Flavanonol
Katekin
Katekin terdapat pada seluruh dunia tumbuhan, terutama pada tumbuhan berkayu. Senyawa ini mudah

diperoleh dalam jumlah besar dari ekstrak kental Uncaria gambir

dan daun teh kering yang mengandung kira-kira 30% senyawa ini. Katekin berkhasiat sebagai antioksidan.

Struktur Katekin
Leukoantosianidin
Leukoantosianidin merupakan senyawa tan warna, terutama terdapat pada tumbuhan berkayu. Senyawa ini jarang
terdapat sebagai glikosida, contohnya melaksidin, apiferol.
Antosianin
Antosianin merupakan pewarna yang paling penting dan paling tersebar luas dalam tumbuhan. Pigmen yang

berwarna kuat dan larut dalam air ini adalah penyebab hampir semua warna merah jambu, merah marak , ungu,
dan biru dalam daun, bunga, dan buah pada tumbuhan tinggi. Secara kimia semua antosianin merupakan turunan
suatu struktur aromatik tunggal yaitu sianidin, dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini dengan penambahan
atau pengurangan gugus hidroksil atau dengan metilasi atau glikosilasi.

Struktur Antosianin
Khalkon
Khalkon adalah pigmen fenol kuning yang berwarna coklat kuat dengan sinar UV bila dikromatografi kertas.

Aglikon flavon dapat dibedakan dari glikosidanya, karena hanya pigmen dalam bentuk glikosida yang dapat bergerak
pada kromatografi kertas dalam pengembang air. (Harborne, 1996)

Struktur Khalkon
Auron
Auron berupa pigmen kuning emas yang terdapat dalam bunga tertentu dan briofita. Dalam larutan basa
senyawa ini berwarna merah ros dan tampak pada kromatografi kertas berupa bercak kuning, dengan sinar ultraviolet
warna kuning kuat berubah menjadi merah jingga bila diberi uap amonia. (Robinson, 1995)

8|Page

Struktur Auron
3.

Metoda isolasi senyawa flavonoida


Metoda Isolasi Senyawa Flavonoida oleh Harborne

Dalam metoda ini, daun yang segar dimaserasi dengan MeOH, lalu disaring. Ekstrak MeOH dipekatkan dengan rotari
evaporator. Lalu ekstrak pekat yang dihasilkan, diasamkan dengan H2SO4 2M, didiamkan, lalu diesktraksi dengan

Kloroform. Lapisan Kloroform diambil, lalu diuapkan, sehingga dihasilkan ekstrak polar pertengahan (Terpenoida atau
senyawa Fenol). (Harborne, 1996)
4.

Sifat kelarutan flavonoida


Aglikon flavonoida adalah polifenol dan karena itu mempunyai sifat kimia senyawa fenol, yaitu bersifat agak

asam sehingga dapat larut dalam basa. Tetapi harus diingat, bila dibiarkan dalam larutan basa, dan disamping itu
terdapat oksigen, banyak yang akan terurai. Karena mempunyai sejumlah gugus hidroksil, atau suatu gula,flavonoida

merupakan senyawa polar, maka umumnya flavonoida cukup larut dalam pelarut polar seperti Etanol (EtOH), Metanol
(MeOH), Butanol (BuOH), Aseton, Dimetilsulfoksida (DMSO), Dimetilformamida (DMF), Air dan lain-lain. Adanya gula
yang terikat pada flavonoida (bentuk yang umum ditemukan) cenderung menyebabkan flavonoida lebih mudah larut

dalam air dan dengan demikian campuran pelarut yang disebut diatas dengan air merupakan pelarut yang lebih baik
untuk glikosida. Sebaliknya, aglikon yang kurang polar seperti isoflavon, flavanon dan flavon serta flavonol yang
termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam pelarut seperti Eter dan Kloroform. (Markham, 1988)

C. TEKNIK PEMISAHAN

Tujuan dari teknik pemisahan adalah untuk memisahkan komponen yang akan ditentukan berada dalam keadaan
murni, tidak tercampur dengan komponen-komponen lainnya. Ada 2 jenis teknik pemisahan:

Pemisahan kimia adalah suatu teknik pemisahan yang berdasarkan adanya perbedaan yang besar dari
sifat-sifat fisika komponen dalam campuran yang akan dipisahkan.

Pemisahan fisika adalah suatu teknik pemisahan yang didasarkan pada perbedaan-perbedaan kecil dari
sifat-sifat fisik antara senyawa-senyawa yang termasuk dalam suatu golongan. (Muldja, 1995)
1.

