Anda di halaman 1dari 8

Seminar Nasional Pascasarjana XIV ITS, Surabaya,

Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya


7 Agustus 2014

PERBANDINGAN KINERJA IPAL ANAEROBIC FILTER


DENGAN ANAEROBIC BAFFLED REACTOR UNTUK
IMPLEMENTASI DI PUSAT PERBELANJAAN KOTA SURABAYA
Mohammad Razifa,b dan Abdul Hamida
a

Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS, Surabaya, 60111, Indonesia


b

Pasca Sarjana Universitas Brawijaya, Malang, 65145, Indonesia


Abstrak

Kota Surabaya dengan penduduk yang sudah mencapai 3 juta jiwa saat ini sudah mengoperasikan 34 pusat
perbelanjaan dan jumlah ini akan terus meningkat, seiring dengan peningkatan pertumbuhan perekonomian kota. Air
limbah dari pusat perbelanjaan, disamping air limbah dari kegiatan perkotaan lainnya, telah mencemari air sungai di
dalam kota. Pengoperasian IPAL (instalasi pengolahan air limbah) untuk setiap kegiatan yang menghasilkan air
limbah menjadi hal yang sangat mendesak saat ini. Banyak pilihan IPAL yang ditawarkan di internet, namun perlu
dikaji kinerjanya agar yang dipilih untuk diimplementasikan di Pusat Perbelanjaan benar-benar kinerja IPAL yang
terbaik. Telah banyak hasil penelitian yang menunjukkan keunggulan dari proses biologis secara anaerobic
dibandingkan dengan proses secara aerobic. Dalam proses IPAL secara anaerobic ada pilihan memakai prinsip
attached growth atau suspended growth. Dengan membandingkan kinerja IPAL Anaerobic Filter (attached growth)
dan Anaerobic Baffled Reactor (suspended growth) dengan beberapa kriteria seperti : volume bangunan, luas lahan
yang dibutuhkan, efisiensi removal, kualitas effluent, biaya konstruksi, telah diperoleh kesimpulan bahwa IPAL
Anaerobic Filter lebih baik kinerjanya jika dipakai untuk IPAL Pusat Perbelanjaan di kota Surabaya.
Kata kunci : Kinerja IPAL, Anaerobic Filter, Anaerobic Baffled Reactor

1. Pendahuluan
Kota Surabaya dengan penduduk yang
sudah mencapai 3 juta jiwa saat ini sudah
mengoperasikan 34 pusat perbelanjaan menurut
Wikipedia, dan jumlah ini diperkirakan akan
terus meningkat seiring dengan peningkatan
pertumbuhan perekonomian kota. Banyak
aktivitas di dalam pusat perbelanjaan yang
menghasilkan air limbah, seperti aktivitas food
court, aktivitas salon kecantikan, aktivitas toilet,
aktivitas cleaning service. Produksi air limbah
ini umumnya berfluktuasi sesuai dengan jam
pengoperasian pusat perbelanjaan. Secara
umum di Kota Surabaya pusat perbelanjaan
beroperasi selama 12 jam dari jam 9 pagi hari
sampai jam 21 malam hari. Air limbah dari
pusat perbelanjaan, disamping air limbah dari
kegiatan perkotaan lainnya, telah cukup lama
mencemari air sungai di dalam kota Surabaya
yang tercermin dari hasil perhitungan daya
dukung sungai (anonim, 2008). Indeks Kualitas
Lingkungan Hidup Indonesia (anonim, 2012)
juga menempatkan provinsi di pulau Jawa
berada pada indeks terbawah dari provinsiprovinsi se Indonesia, yaitu DKI Jakarta
(41,31), Banten (49,98), Jawa Tengah (49,82),
Jawa Barat (50,90), dan Jawa Timur (54,49).
Semakin rendah nilai indeks kualitas
lingkungannya
semakin
buruk
kualitas
lingkungan tersebut. Salah satu kesimpulan
IKLH Indonesia ini menyatakan bahwa
pencemaran air sungai adalah masalah

