Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada perusahaan manufaktur terdapat perbedaan dengan perusahaan dagang,
perbedaan itu muncul karena terdapat perbedaan dalam sifat operasinya. Ciri
pokok operasi perusahaan dagang adalah menjual barang dagangan tanpa
mengolah lebih dahulu barang dagang yang dibelinya. Dengan kata lain,
perusahaan dagang tidak melakukan proses produksi, sehingga barang yang dibeli
langsung dapat di jual. Dengan demikian penentuan harga pokok barang yang
dibeli maupun dijual dalam perusahaan dagang relatif lebuh mudah.
Operasi perusahaan manufaktur tidak sesederhana perusahaan dagang, karena
perusahaan manufaktur membuat sendiri barang yang akan dijualnya. Dalam
perusahaan manufaktur, penentuan harga pokok barang yang diproduksi dan harga
pokok penjualan harus melalui beberapa tahapan yang lebih rumit. Perusahaan
manufaktur harus menggagbungkan harga bahan yang dipakai, dengan biaya
tenaga kerja dan biaya produksi lain untuk dapat menentukan harga pokok barang
yang siap untuk dijual.
Didalam perusahaan manufaktur juga terdapat jurnal penutup. Jurnal Penutup
yang dimaksud adalah ayat jurnal yang dibuat pada akhir periode akuntansi untuk
menutup rekening-rekening nominal/sementara. Akibat penutupan ini maka
rekeningrekening ini pada awal periode akuntansi saldonya nol.

1.2 Rumusan Masalah


Berdaasarkan latar belakang tersebut, masalah-masalah yang di bahas dapat
dirumuskan sebagai berikut.
1. Bagaimana membuat laporan keuangan perusahaan manufactur ?
2. Apa fungsi jurnal penutup ?

1.3 Tujuan Masalah


Adapun tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah
sebagai berikut.
1. Untuk

mengetahui

cara

membuat

manufactur.
2. Untuk mengetahui fungsi jurnal penutup.

laporan

keuangan

perusahaan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

LAPORAN KEUANGAN
Laporan keuangan perusahaan manufaktur hampir sama dengan laporan

keuangan perusahaan dagang. Perbedaannya terletak pada bagian Aktiva Lancar


di Neraca dan Harga Pokok Penjualan di Laporan Rugi-Laba.
2.1.1

Neraca

Perbandingan Neraca Perusahaan Dagang dan Perusahaan Manufactur :


Perusahaan Dagang

Perusahaan Manufaktur

Neraca sebagian

Neraca sebagian

31 Desember 2005

31 Desember 2005

Aktiva Lancar:

Aktiva Lancar:

Kas

Rp 1.000

Piutang (bersih)
Persediaan Barang

13.000

Kas

Rp 1.200

Piutang (bersih)

9.000

Persediaan:

2.900

Barang Jadi

4.000

Dagangan
Sewa Dibayar di Muka

Rp
15.000

25.900

Barang

Dalam

18.000

Proses
Bahan Baku

9.000
42.000

Sewa Dibayar di

1.600

Muka
48.800

2.1.2

Laporan Laba Rugi

Perbandingan bagian Harga Pokok Penjualan di Laporan Rugi-Laba antara


Perusahaan Dagang dan Perusahaan Manufactur :
Perusahaan Dagang
Laporan Rugi-Laba sebagian
Periode Tahun 2005
Harga Pokok Penjualan:
Persediaan Barang Dagangan 1 Januari

Rp

10.000

(+) Pembelian Bersih ..

99.250

Barang Tersedia Untuk Dijual

Rp 109.250

(-) Persediaan Barang Dagangan 31 Desember


Harga Pokok Penjualan .

9.000
Rp 100.250

Perusahaan Manufaktur

Laporan Rugi-Laba sebagian


Periode Tahun 2005
Harga Pokok Penjualan:
Persediaan Barang Jadi 1 Januari .

Rp

12.000

(+) Harga Pokok Produksi (lihat skedul)

688.000

Barang Tersedia Untuk Dijual .

Rp 700.000

(-) Persediaan Barang Jadi 31 Desember .

