Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH TENTANG CUKAI TEMBAKAU

BAB I
PENDAHULUAN

B.

Cukai

1.

Pengertian Cukai

Cukai adalah pungutan negara yang dinakan terhadap barang-barang tertentu yang
mempunyai

sifat

dan

karakteristik

tertentu,

yaitu:

konsumsinya

perlu

dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, pemakaiannya dapat menimbulkan


dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup, atau pemakaiannya perlu
pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan.
Di Indonesia, cukai dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Departemen
Keuangan Republik Indonesia. Barang kena cukai meliputi:
1.

etil alkohol atau etanol, dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan

dan proses pembuatannya. Yang dimaksud dengan "etil alkohol atau etanol"
adalah barang cair, jernih, dan tidak berwarna, merupakan senyawa organic
dengan rumus kimia C2H5OH, yang diperoleh baik secara peragian dan/atau
penyulingan maupun secara sintesa kimiawi. "minuman yang mengandung etil
alkohol" adalah semua barang cair yang lazim disebut minuman yang
mengandung etil alkohol yang dihasilkan dengan cara peragian, penyulingan, atau
cara lainnya, antara lain bir, shandy, anggur, gin, whisky, dan yang
2.

minuman yang mengandung etil alkohol dalam kadar berapa pun, dengan

tidak mengindahkan bahan yang digunakan dan proses pembuatannya, termasuk


konsentrat yang mengandung etil alkohol. Yang dimaksud dengan "konsentrat
yang mengandung etil alkohol" adalah bahan yang mengandung etil alkohol yang

digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan minuman
yang mengandung etil alkohol.
3.

hasil tembakau, yang meliputi sigaret, cerutu, rokok daun, tembakau iris,

dan hasil pengolahan tembakau lainnya, dengan tidak mengindahkan digunakan


atau tidak bahan pengganti atau bahan pembantu dalam pembuatannya. Yang
dimaksud dengan "sigaret" adalah hasil tembakau yang dibuat dari tembakau
rajangan yang dibalut dengan kertas dengan cara dilinting, untuk dipakai, tanpa
mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam
pembuatannya.

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pemberian NPPBKC HT
1. NPPBKC
NPPBKC (Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai) bagi pengusaha
pabrik dan importir hasil tembakau adalah izin untuk menjalankan
kegiatan sebagai pengusaha pabrik dan importir hasil tembakau.
2. Pengecualian kewajiban memiliki NPPBKC
Ada yang dikecualikan dari kewajiban untuk memiliki NPPBKC yaitu:
a.

Orang yang membuat tembakau iris yang dibuat dari tembakau hasil
tanaman di Indonesia yang tidak dikemas untuk penjualan eceran atau
dikemas untuk penjualan eceran dengan bahan pengemas tradisional
yang lazim dipergunakan, apabila:

1.

Dalam pembuatanya tidak dicampur atau ditambah dengan


tembakau yang berasal dari luar negeri atau bahan lain yang
lazim dipergunakan dalam pembuatan hasil tambakau; dan/atau

2.

Pada pengemas atau tembakau irisnya tidak dibubuhi atau


dilekati atau dicantumkan cap, merek dagang, etiket, atau yang
sejenis dengan itu;

b.

Orang yang mengimpor barang kena cukai berupa hasil tembakau


yang mendapatkan fasilitas pembebasan cukai, yaitu:
1.

untuk

keperluan

penelitian

dan

pengembangan

ilmu

pengetahuan;
2.

untuk keperluan perwakilan Negara asing beserta para


pejabatnya yang bertugas di Indonesia berdasarkan asas timbal
balik;

3.

untuk keperluan tenaga ahli bangsa asing yang bertugas pada


badan atau organisasi internasional di Indonesia;

4.

yang dibawa oleh penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas


batas atau kiriman dari luar negeri dalam jumlah yang
ditentukan;

5.

3.

yang dipergunakan untuk tujuan social.

proses pembuatan izin NPPBKC


Sebelum mengajukan permohonan memiliki NPPBKC, pengusaha pabrik

atau importir terlebih dahulu harus mengajukan permohonan secara tertulis


kepada kepala kantor bea dan cukai yang mengawasi untuk dilakukan
pemeriksaan lokasi, bangunan, atau tempat usaha.
Permohonan pemeriksan lokasi, bangunan, atau tempat usaha, paling
sedikit harus dilampiri dengan:

a.salinan/fotokopi izin usaha industri atau tanda daftar industry;


b.gambar denah lokasi, bangunan, atau tempat usaha;
c.salinan/fotokopi IMB; atau
d.salinan/fotokopi izin yang diterbitkan oleh pemerintah daerah
setempat berdasarkan undang-undang mengenai gangguan (HO)

4.

syarat-syarat lokasi, bangunan, tempat usaha

Lokasi, bangunan, atau tempat usaha harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a.