lingkungan yang paling utama di setiap


propinsi, sehingga rekomendasi pertamanya
adalah bahwa kegiatan pengelolaan lingkungan
hidup
sebaiknya
diprioritaskan
pada
pengendalian pencemaran air sungai, terutama
di Pulau Jawa. Menurut Peraturan Pemerintah
Nomor 82 tahun 2001 (Anonim, 2001) ada 4
klasifikasi sungai dimana setiap klasifikasi
sungai mempunyai persyaratan baku mutu
kualitas air sungai yang berbeda. Baku mutu air
limbah yang dibuang di sungai klas 1 lebih ketat
dibandingkan dengan baku mutu air limbah
yang dibuang di sungai klas 2, 3, dan 4. Garcia
et al (2007), telah mengevaluasi efektivitas
Program Pengendalian Pencemaran dan
Evaluasi dan Penilaian Peringkat (PROPER) di
Indonesia. Di sisi lain Fulazzaky (2010),
menulis bahwa penurunan kualitas air sungai
Citarum meningkat dari tahun ke tahun karena
meningkatnya beban pencemar yang dibuang
tanpa pengolahan dari kota Bandung bagian
hulu. Burroughs (2011) telah menguraikan
pencemaran di New York sejak 1664 oleh
aktivitas penduduk yang membuang air
limbahnya ke saluran drainase yang bermuara
ke sungai dan laut. Bersamaan dengan air
limbah domestik diperkotaan, air limbah
fasilitas rumah sakit juga telah ikut mencemari
lingkungan dibanyak kota di dunia. Kenyataan
ini diungkap oleh Kotzamanidis et al (2009) dan
Wyasu (2012). Verlicchi (2010) juga telah
membandingkan karakteristik kimia dari air

Seminar Nasional Pascasarjana XIV ITS, Surabaya,


Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
7 Agustus 2014

limbah domestik dan air limbah rumah sakit


yang diolah melalui IPAL. Sedangkan Manaia
et al (2010) menyebutkan bahwa 99 % removal
bakteri dari air limbah domestik bisa diperoleh
setelah melalui IPAL. Menurut Morihama
(2012), buruknya kualitas air
sungai
diperkotaan Brazil karena sistem saluran
pembuangan berinterkoneksi dengan sistem
drainase air hujan. Menurut Lin et al (2010),
DAS Sungai Houjing di Taiwan sangat tercemar
berdasarkan hasil analisis kualitas air. Vanham
et al (2011) menulis bahwa India menghadapi
tantangan besar dalam pengelolaan sumber daya
air. Cha et al (2009) menjelaskan skema
manajemen mengontrol kualitas air Sungai
Yeongsan Korea. Menurut Makaya (2010)
kualitas air akan mendukung kesehatan
ekosistem organisme yang hidup di dalamnya
dan pada kesehatan manusia. ODonnell &
Galat (2007) menulis bahwa Sungai Mississippi
di USA dan pembangunan perkotaan lebih 200
tahun terakhir menyebabkan kualitas air sungai
terdegradasi dan meningkatkan kecepatan
sedimen dan nutrien ke air sungai.
Dari berbagai hasil penelitian di banyak
negara diatas memperlihatkan telah terjadi
pencemaran air sungai di hampir seluruh bagian
benua ini. Hal ini bisa jadi mengindikasikan
kurang berfungsinya IPAL dari kegiatan yang
membuang air limbahnya kedalam sungai. Jika
IPAL dapat didesain dan dipilih dengan baik
sesuai dengan karakteristik dan debit air limbah,
maka operasional IPAL tersebut dapat
diharapkan dapat mencegah atau mengurangi
pencemaran terhadap air sungai. Oleh sebab itu
keberadaan
IPAL
dalam
pencegahan
pencemaran air sungai sangat diperlukan.
Pengoperasian IPAL (instalasi pengolahan air
limbah)
untuk
setiap
kegiatan
yang
menghasilkan air limbah di perkotaan di Pulau
Jawa menjadi hal yang sangat mendesak dalam
rangka pengendalian pencemran air sungai.
Banyak pilihan IPAL yang sudah ditawarkan di
internet, namun tetap saja masih perlu dikaji
kinerjanya agar yang akan dipilih untuk
diimplementasikan di Pusat Perbelanjaan di
Kota Surabaya memang benar-benar kinerja
IPAL yang terbaik dan memenuhi peraturan
yang berlaku (anonim, 2013). Dalam pemilihan
ini perlu dipertimbangkan jam operasional pusat
perbelanjaan yang hanya 12 jam sehari, tapi
memerlukan
pengoperasian
IPAL
yang
kontinyu tanpa henti. Telah banyak hasil
penelitian yang menunjukkan keunggulan dari
proses biologis secara anaerobic dibandingkan
dengan proses secara aerobic. Dalam proses

