Anda di halaman 1dari 16

Diare akut

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Diare akut masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak di
Negara berkembang. Terdapat banyak penyebab diare akut pada anak. Pada sebagian besar
kasus penyebabnya adalah infeksi akut intestinum yang disebabkan oleh virus, bakteri
atau parasit, akan tetapi berbagai berbagai penyakit lain juga dapat menyebabkan diare
akut, termasuk sindroma malabsorbsi. Diare karena virus umumnya bersifat self
limiting, sehingga aspek terpenting yang harus diperhatikan adalah mencegah terjadinya
dehidrasi yang menjadi penyebab utama kematian dan menjamin asupan nutrisi untuk
mencegah gangguan pertumbuhan akibat diare. Dalam berbagai hasil Survei kesehatan
Rumah Tangga diare menempati kisaran urutan ke-2 dan ke-3 berbagai penyebab kematian
bayi di Indonesia.1
Terdapat banyak penyebab diare akut pada anak. Pada sebagian besar kasus penyebabnya
adalah infeksi akut mediatinum yang disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit, akan tetapi
berbagai penyakit lain juga dapat menyebabkan diare akut, termasuk sindroma
malabsorpsi. Banyak dampak yang terjadi karena infeksi seluran cerna antara lain
pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan
elektrolit dengan akibat dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit dan keseimbangan asam
basa. Invasi dan destruksi sel epitel, penetrasi ke lamina propria serta kerusakan mikrovili
dapat menimbulkan keadaan malabsorpsi.1
Di Indonesia, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama.
Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian
terutama pada bayi dan balita, serta sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) 1, 2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali per hari,
disertai dengan perubahan konsitensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah
yang berlangsung kurang dari 14 hari.1, 2

Pada bayi yang minum ASI sering frekuensi buang air besarnya lebih dari 3-4 kali per
hari, keadaan ini tidak dapat disebut diare, tetapi masih bersifat fisiologis atau normal.
Selama berat badan bayi meningkat normal, hal tersebut tidak tergolong diare, tetapi
merupakan intoleransi laktosa sementara akibat belum sempurnanya perkembangan saluran
cerna. Untuk bayi yang minum ASI secara eksklusif definisi yang praktis adalah
meningkatnya frekuensi buang air besar atau konsistensinya menjadi cair menurut ibunya
abnormal atau tidak seperti biasanya. Kadang-kadang pada seorang anak buang air besarnya
kurang dari 3 kali perhari, tetapi konsistensinya cair, keadaan ini sudah dapat disebut diare. 1
B.

EPIDEMIOLOGI
Setiap tahun diperkirakan lebih dari satu milyar kasus diare di dunia dengan 3,3 juta
kasus kematian sebagai akibatnya. Diperkirakan angka kejadian di negara berkembang
berkisar 3,5 7 episode per anak pertahun dalam 2 tahun pertama kehidupan dan 2 5
episode per anak per tahun dalam 5 tahun pertama kehidupan. Data dari profil kesehatan
Indonesia tahun 2002 menunjukkan bahwa angka kesakitan diare berdasarkan propinsi terjadi
penurunan dari tahun 1999-2001. Pada tahun 1999 angka kesakitan diare sebesar 25,63 per
1000 penduduk menurun menjadi 22,69 per 1000 penduduk pada tahun 2000 dan 12,00 per
1000 penduduk pada tahun 2001.6 Sedangkan berdasarkan profil kesehatan Indonesia 2003,
penyakit diare menempati urutan kelima dari 10 penyakit utama pada pasien rawat jalan di
Rumah Sakit dan menempati urutan pertama pada pasien rawat inap di Rumah Sakit.
Berdasarkan data tahun 2003 terlihat frekuensi kejadian luar biasa (KLB) penyakit diare
sebanyak 92 kasus dengan 3865 orang penderita, 113 orang meninggal, dan Case Fatality
Rate(CFR) 2,92%.7 Kasus diare akut yang ditangani di praktek sehari-hari berkisar 20% dari
total kunjungan untuk usia di bawah 2 tahun dan 10% untuk usia di bawah 3 tahun 1, 2
C. CARA PENULARAN DAN FAKTOR RESIKO
Cara penularan diare umumnya melalui cara fekal oral yaitu melalui makanan
atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung tangan
dengan penderita atau barang barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak
langsung melalui lalat. (melalui 4 F = finger, flies, fluid, field).1
Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara lain:
tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4 6 bulan pertama kehidupan bayi,
tidak memadainya penyediaan air bersih, pencemaran air oleh tinja, kurangnya
sarana keberihan (MCK), kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk, penyiapan
dan penyimpanan makanan yang tidak higienis dan cara penyapihan yang tidak baik.
Selain hal- hal tersebut, beberapa faktor pada penderita dapat meningkatkan
kecenderungan untuk terjangkit diare antara lain: gizi buruk, imunodefisiensi, berkurangnya
keasaman lambung, menurunnya motilitas usus, menderita campak dalam 4 minggu terakhir
dan faktor genetik.1
1. Faktor umur
Sebagian besar episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insiden tertinggi
terjadi pada kelompok umur 6 11 bulan pada saat diberikan makanan pendamping ASI.