Untuk pabrik:

1.

tidak berhubungan langsung dengan bangunan, halaman, atau tempat-tampat

lain yang bukan bagian pabrik yang dimintakan izin;


2.

tidak berhubungan langsung dengan rumah tinggal;

3.

berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum; dan

4.

memiliki luas bangunan paling sedikit 200 (dua ratus ) meter persegi.

b.

Untuk tempat usaha importir yang berfungsi sebagai tempat penimbunan

hasil tembakau:
1.

tidak menggunakan tempat penimbunan hasil tembakau yang berhubungan

langsung dengan bangunan, halaman, atau tempat usaha importir yang dimintakan
izin;
2.

tidak berhubungan langsung dengan rumah tinggal; dan

3.

berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum.

Atas permohonan yang diajukan pejabat bea dan cukai akan melakukan:

1.

wawancara terhadap pemohon dalam rangka memeriksa

kebenaran:
a. data pemohon sebagai penanggung jawab; dan
b. data dalam lampiran pemohonan.
2. Atas wawancara tersebut dibuatkan Berita Acara Wawancara.
a. Melakukan pemeriksaan lokasi, bangunan, atau tempat usaha.
b. Membuat Berita Acara Pemeriksaan yang disertai gambar denah lokasi,
bangunan, atau tempat usaha dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak surat
permohonan diterima.

Setelah Pemeriksaan Lokasi, bangunan, atau tempat usaha dan telah


dibuatkan Berita Acara pemeriksaan, pengusaha pabrik atau importir harus
mengajukan permohonan secara tertulis kepada Menteri Keuangan u.p. kepala
kantor yang mengawasi. Dokumen permohonan NPPBC disebut PMCK-6.
Pengusaha pabrik saat mengajukan permohonan NPPBKC (PMCK-6) harus
melampirkan:
a. Izin mendirikan Bangunan (IMB) sebagai pabrik dari pemda setempat;
b. Izin yang diterbitkan oleh pemda setempat berdasarkan undang-undang
mengenai gangguan;
c.

Izin usaha industri atau tanda daftar industri dari instansi dibidang

perindustrian;
d. Izin usaha perdagangan dari instansi dibidang perdagangan;
e. Izin atau rekomendasi dari instansi di bidang tenaga kerja;
f.

Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);


g. Surat Keterangan Catatan Kepolisian dari Kepolisian Republik Indonesia,

apabila pemohon merupakan orang pribadi;


h. Kartu Tanta Pengenal diri, apabila pemohon merupakan orang pribadi;

i. Akta pendirian usaha, apabila pemohon merupakan badan hokum.

Untuk importir saat mengajukan permohonan NPPBKC (PMCK-6) harus


melampirkan:
a. Izin sebagai importir dari instansi di bidang perindustriandan/atau perdagangan;
b. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
c. Akata pendirian usaha;
d. Nomor Identitas Kepabeanan (NIK); dan
e. Surat penunjukan sebagai agen penjualan dari produsen hasil tembakau yang
diimpor.

Apabila pengusaha pabrik bukan bukan pemilik bangunan, selain harus


memiliki IMB sebagai pabrik dari pemda setempat juga harus disertai surat
perjanjian sewa-menyewa yang disahkan notarisuntuk jangka waktu paling
singkat 5 (lima) tahun. NPPBKC untuk pengusaha pabrik atau importir hasil
tembakau berlaku selama masih menjalankan usaha. Pengusaha pabrik atau
importir yang mendapatkan NPPBKC harus memasang papan nama yang memuat
paling sedikit nama perusahaan, alamat, dan NPPBKC dengan ukuran lebar paling
kecil 60cm dan panjang paling kecil 120cm.

B.

PERHITUNGAN TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU

Untuk mengetahui batasan produksi untuk menentukan golongan dan


batasan harga jual eceran (HJE) per batang atau per gram, telah diatur pada
Peraturan Menteri Keuangan tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Tarif cukai dan batasan harga jual terendah per batang atau gram sebagai berikut :
a.

Untuk tujuan impor, tarif cukai dan batasan harga jual eceran (HJE) per

batang atau per gram, telah diatur pada Peraturan Menteri Keuangan tentang Tarif
Cukai Hasil Tembakau.
b.