IPAL secara anaerobic ada pilihan memakai


prinsip attached growth atau suspended growth.
Anaerobic biofilter adalah salah satu contoh
pengolahan anaerobic memakai prinsip attached
growth dan anaerobic baffled reactor adalah
contoh pengolahan anaerobic memakai prinsip
suspended growth.
Show & Tay (1999) telah melakukan
penelitian untuk upflow anaerobic filter
memakai limbah sintetis yang mengandung
protein dan carbohydrate dan menghasilkan
efisiensi removal sebesar 78 %. Punal et al
(2000) telah meneliti pengaruh C : N ratio pada
start up upflow anaerobic filter yang telah
menghasilkan
peningkatan
kapasitas
methanogenic activity. Elmitwalli et al (2002)
telah meneliti pengolahan limbah domestic
memakai anaerobic filter dan anaerobic hybrid
pada temperature rendah dan menghasilkan
efisiensi removal COD 71 % sama dengan di
area tropis dan 60% dari COD yang diremoval
ini terkonversi menjadi methane. Bodik et al
(2002) telah meneliti pemakaian upflow
anaerobic filter (UAF) dan anaerobic
sequencing batch reactor (AnSBR) dan
menghasilkan efisiensi COD sebesar 5688%
untuk AnSBR dan
4692% untuk UAF.
Handayani (2006) juga telah meneliti IPAL
dengan Anaerobic Fixed Bed (AnFB) reactor.
Omil et al (2003) juga telah meneliti pemakaian
anaerobic filter untuk air limbah dairy pada
skala industry dan memperoleh efisiensi
removal COD 90%. Lee at al (2006) telah
melakukan modeling dan simulasi untuk proses
anaerobic filter dan menemukan
reaksi
mickrobial acidogenesis dan methanogens yang
terdistribusi spasial. Prayitno (2011) telah
merekomendasikan
teknologi
pengolahan
biofilter anaerob-aerob dengan ozonasi adalah
teknologi yang efektif dalam pengolahan air
limbah rumah sakit. Jamwal et al (2009) di New
Delhi telah mempelajari tujuh belas STP
(sewage treatment plant) untuk mengolah
limbah cair domestik selama periode 12 bulan.
Sedangkan Jing et al (2009) telah menghasilkan
92.9 % efisensi removal COD dari air limbah
restoran dengan menerapkan IPAl Moving Bed
Biofilm Sequencing Batch Reactor (MBBSBR).
Menurut Sawajneh et al (2010), Filter anaerobik
(AF) dan Upflow Anaerobic Sludge Blanket
(UASB) secara seri dibangun dan dioperasikan
dengan rata-rata removal efisiensi COD terlarut
dan COD tersuspensi dari AF / UASB adalah
58% dan 81% untuk masing-masing periode
operasi. Menurut Jenicek et al (2012) anaerobic
digestion adalah teknologi energi positif yang

Seminar Nasional Pascasarjana XIV ITS, Surabaya,


Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
7 Agustus 2014

hanya banyak digunakan dalam pengolahan air


limbah.
Gasparikova et al (2005), telah memilih
tujuh instalasi kecil pengolahan air limbah
untuk dievaluasi di Republik Slovaki. Menurut
Wang et al (2010) sistem konvensional RBCSSC tidak menghasilkan limbah yang
memenuhi standar pembuangan limbah tingkat
kedua. Abargues et al (2012) dalam tulisannya
menunjukkan bahwa konsentrasi alkylphenols
(AP) larut dalam submerged anaerobic
membrane bioreactor (SAMBR) selalu jauh
lebih tinggi dari conventional treatment plant
(CTP). Menurut Cheng et al (2011) instalasi
pengolahan limbah kota memainkan peran
penting dalam mengurangi beban mikroba dari
limbah sebelum produk akhir dibuang ke air
permukaan atau ke lingkungan lokal (biosolids).
Menurut Chen & Lo (2010), hasil simulasi
menunjukkan bahwa rata-rata dengan minimum
persentase kesalahan absolut dari 43,79%,
16.21%, dan 30.11% untuk BOD, COD, dan SS
bisa dicapai. Gaulke et al (2010) menyarankan
agar pengoperasian IPAL dapat berlanjut maka
harus diupayakan efisiensi energy dan
efektifitas biaya untuk resource (sumber daya)
dengan mengupayakan agar terjadi resource
recovery. Sedangkan Wu et al (2010) telah
meneliti aliran material dan energy IPAL dan
menghasilkan bahwa ratio pemakaian energy
harus diperbaiki dan meningkatkan removal
COD serta kuantitas efluent perhari yang akan
mempunyai dampak significant.
2. Metode
Metode dalam penelitian ini adalah dengan
melakukan
perbandingan kelebihan dan
kekurangan antara unit IPAL anaerobic filter
dengan unit IPAL anaerobic baffled reactor,
yang mencakup beberapa aspek antara lain :
volume bangunan, luas lahan yang dibutuhkan,
efisiensi removal, kualitas effluent, biaya
konstruksi, serta Rencana Anggaran Biaya
(RAB) yang dibutuhkan. Kedua unit IPAL ini
telah direncana sebelumnya memakai kriteria
dari Sasse (1998). Dalam perencanaan IPAL
telah dilakukan pengambilan data primer dari
sebuah pusat perbelanjaan di Kota Surabaya,
berupa debit air limbah dari pemakaian air
bersih dan karakteristik air limbah dengan
parameter BOD, COD dan TSS yang diperoleh
dari analisa laboratorium di Laboratorium
Manajemen Kualitas di Jurusan Teknik
Lingkungan FTSP-ITS. Perbandingan hasil
perencanaan antara unit IPAL Anaerobic filter
dan Anaerobic baffled reactor
ini
menggunakan tiga variasi debit, yakni debit

