Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRATIKUM BIOKIMIA

KARBOHIDRAT

Disusun Oleh:
Ganjar Permana
Partner:
Alika Nuansa Pratiwi
Deisti Nurul Husni

LABORATORIUM BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS AL-GHIFARI
BANDUNG
2013

BAB I
TUJUAN DAN PRINSIP PERCOBAAN

1.1 Tujuan percobaan


Menentukan ada tidaknya karbohidrat dalam sampel
1.2 Prinsip percobaan
Berdasarkan uji molisch, benedict, barfoed, siliwanoff, hidrolisis sukrosa, tes
pati dengan iodium

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian karbohidrat


Karbohidrat ('hidrat dari karbon', hidrat arang) atau sakarida (dari bahasa
Yunani , skcharon, berarti "gula") adalah segolongan besar senyawa
organik yang paling melimpah di bumi. Karbohidrat sendiri terdiri atas karbon,
hidrogen, dan oksigen. Karbohidrat memiliki berbagai fungsi dalam tubuh
makhluk hidup, terutama sebagai bahan bakar (misalnya glukosa), cadangan
makanan (misalnya pati pada tumbuhan dan glikogen pada hewan), dan materi
pembangun (misalnya selulosa pada tumbuhan, kitin pada hewan dan jamur).[1]
Pada proses fotosintesis, tumbuhan hijau mengubah karbon dioksida menjadi
karbohidrat.
Secara

biokimia,

karbohidrat

adalah

polihidroksil-aldehida

atau

polihidroksil-keton, atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini bila


dihidrolisis. Karbohidrat mengandung gugus fungsi karbonil (sebagai aldehida
atau keton) dan banyak gugus hidroksil. Pada awalnya, istilah karbohidrat
digunakan untuk golongan senyawa yang mempunyai rumus (CH2O)n, yaitu
senyawa-senyawa yang n atom karbonnya tampak terhidrasi oleh n molekul
air.[3] Namun demikian, terdapat pula karbohidrat yang tidak memiliki rumus
demikian dan ada pula yang mengandung nitrogen, fosforus, atau sulfur.
Bentuk molekul karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu molekul
gula sederhana yang disebut monosakarida, misalnya glukosa, galaktosa, dan
fruktosa. Banyak karbohidrat merupakan polimer yang tersusun dari molekul
gula yang terangkai menjadi rantai yang panjang serta dapat pula bercabangcabang, disebut polisakarida, misalnya pati, kitin, dan selulosa. Selain
monosakarida dan polisakarida, terdapat pula disakarida (rangkaian dua
monosakarida) dan oligosakarida (rangkaian beberapa monosakarida).

2.2 Klasifikasi dan struktur karbohidrat


1) Monosakarida
Monosakarida merupakan karbohidrat paling sederhana karena
molekulnya hanya terdiri atas beberapa atom C dan tidak dapat diuraikan
dengan cara hidrolisis menjadi karbohidrat lain. Monosakarida
dibedakan menjadi aldosa dan ketosa. Contoh dari aldosa yaitu glukosa
dan galaktosa. Contoh ketosa yaitu fruktosa.
Glukosa (kita ketahui juga sebagai gula anggur, dextrosa, dan
gula jagung) sering ditemui pada buah-buahan dan susu dan makanan
atau minuman dari hasil produksi susu. Jenis monosakarida yang kedua
adalah fruktosa (kadang-kadang disebut juga levulosa), dapat ditemukan
pada buah-buahan, sayuran, madu dan gula tebu. Galaktosa adalah jenis
monosakarida yang ketiga, dapat ditemukan pada susu dan makanan atau
minuman dari hasil produksi susu.
2) Disakarida dan oligosakarida
Disakarida merupakan karbohidrat yang terbentuk dari dua
molekul monosakarida yang berikatan melalui gugus -OH dengan
melepaskan molekul air. Contoh dari disakarida adalah sukrosa, laktosa,
dan maltosa. Oligosakarida adalah polimer derajat polimerisasi 2 sampai
10 dan biasanya bersifat larut dalam air. Oligosakarida yang terdiri dari 2
molekul disebut disakarida, dan bila terdiri dari 3 molekul disebut triosa..
Polisakarida merupakan polimer molekul-molekul monosakarida yang
dapat berantai lurus atau bercabang dan dapat dihidrolisis dengan enzimenzim yang bekerja spesifik.
Sukrosa banyak terdapat pada makanan dan dapat kita temukan
pada gula, yang dapat di peroleh dari gula jagung atau gula bit. Sukrosa
terbentuk dari glukosa dan fruktosa. Laktosa disebut juga gula susu.
dapat kita temukan hanya pada susu hewan menyusui dan Air Susu Ibu
(ASI). Laktosa terbentuk dari galaktosa dan glukosa. Maltosa dihasilkan
dari hasil pemecahan zat tepung. Maltosa terbentuk dari dua molekul
glukosa.

