Anda di halaman 1dari 2

Di Indonesia, malaria sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat.

Angka
kesakitan malaria masih cukup tinggi, terutama di luar jawa dan bali, oleh karena itu daerah
tersebut terdapat campuran penduduk yang berasal dari daerah endemis dan non-endemis
malaria. Pada daerah-daerah tersebut masih sering terjadi letusan akut kronis yang menimbulkan
banyak kematian. Malaria merupakan penyakit infeksi akut atau kronis yang disebabkan oleh
Plasmodium, ditandai dengan gejala demam rekuren, anemia dan hepatosplenomegali.

ETIOLOGI
Malaria disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium. Pada manusia plasmodium
terdiri dari 4 spesies, yaitu plasmodium falciparum, plasmodium vivax, plasmodium malariae
dan plasmodium ovale. Plasmodium falciparum merupakan penyebab infeksi berat bahkan dapat
menimbulkan kematian. Keempat spesies plasmodium yang terdapat di Indonesia yaitu
plasmodium falsiparum yang menyabkan malaria tropika, plasmodium vivax yang menyebabkan
malaria tertian, plasmodium malariae yang menyebabkan malaria kuartana dan plasmodium
ovale yang menyebabkan malaria ovale.
Seseorang dapat terinfeksi lebih dari satu jenis plasmodium, dikenal sebagai infeksi
campuran/majemuk (mixed infection). Pada umumnya dua jenis plasmodium yang paling banyak
dijumpai adalah campuran antara plasmodium falciparum dan plasmodium vivax atau
plasmodium malariae. Kadang-kadang dijumpai tiga jenis plasmodium sekaligus, meskipun hal
ini jarang sekali terjadi. Infeksi campuran biasanya terdapat di daerah dengan angka penularan
tinggi. Infeksi campuran biasanya terdapat di daerah dilaporkan kasus malaria yang telah resisten
terhadap klorokuin, bahkan juga resisten terhadap pirimetamin-sulfadoksin.
Penyakit ini jarang ditemui pada bulan-bulan pertama kehidupan, tetapi pada anak-anak
yang berumur beberapa tahun dapat terjadi serangn malaria tropika yang berat, bahkan tertian
dan kuartana dan dapat menyebabkan kematian terutama pada anak dengan gangguan gizi.

DAUR HIDUP PLASMODIUM


Dalam daur hidupnyaplasmodium mempunyai 2 hospes, yaitu vertebrata dan nyamuk.
Siklus aseksual di dalam hospes vertebrata dikenal sebagai skizogoni, sednagkan siklus seksual
yang membentuk sporozoit di dalam nyamuk sebagai sporogoni. Sporozoit yang aktif dapat
ditularkan ke dalam tubuh manusia melalui ludah nyamuk, kemudian menempati jaringan
parenkim hati dan tumbuh sebagai skizon (stadium ekso-eritrositer atau stadium pra-eritrositer).
Sebagian sporozoit tidak tumbuh dan tetap tidur (dormant) yang disebut hipnozoit. Plasmodium
falsiparum hanya terjadi satu kali stadium para-eritrositer sednagkan spesies lain mempunyai

hipnozoit bertahun-tahun sehingga pada suatu saat dapat aktif dan terjadilah relaps. Sel hati yang
berisis parasite akan pecah dan terjadilah morozoit. Merozoit akan masuk ke dalam eritrosit
(stadium eritrositer), tampak sebagai kromatin kecil dikelilingi oleh sedikit sitoplasma yang
mempunyai bentuk cincin, disebut tropozoit. Tropozoit membentuk skizon muda dan setelah
matang, membelah menjadi merozoit. Setelah proses pembelahan eritrosit akan hancur, merozoit,
pigmen dan sel sisa akan keluar dan berada di dalam plasma. Parasite akan difagositosis oleh
RES. Plasmodium yang dapat menghindar akan masuk kembali ke dalam eritrosit lain untuk
mengulangi stadium gametogoni yaitu membentuk mikro dan makro gametosit (stadium
seksual). Siklus tersebut disebut mas atunas intrinsic.
Dalam tubuh nyamuk, parasite berkembang secara seksual (sporogoni). Sporogoni memerlukan
waktu 8-12 hari. Dalam lambung nyamuk, makro dan mikrogametosit berkembang menjadi
makro dan mikrogamet yang akan membentuk zigot yang disebut ookinet, yang selanjutnya
menembus dinding lambung nyamuk membentuk zigot