Kromatografi Lapis Tipis


Kromatografi Lapis Tipis pada plat berlapis yang berukuran lebih besar, biasanya 5x20 cm, 10x20 cm, atau

20x20 cm. Biasanya memerlukan waktu pengembangan 30 menit sampai satu jam. Pada hakikatnya KLT melibatkan
dua fase yaitu fase diam atau sifat lapisan, dan fase gerak atau campuran pelarut pengembang. Fase diam dapat

berupa serbuk halus yang berfungsi sebagai permukaan penyerap atau penyangga untuk lapisan zat cair. Fase gerak
dapat berupa hampir segala macam pelarut atau campuran pelarut. (Sudjadi, 1986)

9|Page

Pemisahan senyawa dengan Kromatografi Lapis Tipis seperti senyawa organik alam dan senyawa organik
sintetik dapat dilakukan dalam beberapa menit dengan alat yang harganya tidak terlalu mahal. Jumlah cuplikan
beberapa mikrogram atau sebanyak 5g dapat ditangani. Kelebihan KLT yang lain ialah pemakaian jumlah pelarut dan

jumlah cuplikan yang sedikit. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan salah satu metode pemisahan yang cukup
sederhana yaitu dengan menggunakan plat kaca yang dilapisi silika gel dengan menggunakan pelarut tertentu.
(Gritter,1991)

Nilai utama Kromatografi Lapis Tipis pada penelitian senyawa flavonoida ialah sebagai cara analisis cepat

yang memerlukan bahan sangat sedikit. Menurut Markham, Kromatografi Lapis Tipis terutama berguna untuk tujuan
berikut:

Mencari pelarut untuk kromatografi kolom

Analisis fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom

Identifikasi flavonoida secara ko-kromatografi.

Isolasi flavonoida murni skala kecil

Penyerap dan pengembang yang digunakan umumnya sama dengan penyerap dan pengembang pada
kromatografi kolom dan kromatografi kertas. (Markham, 1988)

2.

Ekstraksi
Ekstraksi dapat dilakukan dengan metoda maserasi, sokletasi, dan perkolasi. Sebelum ekstraksi dilakukan,

biasanya serbuk tumbuhan dikeringkan lalu dihaluskan dengan derajat kehalusan tertentu, kemudian diekstraksi dengan
salah satu cara di atas. Ekstraksi dengan metoda sokletasi dapat

dilakukan secara bertingkat dengan berbagai

pelarut berdasarkan kepolarannya, misalnya n-heksana, Eter, Benzena, Kloroform, Etil asetat, Etanol, Metanol, dan Air.

Ekstraksi dianggap selesai bila tetesan terakhir memberikan reaksi negatif terhadap senyawa yang diekstraksi. Untuk
mendapatkan larutan ekstrak yang pekat biasanya pelarut ekstrak diuapkan dengan menggunakan alat rotari
evaporator. (Harborne, 1996)

10 | P a g e

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah pelarut n-heksana, n-butanol, asam asetat,
metanol, amoniak, dan standar rutin dari produk E. Merck. Sedangkan bahan pendukung yang digunakan adalah
akuades, dan kertas saring. Peralatan yang digunakan selama penelitian adalah pisau antikarat, loyang, oven, neraca

analitik, blender, seperangkat soxhlet, kromatografi lapis tipis (KLT) kresgel 60 F 254 E. Merck, Chamber KLT,
Lampu UV 254 nm dan 366 nm, Spektrofotometer UV-Vis Hitachi seri U-2800, serta peralatan gelas laboratorium.
Sampel yang digunakan adalah buah mahkota dewa dari koleksi peneliti yang ditanam di dusun Mangiran, Trimurti,
Srandakan, Bantul, Jogjakarta. Sampel yang digunakan adalah buah yang bentuknya utuh (tidak cacat) dan diambil
pada sore hari.
Tahapan Penelitian:

1.

Ekstraksi daging buah mahkota dewa menggunakan pelarut metanol

Sampel dihaluskan dengan menggunakan blender, kemudian dikemas dengan menggunakan kertas saring

sedemikian rupa sehingga ukurannya sesuai dengan kapasitas ekstraktor. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan
soxhlet melalui 2 tahap. Tahap pertama dengan pelarut n-heksana selama 5-7 jam untuk menghilangkan komponen
yang bersifat non polar.

Residu didiamkan selama 1 malam dalam keadaan terendam n-heksana. Fraksi n-heksana diambil dan

residu diekstraksi dengan metanol selama 5-7 jam. Residu didiamkan selama 1 malam dalam keadaan terendam
dalam metanol. Penelitian difokuskan pada ekstrak metanol dan fraksi yang diperoleh kemudian difraksinasi dengan
kromatografi lapis tipis.

2.

Fraksinasi ekstrak metanol menggunakan Kromatografi Lapis Tipis

Fraksinasi dilakukan untuk mendapatkan isolate (ekstrak) murni flavonoid dari ekstrak metanol daging buah

mahkota dewa. Pada tahapan ini dilakukan optimasi eluen yang akan digunakan untuk mendapatkan isolat murni
dengan menggunakan plat KLT kresgel G 60 F 254 (Carollo, 2006; Urzua, 2004) 3x10 cm. Eluen yang digunakan
adalah fase atas n-butanol : asam asetat : air, 9 : 2 : 6 (v/v) atau BAA (Rohyami, 2007). Elusi dilakukan setelah
chamber KLT penuh dengan uap eluen, didiamkan sekitar 510 menit. Untuk mendeteksi bercak dilakukan dengan
menggunakan lampu UV pada panjang gelombang 254 nm dan 366 nm. Bercak ditandai dengan menggunakan
pensil.

Pembuktian kemurnian isolat flavonoid dilakukan dengan kromatografi lapis tipis dua dimensi. Elusi dilakukan

pada plat KLT 6x6 cm. Ekstrak kloroform ditotolkan 1 cm dari tepi bawah kanan. Eluen yang digunakan pada
pengembangan pertama adalah eluen terbaik yang telah diperoleh dari hasil identifikasi pendahuluan. Pengembangan
kedua menggunakan pelarut asam asetat 15%. Posisi plat yang dielusi adalah posisi 90o dari kondisi mula-mula.

