Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

ANALISIS DAN SOLUSI FENOMENA


PELANGGARAN DAN ETIKA OLEH GURU
Ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Legislasi Profesi
Dosen : M. Soleh Sulaeman M.Pd

Disusun Oleh :
SEMESTER VII
NUR ROHMAH (110631030)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH CIREBON
2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur yang tak terhingga penulis panjatkan kehadirat Illahi
Rabbi, atas berkah, rahmat, karunia dan hidayah-Nya akhirnya penulis dapat
menyelesaikan makalah ini.
Adapun tujuan disusunnya makalah ini ialah sebagai salah satu agenda
kegiatan akademis yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa/mahasiswi dalam
menyelesaikan studi di tingkat perkuliahan semester VII (Tujuh), adapun judul
yang penulis buat didalam makalah ini adalah mengenai ANALISIS DAN
SOLUSI FENOMENA PELANGGARAN DAN ETIKA OLEH GURU
Dalam proses penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapatkan bantuan,
dukungan, serta doa dari berbagai pihak, oleh karena itu izinkanlah didalam
kesempatan ini penulis menghaturkan terima kasih dengan penuh rasa hormat
serta dengan segala ketulusan hati kepada:
1. Kedua orang tua, atas curahan kasih sayang yang tiada henti, yang
senantiasa mendukung secara moril & materiil serta yang selalu
mendoakan penulis didalam menempuh pendidikan ini.
2. M.Soleh Sulaeman M.Pd selaku guru Mata Kuliah Legislasi Profesi yang
dengan segala keikhlasannya telah memberikan bimbingan, arahan, serta
nasehat kepada penulis hingga terselesaikannya makalah ini.
3. Teman-teman seperjuangan khususnya fakultas SI-MATEMATIKA yang
senantiasa memberi masukan untuk penulis menyelesaikan makalah ini.
Sangatlah disadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan didalam
penyusunannya dan jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan
masukan baik saran maupun kritik yang kiranya dapat membangun dari para
pembaca. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya
bagi kita semua.

Cirebon, Desember 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah......................................................................1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................2
1.3 Batasan Masalah..................................................................................2
1.4 Tujuan Penulisan..................................................................................2
1.5 Manfaat Penulisan...............................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................3
2.1 Sertifikasi atau Pendidikan Profesi Guru dan
Peningkatan Profesionalitas Guru.........................................................3
2.2 Profesionalitas Guru dan Etika Profesi Guru.......................................7
2.3 Kode Etik Profesi Guru dan Moral Guru serta Pandangan Masyarakat
...................................................................................................................18
BAB III PENUTUP...............................................................................................21
3.1 Kesimpulan.........................................................................................21
3.2 Saran....................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................22

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bergulirnya sebuah era yang penuh dengan liku pencarian jati diri ini,
menjadikan pendidikan sebagai factor utama dalam pembentukkan pribadi
manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya
pribadi manusiamenurut ukuran normatif. Menyadari akan hal tersebut,
pemerintah sangat seriusmenangani bidang pendidikan, sebab dengan sistem
pendidikan yang baik diharapkanmuncul generasi penerus bangsa yang
berkualitas dan mampu menyesuaikan diriuntuk hidup bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara.
Reformasi

pendidikan

merupakan

respon

terhadap

perkembangan

tuntutanglobal sebagai suatu upaya untuk mengadaptasikan sistem pendidikan


yang mampumengembangkan sumber daya manusia untuk memenuhi tuntutan
zaman yang sedangberkembang. Melalui reformasi pendidikan, pendidikan harus
berwawasan masadepan yang memberikan jaminan bagi perwujudan hak-hak
azasi manusia untukmengembangkan seluruh potensi dan prestasinya secara
optimal guna kesejahteraanhidup di masa depan.
Guru adalah salah satu unsur manusia dalam proses pendidikan. Dalamproses
pendidikan di sekolah, guru memegang tugas ganda yaitu sebagai pengajar
danpendidik. Sebagai pengajar guru bertugas menuangkan sejumlah bahan
pelajaran kedalam otak anak didik, sedangkan sebagai pendidik guru bertugas
membimbing danmembina anak didik agar menjadi manusiasusila yang cakap,
aktif, kreatif, danmandiri. Mengajar maupun mendidik merupakantugas dan
tanggung jawab guru sebagai tenaga profesional. Oleh sebab itu, tugasyang berat
dari seorang guru ini pada dasarnya hanya dapat dilaksanakan oleh guruyang
memiliki kompetensi profesional yang tinggi.
Ibarat sebatang lilin, guru rela mengorbankan dirinya untuk orang lain, akan
tetapi di era sekarang ini sepertinya filsafat tersebut sudah tidak lagi berlaku bagi
sebagian masyarakat. Banyak kalangan mulai meragukan kapabilitas dan

