Anda di halaman 1dari 83

SEMUA TENTANG CINTA MUST READ!!!!!!!!!!!!

7 Mei 2011 pukul 8:38


SEMUA TENTANG CINTA

Oleh: Abdullah Sholeh Hadrami

Cinta adalah Fitrah


Rasa cinta pasti ada pada makhluk yang bernyawa karena
cinta adalah merupakan fitrah, naluriah dan sunnatullah.
Cinta adalah satu kata yang tidak asing lagi di telinga kita.
Apalagi di kalangan remaja, karena sudah menjadi
anggapan umum bahwa cinta identik dengan ungkapan
rasa sepasang sejoli yang dimabuk asmara. Ada yang
mengatakan cinta itu suci, cinta itu agung, cinta itu indah
dan saking indahnya tak bisa diungkapkan dengan katakata, hanya bisa dirasakan dll. Bahkan saking indahnya
cinta, setan pun berubah menjadi bidadari. Yang jelas
karena cinta, banyak orang yang merasa bahagia namun
sebaliknya karena cinta banyak pula orang yang dibuat
tersiksa dan merana. Cinta dapat membuat seseorang
menjadi sangat mulia, dan cinta pula yang menjadikan
seseorang menjadi sangat tercela.

Cinta adalah topik terindah dalam pembicaraan remaja.


Cinta memberi warna dalam setiap tindak tanduk dan
pemikiran, khususnya remaja, dan lebih khusus lagi
adalah wanita, sebagaimana dikatakan seorang pujangga,
Hati wanita hanya mengenal satu kegembiraan di atas
dunia ini, yaitu mencinta dan dicinta.
Remaja tidak mungkin dipaksa menanggalkan rasa cinta.
Ia hadir, terasa dan yang membuat hidup menjadi indah,
itulah cinta. Tanpa cinta hidup ini terasa hampa dan
kurang bersemangat.

Cinta yang Salah


Namun, cinta juga berakibat fatal apabila kita salah
dalam mempraktekkannya dengan mengedepankan
syahwat dan hawa nafsu, karena nafsu tidak akan pernah
ada puasnya sampai kapanpun. Seseorang yang
terperangkap dalam cinta syahwat dan hawa nafsu akan
selalu tersiksa dan bahkan menjadi budak setan dan hawa
nafsunya sendiri yang semestinya dia menjadi hamba
Allah Taala.
Diantara contoh cinta yang salah adalah yang dikenal
dengan istilah pacaran. Islam tidak mengenal istilah
pacaran dan proses pernikahan tidak boleh didahului
dengan pacaran. Pacaran bukanlah ukuran untuk menilai
seseorang karena pacaran penuh dengan kepalsuan dan

kebohongan. Apalagi kalau sampai pacaran itu berbuah


pergaulan bebas dan perzinahan.
Semoga Allah Taala menyelamatkan kita semua, amien.

Diantara Penyebab Cinta yang Salah


Penyebab utama terjadinya cinta yang salah ini adalah
karena Fudlulu An-Nadhor (banyak memandang), maksud
dari pada banyak memandang adalah melepaskan
pandangan kepada sesuatu dengan sepenuh mata dan
memandang kepada apa yang tidak halal untuk di
pandang.
Allah Taala berfirman: Katakanlah kepada orang lakilaki yang beriman: Hendaklah mereka menahan
pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang
demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka
perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman:
Hendaklah mereka menahan pandangannya dan
memelihara kemaluannya.
(Q.S.An-Nur:30-31)

Dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah Shallallahu


Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda: Telah di

tetapkan kepada manusia bagiannya dari perzinahan, ia


pasti melakukan hal itu. Kedua mata zinanya adalah
memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar,
lidah zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah
memukul (meraba), kaki zinanya adalah melangkah, hati
berkeinginan dan berangan-angan, dan yang
membenarkan atau menggagalkan semua itu adalah
kemaluan.
(HR.Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad)
Dari Jarir Radhiallahu 'Anhu berkata: Aku bertanya
kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa
Sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tidak sengaja),
Beliau menjawab: Alihkan pandanganmu.
(HR.Muslim, At-Tirmidzi, Ad-Darimy dan Ahmad)

Bahaya Fudlulu An-Nadhor (Banyak Memandang)


Berlebihan memandang dengan mata menimbulkan
anggapan indah apa yang dipandang dan bertautnya hati
yang memandang kepadanya. Selanjutnya terlahirlah
berbagai kerusakan dan bencana dalam hatinya.
Diantaranya:
Pertama, pandangan adalah anak panah beracun diantara
anak panah iblis, barangsiapa menundukkan

pandangannya karena Allah Ta'ala, Dia akan berikan


kepadanya kenikmatan dan kedamaian dalam hatinya
yang ia rasakan sampai bertemu denganNya.
Kedua, masuknya setan ketika seseorang memandang.
Sesungguhnya masuknya setan lewat jalan ini melebihi
kecepatan aliran udara ke ruangan hampa. Setan akan
menjadikan wujud yang dipandang seakan-akan indah,
menjadikannya sebagai berhala tautan hati. Kemudian
mengobral janji dan angan-angan. Lalu, ia nyalakan api
syahwat dan ia lemparkan kayu bakar maksiat. Seseorang
tidak mungkin melakukannya tanpa adanya gambaran
wujud yang dipandangnya.
Ketiga, pandangan menyibukkan hati, menjadikannya
lupa akan hal-hal yang bermanfaat baginya, dan menjadi
penghalang antara keduanya. Akhirnya, urusannyapun
menjadi kacau, ia selalu lalai dan mengikuti hawa
nafsunya. Allah Ta'ala berfirman: Dan janganlah kamu
taat kepada orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari
dzikir kepada Kami dan mengikuti hawa nafsunya serta
urusannya kacau- balau.(Q.S.Al-Kahfi: 28).
Demikianlah, melepaskan pandangan secara bebas
mengakibatkan tiga bencana ini.

Dari Mata Turun Ke Hati

Para dokter hati (ulama) bertutur, Antara mata dan hati


ada kaitan yang sangat erat, bila mata telah rusak dan
buruk, maka hatipun rusak dan buruk. Hati seperti ini
ibarat tempat sampah yang berisikan segala najis, kotoran
dan sisa-sisa yang menjijikkan. Ia tidak layak dihuni cinta
dan marifatullah, tidak akan merasa tenang dan damai
bersama Allah Ta'ala dan tidak akan mau Inabah
(kembali) kepada Allah Ta'ala. Yang tinggal di dalamnya
adalah kebalikan dari semua itu.
Membiarkan pandangan lepas adalah maksiat kepada
Allah Ta'ala dan dosa sebagaimana firmanNya pada AnNur 30 dan 31 yang telah disebutkan.
Allah Ta'ala berfirman: Dia mengetahui (pandangan)
mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh
hati. (QS. Ghafir / Al-Mukmin: 19).
Membiarkan pandangan lepas menyebabkan hati menjadi
gelap, sebagaimana menahan pandangan menyebabkan
hati bercahaya. Bila hati telah bersinar maka seluruh
kebaikan akan masuk kedalamnya dari segala penjuru,
sebaliknya apabila hati telah gelap maka akan masuk
kedalamnya berbagai keburukan dan bencana dari segala
penjuru.
Seorang yang shalih berkata, Barangsiapa mengisi
lahirnya dengan mengikuti sunnah, mengisi batinnya
dengan muroqobah (merasa diawasi Allah Ta'ala),

menjaga pandangannya dari yang diharamkan, menjaga


dirinya dari yang syubhat (belum jelas halal haramnya)
dan hanya memakan yang halal, pasti firasatnya tidak
akan meleset.

Macam-Macam Cinta:

1. Mahabbatullah (Cinta Allah).


Cinta macam ini saja belum cukup untuk menyelamatkan
seseorang dari api neraka dan memasukkannya kedalam
surga karena orang-orang musyrik juga mencintai Allah.

2. Mencintai Apa Yang Dicintai Allah.


Cinta macam inilah yang memasukkan seseorang kedalam
Islam dan mengeluarkannya dari kekafiran, dan orang
yang paling dicintai Allah adalah orang yang kuat dalam
cinta ini.

3. Cinta Karena Allah dan Untuk Allah.

Cinta ini adalah wajib seperti mencintai para kekasih


Allah dan membenci musuh-musuhNya, cinta ini adalah
penyempurna dan konsekuensi cinta Allah.

4. Cinta Yang Lain Bersama Allah.


Cinta ini adalah cinta syirik yaitu cinta kepada selain
Allah yang menjadikan seseorang takut, mengagungkan
dan memuliakan yang semua ini semestinya hanya layak
untuk Allah semata. Atau mencintai selain Allah seperti
mencintai Allah bahkan melebihinya.

5. Cinta biasa.
Yaitu cinta manusia terhadap apa-apa yang di sukainya
dan merupakan tabiatnya, seperti cinta harta, anak, isteri
dll. Cinta macam ini tidak tercela kecuali apabila
menjadikan seseorang lalai dan tersibukkan olehnya
daripada ketaatan kepada Allah.

Cinta yang Benar


Terus bagaimana cinta yang benar, yang mendatangkan
kebahagiaan, kedamaian dan ketenteraman?

Allah Ta'ala berfirman:


Katakanlah: "jika bapak-bapak , anak-anak , saudarasaudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan
yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah
lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari
berjihad di jalan Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan Nya". Dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
(QS. At-Taubah: 24).

Cinta Allah Ta'ala dan RasulNya Shallallahu Alaihi


Wa Ala Alihi Wa Sallam serta Berjihad di JalanNya:
Katakanlah: Jika bapak-bapakmu (termasuk ibu-ibumu),
anak-anak, saudara-saudara senasab, isteri-isteri, kaum
keluargamu (yaitu keluarga secara umum), harta kekayaan
yang kamu usahakan yang kamu rela untuk susah payah
dalam mendapatkannya (disebutkan secara khusus karena
ini adalah yang paling dicintai oleh pemiliknya dan dia
sangat tamak atasnya berbeda dengan orang yang
mendapatkan harta tanpa susah payah), perniagaan yang
kamu khawatiri kerugiannya (dan ini mencakup seluruh
perniagaan dan usaha dagang) dan tempat tinggal yang
kamu sukai karena kemewahan dan keindahannya serta
sesuai dengan selera yang kamu inginkan.

Apabila hal-hal tersebut diatas lebih kamu cintai dari


Allah dan RasulNya dan dari jihad di jalanNya maka
kamu adalah orang-orang yang dzalim lagi fasik. Maka
tunggulah sampai Allah mendatangkan hukumanNya
kepadamu yang tiada seorangpun mampu menolak
keputusanNya.
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang fasik, yaitu orang-orang keluar dari ketaatan
kepada Allah dan mendahulukan cinta kepada yang lain
daripada cinta kepada Allah.
Ayat ini adalah dalil terbesar atas kewajiban mencintai
Allah dan RasulNya serta mendahulukan cinta kepada
keduanya diatas segala sesuatu.
Dan ancaman yang keras serta kemurkaan yang pasti
terhadap siapa saja yang lebih mencintai hal-hal yang
telah disebutkan daripada cinta kepada Allah dan
RasulNya serta berjihad di jalanNya.

Tanda atau Bukti Cinta Allah Ta'ala dan Cinta


RasulNya Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa
Sallam:
Apabila kita dihadapkan pada dua perkara, yang satu
dicintai Allah dan RasulNya dan diri kita tidak
mempunyai keinginginan terhadapnya dan perkara yang

lain diri kita menginginkan dan menyukainya akan tetapi


menyebabkan kita kehilangan perkara yang dicintai Allah
dan RasulNya atau menguranginya. Jika kita
mendahulukan perkara yang diinginkan oleh diri kita atas
perkara yang dicintai Allah maka ini adalah bukti kita
berlaku dzalim, meninggalkan apa yang wajib atas kita.

Bagaimanakah Mencintai Allah Ta'ala?


Mencintai Allah adalah patuh dan tunduk dengan
mengagungkan, memuliakan, takut dan mengharapkan.
Termasuk cinta kepada Allah adalah mencintai tempattempat yang dicintai Allah, seperti: Makkah, Madinah dan
masjid-masjid pada umumnya.
Juga mencintai waktu-waktu yang dicintai Allah, seperti:
Bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzul
Hijjah, penghujung malam dll.
Mencintai orang-orang yang dicintai Allah, seperti: Para
nabi dan rasul, para malaikat, shiddiqin, syuhada dan
shalihin.
Mencintai perbuatan-perbuatan yang dicintai Allah,
seperti: Shalat, zakat, shaum (puasa), haji, dan ucapanucapan, seperti: Dzikir, membaca Al-Quran dll.

