Anda di halaman 1dari 23

Leny Indrawati

Kesempatan untuk istirahat dan tidur sama


pentingnya dengan kebutuhan makan, aktivitas,
maupun kebutuhan dasar lainnya. Setiap individu
membutuhkan istirahat dan tidur untuk
memulihkan kembali kesehatannya (Tarwoto,
2006).
Istirahat adalah suatu keadaan dimana kegiatan
jasmaniah menurun yang berakibat badan
menjadi lebih segar. Sedangkan tidur adalah
suatu keadaan relatif tanpa sadar yang penuh
ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan
urutan siklus yang berulang-ulang dan masingmasing menyatakan fase kegiatan otak dan
badaniah yang berbeda (Tarwoto, 2006).

Tidur merupakan aktivitas yang melibatkan


susunan saraf pusat, saraf perifer endokrin
kardiovaskuler, respirasi dan muskuloskeletal
(Robinson ; 2005, dalam Potter). Tiap
kejadian tersebut dapat diidentifikasi atau
direkam dengan electroencephalogram (EEG)
untuk aktivitas listrik otak, pengukuran tonus
otot dengan menggunakan electroniogram
(EMG) dan electrooculagram (EOG) untuk
mengukur pergerakan mata.

Pengaturan dan kontrol tidur tergantung dari


hubungan antara dua mekanisme sebebral yang
secara bergantian mengaktifkan dan menekan pusat
otak untuk tidur dan bangun. Reticular activating
system (RAS) di bagian batang otak atas diyakini
mempunyai sel-sel khusus dalam mempertahankan
kewaspadaan dan kesadaran. RAS memberikan
stimulus visual, audiotori, nyeri, dan sensori raba.
Juga menerima stimulus dari korteks serebri (emosi,
proses pikir). Bangun dan tidurnya seseorang
tergantung dari keseimbangan impuls yang diterima
dari pusat otak, reseptor sensori perifer misalnya
bunyi, stimulus cahaya, dan sistem limbiks seperti
emosi.

Seseorang yang mencoba untuk tidur, mereka


menutup matanya dan berusaha dalam posisi
rileks. Jika ruangan glap dan tenang aktivitas
RAS menurun, pada saat itu BSR
mengeluarkan serum serotinin.

Dalam prosesnya tidur dibagi kedalam dua jenis.


Pertama jenis tidur yang disebabkan oleh
menurunnya kegiatan dalam sistem pengaktifan
reticularis, disebut dengan tidur gelombang
lambat karena gelombang otak bergerak sangat
lambat atau disebut juga dengan NREM. Kedua
jenis tidur yang disebabkan oleh penyaluran
abnormal dari isyarat-isyarat dalam otak
meskipun kegiatan otak mungkin tidak tertekan
secara berarti, disebut dengan tidur paradoks,
atau disebut tidur REM.

Jenis tidur ini dikenal dengan tidur yang dalam,


istirahat penuh atau juga dikenal dengan istilah tidur
nyenyak. Pada tidur jenis ini, gelombang oatk
bergerak lebih lambat, sehingga menyababkan tidur
tanpa mimpi. Tidur gelombang lambat mempunyai
ciri: betul-betul istirahat penuh, tekanan darah
menurun, frekuensi nafas menurun, pergerakan bola
mata melambat, mimpi berkurang dan metabolisme
turun.
Perubahan selama proses tidur gelobang lambat
adalah melalui elektroensefalografi dengan
memperlihatkan gelombang otak berada pada setiap
tahap tidur, yaitu: pertama, kewaspadaan penuh;
kedua, istirahat tenang; ketiga, tidur ringan,
keempat; tidur nyenyak.

a. Tahap I
Tahap I merupakan tahap transisi antara bangun dan
tidur dengan ciri: relaks, masih sadar dengan
lingkungan, merasa mengantuk, bola mata bergerak
dari samping ke samping, frekuensi nafas dan nadi
sedikit menurun, dapat bangun segera selama tahap
ini berlangsung selama 5 menit.
b. Tahap II
Tahap II merupakan tahap tidur ringandan proses
tubuh terus menurundengan ciri sebagai berikut:
mata pada umumnya menetap, denyut jantung dan
frekuensi nafas menurun, temperatur tubuh
menurun, metabolisme menurun, berlangsung
pendek, dan berakhir 10-15 menit.

c. Tahap III
Tahap III merupakan tahap tidur dengan ciri
denyut nadi dan frekuensi nafas dan proses
tubuh lainnya lambat, disebabkan oleh adanya
dominasi sistem saraf parasimpatik dan sulit
untuk bangun.
d. Tahap IV
Tahap IV merupakan tahap tidur dalam, dengan
kecepatan jantung dan pernafasan turun, sekresi
lambung menurun, dan tonus otot menurun.