rata-rata (1,5 l/detik), setengah kali debit ratarata (0,75 l/detik), dan dua kali debit rata-rata (3
l/detik). Tujuan dari perbandingan hasil
perencanaan
IPAL
ini
adalah
untuk
mendapatkan kelebihan dari masing-masing
Unit IPAL sehingga diharapkan dapat
bermanfaat untuk pilihan perencanaan IPAL
pusat perbelanjaan di Kota Surabaya dengan
ukuran debit air limbah yang lebih bervariasi
(lebih besar atau lebih kecil dari yang sudah
direncanakan).
3. Hasil dan Pembahasan
3.1.
Volume bangunan
Volume bangunan meliputi bak ekualisasi + unit
IPAL. Untuk bak ekualisasi dapat digambarkan
grafik perbandingan volume bangunan seperti
Gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Grafik Trend Perbandingan volume IPAL


Anaerobic filter dan IPAL Anaerobic baffled reactor untuk
Pusat Perbelanjaan di Kota Surabaya

3.2. Luas lahan yang dibutuhkan


Luas lahan merupakan faktor yang penting
apabila Pusat Perbelanjaan yang direncanakan
berada di wilayah perkotaan. Hal ini
dikarenakan biasanya di wilayah perkotaan
harga tanah cukup tinggi sehingga penggunaan
lahan harus efektif. Namun semua unit IPAL
pada perencanaan ini direncanakan berada
dibawah muka tanah sehingga lokasinya dapat
ditempatkan dibawah fasilitas umum seperti
lahan parkir atau ruang terbuka hijau.Luas lahan
untuk bak ekualiasasi dengan tiga variasi debit
dapat dilihat pada Gambar 2.

Seminar Nasional Pascasarjana XIV ITS, Surabaya,


Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
7 Agustus 2014

Gambar 2 Grafik Trend perbandingan luas lahan antara


IPAL Anaerobic filter dan IPAL Anaerobic baffled reactor
untuk Pusat Perbelanjaan di Kota Surabaya

3.3. Efisiensi Removal


Efisiensi removal merupakan faktor yang
penting dalam perencanaan unit IPAL.
Parameter yang digunakan adalah COD
(Chemical Oxygen Demand) dan BOD
(Biochemical Oxygen Demand). Berikut ini di
Gambar 3 adalah hasil rangkuman efisiensi
removal dari kedua unit IPAL dengan tiga
variasi debit. Dari hasil perbandingan, terlihat
bahwa unit IPAl Anaerobic baffled reactor
memiliki efisiensi removal COD dan BOD yang
lebih tinggi daripada unit Anaerobic filter.

Gambar 4 Grafik trend perbandingan kualitas effluen COD


dan BOD unit IPAL Anaerobic filter dan unit IPAL
Anaerobic baffled reactor untuk Pusat Perbelanjaan di Kota
Surabaya

3.5. Rencana Anggaran Biaya


Rencana anggaran biaya dibandingkan untuk
mengetahui biaya yang harus disiapkan untuk
biaya konstruksi dan biaya untuk operasi dan
pemeliharaan (OM). Dalam perhitungan biaya
operasi dan pemeliharaan ini dimasukkan juga
biaya pemantauan. Perbandingan rencana
anggaran biaya untuk masing-masing IPAL
dapat dilihat pada Tabel 1 dan Gambar 5.
Tabel 1 Perbandingan RAB IPAL Pusat Perbelanjaan di
Kota Surabaya
Perbandin
gan Biaya
OM
Periode 5
tahun

Perbandingan Biaya Konstruksi


Debit
Unit IPAL

Gambar 3 Grafik trend perbandingan efisiensi removal


COD dan BOD unit IPAL Anaerobic filter dan unit IPAL
Anaerobic Bafffled Reactor untuk Pusat Perbelanjaan di
Kota Surabaya

3.4. Kualitas effluen


Kualitas effluen dari unit IPAL merupakan
faktor yang sangat penting karena terkait
dengan baku mutu yang telah ditetapkan dalam
Peraturan Gubernur Jawa Timur No 72 tahun
2013 (anonim, 2013). Parameter yang dijadikan
acuan adalah COD dan BOD. Hasil effluen dari
masing-masing unit IPAL dapat dilihat pada
Gambar 4. Dari hasil perbandingan terlihat
bahwa kualitas effluen Anaerobic baffled
reactor lebih baik bila dibandingkan dengan
unit anaerobic filter, meskipun kedua IPAL
telah memenuhi baku mutu yang berlaku.

