Anda di halaman 1dari 19

1

PAPER PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP


ANALISIS MASALAH LINGKUNGAN OLEH PENCEMARAN AIR
SUNGAI DIKAWASAN INDUSTRI BATIK
(STUDI EMPIRIS : SUNGAI DI KELURAHAN PASIRSARI KOTA
PEKALONGAN)

Disusun Untuk
Memenuhi Tugas Individu
Mata Kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)

Oleh :
Tiara Dewi Imas Mahardika
4211413002

Universitas Negeri Semarang ( UNNES )


SEMARANG
2014

Kata Pengantar
Alhamdulillah Puji syukur kehadirat Allah SWT yang karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah
dengan judul Analisis Masalah Lingkungan oleh Pencemaran Sungai Dikawasan
Industri Batik (Studi Empiris : Sungai di Kelurahan Pasirsari Kota Pekalongan)
Penulisan makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas Individu pada Mata
Kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) Universitas Negeri Semarang
(UNNES). Makalah ini merupakan sebuah karya yang tidak mungkin
terselesaikan tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
menyampaikan terimakasih kepada :
1. Ibu Miranita Khusniati Selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Pendidikan
Lingkungan Hidup ( PLH ) Universitas Negeri Semarang ( UNNES ) yang
telah membimbing dalam pembuatan makalah ini
2. Ibu tercinta yang telah memberikan kasih sayang, doa dan dukungan
kepada penulis.
3. Adik (Hanis Rachna Ningrum) dan teman-teman (Akmal, Mba Dina dan
Cicik) yang telah memberi support dan masukkan masukkan dalam
pembuatan karya tulis ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada
karyatulis ini.Oleh karena itu Penulis mengharap kritik dan saran dari pembaca
yang dapat membangun bagi makalah ini. Kritik yang konstruktif akan sangat
membantu penulis dalam penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita
semua.

Semarang, 27 April 2014

Penulis

DAFTAR ISI

COVER..............................................................................................................1
KATA PENGANTAR.......................................................................................2
DAFTAR ISI......................................................................................................3
BAB 1. PENDAHULUAN..............................................................................
1.1. Latar belakang.............................................................................................4
1.2. Maksud dan Tujuan.....................................................................................6
1.3. Ruang Lingkup............................................................................................6
BAB 2. METODE PENULISAN....................................................................
2.1. Objek Penelitian..........................................................................................7
2.2. Dasar Pemilihan Objek................................................................................7
2.3. Metode Pengumpulan Data..........................................................................7
2.4. Metode Analisis............................................................................................7
BAB 3. ANALISIS MASALAH.....................................................................
3.1 Pencemaran Air Sungai oleh Industri Batik.................................................8
3.2 Dampak Limbah Industri Batik...................................................................10
3.3 Mengelola Limbah Industri Batik................................................................14
3.4 Meminimalisir Limbah Industri Batik.........................................................15
3.5 Pengolahan Limbah Industri Batik..............................................................16
BAB 4. PENUTUP............................................................................................
4.1 Simpulan.......................................................................................................18
4.2 Saran.............................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................19

