Anda di halaman 1dari 14

PENGELOLAAN PENGELUARAN

DAERAH
TUGAS MATA KULIAH
Kinerja Keuangan Daerah

KELOMPOK II
1. Afif Fiskhinindya
2. Dian Sri Lestari M.
3. Kuswanto Aji
4. Indah Listyaningrum
5. M.A. Silman
6. M. Basrowi

PROGRAM PASCA
SARJANA
MAGISTER SAINS
ADMINISTRASI
PEMBANGUNAN
UNIVERSITAS
LAMBUNG
MANGKURAT

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ............................................................................................................................................. 1


I. PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 2
II. PERMASALAHAN ......................................................................................................................... 4
III. REKOMENDASI ............................................................................................................................ 11
IV. DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................... 13

I.

PENDAHULUAN
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 dan

perubahannya, Pengeluaran Daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah.
Pengeluaran daerah terdiri dari belanja dan pengeluaran pembiayaan daerah.
Sesuai dengan kelompoknya, belanja terdiri atas dua macam pengeluaran, yaitu
belanja langsung dan tidak langsung. Belanja langsung adalah belanja yang
dianggarkan terkait langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan yang
meliputi: belanja pegawai, belanja barang dan jasa, serta belanja modal.
Sedangkan belanja tidak langsung adalah belanja yang dianggarkan tidak terkait
secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan yang meliputi:
belanja pegawai, belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, bantuan sosial,
belanja bagi hasil, bantuan keuangan, dan belanja tak terduga. Adapun
pengeluaran pembiayaan, di antaranya untuk pembayaran pinjaman, penyertaan
modal pemerintah, belanja investasi permanen,dan pemberian pinjaman jangka
panjang.
Pengelolaan pengeluaran daerah ini dilaksanakan berdasarkan suatu
sistem yang terintegrasi yang diwujudkan dalam Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD).

Pengeluaran daerah dipergunakan untuk mendanai

pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah


daerah yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan, dan

urusan

bidang

tertentu.
Peraturan

Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 juga telah

menentukan bahwa segala pengeluaran daerah diprioritaskan untuk melindungi


dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi
kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar,
pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial, dan fasilitas umum yang layak serta
mengembangkan sistem jaminan sosial. Peningkatan kualitas kehidupan tersebut
diwujudkan melalui prestasi kerja dalam pencapaian standar pelayanan minimal
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Kepala daerah selaku kepala pemerintahan daerah adalah pemegang
kekuasaan pengelolaan keuangan daearah dimana pengeluaran daerah tersebut
di atas termasuk di dalamnya. Kepala daerah mempunyai kewenangan dan
kewajiban yang diatur oleh peraturan perundang-undangan terkait dengan
2

pengelolaan keuangan daearah tersebut. Dalam melaksanakan kekuasaannya,


kepala daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaan keuangan daerah
kepada

para

pejabat

perangkat

daerah.

Dengan

demikian

pengaturan

pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah melekat dan menjadi


satu dengan pengaturan pemerintahan daerah.
Ditjen Perimbangan Keuangan (2013:13) menjelaskan bahwa efektivitas
anggaran

pembangunan

mengukur

keberhasilan

pemerintah

dalam

mengalokasikan anggaran pembangunan sesuai dengan tujuan yang telah


ditentukan. Ada beberapa cara untuk mengukur keberhasilan tersebut,
diantaranya adalah dengan melihat seberapa besar pemerintah menentukan
alokasi nilai belanja untuk kepentingan publik, seberapa besar nilai belanja untuk
kepentingan publik tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan publik
dengan

optimal,

dan

seberapa

besar

optimalisasi

nilai

belanja

publik

mengakibatkan kegiatan-kegiatan ekonomi ikutan yang bermanfaat bagi


masyarakat sehingga menambah kesejahteraan masyarakat.
Paradigma baru dalam melihat pengelolaan keuangan daerah dimana
pemerintah dituntut untuk meningkatkan pengelolaan keuangan secara lebih
transparan dan akuntabel serta perencanaan APBD yang sistematis, terstruktur,
dan komprehensif diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan perekonomian
daerah dan peningkatan daya saing serta pendapatan masyarakat.
Dari uraian tersebut dapat dirumuskan suatu permasalahan apakah
pengelolaan pengeluaran daerah telah mendukung dan meningkatkan pelayanan
publik dengan indikator antara lain rasio realisasi belanja modal terhadap belanja
pegawai serta optimalisasi pelampauan pendapatan untuk program/kegiatan
yang mendukung pelayanan publik.

