Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFARMASI-FARMAKOKINETIKA

FARMAKOKINETIKA SEDIAAN ORAL

Disusun oleh :
Iqbal Safaat H

10060309054

Indra Prasetyo

10060311100

Defran Munandar Pratama 10060311138


Soni Sulaksono

10060311139

Rida Desi Utami

10060311140

Wildan Nur Fadlila

10060311141

Shift D/Kelompok 5
Tanggal Praktikum : Rabu, 24 Desember 2014
Tanggal Laporan

: Rabu, 31 Desember 2014

Asisten Kelompok:
Bentar Ali Brataringga, S.Farm.
LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT E
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BANDUNG
2014

MODUL 3
FARMAKOKINETIK SEDIAAN ORAL

I. TUJUAN
Mahasiswa mengetahui dan memahami prinsip dan cara menentukan
profil farmakokinetika sediaan oral pada tikus.
II. TEORI DASAR
1. Farmakokinetika
Farmakokinetika dapat didefenisikan sebagai setiap proses yang
dilakukan tubuh terhadap obat, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan
ekskresi. Dalam arti sempit farmakokinetika khususnya mempelajari
perubahan-perubahan konsentrasi dari obat dan metabolitnya didalam
darah dan jaringan sebagai fungsi dari waktu.
1.1.Absorpsi
Yang dimaksud dengan absorpsi suatu obat ialah pengambilan obat
dari permukaan tubuh ke dalam aliran darah atau ke dalam sistem
pembuluh limfe. Dari aliran darah atau sistem pembuluh limfe terjadi
distribusi obat ke dalam organisme keseluruhan. Absorpsi, distribusi dan
ekskresi tidak mungkin terjadi tanpa suatu transport melalui membran.
Penetrasi senyawa melalui membran dapat terjadi sebagai difusi, difusi
terfasilitasi, transport aktif, pinositosis atau fagositosis. Absorpsi
kebanyakan obat terjadi secara pasif melalui difusi.

1.2. Distribusi
Apabila obat mencapai pembuluh darah, obat akan ditransfer lebih
lanjut bersama aliran darah dalam sistem sirkulasi. Akibat perubahan
konsentrasi darah terhadap jaringan, bahan obat meninggalkan pembuluh
darah dan terdistribusi ke dalam jaringan. Pada tahap distribusi ini
penyebarannya sangat peka terhadap berbagai pengaruh yang terkait
dengan tahap penyerapan dan tahap yang terjadi sesudahnya yaitu
peniadaan, serta terkait pula dengan komposisi biokimia serta keadaan
fisiopatologi subjeknya, disamping itu perlu diingat kemungkinan adanya
interaksi dengan molekul lainnya. Pada tahap ini merupakan fenomena
dinamik, yang selalu terdiri dari fase peningkatan dan penurunan kadar zat
aktif. Pengertian akumulasi dan penimbunan terutama penimbunan bahan
toksik, harus dijajaki dari sudut pandang dinamik, maksudnya melihat
perbedaan antara kecepatan masuk dan kecepatan keluar. Sebenarnya
penimbunan bahan toksik merupakan efek racun dan hasil fatal sebagai
akibat lambat atau sangat lambatnya laju pengeluaran dibandingkan laju
penyerapan.
1.3.Metabolisme
Obat yang telah diserap usus ke dalam sirkulasi lalu diangkut
melalui sistem pembuluh porta (vena porta), yang merupakan suplai darah
utama dari daerah lambung usus ke hati. Dalam hati, seluruh atau sebagian
obat mengalami perubahan kimiawi secara enzimatis dan hasil
perubahannya (metabolit) menjadi tidak atau kurang aktif, dimana proses