3) Polisakarida
Polisakarida merupakan karbohidrat yang terbentuk dari banyak
sakarida sebagai monomernya. Rumus umum polisakarida yaitu
C6(H10O5)n. Contoh polisakarida adalah selulosa, glikogen, dan amilum.
Zat tepung dapat ditemukan pada biji-bijian, padi-padian, dan
umbi-umbian. Ketika zat tepung dicerna dalam tubuh, zat tepung akan
diubah pertama-tama menjadi dekstrin, kemudian maltosa, dan yang
terakhir glukosa. Glikogen dinamakan juga pati hewan, yaitu bentuk
simpanan karbohidrat dari hewan dan manusia. Glikogen disimpan
dalam hati, dan sebagian kecil disimpan dalam sel tubuh. Selulosa
merupakan bagian dari struktur tumbuhan dan tidak dapat larut dalam
air. Bagi manusia selulosa sangat penting untuk kesehatan sistem
pencernaan. Ada pula jenis polisakarida lain, seperti agar-agar dan
pektin. Agar-agar dan pektin sedikit atau bahkan tidak mempunyai nilai
gizi. Polisakarida jenis ini dapat larut dalam air dan dapat dicerna oleh
tubuh.
2.3 Fungsi karbohidrat
Di samping sebagai sumber energi, fungsi karbohidrat adalah mencegah
dan menetralisir racun. Sebagai contoh, hati dapat melawan berbagai macam zat
berbahaya jika glukosa di dalam hati mencukupi. Fungsi karbohidrat ini di
dalam hati penting untuk seluruh tubuh dalam mengubah atau menghancurkan
racun. Selain itu, karbohidrat juga berfungsi memberikan aroma yang khusus
pada makanan dan memberikan rasa manis pada makanan khususnya jenis
monosakarida dan disakarida. Tingkat kemanisan dari setiap klasifikasi
karbohidrat ini berbeda-beda. Tingkat kemanisan tersebut berturut-turut dari
tingkat kemanisan yang paling tinggi adalah fruktosa, glukosa, galaktosa,
maltosa dan laktosa.
Sebagai bahan bakar sekaligus nutrisi, Makhluk hidup yang ada di bumi
membutuhkan karbohidrat sebagai kebutuhan utama. Penggunaan karbohidrat
semisal glukosa, sangat dibutuhkan oleh sel sebagai nutrisi utamanya. Contoh
penggunaan glukosa sebagai nutrisi utama sel adalah pada vertebrata. Pada