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan keberagaman budaya, salah
satu dari kekayaan budaya di Indonesia adalah. Batik merupakan salah satu dari
kebudayaan diIndonesia yang memiliki nilai seni yang tinggi.Hingga saat ini,
pesona Batik telah banyak disukai baik didalam negeri maupun diluar
negeri.Keindahan Batik Indonesia terletak pada motif yang muncul dalam
perbedaan kebudayaan. Jenis dan motif Batik tradisional maupun modern
tergolong banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi masing
masing daerah yang beragam.Batik Indonesia oleh UNESCO telah ditetapkan
sebagai warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan nonbenda ( Masterpieces
of the Oral and Intangible Heritage of Humanity ) sejak 2 Oktober 2009. Industri
batik nasional semakin berkembang akibat semakin banyaknya permintaan
terhadap batik sejak dicanagkan hari batik nasional pada tanggal 2 Oktober
2009.Pada beberapa daerah mulai muncul kampung batik sebagai sentra batik
khas daerah masing masing.Euforia Batik pun menjadi tampak sangat jelas di
masyarakat. Sekolah mewajibkan siswa siswinya memakai seragam batik di hari
tertentu. Karyawan bank, pegawai negeri, penyiar televisi, hingga instansi instansi
swasta pun memakai Batik.
Kota Pekalongan merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang
memiliki jumlah UMKM yang cukup banyak dan didominasi oleh industri garmen
dan batik yaitu sekitar 90,10 % dari keseluruhan jumlah industri yang ada di Kota
Pekalongan. Dari Tabel dapat dilihat bahwa jumlah industri Batik skala kecil
di Kota Pekalongan lebih banyak dari pada kota-kota lain di Jawa Tengah
yang juga terkenal sebagi kot kota penghasil batik (Urata Shujiro, 2000).

Pada tahun 2007, Kota Pekalongan memiliki jumlah industri batik skala
kecil sebanyak 714 unit. Industri batik di Kota Pekalongan berangkat dari
industri kerajinan rumah tangga yang merupakan salah satu sektor yang
memberikan kontribusi yang cukup tinggi terhadap pendapatan daerah Kota
Pekalongan. Secara keseluruhan sektor industri menyumbang kurang lebih
26,29% terhadap Pendapatan
Penduduk Asli Daerah (PAD) Kota Pekalongan. Dalam output sektor
industri di Kota Pekalongan juga terlihat bahwa sektor industri tekstil (yang
di dalamnya mencakup industri batik) menghasilkan output paling besar
dibandingkan dengan outut sektor industri yang lainnya di Kota Pekalongan.

Dapat dilihat di Tabel 1.2. jumlah persentase output kesembilan sektor


industri di Kota Pekalongan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Sektor Industri tekstil memiliki kontribusi persentase terbesar terhadap output
industri dibandingkan dengan sektor industri lain. Dari tahun 2006 2010,
lebih dari 60% output sektor industri didominasi oleh sektor industri tekstil.
Pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh dampak perkembangan industri
perlu dikaji lebih mendalam, karena apabila hal ini tidak diperhatikan akan
mengakibatkan terganggunya keseimbangan antara makhluk hidup dengan
lingkungan. Daerah yang dijadikan sebagai pusat industri mempunyai permasalahan
tersendiri terhadap pencemaran, akan lebih bermasalah lagi ketika hasil buangan yang
berupa polutan yang sulit terurai dan akan mencemari lingkungan perairan apabila
dibuang ke badan air seperti sungai atau saluran irigasi (Hindarko, 2003).

Permasalahan pencemaran lingkungan sungai akibat limbah cair menjadi


tanggung jawab semua pihak termasuk Pemerintah, Community, Pengusaha,
Akademisi dan masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Pekalongan. Sehingga
rendahnya tingkat kesadaran untuk menjaga lingkungan sungai menjadi masalah yang
penting. Kantor Lingkungan Hidup Kota Pekalongan menyatakan, seberapa
canggihnya teknologi yang telah digunakan untuk mengatasi masalah pencemaran
tidak akan berhasil apabila tingkat kesadaran masyarakatnya untuk menjaga
lingkungan sungai sangat rendah.
Pemerintah Kota Pekalongan dalam launching PROKASIH (Program Kali
Bersih) menyatakan hal yang tak kalah rumit, yakni masih kurangnya pemahaman
serta kesadaran masyarakat tentang pentingnya lingkungan sungai. Begitu pula
menurut Supriono, Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Pekalongan dalam
lounching PROKASIH mengharapkan adanya kesadaran warga untuk terus menjaga
kebersihan sungai (Kominfo Kota Pekalongan, 2012).
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas penulis mengambil
judul penelitian yaitu MENUJU PENGELOLAAN SUNGAI BERSIH DI
KAWASAN INDUSTRI BATIK YANG PADAT LIMBAH CAIR (Studi Empiris
pada Sungai Pekalongan di Kota Pekalongan).