kredibilitas guru. Peran guru sebagai pengajar dan pendidik mulai dipertanyakan.
Misinya sebagai pencetak generasi penerus bangsa yang terampil dan bermoral
belum sepenuhnya terwujud. Para pelajar saat ini seakan menjauh dari kondisi
ideal seperti yang diharapkan. Isupendidikan semakin tersorot publik, para pelajar
dinilai mulai kehilangan kepekaan moral, terbius ke dalam atmosfer zaman yang
serba gemerlap, tersihir oleh prikehidupan yang memburu selera dan kemanjaan
nafsu, terjebak ke dalam sikap hidup instan, tawuran antar pelajar dan pergaulan
bebas.
Bisa dikatakan pendidikan tak lagi dianggap sebagai pionir kemajuan bangsa
melainkan hanya melambangakan kebobrokan bangsa. Penulis dapat mengatakan
demikian karena berdasarkan beberapa hasil studi kasus terkait dengan fenomena
pendidikan di Indonesia yang terjadi saat ini menunjukan berkurangnya intensitas
peran pendidkan dalam usaha memajukan di Indonesia. Berikut adalah beberapa
urain tentang permasalahan pendidikan di Indonesia di lihat dalam sudut pandang
profesionalisme guru, pelanggaran kode etik dan peran guru dalam masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana fenomena pendidikan di Indonesia saat ini?
1.2.2 Bagaimana solusi terhadap masalah pendidikan saat ini?
1.3 Batasan Masalah
Makalah ini hanya membahas fenomena pendidikan di Indonesia di lihat dari
sudut pandang Profesionalisme guru, etika profesi dan peranan guru dalam
masyarakat.
1.4 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mendeskripsikan fenomena pendidikan di Indonesia saat ini
1.3.2 Untuk solusi terhadap masalah pendidikan saat ini
1.5 Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini ialah agar nantinya dapat membantu
mencari jalan keluar dari permasalhan pendidikan yang ada di Indonesia. Selain
ini yang ada nantinya mampu dijadikan refleksi terhadap fenomena pendidikan di
Indoseia saat ini.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sertifikasi

atau

Pendidikan

Profesi

Guru

dan

Peningkatan

Profesionalitas Guru
Guru adalah sebuah profesi yang sangat mulia, kehadiran guru bagi peserta
didik ibarat sebuah lilin yang menjadi penerang tanpa batas tanpa membedakan
siapa yang diteranginya demikian pulan terhadap peserta didik. Tetapi, dalam
mengemban amanah sebagai seorang guru, perlu kiranya tampil sebagai sosok
profesional. Sosok yang memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan, sosok yang
dapat memberi contoh teladan dan sosok yang selalu berusaha untuk maju,
terdepan dan mengembangkan diri untuk mendapatkan inovasi yang bermanfaat
sebagai bahan pengajaran kepada anak didik.
Keberhasilan pendidikan masing-masing bangsa di dunia berbeda-beda
tergantung dari predikat yang disandang negara itu. Pada negara maju, kita
ketahui bersama bahwa prospek pendidikannya lebih terarah dan terfokus dengan
ditunjang fasilitas-fasilitas modern dan system pembelajaran internasional.
Sedangkan pada negara berkembang, seperti di Indonesia ini, keberhasilan
pendidikan juga akan diperoleh secara bertahap serta membutuhkan proses dan
waktu yang tidak singkat.
Proses pengembangan pendidikan di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa
factor, contohnya adalah tenaga pengajar/guru dan kurikulum. Menurut UNESCO,
41-63 % keberhasilan pendidikan di dunia dipengaruhi secara langsung oleh
profesionalitas guru. Di Indonesia, terdapat dua produk hokum yang mengatur
tentang system pendidikan dan guru. Dalam UU no 20/2003 tentang sisdiknas
termaktub bahwa proses pembelajaran harus dilaksanakan secara aktif, inovatif,
kreatif, efektif, dan menyenangkan. Sedangkan profesionalitas guru juga diatur
melalui undang-undang nomor 14 tahun 2005. Dalam undang-undang tersebut
dijelaskan bahwa guru professional adalah guru yang memiliki kemampuan
intelektual, keahlian mentransfer ilmu, memahami perkembangan anak didik, dan
kreatif/memiliki seni dalam mendidik.

Profesionalitas Guru Kompetensi pendidik sebagaimana dinyatakan dalam PP


Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan UU Nomor 14
Tahun 2005 tentang Dimana keempat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru
adalah :
1. Kompetensi pedagogic

Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta


didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan
pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta
didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2. Kompetensi profesionalisme
Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran
secara luas dan mendalam yang memungkinannya membimbing peserta didik
memenuhi stndar kompetensi yang ditetapkan dalam Stndar Nasional
Pendidikan.
3. Kompetensi kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil,
dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan
berakhlak mulia
4. Kompetensi sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari
masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta
didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan
masyarakat sekitar.
Rendahnya mutu pendidikan khususnya pembelajaran Indonesia merupakan
cerminan rendah atau kurangnya mutu profesionalitas guru dalam melaksanakan
dan mempertanggung jawabkan pembelajaran. Rendahnya mutu profesionalitas
guru-guru di Indonesia menurut Rasio (2006) disebabkan antara lain:
1.