II.

PERMASALAHAN
Penganggaran APBD terkait dengan proses penentuan jumlah alokasi

dana untuk tiap-tiap program dan aktivitas pemerintahan daerah. Tahap


penganggaran menjadi sangat penting karena anggaran yang tidak efektif dan
tidak berorientasi pada kinerja akan dapat menggagalkan perencanaan yang
sudah disusun. Anggaran merupakan managerial plan for action untuk
memfasilitasi tercapainya tujuan kesejahteraan masyarakat.
Pembuatan anggaran dalam pemerintah daerah, merupakan sebuah
proses yang rumit dan mengandung muatan politis yang cukup signifikan.
Berbeda dengan penyusunan anggaran di perusahaan swasta yang muatan
politisnya relatif lebih kecil. Bagi Pemerintah Daerah, anggaran tidak hanya
sebuah rencana tahunan tetapi juga merupakan bentuk akuntabilitas atas
pengelolaan dana publik yang dibebankan kepadanya. Pemerintah Daerah
dikatakan mempunyai kinerja atau performa yang baik jika segala aktivitasnya
berada dalam kerangka anggaran dan tujuan yang ditetapkan. Pendekatan
kinerja disusun untuk mengatasi berbagai kelemahan yang terdapat dalam
anggaran tradisional, khususnya kelemahan yang disebabkan oleh tidak adanya
tolak ukur yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja dalam pencapaian
tujuan dan sasaran pelayanan publik.
Failing to plan is planning to fail (Alan Lakein). Kegagalan dalam
membuat rencana berarti merencanakan sebuah kegagalan. Kegagalan dalam
perencanaan APBD sama dengan merencanakan kegagalan Daerah tersebut
untuk mewujudkan kewajibannya, yaitu peningkatan kesejahteraan rakyat di
wilayahnya.
Permasalahan-permasalahan yang sering dijumpai dalam proses
penetapan anggaran pengeluaran di pemerintah daerah adalah:
1. Intervensi hak budget DPRD terlalu kuat dimana anggota DPRD sering
mengusulkan kegiatan-kegiatan yang menyimpang jauh dari usulan
masyarakat yang dihasilkan dalam Musrenbang. Jadwal reses DPRD
dengan proses Musrenbang yang tidak match misalnya Musrenbang
sudah dilakukan, baru DPRD reses mengakibatkan banyak usulan DPRD
yang kemudian muncul dan merubah hasil Musrenbang. Intervensi

legislatif ini kemungkinan didasari motif politis yakni kepentingan untuk


mencari dukungan konstituen sehingga anggota DPRD berperan seperti
sinterklas yang membagi-bagi proyek. Selain itu ada kemungkinan juga
didasari motif ekonomis yakni membuat proyek untuk mendapatkan
tambahan income bagi pribadi atau kelompoknya dengan mengharap bisa
intervensi

dalam

pelaksanaan

aspek

kegiatan.

pengadaan

barang

Intervensi hak budget

(procurement)
ini juga

atau

seringkali

mengakibatkan pembahasan RAPBD memakan waktu panjang untuk


negosiasi antara eksekutif dan legislatif. Salah satu strategi dari pihak
eksekutif untuk menjinakkan hak budget DPRD ini misalnya dengan
memberikan alokasi tertentu untuk DPRD missal dalam penyaluran
Bantuan Sosial (Bansos) ataupun pemberian Dana Aspirasi yang bisa
digunakan oleh anggota DPRD secara fleksibel untuk menjawab
permintaan masyarakat.
2. Pendekatan

partisipatif

dalam

perencanaan

melalui

mekanisme

musrenbang masih menjadi retorika. Perencanaan pembangunan masih


didominasi oleh: Kebijakan kepala daerah, hasil reses DPRD dan
Program

dari

SKPD.