BE + ST +
AF
BE + ST +
ABR

1/2 Qave

Qave

2x Qave

Qave

Rp263,87
2,694
Rp288,61
9,431

Rp462,56
5,676
Rp504,51
9,244

Rp946,24
9,897
Rp810,05
6,978

Rp281,33
4,720
Rp280,66
8,053

Keterangan :
BE: Bak Ekualiasasi, ST: Septic tank, AF
:
Anaerobic filter, ABR
: Anaerobic Baflled
Reactor

Gambar 5 Grafik Perbandingan Biaya IPAL Pusat


Perbelanjaan di Kota Surabaya

Seminar Nasional Pascasarjana XIV ITS, Surabaya,


Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
7 Agustus 2014

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa rencana


anggaran biaya (RAB) yang dibutuhkan untuk
konstruksi unit IPAL Anaerobic baffled reactor
dengan debit rata-rata (Qave) lebih mahal
daripada biaya untuk konstruksi unit Anaerobic
filter. Namun untuk debit 2 kali rata-rata maka
biaya konstruksi anaerobic filter menjadi lebih
mahal daripada biaya konstruksi unit anaerobic
baffled reactor.

Tabel 2 Ringkasan Perbandingan Anaerobic Filter (AF)


dan Anaerobic Baffled Recator (ABR) untuk IPAL Pusat
Perbelanjaan di Kota Surabaya

Selain itu dari grafik perbandingan biaya OM


dapat diketahui bahwa biaya operasional unit
AF lebih mahal dibandingkan dengan unit ABR.
Hal ini dikarenakan pada unit AF diperlukan
pembersihan media secara berkala dengan cara
penyemprotan air dari atas dengan tekanan yang
cukup untuk mengurangi penumpukan dan
penebalan biofilm yang dapat menyebabkan
clogging dan mengurangi kinerja pengolahan.

Kualitas Effluen
mg
COD
/L
mg
BOD
/L
Volume
Bangunan
m3
Waktu
ja
Tinggal
m

3.6. Produksi Biogas dan Potensi Listrik


Pengolahan secara Anaerobik menghasilkan
produk samping berupa biogas, dan dari
produksi biogas ini berpotensi menghasilkan
produksi listrik. Adapun hasil perhitungan dan
perbandingan produks biogas dan potensi listrik
per bulan dapat dilihat pada Gambar 6.

Parameter

Sat
ua
n

Septic Tank +
Anaerobic
Filter

Septic Tank +
Anaerobic Baffled
Reactor

Efisiensi Removal
COD

89.3

89.9

BOD

91.5

94.6

43

19

21

21

39

66

24

24

31.3
Rp462,565,67
6

44.0
Rp504,519,244

281,334,720

280,668,060

342.60

365.41

342.60

365.41

Luas lahan

m2

RAB
Konstruksi
OM per 5
tahun
Produksi
biogas per
bulan
Potensi
listrik per
bulan

Rp
.
Rp
.

m3
k
W
H

Keterangan : perhitungan IPAL dengan debit


rata-rata

Gambar 6 Grafik perbandingan produksi biogas dan potensi


listrik per bulan untuk IPAL Pusat Perbelajaan di Kota
Surabaya

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa produksi


gas dan potensi listrik yang dihasilkan per
bulan dari unit ABR lebih besar daripada unit
AF. Energy listrik yang dihasilkan ini dapat
digunakan kembali sebagai energy penggerak
pompa sehingga biaya Operasi dan Perawatan
IPAL dapat ditekan menjadi lebih murah.
Dari uraian terhadap perbandingan-perbadingan
diatas maka dapat diringkas dalam Tabel 2.