vertebrata keterseidaan nutrisi bagai seluruh sel tubuh dipenuhi oleh glukosa
dengan ikut mengalir melalui aliran darah. Glukosa yang ada pada aliran darah
tersebut kemudian diserap olhe sel-sel tubuh. Dengan menyerap glukosa
tersebut, sel-sel tubuh mampu memperoleh tenaga yang akan digunakan untuk
menjalankan sel-sel tubuh. Dengan demikian sel-sel tubuh bisa berjalan dengan
normal karena asupan nutrisinya
Karbohidrat sebagai cadangan energi, Peran karbohidirat sebagai
cadangan makanan berbeda-beda pada setiap makhluk hidup. Penyimpanan
energi ini dilakukan oleh tubuh untuk digunakan sewaktu-waktu diperlukan.
Pada tumbuhan proses penyimpanan karbohidrat berupa polisakarida yang
berbentuk pati. Kelebihan glukosa yang ada pada tumbuhan merupakan
timbunan pati pada tumbuhan. Glukosa yang ada pada tumbuhan tersebut
merupakan bahan bakar utama bagi sel tumbuhan. Oleh karena itu, pati
merupakan sumber energi utama bagi tumbuhan. Sebenarnya hewan pun juga
menyimpan karbohidrat dalam bentuk polisakarida. Hanya saja polisakarida
yang disimpan hewan disebut dengan glikogen. Seperti hewan, manusia juga
menyimpan glikogen yang banyak ditemui pada sel hati dan otot. Ketika
kebutuhan gula dalam tubuh meningkat maka glikogen yang tersimpan tersebut
akan dilepas untuk menghasilkan glukosa. Meskipun demikian, tubuh tidak bisa
selalu mengandalkan glikogen sebagai sumber energinya. Hal tersebut
disebabkan oleh glikogen yang ada dalam tubuh tidak dapat terimpan dalam
waktu yang lama. Glikogen yang ada dalam tubuh akan habis dalam waktu
sehari. Kekurangan karbohidrat dapat menyebabkan kekurangan gizi, tubuh
lemah, lesu, dan tidak berenergi. Jika kekurangan karbohidrat tersebut terus
berlanjut, maka dapat menimbulkan penyakit Marasmus (gangguan gizi).
Apabila kelebihan karbohidrat akan terjadi diabetes.

BAB III
Prosedur Percobaan

3.1 Prosedur percobaan


a. Uji molisch
Tambahkan 3 tetes pereaksi molisch ke dalam 1 ml larutan glukosa,
kocok pelan-pelan. Kedalam tabung tersebut tambahkan 1 ml HCl pekat
melalui dinding tabung yang di miringkan. Jika terjadi warna pada
bidang batas antara ke dua lapisan cairan menunjukan adanya
karbohidrat. Lakukan percobaan diatas dengan larutan karbohidrat yang
berbeda yaitu 1 M sukrosa, maltosa dan arabinosa.
b. Uji benedict
Tambahkan 3 tetes larutan 0,1 M fruktosa pada tabung reaksi yang telah
diisi dengan 2 ml reagen benedict, lalu kocok. Tempatkan tabung dalam
penangas air mendidih selama 5 menit, biarkan dingin. Amati perubahan
warna dan perhatikan apakah terbentuk endapan. Jika terbentuk endapan
hijau, kuning atau merah menunjukan reaksi positif. Lakukan percobaan
uji benedict dengan larutan 0,1 M galaktosa, glukosa yang diencerkan 2
kali, 10 kali 50 kali dan 100 kali.
c. Uji barfoed
Tambahkan 1 ml larutan 0,1 M glukosa ke dalam tabung reaksi yang
berisi 1 ml pereaksi barfoed. Panaskan tabung tersebut di atas air
mendidih selama 3 menit. Dinginkan selama 2 menit pada air mengalir.
Bila tidak terjadi reduksi selama 5 menit lakukan pemanasan selama 15
menit sampai terlihat adanya reduksi. Ulangi percobaan di atas untuk
larutan 0,1 M fruktosa, laktosa, maltosa dan sukrosa.
d. Uji seliwanoff
Ke dalam tabung reaksi yang telaj di isi dengan 2 ml larutan seliwanoff
tambahkan beberapa tetes larutan 0,1 M fruktosa. Taruh tabung diatas
penangasair mendidih selama 60 detik. Perhatikan perubahan warna yang

terjadi.ulangi percobaan di atas untuk larutan 0,1 M glukosa dan sukrosa.


Terjadinya perubahan warna merah dan endapan menunjukan reaksi
positif untuk ketosa.
e. Hidrolisa sukrosa
Isi tabung reaksi dengan 5 ml larutan 0,1 M sukrosa, tambahkan 1 ml
HCl 10 %. Panaskan di dalam penangas air mendidih selama 15 menit
kemudian dinginkan perlahan-lahan dan netralkan. Tes hidrolisa dengan
pereaksi benedict, seliwanoff, dan barfoed.
f. Tes pati dengan iodium
Siapkan 3 tabung reaksi. Isi tabung reaksi masing-masing dengan 3 ml
larutan 1% pati. Tambahkan 2 tetes air ke dalam tabung reaksi pertama.
Tambahkan 2 tetes HCl 6 N ke dalam tabung reaksi kedua. Tambahkan 2
tetes larutan NaOH 6 N ke dalam tabung reaksi ketiga. Ke dalam
masing-masing tabung tambahkan 1 tetes 0,01 M larutan iodium. Amati
perubahan warna. Panaskan tabung yang berwarna biru, dinginkan
perlahan-lahan, lalu amati perubahan warna yang terjadi.