ini disebut proses diaktivasi atau bio-inaktivasi (pada obat dinamakan first
pass effect). Tapi adapula obat yang khasiat farmakologinya justru
diperkuat (bio-aktivasi), oleh karenanya reaksi-reaksi metabolisme dalam
hati dan beberapa organ lain lebih tepat disebut biotransformasi.
Faktor yang mempengaruhi metabolisme obat yaitu induksi enzim
yang dapat meningkatkan kecepatan biotransformasi. Selain itu inhibisi
enzim yang merupakan kebalikan dari induksi enzim, biotranformasi obat
diperlambat, menyebabkan bioavailabilitasnya meningkat, menimbulkan
efek menjadi lebih besar dan lebih lama. Kompetisi (interaksi obat) juga
berpengaruh terhadap metabolisme dimana terjadi oleh obat yang
dimetabolisir oleh sistem enzim yang sama. Bila obat diberikan per oral,
maka availabilitas sistemiknya kurang dari 1 dan besarnya bergantung
pada jumlah obat yang dapat menembus dinding saluran cerna (jumlah
obat yang diabsorpsi) dan jumlah obat yang mengalami eliminasi
presistemik (metabolisme lintas pertama) di mukosa usus dan dalam hepar
(Setiawati, 2005). Obat yang digunakan secara oral akan melalui lever
(hepar) sebelum masuk ke dalam darah menuju ke daerah lain dari tubuh
(misalnya otak, jantung, paru-paru dan jaringan lainnya).
2. Parameter Farmakokinetika
2.1 Bio-availability (Ketersediaan Hayati)
Bio-availability dari suatu sediaan obat adalah persentase obat
yang secara utuh mencapai sirkulasi umum untuk melakukan kerjanya.
Selama proses absorpsi dapat terjadi kehilangan zat aktif akibat tidak

dibebaskannya dari sediaan pemberiannya. Atau pula karena penguraian


didalam usus atau dindingnya dalam hati salama peredaran pertama
disistem porta sebelum tiba diperedaran darah. Karena Firs Fass Effect
(FPE) ini, maka bio-availability obat menjadi rendah dari pada persentase
yang sebenarnya diabsorpsi.
2.2 Adapun parameter-parameter farmakokinetika :
-

T maksimum (tmaks)
yaitu waktu konsentrasi plasma mencapai puncak dapat
disamakan dengan waktu yang diperlukan untuk mencapai
konsentrasi obat maksimum setelah pemberian obat. Pada tmaks
absorpsi obat adalah terbesar, dan laju absorpsi obat sama dengan
laju eliminasi obat. Absorpsi masih berjalan setelah tmaks tercapai,
tetapi pada laju yang lebih lambat. Harga tmaks menjadi lebih kecil
(berarti sedikit waktu yang diperlukan untuk mencapai konsentrasi
plasma puncak) bila laju absorpsi obat menjadi lebih cepat
(Shargel, 2005).

Konsentrasi plasma puncak (Cmaks)


menunjukkan konsentrasi obat maksimum dalam plasma
setelah pemberian secara oral. Untuk beberapa obat diperoleh suatu
hubungan antara efek farmakologi suatu obat dan konsentrasi obat
dalam plasma (Shargel, 2005).

Tetapan Laju Eliminasi dan Waktu Paruh dalam Plasma


yaitu waktu paruh dalam plasma adalah waktu dimana
konsentrasi obat dalam darah (plasma) menurun hingga separuh
dari nilai seharusnya.

Grafik farmakokinetik pemberian oral

3. Pemerian Parasetamol

3.1 Sifat Zat Berkhasiat


Sinonim

: 4-Hidroksiasetanilida

Berat Molekul

: 151.16

Rumus Empiris

: C8H9NO2.

