Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem

Vol. 2 No. 1, Februari 2014, 21-27

Rancang Bangun Alat Pemurni Minyak Atsiri Daun Berbasis


Membran Kitosan Selulosa
Fiedro Dimiyadi. AM*, Mustofa Lutfi, Wahyunanto Agung Nugroho
Jurusan Keteknikan Pertanian - Fakultas Teknologi Pertanian - Universitas Brawijaya
Jl. Veteran, Malang 65145
*Penulis Korespondensi, Email: fiedro0000dimiyadi@gmail.com
ABSTRAK
Salah satu jenis minyak atsiri yang banyak diproduksi di Indonesia adalah minyak atsiri dari
daun cengkeh (clove leaf oil). Minyak daun cengkeh sendiri banyak dikembangkan untuk bahan
baku obat, pewangi sabun dan detergen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan
rancang bangun alat pemurnian minyak atsiri daun cengkeh (clove leaf oil) berbasis membran
kitosan-selulosa. Penggunaan kitosan dalam membran yang digunakan ditujukan untuk
mengikat unsur logam yang terkandung di dalam minyak atsiri daun cengkeh. Unsur logam
yang terkandung didalam minyak atsiri daun cengkeh menyebabkan minyak berwarna hitam dan
juga keruh. Dalam penelitian ini dilakukan pengujian nilai fluks membran yang berfungsi untuk
mengetahui kemampuan alat pemurni dalam memurnikan minyak atsiri daun cengkeh per satuan
waktu tertentu. Pengujian nilai fluks membran dilakukan dengan menggunakan 5 variasi
tekanan berurutan yaitu 0.5, 1, 1.5, 2 dan 2.5 bar. Nilai fluks yang didapat dari hasil pengujian
berurutan adalah 0.185 , 0.213 , 0.239 , 0.197 dan 0.155 l/m 2.detik. nilai fluks hasil pengujian
mengalami penurunan yang signifikan pada tekanan 2 dan 2.5 bar. Penurunan nilai fluks ini
menunjukkan adanya peristiwa fouling dalam proses filtrasi membran. Selain itu peristiwa
fouling dapat terlihat dari perubahan karakteristik fisik membran, fouling terjadi akibat adanya
akumulasi molekul - molekul pada permukaan membran dan sebagian terjebak kedalam poripori membran. Peristiwa fouling mengakibatkan terhambatnya aliran feed yang melewati
membran.
Kata kunci : Daun cengkeh , alat pemurni minyak daun cengkeh, fluks, membran

Design of Clove Leaf Oil Purification Devices Based on


Chitosan - cellulose Membrane
ABSTRACT
One of the many types of essential oil produced in Indonesia is clove leaf oil. Clove leaf oil has
been developed for pharmaceutical raw materials, fragrances soaps and detergents. The
purpose of this research is to perform design and build clove leaf oil purifiers based on
chitosan-cellulose membrane. The use of chitosan in the membrane is intended to bind the metal
elements are contained in the clove leaf oil. Metallic elements contained in clove leaf oil that
causes the oil is black and turbid. In this research tested the membrane flux values that serves to
determine the ability of purification devices in purifying the clove leaf oil per unit of time.
Testing of performed by the membrane flux values using 5 consecutive pressure variation of 0.5,
1, 1.5, 2 and 2.5 bar. Flux values obtained from the results of the test sequence is 0.185, 0.213,
0.239, 0.197 and 0.155 L/m2.sec. flux value of the test results decreased significantly in 2 and
2.5 bar pressure. This decrease in flux values indicate fouling the events in a membrane
filtration process. Besides the fouling events can be seen from the changes in the physical
characteristics of the membrane, fouling occurred due to accumulation of the molecules on the
membrane surface and most trapped into the pores of the membrane. Events result in inhibition
of fouling the feed flow that pass through the membrane.
Key words : Clove leaf oil, clove leaf oil purification device, flux, membrane

Rancang Bangun Alat Pemurni Minyak Atsiri Dimiyadi dkk.