Kondisi

ini

berakibat

timbulnya

akumulasi

kekecewaan di tingkat desa dan kecamatan yang sudah memenuhi


kewajiban membuat rencana tapi realisasinya sangat minim.
3. Ketersediaan dana yang tidak tepat waktu. Terpisahnya proses
perencanaan dan anggaran ini juga berlanjut pada saat penyediaan
anggaran. APBD disahkan pada bulan Desember tahun sebelumnya, tapi
dana seringkali lambat tersedia. Hal ini disebabkan ketersediaan dana
dipengaruhi oleh ketepatan waktu realisasi pendapatan baik yang
bersumber dari Dana Perimbangan maupun Pendapatan Asli Daerah.
Sehingga bukan hal yang aneh, walau tahun anggaran mulai per 1
Januari tapi sampai bulan Juli-pun anggaran program di tingkat SKPD
masih sulit didapatkan.
4. Rincian RPJPD ke RPJMD dan RPJMD ke RKPD seringkali tidak
nyambung (match). Ada kecenderungan dokumen RPJP ataupun
RPJM/Renstra SKPD seringkali tidak dijadikan acuan secara serius dalam
menyusun RKPD/Renja SKPD. Kondisi ini muncul salah satunya
disebabkan oleh kualitas tenaga perencana di SKPD yang terbatas
5

kuantitas dan kualitasnya. Dalam beberapa kasus ditemui perencanaan


hanya dibuat oleh Pengguna Anggaran dan Bendahara, dan kurang
melibatkan staf program sehingga banyak usulan kegiatan yang sifatnya
copy paste dari kegiatan yang lalu dan tidak visioner.
5. Koordinasi antar SKPD untuk proses perencanaan masih lemah sehingga
kegiatan yang dibangun jarang yang sinergis bahkan tidak jarang muncul
egosektoral. Ada suatu kasus dimana di suatu kawasan Dinas Kehutanan
mendorong program reboisasi tapi disisi lain Dinas Pertambangan
memprogramkan ekploitasi batubara di lokasi tersebut.
6. Terdapat SKPD dalam melaksanakan kegiatan tidak konsisten dengan
rencana yang telah dituangkan dalam DPA-SKPD, sehingga penyerapan
dana sebagian besar di akhir tahun anggaran;
7. Masih besarnya alokasi belanja yang terserap untuk belanja pegawai
sehingga menyebabkan alokasi untuk belanja yang lain berkurang;
8. Belum terciptanya tingkat efisiensi belanja sesuai yang tugas pokok dan
fungsi masing-masing SKPD;
9. Kebutuhan

peningkatan

ketersediaan

infrastruktur

memerlukan

pembiayaan yang relatif besar yang belum proporsional dengan sumbersumber pendapatan yang tersedia;
10. Adanya

kegiatan

yang

belum

dapat

dibiayai

disebabkan

oleh

keterbatasan keuangan daerah;


11. Pengawasan pelaksanaan pengeluaran daerah oleh APIP seperti
inspektorat belum maksimal;
Secara umum, permasalahan yang dihadapi dalam belanja daerah
adalah masih dominannya belanja tidak langsung dibandingkan dengan belanja
dalam komposisi belanja daerah di APBD. Akibatnya belanja langsung yang pada
dasarnya digunakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pmenuhan hak
layanan dasar bagi masyarakat belum optimal.
Dalam kurun waktu dua tahun yaitu 2011 s.d. 2012, pemerintah daerah
di Provinsi Kalimantan Selatan rata-rata hanya memiliki rasio Belanja Modal dan
Pengeluaran Pembiayaan terhadap Belanja Pegawai sebesar 59% s.d. 70%
dengan uraian sebagai berikut.

No.

Pemerintah

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Provinsi Kalimantan Selatan


Kota Banjarmasin
Kab Banjar
Kab Tanah Bumbu
Kab Hulu Sungai Tengah
Kab Hulu Sungai Utara
Kab Balangan
Kab Hulu Sungai Selatan
Kab Tanah Laut
Kab Tapin
Kab Barito Kuala
Kab Kotabaru
Kab Tabalong
Kota Banjarbaru

Rasio Realisasi Belanja Modal & Pengeluaran


Pembiayaan atas Belanja Pegawai
2011
2012
115,31%
155,90%
37,61%
37,24%
32,54%
45,59%
61,12%
78,43%
43,05%
37,59%
49,94%
79,67%
121,27%
132,39%
36,71%
60,07%
30,06%
40,38%
85,90%
76,98%
70,17%
60,90%
48,58%
43,52%
57,85%
67,34%
43,08%
61,10%