Termasuk cinta kepada Allah pula adalah mendahulukan


apa yang dicintai Allah daripada kesenangan, syahwat
dan keingininan diri sendiri.
Termasuk cinta kepada Allah adalah membenci apa dan
siapa yang dibenci Allah, yaitu dengan membenci orangorang kafir, munafik, fasik dan para pelaku maksiat. Kita
wajib baraa dan berlepas diri dari mereka, karena
termasuk pembatal cinta ini adalah sikap walaa (loyal
dan cinta) kepada mereka.
Diantara yang menafikan cinta ini adalah membenci
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam
atau sebagian dari ajarannya, membenci orang-orang
mukmin dll.

Diantara Dalil-Dalil Al-Mahabbah (Cinta):

Allah Ta'ala berfirman:


Dan diantara manusia ada orang-orang yang
menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.
Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada
Allah. (QS. 2 Al-Baqarah: 165)

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara


kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah
akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai
mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap
lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad
di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang
yang suka mencela. (QS. 5 Al-Maaidah: 54).

Dari Anas Radhiallahu 'Anhu berkata, Rasulullah


Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
Ada tiga perkara yang barang siapa ketiga perkara itu
ada padanya pasti merasakan manisnya iman: Hendaklah
Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari yang selain
keduanya, hendaklah mencintai seseorang yang ia tidak
mencintainya melainkan karena Allah dan hendaklah ia
membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah
menyelamatkannya dari padanya sebagaimana ia
membenci (tidak mau) apabila dimasukkan ke dalam api.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Zuhrah bin Mabad dari kakeknya berkata: Kami


bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi
Wa Sallam dan tangan beliau memegang tangan Umar

ibnul Khaththab, lalu berkata (Umar): Demi Allah!


Sungguh engkau wahai Rasulullah lebih aku cintai
daripada segala sesuatu kecuali diriku.
Lalu bersabda RasulullahShallallahu Alaihi Wa Ala
Alihi Wa Sallam : Tidak beriman seorang dari kamu
sehingga aku lebih ia cintai daripada dirinya.
Berkata Umar: Demi Allah! Engkau sekarang lebih aku
cintai daripada diriku.
Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi
Wa Sallam: Sekarang, wahai Umar.
(HR. Imam Ahmad dan Bukhari).

Dari Ibnu Umar berkata: Aku telah mendengar Rasulullah


Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
Apabila kamu telah berjual beli dengan cara inah,
memegang ekor-ekor sapi dan puas dengan bercocok
tanam serta kamu tinggalkan jihad, pasti Allah akan
timpakan kepadamu kehinaan yang tidak akan dicabutnya
dari kamu sehingga kamu kembali kepada agamamu.
(HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad sahih).
Yang dimasud dengan baiul inah (jual beli dengan cara
inah) adalah menjual barang dengan harga dan tempo
yang telah ditentukan kemudian sebelum jatuh tempo

barang tersebut dibeli kembali oleh sang penjual dengan


harga yang lebih murah agar pembeli barang pertama
mendapat uang kontan akan tetapi dia masih mempunyai
tanggungan. Dinamakan inah dari kata ain yaitu untuk
mendapatkan ain atau uang kontan. Ini adalah salah satu
macam riba.
Yang dimaksud dengan memegang ekor-ekor sapi dan
puas dengan bercocok tanam adalah sibuk dengan
bercocok tanam, berkebun, mengumpulkan harta dan
urusan dunia lainnya sehingga melupakan urusan agama.

Sepuluh Resep Menggapai Cinta Allah Ta'ala:

Cintailah Allah dan berusahalah untuk menggapai


cintaNya. Inilah beberapa resep yang menyebabkan
seseorang mencintai Allah:

Membaca Al-Quran dengan tadabbur dan


memahaminya dengan baik.
Mendekatkan diri kepada Allah dengan shalat
sunat sesudah shalat wajib.

Selalu dzikirullah (mengingat Allah) dalam segala


kondisi dengan hati, lisan dan perbuatan.
Mengutamakan kehendak Allah di saat
berbenturan dengan kehendak hawa nafsu.
Menanamkan dalam hati nama-nama dan sifat-sifat
Allah dan memahami maknanya.
Memperhatikan karunia dan kebaikan Allah
kepada kita.
-

Menundukkan hati dan diri ke haribaan Allah.

Menyendiri untuk beribadah kepada Allah,


bermunajat dan membaca kitab suciNya di waktu malam
saat orang lelap tidur.
Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang
shaleh, mengambil hikmah dan ilmu dari mereka.
Menjauhkan sebab-sebab yang dapat menjauhkan
kita daripada Allah.

Makanya, buruan meraih cinta yang benar sebelum


terlambat, cinta Allah Ta'ala, cinta RasulNya Shallallahu
Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam dan cinta berjihad di
jalan Allah Ta'ala, cinta yang mendatangkan kebahagiaan,

kedamaian dan ketenteraman abadi di dunia dan di


akhirat.

---------------------------------------------------------------------------------------

(Makalah disampaikan dalam Kajian Islam Tematik


yang diselenggarakan oleh Bidang Pembinaan Rutin
Lembaga Kerohanian Islam Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya Malang, Senin 29 Syaban 1426
H / 3 Oktober 2005 M)
Musim Pilkada: Bolehkah Memilih
Pemimpin Kafir (Non Muslim)?
Apr 11
Posted by Villa Ilmu al Khair
Oleh: Utsman Zahid
Apa yang akan kami tulis ini sebenarnya jika dapat
dikatakan adalah upaya yang bukan sesungguhnya. Sebab,
dalam tulisan kecil ini, kami hanya akan memaparkan
sedikit tentang kekeliruan dari sekian kekeliruan yang

dilakukan oleh partai politik di Negeri ini, khususnya


partai Islam.
Tujuan partai yang ambigu dan metode yang tidak jelas.
Itulah yang selama ini kita jumpai dalam partai politik di
Indonesia. Kami khawatir dengan tulisan ini justru kami
terkecoh dan berpaling dari perjuangan yang
sesungguhnya; yaitu memperjuangkan tegaknya syariah
Islam secara kaffah.
Namun demikian, sebagai seorang Muslim yang memiliki
rasa tanggung jawab terhadap masyarakat Muslim, kami
tetap harus melakukan ini, dengan penuh kesadaran
bahwa perjuangan yang sebenarnya, tetaplah harus terus
digelorakan.
Kami terdorong untuk menanggapi sebuah edaran yang
dikeluarkan oleh salah satu Parpol Islam; saudara PKS:
sebuah tulisan yang menurut pihak yang mengeluarkan
tertuang dalam Tulisan Rukyah Syamilah ( yang
kemudian kami singkat:TRS), dengan judul:
PENGANGKATAN NON MUSLIM DALAM
PEMERINTAHAN (Sebuah Pandangan dan Analisa
Syari).
Kami juga khawatir tulisan semacam TRS ini juga
beredar didaerah-daerah lain untuk memuluskan
dukung mendukung saat pilkada oleh partai tersebut
pada kasus yang sama, sehingga menjerumuskan

umat. Mengingat Pilkada akan terus dilangsungkan


diberbagai daerah di Indonesia. Tulisan ini pun sudah
diajukan kepada dewan syariah partai terkait, namun
tidak ada tanggapan.
Wacana Pertama:
Perubahan Hukum Karena Faktor Waktu dan Tempat
Dalam TRS ditulis sebagai berikut:
Dalam perkembangan selanjutnya, beberapa ulama secara
khusus menuliskan tentang kepemimpinan dan
pemerintahan dalam Islam. Seperti Ibnu Taimiyah dalam
Siyasah Syariyah dan Al-Mawardi dalam Ahkam
Sulthoniyah. Banyak permasalahan ijtihad fikih dalam
masalah politik dan pemerintahan yang dibahas dalam
buku tersebut. Tentu saja ini menunjukkan keluasan dan
keluwesan syanat Islam dalam menghadapi
perkembangan zaman. Hal ini sesuai dengan yang
disampaikan oleh ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam
Kitabnya Ilaamul Muwaqqin, dimana beliau menulis
begitu gamblang dalam sebuah bab khusus berjudul :

Perubahan Fatwa dan Perbedaannya sesuai dengan


Perubahan Zaman, Tempat, Kondisi, Niat dan Adat
kebiasaaan.

Di dalam bahasan tersebut, Ibnul Qoyyim banyak


memberikan contoh hal-hal yang begitu luwes berubah
dalam fatwa, sebagaimana beliau juga menekankan
tentang prinsip-prinsip pokok dalam masalah ijtihad dan
fatwa. Hal ini tentu sesuai dengan yang disabdakan
Rasulullah SAW dalam haditsnya :

Aku diutus dengan (agama) yang lurus dan moderat
(HR Ahmad dari Abu Umamah)
Tanggapan:
Pada wacana pertama ini ada beberapa hal yang harus
ditanggapi:
Pertama: Dalam TRS ini, tertulis:

Perubahan Fatwa dan Perbedaannya sesuai dengan


Perubahan Zaman, Tempat, Kondisi, Niat dan Adat
kebiasaaan.
Padahal, teks yang benar adalah sebagai berikut:


Meski kesalahan ini tidak fatal, karena tidak


menyebabkan perubahan makna yang signifikan, akan
tetapi hal ini menunjukkan kurang adanya perhatian
dalam menjaga amanah ilmiah.
Kedua: dalam penterjemahan kata al-awaid.
Dalam TRS diterjemahkan dengan Adat kebiasaaan.
Padahal, terjemahan yang benar tidak demikian. Sebab,
kata al-awaid adalah jamak dari kata al-idah. Coba
perhatikan ungkapan Ibn al-Manzhur dalam Lisn
al-Arab :








Al-Layts berkata: hdza al-amr awadu alayk:
makananya adalah: arfaqu bika wa anfau liannahu
yadu alayka birifq[in] wa yusr[in] (lebih belas kasih
pada Anda dan bermanfaat karena kembali kepada Anda
dengan halus dan mudah). Kata al-idah adalah sebutan
bagi apa saja yang kembali dikembalikan kepada Anda
oleh seorang yang memberikan anugrah, baik berupa
hubungan atau pemberian. Bentuk jamaknya adalah:
al-awid. Ibn Sayyidah berkata: al-idah maknanya
adalah kebaikan dan hubungan yang diberikan (sebagai

imbalan) kepada seseorang. Juga, bermakna lembut dan


manfaat.
Kesalahan ini jelas fatal. Sebab, kata al-wid diartikan
sebagai adat kebiasaan. Jika ini disengaja, untuk menjadi
jembatan bagi poin-poin berikutnya, sebagai jutifikasi
akan isi TRS secara utuh, jelas sangat berbahaya.
Ketiga: Apakah memang benar bahwa hukum Islam
adalah hukum yang amat elastis dan fleksibel, serta dapat
ditarik ke sana-sini sesuai kemauan hawa nafsu manusia?
Apakah benar maksud Ibn al-Qayyim dalam kitab di atas
adalah sebagaimana yang dimaksud oleh fatwa di atas?
Dalam konteks ini memang terjadi kekaburan yang cukup
mendasar. Sejak kondisi umat Islam berubah dari sebagai
umat panutan kemudian menjadi umat pengekor, serta
sejak potensi bahas Arab dipisahkan dari Islam, kondisi
ini mendorong lahirnya hukum-hukum serta fatwa yang
aneh dan nyeleneh dari para penguasa dan ulamanya.
Mereka menyatakan: Islam harus disesuaikan dengan
dimensi waktu dan harus berjalan seiring dengan
perjalanan kemajuan dan peradaban Barat. Contoh akan
hukum-hukum serta fatwa aneh bin ajib ini sangatlah
banyak. Termasuk, TRS yang menjadi topik kajian kita
kali ini. Untuk menjustfikasi pendapatnya ini, mereka
biasanya berhujjah dengan beberapa dalil, diantaranya:
(1). Kaidah yang tertuang dalam al-Majallah:


Tidak dapat dipungkiri bahwa hukum akan selalu berubah
dengan sebab perubahan waktu dan tempat.
(2). Imam al-Syafii telah merubah ijtihadnya ketika
beliau pindah dari Hijaz ke Mesir. Ini (menurut asumsi
mereka) tidak lain adalah perubahan madzhab karena
perubahan waktu dan tempat.
(3). Berubahnya (menurut persangkaan batil mereka)
hukum kelompok al-Muallafah Qulubuhum; Pada masa
Nabi SAW. mereka mendapatkan bagian. Sementara itu,
pada masa Abu Bakar, Umar justru tidak memberi
mereka.
(4). Dibaginya ghanimah pada masa Nabi SAW., dan
tidak dibaginya ghanimah oleh para sahabat setelah
beberapa waktu.
Diskusi dalil pertama:
Kaidah ini tertuang dalam al-Majallah:

Tidak dapat dipungkiri bahwa hukum akan selalu berubah
dengan sebab perubahan waktu dan tempat.
Jika kita cermati secara mendalam, dalam kaitannya
menjadikan kaidah di atas sebagai dalil untuk

mencetuskan satu hukum, terdapat dua kesalahan.