Pola ini menggambarakan kombinasi efek penurunan kadar antibodi ibu, kurangnya
kekebalan aktif bayi, pengenalan makanan yang mungkin terkontaminasi bakteri tinja dan
kontak langsung dengan tinja manusia atau binatang pada saat bayi mulai merangkak.
Kebanyakan enteropatogen merangsang paling tidak sebagian kekebalan melawan infeksi
atau penyakit yang berulang, yang membantumenjelaskan menurunnya insiden penyakit pada
anak yang lebih besar dan pada orang dewasa.
2. Infeksi asimtomatik
Sebagian besar infeksi usus bersifat asimtomatik dan proporsi asimtomatik ini meningkat
setelah umur 2 tahun dikarenakan pembentukan imunisasi aktif. Pada infeksi asimtomatik
yang mungkin berlangsung pada beberapa hari atau minggu, tinja penderita mengandung
virus, bakteri atau kista protozoa yang infeksius. Orang dengan infeksi asimtomatik berperan
penting dalam penyebaran banyak enteropaogen terutama bila mereka tidak menyadari
adanya infeksi, tidak menjaga kebersihan, dan berpindah pindah dari satu tempat ke tempat
lain.

3. Faktor musim
Variasi pola musiman diare dapat terjadi menurut letak geografis. Di daerah sub tropik
diare karena bakteri lebih sering terjadi pada musim panas, sedangkan diare karena virus
terutama rotavirus puncaknya terjadi pada musim dingin. Di daerah tropik (termasuk
Indonesia), diare yang disebabkan oleh rotavirus dapat terjadi sepanjang tahun dengan
peningkatn sepanjang musim kemarau, sedangkan diare karena bakteri cenderung meningkat
pada musim hujan.
4. Epidemi dan pandemik
Vibrio
cholera 0.1
dan Shigella
dysentriae 1
dapat
menyebabkan
epidemikdan pandemik yang mengakibatkan tingginya angka kesakitan dan kematian pada
semua golongan
usia.
Sejak
tahun
1961,
kolera
yang
disebabkan vibrio
cholera 0.1 biotipe Eltor telah menyebar ke Negara Negara di Afrika, Amerika latin, Asia,
Timur Tengah, dan di beberapa daerah di amerika Utara dan Eropa. Dalam kurun waktu yang
sama Shigella dysentriae tipe 1 menjadi penyebab wabah yang besar di Amerika Tengah dan
terakhir di Afrika tengah dan Asia Selatan. Pada akhir tahun 1992, dikenal strain baru Vibrio
cholera 0139 yang menyebabkan pandemik di Asia dan lebih dari 1 negara mengalami
wabah.1
D. ETIOLOGI
Selama 2 dekade, penelitian menunjukkan karakteristik dari diare akut. Pada awal 1970
agen penyebab dapat diidentifikasi dalam 15-20% episode diare. Sekarang, dengan semakin
berkembangnya teknik diagnostik, dapat ditemukan agen penyebab dalam 60-80%.3
Sebagian besar penyebab infeksi diare adalah Rotavirus, disamping virus lainnya seperti
Norwalk Like Virus, Enteric Adenovirus, Astovirus, dan Calicivirus. Beberapa patogen
bakteri seperti Salmonella, Shigella, Yersinia, Campylobacter, dan beberapa strain khusus

E.Coli. Beberapa parasit yang sering menyebabkan diare meliputi Giardia, Crytosporidium,
dan Entamoeba Histolytica.1, 2, 3
Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu :
1. Faktor infeksi
a. Infeksi enteral yaitu : infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama pada
anak. Infeksi enteral meliputi :
Infeksi bakteri : Vibrio, E coli, Salmonela, Shigella, Campylobacter, Yersinia, aeromonas dan
sebagainya.
Infeksi Virus : Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, astovirus dan lain-lain.
Infeksi parasit : Cacing (ascaris, Trichiuris, Oxyuris), Protozoa (E. Histolytica, Giardia lambia,
Trichomonas hominis), Jamur (Candida albicans).
b. Infeksi paraenteral yaitu : infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan seperti Otitis
media akut (OMA), Tonsilofaringitis, Bronkopnemonie, Enchepalitis dan sebagainya.
2. Faktor Malabsopsi
a. Malabsobsi karbohidrat
b. Malabsobsi lemak
c. Malabsobsi protein
3. Faktor makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
4. Faktor Psikologis : rasa takut dan cemas, walaupun jarang menimbulkan diare terutama pada
anak besar.
E.

