Anda di halaman 1dari 50

Aspek Medikolegal Pemasangan

Dan Pencabutan Ventilator


Dosen Penguji
:
Residen Pembimbing:
Disusun oleh:

dr. Intarniati NR, Sp.KF, MSi Med


dr. Devi Novianti Santoso

Stephani Helena Saselah


Rizki Rachmawati
Dyah Prahesti
Sari Octavyanti Napitupulu
Angeline Maranata
Herliza Refriani
Dieter Alyona
FK UKI 2009
Periode 14 April-10 Mei 2014

Ventilator
Mekanik

DEFINISI VENTILATOR
Merupakan alat pernapasan
bertekanan negatif atau positif
yang dapat mempertahankan
ventilasi dan pemberian
oksigen dalam waktu yang
lama.

KLASIFIKASI
Ventilator tekanan negatif
Ventilator ini memiliki prinsip mengeluarkan
tekanan negatif pada dada eksternal.

Ventilator Tekanan Positif


Ventilator tekanan positif menggembungkan paru
dengan mengeluarkan tekanan positif pada jalan
nafas dengan demikian mendorong alveoli untuk
mengembang selama inspirasi

Indikasi Medis Pemasangan Ventilator


Indikasi utama pemasangan ventilator adalah
adanya gagal napas atau keadaan klinis yang
mengarah ke gagal napas.

Indikasi Medis Pemasangan Ventilator


Adapun indikasi dari pemasangan ventilator, yaitu:
Gagal Napas
Apneu
Syok
Insufiensi jantung
Disfungsi neurologis
Hipoksemia berat
Post operatif gagal napas dan trauma

Informed Consent

Informed Concent
Dua unsur esensial :
1. Informasi yang diberikan oleh dokter
2. Persetujuan yang diberikan oleh pasien

Bentuk Informed Concent


Implied Constructive Consent (keadaan biasa)
Tindakan yang biasa dilakukan telah diketahui
dan dimengerti oleh masyarakat umum
sehingga tidak perlu lagi dibuat dalam bentuk
tertulis.

Bentuk Informed Concent


Implied Emergency Consent (Keadaan Gawat
Darurat)
Bila pasien dalam kondisi gawat darurat
sedangkan dokter perlu melakukan tindakan
segera untuk menyelematkan nyawa pasien
sementara pasien dan keluarganya tidak dapat
membuat persetujuan segera.

Bentuk Informed Concent


Expressed Consent (Bisa lisan/tertulis bersifat
khusus)
Persetujuan yang dinyatakan baik lisan
ataupun tertulis, bila yang akan dilakukan
melebihi prosedur pemeriksaan atau tindakan
biasa

PerMenKes Nomor
585/PerMenKes/Per/IX/1989 tentang
Persetujuan Tindakan Medik, bahwa dalam
keadaan emergency tidak diperlukan Informed
consent.

Pernyataan IDI tentang informed consent


yang tertuang dalam Surat Keputusan PB
IDI No. 319/PB/A4/88 adalah:
a) Manusia dewasa sehat jasmani dan rohani
berhak sepenuhnya menentukan apa yang
hendak dilakukan terhadap tubuhnya. Dokter
tidak berhak melakukan tindakan medis yang
bertentangan dengan kemauan pasien,
walaupun untuk kepentingan pasien sendiri.
b) Semua tindakan medis (diagnotik, terapeutik
maupun paliatif) memerlukan informed
consent secara lisan maupun tertulis.

c) Setiap tindakan medis yang mempunyai risiko


cukup besar, mengharuskan adanya
persetujuan tertulis yang ditandatangani
pasien, setelah sebelumnya pasien
memperoleh informasi yang adekuat tentang
perlunya tindakan medis yang bersangkutan
serta risikonya.

d) Untuk tindakan yang tidak termasuk dalam


butir 3, hanya dibutuhkan persetujuan lisan
atau sikap diam.

e) Informasi tentang tindakan medis harus diberikan kepada


pasien, baik diminta maupun tidak diminta oleh pasien.
Menahan informasi tidak boleh, kecuali bila dokter menilai
bahwa informasi tersebut dapat merugikan kepentingan
kesehatan pasien. Dalam hal ini dokter dapat memberikan
informasi kepada keluarga terdekat pasien. Dalam memberi
informasi kepada keluarga terdekat dengan pasien,
kehadiran seorang perawat/paramedik lain sebagai saksi
adalah penting.
f) Isi informasi mencakup keuntungan dan kerugian tindakan
medis yang direncanakan, baik diagnostik, terapeutik
maupun paliatif. Informasi biasanya diberikan secara lisan,
tetapi dapat pula secara tertulis (berkaitan dengan informed
consent)