4. Kesimpulan
1. IPAL Anaerobic Filter untuk Pusat
Perbelanjaan di Kota Surabaya memiliki
keunggulan membutuhkan luas lahan yang
lebih kecil dibandingkan IPAL Anaerobic
Baffled Reactor, oleh karena itu biaya
konstruksi yang dibutuhkan pun relatif lebih
kecil.
2. IPAL Anaerobic Baffled Reactor memiliki
keunggulan pada tingkat efisiensi removal
BOD dan COD yang tinggi serta produksi
biogas serta potensial energi listrik yang
dihaslkan lebih besar dibandingkan dengan
IPAL Anaerobic Filter.
3. IPAL Anaerobic Filter lebih baik kinerjanya
dibandingkan dengan Anaerobic Baffled
Reactor jika diimplementasikan untuk Pusat
Perbelanjaan di Kota Surabaya yang
umumnya mempunyai keterbatasan luas
lahan.
4. Kedua jenis unit IPAL ini sama-sama
menghasilkan gas yang harus dikelola lebih
lanjut agar tidak menyebabkan masalah
pencemaran udara di Kota Surabaya.

Seminar Nasional Pascasarjana XIV ITS, Surabaya,


Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
7 Agustus 2014

5.
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Daftar Pustaka
Abargues, R.M., Robles, A., Bouzas, &
Seco. (2012). Micropollutants removal in
an anaerobic membrane bioreactor and in
an aerobic conventional treatment plant
(Vol. 65). London, ROYAUME-UNI:
International
Water
Association.doi:
http://dx.doi.org/10.2166/wst.2012.145
Alshuwaikhat, H. M. (2005). Strategic
environmental assessment can help solve
environmental impact assessment failures
in developing countries. Environmental
Impact Assessment Review, 25(4), 307317.
doi:
http://dx.doi.org/10.1016/j.eiar.2004.09.00
3
Anonim. (2001). Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air. Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2001
Nomor
153.
Jakarta.
http://www.menlh.go.id
Anonim. (2008). Kajian Penetapan Daya
Tampung Beban Pencemaran Kali
Surabaya.
Kerjasama
Lembaga
Pengabdian Masyarakat ITS dengan
Perum Jasa Tirta I. Surabaya.
Anonim.
(2012).
Indeks
Kualitas
Lingkungan Hidup Indonesia 2011.
Kementerian Negara Lingkungan Hidup.
Jakarta. http://www.menlh.go.id
Anonim. (2013). Peraturan Gubernur Jawa
Timur 72 tahun 2013 tentang Baku Mutu
Limbah Cair Industri atau Kegiatan Usaha
lainnya di Jawa Timur. Surabaya.
Bodk, Igor, Herdov, Bronislava, & Drtil,
Miloslav. (2002). The use of upflow
anaerobic filter and AnSBR for wastewater
treatment at ambient temperature. Water
Research,
36(4),
1084-1088.
doi:
http://dx.doi.org/10.1016/S00431354(01)00308-6
Burroughs,
R.
(2011).
Coastal
Governance,
Foundations
of
Contemporary Environmental Studies,
DOI
http://dx.doi.org/10.5822/978-161091-016-3_3
Cha, S. M., Ki, S. J., Cho, K. H., Choi, H.,
& Kim, J. H. (2009). Effect of
environmental flow management on river
water quality: a case study at Yeongsan
River, Korea. Water science and
technology : a journal of the International
Association on Water Pollution Research,
59(12),
2437-2446.
http://dx.doi.org/10.2166/wst.2009.257

10. Chen, Home-Ming, & Lo, Shang-Lien.


(2010). Prediction of the effluent from a
domestic wastewater treatment plant of
CASP using gray model and neural
network. Environmental Monitoring and
Assessment, 162(1-4), 265-275. doi:
10.1007/s10661-009-0794-z
11. Cheng, Hui-WenA, Lucy, FrancesE,
Graczyk,
ThaddeusK,
Broaders,
MichaelA, & Mastitsky, SergeyE. (2011).
Municipal wastewater treatment plants as
removal systems and environmental
sources of human-virulent microsporidian
spores. Parasitology Research, 109(3),
595-603. doi: 10.1007/s00436-011-2291-x
12. Elmitwalli, Tarek A., Oahn, Kim L. T.,
Zeeman, Grietje, & Lettinga, Gatze.
(2002). Treatment of domestic sewage in a
two-step anaerobic filter/anaerobic hybrid
system at low temperature. Water
Research,
36(9),
2225-2232.
doi:
http://dx.doi.org/10.1016/S00431354(01)00438-9
13. Fulazzaky, M. A. (2010). Water quality
evaluation system to assess the status and
the suitability of the Citarum river water to
different uses. Environmental Monitoring
and Assessment, 168(1-4), 669-684. doi:
10.1007/s10661-009-1142-z
14. Garcia, J. H., Sterner, T., & Afsah, S.
(2007). Public disclosure of industrial
pollution: the PROPER approach for
Indonesia? Environment and Development
Economics,
12(06),
739-756.
doi:
http://dx.doi.org/10.1017/S1355770X0700
3920
15. Gasparikova,E.,Kapusta,S.,Bodik,I.,Derco,
J.,Kratochvil,K. (2005). Evaluation of
Anaerobic-Aerobic Wastewater Treatment
Plant Operations. Polish Journal of
Environmental Studies. Vol 14 No 1 (2934)
16. Gaulke, L.S., Weiyang, X., Scanlon, A.,
Henk, A., Hinckley, T. (2010). Evaluation
Criteria for Implementation of a
Sustainable Sanitation and Wastewater
Treatment System at Jiuzhaigou National
Park,
Sichuan
Province,
China.
Environmental Management (2010) 45:93104.
doi:
http://dx.doi.org/10.1007/s00267-0099398-1
17. G.Wyasu & Kure, O.A (2012).
Determination of organic pollutants in
hospital wastewater and food samples
within Ahmadu Bello University Teaching
Hospital (Abuth), Shika, Zaria-Nigeria.