Pertama, pada dasarnya, maksud kaidah tersebut bukanlah
sebagaimana yang dimaksud oleh orang-orang yang
mengusung dan mengkampanyekan pemikiran bidah ini.
Sebab, di dalam syarah al-Majallah dinyatakan sebagai
berikut:


Yang dimaksud di sini adalah hukum-hukum yang
dibangun di atas uruf dan adat, bukan di atas nash dan
dalil. Hukum-hukum yang semacam ini dapat mengalami
perubahan karena perubahan uruf dan implikasi.
Dengan demikian, syarah kaidah ini menyatakan bahwa;
perkaranya terbatas pada hukum-hukum yang manathnya
(bukan hukumnya) diserahkan oleh syara pada uruf dan
adat. Ini tetu dalam uruf dan adat yang dibolehkan oleh
syara.
Di dalam syarah juga dinyatakan:



Pada dasarnya, menurut fuqaha terdahulu; jika seorang


akan membeli sebuah rumah, sementara dia telah melihat
salah satu kamarnya, maka dia tidak memiliki khiyar
rukyah lagi. Pasalnya, pagar rumah pada waktu itu
dibangun dengan satu model. Akan tetapi, ketika telah
terjadi pergantian masa, dan rumah serta kamar-kamarnya
dibangun dengan gaya yang berbeda-beda, baik bentuk
atau besarnya, maka tidak cukup hanya dengan melihat
tembok pagar dari rumah tersebut untuk menggugurkan
khiyar rukyah.
Kita dapat melihat bahwa hukumnya khiyar ruyah adalah
itu-itu saja dan tidak mengalami perubahan. Dalam satu
masa, melihat satu kamar saja sudah dapat
menggambarkan kamar-kamar yang belum dilihat. Akan
tetapi, pada masa yang lain, hal itu terkadang belum
cukup. Apakah ini disebut dengan perubahan hukum
akibat perubahan waktu dan tempat? Ataukah yang
berubah adalah faktanya? Tentu jawabannya sudah jelas..
khiyar ruyah dari dulul adalah khiyar ruyah. Hanya
fakta ruyah itulah yang mengalami perubahan.
Kedua, menjadikan kaidah tersebut sebagai dasar hukum
tanpa melihat cakupannya, jelas-jelas merupakan sebuah
kesalahan. Sebagaimana kita ketahui, ulama manapun
akan sepakat jika perasan anggur hukumnya adalah halal.
Akan tetapi, jika perasan itu telah mengalami fermentasi
dan berubah menjadi khamer, semua ulama pun sepakat

bahwa itu adalah haram. Selanjutnya, jika khamer itu


berubah lagi menjadi cukak dengan syarat-syarat yang
ada maka seluruh ulama pun sepakat bahwa hukumnya
halal. Dengan demikian, realitas dari kaidah di atas tak
lebih dari sebuah kaidah fiqih yang harus dilihat dari
mana sumber lahirnya. Ini di satu sisi. Sisi yang lain,
harus dilihat, sejauh mana jangkau kaidah ini. Caranya
tidak lain adalah dengan kembali pada nash yang
melahirkan kaidah tersebut. Ini perkara yang jelas, tidak
perlu contoh. Dengan demikian, menjadikan kaidah ini
secara membabi-buta sebagai justifikasi perubahan
hukum karena perubahan waktu dan tempat jelas sebuah
kesalahan besar.
Patut dikemukakan, seandainya saja benar bahwa maksud
kaidah yang mereka bawa ngalor-ngidul ini adalah
sebagaima yang mereka maksudkan, jelas ini
bertentangan dengan syariat Allah yang diturunkan
kepada manusia, baik dari aspek ushul maupun furu.
Adapun dalil-dalil yang merekan kemukakan, tak lain
adalah sebuah takwil yang amat lemah, yang akan runtuh
jika dihadapkan pada dalil-dalil yang benar.
A. Allah menyatakan:
Katakanlah: Sesungguhnya aku berada di atas hujjah
yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku[479], sedang kamu
mendustakannya. tidak ada padaku apa (azab) yang kamu
minta supaya disegerakan kedatangannya. menetapkan

hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang


sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik.
(QS. Al-Anm: 57)
Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka
putusannya (terserah) kepada Allah. (yang mempunyai
sifat-sifat demikian) Itulah Allah Tuhanku. kepada-Nya
lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.
(QS. Al-Sura: 10)
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.
kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu,
Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan
Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS. Al-Nisa:
59)
Ayat-ayat di atas dengan tegas menyatakan bahwa yang
berhak mengeluarkan hukum hanyalah Allah semata,
bukan manusia, juga bukan waktu, tempat, lingkungan,
dan semacamnya. Setiap kaum Muslim pastilah
mengimani bahwa hukum harus berdasarkan dalil-dalil
syara, yakni al-Quran dan al-Sunnah serta yang
bersumber dari keduanya. Sementara itu, al-Quran dan alSunnah adalah wahyu Allah SWT. yang tidak akan
mengalami perubahan, apalagi hanya karena waktu dan

tempat. Jadi, jika hukum Islam dapat berubah-ubah, maka


artinya hukum Allah selalu berubah-ubah?
B. Hukum syara adalah khithab al-Syri (Allah SAT)
yang berkaitan dengan aktivitas hamba yang tidak
mungkin akan berubah-ubah. Apa yang halal, sekarang
pun juga halal, dan apa yang haram, sekarang pun juga
haram. Pasalnya, wahyu telah berhenti, dan syariah telah
sampurna. Allah berfirman:
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk
(mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut
kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini
telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai
Islam itu Jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah: 3)
Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk
menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan
kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS.
Al-Nahl: 89)
Rasulullah SAW. menegaskan:

Yang halal telah jelas, dan yang haram juga telah jelas
(HR. al-Bukhari)
Juga sabda beliau:


Yang halal adalah apa yang dihalakan Allah dalam KitabNya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah
dalam Kitab-Nya. (HR. al-Tirmidzi)
Sabda beliau yang lain:

Aku meninggalkan kalian di atas jalan yang putih lagi
cemerlang. Malamnya bagaikan siangnya. Tak seorang
pun yang berpaling darinya kecuali akan binasa. (HR.
Ahmad)
Dengan demikian, menyatakan perubahan hukum karena
faktor waktu, tempat, dorongan hawa nafsu,
kemaslahatan, bergantinya kekuasaan dan sebagainya
jelas merupakan kebohngan atas Allah SWT. dan
melakukan iftir atas hukum-hukum syara. Renungkan
firman Allah:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang
disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta Ini halal dan ini
haram, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap
Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan
kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung. (QS. AlNahl: 116)
Allah juga menyatakan:

Katakanlah: Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang


diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan
sebagiannya Haram dan (sebagiannya) halal.
Katakanlah: Apakah Allah telah memberikan izin
kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja
terhadap Allah ? (QS. Yunus: 59)
Selain itu, ketetapan hukum syara dan
ketidakmungkinannya untuk berubah dapat difahami dari
sudut pandang bahwa Islam adalah solusi bagi bangsa
manusia, baik pada masa kenabian, atau setelahnya:
Katakanlah: Hai manusia Sesungguhnya aku adalah
utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang
mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan
dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan
Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah
dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan
ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk.(QS. AlAraf: 158)
C. Perlu dikemukakan, perubahan status hukum syara
dalam satu masalah tertentu, sebab berubahnya fakta dan
kondisinya, bukan berati bahwa hukum tersebut telah
berubah kerena perubahan waktu dan tempat
sebagamana dicontohkan di atas. Hal itu karena ada
perbedaan yang amat jelas antara dua masalah ini, bagi
siapa saja yang memiliki pengetahuan tentang fiqih Islam.

Perubahan hukum benda atau perbuatan karena kerena


perubahan realitas dan faktanya, dalam satu masalah
tertentu merupakan perkara yang telah ditegaskan oleh
para fuqaha kita sejak dulu. Inilah yang disebut oleh para
fuqaha dengan istilah manth al-hukmi.
Di atas telah dicontohkan dengan khamer (arak). Contoh
lain: Sebuah tas misalnya, laki-laki maupun wanita boleh
menggunakan tas dengan bentuk apapun. Hal itu
semuanya mubah. Akan tetapi, jika ada satu bentuk tas
tertentu yang telah menjadi cirikhas bagi kaum wanita,
maka tas itu hukumnya haram dipakai oleh seorang lakilaki. Begitu juga sebaliknya. Dalam contoh ini, jelas
bahwa hukum tidak mengalami perubahan sejak dulu.
Sebab, tas dari dulu adalah perkara yang mubah.
Sementara itu, tasyabbuh dengan kaum wanita, dengan
perkara yang khusus bagi kaum wanita, adalah perkara
yang dilarang. Jadi yang berubah adalah realitas tas
tersebut; yang tadinya umum, menjadi khusus bagi kaum
wanita, sehingga karena ada faktor tasyabbuh kaum
laki-laki dilarang memakainya. Jadi hukum tas tidak
berubah, dan hukum tasyabbuh juga tidak berubah.
Dengan demikian, sebuah pertanyaan yang menggelayuti
pikiran kita: Apakah benar maksud Ibn al-Qayyim dalam
kitab di atas adalah sebagaimana yang dimaksud oleh
fatwa di atas? dapat terjawab dengan sendirinya. Jika
demikian, berarti mereka telah mengkambinghitamkan

Ibn al-Qayyim, dan yang lain; seperti al-Syathibi, Ibn


Abidin, al-Qarafi, dan yang lain.
Diskusi dalil kedua:
Imam al-Syafii telah merubah ijtihadnya ketika beliau
pindah dari Hijaz ke Mesir. Ini (menurut asumsi mereka)
tidak lain adalah perubahan madzhab karena perubahan
waktu dan tempat.
Perkara yang mereka nisbatkan kepada Imam al-Syafii di
atas, yakni bahwa beliau merubah fatwa hanya karena
beliau pindah tempat, maka ini telas sebuah tuduhan keji
terhadap beliau. Andaikata beliau masih hidup, pastilah
akan mengingkari tuduhan keji ini. Tidak dapat dinalar
jika Imam al-Syafii berani merubah hukum-hukum Allah
SWT. hanya kerena adanya perubahan waktu dan tempat.
Memang benar, pendapat al-Syafii tatkala beliau hijrah
ke Mesir banyak mengalami refisi. Karenanya kita
mengenal sebuah istilah Qawl Qadim dan Qawl Jadid.
Hal ini bukan hanya terjadi pada Imam al-Syafii. Hampir
semua imam pernah merefisi pendapatnya. Akan tetapi,
yang harus ditekankan adalah bahwa, para ulama itu,
termasuk al-Syafii tidak merefisi pendapatnya hanya
kerena mereka pindah tempat! Namun semua itu karena
konsekuensi pemhaman terhadap dalil yang berubah, atau
informasi tentang dalil yang bertambah atau berubah.