3.2 Sifat Fisika


Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.
Kelarutan : larut dalam air mendidih dan dalam NaOH 1N; mudah
larut dalam etanol.
Jarak lebur : Antara 168 dan 172 .
3.3 Farmakokinetik
Parasetamol cepat diabsorbsi dari saluran pencerna, dengan
kadar serum puncak dicapai dalam 30-60 menit. Waktu paruh kira-kira
2 jam, metabolisme di hati, sekitar 3 % diekskresi dalam bentuk tidak
berubah melalui urin dan 80-90 % dikonjugasi dengan asam
glukoronik atau asam sulfurik kemudian diekskresi melalui urin dalam
satu hari pertama, sebagian dihidroksilasi menjadi N asetil
benzokuinon yang sangat reaktif dan berpotensi menjadi metabolit
berbahaya. Pada dosis normal bereaksi dengan gugus sulfhidril dari
glutation menjadi substansi nontoksik. Pada dosis besar akan berikatan
dengan sulfhidril dari protein hati.(Lusiana Darsono 2002).
4. Sentrifugasi
Campuran heterogen terdiri dari senyawa-senyawa dengan berat
jenis berdekatan sulit dipisahkan. Membiarkan senyawa tersebut
terendapkan karena adanya grafitasi berjalan sangat lambat. Beberapa
campuran senyawa yang memiliki sifat seperti ini adalah koloid, seperti
emulsi.

Salah satu teknik yang dapat dipergunakan untuk memisahkan


campuran ini adalah teknik sentrifugasi, yaitu metode yang digunakan
dalam untuk mempercepat proses pengendapan dengan memberikan gaya
sentrifugasi pada partikel-partikelnya.
Prinsip sentrifugasi didasarkan pada pemisahan molekular dari sel
atau organel subselular. Pemisahan tersebut berdasarkan konsep bahwa
partikel

yang

tersuspensi

di

sebuah

wadah

akan

mengendap

(bersedimentasi) ke dasar wadah karena adanya gaya gravitasi. Sehingga


laju pengendapan suatu partikel yang tersuspensi tersebut dapat diatur
dengan meningkatkan atau menurunkan pengaruh gravitasional terhadap
partikel. Pengaturan laju pengendapan tersebut dapat dilakukan dengan
cara menempatkan wadah yang berisi suspensi partikel kemesin
sentrifugasi tepatnya pada bagian rotor yang kemudian akan berputar
dengan kecepatan tertentu. Hal tersebut tergantung pada ukuran dan bobot
jenis dari suspensi. Teknik ini dapat digunakan untuk mengisolasi dan
mengkarakterisasi

molekul

biologi

dan komponen selular. Hasil

sentrifugasi terbagi menjadi dua yaitu, supernatan dan pelet. Supernatan


adalah substansi hasil sentrifugasi yang memiliki bobot jenis yang lebih
rendah. Posisi dari substansi ini berada pada lapisan atas dan warnanya
lebih jernih. Sementara pelet adalah substansi hasil sentrifugasi yang
memiliki bobot jenis yang lebih tinggi.

5. Spektrofotometri
Salah satu analisis untuk menentukan kadar suatu senyawa pada
suatu sampel adalah dengan cara spektrofotometri. Spektrofotometri
merupakan metode analisis yang didasarkan pada besarnya nilai absorbsi
suatu

zat

terhadap

radiasi

sinar

elektromagnetik.

Prinsip

kerja

spektrofotometri adalah dengan menggunakan spektrofotometer yang pada


umumnya terdiri dari unsur-unsur seperti sumber cahaya, monokromator,
sel, fotosel, dan detektor. Sumber radiasi spektrofotometer dapat
digunakan lampu deuterium untuk radiasi di daerah sinar ultraviolet
sampai 350 nm, atau lampu filamen untuk sinar tampak sampai
inframerah. Sinar yang dikeluarkan sumber radiasi merupakan sinar
polikromatis, sehingga harus dibuat menjadi sinar monokromatis oleh
monokromator. Radiasi yang melewati monokromator diteruskan ke zat
yang akan diukur dan sebagian radiasinya akan diserap oleh zat tersebut.
Zat yang akan diukur nilai absorbannya diletakkan pada sel
dengan wadah kuvet. Sinar yang diteruskan akan mencapai fotosel dan
energi sinar diubah menjadi energi listrik (Khopkar 2003). Namun, nilai
yang dihasilkan dari spektrofotometer bukanlah nilai absorban (A)
melainkan

transmitan

(T). Oleh karena itu nilai

tersebut harus

dikonversi ke dalam nilai A zat yang diukur. Konversi menggunakan


rumus A= log % T. Konversi ini dilakukan karena yang terukur adalah
nilai transmitan (besarnya sinar radiasi yang melewati zat dan ditangkap

detektor), sedangkan yang diinginkan adalah nilai absorban (besarnya


sinar radiasi yang terserap oleh zat) dari zat yang diukur.
III. ALAT DAN BAHAN
Alat

