Anda di halaman 1dari 5

PORTOFOLIO

Kasus-1
Topik: Demensia pada Penyakit Alzheimer Onset Dini
Tanggal (Kasus) : November 2014
Presenter : dr.Febriana Qolbi
Tanggal Presentasi :
Pendamping : dr. Asep Zainudin, SpPk
Tempat Presentasi :
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan
Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi : Perempuan, 60 tahun, Demensia pada Penyakit Alzheimer Onset Dini
Tujuan : Diagnosis dan tatalaksana Demensia pada Penyakit Alzheimer Onset Dini
Bahan Bahasan :
Tinjauan
Riset
Kasus
Audit
Pustaka
Cara membahas
Diskusi
Presentasi dan diskusi
Pos
Email
Data
Pasien :

Nama : Ny. I Umur : 60 tahun Pekerjaan : Tidak bekerja


No. Reg :
Alamat : Graha Lansia Kayu Ara Agama : Islam
192368
Bangsa : Indonesia Pendidikan: Tamat SMP
Nama RS: RSUD Sekayu
Telp :
Terdaftar sejak :
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis / Gambaran Klinis: Demensia pada Penyakit Alzheimer Onset Dini / Os
semakin sering lupa
2. Riwayat Pengobatan : Pasien belum pernah berobat
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit : os tidak pernah menderita penyakit yang sama
sebelumnya
4. Riwayat Keluarga : Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama disangkal.
5. Riwayat Pekerjaan : Os tidak bekerja
6. Lain-lain : Riwayat kencing manis, darah tinggi, stroke, dan riwayat trauma disangkal.
Daftar Pustaka:
a. Sadock B, Sadock V A. Kaplan & Sadock, Demensia dalam Buku Ajar Psikiatri Klinis,
Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2010.
b. Dr. Rusli, Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ III, Edisi I, FK Unika
Atmajaya, Jakarta, 2003.
Hasil Pembelajaran
1. Diagnosis Demensia pada Penyakit Alzheimer Onset Dini
2. Manajemen Demensia pada Penyakit Alzheimer Onset Dini
1. Subjektif :
Autoanamnesis:
Os mengeluh sulit tidur. Os sering mendengar suara almarhum suami dan terkadang
melihat wujud almarhum suaminya.
Alloanamnesis (Petugas Dinas Sosial):

+ 7 bulan sebelum masuk rumah sakit, os sering mondar-mandir di lingkungan tempat


tinggalnya, tanpa tujuan yang jelas. Os pernah beberapa kali berpergian tanpa arah dan
tidak tahu alamat pulang. Os terkadang lupa mengenali muka dan nama orang lain yang
dikenalnya. Os juga sering dijumpai berbicara dan tertawa sendiri. Os belum berobat.
+ 3 bulan sebelum masuk rumah sakit, os semakin sering lupa. Os sering lupa dimana
tempat meletakkan benda yang diambilnya. Emosi os tidak stabil, os sering tiba-tiba marah
karena menyangka barang miliknya telah dicuri orang lain. Os juga terlihat tidak
bersemangat. Os sulit mengurus diri sendiri.
+ 2 Minggu sebelum masuk rumah sakit, os sering lupa mandi dan makan. Os
kemudian di bawa ke RSUD Sekayu.
Riwayat hidup dan gambaran premorbid:
Bayi
: Data tidak diketahui
Anak dan Remaja: Data tidak diketahui
Dewasa
: - Tiga tahun yang lalu, suami os meninggal. Os tampak sangat
berduka, kemudian os tidak aktif lagi di kegiatan yang biasa
digeluti.
- Os tidak lagi tinggal bersama keluarganya, os tinggal di Graha
Lansia sejak 2 tahun lalu.
Riwayat Pendidikan:
Os sekolah sampai tamat SMP
Riwayat Penyakit dahulu:
Riwayat kencing manis, darah tinggi, stroke, dan riwayat trauma disangkal.
Riwayat Sosial Ekonomi:
Ekonomi os dan keluarganya menengah kebawah
Riwayat Keluarga:
Riwayat gangguan jiwa dalam keluarga tidak diketahui. Pola asuh tidak diketahui. Os anak
pertama dari 2 bersaudara.
2. Objektif :
Pemeriksaan fisik:
TD 120/80, HR 80x/menit, RR 18x/menit, Suhu: 36,5C
Status generalisata: dalam batas normal
Gejala rangsang meningeal: negatif
Nervus cranial: Tidak ada kelainan
Fungsi motorik, sensorik dan koordinasi: normal
Refleks fisiologis: normal
Refleks patologis: negatif