Masih cukup banyak guru Indonesia baik yang bertugas di SD/MI maupun
di SLTP/MTs dan SMU/SMA yang tidak berlatar belakang pendidikan sesuai
dengan ketentuan dan bidang studi yang dibinanya.

2.

Masih sangat banyak guru Indonesia yang memiliki kompetisis rendah dan
memprihatinkan.

3.

Masih banyak guru di Indonesia yang kurang terpacu dan termotivasi


untuk memberdayakan diri, mengembangkan profesionalitas diri atau
memutakhirkan pengetahuan mereka secara terus-menerus dan berkelanjutan,
meskipun cukup banyak guru Indonesia yang sangat rajin menaikkan pangkat
mereka dan sangat rajin pula mengikuti program-program pendidikan kilat
atau jalan pintas yang dilakukan oleh berbagai lembaga pendidikan.

4.

Masih sangat banyak guru Indonesia yang kurang terpacu, terdorong, dan
tergerak secara pribadi untuk mengembangkan profesi mereka sebagai guru.
Permasalahan-permasalahan tersebut yang selama ini menjadi persoalan

yang sampai saat ini- belum terselesaikan. Maka dari itu, komitmen pemerintah
dalam upaya meningkatkan profesionalitas guru mutlak diperlukan agar tercipta
kualitas guru yang kompeten sehingga berdampak pada terciptanya siswa/pelajar
yang berkualitas dan kompetitif.
Pengesahan Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 menjadi
penanda bahwa profesi guru adalah salah satu bentuk perhatian pemerintah
terhadap nasib guru di tanah air. Dengan keberadaan UU ini, guru adalah orang
yang betul-betul profesional dengan jaminan sejahteraan memadai. Ini
merupakan trend baru dalam dunia keguruan Indonesia.
Asumsi tersebut kini mulai mengakibatkan citra sebagai seorang pahlawan
tanpa tanda jasa meluntur. Guru sudah tak ingin dibuai dalam ayunan pahlawan
tanpa tanda jasa, namun ingin ada penghargaan profesinya secara holistik.
Dengan adanya sertifikasi guru nantinya maka penghargaan itu akan bisa
diperoleh guru. Namun tujuan utama sertifikasi guru bukan untuk meningkatkan
kesejahtraan guru, berikut adalah beberapa hal pokok yang menjadi tujuan dalam
sertifikasi guru:
1.

Guru mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan secara


terus menerus.

2.

Guru

memahami

perkembangan

paradikama belajar dan pembelajaran.

pandangan

(konsepsi),teori,

dan

3.

Guru mampu mengembangkan teori belajar dan pembelajaran berdasarkan


pengalaman sehari-hari.

4.

Guru mampu memahami karakteristik peserta didik dan menjadikan


pemahamannya sebagai pijakan pengambilan keputusan dalam menetapkan
strategi pembelajaran.

5.

Guru mampu mengembangkan pembelajaran dengan model pembelajaran


yang inovatif.

6.

Guru mampu menganalisis tujuan, isi pembelajaran, dan menetapkan


strategi pengorganisasian isi pembelajaran.

7.

Guru mampu memilih dan menetapkan sistem evaluasi pembelajaran.

8.

Guru mampu mengimplementasikan rancangan pembelajaran.

9.

guru mampu mengembangkan diri secara berkelanjutan.


Jelas nampak pada urain diatas bahwa tujuan utama adanya sertifikasi profesi

guru adalah peningkatan profesionalitas guru. Namun sayangnya fenomena yang


kita temui tak sejalan dengan apa yang dicita-citakan pemerintah. Banyak dari
kaum guru yang menghalalkan segala cara agar mampu memenuhui standar
sertifikasi tersebut, alhasil bukan profesionalitas
Maka dari itu untuk meningkatkan progfesionalitasme guru diperlukanlah
beberapa strategi antar lain sebagai berikut:
1.

Secara personal harus dilakukan pemberdayaan diri para guru Indonesia,


pemacuan dan pemotivasian guru dan pendampingan guru.

2.

Secara ekonomis, pemerintah maupun masyarakat harus bertekat sekaligus


merealisasikan peningkatan kesejahteraan guru terutama masalah gaji atau
penghasilan guru, mengurangi berbagai pungutan dan meningkatkan berbagai
fasilitas profesional guru.

3.

Secara struktural, pemerintah harus melakukan deregulasi peraturan yang


mengatur guru, melonggarkan atau membebaskan guru agar berkreasi dan
berinovasi dalam pembelajaran dan memberikan kebebasan dan kedaulatan
kepada guru untuk menjalankan profesinya.

4.

Secara sosial masyarakat harus banyak terlibat dan berpartisipasi dalam


kegiatan dan pengembangan profesi guru dan pemerintah harus lebih banyak
lagi melakukan promosi guru.

5.