Bahan

Hewan Percobaan

Spektrofotometer UV

Suspensi Parasetamol

Tikus

Tabung sentrifugasi

CMC Na
Propilenglikol
Sirupus Simplex
Metanol
NaOH

IV. PROSEDUR
1. Pembuatan sediaan suspensi parasetamol
Dibuat

sediaan

suspensi

parasetamol

50

mg/ml

yang

mengandungan CMC Na 0,5%, propilenglikol 0,2% dan sirupus simplex


hingga 25 ml
2. Pembuatan kurva baku parasetamol
Disiapkan larutan induk parasetamol dengan dilarutkan 10 mg tiap
bahan dalam 10 ml NaOH 0,1 N (Larutan Induk 1000 ppm) yaitu dengan
cara melarutkan 100 mg parasetamol dalam 30 ml NaOH 0,1 N
ditambahkan aquadest sampai 100 ml kemudian diencerkan dengan
konsentrasi 100 ppm dengan cara dipipet larutan induk 1 ml ditambahkan
NaOH 0,1 N 1 ml ditambahkan aquadest hingga 10 ml dibuat serangkaian

larutan parasetamol dengan konsentrasi 3, 5, 7, 9, 11 g/ml (absorban


yang baik antara 0,2 0,8. Panjang gelombang maksimum parasetamol
adalah 249 nm (dipastikan lagi kebenaran panjang gelombang maksimum
parasetamol)
3. Pemberian Obat pada Tikus
Tikus dipuasakan selama kurang lebih 5 jam sebelum pemberian
obat agar pengaruh makanan terhadap proses farmakokinetik dapat
dihindari. Tikus diberikan sediaan parasetamol secara oral masing-masing
dengan dosis setara dengan 500 mg dosis manusia dengan faktor konversi
56 untuk tikus 200 gram
4. Pengambilan darah
Sampel darah diambil dari bagian tikus sebanyak masing-masing 1
ml pada 30, 60, 90, dan 120 menit setelah pemberian obat. Sampel darah
selanjutnya disentrifugasi dengan menggunakan tabung sentrifugasi pada
kecepatan 4000 rpm selama 15 menit. Bagian supernatant dipipet
sebanyak 0,5 ml dan diencerkan dengan 0,5 ml campuran metanol dan
asam asetat 1% (80 : 20) dalam tabung sentrifugasi, disentrifugasi dengan
kecepatan 4000 rpm selama 15 menit.

Kemudian diambil 0,5 ml

supernatant dan ditambahkan 0,5 ml NaOH 0,1 N. Kadar parasetamol


dianalisis dengan spektrofotometri uv. Dilakukan perhitungan untuk
menentukan kadar parasetamol dalam sampel. Ditentukan persamaan dan
parameter farmakokinetiknya

V. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN


..
VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini telah dilakukan percobaan menentukan
farmakokinetik sediaaan oral. Hewan yang digunakan pada praktikum ini
yaitu tikus. Pada praktikum kali ini juga dilakukan penentuan parameterparameter framakokinetik parasetamol yang diberikan pada tikus. Praktikum
diawali dengan membuat suspensi parasetamol dengan kekuatan sediaan 50
mg/ml yang mengandung CMCNa 0,5%, propilenglikol 0,2% dan sirupus
simpleks hingga 25 ml. Kekuatan sediaan yang digunakan 50 mg/ml dipilih
karena berhubungan dengan volume pemberian sediaan. Konsentrasi zat aktif
yang terlalu tinggi akan membuat pemberian jumlah sediaan yang sangat kecil
sehingga menyulitkan dalam pengukuran maupun pemberiaan pada hewan
percobaaan, selain itu dengan kekuatan sediaan 50 mg/ml, sediaan dapat
dimasukkan dalam sonde oral dengan volume yang sesuai dan dosis yang
tepat.
Pada praktikum ini sediaan parasetamol yang digunakan yaitu berupa
suspesi. Sediaaan suspensi parasetamol dipilih karena sifat kelarutan dari
parasetamol yang agak sukar larut dalam air. Selain itu pemilihan sediaan
suspensi juga ditujukan supaa mempermudah pemberiaan oral kepada hewan
percobaan. Setelah pembuatan suspense kemudian dilakukan pembuatan kurva
kalibrasi dari parasetamol. Kurva kalibrasi parasetamol diperoleh dengan
mengukur absorabansi dari larutan seri yang telah diencerkan dari larutan