1.2 Maksud dan Tujuan


Maksud dan tujuan pembuatan paper ini antara lain :
1. Sebagai bahan kajian para mahasiswa mengenai penyebab pencemaran air
sungai akibat limbah industri batik di Kelurahan Pasirsari, Kecamatan
Pekalongan Barat, Kota Pekalongan.
2. Sebagai cara untuk mencari berbagai cara untuk menanggulangi dampak
pencemaran yang sedang dikaji.
3. Sebagai metode pengumpulan data tentang pencemaran air sungai akibat
limbah industri batik di Kelurahan Pasirsari, Kecamatan Pekalongan Barat
Kota Pekalongan.
1.3 Ruang Lingkup
Paper ini membahas tentang pencemaran air sungai akibat limbah industri batik di
Kelurahan Pasirsari Kecamatan Pekalongan Barat Kota Pekalongan, mulai dari
gambaran mengenai pencemaran lingkungan oleh limbah industri batik, dampak
dari limbah industri batik, cara pengelolaan limbah industri batik dan cara
meminimalisir limbah industri, dan cara pengolahan limbah industri.

BAB 2
METODE PENULISAN
2.1 Objek Penulisan
Objek penulisan yaitu mencakum gambaran / penjelasan mengenai
penyebab pencemaran air sungai akibat limbah industri batik, dampak yang
timbulkan dari pencemaran limbah industri batik, cara mengelola limbah industri
batik, cara meminimalisir limbah hasil industri batik, dan cara mengolah limbah
industri batik yang ada di Kelurahan Pasirsari.
2.2 Dasar Pemilihan Objek
Objek yang penulis pilih adalah mengenai pencemaran air sungai oleh
limbah industri batik di Kelurahan Pasirsari Kecamatan Pekalongan Barat,
karena ini semua akan berpengaruh besar bagi lingkungan dan alam sekitar.
Khususnya masyarakat di Kelurahan Pasirsari Kecamatan Pekalongan Barat.
Semua manusia pasti sangat tergantung akan lingkungan dan alam sekitar.
Namun, banyak orang yang belum mengetahui bagaimana cara pengelolaan,
meminimalisir, dan pengolahan limbah industri batik yang tepat tanpa banyak
menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan.
2.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam penulisan paper ini, penulis secara umum mendapatkan bahan
tulisan dari berbagai referensi, baik dari tinjauan kepustakaan berupa buku buku,
jurnal atau dari sumber media internet yang terkait dengan pencemaran.
2.4 Metode Analisis
Penyusunan makalah ini berdasarkan metode deskriptif analisis, yaitu
dengan mengidentifikasi permasalahan berdasarkan fakta dan data yang ada,
menganalisis permasalahan berdasarkan pustaka dan data pendukung lainnya,
serta mencari alternatif pemecahan masalah.