Secara kultural, harus dikembangkan budaya kerja yang berorientasi pada


mutu, budaya pembelajaran, berorientasi profesional dan nilai-nilai profesi
yang mengutamakan kejujuran.
Kesimpulannya, dalam upaya meningkatkan Guru yang profesional maka

seorang guru harus memiliki prinsip-prinsip professional dan melalui kualifikasi


akademik, kompetensi dan sertifikasi. Namun tentunya hal ini hendaknya
dilandasi dengan etiket kejujuran sebegai seorang profesinal.
2.2 Profesionalitas Guru dan Etika Profesi Guru
Etika profesi guru adalah separangkat norma yang harus diindahkan dalam
menjalankan profesi guru kemasyarakatan atau dengan kata lain merupakan
landasan moral dan pedoman tingkah laku guru warga PGRI dalam melaksanakan
panggilan pengabdiannya bekeraja sebagai guru. Etika profesi guru lebih dikenal
dengan sebutan kode etik guru sebagai hasil kongres seluruh utusan cabang dan
pengurus daerah PGRI seluruh Indonesia di Jakarta tahun 1973.
Berdasarkan mukadimah kode etik guru Indonesia, guru Indonesia tampil
secara profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan
anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah.
Adapun esensi yang penulis dapat dari kode etik guru secara garis besarnya
dapat penulis gambarkan sebagai berikut:
1.

Guru berbakti membirnbing peserta didik untuk membentuk manusia


Indonesia seutuhnyayang berjiwa Pancasila.

2.

Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran professional.

3.

Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan


melakukan bimbingan dan pembinaan.

4.

Guru rnenciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang


berhasilnya proses belajar-mengajar.

5.

Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat
sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama
terhadap pendidikan.

6.

Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan


meningkatkan mutu dan martabat profesinya. Guru memelihara hubungan
seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.

7.

Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu


organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.

8.

Guru melaksanakan segala kebijakan Pemerintah dalam bidang


pendidikan.
Jelas nampak pada gambaran diatas bahwa guru-guru di Indonesia telah

disusun sedemikian rupa untuk menjadi teladan yang terbaik bagi lingkungan
sekitarnya. Namun kenyataan yang kita jumpai dilapangan saat ini bahwasanya
apa yang diharapkan dalam undang-undang profesionalitas guru dan dosen serta
kode etik yang tertera diatas masih mengidentifikasikan bahwa mutu pendidikan
di Indosia masih rendah.
Untuk mencapai terselenggaranya pendidikan bermutu, dikenal dengan
perlunya

paradigma

baru

pendidikan

yang

difokuskan

pada

otonomi,

akuntabilitas, akreditasi dan evaluasi. Keempat pilar manajemen ini diharapkan


pada akhirnya mampu menghasilkan pendidikan bermutu (Wirakartakusumah,
1998). Bisa kita katakan bahwa dengan adanya kode etik guru ini merupakan
salah satu langkah pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan
di Indosesia. Namun realita yang kita peroleh tak sejalan dengan apa yang
diharapkan.

Berikut adalah beberapa penggalan fenomena pelanggaran kode etik guru di


masyarakat dan solusi yang bisa penulis berikan:
KODE ETIK
Guru berbakti

KASUS PELANGGARAN

Guru memposisikan

SOLUSI
Guru bersifat

membimbing peserta

diri sebagai penguasa

humanis-demokratik

didik untuk

yang memberikan sanksi,

menekankan

membentuk manusia

mengancam dan

konformitas

Indonesia seutuhnya

menghukum peserta

internalisasi bagi

yang berjiwa

apabila melanggar aturan

peserta didiknya.

Pancasila

atau tidak mengikuti


kehendak guru.

Guru memberikan

Pendidikan
mendorong
berkembangnya

imbalan / hadiah semata-

kemampuan yang ada

mata untuk membina

pada diri peserta

kepatuhan peserta didik

didik. Situasi

Guru menciptakan

pendidikan

situasi pendidikan otoriter

mendorong dan

yang membentuk manusia

menyerahkan

dengan pribadi pasrah,

kesempatan

patuh, penurut, dan takluk

pengembangan

kepada penguasa (guru).

kedirian peserta didik

Mengasingkan orang-

kepada peserta didik

orang yang kreatif,

sendiri.

berpendirian dan mandiri

Pengembangan
kebebasan disertai
dengan pertimbangan
rasional, perasaan,
nilai dan sikap,
ketrampilan dan
pengalaman diri
peserta didik

Guru memiliki dan

Guru tidak

Kejujuran adalah

melaksanakan

menunjukkan kejujuran

salah satu

kejujuran professional

sehingga tidak pantas

keteladanan yang

untuk ditiru, misalnya:

harus dijaga guru

suka ingkar janji, pilih

selain prilaku lain

kasih, memanipulasi nilai,

seperti mematuhi

mencuri waktu mengajar,

peraturan dan moral,

dan lain sebagainya.

berdisiplin, bersusila
dan beragama.