Jika sudah diperoleh isolat murni pada tahapan di atas, kemudian dilakukan fraksinasi dengan KLT preparatif.

Deteksi dilakukan dengan menggunakan lampu UV 366 nm. Bercak yang berupa pita diberi tanda dengan pensil.
Setiap bercak yang diperoleh dikerok dan dilarutkan dalam metanol.

11 | P a g e

3.

Penentuan kandungan flavonoid dalam ekstrak metanol daging buah mahkota dewa menggunakan
Spektrofotometer UV-Vis

Analisis dilakukan dengan tahapan pembuatan larutan standar, yakni dengan menggunakan larutan standar
flavonoid rutin, optimasi panjang gelombang, penentuan absorbansi isolat murni senyawa flavonoid, dan kalibrasi hasil
pengukuran dengan standar yang sudah dibuat. Larutan standar yang digunakan adalah senyawa flavonoid rutin
dengan konsentrasi 0, 10, 20, 30, 40, dan 50 mg.L-1 masing-masing dibuat 25 Ml dalam pelarut metanol dari
larutan standar induk 1000 mg.L-1.

Mula-mula ditimbang 1000 g senyawa rutin kemudian dimasukkan dalam gelas piala 100 mL dan dilarutkan

dengan sekitar 50 mL metanol dan diaduk hingga homogen. Larutan kemudian dipindahkan ke dalam labu takar
1000 mL dan ditambahkan methanol sampai tanda dan digojog hingga homogen. Larutan standar induk kemudian
diencerkan menjadi 100 mg.L-1 dengan dipipet dengan teliti sebanyak 10 mL larutan kemudian diencerkan dengan

labu takar 100 mL dengan metanol sampai tanda batas. Larutan standar 10, 20, 30, 40, dan 50 mg.L-1 dibuat
dengan dipipet dengan teliti 2,5; 5,0; 7,5; 10,0; dan 12,5 mL larutan standar 100 mg.L-1 masing-masing diencerkan
dengan pelarut metanol dalam labu takar 25 mL sampai tanda dan digojog hingga homogen. Blanko yang digunakan
adalah metanol murni.

Optimasi panjang gelombang dilakukan untuk

menentukan panjang gelombang maksimum yang akan

digunakan dalam pengukuran menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan menggunakan salah satu larutan standar
rutin. Langkah selanjutnya adalah penentuan absorbansi larutan standar pada panjang
dilanjutkan dengan penentuan absorbansi sampel.

gelombang maksimum

Absorbansi fraksi flavonoid dikalibrasikan dengan kurva konsentrasi standar versus absorbansi standar

dengan persamaan regresi linear. Hasil yang diperoleh diperhitungkan dengan faktor pengenceran sehingga diperoleh
konsentrasi flavonoid yang terdapat dalam ekstrak metanol daging buah mahkota dewa.

12 | P a g e

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. PREPARASI SAMPEL
Buah mahkota dewa yang digunakan adalah buah mahkota dewa yang tidak cacat. Pemilihan sampel harus
diperhatikan dengan cermat untuk menghindari komposisi kimia sampel yang tidak representatif. Buah yang tidak utuh

(cacat) telah mengalami kerusakan pada jaringan sel sehingga komposisinya akan berbeda dengan komposisi buah
yang utuh.

Buah yang digunakan merupakan bahan segar yang baru dipetik dari pohon mahkota dewa yang ditanam

di Dusun Mangiran, Trimurti, Srandakan, Bantul, Jogjakarta pada hari Senin, 18 Februari 2008. Pengambilan buah
dilakukan pada 1 pohon yang telah berusia 4 tahun. Buah mahkota dewa yang dianalisis adalah buah yang masih

mentah dan buah yang sudah masak. Sampel yang masih mentah merupakan buah mahkota dewa yang masih
berwarna hijau, dagingnya lebih kenyal, dan cangkang bijinya masih lunak diberi kode Masak R1R3. Sedangkan
buah yang telah masak berwarna merah marun, daging buahnya berserat, dan cangkang bijinya lebih keras diberi
kode Mentah R1R3.

Buah dipetik pada sore hari pada saat tidak berlangsung proses fotosintesis sehingga buah lebih tampak

segar sebelum preparasi. Kandungan getah dalam buat cukup tinggi, sehingga perlu didiamkan selama 2 hari agar
getah mengering. Getah ini cukup keras dan bisa melepuhkan kulit dan dapat menyebabkan pisau tumpul.

Identifikasi flavonoid dilakukan pada daging buah mahkota dewa. Bagian kulit, cangkang, dan biji dipisahkan dari
dagingnya. Bagian kulit dipisahkan dengan cara dikupas dengan pisau anti karat yang steril. Buah dibelah agar
bagian cangkang dan bijinya mudah dipisahkan. Bagian daging dipotong kecil-kecil untuk mempercepat proses
pengeringan dan mempermudah penggilingan.