Untuk tujuan ekspor, batasan harga jual eceran (HJE) per batang atau per

gram ditetapkan sama dengan harga jual eceran per batang atau gramuntuk setiap
jenis hasil tembakau dari jenis dan merek hasil tembakau yang sama yang
ditujukan untuk pemasaran di dalam negeri, yang telah diatur pada Peraturan
Menteri Keuangan tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Untuk dapat digolongkan dalam penetapan tarif cukai per batang atau gram untuk
setiap jenis jenis HT ditentukan berdasarkan jenis dan jumlah produksi dan:
a.

harga jual eceran yang tercantum dalam penetapan tarif cukai yang masih

berlaku berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 203/PMK.011/2008


tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau;
b.

harga jual eceran yang diberitahukan oleh Pengusaha Pabrik hasil tembakau

untuk hasil tembakau merek baru; atau


c.

harga jual eceran yang mengalami kenaikan. Harga jual eceran harus dalam

kelipatan Rp25,00 (dua puluh lima rupiah).

C.

1.

PENYESUAIAN GOLONGAN

Penyesuaian kenaikan golongan Pengusaha Pabrik hasiltembakau wajib

dilakukan oleh Pengusaha Pabrik hasil tembakau pada saat Produksi Pabrik dalam
tahun takwim yang sedang berjalan telah melampaui Batasan Jumlah Produksi

Pabrik yang berlaku bagi golongan Pengusaha Pabrik hasil tembakau yang
bersangkutan.
2.

Dalam hal hasil produksi dalam satu takwim kurang dari Batasan Jumlah

Produksi Pabrik yang berlaku bagi golongan Pengusaha Pabrik hasil tembakau,
Pengusaha Pabrik hasil tembakau dapat mengajukan permohonan penyesuaian
untuk penurunan golongan Pengusaha Pabrik hasil tembakau kepada Kepala
Kantor.
3.

Permohonan penyesuaian untuk penurunan golongan Pengusaha Pabrik

hasil tembakau diajukan paling lambat bulan Januari tahun takwim berikutnya
sebelum dokumen pemesanan pita cukai pertama kali diajukan.

D.

PERMOHONAN PENYEDIAN DAN PEMESANAN PITA CUKAI (P3C)

HASIL TEMBAKAU

Secara legalitas anda sudah bisa memproduksi rokok, tapi rokok yang
telah diproduksi tidak dapat dikeluarkan dari pabrik/dijual kerena tidak berpita
cukai atau banderol yang harus dipesan terlebih dahulu ke kantor bea dan cukai.
Pita Cukai merupakan dokumen sekuriti Negara, selain bukti pelunasan cukai juga
berfungsi sebagai alat pengawasan. Pita cukai Hasil tembakau disediakan di
Kantor Pusat dan di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai masingmasih daerah, dan pita cukai disediakan berdasarkan permohonan Penyediaan dan
Pemesanan Pita Cukai (P3C). Dan untuk memperolehnya dengan ketentuan
sebagai berikut :
a. Pita cukai hasil tembakau untuk pengusaha pabrik hasil tembakau:
1. dengan total produksi semua jenis hasil tembakau dalam 1 (satu)
tahun
batang dan/atau

takwim sebelumnya lebih dari 100.000.000 (seratus juta)


gram, disediakan di Kantor Pusat.

2. dengan total produksi semua jenis hasil tembakau dalam 1 (satu)


tahun

takwim sebelumnya sampai dengan 100.000.000

(seratus juta) batang

dan/atau gram, disediakan di

KPPBC.
b. Pita cukai hasil tembakau untuk importir hasil tembakau disediakan di
Kantor Pusat.
c. Pita cukai hasil tembakau untuk pengusaha pabrik sebagaimana
dimaksud pada ayat

(2) angka 2 atas permohonan pengusaha yang

bersangkutan dapat disediakan di

Kantor Pusat.

Persyaratan P3C

telah memiliki Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC)

dan NPPBKC tersebut tidak dalam keadaan dibekukan;

tidak memiliki utang cukai yang tidak dibayar pada waktunya, kekurangan

cukai, dan/atau sanksi administrasi berupa denda yang belum dibayar sampai
dengan tanggal jatuh tempo;

telah melunasi biaya pengganti penyediaan pita cukai dalam waktu yang

ditetapkan.

