Anda di halaman 1dari 36

KETUBAN PECAH DINI

Ketuban Pecah Sebelum Waktunya (KPSW) atau


Ketuban Pecah Dini (KPD) atau Ketuban Pecah
Prematur (KPP)
Ketuban pecah dini (KPD) atau ketuban pecah sebelum
waktunya (KPSW) atau ketuban pecah prematur (KPP)
adalah keluarnya cairan dari jalan lahir/vagina sebelum
proses persalinan.
Ketuban pecah prematur yaitu pecahnya membran
khorio-amniotik sebelum onset persalinan atu disebut
juga Premature Rupture Of Membrane = Prelabour
Rupture Of Membrane = PROM.
Ketuban pecah prematur pada preterm yaitu pecahnya
membran Chorio-amniotik sebelum onset persalinan
pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu atau
disebut juga Preterm Premature Rupture Of Membrane
= Preterm Prelabour Rupture Of Membrane = PPROM

Insiden
PROM
PPROM

: 6-19% kehamilan
: 2% kehamilan

Etiologi
Penyebab dari KPD tidak atau masih belum diketahui secara jelas maka usaha
preventif tidak dapat dilakukan, kecuali dalam usaha menekan infeksi.
Faktor yang berhubungan dengan meningkatnya insidensi KPD antara lain :

Fisiologi selaput amnion/ketuban yang abnormal


Inkompetensi serviks
Infeksi vagina/serviks
Kehamilan ganda
Polihidramnion
Trauma
Distensi uteri
Stress maternal
Stress fetal
Infeksi
Serviks yang pendek
Prosedur medis

KETUBAN PECAH DINI BERHUBUNGAN ERAT DENGAN


PERSALINAN PRETERM DAN INFEKSI INTRAPARTUM
Patofisiologi
Banyak teori, mulai dari defek kromosom, kelainan kolagen, sampai
infeksi.
Pada sebagian besar kasus ternyata berhubungan dengan infeksi (sampai
65%).
High virulence : bacteroides. Low virulence : lactobacillus.
Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblas, jaringan
retikuler korion dan trofoblas.
Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas
dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin.
Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan
prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi
depolimerisasi kolagen pada selaput korion / amnion, menyebabkan
selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.

Faktor risiko / predisposisi ketuban pecah dini / persalinan preterm

1. kehamilan multipel : kembar dua (50%), kembar tiga (90%)


2. riwayat persalinan preterm sebelumnya : risiko 2 4x
3. tindakan sanggama : TIDAK berpengaruh kepada risiko, KECUALI jika
higiene buruk, predisposisi terhadap infeksi
4. perdarahan pervaginam : trimester pertama (risiko 2x), trimester
kedua/ketiga (20x)
5. bakteriuria : risiko 2x (prevalensi 7%)
6. pH vagina di atas 4.5 : risiko 32% (vs. 16%)
7. servix tipis / kurang dari 39 mm : risiko 25% (vs. 7%)
8. flora vagina abnormal : risiko 2-3x
9. fibronectin > 50 ng/ml : risiko 83% (vs. 19%)
10. kadar CRH (corticotropin releasing hormone) maternal tinggi misalnya
pada stress psikologis, dsb, dapat menjadi stimulasi persalinan preterm

Strategi pada perawatan antenatal


- deteksi faktor risiko
- deteksi infeksi secara dini
- USG : biometri dan funelisasi
Trimester pertama : deteksi faktor risiko, aktifitas seksual,
pH vagina, USG,
pemeriksaan Gram, darah rutin, urine.
Trimester kedua dan ketiga : hati-hati bila ada keluhan nyeri
abdomen, punggung, kram di daerah pelvis seperti sedang
haid, perdarahan per vaginam, lendir merah muda,
discharge vagina, poliuria, diare, rasa menekan di pelvis.
Jika ketuban pecah : jangan sering periksa dalam !! Awasi
tanda-tanda komplikasi.