Menjaga hubungan

Guru mengajar tidak

Guru harus

sesuai dengan bidang

menjaga keteladanan

keilmuannya sehingga

agar dapat diterima

sering melakukan

dan bahkan ditiru

kesalahan secara

oleh peserta didik.

keilmuan.
Guru tidak pernah

Guru harus

baik dengan orangtua,

mengkomunikasikan

bekerjasama dengan

murid dan masyarakat

perkembangan anak

orangtua dan juga

sekitar untuk

kepada orangtuanya,

lingkungan

membina peran serta

sehingga orangtua tidak

masyarakat dalam

dan tanggung jawab

mengetahui kemajuan

pendidikan.

bersama terhadap

belajarnya.

Tanggung jawab

pendidikan

pembinaan terhadap
peserta didik ada
pada sekolah,
keluarga, dan
masyarakat.

Guru tidak pernah

Hal yang

mengajak orangtua untuk

menyangkut

membicarakan bersama

kepentingan si anak

10

yang menyangkut

seyogyanya guru

kepentingan anak dan

(sekolah) mengajak

sekolah, melainkan

orangtua dan bahkan

memutuskan secara

lingkungan

sepihak, misalnya:

masyarakat untuk

pembelian buku anak,

bermusyawarah.

seragam sekolah,
kegiatan anak di luar
kurikuler, dan sebagainya
Seorang guru harus

Hubungan antar guru

Etos kerja harus

saling menghormati

tidak harmonis (misalnya:

dijaga dengan

dan menghargai

saling menjelekkan dan

menciptakan

sesama rekan

saling menjatuhkan

lingkungan kerja

seprofesi

bahkan berkelahi)

yang sehat, dinamis,


serta menjaga
hubungan baik
dengan saling
menghormati dan
menghargai dan mau
bekerjasama/ saling
menolong antar
sesame guru.

Profesionalisme sebagai penunjang kelancaran guru dalam melaksanakan


tugasnya, sangat dipengaruhi oleh dua faktor besar yaitu faktor internal yang
meliputi minat dan bakat dan faktor eksternal yaitu berkaitan dengan lingkungan
sekitar, sarana prasarana, serta berbagai latihan yang dilakukan guru. Kode etik
telah mencakup keseluruhan aspek internal dan eksternal ini. Yang mana
dinyatakan bahwa keharmonisan hubungan bukan saja hanya dengan peserta didik
saja namun dengan aspek-aspek yang lain disekitar lingkungan guru itu berada.

11

Untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang profesional diperlukan pengenalan


terhadap profesinya. Pengajar juga sebaiknya mengetahui bagaimana mengajar
yang seharusnya. Tidak sembarangan orang bisa dikatakan pengeajar yang baik
apabila tidak memilik pegangan atau acuan standar tertentu daalam proses
pengajarannya. Banyak faktor yang menyebabkan kurang profesionalismenya
seorang guru, sehingga pemerintah berupaya agar guru yang tampil saat ini adalah
guru yang benar-benar profesional yang mampu mengantisipasi tantangantantangan dalam dunia pendidikan. Pendidikan profesi guru misalnya, namun
sejauh ini belum nampak jelas bahwa dengan adanya usaha peningkatan
profesionalitas dari pemerintah, mutu pendidikan di Indoseia meningkat.
Kode etik memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas
pendidikan di Indonesia, bagi guru pada khususnya. Apa yang telah dijelaskan
dalam kode etik keguruan telah menggambarkan bagaimana seharusnya tingkah
laku dan etika sebenarnya bagi seorang guru. Sudah dapat dijamin bahhwa jika
kode etik ini dilaksanakan oleh semua guru di Indonesia, niscaya kualitas
pendidikan kita saat ini mampu mengalami peningkatan. Namu sekarang
tergantung pada individu masig-masing, sejauh manakah kesadarannya dalam
mengemban profesi yang dianutnya. Karena baik buruknya sesuatu ada di tangan
kita masing-masing. Baik buruknya kualitas pendidikan di Indonesia tergantung
dari tangan para pelakunya.

12

Contoh Studi Kasus Terkait Pelanggaran Terhadap Etika Profesi


Guru

Pemukulan Guru pada Siswa Sambil Merokok


Analisis :
Tempat

: SMK Negeri 3 Jayapura, Papua

Oknum

: Guru mata pelajaran Energi Terbarukan

Korban

: dua siswa laki-laki

Sumber

: video youtube liputan berita SCTV

Durasi

: 3 menit 14 detik

Dari video yang ditayangkan tersebut terlihat ada seorang guru mata pelajaran
energi terbarukan yang memukuli dan memarahi dua siswa laki-laki yang tidak
bisa mengerjakan soal. Pukulan yang dilayangkan tersebut dilakukan hingga
beberapa kali yang menyebabkan dua siswa itu meringis menahan sakit karena
tidak berani mengeluh. Selain itu guru yang melakukan tindakan kekerasan
tersebut menggunakan nada suara yang tinggi hingga membuat kondisi kelas
hening dan mencekam. Selain itu beliau juga memukul sambil merokok di dalam
kelas di depan siswa-siswanya.
Pelanggaran :
Poin yang menjadi pelanggaran etika profesi keguruan dari video tersebut adalah:
-

