Anda di halaman 1dari 62

LAPORAN PRAKTEK INDUSTRI

PENGENDALIAN PLC MODICON 984


PADA PROSES PASTEURISASI DAN HOMOGENISER
DI PT.SARI HUSADA

Disusun oleh:
NUNING AFRIYANTI
05506131007

PROGRAM STRUDI TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2008

ii

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadiran Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan
Praktek Industri di PT. SARI HUSADA serta atas karunia-Nya jualah penulis dapat
menyelesaikan penyusunan laporan Praktek Industri.
Pelaksanaan Praktek Industri merupakan bagian dari mata kuliah yang wajib
untuk ditempuh oleh setiap mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas
Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Praktek Industri ini bertujuan untuk
memperkenalkan serta dapat memberikan pengalaman kepada mahasiswa tentang
situasi dunia kerja di Industri yang mungkin tidak diperoleh selama mengikuti kulaih.
Dalam pelaksanaan Praktek Industri beserta penyusunan Laporan Praktek
Industri ini penulis tidak terlepas dari pihak-pihak yang telah banyak membantu.
Maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak Sakuntala Harry, selaku General Affair Manager PT.SARI
HUSADA Yogyakarta.
2. Bapak Darmawan Wahyu Prabawa, selaku Maint Manager SH01.
3. Bapak Hanung Aris Dwiantoro, selaku Maintenance Planner Staff
4. Bapak Nur Arif Budiyono, selaku Automasi Engineer sekaligus
Pembimbing Industri.
5. Bapak Prof. Dr. H. Sugiyono, selaku Dekan Fakultas Teknik UNY.
6. Bapak Drs. H. Pradoto, MT, selaku Koordinator Praktek Industri Fakultas
Teknik UNY.
7. Bapak Muhamad Ali, MT, selaku Koordinator Praktek Industri Jurusan
Teknik Elektro Fakultas Teknik UNY.
8. Bapak Yuwono Indro Hatmojo,S.Pd , selaku Dosen Pembimbing.
9. Bapak Khafid, Bapak Temu, Bapak Pri, Bapak Maman, Bapak Anthoni
serta karyawan dan teknisi PT. Sari Husada Yogyakarta yang telah
memberikan pengarahan serta data sebagai penunjang dalam penyusunan
Laporan Praktik Industri.
10. Mbak Eni yang telah membantu dalam pelaksanaan Praktik Industri.

iii

11. Kedua orang tua serta adik-adik penulis yang telah memberikan motivasi
dan selalu mendoakan penulis selama Praktek Industri.
12. Rekan mahasiswa dan semua pihak yang telah mendukung, membantu
penulis dalam menyelesaikan Laporan Praktik Industri.

Dalam menyelesaikan laporan ini, penulis menyadari terdapat kekurangan.


Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk
lebih menyempurnakan laporan ini. Penulis mengucapkan terima kasih dan mohon
maaf apabila terdapat kesalahan dalam penyusunan laporan ini semoga laporan ini
dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya mahasiswa Teknik Elektro.

Yogyakarta, Maret 2008

Penulis

iv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..

HALAMAN PENGESAHAN

ii

KATA PENGANTAR ...

iii

DAFTAR ISI ..

DAFTAR GAMBAR .

vii

BAB I.

BAB II.

BAB III.

PENDAHULUAN .. 1
A.

Latar Belakang ...

B.

Batasan Masalah 2

C.

Tujuan Praktik Industri ... ..

D.

Manfaat Praktek Industri.

PROFIL PERUSAHAAN..

A.

Visi, Misi, dan Budaya Perusahaan. 4

B.

Sejarah Perusahaan . 5

C.

Lokasi Perusahaan .. 6

D.

Struktur Organisasi PT. Sari Husada .. 6

E.

Jam Kerja, Fasilitas dan Jaminan Sosial.

F.

Pemasaran ..

G.

Proses Produksi...

10

PENGENDALIAN PLC MODICON 984 PADA PROSES 20


PASTEURISASI DAN HOMOGENISER
A.

Pengenalan PLC .

B.

Arsitektur PLC Modicon 984.. 22

C.

Pemrograman PLC Modicon 984.... 31

D.

Pembahasan 35

20

BAB V.

KESIMPULAN DAN SARAN .

46

A.

Kesimpulan . 46

B.

Saran ... 46

DAFTAR PUSTAKA .
LAMPIRAN

vi

48

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Blok Diagram Sistem Pengendalian Proses ...

20

Gambar 2. Sistem Pengendalian Akhir

22

Gambar 3. Arsitektur PLC Modicon 984...................................................... 23


Gambar 4. Diagram Controller 984..............................................................

24

Gambar 5a. Modul Input dengan Wiring ......................................................

26

Gambar 5b. Modul Register Input dengan Wiring .......................................

27

Gambar 5c. Modul Analog Input dengan Wiring .........................................

28

Gambar 6a. Modul Discrete Output dengan Wiring untuk Supply ............... 29
Gambar 6b. Modul Register Output dengan Wiring untuk LED Display ....

30

Gambar 7.

32

Contoh Diagram Ladder PLC Modicon 984..

Gambar 8. Arsitektur PLC Modicon 984 ..................................................... 32


Gambar 9. Contoh Counter Up PLC Modicon 984 .

33

Gambar 10. Contoh Convert PLC Modicon 984 .

34

Gambar 11. Mekanisme Proses Pasteurisasi Kontinyu Menggunakan Suhu

35

Tinggi Waktu Cepat .........


Gambar 12. Diagram Alir Proses Pasteurisasi 1 .......

37

Gambar 13. Diagram Alir Proses Pasteurisasi 2 ...........

39

Gambar 14. Penampang Dalam dari Blok Silinder.... 42


Gambar 15. Proses Homogenisasi Dua Tahap dengan Tiga Pompa Piston... 43

vii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Praktek Industri (PI) yaitu praktek kerja di industri merupakan program
kulikuler yang wajib ditempuh oleh seluruh mahasiswa di Fakulatas Teknik
UNY. Praktek

Industri mempunyai bobot kredit 3 SKS (Satuan Kredit

Semester), yang setara dengan kegiatan efektif selama 256 jam atau sekitar 43
hari untuk waktu kerja 6 jam sehari. Kegiatan PI merupakan suatu bentuk
implementasi dari kegiatan perkuliahan yang selama ini sudah dilakukan, baik
kuliah teori maupun praktek untuk dikembangkan dan disinkronkan dalam
dunia industri sehingga dengan praktek industri mahasiswa akan memperoleh
pengetahuan praktis di lapangan tidak hanya mengetahui secara teori tetapi
juga mengetahui bentuk kongkritnya.
PT.SARI HUSADA merupakan perusahaan yang relevan sebagai tempat
praktek industri mahasiswa teknik elektro. Di samping itu, PT.SARI
HUSADA merupakan perusahaan (instansi) bonafit, sehingga mahasiswa
praktikan dapat membawa pengalaman, wawasan ilmu dan teknologi dalam
praktek industrinya ke dalam tugasnya setelah lulus.
Manfaat yang diperoleh apabila kegiatan praktek industri dapat
berlangsung di PT.SARI HUSADA adalah mahasiswa dapat menimba
pengalaman secara nyata dalam praktek lapangan dan menambah ilmu
pengetahuan yang belum atau tidak mungkin didapatkan di kampus. Oleh
karena itu, PT.SARI HUSADA dianggap memiliki keterkaitan yang erat
dengan jurusan yang ditempuh oleh pemohon sekarang ini yaitu Jurusan
Teknik Elektro. Dengan pertimbangan itulah maka PT.SARI HUSADA
dijadikan alternatif pilihan dalam melaksanakan Praktik Industri.
Diadakannya praktik industri, diharapkan mahasiswa dapat mengetahui
perkembangan teknologi industri dan relevansinya dengan Program Studi
Teknik Elektro.