Tata cara penyediaan pita cukai HT

P3C Pengajuan Awal


1)

Pengusaha dapat mengajukan permohonan penyediaan pita cukai mulai

tanggal 1 (satu) sampai dengan tanggal 10 (sepuluh) untuk kebutuhan 1 (satu)


bulan berikutnya dengan menggunakan P3C pengajuan awal kepada Kepala
Kantor.

2)

Dikecualikan dari batas waktu P3C pengajuan awal sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) dapat diberikan dalam hal:


a. pengusaha baru mendapatkan NPPBKC;
b. pengusaha mengalami kenaikan golongan;
c. pengusaha yang NPPBKC-nya diaktifkan kembali setelah pembekuannya
dicabut;
d. untuk kebutuhan pita cukai bulan Januari; atau
e. terdapat kebijakan di bidang tarif cukai atau HJE.
3)

P3C pengajuan awal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat

dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) periode persediaan untuk setiap jenis pita
cukai.

P3C Pengajuan Tambahan

1)

Pengusaha dapat mengajukan P3C pengajuan tambahan kepada Kepala

Kantor dalam hal pita cukai yang telah disediakan berdasarkan P3C pengajuan
awal tidak mencukupi.
2)

P3C pengajuan tambahan hanya dapat diajukan paling lambat tanggal 20

(dua puluh) pada bulan pengajuan CK-1.


3)

Jenis pita cukai yang diajukan pada P3C pengajuan tambahan harus sama

dengan jenis pita cukai yang sudah diajukan pada P3C pengajuan awal untuk
periode yang sama.
4)

P3C pengajuan tambahan hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu)

periode persediaan untuk setiap jenis pita cukai.

P3C Pengajuan Tambahan Izin Direktur Jenderal

1.

Pengusaha dapat mengajukan P3C pengajuan tambahan izin Direktur

Jenderal beserta surat permohonan melalui Kantor dalam hal jumlah pita cukai
berdasarkan P3C pengajuan awal dan P3C pengajuan tambahan tidak mencukupi.
2.

P3C pengajuan tambahan izin Direktur Jenderal dapat diajukan setelah P3C

pengajuan tambahan dan paling lambat sampai dengan tanggal 25 (dua puluh
lima) pada bulan pengajuan CK-1.
3.

pita cukai yang diajukan pada P3C pengajuan tambahan izin Direktur

Jenderal, sama dengan jenis pita cukai yang sudah diajukan pada P3C pengajuan
awal dan P3C pengajuan tambahan untuk periode yang sama.
4.

Pengajuan P3C pengajuan tambahan izin Direktur Jenderal sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) periode
persediaan untuk setiap jenis pita cukai.
5.
6.

Dilakukan pemeriksaan terhadap pabrik dan dokumen pendukung.


Atas P3C pengajuan tambahan izin Direktur Jenderal dan Surat

Rekomendasi

Kepala

Kantor,

Direktur

Jenderal

dapat

mengabulkan

seluruhnya/sebagian atau menolak.

Banyak pita cukai yang bisa diajukan setiap pengajuan P3C


1.

Jumlah pita cukai yang diajukan oleh pengusaha pada P3C pengajuan awal

untuk setiap jenis pita cukai:


a.

paling banyak 100% (seratus persen) dari rata-rata perbulan jumlah pita

cukai yang dipesan dengan CK-1 dalam kurun waktu tiga bulan terakhir sebelum
P3C pengajuan awal, dengan memperhatikan batasan produksi golongan
pengusaha pabrik;
b.

dalam hal data rata-rata perbulan jumlah yang dipesan dengan CK-1 dalam

kurun waktu tiga bulan terakhir sebelum P3C pengajuan awal untuk jenis pita
cukai yang diajukan tidak tersedia, jumlah pita cukai yang dapat diajukan sesuai

kebutuhan perbulan dengan memperhatikan batasan produksi golongan pengusaha


pabrik.
2.

Jumlah pita cukai yang diajukan oleh pengusaha dalam P3C pengajuan

tambahan paling banyak 50% (lima puluh persen) untuk setiap jenis pita cukai
dari P3C pengajuan awal yang telah diajukan dalam periode yang sama dengan
memperhatikan batasan produksi golongan pengusaha pabrik.
3.

Dalam hal jumlah pita cukai yang dapat diajukan dengan P3C kurang dari 10

(sepuluh) lembar, maka jumlah pengajuan pita cukai dalam P3C adalah 10
(sepuluh) lembar.
4.