15.000

Harga Pokok Penjualan

Rp 685.000

Komponen yang berbeda digambarkan secara skematis sbb :


Perusahaan Dagang:
Persediaan Barang + Pembelian - Persediaan Barang = Harga Pokok
Dagangan (Awal) Bersih

Dagangan (Akhir)

Penjualan

Perusahaan Manufaktur :
Persediaan Barang + Harga Pokok - Persediaan Barang = Harga Pokok
Jadi (Awal)

Produksi

Jadi (Akhir)

Penjualan

Pada perusahaan manufaktur diperlukan banyak rekening untuk menentukan


harga pokok produksi, tetapi dalam Laporan Rugi-Laba hanya disajikan totalnya
saja, sedangkan rinciannya disajikan dalam Laporan Harga Pokok Produksi.
2.1.3

Harga Pokok Produksi

Contoh Laporan Harga Pokok Produksi (merupakan lampiran Laporan Rugi-Laba


di atas) :
Skedul Harga Pokok Produksi
Tahun 2005

Persediaan Barang Dalam Proses 1 Januari ..


Ditambah:
Bahan Baku:

Rp 10.000

Persediaan 1 Januari..

Rp

Ditambah: Pembelian...
Tersedia Dipakai..

5.000
100.000

105.000

105

Dikurangi:Persediaan 31

9.000

Desember
Bahan Baku Dipakai ..

Rp 96.000

Biaya Tenaga Kerja Langsung ..

200.000

Biaya Overhead Pabrik:


Tenaga Kerja Tidak Langsung..
Listrik dan Air

Rp 50.000
140.000

Bahan Habis Pakai Pabrik.

30.000

Penyusutan Gedung Pabrik

120.000

Penyusutan Mesin...

60.000

Total Biaya Overhead Pabrik

400.000

Total Biaya Produksi tahun ini

696.000

Total Biaya Barang Dalam Proses

706.000

Dikurangi:
Persediaan Barang Dalam Proses 31 Desember ..
Harga Pokok Produksi

18.000
688.000

Biaya produksi atau Harga Pokok Produksi (Cost of Goods Manufactured)


merupakan kumpulan dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan
mengolah bahan baku sampai menjadi barang jadi.
Biaya-biaya tersebut terdiri dari :
Biaya Bahan Baku (BBB)
Biaya Tenaga Kerja Langsung (BTKL)
Biaya Overhead Pabrik (BOP)

a. Biaya Bahan Baku

Biaya Bahan Baku adalah harga perolehan (harga pokok) seluruh substansi
/ materi pokok yang terdapat pada barang jadi.

Bahan baku merupakan bagian Barang jadi yang dapat ditelusur


keberadaannya.

Bahan baku pada sebuah pabrik dapat berasal dari Barang jadi pabrik yang
lain.

b.

Biaya Tenaga Kerja Langsung

Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang memiliki kinerja langsung
terhadap proses pengolahan barang, baik menggunakan kemampuan
fisiknya maupun dengan bantuan mesin.

Tenaga kerja langsung memperoleh kontraprestasi yang dikategorikan


sebagai Biaya tenaga kerja langsung. Jadi, Biaya Tenaga Kerja Langsung
adalah semua kontraprestasi yang diberikan kepada tenaga kerja langsung.

c. Biaya Overhead Pabrik

Biaya Overhead Pabrik adalah biaya-biaya yang timbul dalam proses


pengolahan, yang tidak dapat digolongkan dalam biaya bahan baku dan
biaya tenaga kerja langsung.

Biaya-biaya yang termasuk dalam biaya overhead pabrik, a.l.:

Biaya tenaga kerja tidak langsung, seperti Upah pengawas,


mandor, mekanik, bagian reparasi, dll
Biaya bahan penolong, yaitu macam-macam bahan yang digunakan
dalam proses pengolahan, tetapi kuantitasnya sangat kecil dan
tidak dapat ditelusur keberadaannya pada barang jadi.
Biaya penyusutan gedung pabrik, Biaya penyusutan mesin, dll