Sumber: LK Audited Tahun 2011 & 2012

Belanja Modal dan Pengeluaran Pembiayaan merupakan pengeluaran


Pemerintah Daerah yang cenderung berkaitan langsung dengan pelayanan
publik misalnya pembangunan jembatan, jalan, ataupun penyertaan modal
kepada PDAM dan perusahaan daerah lainnya. Dari ke-14 Pemerintah Daerah
tersebut, hanya Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan Pemerintah
Kabupaten Balangan yang realisasi belanja modal dan pengeluaran pembiayaan
lebih besar daripada belanja pegawai selama tahun 2011 dan 2012. Hal ini
menunjukkan pengelolaan pengeluaran daerah masih digunakan lebih besar
untuk belanja pegawai daripada belanja untuk pelayanan publik.
Di samping itu pula yang berkaitan langsung dengan pengelolaan
pengeluaran adalah bagaimana ketersediaan dana melalui realisasi pendapatan
selama tahun berjalan. Contoh kasus yang diuraikan oleh Ditjen Perimbangan
Keuangan (2013:22) untuk TA 2011, bahwa realisasi pendapatan yang melebihi
anggaran sangat dimungkinkan terjadi dan terdapat pilihan-pilihan yang diambil
oleh Pemerintah Daerah jika hal tersebut terjadi yaitu:
1) Optimalisasi dengan menambah program/kegiatan belanja modal pada
APBD-P;
2) Optimalisasi dengan menambah program/kegiatan belanja langsung non
belanja modal daerah dalam APBD-P;dan
3) Menambah target penerimaan bunga bank melalui penempatan tambahan
dana dalam perbankan.

Dari hasil kajian Ditjen Perimbangan Keuangan pada Pemerintah


Daerah yang mengalami pelampauan realisasi pendapatan dalam APBD
diketahui porsi untuk optimalisasi dengan menambah program/kegiatan belanja
modal dan optimalisasi dengan menambah program/kegiatan belanja langsung
non belanja modal hampir berimbang dengan grafik sebagai berikut.

Dari grafik tersebut terdapat sekitar 5% Pemerintah Daerah yang


disampel menggunakan pelampauan pendapatannya untuk menambah target
penerimaan bunga bank melalui penempatan dana dalam perbankan. Hal ini
tentu saja akan menambah jumlah dana pemerintah daerah di perbankan (dana
idle) yang kurang memiliki peran dalam mendorong pertumbuhan pembangunan
dan ekonomi daerah.
Contoh kasus lainnya adalah pada laporan Kajian Kualitas Belanja
APBD

yang

dilakukan

oleh

Kementerian

Perencanaan

Pembangunan

Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional pada tahun 2011


terhadap beberapa pemerintah daerah di Indonesia dimana kualitas belanja dan
perumusan APBD diukur dari pemenuhan nilai-nilai ekonomi, efisiensi,
efektivitas, equity/keadilan, akuntabilitas, dan responsivitas. Kualitas tersebut
dapat dilihat dari hal-hal berikut:
1. Ekonomi
Nilai ekonomi dalam belanja daerah dan perumusan APBD berkaitan
dengan jumlah pengeluaran yang selalu meningkat sehingga dianggap
APBD tersebut semakin tinggi cakupannya.

Dari kajian di lapangan, semua belanja dan APBD di masing-masing


lokasi uji mengalami kenaikan. Oleh karena itu, semua lokasi kajian
dianggap memenuhi nilai ekonomis.
2. Efisiensi
Nilai Efisiensi dalam belanja daerah dan perumusan APBD berkaitan
dengan apa yang dapat dihasilkan dari belanja tersebut dan berapa
alokasi biaya untuk itu, termasuk alokasi waktu untuk perumusan APBD.
Dari kajian di lapangan, ternyata pada masing-masing lokasi kajian
ditemukan tingkat keefisiensian yang belum optimal dari alokasi belanja
yang ada. Sedangkan dari perumusan APBD ternyata alokasi waktu yang
disediakan secara normatif tidak dapat digunakan secara tepat dan
semua lokasi kajian mengalami keterlambatan.
3. Efektivitas
Nilai Efisiensi dalam belanja daerah dan perumusan APBD berkaitan
dengan apa yang dapat dihasilkan dari belanja tersebut dan apakah yang
dihasilkan tersebut memuaskan bagi stakholders yang ada.
Dari kajian di lapangan, ternyata pada masing-masing lokasi kajian tidak
mendapatkan hasil belanja daerah yang dianggap memuaskan.
4. Equity/Keadilan
Nilai keadilan dalam belanja daerah dan perumusan APBD berkaitan
dengan alokasi anggaran yang memihak pada masyarakat yang lemah
atau miskin melalui prosedur yang dianggap adil.
Dari

