Anda di halaman 1dari 18

BAB I

LATAR BELAKANG
Kelompok sosial adalah kumpulan manusia yang memiliki kesadaran bersama akan
keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat.
Kelompok juga dapat memengaruhi perilaku para anggotanya.1 Manusia sebagai suatu
makhluk mau tidak mau harus berhubungan dengan manusia lain.2 Misalnya seorang bayi
yang begitu lahir yang secara otomatis memerlukan sang ibu untuk mengurusnya atau
seorang dokter atau perawat yang membantu dalam proses kelahirannya.
Seperti yang dikatakan oleh Aristoteles bahwa manusia adalah zoon politicon yang
berarti manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya. Ini berarti manusia adalah makhluk
yang harus bermasyarakat atau dalam bahasa lain dapat pula disebut Social Animal. Menurut
Grotius manusia bermasyarakat atau berkelompok karena didalam diri manusia tersebut
adanya naluri yang mendorong manusia untuk berhubungan dengan manusia lainnya
(Apetitus Sociatis). Sedangkan Menurut Soejono Soekanto, yang penting dalam hubungan
antara manusia dengan manusia lainnya adalah reaksi yang timbul sebagai akibat dari
hubungan antar manusia itu.
Semenjak dilahirkan manusia sudah mempunyai 2 (dua) hasrat atau keinginan, yaitu
keinginan untuk menjadi satu dengan manusa lain yang berbeda di sekelilingnya
(masyarakat), dan keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam di sekelilingnya.
Untuk dapat menghadapi dan menyesuaikan diri dengan kedua lingkungan tersebut
diatas, manusia mempergunakan pikiran. Lebih lanjut Soerjono Soekanto menjelasakan;
didalam menhadapi alam sekelilingnya seperti udara yang dingin, alam yang kejam dan lain

1
2

http://id.wikipedia.org/wiki/Kelompok_sosial
Jusmadi Sikumbang, Mengenal Sosiologi dan Sosiologi Hukum (Medan : Pusaka Bangsa Press, 2012) hlm 17

sebagainya maka manusia menciptakan rumah, pakaian dan lain-lain.3 Menurut Soerjono
Soekanto, menimbulkan kelompok-kelompok sosial atau sosial group di dalam kehidupan
manusia ini, karena manusia tidak mungkin hidup sendiri.

Ibid hal 18

BAB II
PERMASALAHAN

Dari uraian latar belakang tersebut dapat diambil rumusan permasalahan yaitu:
1. Apakah yang dimaksud dengan kelompok sosial?
2. Bagaimana tipe-tipe dari kelompok sosial?
3. Bagaimana teori-teori tentang kelompok sosial?
4. Bagaimana kelompok sosial yang tidak teratur?

BAB III
PEMBAHASAN

1.

Apakah yang dimaksud dengan kelompok sosial?

Soedjono D menguraikan dalam bukunya Sosiologi4,bahwa yang terpenting dan


kerap kali dijumpai di dalam pergaulan hidup sehari-hari adalah adanya 4 (empat)
kelompok, yakni:

Kelompok Statistik
Kelompok ini dibentuk oleh para ahli statistic dan ahli sosiologi utnuk
kepentingan penelitian, anggota-anggota masyarakat yang dikelompokkan biasanya
tidak sadar bahwa mereka termasuk kelompok statistik. Kelompok statistik ini diukur
dengan kriteria yang diberikan oleh Sosiologi, bahwa kelompok harus mencerminkan
adanya kesadaran kelompok, interaksi sosial, organisasi, maka kelompok statistik
tidak dikenal oleh kriteria ini, sehinggan sebenarnya bukan sebuah kelompok. Banyak
sosiolog tidak menngangap kelompok statistik itu sociologically significant. Sebagai
contoh Kelompok penduduk usia 10-15 tahun di sebuah kecamatan.