Komplikasi ketuban pecah dini


1. infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari
vagina ke intrauterin.
2. persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan
preterm.
3. prolaps tali pusat, bisa sampai gawat janin dan
kematian janin akibat hipoksia (sering terjadi pada
presentasi bokong atau letak lintang).
4. oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry
labor) karena air ketuban habis.

Keadaan / faktor-faktor yang dihubungkan dengan partus preterm

1. iatrogenik : hygiene kurang (terutama), tindakan traumatik


2. maternal : penyakit sistemik, patologi organ reproduksi atau pelvis, preeklampsia, trauma, konsumsi alkohol atau obat2 terlarang, infeksi
intraamnion subklinik, korioamnionitis klinik, inkompetensia serviks,
servisitis/vaginitis akut, KETUBAN PECAH pada usia kehamilan preterm.
3. fetal : malformasi janin, kehamilan multipel, hidrops fetalis,
pertumbuhan janin terhambat, gawat janin, kematian janin.
4. cairan amnion : oligohidramnion dengan selaput ketuban utuh, ketuban
pecah pada preterm, infeksi intraamnion, korioamnionitis klinik.
5. placenta : solutio placenta, placenta praevia (kehamilan 35 minggu atau
lebih), sinus maginalis, chorioangioma, vasa praevia.
6. uterus : malformasi uterus, overdistensi akut, mioma besar,
desiduositis, aktifitas uterus idiopatik.

Persalinan preterm (partus prematurus) :


persalinan yang terjadi pada usia kehamilan
antara 20-37 minggu.
Tanda : kontraksi dengan interval kurang dari 5-8,
disertai dengan perubahan serviks progresif,
dilatasi serviks nyata 2 cm atau lebih, serta
penipisan serviks berlanjut sampai lebih dari 80%.
Insidens rata-rata di rumahsakit2 besar di
Indonesia : 13.3% (10-15%)

INFEKSI INTRAPARTUM
Infeksi intrapartum adalah infeksi yang terjadi
dalam masa persalinan / in partu.
Disebut juga korioamnionitis, karena infeksi ini
melibatkan selaput janin.
Pada ketuban pecah 6 jam, risiko infeksi
meningkat 1 kali. Ketuban pecah 24 jam, risiko
infeksi meningkat sampai 2 kali lipat.
Protokol : paling lama 2 x 24 jam setelah
ketuban pecah, harus sudah partus.

Patofisiologi
1. ascending infection, pecahnya ketuban menyebabkan ada
hubungan langsung antara ruang intraamnion dengan dunia luar.
2. infeksi intraamnion bisa terjadi langsung pada ruang amnion,
atau dengan penjalaran infeksi melalui dinding uterus, selaput janin,
kemudian ke ruang intraamnion.
3. mungkin juga jika ibu mengalami infeksi sistemik, infeksi
intrauterin menjalar melalui plasenta (sirkulasi fetomaternal).
4. tindakan iatrogenik traumatik atau higiene buruk, misalnya
pemeriksaan dalam yang terlalu sering, dan sebagainya,
predisposisi infeksi.
Kuman yang sering ditemukan : Streptococcus, Staphylococcus
(gram positif), E.coli (gram negatif), Bacteroides, Peptococcus
(anaerob).

Diagnosis infeksi intrapartum


1. febris di atas 38oC (kepustakaan lain 37.8oC)
2. ibu takikardia (>100 denyut per menit)
3. fetal takikardia (>160 denyut per menit)
4. nyeri abdomen, nyeri tekan uterus
5. cairan amnion berwarna keruh atau hijau dan
berbau
6. leukositosis pada pemeriksaan darah tepi (>1500020000/mm3)
7. pemeriksaan penunjang lain : leukosit esterase (+)
(hasil degradasi leukosit, normal negatif), pemeriksaan
Gram, kultur darah.

Komplikasi infeksi intrapartum


1. komplikasi ibu : endometritis, penurunan
aktifitas miometrium (distonia, atonia), sepsis
CEPAT (karena daerah uterus dan intramnion
memiliki vaskularisasi sangat banyak), dapat
terjadi syok septik sampai kematian ibu.
2. komplikasi janin : asfiksia janin, sepsis
perinatal sampai kematian janin.

