Anda di halaman 1dari 6

AAS, AES dan AFS

Catherine 0606076210
Atomic Absorption Spectrocopy (AAS)
Metode ini sangatlah tepat untuk analisis zat pada konsentrasi rendah. Teknik ini
mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan metode spektroskopi emisi
konvensional. Pada metode konvensional, emisi tergantung pada sumber eksitasi.
Metode AAS ini berprinsip pada adsorpsi cahaya oleh atom. Atom atom menyerap
cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya.
Keberhasilan analisis ini tergantung pada proses eksitasi tingkat dasar yang disebabkan
proses atomisasinya. Temperatur nyala harus sangat tinggi.
Pada Teknik AAS (Atomic Absorption Spectrometry), sumber radiasi eksernal
memberikan pengaruh kepada uap analit. Jika sumber radiasi eksternal berada pada
panjang gelombang yang mendekati, radiasi tersebut dapat diserap oleh atom atom
analit dan membuat mereka menjadi tereksitasi. Ketika penyerapan radiasi terjadi, atom
akan tereksitasi ke orbital lain dan berada pada keadaan energi tinggi. Setelah beberapa
nanodetik, atom yang tereksitasi mencari tingkat energi yang paling rendah dan kembali
ke atom (ion) dasar. Hal ini disertai dengan pelepasan energi berlebih ke atom lain dalam
medium.
Perpindahan dari suatu keadaan bereksitasi ke keadaan dasar membentuk suatu garis
yang disebut dengan garis emisi dan menunjukkan frekuensi yang tepat bagi absorpsi
atom atom di dalam nyala pada keadaan dasar.
Urutan urutan langkah Spektroskopi Absorpsi Atomik adalah sama dengan urutan
Spektroskopi Emisi Atomik, yaitu:
1. Atomisasi, perubahan sampel menjadi bentuk ion dasar.

2. Penguapan, perubahan sampel yang dapat tersiri dari padatan maupun cairan,
menjadi bentuk gas.
3. Disosiasi, perubahan partikel menjadi bentuk atom
Teknik analisis yang menggunakan AAS dapat dibagi menjadi 2, yaitu teknik analisis
dengan nyala yaitu Flame Atomic Absorption Spectrometry (FAAS) dan teknik analisis
tanpa nyala yaitu Electrothermal Atomic Absorption Spectrometry (ETAAS),
Penganalisis Batang Karbon, Penganlisis Wadah Tantalum.

Absorpsi Atomik dengan Nyala


FAAS (Flame Atomic Absorption Spectrometry) merupakan Absorpsi Atomik dengan
Nyala. FAAS adalah teknik yang sangat sering digunakan untuk mendeteksi logam dan
metaloid dalam sampel. Teknik ini didasari fakta bahwa logam menyerap cahaya pada
panjang gelombang tertentu. Ion logam di dalam larutan diubah menjadi bentuk atom
dengan nyala api. Cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai akan disuplai dan
jumlah cahaya yang terserap dapat diukur dengan menggunakan kurva standar.
Teknik absorpsi atomik dengan nyala membutuhkan sampel dalam bentuk aerosol (spray)
atau liquid yang dicampur dengan gas pembakar seperti asetilen dengan air atau asetilen
dengan okida nitrat yang kemudian dibakar dalam nyala api dengan temperatur 2100
sampai 28000C. Selama pembakaran, atom dari elemen dari sampel yang akan tereduksi
akan menyerap cahaya sesuai dengan panjang gelombang karakteristiknya.
Karakteristik panjang gelombang adalah sifat elemen tertentu dan akurat hingga 0.01
0.1 nm. Untuk menghasilkan elemen spesifik panjang gelombang, cahaya dari lampu
yang mempunyai katoda yang terbuat dari elemen yang diukur melalui nyala api.
Peralatan seperti multifier foton yang berlaku sebagai detektor dapat mendeteksi jumlah
penguranagn intensitas cahaya yang diserap oleh analit, dan jumlah tersebut dapat
dipastikan sebagai jumlah elemen yang ada di dalam sampel.

Absorpsi Atomik Nyala dapat mengukur 60 70 elemen. Analisis secara kuantitatif


didasari oleh kalibrasi standar eksternal. Dalam kondisi standar kesalahan relatif AAS ini
sekitar 1% - 2%, bahkan bisa diminimalisasi hingga kurang dari 1%. Limit deteksi
Absorpsi Atomik lebih baik daripada Emisi Atomik, kecuali pada eksitasi logam alkali.
Absorpsi Atomik tanpa Nyala
Absorpsi Atomik tanpa nyala mempunyai keakuratan yang baik, tetapi pada kasus
tertentu diperlukan teknik lain ketika sampel tidak bisa diatomisasi dengan baik oleh
nyala api. Ada beberapa macam dari Absorpsi jenis ini, antara lain;

Atomisasi Elektrothermal
Beberapa sampel yang diserap ke dlaam nyala api tidak diubah menjaid uap
atomik selama masa transit yang pendek melewati daerah panas, tabung grafit
dapat digunakan. Sampel diletakkan dalam tabung grafit yang dipanaskan secara
listrik untuk dihasilkan uap atomik. Langkah langkahnya adalah pengeringan,
pengabuan, dan atomisasi. Pengeringan terjadi dengan suhu 300 0C samapai
12000C. Terdapat pula gas inert untuk mencegah oksidasi dari grafit.

Penganalisa Batang Karbon


Alat ini dapat digunakan untuk mengkonversi sampel bubuk menjadi uap atomik.
Arus dialirkan ke batang karbon tipis panas yang mengandung sampel dalam
bentuk padatan untuk menguapkannya.