Kelompok Sosieta (Sociatal Group)


Kelompok ini mencerminkan adanya kesadaran berkelompok yang mungkin
dikarenakan adanya kesadaran bahwa mereka sejenis, tidak perlu diketahui motivasi
yang mendorong terbentuknya kelompok tersebut. Adapun tanda-tanda persamaan
biasanya mudah diketahui seperti tanda-tanda persamaan warna kulit, umur, sex,
respon kepada sesuatu seperti halnya bendera, lambing Negara, dan lain-lain.

Soedjono D. Sosiologi, Alumni, Bandung,1981,hlm.83 dan 85.

Kelompok sosial (social group)


Kelompok yang angota-anggotanya mengandalkan relasi dan interaksi sosial,
dan yang dimaksudkan sosial disini adalah komunikasi dan interaksi sosial. Dalam
kelompok sosial ini terdapat adanya persamaan-persamaan jenis dan interaksi sosial.
Contoh : tetangga, teman sepermainan dll.

Kelompok Asosionil ( Association group)


Kelompok ini adalah suatu kelompok yang terorganisasikan dan memiliki
struktur yang formil dimana terdapat kesadaran dan persamaan interes atau keinginan
bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu, interaksi sosial dan berorganisasi.
Contoh:

perkumpulan-perkumpulan olahraga,

lembaga-lembaga pendidikan ,

angkatan perang, dll.

Dari defenisi kelompok sosial tersebut diatas didapatkan suatu pengertian bahwa suatu
kelompok dapat dikatakan kelompok sosial jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.

Setiap individu yang berkelompok harus menyadari bahwa dia merupakan bagian dari
kelompok itu.

2.

Adanya hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi untuk saling membantu
diantara sesama anggota kelompok.

3.

2.

Adanya factor kebersamaan yang dimiliki oleh anggota-anggota kelompok.

Bagaimana Tipe-Tipe Kelompok Sosial ?

Tipe-tipe kelompok sosial dapat diklasifikasikan

dari beberapa sudut atau dasar

berbagai criteria atau ukuran5. Seorang sosiolog Jerman Goerg Simmel mengambil ukuran
besar kecilnya jumlah anggota kelompok tersebut mempengaruhi kelompoknya serta
interaksi sosial dalam kelompok tsb. Simmel memulai dari bentuk terkecil yang terdiri dari 1
orang sebagai

focus

hubungan sosial

yang dinamakan

monad

yang kemudian

diperkembangkkandengan kelompok yang berjumlah 2 atau 3 orang yang disebut daye serta
triad dan kelompok kecil lainnya.
Ukuran lain yang diambil adalah atas dasar derajat interksi sosial dalam kelompok
sosial tersebut. Beberapa sosiolog memperhatikan pembagian atas dasar kelompok-kelompok
dimana

anggota-anggotanya

saling

mengenal

faceto

face

groupings

seperti

misalnya,keluarga, rukun tetangga,desa dengan kelompok-kelompok sosial seperti kota


korporasi dan Negara, dimana anggotanya tidak mempunyai hubungan yang erat.
Suatu ukuran lainnya adalah ukuran kepentingan dan wilayah. Suatu community
misalnya, merupakan kelompok-kelompok atau kesatuan-kesatuan atas dasar wilayah yang
tidak mempunyai kepentingan-kepentingan yang khusus atau tertentu . suatu association
sebagai suatu perbandingan, justru dibentuk untuk memenuhi kepentingan yang tertentu.
Sudah tentu anggota-angota community atau association sedikitnya sadar akan adanya
kepentingan-kepentingan bersama walaupun hal itu tidak dikhususkan secara terperinci.
Akhirnya dapat dijumpai pula klasifikasi atas dasar ukuran derajat organisasi.
Kelompok-kelompok sosial terdiri dari kelompok yang terorganisir dengan baik sekali seperti
misalnya Negara, sampai pada kelompok-kelompok yang hampir-hampir tak terorganisir
seperti misalnya suatu kerumunan. Dasar yang akan diambil untuk mengadakan klasifikasi
tipe-tipe kelompok sosial tersebut adalah ukuran jumlah atau derajat interaksi sosial atau
5

Klasifikasi tipe-tipe kelompok sosial ini adalah uraian-uraian dari RM.Mac Iver dan Charles H.Page yang
dikutip penulis dari Soerjono soekanto, Ibid,hlm.96

kepentingan-kepentingan kelompok, atau organisasinya maupun kombinasi dari ukuranukuran tersebut.