Prinsip penatalaksanaan

1. pada ketuban pecah, terminasi kehamilan, batas waktu 2 x 24 jam


2. jika ada tanda infeksi intrapartum, terminasi kehamilan / persalinan
batas waktu 2 jam.
3. JANGAN TERLALU SERING PERIKSA DALAM
4. bila perlu, induksi persalinan
5. observasi dan optimalisasi keadaan ibu : oksigen !!
6. antibiotika spektrum luas : gentamicin iv 2 x 80 mg, ampicillin iv 4 x 1
mg, amoxicillin iv 3 x 1 mg, penicillin iv 3 x 1.2 juta IU, metronidazol drip.
7. uterotonika : methergin 3 x 1 ampul drip
8. pemberian kortikosteroid : kontroversi. Di satu pihak dapat
memperburuk keadaan ibu karena menurunkan imunitas, di lain pihak
dapat menstimulasi pematangan paru janin (surfaktan). Di RSCM
diberikan, bersama dengan antibiotika spektrum luas. Hasil cukup baik.

KETUBAN PECAH DINI dan KETUBAN PECAH DINI PADA


KEHAMILAN PRETERM :
KETUBAN PECAH DINI dan KETUBAN PECAH DINI PADA
KEHAMILAN PRETERM

FUNGSI SELAPUT AMNION :


FUNGSI SELAPUT AMNION Kantung amnion merupakan
tempat yang baik bagi gerak dan perkembangan muskuloskeletal janin. Gerak pernafasan yang disertai aliran cairan
amnion kedalam saluran pernafasan janin penting bagi
perkembangan saccus alveolaris paru. Selaput ketuban
merupakan penghalang masuknya polimikrobial flora
vagina kedalam kantung amnion.

KOMPLIKASI :
KOMPLIKASI KPD preterm seringkali menyebabkan terjadinya:
Persalinan preterm Chorioamnionitis Endometritis Gawat janin atau
asfiksia intrauterin Angka kejadian chorioamnionitis berbanding
terbalik dengan usia kehamilan Menurut Hillier dkk ( 1988):
Chorioamnionitis histologik 100% pada usia kehamilan 26 minggu
Chorioamnionitis histologik 70% pada usia kehamilan 30 minggu
Chorioamnionitis histologik 60% pada usia kehamilan 32 minggu
Invasi mikroba secara langsung kedalam cairan amnion dan
inflamasi selaput ketuban
KOMPLIKASI Gawat janin atau asfiksia intrauterin merupakan akibat
dari kompresi talipusat akibat berkurangnya cairan amnion
(oligohidramnion) atau prolapsus talipusat KPD pada kehamilan
yang sangat muda dan disertai oligohidramnion yang lama
menyebabkan terjadinya deformitas janin a.l : Hipoplasia pulmonal
fascia Deformitas ekstrimitas

PEMERIKSAN DIAGNOSTIK :
PEMERIKSAN DIAGNOSTIK Pada pasien hamil yang datang dengan keluhan keluar
cairan KPD ??? Tujuan umum diagnostik awal adalah : Konfirmasi diagnosa selaput
ketuban sudah pecah Menilai keadaan janin (dari kwalitas air ketuban, hasil
pemeriksaan CTG ) Menentukan apakah pasien dalam keadaan inpartu aktif ?
Menyingkirkan infeksi
Evaluasi awal penderita dengan dugaan KPD preterm :
Evaluasi awal penderita dengan dugaan KPD preterm
PEMERIKSAN DIAGNOSTIK :
PEMERIKSAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan vaginal (vaginal toucher) harus sangat
dibatasi termasuk untuk pemeriksaaan diagnostik awal VT sebelum persalinan
meningkatkan kejadian infeksi neonatus dan memperpendek periode laten
Dengan menghindari VT , usaha mempertahankan kehamilan menjadi semakin
lama Pemeriksaan inspekulo harus terlebih dahulu dilakukan meskipun pasien
nampak sudah masuk fase inpartu oleh karena dengan pemeriksaan inspekulo
dapat dilakukan penentuan dilatasi servik.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK :
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Oleh karena infeksi intra
amniotik subklinis juga sering terjadi dan keadaan ini
merupakan penyebab utama morbiditas ibu dan anak,
maka evaluasi gejala dan tanda infeksi pada pasien
harus dilakukan Tanda infeksi yang jelas terdapat pada
infeksi lanjut antara lain : demam ( suhu > 37.60C ),
takikardi, uterus tegang, getah vagina berbau dan
purulen Diagnosa dini infeksi intraamniotik dilakukan
dengan pemeriksaan : Leukositosis > 15.000 plp Protein
C-reactive