Daging buah mahkota dewa yang telah diiris dikeringkan sampai diperoleh perbandingan segar dengan

bahan kering sebaiknya 10:3. Massa rata-rata dari 1400 g sampel buah segar diperoleh sampel kering sebanyak 460
g. Pengeringan dimaksudkan untuk mengurangi kadar air, menghentikan reaksi enzimatis, dan mencegah tumbuhnya
jamur atau cendawan sehingga dapat disimpan lebih lama dan tidak mudah rusak sehingga komposisi kimianya tidak
mengalami perubahan.

Bahan kering yang diperoleh digiling dengan blender sehingga diperoleh serat halus daging buah mahkota

dewa. Ukuran bahan yang akan diekstrak dapat mempengaruhi efisiensi ekstraksi. Ukuran bahan yang terlalu besar
mengakibatkan kontak antara komponen yang akan dipisahkan lebih kecil. Jika ukuran bahan lebih kecil, maka
pelarut lebih mudah berinteraksi dengan komponen yang akan dipisahkan.

2. EKSTRAKSI SOXHLET
Senyawa flavonoid yang terdapat dalam buah mahkota dewa dipisahkan dengan metode ekstraksi soxhlet.
Masing-masing sebanyak 20 g sampel daging buah mahkota dewa dibungkus rapat dengan kertas saring dan

dimasukkan ke dalam soxhlet. Pelarut dimasukkan ke dalam labu alas bulat melalui bagian atas soxhlet agar terjadi
kontak antara bahan yang akan diekstrak.

13 | P a g e

Ekstraksi dilakukan menggunakan penangas air untuk menjaga agar tidak terjadi kelebihan temperature

selama pemanasan. Ekstraksi dilakukan selama 5 jam, sehingga perlu dihindari terjadinya bumping. Sebelum pelarut

dimasukkan, 3 butir batu didih dimasukkan ke dalam labu alas bulat. Selain untuk mencegah terjadinya bumping,
batu didih dapat berfungsi untuk meratakan panas.

Adanya pemanasan, pelarut akan mencapai titik didihnya. Pada saat pelarut mendidih, terjadi kesetimbangan

antara fasa uap dengan fasa cair dalam labu alas bulat. Fasa uap keluar melalui pipa menuju ke pendingin dan
akhirnya mengembun. Embun menetes pada soxhlet mengenai serbuk daging buah mahkota dewa. Pelarut ditampung
dalam soxhlet untuk sementara waktu sampai tingginya mencapai tinggi pipa kapiler.

Selama ditampung di dalam soxhlet terjadi kontak yang lebih lama antara bahan yang diekstrak dengan

pelarut sehingga pemisahan lebih optimal. Setelah tingginya sama dengan tinggi pipa kapiler, pelarut yang telah
membawa komponen yang akan dipisahkan kembali ke labu alas bulat. Pelarut akan mendidih kembali dan menguap
menuju kondensor. Komponen yang dipisahkan tetap berada dalam labu alas bulat. Proses ini berlangsung secara
terus-menerus sampai komponen yang akan dipisahkan dapat larut dalam pelarut.
pelarut

Ekstraksi dilakukan dua langkah, yaitu ekstraksi menggunakan pelarut n-heksana dan ekstraksi menggunakan

metanol

80%.

Ekstraksi

yang

dilakukan

dengan

menggunakan

pelarut

n-heksana

dimaksudkan

untuk

memisahkan senyawa-senyawa non polar yang terdapat dalam daging buah mahkota dewa. Pelarut ini termasuk
pelarut non polar, sehingga dapat melarutkan senyawa-senyawa non polar yang terdapat didalamnya.

Pelarut n-heksana yang digunakan untuk memisahkan senyawa non polar sebanyak 250 mL. Ekstraksi

berlangsung terus-menerus sampai fraksi nheksana menjadi tidak berwarna. Ekstraksi berlangsung selama 5 jam. Agar
pemisahan lebih optimal, ekstrak didiamkan selama satu malam. Pemanasan dihentikan ketika soxhlet mendekati
penuh, sehingga pada saat didiamkan selama 1 malam residu dalam keadaan terendam n-heksana.

Senyawa flavonoid dipisahkan dengan pelarut metanol. Residu yang telah terbebas dari senyawa non polar

diekstrak dengan 250 mL metanol. Ekstraksi dilakukan sampai metanol yang berada dalam soxhlet menjadi tidak
berwarna. Proses ini berlangsung selama 5 jam. Untuk mendapatkan flavonoid yang optimal, ekstrak didiamkan

selama 1 malam pada saat bahan yang diekstrak terendam metanol. Hasil pengamatan ekstraksi dengan n-heksana
dan metanol dapat ditunjukkan pada tabel 1.
Tabel 1. Data pengamatan warna ekstrak n-heksana dan metanol
No

Sampel

Ekstrak n-heksana

Ekstrak metanol

Masak

Coklat kekuningan

Coklat

Mentah

Hijau

Hijau tua

Ekstrak n-heksana pada sampel buah masak yang diperoleh berwarna kuning tua sedangkan pada sampel

buah mentah berwarna hijau. Ekstrak ini mengandung senyawa-senyawa nonpolar yang terdapat dalam daging buah
mahkota dewa. Buah yang masih mentah mengandung lebih banyak klorofil sehingga ekstraknya berwarna hijau,
begitu pula pada ekstrak metanolnya. Ekstrak metanol pada sampel masak dan mentah inilah yang selanjutnya akan
diidentifikasi adanya senyawa flavonoid yang diduga merupakan senyawa yang berperan sebagai antioksidan.