3.

Bagaimana Teori tentang Kelompok-Kelompok Sosial ?


1. Teori in group dan out group
Teori ini digunakan oleh W.G Summer dalam bukunya Folkways, dimana ia
mengatakan, bahwa dalam proses Sosialization, orang mendapatkan pengetahuan
antara kaminya dengan merekanya dan bahwa kepentingan-kepentingan suatu
kelompok sosial serta sikap-sikap yang mendukungnya terwujud dalam pembedaan
kelompok-kelompok sosial dengan mana individu mengidentifikasikan dirinya ,
merupakan in groupnya.
Kelompok sosial merupakan in group atau tidak bagi individu, bersifat
relatif dan tergantung pada situasi-situasi sosial yang tertentu. Out group diartikan
oleh individu sebagai kelompok yang menjadi lawan in group nya, yang sering
dihubungkan dengan istilah kami atau kita dan mereka. Didalam in group
maupun out group, anggota-anggota selalu mempunyai sikap Ethnocentrisme, yaitu
sikap untuk menilai kebudayaan lain dengan mempergunakan ukuran kebudayaan
sendiri, biasanya anggota suatu kelompok sosial mempunyai suatu kecendrungan
untuk menganggap bahwa segala yang termasuk dalam kebiasaan-kebiasaan dalam
kelompok sendiri adalah yang terbaik. Sikap ini berproses melalui proses
Sosialization dimana didalam proses tersebut seringkali dipergunakan Stereotypen
yakni gambaran-gambaran atau anggapan-anggapan yang bersifat mengejek terhadap
suatu objek tertentu misalnya : sikap orang kulit putih kepada orang kulit hitam.

2.

Teori Primary Group dan Secondary Group


7

Dalam karyanya yang berjudul Social Organization di tahun 1909, Charles


Horton Cooley mengemukakan perbedaan antara Primary Group dan Secondary
Group.6
Menurut Cooley, Primary group adalah kelompok-kelompok yang ditandai
cirri-ciri kenal mengenal antara anggota-anggotanya serta kerjasama erat yang bersifat
pribadi tadi, adalah peleburan daripada individu-individu dalam satu kelompokkelompok, sehingga tujuan individu menjadi juga tujuan kelompoknya. Hubungan
sangat harmonis karena adanya factor simpati antara sesame anggota kelompok,
sehingga diantara mereka terjadi suatu kerjasama yang sifatnya spontan.
Secara asingkat dikatakan bahwa primary group adalah kelompok-kelompok
kecil yang langgeng permanen) dan berdasarkan kenal mengenal secara pribadi antara
sesama anggotanya7. Misalnya keluarga, Sahabat sepermainan, Rukun Tetangga dan
lain-lain.mengenai Secondary Group, Cooley tidak mengemukakan secara khusus apa
yang dimaksud dengan Secondary Group dan bahkan belum pernah mempergunakan
istilah tersebut. Akan tetapi istilah tadi biasa dipergunakan untuk mengganmbarkan
apa yang menjadi buah pikiran Cooley.

Berlaku untuk Secondary Group, yaitu orang antara siapa hubungannya tak
perlu berdasarkan kenal mengenal secara pribadi dan sifatnya juga tidak begitu
langgeng.Misalnya bangsa, kalau dilihat secara keseluruhan, bangsa adalah Primary
Group rukun tetangga atau keluarga misalnya , adalah merupakan unsur-unsur dari
bangsa tadi, sehingga dapat disimpulkan bahwa syarat-syarat dan sifat-sifat primary

Ibid
Lihat Selo Soemardjan Soelaiman , Ibid : Dalam uraiannya ,mereka memakai istilah kelompok utama untuk
Primary group dan Kelompok Sekunder untuk Secondary Group.
7

group dan secondary group saling isi mengisi dan dalam kenyataan tak dapat dipisahpisahkan secara mutlak.