2
B. Batasan Masalah
Laporan praktek industri ini akan membahas mengenai :
1. Proses Produksi di PT.SARI HUSADA
2. Pengendalian

PLC

Modicon

984

pada

proses

Pasteurisasi

dan

Homogeniser di PT.SARI HUSADA

C. Tujuan Praktek Industri


Tujuan ini berkaitan dengan keahlian atau spesifikasi yang dimiliki oleh
mahasiswa, dalam hal ini adalah kendali industri. Tujuan tersebut antara lain :
1. Mahasiswa dapat memperoleh satu kasus mengenai system produksi atau
distribusi pada waktu menjalankan Praktik Industri dan menganalisa
secara mendalam tetang hasil praktik industri yang dicurahkan pada
laporan Praktik industri, dan kasus itu dapat diangkat mejadi proyek tugas
akhir.
2. Mahasiwa dapat menjalankan tugas tugas dan kegiatan di PT.SARI
HUSADA, terutama yang berkaitan dengan system otomasi .
3. Mahasiswa dapat mejelaskan tentang manajemen industri dan Syarat
kompetensi yang dikuasai untuk menjadi tenaga kerja yang telah
dipersyaratkan di PT.SARI HUSADA

D. Manfaat Praktek Industri


Pelaksanaan program Praktek Industri, ada beberapa manfaat yang
diperoleh, antara lain :
1. Manfaat Bagi Mahasiswa
a. Memperoleh

pengetahuan,

pengalaman

dan

gambaran

yang

sesungguhnya tenteng dunia kerja.


b. Mengetahui perkembangan teknologi yang ada di PT.SARI HUSADA

3
2. Manfaat Bagi Universitas Negeri Yogyakarta
a. Mendapat umpan balik yang berguna untuk meningkatkan perkuliahan
dan pengembangan kurikulum dalam rangka mengembangkan ilmu
yang ada diperguruan tinggi sehingga pendidikan dan pengajaran yang
dilaksanakan dapat disesuaikan dengan kamajuan teknologi di Indutri.
b. Memperluas dan mempererat kerja sama antara Unversitas Negeri
Yogyakarta dengan perusahaan / industri.
3. Manfaat Bagi Perusahaan
a. Memperluas kerja sama yang merupakan wujud nyata perusahaan
untuk ikut berperan serta dalam bidang pendidikan dan peningkatan
kualitas Sumber Daya Manusia.
b. Dapat menjadi bahan masukan yang mungkin dapat berguna bagi
pengembangan perusahaan.

BAB II
PROFIL PERUSAHAAN

A. Visi, Misi, Dan Budaya Perusahaan


1. Visi

Menjadi pemimpin pasar produksi nutrisi bergizi untuk bayi dan anak
Indonesia.

2. Misi

Turut serta membangun kesehatan dan kecerdasan bayi dan anak di


Indonesia dengan menyediakan produk nutrisi yang terpercaya dan
terjangkau.

Menghasilkan pertumbuhan perusahhan yang berkesinambungan


melalui system management berkulitas tinggi dan pendekatan inovatif
dalam budaya integritas tinggi.

Mengutamakan kepuasan seluruh Stakeholder.

3. Budaya Perusahaan

Trust : Saling menaruh kepercayaan antara management dan karyawan


sehingga dapat menjalakankan fungsinya masing-masing secara
optimal.

Transparency : Management terbuka dalam setiap kebijakannya,


sehingga karyawan pun bekerja dengan bersih, jujur dan tidak
mengutamakan kepentingan pribadi. Tujuan yang akan dicapai ingin
mewujudkan Good Corporate Governance.

Team Work : Management dan karyawan bekerja sama untuk


mewujudkan visi dan misi perusahaan.

B. Sejarah Perusahaan
Berawal dari program kecukupan gizi dan swasembada protein,
Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) dibidang pendidikan dan anak-anak atau UNICEF pada tahun 1954
berdirilah N.V.Saridele. N.V.Saridele sempat dikelola Bank Pembangunan
Indonesia, yang kemudian diserahkan kepada BPU Farmasi Negara (sekarang
PT. Kimia Farma), sehingga nama perusahaan berubah menjadi PN. Sari
Husada. Kemudian, Mei 1972, nama perusahaan berubah menjadi PT.Sari
Husada sebagai sebuah Joint venture antara PT.Kimia Farma dan PT.Tiga
Raksa.
Pada 5 Agustus 1983, SH go public, yakni berubah dari perusahaan
tertutup menjadi perusahaan public atau perusahaan terbuka. Karena itu,
dibelakang nama SH dicantumkan kata terbuka atau singkatan dari Tbk.
Dengan menjadi perusahaan terbuka, saham SH dapat dimiliki siapa saja,baik
melalui proses jual-beli dipasar saham maupun tidak.
Ketika SH menjadi perusahaan terbuka itulah, pada 1998 Royal Numico
NV melalui anak perusahaannya, Nutricia International BV, menjadi
pemegang saham mayoritas SH. Kemudian pada Agustus 2005, Numico
menambah kepemilikan sahamnya dengan membeli saham milik pendiri SH
(Johnny Wijaya dan Keluarga Widjaja).
Pada 19 September 2006, SH mengirimkan surat kepada Badan Pengawas
Pasar Modal (Bapepam), Bursa Efek Jakarta (BEJ), dan Bursa Efek Surabaya
(BES) atas rencana SH untuk mengubah statusnya dari perusahaan public
menjadi perusahaan tertutup. Kepada BEJ dan BES, SH pun mengemukakan
rencana keluar dari lantai bursa (delisting). Proses kembali menjadi
perusahaan tertutup ini dikenal sebagai go private.
20 September 2006, niat tersebut langsung ditanggapi pemangku otoritas
bursa dengan menghentikan transaksi (suspensi) saham SH sejak perdagangan
saham pukul 09.30 WIB

C. Lokasi Perusahaan
1. Kantor Pusat dan Pabrik unit I
Sesuai sejarah perusahaan Kantor Pusat dan Administrasi, serta
Pabrik I yang terletak di kelurahan Muja Muju Yogyakarta yang tepatnya
di jalan Kusumanegara No. 173 Yogyakarta.
2. Pabrik Unit II
Pabrik II PT.Sari Husada adalah sebuah pabrik susu yang lengkap dan
cukup luas yang terletak di Desa Kemudo Kecamatan Prambanan, lebih
tepatnya di jalan Raya Yogya Solo Km.19 Desa Kemudo, Prambanan
Klaten. PT.Sari Husada telah merencanakan secara lengkap seluruh
kegiatan produksi dan proses produksi, finishing, packing, IPAL, gudang
dan sarana bahan baku serta gudang barang / Poduk jadi.

D. Struktur Organisasi PT. SARI HUSADA


Struktur organisasi yang dipakai oleh PT. Sari Husada adalah garis dan
staf, dimana setiap bawahan hanya bisa mendapatkan perintah dari satu atasan
saja dari manajer atau pimpinan, bagian lain tidak memberikan perintah
kepada bagian lain meskipun kedudukannya masih dibawah manajer tersebut.
Staf terdiri dari ahli non struktural, berfungsi sebagai penasehat sesuai dengan
bidang keahliannya yang terdiri dari :
1. Penasehat tentang mesin-mesin
2. Penasehat tentang kontrol dan mesin produksi
3. Penasehat tentang pembukuan
4. Penasehat tentang keselamatan kerja
5. Penasehat tentang hukum

Adapun status kepegawaian di PT. Sari Husada adalah sebagai berikut :


1. Karyawan Tetap
Merupakan karyawan bukan direksi yang bekerja Full Time untuk
jangka waktu 55 tahun serta menerima upah bulanan dan terdaftar dalam
formasi karyawan pada manajemen umum.

2. Karyawan Pihak ke-3 (PT.DPK)


Yaitu karyawan yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja dengan
pihak ke-3 yaitu bekerja di lingkup PT.Sari Husada.
3. MT (Management Training)
Belum

karyawan,

akan

tetapi

dibekali

dengan

kemampuan

management dan skills untuk bekal menjadi karyawan tetap PT. Sari
Husada Yogyakarta.

E. Jam Kerja, Fasilitas, Dan Jaminan Sosial


Untuk jam kerja yang wajib dijalani oleh karyawan PT. Sari Husada
selama satu hari kerja adalah delapan jam, sehingga jam kerja wajib dalam
satu minggu adalah empat puluh jam, karena PT. Sari Husada menerapkan
sistem lima hari kerja yaitu dari hari Senin sampai dengan hari Jumat
sedangkan hari Sabtu dan hari Minggu libur. Bagi karyawan yang karena
suatu hal diharuskan bekerja pada hari Sabtu dan Minggu, maka dihitung
sebagai kerja lembur. Adapun jam dinas karyawan diatur menjadi dua
bagian, yaitu :
1. Bagi Karyawan Produksi, Quality Asurance (QA), Satpam dan Penjaga
mesin pembangkit tenaga jam dinasnya diatur secara beregu dan sistem
Shift yaitu sebagai berikut :
a. Shift pagi

: 07.00 15.30 WIB

b. Shift siang

: 14.30 23.30 WIB

c. Shift malam

: 22.30 07.30 WIB

2. bagi karyawan lainnya jam dinasnya dimulai pada pukul 08.00 WIB
sampai pukul 16.30 WIB.