21

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem


Vol. 2 No. 1, Februari 2014, 21-27

PENDAHULUAN
Minyak atsiri atau essential oil adalah salah satu komoditi yang potensial di Indonesia. Minyak
atsiri adalah hasil dari penyulingan atau ekstraksi tumbuh-tumbuhan tertentu, baik berasal dari daun,
bunga, kayu, biji-bijian bahkan putik bunga. Salah satu jenis minyak atsiri yang dikembangkan di
Indonesia adalah minyak atsiri daun cengkeh. Isolasi minyak atsiri dari daun cengkeh dapat
menggunakan beberapa metode yaitu ekstraksi dan penyulingan.
Minyak atsiri daun cengkeh yang dihasilkan di Indonesia masih kurang memenuhi standar
kualitas dan kuantitas. Penyulingan daun cengkeh di Indonesia masih banyak dilakukan dengan
menggunakan ketel uap yang berbahan logam besi. Minyak daun cengkeh yang dihasilkan dari
penyulingan ini memiliki warna minyak hitam dan juga keruh. Warna hitam dan juga keruh tersebut
dikarenakan reaksi kimia ion logam yang berasal dari daun serta ketel uap yang dipakai dengan minyak
atsiri daun cengkeh itu sendiri.
Proses pemurnian minyak atsiri daun cengkeh dapat dilakukan dengan proses pemurnian dengan
menggunakan membran. Salah satu jenis membran yang dapat digunakan untuk proses pemurnian minyak
atsiri daun cengkeh ini adalah membran kitosan selulosa. Pemilihan membran ini didasari oleh
kemampuan kitosan dalam mengikat unsur Fe yang sangat baik. Salah satu tolak ukur dalam penentuan
kualitas minyak atsiri daun cengkeh itu adalah tingkat kecerahan warna minyak. Pengurangan ion logam
yang terkandung pada minyak atsiri daun cengkeh ini dapat meningkatkan kecerahan dari minyak atsiri
daun cengkeh.

METODE PENELITIAN
Bahan
Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah minyak atsiri daun cengkeh (Clove leaf
oil). Bahan-bahan untuk pembuatan alat pemurni minyak atsiri daun cengkeh adalah batang besi
berbentuk kotak, pipa besi, plat besi. Sedangkan alat utama dalam pembuatan alat pemurni minyak atsiri
adalah mesin las, mesin gerinda dan mesin bubut.
Metode
Penelitian ini dibagi menjadi 2 tahap kegiatan, yaitu: pembuatan alat pemurni minyak atsiri daun
cengkeh dan pengujian nilai fluks.
1. Kegiatan Tahap Pertama
Kegiatan tahap pertama adalah pembuatan alat pemurni minyak atsiri daun cengkeh, dimana alat
ini tersusun dari 4 komponen utama yaitu: rangka, tabung bahan, saluran minyak atsiri dan tabung
membran.
Alat pemurni minyak atsiri direncanakan berdimensi panjang total 60 cm, lebar total 50 cm dan
tinggi total 70 cm. Untuk lebih jelasnya, rancangan alat pemurni minyak atsiri dapat dilihat pada gambar
1.

Gambar 1. Rancangan Alat Pemurni Minyak Atsiri Daun Cengkeh.

Rancang Bangun Alat Pemurni Minyak Atsiri Dimiyadi dkk.

22

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem


Vol. 2 No. 1, Februari 2014, 21-27

2.

Kegiatan Tahap Kedua


Kegiatan tahap kedua dalam penelitian ini adalah pengujian fluks membran pada alat pemurni
minyak atsiri daun cengkeh. Pengujian fluks pada alat pemurni minyak atsiri ini dilakukan untuk
mengetahui kemampuan alat dalam memurnikan minyak atsiri per satuan waktu tertentu. Pengujian nilai
fluks membran ini dilakukan dengan kontak waktu selama 1 menit. Dalam pengujian nilai fluks pada
membran ini dilakukan pengujian perbandingan nilai fluks terhadap tekanan udara yang diberikan ke
tabung bahan, dimana variasi tekanan yang digunakan pada pengujian ini yaitu 0.5, 1, 1.5, 2 dan 2.5 bar.
Pengukuran fluks pada membran ini dilakukan untuk mengetahui kinerja (performance) dari
membran itu sendiri. Pengukuran fluks pada membran ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
Jv = Qp
Am

HASIL DAN PEMBAHASAN


Karya Desain / Rancangan Teknologi
Alat pemurnian minyak atsiri berbasis membran kitosan selulosa yang dirancang ini memiliki
4 komponen utama antara lain :
1. Rangka Alat
Kerangka alat terbuat dari besi kotak dengan ukuran 4 x 4 cm dan memiliki kedudukan untuk
tangki bahan dengan ukuran panjang total 60 cm, lebar total 50 cm serta tinggi total adalah 70 cm.
Pemilihan besi kotak untuk rangka alat ini ditujukan agar dapat menahan beban dari komponenkomponen lain yang terdapat pada alat, sedangkan untuk ukuran rangka alat ini disesuaikan dengan
dimensi alat secara keseluruhan.