Penatalaksanaan KETUBAN PECAH DINI :


Penatalaksanaan KPD tergantung pada sejumlah faktor,
antara lain : Usia kehamilan Ada atau tidak adanya
chorioamnionitis Penatalaksanaan KETUBAN PECAH DINI

Kehamilan yang disertai Amnionitis. :


Kehamilan yang disertai Amnionitis. Pada kasus KPD yang
disertai dengan adanya tanda-tanda infeksi
chorioamnionitis harus dilakukan terminasi kehamilan
tanpa memperhatikan usia kehamilan. Sebelum terminasi
kehamilan, diberikan antibiotika spektrum luas untuk terapi
amnionitis

Kehamilan Aterm TANPA Amnionitis. :


Kehamilan Aterm TANPA Amnionitis. Pada
kehamilan aterm, penatalaksanaan KPD tanpa
disertai amnionitis dapat bersifat : AKTIF
(segera melakukan terminasi kehamilan) atau
EKSPEKTATIF (menunda persalinan sampai
maksimum 12 jam).

Penatalaksanaan EKSPEKTATIF :
Penatalaksanaan EKSPEKTATIF Tirah baring
Pemberian Broadspectrum Antibiotics Observasi
tanda-tanda inpartu dan keadaan ibu dan anak
Bila selama 12 jam tak ada tanda-tanda inpartu
dan keadaan umum ibu dan anak baik maka
dapat dilakukan terminasi kehamilan Bila selama
masa observasi terdapat : Suhu rektal > 37.60C
Gawat ibu atau gawat janin Bila selama masa
observasi pasien inpartu amati kemajuan
persalinan

Kehamilan preterm tanpa amnionitis :


Kehamilan preterm tanpa amnionitis Prinsip = pada
kehamilan aterm tanpa amnionitis. Perbedaan : resiko
chorioamnionitis lebih tinggi. Pada kehamilan > 34
minggu =kehamilan aterm tanpa amnionitis. Pada
kehamilan kurang dari 24 minggu, resiko KPD terhadap
ibu dan anak sangat tinggi. Pada usia kehamilan ini,
pemberian steroid, tokolitik dan antibiotika tidak
memberi manfaat . Penatalaksanaan dapat secara aktif
atau ekspektatif dengan pengawasan dan informasi
pada pasien yang baik.

Kehamilan preterm tanpa amnionitis :


Kehamilan preterm tanpa amnionitis Pada kehamilan antara 24 - 32
minggu, sejumlah intervensi nampaknya dapat memperpanjang
masa kehamilan dan memperbaiki out come. Setelah diagnosa KPD
ditegakkan maka dapat dilakukan pemberian: Antibiotika
broadspectrum Kortikosteroid Tokolitik

Antibiotika :
Antibiotika Tak seperti halnya pada persalinan preterm tanpa KPD,
pemberian antibiotika pada kasus KPD pada kehamilan preterm
nampaknya memberikan dampak baik dalam hal memperpanjang
usia kehamilan dan perbaikan outcome neonatal.

Kortikosteroid :
Kortikosteroid Banyak ahli yang memberikan rekomendasi
penggunaan kortikosteroid pada kasus KPD preterm < 32 minggu
dengan syarat tidak terdapat tanda amnionitis. Pada populasi yang
diteliti nampak manfaat pemberian kortikosteroid dalam
penurunan angka kejadian : RDS-respiratory distress syndrome,
Necrotizing Enterocolitis dan Perdarahan intraventricular .
Tokolitik :
Tokolitik Belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa
penggunaan tokolitik saja dapat memperbaiki out come perinatal.
Pada umumnya pemberian tokolitik pada kasus Preterm KPD
dibatasi selama 48 jam hanya untuk memberikan kesempatan bagi
pemberian kortikosteroid dan antibiotika.