induk. Larutan induk yang konsentrasinya 1000 ppm diencerkan menjadi 100
ppm kemudaian diencerkan kembali

menjadi 3,5,7,9 dan 11 ppm.

Pengenceran ini berfusngsi supaya absorbansi larutan berada pada rentang 0,20,8.
Kemudian masing-masing seri diukur absorbansinya dengan menggunakan
instrumen Spektrofotometer UV dengan panjang gelaombang 257 nm.
Pengggunaan

sinar

UV

disebabkan

panjang

gelombang

maksimum

parasetamol berada di 257 nm yang mana merupakan daerah serapan sinar


UV. Pembuatan kurva kalibrasi parasetamol ini bertujuan agar pada saat
pengukuran sampel kita dapat mengetahui konsentrasi dari asmpel yang
diukur. Pada saat diukur dengan alat instrument data yang keluar berupa
absorbansi kemudain dengan memasukan data absorbansi kepersamaan regresi
linier dari kurva kalibrasi parasetamol maka akan diperoleh data konsentrsi.
Pada praktikum ini digunakan dua tikus dengan masing-masing bobotnya
tikus ke-1 240 gram dan tikus ke-2 200 gram. Penggunaaan 2 tikus ini
bertujuan untuk membandingkan hasil yang diperoleh dalam penentuan
parameter farmakokinetik sediaan oral dengan jumlah dan dosis yang sama.
Selanjutnya sebelum tikus diberikan sediaan, terlebih dahulu dilakukan
konversi dosis dari manusia ke tikus dengan menggunakan faktor konversi
0,018. Setelah dikonversi kemudian dilakukan perhitungan volume yang akan
diberikan pada masing-masing tikus dengan bobot yang berbeda.

Sebelum diberikan sediaan suspensi parasetamol, tikus terlebih dahulu


dipuasakan selam 5 jam. Pengosongan lambung tikus tersebut supaya absorpsi
parasetamol yang terjadi dapat diserap dengan baik oleh tikus. Sebelum
diberikan sediaan darah tikus diambil sebnyak 1 ml yang akan digunkan
sebagai blanko. Kemudian tikus diberikan sediaan suspensi parasetamol
dengan cara oral menggunkan sonde dengan volume yang sesuai. Pada tikus 1
diberikan sediaan sebanyak 0,216 ml dan pada tikus 2 diberikan sediian
sebanyak 0,18 ml dengan dosis yang sama.
Setelah diberikan suspense parasetamol kemudian dilakukan pengambilan
darah dari ekor tikus pada waktu ke 30,60,90 dan 120 masing-masing 1 ml.
sampel darah yang diperoleh kemudain disentrifuga dengan kecepatan 4000
rpm selama 15 menit. Proses sentrifugasi ini berfungsi untuk memisahkan
plasma dan sel darah yang mana oabat akan cenderung berikatan dengan
plasma. Kemudain supernatant yang diperoleh dipipet sebanyak 0,5 ml dan
ditambah campuran metanol : asam asetat (80:20) penambahan methanol dana
asam setat berfungsi untuk presifitasi protein. Karena sebagian besar obat
terikat dengan protein sehingga untuk dapat dianalisi obat harus tidak terikat
dengan protein. Setelah itu di sentrifuga kembali dengan kecepatan 4000 rpm
selama 15 menit pengulangan ini bertujuan agar endapan yang diperoleh
sempurna. Setelah itu supernatan diambil sebanyak 0,5 ml dan ditambahakan
NaOH.
Setelah diperoleh supernatan dari tikus 1 dan 2 dari menit ke 30 sampai
120 diukur dengan menggunakan spektrofotometer UV dengan panjang