Fasilitas dan jaminan sosial yang diberikan PT. Sari Husada bertujuan
untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan. Adapun fasilitas dan jaminan
sosial yang diberikan adalah sebagai berikut :
1. Perumahan
2. Kendaraan

3. Kesehatan
4. Kesejahteraan
Kesejahteraan yang diberikan perusahaan kepada karyawan meliputi :
a. Untuk pakaian setiap tahun dua stel.
b. Untuk karyawan lapangan :
1). Mendapatkan inventaris.
2). Mendapatkan alat perlindungan kerja.
c. Uang kesehatan.
d. Bantuan sosial, pernikahan, kelahiran dan kematian.
e. Pemberian 2 kg susu untuk karyawan tetap dan 1 kg susu untuk
karyawan tidak tetap setiap bulannya.
f. Tunjangan hari raya.
g. Tunjangan hari tua yang dapat berupa pesangon, uang pensiun
dan perumahan.
h. Pemberian penghargaan untuk karyawan yang berprestasi.
i. Pembentukan koperasi karyawan yang bertujuan untuk membantu
memenuhi kebutuhan karyawan.
j. Disediakan makanan dan minuman sesuai dengan jam kerja. Untuk
shift pagi pada pukul 11.00 13.30 WIB dan shift malam diberikan
uang makan.
k. Karyawan tetap yang telah bekerja setahun mendapatkan cuti tahunan
selama 12 hari dan untuk masa kerja 6 tahun mandapat cuti panjang
selama 1 tahun.
l. Asuransi yang terdiri dari Jamsostek (2% dari gaji), kecelakaan
(0,89% ditanggung oleh perusahaan), kematian (0,3% ditanggung oleh
perusahaan) dan tunjangan hari tua (3,7% ditanggung oleh
perusahaan).

F. Pemasaran
Usaha penyaluran investasi yang cukup besar dan spesialisasi pemasaran
yang lebih memadai, maka PT. Sari Husada menggunakan sistem distribusi
tunggal. Berdasarkan perjanjian pada tanggal 01 Juli 1979 PT. Sari Husada
memberikan kepercayaan distribusi tunggal dan pemasaran produksinya
kepada PT. Tiga Raksa. PT. Tiga Raksa membagi beberapa daerah
pemasarannya sebagai berikut :
1. PT. Tiga Raksa yang berkedudukan di Jakarta, daerah pemasarannya
meliputi

DKI

Jakarta,

Sumatera,

Kalimantan

Barat

dan

Kalimantan Tengah.
2. PT. Tiga Raksa cabang Surabaya, daerah pemasarannya meliputi Jawa
Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi dan Indonesia
Bagian Timur.
3. PT. Tiga Raksa cabang Bandung, daerah pemasarannya meliputi
Jawa Barat.
4. PT. Tiga Raksa cabang Semarang, daerah pemasarannya meliputi Jawa
Tengah dan DIY.

G. Proses Produksi
1. Proses Produksi Susu
Pada umumnya, Proses produksi produk susu hampir sama.
Perbedaanya

terletak

pada

formulasi

dan

Standart

Operating

Procedure(SOP) setiap produk, yang dibuat oleh bagian Research and


Development.
Proses pembuatan inti merupakan tahapan awal dari pembuatan susu.
Proses ini digolongkan sebagai Partly Spray Dryer yang artinya dari
proses pengeringan dengan spray Dryer baru merupakan bubuk inti,
sehingga perlu dicampur dengan bahan lainnya. Proses pembuatan susu
SGM dibagi menjadi 2 tahapan yaitu proses basah (Wet Process) dan
proses kering (Dry Process).

10

a. Proses Basah (Wet Process)


Dalam Proses ini bahan baku yang diproses terdiri dari skim milk
powder, minyak nabati, dan air. Proses ini menghasilkan inti (base
powder). Berikut ini adalah urutan proses produksi basah yang diawali:
1). Proses pencampuran (mixing / compounding tank)
Sebelum dilakukan proses Mixing, semua alat dibersihkan
terlebih dahulu dengan cara EIP. Setelah semua siap, maka tangki
pencampuran diisi dengan minyak nabati dan air panas yang
bersuhu + 70oC. Selama pemberian air panas, pengadukan terus
dilakukan sambil perlahan-lahan dimasukkan material Dairy
Product yang bertujuan untuk mencampur dan mensirkulasi
larutan, serta menghancurkan partikel-partikel material Dairy
Product yang belum larut. Proses pencampuran ini dilakukan
selama 15 menit sampai dengan 25 menit dengan suhu berkisar
antara 50oC sampai dengan 55oC.
2). Penyaringan (clarifier) / Duplex Filter
Larutan hasil pencampuran sebelumnya kemudian dialirkan
ke penyaringan dengan dilakukan proses penyaringan kotorankotoran atau benda-benda asing yang mungkin terbawa yang
bekerja atas dasar berat jenis partikel penyusun larutan.
3). Pasteurisasi
Proses pasteurisasi ini dilakukan dengan menggunakan metode
HTST atau pasteurisasi pada suhu tinggi dengan waktu yang
singkat. Suhu yang diterapkan berkisar 80oC dengan waktu yang
sama sesuai standart HTST, yaitu 15 detik pemanasan dilakukan
dalam plat penukar panas (Plat Heat Exchanger).
4). Homogenisasi
Proses homogenisasi dimaksudkan untuk menyeragamkan dan
mengecilkan partikel-partikel atau glubola-glubola lemak dalam
larutan, sehingga tidak terjadi endapan. Dari proses homogenisasi
ini diperoleh larutan dengan glubola-glubola lemak yang sama

11
ukurannya yaitu 2 yang semula mempunyai ukuran yang
bervariasi 1 - 16 .
5). Pendinginan
Pendinginan

ini

dilakukan

selain

untuk

menghambat

perkembangan bakteri juga untuk menjaga kerusakan larutan


selama penyimpanan. Proses Cooling ini dilakukan dengan suhu
sekitar antara 4oC 10oC. Untuk mencapai hasil ini Liquid
dilakukan Pressing sebesar 2000 psi.
6). Penyimpanan MST
Liquid hasil pendinginan disimpan dalam MST (Mixed Shrage
Tank).

Penyimpanan ini bersifat sementara karena liquid akan

dispray setelah siap. Jumlah MST ada 4 buah untuk melayani


pengeringan dryer yang bersifat kontinyu. Sementara proses
Compounding dilakukan sesuai Bats Formula. Total Solid Liquid
ex MST adalah 45 %.
7). Evaporasi
Proses evaporasi bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam
liquid campuran. Total solid hasil evaporasi 53%. Evaporasi yang
digunakan Single Stage Evaporator.
8). Penyimpanan (Feed Tank)
Feed Tank berfungsi untuk menampung liquid hasil evaporasi.
Disamping itu Feed Tank berfungsi untuk mengalirkan aliran
proses spray.
9). Pre-heater
Proses pemanasan pendahuluan (Pre-heating) dimaksudkan
untuk menaikkan suhu larutan sebelum spray, suhu liquid keluar
dari Preheater adalah 70oC.
10). Penyaringan
Penyaringan sebelum spray dimaksudkan untuk menyaring
apabila ada protein yang terdenaturasi. Filter untuk filtrasi diganti
secara periodik untuk membuat deposit yang ada.

12

11). HPP (High Pressure Pump)


HPP ini berfungsi untuk memompa liquid dari lantai satu ke
top chamber dan sebagai second homogenizer untuk lebih
menstabilkan emulsi.

12). Pengering Utama (Chamber)


Liquid keluar dari jalur HPP akan dikabutkan melalui sprayer
nuzzle yang berdiameter 1,6-2,0 mm dalam drying chamber.
Bersamaan dengan pengkabutan dimaksudkan udara panas
terfitrasi dengan suhu 100C. Tekanan udara dalam dryer chamber
dibuat vacuum (-1 sampai dengan 10 mm Wg). Suhu udara keluar
chamber 95C dengan kadar air powder 4%.
13). Pengering Purna
Fluid sed berfungsi 3 hal :
1. Mengeringkan powder sehingga memenuhi standart kadar air
2-3 %
2. Mengeringkan Flow Powder dari Chamber to Sifter
3. Pendingin Powder
14). Sifter
Sifter berfungsi untuk menyaring bila ada milk stone selama
proses produksi sehingga harus dipisahkan.
15). Penyimpanan Silo
Powder hasil spray disimpan dalam silo kemudian dilakukan
proses blending.
b. Proses Kering (Dry Process)
Dalam tahapan ini digunakan bahan dasar inti SGM, serta
menggunakan gula, mineral, vitamin, dan skim. Dari proses ini
dihasilkan susu bubuk.
1). Pencampuran
Proses penyelesaian produk (finishing) dimulai dengan
pencampuran (blending) inti SGM dengan gula, vitamin, mineral,

13

dan laktosa serta tambahan material dairy sesuai formula. Sebelum


dicampur masing-masing material ditimbang sesuai formula.
Proses pencampuran selama 15 menit untuk menghasilkan
produk jadi.
2). Proses Pengalengan (Canning)
Susu bubuk yang sudah jadi di mesin blendor dialirkan ke alat
penimbang untuk diukur sesuai dengan kemasannya. Kemudian
dialirkan ke mesin pengisi kaleng dengan sistem tekanan udara dan
selanjutnya

dilakukan

proses

penutupan

dengan

mesin

penutup kaleng. Sebelum digunakan kaleng-kaleng tersebut


disterilisasi dengan penyinaran sinar ultra violet serta diisi dengan
gas nitrogen agar susu dapat tahan lama.
3). Proses Filling
Susu bubuk yang sudah jadi dialirkan ke alat penimbang untuk
diukur sesuai kemasan (Soft Pack).
4). Proses Pengepakan (Packing)
Setelah kaleng-kaleng dan aluminium foil telah terisi semua,
kemudian dibawa ke bagian pengepakan / packing melalui ban
berjalan untuk dilakukan proses terakhir yaitu pengepakan.