Sebagai gambaran, al-Syafii ketika hijrah ke Mesir,


beliau bertemu dengan para ulama, dan muhadditsin,
yang meriwayatkan beberapa hadits kepada beliau, yang
sebelumnya belum pernah beliau dengar. Dengan haditshadits yang beliau dapatkan ini lah, kemudian beliau
kembali meninjau pendapat lamanya. Apa yang
sebelumnya dinyatakan sahih kini sebagiannya beliau
nyatakan lemah. Demikian sebaliknya. Hal ini jelas
bahwa ijtihad beliau mengalami perubahan semata kerena
mengikuti dalil, bukan sebagaimana tuduhan keji di atas.
Siapa saja yang mentelaah ushul al-Syafii, pastilah akan
menemukan hakekat ini. Perhatikan ungkapan beliau
berikut ini:


Tak seorang pun berhak mengatakan bahwa perkara ini
adalah halal atau haram kecuali dari arah ilmu. Adapun
arah ilmu adalah apa yang ditegaskan dalam al-Kitab, alSunnah, Ijma, atau Qiyas.
Andai saja Imam al-Syafii berkata demikian pun, kita
tidak boleh menjadikannya sebagai dalil. Sebab,
perkataan beliau sebagaimana juga ulama yang lain
bukanlah dalil syara. Lalu bagaimana dengan ulama
yang pikirannya ke-Barat-baratan, yang mencetuskan
fatwa-fatwa nyeleneh dan bidah ini?

Diskusi dalil ketiga:


Berubahnya (menurut persangkaan batil mereka) hukum
kelompok al-Muallafah Qulubuhum. Pada masa Nabi
SAW. mereka mendapatkan bagian. Sementara itu, pada
masa Abu Bakar, Umar justru tidak memberi mereka.
Ini juga merupakan sebuah kesalahan. Pasalnya, Nabi
SAW. memberi mereka dengan tujuan agar mereka tetap
pada agama mereka. Peristiwa ini terjadi ketika kondisi
kaum Muslim masih lemah. Hal ini terus berlanjut sampai
akhirnya dilarang oleh Umar. Alasan Umar, karena
mereka diberi semata karena ada illat yang menyebabkan
mereka harus diberi, yaitu lemahnya kondisi kaum
Muslim. Sementara itu, pada masa Abu Bakar, illt itu
telah hilang. Oleh sebab itulah, Umar menyatakan:
e

Hal itu merupakan perkara yang diberikan Rasulullah
kepada kalian karena melunakkan kalian. Adapun hari ini,
Allah telah memuliakan agama-Nya, jika kalian mau tetap
dalam Islam kalian, dan jika tidak, maka antara kami dan
kalian adalah pedang.
Dengan demikian, Umar semata mengikuti hukum syara
yang mengandung illat. Karena illatnya telah hilang,
maka dengan sendirinya, hukum itu pun hilang. Kaidah
ushul menyatakan:


Hukum (yang berillat) akan selalu berputar
bersamaillatnya; ada dan tidak adanya
Diskusi dalil keempat:
Dibaginya ghanimah pada masa Nabi SAW., dan tidak
dibaginya ghanimah oleh para sahabat setelah beberapa
waktu.
Realitas ini, yakni bahwa pada Nabi SAW. ghanimah
dibagikan kepada pasukan, sebagaimana dalam
peperangan Khaibar, namun pada masa Umar, ghanimah
tidak membagikan lagi, mereka berasumsi bahwa hukum
telah berubah karena perubahan waktu dan tempat. Ini
jelas merupakan perkara yang batil. Betapa tidak?
Bagaimana furu malah berubah menjadi dalil bagi ushul?
Ini saja sbenarnya telah cukup untuk meruntuhkan
argumentasi duagaan mereka. Akan tetapi, ada baiknya
jika kami kemukakan beberapa hal berikut:
Pada dasranya, Umar melakukan hal itu bukan kerena
keinginan hawa nafsunya sendiri, atau semata-mata waktu
telah bergeser. Akan tetapi, ini berdasarkan ijitiha beliau
yang sesuai dengan pemahaman beliau terhadap nash alQuran dan Sunnah Filiyyah Rasulullah SAW. Hal ini
terekam dalam ungkapan beliau:

e

Seandainya aku tidak mempertimbangkan generasi kaum
Muslim yang akan datang, tak satupun desa yang aku
taklukkan kecuali akan aku bagi-bagikan kepada orangorang yang berhak, sebagaimana Nabi SAW. membagibagikan tanah Khaibar.
Beliau berhujjah dengan firman Allah:
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin
dan Anshor), (QS. Al-Hasyr: 10)
Abu Ubaid menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan
antara perkataan Umar dengan apa yang telah diputuskan
Rasulullah SAW. Beliau menyatakan:
:
: :
e e


.
Dua keputusan ini merupakan perkara yang dapat
dijadikan sebagai qudwah dan panutan, terkait masalah
ghanimah dan fayi . Ibn Ubaid kemudian menyatakan:
Hanya saja, menurut pandangan saya, urusan ini
diserahkan kepada kebijakan imam (khalifah),

sebagaimana dinyatakan oleh Sufyan. Hal itu karena dua


pendapat di atas, dapat masuk di dalamnya. Perbuatan
Nabi bukannya menolak tindakan Umar. Akan tetapi,
Rasulullah SAW. mengiktui satu ayat dari kitab Allah dan
mengamalkannya. Sementara itu, Umar mengikuti ayat
yang lain dan mengamalkannya. Kedua ayat ini
merupakan ayat yang muhkam dalam masalah ghanimah
atau fayi.
Keempat: dalam TRS dinyatakan:

Aku diutus dengan (agama) yang lurus dan moderat
(HR Ahmad dari Abu Umamah)
Dari mana ada kata al-samahah, diterjemahkan dengan
kata: moderat? Ada makusd apa dengan kata moderat?
Bukankah kata moderat dalam bahasa politik kekinian
memiliki konotasi yang khusus, yakni pemahaman yang
pro Barat? Sebuah kata keji yang diciptakan Barat Kafir
untuk memecah belah kaum Muslim! Jika hal ini
disengaja, maka ini sebuah kesalahan mendasar.
Para ulama telah menjelaskan apa maksud kata alsamahah di dalam hadits tersebut. dalam Faydh al-Qadir
dinyatakan:
( )
:



Aku diutus dengan membawa agama yang hanfiyah dan
samahah. Maksudnya: Syariah yang condong (jauh) dari
seluruh agama yang batil. Ibn al-Qayyim menyatakan:
Mengumpulkan dua sifat, hanfiyah dan samahah.
Artinya, sebagai agama yang hanfiyah dalam tawhid, dan
samahah dalam beramal. Lawan dari dua kata tersebut
adalah: Syirik dan mengharamkan yang halal. Keduanya
saling berdekatan. Keduanya itulah perkara yang Allah
mecela kaum Musyrik dalam al-Quran surat al-Anam
dan al-Araf.
Wacana Kedua:
Masalah Pengangkatan Non Muslim
Pada poin ini, TRS diawali dengan beberapa dalil alQuran serta pernyataan para ulama yang menharamkan
mengangkat seorang Kafir sebagai wali. Setelah itu,
kemudian disimpulkan, bahwa, yang haram adalah
mengangkat mereka dalam wilayah ammah, shibghah
diniyah, dan jabatan stratrgis. Dalam TRS dinyatakan:
Perlu diperhatikan bahwa pengharaman di atas berkutat
pada kepemimpinan atau penguasaan yang mutlak,
bahkan dalam bahasa Qadhi Iyadh adalah imamah
(kekhalifahan). Jika kita hubungkan dengan realita
kontemporer saat ini, maka pengharaman di atas terjadi

pada wilayah-wilayah tertentu seperti Presiden, Panglima


Perang, Hakim, serta Kementrian yang mengurusi
masalah strategis keagamaan. Ini artinya, banyak wilayah
kepemimpinan selain yang disebutkan di atas tidak bisa
diberlakukan hukum ijmak di atas. Hal ini meliputi posisi
menteri secara umum, gubernur, kepala daerah dan yang
semacamnya. Karena secara struktur, tugas dan
wewenang berbeda dengan jabatan-jabatan yang
diharamkan dalam wilayah ijmak di atas. Seorang kepala
daerah misalnya, ia tidak memiliki wewenang strategis
dalam masalah militer, kehakiman. Begitu pula ia terikat
dengan struktur birokrasi di atasnya yang kuat mengatur
dan mengikat, belum lagi dengan sistem dan aturan
perundangan yang ada. Sehingga, secara umum terbuka
peluang untuk non muslim menjabat posisi selain yang
disebutkan di atas. Hal ini akan dibahas lebih jauh dalam
bahasan berikutnya.
Tanggapan:
Hal-hal yang perlu ditanggapi dalam wacana ini, antara
lain tertuang dalam poin-poin berikut:
Point Pertama: Salah dalam Mengutip dan Memahami
Dalam teks TRS dinyatakan:
:

Padahal, teks aslinya, dalam kitab Ahkam Ahl alDzimmah adalah sebagai berikut:
: .. :
:
. : :
(
)
. :
:
. )( :


.
. .
Perhatikan, dalam Ahkam Ahl al-Dzimmah, tidak
). Akan tetapi: ( dinyatakan:
:
:

Ini bukan kesalahan, namun ngawur dalam mengutip.
Selain itu, secara jelas kita melihat bahwa pernyataan Ibn
Mundzir di atas, konteksnya adalah wali nikah dan tidak
ada sangkut pautnya dengan topik pengangkatan wali
kota?! Ini jelas sebuah kesalahan.
Poin Kedua: Tidak dapat Memahami Realitas Jabatan.

Pada faktanya, sebuah jabatan, terbagi menjadi beberapa


macam. Ada satu bentuk jabatan yang dikategorikan
sebagai ulil amri, atau dalam bahasa Arab al-Hukm
(jabatan pemerintahan). Yakni sebuah jabatan yang
dengannya sesorang memiliki wewenang untuk mengatur,
mengontrol, dan mengurus masyarakat. Ini lah realitas
jabatan pemerintahan/penguasa. Hal ini berbeda dengan
jabatan pegawai.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa jabatan bupati dan wali
kota dalam hukum Indonesia dianggap sebagai jabatan
hukum, dan bukan pegawai. Dalam Wikipedia berbahasa
Indonesia dinyatakan:
Di Indonesia, wali kota adalah Kepala Daerah untuk
daerah Kota. Seorang Wali Kota sejajar dengan Bupati,
yakni Kepala Daerah untuk daerah Kabupaten. Pada
dasarnya, Wali Kota memiliki tugas dan wewenang
memimpin penyelenggaraan daerah berdasarkan
kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD Kota. Wali
kota dipilih dalam satu paket pasangan dengan Wakil Wali
Kota melalui Pilkada. Wali kota merupakan jabatan
politis, dan bukan Pegawai Negeri Sipil.
Hal ini benar. Sebab, pada realitasnya, bupati dan wali
kota dipilih oleh rakyat untuk mengurus urusan mereka.
Apa lagi dengan adanya kebijakan hukum baru, yakni
otonomi daerah, maka semakin nyata bahwa jabatan

bupati atau wali kota adalah jabatan pemerintahan (alhukm), atau ulil amri.
Dengan melihat relaitas ini, serta beberapa wewenang
Wali Kota sekali lagi dapat dinyatakan bahwa jabatan
di atas merupakan jabatan pemeritahan (al-hukm), bukan
pegawai. Dengan demikian, apa yang berlaku bagi jabatan
hukum yang lain, (dalam konteks Negara Demokrasi
Sekuler) seperti Gubernur, Presiden, dan lain-lain, juga
berlaku bagi Wali Kota. Dengan demikian, jelaslah bahwa
Wali Kota (sendainya dalam negara Islam) termasuk
adalah Ulil Amr yang wajib ditaati. Oleh sebab itu, dia
wajib memenuhi syarat sebagai Ulil Amri, di mana salah
satunya adalah Muslim. Artinya, mendukung calon yang
kafir adalah haram. Hal yang sama berlaku bagi wakil
Wali Kota.
Allah SWT. berfirman:
Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada
orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang
beriman.(QS. Al-Nisa: 141)
Bukankah jabatan pemerintahan merupakan jalan yang
paling kuat untuk menguasai dan mengatur yang
dipimpin??
Allah juga menegaskan:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan


taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. (QS.
Al-Nisa: 59)
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang
keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu
menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya
kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah
orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan
dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri)
(QS. Al-Nisa: 83)
Tak satu pun kata Ulil amri, dijumpai dalam al-Quran
melainkan disertai dengan penjelasan bahwa mereka
adalah bagian dari kaum Muslim. Ini menunjukkan bahwa
ulil amri haruslah dari kaum Muslim.
Dengan demikian, menyatakan bahwa jabatan wali kota
tidak disyaratkan harus dijabat oleh seorang Muslim,
adalah merupakan sebuah kesalahan. Atas dasar apa TRS
mentakwil ayat-ayat yang menyatakan dengan jelas
larangan menjadikan sebagai wali, penguasa yang
mengurus mereka, dari kalangan Non Muslim adalah
terlarang. Ayat yang mereka kutip justru dengan jelas
menyatakan larangan ini:

Wahai orang-orang beriman, janganlah engkau


menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai
wali-wali, sesungguhnya sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian yang lain. (QS. Al Maidah
51)

Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada


orang-orang kafir untuk merugikan orang-orang yang
beriman (QS. An-Nisa: 141)
Bukankah dengan jabatan wali kota seorang dapat
mengusai dan mengatur urusan masyarakat? Jabatan
strategis model apa yang mereka maksud sehingga wali
kota bukan jabatan strategis? Jabatan mutlak seperti apa
yang mereka maksud? Bukankah semua jabatan yang ada
di duania ini sampai jabatan sebagai khalifah pun tetap
masih terikat dengan hukum dan perundang-undangan?
Jika dalam Islam adalah syariah Islam. Bukankah selama
ini mereka jika mereka ditanya; apakah wali kota
termasuk ulil amri yang wajib ditaati, mereka selalu
menjawab: Ya, pasti. Begitulah jawaban mereka. Lalu
apakah mereka akan mengatakan bahwa taat kepada ulil
amri yang kafir juga hukumnya wajib? Mestinya dengan
logika yang sama mereka juga menjawab: Ya. Naudzu
billah.
Wacana Ketiga:

PENGANGKATAN DALAM POSISI KEPEMIMPINAN


STRATEGIS LAINNYA
Untuk menaggapi hal-hal yang perlu ditanggapi dalam
wacana yang ketiga ini, akan kami bagi menjadi beberapa
bagian, sesuai dengan kandungan atau konten wacana.
A. Di dalam TRS dinyatakan:
Yang dimaksud dengan wadhzoif qiyadiah disini adalah
kepemimpinan strategis lainnya, di luar kepemimpinan
yang disebutkan dalam tingkatan pertama. Seperti
jabatan : menteri secara umum, gubernur, kepala daerah
dan kepala instansi tertentu misalnya.
Juga dinyatakan:
Diantara ulama yang membolehkan pengangkatan non
muslim dalam tingkatan ini adalah Imam Al-Mawardi,
sementara yang mengharamkan diantaranya adalah Imam
Haromain Al-Juwaeni. Untuk menguatkan fatwa, dikutip
sebuah teks dari buku, Fiqh Sholahiyah Lil Imamah:



Terjadi perbedaan yang tajam dalam kepemimpinan ahlu
dzimmah untuk posisi wizarotu tanfidz (kementrian
pelaksana), dan juga jabatan kepemimpinan yang setara

lainnya ( wadzhoif wiyadiyah) dalam sebuah daulah


islamiyah. Sementara untuk kepemimpinan yang tertinggi
(imamatul udzma) dan kepemimpinan yang mempunyai
nilai strategis keagamaan, maka tidak ada khilaf di antara
mereka tentang ketidakbolehannya di jabat oleh non
muslim
Tanggapan:
Menyamakan Dua Perakara yang Berbeda
Perlu ditegskan bahwa, jabatan dalam negara pada
faktanya sebagaimana telah dikemukakan di atas
terbagi menjadi dua bagian, jabatan sebagai al-Hakim
(penguasa, pejabat al- hukm/pemerintahan) dan hanya
sebagai al-Muwazhzhof (pegawai). Dalam hazanah fiqih
Islam, ada sebuah jabatan yang bernama Muwin atau
Wazr . Akan tetapi, makna kata wazir, yang biasa
diterjemahkan: mentri, tidak sama dengan makna wazir
atau mentri dalam sistem Demokrasi. Ini yang perlu
dicamkan baik-baik. Sebab, wazir, dalam Islam, tidak lain
hanyalah pembantu Khalifah. Hal ini berbeda dengan
wazir atau mentri dalam sistem Demokrasi. Lebih lanjut,
Muawin terbagi menjadi dua; Muwin Tafwdh dan
Muwin Tanfzd .
Muwin Tafwdh adalah para wazir (dengan makna
Islam, bukan demokrasi) yang dipilih oleh Khalifah untuk
membantu menjalankan tugas dan tanggung jawab

Khalifah. Karena aktivitas jabatan ini persis seperti


aktivitas jabatan Khalifah, maka syarat-syarat yang ada
dalam Khalifah juga harus terpenuhi dalam jabatan diri
para Muwin Tafwdh. Diantaranya adalah Muslim. AlMawaradi mengatakan:





Adapun Muwin Tanfzd, adalah orang-orang yang pilih
oleh khalifah untuk membantu dalam perealisasian dan
pelaksanaan di lapangan. Dia hanya sebatas pembantu
dalam melaksanakan berbagai urusan, bukan wali (pejabat
hukum). Jadi dia sebagai pegawai, aktivitasnya tergolong
bersifat administratif, bukan hukum (pengaturan rakyat).
Dari penjelasan di atas, kita dapat melihat adanya
perbedaan antara Muwin Tanfzd dengan Muwin
Tafwdh. Oleh sebab itu, menurut al-Mawardi, Muwin
Tanfzd tidak disyaratkan harus Muslim. Meski menurut
pendapat yang kuat tetap harus Muslim, karena
aktifitasnya yang berhubungan langsung dengan Khalifah,
hampir seperti Muwin Tafwdh. Jadi dia termasuk
bithnah Khalifah. Karenanya disyaratkan harus Muslim,
bersarkan firman Allah:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil
menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar
kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya

(menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai


apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari
mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati
mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami
terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu
memahaminya. (QS. Ali Imran: 118)
Hanya saja yang harus diingat, Muwin Tanfzd, dalam
sistem Islam tidak seperti Mentri, Guberbur, dan Wali
Kota dalam sistem Demokrasi. Karena itu, adalah sebuah
kebohongan besar, jika kita menyatakan bahwa alMawardi membolehkan Mentri atau Wali Kota Non
Muslim. Sebab, fakta yang dihukumi oleh al-Mawardi
jelas berbeda dengan Wali Kota. Jabatan-jabatan yang ada
dalam Islam tidaklah sama dengan jabatan dalam sitem
sekuler! Wali Kota adalah pejabat pemerintah (al-hkim),
jabatannya adalah jabatan al-hukm. Berbeda dengan
Muwin Tanfzd. Ini yang harus diperhatikan. Jika kita
menyamakan Wali Kota dengan Muwin Tanfzd, maka
kita telah menempuh al-Qiy maa al-Friq , dan ini jelas
batil. Jika demikian, di mana letak khilaf para ulama jika
realitas kekinian tidak sama dengan realitas pada saat para
ulama itu mencetuskan pandangannya? Salah besar TRS
ketika menyatakan: Pada bahasan ini, terdapat perbedaan
yang cukup tajam di antara Ulama.
Dalam TRS dinyatakan:
Pendapat dan Dalil yang Membolehkan

Pertama : Sayyid Tantowi dalam Tafsir Al-Wasith.


Dalam TRS dikutip dari tafsir Al-Wasith sebagai berikut:


Artinya : Muwalaah (dukungan dan pengangkatan atas
non muslim) yang dilarang adalah : yang di dalamnya ada
unsur tipuan dan penistaan agama, atau mengganggu dan
merugikan kaum muslimin, dan mengapus kemaslahatan
)mereka (Tafsir Al-Wasith
Tanggapan:
Tidak Amanah dalam Mengutip
Perhatikan pernyataan Sayyid Tantowi secara lengkap
berikut ini:
: } {


.
. :


.
Ada dua hal yang dapat kita ambil dari teks secara
lengkap di atas: Pertama, tidak ada penegasan dari Sayyid

Tantowi bahwa beliau berpendapat sebagaimana yang


dinyatakan dalam TRS. Sayyid Tantowi, hanya mengutip
pendapat orang lain yang tidak diketahui siapa orangnya.
Karena itu Sayyid Tantowi mengatakan: ))yang
artinya: Mereka berkata..
Kedua, pernyataan di atas, konteksnya lebih mengarah
pada hubungan person, bukan dalam wilayah politik,
meski sebenarnya ayat tetap dapat dibawa ke sana. Akan
tetapi, yang menjadi pembicaraan kita adalah teks yang
dikutip dalam fatwa, yang kemudian diasumsikan bahwa
Sayyid Tantowi berpendapat demikian. Yang jelas,
terlepas apakah memang benar Sayyid Tantowi
berpenapat demikian atau tidak, membutkikan bahwa
pihak TRS ini terkesan memaksakan kehendak. Faktanya
memang demikian.
Kedua : Kebohongan Atas Nama Imam Fakhruddin
Arrozi.
Dalam TRS dinyatakan:
Dalam Tafsir Mafatihul Ghoib, ketika menafsirkan ayat
di atas mengungkapkan bahwa : Yang dilarang adalah
menjadikan Non Muslim pemimpin mutlak (sendiri) tanpa
ada orang beriman di sana. Beliau menyatakan :


Mengapa tidak boleh jika yang dimaksudkan (pelarangan)


dalam ayat adalah menjadikan orang-orang kafir sebagai
pemimpin, artinya : mengangkat mereka tanpa
mengangkat orang mungkin. Jika mengangkat non
muslim dan pada saat yang sama juga mengangkat orang
mukmin bersamanta, maka hal tersebut tidaklah dilarang.
Ungkapan di atas menunjukkan, sekiranya seorang
muslim mengangkat non muslim untuk jabatan tertentu
tetapi mereka juga mengangkat orang muslim
bersamanya, maka hal itu tidak termasuk yang dilarang
dalam ayat.
Tanggapan:
Dua kesalahan fatal:
Pertama: Kesalahan dalam Mengutip
Setelah kami periksa dalam kitab Mafatihul Ghoib,
ternyata teks tidak berhenti sebagaimana tertulis dalam
TRS, sehingga terkesan bahwa al-Razi berpendapat
seperti mereka. Dengan cara mengutip seperti ini, TRS,
sengaja atau tidak, telah melakukan dua kesalahan fatal.
Pertama, TRS telah mengkambinghitamkan Imam alRazi. Kedua, TRS telah membuat kebohongan kepada
publik atas nama Imam al-Razi. Mengapa tidak? Majlis
hanya mengutip sebagian teks saja. Padahal jika teks
secara utuh ditulis, tidak akan dapat difahami
sebagaimana diklaim oleh TRS. Bagaimana hukum

berbohong? Semua orang mengetahuinya. Bagaimana


kalau yang bohong adalah katanya Dewan Syariah
Partai Keadilah? Dewan syariah yang seperti apa?
Wallau alam.
Coba Anda perhatikan teks secara lengkap dan
terjemahannya yang benar, tidak sebagaimana terjemahan
kamuflase oleh TRS:
:

}

{
: .

.
Jika ditanyakan:
Mengapa dari ayat di atas tidak boleh pahami bahwa;
yang dilarang adalah menjadikan wali orang-orang kafir,
dalam artian mereka saja, tanpa kaum Muslim. Sehingga
(konsekuensinya) apabila menjadikan wali mereka dan
pada saat yang sama juga menjadikan wali kaum Muslim,
maka tidak tidak dilarang? Lebih dari itu, firman Allah:
, terdapat tambahan maziyyah.