Pemeriksaan Psikiatri:
Keadaan Umum

Kesadaran compos mentis, kesadaran psikologis dan sosial terganggu


Perhatian ada, sikap kooperatif, inisiatif tidak ada
Tingkah laku motorik normoaktif
Ekspresi fasial datar, verbalisasi jelas
Kontak fisik, mata, dan verbal ada

Keadaan Khusus
Keadaan afektif: Afek tidak serasi
Hidup emosi: Labil
Keadaan proses berpikir: Asosiasi longgar, waham curiga
Sensasi dan persepsi: Halusinasi visual dan auditorik
Pemeriksaan fungsi kognitif: Gangguan daya ingat, konsentrasi, perhatian,
orientasi, pikiran abstrak dan kemampuan menolong diri
Fungsi luhur: Defisit recent memory, agnosia, disorientasi waktu
RTA (Reality Testing Ability): Terganggu
Pemeriksaan Lanjutan:
Pemeriksaan neuropsikiatrik
MMSE : 17
Laboratorium: Belum dilakukan
MRI : Belum dilakukan
3. Assessment :
Telah diperiksa seorang wanita, Ny I usia 60 tahun, bertempat tinggal di Graha
Lansia Kayuara, agama islam, pendidikan terakhir SMP, status janda, datang ke Poli
diantar oleh petugas dinas sosial. Menurut DSM IV kriteria diagnosis demensia:
A. Munculnya defisit kognitif multipel yang bermanifestasi pada kedua keadaan
berikut:
1. Gangguan memori (ketidakmampuan untuk mempelajari informasi baru
atau untuk mengingat informasi yang baru saja dipelajari)
2. Satu atau lebih gangguan kognitif berikut:
a. Afasia
b. Apraksia
c. Agnosia
d. Gangguan fungsi eksekutif
B. Defisit kognitif yang terdapat pada kriteria A1 dan A2 menyebabkan gangguan
bermakna pada fungsi sosial dan okupasi serta menunjukkan penurunan yang
bermakna dari fungsi sebelumnya. Defisit yang terjadi bukan terjadi khusus saat
timbulnya delirium.
Berdasarkan PPDGJ III, Pedoman diagnostik demensia antara lain:
- Adanya penurunan kemampuan daya ingat dan daya pikir, yang sampai menganggu
kegiatan harian seseorang, seperti mandi, berpakaian, makan, kebersihan diri,
buang air besar dan kecil.
- Tidak adanya gangguan kesadaran

- Gejala dan disabilitas sudah nyata untuk paling sedikit 6 bulan.