PATOGENESIS
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah : 1, 2, 4
1. Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan
osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit dalam
rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk
mengeluarkannya sehingga timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan
sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat
peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan kesempatan usus untuk menyerap makanan,
sehingga timbul diare, sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri
tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare.

F.

PATOFISIOLOGI
Ada beberapa mekanisme patofisiologis yang terjadi, sesuai dengan penyebab
diare. Virus dapat secara langsung merusak villi usus halus sehingga mengurangi luas
permukaan usus halus dan mempengaruhi mekanisme enzimatik yang mengakibatkan

a.
b.
c.
d.
e.

3.
a.
b.

terhambatnya perkembangan normal villi enterocytes dari usus kecil dan perubahan dalam
struktur dan fungsi epitel. Perubahan ini menyebabkan malabsorbsi dan motilitas abnormal
dari usus selama infeksi rotavirus
Bakteri mengakibatkan diare melalui beberapa mekanisme yang berbeda. Bakteri non
invasive (vibrio cholera, E.coli patogen) masuk dan dapat melekat pada usus, berkembang
dan kemudian akan mengeluarkan enzim mucinase (mencairkan lapisan lendir), kemudian
bakteri akan masuk ke membran, dan mengeluarkan sub unit A dan B, lalu mengeluarkan
cAMP yang akan merangsang sekresi cairan usus dan menghambat absorpsi tanpa
menimbulkan kerusakan sel epitel. Tekanan usus akan meningkat, dinding usus teregang,
kemudian terjadilah diare.
Bakteri invasive (salmonella spp, shigella sp, E.coli invasive, campylobacter)
mengakibatkan ulserasi mukosa dan pembentukan abses yang diikuti oleh respon inflamasi.
Toksin bakteri dapat mempengaruhi proses selular baik di dalam usus maupun di luar usus.
Enterotoksin Escherichia coli yang tahan panas akan mengaktifkan adenilat siklase,
sedangkan toksin yang tidak tahan panas mengaktifkan guanilat siklase. E.coli
enterohemoragik dan Shigella menghasilkan verotoksin yang menyebabkan kelainan sistemik
seperti kejang dan sindrom hemolitik uremik 1, 2, 5
Sebagai akibat diare akut maupun kronik akan terjadi :
1. Kehilangan air (dehidrasi)
Dehidrasi terjadi kehilangan air (output ) lebih banyak daripada pemasukan (input),
2. Gangguan keseimbangan asam basa (metabolik asidosis)
Terjadi karena :
Kehilangan Na-bikarbonat bersama tinja
Adanya ketosis kelaparan. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda keton
tertimbun dalam tubuh.
Terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoreksia jaringan.
Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal
(terjadi oliguria/anuria).
Pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler.
Secara klinis asidosis dapat diketahui dengan memperhatikan pernafasan, pernafasan bersifat
cepat, teratur dan dalam (pernafasanKuszmaull)
Hipoglikemia
Hal ini terjadi karena :
Penyimpanan/persediaan glikogen dalam hati terganggu.
Adanya gangguan absopsi glukosa (walaupun jarang).
Gejala hipoglikemi akan muncul jika kada glukosa darah menurun sampai 40 mg% pada
bayi dan 50 mg% pada anak-anak. Gejala hipoglikemi tersebut dapat berupa: lemas, apatis,
peka rangsang, tremor, berkeringat, pucat, syok, kejang sampai koma.
4. Gangguan Gizi
Hal ini disebabkan :

a. Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare dan / muntahnya akan
bertambah hebat.
b. Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengenceran dan susu yang encer ini
diberikan terlalu lama.
c. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsopsi dengan baik karena adanya
hiperperistaltik.
5. Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dengan/tanpa disertai muntah, dapat terjadi gangguan sirkulasi darah
berupa renjatan (shock) hipovolemik. Akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi
hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan pendarahan dalam otak, kesadaran
menurun (soporokomatosa) dan bila tidak segera ditolong penderita dapat meninggal.6
Semua akibat diare cair diakibatkan karena kehilangan air dan elektrolit tubuh melalui
tinja. Dehidrasi adalah keadaan yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan volume
darah (hipovolemia), kolaps kardiovaskular dan kematian bila tidak diobati dengan tepat. Ada
tiga macam dehidrasi. 1,6
1) Dehidrasi isotonik
Ini adalah dehidrasi yang sering terjadi karena diare. Hal ini terjadi bila kehilangan air
dan natrium dalam proporsi yang sama dengan keadaan normal dan ditemui dalam cairan
ekstraseluler.
2) Dehidrasi Hipertonik
Beberapa anak yang diare, terutama bayi sering menderita dehidrasi hipernatremik.
Pada keadaan ini didapatkan kekurangan cairan dan kelebihan natrium. Bila dibandingkan
dengan proporsi yang biasa ditemukan dalam cairan ekstraseluler dan darah. Ini biasanya
akibat dari pemasukan cairan hipertonik pada saat diare yang tidak di absopsi secara efisien
dan pemasukan air yang tidak cukup.
3) Dehidrasi Hipotonik
Anak dengan diare yang minum air dalam jumlah besar atau yang mendapat infus 5 %
glukosa dalam air, mungkin bisa menderita hiponatremik. Hal ini terjadi karena air diabsopsi
dari usus sementara kehilangan garam (NaCl ) tetap berlangsung dan menyebabkan
kekurangan natrium dan kelebihan air.6
G. GEJALA KLINIS
Mula-mula bayi/anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu
makan berkurang atau tidak ada kemudian timbul diare. Tinja makin cair, mungkin
mengandung darah dan/ atau lendir, warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena
tercampur empedu. Karena seringnya defekasi, anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin
lama makin menjadi asam akibat banyaknya asam laktat, yang terjadi dari pemecahan laktosa
yang tidak dapat diabsorpsi oleh usus.
Gejala
Rotavirus Shigella
Salmonella E.coli
E.coli
cholerae
Klinik
enterotok
entero
sigenik
invasif
Mual
sering
jarang
sering
+
sering

muntah
Panas
Nyeri
perut
Gejala lain

+
Tenesmus

Kadang2

Sering
distensi
abdomen

++
++
Tenesmus Tenesmus
kolik
kolik
Pusing,
dapat ada
kejang

Hipotensi

++
Tenesmus Kolik
kolik
Pusing,
bakterimia,
toksemia
sistemik

Volume

Sedang

Sedikit

Sedikit

Banyak

Sedikit

Banyak

Frekuensi

5-10 x

>10 x

Sering

Sering

Sering

Terusmenerus

Konsistensi Cair

Lembek

Lembek

Cair

Lembek

Cair

Darah

Sering

Kadang

Bau

Busuk

Tdk spesifik

Amis

Warna

Kuning
Hijau

Merah
Hijau

Hijau

Tak
berwarna

MerahHijau

seperti cucian
beras

Leukosit

Sifat lain

Anoreksia

Kejang

Sepsis

Meteorismus Infeksi
sisitemik

Sifat tinja :

H. DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Pada anamnesis perlu ditanyakan hal-hal sebagai berikut : lama diare, frekuensi, volume,
konsistensi tinja, warna, bau, ada/tidak lendir dan darah. Bila disertai muntah : volume dan
frekuensinya. Kencing: biasa, berkurang, atau tidak kencing dalam 6-8 jam terkhir. Makanan
dan minuman yang diberian selama diare. Adakah panas atau penyakit lain yang menyertai
sepert batuk, pilek, otitis media, campak. Tindakan yang telah dilakukan ibu selama aank
diare: memberi oralit, membawa berobat ke puskemas atau rumah sakit dan obat obatan
yang diberikan serta riwayat imuisasinya.
2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa : berat badan, suhu tubuh, frekuensi denyut
jantung dan pernafasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda utama
dehidrasi : kesadara, rasa haus dan turgor kulitabdomen dan tanda-tanda tambahan lainnya :

ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata: cowong atau tidak, ada atau tidak adanya air mata,
bibir, mukosa mulut dan dan lidah kering atau basah.
Pernafasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asidosis metabolik. Bising usus yang
lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemi. Pemerksaan ekstrimitas perlu karena perfusi
dan capillary refill dapat menentukan derajat dehidrasi yang terjadi
Menurut banyaknya cairan yang hilang, derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan :
1. Kehilangan berat badan
a. Tanpa dehidrasi, bila terjadi penurunan berat badan < 3 %.
b. Dehidrasi ringan- sedang, bila terjadi penurunan berat badan 3 - 9%.
c. Dehidrasi berat, bila terjadi penurunan berat badan > 9 %.
2. Derajat dehidrasi.1
Menurut MMWR 2003
<><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><
><><><><><><><><><><><><><><>
simptom
Tanpa
Dehidrasi ringanDehidrasi berat
dehidrasi
sedang
Kesadaran
Baik
Normal, gelisah, lelah, Apatis, letargi, tidak
irritable
sadar
Denyut Normal
Normal meningkat Takikardi, bradikardi
jantung
pada kasus berat
Kualitas Normal
nadi
Normal melemah
Lemah, kecil, tidak
teraba
Pernafasan
Normal
Normal cepat
Dalam
Mata Normal
Sedikit cowong
Sangat cowong
Air MataAda
Berkurang
Tidak ada
Mulut dan
Basah
Kering
Sangat kering
lidah
Cubitan kulit
segera kembali
Kembali < 2
Kembali > 2
CapillaryNormal
Memanjang
Memanjang, minimal
refill
Ekstremitas
Hangat
Dingin
Dingin, sianotik
kencing
Normal
Berkurang
minimal

Menurut WHO (1995).1


Tanda dan Gejala
Dehidrasi ringan

Dehidrasi
sedang

Dehidrasi berat

Lihat:
Keadaan umum
- Mata
- Air mata
- Mulut dan lidah
- Rasa haus
Periksa:
Turgor kulit

I.

Baik, sadar

Gelisah, rewel

Normal
Ada
Basah
Minum biasa,
tidak haus

Cekung
Tidak ada
Kering
Haus, ingin
minum banyak

Lesu, lunglai atau


tidak sadar
Sangat cekung
Kering
Sangat kering
Malas minum atau
tidak bisa minum

Kembali cepat

Kembali
lambat

Kembali sangat
lambat

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam menegakkan diagnosis (kausal) yang
tepat sehingga kita dapat memberikan obat yang tepat pula. Pemeriksaan yang perlu
dikerjakan :1
1. Pemeriksaam tinja
a. Makroskopis dan mikroskopis.
b. Biakan kuman untuk mencari kumam penyebab.
c. Tes resistensi terhadap berbagai antibiotika.
d. pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest, bila diduga terdapat
intoleransi glukosa.
2. Pemeriksaan darah
Darah lengkap, analisa gas darah, glukosa darah, kultur dan tes kepekaan terhadap antibiotik
3. Pemeriksaan Elektrolit
Terutama kadar natrium, kalium, kalsium dan fosfor dalam serum (terutama pada penderita
yang disertai kejang).
4. Pemeriksaan urin
Urin lengkap, kultur dan tes kepekaan terhadap antibiotik
J.

KOMPLIKASI
Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak, dapat terjadi berbagai
macam komplikasi seperti:3,6
1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
2. Renjatan hipovolemik.
3. Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada
elektrokardiogram).

4. Hipoglikemi
5. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili
mukosa usus halus.
6. Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik.
7. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami
kelaparan.

1.
2.
3.
4.
5.

K. PENATALAKSANAAN
Terdapat lima lintas tatalaksana, yaitu :1
Rehidrasi
Dukungan nutrisi
Suplementasi Zinc
Antibiotik selektif
Edukasi orang tua
1.
Rehidrasi
1) Rencana Terapi A : Diare Tanpa Dehidrasi
Terapi dilakukan di rumah. Menerangkan 4 cara terapi diare di rumah :
a) Berikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya untuk mencegah dehidrasi
b) Berikan tablet Zinc. Dosis yang digunakan untuk anak-anak :
Anak dibawah usia 6 bulan
: 10 mg ( tablet) per hari
Anak diatas usia 6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari
Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut, walaupun anak sudah sembuh. Cara
pemberian tablet zinc pada bayi, dapat dilarutkan dengan air matang, ASI, atau oralit. Untuk
anak-anak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit.
c) Beri anak makanan untuk mencegah kurang gizi.
Teruskan ASI / berikan susu PASI
Bila anak 6 bulan / lebih, atau telah mendapatkan makanan padat :
- Berikan bubur, bila mungkin campur dengan kacang-kacangan, sayur, daging /
ikan. Tambahkan 1-2 sendok teh minyak sayur sop tiap porsi
- Berikan sari buah / pisang halus untuk menambah kalium
- Berikan makanan segar, masak dan haluskan / tumbuk dengan baik
- Bujuklah anak untuk makan
- Berikan makanan yang sama setelah diare berhenti, dan berikan makanan tambahan setiap
hari selama 2 minggu
d) Bawa anak kepada petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam 3 hari atau menderita
sebagai berikut :
Buang air besar cair lebih sering
Muntah terus menerus
Rasa haus yang nyata
Makan atau minum sedikit