Gambar 2. Rangka Alat


2.

Tabung minyak atsiri


Tabung minyak atsiri terbuat dari bahan pipa stainless steel dengan diameter 6.6 dan ketebalan
3.4 mm. Dimensi tangki tinggi 40 cm diameter 16.8 cm, kapasitas tabung 10 liter sedangkan untuk
kapasitas kerja maksimal 8 liter. Tabung minyak atsiri dilengkapi komponen yaitu manometer, saluran
masuk udara, penstabil tekanan dan pembuangan kelebihan tekanan. Tangki bahan difungsikan untuk
tempat menampung bahan yang berupa minyak atsiri dan juga tempat dimana bahan akan ditekan dengan
menggunakan tekanan udara yang berasal dari compressor. Karena bahan yang berupa minyak atsiri
ditekan dengan menggunakan tekanan udara di Tabung minyak atsiri ini maka bahan yang digunakan
harus dapat menahan tekanan. Menurut Theoretical Bursting Pressures Of Stainless Steel Pipe Material to
ASTM A312 pipa stainless steel dengan ukuran diameter 6 inch dan ketebalan 3.40 mm dapat menahan
kuat tekanan sebesar 21.029 Kpa atau sekitar 210.29 bar. Pemilihan bahan stainless steel dalam
pembuatan Tabung minyak atsiri ini selain kuat menahan tekanan juga tahan terhadap korosi
(pengkaratan). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Rancang Bangun Alat Pemurni Minyak Atsiri Dimiyadi dkk.

23

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem


Vol. 2 No. 1, Februari 2014, 21-27

Gambar 3. Tabung Minyak Atsiri


3.

Saluran penyalur atsiri


Saluran penyalur atsiri digunakan terbuat dari pipa stainless ukuran 1 yang dilengkapi dengan
kran pengatur debit aliran dan pengatur tekanan bahan. Saluran penyalur atsiri dalam pembuatannya
didasarkan pada fungsinya untuk menyalurkan bahan dari tabung bahan melewati kran pengatur debit dan
tekanan bahan menuju tabung filtrasi dimana dalam tabung filtrasi terdapat membran kitosan-selulosa
yang digunakan untuk menyaring minyak atsiri daun cengkeh.

Gambar 4. Saluran Penyalur Atsiri


4.

Tabung membran
Tabung membran ini terbuat dari gabungan plat stainless steel dengan ketebalan 3 mm
(berbentuk kerucut sebagai pembesaran saluran), plat stainless steel dengan ketebalan 1 cm (tempat
melekatnya membran kitosan-selulosa) dan pipa stainless steel diameter 3 inch dengan tebal 3 mm.
Pembesaran saluran pada tabung membran ini dimaksudkan agar luas permukaan membran yang dilewati
bahan lebih besar dan bahan dapat tersebar ke seluruh permukaan membran. Adapun maksud dari
penyebaran bahan keseluruh permukaan membran diharapkan agar tidak membuat cepat rusak atau sobek,
selain itu juga agar bahan yang memiliki tekanan saat melewati membran tidak terpusat pada sebagian
kecil permukaan membran karena kotoran yang terejeksi pada sebagian kecil permukaan membran saja
dapat menyebabkan tersumbatnya pori membran yang mengakibatkan menurunnya laju aliran bahan yang
melewati membran.
Pada tabung membran ini dilengkapi juga dengan frame yang terbuat dari kawat saring stainless
yang berfungsi sebagai penopang membran saat diberi tekanan agar membran tidak sobek. Frame dari
kawat saring ini diletakkan di celah plat tabung membran dan direkatkan dengan menggunakan lem
gasket.