Dasar Hukum Informed


Consent

Undang-undang Nomor 29 tahun 2004 pasal 45 tentang


persetujuan tindakan kedokteran.
1. Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi
yang mengandung risiko tinggi harus diberikan dengan
persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang
berhak memberikan persetujuan.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor


290/MENKES/PER/III/2008 tentang persetujuan
tindakan kedokteran pada Pasal 2.
1. Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan
terhadap pasien harus mendapat persetujuan.

Undang-Undang No. 36 Tahun


2009 pasal 56, tentang
Kesehatan

Pasal 56
1. Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau
seluruh tindakan pertolongan yang akan diberikan kepadanya
setelah menerima dan memahami informasi mengenai tindakan
tersebut secara lengkap.
2. Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak berlaku pada:
a) Penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara cepat
menular ke dalam masyarakat yang lebih luas;
b) Keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri; atau
c) Gangguan mental berat.
3. Ketentuan mengenai hak menerima atau menolak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Undang-Undang No. 44 Tahun 2009


tentang Rumah Sakit
Pasal 32
Setiap pasien mempunyai hak:
a) Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan
peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
b) Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban
pasien;
c) Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan
tanpa diskriminasi;
d) Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai
dengan standar profesi dan standar prosedur
operasional;

Undang-Undang No. 44 Tahun


2009 tentang Rumah Sakit
Pasal 32
e) Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga
pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi;
f) Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang
didapatkan;
g) Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan
keinginannya dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
h) Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya
kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik
(SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit;
i) Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang
diderita termasuk data-data medisnya;

Undang-Undang No. 44 Tahun


2009 tentang Rumah Sakit
Pasal 32
j)

Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara


tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko
dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap
tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan;
k) Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan
dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang
dideritanya;
l) Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis;
m) Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang
dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya;
n) Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam
perawatan di Rumah Sakit;

Undang-Undang No. 44 Tahun


2009 tentang Rumah Sakit
Pasal 32
o) Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah
Sakit terhadap dirinya;
p) Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai
dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya;
q) Menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila
Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak
sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun
pidana; dan
r) Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai
dengan standar pelayanan melalui media cetak dan
elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

MEDIKOLEGAL
PEMASANGAN
VENTILATOR

UNDANG-UNDANG REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004
TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN
Pasal 45
(1) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi
yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi
terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diberikan setelah pasien mendapat penjelasan
secara lengkap.

Pasal 45
(3) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup :
a)diagnosis dan tata cara tindakan medis;
b)tujuan tindakan medis yang dilakukan;
c)alternatif tindakan lain dan risikonya;
d)risiko dan komplikasi yang mungkin
terjadi; dan
e)prognosis terhadap tindakan yang
dilakukan.

Pasal 45
(4). Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dapat diberikan baik secara tertulis maupun
lisan.
(5) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi
yang mengandung risiko tinggi harus diberikan
dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani
oleh yang berhak memberikan persetujuan.
(6) Ketentuan mengenai tata cara persetujuan
tindakan kedokteran atau kedokteran gigi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat
(3), ayat (4), dan ayat (5) diatur dengan Peraturan
Menteri.

Pasal 52
(Hak dan Kewajiban Pasien)
Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik
kedokteran, mempunyai hak:
a) Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang
tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 45 ayat (3);
b) Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
c) Mendapatkan pelayanan sesuai dengan
kebutuhan medis;
d) Menolak tindakan medis; dan
e) Mendapatkan isi rekam medis.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG
KESEHATAN
Pasal 4
Setiap orang berhak atas kesehatan.
Pasal 5
1. Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh
akses atas sumber daya di bidang kesehatan.
2. Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan
kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.
3. Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggungjawab
menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan
bagi dirinya.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG
KESEHATAN
Pasal 7
Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan
edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan
bertanggung jawab.
Pasal 8
Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data
kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan
yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga
kesehatan.
Pasal 12
Setiap orang berkewajiban menjaga dan meningkatkan
derajat kesehatan bagi orang lain yang menjadi tanggung
jawabnya.