3. FRAKSINASI MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS


Kromatografi lapis tipis merupakan cara sederhana pada identifikasi pendahuluan senyawa flavonoid. Data
yang diperoleh berupa harga Rf dan warna bercak kromatogram yang diperoleh dari pengembangan bercak pada plat

14 | P a g e

kromatografi lapis tipis. Metode ini juga bermanfaat pada pemisahan flavonoid, baik menggunakan KLT preparatif
maupun menggunakan kromatografi kolom.

Fasa diam yang digunakan adalah silika gel G yang dilekatkan pada plat aluminium. Pengembangan

dilakukan pada plat KLT dengan ukuran 3x10 cm dengan eluen n-butanol: asam asetat: air (BAA) dengan

perbandingan BAA, 9:2:6 (v/v). Penotolan dilakukan 1 cm dari batas bawah plat KLT dengan menggunakan pipet
mikro. Noda dikeringkan dengan diletakkan di bawah kipas angin. Eluen dimasukkan dalam bejana pengembang

setinggi 0,5 cm. Bejana yang digunakan harus tertutup rapat dan didiamkan selama sekitar 10 menit agar terjadi
kesetimbangan uap eluen. Pengembangan dilakukan dilakukan dalam bejana penuh uap eluen dan tertutup rapat agar
pemisahan berlangsunglebih sempurna. Bercak yang diperoleh dikeringkan di bawah kipas angin. Deteksi bercak
dilakukan dengan lampu UV 366 nm. Bercak yang diperoleh ditandai dengan pensil.

Kemurnian isolat flavonoid dibuktikan dengan kromatografi lapis tipis dua dimensi. Pengembangan dilakukan

pada plat KLT 10x10 cm. Eluen sebagai pengembang pertama menggunakan fase atas BAA (9:2:6 v/v) dan
pengembang kedua menggunakan asam asetat 15% v/v. Metode ini merupakan cara sederhana untuk menentukan
kemurnian

isolat

flavonoid.

Bercak

yang

dihasilkan

pada

pengembangan

pertama

dikeringkan

terlebih

dahulu

menggunakan kipas angin, sebelum dilakukan pengembangan dengan asam asetat 15%. Hasil pengembangan
membuktikan bahwa tidak ada bercak baru setelah dilakukan pengembangan kedua dengan eluen asam asetat 15%
v/v.

Identifikasi pendahuluan flavonoid dengan KLT berguna dalam pemisahan flavonoid menggunakan KLT

preparatif. Eluen terbaik pada identifikasi pendahuluan digunakan untuk pemisahan flavonoid dari fraksi metanol
daging buah mahkota dewa. Prinsip pemisahan pada KLT preparatif tidak berbeda dengan pemisahan pada KLT.
Ukuran plat yang ideal adalah 20 x 20 cm, tetapi ukuran ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Pemisahan flavonoid dilakukan pada 3 buah plat KLT dengan ukuran 5x10 cm. Penotolan dilakukan dengan bentuk
pita yang lebarnya sekitar 5 mm dengan 0,5 mL fraksi metanol dari masing-masing sampel. Eluen yang digunakan
adalah fasa atas BAA (9:2:6 v/v). Pengembangan dilakukan pada bejana penuh uap eluen agar pemisahan lebih
sempurna.

Bercak dideteksi dengan lampu UV 366 nm dan diberi tanda dengan pensil. Bercak yang dihasilkan berupa

pita dan bercak yang mempunyai warna sama dengan bercak pada identifikasi pendahuluan akan mempunyai harga
Rf yang sama. Bercak pertama berwarna lembayung dengan harga Rf 81,82 disebut sebagai fraksi 1, bercak kedua
berwarna kuning redup dengan harga Rf 72,73 disebut sebagai fraksi 2 dikumpulkan kemudian dikerok dan dilarutkan
dalam metanol. Campuran bercak dengan padatan silika gel dipisahkan dengan disaring menggunakan kertas saring
Whatman No.1, sehingga diperoleh fraksi metanol yang jernih.

4. PENENTUAN KANDUNGAN FLAVONOID MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMOTER


UV-Vis
Analisis dilakukan dengan tahapan pembuatan larutan standar, yakni dengan menggunakan larutan standar
flavonoid rutin, optimasi panjang gelombang, penentuan absorbansi isolat murni senyawa flavonoid, dan kalibrasi hasil
pengukuran dengan standar yang sudah dibuat. Larutan standar yang digunakan adalah senyawa flavonoid rutin
dengan konsentrasi 0, 10, 20, 30, 40, dan 50 mg.L-1 masing-masing dibuat 25 mL dalam pelarut metanol dari
larutan standar induk 1000 mg.L-1. Konsentrasi 0 mg.L-1 adalah konsentrasi blanko berupa metanol murni.
Langkah

pertama

analisis

adalah

dengan

melakukan

optimasi

panjang

gelombang

dilakukan

untuk

menentukan panjang gelombang maksimum yang akan digunakan dalam pengukuran menggunakan spektrofotometer