BAB 3
ANALISIS PERMASALAHAN
3.1 Pencemaran air sungai akibat industri batik
Berkah industri batik Pekalongan ternyata harus dibayar mahal oleh
masyarakat, terutama dampak negatif pencemaran limbah industri yang dihasilkan
(P3M STAIN Pekalongan, 2012). Semakin pesatnya pertumbuhan industri batik juga
berarti semakin banyaknya limbah yang dikeluarkan dan mengakibatkan
permasalahan yang kompleks bagi lingkungan sekitar. Apalagi bila limbah yang
dihasilkan dari industri batik tersebut dibuang langsung ke sungai. Seiring dengan
berkembangnya aktivitas masyarakat di sekitar bantaran sungai tentunya akan
berpengaruh terhadap kualitas air sungai. Apabila limbah industri dan limbah dari
aktivitas masyarakat sehari-hari secara terus-menerus dibuang langsung ke perairan
sungai dan melebihi kemampuan sungai untuk membersihkan diri sendiri (self
purification), maka timbul permasalahan yang serius yaitu pencemaran perairan sehingga
berpengaruh negatif terhadap kehidupan biota perairan dan kesehatan masyarakat
yang memanfaatkan air sungai tersebut.
Penurunan kualitas air Sungai Pekalongan adalah perbuatan manusia yang
secara langsung atau tidak langsung menyebabkan pencemaran lingkungan pada air
sungai. terbatasnya upaya pengendalian pencemaran air diperparah dengan rendahnya
kesadaran masyarakat terhadap lingkungan serta kurangnya penegakan hukum bagi
pelanggar pencemaran lingkungan. Krisis dan pencemaran air yang terjadi tersebut
tidak terlepas dari pengetahuan, sikap, perilaku dan peran serta masyarakat yang
buruk dalam memanfaatkan dan mengolah sumber daya air secara berkelanjutan.
Kesadaran terhadap lingkungan hidup merupakan aspek yang penting dalam
pengelolaan lingkungan hidup karena kesadaran terhadap lingkungan hidup
merupakan bentuk kepedulian seseorang terhadap kualitas lingkungan, sehingga
muncul berbagai aksi menentang kebijaksanaan yang tidak berwawasan lingkungan.
(tingkat kesadaran masyarakat terhadap lingkungan terjadi sebagai akibat
berkembangnya pemahaman terhadap lingkungan itu sendiri ataupun akibat
terjadinya perubahan kebutuhan nilai-nilai yang dianut, sikap dan karakteristik individu.
Terdapat keterkaitan yang sangat erat antara pandangan manusia terhadap
kelestarian lingkungannya. Selanjutnya dikatakan pula bahwa pandangan manusia
tersebut tergantung dari pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya, serta
norma-norma yang terdapat di sekitar lingkungan tempatnya berada.
Menurut Undang-Undang Republik UU Nomor 32 tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH) mengatakan bahwa
bahan berbahaya dan beracun beserta limbahnya perlu dilindungi dan dikelola dengan
baik. Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus bebas dari buangan limbah
bahan berbahaya dan beracun dari luar wilayah Indonesia. UU No. 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air menyatakan bahwa sungai merupakan salah satu bentuk
alur air permukaan yang harus dikelola secara menyeluruh, terpadu berwawasan
lingkungan hidup dengan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang

berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dengan demikian sungai


harus dilindungi dan dijaga kelestariannya, ditingkatkan fungsi dan kemanfaatannya,
dan dikendalikan dampak negatif terhadap lingkungannya.
Limbah industri batik di Kota Pekalongan terdiri dari limbah cair dan
padat. (KLH Kota Pekalongan, 2010) Limbah cair tersebut antara lain berasal dari
zat warna cair yang digunakan untuk membatik. Sedangkan limbah padat berasal
dari potongan kain dan bahan baku pembuatan batik yang lain. Kurangnya
perhatian masyarakat dan para pengusaha batik dalam pengelolaan limbah, pada
akhirnya menyebabkan lingkungan sekitar, terutama sungai menjadi tercemar.

Keterangan :
BOD : jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikrorganisme dalam lingkungan air
untuk memecah (mendegredasi) bahan buangan organic yang ada dalam air
menjadi karbondioksida dan air
COD :jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada dalam air
dapat terosidasi melalui reaksi kimia baik yang dapat didegradasi secara
biologis maupun yang sukar didegradasi
DO
: Oksigen terlalut dalam air
Kelas I :Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk baku air minum dan atau
peruntukan lain yang mensyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan
tersebut