Tidur jenis ini dapat berlangsung pada tidur


malam yang terjadi selama 5-20 menit, ratarata timbul selama 90 menit. Periode pertama
terjadi selam 80-100 menit, akan tetapi jika
kondisi orang sangat lelah, maka awal tidur
sangat cepat bahkan jenis tidur ini tidak ada.

Ciri tidur paradoks :


1. Biasanya disertai dengan mimpi aktif
2. Lebih sulit dibangunkan daripada selama tidur nyenyak
gelombang lambat
3. Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan,
menunjukan inhibisi kuat proyeksi spinal atas sistem
pengaktivasi retikularis
4. Frekuensi jantung dan pernafasan menjadi tidak teratur
5. Pada otot perifer terjadi gerakan otot yang tidak teratur
6. Mata cepat tertutup dan terbuka, nadi cepat dan irregular,
tekanan darah meningkat, sekresi gaster meningkat, dan
metabolisme meningkat
7. Tidur ini penting untuk keseimbangan mental, emosi juga
barperan dalam belajar, memori dan adaptasi.

EEG, EMG, dan EOG dapat mengidentifikasi


perbedaan signal pada level otak, otot dan
aitivtas mata. Normalnya tidur dibagi menjadi
dua yaitu nonrapid eye movement (NREM) dan
rapid eye movement (REM). Selama masa NREM
seseorang terbagi menjadi empat tahapan dan
memerlukan kira-kira 90 menit selama siklus
tidur. Sedangkan tahapan REM adalah tahapan
terakhir kira-kira 90 menit sebelum tidur
berakhir.
Tahapan tidur NREM

1). NREM tahap I


Tingkat transisi
Merespons cahaya
Berlangsung beberapa menit
Mudah terbangun dengan rangsangan
Aktivitas fisik menurun, tanda vital dan metabolisme menurun
Bila terbangun terasa sedang bermimpi
2). NREM tahap II
Periode suara tidur
Mulai relaksasi otot
Berlangsung 10-20 menit
Fungsi tubuh berlangsung lambat
Dapat dibangunkan dengan mudah

3). NREM tahap III


Periode suara tidur
Mulai relaksasi otot
Berlangsung 10-20 menit
Fungsi tubuh berlangsung lambat
Dapat dibangunkan dengan mudah
Awal tahap dari keadaan tidur nyentak
Sulit dibangunkan
Relaksasi otot menyeluruh
Tekanan darah menurun
Berlangsung 15-20 menit

4). NREM tahap IV


Tidur nyenyak
Sulit untuk dibangunkan, butuh stimulus intensif
Untuk restorasi dan istirahat, tonus otot menurun
Sekresi lambung menurun
Gerak bola mata cepat
Tahap tidur REM
Lebih sulit dibangunkan dibandingkan dengan tidur NREM
Pada orang dewasa normal REM yaitu 20-25 % dari tidur
malamnya
Jika individu terbangun pada tidur REM maka biasanya
terjadi mimpi
Tidur REM penting untuk keseimbangan mental, emosi
juga berperan dalam belajar, memori, dan adaptasi.