15 | P a g e

UV-Vis dengan menggunakan salah satu larutan standar rutin. Dari hasil pengukuran diperoleh tiga panjang
gelombang maksimum khas senyawa rutin, yaitu pada panjang gelombang 211 nm, 257 nm, dan 357 nm. Pada
pengukuran absorbansi larutan standar dan sampel dipilih pada panjang gelombang 257 nm pada puncak serapan

maksimum medium. Hasil pengukuran absorbansi standar pada panjang gelombang 257 nm dapat diperoleh data
yang dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Penentuan absorbansi larutan standar rutin


No

Konsentrasi, C
(mg.L-1)

Absorbansi, A

10

0.349

20

0.629

30

0.911

40

1.258

50

1.547

Berdasarkan hasil penentuan absorbansi larutan standar tersebut dapat digambarkan kurva kalibrasi larutan standar
berupa grafik kurva konsentrasi (C) versus absorbansi (A) yang dapat ditunjukkan pada gambar 3.

Gambar 3. Kurva kalibrasi larutan standar rutin


Berdasarkan hasil pengukuran absorbansi larutan standar pada berbagai konsentrasi maka kurva kalibrasi
larutan standar senyawa flavonoid rutin diperoleh hubungan yang linear antara absorbansi dengan konsentrasi yang
ditunjukkan dengan pengukuran linearitas sebesar 0,9989. Besarnya linearitas ini mendekati nilai satu sehingga dapat

dikatakan bahwa absorbansi merupakan fungsi yang besarnya berbanding lurus dengan konsentrasi dan mengikuti
persamaan regresi linear sebagai berikut:

y = A + B x
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai intersep sebesar 0,0149 dan slope sebesar 0,0307 sehingga

persamaan yang diperoleh dari kurva pada gambar 2 adalah:

y = 0,0149 + 0,0307 x

x: konsentrasi (C) mg.L-1


y: absorbansi (A)
Persamaan di atas pada kurva kalibrasi standar senyawa flavonoid rutin tersebut digunakan sebagai
pembanding dalam analisis kuantitaif pada pengukuran kandungan senyawa flavonoid rutin ekstrak methanol daging
buah mahkiota dewa. Berdasarkan hasil pengukuran pada sampel daging buah masak dan mentah

16 | P a g e

diperoleh data yang ditunjukkan pada tabel 3.


Tabel 3. Penentuan absorbansi sampel daging buah mahkota dewa
No

Sampel

Absorbansi

Masak R1

0.089

Masak R2

0.089

Masak R3

0.090

Mentah R1

0.214

Mentah R2

0.217

Mentah R3

0.217

Absorbansi pada pengukuran sampel kemudian dikalibrasikan dengan persamaan regresi linear dari kurva
konsentrasi standar versus absorbansi standar dengan persamaan y = 0,0149 + 0,0307x. Hasil yang diperoleh

diperhitungkan dengan faktor pengenceran sehingga diperoleh konsentrasi flavonoid yang terdapat dalam ekstrak
metanol daging buah mahkota dewa. Hasil perhitungan pengukuran sampel dapat ditunjukkan oleh tabel 4.
Tabel 4. Kandungan flavonoid pada daging buah mahkota dewa
No

Sampel

Konsentrasi

Pengenceran

Masak R1

0,017636808

100 kali

1,7637

Masak R2

0,017636808

100 kali

1,7637

Masak R3

0,017667505

100 kali

1,7667

Mentah R1

0,021473950

100 kali

2,1474

Mentah R2

0,021566042

100 kali

2,1566

Mentah R3

0,021566042

100 kali

2,1566

(mg.L-1)

Kadar

(mg.L-1)

Hasil pengukuran kandungan flavonoid dengan menggunakan metode spektrofotometer UV-Vis menunjukkan
bahwa kandungan senyawa flavonoid ratarata pada daging buah yang telah masak adalah 1,7647 mg.L-1 sedangkan
pada sampel daging buah mahkota dewa yang masih mentah adalah 2,1535 mg.L-1. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa dalam 1 liter ekstrak metanol daging buah mahkota dewa masak mengandung 1,7647 mg senyawa flavonoid,

sedangkan dalam ekstrak daging buah yang masih mentah mengandung 2,1535 mg. Konsentrasi yang diperoleh
dapat dikonversikan dalam satuan mg.kg-1 dengan menggunakan rumus:

Dengan demikian prosentase massa senyawa flavonoid dapat ditentukan dengan perhitungan:

Banyaknya sampel yang diekstrak adalah 20g sehingga prosentasenya dikalikan dengan 20 kalinya karena

perhitungan di atas adalah kadar dalam setiap 100 mg atau 1 gram bahan kering buah mahkota dewa. Hasil
konversi perolehan kandungan senyawa flavonoid dari hasil perhitungan di atas dapat ditunjukkan pada tabel 5.