Penatalaksanaan pasien secara poliklinis :


Penatalaksanaan pasien secara poliklinis Pada kehamilan < 34
minggu (setelah terapi ekspektatif diberikan : antibiotika,
kortikosteroid dan tokolisis) Tanda-tanda inpartu - , Air ketuban
sudah tak keluar lagi, Febris - Tanda-tanda iritabilitas uterus - Dalam
jangkauan pengamatan dari rumah sakit yang bersangkutan
dimungkinkan untuk keluar rumah sakit dengan advis khusus Status
pasien : pasien poliklinik dengan pengamatan sangat ketat. Di
rumah : mencatat suhu rektal setiap 4 jam Pemeriksaan Biophysical
Score dilakukan setiap hari. Masalah : apakah jenis penatalaksanaan
pasien seperti diatas tidak memberikan resiko teramat tinggi
mengingat bahwa pengamatan poliklinis semacam itu tidak mudah
untuk dilaksanakan.

Diagnosa
Secara klinik diagnosa ketuban pecah dini tidak sukar dibuat anamnesa pada klien dengan
keluarnya air seperti kencing dengan tanda-tanda yang khas sudah dapat menilai itu mengarah ke
ketuban pecah dini. Untuk menentukan betul tidaknya ketuban pecah dini bisa dilakukan dengan
cara :
Adanya cairan yang berisi mekonium (kotoran janin), verniks kaseosa (lemak putih) rambut lanugo
atau (bulu-bulu halus) bila telah terinfeksi bau
Pemeriksaan inspekulo, lihat dan perhatikan apakah memang air ketuban keluar dari kanalis
servikalis pada bagian yang sudah pecah, atau terdapat cairan ketuban pada forniks posterior
USG : volume cairan amnion berkurang/oligohidramnion
Terdapat infeksi genital (sistemik)
Gejala chorioamnionitis
Maternal : demam (dan takikardi), uterine tenderness, cairan amnion yang keruh dan berbau,
leukositosis (peningkatan sel darah putih) meninggi, leukosit esterase (LEA) meningkat, kultur
darah/urin
Fetal : takikardi, kardiotokografi, profilbiofisik, volume cairan ketuban berkurang

Cairan amnion
Tes cairan amnion, diantaranya dengan kultur/gram stain, fetal
fibronectin, glukosa, leukosit esterase (LEA) dan sitokin.
Jika terjadi chorioamnionitis maka angka mortalitas neonatal 4x
lebih besar, angka respiratory distress, neonatal sepsis dan
pardarahan intraventrikuler 3x lebih besar
Dilakukan tes valsava, tes nitrazin dan tes fern
Normal pH cairan vagina 4,5-5,5 dan normal pH cairan amnion 7,07,5
Dilakukan uji kertas lakmus/nitrazine test
Jadi biru (basa)
Jadi merah (asam)

: air ketuban
: air kencing

Prognosis/komplikasi
Adapun pengaruh ketuban pecah dini terhadap ibu dan janin adalah
:
Prognosis ibu
Infeksi intrapartal/dalam persalinan
Jika terjadi infeksi dan kontraksi ketuban pecah maka bisa
menyebabkan sepsis yang selanjutnya dapat mengakibatkan
meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas
Infeksi puerperalis/ masa nifas
Dry labour/Partus lama
Perdarahan post partum
Meningkatkan tindakan operatif obstetri (khususnya SC)
Morbiditas dan mortalitas maternal