2. Proses Produksi Full Cream Milk Powder (FCMP)


Proses pengolahan susu dari susu mentah / susu segar sampai menjadi
susu Full Cream Milk Powder (FCMP) secara garis besar terdiri dari dua
tahap, yaitu proses pembuatan susu kental dan proses pembuatan
susu bubuk.
a. Proses Pembuatan Susu Kental
Proses pengolahan susu kental ini melalui beberapa tahap, yaitu
mulai dari penerimaan susu segar, pendinginan, pasteurisasi, evaporasi,
dan pendinginan (Cooler).

14

1). Penerimaan Susu Segar


Susu segar didatangkan ke pabrik dengan tangki berkapasitas
2500 5000 liter dari berbagai KUD. Susu segar tersebut langsung
diuji kualitasnya oleh bagian Quality Assurance (QA) sehingga
dapat dihindari adanya pemalsuan susu, kontaminan ( baik racun
maupun organisme pathogen) yang dapat menurunkan mutu
produk. Susu yang tidak memenuhi syarat akan dikembalikan lagi
ke KUD pengirim.
Jika susu yang diterima dari para peternak tersebut memenuhi
persyaratan yang tersedia, maka akan dipompa ke Balance Tank
yang dilengkapi penyaring (filter).
2). Pendinginan
Dalam proses pendinginan, susu dialirkan melalui Plate-plate
dengan arah yang berlawanan dengan media pendingin yang
suhunya 1 2 oC, sehingga terjadi peristiwa pertukaran kalor. Pada
kisaran suhu tersebut akan terjadi penghambatan pertumbuhan
mikroba, pencegahan autooksidasi pada susu serat peningkatan
efisiensi pasteurisasi.
Media pendingin berupa air yang digunakan pada Plate Cooler
diperoleh dari unit Chilled Water Plant dengan sistem refrigerasi
memakai media Ammonia dan Freon. Fungsi dari proses
pendinginan ini untuk menghambat aktivitas dari mikroorganisme
selama proses.
Susu segar yang telah didinginkan kemudian disimpan dalam
tangki susu segar yang dilengkapi dengan pengaduk yang berfungsi
untuk mencegah terjadinya Creaming yaitu terpisahnya krim
bagian atas dengan serum susu dibagian bawah, sebelum akhirnya
dialirkan ke silo penampung awal yang berkapasitas 50.000 liter.
3). Pasteurisasi
Pasteurisasi merupakan proses pemanasan setiap partikel yang
dimaksudkan untuk membunuh mikroba pathogen dan untuk

15
mendegradasi beberapa jenis enzim, dengan suhu 62 oC selama 20
menit atau pemanasan pada suhu 72 oC selama 15 menit. Proses
pasteurisasi ini dilakukan dengan Regenated Spiroterm, yaitu
regenerasi, pasteurisasi dan bagian pendingin. Alat ini akan
menghasilkan suhu pasteurisasi 121 oC selama 4 detik.
Proses pasteurisasi di PT. Sari Husada dilakukan dengan sistem
High Temperature Short Time (HTST) dan Ultra High
Temperature (UHT).
4). Pencampuran
Pada pembuatan susu formula maupun bubur susu bayi
diperlukan pencampuran secara basah maupun kering terhadap
bahan-bahan dasar yang digunakan.
Pencampuran basah dari bahan kering dilakukan dengan
pemberian air panas dan pengadukan dalam mixer yang dilengkapi
dengan

pengaduk

yang

berputar

cepat

untuk

membantu

mempercepat proses pencampuran. Bahan-bahan dimasukkan


melalui Eductor. Pencampuran bahan-bahan cair dilakukan di
Compounding Tank yang dilengkapi dengan agitator. Sedangkan
pencampuran kering dilakukan dalam blender yang berputar.
5). Evaporasi
Evaporasi adalah suatu proses pemekatan suatu larutan dengan
cara menguapkan sebagian cairan yang terdapat dalam susu
sehingga diperoleh kandungan padatannya (Total solid) bertambah
dari 10 % menjadi 40 50 %.
b. Proses Pembuatan Susu Bubuk
Proses pembuatan susu FCMP (Full Cream Milk Powder)
dilakukan dengan mengeringkan susu mentah / susu murni yang telah
dikentalkan sehingga total solid bertambah menjadi 98 % dengan
menggunakan alat pengering Spray Dryer.
Tahap-tahap pembuatan susu bubuk antara lain pemanasan awal,
pencampuran,

homogenisasi,

pendinginan,

pemanasan

kedua,

16

penyaringan, pengeringan, pengayakan susu bubuk serta pengisian


dan pengemasan.
1). Pemanasan Awal
Susu yang berasal dari tangki susu kental, melalui Plate Heat
Exchanger (PHE) akan dipanaskan hingga mencapai suhu 70 oC
sampai 75

C, untuk selanjutnya dialirkan ke dalam tangki

pencampur (Compounding Tank) yang memiliki kapasitas 5000


liter serta dilengkapi dengan pengaduk.
2). Pencampuran
Setelah proses pemanasan awal dilakukan, susu yang telah
dipanaskan tersebut dimasukkan ke dalam Compounding Tank
untuk dicampur dengan bahan tambahan Rework. Rework
merupakan susu hasil pengeringan yang berupa gumpalan padat
yang tidak lolos pengujian kualitas. Dalam tangki pencampuran ini,
pengadukan susu akan terjadi selama 15 menit.
Maksud dari pencampuran ini adalah untuk memperbaiki
kualitas susu yang dihasilkan. Jumlah penambahan Rework
maksimal 10% dari jumlah susu kental yang diproses, karena
jumlah yang lebih akan berakibat Rework tidak dapat tersuspensi
ke dalam susu. Bila susu telah tercampur dengan baik, maka proses
selanjutnya adalah homogenisasi.
3). Homogenisasi
Proses homogenisasi adalah suatu proses melewatkan susu
kental melalui lubang yang ukurannya sangat kecil, dengan tujuan
untuk menyeragamkan ukuran globula lemak menjadi lebih kecil
yaitu melalui tekanan tinggi, sekaligus menghindari terbentuknya
lapisan krim di permukaan bila air susu dibiarkan, selain itu juga
bertujuan untuk memperbaiki daya dispersi susu.
4). Pendinginan
Susu yang telah dihasilkan kemudian didinginkan dengan Plate
Cooler sehingga suhunya mencapai 4oC, dengan maksud

17

memberikan Cold Shock pada mikroba yang masih terdapat dalam


susu kental. Susu kental hasil pendinginan ini kemudian dialirkan
ke Mixed Storage Tank.
5). Pemanasan Kedua
Sebelum dilakukan proses pengeringan, selanjutnya susu dari
MST (Mixed Storage Tank) dipanaskan terlebih dahulu dengan
Plate Heat Exchanger bertipe Shell and Tube hingga suhu
70 75oC. Adapun maksud dari proses pemanasan kedua ini
adalah

menghindari

menyebabkan

partikel

pengeringan
hangus

mendadak

serta

yang

dapat

mempercepat

proses

pengeringan agar lebih efisien.


6). Penyaringan
Pada proses penyaringan ini, susu yang telah dipanaskan
dilewatkan pada Duplex Filter atau penyaring ganda yang memiliki
ukuran

lubang

200

mesh

dengan

tujuan

memisahkan

partikel-partikel kasar setelah proses penawaran awal.