3.

Teori Gemeinschaft dan Gesellschaft


Pada tahun 1887 terbitlah sebuah karya ilmiah yang akan menempatkan

sosiolog Jerman Ferdinand Tonnies (1885-1936) pada kedudukan yang penting sekali
dalam sejarah pertumbuhan Sosiologi. Karya tersebut berjudul Gemeinschaft and
Gesellschaft.
Gemeinschaft adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya
diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah dan bersifat alamiah dan
bersifat kekal.dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa persatuan batin yang
memang telah dikodratkan, kehidupan tersebut dinamakan juga bersifat nyata dan
organis.Bentuk Gemeinschaft terutama akan dapat dijumpai di dalam keluarga,
kelompok kekerabatan dan lain sebagainya.
Gesellschaft merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu
yang pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka, imaginary serta
strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin.
Bentuk Gesellschaft ini terutama terdapat didalam perhubungan perjanjian yang
berdasarkan ikatan timbale balik, misalnya ikatan antara pedagang, organisasi dalam
suatu pabrik atau industri dan lain sebagainya. Tonnies menyesuaikan kedua bentuk
kehidupan bersama manusia yang pokok tersebut diatas, dengan dua bentuk kemauan
azasi dari manusia, yaitu yang dinamakan Wesenwille dan Kurwille/wesenwille adalah
bentuk kemauan yang dikodratkan, yang timbl dari keseluruhan kehidupan alami ,
Wesenwille perasaan dan akal merupakan kesatuan dan kedua-duanya terikat pada

kesatuan hidup yang alamiah dan organis.Kurwille adalah bentuk kemauan yang
dipimpin oleh cara berfikir yang didasarkan pada akal.
Selanjutnya Ferdinand Tonnies mengatakan, bahwa Gemeinschaft mempunyai
beberapa cirri, yaitu:
a. Intimate, artinya hubungan menyeluruh yang mesra sekali.
b. Private, artinya hubungan bersifat pribadi, yaitu khusus untuk beberapa orang
saja.
c. Exclusive, artinya bahwa hubungan tersebut hanyalah untuk kita saja tidak
untuk orang-orang lain diluar kita.
Menurut Tonnies, didalam setiap masyarakat selalu dapat dijumpai salah satu
diantara 3 (tiga) tipe Gemeinschaft, yaitu:
a. Gemeinschaft by blood yaitu Gemeinschaft yang merupakan ikatan darah
atau keturunan; contoh : keluarga, kelompok kekerabatan.
b. Gemeinschaf of place, yaitu suatu Gemeinschaft yang berdiri dari orangorang yang berdekatan tempat tinggalnya, sehingga dapat saling tolong
menolong ; contoh: Rukun Tetangga, Rukun Warga, Arisan.
c. Gemeinschaft of mind, yang merupakan suatu Gemeinschaft yang terdiri
dari orang-orang yang walaupun tidak mempunyai hubungan darah
ataupun tempat tinggalnya tidak berdekatan, akan tetapi mereka
mempunyai jiwa dan pikiran yang sama.
4.