3.2 Alat dan bahan


Alat :
1. Tabung reaksi
2. Gelas kimia
3. Kaki tiga
4. Spirtus
Bahan :
1. Peraksi molisch
2. Larutan glukosa
3. Larutan sukrosa
4. Larutan maltosa
5. Larutan arabinosa
6. Larutan galaktosa
7. Larutan fruktosa

8. Pereaksi benedicth
9. Peraksi barfoed
10. Laruatn laktosa
11. Pereaksi seliwanoff
12. HCl 10 %
13. Larutan 1 % pati
14. Air
15. HCl 6 N
16. NaOH 6 N
17. HCl pekat

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil percobaan
a. Uji molisch

3 tetes peraksi molisch dimasukan ke dalam 1 ml larutan glukosa dan


ditambahkan 1 ml asam sulfat pekat membentuk larutan putih dengan
cincin warna coklat kehitam-hitaman

3 tetes peraksi molisch dimasukan ke dalam 1 ml larutan sukrosa dan


ditambahkan 1 ml asam sulfat pekat membentuk larutan putih dengan
cincin warna coklat kehitam-hitaman

3 tetes peraksi molisch dimasukan ke dalam 1 ml larutan maltosa dan


ditambahkan 1 ml asam sulfat pekat membentuk larutan putih dengan
cincin warna coklat kehitam-hitaman

3 tetes peraksi molisch dimasukan ke dalam 1 ml larutan arabinosa


dan ditambahkan 1 ml asam sulfat pekat membentuk larutan putih
dengan cincin warna coklat kehitam-hitaman

b. Uji seliwanoff

2 ml larutan seliwanoff ditambahkan 5 tetes larutan 0,1 M fruktosa


menghasilkan larutan bening. Larutan dipanaskan selama 60 detik
larutan tidak berubah warna sama sekali.

2 ml larutan seliwanoff ditambahkan 5 tetes larutan 0,1 M glukosa


menghasilkan larutan bening. Larutan dipanaskan selama 60 detik
larutan tidak berubah warna sama sekali.

2 ml larutan seliwanoff ditambahkan 5 tetes larutan 0,1 M sukrosa


menghasilkan larutan bening. Larutan dipanaskan selama 60 detik
larutan tidak berubah warna sama sekali.

c. Tes pati dengan iodium

Tabung satu di masukan 3 ml larutan pati ditambahkan 2 tetes air


terbentuk larutan putih susu. Larutan tersebut ditambahakan 10 tetes

larutan iodium menghasilkan larutan unggu. Kemudian di pansakan


di penangas air larutan berubah warna menjadi putih susu.

Tabung dua di masukan 3 ml larutan pati ditambahkan 2 tetes HCl 6


N terbentuk larutan putih susu. Larutan tersebut ditambahakan 10
tetes larutan iodium menghasilkan larutan unggu. Kemudian di
pansakan di penangas air larutan berubah warna menjadi putih susu.

Tabung tiga di masukan 3 ml larutan pati ditambahkan 2 tetes NaOH


6 N terbentuk larutan putih susu. Larutan tersebut ditambahakan 10
tetes larutan iodium menghasilkan larutan unggu. Kemudian di
pansakan di penangas air larutan berubah warna menjadi putih susu.

d. Hidrolisa sukrosa

Larutan 5 ml sukrosa ditambahkan 1 ml HCl 10 % menjadi larutan


bening, kemudian dipanaskan selama 15 menit dan dinginkan
perlahan-lahan dan di netralkan. Setelah dingin larutan dibagi
menjadi tiga bagian, pada tabung satu direaksikan dengan pereaksi
benedict larutan berubah warna menjadi biru.

pada tabung dua direaksikan dengan pereaksi seliwanoff larutan tidak


berubah warna.

pada tabung satu direaksikan dengan pereaksi barfoed larutan


berubah warna menjadi biru.

e. Uji benedict

Pereaksi

benedict

ditambahkan

dengan

larutan

galaktosa

menghasilkan larutan hijau terang dan tidak terbentuk endapan.