7). Pengeringan
Susu kental yang telah mengalami penyaringan kemudian
dilewatkan ke dalam High Pressure Pump (HPP). Dalam HPP ini,
susu kental akan dipompa dengan tekanan tinggi sekitar
1000 2000 psi, sehingga susu kental tersebut akan mengalami
proses pengkabutan setelah keluar dari Nozzle saat masuk ke ruang
pengering utama Anhydro Spray Dryer. Dalam pengering utama
akan dihembuskan udara panas 155oC sehingga mengakibatkan
terjadinya kontak langsung antara partikel susu dengan udara
panas. Kemudian air dalam susu kental akan menguap dan terserap
keluar bersama-sama dengan udara kering kemudian masuk
ke siklon.
Pengering suhu panas diperoleh dari pengisapan udara segar
yang dialirkan ke dalam filter dan radiator. Filter ini digunakan
untuk membersihkan kotoran dan kontaminan, sedangkan radiator

18

itu sendiri digunakan sebagai pemanas agar udara panas bersuhu


155oC untuk pengering utama dan 100oC untuk pengering akhir /
purna. Udara panas keluar dari pengering utama dengan suhu 70oC
dan dari pengering akhir / purna dengan suhu 40oC.
8). Pengayakan Susu Bubuk
Proses pengayakan atau pemisahan susu bubuk ini dilakukan
oleh Shifter dengan menggunakan saringan yang berukuran 14
mesh yang bekerja secara otomatis. Susu bubuk halus akan lolos
dari pengayakan dan diserap masuk ke silo penyimpanan sebelum
akhirnya dikemas. Susu gumpalan yang tidak lolos akan
mengalami Rework dan dimasukkan ke dalam Compounding Tank
untuk diproses kembali.
9). Pengisian dan Pengemasan
Susu yang telah dihasilkan, diambil sampelnya untuk diuji
dahulu di laboratorium pengujian. Bila susu bubuk tersebut lolos
uji standar produk, maka susu dari silo akan diangkut ke Filling
Hopper dan dimasukkan ke dalam kotak / bin yang rata-rata
berkapasitas 300 650 kg. sistem pengisian dilakukan secara
manual

untuk

mengendalikan

pengeluaran

bubuk

susu.

Pengemasan dilakukan di bagian pengemasan PT. Sari Husada


yang terletak di Kemudo, Klaten. Produk bubuk dibawa ke bagian
pengemasan dalam bin untuk diproses di sana.
Pada pengemasan susu bubuk dengan aluminium foil, bubuk
susu yang lolos Shifter dimasukkan ke dalam kemasan aluminium
foil dengan Sachet Filling Machine. Operator hanya menyiapkan
gulungan kemasan aluminium foil. Pemasukan, pemberian
nitrogen,

penutupan,

kadaluwarsa

dilakukan

pemotongan
secara

serta

otomatis

pemberian
oleh

masin

label
yang

berkapasitas 90 sachet/jam. Setelah itu kemasan susu aluminium


foil dibawa dengan Chain Conveyor dan diberi sendok.

19

Sementara di Folding Box, kardus dibentuk kemudian kemasan


aluminium foil serta sendok dimasukkan ke dalamnya. Setelah itu
kemasan kardus disusun dan dimasukkan dalam kotak karton lalu
diselotip secara otomatis.
Beberapa tempat dipasang sensor yang berguna untuk
mengecek berat kemasan, jumlah kemasan, jumlah sendok yang
akan dimasukkan dalam karton sehingga yang menyimpang akan
dibuang untuk diproses kembali. Pengaturan proses dilakukan
secara otomatis dari ruang kontrol.

BAB III
PENGENDALIAN PLC MODICON 984 PADA PROSES
PASTEURISASI DAN HOMOGENISER

A. Pengenalan PLC
Programable Logic Control (PLC) adalah pengendali logika terprogram yang
memakai piranti elektronik yang dirancang untuk dapat beroperasi secara digital
dengan menggunakan memori sebagai media penyimpanan instruksi-instruksi
internal untuk menjalankan fungsi-fungsi logika seperti fungsi pecahan, fungsi
urutan proses,fungis pewaktu, fungsi aritamatika, dan fungsi-fungsi yang lainnya
termasuk untuk kendali PID dan logika Fuzzy dengan cara memprogramnya.
Didalam sistem pengendalian proses, terdapat komponen-komponen pokok
diantaranya yaitu : elemen proses, elemen pengukuran (sensor dan transmiter),
elemen kontrol dan elemen final kontrol. Adapun sistem pengendaliannya dapat
dilihat pada blok diagram di bawah ini.
Load
error
Unit

Final Kontrol

Proses

set
point
Transmitter

Elemen

Gambar 1. Blok Diagram Sistem Pengendalian Proses

20

21

Pada dasarnya kerja dari sistem pengendalian otomatis terdiri dari empat
langkah, yaitu : mengukur, membandingkan, menghitung dan mengoreksi, yang
semuanya dikerjakan dalam waktu bersamaan secara kontinyu oleh tiap-tiap
elemen.Elemen-elemen tersebut diantaranya :
1. Elemen Proses : merupakan susunan peralatan yang mempunyai fungsi
tertentu. Input dari elemen proses merupakan besaran yang dimanipulasi oleh
final kontrol elemen supaya variabel terukurnya sama dengan set point.
Output dari elemen proses merupakan besaran yang telah dikendalikan.
2. Elemen Pengukur : sistem pengukuran merupakan bagian yang pertama dan
utama

dari

sistem

pengendalian

proses.

Hasil

pengukuran

akan

mempengaruhi kerja dari elemen-elemen yang lain. Output sinyal pengukuran


ada 2 macam, yaitu :
a. Sinyal Pneumatik : skala kerja dari sinyal pneumatik berkisar antara
3 15 psig atau 0,2 1 kg/cm2. transmisi sinyal pneumatik menggunakan
tubing / pipa kecil dengan diameter dalam 0,25 inci. Bahan pipa tersebut
dari plastik, tembaga atau stainless steel, tergantung dari daerah
operasinya.
b. Sinyal Elektrik : bisa berupa arus listrik atau tegangan. Suatu sinyal arus
bervariasi sekitar 4 20 mA atau 10 50 mA, sedangkan sinyal tegangan
berkisar 1 5 VDC atau 0 10 VDC, transmisi elektrik menggunakan kabel
dengan diameter 1,5 2,5 mm.
c. Elemen Kontrol : banyak menggunakan teknologi digital dan komputer.
Elemen kontrol akan membandingkan set point dengan variabel terukur,
menghitung berapa koreksi yang mengeluarkan sinyal koreksi sesuai
dengan hasil perhitungan.
d. Elemen Final Kontrol : merupakan bagian akhir dari sistem pengendalian.
Ada 2 macam pengendalian akhir, yaitu pengendalian on-off dan
pengendalian kontinyu. Pengendalian akhir berfungsi untuk mengubah
sinyal kontrol menjadi aksi yang sesuai dengan proses yang dikontrol.
Gambar 2. akan menjelaskan aksi yang dilakukan oleh aktuator.

22

sinyal

Konversi

Aktuator

kontrol

Elemen
Pengendali
akhir

Proses
Gambar 2. Sistem Pengendalian Akhir

B. Arsitektur PLC Modicon 984


Sama halnya dengan jenis PLC yang lain, jenis PLC Modicon 984 ini juga
memiliki komponen dasar yang sama. Beberapa diantaranya berupa hardware
dan software. Perangkat PLC jenis ini juga didalamnya terdapat interface input
dan output, memori, central memori unit (CPU), power supply dan software
untuk pemrogramannya. Untuk jenis software yang digunakan diantara nya yaitu
dengan menggunakan Modsoft, Modsoft Lite, Taylor Proworx Plus atau Proworx
NXT.

23

984 Controller
CPU
Memori
From
Application
Sensing
Devices
Input
Models

State RAM
Register Ins
Register Outs
Discrete Ins
Discrete Outs

User Logic
LadderLogic
Network &
Segmen

I/O Processor
Communication Processor

Peripheral
Other Nodes
(Host Devices)on a Network

Gambar 3. Arsitektur PLC Modicon 984

Output
Models
To
Application
Switching
Devices

24

Gambar 4. Diagram Controller 984

25

Untuk modul masukan (input) terminal masukannya mengirim sinyal dari


kabel yang dihubungkan dengan masukan sensor dan transduser, sedangkan
keluarannya menyediakan tegangan keluaran untuk aktuator atau indikator alat.
Kecerdasan sebuah sistem terotomasi sangat tergantung pada kemampuan dari
sebuah PLC untuk membaca sinyal dari berbagai macam jenis sensor dan piranti
masukan lainnya. Untuk mendeteksi proses atau kondisi atau status suatu
keadaan atau proses yang sedang terjadi, misalnya berapa cacah barang yang
sudah di produksi, ketinggian permukaan air, tekanan udara dan lain sebagainya,
maka dibutuhkan sensor-sensor yang tepat untuk masing-masing kondisi atau
keadaan yang akan di deteksi tersebut.
Dengan kata lain, sinyal-sinyal masukan tersebut dapat berupa logika (ON
atau OFF) maupun analog. Salah satu sinyal analog yang sering dijumpai adalah
arus 4 sampai 20mA (atau mV) yang diperoleh dari berbagai macam sensor.
Keluaran PLC dapat berupa analog maupun digital, keluaran digital bertingkah
seperti sebuah saklar, menghubungkan dan memutuskan jalur. Keluaran analog
digunakan untuk menghasilkan sinyal analog (misalnya, perubahan tegangan
untuk pengendalian motor secara regulasi linier sehingga diperoleh kecepatan
putar tertentu).