Pasalnya, seorang terkadang mengangkat orang lain
sebagai wali, akan tetapi dia tidak menjadikannya
memiliki rasa muwalah kepadanya. Dengan demikian,

larangan menjadikan wali, tidak serta-merta melarang


memiliki rasa muwalah?
Saya jawab:
Dua kemungkinan (makna ini) meski ada dalam ayat ini,
akan tetapi, seluruh ayat yang menunjukkan larangan
muwalah terhadap kaum kafir, telah meruntuhkan dua
kemungkinan ini.
Perhatikan ungkapan al-Razi, .seluruh ayat yang
menunjukkan larangan muwalah terhadap kaum kafir,
telah meruntuhkan dua kemungkinan ini.
Berapa kali salah dalam mengutip dan menterjemahkan?
Apakah ini bentuk ketidaksengajaan? Rasanya tidak
mungkin? Kecuali memang pihak TRS tidak mampu
membaca teks Arab dengan baik. Akan tetapi, jika tidak
mampu, mengapa mamksakan diri untuk mengutipnya?
Rahim Allah[u] [i]mra[an] arafa qadr[a] nafsih[i]
(semoga Allah merahmati seorang yang menyadari kadar
dirinya). Wallahu alam.
Ketiga: Menjutifikasi dengan pendapat Imam AlMawardy dalam Ahkam Sultoniyah.
Dalam TRS dinyatakan:


.

dan boleh jika kementrian ini (tanfidz) dipegang oleh


ahlu dzimmah (non muslim), meskipun tidak boleh bagi
mereka menduduki kementrian tafwiidh.
Tanggapan:
Al-hamd lillh, pada kali ini, tidak ada kesalahan dalam
pengutipan. Hanya saja yang harus diingat, Muwin
Tanfzd, dalam sistem Islam tidak seperti Mentri,
Guberbur, dan Wali Kota dalam sistem Demokrasi.
Karena itu, adalah sebuah kesalahan jika kita menyatakan
bahwa al-Mawardi membolehkan Mentri atau Wali Kota
Non Muslim. Sebab, fakta yang dihukumi oleh alMawardi jelas berbeda dengan Wali Kota. Wali Kota
adalah pejabat pemerintahan (al-hukm), jabatannya adalah
jabatan al-hukm. Berbeda dengan Muwin Tanfzd. Ini
yang harus diperhatikan. Jika kita menyamakan Wali Kota
dengan Muwin Tanfzd, maka kita telah menempuh alQiys maa al-Friq , dan ini jelas batil!!
Selanjutnya, TRS mengutip pendangan Dr. Yusuf
Qardhawi dan Imam Syahid Hasan Al-Banna. Pada
kesempatan kali ini, kami hanya ingin mengatakan,
bahwa dua ulama ini adalah manusia yang perkataannya
tidak dapat dijadikan dalil, sebagaimana juga ulama yang
lain. Akan tetapi, sebagaimana kita ketahui bersama dan
ini sering menimbulkan polemik Dr. Yusuf Qardhawi,
pendapatnya banyak berseberangan dengan nash-nash
yang sharih. Pantas saja, jika ada sebuah buku yang

mengkritik pandangan beliau dengan judul: al-Naqd alKwi li Yusuf al-Qardhawi. Namun yang lebih, penting,
bahwa pendapat al-Qardhawi bukanlah hukum syara.
Adapun Hasan al-Banna, dalam teks yang dikutip, justru
menyatakan jika dalam keadaan darurat! Meski kami
tetap tidak sepakat dengan kata darurat yang ada?
Darurat yang seperti apa yang membolehkan perkara yang
haram? Para ulama telah menjelaskan hal ini secara
tegas!
Wacana Keempat:
TENTANG KERJA SAMA dan MEMINTA
BANTUAN dengan NON MUSLIM
Dalam TRS dinyatakan:
Lebih mengerucut dalam konteks Pilkada Solo, untuk
memahami hakekat posisi kepala daerah dan wakilnya,
bisa kita lihat dalam cuplikan berita sebagai berikut:
Sambas Para Wakil Kepala Daerah (Wakada)
menggugat mereka tidak mau lagi hanya menjadi ban
serep ketika kepala daerah berhalangan. Gugatan itu
mengemuka pada acara Lokakarya dan Pertemuan
Nasional (LPN) pra wakil kepala daerah se-Indonesia di
Bengkulu yang digelar selama tiga hari, 15-17 Juni 2007,
yang menghasilkan rekomendasi agar pemerintah segera
melakukan amandemen terhadap UU 32/2003 tentang
Pemerintahan Daerah. (HARIAN PELITA)

Begitu pula, jika dicermati lebih jauh sesuai ketentuan


dan peraturan yang berlaku, maka akan kita dapati bahwa
TUGAS dan WEWENANG WAKIL WALIKOTA itu
diatur dalam sebuah PERATURAN WALIKOTA yang
ditandatangani oleh walikota. Ini artinya, dalam bahasa
sederhana sesungguhnya yang terjadi adalah Walikota
sedang bekerja sama dengan WAKIL WALIKOTA atau
meminta bantuan kepada WAKIL WALIKOTA dalam
menjalankan tugasnya.
Sehingga akan sangat berbeda secara efek ideologis dan
syari, mendukung non muslim menjadi pemimpin
(walikota), dengan mendukung WALIKOTA MUSLIM
yang bekerja sama atau meminta bantuan kepada non
muslim.
Dalam bahasan fiqh seputar istianah bil kufar (meminta
bantuan pada orang kafir) jumhur ulama selain Malikiyah
mengatakan KEBOLEHANNYA, sekalipun dalam
kondisi berperang dengan dua syarat: kondisi yang
membutuhkan dan bisa dipercaya.
Tanggapan:
Memang benar meminta bantuan orang kafir dalam
peperangan hukumnya boleh menurut mayoritas ulama?
Jika pihak TRS bertanya kepada kami, kami ada sebuah
buku yang membahas secara komprahensif masalah ini,
yang berjudul al-Jihad wa al-Qital fi al-Siyasah al-

Syariyyah. Akan tetapi, apakah masalah ini (pengankatan


wali, dan wakil wali, kota) bisa disamakan dengan
peperangan, jihad!? Jika pun boleh meminta bantuan
kaum kafir dalam peperangan, siapa yang berhak
melakukan itu? Individu? Atu negara? Jika kita mentelaah
kitab-kitab hadits serta fiqih mutabar, akan kita jumpai
bahwa hal ini adalah hak imam (khalifah). Apakah calon
wali kota adalah seorang khalifah sehingga dapat
disamakan dengan khalifah dalam hal boleh meminta
bantuan kepada kaum Kafir? Ini baru calon? Sudah jadi
saja bukan khalifah, apalagi baru calon. Memang naif!
Sekali lagi, apakah PILKADA adalah perang? Dan calon
wali kota lah yang menjadi kahlifah yang meminpin
perang?
Kami kemukakan kembali teks dalam Wikipedia
berbahasa Indonesia berikut:
Di Indonesia, wali kota adalah Kepala Daerah untuk
daerah Kota. Seorang Wali Kota sejajar dengan Bupati,
yakni Kepala Daerah untuk daerah Kabupaten. Pada
dasarnya, Wali Kota memiliki tugas dan wewenang
memimpin penyelenggaraan daerah berdasarkan
kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD Kota. Wali
kota dipilih dalam satu paket pasangan dengan Wakil Wali
Kota melalui Pilkada. Wali kota merupakan jabatan
politis, dan bukan Pegawai Negeri Sipil.

Perhatikan teks diatas. Apakah seorang wakil wali kota


sebagai pembantu wali kota, layaknya kaum kafir yang
menjadi tentara membantu dalam peperangan? Apakah
wakil wali kota bukan pejabat, akan tetapi pembantu wali
kota, sebagaimana sekretaris? Atau bahkan wakil wali
kota seperti pembantu rumah tangga bagi wli kota?
Bukankah wakil wali kota adalah mitra dekat yang mesti
mengetahui tugas-tugas wali kota? Padahal Allah telah
menyatakan:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil
menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar
kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya
(menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai
apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari
mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati
mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami
terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu
memahaminya. (QS. Ali Imran: 118)
Jika benar dan memang benar maka mendukung calon
wali kota yang berkoalisi dengan calon wakil kota kafir,
sama sekali tidak dapat disamakan dengan mendukung
seorang khalifah yang mempekerjakan seorang kafir
dalam pasukan perang? Ini jelas qiyas ngawur alias
sembrono.
Wacana Kelima:

REALITAS KEKINIAN DUNIA ISLAM.


PENGANGKATAN NON MUSLIM ADALAH
SEBUAH HAL YANG SUDAH TERJADI DENGAN
IJTIHAD-IJTIHAD KONTEMPORER
Demikian dinyatakan dalam TRS dinyatakan.
Tanggapan:
Ya, memang benar, ini ijtihad, akan tetapi ijithad yang
menyesatkan! Apakah ada ijthihad ulama yang
menjadikan fakta dan realitas sebagai sumber hukum,
kalau bukan ijitihad ala hermeneutika (hermeneutics)?
Coba perhatikan betapa naifnya pernyataan berikut ini di
mata Allah dan kaum Muslim:
Ketika kita masih berbicara pengangkatan non muslim
untuk jabatan Walikota dan wakil walikota, sesungguhnya
di luar sana hal ini sudah merupakan realitas kekinian
yang dihadapi dunia Islam bahkan juga harakah Islam.
Bukan hanya dalam konteks pemimpin lokal tetapi dalam
konteks negara Islam dan mayoritas muslim. Dua
diantaranya layak mendapatkan perhatian :
Negara Sudan, yang sejak dua dasawarsa memberlakukan
syariat Islam dalam seluruh perundang-undangannya.
Jelas-jelas memiliki wakil presiden non Muslim berasal
dari minoritas kristen di daerah Selatan.

Negara Suriah, pernah mempunyai seorang PM yang


berasal dari minoritas Kristen, bernama Faris Al-Khuury.
Uniknya -sebagaimana dikatakan Qardhawi- termasuk
PM yang paling sukses, berhasil bekerja saja dengan
mentri-mentri dari kaum muslimin, bahkan sebagian besar
kaum muslimin Suriah puas dengannya. Dan ia dikenal
sebagai PM kristen yang paling yakin dengan syariat
Islam sebagai solusi.
Jika kita pandang dari sudut syariah, ini membuktikan
adanya ijtihad-ijtihad kontemporer dalam masalah ini,
dimana tidak setiap dukungan dan pengangkatan non
muslim selalu dihubungkan dengan pelanggaran syari
dan doktrin ideologi.
Subhnallh, betapa naifnya ucapan ini. Bukankah Islam
memerintahkan kita untuk kembali kepada al-Quran dan
al-Sunnah? Namun mengapa mereka yang katanya partai
Islam malah memrintahkan menjadikan al-Quran danalSunnah agar tunduk terhadap relaitas rusak saat ini?
Subhnallh. Tidakkah mereka mendegar firman Allah:
Katakanlah: Sesungguhnya aku berada di atas hujjah
yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku[479], sedang kamu
mendustakannya. tidak ada padaku apa (azab) yang kamu
minta supaya disegerakan kedatangannya. menetapkan
hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang
sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik.
(QS. Al-Anm: 57)

Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka


putusannya (terserah) kepada Allah. (yang mempunyai
sifat-sifat demikian) Itulah Allah Tuhanku. kepada-Nya
lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.
(QS. Al-Sura: 10)
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.
kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu,
Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan
Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS. Al-Nisa:
59)
Wacana Keenam:
MENDUKUNG YANG BERPOTENSI UNGGUL
ADALAH BENTUK IHSAN DALAM
MEMENANGKAN AGENDA UMAT
Berikut teks fatwa yang semakin aneh:
Salah satu ajaran utama Islam adalah berlaku ihsan /
optimal dalam segala sesuatunya.
Allah berfirman dalam surat Al-Mulk:

Yang menciptakan hidup dan mati untuk mengujimu


yang mana diantara kalian yang paling ihsan
amalnya(QS Al-Mulk 2)
Begitupula Hadits Rasulullah SAW, beliau bersabda :

Sesungguhnya Allah SWT mewajibkan berlaku ihsan
dalam segala sesuatunya (HR Muslim, Tirmidzi)
Dalam perspektif syari, salah satu tujuan musyarokah
(partisipasi politik) adalah amar makruf nahi munkar, atau
sebagaimana disebutkan oleh Imam Hasan Al-Banna ,
yaitu sebagai upaya sebagai islahul hukumah. Tentu saja
ini sejalan dengan hadits Rasul SAW yang menyatakan
agama adalah nasihat, dimana disebutkan salah satunya
adalah nasihat bagi pemimpin kaum muslimin.
Untuk membuka peluang yang efektif dalam amar makruf
nahi munkar dan menasehati pemimpin, atau mencegah
kezaliman yang telah dan akan dilakukan (unsur akhoka
dzholiman au madzluman) maka secara realitas politik itu
dapat dipenuhi jika sejak awal kita mendukung pasangan
yang berpotensi menang. Tanpa adanya dukungan sejak
awal, maka kemungkinan nasehat dan amar makruf tetap
ada, tetapi sangat kecil atau bahkan tertutup. Sehingga
pada titik ini, sesungguhnya melakukan kalkulasi
kekuatan, survei lapangan, dan pada akhirnya mendukung
yang paling berpotensi unggul, adalah bagian dari berbuat

ihsan dalam memenangkan agenda islahul hukumah.