10

Kelas II:Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana / sarana rekreasi
air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan dan atau peruntukan lain yang
mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Kelas III:Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan air tawar,
peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang
mensyaratkan mutu air sama dengan kegunaan diatas.
Kelas IV:Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan
atau peruntukan lain yang mensyaratkan mutu air sama dengan kegunaan
diatas.
PK 1 : sungai Pekalongan 1 (Hulu )
PK 2 : Sungai Pekalongan 2 (Tengah )
PK3 : Sungai pekalongan 3 (hilir )
Tanda (-) : data tidak diketahui
Sumber: Kantor Lingkungan Hidup Kota Pekalongan, 2012

3.2 Dampak limbah industri batik


Berdasarkan penelitian kondisi air Sungai Pekalongan oleh Badan Lingkungan
Hidup (BLH) Kota Pekalongan pada Tabel 1.5, kondisi air sungai per 9 april 2012 di
Sungai Pekalongan kadar BOD yang standarnya adalah 2 Mg/l tetapi di lapangan
mencapai 5 Mg/l (pada kelas 1 dan Pk1) dan COD yang standarnya adalah 10 Mg/l tetapi
di lapangan mencapai 58,43 Mg/l (pada kelas 1 dan Pk1). Ini sudah melewati ambang
batas yang seharusnya sehingga dapat digolongkan pencemaran yang terjadi di Sungai
Pekalongan tergolong cukup tinggi.
Pencemaran yang terjadi di Sungai Pekalongan tergolong cukup tinggi
karena perkembangan industri dan perdagangan di Kota Pekalongan. Walaupun sudah
dibuat IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) ternyata belum mampu mengatasi
tingkat pencemaran pada Sungai Pekalongan. Terbukti bahwa BOD, COD, DO yang
terkandung di Sungai Pekalongan berada di atas ambang mutu batas baku yang telah
ditentukan oleh KLH Kota Pekalongan. Pengamatan di lapangan dapat dilihat bahwa
secara fisik air telah terjadi perubahan warna dan berbau. Warna air yang dulunya
jernih telah berubah menjadi kecoklatan, kemerahan, kehitaman bahkan berwarna
hitam pekat. Hal ini mengindikasikan terjadinya pencemaran Sungai Pekalongan
akibat limbah cair dari kegiatan industri yang larut dalam air. Timbulnya bau pada air
lingkungan dapat pula dipakai sebagai salah satu tanda terjadinya pencemaran air.
Bau yang keluar dari dalam air dapat langsung berasal dari buangan air limbah
produksi batik dan dapat pula berasal dari buangan aktivitas masyarakat di sekitar sungai.

11

Kondisi Sungai di Kelurahan Pasirsari Kota Pekalongan yang tercemar oleh obat batik
dari industri

Selokan dan sungai di Kelurahan Pasirsari, Kecamatan Pekalongan Barat


Kota Pekalongan pada waktu tertentu akan menjadi berwarna warni dan berubah
ubah warna. Pagi air sungai berwarna coklat lumpur siang berubah merah bata dan
sore menjadi biru adalah hal yang lumrah ditemui di selokan dan sungai di
Kelurahan Pasirsari. Salah satunya di Sungai Bremi, salahsatu sungai di Kota
Pekalongan yang terletak di perbatasan Kelurahan Pasirsari dan Kelurahan
Kramatsari Kecamatan Pekalongan Barat.
Hal ini terjadi karena Limbah dari Industri Batik di Kelurahan Pasirsari. Limbah
dari obat batik yang digunakan oleh para Industri batik ini adalah menggunakan
obat batik kimia. Limbah Batik tersebut oleh para Industri Batik di buang ke
Sungai-Sungai di sekitarnya. Pembuangan sampah plastik di selokan ini
menunjukkan kurangsadar terhadap lingkungan masyarakat di daerah sekitar