PERMENKES No. 363/Menkes/Per/IV/1998 TENTANG


KALIBRASI ALAT

Alat kesehatan yang dipergunakan di sarana


pelayanan kesehatan wajib diuji atau
dikalibrasi secara berkala, sekurang-kurangnya
1 (satu) kali setiap tahun.

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR


519/ MENKES/ PER/ III/ 2011 TENTANG
PEDOMAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN
ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF DI
RUMAH SAKIT

POINT C: Tujuan Pelayanan Anestesiologi dan Terapi


intensif di Rumah Sakit
2. Menunjang fungsi vital tubuh terutama jalan napas,
pernapasan, peredaran darah dan kesadaran pasien
yang mengalami gangguan atau ancaman nyawa
karena menjalani pembedahan, prosedur medis,
trauma atau penyakit lain.
3. Melakukan terapi intensif dan resusitasi jantung, paru,
otak (bantuan hidup dasar, lanjutan dan jangka
panjang) pada kegawatan mengancam nyawa
dimanapun pasien berada (ruang gawat darurat,
kamar bedah, ruang pulih, ruang terapi intensif/ICU).

Permenkes No.1419 Tahun 2005 Penyelenggaraan


Praktik Dokter dan Dokter Gigi

Pasal 17
1. Dokter atau dokter gigi dalam memberikan pelayanan
tindakan kedokteran atau kedokteran gigi terlebih dahulu
harus memberikan penjelasan kepada pasien tentang
tindakan kedokteran yang akan dilakukan.
2. Tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud ayat (1) harus
mendapat persetujuan dari pasien.

3. Pemberian penjelasan dan persetujuan sebagaimana


dimaksud ayat (1) dan ayat dilaksanakan sesuai ketentuan
perundang-undangan.

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1778


/MENKES/SK/XII/2010 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN
PELAYANAN INTENSIVE CARE UNIT (ICU) DI RUMAH SAKIT

PELAYANAN ICU DI RUMAH SAKIT


Indikasi yang benar Pasien yang dirawat di ICU adalah:
a) Pasien yang memerlukan intervensi medis segera oleh
tim intensive care.
b) Pasien yang memerlukan pengelolaan fungsi sistem
organ tubuh secara terkoordinasi dan berkelanjutan
sehingga dapat dilakukan pengawasan yang konstan
dan metode terapi titrasi.
c) Pasien sakit kritis yang memerlukan pemantauan
kontinyu dan tindakan segera untuk mencegah
timbulnya dekompensasi fisiologis.

INDIKASI MASUK DAN KELUAR ICU


Pasien sakit kritis meliputi :
Pasien-pasien yang secara fisiologis tidak stabil
dan memerlukan dokter, perawat, profesi lain
yang terkait secara terkoordinasi dan
berkelanjutan, serta memerlukan perhatian yang
teliti, agar dapat dilakukan pengawasan yang
ketat dan terus menerus serta terapi titrasi;
Pasien-pasien yang dalam bahaya mengalami
dekompensasi fisiologis sehingga memerlukan
pemantauan ketat dan terus menerus serta
dilakukan intervensi segera untuk mencegah
timbulnya penyulit yang merugikan.

Pada keadaan sarana dan prasarana ICU


yang terbatas pada suatu rumah sakit,
diperlukan mekanisme untuk membuat
prioritas .
Prosedur untuk melaksanakan kebijakan ini
harus dijelaskan secara rinci untuk tiap ICU.
1. Kriteria masuk
A.
B.
C.
D.

Pasien prioritas 1
Pasien prioritas 2
Pasien prioritas 3
Pengecualian

2. Kriteria keluar

MEDIKOLEGAL
PENCABUTAN
VENTILATOR

Ekstubasi
Ekstubasi adalah pencabutan endotrakheal
tube (ETT) dari trakea bila kebutuhan intubasi
tidak dibutuhkan lagi.
Ekstubasi biasanya dilakukan setelah
keberhasilan weaning terhadap ventilasi
selama 24 jam.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009
TENTANG KESEHATAN
Pasal 117
Seseorang dinyatakan mati apabila fungsi sistem
jantung sirkulasi dan sistem pernafasan terbukti
telah berhenti secara

permanen, atau

apabila kematian batang

dibuktikan.

otak telah dapat

PERATURAN MENTERI REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 290 / MENKES /PER /III / 2008
TENTANG PERSETUJUAN TINDAKAN
KEDOKTERAN
Pasal 16
1) Tindakan penghentian/penundaan bantuan hidup
(withdrawing/withholding life support) pada seorang
pasien harus mendapat persetujuan keluarga terdekat
pasien.
2) Persetujuan penghentian/penundaan bantuan hidup oleh
keluarga terdekat pasien sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diberikan setelah keluarga mendapat penjelasan dari
tim dokter yang bersangkutan.
3) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
diberikan secara tertulis.