kajian

di

lapangan,

hampir

semua

lokasi

kajian

untuk

pemeberantasan kemiskinan terkendala kemampuan daerah dan juga


diperberat dengan beban belanja pegawai.
5. Akuntabilitas
Nilai keadilan dalam belanja daerah dan perumusan APBD berkaitan
dengan

kelengkapan dan kebenaran dokumen yang relevan dalam

belanja

dan

proses

perumusan

APBD,

termasuk

penelusuran semua proses belanja dan perumusan APBD.

kenungkinan

6. Responsivitas
Nilai keadilan dalam belanja daerah dan perumusan APBD berkaitan
dengan keberadaan akses dalam berpartisipasi sehingga memungkinkan
semua unsur masyarakat memberikan masukan dan saran yang relevan..
Dari kriteria-kriteria tersebut di atas, dapat diilustrasikan dengan tabel seperti
dibawah ini.
Tabel. 1 Kualitas belanja daerah dan perumusan APBD

Ilustrasi di atas menjelaskan akan masih banyaknya permasalahan jika


diteliti dengan seksama. Banyak faktor yang menyebabkan kurang berhasilnya
pelaksanaan pengeluaran daerah selama ini. Salah satu aktor itu adalah
kemampuan daerah untuk mengelola keuangan dan aset daerahnya secara
efektif, efisien, akuntabel dan berkeadilan. Hal ini bisa dilacak dari lemahnya
perencanaan, pemprograman, penganggaran, pelaksanaan, pengendalian dan
pengawasan

serta pertanggungjawaban. Kenyataan membuktikan bahwa

pengeluaran daerah belum sepenuhnya diterjemahkan dengan benar, hal ini


terindikasi

dengan

masih

banyaknya

penyimpangan,

seperti

korupsi,

pemborosan, salah alokasi serta banyaknya berbagai macam pungutan daerah


yang kontra produktif dengan upaya-upaya peningkatan layanan
kesejahteraan masyarakat menjadi kurang fokus.

10

publik

dan

III.

REKOMENDASI
Untuk mewujudkan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat melalui

pengeluaran daerah, maka pengelolaan pengeluaran daerah dilaksanakan


secara berkualitas pula. Pengelolaan tersebut harus disesuaikan dengan
karakteristik dan kebutuhan daerah masing-masing serta memerlukan sistem dan
aparatur pelaksana yang mampu tanggap dan kreatif serta pengelolaan yang
sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen modern dalam sikap perilaku dan
kemampuan teknisnya.
Selain itu, kinerja tata pemerintahan daerah itu sendiri harus juga
ditentukan oleh komitmen dari para gubernur, bupati atau walikota sebagai
pimpinan daerah serta dukungan dari DPRD, unsur media, LSM maupun
masyarakat pada umumnya.

Upaya

untuk mengoptimalkan pengelolaan

pengeluaran daerah mulai dari perencanaan, pemprograman, penganggaran,


pelaksanaan,

pengendalian

dan

pengawasan

serta

pertanggungjawaban

tampaknya hanya akan berhasil jika didukung oleh dua faktor, yaitu komitmen
dari kepala daerah dan para tokoh politisi daerah, serta partisipasi sikap
masyarakat

sendiri.

Komitmen

seorang

pimpinan

dalam

megalokasikan

pengeluaran daerah untuk masyarakat tidak akan berhasil apabila tidak


memperoleh dukungan dari warga atau publik yang menjadi pengguna langsung
hasil dari pengeluaran tersebut. Sebaliknya, kendatipun banyak unsur-unsur
masyarakat sudah sangat frustrasi dengan merebaknya korupsi birokratis tidak
akan terjadi perubahan signifikan jika pimpinan daerah dan para elit politik
daerah tidak tergerak untuk melakukan perubahan.
Bebarapa hal yang dapat meningkatkan pengelolaan pengeluaran
daerah antara lain:
1. Peningkatan kualitas perilaku dan keprofesionalan aparatur pemerintah
(SDM)
Dengan kemampuan SDM yang lebih profesional dan berkompeten,
mereka dapat mengidentifikasi prioritas pembangunan yang riil sesuai
potensi dan kebutuhan masyarakat dan sinkron dengan prioritas nasional.
2. Analisa Standar Belanja (ASB) dan Anggaran Berbasis Kinerja (ABK).
Sebagaimana diketahui bahwa berbagai kelemahan dan permasalahan
dalam perencanaan pengeluaran daerah akan berimplikasi pada
11