Penganalisa Wadah Tantalum


Teknik pengukuran ini memproduksi uap atomik dari sampel padatan. Wadah
tantalum dipanaskan dengan listrik dengan cara yang sama dengan sistem batang
karbon di dlaam atmosfer yang bersifat inert.

Atomic Emission Spectroscopy (AES)


Spektroskopi Emisi merupakan spektroskopi atom dengan menggunkan sumber eksitasi
selain nyala api seperti busur listrik atau bunga api. Metode ini bersifat spesifik dan
sangat peka.

Cara analisis menggunakan AES yaitu sampel ditempatkan pada lingkungan termal
berenergi tinggi untuk membuat atom tereksitasi, mampu memencarkan energi dalam
bentuk cahaya. Energi ini dapat berasal dari tumbukan (bergantung pada suhu) dan reaksi
kimia. Sumber energi berupa panah elektrik, api atau yang terbaru adalah plasma. Dalam
AES, pengukuran spektra yang dipancarkan atom dalam range panjang gelombang
100nm sampai 900nm.
Spektrum emisi dari suatu unsur diekspos ke sumber energi yang terdiri dari panjang
gelombang emisi, biasa disebut garis garis emisi karena sifat panjang gelombang yang
dipancarkan terdiskrit.
Spektrum emisi ini dapat digunakan sebagai karakter yang khas untuk identifikasi
kualitatif dari unsur. Spektrum emisi juga dapat digunakan untuk menentukan seberapa
banyak sebuah unsur ada pada sampel. Untuk analisis kuantitatif, intensitas panjang
gelombang dari unsur diukur. Intensitas emisi pada panjang gelombang ini menjadi lebih
besar ketika jumlah atom atom dari unsur analit meningkat.
Dalam spektroskopi emisi ada banyak hal yang dapat mengalami kesalahan, seperti :
tetesan sampel yang tidak menguap menjadi gas gas atomik, apalagi sistem optikal
tidak memeriksa keseluruhan pembakaran tetapi hanya melihat radiasi dari area berjarak
tertentu diatas tabung pembakar. Gas pembakar dapat terganggu oleh aliran udara, karena
tekanan rendah yang diakibatkan pembakaran berkecepatan tinggi. Jadi, emisi yang
diamati dipengaruhi oleh laju penguapan, laju disosiasi dll.
AES membutuhkan kondisi yang perlu kontrol ketat. Di bawah kondisi yang tepat, bisa
didapat kesalahan sebesar 2%. Tetapi bila tidak hati hati kesalahan umumnya dapat
mencapai 50% - 100%. Beberapa kesalahan yang mungkin terjadi adalah radiasi dari
unsur lain, penambahan kation, dan interferensi anion.

Atomic Fluorescence Spectroscopy (AFS)


Spektroskopi fluorescence menggunakan energi foton yang lebih tinggi untuk
mengeksitasi sampel, yang kemudian akan memancarkan energi foton yang lebih rendah.
Teknik ini menggunakan pembakar yang berfungsi untuk mengubah sampel ke bentuk
atom atom, dan lampu menyinarkan cahaya pada panjang gelombang tertentu untuk
mengeksitasi atom analit.
Lampu sumber untuk fluorescence atomik diletakkan pada sudut 90 0 dari sumber eksitasi
untuk meminimalkan cahaya yang terpencar dari sumber eksitasi. Lebih menguntungkan
untuk memaksimalkan intensitas lampu karena sensivitas lampu secara langsung
berhubungan dengan jumlah atom atom yang tereksitasi yang pada gilirannya
merupakan fungsi dari intensitas eksitasi radiasi. Atom atom tersebut kemudian
menyinarkan cahaya pada arah yang berbeda. Intensitas dari cahaya fluorescence ini
kemudian digunakan untuk mengetahui kuantitas unsur analit dalam sampel. Metode ini
jarang digunakan dibanding AAS dan AES.
Intensitas Fluoresensi dipengaruhi oleh pelarut dan zat terlarut lain, pH, suhu, kadar zat
serta intensitas cahaya datang. Perbandingan antara jumlah foton yang dipancarkan
dengan yang di serap disebut effisiensi quantum fluoresensi.
Sifat yang sangat mengagumkan dari analisis fluorescence adalah sensivitasnya yang
tinggi jika dibandingkan dengan teknik analisis lain seperti AAS dan AES. Kekuatan dari
Emisi Fluorescence, Pem, tidak bergantung pada kekuatan yang terjadi P o . Sehingga emisi
dapat ditingkatkan dengan meningkatkan Po. Dalam Spektrofotometri, peningkatan Po
juga meningkatkan P, sehingga absorbansi, log (Po/P) bersifat konstan. Sebagai
perbandingan kasar fluorescence seribu kali lebih sensitif dari spektrofotometri,
walaupun nilai sesungguhnya bergantung pada komponen apa yang terlibat dan
instrumen yang tersedia.

Daftar Pustaka
Day, Underwood. 1991. Quantitative Analysis. New Jersey : Prentice Hall.
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Penerbit UI
(UI-Press)
Ma, Gui Hua and W Gonzales, Flame Atomic Adsorption Spectrometry
http://ewr.cee.vt.edu/environmental/teach/smprimer/aa/aa.html.
Payling, S & Dixon, A. 1997. Glow Discharge Optical Emission Spectrometry. New
York : John Wiley & Sons.
Rehm, Bodin, Connors, and Higuchi. 1959.Analytical Chemistry. Anonym.
Skoog, Douglass A. 1988. Fundamentals of Analytical Chemistry. 5th ed. New York :
Saunders College Publishing.
Vogel for Analytical Chemistry.