Teori Formal Group dan Informal Group


Formal group adalah kelompok-kelompok yang mempunyai peraturan-

peraturan yang tegas dan dengan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk

10

mengatur hubungan antara anggota-anggotanya, misalnya peraturan-peraturan untuk


memilih seorang ketua, pemungutan uang iuran dan sebagainya.
Anggota-anggotanya mempunyai kedudukan-kedudukan tertentu sebagaimana
telah diatur, hal mana sekaligus berarti suatu pembatasan tugas dan wewenang
baginy, Formal Group demikian disebut juga association dan contohnya adalah
umpamanya perkumpulan pelajar (OSIS), Dharna Wanita, Ikatan Alumni dari suatu
perguruan tinggi dan lain-lainnya.
Informal Group tidak mempunyai struktur organisasi yang tertentu atau yang
pasti. Kelompok-kelompok tersebut biasanya terbentuk karena pertemuan yang
berulang kali menjadi dasar bagi bertemunya kepentingan-kepentingan dan
pengalaman-pengalaman yang sama . suatu contoh lain adalah clique yang merupakan
suatu kelompok kecil tanpa struktur formil yang sering timbul dalam suatuk
kelompok besar, Clique tersebutditandai dengan pertemuan-pertemuan timbale balik
antara anggota-anggotanya biasanya hanya bersifat antara kitasaja.
5. Teori Membership Group dan Reference Group
Teori ini diuraikan oleh Robert K. Merton dalam bukunya Continuities in the
Theory of Reference Group and Social Structure.
Membership Group merupakan kelompok di mana setiap orang secara fisik
menjadi anggota kelompok tersebut. Batas-batas apakah yang dipakai untuk
menentukan keanggotaan seseorang pada suatu kelompok secara fisik, tidak
dapatdilakukan secara mutlak. Hal ini disebabkan karena perubahan-perubahan
keadaan, akan dapat mempengaruhi derajat interaksi di dalam kelompok tadi,
sehingga ada kalanya sesorang anggota tidak begitu sering berkumpul dengan

11

kelompok tersebut, walaupun secara resmi dia belum keluar dari kelompok yang
bersangkutan. Keadaan demikian dapat kita jumpai misalnya informal group. Untuk
membedakan secara tegas keanggotaan atas derajat interaksi tersebut, maka
dikemukakan istilah nominal group member dan peripheral group member.
Reference Group adalah kelompok sosial yang menjadi ukuran bagi seseorang
(bukan anggota kelompok tersebut) untuk membentuk pribadi dan perilakunya.
Dengan perkataan lain, sesorang bukan anggota kelompok sosial yang bersangkutan,
mengidentifikasi dirinya dengan kelompok tadi.misalnya, sesorang yang ingin sekali
untuk menjadi mahasiswa, akan tetapi gagal memenuhi persyaratan untuk memasuki
salah satu perguruan tinggi, bertingkah laku sebagai mahawsiswa, walaupun dia
bukan mahasiswa.
4.

Bagaimana Kelompok-Kelompok Sosial Yang Tidak Teratur ?


1.

Kerumunan ( Crowd)8
Adalah sangat susah untuk menerima suatu pendapat yang mengatakan bahwa
sekumpulan manusia, semata-mata merupakankoleksi dari manusia-manusia secara
fisik belaka. Setiap kenyataan adanya manusia adanya manusia berkumpul, sampai
batas-batas tertentu juga menunjukkan pada adanya suatu ikatan sosial tertentu.

Suatu kelompok manusia tidak hanya tergantung pada adanya interaksiinteraksi, nakan tetapi juga karena adanya pusat perhatian yang sama. Suatu ukuran
yang utama adanya kerumunan, adalah kehadiran orang-orang secara fisik. Sedikit
banyaknya batas kerumunan adalah sejarah mata dapat melihatnya dan selama telinga
dapat mendengarnya.

Uraian Tentang Kerumunan ini secara lengkap kami kutip dari Soerdjono Soekanto,ibid,hlm.112-114 lihat juga
:Kingsley Davis Human Society terutama pada hlm. 351-354.