Jumlah pita cukai yang diajukan oleh pengusaha dalam P3C pengajuan

tambahan izin Direktur Jenderal, sesuai dengan kebutuhan dengan memperhatikan


batasan produksi golongan pengusaha pabrik.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemesanan P3C


1)

Pembulatan jumlah pita cukai yang diajukan dengan P3C dilakukan dengan

cara membulatkan jumlah ke bawah dan harus dalam kelipatan 10 (sepuluh).


2)

Jumlah pita cukai per lembar yang dapat dipesan:


Seri I : 120 keping/lembar
Seri II : 56 keping/lembar
Seri III : 150 keping /lember

Sesuai janji layanan KPPBC Madya Cukai Kediri, proses permohonan P3C
Awal/P3C Tambahan/P3C tanbahan Izin Dirjen sanggup 1-3 jam sejak
permohonan diterima secara lengkap.

E.

Biaya Pengganti Penyediaan Pita Cukai

Pengusaha pabrik atau importir yang telah mengajukan P3C HT/MMEA namun
tidak merealisasikan seluruhnya dengan CK-1/CK-1A, dikenai biaya pengganti
penyediaan pita cukai.
Dikecualikan dari ketentuan pengenaan biaya pengganti penyediaan pita cukai
dalam hal terjadi:
o Kenaikan HJE karena Harga Transaksi Pasar melebihi HJE;
o

Kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan administratif oleh

Pejabat Bea dan Cukai.

Besarnya biaya pengganti penyediaan pita cukai HT untuk setiap keping pita
cukai adalah:
a.

pita cukai seri I : Rp 25,00 (dua puluh lima rupiah);

b.

pita cukai seri II : Rp 40,00 (empat puluh rupiah); dan

c.

pita cukai seri III : Rp 25,00 (dua puluh lima rupiah).

Biaya pengganti penyediaan pita cukai wajib dilunasi paling lambat 30 (tiga
puluh) hari sejak tanggal diterimanya SPPBP dan Dalam hal biaya pengganti
penyediaan pita cukai tidak dilunasi dalam tepat pada waktunya, P3C HT/MMEA
dan CK- 1/CK-1A berikutnya tidak dilayani. Cara pembayaran biaya pengganti
adalah sama seperti pembayaran cukai dan pungutan negaran lainnya, hanya saja
pembayaran biaya pengganti pada SSPCP diisi pada kolom,Pendapatan Cukai
Lainnya.

F.

Penetapan Tarif Cukai

Hal-hal yg harus dilakukan setelah mendapatkan Izin NPPBKC adalah :


1.

sebelum memproduksi atau mengimpor hasil tembakau dengan merek baru,

pengusaha HT atau importir wajib mengajukan permohonan penetapan tarif cukai


hasil tembakau untuk merek baru kepada kepala kantor;
2.

Pemesanan Pita Cukai (P3C).

Permohonan penetapan tarif hasil tembakau untuk merek baru atau mengubah
desain atau tampilan kemasan penjualan eceran atas merek yang sudah ada
penetapan tariff cukainya dibuat rangkap 3(tiga), yang masing-masing dilampiri
dengan:
a.
b.

contoh etiket atau kemasan penjualan eceran hasil tembakau;


daftar merek-merek hasil tembakau yang dimiliki dan masi berlaku sesuai

dengan contoh format; dan


c.

surat pernyataan di atas meterai yang cukup bahwa merek/desain kemasan

yang dimohon penetapan tarif cukainya tidak memiliki kesamaan pada pokoknya
atau pada keseluruhannya dengan merek/desain kemasan yang telah dimiliki atau
dipergunakan oleh Pengusaha Pabrik hasil tembakau atau Importir lainnya.

Ketentuan dalam pengajuan permohonan penetapan tarif cukai HT untuk merek


Baru sehubungan dengan merek/desain kemasan HT HT tidak pergunakan lagi
atau dinyatakan tidak berlaku adalah :
a.

hanya dapat diajukan setelah 6 (enam) bulan berturut-turut sejak dokumen

pemesanan pita cukai terakhir atau dokumen pemberitahuan pengeluaran barang


kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari pabrik hasil tembakau untuk tujuan
ekspor;

b.

tarif cukai hasil tembakau atas merek tersebut tidak boleh lebih rendah dari

penetapan tarif cukai hasil tembakau yang terakhir;


c.

harga jual eceran yang diberitahukan sekurang-kurangnya sama dengan

harga jual eceran yang terakhir ditetapkan atau diberitahukan.