rendahnya kinerja Pemerintah Daerah dalam melaksanakan berbagai


aktivitas pelayanan yang harus diberikan kepada masyarakat. Untuk itu,
diperlukan

adanya

berbagai

penyempurnaan,

perubahan,

dan

penambahan pada instrument pengelolaan keuangan daerah pada


umumnya, dan anggaran daerah pada khususnya.
a. Analisa Standar Belanja (ASB)
PP Nomor 58 Tahun 2005 dan Permendagri Nomor 13 tahun 2006
Tentang pengelolaan dan pertanggungjawaban daerah dalam
pelaksanaan desentralisasi telah memunculkan konsep mengenai
Analisis Standar Belanja (ASB) sebagai dasar penentuan besarnya
alokasi dana untuk setiap kegiatan Pemerintah Daerah. Konsep ini
merupakan langkah maju untuk meningkatkan kapabilitas dan
efektifitas pemerintah daerah.
ASB adalah penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya
terhadap suatu kegiatan, manfaat diterapkannya ASB antara lain:
1) Pemerintah daerah dapat menentukan kewajaran biaya untuk
melaksanakan suatu kegiatan sesuai dengan tugas pokok
dan fungsinya.
2) Pemerintah

daerah

dapat

meminimalisir

terjadinya

pengeluaran yang kurang jelas yang menyebabkan inefisiensi


anggaran.
3) Menghindari tumpang tindih (overlapping) program dan
anggaran antar unit kerja.
4) Penentuan anggaran berdasarkan tolak ukur kinerja yang
jelas.
5) Unit kerja mendapat keleluasaan yang lebih besar untuk
menentukan anggarannya sendiri.
b. Anggaran Berbasis Kinerja
Anggaran dengan pendekatan kinerja adalah suatu sistem
anggaran yang mengutamakan kepada upaya pencapaian hasil
kerja atau output dari perencanaan alokasi biaya atau input yang
ditetapkan.

12

Dengan

demikian,

anggaran

yang

disusun

memuat

informasi/keterangan antara lain :


1) Sasaran yang diharapkan menurut fungsi belanja.
2) Standar pelayanan yang diharapkan dan perkiraan biaya
satuan komponen kegiatan yang bersangkutan.
3) Persentase dari jumlah APBD yang dipergunakan untuk
membiayai Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung.
3. Pemerintah Daerah perlu didorong untuk menganggarkan pendapatan
secara lebih optimistis sehingga pelampauan realisasi pendapatan dapat
segera terukur dan digunakan untuk optimalisasi program/kegiatan yang
terkait langsung dengan pelayanan publik;
4. Good Governance
Penerapan

Prinsip-prinsip

good

governance

seperti

transparansi,

Akuntabilitas, daya tanggap, Efisien efektif, partisipatif, dan keadilan akan


secara otomatis meningkatkan sistem pengelolaan pengeluaran daerah
yang sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat.

IV.

DAFTAR PUSTAKA
BAPPENAS, Laporan Akhir Kajian Kualitas Belanja APBD, Jakarta, Direktorat
Otonomi Daerah Bappenas, 2011

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Laporan Evaluasi Belanja Modal


Daerah, Jakarta, 2013

Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006

http://www.scribd.com/doc/242038479/makalah-pengeluaran-pemerintahpusat-dan-daerah-docx

http://imanph.wordpress.com/2009/02/19/peranan-penatausahaan-keuangandaerah-dalam-meningkatkan-efektivitas-pelaksanaan-apbd/

http://rajawaligarudapancasila.blogspot.com/2011/05/tiga-belas-masalahkeuangan-negara-dan.html

http://dispenmaterikuliah.blogspot.com/2011/06/pengelolaan-keuangan-danbelanja-daerah.html

13

Beri Nilai