12

Kerumunan tersebut segera mati, setelah orang-orangnya bubar, dan karena itu
kerumunan merupakan suatu kelompok sosialyang bersifat sementara . kerumunan
jelas tidak terorganisisr; ia dapat mempunyai pimpinan akan tetapi ia tak
mempunyaisistem pembagian kerja maupun sistem pelapisan sosial. Artinya, pertamatama adalah bahwa interaksi di dalamnya bersifat spontan dan tidak terduga, serta
kedua artinya adalah - bahwa orang-orang yang hadir dan terkumpul mempunyai
kedudukan sosial yang sama. Identitas sosial seseorang biasanya tenggelam apabila
orang yang bersangkutan ikur serta dalam suatu kerumunan. Seorang guru,
mahasiswa, pedagang, pegawaidan lain sebagainya yang sama-sama menunggu bis,
mempunyao kedudukan yang sama.

Suatu kerumunan mudah sekali bereaksi, oleh karena individu-individu yang


berkumpul mempunyai satu pusat perhatian dan keinginan-keinginan mereka akan
tersalurkan dengan mengadakan suatu aksi. Orang-orang dalam kerumunan tadi akan
mudah sekali meniru tingkah laku orang-orang lain yang sekerumunan dan tingkah
laku tadi mendapat dorongan dari semuanya. Puncak dari aksi-aksi tersebut akan
dilalui, apabila secara fisik mereka telah lelah dan tujuan bersamanya tercapai.
Untuk membubarkan suatu kerumunan, diperlukan usaha-usaha untuk
megalihkan pusat perhatian perhatian , hal itu dapat dilakukan misalnya dengan
mengusahakan agar individu-individu sadar kembali dengan kedudukan dan peranan
yang sesungguhnya.
Masyarakat tertentu melarang atau membatasi diadakannya demonstrasi, ada
pula usaha-usaha preventif terhadap terjadinya panik diantara penonton-penonton
pertandingan-pertandingan olahraga apabilaterjadi sesuatu hal, dan lain sebagainya.

13

Dengan demikian, secara garis besar dapat dibedakan antara pertama,


kerumunan yang berguna bagi organisasi sosial masyarakat, serta yang timbul dengan
sendirinya tanpa diduga sebelumnya serta kedua-duanya, pembedaan antara
kerumunan yang dikendalikan oleh keinginan-keinginan pribadi. atas dasar
pembedaan-pembedaan tersebut dapat ditarik suatu garis perihal bentuk-bentuk umum
kerumunan, sebagai berikut:
a. Kerumunan yang berartikulasi dengan struktur sosial
1. Khalayak penonton atau pendengar yang formil (formal audience)
merupan kerumunan-kerumunan yang mempunyai pusat perhatian dan
persamaan tujuan, akan tetapi sifatnya pasif. Contohnya adalah penontonpenonton film, orang-orang yang menghadiri khotbah agama.
2. Kelompok ekspressif yang telah direncanakan (planned expensive group),
adalah kerumunan yang pusat perhatiannya tidak begitu penting akan
tetapi mempunyai persamaan tujuan yang tersimpul dalam aktivitas
kerumunan tersebut serta kepuasan yang dihasilkannya. Fungsinya adalah
sebagai penyalur ketegangan-ketegangan yang dialami oleh karena
pekerjaannya sehari-hari. Contoh orang yang berpesta, berdansa , dan
sebagainya.
b. Kerumunan yang bersifat sementara (casual crowds)
1. Kumpulan yang kurang menyenangkan (inconvenient), adalah orang-orang
yang antri karcis, orang-orang yang menunggu bis dan sebagainya. Dalam
kerumunan itu, kehadiran orang-orang lain, merupakan halangan terhadap
tercapainya maksud seseorang.
2. Kerumunan orang-orang yang sedang dalm keadaan panic(panic crowds)
yaitu orang-orang yang bersama-sama berusaha menyelamatkan diri dari