Prognosis janin
Prematuritas
Masalah yang dapat terjadi pada persalinan prematur diantaranya adalah
respiratory distress sindrome, hypothermia, neonatal feeding problem,
retinopathy of premturity, intraventricular hemorrhage, necrotizing enterocolitis,
brain disorder (and risk of cerebral palsy), hyperbilirubinemia, anemia, sepsis.
Prolaps funiculli/ penurunan tali pusat
Hipoksia dan Asfiksia sekunder (kekurangan oksigen pada bayi)
Mengakibatkan kompresi tali pusat, prolaps uteri, dry labour/pertus lama, apgar
score rendah, ensefalopaty, cerebral palsy, perdarahan intrakranial, renal failure,
respiratory distress.
Sindrom deformitas janin
Terjadi akibat oligohidramnion. Diantaranya terjadi hipoplasia paru, deformitas
ekstremitas dan pertumbuhan janin terhambat (PJT)
Morbiditas dan mortalitas perinatal

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ketuban pecah dini tergantung pada umur kehamilan dan tanda infeksi intrauterin
Pada umumnya lebih baik untuk membawa semua pasien dengan KPD ke RS dan melahirkan bayi
yang berumur > 37 minggu dalam 24 jam dari pecahnya ketuban untuk memperkecil resiko infeksi
intrauterin
Tindakan konservatif (mempertahankan kehamilan) diantaranya pemberian antibiotik dan cegah
infeksi (tidak melakukan pemeriksaan dalam), tokolisis, pematangan paru, amnioinfusi, epitelisasi
(vit C dan trace element, masih kontroversi), fetal and maternal monitoring. Tindakan aktif
(terminasi/mengakhiri kehamilan) yaitu dengan sectio caesarea (SC) atau pun partus pervaginam
Dalam penetapan langkah penatalaksanaan tindakan yang dilakukan apakah langkah konservatif
ataukah aktif, sebaiknya perlu mempertimbangkan usia kehamilan, kondisi ibu dan janin, fasilitas
perawatan intensif, kondisi, waktu dan tempat perawatan, fasilitas/kemampuan monitoring,
kondisi/status imunologi ibu dan kemampuan finansial keluarga.
Untuk usia kehamilan <37 minggu dilakukan penanganan konservatif dengan mempertahankan
kehamilan sampai usia kehamilan matur.
Untuk usia kehamilan 37 minggu atau lebih lakukan terminasi dan pemberian profilaksis
streptokokkus grup B. Untuk kehamilan 34-36 minggu lakukan penatalaksanaan sama halnya
dengan aterm
Untuk usia kehamilan 32-33 minggu lengkap lakukan tindakan konservatif/expectant management
kecuali jika paru-paru sudah matur

(maka perlu dilakukan tes pematangan paru), profilaksis streptokokkus grup B, pemberian
kortikosteroid (belum ada konsensus namun direkomendasikan oleh para ahli), pemberian
antibiotik selama fase laten.
Untuk previable preterm (usia kehamilan 24-31 minggu lengkap) lakukan tindakan konservatif,
pemberian profilaksis streptokokkus grup B, single-course kortikosteroid, tokolisis (belum ada
konsensus) dan pemberian antibiotik selama fase laten (jika tidak ada kontraindikasi)
Untuk non viable preterm (usia kehamilan <24 minggu), lakukan koseling pasien dan keluarga,
lakukan tindakan konservatif atau induksi persalinan, tidak direkomendasikan profilaksis
streptokokkus grup B dan kortikosteroid, pemberian antibiotik tidak dianjurkan karena belum ada
data untuk pemberian yang lama)
Rekomendasi klinik untuk PROM, yaitu pemberian antibiotik karena periode fase laten yang
panjang, kortikosteroid harus diberikan antara 24-32 minggu (untuk mencegah terjadinya resiko
perdarahan intraventrikuler, respiratory distress syndrome dan necrotizing examinations),tidak
boleh dilakukan digital cervical examinations jadi pilihannya adalah dengan spekulum, tokolisis
untuk jangka waktu yang lama tidak diindikasikan sedangkan untuk jangka pendek dapat
dipertimbangkan untuk memungkinkan pemberian kortikosteroid, antibiotik dan transportasi
maternal, pemberian kortikosteroid setelah 34 minggu dan pemberian multiple course tidak
direkomendasikan
Pematangan paru dilakukan dengan pemberian kortikosteroid yaitu deksametason 26 mg (2 hari)
atau betametason 112 mg (2 hari)
Agentokolisis yaitu B2 agonis