12

Sampah sampah plastik dari obat batik yang dibuang ke parit ( saluran air )
Kelurahan Pasirsari Kota Pekalongan
Dari data yang ada di Desa Pasirsari terdapat 2 sungai kecil dan 1 sungai
sedang, yang ketiga sungai tersebut telah tercemar oleh limbah oleh industri
limbah batik di Sekitarnya. Bau dan ancaman kerusakan menjadi ancaman bagi
ekosistem sungai bahkan lingkungan di sekitarnya.Ikan ikan yang ada di Sungai
tersebut menjadi mati karena teracuni oleh unsur kimia dari obat Batik. Ikan ikan
yang telah mati dan mengambang di permukaan sungai tentu mengurangi estetika
keindahan alam. Selain itu limbah batik yang mencemari sungai di sekitar areal
persawahan berdampak pada lingkungan sawah, terdapat 2 areal sawah di Desa
Pasirsari, yaitu di bagian utara dan selatan, namun wilayah di bagian dekat rumah
penduduk menjadi sawah yang tidak dapat di produksi, hal ini karena tanah dan
juga air sebagai irigasi telah tercemar zat kimia oleh limbah industri batik. Sawah
yang tak terproduksi akan mengganggu keadaan ekonomi di Desa Pasirsari
sendiri, berkurangnya produksi beras karena areal sawah yang tercemar sehingga
hasil panen menjadi berkurang.
Air yang tercemar pun dapat mencemari lingkungan seperti air sumur
dalam masyrakat, padahal air sumur masih menjadi sumber air rumah tangga yang
digunakan untuk mandi dan mencuci. Air yang tercemar berwarna dan berasa, air
yang tercmar sangat berbahaya bila dikonsumsi dan di gunakan. Selain
pencemraran air, hal ini berdampak pada terjadinya banjir yang akhir januari lalu
terjadi di Kelurahan pasirsari

13

Pembuangan limbah padat di selokan merupakan faktor terjadinya banjir yang


terjadi di kelurahan Pasirsari pada akhir januari

Pencemaran sungai mengakibatkan ekosistem dalam air sungai teracuni oleh


zat kimia yang terkandung dalam obat batik

14

Limbah industri batik yangdibuang ke sungai mengalir ke aliran irigasi


persawahan, membuat tanaman padi tidak tumbuh dengan maksimal.

3.3 Mengelola Limbah Industri batik


Pengelolaan limbah adalah kegiatan terpadu yang meliputi kegiatan
pengurangan (minimization), segregasi (segregation), penanganan (handling),
pemanfaatan dan pengolahan limbah. Dengan demikian untuk mencapai hasil
yang optimal, kegiatan-kegiatan yang melingkupi pengelolaan limbah perlu
dilakukan dan bukan hanya mengandalkan kegiatan pengolahan limbah saja. Bila
pengelolaan limbah hanya diarahkan pada kegiatan pengolahan limbah maka
beban kegiatan di Instalasi Pengolahan Air Limbah akan sangat berat,
membutuhkan lahan yang lebih luas, peralatan lebih banyak, teknologi dan biaya
yang tinggi. Kegiatan pendahuluan pada pengelolaan limbah (pengurangan,
segregasi dan penanganan limbah) akan sangat membantu mengurangi beban
pengolahan limbah di IPAL.
Tren pengelolaan limbah adalah menjalankan secara terintegrasi kegitan
pengurangan, segregasi dan handling limbah sehingga menekan biaya dan
menghasilkan output limbah yang lebih sedikit serta minim tingkat
pencemarannya. Integrasi dalam pengelolaan limbah tersebut kemudian dibuat
menjadi berbagai konsep seperti: produksi bersih (cleaner production), atau
minimasi limbah (waste minimization).