Wallahu alam.
Masalah ini sebenarnya tidak layak untuk ditanggapi. Ini
hanya berfatamorgana. Namun sayang, mestinya, dalam
masalah ini tidak usah membawa ayat al-Quran dan
hadits, sebagaimana anjuran fatwa dalam poin-poin yang
telah dikemukakan dalam wacana sebelumnya. Maha suci
Allah, dari ucapan kamuflase seperti ini. Bukankah tujuan
baik tidak dapat menghalalkan cara? Wallah[u] almustan[u] al m tashifun[a].
Wacana Ketuju
TENTANG KAIDAH MASLAHAT DAN
MADHOROT
Dalam TRS dinyatakan:
Dalam menentukan pilihan politik, senantiasa harus
berlandaskan pertimbangan yang jelas tentang
kemanfaatan untuk umat yang bisa diperoleh karenanya.
Imam Qurthubi dalam penafsiran ayat muwalah, beliau
menyebutkan larangan memilih non muslim bersifat
umum, lalu beliau melanjurkan :
: .

Seandainya di dalamnya ada manfaat yang jelas


terealisasi, maka tidak mengapa dengan itu (mengangkat
non muslim) (Al-jami li ahkamil quran)
Tanggapan Pertama:
Kebohongan Atas Nama Imam al-Qurthubi:
Sekali lagi telah terjadi kesalahan yang amat fatal. TRS
kali ini mencatut nama ulama besar, Imam al-Qurthubi,
seorang mufassir terkemuka, hanya untuk mencari
pembenaran atas kebohongan dan kamuflase yang
dilakukan oleh pihak TRS. Kutipan teks Arab di atas,
sampai hari kiamat pun tidak akan kita temukan dalam
tafsir al-Imam al-Qurthubi, al-Jmi li Ahkm al-Quran.
Imam al-Qurthubi tidak pernah sekali lagi tidak pernah
mengatakan demikian. Kami telah mencoba menulusuri
ayat-ayat yang berkaitan dengan topk ini dalam tefsir
tersebut. Namun faktanya tidak pernah ada. Namun, yang
kami jumpai, kutipan teks di atas merupakan ungkapan
Imam Ibn al-Arabi dalam kitabnya, al-Jmi li Ahkm alQuran. Lantas, kutipan teks di atas apakah hanya salah
menisbatkan kepada pemiliki teks. Ternyata tidak.
Perhatikan urain di bawah ini:
Tanggapan Kedua:
Keliru menterjemah dan Memahami Teks
Sekalipun seandainya TRS benar dalam menisbatkan
kepada refrensi, tetap juga melakukan kesalahan jika cara

pengutipannya seperti ini. Ini jelas kebohongan nyata atas


nama Imam Ibn al-Arabi seadainya pun benar
dinisbatkan kepada beliau. Faktanya tidak! Dengan
demikian, dalam poin ini saja, TRS telah melakukan dua
kesalahan fatal; salah dalam menisbatkan, dan salah
karena mengutip yang sepotong-potong. Perhatikan teks
berikut:
} :
{
.

: } :
{

:
.
} : { . :

.
Ayat yang ketiga adalah firman Allah:
Janganlah kaum Mukmin menjadikan kaum Kafir
sebagai wali, dengan meninggalkan kaum Mukmin.
Barangsiapa melakukan hal itu, maka dia tidak memiliki
kedudukan apapun di sisi Allah.
Ini bersifat umum bahwa kaum Mukmin tidak boleh
menjadikan kaum Kafir sebagai wali dalam membantu
mengalahkan musuh, dalam amanah, dan dalam teman
dekat. Kata min dnikum maksudnya dari selain kalian.
). Umar ( Sebagaimana firman Allah:

Ibn al-Khththab melarang Abu Musa al-Asyari dari


seorang Kafir Dzimmi yang dia jadikan sekretaris di
Yaman, dan memerintahkannya agar dipecat. Sebagian
ulama menyatakan: Seorang Musyrik dibolehkan ikut
dalam barisan tentara Islam melakukan peperangan
melawan musuh Islam. Ulama kita dari kalangan
Malikiah berbeda pendapat dalam masalah ini. Pendapat
yang shahih menurut mereka tidak boleh karena sabda
Rasulullah SAW.:( ) /Aku tidak meminta
bantuan kaum Musyrik.
Berhenti di sini Imam Ibn alArabi memberi komentar
tentang masalah kaum Kafir yang ikut perang, bukan
menjadikan wali! Ibn al-Arabi menyatakan:
. :
Saya tegaskan: Jika di dalamnya ada manfaat yang pasti,
maka hal ini tidak mengapa.
Perhatikan: Apa hubungan frasa: Saya tegaskan: Jika di
dalamnya ada manfaat yang pasti, maka hal ini tidak
mengapa, dengan topik pembicaraan kita ini? bukankah
ini topik peperangan dengan memperbatukan kaum Kafir
sebagai tentara, dan bukan lagi topk menjadikan wali
(mengangkat pemimpin)? Ini memang boleh menurut
matoritas ulama, dan tidak boleh menurut Malikiyah,
terkecuali Ibn al-Arabi yang menyatakan boleh dengan
catatan ada manfaat yang jelas!
Saya kira cukup sampai di sini saja tanggapan kami. Jika
masalah yang terkahir yang terkait dengan masalah

mashlahat kami paparkan dan kami tanggapi, akan terlalu


panjang dan menghabiskan waktu dalam perkara yang
sebenarnya tidak berguna. Sebab, apa yang ikatakan
sebabai maslahat dalam TRS, hanyalah tidak pernah ada.
Itulah selama ini yang tejadi. Dengan demikian, masalah
terkahir ini lebih rendah untuk ditanggapi. Wallah alam.
Utsman Zahid As-Sidany
sumber: facebook/komunitas rindu syariah dan khilafah
Assalamu Alaikmum War.Wab.
Terimakasih atas respon anda terhadap
posting saya, mengenai Halal Memilih
Pemimpin (wakil) dari non Muslim.
Sebenarnya telah banyak sekali respon
terhadap tulisan saya itu yang senada dengan
tanggapan anda. Dan yang paling panjang
dan saya rasa paling lengkap tanggapannya
ialah saudara AKUKA, dan telah saya jawab.
Ringkasan jawaban saya ialah bahwa ayatayat yang melarang kerjasama dengan nn
Muslim, hanya diterapkan ketika terjadi
perang antara Muslim dan non Muslim. Dalam
keadaan damai, seperti yang dilakukan
Rasulullah SAW, ketika Rasulullah memimpin

Negara Madinah, beliau mengajak kaum


Yahudi bekerjasama untuk menyusun Piagam
Madinah, yaitu UUD negara Madinah. Untuk
jelasnya saya akan kutipkan kembali jawaban
saya terhadap saudara AKUKA itu, agar anda
dapat mengetahui secara lengkap seperti apa
tanggapan yang sudah ada sebelumnya dan
bagaimana jawaban saya. Silakan baca
berikut ini:

Assalamu Alaikum w.w.,


Terima kasih Saudara AKUKA telah merespon
pendapat saya, dan member tanggapan
berikut:
I. Ayat bagian pertama berbicara mengenai
hukum menjadikan orang kafir sbg pemimpin.
Bagian kedua mengenai berbuat baik kepada
orang kafir. Dua hal yang berbeda.

JAWABAN SAYA: Zaman Nabi dan shahabat,


mungkin dua hal itu sangat berbeda, tapi
sekarang tidak terlalu berbeda lagi. Mengapa?

Arti PEMIMPIN di zaman sekarang tdk


sama/tidakidentik lagi dgn PEMIMPIN di
zaman Nabi dan shahabat. Pemimpin di
zaman Nabi dan shahabat sangat istimewa
karena berkuasa absolute, berkuasa mutlak,
semua kakuasaan tergantung pada seseorang
saja, tidak ada kekuasaan selain dari dirinya.
Pemimpin zaman sekarang tdak lagi istimewa,
kekuasaannya tdak absolut, karena
kepemimpinan sekarang tdk tergantung pd
seseorang, tetapi bersifat kolektif
kelembagaan, terbagi kedalam tiga
kekuasaan (Eksekutif /pemerintahan,
Legislatif/ Pembuat Undang2,dan Yudikatif/
Kehakiman). Pemimpin sekrang tdak istimewa
lagi, turun nilainya seperti soal muamalah
biasa. Karena itu larangan memilih non
Muslim sebatas Eksekutif, ataukan Legislator
(DPR ataukah Hakim (MA) secara personal
berubah hukumnya menjadi tdak haram.
Nanti menjadi haram jika semua (tiga)
kekuasaan itu secara kelembagaan dipegang
oleh semua orang Non Muslim. Ini sesuai
kaedah Ushul Fikih:

(Hukum berubah-ubah / beredar sesuai


illatnya, ada atau tidak). Illatnya ialah
kekuasaan absolut. Karena kekuasaan
abslutnya tdak lagi ada secara personal,
maka hukmnya pun dak berlalku lagi secara
personal.

AKUKA: II. Asbabun Nuzulnya juga bukan


karena Romawi?.

JAWABAN SAYA: Asbab Nuzul itu secara garis


besarnya ada dua macam, yakni sebab juziy
(khusus) menurut riwayat tertentu, seperti
riwayuat-riwayat yang sdr AKUKA kemukakan.
Selain itu ada sebab-sebab universal, bersifat
umum, dan berlaku secara umum dalam
sejarah, yang diketahui secara otomatis
berdasarkan kondisi umum di zaman Nabi
SAW. Dalam kaitannya dengan non Muslim,
kondisi umum waktu itu menunjukkan bahwa
ada non Muslim (bangsa Romawi) yang
menjajah sebahagian negeri Arab, menzalimi

bangsa Arab, tapi ada juga non Muslim seperti


di kerajaan Najasyi yang tdak menzalimi (tdak
menjajah) bgs Arab. Sikap Nabi memang
tegas dan keras terhadap mereka yang
menzalimi(menjajah/ memusuhi) umat Islam.
Adapun riwayat-riwayat tertentu mengenai
suatu ayat (secara juz`iy, khusus, parsial)
berupa peristiwa berkenaan turunnya ayat,
yang sdr AKUKA kemukakan berikut nanti,
saya rasa semua memperkuat alasan saya
tentang berbuat baik dgn non Muslim dalam
kondisi /konteks masyaraat damai, dan
larangan bersahabat dan merangkul mereka
hanya diterapkan pada kondisi perang atau
menghadapi peperangan. Mari kita coba
telaah riwayat-riwayat itu satu persatu:

AKUKA: Ini teksnya dari tafsir al Qurthubi


1. S Ali Imron ayat 28:
Diriwayatkan dari ad Dhohhak dari Ibnu Abbas
bahwa ayat ini turun sebabnya karena
Ubadah bin as Shomit al Anshori, beliau orang

Badr yang bertaqwa. Dia memiliki perjanjian


persahabatan dengan orang2 yahudi. Ketika
Nabi keluar pada hari ahzab, Ubadah berkata:
wahai Nabi Alloh, saya ada 500 pasukan
Yahudi, saya lihat engkau keluar bersama
saya, maka saya bisa minta tolong kepada
mereka untuk melawan musuh. Maka Alloh
menurunkan ayat ini.

JAWABAN SAYA: Riwayat ini sebenarnya


memperkuat argumen saya bahwa berteman
dgn org non Muslim itu hanya dilarang pada
kondsi perang. Riwayat di atas menyebut
larangan Nabi terjadi pada saat beliau
menghadapi perang Ahzab. Hal ini kita terima
semua. Tapi dlm keadaan Damai, Nabi
membangun persahabatan dgn Yahudi dan
agama-agama lain di Madinah bersama-sama
membuat Piagam Madinah sbg UUD Negara
Madinah.