d. Rekening-rekening khusus dalam perusahaan manufaktur


Rekening-rekening dalam buku besar sebuah perusahaan manufaktur, biasannya
lebih banyak bila dibandingkan dengan rekening buku besar sebuah perusahaan
dagang. Hal ini disebabkan oleh sifat operasi perusahaan manufaktur yang lebih
kompleks bila dibandingkan dengan perusahaan dagang. Namun demikian,
sebagian besar rekening yang terdapat dalam perusahaan dagang dijumpai juga
dalam perusahaan manufaktur, seperti rekening kas, piutang dagang, penjualaan
dan sebagainnya.
Beberapa rekening yang khusus dijumpai dalam perusahan manufaktur,antara
lain: perlengkapan pabrik,biaya pemakaian pelengkapan pabrik,persedian bahan
baku, pembelian bahan baku, persedian barang dalam proses,persedianaan barang
jadi,dan barang proses. Berikiut ini akan dijelaskan beberapa rekening yang biasa
dijumpai dalam perusahaan manufaktur.
Rekening Pembelian Bahan Baku
Apa bila perusahaan mengunakan sistem akuntasi umum (sistem persediaan
periodic). Untuk kegiatan manufaktur,makan semua bahan langsung dicatat
dengan mendebet rekening pembelian bahan baku.apa bila perusahaan
mengunakan sistem vocher, maka dalam vocher register bias disediakan kolom
khusus untuk pendebetan kedalam rekening pembelian bahan baku ini.hal yang
sama juga bias dilakukan bila perusahaan menggunakan jurnal khusus dengan
cara ini, maka kita cukup membukukan sekali dalam sebulan dari total kolom
khusus yang terdapat dalam vocher registeratau jurnal khusus.

Rekening Ikhtisar Biaya Produksi


Dalam perusahaan manufaktur biasa nya digunakan satu buah rekening untuk
menampung pembebanan semua biaya produksi, baik biaya produksi langsung
maupun tidak lansung. Rekening ini didebet dengan biaya pemakaian bahan baku
(kredit: rekening pembelian bahan baku), biaya tenagan kerja (kredit : rekening
biaya tenaga kerja), dan biaya overhead pabrik (kredit: rekening overhead pabrik).
pada akhir tahun, melalui jurnal penutup rekening ini dikerdit dengan persedian
akhir bahan baku, persedian akhir barang dalam proses, dan sisanya dipindahkan
kerekening rugi-laba. jumlal yang dipindahkan ke rekening rugi-laba ini
mencerminkan harga pokok barang yang selesai diproduksi pada priode yang
bersangkutan.
Rekening Persedian Bahan Baku
Apabila perusahaan mengunakan sistem akuntasi umum, maka persedian bahan
baku yang ada dalam persediaan (yang ada digudang) harus ditentukan dengan
cara melakukan perhitungan fisik atas persediaan. Jumlah persediaan yang
ditentukan melalui perhitungan fisik tersebut, kemudian melelui jurnal penutup
dicatat didalam rekening persediaan bahan baku.jumlah saldo pada akhir priode
yang Nampak dalam rekening ini, akan menjadi saldo awal untuk priode
berikutnya.
Rekening Persediaan Barang Dalam Proses
Setiap perusahaan manufaktur biasanya mempunyai sejumlah barang yang masih
berada dalam proses pengerjaan. barang-barang yang masih dalam keadaan belum
selesai dikerjakan yang ada pada akhir priode disebut persedian barang dalam
proses.apa bila perusahaan mengunakan sistem akuntasi umum, maka penentuaan
jumlah barang dalam proses priode dilakukan melalui perhitungan fisik.
selanjutnya dengan jurnal penutup jumlah persediaan akhir barang proses tersebut
dipindahkan kerekening persediaan barang dalam proses.
Rekening Persediaan Barang Jadi.

Persediaan barang jadi dalam sebuah perusahan manufaktur hampir sama dengan
persediaan barang dagangan dalam sebuah perusahaan dagang : keduannya
merupakan barang yang sudah siap dijual.perbedaannya ialah bahwa persediaan
barang dagangan diperoleh melalui pembelian, sedangkan persediaan barang jadi
diperoleh melelui proses prodiksi
Apabila perusahaan mengunakan sistem akuntasi umum,maka penentuan
persediaan akhir barang jadi dilakukan melalui perhitingan fisik barang jadi pada
akhir tahun. Selanjutnya melalui jurnal penutup, hasil perhitungan tesebut dicatat
dengan mendebet rekening persediaan barang jadi dan mengkredit rekening rugilaba.seperti halnya rekening persediaan yang lain,rekening persedianaan barang
jadi akan menjadi catatan persediaan barang jadi yang ada pada akhir suatu
priode, dan menjadi persediaan awal untuk priode berikutnya.
Ketiga rekening persediaan yang telah diuraikan diatas,yakni persediaan bahan
baku,persediaan barang dalam proses,dan persediaan barang jadi dilaporkan di
neraca

pada kelompok aktiva lancer.rekening perlengkapan pabrik juga

merupakan suatu rekening aktiva yang digolongkan sebagai aktiva lancer.