Agentokolisis yaitu B2 agonis (terbutalin, ritodrine), calsium antagonis (nifedipine),


prostaglandin sintase inhibitor (indometasin), magnesium sulfat, oksitosin
antagonis (atosiban)
Tindakan epitelisasi masih kotroversial, walaupun vitamin C dan trace element
terbukti berhubungan dengan terjadinya ketuban pecah terutama dalam
metabolisme kolagen untuk maintenance integritas membran korio-amniotik,
namun tidak terbukti menimbulkan epitelisasi lagi setelah terjadi PROM
Tindakan terminasi dilakukan jika terdapat tanda-tanda chorioamnionitis, terdapat
tanda-tanda kompresi tali pusat/janin (fetal distress) dan pertimbangan antara usia
kehamilan, lamanya ketuban pecah dan resiko menunda persalinan
KPD pada kehamilan < 37 minggu tanpa infeksi, berikan antibiotik eritromisin
3250 mg, amoksisillin 3500 mg dan kortikosteroid
KPD pada kehamilan > 37 minggu tanpa infeksi (ketuban pecah >6 jam) berikan
ampisillin 21 gr IV dan penisillin G 42 juta IU, jika serviks matang lakukan induksi
persalinan dengan oksitosin, jika serviks tidak matang lakukan SC
KPD dengan infeksi (kehamilan <37 ataupun > 37 minggu), berikan antibiotik
ampisillin 42 gr IV, gentamisin 5 mg/KgBB, jika serviks matang lakukan induksi
persalinan dengan oksitosin, jika serviks tidak matang lakukan SC

Vitamin C Cegah Ketuban Pecah Dini


Ketuban pecah dini (KPD), yaitu suatu keadaan saat
kehamilan dimana terjadi keluarnya cairan ketuban
sebelum memasuki masa persalinan. Keadaan ini dapat
beresiko menimbulkan infeksi pada janin maupun terjadi
kelahiran yang prematur. Resiko ini dapat dikurangi bila ibu
mengkonsumsi suplemen vitamin C pada saat memasuki
usia separuh masa kehamilan.
Kesimpulan ini merupakan hasil penelitian dari National
Institute of Perinatology di Meksiko City, pada 120 wanita
hamil yang secara acak diberikan 100 mg vitamin C, pada
saat kehamilan memasuki usia 20 minggu.

Vitamin C telah diketahui berperan penting dalam mempertahankan


keutuhan membran (lapisan) yang menyelimuti janin dan cairan ketuban.
Walaupun penelitian sebelumnya telah menghubungkan kadar yang
rendah dari vitamin C pada ibu dengan meningkatnya resiko terjadinya
pecahnya membran secara dini atau yang disebut dengan ketuban pecah
dini ("premature rupture of membranes", PROM), tapi penelitian itu tidak
menjelaskan tentang penggunaan suplemen vitamin C dalam menurunkan
risiko terjadinya KPD.
Untuk itu, penelitian di Meksiko ini dilakukan. Dari hasil pemberian
suplemen vitamin C yang dimulai pada saat usia kehamilan 20 minggu,
menunjukkan peningkatan dari kadar vitamin C dalam darah dibanding
dengan kelompok kontrol (tidak diberikan suplemen vitamin C).
Dan peningkatan ini berhubungan juga dengan menurunnya resiko untuk
mengalami KPD. Pada kelompok kontrol, terjadi KPD pada 14 dari 57
kehamilan (25%), sedang pada kelompok ibu yang diberikan vitamin C,
terjadi penurunan KPD, yaitu hanya terjadi pada 4 dari 52 kehamilan (8%).

Pada kasus seluruh kelahiran prematur, 40%


lebih disebabkan karena KPD. Mungkin
dengan pemberian suplemen Vitamin C dapat
membantu para ibu mencegah terjadinya
ketuban pecah dini, sehingga kehamilan dapat
dipertahankan hingga tiba masa persalinan.