15

Secara prinsip, konsep produksi bersih dan minimasi limbah


mengupayakan dihasilkannya jumlah limbah yang sedikit dan tingkat cemaran
yang minimum. Namun, terdapat beberapa penekanan yang berbeda dari kedua
konsep tersebut yaitu: produksi bersih memulai implementasi dari optimasi proses
produksi, sedangkan minimasi limbah memulai implementasi dari upaya
pengurangan dan pemanfaatan limbah yang dihasilkan.
Produksi Bersih menekankan pada tata cara produksi yang minim bahan
pencemar, limbah, minim air dan energi. Bahan pencemar atau bahan berbahaya
diminimalkan dengan pemilihan bahan baku yang baik, tingkat kemurnian yang
tinggi, atau bersih. Menggunakan pewarna alami merupakan salah satu upaya
yang dapat dilakukan. Pewarna alami dapat dihasilkan dari ekstrak tanaman dan
buah yang mengandung pigmen (zat warna ). Indonesia dengan diversity
(keanekaragaman ) hayati yang tinggi sangat potensial untuk menghasilkan
pewarna alami yang limbahnya ramah lingkungan.
Bahan alami belum banyak dimanfaatkan oleh pengrajin batik di
Indonesia, bahkan The Word Batik Summit 2011 di Jakarta menghasilkan sebuah
deklarasi bersama.pada point no. 5 yang menyataka industri batik indonesia harus
didasarkan pada perlindungan alam dan lingkungan. Serta riset mengenai
penyediaan bahan pewarna tradisional yang alami dalam jumlah besar penting
untuk digalakkan.

3.4 Meminimalisir Limbah Industri batik


Minimasi limbah merupakan implementasi untuk mengurangi jumlah dan
tingkat pencemaran limbah yang dihasilkan dari suatu proses produksi dengan
cara pengurangan, pemanfaatan dan pengolahan limbah. Pengurangan limbah
dilakukan melalui peningkatan atau optimasi efisiensi alat pengolahan, optimasi
sarana dan prasarana pengolahan seperti sistem perpipaan, meniadakan
kebocoran, ceceran, dan juga terbuangnya bahan serta limbah. Dengan
disediakannya alat untuk membuang limbah, yang nantinya limbah tersebut masih
dapat di gunakan lagi, menjadi meminimaliskan pembuangan zat berbahaa ke
Sungai.
Pemanfaatan ditujukan pada bahan atau air yang telah digunakan dalam
proses untuk digunakan kembali dalam proses yang sama atau proses lainnya.
Pemanfaatan perlu dilakukan dengan pertimbangan yang cermat dan hati-hati agar
tidak menimbulkan gangguan pada proses produksi atau menimbulkan
pencemaran pada lingkungan.
Setelah dilakukan pengurangan dan pemanfaatan limbah, maka limbah
yang dihasilkan akan sangat minimal untuk selanjutnya diolah dalam instalasi

16

pengolahan limbah. Pada kegiatan pra produksi dapat dilakukan pemilihan bahan
baku yang baik, berkualitas dan tingkat kemunian bahannya tinggi. Saat produksi
dilakukan, fungsi alat proses menjadi penting untuk menghasilkan produk dengan
konsumsi air dan energi yang minimum, selain itu diupayakan mencegah adanya
bahan yang tercecer dan keluar dari sistem produksi.
Dari tiap tahapan proses dimungkinkan dihasilkan limbah. Untuk
mempermudah pemanfaatan dan pengolahan maka limbah yang memiliki
karakteristik yang berbeda dan akan menimbulkan pertambahan tingkat cemaran
harus dipisahkan. Sedangkan limbah yang memiliki kesamaan karekteristik dapat
digabungkan dalam satu aliran limbah. Pemanfaatan limbah dapat dilakukan pada
proses produksi yang sama atau digunakan untuk proses produksi yang lain.
Limbah yang tidak dapat dimanfaatkan selanjutnya diolah pada unit
pengolahan limbah untuk menurunkan tingkat cemarannya sehingga sesuai
dengan baku mutu yang ditetapkan. Limbah yang telah memenuhi baku mutu
tersebut dapat dibuang ke lingkungan. Bila memungkinkan, keluaran (output) dari
instalasi pengolahan limbah dapat pula dimanfaatkan langsung atau melalui
pengolahan lanjutan.