26

a. Modul Input

Gambar 5a. Modul Input dengan Wiring

27

Gambar 5b. Modul Register Input dengan Wiring

28

Gambar 5c. Modul Analog Input dengan Wiring

29

b. Modul Output

Gambar 6a. Modul Discrete Output dengan Wiring untuk Supply

30

Gambar 6b. Modul Register Output dengan


Wiring untuk LED Display

31

C. Pemrograman PLC Modicon 984


Semua PLC Modicon 984 dapat diprogram melalui diagram ladder yang
merupakan bahasa grafis tingkat tinggi yang digunakan untuk pengontrolan
operasi. Program ladder ini berisi himpunan perintah yang dipakai untuk
mengendalikan mesin atau proses. Diagram ladder mengidentifikasikan semua
elemen dari rangkaian elektromagnetik dan menggambarkannya secara grafis.
Dalam diagram ladder ini, semua alat masukan disajikan terakhir dari anak
tangga baik yang terhubung seri ataupun paralel. Elemen terakhir dari anak
tangga adalah keluaran yang menerima aksi dari hasil kondisi masukan pada anak
tangga.
Alamat I/O biasa terdiri dari empat atau lima digit. Digit pertama
menunjukkan I/O atau fungsi sequencer. Jika angka pada digit pertama adalah 1
maka itu merupakan input. Sebaliknya jika angka pada digit pertama adalah 0
maka itu merupakan output. Angka 2 menunjukan bahwa kontak dikontrol dari
sequencer. PLC Modicon 984 memakai angka desimal untuk sistem
pengalamatan. Sedangkan untuk timer dan counter menggunakan angka 4
sebagai angka pertamanya.

32
10001

10002

00061

00060

00060

00001
10003

00001

00061

10001

10
CTR
40001

00061

00001
00005
TI.0

00001

10001
40002

Gambar 7. Contoh Diagram Ladder PLC Modicon 984


10001

10002

00060
00010
TI.0

00061

40001

Gambar 8. Contoh Timer pada PLC Modicon 984

33

Gambar 7. adalah salah satu contoh dari diagram ladder pada PLC Modicon
yang menggunakan timer dimana keluarannya dialamatkan pada 00060 yang
ditunjukan sebagai koil time delay on. Keluaran 00061 mengendalikan time delay
off. Pada blok timer terdapat keterangan T1.0 yang artinya bahwa timer tersebut
mempunyai cacahan satu detik. Apabila keterangannya adalah T0.1 ini berarti
bahwa timer tersebut mempunyai cacahan sepersepuluh detik.
Angka 00010 menunjukan nilai preset dan angka 40001 adalah elemen dari
timer. Kontak 10001 berfungsi sebagai set sedangkan kontak 10002 berfungsi
sebagai reset. Jika 10001 dan 10002 tertutup, timer akan bekerja setelah waktu
tunda selama 10 detik. Keluaran 00060 akan ON sedangkan keluaran 00061 akan
OFF. Untuk mereset timer dapat dilakukan dengan mengaktifkan kontak 10002.
Masukan 10001 berfungsi sebagai pengunci (latch). Jadi apabila kontak 10001
terbuka maka hal itu tidak akan menghapus nilai akumulasi dari timer. Proses
timer akan berehenti apabila kontak 10001 kembali tertutup.

10001

10002

00005
0010
CTR

00006

40001

Gambar 9. Contoh Counter Up PLC Modicon 984


Contoh pada gambar 9. adalah merupakan suatu counter up pada PLC
Modicon. 00010 adalah preset counter, untuk masukannya adalah 10001
sedangkan untuk mereset adalah 10002. Kontak 10002 digambarkan sebagai NC.
Jika kontak ini terbuka maka hasil akumulasi dari counter akan ter-reset. Jika
hasil akumulasi sesuai dengan reset counter, maka keluaran 00005 akan

34

terintegrasi. 40001 adalah alamat counter pada memori PLC. Untuk pencacahan
maksimal pada PLC Modicon adalah 9999.
Selain itu, PLC Modicon 984 juga memakai instruksi CONVERT atau
CONV yang berfungsi untuk memindahkan data dari elemen masukan ke lokasi
memori, atau dari memori dipindah ke elemen keluaran. PLC ini mempunyai dua
tipe register yaitu input register dan holding register. Input register berisi data
yang secara langsung masuk ke lokasi word melalui modul input. Holding
register dipakai untuk menyimpan data yang dirubah dengan terminologi
pemrograman. PLC Modicon 984 juga mempunyai register pointer yang
menunjukan

alamat

dari

data.

Pada

instruksi

transfer

data,

pointer

memberitahukan kepada processor tentang alamat dimana data disimpan atau


diambil. Dua perintah transfer data pada PLC Modicon adalah Table to Register
(T-R) dan Register to Table (R-T).
PLC juga dapat berfungsi sebagai operasi perbandingan. Contohnya adalah
pada gambar 10. Pada gambar ini 100 dibandingkan dengan data pada memori
yang berlokasi di 40001. Jika data 40001 sama dengan 100, keluaran 00002 akan
terenergized. Jika data 40001 lebih besar dari 100, keluaran 00003 akan ON.
10001

00061

00060

00600
TI.0
40001

00060

00061

00061
30020
RT
00072

Gambar 10. Contoh Convert PLC Modicon 984

35

D. Pembahasan
1. Prinsip Kerja Pasteurisasi Secara Umum
Tujuan utama dari proses pasteurisasi adalah untuk membebaskan susu
dari mikrobia pathogen sehingga aman untuk dikonsumsi. Salah satu bentuk
aplikasi proses pasteurisasi pada industri pengolahan susu adalah pasteurisasi
secara kontinyu (Continous pasteurisation) dengan suhu tinggi dalam jangka
waktu yang singkat HTST (High Temperature Short Time). Salah satu contoh
mekanisme pasteurisasi HTST dapat dilihat pada gambar 11. Perlengkapan
pasteurisasi HTST tersebut biasanya tersusun atas: balance tank, milk pump,
flow controller, heat excharger, filter, holding section, flow dispersion valve
dan instrument lainnya (McCarthy, 1985b). Berikut ini merupakan penjelasan
tentang urutan proses pasteurisasi dengan menggunakan system kontinyu
HTST :
a. Susu yang telah mengalami standarisasi dialirkan dari tangki standarisasi
atau dari silo penyimpanan menuju tangki keseimbangan (nomor 1)
(balance tank) dimana susu dipertahankan pada level constant oleh katup
pengapung (nomor 2) (float valve).

Gambar 11. Mekanisme Proses Pasteurisasi Kontinyu Menggunakan


Suhu Tinggi Waktu Cepat (HTST)

36

b. Dari tangki keseimbangan, susu dialirkan menuju alat pemompa (3) dan
diteruskan melalui flow controller menuju plate heat excharger, dimana
susu akan mengalami proses pemanasan. Susu yangsudah dipanaskan ini
akan mengalami pendinginan di bagian regenerasi (nomor 5) dimana susu
dingin dialirkan pada bagian luar pipa sehingga terjadi transfer panas.
Pada pasteurisasi HTST, dimana suhu susu segar dari silo adalah 4.5C
dan suhu pasteurisasi maksimum 72.2C, regenerasi yang didapat adalah
80 %. Artinya bahwa susu segar tersebut telah mengalami pemanasan
80/100 x 67. = 54.2C oleh panas yang diserap dari regenerasi pada suhu
58.7C. Sebaliknya susu panas didinginkan oleh susu segar dari suhu
72.2C menjadi suhu 18C.
c. Dari proses regenerasi, susu menjadi filter atau sentrifus klarifer (6)
dilanjutkan menuju bagian pemanasan (7) dimana suhunya menigkat
sampai

mencapai

suhu

maksimun

pasteurisasi

yang

diizinkan

menggunakan sirkulasi air panas. Susu yang sudah mencapai suhu


pasteurisasi kemudian masuk ke bagian holding (8), suatu tabung
eksternal yangmerupakan bagian dari heat exchanger frame sehingga
susu yang melewatinya mengalami pemanasan pada suhu pasteurisasi
selama waktu yang ditentukan. Susu yang sudah di pasteurisasi kemudian
dikeluarkan melalui outlet menuju ke bagian regenerasi dimana susu
panas akan mengalami pendinginan melalui transfer panas dengan suhu
dingin. Pada proses pateurisasi yang belum mencapai suhu yang
ditetapkan, panel pengontrol (1) yang bertugas untuk merespon suhu dari
susu yang keluar dari holder akan membuka katup pengalihan sehingga
susu kembali ke feed balance tank untuk selanjutnya mengulangi proses
pemanasan. Air panas sirkulasi dari alat pemanas air (13) menggunakan
suatu pompa (12). Suhu air panas tersebut dipertahankan dengan reaksi
uap panas melalui katup diafragma (14) yang dikontrol oleh pengontrol
suhu otomatis pada panel pengontrol (1).