Siklus Akuntansi

Siklus akuntansi perusahaan manufaktur sama dengan siklus akuntansi


perusahaan dagang.

Akuntansi perusahaan manufaktur dengan sistem fisik :


1. Rekening Persediaan Bahan Baku hanya digunakan untuk mencatat
nilai bahan baku yang masih tersisa, baik di awal maupun akhir
periode.

Transaksi pembelian Bahan baku tidak dicatat ke rekening Persediaan Bahan


Baku, tetapi dicatat ke rekening Pembelian Bahan Baku, seperti terlihat pada
jurnal berikut :
Mei 17

Pembelian Bahan Baku


Kas / Utang Dagang

Rp 100.000
Rp 100.000

2. Rekening Persediaan Barang Dalam Proses hanya digunakan untuk


mencatat nilai barang yang masih dalam proses, baik di awal maupun
akhir periode.
3. Rekening Persediaan Barang Jadi hanya digunakan untuk mencatat
nilai barang jadi pada awal dan akhir periode.

Jurnal penyesuaian untuk perusahaan manufaktur sama dengan jurnal


penyesuaian untuk perusahaan dagang.

Neraca Lajur untuk perusahaan manufaktur pada prinsipnya sama dengan


neraca lajur untuk perusahaan dagang, tetapi ditambahkan kolom untuk
skedul harga pokok produksi.

Contoh Neraca Lajur Sebagian:


Perusahaan Manufaktur

Neraca Lajur sebagian


Periode tahun 2005
Nama

NSSD

Rekening
Debit
Persediaan

Kredit

Harga Pokok

Laporan Rugi-

Poduksi

Laba

Debit

Kredit

12.000

Neraca

Debit

Kredit

Debit

12.000

15.000

15.000

Barang
Jadi
Persed.

10.000

10.000

18.000

18.000

5.000

5.000

9.000

9.000

100.000

100.000

Barang
Dlm.
Proses
Persediaan
Bahan
Baku
Pembelian
Bahan

Kredit

Baku
Biaya

200.000

200.000

50.000

50.000

140.000

140.000

30.000

30.000

120.000

120.000

60.000

60.000

Tenaga
Kerja
Lgsg.
Biaya
Tenaga
Kerja Tak
Lgsg.
Biaya
Listrik
dan Air
Biaya
Bahan
Habis
Pakai
Biaya
Penyst.
Gedung
Pabrik
Biaya
Penyst.
Mesin
Biaya

40.000

40.000

Pemasaran
Penjualan

1.500.000
. ..

Harga
Pokok
Produksi

1.500.000
715.000

27.000
688.000

715.000 715.000
2.2

JURNAL PENUTUP

Jurnal penutup untuk perusahaan manufaktur berbeda dengan perusahaan dagang.


Dalam perusahaan manufaktur, rekening Harga Pokok Produksi digunakan untuk
menutup semua rekening yang akan dilaporkan di Skedul Harga Pokok Produksi.
Saldo rekening ini kemudian ditransfer ke rekening Ikhtisar Rugi-Laba.
Contoh :
Des.

31 Harga Pokok Produksi

Rp

Persediaan Barang Dalam

715.000
Rp

10.000

Proses
5.000
Persediaan Bahan Baku
100.000
Pembelian Bahan Baku
200.000
Biaya

Tenaga

Kerja

Langsung
Biaya Tenaga Kerja Tak
Langsung
Biaya Listrik dan Air
Biaya Bahan Habis Pakai
Biaya Penyusutan Gedung
Pabrik
Biaya Penyusutan Mesin
(untuk menutup rekeningrekening Persediaan Bahan

50.000
140.000
30.000
120.000
60.000

Baku awal, Barang Dalam


Proses awal, dan rekeningrekening Biaya produksi)

31 Persediaan

Barang

Dalam Rp

18.000

Proses
9.000
Persediaan Bahan Baku
Rp

27.000

Harga Pokok Produksi


(untuk

mencatat

persediaan

akhir barang dalam proses dan


bahan baku)