Karakteristik tidur REM


Mata : cepat tertutup dan terbuka
Otot-otot : kejang otot kecil, otot besar
imobilisasi
Pernafasan : tidak teratur, kadang dengan apnea
Nadi : cepat dan ireguler
Tekanan darah : meningkat atau fluktuasi
Sekresi gaster : meningkat
Metabolisme : meningkat, temperatur tubuh naik
Gelombang otak : EEG aktif
Siklus tidur : sulit dibangunkan

1). Neonatus sampai dengan 3 bulan


Kira-kira membutuhkan 16 jam/hari.
Mudah berespons terhadap stimulus
Pada minggu pertama kelahiran 50% adalah tahap REM
2). Bayi
Pada malam hari kira-kira tidur 8-10 jam.
Usia 1 bulan sampai dengan 1 tahun kira-kira tidur 14
jam/hari.
Tahap REM 20-30 %.
3). Toddler
Tidur 10-12 jam/hari
Tahap REM 25%

4). Preschooler
Tidur 11 jam pada malam hari
Tahap REM 20%

5). Usia sekolah


Tidur 10 jam pada malam hari
Tahap REM 18,5%
6). Adolensia
Tidur 8,5 jam pada malam hari
Tahap REM 20%

7). Dewasa muda


Tidur 7-9 jam/hari
Tahap REM 20-25 %
8). Usia dewasa pertengahan
Tidur 7 jam/hari
Tahap REM 20%
9). Usia tua
Tidur 6 jam/hari
Tahap REM 20-25 %
Tahap IV NREM menurun dan kadang-kadang absen
Sering terbangun pada malam hari

Fungsi dan tujuan tidur secara jelas tidak diketahui,


akan tetapi diyakini bahwa tidur dapat digunakan
untuk menjaga keseimbangan mental, emosional,
kesehatan, mengurangi strees pada paru,
kardiovaskular, endokrin, dll. Energi disimpan selama
tidur, sehingga dapat diarahkan kembali pada fungsi
selular yang penting. Secara umum terdapat dua efek
fisiologis dari tidur, yaitu yang pertama, efek dari
sistem saraf yang diperkirakan dapat memulihkan
kepekaan normal dan keseimbangan diantara
berbagai susunan saraf; dan yang kedua yaituefek
pada struktur tubuh dengan memulihkan kesegaran
dan fungsi dalam organ tubuh karena selama tidur
terjadi penurunan.

Gangguan pola tidur secara umum merupakan suatu


keadaan dimana individu mengalami atau mempunyai
resiko perubahan dalam jumlah dan kualitas pola istirahat
yang menyebabkan ketidak nyamanan atau mengganggu
gaya hidup yang diinginkan. Gangguan ini terlihat pada
pasien dengan kondisi yang memperlihatkan perasaan
lelah, mudah terangsang dan gelisah, lesu dan apatis,
kehitaman didaerah sekitar mata, kelopak mata bengkak,
konjungtiva merah, mata perih, perhatian terpecah-pecah,
sakit kepala dan sering menguap atau mengantuk.
Penyebab dari gangguan pola tidur ini antara lain
kerusakan transpor oksigen, gangguan metabolisme,
kerusakan eliminasi, pengaruh obat, imobilitas, nyeri pada
kaki, takut operasi, faktor lingkungan yang mengganggu,
dll (Alimul, 2006).

1). Penyakit
Seseorang yang mengalami sakit memerlukan waktu tidur lebih
banyak dari normal. Namun demikian, keadaan sakit menjadikan
pasien kurang tidur atau tidak dapat tidur. Misalnya pada pasien
dengan gangguan pernafasan seperti asma, bronkitis, penyakit
kardiovaskuler, dan penyakit persarafan.
2). Lingkungan
Pasien yang biasa tidur pada lingkungan yang tenang dan
nyaman, kemudian terjadi perubahan suasana seperti gaduh
maka akan menghambat tidurnya.
3). Motivasi
Motivasi dapat memengaruhi tidur dan dapat menimbulkan
keinginan untuk tetap bangun dan waspada menahan kantuk.

4). Kelelahan
Apabila mengalami kelelahan dapat memperpedek periode pertama dari
tahap REM.
5). Kecemasan
Pada keadaan cemas seseorang mungkin meningkatkan saraf simpatis
sehingga mengganggu tidurnya.
6). Alkohol
Alkohol menekan REM secara normal, seseorang yang tahan minum
alcohol dapat mengakibatkan insomnia dan lekas marah.
7). Obat-obatan
Beberapa jenis obat yang dapat menimbulkan gangguan tidur antara lain :
Diuretik : menyebabkan insomnia
Anti depresan : supresi REM
Kafein : meningkatkan saraf simpatis
Beta bloker : menimbulkan insomnia
Narkotika : mensuspensi REM

Anda mungkin juga menyukai