37

2. Proses Pasteurisasi Di PT.Sari Husada Tbk.


Untuk melakukan proses pasteurisasi, unit pasteuriser harus dijalankan
terlebih dahulu untuk mendapatkan kondisi yang sesuai dengan standar
operasional pasteurisasi, agar produk yang dihasilkan aman. Proses secara
jelasnya akan dijelaskan sesuai dengan diagram alir proses pasteurisasi.
M u la i

P re p a ra si

Sta rt p e m a n a s ,
p o m p a tra n sfe r b u ffe r ta n k,
p o m p a tra n sfe r p a st ta n k
Tid a k
Su h u P e m a n a s
>=90C
Ya

P e m a n a sa n
&
Sirku la si

Tid a k

Su h u P e m a n a s
>=90C
Ya

Sta rt p e n d in g in a n

Tid a k
Su h u P e n d in g n
< = 4C

P a ste u risa si p ro d u k
sia p

Tid a k

Tid a k
Sta rt
W a te r
p ro d u c tio n

Sto p
W a te rru n

Ya

Ya

Gambar 12. Diagram alir proses pasteurisasi 1

38

Waterrun

Proses dimulai dengan menekan PB Start pasteurizer, maka proses


preparasi akan dimulai, katup air akan terbuka dan mengisi balance tank
pasteuriser sampai level tercapai.

Hidupkan pompa pemanas air (hot water pump), pompa transfer past tank
dan aktifkan sistem pemanas.

Jika suhu pemanas lebih dari atau sama dengan 90C dan stabil selama
kurang lebih setengah menit, maka akan dilanjutkan ke tahapan
selanjutnya.

Proses sirkulasi diawali dengan membuka katup sirkulasi 1 dan katup


buang selama satu menit untuk membersihkan jalur (flushing). Katup
sirkulasi 2 membuka, katup buang menutup sehingga sirkulasi untuk
pemanasan pasteuriser dimulai.

Jika suhu pemanasan sudah mencapai lebih dari atau sama dengan 90C,
maka akan dilanjutkan ke tahap selanjutnya.

Aktifkan sistem pendinginan, yaitu dengan melakukan pengaturan katup


air es sampai suhu pendinginan bisa tercapai.

Jika suhu pada sistem pendinginan sudah mencapai kurang dari atau sama
dengan 4 derajat celcius, maka sistem pasteuriser sudah siap menerima
produk.

Pada step pasteuriser siap untuk produk, air akan disirkulasi melewati
pasteuriser dan balance tank dengan membukanya katup sirkulasi 1 dan
katup sirkulasi 2. Pada step ini menunggu untuk dilakukan eksekusi yang
akan dilakukan, yaitu start water production atau stop waterrun.

Start water production

Jika dipilih start water production maka proses akan diawali dengan
proses pengosongan air (emptying water), yaitu dengan menutupnya
katup sirkulasi 2, katup air dan membukanya katup buang untuk
melakukan pengosongan air.

39

Emptying water
Stop pemanas & pendingin
pompa transfer buffer tank,
pompa transfer past tank

Tidak

Low level
balance tank

Reset sequence
pasteurisasi

Ya

Permintaan pasteurisasi
ke Filling & Feeding tank

Selesai
Tidak

Filling &
Feeding siap
Ya

Konfirmasi ke Filling tank


3

Pasteurisasi product run

Tidak

Suhu
pemanas
not ok

Stop
pasteurisasi
Ya

Umpan air &


emptying product

Tidak

Suhu
pendingin
not ok

Ya

Ya

Sirkulasi 1

Sirkulasi 2

Suhu
pemanas ok

Low level
Balance tank

Suhu
pendingin ok
Ya

Ya
Ya
3

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Stop Pasteurisasi product

Gambar 13. Diagram alir proses pasteurisasi 2

40

Proses pengosongan air diakhiri sampai dengan balance tank dalam


kondisi low level yang ditandai dengan aktifnya LSL balance tank. Jika
LSL aktif, akan dilanjutkan ke proses selanjutnya.

Permintaan pasteuriser ke sistem pengisian dan pengumpanan.

Jika sistem pengisian dan pengumpanan sudah siap, akan melakukan


konfirmasi ke sistem pengisian untuk memastikan kesiapan dari tangki
pengisian.

Pada step ini proses pasteurisasi sudah berjalan (product run), dengan
menutupnya katup buang.

Jika suhu pemanasan tidak tercapai, maka katup sirkulasi 1 akan menutup
sehingga akan terjadi sirkulasi pada unit pemanasan saja.

Jika suhu pemanasan sudah tercapai kembali, maka katup sirkulasi 1 akan
membuka lagi yang berarti proses pasteurisasi bisa dilanjutkan untuk
ditransfer ke tangki past. Jika suhu belum tercapai akan terus dilakukan
sirkulasi.

Jika suhu pendinginan tidak tercapai, maka katup sirkulasi 2 akan


membuka sehingga akan terjadi sirkulasi melalui balance tank sampai
suhu pendingin tercapai.

Jika suhu pendinginan sudah tercapai kembali, maka katup sirkulasi 2


akan menutup lagi yang berarti proses pasteurisasi bisa dilanjutkan untuk
ditransfer ke tangki past. Jika suhu pendinginan belum tercapai akan terus
dilakukan sirkulasi sampai suhu tercapai.

Stop pasteurisasi

Saat step product run bisa dilakukan proses stop pasteurisasi. Proses ini
bisa terjadi jika mendapat informasi dari tangki pengisian atau tangki
pengumpanan untuk menghentikan supply produk. Tangki pengisian
sudah penuh atau tangki pengumpanan sudah kosong. Selain itu stop
pasteurisasi bisa dilakukan secara manual dengan menekan PB Prod
WTR.

Kemudian akan dilakukan umpan air dengan membukanya katup air


selama kurang lebih 18 detik agar tidak terjadi kekosongan sekaligus akan

41

mendorong produk untuk meminimalisasi produk yang terbuang. Setelah


itu katup akan menutup lagi, sampai balance tank low level yang berarti
produk sudah kosong. Katup air akan membuka lagi selama 2 menit 20
detik kemudian menutup lagi untuk membersihkan jalur dari sisa produk
pada jalur dengan membukanya katup buang sampai balance tank
kosong.

Stop pasteurisasi produk diakhiri dengan membukanya kembali katup air,


katup sirkulasi 2 dan menutupnya katup buang, yang berarti terjadi
sirkulasi ke balance tank melewati perangkat pasteuriser (pemanas dan
pendingin).

Step akan kembali ke pasteurisasi produk siap menunggu eksekusi


selanjutnya, apakah mau dijalankan untuk pasteurisasi lagi atau
dihentikan.

Stop waterrun

Proses ini diawali dengan penekanan tombol PB Stop Wtrrun.

Pada step ini akan dilakukan pe-nonaktifan sistem pengendalian suhu


pemanas dan pendingin, pompa transfer balance tank dan pompa transfer
past tank akan dimatikan.

Katup air, katup sirkulasi 1 dan katup sirkulasi 2 akan menutup.


Kemudian akan me-reset semua sequence dari program pasteurisasi ini
yang berarti program sudah selesai.

3. Prinsip Kerja Homogeniser


Homogenisasi susu merupakan salah satu tahapan dalam proses pengolahan
susu yang bertujuan untuk memecah globula lemak susu menjadi lebih kecil dan
homogen (sekitar 1m). Terdispersinya globula lemak susu dalam bentuk yang
lebih homogen berpengaruh terhadap pencegahan atau penghambatan terjadinya
creaming

(pembentukan

penyimpanan.

lapisan

krim

pada

permukaan

susu)

selama

42

a. Homogenisasi Tekanan Tinggi


Mesin bertekanan tinggi yang digunakan untuk homogenisasi adalah
homogeniser susu yang ditemukan di Prancis tahun 1899 oleh Gaulin. Secara
esensial, alat ini terdiri dari pompa bertekanan tinggi dan katup homogeniser
yang akan dilewati susu dengan kekuatan penuh. Komponen penting
homogeniser adalah pompa piston 3 silinder yang bertekanan tinggi dan
kepala homogeniser yang merupakan perlengkapan untuk memberikan
tekanan. Pompa digerakkan oleh tenaga motor elektrik melewati poros mesin
dan transmisi roda penghubung yang mengubah gerakan berputar dai motor
menjadi gerakan bolak-balik dari piston pompa tersebut. Piston bergerak
dalam silinder pada blok silinder tekanan tinggi.