31 Persediaan Barang Jadi

Rp

Penjualan

15.000
1.500.000

Ikhtisar Rugi-Laba
(untuk

mencatat

Rp 1.515.000

persediaan

akhir barang jadi dan menutup


rekening penjualan)

31 Ikhtisar Rugi-Laba

Rp 700.000

Persediaan Barang Jadi


Harga Pokok Produksi
(untuk

menutup

rekening

Rp

12.000
688.000

persediaan awal barang jadi


dan harga pokok produksi)

31 Ikhtisar Rugi-Laba

Rp

40.000

Biaya Pemasaran
(untuk

menutup

Rp

40.000

biaya

pemasaran)

Contoh soal:
PT. Ressi Nata per 31 Desenber 2011 (setelah penyesuaian), (dalam ribuan)
Biaya advertensi.............................................................................

Rp 85.000

Amortisasi hak paten.....................................................................

Rp 16.000

Kerugian piutang............................................................................

Rp 28.000

Depresiasi mesin pabrik.................................................................

Rp 78.000

Depresiasi gedung pabrik...............................................................

Rp 133.000

Depresiasi perlatan kantor.............................................................

Rp 37.000

Tenaga kerja langsung...................................................................

Rp 250.000

Asuransi pabrik..............................................................................

Rp 62.000

Perlengkapan pabrik......................................................................

Rp 115.000

Reparasi dan pemeliharaan mesin.................................................

Rp 31.000

Pengawasan produksi...................................................................

Rp. 74.000

Biaya perlengkapan pabrik...........................................................

Rp 21.000

Pajak bumi dan bangunan pabrik.................................................

Rp 14.000

Persediaan barang jadi, 31 desenber 2011...................................

Rp 12.500

Persediaan barang jadi, 31 desenber 2010...................................

Rp 15.000

Persediaan barang dalam proses, 31 desenber 2011....................

Rp 9.000

Persediaan barang dalam proses, 31 desenber 2010.....................

Rp 8.000

Pajak penghasilan ........................................................................

Rp. 53.400

Tenaga kerja tag langsung...........................................................

Rp. 26.000

Biaya asuransi..............................................................................

Rp 55.000

Biaya bunga.................................................................................

Rp 25.000

Persediaan bahan baku 31 desenber 2011.................................

Rp 78.000

Persediaan bahan baku 31 desenber 2010..................................

Rp 60.000

Pembelian bahan baku...............................................................

Rp 313.000

Gaji pegawai..............................................................................

Rp 150.000

Penjualan....................................................................................

Rp 1.630.000

PT. RESSI NATA


LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI
31 DESEMBER 2011
Bahan langsung:
Persediaan bahan baku, 31 des 2010.........Rp 60.000
Pembelian bahan baku.............................Rp 313.000
Bahan baku tersedia digunakan...............Rp 373.000
Persediaan bahan baku, 31 des 2011.........Rp 78.000
Pemakaian bahan langsung..................................................Rp 295.000
Tenaga kerja langsung............................................................Rp 250.000
BOP........................................................................................Rp 570.000
jumlah biaya produksi..........................................................Rp 1.115000
barang dalam proses 31 desember 2010.....................................Rp 8.000
jumlah barang dalam proses................................................Rp 1.123.000
jumlah balam proses 31 desember 2011.....................................Rp 9.000
harga pokok produksi..........................................................Rp 1.114.000

PT. RESSI NATA


LAPORAN RUGI LABA
31 DESEMBER 2011
Penjualan..........................................................................................Rp 1.630.000
Harga pokok penjualan :
Persediaan barang jadi 31 desember 2010................Rp 15.000
Harga pokok produksi..........................................Rp 1.114.000
Tersedia di jual.....................................................Rp 1.129.000
Persediaan barang jadi 31 desember 2011................Rp 12.500
Harga pokok penjualan.................................................................Rp 1.116.500
Laba kotor...........................................................................................Rp 513.500
Biaya operasi :
Biaya advertensi........................................................Rp 85.000
Kerugian piutang.......................................................Rp 28.000
Depresiasi peralatan kantor.......................................Rp 37.000
Biaya asuransi...........................................................Rp 55.000
Biaya bunga..............................................................Rp 25.000
Biaya gaji................................................................Rp 150.000
Jumlah biaya operasi......................................................................Rp 380.000
laba sebelum pajak............................................................................Rp 133.500
pajak penghasilan................................................................................Rp 43.400
laba bersih...........................................................................................Rp 80.100

(Dalam Ribuan)
2.3

Laporan Bursa Efek Indonesia.