3.5 Pengolahan Limbah Industri batik


Pengolahan limbah adalah upaya terakhir dalam sistem pengelolaan
limbah setelah sebelumnya dilakukan optimasi proses produksi dan pengurangan
serta pemanfaatan limbah. Pengolahan limbah dimaksudkan untuk menurunkan
tingkat cemaran yang terdapat dalam limbah sehingga aman untuk dibuang ke
lingkungan.
Limbah yang dikeluarkan dari setiap kegiatan akan memiliki karakteristik
yang berlainan. Hal ini karena bahan baku, teknologi proses, dan peralatan yang
digunakan juga berbeda. Namun akan tetap ada kemiripan karakteristik diantara
limbah yang dihasilkan dari proses untuk menghasilkan produk yang sama.
Karakteristik utama limbah didasarkan pada jumlah atau volume limbah
dan kandungan bahan pencemarannya yang terdiri dari unsur fisik, biologi, kimia
dan radioaktif karakteristik ini akan menentukan proses dan alat yang digunakan
untuk mengelola air limbah. Pengolahan air limbah biasanya menerapkan 3
tahapan proses yaitu: pengolahan pendahuluan (pre-treatment), pengolahan utama
(primary treatment), dan pengolahan akhir (post treatment). Pengolahan
pendahuluan ditujukan untuk mengkondisikan alitan, beban limbah dan karakter
lainnya agar sesuai untuk masuk ke pengolahan utama. Pengolahan utama adalah
proses yang dipilih untuk menurunkan pencemar utama dalam air limbah.

17

Selanjutnya pada pengolahan akhir dilakukan proses lanjutan untuk mengolah


limbah agar sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan.
Terdapat 3 (tiga) jenis proses yang dapat dilakukan untuk mengolah air
limbah yaitu: proses secara fisik, biologi dan kimia. Proses fisik dilakukan dengan
cara memberikan perlakuan fisik pada air limbah seperti menyaring,
mengendapkan, atau mengatur suhu proses dengan menggunakan alat screening,
grit chamber, settling tank/settling pond, dll.
Proses biologi deilakukan dengan cara memberikan perlakuan atau proses
biologi terhadap air limbah seperti penguraian atau penggabungan substansi
biologi dengan lumpur aktif (activated sludge), attached growth filtration, aerobic
process dan an-aerobic process. Proses kimia dilakukan dengan cara
membubuhkan bahan kimia atau larutan kimia pada air limbah agar dihasilkan
reaksi tertentu.

18

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup,
zat, energi dan / atau komponen lain ke lingkungan hidup oleh kegiatan manusia
sehingga kulitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan
lingkungan hidup tidak dapat berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan
berkelanjutan. Pencemaran limbah industri,ini akan berpengaruh besar bagi
lingkungan dan alam sekitar, sehingga kita wajib mengetahui bagaimana cara
pengelolaan, meminimalisir, dan pengolahan limbah industri yang tepat tanpa
banyak menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan, supaya limbah hasil
industri tidak mencemari lingkungan dan alam sekitar.
4.2 Saran
Untuk lebih memahami semua tentang pencemaran lingkungan, disarankan
para pembaca mencari referensi lain yang berkaitan dengan materi pada makalah
ini. Selain itu, diharapkan para pembaca setelah membaca makalah ini mampu
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari hari dalam menjaga
kelestarian lingkungan beserta penyusun yang ada di dalamnya atau alam sekitar.

19

DAFTAR PUSTAKA
Mratihatani, anandriyo suryo. Pengelolaan Limbah Cair di Kawasan Insdustri
Batik. Semarang : UNDIP
Siti, Hanifah. dkk.2012. Fisika Lingkungan. Semarang : UNNES
Sugiharto, (1987), Dasar-dasar Pengolahan Air Limbah, Universitas Indonesia
(Ul Press), Jakarta.
Widodo. 2004, Batik Seni Tradisiona. PT. Penebar Swadaya : Yogyakarta
P3M STAIN Pekalongan : p3m.stain-pekalongan.ac.id. di akses pada tanggal 22
April 2014