Pereaksi

benedict

ditambahkan

dengan

larutan

fruktosa

menghasilkan larutan hijau tua dengan endapan berwarna hijau ke


kuning-kuningan.

Pereaksi benedict ditambahkan dengan larutan glukosa yang


diencerkan 2 kalinya terbentuk endapan hijau.

Pereaksi benedict ditambahkan dengan larutan glukosa yang


diencerkan 10 kalinya tidak terbentuk endapan.

Pereaksi benedict ditambahkan dengan larutan glukosa yang


diencerkan 50 kalinya tidak terbentuk endapan.

Pereaksi benedict ditambahkan dengan larutan glukosa yang


diencerkan 100 kalinya tidak terbentuk endapan.

f. Uji barfoed

Pereaksi barfoed ditambahkan lautan glukosa menghasilkan larutan


biro toska.

Pereaksi barfoed ditambahkan lautan fruktosa menghasilkan larutan


biro toska.

Pereaksi barfoed ditambahkan lautan sukrosa menghasilkan larutan


biro toska.

Pereaksi barfoed ditambahkan lautan maltosa menghasilkan larutan


biro toska.

Pereaksi barfoed ditambahkan lautan laktosa menghasilkan larutan


biro toska.

4.2 Pembahasan
a. Uji mollis
Bahan yang mengandung monosakarida bila direaksikan dengan
H2SO4 akan terhidrolisis membentuk futural. Futural ini akan
membentuk persenyawaan dengan naftol di tandai dengan terbentuknya
warna violet (cincin). Oleh karena H2SO4 dapat menghidrolisis
oligosakarida dan polisakarida (Winarmo, FG, 2004).
Pada percobaan uji molish dengan menguji keenam larutan
karbohidrat yang telah ditetesi dengan pereaksi molish selanjutnya
dihidrolisis dengan asam sulfat pekat (H2SO4) maka terjadi pemutusan
ikatan glikosidik dari rantai karbohidrat polisakarida menjadi disakarida
dan monosakarida. Dimana berdasarkan hasil yang didapatkan
menunjukkan bahwa semua larutan yang diuji (glukosa, fruktosa,
sukrosa, laktosa, dekstrin dan amilum) adalah karbohidrat. Larutan
menunjukan positif adanya karbihidrat ditandai dengan adanya cincin

berwarna ungu yang tebentuk antara larutan sampel dengan pereaksi


mollish.
b. Uji seliwanoff
Prinsip dari uji seliwanoff adalah fruktosa dengan asam kuat akan
mengalami dehidrasi membentuk 4 hidroksi metylfutural. Bila
tambahkan recorsinol akan berkondensasi membentuk persenyawaan
yang berwarna merah cerry yang menunjukan adanya karbohidarat
dalam fruktosa (Winarno, FG, 2004).
Fruktosa dan sukrosa cepat bereaksi karena merupakan jenis
karbohidrat yang memiliki gugus keton (ketosa). Ketosa bila di
dehidrasi oleh pereaksi saliwanoff memberikan turunan fulfural ynag
selanjutnya berkondensasi denganresoreinol memberikan warna merah
(kuning +) kompleks. Hal tersebut diatas menunjukkan bahwa uji
saliwanof digunakan untuk membedakan antara karbohdrat yang
mengandung aldehid dan keton.
Pada percobaan ini larutan fruktosa, glukosa dan sukrosa yang
ditetesi larutan pereaksi seliwanoff dan dipanaskan selama 60 detik
tidak mengahasilkan warna merah (kuning +) kompleks tetapi
menghasilkan larutan bening tak berwarna. Penyimpangan hasil
praktikum ini dapat disebabkan karena pereaksi seliwanoff kurang baik
sehingga proses dehidrasi oleh pereaksi seliwanoff tidak membentuk
furfural sehingga tidak menghasilkan larutan warna merah.
c. Tes pati dengan iodium
Prinsip dari tes iodium adalah polisakarida akan membentuk
reaksi dengan iodin dan memberikan warna spesifik tergantung jenis
karbohidratnya. Amilosa dan iodin berwarna biru, amilopektin merah
coklat, glikogen dan dexrin berwarna merah coklat.
Pada percobaan ini larutan pati ditambahkan dengan air dua tetes
pada tabung satu, larutan pati diteteskan dengan HCl 6 N dua tetes pada
tabung dua, larutan pati di teteskan dengan NaOH 6 N dua tetes pada
tabung reaksi tiga. Masing masing tabung menghasilkan larutan