Pada dasarnya, Bursa Efek Indonesia Indonesia Stock Exchange (IDX)


merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa
diperjual belikan, baik dalam bentuk utang ataupun modal sendiri. Instrumeninstrumen keuangan yang diperjual belikan di BEI seperti saham, obligasi, waran,
right, obligasi konvertibel, dan berbagai produk turunan (derivatif) seperti opsi
(put atau call). Di dalam Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995,
pengertian BEI atau pasar modal dijelaskan lebih spesifik sebagai kegiatan yang
bersangkutan dengan Penawaran Umum dan Perdagangan Efek, perusahaan
publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi
yang berkaitan dengan Efek.

BEI memberikan peran besar bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal
memberikan dua fungsi sekaligus, fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar
modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena pasar modal menyediakan
fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan yaitu pihak yang
memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer).
Dengan adanya pasar modal maka perusahaan publik dapat memperoleh dana
segar masyarakat melalui penjualan Efek saham melalui prosedur IPO atau efek
utang (obligasi).
BEI dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena BEI memberikan kemungkinan
dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana, sesuai dengan
karakteristik investasi yang dipilih. Jadi diharapkan dengan adanya pasar modal
aktivitas perekonomian menjadi meningkat karena pasar modal merupakan
alternatif pendanaan bagi perusahaan-perusahaan untuk dapat meningkatkan
pendapatan perusahaan dan pada akhirnya memberikan kemakmuran bagi
masyarakat yang lebih luas.
Struktur Pasar Modal Indonesia telah diatur oleh UU No. 8 Tahun 1995 tentang
pasar Modal

Listing Laporan Keuangan di BEI :

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
-

Perusahaan manuifaktur adalah perusahaan yang meproduksi barang dari


bahan baku, bahan setengah jadi sampai dengan barang jadi yang siap
untuk dijual.

Setiap perusahaan manufaktur harus menghitung HPP (Harga Pokok


Penjualan) dengan cara BBB+BTKL+BOP.

Setiap data laporan keungan perusahaan manufaktur harus valid, akurat,


dapat dipercaya dan ada buktinya.

Lingkup penelitian dilakukan keuangan tahun 2004-2006, dimana


sampling atau responden yang diteliti adalah auditor pada masing-masing
Perusahaan.

Variabel variabel konsistensi penyajian laporan keuangan yang terdiri


dari observasi outlier (
akuntansi (

), penggunaan metode akuntansi (

) dan catatan

) secara simultan dan persial berpengaruh signifikan terhadap

opini auditor unqualified opinion pada perusahaan yang terdaftar di BEI.

3.2 Saran
-

Proses penyelesaian makalah harus diselesaikan tepat waktu dan akurat,


untuk itu agar penulis betul-betul lebih meiliki rasa tanggungjawab yang
besar agar data tersebut dapat terselesaikan dengan baik.

Sebaiknya dalam suatu penyusunan makalah harus benar-benar jelas dan


tidak membingungkan agar pembaca dapat mengerti apa yang dituliskan
oleh penulis.

Opini auditor perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sangat


dipengaruhi oleh variabel konsistensi penyajian laporan keuangan
sehingga pimpinan atau manajemen perusahaan yang terdaftar di BEI
hendaknya memberikan perhatian terhadap variabel tersebut afar terbentuk
opini auditor unqualified opinion. Terutama untuk observasi outlier karena

terbukti memberikan pengaruh dominan terhadap pembentukan opini


auditor unqualified opinion tersebut.
-

Pimpinan hendaknya mampu memberikan apresiasi pada auditor


perusahaan sehingga audit yang dihasilkan bersifat obyektif.

DAFTAR PUSTAKA

http://haryonounikarta-akuntansibiaya.blogspot.com/

https://www.google.com/search?client=opera&rls=en&q=struktur+makala
h&sourceid=opera&ie=utf-8&oe=utf-8

http://haryonounikarta-akuntansibiaya.blogspot.com/

http://id.wikipedia.org/wiki/Manufaktur

Anda mungkin juga menyukai