Demam
Tinja berdarah
Anak harus diberi oralit dirumah apabila :
Setelah mendapat Rencana Terapi B atau C
Tidak dapat kembali ke petugas kesehatan bila diare memburuk
Memberikan oralit kepada semua anak dengan diare yang datang ke petugas kesehatan
merupakan kebijakan pemerintah.
Berikan oralit formula baru sesuai ketentuan yang benar.
Formula oralit baru yang berasal dari WHO dengan komposisi sbb :
Natrium
: 75 mmol/L
Klorida
: 65 mmol/L
Glukosa, anhidrous
: 75 mmol/L
Kalium
: 20 mmol/L
Sitrat
: 10 mmol/L
Total Osmolaritas : 245 mmol/L
Ketentuan pemberian oralit formula baru :
Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru.
Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 L air matang, untuk persediaan 24 jam.
Berikan larutan oralit pada anak setiap kali BAB, dengan ketentuan sebagai berikut :
- Untuk anak usia < 2 tahun :
berikan 50-100 mL tiap kali buang air.
- Untuk anak usia > 2 tahun :
berikan 100-200 mL tiap kali buang air.
Jika dalam waktu 24 jam persediaan larutan oralit masih tersisa, maka sisa larutan itu harus
dibuang.
2) Rencana Terapi B : Diare Dengan Dehidrasi Tidak Berat
Pada dehidrasi tidak berat, cairan rehidrasi oral diberikan dengan pemantauan yang dilakukan
di Pojok Upaya Rehidrasi Oral selama 4-6 jam. Ukur jumlah rehidrasi oral yang akan
diberikan selama 4 jam pertama.
Usia

< 4 bln

4 11 bln

12 23
bln

2 - 4 thn

5 14 thn

15
thn

BB

< 5 kg

5 7,9 kg

8 10,9
kg

11 15,9
kg

16 29,9 kg

30
kg
2200

Jmlh

200 400
ml

400 600
ml

600 800
ml

800 1200
ml

1200 2200
ml

Jika anak minta minum lagi, berikan.


a. Tunjukkan kepada orang tua bagaimana cara memberikan rehidrasi oral

4000
ml

Berikan minum sedikit demi sedikit.


Jika anak muntah, tunggu 10 menit lalu lanjutkan kembali rehidrasi oral perlahan.
Lanjutkan ASI kapanpun anak minta.

b. Setelah 4 jam :
Nilai ulang derajat dehidrasi anak.
Tentukan tatalaksana yang tepat unuk melanjutkan terapi.
Mulai beri makan anak di klinik.
c. Bila ibu harus pulang sebelum rencana terapi B :
Tunjukkan jumlah oralit yang harus dihabiskan dalam 3 jam dirumah.
Berikan oralit untuk rehidrasi selama 2 hari lagi seperti dijelaskan dalam Rencana Terapi A.
Jelaskan 4 cara dalam Rencana Terapi A untuk mengobati anak di rumah
Berikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya.
Beri tablet zinc.
Beri anak makanan untuk mencegah kurang gizi.
Kapan anak harus dibawa kembali ke petugas kesehatan.
2.
Dukungan Nutrisi
Makanan tetap diteruskan sesuai usia anak dengan menu yang sama pada aktu anak sehat
sebagai pengganti nutrisi yang hilang, serta mencegah tidak terjadi gizi buruk. ASI tetap
diberikan pada diare cair akut (maupun pada diare akut berdarah) dan diberikan dengan
frekuensi lebih sering dari biasanya.
3. Suplementasi Zinc
Pemakaian zinc sebagai obat pada diare didasarkan pada alasa ilmiah bahwa zinc
mempunyai efek pada fungsi kekebalan saluran cerna dan berpengaruh pada fungsi
dan struktur saluran cerna serta mempercepat proses penyembuhan epitel selama
diare. Kekurangan zinc ternyata sudah pandemik pada anak anak di negara sedang
berkembang. Zinc telah diketahui berperan dalam metallo-enzymes, polyribosomes,
membran sel, fungsi sel, dimana hal ini akan memacu pertumbuhan sel dan
meningkatkan fungsi sel dalam sistem kekebalan. Perlu diketahui juga bahwa selama
diare berlangsung zinc hilang bersama diare sehingga hal ini bisa memacu kekurangan
zinc ditubuh.
Bukti bukti yang telah disebar luaskan dari hasil penelitian bahwa zinc bisa
mengurangi lama diare sampai 20% dan juga bisa mengurangai angka kekambuhan
sampai 20%. Bukti lain mengatakan dengan pemakaian zinc bisa mengurangi jumlah
tinja sampai 18-59%. Dari bukti-bukti juga dikatakan tidak ada efek samping pada
penggunaan zinc, jika ada ditemukan hanya gejala muntah.
Pada penelitian selanjutkan didapatkan bahwa zinc bisa digunakan sebagai obat
pada diare akut, diare persisten, sebagai pencegahan diare akut dan persisten serta
diare berdarah. Dalam penelitian biaya untuk diare dengan menggunakan zinc
dikatakan zinc bisa menekan biaya untuk diare. Pemberian zinc untuk pengobatan diare
bisa menekan penggunaan antibiotik yang tidak rasional. 1,3,6