berwarna putih susu. Kemudian larutan tersebut masing- masing


ditetesi larutan iodium 10 tetes menghasilkan larutaan berwarna ungu.
Kemudian larutan tersebut di panaskan di penangas air sehingga larutan
berubah warna menjadi putih susu. Maka pada uji coba ini larutan pati
termasuk golongan polisakarida, tetapi larutan yang sudah ditetesi
iodium menghasilkan warna unggu yang berbeda dengan teori di atas
yang menunjukan jika pati direaksikan dengan iodium menghasilkan
larutan berwarna biru.
d. Hidrolisa sukrosa
Pada percobaan ini larutan 0,1 M sukrosa direaksikan dengan 1
ml HCl 10 % yang kemudian larutan tersebut dipanaskan selama 15
menit. Setelah 15 menit larutan di dinginkan dan dinetralkan kemudian
ditambahakan pereaksi benedict maka larutan akan menghasilkan
warna hijau tosca, sedangkan larutan yang ditambahkan dengan
pereaksi seliwanoff tidak menghasilkan reaksi apapun, dan larutan yang
di reaksikan dengan pereaksi barfoed menghasilkan larutan yang
berwarna hijau tosca.
e. Uji benedict
Prinsip dari uji benedict adalah larutan CuSO4 dalam suasana
alkali direaksikan oleh gula yang mempunyai gugus aldehid sehingga
cupri oksida tereduksi menjadi Cu2O yang berwarna merah bata,
kuning atau hijau.
Pada percoban ini larutan fruktosa direaksikan dengan reagen
benedict dan di panaskan di penangas air selama 5 menit. Setelah 5
menit larutan berubah warna menjadi hijau dengan endapan hijau
kekuning kuningan. Hal ini menunjukan bahwa larutan tersebut positif
mengandung karbohidrat. Hal ini diesebabkan karena adanya gugus
keton bebas yang memiliki sifat mereduksi. Sedangkan sampel larutan
galaktosa yang ditetesi larutan benedict dan dipanaskan selama 5 menit
di penangas air menghasilkan larutan hijau terang tanpa endapan sama
sekali.

Dan larutan lukosa yang diencerkan sebanyak 2 kali yang

ditambahkan dengan pereaksi benedict dan di panaskan hingga 5 menit


membentuk larutan hijau dengan endapan hijau kekuning kuningan.
Hal ini menunjukan bahwa adanya gugus aldehid bebas dalam molekul
karbohidrat yang memiliki sifat mereduksi. Sedangkan pada larutan
glukosa yang diencerkan 10 kali, 50 kali, 100 kali tidak terbentuk
endapan.
f. Uji barfoed
Prinsip dari uji barfoed adalah monosakarida akan mereduksi
reagen barfoed yang bersifat asam sehingga kekuatan hidrolisis
menurun dan tidak mengakibatkan tidak dapat mereduksi disakarida.
Percobaan barfoed menghasilkan endapan berwarna merah bata.
Pada percobaan ini larutan karbohidrat ( glukosa, fruktosa,
laktosa, maltosa, sukrosa) direaksikan dengan pereaksi barfoed dan
dipanaskan selama 3 menit agar terjadi reduksi sehingga menghasilkan
endapan merah bata. Namun pada setiap larutan tidak menunjukan
adanya endapan merah bata hal ini dapat disebabkan karena pemanasan
yang kurang lama sehingga larutan sampel tidak menunjukan adanya
endapan merah bata.