17 | P a g e

Tabel 5. Konversi kadar flavonoid pada ekstrak metanol buah mahkota dewa
No

Sampel

Masak R1

2
3

Kadar

(mg.L-1)

Kadar

(mg.kg-1)

% Flavonoid

1,7637

2,2325

0,00446

Masak R2

1,7637

2,2325

0,00446

Masak R3

1,7667

2,2364

0,00447

Mentah R1

2,1474

2,7182

0,00544

Mentah R2

2,1566

2,7298

0,00546

Mentah R3

2,1566

2,7298

0,00546

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan senyawa flavonoid rata-rata pada ekstrak metanol daging

buah mahkota dewa yang masih mentah adalah 2,7559 mg.kg-1 atau 0,005453% yang menunjukkan 22% relative
lebih banyak daripada daging buah mahkota dewa yang telah masak yang hanya mengandung 2,2334 mg.kg-1 atau
0,004463% dari masa sampel keringnya. Senyawa flavonoid yang terkandung dalam ekstrak methanol daging buah

mahkota dewa merupakan hasil metabolisme sekunder yang ketika buah semakin masak maka akan terjadi
biosintesis menjadi bentuk yang berbeda, sehingga dapat disarankan agar pemanfaatan daging buah mahkota dewa
sebagai herbal yang potensial sebagai agen antioksidan dengan menggunakan buah yang masih mentah.

18 | P a g e

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil pengukuran flavonoid dari ekstrak methanol

daging buah mahkota dewa menggunakan spektrofotometer UV-Vis dapat ditunjukkan bahwa kandungan senyawa
flavonoid pada buah masak rata-rata 1,7647 mg.L-1 atau 2,2334 mg.kg-1 atau 0,004463% dan pada buah mentah
rata-rata adalah 2,1535 mg.L-1 atau 2,7559 mg.kg-1 atau 0,005453%.

B. SARAN
Saran yang dapat diberikn adalah pemanfaatan senyawa antioksidan pada daging buah mahkota dewa
sebaiknya menggunakan buah yang masih mentah dengan kandungan senyawa flavonoid yang lebih banyak. Perlu

dilakukan penelitian lebih lanjut tentang perbandingan kandungan flovonoid pada buah mahkota dewa yang ditanam di
berbagai lokasi. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang uji aktivitas isolat flavonoid pada buah masak dan
pada buah mentah.

19 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
Copriady, J. dkk., 2002, Gallokatekin: Senyawa Flavonoid Lainnya dari Kulit Batang Rengas (Gluta renghas

Linn.), Jurnal Natur Indonesia, 4 (1).

Carollo, C.A., et.al., 2006, Alkaloids and Flavonoid from Aeral Parts (Leaves and Twigs) of Duguetia
Furfuracea-Annonaceae, J. Chil. Chem. Soc., Vol. 51, No 2, 2006.

Carbonaro, M., et.al, 2005, Absorption of Quercetin and Rutin in Rat Small Intestine, Annals of Nutrition
and Metabolism 2005;49:178-182 (DOI: 10.1159/000086882).

Dewanti, W,.T., Wulan, S.N., dan Nur, C.I., 2004, Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Produk Kering,

Instan, dan Effervescent dari Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa), Prosiding Seminar Nasional dan
Kongres Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) di Jakarta 17-18 Desember 2004.

Eni, M.I., 1998, Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dari Ekstrak Kloroform Daun Kecombrang (Nicolia

speciosa Horan), Skripsi,Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gajah Mada,
Jogjakarta.

Furusawa, M., et.al., 2005, Antioxidant Activity of Hidroxyflavonoids, Journal of Health Science Vol. 51 2005.

Hanani, E., dkk, 2005, Identifikasi Senyawa Antioksidan dalam Spon Callyspongia sp dari Kepulauan Seribu,
Majalah Ilmu Kefarmasian Vol. II, No.3 Desember 2005.

Handayani, S.N., 1998, Isolasi Isoflavon dan Arekolin dalam Ekstrak Kloroform Biji Pinang (Areca catethu L.)

dengan Metode Kromatografi Kolom, Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Gajah Mada, Jogjakarta.

Harborne, J.B., 1987, Phytochemical Methods, Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Sudiro,
Penerbit ITB, Bandung.

Harmanto, N., 2001, Mahkota Dewa: Obat Pusaka Para Dewa, Agromedia Pustaka, Jakarta.

Harmanto, N., 2003, Menaklukkan Penyakit Bersama mahkota Dewa, Agromedia Pustaka, Jakarta.
Istiningrum,

macrocarpa

R.B.,

Boerl)

2003,

Identifikasi Flavonoid

Menggunakan

dari

Spektrofotometer

Ekstrak

UV-Vis,

Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta.

Metanol Daun

Skripsi,

Fakultas

Mahkota Dewa
Matematika

(Phaleria

dan

Ilmu

Lisdawati, V., 2002, Buah Mahkota Dewa-Toksisitas, Efek Antioksidan, dan Efek Anti Kanker Berdasarkan Uji

Penapisan Farmakologi, www.mahkotadewa.com.

Lusiana, 2006, Formulasi Tablet Efervesen Ekstrak Air Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.)

Boerl), Thesis, Departemen Farmasi ITB.

Marby, J.T., Markham, K.R., Thomas, M.B., 1970, The Systematic Identification of Flavonoids, Springer
Verlag, Berlin.

Markham, K.R., 1988, Techniques of Flavonoids Identification, diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata,
Penerbit ITB, Bandung.

Meloan, C.E., 1999, Chemical Separations: Principles, Techniques, and Experiments, John Wiley and Sons
Inc., New York.