Efek zinc antara lain sebagai berikut :


Zinc merupakan kofaktor enzim superoxide dismutase (SOD). SOD akan merubah anion
superoksida (merupakan radikal bebas hasil sampingan dari proses sintesis ATP yang sangat
kuat dan dapat merusak semua struktur dalam sel) menjadi H2O2, yang selanjutnya diubah
menjadi H2O dan O2 oleh enzim katalase. Jadi SOD sangat berperan dalam menjaga
integritas epitel usus.
Zinc berperan sebagai anti-oksidan, berkompetisi dengan tembaga (Cu) dan besi (Fe) yang
dapat menimbulkan radikal bebas.
Zinc menghambat sintesis Nitric Oxide (NO). Dengan pemberian zinc, diharapkan NO tidak
disintesis secara berlebihan sehingga tidak terjadi kerusaan jaringan dan tidak terjadi
hipersekresi.
Zinc berperan dalam penguatan sistem imun.
Zinc berperan dalam menjaga keutuhan epitel usus, berperan sebagai kofaktor berbagai
faktor transkripsi sehingga transkripsi dalam sel usus dapat terjaga.

4. Antibiotik Selektif
Antibiotik tidak diberikan pada kasus diare cair akut, kecuali dengan indikasi yaitu pada
diare berdarah dan kolera.
5. Edukasi Orang Tua
Nasihat pada ibu atau pengasuh untuk kembali segera jika ada demam, tinja berdarah,
muntah berulang, makan / minum sedikit, sangat haus, diare semakin sering, atau belum
membaik dalam tiga hari. Indikasi rawat inap pada penderita diare akut berdarah adalah
malnutrisi, usia kurang dari satu tahun, menderita campak pada 6 bulan terakhir, adanya
dehidrasi dan disentri yang datang sudah dengan komplikasi.
L.

PROBIOTIK
Probiotik adalah mikroorganisme hidup, yang jika diberikan dalam jumlah yang adekuat
akan memberi keuntungan menyehatkan pada individu.2
Pemberian makan disertai susu fermentasi yang mengandung lactobacillus casei atau
lactobacillus acidophilus dapat memproduksi imunostimulasi pada host dengan mengaktivasi
makrofag dan limfosit. Hal ini berhubungan dengan bahan yang diproduksi oleh organismeorganisme ini selama proses fermentasi yaitu beberapa bahan metabolit, peptide dan enzim.2
Pada anak dengan malnutrisi, diare akut menyebabkan perubahan keseimbangan
mikroflora secara drastis, pada kasus ini pemberian produk yang difermentasi dapat
membantu rekolonisasi.
Susu formula bayi yang mengandung Bifidobacterium lactis atau Lactobacillus
reuteri, dapat menurunkan resiko diare, gejala gangguan saluran pernapasan, demam dan
parameter kelainan lainnya. Anak-anak yang mempunyai resiko terhadap penyakit ini seperti
anak-anak di TPA, dapat diberikan formula probiotik profilaksis secara teratur. Beberapa