Gambar 5. Tabung Membran

Rancang Bangun Alat Pemurni Minyak Atsiri Dimiyadi dkk.

24

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem


Vol. 2 No. 1, Februari 2014, 21-27

5.

Mekanisme Kerja Alat Pemurni Minyak Atsiri Berbasis Membran Kitosan-Selulosa.


Mekanisme kerja dari alat pemurni minyak atsiri ini adalah pemurnian dengan menggunakan
tekanan angin. Tekanan angin disini dihasilkan oleh kompressor listrik. Tabung pada alat pemurni minyak
atsiri berisi bahan yang berupa minyak atsiri daun cengkeh dengan kapasitas total dari tabung ini sekitar
10 liter dan kapasitas kerja tabung minyak atsiri ini sekitar 8 liter. Tabung yang berisi minyak atsiri ini
ditekan menggunakan udara dengan cara memasukkan udara dari kompressor ke dalam tabung. Udara
yang masuk ke dalam tabung bahan di atur sesuai dengan berapa tekanan yang diinginkan. Pada tabung
ini juga terdapat penstabil tekanan yang dapat mengatur atau membuang kelebihan udara didalam tabung.
Setelah tekanan pada tabung stabil, maka tekanan angin pada tabung akan menekan bahan untuk
menuju ke saluran bahan. Pada saluran bahan ini bahan yang bertekanan tidak akan langsung keluar atau
melewati membran dikarenakan adanya kran pengatur. Untuk mengalirkan bahan yang berupa minyak
atsiri daun cengkeh agar melewati membran maka kita harus membuka kran pengatur bahan dan kita juga
dapat menyesuaikan tekanan bahan yang melewati membran dengan kran ini. Setelah kran dibuka maka
bahan akan masuk ke dalam tabung filtrasi yang berisi membran kitosan-selulosa. Pada saat bahan yang
bertekanan ini melewati membran, disinilah terjadi proses penyaringan minyak atsiri dari bahan-bahan
yang ingin kita pisahkan menggunakan membran kitosan-selulosa ini.
Bahan yang telah tersaring keluar melalui saluran keluar, sedangkan bahan sisa yang bercampur
dengan kotoran akan dikeluarkan melalui kran pengeluaran di bawah tabung filtrasi. Untuk lebih jelasnya
gambar saat pengujian alat ini dapat dilihat dibawah ini.

Gambar 6. Mekanisme Kerja Pemurni Atsiri


6.

Pengujian Fluks Membran


Berdasarkan hasil dari pengujian nilai fluks pada alat pemurni minyak atsiri ini didapatkan data
nilai fluks pada tekanan 0.5 bar nilai fluks sebesar 0.185 L/m2.sec, tekanan 1 bar nilai fluks sebesar 0.213
L/m2.sec, tekanan 1.5 bar nilai fluks sebesar 0.239 L/m2.sec, tekanan 2 bar nilai fluks 0.197 L/m2.sec dan
pada tekanan 2.5 bar nilai fluks yang didapatkan sebesar 0.155 L/m2.sec. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 1. Hasil Pengujian Nilai Fluks.
Tekanan (Bar)
Fluks (L/m3.sec)
0.5
0.185
1
0.213
1.5
0.239
2
0.197
2.5
0.155
Dari tabel diatas dapat dilihat fluks yang dihasilkan dari pengujian alat pemurnian minyak atsiri
ini mengalami peningkatan nilai fluks dari tekanan 0.5 bar sampai 1.5 bar. Sedangkan setelah tekanan
dinaikkan ke tekanan 2 bar dan 2.5 bar nilai fluks yang didapat mengalami penurunan. Hal ini disebabkan

Rancang Bangun Alat Pemurni Minyak Atsiri Dimiyadi dkk.