gelombang 257 nm panjang gelombang ini merupakan panjang gelombang


parasetamol, dan sebagai blanko digunkan NaOH. Setelah itu didapat
absorbasni dari tikus 1 dan 2. Pada tikus 1 terjadi absorpsi pada mneit ke 30
konsentrasinya 0,712

/ml dan menit 60 24,224

eliminasi pada menit ke 90 20,492

/ml kemudian mengalami

/ml dan 120 18,448

/ml. Sedangkan

pada tikus 2 ment ke 30 konsentrasi yang diperoleh 27,224

/ml kemudian

pada menit ke 60 konsentrasinya langsung turun menjadi 6,612

/ml pada

tikus 2 menit ke 90 dan 120 tidak diukur dikarenakan tikus yang dipakai sudah
tidak mengeluarkan darah.
Setelah diperoleh asbsorbansi kemudian dirubah menjadi konsentrasi
dengan memasukan absorbansi pada persamaan kurva kalibrasi parasetamol,
setelah

konsentrasinya

didapat

kemudian

dihitung

parameter

farmakokinetiknya. Parameter yang dihitung yaitu tmaks, Cpmaks, t (waktu


paruh) absorbansi dan t eliminasi. Waktu paruh yang diperoleh yaitu t
absorbs 7,372 menit dan t eliminasi 198 menit atau 3,3 jam. Waktu parunh
eliminasi pada tikus 1 hampir mendekati waktu paruh parasetamol pada
manusia yaitu 1-3 jam setelah pemberian oral. Penentuan waktu paruh sangat
penting untuk menentukan interval dosis obat. Nilai tmaks yang diperoleh dari
percobaan ini yaitu tikus satu 36, 353 menit tikus dua 10,45 menit. Nilai tmaks
ridak tergantung pada dosis tetapi tergantung pada laju absorpsi dan eliminasi
semakin besar kecepatan bsorpsi semakin kecil nilai Nilai tmaks. Nilai Cpmaks
yang diperoleh pada tikus satu 11,525

/ml dan tikus dua -1478,831

/ml.

Cpmaks pada tikus kedua negatif karena pada saat perhitungan fase eliminasi
obatnya menggunakan data dari tikus satu sehingga datanya menjadi minus.

VII.

KESIMPULAN
Cmax (kadar puncak) yang didapat dari tikus 1 adalah
ppm dan tikus 2 adalah .. Cmax adalah kadar tertinggi yang
terukur dalam darah. Cmax juga digunakan sebagai tolak ukur pada suatu
dosis yang diberikan, apakah cenderung memberikan efek toksik atau
tidak. Dosis dikatakan aman apabila Cmax obat tidak melebihi kadar toksik
minimal (KTM).

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Fakultas kedokteran UI., 2012, Farmakologi Dan Terapi Edisi 5, Balai
penerbit FKUI: Jakarta.
Shargel, Leon. Susanna Wu, Andrew B.C, Yu (alih bahasa: Fasich, Budi
Suprapti.

(2012).

Biofarmasetika

dan

Farmakokinetika

Terapan Edisi kelima, Universitas Airlangga: Jakarta.


Departemen Kesehatan RI, 1998, Farmakope Indonesia Edisi IV, Jakarta.
Lusiana, Darsono. 2002. Diagnosis dan Terapi Intoksikasi Salisilat dan
Parasetamol. Bandung : Universitas Kristen Maranatha
https://www.scribd.com/doc/78829367/Biofarmasetika-sediaan-oral
diakses pada 30/12/2014 - 18.45