penulis melaporkan adanya penurunan episode penyakit dan jumlah hari kesakitan akibat
diare dan demam.
Pada saluran cerna manusia, probiotik menginduksi kolonisasi dan dapat tumbuh secara
in situ di lambung, duodenum dan ileum. Pada epitel ileum manusia, mikroorganisme ini
dapat menginduksi aktivitas immunomodulatory, termasuk pengambilan CD4+ T Helper
cells. Probiotik menginduksi sistem imun, produksi musin, down regulation dari respon
inflamasi, sekresi bahan antimikroba, pengaturan permeabilitas usus, mencegah perlekatan
bakteri patogen pada mukosa, stimulasi produksi immunoglobulin dan mekanisme probiotik
lainnya.
Enzim akan memproduksi bakteri asam laktat yang dapat mempengaruhi proses
metabolisme host. Yogurt mempunyai aktivitas laktase yang tinggi, yang dapat membantu
keadaan malabsorbsi laktosa. Selama proses fermentasi susu, secara umum, mikroorganisme
akan menggunakan laktosa sebagai substrat. Hasilnya, konsentrasi laktosa dalam yogurt akan
lebih rendah daripada susu yang tidak difermentasi. Malabsorbsi laktosa dapat mempengaruhi
mekanisme diare dengan memproduksi tekanan osmotic intraluminal sehingga mendorong air
dan elektrolit ke dalam lumen usus, akibatnya karbohidrat yang tidak diabsorbsi dapat
menyebabkan kolonisasi bakteri di usus kecil.
Dosis probiotik yang dianjurkan adalah 10 pangkat 7 hingga 10 pangkat 9. Rekomendasi
dari Mitsuoka untuk bakteri Lactobacillus memang sekitar 10 pangkat 6. Jika kita
memberikan kurang dari itu, maka proses keseimbangan tidak tercapai yang berarti tidak bisa
disebut probiotik. Oleh karena itu, preparat probiotik Lactobacillus umumnya diberikan pada
dosis 10 pangkat 7 hingga pangkat 9.
M. PENCEGAHAN DIARE
Upaya pencegahan diare: 4,6
1. Penggunaan ASI
Feachem dan koblinsky (1983) telah mengumpulkan data penelitian dari 14 negara
mengenai dampak pemberian ASI terhadap morbiditas dan mortalitas dan menyimpulkan
bahwa peningkatan penggunaan ASI akan menurunkan morbiditas sebesar 6-20 % dan
mortalitas 24 27 % selama 6 bulan pertama kehidupan. Untuk bayi dan anak balita
penurunan morbiditas sebesar 1-4 % dan mortalitas 8 9 %.
2. Perbaikan pola penyapihan
Hal ini disebabkan karena (1) tercemarnya makanan dan minuman oleh bakteri, (2)
rendahnya kadar kalori dan protein, (3) tidak tepatnya pemberian makanan, (4) kurang
sabarnya ibu memberikan makanan secara sedikit-sedikit tetapi sering.
3. Perbaikan higiene perorangan
Amerika serikat menunjukKan bahwa kebiasaan mencuci sebelum makan, dan sebelum
masak dan setelah buang air kecil atau buang air besar dapat menurunkan morbiditas diare
sebesar 14 48% .2

BAB III
PENUTUP
1. Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali per hari,

2.
3.

4.

5.
6.

disertai dengan perubahan konsitensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah
yang berlangsung kurang dari satu minggu
Cara penularan diare umumnya melalui cara fekal oral. Faktor resiko (Faktor umur, Infeksi
asimtomatik, Faktor musim, Epidemi dan pandemik)
Sebagian besar penyebab infeksi diare adalah Rotavirus. Etiologi diare dapat dibagi dalam
beberapa faktor, yaitu: Faktor infeksi, Faktor Malabsopsi,Faktor makanan : makanan, Faktor
Psikologis
Gejala klinis: Bayi/anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu
makan berkurang atau tidak ada kemudian timbul diare. Tinja makin cair, mungkin
mengandung darah dan/ atau lendir, warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena
tercampur empedu. Karena seringnya defekasi, anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin
lama makin menjadi asam akibat banyaknya asam laktat, yang terjadi dari pemecahan laktosa
yang tidak dapat diabsorpsi oleh usus.
Terdapat lima lintas tatalaksana, yaitu: Rehidrasi, Dukungan nutrisi,Suplementasi
Zinc, Antibiotik selektif, Edukasi orang tua
Upaya pencegahan diare: Penggunaan ASI, Perbaikan pola penyapihan, danPerbaikan
higiene perorangan

DAFTAR PUSTAKA
1.
Juffire M, Sri Supar dkk. Buku ajar Gastroenterologi-Hepatologi. UKK
Gastro-Hepatologi IDAI. 2011
2.
Diare pada Anak. [ update 2011 mar 10, citied 2011 mar 20.00 WIB]
Available From: http://www.docstoc.com/docs/36661392/Diare-pada-anak

3.
Juffire M, Mulyani NS. Modul Pelatihan Diare. UKK Gastro-Hepatologi
IDAI. 2009
4.
Kandun, NI. Upaya pencegahan diare ditinjau dari aspek kesehatan
masyarakat dalam kumpulan makalah Kongres nasional II BKGA.I juli 2003
5.
Latief,Abdul et al. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jilid 1.Cetakan X.
FKUI. Jakarta: 2002. Hlm 283-294.
6.
Panduan Pelayanan medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak. RSUP Nasional
DR. Cipto Mangunkusumo. Jakarta. 2007
7.
Diare akut [ update 2011 mar 10, citied 2011 mar 20.00 WIB] Available
From: http://www.scribd.com/doc/18620519/Diare-akut