Gambar 14. Penampang dalam dari blok silinder


Keterangan :
1. Poros Mesin
2. Blok Silinder Tekanan Tinggi
3. Cincin Piston
4. Piston
5. Kepala Homogenizer
6. Pengaturan Tekanan
7. Manometer Tekanan Tinggi

43

Piston dan silinder terbuat dari logam campuran yang kuat dan tidak
mudah berkarat. Cincin piston mencegah minyak pelumas dari kontaminasi
susu. Mesin yang ditunjukkan gambar 14 adalah tipe mesin dengan cincin
piston ganda. Untuk tujuan pendinginan piston, air dingin dapat disuplai ke
dalam celah yang terdapat disekitar piston. Untuk mencegah rekontaminasi
produk, uap panas dapat disalurkan selama operasi (dalam hal ini, posisi
homogenizer adalah setelah susu mengalami sterilisasi UHT). Piston bergerak
120 derajat, dan katup poppet disisi inlet dan outlet dari tiap piston mencegah
aliran balik dari susu.

Gambar 15. Proses homogenisasi dua tahap dengan tiga pompa piston
Penerapan homogenisasi dua-tahap (yaitu dua katup homogenisasi dalam
satu rangkaian homogeniser) sering digunakan (gambar 15). Tahap kedua
diperlukan untuk memecah kelompok (cluster) globula lemak yang dibentuk
pada tahap pertama. Cluster ini biasanya terbentuk bukan karena adanya
proses aglutinasi.

44

b. Mekanisme Homogenisasi
Mekanisme homogenisasi merupakan mekanisme yang kompleks.
Mekanisme tersebut salah satunya sangat tergantung pada tipe katup yang
digunakan. Tenaga hidrodinamik dari pemotongan, kavitasi dan turbulensi
yan gterjadi dalam katup homogenisasi diduga bertanggung jawab terhadap
proses terjadinya pemecahan globula lemak. Kavitasi sering kali terjadi
dalam katup homogenisasi bertekanan tinggi.
Berbagai faktor diketahui berpenaruh terhadap derajat homogenisasi yang
dihasilkan. Beberapa faktor tersebut diantaranya : a). tekanan, b). kandungan
lemak, c). kecepatan alir susu dan d). suhu homogenisasi. Tekanan
mempunyai pengaruh yang kuat. Tekanan yang lebih tinggi memberikan hasil
homogenisasi yang lebih baik yaitu dihasilkan globula lemak dengan rata-rata
diameter globula yang lebih kecil. Tekanan hmogenisasi mempunyai
hubungan linear dengan hasil homogenisasi yang diperoleh pada susu dengan
kandungan lemak rendah (<12%). Namun demikian, pada susu dengan
kandungan lemak lebih besar dari 12%, pengaruh tekanan menjaditidak linear
dengan hasil homogenisasi yang diperoleh. Tekanan homogenisasi yang
diberikan menjadi kurang efektif dengan meningkatnya kandungan lelmak
susu. Kecepatan arus tidak berpengaruh saat kandungan lemak kurang dari
12%. Pada saat kandungan lemak lebih tinggi , homogenisasi akan lebih baik
dengan meningkatnya kecepatan arus. Homogenisasi lebih efektif bila suhu
dinaikkan. Pengaruh suhu menjadi lebih kelihatan dengan meningkatnya
kandungan lemak.

c. Kondisi Proses Homogenisasi


Secara prinsip, proses homogenisasi harus dilakukan secara tertutup rapat
dan yang sebelumnya telah melewati proses pasteurisasi. Tekanan
homogenisasi tingkat pertama tergantung pada beberapa tingkatan jenis
katup, umumnya berkisar antara 150-200 atm untuk susu dan krim,
sedangkan pada homogenisasai tingkat kedua berkisar antara 30-50 atm jika
memungkinkan. Suhu terbaik untuk homogenisasi susu dan krim adalah

45

60-70C walaupun kisaran akhir yang lebih tinggi umumnya digunakan


dalam praktek. Suhu lebih tinggi berarti pembentukan membran lebih cepat
dan claustering berkurang. Kisaran suhu tersebut memungkinkan untuk
menghomogenkan susu pada suhu rendah dimana lemak dalam globula dalam
kedaan stabil. Susu evaporasi dihomogenkan pada suhu 40-50C dengan
tekanan antara 200-250 atm. Campuran es krim dihomogenkan pada susu
70C dengan tekanan 175-220 atm (untuk tahap kedua). Pada proses tunggal,
tekanan yang lebih rendah (145-175 atm) harus digunakan untuk menghindari
clustering yang terlalu banyak. Tekanan sebesar 70 atm digunakan pada
campuran yang kandungan lemaknya tinggi.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan :
1. Proses pembuatan susu memerlukan proses yang sangat panjang dan lama
mulai dari pemerasan, penimbangan, pemasakan, pendinginan, pensterilan,
pengeringan, pembuatan bubuk susu, sampai didapatkan susu yang bersih
dan telah dikemas. Untuk mendapatkan susu yang baik dan pengolahan
yang baik sehingga didapatkan susu yang berkualitas pula.
2. PLC merupakan alat digital elektronik yang mempunyai memori program
untuk menyimpan sejumlah instruksi yang mewujudkan fungsi khusus
seperti logika, pewaktuan, pemilih dan aritmatika untuk mengontrol
berbagai

macam

mesin

dan

proses

melalui

model

masukkan

dan keluarannya.
3. Proses Pasteurisation dan Homogenisation berbasis PLC adalah proses
pemanasan setiap partikel yang dimaksudkan untuk membunuh mikroba
pathogen dan proses melewatkan susu kental melalui lubang yang
ukurannya sangat kecil, dengan tujuan untuk menyeragamkan ukuran
globula lemak menjadi lebih kecil dengan tekanan tinggi yang
dikendalikan dengan Programmable Logic Controller (PLC) Modicon
984.
B. Saran
Berdasarkan pengalaman yang diperoleh selama pelaksanaan praktek
Industri di PT.Sari Husada Tbk.Yogyakarta, maka kami ingin menyampaikan
saran-saran kepada semua pihak baik Industri maupun pihak jurusan Teknik
Elektro.
1. Pihak PT. Sari Husada lebih memberikan kesempatan bagi para
mahasiswa Praktik Industri dalam mempraktekkan ilmu yang didapat
tentunya dengan pengarahan dari pihak PT. Sari Husada sehingga
mahasiswa dapat menimba ilmu yang nantinya dapat bermanfaat dalam
46

47

menciptakan kreatifitas baik digunakan dalam kerja maupun dalam


menciptakan suatu lapangan kerja, hal tersebut dapat meningkatkan
sumber daya manusia yang lebih bermutu dan berkualitas.
2. Pihak PT. Sari Husada perlu memperbanyak bahan referensi yang
berkaitan dengan data-data umum perusahaan serta sistem produksi untuk
mempermudah pengambilan data bagi mahasiswa yang melaksanakan
Praktik Industri.
3. Pengalaman kerja yang diperoleh mahasiswa Praktik Industri akan lebih
berarti untuk dunia kerja mendatang dibandingkan dengan ilmu yang
diperoleh di bangku perkuliahan, oleh karena itu dalam rangka
peningkatan sumber daya manusia yang lebih bermutu dan berkualitas
akan lebih baik apabila perusahaan menyediakan orang-orang khusus yang
dapat meluangkan waktunya untuk mendampingi, mendidik dan
mengajarkan mahasiswa Praktik Industri sehingga mahasiswa dapat lebih
mengambil manfaat dalam Praktik Industri

DAFTAR PUSTAKA

.. (2007). Tetap Terbuka Walau Sudah Tertutup. Mozaik. edisi 4. Halaman


11-12.
M. Budiyanto. (2003). Pengenalan dasar dasar PLC, Penerbit Gaya Media,
Yogyakarta.
Jhon. W.W, 1999, Programmable Logic Controllers, Fourth Edition, Prectice
Hall, New Jersey.
Distefano, JJ stuberud A.R. Williams JJ. (1997). Feedback and Control System.
SI Metric Edition Mc Graw Hill.
Inc : New Jersey.
Widodo, Ir.,M.Sc. (2003). Teknologi Proses Susu Bubu. Yogyakarta : Lacticia
Press.
Www.Modicon.Com/Specguide98/tocintro.pdf/

48