BAB V
KESIMPULAN

Karbohidrat adalah sekumpulan senyawa organik yang terdiri dari unsur


C, H dan O. Karbohidrat memiliki berbagai fungsi dalam tubuh makhluk hidup,
terutama sebagai bahan bakar (misalnya glukosa), cadangan makanan (misalnya
pati pada tumbuhan dan glikogen pada hewan), dan materi pembangun
(misalnya selulosa pada tumbuhan, kitin pada hewan dan jamur).[1] Pada proses
fotosintesis, tumbuhan hijau mengubah karbon dioksida menjadi karbohidrat
Jenis- jenis karbohidrat adalah Monosakarida ( fruktosa, glukosa),
Disakarida

(laktosa,

maltosa,

sukrosa)

dan

Polisakrida

(Pati,amilosa,

amilopektin, selulosa)
Pada percobaan uji karbohidrat hanya uji molisch, uji benedict dengan
larutan fruktosa dan tes pati dengan iodium yang menunjukan hasil positif
adanya karbohidrat.

DAFTAR PUSTAKA

Poedjiadi, Anna dan F.M. Titin Supriyanti. 2009. DASAR-DASAR


BIOKOMIA. Jakarta: Universitas Indonesia.
http://id.wikipedia.org/wiki/Karbohidrat
http://kimia.upi.edu/staf/nurul/web2012/1105955/materi.html
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/107/jtptunimus-gdl-ragilsepto-5315-2bab2.pdf

LAMPIRAN

BAGAN UJI KARBOHIDRAT


Karbohidrat
Ungu

Uji molisch Tidak bereaksi

Semua karbohidrat

Non

karbohidrat
Uji iodium
Coklat

tidak berubah

Polisakarida

Monosakarida/disakarida
Uji Barfoed

Merah bata
Monosakarida

disakarida

Seliwanof
Merah cherry
Gula pereduksi
pereduksi
Aldosa

Ketosa

non

Pertanyaan :
1. Warna apa yang terlihat diantara permukaan kedua larutan tersebut ?
2. Gugus apa dari karbohidrat yang memberikan uji molisch positif ?
3. Berapa kadar glukosa terendah yang masih dapat diamati dengan uji
benedict ?
4. Senyawa apa lagi selain Cu 2+ yang dapat di reduksi ?
5. Apa funsi dari natrium sitrat ?
6. Larutan karbohidrat mana yang mereduksi ?
7. Mengapa pemanasan tidak boleh terlalu lama ?
8. Apa perbedaan antara reagen barfoed dengan benedict ?
9. Larutan apa yang memberikan uji seliwanoff positif tercepat ?
10. Dapatkah uji ini digunakan untuk membedakan sukrosa dengan
fruktosa ?
11. Jelaskan hasil percobaan hidrolisa sukrosa ?
12. Senyawa apa selain pati yang memberikan warna dengan larutan
iodium ?
Jawab :
1. Cincin purpurel unggu.
2. Gugus furfurel dan turunannya dengan
3. Glukosa yang diencerkan 2 kalinya
4. Na +
5. untuk mencegah terjadinya pengendapan CuCO3 dalam larutan
natrium karbonat.
6. Fruktosa
7. Karena jika fruktosa dipanaskan terlalu lama maka hasil uji akan
menunjukan negatif
8. Barfoed berfungsi untuk mereduksi monosakarida sedangkan
benedict berfungsi untuk melihat adanya gugus pereduksi / gugus
ketosa.
9. Tidak ada
10. Tidak dapat karena sukrosa ketika diuji dengan pengujian seliwanoff
sukrosa akan dihidrolisa menjadi glukosa dan fruktosa, sehingga hasil
yang di uji adalah hasil perduksi dari sukrosa itu sendiri.
11. Pada percobaan ini larutan 0,1 M sukrosa direaksikan dengan 1 ml
HCl 10 % yang kemudian larutan tersebut dipanaskan selama 15
menit. Setelah 15 menit larutan di dinginkan dan dinetralkan
kemudian ditambahakan pereaksi benedict maka larutan akan
menghasilkan warna hijau tosca, sedangkan larutan yang

ditambahkan dengan pereaksi seliwanoff tidak menghasilkan reaksi


apapun, dan larutan yang di reaksikan dengan pereaksi barfoed
menghasilkan larutan yang berwarna hijau tosca.
12. Amilosa menyebabkan perubahan warna biru jika direaksikan
dengan iodin, amilopektin menyebabkan perubahan warna merah
violet jika direaksikan dengan iodin,
glikogen menyebabkan
perubahan warna merah violet jika direaksikan dengan iodium