14

suatu bahaya. Dorongan-dorongan dalam diri individu-individu dalam


kerumunan tersebut mempunyai kecenderungan untuk mempertinggi rasa
panic.
3. Kerumunan penonton (spectator crowds) yang terjadi karena orang-orang
yang ingin melihat suatu kejadian tertentu. Kerumunan semacam ini
hamper sama dengan khalayak penonton akan tetapi bedanya adalah
bahwa kerumunan penonton tidak direncanakan, sedangkan kegiatankegiatan juga pada umumnya tak terkendalikan.
c. Kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum (lawless crowds)
1. Kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs). Kerumunankerumunan semacam ini bertujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu,
dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Biasanya kumpulan
orang-orang tersebut bergerak karena merasakan bahwa hak-hak mereka
diinjak-injak atau karena tak adanya keadilan.
2. Kerumunan yang bersifat immoral (immoral crowds), hampir sama dengan
kelompok-kelompok ekspresif, akan tetapi bedanya adalah bahwa yang
pertama bertentangan dengan norma-norma dalam masyarakat. Contohnya
adalah orang-orang yang dalam keadaan mabuk-mabukan.

3. Publik (Khalayak Ramai atau Umum)9


Publik lebih merupakan kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi
secara tidak langsung melalui alat-alat komunikasi seperti misalnya pembicaraanpembicaraan secara pribadi dan berantai, melalui desas-desus, melalui surat kabar,
radio, televise, film dan lain sebagainya.

Ibid , hlm. 115-116.

15

Setiap aksi daripada public diprakarsai oleh kainginan individu (misalnya


pemungutan suara dalam pemilihan umum), dan ternyata bahwa individu-individu
dalam suatu public masih mempunyai kesadaran akan kedudukan sosial yang
sesungguhnya dan juga masih lebih mementingkan kepentingan-kepentingan pribadi
daripada mereka yang tergabung dalam kerumunan.
Untuk memudahkan mengumpulakan public tersebut, dipergunakan cara-cara
dengan mengandengkannya dengan nilai-nilai sosial atau tradisi masyarakat yang
bersangkutan, ataupun dengan menyiarkan pemberitaaan-pemberitaaan, baik yang
benar-benar maupun yang palsu sifatnya.

16

BAB IV
KESIMPULAN

Kelompok sosial adalah kumpulan manusia yang memiliki kesadaran bersama akan
keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat.
Kelompok juga dapat memengaruhi perilaku para anggotanya.

Suatu kelompok dapat dikatakan kelompok sosial jika memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:
1. Setiap individu yang berkelompok harus menyadari bahwa dia merupakan bagian
dari kelompok itu.
2. Adanya hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi untuk saling
membantu diantara sesama anggota kelompok.
3. Adanya factor kebersamaan yang dimiliki oleh anggota-anggota kelompok.

Kelompok sosial dapat dibagi menjadi 4 yaitu Kelompok Statistik, Kelompok Sosieta,
Kelompok Sosial, kelompok Asosionil.

Tipe-tipe kelompok sosial dapat diklasifikasikan

dari beberapa sudut atau dasar

berbagai criteria atau ukuran

Teori Kelompok Sosial dapat dibagi atas 5 yaitu: teori In Group dan Out Group, teori
Primary dan Secondary Group, teori Gemeinscaft dan Gesellschaft, teori Formal Group
dan Informal Group, teori Membership Group dan Reference Group.

Kelompok Sosial yang tidak tertur dapat dibagi atas Kerumunan (Crowd) dan Publik
(Khalayak Ramai)

17

DAFTAR PUSTAKA

Dr.Jusmadi Sikumbang,S.H.MS, Mengenal Sosiologi dan Sosiologi Hukum,


Pusaka Bangsa Press, Medan, 2012

Prof.Dr.Satjipto Rahardjo,SH, Sosiologi Hukum, Genta Publishing,Yogyakarta,


2010

Yesmil Anwar & Adang, Pengantar Sosiologi Hukum, PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia, Jakarta 2008

Prof.DR.Soerjono Soekanto,S.H.,M.A., Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, PT. Raja


Grafindo Persada, Jakarta, 1988

Blacks Law Dictionary, fifth ed. , St. Paul, Minn., USA, 1979

18

Anda mungkin juga menyukai