25

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem


Vol. 2 No. 1, Februari 2014, 21-27

karena membran yang digunakan hanya 1 buah dan dipakai pada tekanan yang berbeda dan semakin
tinggi tekanan yang digunakan menyebabkan bertumpuknya kotoran yang menyumbat pori membran dan
mengakibatkan penurunan nilai fluks pada membran.
Hubungan Tekanan Dengan Fluks

Gambar 7. Hubungan Tekanan Dengan Fluks Membran


Berdasarkan grafik dapat dilihat bahwa variasi tekanan yang diberikan pada saat pengujian fluks
membran pada alat pemurni minyak atsiri ini berpengaruh terhadap nilai fluks yang didapatkan. Dari
grafik dapat dilihat bahwa pada saat diberikan tekanan 0.5 bar sampai 1.5 bar menunjukkan adanya
peningkatan nilai fluks yang didapatkan seiring dengan semakin bertambahnya tekanan yang diberikan,
akan tetapi pada saat penambahan tekanan menjadi 2 dan 2.5 bar grafik menunjukkan bahwa adanya
penurunan nilai fluks yang sangat signifikan. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh mulder (1996)
bahwa dalam padatan yang terlarut, ketika tekanan dinaikkan sampai batas tertentu akan menaikkan fluks
tetapi setelah mencapai tekanan tertentu fluks tidak akan meningkat. Peristiwa meningkatnya tekanan
yang tidak disertai kenaikan fluks ini sering dijelaskan dengan teori gel. Teori gel tersebut mengatakan
bahwa kenaikan tekanan akan meningkatkan konsolidasi partikel-partikel yang membentuk lapisan
fouling sehingga tahanan perpindahan juga meningkat akibat meningkatnya konsentrasi lapisan fouling.
Terjadinya fouling membran tidak dapat dihindari dan inilah tantangan terberat dalam teknologi
membran. Lapisan fouling membran (foulant) ini menghambat filtrasi. Foulant ini dapat berupa endapan
organik (makromolekul, substansi biologi), endapan inorganik (logam hidroksida, garam kalsium) dan
partikulat. Fouling dapat dikurangi dengan aliran balik (backwash), pencucian membran, proses
preklorinasi, proses oksidasi ozon sebelum penyaringan, dan proses koagulasi sebelum penyaringan.

KESIMPULAN
Dari penelitian yang sudah dilakukan dapat diambil kesimpulan di antaranya: Alat pemurni minyak
atsiri daun cengkeh yang dibuat memakai prinsip tekanan udara. Jadi tekanan udara dari kompressor
disalurkan ke dalam tabung bahan dan diatur tekanannya. Kemudian karena tekanan tadi bahan akan
terdorong ke saluran bahan dan masuk ke tabung filtrasi yang berisi membran kitosan-selulosa, lalu
permeat yang berupa minyak akan keluar dari lubang keluaran permeat sedangkan konsentrate yang
berupa kotoran akan keluar dari kran pembuangan konsentrate. Nilai fluks pada tekanan 0.5 bar 0.185
L/m2.sec, tekanan 1 bar 0.213 L/m2.sec, tekanan 1.5 bar 0.239 L/m2.sec, tekanan 2 bar 0.197 L/m2.sec;
tekanan 2.5 bar 0.155 L/m2.sec. Penurunan nilai fluks yang didapatkan terjadi karena proses fouling pada
saat pengujian.

Rancang Bangun Alat Pemurni Minyak Atsiri Dimiyadi dkk.

26

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem


Vol. 2 No. 1, Februari 2014, 21-27

DAFTAR PUSTAKA
Aksan

J.2008. Tanaman Cengkeh (Syzygium aromaticum). Dilihat 15 Oktober 2012.


<http://agribisnis.deptan.go.id/agromedia>.
Allgeier, Steve. 2005. Membran Filtration Guidance Manual. Cincinnati: Environmental Protection
Agency, United States
Baker, Richard W. 2004. Membran Technology And Applications. Membran Technology and Research,
California
Hanum, Farida. 2009. Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Dari Unit Deoiling Ponds
Menggunakan Membran Mikrofiltrasi. USU. Medan
Marwati, tri, Meika Syahbanna Rusli, Edy Mulyono. 2007. Pemucatan Minyak Daun Cengkeh Dengan
Metode Khelasi Menggunakan Asam Sitrat. Bogor: J. Tek. Ind. Pert. Vol. 17(2), 61-68
Mulder, Marcel. 1996. Basic Principles Of Membran Technology. Kluwer Academic Publishers. London
Najiyati, Sri, Danarti. 2003. Budidaya Dan Penanganan Pascapanen Cengkih. Penebar Swadaya, Jakarta

Rancang Bangun Alat Pemurni Minyak Atsiri Dimiyadi dkk.

27