AKUKA: 2. S. Annisa 138-139.

Ayat ini sebagai dalil bahwa orang yang


bertauhid yang berbuat maksiat bukanlah
orang munafiq. Karena dia tidak menjadikan
orang kafir sbg pemimpin. Ayat ini
mengandung larangan menjadikan orang kafir
sbg pemimpin. Juga tidak boleh menjadikan
penolong untuk beramal yang berkaitan
dengan agama. Di dalam hadits shohih dari
Aisyah ra, bahwa ada seorang laki2 musyrik
bertemu Nabi saw dan ikut berperang
bersama Nabi, lalu Nabi bersabda kpd orang
itu: pulanglah, kami tidak mau meminta
tolong kepada orang musyrik.

JAWABAN SAYA: Lagi-lagi riwayat ini


memperkuat argmen saya bahwa
persahabatan dgn non Muslim dilarang dlm
keadaan perang, larangan ini tidak dalam
konteks masyarakat damai.

AKUKA: 3. An Nisa 144.

Artinya janganlah jadikan mereka sbg orang


istimewa dan orang terdekat/kepercayaan.
4.al Maidah ayat 51.
Pertama: Ayat ini menunjukkan atas tidak
boleh menjadikan penolong/pemimpin secara
syariat. Telah terdahulu penjelasannya di S Ali
Imron. Dikata yg dimaksud munafiqin. Artinya
wahai orang2 yg beriman, dengan keadaan
zhohirnya, menjadikan pemimpin orang2
musyrik, menyampaikan rahasia2 orang
muslim. Ada pendapat dari Ikrimah, Ayat ini
turun tersebab Abu Lubabah. Berkata as
Suddi: ayat ini turun pada hari Uhud ketika
para muslimin ketakutan sehingga sebagian
berkeinginan meminta pertolongan kpd
Yahudi dan Nasrani. Ada pendapat lain: ayat
ini turun tersebab Ubadah bin as Shomit dan
Abdullah bin Ubay bin Salul. Maka Ubadah
membebaskan diri menjadikan pemimpin
orang Yahudi tsb. dan Ibnu Ubay berpegang
dengan ayat ini dan berkata: aku takut
tertimpa musibah.

JAWABAN SAYA: Lagi-lagi riwayat ini


memperkuat argumen saya bahwa larangan
itu hanya berlaku pada kondisi peperangan,
tidak dilarang dalam keadaan hidup damai.

AKUKA: Kedua: Alloh menerangkan bahwa


orang (yg menjadikan org kafir sbg pemimpin)
tsb, hukumnya seperti mereka yahudi dan
nasrani. Orang tsb tidak boleh menerima
warisan dari orang muslim dan termasuk
murtad. Dulu yang menjadikan mereka sbg
pemimpin adalah Ibnu Ubay, kemudian
hukum ini BERLAKU HINGGA HARI KIAMAT
didalam tidak boleh menjadikan
pemimpin/penolong.

JAWABAN SAYA: Semua ayat BERLAKU HINGGA


HARI KIAMAT sesuai konteksnya, yakni jika
dalam keadaan berperang dengan non
Muslim, berlakulah ayat tersebt di atas. Tapi
tdk diterapkan dalam konteks kedamaian.
Misalnya ada ayat : Dan Perangilah org

musyrk seluruhnyas tidak mungkin berlaku


setiap hari, bhw setiap Muslim wajib setiap
hari berperang, mencari non Muslim untuk
sengaja mengadakan perang. Ayat seperti itu
hanya diterapkan pada kondisi perang, sesuai
ayat Q.S.Al-Baqarah: 190= Dan perangilah di
jalan Allah orang-orang yang memerangi
kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui
batas, karena sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang melampaui
batas. Melampaui batas yang tidak disenangi
Allah SWT ialah mereka yang tetap memushi
dan memerangi orang-orang yang sudah
berdamai dengan umat Islam.

AKUKA: Ayat bagian kedua selanjutnya


berbicara yang lain, yaitu mengenai berbuat
baik. Ini hal yang berbeda tetapi dicampur
adukkan oleh si Prof. Begini isi tafsir al
Qurthubi:
1. Al Mumtahanah ayat 8.

Pertama: Ayat ini merupakan rukhshoh dari


Alloh didalam bergaul dengan orang2 yg tidak
memusuhi muslimin dan tidak memerang
muslimin. Kata Ibnu Zaid: ayat ini turun pada
permulaan Islam ketika berdamai dan tidak
ada perintah perang, kemudian hukum ayat
ini dinasakh/dihapus. Kata Qotadah: Ayat
yang menasakh: maka perangilah orang2
musyrik dimanapun kamu dapatkan. (at
Taubah ayat 5). Dikatakan hukum ini karena
ada sebab yaitu perdamaian. Maka tatkala
hilang perdamaian dengan sebab pendudukan
Mekkah, hukum ini dicabut tetapi bacaan ayat
tetap ada dibaca spt itu.

JAWABAN SAYA: Saya rasa argumen sdr AKUKA


ini semakin memperkuat pendapat saya,
bahwa dalam keadaan kedamaian, hukum
Islam membolehkan untuk berbuat baik dan
bersahabat dgn non Muslim, sesuai
konteksnya sewaktu-waktu. Kemudian pada
saat perang datang ayat maka perangilah
orang2 musyrik dimanapun kamu dapatkan.

(Q.S. al-Taubah :5), ayat ini diterapkan hanya


pada saat perang. Sdr AKUKA mengatakan
ayat ini menasakh (MENGHAPUS), berarti ada
ayat yang tidak berlaku lagi, padhal
sebelumnya sdr. AKUKA sendiri menegaskan
bhw semua ayat BERLAKU HINGGA KIAMAT.?
bagaimana ini?, pendpt AKUKA ini ambivalent.
Menurut saya tdak ada satupun ayat yang
dihapus hukumnya, hanya saja ada ayat-ayat
yang sewaktu-waktu tdk diterapkan, karena
kodisinya berbeda sehingga diterapkanlah
ayat lain. Pada saat kondisinya kembali
terjadi, maka diterapkan kembali ayat semula
itu. Maka sekarang, kondisi umum Indonesia
adalah masyarakat damai, bukan masyarakat
perang, maka ayat-ayat perdamaian yang
dikatakan sdr AKUKA di nasasakh (dihapus)
itu, menurut saya TIDAK PERNAH DIHAPUS
HUKUMNYA, dan kembali diterapkan hingga
hari kiamat jika kondisinya tetap dalam
kedamaian. Saya terus terang, tidak
mengartikan nasikh-mansukh dalam arti
hapus mengapus ayat, karena pemahaman
seperti ini memberi kesan bahwa Al-Quran itu

tidak sempurna. Bagi saya nasikh-mansukh


hanya berarti bahwa ada ayat yang seaktuwaktu tidak diterapkan karena kondisinya
berbeda, tapi jika kodisinya kembali seperti
semula maka ayat itu diterapkan kembali,
sehingga Al-Quran tetap sempurna, agung,
dan tak ada ayatnya yang sia-sia (dihapus
begitu saja).

AKUKA: Dikatakan: ayat ini dikhususkan


orang2 yang mengadakan perjanjian
persahabatan dengan Nabi dan tidak
melanggarnya.
Kata al Hasan, alKalabi: mereka adalah suku
Khuzaah dan Bani al Harits bin Abdi Manaf.
Juga kata Abu Sholih. Kata Mujahid: ayat ini
dikhususkan pada orang2 yg beriman tapi
tidak mau berhijrah. Ada pendapat lain: yaitu
wanita2 dan anak2 karena mereka tidak boleh
diperangi. Maka Alloh izinkan berbuat baik
kpd mereka. Demikian diceritakan dari
sebagian ahli tafsir. Kata sebagian besar ahli
takwil ayat ini menjadi hukum. Mereka

berhujjah: bahwa Asma binti Abu Bakar


bertanya kpd Nabi saw: Apakah ibunya wanita
musyrik boleh disilaturahimi ketika si wanita
musyrik itu datang?
Nabi jawab: ya. HR Bukhori dan Muslim. Ada
pendapat bahwa ayat ini turun tersebab kisah
ini. Diriwayatkan oleh Amir bin Abdullah bin
az Zubair dari ayahnya: bahwa Abu Bakr as
Shiddiq pernah menceraikan istrinya Qutailah
di masa Jahiliyah (Ibunya Asma bin Abu Bakr).
Suatu saat ia mendatangi para sahabat pada
satu masa perdamaian antara Rosul dan
kaum musyrikin. Ia memberikan hadiah kpd
Asma bin Abu Baker anting2 dan lain2. Asma
enggan menerimanya shg datanglah
Rosululloh saw, dan Asma menceritakan hal
itu shg Alloh turunkan ayat ini.
Kedua: Alloh tidak melarang kamu berbuat
baik kepada orang2 yg tidak memerangi
kamu. Mereka adalah kaum Khuzaah, mereka
berdamai dengan Nabi dengan tidak mau
memerangi Nabi dan tdk mau menolong
siapapun yang memerangi Nabi. Maka Alloh

perintahkan untuk berbuat baik kpd mereka


sampai ajalnya. Kamu berikan sebagian
hartamu atas dasar silaturahmi. Bukan karena
dasar adil. Karena adil itu wajib thd orang yg
memerangi dan juga orang yg tidak
memerangi. Demikian kata Ibnu al Arobi.
Ketiga: Kata al Qodhi abu bakr kitab al
ahkamnya: ada yg berpendapat atas anak
laki2 muslim wajib menafkahi thd bapaknya
yg kafir.Ini perkara yg besar. Karena izin untuk
sesuatu atau tidak ada larangan thd sesuatu
tidak berarti menunjukkan atas wajib.
Pemberian ini bersifat mubah.
2. Al Maidah ayat 82:
Ayat ini turun tersebab raja Najasyi dan
pengikutnya ketika muslimin datang kpd
mereka pada hijrah yg I krn takut thd orang
musyrik dan ancamannya.Kemudian Nabi saw
hijrah ke madinah setelah itu maka orang
musyrik tidak bisa menyusul. Terjadilah
perang antara mereka dan Rosul. Ketika
perang Badr dan terbunuh sebagian besar
orang2 kafir, berkata kafir Qurays:

sesungguhnya pembalasanmu ada di negri


Habasyah. Beri hadiah kpd raja Najasyi, utus
2 orang yg pintar, semoga raja Najasyi
memberikan sesuatu yang kamu dapat
memerangi muslimin. Maka Kafir Qurays
mengutus Amr bin alAsh dan Abdullah bin Abi
Robiah dengan membawa hadiah. Nabi
dengar hal itu. Maka Nabi mengutus Amr bin
Umayyah ad Dhomri dan menulis surat kpd
raja Najasyi. Dan ia menghadap raja Najasyi.
Beliau membaca surat Nabi saw lalu
memanggil Jafar bin Abi Tholib dan Muhajirin.
raja Najasyi mengutus kepada para pendata
dan rahib dan dikumpulkan mereka. Lalu ia
memerintahkan Jafar membacakan al Quran,
dan dibacalah surat Maryam. Raja Najasy dan
pengikutnya yg Nasrani berdiri, air matanya
mengalir. Maka merekalah orang2 yang
disebutkan diayat tsb

JAWABAN SAYA: Semua ayat dan Kisah di atas


sangat mendukung argmen saya bhw umat
Islam tidak diharamkan berbuat kebajikan dan

berbuat adil kpd non Musli dalam situasi /


konteks damai . Di samping itu juga
memnguatkan pendapat saya bahwa kaum
ahlu kitab (Yahudi dan Kristen) tidak
semuanya kafir, mereka ada yang beriman,
percaya pada kebenaran Nabi SAW, tetapi
tdak meninggalkan agama mereka semua. Ini
sesuai dengan Q.S.Al-Ankabut: 47: Dan
demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu
Al Kitab (Al Quran), maka orang-orang yang
telah Kami berikan kepada mereka Al Kitab
(Taurat) mereka beriman kepadanya (Al
Quran ); dan di antara mereka (orang-orang
Mekah) ada yang beriman kepadanya. Dan
tidak adalah yang mengingkari ayat-ayat
Kami selain orang-orang kafir