Apabila pengusaha Pabrik atau importir ingin menggunakan merk atau desain
kemasan yang suadah tidak dipakai lagi. Pengusaha pabrik HT atau importir harus
mengajukan permohonan penetapan tarif cukai hasil tembakau untuk merek baru
juga harus melampirkan bukti berupa:
1.

fotokopi dokumen pemesanan pita cukai terakhir atau dokumen

pemberitahuan pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari
pabrik hasil tembakau untuk tujuan ekspor terakhir;
2.
3.

fotokopi surat keputusan penetapan tarif cukai hasil tembakau terakhir; dan
fotokopi surat lisensi dari pemilik merek atau surat perjanjian persetujuan

penggunaan merek atau desain kemasan yang telah ditandasahkan oleh notaris
atau fotokopi surat penunjukan keagenan, distributor, atau importir tunggal dari
pemegang merek hasil tembakau yang akan diimpor, yang ditandasahkan oleh
Pengusaha Pabrik hasil tembakau.

Pengusaha Pabrik hasil tembakau atau Importir tidak boleh mengajukan


permohonan penetapan tarif cukai hasil tembakau,dalam hal:
1)

harga jual ecerannya yang diberitahukan lebih rendah dari harga jual eceran

hasil tembakau yang dimilikinya dan masih berlaku dalam satuan batang atau
gram untuk jenis hasil tembakau yang sama;
2)

merek yang memiliki kesamaan atau kemiripan nama, logo, atau desain

dengan merek yang dimilikinya dan masih berlaku, dalam hal harga jual
ecerannya lebih rendah dari harga jual eceran hasil tembakau yang dimilikinya

dan masih berlaku dalam satuan batang atau gram untuk jenis hasil tembakau
yang sama; atau
3)

merek yang terkait dengan tindak pidana di bidang cukai, dalam jangka

waktu 2 tahun sejak keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan


hukum yang tetap.

Pengusaha Pabrik hasil tembakau atau Importir harus mengajukan permohonan


penetapan penyesuaian tarif cukai hasil tembakau dalam hal Harga Transaksi
Pasar:
a.

telah melampaui Batasan harga jual eceran per batang atau gram diatasnya;

atau
b.

berada pada posisi Batasan harga jual eceran per batang atau gram tertinggi

pada masing-masing golongan Pengusaha Pabrik hasil tembakau telah melampaui


5% (lima persen) dari harga jual eceran yang berlaku atau harga yang tercantum
dalam pita cukai.

G.

PENUNDAAN PEMBAYARAN CUKAI

Penundaan pembayaran cukai adalah kemudahan pembayaran dalam bentuk


penangguhan
pembayaran cukai tanpa dikenai bunga. yang dapat diberikan penundaan tersebut
adalah Pengusaha pabrik atau importir atas pemesanan pita cukai yang
melaksankan pelunasannya dengan pita cukai. jangka waktu penundaan tersebut :

2 (dua) bulan terhitung sejak tanggal dokumen pemesanan pitacukai(CK-1)

untuk pengusaha pabrik, atau


o

1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal dokumen pemesanan pita cukai(CK-1)

untuk importir.
o

Khusus pengusaha pabrik yang telah mengekspor hasil tembakau melebihi

yang dijual di dalam negeri sebelum tahun anggaranberjalan yang dihitung


berdasarkan dokumen pemesanan pita cukai, lama jangka waktu yang diberikan
terkai penundaan 90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak tanggal dokumen
pemesanan pita cukai(CK-1) untuk importir.

besar nilai cukai yang dapat diberikan penundaan


a.

Untuk pengusaha pabrik, sebanyak 2 (dua) kali dari nilai cukai rata-rata per

bulan yang paling tinggi, yang dihitung dari pemesanan pita cukai dalam kurun
waktu 6 (enam) bulan terakhir atau dalam kurun waktu 3 (tiga) bulan terakhir.
b.

Untuk pengusaha importir, sebanyak 1 (satu) kali dari nilai cukai rata-rata

per bulan yang paling tinggi, yang dihitung dari pemesanan pita cukai dalam
kurun waktu 6 (enam) bulan terakhir atau dalam kurun waktu 3 (tiga) bulan
terakhir.

Untuk pemesanan pita cukai yang mendapat penundaan, persyaratanyang wajib


dipenuhi oleh pengusaha pabrik dan importir:
a.

Untuk pengusaha pabrik wajib menyerahkan jaminan berupa jaminan bank,

jaminan dari perusahaan asuransi, atau jaminan perusahaan.


b.

Untuk importir wajib menyerahkan jaminan bank. penyerahan jaminan

tersebut Saat pengajuan dokumen pemesanan pita cukai dan diserahkan kepada
kepala kantor.

Persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengusaha pabrik untuk mendapatkan


penundaan dengan jaminan perusahaan:
1.

merupakan pengusaha beresiko rendah berdasarkan profil pengusaha pabrik,

2.

merupakan Pengusaha Kena Pajak,

3.

tidak pernah melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-

undangan di bidang cukai dalam kurun waktu terakhir,


4.

tidak mempunyai tunggakan utang cukai yang tidak dibayar pada waktunya,

kekurangan cukai, sanksi administrasi berupa denda, dan/atau di bidang cukai,


kecuali sedang diajukan keberatan,

tidak sedang melakukan pengangsuran

pembayaran atas surat tagihan,


5.

memilki laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit oleh akuntan

publik dengan opini wajar tanpa pengecualian selama 2 (dua) tahun terakhir, dan
6.

memilki kinerja keuangan yang baik.

permohonan penundaan bagi pengusaha pabrik atau importir yang berada dibawah
pengawasan Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Madya
harus diajukan kepada:
1.

dalam hal permohonan penundaan yang nilai cukainya sampai dengan (tidak

melebihi) Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah) diajukan kepada


Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Madya atas nama
menteri keuangan.
2.

dalam hal permohonan penundaan yang nilai cukainya melebihi Rp

50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah) diajukan kepada Kepala Kantor


Wilayah.

Untuk pengajuan permohonan penundaan bagi pengusaha pabrik yang


menggunakan jaminan perusahaan, Lampiran yang harus disertakan:
a.

Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak;

b.

Laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit oleh akuntan publik untuk

2 (dua) tahun terakhir berturut-turut sebelum pengajuan permohonan;


c.

Daftar rekapitulasi dokumen pemesanan pita cukai dari perusahaan yang

bersangkutan selama 6 (enam) bulan terakhir sebelum pengajuan permohonan dan


Perhitungan besarnya nilai cukai yang dapat diberikan penundaan dengan
menggunakan contoh format sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan yang
terkait Dalam hal laporan keuangan perusahaan tahun terakhir sedang diaudit oleh
akuntan publik, selain laporan keuangan perusahaan untuk 2 (dua) tahun terakhir
yang telah diaudit oleh akuntan publik, harus dilampirkan juga laporan keuangan
tahun terakhir disertai surat keterangan dari akuntan publik bahwa perusahaan
sedang dalam proses audit.

Untuk

pengajuan

permohonan

penundaan

bagi

pengusaha

pabrikyang

menggunakan jaminan bank atau jaminan dari perusahaan asuransi, Lampiran


yang harus disertakan:
a.

Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak;

b.

Laporan keuangan perusahaan untuk 1 (satu) tahun terakhir sebelum

pengajuan permohonan;
c.

Daftar rekapitulasi dokumen pemesanan pita cukai dari perusahaan yang

bersangkutan selama 6 (enam) bulan terakhir sebelum pengajuan permohonan;


dan
d.

Perhitungan besarnya nilai cukai yang dapat diberikan penundaan dengan

menggunakan contoh format sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan


terkait.

Untuk pengajuan permohonan penundaan bagi importir yang menggunakan


jaminan bank, Lampiran yang harus disertakan:
a.
b.

Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak;


Laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit oleh akuntan publik untuk

2 (dua) tahun terakhir sebelum pengajuan permohonan;


c.

Daftar rekapitulasi dokumen pemesanan pita cukai dari perusahaan yang

bersangkutan selama 6 (enam) bulan terakhir sebelum pengajuan permohonan;


dan
d.

Perhitungan besarnya nilai cukai yang dapat diberikan penundaan yang

dapat diminta dengan menggunakan contoh format sebagaimana yang ditetapkan


dalam peraturan terkait.

H.

JAMINAN PENUNDAAN

A.

Pertimbangan penelitian persyaratan jaminan


Penelitian

pemenuhan

mempertimbangkan
a.

persyaratan

jaminan

dilakukan

dengan

kinerja keuangan perusahaan yang baik berupa:

Likuiditas perusahaan yang merupakan perbandingan antara aktiva lancar

dengan hutang lancarnya;


b.

Solvabilitas perusahaan yang merupakan perbandingan antara total aktiva

dengan total hutang; dan


c.

Rentabilitas perusahaan yang merupakan perbandingan antara laba bersih

dengan total modal.


1)

Kepala Kantor dapat menyetujui jaminan perusahaan yang akan

dipergunakan oleh

Pengusaha Pabrik apabila dalam 2 (dua) tahun terakhir

dalam hal:
a.