Memukul siswa hingga beberapa kali dengan keras

Merokok di dalam kelas khususnya di depan siswanya

Menggunakan kata-kata dalam nada tinggi dan membentak

Solusi :
Solusi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru tersebut adalah dengan
memberikan efek jera dengan sanksi moral yang dilakukan menggunakan cara
merekam atas inisiatif siswa dan dukungan orangtua wali murid (dari keterangan
video tersebut). Sehingga harapannya guru tersebut akan jera dan malu atas
perbuatan yang dilakukan karena sudah ditonton oleh banyak orang (karena
diupload di internet). Orang-orang yang melihat video tersebut tentu jumlahnya

13

akan sangat banyak. Mereka yang menonton otomatis akan mencemooh guru
tersebut dan akibatnya guru tersebut akan diasingkan dari pergaulan yang
menyebabkan dia malu dan tersisih dari lingkungan. Itu adalah sanksi moral yang
harus diterimanya.
Hal ini sejalan dengan sanksi pelanggaran kode etik yang menyatakan bahwa :

Kode etik adalah landasan moral dan merupakan pedoman sikap, tingkah laku,
dan perbuatan maka sanksi terhadap pelanggaran kode etik adalah sanksi moral

Sanksi terberat adalah si pelanggar dikeluarkan dari organisasi profesi.


Pada kasus tersebut sudah dilakukan sanksi moral. Sedangkan untuk sanksi
terberat untuk guru tersebut dengan cara dikeluarkan dari organisasi profesi
tersebut belum dilakukan dan belum jelas tindak lanjutnya seperti apa.
Pandangan Terhadap Solusi dan Masalah
Menurut pendapat saya, untuk pandangan terhadap solusi dan masalah dalam
kasus ini sebaiknya memandang dari berbagai sudut yakni dari kode etik guru
serta kompetensi professional guru.
Pertama ialah dikaitkan dengan kode etik guru. Sebelum itu kita harus
mengetahui pengertian serta tujuan kode etik seorang guru.
1. Pengertian kode etik

Kode etik suatu profesi merupakan norma-norma yang harus diindahkan oleh
setiap anggota profesi dalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam
hidupnya di masyarakat

Norma-norma yang berisi petunjuk dan larangan baik dalam menjalankan


profesinya maupun pergaulan di masyarakat.

2. Tujuan kode etik (Hermawan, 1979)

Menjunjung tinggi martabat profesi

Menjaga dan memelihara kesejahteraan anggotanya

Meningkatkan pengabdian para anggotanya

Meningkatkan mutu profesi

Meningkatkan mutu organisasi profesi

14

3. Penetapan kode etik

Kode etik hanya ditetapkan oleh suatu organisasi profesi yang berlaku dan
mengikat pada anggotanya.
Dari pengertian, tujuan serta penetapan pada kode etik tersebut dapat

diketahui bahwa seorang guru memiliki kode etik yang harus diindahkan dan ia
pun terikat dengan berbagai kode etik tersebut sesuai dengan tujuan yang harus
dicapai. Sehingga seorang guru tidak bisa berbuat seenaknya sendiri dengan
melakukan tindak kekerasan, memberi contoh yang tidak baik seperti merokok di
depan siswanya. Seorang guru juga tidak bisa menggunakan nada suara yang
tinggi dalam mengajar karena bisa berdampak buruk pada kondisi psikologis
siswa yang akibatnya justru bisa menekan siswa. Semuanya itu tidak sesuai
dengan norma-norma kode etik yang harus dijalankan saat menjalankan tugas
profesinya.
Ditinjau dari kode etik guru di Indonesia, maka seorang guru harus memenuhi
beberapa kode etik sebagai berikut :
1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia
seutuhnya yang berjiwa Pancasila
2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran professional
3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan
melakukan bimbingan dan pembinaan
4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya
proses belajar-mengajar
5. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat
sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggungjawab bersama terhadap
pendidikan.
6. Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu
dan martabat profesinya
7. Guru

memelihara

hubungan

seprofesi,

semangat

kekeluargaan,

dan

kesetiakawanan sosial.
8. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI
sebagai sarana penunjang dan pengabdian

15

9. Guru melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.


Dari kasus kekerasan guru tersebut jika dikaitkan dengan poin-poin kode etik
Guru Indonesia maka terdapat beberapa poin yang tidak sesuai, diantaranya
adalah
Pada poin 4. Seharusnya guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang
menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar. Kenyataannya guru tersebut
sama sekali tidak membuat suasana proses belajar mengajar menjadi nyaman dan
berhasil bahkan sebaliknya, suasana belajar mengajar menjadi menakutkan dan
mencekam bagi para siswa karena ulah guru.
Pada poin 5. Guru tersebut tidak memelihara hubungan baik dengan orangtua
siswa. Buktinya orangtua siswa bersekongkol dengan para siswa untuk membuat
video amatiran tersebut, ini menjadi bukti bahwa guru dan orangtua siswa tidak
memiliki hubungan baik serta guru tersebut juga tidak mempunyai peran dan rasa
tanggungjawab terhadap pendidikan.
Pada poin 6. Guru tersebut tidak mengembangkan maupun meningkatkan mutu
dan martabat profesinya. Buktinya guru itu mencoreng martabat profesi dan harga
dirinya dengan berbuat tindak kekerasan dan memberi contoh kurang baik bagi
para siswa.
Kedua adalah dikaitkan dengan kompetensi profesionalisme guru.
Dimana keempat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru adalah :
-

Kompetensi pedagogik

Kompetensi profesionalisme

Kompetensi kepribadian

Kompetensi sosial

Pada

kasus

tersebut

terdapat

ketidakseuaian

terhadap

kompetensi

profesionalisme guru yakni:


-

Kompetensi

pedagogik.