Sedangkan demensia Alzaimer dapat ditegakan berdasarkan kriteria sebagai berikut
antara lain:
Terdapatnya gejala demensia
Onset tersembunyi dengan deteriorasi lambat.
Tidak adanya bukti bahwa kondisi mental itu disebabkan penyakit otak atau
sistemik lain yang dapat menimbulkan demensia
Tidak adanya serangan apoplektik mendadak, atau gejala neurologis kerusakan
otak fokal
Adapun Pembagian Demensia Alzheimer berdasarkan PPDGJ-III, adalah sebagai
berikut:
F00.0 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan onset dini
- Dementia yang onsetnya sebelum usia 65 tahun
- Perkembangan gejala cepat dan progresif (deteriorasi)
- Adanya riwayat keluarga yang berpenyakit Alzheimer merupakan faktor
yang menyokong diagnosis tetapi tidak harus dipenuhi
F00.1 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan onset lambat
- Dementia yang onsetnya sesudah usia 65 tahun
- Perjalanan penyakit yang lamban
- Gangguan daya ingat sebagai gambaran utamanya
F00.2 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan tipe tak khas/ tipe campuran
- Yang tidak cocok dengan pedoman untuk F00.0 atau F00.1, tipe
campuran adalah demensia Alzheimer + vascular
F00.9 Demensia pada penyakit Alzheimer YTT
Pada pasien ditemukan gejala agnosia, gangguan daya ingat, konsentrasi,
perhatian, disorientasi waktu, pikiran abstrak dan kemampuan menolong diri.
Sehingga os sering lupa apa yang baru saja dilakukannya, os lupa dimana meletakkan
barang-barangnya, sehingga os sering curiga terhadap orang lain karena menyangka
barang miliknya telah dicuri orang lain. Lebih parah, os sudah mulai lupa dengan
kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukannya, seperti makan dan mandi. Hal ini sangat
menunjukkan kemunduran fungsi yang bermakna dari sebelumnya, dan juga gejala ini
sudah dialami kurang lebih 6 bulan, sehingga diagnosis mengarah ke demensia. Os
juga memiliki emosi yang labil, serta memiliki halusinasi auditorik dan visual. Pada
pemeriksaan MMSE juga mendukung penegakan diagnosis demensia, dimana nilai
MMSE pada os adalah 17 yang artinya ada gangguan kognitif yang probabel. Untuk
membedakan penyebab demensia, telah di anamnesis dan dilakukan pemeriksaan
bahwa tidak ada riwayat hipertensi dan stroke pada pasien, pemeriksaan fisik normal,
sehingga dapat menyingkirkan demensia karena penyakit vaskular. Tidak ada juga
riwayat trauma dan penggunaan obat-obatan, sehingga semakin mengarah pada
demensia pada penyakit alzheimer. Namun, berdasarkan umur pasien, 60 tahun

termasuk onset dini demensia karena penyakit alzhaimer. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa penegakan diagnosis pada pasien ini adalah demensia pada
penyakit alzheimer onset dini, sesuai dengan definisi yang tercantum dalam PPDGJ
III.
4. Plan :
Diagnosis Multiaksial
1. Aksis I
: F00.0 Demensia pada Penyakit Alzheimer Onset Dini
2. Aksis II : Tidak ada diagnosa
3. Aksis III : Tidak ada diagnosa
4. Aksis IV : Masalah berkaitan dengan keluarga dan lingkungan sosial
5. Aksis V : GAF 60-51
Terapi Farmakologi
Risperidon 2 x 2mg/hari
Clobazam 1 x 10mg/hari
Kontrol Ulang
Edukasi
Psikoterapi
Terhadap penderita
Hindari penempatan penderita ditempat atau situasi yang asing
Mendorong untuk mulai beraktifitas. Ajak melakukan kegiatan secara mandiri,
seperti mandi sendiri, makan sendiri, dst.
Terhadap Keluarga, mengajak keluarga agar :
1. Menemani dan mengajak berbicara
2. Menfasilitasi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti makan, minum, kebersihan
3. Mengajak untuk melakukan kegiatan yang biasa dan bisa dilakukan sehari-hari
4. Membantu membuat prioritas penyelesaian masalah yang ada dikeluarga
5. Saling memberikan dukungan dan semangat
6. Saling memberikan dukungan secara non verbal seperti memeluk, memuji, mengelus,
dll
Terhadap Lingkungan Sekitar
Kehilangan daya ingat dan kebingungan bisa menyebabkan problem prilaku (misalnya;
agitasi, kecurigaan, letupan emosional) untuk itu diperlukan pengertian dari masyarakat agar
dapat menciptakan lingkungan yang kondusif.
Prognosis:
Quo ad vitam
Quo ad functionam

: Dubia
: Dubia ad malam