Seminar Nasional Pascasarjana XIV ITS, Surabaya,


Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
7 Agustus 2014

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

Pelagia Research Library. Advancess in


Applied Science Research, 2012, 3 (3) :
1691-1701.
www.pelagiaresearchlibrary.com
Handajani, M. (2006). Performance of an
Anaerobic Fixed Bed (AnFB) Reactor for
Treating Whey-containing Wastewater.
Jurnal Teknik Lingkungan. Volume 12
Nomor 2, Oktober 2006 (hal.29-39)
Jamwal, Priyanka, Mittal, Atul K, &
Mouchel, Jean-Marie. (2009). Efficiency
evaluation of sewage treatment plants with
different technologies in Delhi (India).
Environmental
Monitoring
and
Assessment, 153(1-4), 293-305. doi:
10.1007/s10661-008-0356-9
Jenicek, P., Bartacek. J., Kutil, J.,
Zabranska, J., Dohanyos, M. (2012).
Petentials and limits of anaerobic digestion
of sewage sludge : Energy self-sufficient
municipal wastewater treatment plant ?.
Water Science & Technology. C. IWA
Publishing 2012. (1277-1281). doi:
http://dx.doi.org/10.2166/wst.2012.317
Kotzamanidis, C., Zdragas, A., Kourelis,
A., Moraitou, E., Papa, A., Yiantzi, V.,
Pantelidou, C., Yiangou, M. (2009).
Characterization
of
vanA-type
Enterococcus faecium isolates from urban
and hospital wastewater and pigs. Journal
of Applied Microbiology 107 (2009) 9971005.
ISSN
1364-5072.doi:
http://dx.doi.org/10.1111/j.13652672.2009.04274.x
Lee, M. W., Lee, H. W., Joung, J. Y., &
Park, J. M. (2006). Modeling and
simulation of anaerobic filter process: twodimensional distribution of acidogens and
methanogens. In I.-S. N. Hyun-Ku Rhee &
P. Jong Moon (Eds.), Studies in Surface
Science and Catalysis (Vol. Volume 159,
pp.
129-132):
Elsevier.http://dx.doi.org/10.1016/S01672991(06)81550-8
Lin, C. E., Kao, C. M., Jou, C. J., Lai, Y.
C., Wu, C. Y., & Liang, S. H. (2010).
Preliminary identification of watershed
management strategies for the Houjing
river in Taiwan. Water science and
technology : a journal of the International
Association on Water Pollution Research,
62(7),
1667-1675.
doi:http://dx.doi.org/10.2166/wst.2010.460
Makaya, E (2010). Water Quality
Management for Upper Chinyika River in
Zimbabwe.
Electronic
Journal
of

25.