Likuiditas sebagaimana dimaksud di atas lebih besar dari 1 (satu);

b.

Solvabilitas sebagaimana dimaksud di atas lebih besar dari 1 (satu); dan

c.

Rentabilitas sebagaimana dimaksud di atas bernilai positif.

2)

Kepala Kantor dapat menyetujui jaminan dari perusahaan asuransi yang

akan dipergunakan oleh Pengusaha Pabrik apabila dalam 1 (satu) tahun terakhir
dalam hal:
a. Likuiditas sebagaimana dimaksud di atas lebih besar dari 1 (satu);
b. Solvabilitas sebagaimana dimaksud di atas lebih besar dari 1 (satu);
c. Rentabilitas sebagaimana dimaksud di atas bernilai positif.

3)

Kepala Kantor dapat menyetujui jaminan bank yang akan dipergunakan oleh

Pengusaha Pabrik apabila dalam 1 (satu) tahun terakhir dalam hal:


a. Likuiditas sebagaimana dimaksud di atas lebih besar dari 1
(satu);
b. Solvabilitas sebagaimana dimaksud di atas dapat lebih kecil atau
sama dengan

1 (satu); dan
c. Rentabilitas sebagaimana dimaksud di atas dapat bernilai

negatif.
o

Likuiditas perusahaan yang merupakan perbandingan antara aktiva lancar

dengan hutang lancarnya; dan


o

Rentabilitas perusahaan yang merupakan perbandingan antara laba dengan

modal yang menghasilkan laba tersebut.

I.

PEMBAYARAN DAN PENCAIRAN


pembayaran cukai atas pemberian penundaan jatuh temponya berakhir :

o Paling lambat 2 (dua) bulan sejak tanggal untuk pengusaha pabrik

o Paling lambat 2 (dua) bulan sejak tanggal untuk importir

Dalam hal jatuh tempo penundaan sebagaimana dimaksud pada hari libur, hari
diliburkan, atau bukan hari kerja dari Bank Persepsi, Bank Devisa Persepsi, atau
Pos Persepsi, yang mengakibatkan pembayaran tidak dapat dilakukan,
pembayaran cukai yang terutang wajib dilakukan pada hari kerja sebelum jatuh
tempo.

kewajiban pengusaha pabrik yang menyerahkan jaminan perusahaan tidak


membayar cukai sampai dengan jatuh tempo penundaan, wajib membayar cukai
yang terutang dan dikenai sanksi administrasiberupa denda sebesar 10% (sepuluh
persen) dari nilai cukai yang terutang. konsekuensinya jika pengusaha pabrik yang
menyerahkan jaminan perusahaan tidak membayar cukai yang terutang dan sanksi
administrasi. kepala kantor atau pejabat yang ditunjuk tidak melayani pemesanan
pita cukai yang diajukan pengusaha pabrik yang dimulai pada hari kerja
berikutnya setelah jatuh tempo penundaan.

caranya supaya pemesananan pita cukainya dapat dilayani kembali


1.

telah membayar utang cukai yang tidak dibayar pada waktunya dan sanksi

administrasi berupa denda;


2.

mendapatkan persetujuan pengangsuran utang cukai dan sanksi administrasi

berupa denda;
3.

mendapatkan persetujuan pengangsuran utang cukai dan mengajukan

keberatan atas pengenaan sanksi administrasi berupa denda;


4.

telah membayar utang cukai dan mengajukan keberatanatas pengenaan

sanksi administrasi berupa denda; atau


5.

telah membayar utang cukai dan mendapatkan persetujuan pengangsuran

sanksi administrasi berupa denda.

Ketentuan yang

diberlakukan jika pengusaha pabrik atau importir yang

mendapatkan penundaan dengan menyerahkan jaminan bank atau jaminan dari


perusahaan asuransi tidak membayar cukai sampai dengan jatuh tempo
penundaan:
o jaminan bank atau jaminan dari perusahaan asuransi dicairkan;
o

pengusaha pabrik atau importir tersebut dikenai sanksi administrasi berupa

denda sebesar 10% (sepuluh persen) dari utang cukai; dan


o

pemesanan pita cukai oleh pengusaha pabrik atau importir tersebut tidak

dilayani sampai dengan dilunasinya sanksi administrasi berupa denda kecuali


sanksi administrasi berupa denda tersebut telah mendapatkan persetujuan
pengangsuran atau sedang diajukan keberatan.