Dimana

guru

seharusnya

mampu

mengelola

pembelajaran di kelas menjadi efektif serta mampu mengaktualisasikan siswa


untuk mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya. Pada kasus tersebut
siswa sama sekali tidak menikmati pembelajaran bahkan takut dengan guru, hal
ini tentu saja akan menyulitkan siswa dalam menerima pelajaran karena adanya

16

tekanan.

Selain

guru

juga

tidak

membuat

pembelajaran

yang

bisa

mengembangkan potensi siswanya namun semakin menekan siswaya dengan


sikap kasar yang dimilikinya.
-

Kompetensi kepribadian, dimana guru yang seharusnya memberikan teladan


yang baik kepada muridnya justru memberikan teladan yang tidak terpuji yakni
dengan berbagai pelanggaran yang dilakukan tersebut. Padahal sebagai seorang
guru sebaiknya harus mampu menjadi teladan yang baik dan memiliki sikap dan
pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi
peserta didik serta memiliki akhlak mulia.

Kompetensi Sosial. Pada kompetensi ini salah satu poinnya adalah guru atau
pendidik harus mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta
didik. Namun pada kasus tersebut, guru itu sama sekali tidak menunjukkan sikap
berkomunikasi efektif terhadap siswanya.
Dari beberapa analisis tersebut, maka menurut pendapats aya guru tersebut
pantas mendapatkan hukuman secara moral yang sudah diterimanya sedangkan
untuk sanksi yang berkaitan dengan organisasi profesi adalah dengan memberi
sanksi berupa pemberian surat peringatan (SP) serta skorsing. Apabila setelah
mendapatkan dua sanksi tersebut dan dikemudian hari guru tersebut melakukan
hal serupa maka barulah dilakukan sanksi terberat yakni dikeluarkan dari
organisasi profesi dan dijatuhi hukuman sesuai dengan tindakan yang telah
dilakukan. Misalnya menyebabkan siswa yang dipukul menjadi cedera maka
orangtua siswa berhak untuk melaporkan ke pihak berwajib dan guru tersebut bisa
dipidana. Hal ini bisa dilakukan karena organisasi profesi sudah tidak
melindunginya. Namun jika masih ada organisasi profesi yang menaungi dan
melindunginya maka harus proses pidana tersebut melalui organisasi profesi.

17

2.3 Kode Etik Profesi Guru dan Moral Guru serta Pandangan Masyarakat
Moral merupakan salah satu masalah terbesar dalam pembangunan
masyarakat Indonesia. Dalam Undang-Undang RI No 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 diungkapkan, yang dimaksud dengan
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (UU RI No 20 Tahun 2003). Dari definisi
pendidikan tersebut, dengan jelas terungkap bahwa pendidikan indonesia adalah
pendidikan yang usaha sadar dan terencana, untuk mengembangkan potensi
individu demi tercapainya kesejahteraan pribadi, masyarakat dan negara.
Pendidikan pada hakikatnya adalah alat untuk menyiapkan sumber daya
manusia yang bermoral dan berkualitas unggul. Dan sumber daya manusia
tersebut merupakan refleksi nyata dari apa yang telah pendidikan sumbangankan
untuk kemajuan atau kemunduran suatu bangsa. Salah satu aktor penting yang
hendaknya memiliki moral unggul yang natinya akan membawa bangsa kita
kearah yang lebih baik.
Kode etik disusun agar hal tersebut menjadi landasan moral dan pedoman
tingkah laku guru warga PGRI dalam melaksanakan panggilan pengabdiannya
bekeraja sebagai guru. Namun pada realitanya dalam dunia pendidikan saat ini,
banyak guru yang telah melupakan apa itu kode etik guru.
Selain fenomena yang penulis ungkapkan diatas sesungguhnya masih banyak
sekali pelanggaran kode etik profesi guru yang mengakibatnya berkurangnya
moral guru di mata masyarakat. Contoh lain misalnya penjualan gelar akademik
dari S1 sampai S3 bahkan professor, kelas jauh, guru/dosen yang curang dengan
sering datang terlambat untuk mengajar, mengubah nilai supaya bisa masuk
sekolah favorit, menjiplak skripsi atau tesis, menyuap untuk jadi pegawai negeri
atau menyuap untuk naik pangkat sehingga ada kenaikan pangkat. Ironisnya lagi
di pendidikan tingkat menengah sampai dasar, sama parahnya, setiap awal tahun
ajaran baru. Para orang tua bersikeras manyekolahkan anaknya disekolah-sekolah