Mursiti, H. ,2002, Uji Toksikologi Hasil Fraksinasi Ekstrak Kloroform Biji Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa

Scheff. Boerl) terhadap Artemia salina Leach dan Profil kromatogram Hasil Kromatografi Lapis Tipisnya,
Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, Jogjakarta.

20 | P a g e

Nawawi A. 2004, Isolasi Benzofeneon dari Daun Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.)Boerl, Acta
Pharmaceutika Indonesia.

Pratiwi, R.W. 2002, Uji Toksisitas Daun Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa Scheff. Boerl) terhadap Artemia

salina serta Profil Kromatogram Kromatografi Lapis Tipis Ekstrak Aktif, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas
Gajah Mada, Jogjakarta.

Primsa, E. ,2002, Efek Hipoglikemik Influsia Simpliasia Daging Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa Scheff

Boerl) pada Tikus Jantan Putih, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, Jogjakarta.

Purwaningsih, D., 2001, Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dari Daun Kacang Panjang (Vigna

sinensis L. savi ex Hessk), Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gajah
Mada, Jogjakarta.

Robinson, T., 1991, The Organic Constituens of Higher Plants, 6th Ed., Diterjemahkan oleh Kosasih
Padmawinata, Penerbit ITB, Bandung.

Rohyami Y, Shabur, T.J.2003, Isolasi dan Identifikasi Flavonoid dari Ekstrak Metanol Daging Buah Mahkota

Dewa (Phaleria macrocarpa Boerl) Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis, Prosiding Seminar Nasional
Farmasi UII, Jogjakarta.

Rohyami Y, 2007, Identifikasi Flavonoid dari Ekstrak Metanol Daging Buah Mahkota Dewa (Phaleria

macrocarpa Boerl) Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis dan FT-IR, Laporan Penelitian PDM DIKTI 2007.

Sant, J., 2002, Makuthodewo dan Oleander Dijagokan Melawan Kanker, Minggu Pagi, Minggu V, September
2002.

Setyawati, M., W., 2003, Naluri Bisnis Muncul Saat Krisis, Kompas Senin, 17 Februari 2003.
Siswono, 2001, Mahkota Dewa Racun Irian yang Berkhasiat, Gizi.net 4 Oktober 2001.

Slimestad, R., et.al., 2005, Flavonoids from black chokeberries, Aronia melanocarpa, Journal of Food
Composition and Analysis, Volume 18, Issue 1, February 2005, Pages 61-68.

Sugiwati, S., et. al., 2006, -Glucosidase Inhibitory Activity and Hypoglycemic Effect of Phaleria macrocarpa

Fruit Pericarp Extract by Oral Administration to Rats, Journal of Appied Sciences 6 (10): 2312 2316 2006
ISSN 1812-5654.

Sumastuti, 2002, Efek Antihistamin Ekstrak Daun dan Buah Mahkota Dewa pada Ileum Marmot Terpisah,
www.mahkotadewa.com.

Urzua, A, 2004, Secondary Metabolities in the Epicuticle of Haplopappus Foliosus Dc. (Asteraceae), J. Chil.
Chem. Soc., Vol 49, No 2, 2004.

Williams, D.G., 1994, Quercetin-Protect Your Helth with This Important Flavonoid, Immune support.com 4
Januari 1994.

Yudana, I.G.A., 2002, Mahkota Dewa Musuh Baru Aneka Penyakit, Intisari, Januari 2002.

Burkill IH. A dictionary of the economic products of the malay penninsula. Vol. II. Kuala Lumpur: Ministry
of Agriculture and Co-operatives; 1988. p. 1732.

Harmanto N. Sehat dengan ramuan tradisional mahkota dewa. Cetakan Keempat. Tangerang: PT. Agromedia
Pustaka; 2002. hal. 5.

Harmanto N. Conquering disease in unison with mahkota dewa Phaleria macrocarpa. First edition. Jakarta:
PT Mahkotadewa Indonesia; 2003. p. 14.

Harmanto N. Mahkota dewa, obat pusaka para dewa. Jakarta: Penerbit Agromedia Pustaka; 2003. hal. 19.

De PLS, Bunyapraphatsara N, Lemmens RHMS. Plant resources of south east asia. medical and poisonous
plants. Printed in Bogor Indonesia (PROSEA). Leyden: Backhuys Publishers; 1999. p. 36.

21 | P a g e

Gotama IBI, Sugiarto S, Nurhadi M, Widiyastuti Y, Wahyono S, Prapti IJ. Inventaris tanaman obat
Indonesia. Jilid V. Jakarta: Departemen Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 1999.
hal. 147-8.

Hartati SM, Sofia M, Gandjar IG, Hamann MT, Rao KV, Wahyuono S. Phalerin, glukosida benzophenon
baru diisolasi dari ekstrak metanolik dan mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff). Boerl.]. Majalah
Farmasi Indonesia. 2005.16(1):51-7.

Tambunan R, Simanjuntak P. Penentuan struktur kimia antioksidan benzofenon glikosida dari ekstrak nbutanol

buah

2006.17(4):1849.

mahkota

dewa

{Phaleria

macrocarpa

(Scheff)

Boerl.)}.

Majalah

Farmasi

Indonesia.

Kalinowski H, Berger S, Braun S. Carbon 13 NMR spectroscopy. New York: John Wiley & Sons Publ;
1988. p. 128, 213.

22 | P a g e