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 519/ MENKES/


PER/ III/ 2011 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN
PELAYANAN ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF DI
RUMAH SAKIT

POINT H: PENGELOLAAN AKHIR KEHIDUPAN

1. Pengelolaan akhir kehidupan meliputi


penghentian bantuan hidup (withdrawing
life support) dan penundaan bantuan hidup
(withholding life support).

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 519/ MENKES/


PER/ III/ 2011 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN
PELAYANAN ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF DI
RUMAH SAKIT
2. Keputusan withdrawing/withholding dilakukan pada
pasien yang dirawat di ruang rawat intensif (ICU dan
HCU). Keputusan penghentian atau penundaan bantuan
hidup adalah keputusan medis dan etis. Keputusan untuk
penghentian atau penundaan bantuan hidup dilakukan
oleh 3 (tiga) dokter yaitu dokter spesialis anestesiologi
atau dokter lain yang memiliki kompetensi dan 2 (dua)
orang dokter lain yang ditunjuk oleh komite medis rumah
sakit.

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 519/ MENKES/


PER/ III/ 2011 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN
PELAYANAN ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF DI
RUMAH SAKIT
3. Prosedur pemberian atau penghentian
bantuan hidup ditetapkan berdasarkan klasifikasi
setiap pasien di ICU atau HCU, yaitu:
a) Bantuan total dilakukan pada pasien sakit atau cedera
kritis yang diharapkan tetap dapat hidup tanpa
kegagalan otak berat yang menetap. Walaupun
sistem organ vital juga terpengaruh, tetapi
kerusakannya masih reversibel. Semua usaha yang
memungkinkan harus dilakukan untuk mengurangi
morbiditas dan mortalitas.

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 519/ MENKES/


PER/ III/ 2011 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN
PELAYANAN ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF DI
RUMAH SAKIT

b) Semua bantuan kecuali RJP (DNAR = Do Not


Attempt Resuscitation), dilakukan pada
pasien-pasien dengan fungsi otak yang tetap
ada atau dengan harapan pemulihan otak,
tetapi mengalami kegagalan jantung, paru
atau organ yang lain, atau dalam tingkat akhir
penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 519/ MENKES/


PER/ III/ 2011 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN
PELAYANAN ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF DI
RUMAH SAKIT

c) Tidak dilakukan tindakan-tindakan luar biasa, pada


pasien-pasien yang jika diterapi hanya
memperlambat waktu kematian danbukan
memperpanjang kehidupan. Untuk pasien ini dapat
dilakukan penghentian atau penundaan bantuan
hidup. Pasien yang masih sadar tapi tanpa harapan,
hanya dilakukan tindakan terapeutik/paliatif agar
pasien merasa nyaman dan bebas nyeri.

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 519/ MENKES/


PER/ III/ 2011 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN
PELAYANAN ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF DI
RUMAH SAKIT
d) Semua bantuan hidup dihentikan pada pasien dengan
kerusakan fungsi batang otak yang ireversibel. Setelah
kriteria Mati Batang Otak (MBO) yang ada terpenuhi, pasien
ditentukan meninggal dan disertifikasi MBO serta semua terapi
dihentikan. Jika dipertimbangkan donasi organ, bantuan jantung
paru pasien diteruskan sampai organ yang diperlukan telah diambil.
Keputusan penentuan MBO dilakukan oleh 3 (tiga) dokter yaitu
dokter spesialis anestesiologi atau dokter lain yang memiliki
kompetensi, dokter spesialis saraf dan 1 (satu) dokter lain yang
ditunjuk oleh komite medis rumah sakit.

KESIMPULAN
Pasien berhak mendapat kesehatan
Pasien berhak mendapat penjelasan
Dokter harus memberikan penjelasan kepada
pasien tentang tindakan kedokteran yang akan
dilakukan
Penggunaan ventilator bersifat life saving dan dalam
pemasangannya harus digunakan sesuai indikasinya
Pencabutan ventilator dapat dilakukankan pada
pasien yang dengan kerusakan otak permanen dan
atau MBO

TERIMA KASIH

Pertanyaan ?