18

pavorit, bahkan dengan cara menyuap guru sekalipun. Betapa rendahnya moral
guru ketika hal ini telah terjadi.
Berdasarkan data yang penulis peroleh, selama melakukan monitoring, tim
independen dan tim internal yang dibentuk oleh Konsorsium Sertifikasi Guru
Departemen Pendidikan Nasional serta monitoring masyarakat melalui media
ternyata menemukan berbagai bentuk kecurangan yang dilakukan oleh guru ketika
menjadi peserta dalam proses sertifikasi profesi guru pada 2006 dan 2007 melalui
uji portofolio. Kecurangan tersebut ada yang berbentuk pemalsuan berkas
penghargaan

dan sertifikat

pelatihan,

penjiplakan

Rencana

Pelaksanaan

Pembelajaran, hingga pembuatan ijazah palsu, bahkan hampir semua berkas palsu
tersebut disahkan oleh kepala sekolah masing-masing.
Ada pula kecurangan yang berbentuk penyuapan dengan cara menyelipkan
uang dalam berkas portofolio. Bukti kecurangan yang paling telak adalah
penemuan berkas asli yang dipalsukan dengan foto pemalsu yang masih
ditempelkan di berkas asli dan siap difotokopi, yang ikut terjilid bersama berkas
lain. Semua bentuk kecurangan tersebut diberkaskan dengan baik oleh setiap
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Induk yang menjadi
penyelenggara uji portofolio.
Tentunya wacana tersebut di atas sangat memilukan bagi kita sebagai calon
guru. Nampak bahwa pelaku-pelaku pada penurunan derajat moral diatas telah
melupakan profesinya sebagai seorang pendidik dan pengajar yang tentunya telah
melupakan kode etik guru sendiri.
Demikian pula halnya dengan asumsi mulai meragukan kapabilitas dan
kredibilitas guru. Peran guru sebagai pengajar dan pendidik mulai dipertanyakan.
Misinya sebagai pencetak generasi penerus bangsa yang terampil dan bermoral
belum sepenuhnya terwujud. Jangankan untuk menjadikan pelajar memiliki
moral, moral penajarnya saja belum tentu baik.
Tantangan moral ini hendaknya disikapi dengan lebih professional dan
ditekadi menjadi tugas moral, karena telah diinstruksikan menurut Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional

19

Pendidikan yang menyatakan bahwa setiap pendidik haruslah bersikap


professional.
Perlu diadakan pendekatan kembali kepada pelaku-pelaku yang melakukan
penyimpangan seperti disebutkan diatas terkait kesadaran mereka sebagai seorang
guru untuk melaksanakan kode etik keguruan. Namun bukan berarti dengan fakta
diatas kita dapat menyimpulkan bahwa semua guru telah kehilangan moralnya
sebagai seorang guru. Hanya saja hal tersebut diatas adalah gambaranan
bagaimana refleksi kode etik guru bagi sebagian kecil guru di Indonesia saat ini.
Disinilah peranan kode etik keguruan untuk menegakkan kembali moral guruguru kita yang telah mengalami sedikit penyimpangan hingga nantinya yang
tersurat dalam pembukaan Undang-undang dasar negara republik Indonesia tahun
1945 alinea ke-4 dapat terwujud dan dapat memperbaiki pandangan masyarakat
terhadap profesi guru.

20

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam upaya meningkatkan Guru yang profesional maka seorang guru harus
memiliki prinsip-prinsip professional dan melalui kualifikasi akademik,
kompetensi dan sertifikasi. Namun tentunya hal ini hendaknya dilandasi dengan
etiket kejujuran sebegai seorang profesinal.
Kode etik memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas
pendidikan di Indonesia, bagi guru pada khususnya. Apa yang telah dijelaskan
dalam kode etik keguruan telah menggambarkan bagaimana seharusnya tingkah
laku dan etika sebenarnya bagi seorang guru. Dengan adanya kode etik guru
nantinya

diharapkan

mampu

meningkatkan

profesionalisme

guru

dan

meningkatkan moral pendidik sehingga derajat guru yang teramat mulia dimata
masyarakat dapat kembali terwujud.
3.2 Saran
1.

Guru sebagai pionir terdepan pembawa kemajuan bangsa hendaknya


melaksanakan apa yang telah menjadi standar dan aturan yang telah
disepakati bersama, dalam hal ini kode etik guru

2.

Guru hendaknya menujukan citra profesionalitasnya kepada pubik bukan


memanipulasi keprofesionalitasnya

3.

Kejujuran merupakan hal terpenting dalam menjaga kehormatan seorang


guru, maka dari itu guru hendaknya menjunjung kejujuran dalam etika
profesinya sebagai seorang guru

21

DAFTAR PUSTAKA
https://doriju7697.wordpress.com/2012/06/23/makalah-tema-pendidikan/

22