26.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

Environmental, Agricultural and Food


Chemistry. 9(3), (493-502)
Manaia, C.M., Novo, A., Coelho, B.,
Nunes, O.C. (2010). Ciprofloxacin
Resistance in Domestic Wastewater
Treatment Plants. Water Air Soil Pollution
(2010)
208:335-343.
DOI:
http://dx.doi.org/10.1007/s11270-0090171-0
Morihama, A.C.D., Amaro, C., Tominaga,
E.N.S., Yazaki, R.F.O.L., Pereira, M.C.S.,
Porto, M.F.A., Mukas, P & Lucci, R.M.
(2012). Integrated solutions for urban
runoff pollution control in Brazilian
metropolitan regions. Water science and
technology : a journal of the International
Association on Water Pollution Research,
66(4),
704-711.
doi:
http://dx.doi.org/10.2166/wst.2012.215
ODonnell, T. Kevin, & Galat, David L.
(2007). River Enhancement in the Upper
Mississippi River Basin: Approaches
Based on River Uses, Alterations, and
Management
Agencies.
Restoration
Ecology,
15(3),
538-549.
doi:
10.1111/j.1526-100X.2007.00249.x
Oliveira, M., Queda, C., & Duarte, E.
(2009). Aerobic treatment of winery
wastewater with the aim of water reuse.
Water science and technology : a journal
of the International Association on Water
Pollution Research, 60(5), 1217-1223.
Omil, Francisco, Garrido, Juan M., Arrojo,
Beln, & Mndez, Ramn. (2003).
Anaerobic filter reactor performance for
the treatment of complex dairy wastewater
at industrial scale. Water Research, 37(17),
4099-4108.
doi:
http://dx.doi.org/10.1016/S00431354(03)00346-4
Pauwels, B., Noppe, H., Brabander, H.D.,
Verstraete, W. (2008). Comparison of
Steroid Hormone Concentrations in
Domestic and Hospital Wastewater
Treatment
Plants.
Journal
of
Environmental Engineering @ ASCE.
DOI
:
http://dx.doi.org/10.1061/(ASCE)07339372(2008)134:11(933)
Prayitno. (2011). Teknologi Pengolahan
Air Limbah Rumah Sakit. Jurnal
Pembangunan Alam Lestari, Vol 1 No 2,
Februari 2011. Jurnal Pasca Sarjana
Universitas Brawijaya Malang.
Pual, A., Trevisan, M., Rozzi, A., &
Lema, J. M. (2000). Influence of C:N ratio
on the start-up of up-flow anaerobic filter

Seminar Nasional Pascasarjana XIV ITS, Surabaya,


Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
7 Agustus 2014

33.

34.

35.

36.

37.

38.

39.

reactors. Water Research, 34(9), 26142619.


doi:
http://dx.doi.org/10.1016/S00431354(00)00161-5
Sasse.
L.
(1998).
Decentralised
Wastewater Treatment in Developing
Countries. Borda (Bremen Overseas
Research and Development Association),
Bremen.
Sawajneh, Z., Al-Omari, A., & Halalsheh,
M. (2010). Anaerobic treatment of strong
sewage by a two stage system of AF and
UASB reactors. Water science and
technology : a journal of the International
Association on Water Pollution Research,
61(9),
2399-2406.
doi:
http://dx.doi.org/10.2166/wst.2010.051
Shammas, NazihK, & Wang, LawrenceK.
(2010). Aerobic and Anaerobic Attached
Growth Biotechnologies. In L. K. Wang,
V. Ivanov & J.-H. Tay (Eds.),
Environmental Biotechnology (Vol. 10, pp.
671-720):
Humana
Press.
doi:
http://dx.doi.org/10.1007/978-1-60327140-0_14
Show, K.Y, & Tay, J.H. (1999). Influence
of support media on biomass growth and
retention in anaerobic filters. Water
Research,
33(6),
1471-1481.
doi:
http://dx.doi.org/10.1016/S00431354(98)00352-2
Vanham, D., Weingartner, R., Rauch, W.
(2011). The Cauvery river basin in
Southern India: major challenges and
possible solutions in the 21st century (Vol.
64).
London,
ROYAUME-UNI:
International Water Association. doi:
http://dx.doi.org/10.2166/wst.2011.554
Verlicchi, P., Galletti, A., Masotti, L.
(2010).
Management
of
hospital
wastewaters: the case of the effluent of
large hospital situated in a small town.
Water Science & Technology.
IWA
Publishing 2010. 61.10 : 2507-2519. DOI:
http://dx.doi.org/10.2166/wst.2010.138
Wang, LawrenceK, Aulenbach, DonaldB,
& VanDyke, JamesP. (2010). Jiminy Peak,
Hancock,
Massachusetts
Wastewater
Treatment Plant: The First RBC-FlotationUV Wastewater Treatment Plant in the
USA. In L. K. Wang, N. K. Shammas, W.
A. Selke & D. B. Aulenbach (Eds.),
Flotation Technology (Vol. 12, pp. 457484):
Humana
Press.
doi:
http://dx.doi.org/10.1007/978-1-60327133-2_14

40. Wu, J.G., Meng, X..Y., Liu, X.M., Liu,


X.W., Zheng, Z.X., Xu, D.Q., Sheng, G.P.,
Yu, H.Q. (2010). Life Cycle Assessment
of a Wastewater Treatment Plant Focussed
on Material and Energy Flows.
Environmental
Management
(2010)
46:610-617.
DOI:
http://dx.doi.org/10.1007/s00267-0109497-z